JDBK-08

<< kembali | lanjut >>

Halaman: 1 2 3

Telah Terbit on 6 Agustus 2011 at 03:15  Komentar (20)  

The URI to TrackBack this entry is: http://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-08/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-22: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-18) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober (Parwa-7). On 1 Agustus 2011 at 05:01 JdBK-06.

    Wêdaran kaping-23:
    NYI RATU KALINYAMAT (Parwa ke-1)

    Ratu Kalinyamat sendiri yang memimpin rombongan Pasukan Pengawal. Dia kini keluar dari kereta dan menaiki seekor kuda. Ratu Kalinyamat terlihat gagah dan anggun ketika duduk di atas pungung kuda.

    Sorot matanya garang, bertolak belakang dengan kecantikan wajahnya. Namun, walaupun begitu, malahan nampak terlihat semakin anggun.

    Demikian cuplikan dongeng di atas.

    Siapa Nyi Ratu Kalinyamat ?

    Berikut sebagai dongeng sejarah, yang akan menjelaskan tentang :

    1. Siapakah Nyi Ratu Kalinyamat?

    2. Apa peranan Ratu Nyi Kalinyamat dalam sejarah kebangsaan Indonesia?

    Yang dikisahkan oleh beberapa penulis, pengembara berkebangsaan Portugis yang pernah berkunjung ke Nusantara pada abad ke-16 pada tahun 1560an, semasa Sang Ratu Kalinyamat hidup; yaitu Meilink-Roelofsz dan Diego de Couto.

    Penulisan ini juga bersumber pada serat atau babad: Serat Kandhaning Ringgit Purwa Babad Demak, Sêrat Kåndhå dan Babad Sejarah Banten.

    Nama asli Nyi Ratu Kalinyamat adalah Rêtnå Kêncånå, puteri Trênggånå, Sultan Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangéran Kalinyamat.

    Sebagai sorang legendaris Nyi Ratu Kalinyamat, makam Nyi Ratu dan Pangéran Hadiri (ada yang menyebutnya dengan nama Pangéran Rakit Hadirin, atau Pangéran Hadirin, atau Kyai Win Tang); nyaris tak pernah sepi pengunjung.

    Mereka yang datang dari berbagai daerah semata-mata berharap karomah. Apa yang mereka harapkan dari aura makam tokoh legendaris yang pernah bertapa dengan telanjang itu?

    Tokoh Nyi Ratu Kalinyamat sangat melegenda. Setidaknya, bagi masyarakat Jepara dan Pati, Jawa Tengah. Dia tidak hanya dikenal sebagai seorang putri yamg molek, tetapi juga cerdas dan berani.

    Tak heran, jika akhirnya wanita tersebut memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati Jepara, yang kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora.

    Tatkala Nyi Ratu Kalinyamat mencari suami, terpaksa ia menggelar seyembara. Dengan seyembara itu, ia berhadap akan mendapatkan pendamping hidup yang tidak saja tampan, tetapi juga cerdas serta memiliki kemampuan setara dirinya.

    Namun sayang, harapan tersebut tak pernah menjadi kenyataan. Hingga, secara tak sengaja ia bertemu Pangéran Hadiri, yang diutus ayahnya yang Sultan Aceh untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak.

    Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan dan arif bijaksana. Tak heran bila Nyi Ratu Kalinyamat langsung kasmaran padanya. Dengan demikian Pangéran Hadiri berasal dari luar Jawa.

    Terdapat berbagai versi tentang asal-usulnya. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang pedagang dari Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru pada Sunan Kudus.

    Versi lain mengatakan, Win-tang berasal dari Tanah Rencong Aceh. Nama aslinya adalah Pangéran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah, dari Kesultanan Aceh (1514-1528).

    Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib.

    Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangéran Kalinyamat.

    Ia berhasil menikahi Retna Kencana putri bupati Jepara, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak itu, Pangéran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangéran Hadirin atau Pangéran Hadiri.

    Sayangnya, ibarat masa bulan madu Nyi Ratu Kalinyamat dan Pangéran Hadiri belum tuntas, sang suami keburu gugur di tangan pembunuh bayaran suruhan Adipati Jipang Aryå Pênangsang.
    Hati sang Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kenyataan pahit itu.

    Pembantaian itu sendiri terjadi seusai menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawåtå. Sang kakak, juga tewas di tangan Aryå Pênangsang yang berambisi merebut tahta Kesultanan Demak.

    Yang lebih membuatnya kecewa, ketika ia mengadukan kelakuan Aryå Pênangsang kepada Sunan Kudus, Sunan Kudus ternyata malah memihak Aryå Pênangsang.

    Bahkan, Sunan Kudus mengatakan, bahwa semua itulah buah dari tindakan Sunan Prawåtå yang membunuh Pangéran Sêkar Sédå Lèpèn.

    Setelah peristiwa pembantaian kakak kandung serta suaminya. Nyi Ratu Kalinyamat bersumpah akan menebus rasa malunya dan meraih kembali kehormatannya.

    Keinginan tersebut membuatnya bertekad tapa telanjang, sampai merasa mendapat petunjuk bahwa pembunuh tersebut akan mendapat balasan yang setimpal.

    Dalam hal ini sedikit banyak dia ikut serta menentukan arah dan nasib kerajaan selanjutnya. Walaupun perbuatannya hanyalah suatu proses terhadap suatu ketidakadilan dan perbuatan sewenang-wenang terhadap suaminya.

    Tetapi hal ini mengundang simpati dan rasa kasihan masyarakat untuk membantu menghancurkan sumber kejahatan tersebut.

    Di antara Adipati yang bersimpati pada ratu Kalinyamat adalah penguasa kadipaten Pajang, Djåkå Tingkir Hadiwijåyå. Di kemudian hari dia memang berhasil membunuh Aryå Pênangsang.

    Kraton Demak lalu dipindahkan ke Pajang tahun 1568, maka tancêp kayonlah kebesaran Kesultanan Dêmak Bintårå.

    Lebih dari dua windu Nyi Ratu Kalinyamat melakukan ritual tåpå wudå. Mula-mula, ritual itu dilakukan di Gelang Mantingan, kemudian pindah ke Desa Dånåråså, lalu berakhir di tempat Dånåråjå Tulakan Kêling Jêpara.
    Ia baru akan puas setelah berhasil memakai kapala Aryå Pênangsang sebagai alas kaki.

    Tåpå wudå tersebut benar-benar berakhir setelah Adipati kelak adalah Sultan Pajang Hadiwijåyå menghadap Nyi Ratu Kalinyamat sambil menenteng penggalan kepala Aryå Pênangsang dan semangkok darahnya.

    Aryå Pênangsang berhasil dibunuh Sultan Pajang yang bernama R Hadiwijaya, menggunakan tangan Danang Sutåwijåyå (putra Ki Gêdé Pêmanahan), dalam suatu perkelahian di tepi bengawan antara Cepu dan Blora.

    Tubuh Adipati Jipang Panolan itu dicabik-cabik dan serpihan tubuhnya ditanam terpencar-pencar di berbagai pelosok di Jawa Tengah.

    Kepala Aryå Pênangsang itu benar-benar digunakan untuk keset oleh Nyi Ratu Kalinyamat, dan darahnya digunakan untuk keramas. Setelah puas, kepala Aryå Pênangsang dibuang ke sebuah kolam yang terdapat di Desa Mantingan.

    Hingga kini, makam Nyi Ratu Kalinyamat nyaris tak pernah sepi dari peziarah. Mereka yang datang dari berbagai daerah dengan harapan mendapat karomah.

    Banyak di antara peziarah yang memohon kharomah agar parasnya menjadi cantik dan menawan juga sensual (bagi kaum hawa), atau gagah ganteng berkharisma bagi peziarah kaum adam di makam Pangéran Hadiri.

    Kembali kepada pertanyaan siapa Ratu Kalinyamat?

    Pada dongeng Keris Kyai Brongot Setan Kober, khususnya tentang Ratu Kalinyamat, fakta sejarah bercampur-aduk dengan dongeng legenda rakyat. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa dongeng rakyat itu harus kita abaikan begitu saja.

    Dalam dongeng rakyat, sekecil apapun pasti mengandung kebenaran fakta sejarah. Dongeng rakyat yang lazim dibuat dalam bentuk tembang atau kidung, juga telah memperkaya khasanah budaya kesusasteraan bangsa.

    Dalam sejarah dikenal adanya istilah sumber sejarah tertulis, yakni segala keterangan dalam bentuk laporan tertulis yang memuat fakta-fakta sejarah secara jelas.

    Sumber ini dapat ditemukan antara lain pada batu, tamra prasasti, dinding goa, lempengan logam (biasanya perunggu, emas atau perak), sarkofagus, kayu, rontal, kulit hewan, kain, kertas. film.

    Sumber sejarah tertulis dapat bersifat naratif atau literatur yaitu berita sejarah yang memuat suatu cerita atau pesan. Sumber-sumber ini termasuk prasasti (misalnya prasasti tentang penetapan suatu daerah perdikan; prasasti tentang kehadiran seorang raja ke suatu tempat), cacatan perjalanan (semacam buku harian, misalnya Pujasastra Nagarakertagama), biografi.

    Dalam sejarah modern, termasuk karya ilmiah berupa penemuan-penemuan ilmiah (rumus, dalil, rekayasa genetika, listrik, televisi, mesin).

    [Pada kesempatan lain, akan diwedar sumber penulisan sejarah dalam Dongeng Sumber, Bukti dan Fakta Sejarah].

    Pribadi Ratu Kalinyamat

    Ratu Kalinyamat adalah seorang tokoh wanita yang sangat terkenal. Dia tidak hanya berparas cantik, tetapi juga berkepribadian “gagah berani” seperti yang dilukiskan sumber Portugis sebagai De Kranige Dame yang seorang wanita yang pemberani.

    Kebesaran Ratu Kalinyamat pernah dilukiskan oleh penulis Portugis Diego de Couto, sebagai Rainha de Japara, senhora paderosa e rica yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita kaya dan sangat berkuasa.

    Di samping itu, selama tigapuluh tahun kekuasaannya ia telah berhasil membawa Jepara ke puncak kejayaannya.

    Ratu Kalinyamat adalah tokoh wanita Indonesia yang penting peranannya pada abad ke-16. Peranannya mulai menonjol ketika terjadi perebutan tahta dalam keluarga Kesultanan Demak.

    Ia menjadi tokoh sentral yang menentukan dalam pengambilan keputusan. Di samping memiliki karakter yang kuat untuk memegang kepemimpinan, ia memang menduduki posisi strategis selaku putri Sultan Trênggånå, Raja Demak ke tiga. Sultan Trênggånå adalah putra Radèn Patah, pendiri Kesultanan Demak.

    Selama tigapuluh tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat telah berhasil membawa Jepara kepada puncak kejayaannya. Dengan armada lautnya yang sangat tangguh, Ratu Kalinyamat pernah dua sampai tiga kali menyerang Portugis di Malaka.

    Walaupun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan terhadap Portugis, ternyata ekspedisi tersebut mengalami kegagalan, dan pada akhirnya kembali ke Jawa.

    Seorang pemimpin ekspedisi militer Ratu Kalinyamat ke Malaka tersebut adalah Kyai Demang Laksamana (sumber Portugis menyebut dengan nama Quilidamao).

    Sejak terjadinya perebutan tahta di Demak, nama Ratu Kalinyamat muncul dalam panggung sejarah Indonesia, khususnya sejarah Jawa.

    Dalam sejarah dinasti Demak, tokoh Ratu Kalinyamat mempunyai nama yang begitu menonjol ketika kerajaan itu mengalami kemerosotan akibat konflik perebutan tahta.

    Popularitasnya jauh lebih menonjol dibanding dengan Pangéran Hadiri, bahkan Sultan Prawåtå, raja Demak ke empat.

    Ratu Kalinyamat adalah putri Pangéran Trênggånå dan cucu Radèn Patah, sultan Demak yang pertama. Ratu Kalinyamat mempunyai nama asli Rêtnå Kêncånå yang kemudian dikenal sebagai Ratu Kalinyamat.

    Rêtnå Kêncånå kemudian tampil sebagai tokoh sentral dalam penyelesaian konflik di lingkungan keluarga Kesultanan Demak.
    Setelah kematian Aryå Pênangsang, Rêtnå Kêncånå dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat.

    Penobatan ini ditandai dengan candra sengkala Trus Karya Tataning Bumi yang sama dengan tanggal 10 April 1549 atau tanggal 12 Rabiul Awal atu 10 April 1549.

    Selama masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin pesat perkembangannya. Menurut sumber Portugis yang ditulis Meilink-Roelofsz menyebutkan bahwa Jepara menjadi kota pelabuhan terbesar di pantai utara Jawa dan memiliki armada laut yang besar dan kuat pada abad ke-16.

    Adanya gelar ratu menunjukkan bahwa di lingkungan istana kedudukannya cukup tinggi dan menentukan. Lazimnya gelar itu hanya dipakai oleh orang-orang tertentu, misalnya seorang raja wanita, permaisuri, atau puteri sulung raja.

    Babad Demak II menempatkan Ratu Kalinyamat sebagai puteri sulung Sultan Trênggånå. Kalau ini benar, berarti gelar ratu sudah sepantasnya melekat padanya. Sebagai puteri sulung raja, ia disebut Ratu Pembayun.

    Pernyataan ini memiliki kesesuaian dengan sumber Portugis. Seorang musafir penulis Portugis yang bernama Fernao Mendez Pinto (1510-1583) menerangkan, ketika ia datang di Banten pada tahun 1544, datanglah utusan Raja Demak, seorang wanita bangsawan tinggi bernama Nyai Pombaya.

    Besar kemungkinan yang dimaksudkan adalah Ratu Pembayun. Dengan demikian gelar ratu itu diperoleh dari ayahnya, dan bukan berasal dari suaminya yang hanya seorang penguasa daerah setingkat adipati.

    Menurut Babad Tanah Jawi, Sultan Trênggånå mempunyai enam orang putra. Putra sulung adalah seorang putri yang dinikahi oleh Pangéran Langgar, putra Ki Agêng Sampang dari Madura.

    Putra kedua seorang laki-laki yang bernama Pangéran Prawåtå yang kelak menggantikan ayahnya menjadi Sultan Demak ke tiga. Putra ketiga seorang putri yang menikah dengan Pangéran Kalinyamat.

    Putra ke empat juga seorang putri yang menikah dengan seorang Pangéran dari Kasultanan Cirebon. Putra ke lima juga putri menikah dengan Radèn Djåkå Tingkir yang kelak menjadi Sultan Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Ada pun putra bungsu adalah Pangéran Timur, yang masih sangat muda ketika ayahnya wafat.

    Dalam sumber-sumber sejarah Jawa Barat, dijumpai nama Ratu Arya Japara, atau Ratu Japara untuk menyebut nama Ratu Kalinyamat.

    Sementara itu Sêrat Kandhaning Ringgit Purwåmenyebutkan bahwa Sultan Trênggånå berputra lima orang. Putra pertama hingga ke empat adalah putri sedang putra bungsunya laki-laki.

    Putri sulung bernama Rêtnå Kênyå yang menikah dengan Pangéran Sampang dari Madura, putri ke dua adalah Rêtnå Kêncånå yang menikah dengan Pangéran Hadiri, putri ke tiga adalah Rêtnå Mirah menikah dengan Pangéran Riyå, putri ke empat seorang putri, dan putra bungsunya bernama Pangéran.

    Dari sumber ini terungkap bahwa Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Rêtnå Kêncånå. Suaminya, Pangéran Hadiri atau Pangéran Rakit Hadirin atau Pangéran Kalinyamat mempunyai sebutan lain Kyai Wintang.

    Ratu Kalinyamat dapat digambarkan sebagai tokoh wanita yang cerdas, berwibawa, bijaksana, dan pemberani. Kewibawaan dan kebijaksanaannya tercermin dalam peranannya sebagai pusat keluarga Kesultanan Demak.

    Walaupun Ratu Kalinyamat sendiri tidak berputera, namun ia dipercaya oleh saudara-saudaranya untuk mengasuh beberapa keponakannya. Menurut sumber-sumber sejarah tradisional dan cerita-cerita tutur di Jawa, ternyata ia menjadi pusat keluarga Kerajaan Demak yang telah tercerai berai sesudah meninggalnya Sultan Trênggånå dan Sultan Prawåtå.

    Ratu Kalinyamat adalah seorang raja perempuan yang bertempat tinggal di Kalinyamat, suatu daerah di Jepara yang sampai sekarang masih ada. Kalinyamat kira-kira 18 kilometer dari Jepara masuk ke pedalaman, di tepi jalan ke Jepara-Kudus.

    Pada abad ke-16 Kalinyamat menjadi tempat kedudukan raja-raja di Jepara. Kalinyamat adalah nama suatu daerah yang juga dipakai sebagai nama penguasanya. Th. C. Leeuwendal, Asisten Residen Jepara dalam Oudheidkundig Verslag 1930 menjelaskan mengenai lokasi kraton Kalinyamat dengan menggunakan berita dari Diego de Couto.

    Peta Karesidenan Kalinyamat terletak kira-kira 2 pal sebelah selatan Krasak dan di sebelah barat jalan besar Kudus-Jepara.

    Sementara itu P.J. Veth (1912) mencatat bahwa Kalinyamat pernah menjadi tempat kedudukan Ratu Jepara, suatu tempat yang ditemukan jejak-jejak atau bekas kebesaran masa lalu.

    Meskipun penduduk setempat dan para pegawai sama sekali tidak tahu tempat yang tepat dari bekas istana, tetapi setiap orang berbicara mengenai Ratu Kalinyamat.

    Di berbagai desa seperti Purwogondo, Robayan, Kriyan, dan tempat-tempat lain terdapat legenda mengenai Ratu Kalinyamat. Ada dugaan Krian mungkin merupakan tempat para “rakriya” (para bangsawan).

    Beberapa tempat di daerah ini masih bernama Pecinan, pada hal tidak ada lagi orang Cina yang bertempat tinggal di situ.

    Kemudian diketahui bahwa desa Robayan dan beberapa desa lainnya masih memakai nama Kauman. Di tempat-tempat tertentu orang masih menyebutnya dengan nama Sitinggil (Siti-inggil), yang terletak di tengah-tengah tanah tegalan.

    Di situ ditemukan dinding tembok dari kraton lama yang diperkirakan panjang kelilingnya antara 5-6 km persegi.

    Di sana sini terdapat benteng yang menonjol ke luar. Batas-batas dari kraton kira-kira meliputi sepanjang jalan besar Kudus, Jepara, Kali Bakalan, yang pada tahun 1900-an merupakan garis batas antara onderdistrik Pacangaan, Welahan, dan Kali Kecek.

    Di kebanyakan tempat, tembok-tembok kraton itu masih dalam kondisi yang bagus. Di suatu tempat yang disebut Sitinggil, memang ditemukan bangunan batu bata yang ditinggikan, sementara di tempat lain menunjukkan adanya tempat mandi.

    Dengan melalui penggalian percobaan di beberapa tempat dapat ditemukan adanya dinding-dinding benteng yang sangat berat yang memanjang sampai beberapa ratus meter.

    Di tempat itu juga ditemukan pondasi-pondasi yang terbuat dari batu bata yang lebih kecil ukurannya dari pada emplasemen Majapahit. Batu-batu bata ini telah diambil dan dimanfaatkan oleh penduduk.

    Di samping itu P.J. Veth memperoleh temuan penting dari berita Portugis mengenai “Cerinhama” atau “Cherinhama” yang disebut sebagai ibukota sebuah kerajaan laut atau kota pelabuhan Jepara yang terletak 3 mil atau kira-kira 12,5 pal ke pedalaman.

    Di tempat itu lah letak reruntuhan kraton Kalinyamat yang menjadi tempat kedudukan atau peristirahatan Ratu Jepara.

    Diperkirakan bahwa selama menjadi penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat tidak tinggal di Kalinyamat, akan tetapi di sebuah tempat semacam istana di kota pelabuhan Jepara.

    Sumber-sumber Belanda awal abad ke-17 menyebutkan bahwa di kota pelabuhan terdapat semacam istana raja (koninghof).

    Hal ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat sebagai tokoh masyarakat bahari memang tinggal di kota pelabuhan, sementara itu daerah Kalinyamat hanya dijadikan sebagai tempat peristirahatan.

    Sejak masih gadis, Ratu Kalinyamat memperoleh kepercayaan untuk memangku jabatan Adipati Jepara. Kala itu wilayah kekuasaannya meliputi Jepara, Pati, Kudus, Rembang dan Blora. Kerajaan kecilnya mula-mula didirikan di Kriyan.

    Ratu Kalinyamat menikah dengan Pangéran Hadiri. Salah satu versi menyebutkan bahwa ia adalah putera Sultan Ibrahim dari Aceh, yang bergelar Sultan Muhayat Syah.

    Waktu kecilnya bernama Pangéran Toyib. Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat, ia diberi gelar Pangéran Hadiri, yang berarti yang hadir (dari Aceh ke Jepara).

    Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat terjadi karena pada waktu itu Pangéran Toyib diutus oleh Sultan Aceh untuk menimba ilmu pemerintahan dan agama Islam di Kesultanan Demak.

    Lelaki berdarah Persia ini sangat tampan, arif bijaksana, berwawasan Islam luas, dan ketaatan iman, serta berani menentang penjajah Portugis.

    Setelah mengetahui asal-usul Radèn Toyib, hati Ratu Kalinyamat menjadi berdebar-debar. Ia teringat akan ramalan ayahnya bahwa pria yang akan menjadi pendampingnya kelak bukan berasal dari kalangan orang Jawa, melainkan berasal dari negeri seberang.
    Kemudian Ratu Kalinyamat bersedia diperistri oleh Radèn Toyib.

    Pada masa mudanya Pangéran Toyib mengembara ke negeri Cina. Di sana ia bertemu dengan Tjie Hwie Gwan, seorang Cina muslim yang kemudian menjadi ayah angkatnya. Konon, ayah angkatnya tersebut menyertainya ke Jepara.

    Setelah menikah dengan Ratu Kalinyamat dan menjadi adipati di Jepara, Tjie Hwie Gwan diangkat menjadi patih dan namanya berganti menjadi Pangéran Sungging Badar Duwung (sungging ‘memahat’, badar ‘batu atau akik’, duwung ‘tajam’).

    Nama sungging diberikan karena Badar Duwung adalah seorang ahli pahat dan seni ukir. Diceritakan bahwa dialah yang membuat hiasan ukiran di dinding masjid Mantingan. Ialah yang mengajarkan keahlian seni ukir kepada penduduk di Jepara.

    Di tengah kesibukannya sebagi mangkubumi Kadipaten Jepara, Badar Duwung masih sering mengukir di atas batu yang khusus didatangkan dari negeri Cina. Karena batu-batu dari Cina kurang mencukupi kebutuhan, maka penduduk Jepara memahat ukiran pada batu putih.

    Berita Portugis mewartakan bahwa pernikahan Ratu Kalinyamat dengan Pangéran Hadiri tidak berlangsung lama. Hati Ratu Kalinyamat sangat terpukul dan berduka atas kematian Pangéran Hadiri pada tahun 1549 yang dibunuh oleh utusan Aryå Pênangsang.

    Pembunuhan terjadi seusai menghadiri upacara pemakaman kakak kandungnya, Sunan Prawåtå yang juga tewas di tangan Aryå Pênangsang.

    Dalam perkawinannya, Ratu Kalinyamat tidak dikaruniai putra. Ia merawat beberapa anak asuh. Salah satu anak asuhnya ialah adiknya sendiri, Pangéran Timur, yang berusia masih sangat muda ketika Sultan Trênggånå meninggal.

    Setelah dewasa, Pangéran Timur menjadi adipati di Madiun yang dikenal dengan nama Panembahan Madiun.

    Dalam Sejarah Banten tercatat bahwa Ratu Kalinyamat mengasuh Pangéran Arya, putera Maulana Hasanuddin, Raja Banten (1552-1570) yang menikah dengan puteri Demak, Pangéran Ratu.

    Menurut historiografi Banten, Maulana Hasanuddin dianggap sebagai pendiri Kesultanan Banten. Maulana Hasanuddin sendiri juga berdarah Demak. Ayahnya, Fatahillah sedang ibunya adalah saudara perempuan Sultan Trênggånå. Maulana Hasanuddin kawin dengan putri Sultan Trênggånå.

    Dari perkawinannya itu lahir dua orang putra, yang pertama Maulana Yusuf dan yang ke dua Pangéran Jepara. Yang terakhir ini disebut demikian karena kelak ia menggantikan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara.

    Selama di Jepara, Pangéran Arya diperlakukan sebagai putra mahkota. Setelah bibinya meninggal, ia memegang kekuasaan di Jepara dan bergelar Pangéran Jepara. Masa pemerintahannya dan peranannya dalam bidang politik dan ekonomi memang tidak begitu menonjol seperti bibinya.

    Tidak disebutkan dengan jelas apa alasannya Pangéran Arya dikirim ke Jepara untuk dididik oleh bibinya. Meski pun demikian, dapat diduga bahwa Ratu Kalinyamat dipandang mampu membimbing dan mendidik, memiliki wibawa, dan berpengaruh.

    Adakalanya pendidikan putra raja diserahkan kepada keluarga raja yang bertempat tinggal tidak bersama-sama raja. Pemilihan Ratu Kalinyamat sebagai pendidik Pangéran Arya menunjukkan bahwa ia memiliki kepribadian yang kuat.

    Di samping mengasuh kedua anak muda itu, Ratu Kalinyamat juga dipercaya untuk membesarkan putra-putra Sultan Prawåtå yang telah menjadi yatim piatu.

    Sultan Prawåtå mempunyai tiga orang putra, dua laki-laki dan satu perempuan. Salah satu putra Sultan Prawåtå adalah Pangéran Pangiri, yang kelak berkuasa di Demak. Selain sebagai keponakan, kelak ia juga menjadi menantu Sultan Pajang.

    Dalam Dongeng Babad Mayong Jepara, Ratu Kalinyamat selain mengasuh putra lelaki Pangéran Pangiri putra Sultan Prawåtå, di juga mendapat amanat untuk mengasuh putri putra Sultan Prawåtå yaitu Rr Ayu Mas Sêmangkin.

    Babad Demak menyebutkan bahwa Pangéran Aryå Bagus Mukmin (Sultan Prawåtå) memiliki keturunan tiga orang anak yakni Pangéran Aryå Panggiri (Pangéran Madépandan) yang bergelar Sultan Ngawantipurå, Rr. Ayu Mas Sêmangkin dan Rr. Ayu Mas Prihatin.

    Tahun meninggalnya Ratu Kalinyamat tidak dicantumkan dalam kitab kesusasteraan Jawa. Ia dimakamkan di dekat suaminya di pemakaman Mantingan dekat Jepara, yang mungkin dibangun atas perintahnya sendiri, sesudah ia menjadi janda pada tahun 1549. Pengganti Ratu Kalinyamat adalah Pangéran Japara yang berkuasa dari tahun 1579 sampai tahun 1599.

    Menurut cerita Babad Tanah Jawi, ia adalah anak angkat Ratu Kalinyamat. Akan tetapi sumber Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota itu, yang bernama Pangéran Aria atau Pangéran Jepara itu adalah anak angkat Ratu Kalinyamat, putra Raja Hasanudin, Raja Banten. Pada masa inilah peranan Jepara sebagai kota pelabuhan yang penting mengalami keruntuhannya.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  2. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-23: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-19) Ratu Kalinyamat (Parwa-1). On 6 Agustus 2011 at 04:32JdBK 08:

    Wêdaran kaping-24:
    NYI RATU KALINYAMAT (Parwa ke-2)

    Peranan Ratu Kalinyamat dalam Sejarah Nasional Nusantara Indonesia

    Ratu Kalinyamat sebagai kepala daerah Jepara telah memainkan peranan penting tidak hanya pada level lokal atau regional, tetapi pada level internasional. Peranannya meliputi berbagai aspek kehidupan, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya, mau pun hubungan internasional.

    1. Bidang Politik

    Peranan politik yang dilakukan Ratu Kalinyamat diawali ketika terjadi kemelut di istana Demak pada pertengahan abad ke-16 yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan sepeninggal SultanTrênggånå. Perebutan tahta menimbulkan peperangan berkepanjangan yang berakhir dengan kehancuran kerajaan.

    Perebutan kekuasaan terjadi antara keturunan Pangéran Sêkar dengan Pangéran Trênggånå. Kedua Pangéran ini memang berhak menduduki tahta Kesultanan Demak. Dari segi usia, Pangéran Sêkar lebih tua sehingga merasa lebih berhak atas tahta Kesultanan Demak dari pada Pangéran Trênggånå.

    Namun Pangéran Sêkar lahir dari istri ke tiga Radèn Patah, yaitu putri Adipati Jipang, sedangkan Pangéran Trênggånå lahir dari istri pertama, putri Sunan Ampel. Oleh karena itu Pangéran Trênggånå merasa lebih berhak menduduki tahta Kesultanan Demak.

    Pangéran Prawåtå, putra Pangéran Trênggånå, membunuh Pangéran Sêkar yang dianggap sebagai penghalang bagi Pangéran Trênggånå untuk mewarisi tahta Kesultanan Demak. Pembunuhan terjadi di sebuah jembatan sungai saat Pangéran Sêkar dalam perjalanan pulang dari shalat Jum’at.

    Oleh karena itu, ia dikenal dengan nama Pangéran Sêkar Sédå Lèpèn. Menurut dongeng tutur lisan masyarakat daerah Demak, pembunuhan itu terjadi di tepi Sungai Tuntang, sedang menurut dongeng legenda Blora, Pangéran Sêkar dibunuh di dekat Sungai Gêlis.

    Pembunuhan ini menjadi pangkal persengketaan di Kesultanan Dêmak Bintårå. Radèn Aryå Pênangsang, putra Pangéran Sêkar berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya, sehingga ia berusaha untuk menumpas keturunan Sultan Trênggånå. Apalagi ia mendapat dukungan secara penuh dari gurunya. Sunan Kudus.

    Pangéran Sêkar mempunyai dua orang putra, yaitu Radèn Penangsang dan Radèn Mataram. Sepeninggal ayahnya, Radèn Penangsang diangkat menjadi adipati di Jipang bergelar Radèn Aryå Pênangsang.

    Menurut pandangan masyarakat Blora, Aryå Pênangsang berwajah garang, urakan, seram, berkumis tebal, uwang malang, paha belalang, namun tidak begitu tinggi. Ia suka memakai celana komprang berwarna hitam, bêbêdan, dan memakai dêstar.

    Bagi lawan-lawan politiknya, Aryå Pênangsang dituduh telah banyak melakukan kejahatan dan pembunuhan terhadap keturunan Sultan Trênggånå. Ia menyuruh Rangkut dan Gopta untuk membunuh Sultan Prawåtå.

    Sultan Prawåtå terbunuh bersama permaisurinya pada tahun 1549 (Babad Demak II: 28). Ia kemudian membunuh Pangéran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat.

    Pangéran Hadiri berhasil dibunuh oleh pengikut Aryå Pênangsang dalam perjalanan pulang dari Kudus, mengantarkan istrinya dalam rangka minta keadilan dari Sunan Kudus atas dibunuhnya Sultan Prawåtå oleh Aryå Pênangsang.

    Namun Sunan Kudus tidak dapat menerima tuntutan Ratu Kalinyamat karena ia memihak Aryå Pênangsang. Menurut Sunan Kudus, Sultan Prawåtå memang berhutang nyawa kepada Aryå Pênangsang yang harus dibayar dengan nyawanya.

    Aryå Pênangsang juga mencoba membunuh Adipati Pajang Hadiwijaya, menantu Sultan Trênggånå. Namun menurut sejarahwan J.Brandes, ia bertindak demikian karena membela hak-haknya.

    Kematian Sultan Prawåtå dan Pangéran Hadiri tampaknya membuat selangkah lagi bagi Aryå Pênangsang untuk menduduki tahta Demak. Meskipun pembunuhan terhadap Sunan Prawåtå dan Pangéran Hadiri telah berjalan mulus, namun Sunan Kudus merasa belum puas apabila Aryå Pênangsang belum menjadi raja, karena masih ada penghalangnya yaitu Hadiwijåyå. Atas nasehat Sunan Kudus, Aryå Pênangsang berencana membunuh Hadiwijåyå namun mengalami kegagalan. Kegagalan itu mendorong pecahnya perang antara Jipang dan Pajang.

    Di luar dugaan pihak Sunan Kudus dan Aryå Pênangsang, ternyata Ratu Kalinyamat tampil memainkan peranan penting dalam menghadapi Aryå Pênangsang. Ratu Kalinyamat minta kepada Hadiwijaya untuk membunuh Aryå Pênangsang.

    Didorong oleh naluri kewanitaannya yang sakit hati karena kehilangan suami dan saudara, ia telah menggunakan wewenang politiknya selaku pewaris dari penguasa Kalinyamat dan penerus keturunan Sultan Trênggånå.

    Ratu Kalinyamat memiliki sifat yang keras hati dan tidak mudah menyerah pada nasib. Menurut kisah yang dituturkan dalam Babad Tanah Jawi, ia mêrtåpå awêwudå wonten ing rêdi Dånåråjå, kang minångkå tapih rémanipun kaoré , bertapa dengan telanjang di gunung Dånåråjå, yang dijadikan kain adalah rambutnya yang diurai).

    Tindakan ini dilakukan untuk mohon keadilan kepada Tuhan dengan cara menyepi di Gunung Dånåråjå. Ia memiliki sesanti, baru akan mengakhiri pertapaanya apabila Aryå Pênangsang telah terbunuh.

    Ritual gaya Nyi Ratu Kalinyamat yang telanjang itu hingga kini masih menimbulkan berbagai tafsir. Demikian halnya dengan pernyataan Babad Tanah Jawi itu merupakan suatu kiasan yang memerlukan interpretasi secara kritis.

    Historiografi tradisional memuat hal-hal yang digambarkan dengan simbol-simbol dan kiasan-kiasan. Dalam bahasa Jawa kata wuda (telanjang) tidak hanya berarti tanpa busana sama sekali, tetapi juga memiliki arti kiasan yaitu tidak memakai barang-barang perhiasan dan pakaian yang bagus.

    Ratu Kalinyamat tidak menghiraukan lagi untuk mengenakan perhiasan dan pakaian indah seperti layaknya seorang ratu. Pikirannya ketika itu hanya dicurahkan untuk membinasakan Aryå Pênangsang. Di Gunung Dånåråjå itu lah Ratu Kalinyamat menyusun strategi untuk melakukan balas dendam kepada Aryå Pênangsang.

    Peperangan antara Pajang dan Jipang tidak dapat terelakkan. Dalam peperangan itu, Aryå Pênangsang memimpin pasukan Jipang mengendarai kuda jantan bernama Gagak Rimang yang dikawal oleh prajurit Soreng.

    Adapun pasukan Pajang dipimpin oleh Ki Gede Pemahanan, Ki Pênjawi, Ki Juru Mertani. Pasukan Pajang juga dibantu oleh sebagian prajurit Demak dan tamtama dari Butuh, pengging. Dalam peperangan itu Aryå Pênangsang terbunuh.

    Terbunuhnya Aryå Pênangsang itu terjadi pada tahun 1480 Ç atau 1558 M. Menurut sumber sejarah peristiwa itu terjadi pada tahun 1556, sedang sumber lain mengatakan Aryå Pênangsang gugur pada tahun 1554.

    Pertempuran dimenangkan oleh pihak Pajang dan Aryå Pênangsang gugur. Rangkaian peristiwa pembunuhan para kerabat raja Demak hingga perang antara Pajang melawan Jipang itu dalam sumber tradisi terjadi pada tahun 1549. Hal itu merupakan anti klimaks dari sejarah dinasti Demak.

    Setelah kematian Aryå Pênangsang, Rêtnå Kêncånå dilantik menjadi penguasa Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat Peristiwa perebutan kekuasaan di Demak itu di satu pihak telah memunculkan tokoh wanita yang memegang peranan penting dalam kesatuan keluarga Kesultanan Demak, serta dalam bidang politik pemerintahan yang begitu menonjol. Sementara itu di pihak lain, memunculkan seorang tokoh baru atau homo novus yaitu Sultan Hadiwijaya.

    Fernao Mendez Pinto dalam kesaksiannya menyatakan bahwa di wilayah Kerajaan Demak terdapat delapan penguasa yang memiliki hak untuk memilih raja baru sehingga berkedudukan sebagai dewan mahkota. P.J. Veth juga menyatakan terdapat daerah utama yang merdeka di Jawa dan Madura, salah satunya adalah Kalinyamat.

    Kedelapan daerah merdeka itu adalah Banten, Jayakarta, Cirebon, Prawåtå, Pajang, Kedu, Madura, dan Kalinyamat. Kedudukan Kalinyamat sebagai daerah merdeka ini menempatkan Ratu Kalinyamat pada posisi strategis sebagai pemegang kekuasaan di Jepara. Karena termasuk sebagai dewan mahkota, maka kedudukan dan pengaruh penguasa di delapan daerah merdeka di bidang politik dan pemerintahan cukup kuat.

    Sultan Demak untuk menggabungkan daerah Prawåtå dan Kalinyamat menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara sultan dengan penguasa Kalinyamat. Kekuasaan Ratu Kalinyamat atas wilayah Kalinyamat dan Prawåtå cukup kokoh karena tidak ada ancaman dari pihak mana pun. Agaknya ia dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak yang sesungguhnya.

    Sepeninggal Sultan Prawåtå, ia menjadi pemimpin keluarga dan pengambil keputusan penting atas bekas wilayah Kasultanan Demak. Bagi Ratu Kalinyamat kekuasaan Pangéran Pangiri, putra Sultan Prawåtå, di Demak begitu kecil. Apalagi Pangéran Pangiri menjadi anak asuhnya dan dibesarkan oleh Ratu Kalinyamat. Sementara itu Sultan Pajang bukan merupakan hambatan bagi Ratu Kalinyamat.

    Ada pun kekuasaan raja-raja Banten dan Cirebon baru saja muncul. Dengan demikian, di antara pewaris dinasti Demak di wilayah pantai utara Jawa, Ratu Kalinyamat lah yang paling menonjol.

    Ratu Kalinyamat diperkirakan memerintah hingga 1579. Penggantinya adalah Pangéran Jepara, putra angkat Ratu Kalinyamat. Sejarah Banten menyebutkan bahwa putra mahkota Jepara yang bernama Pangéran Aria atau Pangéran Jepara adalah putra angkat Ratu Kalinyamat, putra raja Banten Hasanuddin.

    Pada masa itu peranan Jepara mulai mengalami kemerosotan. Pada tahun 1599 Jepara dengan susah payah ditundukkan oleh Mataram. Jepara waktu itu memiliki daya tahan yang kuat karena kota pelabuhan itu dikelilingi dengan benteng yang menghadap ke pedalaman dan dijaga ketat oleh prajurit Jepara.

    2. Bidang Ekonomi

    Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Kekalahan dalam perang di laut melawan Malaka pada tahun 1512-1513 pada masa pemerintahan Pati Unus, menyebabkan Jepara nyaris hancur. Akan tetapi perdagangan lautnya tidaklah musnah sama sekali.

    Kegiatan ekonomi menjadi semakin terbengkalai pada saat wilayah Kesultanan Demak menjadi ajang pertempuran antara Aryå Pênangsang dengan keturunan Sultan Trênggånå. Meski pun demikian, perdagangan lautnya masih dapat berlangsung, walau kurang berkembang.

    Setelah berakhirnya peperangan melawan Aryå Pênangsang, Jepara mengalami perkembangan tersendiri. Apabila Sultan Pajang sibuk dalam rangka konsolidasi wilayah, maka Jepara pun sibuk membenahi pemerintahan dan ekonomi yang terbengkelai selama intrik politik berlangsung. Perdagangan laut Jepara dapat berlangsung meski pun kurang berkembang.

    Namun beberapa tahun setelah berkuasa, Ratu Kalinyamat berhasil memulihkan kembali perdagangan Jepara. Konsolidasi ekonomi memang diutamakan oleh Ratu Kalinyamat. Di bawah pemerintahannya, pada pertengahan abad ke 16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut semakin ramai.

    Pedagang-pedagang dari kota-kota pelabuhan di Jawa seperti Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, dan juga Jepara menjalin hubungan dengan pasar internasional Malaka. Dari Jepara para pedagang mendatangi Bali, Maluku, Makasar, dan Banjarmasin dengan barang-barang hasil produksi daerahnya masing-masing.

    Dari pelabuhan-pelabuhan di Jawa diekspor beras ke daerah Maluku dan sebaliknya dari Maluku diekspor rempah-rempah untuk kemudian diperdagangkan lagi. Bersama dengan Demak, Tegal, dan Semarang, Jepara merupakan daerah ekspor beras.

    Pada pertengahan abad ke-16 perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai. Menurut berita Portugis, Ratu Jepara itu merupakan tokoh penting di Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat sejak pertengahan abad ke-16.

    Di bawah Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguatan sektor perdagangan dan angkatan laut.
    Kedua bidang ini dapat berkembang baik berkat adanya kerjasama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Banten, dan Maluku.

    Meski pun daerahnya kurang subur, namun di wilayah kekusaan Ratu Kalinyamat terdapat empat kota pelabuhan sebagai pintu gerbang perdagangan di pantai utara Jawa Tengah bagian timur yaitu Jepara, Juana, Rembang, dan Lasem. Oleh karena itu wajar apabila Ratu Kalinyamat dikenal sebagai orang yang kaya raya.

    Kekayaannya diperoleh melalui perdagangan internasional, terutama dengan Malaka dan Maluku. Jepara merupakan pensuplai beras yang dihasilkan di daerah-daerah sekitar pelabuhan Jepara (hinterland).

    Selain berperan sebagai pelabuhan transito juga menjadi pengekspor gula, madu, kayu, kelapa, kapok, dan palawija. Apalagi dengan berlakunya sistem comenda (yakni menyerahkan barang dagangan kepada pihak lain untuk diperdagangkan, atau memberikan “pinjaman’ berupa uang sebagai modal); dalam pelayaran dan perdagangan pada waktu itu, membuat Ratu Kalinyamat tidak hanya sebagai penguasa politik, tetapi juga sebagai pedagang.

    Sesuai dengan letak geografis sebagai kota pelabuhan, Jepara menempati suatu titik yang menghubungkan dunia daratan dan dunia lautan. Dunia daratan adalah daerah Pati, Jepara, Juana, dan Rembang, sedang dunia lautan adalah jalur perdagangan dan pelayaran dengan daerah-daerah sekitarnya mau pun daerah seberang laut.

    Dengan demikian dilihat dari segi ekonomi, pelabuhan Jepara berfungsi sebagai tempat menampung surplus dari daerah hinterland untuk memenuhi warganya dan didistribusikan ke daerah-daerah lain di seberang lautan. Sebaliknya Jepara juga berfungsi menampung produk-produk dari daerah luar untuk selanjutnya didistribusikan atau diperdagangkan ke daerah-daerah hinterland yang membutuhkan.

    Perdagangan laut di pantai utara Jawa pada abad ke-16 sebagian besar dikuasai oleh bangsawan. Sebagai penguasa, mereka mempunyai hak beli dahulu bagi barang dagangan yang datang dan memborong barang dagangan yang tidak terjual. Pedagang-pedagang asing memberi prioritas kepada penguasa untuk memilih barang dagangan yang baik dengan harga lebih rendah dari pembeli lain.

    Hubungan baik dengan penguasa setempat senantiasa dipelihara untuk kelancaran usaha mereka. Dengan jabatan politik yang tinggi dan dukungan finansial yang kuat memberi peluang bagi penguasa untuk menanamkan pengaruhnya dalam bidang politik dan pemerintahan.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  3. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-24: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-19) Ratu Kalinyamat (Parwa-2). On 6 Agustus 2011 at 04:40 JdBK 08

    Wêdaran kaping-25:
    NYI RATU KALINYAMAT (Parwa ke-3)

    Hubungan Internasional

    Kebesaran kekuasaan Ratu Kalinyamat tampak dari luas wilayah pengaruhnya. Menurut naskah dari Banten dan Cirebon, kekuasaannya menjangkau sampai daerah Banten. Pengaruh kekuasaan Ratu Kalinyamat di daerah pantai utara Jawa sebelah barat, di samping karena posisi politiknya juga karena harta kekayaannya yang bersumber pada perdagangan dengan daerah seberang di pelabuhan Jepara sangat menguntungkan.

    Sebagai raja yang memiliki posisi politik yang kuat dan kondisi ekonomi yang kaya, Ratu Kalinyamat sangat berpengaruh di Pulau Jawa.

    Hanya tiga tahun di bawah kekuasaan Ratu Kalinyamat, kekuatan armada Jepara telah pulih kembali. Berita Portugis melaporkan adanya hubungan antara Ambon dengan Jepara. Diberitakan bahwa para pemimpin Persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara, baik untuk memerangi orang-orang Portugis maupun suku Hative di Maluku.

    Di depan sudah disebutkan, bahwa pemerintahan Ratu Kalinyamat lebih mengutamakan strategi pengembangan Jepara untuk memperkuat sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik kalau dilaksanakan melalui kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.

    Ini berarti bahwa Ratu Kalinyamat harus menjalin hubungan diplomatik dan kerjasama dengan mancanegara agar kedudukan Jepara sebagai pusat kekuasaan politik dan pusat perdagangan bisa kokoh.

    Bukti tersohornya Ratu Kalinyamat pada pertengahan abad ke-16 antara lain dapat ditunjukkan dengan adanya permintaan dari Raja Johor untuk ikut mengusir Portugis dari Malaka. Pada tahun 1550, Raja Johor mengirim surat kepada Ratu Kalinyamat mengajak untuk melakukan perang suci melawan Portugis yang saat itu sedang lengah dan menderita berbagai macam kekurangan.

    Ratu Kalinyamat memenuhi ajakan itu. Pada tahun 1551 Ratu Kalinyamat mengirimkan ekspedisi ke Malaka. Dari 200 buah kapal armada persekutuan Muslim, 40 buah di antaranya berasal dari Jepara. Armada itu membawa empat sampai lima ribu prajurit, dipimpin oleh seorang yang bergelar Sang AdIpati.

    Disebutkan dalam cacatan sejarah bahwa pada puncak tertinggi tiang kapal-kapal perang Nyi Ratu Kalinyamat, berkibar dengan megahnya bendera Sang Saka Gula Kelapa Merah Putih. Bendera dengan warna yang sama digunakan oleh pula oleh kapal-kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Singasari, dalam ekspedidi Pamalayu di bawah pimpinan Mahesa Anabrang yang diperintahkan Prabu Kertanegara membendung pengaruh dan kekuatan Negara Tiongkok yang hendak menguasai Nusantara, dalam upaya mewujudkan Cakrawala Mandala Nusantara, pada abad ke-13.

    Prajurit dari Jepara ini menyerang dari arah utara. Mereka bertempur dengan gagah berani dan berhasil merebut kawasan orang pribumi di Malaka.

    Serangan Portugis ternyata begitu hebat, sehingga pasukan Melayu terpaksa mengundurkan diri. Sementara itu, pasukan Jepara tetap bertahan. Mereka baru mundur setelah seorang panglimanya gugur. Dalam pertempuran yang berlanjut di darat dan di laut, 2000 prajurit Jepara gugur. Hampir seluruh perbekalan dan persenjataan berupa arteleri dan mesiu jatuh ke tangan musuh.

    Walau pun telah melakukan taktik pengepungan selama tiga bulan, ekspedisi ini akhirnya mengalami kegagalan dan terpaksan kembali ke Jawa. Nasib malang tampaknya menimpa armada Jepara, karena tiba-tiba badai datang, 20 kapal penuh muatan terdampar di pantai dan menjadi jarahan orang Portugis. Dari seluruh armada Jepara, hanya kurang dari separo yang bernasib baik dan selamat kembali ke Jepara.

    Walau pun pernah mengalami kegagalan, namun Ratu Kalinyamat tampaknya tidak berputus asa. Semangat menghancurkan Portugis di Malaka terus berkobar di hati tokoh wanita ini. Pada tahun 1573, ia kembali mendapat ajakan dari Sultan Aceh, Ali Riayat Syah untuk menyerang Malaka.

    Ketika armada Aceh telah mulai menyerang, ternyata armada Jepara tidak muncul pada waktunya. Keterlambatan ini dengan tidak sengaja amat menguntungkan Portugis. Seandainya orang Aceh dan Jawa pada waktu itu bersama-sama menyerang pada waktu yang bersamaan, maka kehancuran Malaka tidak dapat dielakkan.

    Armada Jepara baru muncul di Malaka pada bulan Oktober 1574. Dibanding dengan ekspedisi pertama, armada Jepara kali ini jauh lebih besar. Armada ini terdiri dari 300 buah kapal layar dan 80 buah di antaranya berukuran besar. Awak kapalnya terdiri dari 15.000 prajurit pilihan, yang dilengkapi dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.

    Salah satu pemimpin ekspedisi militer ke Malaka pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat ini adalah Kyai Demang Laksamana yang oleh sumber Portugis disebut dengan nama Quilidamao. Nama itu pada jaman sekarang setingkat Laksamana Laut atau Jendral. Hal ini menunjukkan bahwa sebagai penguasa bahari Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut dari pada kekuatan angkatan darat.

    Ini tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai pasukan atau prajurit darat, akan tetapi kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensif yaitu dengan dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhannya yang menghadap ke darat.

    Armada Jepara itu memulai serangan dengan salvo, tembakan yang seolah-olah hendak membelah bumi. Setelah memborbardir kota Malaka dengan tembakan artileri, keesokan harinya pasukan Jepara didaratkan dan mereka menggali parit-parit pertahanan. Rupa-rupanya peruntungan nasib belum jatuh di pihak Jepara.

    Pada waktu armada mereka menyerang, 30 buah kapal besarnya malahan terbakar. Pasukan Jepara kemudian terpaksa membatasi gerakan dengan mengadakan blokade laut. Portugis baru berhasil menembus rintangan itu setelah melakukan serangan berkali-kali. Usaha Portugis untuk berunding mengalami kegagalan karena pihak Jepara menolak tuntutan Portugis yang dianggap terlalu berat.

    Sementara itu dalam pertempuran laut pihak Portugis berhasil merebut enam buah kapal Jepara yang penuh bahan makanan kiriman dari Jepara. Akibat dari kejadian ini, pasukan Jepara yang selama tiga bulan dengan tegar melakukan blokade laut, kekuatannya berangsur-angsur surut karena kekurangan bahan makanan.

    Mereka akhirnya terpaksa bergerak mundur dan menderita banyak korban. Konon hampir dua pertiga dari kekuatan angkatan perang yang berangkat dari Jepara musnah. Di sekitar Malaka saja terdapat sekitar 7.000 makam orang Jawa.

    Dari pengiriman dua ekspedisi ke Malaka tersebut membuktikan bahwa Ratu Kalinyamat adalah seorang kepala pemerintahan yang sangat berkuasa. Walaupun ia gagal dalam misinya, namun orang-orang Portugis juga mengakui kebesarannya. Dalam bukunya, Diego de Couto menyebutnya sebagai Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa.

    Ia juga disebut oleh sumber Portugis sebagai De kranige dame yaitu seorang wanita yang pemberani. Sifat berani Ratu Kalinyamat ini tampak dalam perjuangannya yang gigih dalam menentang kekuasaan bangsa Portugis. Kegagalan serangan Jepara itu terutama disebabkan oleh kekalahan dalam bidang teknologi militer dan pelayaran.

    Kapal-kapal Portugis jauh lebih unggul dalam teknik pembuatannya dan lebih besar dari pada kapal-kapal Jepara. Meskipun perlawanan terhadap Portugis mengalami kegagalan, tetapi pengiriman armada itu cukup menunjukkan bahwa perekonomian di Jepara pada saat itu sangat kuat.

    Sumber Portugis menyebutkan pula bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di Ambon. Beberapa kali para pemimpin pelaut atau pedagang Ambon di Hitu minta bantuan Ratu Jepara untuk melawan orang-orang Portugis. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon.

    Pada tahun 1579, Pakuan Pajajaran, sebuah kota dalam Kerajaan Sunda di Jawa Barat yang belum masuk Islam, ditaklukkan oleh Raja Banten. Pangéran Jepara putra Hasanuddin dari Banten yang menjadi putra angkat Ratu Kalinyamat ternyata tidak ikut dalam ekspedisi melawan Pejajaran.

    Demikian pula Ratu Kalinyamat tidak disebutkan ikut dalam ekspedisi itu. Ada kemungkinan bahwa pada tahun 1579 Ratu Kalinyamat baru saja meninggal. Keponakannya dan sekaligus putra angkatnya, Pangéran Jepara, telah menggantikannya sebagai raja.

    Sebagai kota pantai, Jepara merupakan kota bandar perdagangan yang karena fungsinya menarik pedagang dari berbagai suku dan kebangsaan untuk tinggal sementara mau pun menetap. Di bidang politik dan pertahanan, pelabuhan Jepara sebagai pusat pengiriman ekspedisi-ekspedisi militer untuk meluaskan kekuasaan ke Bangka dan ke Kalimantan Selatan yaitu Tanjung Pura dan Lawe.

    Di bawah Ratu Kalinyamat, perdagangan Jepara dengan daerah seberang laut menjadi semakin ramai. Dia begitu dihormati sebagai kepala keluarga Kasultanan Demak yang sebenarnya. Di bawah kekuasaannya, dia mampu mempunyai kekuatan armada yang tangguh.

    Dia juga menjalin kerja sama dengan Ambon, sehingga para pemimpin persekutuan Hitu di Ambon telah berulang kali minta bantuan kepada Jepara baik untuk memerangi orang Portugis mau pun suku Hative di Maluku. Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, strategi pengembangan Jepara lebih diarahkan pada penguasaan sektor perdagangan dan angkatan laut. Kedua bidang ini akan dapat berkembang dengan baik karena adanya kerja sama dengan beberapa kerajaan maritim seperti Johor, Aceh, Maluku, Banten, dan Cirebon.

    Bukti kebesaran Jepara terlihat pada tahun 1550, ketika Raja Johor minta bantuan armada perang kepada Jepara untuk melakukan perang jihad melawan Portugis di Malaka. Jepara mengirimkan 40 buah kapal dengan kapasitas angkut 1.000 orang prajurit bersenjata.

    Meski pun prajurit Jepara mengalami kekalahan, Ratu Kalinyamat terus berusaha melakukan serangan lagi terhadap Portugis di Malaka. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat sekali lagi diminta oleh Sultan Ali Mukhayat Syah dari Aceh untuk menggempur Portugios di Malaka. Armada yang dikirim sekitar 300 buah kapal, 80 buah kapal berukuran besar yang masing-masing berbobot 400 ton. Awak kapal terdiri atas 15.000 prajurit pilihan dengan banyak sekali perbekalan, meriam, dan mesiu.

    Dengan armadanya yang kuat, Ratu Kalinyamat juga pernah melakukan dua kali penyerangan kepada Portugis di Malaka, yaitu pada tahun 1551 dan tahun 1574. Kedua penyerangan itu dilakukan Ratu Kalinyamat dalam rangka membantu Kesultanan Johor dan Aceh untuk mengusir Portugis dari Malaka.

    Penyerangan pertama gagal, sedangkan pada penyerangan kedua, meskipun telah berhasil mengepung Malaka selama tiga bulan, ternyata pasukan Jepara ini tidak dapat memenangkan penyerangan dan terpaksa kembali ke Jawa.

    Salah satu pemimpin ekspedisi militer ke Malaka pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat adalah Kyai Demang Laksamana. Nama itu pada zaman sekarang setingkat dengan Laksamana Laut atau Jendral. Hal itu menunjukkan bahwa sebagai pnguasa bahari, Ratu Kalinyamat lebih mementingkan kekuatan laut daripada kekuatan angkatan darat.

    Meskipun demikian, tidak berarti bahwa Jepara tidak mempunyai pasukan atau prajurit angkatan darat, akan tetapi, kekuatan darat Jepara lebih bersifat defensive, yaitu dengan jalan dibangunnya benteng yang mengelilingi kota pelabuhan yang menghadap ke darat atau daerah pedalaman Jepara.

    Kekalahan armada laut Jepara baik pada ekspedisi Adipati Unus maupun yang dikirim oleh Ratu Kalinyamat memang merupakan kenyataan yang harus diterima. Hal ini karena diakibatkan lebih canggihnya teknologi yang dimiliki oleh Portugis yang memiliki senjata pelontar yang unggul, yaitu meriam.

    Meskipun demikian, harus diakui bahwa pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat masyarakat Jepara telah tampil dalam panggung sejarah Nusantara sebagai masyarakat bahari. Ciri utama masyarakat bahari adalah di dalam kehiupan mereka, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari diperoleh dari kegiatan atau pekerjaannya mngeksploitasi dan memanfaatkan sumber daya laut.
    Pada zaman itu, di samping berkehidupan sebagai nelayan, aktivitas pelayaran dan perdagangan adalah yang paling utama.
    Bukti kejayaan Jepara pada zaman itu antara lain adalah armada laut yang besar dan kuat yang dimiliki Ratu Kalinyamat. Usaha melanjutkan cita-cita Adipati Unus untuk mengusir Portugis dari Malaka, menunjukkan bahwa Malaka merupakan salah satu titik dari jaringan perdagangan kota pelabuhan Jepara yang mulai mendunia. Sumber Portugis juga menjelaskan bahwa pada masa kekuasaan Ratu Kalinyamat, Jepara juga menjalin hubungan dengan para pedagang di Ambon.

    Beberapa kali para pemimpin pelaut dan pedagang Ambon di Hitu meminta bantuan pertolongan kepada Ratu Kalinyamat untuk melawan orang-orang Portugis maupun dengan suku lain yang masih seketurunan, yaitu orang-orang Hative. Hal ini merupakan indikasi bahwa Jepara juga mempunyai jaringan perdagangan dengan Ambon.

    Dengan demikian maka, Ratu Kalinyamat dikenal sebagai tokoh historis legendaris yang dibicarakan masyarakat dengan berbagai versi. Sebagai akibat dari peperangan Aryå Pênangsang, di Jepara terdapat toponim-toponim nama desa yang berhubungan dengan dicederainya Pangéran Hadiri oleh prajurit Aryå Pênangsang hingga tewas.

    Di bawah pemerintahan Ratu Kalinyamat, Jepara semakin berkembang sebagai bandar perdagangan dan pelayaran. Ratu Kalinyamat tidak saja memegang peranan penting dalam politik dan pemerintahan, tetapi juga menguasai sumber-sumber ekonomi terutama hasil perdagangan dan pelayaran seberang laut.

    Adanya sistem comenda menyebabkan Ratu Kalinyamat sebagai penguasa Jepara yang sangat kaya. Lagi pula ia memiliki angkatan laut yang cukup kuat untuk mendukung aktivitas pelayaran dan perdagangan seberang laut. Jepara berkembang menjadi bandar perdagangan dan bandar transito yang dikunjungi para pedagang dari berbagai bangsa dan suku bangsa. Oleh karena ia menguasai aktivitas ekonomi dan perdagangan itu, maka wajar jika ia dikenal sebagai penguasa yang sangat kaya.

    Kekayaan Ratu Kalinyamat merupakan faktor pendukung utama bagi kekuatan politiknya. Berkat kekayaannya, ia memiliki armada angkatan laut yang kuat untuk melakukan serangan terhadap Malaka pada tahun 1551 dan 1574. Serangan itu dilakukan atas dukungannya terhadap Kerajaan Johor dan Aceh, yang memintanya untuk membantu mengusir Portugis dari Malaka.
    Permintaan kedua kerajaan itu memberikan gambaran bahwa secara politis Ratu Kalinyamat dikenal sebagai penguasa yang sangat kuat dan namanya cukup termasyhur.

    Popularitasnya sebagai kepala pemerintahan tidak hanya dikenal di kawasan Nusantara bagian barat saja, tetapi juga di Nusantara bagian timur. Keberaniannya melawan kekuatan asing telah dikenal di sepanjang Nusantara dari Aceh, Johor, hingga Maluku.

    Di samping itu, Ratu Kalinyamat dapat menjalankan politik persahabatan dengan kerajaan pedalaman sehingga dapat memelihara stabilitas politik. Dalam masa pemerintahannya, ia tidak mempunyai musuh.

    Sebagai pewaris kekuasaan Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat memegang peranan yang terpenting dibanding dengan penguasa-penguasa yang lain di pantai utara Jawa pada abad ke-16. Sebagai pemersatu keluarga Kasultanan Demak, Ratu Kalinyamat mempunyai pengaruh yang cukup kuat di wilayah Banten dan Cirebon.

    Ia juga mampu mempertahankan konsolidasi keluarga Kasultanan Demak. Tidak berlebihan kiranya apabila Ratu Kalinyamat disebut sebagai tokoh pemimpin keluarga Kasultanan Demak dan kepala pemerintahan yang terkuat dari dinasti Demak.

    Hanya Jeparalah yang mampu mempertahankan eksistensi dan peranan Demak sebagai kerajaan yang bercorak maritim di pantai utara Jawa pada abad ke-16, yang memiliki kebesaran seperti pendahulunya.

    Dengan mempelajari kehidupan dan peranan Ratu Kalinyamat, diperoleh pandangan yang lebih lengkap mengenai perkembangan historis peranan dan kedudukan wanita Indonesia. Ratu Kalinyamat menggambarkan sosok wanita yang tidak dibatasi oleh tradisi.

    Aktivitas dan peranan Ratu Kalinyamat memberikan suatu bukti bahwa tidaklah benar jika wanita Jawa dari kalangan bangsawan tinggi sangat dibelenggu oleh kungkungan feodalisme. Kasus Ratu Kalinyamat jelas membuktikan bahwa wanita kalangan bangsawan justru mempunyai peluang yang lebih besar untuk tampil guna memainkan peranan penting yang sangat dibutuhkan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi.

    Peluang untuk dapat melakukan peranan penting dalam bidang politik karena didukung oleh wewenang tradisionalnya, terutama karena keturunan. Ratu Kalinyamat telah melakukan aktivitas-aktivitas nyata bagi negaranya.

    Demikianlah tancêp kayon sudah Dongeng Nyi Ratu Kalinyamat, dan dongeng selanjutnya kita tunggu saja, karena masih:

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun ki BAYU…..donggeng selanjutnya
      cantrik tunggu,

  4. 4

  5. Matur nuwun Ki Bayu, sedaran Ratu Kalinyamat.
    Tapi mohon pertanyaan saya yang lalu diberi pencerahan Ki, soal Prihatin dan Semangkin yang dijanjikan Rt Kalinyamat kepada Hadiwijaya kalau bisa membunuh Aryo Penangsang. (saya inget cerita ketoprak jaman tahun 80 an).

    Nuwun sewu Ki
    Sugeng enjang

  6. sugeng siang, matur nuwun wedarannya

  7. Nuwun

    Sugêng dalu

    Katur Ki Honggopati, dalah sanak kadang ingkang tansah mêrsudi ing rèh kautaman,

    Insya Allah, pada kesempatan yang akan datang akan diwedar Dongeng Rårå Ayu Mas Sêmangkin dan Rårå Ayu Mas Prihatin, yang didasarkan pada Legenda Dongeng Rakyat Mayong Jepara.

    Demikian juga Dongeng Sang Penangkap Petir Ki Agêng Sélå, yang terkenal dengan Sêrat Pêpali Ki Agêng Sélå.

    Berikut cantrik cuplikan bait-bait awal dari Pêpali beliau::

    Damar murup tanpå sumbu nênggih, Godhong ijo ingkang tanpå wrêkså, Modin tan ånå bêdhugê, Sêntèk pisan wus rampung, Tanggal pisan purnåmå sidi, Panglong grahånå lintang, Iku sêmunipun, Kang sampun awas ing ciptå. Åjå sirå katungkul måcå pribadi, Takoknå kang wus wignyå.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayu. Baru saja saya menemukan selembar mingguan kuno tahun 1974 yang memuat judul “ Perkawinan yang gagal di kerajaan Jawa “. Salah satunya terjadi di Kasultanan Pajang waktu Sultan Hadiwijaya hendak menikahkan puterinya yang bernama Dewi Anggendari dengan Adipati Pajimatan dari Tuban. Tetapi gagal total. Sebabnya? Dewi Anggendari sudah hamil 3 bulan hasil hubungan gelapnya dengan Raden Pabelan putera Tumenggung Mayang. Tentu saja Sultan murka, maka diperintahkannya untuk membuang Raden Pabelan ke Asem Arang lalu dihukum picis sampai mati dan mayatnya dibuang ke Sungai Serang. Sedang Tumenggung Mayang dipenjara di Asem Arang karena dianggap bersalah tidak bisa mendidik anaknya.
      Mudah-mudahan kelak dongeng Ki Bayuaji sampai ke Raden Pabelan yang kalau saya tidak salah adalah keponakan Raden Sutawijaya ( karena ibu Raden Pabelan adalah kakak Raden Sutawijaya ?). Matur nuwun, sugeng dalu.

  8. Maatur sembah nuwun saderengipun Ki Bayu, mugi tansah pinaringan kesehatan lan kelonggaran wekdal dumateng Ki Bayu dalah keluargo..
    Sugeng Enjang.

    • Aamin ..amiin..amiin…..ya Mujibassaailin.

      • matur nuwun Ki Bayu, tansah dipun tenggo dongengipun

  9. Sugeng dalu.

    • ANTRIane kadang padepokan SENGKALING mesti-NE ning kene……he-hee3x,

      selamat SIANG

  10. tilik gandok……sambang padepokan,

    • sugeng dalu…..selamat malem,

      • NSSI DJVU : sudah tersedia di sini.

        NSSI Teks : sudah tersedia di sini.

        GANDOK baru : belom dibuka sampe detik ini


        Insya Allah sambil menunggu makan sahur Ki

  11. Sugêng énjang

    …… sahur…..sahur….sahur………………………..
    mBêtawi nJakarta, 09 Agustus 2011 pukul 02.45

  12. Dhuha… dhua sebelum berangkat ke sawah.
    Waktu Kota Baja menunjukkan pukul 7.10


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: