HLHLP-010

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Halaman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 28 Agustus 2010 at 03:58  Komentar (24)  

The URI to TrackBack this entry is: http://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-010/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. siancaiiiiiiiiiii

    • Ooooo….
      yang kelap-kelip di tlatah ibukota itu Ki Kompor ya.
      Selamat pagi Ki.

      • he he ….
        perasaan sudah saya buka jam 00.01.
        Untung Ki Arema sambang padepokan.
        Ngapunten Ki.

        • Untung masih keduluan Ngger Satpam ….. dan Raden Akuwu Kompor ….

    • seperti burung sikatan melesat begitu cepat, dan rontalpun ikut tersambar langsung dibawa bakur.

      Sambil berlari ia sempat mengucapkan kata-kata,
      “Kamsia dan selamet ulang tahun Ki TP”.

      • Sambil turut berlari temennya “ia” masih sempat mengucapkan kata-kata,

        “matur tengkyu dan selamet ulang tahun
        Ki TP”

  2. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    DONGENG JABURAN, NYADRAN, KÊTAN, KOLAK, APÊM & GAPURÅ LAN KÊTUPAT © 2010.

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Sêtu (Saniscårå) Pon; 18 Påså 1943-Dal. 18 Ramadhan 1431H; 28 Agustus 2010M. Wuku Ugu, Ingkêl Sato. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    [“Seharusnya” sudah didongengkan di hari menjelang atau pada tanggal 1 Ramadhan, namun karena kêtlisut baru sempat didongengkan sekarang].

    Puasa telah menginjak hari yang kedelapan belas. Ada hal yang saya ingat bahwa Bulan Ramadhan seperti sekarang ini entah kenapa acapkali saya merasa terkenang dengan kampung halaman yang dulu sewaktu masil kecil selalu tiap sore pergi ngaji. menunggu jaburan di langgar samping rumah. Saya kangen suasana itu.

    Istilah jaburan sendiri belum kutemukan makna harfiahnya, tetapi barangkali sinonim dengan takzilan. Sekedar makanan kecil untuk sajian iftar atau untuk sajian selepas Tarawih.

    Dengan menjalankan Puasa Ramadhan pada hari kedelapan belas ini semoga kita sudah bisa mulai merenungi tentang diri, Jati diri sebagai suatu bangsa. Kesejatian ini yang tak bisa lepas dari kearifan lokal karena memang kita hidup dan bergaul pun dalam kelokalan yang ada.

    Tak menutup kemungkinan jika hal ini mampu kita rawat dan jaga bersama sebuah identitas diri yang baik sebagai bagian dari budaya anak negeri tak akan tercuri lagi oleh negara lain, karena nilai budaya telah menjadikan kita bisa hidup bersama secara berdampingan.

    Mengutip satu hal yang disampaikan oleh Kanjêng Sunan Kalijågå bahwa “dalam hal kepercayaan memang perlu diajarkan tentang Islam dengan pengertian yang dalam, sudah barang tentu asal kelahiran Islam dari Tanah Arab. Namun sebagai Orang Jawa hendaknya tetap bisa menjadi “wong Jåwå”, berkebudayaan Jawa. Tak perlu diganti dengan kebudayaan Bangsa Arab. Islam bukanlah Arab“.

    Sesuai hal diatas dapat kita pahami bahwa kebenarannya kita telah memiliki rumah sendiri dengan bentuk budaya sendiri pula, dengan wujud rumah sendiri itu kita pun memiliki serambi dengan ukiran dan model khas budaya sendiri, kearifan budaya lokal Jawa. Jadi tak usahlah bercita-cita sok kebarat-baratan apalagi ke arab-araban. Serambi Jåwå ya Tanah Jåwå miliknya wong Jåwå, sama sekali bukan tanah miliknya wong Mekkah atau Madinah apalagi milik wong Londo.

    Puasa sebagai budaya “laku prihatin” semoga makin membuat kita semua menjadi pribadi yang memprihatinkan batin sendiri demi memperhatikan kebersamaan tanpa pemaksaan.

    Sejenak kita kilas balik ke bulan Ruwah, sebulan sebelum menjalankan ibadah Ramadhan. Ada beberapa laku yang sampai sekarang dilakukan oleh saudara-saudara kita di kampung-kampung terutama yang berdekatan dengan masjid atau langgar. Sebagai wujud kegembiraan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
    Ini merupakan warisan budaya yang dikembangkan oleh para wali penyebar Islam di Tanah Jawa pada waktu itu.

    Bulan Sya’ban atau Ruwah (arwah, ruh), yaitu bulan yang lazim dan tepat sekali digunakan sebagai waktu untuk mengirim do’a atau sekedar menyambangi para arwah leluhur yang telah pergi mendahului kita. Jika mengingat bulan Ruwah ini maka yang pertama menjadi kesan adalah mengenai kegiatan nyekar (tabur bunga) dan juga nyadran.

    Nyadran atau Pesta Nyadran berasal dari Bahasa Jawa Kuno Sadra. Para ahli sejarah menemukan banyak bukti bahwa Pesta Nyadran bukan ritus keagamaan, baik agama Hindu maupun Islam.

    Pesta Nyadran di kuburan setiap bulan Ruwah yang hingga saat masih hidup di tengah-tengah masyarakat merupakan adat-istiadat peninggalan kuno yang bersumber pada faham Kêjawén berkaitan dengan kepercayaan terhadap alam adikodrati atau alam roh.

    Menurut kepercayaan purba masyarakat Jawa, alam adikodrati atau alam roh dihuni arwah lêluhur, sing mbau rêkså, danyang lan lêlêmbut. Penghuni alam roh ini masih bisa berinteraksi dengan manusia. Hubungan bisa berakibat gangguan, juga bisa berupa pertolongan. Karena itu manusia melakukan upacara selamatan, upacara pemujaan terhadap arwah (ritual magis) demi keselamatan dan terkabulnya keinginan.

    Namun tatkala Prabu Hayam Wuruk menghelat Pesta Srada, seluruh masyarakat di Majapahit yang beragama Hindu mengikuti jejak rajanya. Pesta Srada, akhirnya menjadi pesta pemujaan arwah di seluruh negeri Majapahit karena tidak hanya untuk mengenang wafatnya Sri Rajapatni, namun juga untuk menghormati arwah para leluhur masing-masing.

    Pesta Srada yang didokumentasikan oleh Mpu Prapanca dalam Kakawin Nagarakretagama, ruhnya juga terus hidup di kalangan masyarakat kendati telah memeluk agama Islam. Hanya nama dan kemasannya saja yang berubah. Namanya menjadi nyadran, sedangkan ritusnya dikemas secara Islami, terutama doa-doanya, pakaian dan rangkaian acaranya.

    Sedangkan ubarampe media pemajatan doa masih berupa sêkul tumpeng, iwak ingkung dan lauk-pauk seperti lazimnya dalam kênduri.

    Nagarakretagama Pupuh LXIII: 2

    Ajna sri-natha sang tribhuwana-wijayottunggadewi
    Sraddha sri-rajapatni wekasana gawayen sri narendreng kadatwan
    Siddha ning karyya ring saka siwasa masirah warnna ring bhadramasa
    Sakweh sri-natha rakwawwata tadah iringen de para wrddha mantri
    .

    [Atas perintah sang rani Sri Tribuwana Wijayatunggadewi, Supaya Pesta Srada Sri Rajapatni dilangsungkan Sri Baginda, Di istana pada tahun Saka siwasa masirah warnna (1284) bulan Badrapada, Semua pembesar dan Wreda menteri diharap memberi sumbangan.

    Hingga saat ini nyadran masih tetap berlangsung disetiap bulan Ruwah. Penyelenggaraannya juga masih dipusatkan di kuburan, diikuti seluruh ahli waris penghuni kuburan dari berbagai agama.

    Kendati begitu ritual upacara tradisi nyadran mayoritas masih dalam kemasan Islami, bahkan sudah banyak yang menyelipkan acara pengajian dalam nyadran sehingga bagi yang tidak tahu sejarahnya pesta nyadran dianggap sebagai ritus keagaaman (Islam).

    Inti dari uraian di depan hanya untuk menjelaskan bahwa nyadran bukan ritual keagamaan, baik Hindu apalagi Islam. Nyadran adalah tradisi, adat-istiadat akibat kuatnya faham Kêjawén.

    Tradisi nyadran merupakan simbol adanya hubungan dengan para leluhur, sesama, dan Yang Mahakuasa atas segalanya. Nyadran merupakan sebuah pola ritual yang mencampurkan budaya lokal dan nilai-nilai Islam, sehingga sangat tampak adanya lokalitas yang masih kental islami.

    Budaya masyarakat yang sudah melekat erat menjadikan masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dari kebudayaan itu. Dengan demikian tidak mengherankan kalau pelaksanaan nyadran masih kental dengan budaya Hindhu-Buddha dan Animisme yang diakulturasikan dengan nilai-nilai Islam oleh Wali Sångå.

    Secara sosio-kultural, implementasi dari ritus nyadran tidak hanya sebatas membersihkan makam-makam leluhur, selamatan (kênduri), membuat kue apêm, kolak, dan kêtan sebagai unsur sesaji sekaligus landasan ritual doa. Nyadran juga menjadi ajang silaturahmi keluarga dan sekaligus menjadi transformasi sosial, budaya, dan keagamaan.

    Nyadran merupakan ekspresi dan ungkapan kesalehan sosial masyarakat di mana rasa gotong- royong, solidaritas, dan kebersamaan menjadi pola utama dari tradisi ini. Ungkapan ini pada akhirnya akan menghasilkan sebuah tata hubungan vertikal-horizontal yang lebih intim. Dalam konteks ini, maka nyadran akan dapat meningkatkan pola hubungan dengan Tuhan dan masyarakat (sosial), sehingga akhirnya akan meningkatkan pengembangan kebudayaan dan tradisi yang sudah berkembang menjadi lebih lestari.

    Dalam konteks sosial dan budaya, nyadran dapat dijadikan sebagai wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan dan nasionalisme. Dalam prosesi ritual atau tradisi nyadran kita akan berkumpul bersama tanpa ada sekat-sekat dalam kelas sosial dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan ataupun partai.

    Nyadran menjadi ajang untuk berbaur dengan masyarakat, saling mengasihi, saling menyayangi satu sama lain. Nuansa kedamaian, humanitas dan familiar sangat kental terasa. Apabila nyadran ditingkatkan kualitas jalinan sosialnya, rasanya Nusantara Indonesia ini menjadi benar-benar rukun, ayom-ayêm, lan têntrêm.

    Nyadran dalam konteks Indonesia saat ini telah menjelma sebagai refleksi, wisata rohani kelompok masyarakat di tengah kesibukan sehari-hari. Masyarakat, yang disibukkan dengan aktivitas kerja yang banyak menyedot tenaga sekaligus (terkadang) sampai mengabaikan religisitas, melalui nyadran, seakan tersentak kesadaran hati nuraninya untuk kembali bersentuhan dan bercengkrama dengan nilai-nilai agama: Tuhan.

    Selain itu hal yang sepertinya menjadi paket dari bulan Ruwah adalah tradisi padusan. Puasa Ramadhan yang akan dilakukan selama sebulan penuh adalah wajib hukumnya bagi yang memiliki syarat Iman terhadap Islam. Laku puasa tersebut oleh orang-orang tua dahulu juga dimaknai sebagai lêlaku prihatin.

    Sementara syarat yang diberlakukan bagi orang-orang yang mau mengerjakan tindakan atau lêlaku prihatin pada waktu itu adalah melakukan laku adus banyu suci pêrwitåsari.

    Laku adus banyu suci pêrwitåsari adalah satu tindakan mandi (Jawa: adus) menggunakan sari-sari air yang sudah disucikan dengan do’a. Tujuan laku mandi tersebut tak lain adalah untuk membersihkan tubuh sebelum melakukan pembersihan batin dengan cara laku prihatin.

    Karena puasa Ramadhan yang akan dilalui selama sebulan penuh itu juga dianggap sebagai laku prihatin maka persiapannya pun musti dilakukan dengan cara padusan juga. Padusan ini biasanya dilakukan pada satu atau dua hari menjelang hari pertama bulan puasa, dan tempat yang digunakan sebagai sarana pemandian umum itu bisa di sendang, di sungai, atau di >mbêlik (semacam sumur kecil yang memiliki sumber air jernih).

    Di tempat yang bersifat umum inilah di lakukan semacam ikrar dengan dipimpin oleh orang yang dipercaya sebagai sesepuh pada suatu kampung, isi ikrar tersebut adalah memantapkan hati untuk mengucapkan niat menjalankan laku prihatin berujud puasa dengan menyertakan diri pada acara padusan sebagai sarana mandi sebagai maksud untuk membersihkan tubuh agar terbuang semua kotoran yang melekat di raga syukur-syukur di jiwa ini.

    Pada acara baik nyadran, nyekar ataupun padusan ini hal yang mampu dimaknai adalah terjadinya satu bentuk kebersamaan. Tak peduli apa yang menjadi keyakinan yang dianut, namun saat-saat seperti itu semua bisa berbaur menjadi satu melakukan kerjasama serta tindakannya pun seirama tanpa ada satu pengkotakan yang hanya dibedakan menurut kulit luar manusia saja.

    Tradisi yang sungguh sangat bisa memberi inspirasi kepada setiap umatNya. Disinilah tercipta satu kesejatian bahwa kita manusia ini tercipta sama sebagai mahluk didepan mata Tuhan, tak ada satu sisi pun dari kita ini bisa disombongkan didepan manusia lain.

    Setelah selesai melakukan pembersihan makam ritual padusan dilanjutkan genduren/kênduri yang dilakukan di pendopo Masjid. Ada juga masyarakat kampung menggelar kênduri berlokasi di sepanjang jalan menuju makam atau lahan kosong yang ada di sekitar makam leluhur (keluarga).

    Istilah kênduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia, yakni kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahrah, puteri Nabi Muhammad SAW.

    Kênduri dimulai setelah ada bunyi kentongan yang ditabuh dengan irama dara muluk (berkepanjangan). Lalu seluruh keluarga dan anak-anak kecil serta remaja hadir dalam acara kênduri itu. Tiap keluarga biasanya akan membawa makanan sekadarnya, beragam jenis, lalu duduk bersama dalam keadaan bersila. Selain ubå-rampê yang diperlukan sebagai pelengkap pada tradisi nyadran tersebut.

    Dalam acara kênduri menyongsong tibanya bilan suci Ramadhan ada penganan yang hukum (adat)nya bersifat mengikat dan mesti disediakan. Dan kebanyakan dari yang bersifat “harus ada” itu adalah makanan yang memiliki simbol-simbol tertentu. Sebagaimana yang mesti ada pada tradisi nyadran adalah ubå-rampê makanan yang berujud kêtan, kolak, dan apêm.

    Adonan tiga jenis makanan dimasukkan ke dalam takir, yaitu tempat makanan terbuat dari daun pisang, di kanan kiri disunduki (ditusuki) lidi (biting), atau ancak yang terbuat dari batang daun pisang persegi empat, disunduki juga pakai bambu-bambu sebesar telunjuk, dan dialasi daun pisang.

    Kue-kue tersebut selain dipakai munjung/atêr-atêr (dibagi-bagikan) kepada sanak saudara yang lebih tua, juga menjadi ubå-rampê kênduri. Tetangga dekat juga mendapatkan bagian dari kue-kue tadi. Hal itu dilakukan sebagai ungkapan solidaritas dan ungkapan kesalehan sosial kepada sesama.

    Setiap peserta acara kênduri dengan membawa takirnya atau ancaknya masing-masing akan masuk ke pendopo masjid melalui pintu gerbang masjid atau gapuro

    Kemudian, kebayan desa membuka acara, isinya bermaksud untuk mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada warga yang sudah bersedia menyediakan makanan, ambengan, dan lain-lain termasuk waktunya.

    Setelah itu, Mbah Kêtib atau Mbah Kaum (ulama lokal) yang sudah dipilih menjadi rois, maju untuk memimpin doa yang isinya memohon maaf dan ampunan atau dosa para leluhur atau pribadi mereka kepada Tuhan Yang Mahakuasa. sekaligus mendengarkan mengumumkan dari Mbah Kêtib atau Mbah Kaum tentang awal puasa.

    Doanya menggunakan tata cara agama Islam, warga dan anak-anak mengamini. Suasana ceria anak-anak tergambar dengan semangat melafalkan amin sambil berteriak. Selesai berdoa, semua yang hadir mencicipi makanan yang digelar.

    Pada saat itu ada yang tukar-menukar kue, ada yang asyik ngobrol dengan kanan-kiri, maklum beberapa warga pulang dari perantauan hadir dalam kênduri. Biasanya Mbah Kaum diberi uang wajib dan makanan secukupnya, sedangkan yang tak hadir atau si miskin diberi gandhulan, nasi, kue yang dikemas khusus kemudian diantar ke rumah yang sudah disepakati diberi gandhulan.

    Dari tata cara tersebut, jelas nyadran tidak sekadar ziarah ke makam leluhur, tetapi juga ada nilai-nilai sosial budaya, seperti budaya gotongroyong, guyub, pengorbanan, dan ekonomi.
    Di sini ada hubungan kekerabatan, kebersamaan, kasih sayang di antara warga atau anggota trah. Di samping itu, semakin jelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda.

    Sajian berupa ketiga jenis penganan ini, merujuk kepada Kanjeng Sunan Kalijaga pada setiap bulan Ruwah menjelang Ramadhan.

    Ketiga penganan berujud kêtan karena jika kita tilik namanya, kêtan itu bisa didefinisikan sebagai penyebutan lidah Jawa pada kata khotan (bahasa Arab) yang berarti kesalahan. Dari arti kesalahan inilah dituntutnya kita supaya selalu mengingatnya yang ternyata perbuatan salah itu adalah berawal dari diri sendiri, dan dari sini selanjutnya diharapkan bisa selalu mengkoreksinya, tentu berawal dari diri pula, bukan dari orang lain.

    Sementara kolak mengandung maksud pada kata kholaqo yang memiliki arti ‘mencipta’. Arti kholaqo tersebut tercipta sebuah kata Khaliq. Ini artinya bersamaan dengan bulan Ruwah ini diharapkan kita bisa semakin mendekatkan diri kepadaNya yaitu untuk mendoakan para leluhur kita, dan juga doa itu menuntut untuk diteruskan pula pada bulan-bulan berikutnya, baik Puasa, Lebaran dan bulan-bulan setelahnya.

    Tak boleh ketinggalan adalah makanan bernama apêm. Apêm adalah penjawaan dari afwam atau afuwwu yang berarti maaf, permintaan maaf. Dapat dijelaskan bahwa pada bulan ini hendaknya kita semua bisa berusaha untuk menjadi orang yang sifatnya pemaaf dan bisa memaafkan orang lain.

    Gapuro mengandung maksud bahwa dengan bertumpuknya kesalahan (khotan) pada kita, hendaknya kita segera mendekatkan diri kepda Sang Maha Pencipta (Al Khaaliqu), kita mohon maaf (afwam) supaya kita mendapatkan ampunan (ghafur) dari Yang Maha Rahim, Dzat Yang Maha Pengampun.

    Ajaran yang disimbolisasikan itu adalah: Menjelang bulan suci Ramadhan kita diminta untuk memasukinya dalam keadaan bersih dan suci (adus), yang diawali dengan terus meneguhkan tali silaturahim (nyadran). Bukankah kita ini penuh dengan kotoran-kotoran, penuh dengan noda dan dosa, penuh dengan khotan, maka kita diminta untuk bersuci, berbuat mendekatkan diri kepadaNya, kepada Sang Maha Pencipta (AL KHAALIQU). Bila telah bersuci lahir dan batin maka mohon ampunlah (afwam) kepada Allah Yang Maha Pengampun (AL AFUWWU) dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kita, dan baru boleh memasuki gapuro (ghafur) Masjid, bukankah Allah Maha Pemaaf (AL GHAFFAARU, AL GHAFUURU).

    Karena lidah Jawa tidak bisa mengucapkan kata-kata khotan, khaliq, dan afwam, ghafur,, maka para Kanjeng Sunan Kalijaga dengan kesepakatan para Wali lainnya memberi simbol-simbol dengan kêtan, kolak, apêm dan gapurå.

    Adapun tentang ketupat atau kupat,/b>. Ketupat identik sebagai hidangan spesial lebaran, tradisi ketupat ini diperkirakan berasal dari saat Islam masuk ke tanah Jawa.

    Dalam sejarah, Sunan Kalijaga adalah orang yang pertama kali memperkenalkannya pada masyarakat Jawa. Beliau membudayakan dua kali lebaran atau bakdå, yaitu Bakdå Lêbaran dan Bakdå Kupat.
    Bakdå Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran.

    Pada hari yang disebut Bakdå Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah sudah selesai dimasak, kupat tersebut diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

    Ketupat sendiri oleh Kanjeng Sunan Kalijaga diberi beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat.

    Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri. Sumonggo.

    ånå tutugé

    Ya Allah! Sadarkanlah kami akan berkah-berkah yang berada di duapertiga malam ini. Sinarilah hati kami dengan terang cahayaMu. Bimbinglah kami dan seluruh anggota tubuh kami untuk dapat mengikuti keagungan ajaranMu, Demi terang cahayaMu. Wahai Dzat Maha Cahaya di atas Cahaya, Penerang hati orang-orang arif

    SUGÊNG NINDAKAKÊN IBADAH SIYAM DINTÊN KAPING-18 RAMADHAN 1431H

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

    • klangenan kulo :“APEM”

      • Nek kulo seneng srabi….

        • Kulo nggih remen, tp mboten ngangge ES

          • menapa ingkang dipun kersa’aken RabiES, nanging mBoten ngangge ES…..?

          • Nek sing niki kedah ngangge YES

  3. genk enjang Ki Arema
    genk enjang Ki P Satpam
    tilik gandhok sekaliyan mlinteng rontal.
    matur nuwun

  4. Alhamdulillah no 8 lagi

  5. matur nuwun pencerahanipun ki Bayu, matur nuwun sampun ngunduh rontalipun pak Satpam

  6. Alhamdulillah, duwe tabungan rontal 08, 09, 10.
    lumayan kanggo buka mengko sore.
    Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam.

    • wadhuh, … kalo saya sudah lama tidak punya tabungan.
      semoga saja gandhok-11 segera dibuka dan wedharan sekaligus.

      • Menawi ngantos mBoten kagungan tabungan, ateges Ki SukaS karemanipun nithili.
        he….he….he…..
        sugeng dalu Ki.

        • nithili itu memang paling enak ki, …
          buktinya ada “nithili” yang dilakukan anak-anak kecil sampai kakek-kakek, …
          nithili apa, mangga dibedhek, hayo, …

  7. Gandok 11 mbok ndang dibukak to Yai Satpam….

  8. selamat malam, ki arema, ki pak satpam, ki tumenggung kartojudo, ki tumenggung anatram, ki tumenggung yudha pramana, ki rangga widura, ki pandanalas, ni nunik, ki ismoyo, ki panembahan donoloyo, ki arga, ki sutajia, ki gembleh, ki kompor, ki truno podang, ki djojosm, ki truno prenjak, ki sukasrana, ki samy, ki budi prasojo, ki bancak, ki bayuaji, ni ken padmi, ki mukidi, ki sas dan para cantrik serta mentrik sekalian…

    • Monggo ngunduh Ki Banu ,,,, mumpung taksish anget ..

      • sugeng enjing Ki Banu
        sugeng enjing Pak De Ki Widura
        sugeng enjing ki sana sedoyo kemawon

        sekulipun taksih dereng mateng

        ngapunten

  9. Matur nuwun Ki Ajar Arema, matur nuwun nak derek sedoyo, amien…………. Nuwun sewu Ki TP pancen radi katah paculan malih, amargi wonten tugas madepok malih ip supados nurunaken ilmu cemethi dumateng poro cantrik lan mentrik ing Jakarta. Amargi sampun sa’watawis dangu boten latihan kanuragan, dados nggih kedah mesu broto rumiyin sa’derengipun nurunaken jurus2 cemethi puniko.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: