NSSI-10

kembali | lanjut >>

Halaman: 1 2 3

Telah Terbit on 13 Mei 2011 at 13:26  Comments (46)  

The URI to TrackBack this entry is: http://pelangisingosari.wordpress.com/nssi-10/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

46 KomentarTinggalkan komentar

  1. assalamualaikum, merji :) :)

    • weeh sapa tu yg berantem?

      • bagus handaka ya? …. hmmmm bagus tenan njih ? :) :)

        • Wa’alaikumsalam, merji juga :) :)

          • weeh2 sapa tu yg berantem?

          • Wa’alaikumsalam, merji juga :) :)

            weleh3 sapa tu yg berantem?

    • pas nomer siji, pas ada gambare bagus handaka ….. apa ncen jodo ya ? :) :)

      • Opo Bagus Handoko itu nama lain Lowo Ijo yo Mit?

        • Opo Bagus Handoko itu nama lain kolor Ijo yo Mit?

          • yo wes tak melu sisan :

            Opo Bagus Handoko itu nama lain minakjinggo yo Mit?

          • yo wes tak melu sisan :

            Opo Bagus Handoko itu nama lain jenggo yo Mit?

  2. gandok sebelah kok belom diBUKA ya….!!!???

    selamat SOre kadang NSSI, selamat berliBubUR

    • selamat SOre kadang NASI, selamat beliBubUR

      • lagi ning dhi ki, bang wetan po bang kulon

        • sudah di bang bang tut..eh..bang etan Ki….

  3. sugeng dalu,

    gandhok sampun dipun bikak,
    Ki Bayu sampun badhe paring piwulang,
    sumangga Ki, para cantrik sampun ngentosi.

  4. Nuwun
    Sugêng dalu

    Pårå kadang ingkang dahat kinurmatan,

    Dari padepokan pelangisingosari, menyusuri jejak sejarah busana wanita masa Tumapel Singosari, Ki Dalang Singgih Hadi Mintardja dengan Ki Juru Sungging Mas Wibowo atau Ki Juru Sungging Mas Wid NS, melukiskan wanita pada rontal-rontal PdLS, SUNdSS, PBM dan HLHLP, adalah sebagai berikut: “berkain batik panjang, atau bercelana panjang hitam sebatas di bawah lutut, selalu menggunakan kemben, rambut hitam terurai panjang, tanpa alas kaki.”

    Demikian juga di padepokan gagak seta pada serial MMGK, anggitan Ki Dalang SD Liong, dengan Ki Juru Sunging Mas Oengki S. Hanya bedanya pada lukisan Ki Ongki S lebih banyak menampilkan asesoris dan pernik-pernik hiasan seperti gelang, kalung, kêlat bahu (gelang lengan), dan lebih terkesan mewah.

    Tetapi benarkah demikian? Bagaimana seharusnya seperti yang diwujudkan dalam bentuk arca, di relief-relief candi pendharmaan, rontal kidung dan pujasastra?

    Bagaimana pula wanita zaman itu melindungi dirinya dari tindak perkosaan, atau dikuatirkan melakukan perselingkuhan?

    Bagaimana dongengnya?

    Pårå sanak kadang

    Pårå sanak kadang tentu pernah menikmati jajanan tradisional yang disebut ondé-ondé,

    Makanan yang terbuat dari tepung terigu atau tepung ketan dan di dalamnya diisi pasta kacang hijau, kemudian digoreng dan permukaannya ditaburi/dibalur dengan biji wijen itu ternyata sudah ada di zaman Majapahit.

    Bagaimana dongengnya?

    Mohon bersabar. Insya Allah akan segera diwedar di gandhok NSSI.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • sugeng DALU ki BAYUAJI, donggeng “KERIS”
      cantrik tetep SABAR menunggu…matur nuwun

      • Katur Ki Yudha Pramana,

        “Keris”nya sedang diwarangi Ki. Insya Allah, Dongeng Arkeologi & Antropologi NSSI dan Surya Majapahit diwedar bergantian, dan untuk waktu-waktu wedar, bergojeg dan ogrok-ogrok masih banyak yang tersedia (NSSI 26 jilid lagi atau “anabrang” ke gandhok MMGK yang masih 14 jilid lagi).
        Kalau nggak cukup, bikin gandhok baru (he he, kok ikut ngatur buat gandhok, khan terserah yang mbaureksa gandhok. Begitu nggih Ki Arema, Ki Ismoyo and his “bodyguard” Ki Panji Satria Pamedar).
        Ki Bayuaji sabrayat cuma manut saja.

        Sugêng dalu

  5. sugeng dalu

  6. Nuwun
    Sugêng énjang

    Dua episode diwedar untuk menemani sanak kadang yang menikmati “cuti bersama” (yang dapat cuti bersama) atawa yang “cuti hari kejepit” (izin/membolos)

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-26; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-7] Masa Kejayaan Majapahit. [6]. On 6 Mei 2011 at 08:28. NSSI 07

    Dongeng selanjutnya:
    Waosan kaping-27:
    BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-8]

    MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT [7]

    E. Masyarakat

    Hubungan raja dengan rakyatnya digambarkan sangat akrab dan ada saling ketergantungan sebagai tercermin dalam Nāgarakṛtāgama pupuh LXXXIX (89) : 2, yaitu negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan. Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan.

    apan ikang pura len swawisaya kadi singha lawan sahana
    yan rusaka thani milwa ng akurang upajiwa tikang nagara
    yan taya bhrtya katon waya nika paranusa tekangreweka
    hetu nikan pada raksan apageha lakih phala ning mawuwus.

    [Negara dan desa berhubungan rapat seperti singa dan hutan,
    Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan,
    Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita,
    Karenanya peliharalah keduanya, itu perintah saya!”]

    Nāgarakṛtāgama menyebutkan budaya keraton yang adiluhung dan anggun, dengan cita rasa seni dan sastra yang halus, serta sistem ritual keagamaan yang rumit. Peristiwa utama dalam kalender tata negara digelar tiap hari pertama bulan Caitra (Maret-April) ketika semua utusan dari semua wilayah taklukan Majapahit datang ke istana untuk membayar asok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi…….. atau upeti atau pajak, sebagai bukti kesetiaan kepada Raja Majapahit.

    Ora ngêmungaké ing kanan-kéring kéwålå sênajan ing pråjå måhå pråjå kathah kang samyå tumungkul datan linawan karånå båndåyudå,
    amung kayungyun marang pêpoyaning kautaman,
    bêbasan kang cêrak samyå manglung kang têbih samyå mêntiyung
    asok bulu bêkti glondhong pângarêng-arêng pèni-pèni råjå pèni guru bakal guru dadi……..

    Demikian sering disuluk-tembangkan dalam pagelaran yang menceritakan kewibawaan Wilwatikta Majapahit.

    Selanjutnya Kitab Pujasastra Nāgarakṛtāgama mengabarkan:

    huwus rabdha ng dwipantara sumiwi ri sri narapati
    padasthity awwat pahudhama wijil angken pratimasa
    sake kotsahan sang prabhu ri sakahaywanya n iniwo
    bhujangga mwang mantrinutus umahalotpatti satata.

    [Semenjak nusantara menadah perintah Sri Baginda,
    Tiap musim tertentu mempersembahkan pajak upeti,
    Terdorong keinginan akan menambah kebahagiaan,
    Pujangga dan pegawai diperintah menarik upeti.]

    Kawasan Majapahit secara sederhana terbagi dalam tiga jenis: keraton termasuk kawasan ibu kota dan sekitarnya; wilayah-wilayah di Jawa Timur dan Bali yang secara langsung dikepalai oleh pejabat yang ditunjuk langsung oleh raja; serta wilayah-wilayah taklukan di kepulauan Nusantara yang menikmati otonomi luas.

    Ibu kota Majapahit di Trowulan merupakan kota besar dan terkenal dengan perayaan besar keagamaan yang diselenggarakan setiap tahun. Agama Buddha, Siwa, dan Waisnawa (pemuja Wisnu) dipeluk oleh penduduk Majapahit, dan raja dianggap sekaligus titisan Buddha, Siwa, maupun Wisnu. Nāgarakṛtāgama sama sekali tidak menyinggung tentang Islam, akan tetapi sangat mungkin terdapat beberapa pegawai atau abdi istana muslim saat itu.

    Walaupun batu bata telah digunakan dalam candi pada masa sebelumnya, arsitek Majapahitlah yang paling ahli menggunakannya. Candi-candi Majapahit berkualitas baik secara geometris dengan memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Contoh candi Majapahit yang masih dapat ditemui sekarang adalah Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu di Trowulan, Mojokerto.

    Catatan yang berasal dari sumber Italia mengenai Jawa pada era Majapahit didapatkan dari catatan perjalanan Mattiussi, seorang pendeta Ordo Fransiskan. Odorico da Pordenone (nama asli Odorico Mattiussi, atau Mattiuzzi) (Villanova, Pordenone, k.1286 – Udine, Friuli, 14 Januari 1331) adalah seorang pendeta Ordo Fransiskan dan penjelajah terkenal Abad Pertengahan, dalam bukunya: “Perjalanan Pendeta Odorico da Pordenone”. Ia mengunjungi beberapa tempat di Nusantara: Sumatera, Jawa, dan Banjarmasin di Kalimantan.

    Pada 1318 ia berangkat dari Padua, menyeberangi Laut Hitam dan menembus Persia, terus hingga mencapai Kolkata (Kalkuta?), Madras, dan Srilanka. Lalu menuju kepulauan Nikobar hingga mencapai Sumatera, lalu mengunjungi Jawa dan Banjarmasin. Ia kembali ke Italia melalui jalan darat lewat Vietnam, China, terus mengikuti Jalur Sutra menuju Eropa pada 1330.

    Di buku ini ia menyebut kunjungannya di Jawa tanpa menjelaskan lebih rinci nama tempat yang ia kunjungi. Disebutkan raja Jawa menguasai tujuh raja bawahan. Disebutkan juga di pulau ini terdapat banyak cengkeh, kemukus, pala, dan berbagai rempah-rempah lainnya. Ia menyebutkan istana raja Jawa sangat mewah dan mengagumkan, penuh bersepuh emas dan perak. Ia juga menyebutkan raja Mongol beberapa kali berusaha menyerang Jawa, tetapi selalu gagal dan berhasil diusir kembali. Kerajaan Jawa yang disebutkan disini tak lain adalah Majapahit yang dikunjungi pada suatu waktu dalam kurun 1318-1330 pada masa pemerintahan Jayanegara.

    Gambaran Majapahit menurut Pendeta Odorico da Pordenone.
    …. Raja [Jawa] memiliki bawahan tujuh raja bermahkota. [Dan] pulaunya berpenduduk banyak, merupakan pulau terbaik kedua yang pernah ada…. Raja pulau ini memiliki istana yang luar biasa mengagumkan. Karena sangat besar, tangga dan bagian dalam ruangannya berlapis emas dan perak, bahkan atapnya pun bersepuh emas. Kini Khan Agung dari China beberapa kali berperang melawan raja ini; akan tetapi selalu gagal dan raja ini selalu berhasil mengalahkannya.

    Beberapa cuplikan dari Pujasastra Nāgarakṛtāgama tentang gambaran bangunan-bangunan istana para pejabat negara Ibu Kota Majapahit:

    1. Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh XI (11): 2

    sakweh ning grha nora tanpasaka mokir ukiran apened winarnnana
    mwang tekang batur asmawistaka mirah winetu wetu pinik rinupaka
    njrah tekang wijil ing kulala pinakottama ni hatep ikang grhadhika
    tanjung kesara campaka di nikanang kusuma caracara njrah ing latar.

    [Semua rumah bertiang kuat, berukir indah, dibuat berwarna-warni,
    Kakinya dari batu merah bertakik-takik, bergambar aneka lukisan,
    Genting atapnya bersemarak serba meresapkan pandang, menarik perhatian,
    Bunga tanjung, kesara, campaka dan lain-lainnya terpencar di halaman.]

    2. Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh XII (12)

    – [1]. –
    warnnan tingkah ikang pikandel atata tut kanta ning nagara
    wetan sang dwija saiwa mukya sira dang hyang brahmarajadhika
    ngkaneng daksina boddha mukya ng anawung sang kaka rengkannadi
    kulwan ksatriya mantri punggawa sagotra sri narendradhipa.

    [Teratur rapi semua perumahan sepanjang tepi benteng
    Timur tempat tinggal pemuka pendeta Siwa Hyang Brahmaraja,
    Selatan Buda-sangga dengan Rangkanadi sebagai pemuka
    Barat tempat arya, menteri dan sanak-kadang adiraja.]

    – [2]. –
    weta(n) den mahelet lebuh pura narendreng wengker atyadbhuta
    saksat indra lawan saci nrpati lawan sang narendreng daha
    sang natheng matahun narendra ri lasem munggwing dalem tan kasah
    kannah daksina tan madoh kamegetan sang natha sobhahalep.

    [Di timur, tersekat lapangan, menjulang istana ajaib,
    Raja Wengker dan rani Daha penaka Indra dan Dewi Saci,
    Berdekatan dengan istana raja Matahun dan rani Lasem,
    Tak jauh di sebelah selatan raja Wilwatikta.]

    – [3]. –
    ngkaneng uttara lor saking peken agong kuwwahalep sobhita
    sang saksat ari de nareswara ri wengker sang makuww apageh
    satyasih ri narendra dhira nipuneng nityapatih ring daha
    khyating rat mangaran bhatara narapati angde halep ning praja.

    [Di sebelah utara pasar: rumah besar bagus lagi tinggi,
    Di situ menetap patih Daha, adinda Baginda di wengker,
    Batara Narapati, termashur sebagai tulang punggung praja,
    Cinta taat kepada raja, perwira, sangat tangkas dan bijak.]

    – [4]. –
    wetan lor kuwu sang gajahmada patih ring tiktawilwadhita
    mantri wira wicaksaneng naya matenggwan satya bhaktya prabhu
    wagmi wak apadu sarjjawopasama dhirotsahatan lalana
    rajadhyaksa rumaksa ri sthiti narendran cakrawartting jagat

    [Di timur laut rumah patih Wilwatikta, bernama Gajah Mada,
    Menteri wira, bijaksana, setia bakti kepada Negara,
    Fasih bicara, teguh tangkas, tenang tegas, cerdik lagi jujur,
    Tangan kanan maharaja sebagai, penggerak roda Negara.]

    – [5]. –
    nda ngkane kidul ing puri kuwu kadharmadhyaksan ardha halep
    wetan rakwa kasaiwan utama kabodhan kulwan asri atata
    tan warnnan kuwu sang sumantri adhika len sang paraksatriya
    dening kweh nira bheda ri sakuwu kuwwang de halep ning pura.

    [Sebelah selatan puri, gedung kejaksaan tinggi bagus,
    Sebelah timur perumahan Siwa, sebelah barat Buda,
    Terlangkahi rumah para menteri, para arya dan satria,
    Perbedaan ragam pelbagai rumah menambah indahnya pura.]

    – [6]. –
    lwir ccandraruna tekanang pura ri tikta sriphalanopama
    tejanggeh nikanang kara sakuwukuww akweh madudwan halep
    lwir ttaragraha tekanang nagara sesa nneka mukya ng daha
    mwang nusantara sarwwa mandalika restrangasrayakweh marek.

    [Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang,
    Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa upama,
    Negara-negara di nusantara, dengan Daha bagai pemuka,
    Tunduk menengadah, berlindung di bawah Wilwatika.]

    F. Makanan dan Minuman

    Kidung Pararaton tidak secara jelas menyebutkan jenis makanan dan minuman yang disajikan jika ada pesta-pesta kenegaraan di Singosari ataupun di Majapahit. atau yang dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat pada waktu itu.

    Dalam salah satu pupuh pada Bagian V Kidung Pararaton dikisahkan ketika Sri Baginda Kertanagara tengah mengadakan pesta bersama para menteri dan patih kerajaan:

    Sedang ira Bhatara Siwa Buddha anadhah sajeng lawan apatih

    [Ketika Batara Siwa Budha (Sri Baginda Kertanagara) sedang minum minuman keras bersama sama dengan patih].

    Berbeda dengan Pararaton, maka Kakawin Nāgarakṛtāgama menerangkan agak rinci jenis-jenis minuman dan makanan yang dihidangkan pada pesta-pesta kenegaraan, khususnya pada saat Prabu Jiwana Hayam Wuruk melakukan “kunjungan kerja”, seperti yang dikabarkan oleh Empu Parapanca.

    Nāgarakṛtāgama pupuh LXXXIX (89) : 5

    lwir ni tadah nira mesamahisa wihaga mrega wok madhupa
    mina lawan tikang anda haja ring aji lokapurana tinut
    swana kara krimi musika hilahila len wiyung alpa dahat
    satrw awamana hurip-ksaya cala nika rakwa yadi purugen

    [Santapan terdiri dari daging kambing, kerbau, burung, rusa, madu,
    Ikan, telur, domba
    , menurut adat agama dari zaman purba.
    Makanan pantangan daging anjing, cacing, tikus, keledai dan katak,
    Jika dilanggar, mengakibatkan hinaan musuh, mati dan noda].

    Nāgarakṛtāgama pupuh XC (90):1

    praptang bhojana makadon rikang wwang akweh
    sangkep sarwwarajasa bhojanya sobha
    matsyasangkya sahana ring darat mwang ing wwai
    raprep drak rumawuh anut kramanuwartta
    .

    [Dihidangkan santapan untuk orang banyak,
    Makanan serba banyak serta serba sedap,
    Berbagai-bagai ikan laut dan ikan tambak,
    Berderap cepat datang menurut acara].

    Namun bagi para penggemarnya yang berasal dari pelbagai desa, dihidangkan juga daging katak, cacing, keledai, tikus dan anjing dan srigala.
    Nāgarakṛtāgama pupuh XC (90):2

    manduka krimi kara musika srgala
    kweh sakterika winahan tamahnya tusta
    deni wwang nika dudu ring sadesadesa
    sambeknyeki tinuwukan dumah ya tusta
    .

    [Daging katak, cacing, keledai, tikus, anjing/srigala,
    Hanya dihidangkan kepada para penggemar,
    Karena asalnya dari pelbagai desa,
    Mereka diberi kegemaran, biar puas].

    Selanjutnya Nāgarakṛtāgama pupuh XC (90) : 3 menjelaskan minuman yang disajikan adalah:

    lwir ning para surasa tan pegat mawantu
    twak nyu twak siwalan arak hano kilang brem
    mwang tampo sing adhika tang hane harep sok
    sarwwamas wawan ika dudw anekawarnna
    .

    [Mengalir pelbagai minuman keras segar,
    tuak nyiur, tal, arak kilang, brem, tuak rumbya,
    itulah hidangan minuman yang utama,
    Wadahnya emas berbentuk aneka ragam].

    Selain makanan pokok terdapat juga kudapan (semacam kue) yang dihidangkan adalah talam, kembang waru, bongko, kipo, pelas, gembrot, wela. model dan onde-onde.

    Makanan yang terbuat dari tepung terigu atau tepung ketan dan di dalamnya diisi pasta kacang hijau yang digoreng dan permukaannya ditaburi/dibalur dengan biji wijen, yang dikenal dengan nama onde-onde ternyata sudah ada di zaman Majapahit.

    Adalah pasukan tentara Kubilai Khan (Kubilai Khan dikenal sebagai pendiri Dinasti Yuan pada tahun 1271 M) yang memperkenalkan onde-onde ini ke masyarakat Jawa pada waktu itu. Sejarah onde-onde sendiri dapat ditelusuri di Tiongkok pada masa dinasti Tang (618M), makanan ini menjadi kue resmi daerah Chang an ibukota dinasti (berarti “kedamaian abadi”, sekarang Xian), yang disebut ludeui atau jin deui, di daerah Cina utara disebut ma tuan, di daerah timur laut Cina disebut ma yuan dan di Hainan disebut jen dai atau jin deui terkadang disebut juga sebagai zhimaqiu, yang kesemuanya berarti bola wijen dan kita menyebutnya onde-onde.

    [Sangat disayangkan Cantrik Bayuaji tidak memperoleh penjelasan tentang jenis makanan lainnya seperti talam, kembang waru, bongko, kipo, pelas, wela dan model]

    Dalam iring-iringan kunjungan kerja Prabu Hayam Wuruk, tidak ketinggalan diikutsertakan para abdi dalem yang bertanggung jawab terhadap persediaan makanan (urusan logistik) selama perjalanan, sebagaimana disebut dalam Nāgarakṛtāgama Pupuh LX (60):

    – [1] –
    ikang adarat bala peka marampak
    pipikupikul nika kirnna ri wuntat
    marica kasumbha kapas kalapa wwah
    kalar asem pinikul saha wijyan.

    [Yang berjalan rampak berarak-arak,
    Barisan pikulan bejalan belakang,
    Lada, kesumba, kapas, buah kelapa,
    Buah pinang, asam dan wijen terpikul.]

    – [2] –
    i wuri tikang mamikul abwat
    kapasahar epwan arimbit anuntun
    kirikirik ing tengah ing kiwa benjit
    pitik itik ing kisa mewed arangkik.

    [Di belakangnya pemikul barang berat,
    Terseok-seok melambat berbimbingan tangan,
    Kanan menuntun kirik (anak anjing) dan kiri genjik (anak babi),
    Dengan ayam itik di keranjang merunduk.]

    – [3] –
    sasiki pikul pikulanya manghanta
    kacu kacubung bung upih kamal anwam
    tapi kukusan haru dang dulang uswan
    lwir amurutuk saranya ginuywan.

    [Jenis barang terkumpul dalam pikulan,
    Buah kecubung, rebung, seludang, cempaluk,
    Nyiru, kerucut, tempayan, dulang, periuk,
    Gelaknya seperti hujan panah jatuh.]

    Dinasti Sung Awal (420-470 M) menyebut Jawa dengan sebutan She p’o atau Cho’po, akan tetapi kemudian berita-berita Cina dari Dinasti T’ang (618-906 M) menyebut Jawa dengan sebutan Ho Ling sampai tahun 818 M. Namun penyebutan Jawa dengan She p’o kembali muncul pada tahun setelah tahun 820an M.

    Kronik Dinasti Tang memberitakan bahwa masyrakat She p’o sudah pandai membuat minuman dari air bunga kelapa (legen, tuak). Bila makan mereka tidak menggunakan suru (sendok?) atau sumpit, melainkan menggunakan tangan.

    ånå tjandhaké

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun dongengipun Ki Bayu. Kadosipun ing peken tradisional taksih wonten tiyang sade Kembang Waru, Bongko tuwin pelas. Ibu kulo asring pikantuk oleh-oleh jajanan meniko. Menawi Kipo malah gampil dipun panggihi, meh saben toko roti mande.

  7. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI
    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-27; Bhre Jiwana Hayam Wuruk Sri Rajasanegara (1350-1389) [Parwa ka-8] Masa Kejayaan Majapahit. [7]. On 14 Mei 2011 at 10:35 NSSI 10

    Dongeng selanjutnya:
    Waosan kaping-28:
    BHRE JIWANA HAYAM WURUK MAHARAJA SRI RAJASANEGARA (1350-1389) [Parwa ka-9]

    MASA KEJAYAAN MAJAPAHIT [8]

    G. Pakaian

    Sikap figuran orang, digambarkan dalam posisi berdiri, duduk dan jongkok dengan berbagai gaya, baik pada laki-laki, perempuan maupun pada anak-anak. Figuran laki-laki tampak lebih bervariasi dan dinamis, digambarkan secara lebih bebas. Sikap duduknya bias seperti “nongkrong”, kedua kaki terlipat, paha menempel di dada serta lutut menghadap ke atas. Ada pula figuran yang salah satu kakinya bersila, sedang kaki lainnya dilipat ke atas.

    Beberapa sikap figuran laki-laki yang digambarkan duduk bersila dengan posisi tenang seperti sedang beryoga. Sikap figuran laki-laki berbeda dengan figuran wanita yang dalam gayanya tampak lebih santun.

    Sikap duduk sosok perempuan pada umumnya digambarkan dengan dua gaya, yaitu: duduk dengan posisi seluruh badan bertumpu pada bagian kaki yang dilipat, atau duduk bersila dengan badan tegak dan tangan ke bawah.

    Cara Berpakaian dan Pemakaian Hiasan

    Sebagian besar cara berpakaian figuran perempuan berkain panjang, dililitkan pada tubuh mulai bagian atas hingga mata kaki, dengan bagian dada terbuka. Cara berpakaian semacam ini mungkin yang paling umum dikenakan para wanita Majapahit pada masa itu yang hingga kini (kecuali dengan penutup dada) dipakai oleh wanita-wanita yang tinggal di wilayah pedesaan, baik di Jawa, Bali maupun di wilayah Indonesia lainnya.

    Dari cacatan sejarah yang ada cara berpakaian dengan bentuk kêmbên seperti yang dapat kita lihat pada perempuan suku Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti kostum penari di Surakarta dan Yogjakarta yang disebut “dodot”, belum banyak dikenal.

    Busana wanita masa Singasari dan Majapahit

    Pengamatan pada lembaran-lembaran lukisan atau tepatnya foto-foto arca, atau melihat langsung patung atau arca dan pahatan relief-relief pada beberapa candi era Singosari Majapahit, antara lain Candi Rimbi, Candi Singasari, Candi Jago, dan Arca Prajñaparamita. Didapat tiga arca tokoh wanita, yang merupakan arca perwujudan tokoh-tokoh wanita ternama pada zamannya:

    1. Arca Parwati dari Candi Rimbi(angka tahun 14 M) di kaki Gunung Anjasamoro, tepatnya di tepi jalan raya di sebelah tenggara Kecamatan Mojowarno, Jombang, Jawa Timur.

    Parwati sebagai istri (sakti) Dewa Syiwa. Arca Parwati ini melukiskan perwujudan Tribuana Tunggadewi ratu Majapahit pada tahun 1328 sampai dengan tahun 1350.

    Berdasarkan seni arsitektur bangunan, Candi Rimbi berlatar belakang Hindu. Hal ini, ditandai penemuan arca Dewi Parwati (isteri Dewa Siwa) yang sekarang disimpan di Museum Gajah Jakarta. Arca Parwati ditemukan di ruang utama candi. Tetapi, ruangan ini sudah tidak ada lagi, karena separoh dari badan candi sudah runtuh.

    Dewi Parwati dikenal sebagai simbol wanita yang benar-benar mempunyai seluruh syarat terbaik sebagai seorang wanita, ibu dan istri. Parwati juga dianggap sebagai dewi lambang kesuburan, bersama-sama dengan Siwa, mereka berdua sering digambarkan sebagai yoni (simbol wanita) dan lingga (simbol laki- laki).

    2. Arca Dewi Durga Mahesasuramardhini dari Candi Singasari (angka tahun 1222 M) desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

    Dewi Durga adalah nama sakti atau istri Dewa Siwa. Mahisa adalah kerbau, Asura berarti raksasa, sedang Mardhini berarti menghancurkan atau membunuh. Jadi, Durgamahasisuramardhini berarti Dewi Durga yang sedang membunuh raksasa yang ada di dalam tubuh seekor kerbau.

    3. Arca Prajñaparamita .

    Terdapat tiga arca Prajñaparamita, yang diketahui hingga sekarang. Pertama adalah arca Prajñaparamita (Ken Dedes) yang sudah banyak dikenal orang karena keindahannya. Arca tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta.

    Arca Prajñaparamita ini ditemukan di antara reruntuhan selatan kompleks percandian Singosari (dengan candi Singosari berjarak ± 500 m arah selatan).

    Arca tersebut ditemukan di salah satu candi, yaitu candi E, disebut juga candi Wayang, atau candi Putri. Sisa-sisa situs tersebut berada di Jalan Bungkuk Gg. II Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari.

    Tempat itu sekarang (tahun 2009) hanya tinggal tanah tegalan dengan ukuran ± 12 x 25 m yang kanan-kirinya sudah dipadati oleh bangunan rumah penduduk. Arca Prajñaparamita ini disebutkan sebagai patung Masa Klasik paling cantik dan utuh terbuat dari batu, tinggi 1,26 m, berasal dari masa Singosari, Jawa Timur.

    Arca dari batu andesit yang masih utuh itu ditemukan pada tahun 1819 dan dikategorikan sangat indah buatannya itu, kemudian dibawa ke tempat Residen Malang, yang pada waktu itu dijabat oleh Monnerau. Kemudian diserahkan ke Prof Reinwardt dan pada tahun 1023 patung itu disumbangkan untuk Museum Etnologi di Leiden.

    Arca dari candi Wayang atau Putri tersebut mendapatkan namanya yaitu Putri Dedes atau Ken Dedes. Dan sejak saat itulah hingga sekarang arca dari pantheon agama Budha Mahayana tersebut lebih terkenal dengan sebutan arca putri Ken Dedes daripada nama aslinya yaitu Prajñaparamita.

    Pada 1978, Prof Pott, direktur Museum Etnologi tersebut, melalui Duta Besar Indonesia Sutopo Yuwono, mengembalikan patung itu ke Indonesia.

    Arca Prajñaparamita kedua, berada di halaman candi Singosari dengan ukuran yang cukup besar. Sayang arca ini sudah tidak berkepala lagi, dan hiasannya tidak semewah arca Prajñaparamita (Ken Dedes).

    Kekhususan yang menandai arca Prajñaparamita di halaman candi Singasari dengan arca Prajñaparamita (Ken Dedes) adalah adanya hiasan vjalaka (hiasan gajah dan singa pada kanan kiri sandarannya).

    Arca Prajñaparamita ketiga, terdapat pada sisa-sisa candi Gayatri atau candi Gilang di Desa Bayalangu, Kecamatan Bayalangu, Tulungagung. Di lokasi ini ditemukan beberapa arca yang salah satunya adalah arca Prajñaparamita yang sudah rusak.

    Memperhatikan bukti-bukti di atas, sebenarnya tidak sesederhana itu untuk memberikan suatu pernyataan bahwa arca Prajñaparamita yang dimaksudkan adalah potret diri Ken Dedes. Sementara data-data di lapangan yang mendukung ke arah sana sangat terbatas.

    Di sisi lain dokumen tertulis berupa prasasti maupun naskah yang menunjuk bahwa Ken Dedes diarcakan sebagai arca Prajñaparamita tidak ada.

    Tentang arca Prajñaparamita sendiri disinggung dalam Nāgarakṛtāgama Pupuh LXIX (69) : 1.

    prajñaparamitapuri ywa panelah ning rat ri sang hyang suddharmma; prajñaparamita kriyenulahaken sri-jnanawidhy apratistha;
    sotan pandita wrddha tantragata labdawesa sarwwagamajna;
    saksat hyang mpu bharada mawaki sirangde trtpti ni twas narendra
    .”

    [Prajnyaparamitapuri itulah nama candi makam yang dibangun,
    Arca Sri Rajapatni diberkahi oleh Sang pendeta Jnyanawidi,
    Telah lanjut usia, faham akan tantra, menghimpun ilmu agama,
    Laksana titisan Empu Barada, menggembirakan hati Baginda]

    Disana disebutkan adanya sebuah tempat bernama Prajñaparamitapuri, yaitu sebuah candi makam yang dibangun dan diperuntukkan bagi Sri Rajapatni. Sedangkan arcanya sekaligus diberkahi oleh sang pendeta Jnanawidhi. Sri Rajapatni adalah sebutan bagi putri Gayatri yang merupakan istri keempat dari Raden Wijaya atau Kertarajasa.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXIV (74):1

    mukyantahpura sagalathawa ri simping;
    mwang sri-ranggapura muwah ri buddha kuncir;
    prajñaparamitapuri hanar panambeh;
    mwang tekang ri bhayalango duweg kinaryya
    .”

    [Makam rani: Kamal Pandak, Segala, Simping,
    Sri Ranggapura serta candi Budi Kuncir,
    Bangunan baru Prajnyaparamitapuri,
    Di Bayalangu yang baru saja dibangun.]

    Menegaskan bahwa Prajñaparamitapuri itu dibangun di Bayalangu (Bayalangu adalah sebuah daerah di Tulungagung. Di tempat tersebut memang terdapat sisa-sisa bangunan agama Budha Mahayana).

    Berkenaan dengan arca Prajñaparamita yang sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta, terdapat dua pendapat.

    Pertama, patung ini dianggap potret diri Ken Dedes, istri Tunggul Ametung yang akhirnya kawin dengan Ken Angrok Rajasa Sang Amurwabhumi, pendiri Kerajaan Singosari (1222-1227).

    Pendapat kedua menyebutkan, arca tersebut merupakan potret Rajapatni Gayatri, si bungsu tercantik anak keempat Raja Kertanegara yang kawin dengan Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit, dan merupakan nenek dari Raja Hayam Wuruk. Dia hidup di akhir periode Singosari (1292) dan awal era Majapahit.

    Arca Prajñaparamita (dapat dilihat di Museum Nasional atau Musem Gajah Jakarta); yang lebih diyakini sebagai perwujudan Ken Dedes dalam wujud dewi ini dalam agama Budha Tantrayana merupakan Dewi Kebijaksanaan, yang dalam agama Budha Mahayana, Prajñaparamita adalah salah satu dewi tertinggi. Kedua ajaran Budha ini hanya berbeda dalam hal praktek, bukan dalam hal filosofi.

    Prajñaparamita dianggap sebagai sakti (istri) Buddha, dan merupakan simbol kebijaksanaan sempurna, atau dewi kearifan dan kebajikan. Prajña berarti kebijaksanaan dan paramita berarti kebajikan, sebagai simbol tercapainya Sunyata (kebenaran tertinggi) yang berupa Sakti (unsur wanita).

    Arca Prajñaparamita duduk dalam sikap padmasana atau vajrasana (kedua kaki disilangkan dengan kedua telapak kaki menghadap ke atas, telapak kaki kanan berada di atas paha kiri, telapak kaki kiri berada di atas paha kanan), di atas bantalan bunga teratai merah yang memiliki dua kelopak bunga yang menghadap ke atas dan ke bawah (padmasana ganda), dengan sikap kedua tangan membentuk sikap dharmacakramudra (memutar roda dharma), yang jari-jarinya dipola dalam gaya tari.
    Dharmacakramudra melambangkan kesempurnaan jalannya hukum (dharma).

    Dari balik lengan tangan kiri mengapit tangkai padma (bunga teratai merah) yang menjalar dari umbi yang terdapat di samping pinggangnya. Tangkai itu ke atas tepat di sisi bahu kiri dengan kelopak bunga yang mekar, di atas kelopak bunga terdapat pustaka.

    Bantalan padma berada di atas asana segi empat dengan hiasan geometris. Bagian belakang arca terdapat sandaran yang atasnya membentuk kurawal runcing dengan hiasan lidah api tumpul yang mengelilingi pinggirnya. Sandaran yang sekaligus bermakna sebagai prabhavali ini menopang keseluruhan badan arca dan menyatu dengan tempat duduk.

    Di dalam prabhavali masih terdapat bulatan lonjong tepat di belakang kepala, yaitu çirascakra atau prabhamandala yang merupakan lambang kedewaan dari tokoh yang digambarkan, atau pula dapat dikatakan sebagai lambang cahaya kesucian.

    Mahkota yang dikenakannya berbentuk kiritamakuta yang motifnya tidak didapat pada arca-arca lain. Mahkota ini pada sisi-sisinya dikelilingi oleh empat simbar besar dalam posisi pada pusat penjuru mata angin, sedang empat simbar yang lebih kecil lagi berada pada posisi penjuru mata angin lainnya.

    Posisi simbar-simbar pada sisi mahkota mengingatkan kita kepada konsep Meru yang terdiri dari puncak tertinggi yang dikelilingi oleh empat puncak yang lebih rendah.

    Roman mukanya tenang dengan pandangan mata terpusat pada ujung hidung. Model wajah semacam itu jika dibandingkan dengan arca Siwa dari candi Kidal yang merupakan arca perwujudan Anusanatha/Anusapati, yang kini tersimpan di Amsterdam.

    Antara kedua arca ditinjau dari segi ikonografis, bentuk dan gaya pahatannya menunjukkan gaya kesenian Singasari yang berasal dari abad ke-13. Sehingga muncul dugaan bahwa kedua arca tersebut bersumber pada panduan çilpa yang sama.

    Pada keningnya terdapat bulatan berbentuk bunga teratai merah kecil sebagai Urna. Atribut perhiasan samboghakaya yang dipakai sangat meriah, sehingga kesan telanjang pada badan bagian atas yang memang tidak berkain tampak tertutupi oleh perhiasan yang dikenakannya.

    Memakai kundala (anting) dari bunga padma. Dibahunya terdapat hiasan lempeng emas yang tipis yang dihias dengan manik-manik. Hiasan tersebut terjuntai dari sisi mahkota di belakang telinga.

    Pada bagian ini juga terikat semacam untaian kalung yang panjang yang terjuntai ke bawah hingga lutut. Di lehernya tampak tiga guratan sebagai tanda kemakmuran dan kelebihan.

    Leher tersebut juga dihias dengan hara (kalung) yang ganda pula. Satu kalung berbentuk untaian manik-manik, sedang kalung di bawahnya berbentuk lempengan emas yang dihias dengan permata yang bermotif.

    Sementara tali kasta yang sangat istimewa bentuknya melilit badannya dari pundak kiri melintang ke bagian bawah lambung kanan.

    Keistimewaan tali kasta (upavita) ini adalah, tepat di depan lambung kanan merupakan lempengan emas yang diberi hiasan padma.

    Pada kedua lengannya terdapat keyura (kelat bahu) ganda. Memakai perhiasan kankana (gelang tangan) yang masing-masingnya sebanyak tiga buah. Sedang pada jari-jari tangannya, yaitu ibu jari, telunjuk, dan jari tengah mengenakan angulika(cincin).

    Bagian bawah mengenakan kain yang bermotif ‘jlamprang’, suatu motif lingkaran yang saling bersinggungan satu dengan lainnya. Bagian dalam lingkarannya bermotif senjata cakra yang diisi oleh motif steliran yang rumit, sedang bagian sisi luar bulatan diisi dengan motif roset yang mengarah ke motif cakra pula.

    Mengenakan (katibandha (ikat pinggang) yang dihias dengan ikatan untaian-untaian manik-manik yang terjuntai ke bawah. Sedangkan di bagian pinggul sisi belakang terdapat simpul kain yang berhias motif teratai yang rumit pula.

    Kedua kaki memakai gelang binggel (nupura). Seperti halnya ibu jari tangan, ibu jari kaki juga memakai angulika.

    Dari ketiga arca yang saya amati, dan dari beberapa relief candi yang sempat saya rekam dalam bentuk foto, semua arca wanita digambarkan sebagai wanita yang tidak menggunakan penutup dada atau bertelanjang dada.

    Jangan terburu-buru berfikiran “ngeres” atau menganggap bahwa arca-arca itu dianggap hendak “mengumbar nafsu mempertontokan aurat wanita dan hal-hal yang berkonotasi porno.” Sehingga dianggap melanggar Undang-undang Pornografi. Terlebih lagi jangan pula menuduh bahwa sang seniman pemahat batu pada masa itu punya fikiran “mesum”.

    Atau, apakah hasil karya budaya leluhur kita berupa figur wanita-wanita pada relief candi, arca seperti yang diuraikan di atas, dianggap sebagai “membangkitkan hasrat seksual” atau dianggap sebagai “memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat”.

    Pornografi sebagaimana definisi pornografi menurut Undang-undang Pornografi adalah: gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat. Ada yang berminat membahasnya?

    Tidak bisa dipungkiri, bahwa para seniman masa kebudayaan Nusantara Lama (Majapahit terutama) biasa disebut seniman keagamaan, karena mereka membuat patung (tepatnya pemahat batu, sang seniman pembuat patung) dewa berdasarkan pada aturan-aturan tertentu yang sudah tertulis dalam kitab-kitab keagamaan mereka.

    Kitab-kitab tersebut pada awalnya hanya berupa sebentuk puji-pujian kepada dewa, kemudian dewa-dewa yang tertulis didalam kitab tersebut diwujudkan dalam bentuk patung yang disebut antropomorphik (mewujudkan dalam bentuk manusia).

    Pada beberapa peninggalan kuno di Jawa Tengah aturan-aturan yang ada didalam kitab keagamaan masih relatif ditaati, lain halnya dengan periode Jawa Timur.

    Banyak sekali para seniman yang telah menambah ataupun sedikit mengganti atribut dewa dengan tujuan untuk lebih mendukung fungsi dan peranan dewa tersebut, hal ini tentu saja bisa dihubungkan dengan menjamurnya kebiasaan para raja di Jawa Timur yang menganggap dirinya adalah titisan dewa tertentu sebagai sarana untuk melegitimasi diri.

    Seniman bagaimanapun juga tetap seniman, yang mengagungkan karya seni. Dalam berkarya mereka tidak akan bisa berhasil maksimal apabila diharuskan memenuhi berbagai macam syarat, bagaimanapun kreatifitas mereka sebagai jati diri tetap akan muncul dalam hasil karya mereka.

    Begitu pula dalam melukiskan atau membuat patung dewi, secara tidak sadar mereka akan membayangkan watak dan peranan dewi tersebut. Dengan merangkai bayangan itu, maka mereka dapat dengan lancar membentuk wujud dewi tersebut dalam pahatan mereka, tanpa melenceng jauh dari aturan yang berlaku.

    Budaya menutup aurat (dada wanita) di Nusantara pun baru dikenal kurang lebih abad 16 atau 17 M. bahkan di pedalaman-pedalaman Bali, Papua, Dayak dan di beberapa pedalaman Nusantara lainnya hingga awal tahun-tahun 1940an masih ditemui beberapa sukubangsa yang wanitanya bertelanjang dada, atau sekedar “ditutupi” dengan bahan rajutan dari serat kayu.

    Sampai masa sebelum perang kemerdekaan (Ktut Tantri di ‘Revolt in Paradise’ — yang telah diterjemahkan: Revolusi di Nusa Damai –) , para perempuan Bali masih bertelanjang dada (lihat lukisan Le Mayeur, Walter Spies, Antonio Blanco, dll). Dan sepertinya, keindahan dada wanita yang terbuka itulah yang menarik para seniman Barat itu datang ke Bali dan berkontribusi melahirkan gaya lukisan Mooi Indie.

    Badong
    Penangkal perkosaan dan perselingkuhan.

    Zaman Majapahit masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk di abad ke-14, orang pasti akan berpikir panjang sebelum melakukan suatu tindakan mesum kepada wanita, ataupun untuk berbuat selingkuh dengan istri orang lain.

    Pada saat itu mulai diberlakukan Undang-Undang Kutaramanawa, khususnya pada Bab XII: Paradara, tentang hukum dan sanksi tindak asusila atau perbuatan mesum, yang antara lain mengatur tentang larangan untuk berbuat tidak senonoh dengan wanita yang bukan istrinya.

    Dan yang termasuk ke dalam kategori pidana antara lain mengganggu, meminjam pakaian tanpa ijin, berbicara di tempat sepi, mengadakan pertemuan diam-diam, mengajak lari ataupun bertengkar, memegang-megang, meniduri, baik itu dengan istri orang ataupun wanita yang masih lajang.

    Bagi para lelaki hidung belang yang mencoba melanggarnya disediakan hukuman yang bervariasi tergantung pada tingkat kesalahannya. Mulai dari denda sebesar 4.000 laksa, hingga yang terberat adalah hukuman mati.

    Namun, selain dilindungi dengan undang-undang yang berlaku saat itu, kaum wanita di jaman Majapahit juga dilindungi dari tindak perkosaan dan perselingkuhan secara fisik.

    Yaitu, pada waktu itu para wanita, utamanya kaum menengah, dilindungi dengan menggunakan semacam celana dalam yang terbuat dari logam (biasanya emas) atau yang disebut badong.

    Celana dalam dari logam, atau badong tersebut wajib dikenakan seorang istri ketika ditinggal oleh sang suami dan dilengkapi dengan sebuah gembok yang hanya dipegang oleh suami.

    Penggunaannya diletakkan di luar kain, tepat di depan alat kelamin wanita. Sayang sekali, tidak ada penjelasan, bagaimana para wanita tersebut nantinya akan menjalankan kegiatan pribadi, misalnya buang air, selama kunci masih dipegang suami.

    Badong tersebut biasanya dikenakan oleh para wanita bangsawan selama suami mereka sedang berpergian atau sedang berperang. Dengan demikian celana dalam tersebut akan melindungi wanita dari korban perkosaan atau kemungkinan terlibat perselingkuhan dengan lelaki lain selama suami pergi.

    Selain itu, badong juga digunakan oleh para pertapa atau pendeta wanita, untuk menahan godaan syahwat, sehingga mereka tidak bisa berbuat intim dengan lawan jenis.

    Sebuah badong berbahan emas pernah ditemukan di daerah Madiun yang merupakan peninggalan era Majapahit dan sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Permukaan badong mewah tersebut dihiasi dengan relief cerita Sri Tanjung, seorang wanita suci yang dituduh berselingkuh oleh suaminya.

    Dan tidak hanya di Jawa, di Aceh benda semacam badong juga ditemukan dengan nama cupeng. Menurut tradisi, cupeng yang berbentuk seperti hati, berfungsi sebagai penutup kelamin anak perempuan. Selain itu mereka juga percaya bahwa cupeng tersebut dapat menangkal pengaruh roh jahat.

    H. Asesoris

    Di masa lalu perhiasan tidak sekadar dipakai sebagai asesoris untuk menghiasai badan agar penampilan kelihatan cantik dan menarik tapi juga difungsikan sebagai pelengkap sebuah upacara.

    Penggunaannya sebagai sarana upacara dapat kita temukan dalam prasasti Jawa Kuna, antara lain disebutkan bahwa dalam upacara penetapan sima (desa perdikan) ada rangkaian pemberian pasèk-pasèk (hadiah) kepada para pejabat berupa wdihan (kain), cincin, serta uang mas dan perak.

    Kitab Sumanasantaka (sekitar abad XII) menyebutkan hadiah yang diberikan itu (misalnya gelang, kalung, cincin) diperuntukan bagi mereka yang menguasai tingkat kepandaian dalam bidang seni musik, tari, dan satra.

    Jenis perhiasan dari masa klasik kebanyakan berupa mahkota, jamang, tusuk konde, hiasan telinga, kalung, bandul, selempang dada, kêlat bahu (gelang lengan), gelang, cincin, dan jêmpang (penutup kelamin anak perempuan).

    Jenis perhiasan yang ditemukan pada arca batu dan perunggu tidak seluruhnya dari logam, seperti ikat pinggang dan ikat pinggul yang dibuat dari kulit atau kain tebal tetapi dilengkapi timang emas (gesper emas) yang kadang-kadang dihiasi batu mulia.
    Selain itu ada hiasan uncal, yaitu semacam sabuk kecil yang tergantung di depan kedua paha, mulai dari ikat pinggul menggantung ke bawah, pada bagian ujungnya dihiasi jumbai dari logam.

    Pada arca-arca masa Majapahit hiasan uncal panjangnya sampai betis, hampir hingga ke mata kaki, sedangkan pada arca dari masa Jawa Tengah dan Jawa Timur awal, panjangnya hanya sampai ke lutut atau sedikit di bawah lutut.

    Di Trowulan banyak ditemukan perhiasan emas tetapi hanya sedikit yang sampai ke tangan pemerintah. Sejak tahun 1950 hingga 1960-an banyak penggali liar ngéndang (mencari emas) di situs ini yang kemudian diam-diam mereka jual.

    Sekarang kegiatan ngendang tidak ada lagi, tetapi berganti dengan kegiatan desktruktif juga, yaitu menggali tanah untuk dijadikan bahan pembuatan bata.

    Pada tahun 1991 pengrajin bata di Desa Nglinguk menemukan sembilan buah perhiasan emas (dua gelang, dua rantai kalung — satu diantaranya dengan liontin — dan masing-masing satu buah cepuk dan penutupnya, wadah dan fragmen rantai. Temuan ini termasuk yang bermutu tinggi.

    Sebelum itu (1976) pernah ditemukan kowi (wadah pelebur logam) berukuran kecil (diameter 5 cm). Temuan ini mengingatkan kita akan kegiatan pengrajin emas di masa lalu, tempat mana kini dibadikan sebagai nama sebuah desa, Desa Kemasan, di sebelah barat Segaran.

    Disebutkan pula bahwa di Dusun Bedok, Sooko ditemukan sepuluh buah benda emas di dalam cepuk perunggu yang terdiri dari anting-anting, kêlat-bahu (gelang lengan), fragmen liontin, dan hiasan hulu pedang. Temuan tersebut kini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta.

    Di antara perhiasan tersebut terdapat satu tipe hiasan “kepala raksasa” dengan mulut terbuka yang di dalamnya terdapat sebuah batu berwarna hijau. Sebuah benda emas, berbentuk bulat dengan relief kerawang pada kedua permukaannya, dalam beberapa sumber disebut sebagai hiasan telinga.

    Tetapi pendapat ini masih diragukan karena salah satu permukaan benda tersebut dapat dilepas, jadi dapat berfungsi sebagai penutup. Mungkin benda itu merupakan wadah tertutup untuk menempatkan wewangian.

    Relief pada salah satu permukaan menggambarkan pola sulur dan sangkha bersayap di bagian tengahnya. Permukaan yang lain berpola kelopak bunga padma. Sangkha bersayap tampaknya merupakan motif hias yang populer sejak masa Jawa Tengah dan tidak selalu terkait dengan dewa Wisnu, meskipun Sangkha adalah satu atribut dewa Wisnu.

    Ada pula benda yang reliefnya tidak jelas, mungkin digantungkan sebagai penghias yang biasa dipasang di dada atau pada rambut. Museum Nasional Jakarta menyimpan dua hiasan berelief ini yang sangat menarik yaitu koleksi No. 6816 dan 6914.

    Koleksi No. 6816 mempunyai relief yang menggambarkan dewa Surya menaiki kuda, dikelilingi lingkaran yang mengeluarkan sinar dalam bentuk segitiga yang runcing ujungnya. Motif lingkaran bersinar ini biasanya disebut “Surya Majapahit”, dan umum dijumpai pada arca maupun relief candi abad XIV-XV.

    Koleksi No. 6914 juga merupakan hiasan serupa, mempunyai relief yang menggambarkan salah satu adegan dalam cerita Ramayana. Gambar itu melukiskan dua ekor kera berjalan di air dengan junjungan batu karang di atas kepalanya.

    Dari Mojoagung di sebelah barat Trowulan, didapatkan dua buah kalung berbentuk kawat atau tali polos. Salah satu kalung berbentuk bulat penuh dan yang lainnya pipih. Kalung ini dikenakan ketat di leher.

    Meskipun polos, tanpa hiasan apapun, bentuk kalung dari abad XIV ini dapat diasumsikan sebagai hasil seni post modern.

    Kalung yang lain, juga tidak berbentuk rantai, melainkan berupa pilinan kawat yang karena itu disebut sebagai kalung untiran (Jawa: untir = pilin). Kalung ini juga dikenakan ketat di leher dan di bagian tengah terdapat pasak yang dapat dibuka.

    Teknik pembuatan

    Teknik yang secara umum digunakan untuk pembuatan benda-benda emas adalah cor (penuangan logam cair) dan penempaan (menempa lembaran tipis dengan palu/kayu).

    Sesudah itu baru dilakukan penyempurnaan dengan poles dan sebagainya. Salah satu variasi dari penempatan adalah repousse, yaitu menempelkan lembaran emas pada batu atau logam lain yang sudah bermotif, kemudian dipukul-pukul sehingga terbentuk relief yang cembung pada lembaran tersebut.

    Beberapa di antara benda emas merupakan benda yang berongga, dibuat dari lembaran emas tipis. Untuk memperkuat lembaran emas tadi di bagian dalam diperkuat dengan perunggu (pada bagian yang tak kelihatan) dan lubang. Antara emas dan perunggu diisi dengan tanah liat halus yang tidak dibakar.

    I. Ekspresi Wajah

    Para pengrajin tampaknya mempunyai keahlian dalam membuat bentuk-bentuk dan ekspresi wajah, terutama wajah anak-anak, putri serta orang tua. Penggarapan yang rinci menjadikan figuran yang dibuat bersifat ekspresif, misalnya wajah yang sedang tertawa dengan mulut terbuka lebar.

    Demikian pula pembentukan wajah anak-anak, digambarkan dengan matanya yang kecil, hidung dan mulut yang mungil, pipi tembam dan kepala membulat.

    Untuk mempertegas ditambahkan atribut-atribut berupa bentuk dandanan rambut yang dikuncir, atau membentuk “kuncung” yang memang merupakan dandanan rambut anak-anak

    I. Kesenian

    Meneruskan keunggulan sastra kakawin yang diawali di masa Kadiri (pra-Singasari) masa Majapahit pun menghasilkan sejumlah karya unggul yang bertahan hingga melewati tradisi penyalinan naskah yang masih hidup di Bali.

    Di samping karya-karya kakawin unggul seperti antara lain Arjunawijaya, Kunjarakarna, Siwaratrikalpa, dan Sutasoma yang telah disebut di muka, zaman kejayaan Majapahit juga menghasilkan sebuah kakawin yang unik dari segi isi pesannya, yaitu kakawin Nāgarakṛtāgama yang isinya bukan fiksi melainkan catatan mengenai tata pemerintahan, deskripsi kehidupan sosial budaya-religi dalam masyarakat Majapahit, yang dibingkai oleh laporan perjalanan raja Hayam Wuruk berkeliling negaranya.

    Dalam seni rupa pun terjadi pematangan gaya penggambaran tokoh-tokoh dalam relief candi: tidak lagi cenderung ‘naturalis’ seperti pada seni arca Jawa Tengah, melainkan tokoh-tokoh tersebut digambarkan serba pipih, menyerupai peraga wayang kulit.

    J. Figuran Orang Asing

    Orang Cina
    Penggambarannya ditandai dengan beberapa ciri antara lain; bermata sipit dan rambutnya lurus disisir ke belakang. Penggambaran anak-anak dilakukan melalui gaya rambut ekor kuda atau dikuncir (jumlahnya satu atau lebih), di bagian atas atau kedua sisi kepala. Pada orang Cina dewasa matanya selalu digambarkan sipit dengan topi bulat yang banyak dikenakan pedagang Cina pada masa itu.

    Laki-laki dewasa pakaiannya berbentuk jubah panjang yang menutupi seluruh tubuh dengan kancing terletak tepat di bagian tengah depan, ditandai oleh suatu garis lurus vertikal atau polos serta bagian perut yang cenderung buncit tertutup oleh jubah panjangnya.

    Figuran orang Cina dewasa kemungkinan besar menggambarkan wujud para pedagang Cina. Menurut sejarah, para pedagang Cina telah menetap di beberapa wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit seperti di Tuban dan Gresik. Mereka juga beranak pinang di wilayah itu

    Orang Gujarat
    Gambaran orang Gujarat atau Persia dapat diketahui dari beberapa kepala figuran yang bagian badannya telah hilang. Ciri utamanya tampak di bagian mata, hidung, mulut, dan ekspresinya. Matanya besar dan agak lebar, hidung mancung dan besar dengan cuping agak bulat, bibir agak tebal, dan memakai tutup kepala berbentuk kopiah atau sorban

    Orang Eropa
    Secara kuantitas figuran yang menggambarkan sosok orang Eropa tidaklah banyak. Figur orang Eropa yang diasumsikan sebagai orang Portugis dapat diketahui berdasarkan bentuk pakaian yang dikenakan.

    Teknik pembuatan

    Hampir seluruh kepala figuran yang ditemukan memperlihatkan cara pembuatan dengan teknik cetak. Penggarapan permukaan luar figuran dikerjakan dengan teknik gosok atau poles sehingga permukaannya menjadi halus.

    Kemudian dengan teknik pahat atau gores dibuatlah mata, hidung atau mulut yang lebih jelas lalu ditambahkan bagian-bagian khusus untuk lebih memperjelas bentuk wajah. Bagian tubuh dibentuk dengaan dua macam teknik yaitu teknik cetakan (mould) dan teknik pembentukan dengan tangan (hand-modelled).

    Teknik hias dilakukan antara lain dengan teknik tekan (impressed), teknik pilin dan teknik ukir (engraved). Pembuatan arca dengan teknik cetak biasanya dilakukan jika pengrajin bermaksud membuat arca yang bentuknya sama dalam jumlah banyak.

    Dalam teknik cetak dikenal dua macam teknik yaitu; teknik tuang (casting) dengan cara menuangkan bubur tanah liat, dan teknik tekan (impressed) dengan adonan tanah liat.

    ånå tjandhaké
    Selamat berlibur cuti bersama atawa libur cuti hari kejepit….

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun Ki Bayu,
      betul-2 memperkaya pengetahuan saya tentang budaya dan sejarah nenek moyang.

      sugeng dalu.

  8. sugeng siang…antri rontal djvu…

  9. sugeng siang

  10. Sugeng enjang poro kadang.
    Nderek antri DYVU

  11. sugeng sonten, sinambi nenggo wedaran perkerisan saking Ki Bayu

  12. sugeng dalu para kadhang.

  13. Sugeng dalu, wilujeng wengi,
    Selamat malam.
    Monggo Ki benjang taksih libur.

  14. Sugeng enjing poro kadang sedoyo.

  15. selamat PAGI,

    diSINI belom diWEDAR NSSI djVU….tunggU saatnya

  16. Selamat pagi Ki,
    Tetap semangat.

  17. Aku jadi heran pola pemerintah sekarang,
    sudah jelas produktivitas bangsa sangat rendah, kok ya tega-teganya selalu membuat keputusan kontroversial, cuti bersama segala.
    Dasar mentalnya masih mental “penguasa”, bukan sebagai “pelayan (abdi) masyarakat. Sehingga pelayanan masyarakat menjadi terbengkalai.
    Lupa engkali ya bahwa tugas mereka adalah sebagai “public service”. Untuk itulah kita membayar segala macam jenis pajak (bukan upeti lho).

  18. Ndherek ngisi daftar hadir, sugeng sonten.

  19. sugeng sonten

  20. hadir.

  21. Hadir malam sebelum bobo.

  22. Nuwun
    Sugêng énjang

    Sugêng pêpanggihan pårå sanak kadang, sampun sawêtawis dangu antawisipun tigang dintên mbotên sambang padêpokan.

    Mugi pårå sanak kadang tansah pinayungan kawilujêngan, kasarasan, såhå karahayon, pikantuk sihing Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Måhå Asih, kasêmbadan punåpå ingkang dipun gayuh.

    Tansah waskitå. Tumêmên dêmên tinêmu tansah manêmbah Gusti Ingkang Måhå Agung, tumungkul ngandêling Suksmå tan lirwå trésnå sêsami. Hing siang pantaran ratri. Ingih Padukå Panjênêngan Gusti Pangéran Ingkang Tansah Hangayomi pårå titah. Gusti Ingkang mBotên Naté Saré.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  23. sugeng enjing Ki Bayu, sampun sawetawis wekdal kawulo nenggo ular ular perkerisanipun , mbok bilih sampun wonten, sumonggo Ki

    • Soegeng endjang – wiloedjeng endjing Ki Bajoe, sampoen sakwetawis wekdal kawoelo nenggo wedaran dongeng sedjarah perkerisanipoen , mbok bilih sampoen wonten, soemonggo Ki!

  24. monggo pinarak, sinambi ngentosi wedaran

    • lho…, sampun sawetawis cemantel kok ki

    • lho…, sampoen sa’wetawis tjemantel kok ki

      • wedar perkerisan Ki

  25. Bengi iki mbaleni beranteme Bagus Handoko karo Sawung Sariti.
    Matur nuwun, sampun ngunduh DJVU


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: