Penyebaran Islam

Ki Bayuaji memang OYE, kata Ki dalang Mantep Sudarsono.

Selesai DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI serii KERAJAAN SINGOSARI (rontal Pelangi di langit Singosari sampai Sepasang Ular Naga di Satu Sarang), dilanjutkan dengan Seri KERAJAAN NUSANTARA, Ramadhan kali ini lebih gayeng dengan dongeng seri PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA.

Dongeng yang diangkat oleh Ki Bayuaji ini dalam rangka mengisi Ramadhan 1431 H, agar sanak-kadang Padepokan Pelangisingosari dapat mengetahui sejarah penyebaran Islam mulai awal mulai sampai saat ini.

Dongeng yang diwedar berseri bisa dibaca pada halaman-halaman berikut.

  1. MUBALLIGHOT DARI LERAN
    1. Bagian 1
    2. Bagian 2
    3. Bagian 3 (tamat)
  2. PARA WALI PENYEBAR AGAMA ISLAM DI TANAH JAWA
    1. Kêsatriå Mégå Pêthak murid Kakèk Bantal dari Sêmbalo
    2. Dari Syeh Maulana Malik Ibrahim sampai Syarif Hidayatullah
    3. Dongeng Ketupat Unutan
    4. SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA
    5. Sunan Gresik
    6. Dongeng Jaburan, Nyadran, Ketan, Kolak, Apem & Gapura lan Keupat
    7. Sunan Ampel
    8. Sisipan: bab kisah gadis bisu-tuli-lumpuh
    9. Sunan Giri
    10. Sunan Drajad
    11. Sunan Bonang
    12. Sunan Kalijaga


Halaman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Telah Terbit on 4 September 2010 at 13:21  Comments (5)  

The URI to TrackBack this entry is: http://pelangisingosari.wordpress.com/penyebaran-islam/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

5 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Sunan Drajad [On 5 September 2010 at 06:48 bayuaji said:][HLHLP 013]

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Sênén (Soma) Paing; Sang Suryå sampun gumlêwang ing bang kilèn. 27 Påså 1943-Dal. 27 Ramadhan 1431H; 06 September 2010M. Wuku Klawu, Ingkêl Manuk. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    PARA WALI PENYEBAR AGAMA ISLAM DI TANAH JAWA
    dalam dongeng:
    SUNAN BONANG

    Bonang adalah sejenis gamelan gending atau besi atau kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bila tonjolan itu dipukul dengan kayu lunak akan timbul suara merdu. Pada waktu itu bunyi demikian ini adalah sangat mengasyikkan terdengar di telinga para penduduk. Lebih-lebih yang membunyikan bonang adalah seorang waliyullah, maka bunyinya mempunyai pengaruh luar biasa sehingga banyak penduduk yang berbondong-bondong ingin menyaksikan dan mendengar dari dekat.

    Banyak penduduk yang ingin belajar membunyikan bonang semerdu Sunan Bonang, mereka juga ingin belajar melagukan tembang yang diciptakan oleh Sunan Bonang sendiri. Tembang yang berisikan pokok-pokok ajaran agama Islam. Jadi tanpa terasa para penduduk Tuban belajar agama Islam melalui kesenian mereka sendiri. Gamelan Jawa yang saat itu kental estetika Hindu, digubah oleh Sunan Bonang dengan memberi nuansa baru. Beliau menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, yakni dengan menambahkan instrumen yang disebut bonang itu.

    Gubahan gamelan Sunan Bonang memiliki nuansa dzikir guna mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang “Tombo Ati” diyakini adalah salah satu karya Sunan Bonang. Sampai kini, tembang tersebut masih banyak dinyanyikan karena sarat dengan nilai-nilai ajaran Islam.

    Tombo Ati adalah tembang tradisional Jawa, tembang yang digubah oleh Sunan Bonang. Tembang ini tentang seorang manusia muslim diajak mengamalkan “laku” untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan spiritual, sebagai Obat Hatimelalui Tadarus Al Qur’an, Shalat Tahajjud, Bersilaturahmi dengan Orang-orang Shaleh, Berpuasa, Dzikir mengingat Allah SWT di duapertiga malam secara terus-menerus, semua yang dianggap “remedies untuk hati”.

    Tombo Ati iku ånå limang pêrkårå
    Kaping pisan måcå Qur’an sak maknané
    Kaping pindo sholat wêngi lakonånå
    Kaping têlu wong kang sholeh kumpulånå
    Kaping papat wêtêngirå ingkang luwé
    Kaping lima dzikir wêngi ingkang suwé
    Salah sawijiné såpå biså anglakoni
    Insya Allah Gusti Allah ngijabahi.

    Pesan utama dari tembang ini adalah bahwa untuk mendapatkan kedamaian spiritual, seseorang harus mengikuti petunjuk Allah. Versi dalam Bahasa Arab yang diyakini gubahan sahabat Rasululah Ali bin Abui Tahlib ra Karomallahu Wajhah adalah:

    Khamsun hunna dawaul qaib
    (Ada lima hal yang bisa menjadi obat hati)

    Qiraaatul quran
    (Membaca Quran dan maknanya)

    Wa qiyamul lail
    (dan melakukan sholat malam (tahajjud)

    Wa majaalisatus shalihien
    (dan selalu berkumpul dengan orang yang baik)

    Wa ikhlaaul baathin
    (dan menahan lapar (berpuasa)

    Wa tadharruindas shabaah
    (dan berdzikir menjelang subuh)

    Pada pentas pewayangan Sunan Bonang terkenal sebagai seorang dalang yang piawai hingga menarik minat masyarakat banyak. Kegemarannya adalah menggubah lakon wayang serta memasukkan tafsir-tafsir Islam. Misalnya, cerita pertentangan antara keluarga Pandawa-Kurawa, ditafsirkan sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan ‘isbah (peneguhan).

    Ajaran tersebut disampaikan secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat ketika itu. Dalam hal ini, karena kepandaiannya membunyikan kesenian bernama bonang maka beliau kemudian disebut Sunan Bonang. Beliau bahu-membahu dengan salah satu muridnya dan sahabatnya, Sunan Kalijågå.

    Perjuangan Sunan Bonang diarahkan pada menanamkan pengaruh ke dalam. Siasatnya adalah memberikan pendidikan Islam kepada Raden Patah, putra Raja Brawijaya V, dari kerajaan Majapahit, dan menyediakan Dêmak sebagai tempat untuk berdirinya negara Islam. Murid-murid Sunan Bonang ini tersebar di Tuban, Jepara, Bawean, dan Madura.

    Filsafat Keillahian beliau adalah:”Tauhid dan ma’rifat adalah mengetahui kesempurnaan. Bila seseorang membatasi diri pada ma’rifat saja, ia belum sempurna dan pengetahuannya masih kosong, karena masih terbelenggu dengan adanya aneka macam keinginan. Kesempurnaan orang yang menekuni ma’rifat ialah pandangannya hilang lenyap, sehingga tidak ada lagi sesuatu yang kelihatan maupun masih ada yang disebut wajah. Kesempurnaan barulah tercapai yaitu dengan terus-menerus mengabdi kepada Pangeran Yang Maha Agung. Kesempurnaan itu hanya milik Allah. Manusia tidak mempunyai kemauan dan bergerak menurut kemauannya sendiri. Manusia adalah buta, tuli, bisu, dan kosong. Setiap gerakannya berasal hanya dari Allah”.

    Beberapa tahun kemudian, Sunan Bonang menetap di desa kecil di Lasem, Jawa Tengah sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di sana dia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Seperti ayahnya, Sunan Bonang mendirikan pondok pesantren untuk mendidik kader-kader Islam yang akan menyiarkan Islam ke seluruh tanah Jawa.

    Salah satu upaya yang dilakukan adalah mencoba mengeliminir kepercayaan rakyat Jawa kala itu yang kental dengan pengaruh Hindunya. Misalnya, beliau menciptakan Gênding Dharmâ. Mengubah nama-nama dewa Hindu dengan nama-nama malaikat serta nabi-nabi.

    Sunan Bonang pernah menggubah-ulang “Suluk Déwåruci” (Kakawin Mahabharata yang sarat dengan nafas Hindu) menjadi sebuah kakawin untuk ‘menjembatani’ ajaran Islam agar bisa diterima oleh umat yang masih kuat tertanam dalam budaya Hindu-Jawa. Sekedar gambaran tentang kisah Dewaruci itu sendiri Bima, seorang tokoh di kisah ini, dikhianati oleh gurunya sendiri diutus untuk mencari ‘air kehidupan’ dalam menjalankan tugas yang ternyata penuh perjuangan itu ternyata ia malah menemukan ‘pencerahan-diri’. Di samping itu, upaya tersebut dimaksudkan untuk mendekati hati rakyat untuk menanamkan nilai-nilai ajaran Islam.

    Beliau termasuk pendukung kerajaan Islam Dêmak dan membantu mendirikan Masjid Agung di kota Dêmak Bintårå. Beliau kemudian dikenal sebagai imam resmi pertama Kesultanan Dêmak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi tentara Kesultanan Dêmak. Meski demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya berkelana ke daerah terpencil. Daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean, adalah tempat Sunan Bonang sering berda’wah.

    Ajaran Sunan Bonang merupakan perpaduan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang.

    Ini tentu berbeda dengan Sunan Giri yang lugas dalam fikihnya. Filsafat ‘isyq (‘cinta’), yang sangat mirip dan cenderung ke Jalalludin Rumi, adalah inti ajaran dari Sunan Bonang. Menurut pendapatnya, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (ma’rifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq ul yaqqin.

    Selain itu, Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau, atau burung laut, pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi, serta Hamzah Fansuri.

    Yang terkenal di antaranya adalah “Suluk Wujil” yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa’id Al Khayr (wafat pada 899). Dalam suluknya itu Sunan Bonang mengkritik mereka yang “menyembah” Tuhan tetapi tidak mengetahui hakekat yang disembahnya. Untuk memahami makna shalat yang diajarkan Sunan Bonang, berikut cuplikan Suluk Wujil ciptaanya:

    Utamaning sarirå puniki
    Angrawuhånå jatining sholat
    Sêmbah lawan pujiné
    Jatining sholat iku
    Dudu ngisa’ tuwin magêrib
    Sêmbahyang aranéka
    Wênangé punikå
    Lamun aranånå sholat
    Pan minångkå kekêmbanging sholat daim
    Ingaran tåtå kråmå

    Êndi inggaran sêmbah sêjati
    Åjå nêmbah yèn tan katingalan
    Têmahé kasor kulané
    Yèn sirå nora wêruh
    Kang sinêmbah ing donyå iki
    Kadi anulup kågå
    Pungluné dèn sawur
    Manuké mångså kênåå
    Awêkåså amangéran adam sarpin
    Sêmbahé siyå-siyå !

    Terjemahan bebasnya:
    Seutama-utamanya diri itu adalah yang mengetahui hakekat shalat sejati dengan segala pujian di dalamnya.
    Shalat sejati itu bukan hanya mengerjakan shalat isya dan maghrib saja, ataupun shalat-shalat yang lainnya, yang hanya melakukan gerakan-gerakan ritual sembahyang saja. Jika itu yang disebut shalat, hanya merupakan hiasan shalat saja, bukan shalat yang sebenarnya, yakni shalat yang seharusnya tertanam dan meluruh dalam jiwa, dan itu berarti hanya sebatas pada tata krama lahiriah shalat saja.
    Lalu, manakah yang disebut sembah sejati, shalat yang sesungguhnya itu?
    Janganlah menyembah jika tidak tahu yang engkau sembah.
    Jika engkau tidak tahu, hanya akan merendahkan martabah hidupmu.
    Jika engkau tidak meyakini siapakah yang disembah didunia ini, bagaikan menyumpit burung yang pelurunya engkau tebarkan begitu saja.
    Bagaimana mungkin engkau akan mendapatkannya?
    Akhirnya engkau hanya menyembah kekososngan belaka.
    Itu sembah yang sia-sia.

    Dari bait-bait di atas disimpulkan bahwa keutamaan seseorang itu terletak pada pemahaman dan penghayatan kesejatian shalat, sembah dan pujian. Bukan terbatas pada ritual pengerjaan shalat belaka. Sunan Bonang mengartikan jika mengerjakan shalat lima waktu itu adalah sembahyang. Sifatnya hanya memenuhi tata krama lahiriah shalat belaka, hanya merupakan hiasan dan tidak tertanam dan meluruh dalam jiwa (shalat daim).

    Dalam sarasehan para wali pun disebutkan bahwa shalat yang sempurna itu bukan melaksanakan shalat secara fisik semata-mata. Menurut Sunan Bonang, orang yang utama adalah orang yang mampu memahami dan menghayati kesejatian dan hakikat shalat, sembah dan pujian kepada Sang Maha Kuasa. Bukan orang yang tidak pernah sedikitpun terlupa mengerjakan shalat lima kali sehari. Ini jelas tidak sama dengan pengerjaan shalat semata-mata.

    Kalimat: Janganlah menyembah jika tidak tahu yang engkau sembah, seolah-olah bertentangan dengan ajaran Islam yang mewajibkan umatnya untuk menjalankan shalat wajib lima kali sehari. Padahal kalimat tersebut tidak bertentangan bahkan telah sesuai dengan maksud Kitab Suci Al Qur’an.

    Pertama. Allah langsung memerintahkan KekasihNya NabiNya Yang Mulia Muhammad SAW pada peristiwa mi’raj untuk mendirikan shalat, demikian juga yang tertulis dengan jelas pada ayat-ayat Kitab Suci Al Qur’an, Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat, bukan mengerjakan shalat. Menegakkan shalat atau mendirikan shalat tidak sama dengan mengerjakan shalat. Juga tidak sama dengan mempelajari dalil-dalil shalat.

    Mengerjakan shalat lebih bersifat menjalankan shalat secara lahiriah saja. Al Quran tidak menghendakli demikian. Al Qur’an menggunakan kata kerja aqiimush shalaata berarti “dirikanlah shalat
    Kata aqiimush, iqamah adalah menegakkan dalam arti yang sebenarnya, sedangkan shalat adalah doa atau permohonan. Dalam shalat terkandung kata “washala”, yaitu penyatuan diri dengan Sang Maha Khalik. Dalam penegakan shalat adalah menegakkan semangat dari shalat.

    Kedua. Shalat diwajibkan bagi orang yang mukallaf mumayyiz, yakni seseorang yang telah dapat dibebani hukum dan bertanggung jawab atas perbuatannya, secara sadar mau dan mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk.

    Shalat harus dilakukan oleh orang mukallaf mumayyiz dalam keadan sadar sepenuhnya. Al Qur’an Surat An Nisa’ (4) Ayat 43 menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”.
    Orang mabuk tergolong orang yang tidak boleh shalat, ia tidak sadar akan dirinya, sedangkan shalat baru boleh dilaksanakan oleh orang yang sadar dan mengerti setiap kata yang diucapkan dalam shalat.
    Jika shalat diwajibkan kepada orang-orang yang beriman, rangkaian kalimat “mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”, haruslah dipahami sebagai keadaan yang sadar sepenuhnya. Dalam keadaan inilah orang mengerti kepada siapa dia melakukan penyembahan.
    Tanpa mengetahui siapa yang disembah, jelas merupakan pekerjaan sia-sia, Disebut sebagai orang yang menyembah “adam sarpin”, yakni sesuatu yang tidak ada atau sesuatu kosong. Tidak ada tujuan. Hanya orang yang bodoh saja yang mengerjakan sesuatu yang tidak bertujuan, suatu pekerjaan yang sia-sia. Orang semacam ini disebut orang yang merendahkan martabat hidupnya. Membuang sesuatu yang berharga demi mengejar impian yang tak nyata.

    Kalimat: Janganlah menyembah jika tidak tahu yang engkau sembah, menyiratkan bahwa ketika kita menyembah Allah, seolah-olah kita melihatNya padahal kita tidak melihatNya. Yang dimaksud dengan seolah-olah melihat Allah disini adalah bukan dengan kasat mata (mata kepala) namun dengan mata hati (bashirah).

    Rasulullah SAW berkata, “Beribadahlah kepada Allah seolah-olah engkau melihatNya, walaupun engkau tidak melihatNya, karena sesungguhnya Allah melihatmu.”

    Lalu, manakah yang disebut sembah sejati, shalat yang sesungguhnya itu?

    Al Qur’an Surat Al ‘Ankabut (28) Ayat 45: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji (fakhsya) dan mungkar (munkar).

    Dengan ayat ini, yang menjadi perhatian kaum muslimin adalah tujuan dan hakikat shalat. Surat Al ‘Ankabut (28) Ayat 45 menandaskan tujuan shalat. Hasil nyata dari mendirikan shalat.

    Apa yang dmaksud dengan perbuatan “fakhsya” dan “munkar”. Perbuatan keji adalah perbuatan yang hina dan menjijikkan. Tergolong di sini adalah serakah, tamak, hasad, dengki, ujub, riya, dan takabur. Sedangkan perbuatan mungkar adalah perbuatan zalim, seperti maling, main, minum, madat dan madon. Jadi meskipun seseorang shalatnya rajin tetapi masih melakukan perbuatan keji dan mungkar, perlu dipertanyakan. Apakah dia telah mendirikan shalatnya dengan benar.

    Kalimat pada Suluk Sunan Bonang yang berbahasa prosa Jawa-tengahan, agak terpengaruh oleh bahasa Arab. Kitab ini berisi kumpulan catatan dari pelajaran-pelajaran yang pernah diberikan Sunan Bonang kepada murid-muridnya. Sunan Bonang akhirnya berhasil mewujudkan cita-citanya mendirikan kerajaan Islam di Dêmak.

    Banyak hikayat Sunan Bonang yang ditutur-lisankan oleh para penutur, Hikayat yang merangkumkan sebuah cerita, yang kelak berkembang menjadi legenda, di antaranya adalah kisah Brahmana, asal usul kota Tuban dan Sumur Srembung.

    Siapakah Sunan Bonang?

    Berdasarkan cerita tutur dari berbagai sumber tersebutkan Sunan Bonang adalah putra keempat Sunan Ampel dari istrinya yang bernama Nyai Ageng Manila (sumber lain menyebut Dewi Cåndråwati putri Brawijaya Kertabhumi). Dengan demikian Raden Makdum Ibrahim itu masih cucu Raja Majapahit. Makdum, yaitu gelar yang lazim dipakai di India.

    Kelak beliau menjadi imam yang pertama di Mesjid Dêmak. Diperkirakan lahir antara 1440 atau 1465, dan meninggal 1525, masa pelajaran ditempuh di bawah ayahnya, dengan saudara seperguruan Raden Paku yang kelak menjadi Sunan Giri. Namanya sendiri adalah Makdum Ibrahim atau Raden Maulana Makdum Ibrahim dan karena tidak pernah menikah, atau setidaknya tak berputra, ia juga disebut Sunan Wadat Anyåkråwati.

    Makdum, yaitu gelar yang lazim dipakai di India. Kata atau gelar Makdum ini merupakan sinonim kata Maula atau Malauy, gelar kepada orang besar agama. Makdum berasal dari kata khodama yakhdamu dan infinitifnya (masdarnya) khidmat, dan maf’ulnya dikatakan makhdum artinya orang yang harus dikhidmati atau dihormati karena kedudukannya dalam agama atau pemerintahan Islam. Sesudah belajar ilmu di Negeri Pasai bersama Raden Paku, Raden Makdum Ibrahim berda’wah di daerah Tuban dengan menggunakan kesenian rakyat yang disebut Bonang.

    Konon beliau dan Raden Paku bermaksud menunaikan ibadah haji ke Mekah, dan sebelumnya berguru kepada Abdulisbar atau Dulislam di Pasai (versi lain Wali Lanang, kali ini ayah Raden Paku, di Malaka), tetapi yang kemudian diminta kembali ke Jawa oleh gurunya.

    Pada tahun 1503, setelah beberapa tahun menjabat sebagai imam mesjid Dêmak, beliau berselisih paham dengan Sultan Dêmak dan meletakkan jabatan, lalu pindah ke Lasem. Di situ beliau memilih Desa mBonang sebagai tempat tinggalnya. Di mBonang beliau mendirikan pesantren dan pesujudan (tempat tafakur), sebelum akhirnya kembali ke kampung halamannya, Tuban.

    Tempat pesemayaman Sunan Bonang dan kisah empat lokasi makam

    Mereka yang melacak jejak Sunan Bonang setidaknya akan mendapatkan empat lokasi pemakaman, yang tentu akan membuat bingung, karena tidak ada cara untuk membuktikan kesahihannya. Kerancuan ini disebabkan antara lain karena sejak awal tidak terbedakan, antara makam dan petilasan: tempat para wali pernah tinggal, mengajar, atau sekadar lewat saja. Meski begitu, petilasan boleh dianggap tak kalah penting dengan makam, karena makam hanyalah tempat para beliau disemayamkan, sedangkan petilasan justru merupakan atmosfer lingkungan hidup seorang wali ratusan tahun silam. Apabila petilasan yang menjadi ukuran, maka jumlah lokasi yang terhubungkan dengan Sunan Bonang menjadi empat.

    Paling tidak terdapat dua tempat yang diyakini makam beliau yang “asli”, satu di sebelah barat Masjid Agung Tuban. Satunya lagi berada di Pulau Bawean.

    Lokasi pertama, dan yang paling populer, adalah makam di belakang Mesjid Agung Tuban. Barang siapa berkunjung ke sana akan melihat suatu kontras, antara Mesjid Agung Tuban yang arsitekturnya megah dan berwarna-warni itu, dengan astana masjid Sunan Bonang di belakangnya yang sederhana. Di dekat astana mesjid yang mungil itulah terletak makam Sunan Bonang. Untuk mencapai tempat itu kita harus menyusuri gang sempit di samping mesjid besar, bagaikan perlambang atas keterpinggiran alam mistik dalam kehidupan pragmatik masa kini.

    Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525 M di Pulau Bawean. Dan kini jenazahnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Agung, Tuban, setelah sempat menjadi ‘perebutan’ masyarakat Pulau Bawean dan Tuban.

    Oleh murid-muridnya yang berada di Pulau Bawean bermaksud dimakamkan di Bawean. Tetapi murid-murid yang berasal dari Tuban tidak setuju. Pada malam harinya penjaga jenazah Sunan Bonang yang berasal dari Pulau Bawean tertidur, lalu jenazah Sunan Bonang dibawa ke perahu menuju Tuban. Anehnya, pada esok harinya jenazah Sunan Bonang yang di Bawean masih ada. Hanya kain kafan yang tadinya ada dua sekarang tinggal satu. Sedangkan jenazah yang dibawa ke Tuban juga masih ada. Akhirnya jenazah Sunan Bonang pun dimakamkan di dua tempat, di Tuban dan di Pulau Bawean. Tetapi yang banyak dikunjungi orang adalah makamnya yang ada di Tuban.

    Makam Sunan Bonang yang terletak di pusat Kota Tuban ditandai dengan tugu nol kilometer Kota Tuban. Tepatnya terletak di Dukuh Kauman, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota Tuban. Kompleks makam dikelilingi pagar tembok dengan tiga buah gapura yang berbentuk paduraksa.

    Di bagian atas gapura pertama terdapat sebaris huruf yang berbunyi Rasa Tunggal Pandita Wadat. Kalimat tersebut sesuai dengan nama Sunan Bonang yang dalam buku Suluk Wujil disebut Sunan Wadat. Perkataan wadat mempunyai arti, yakni orang yang tidak menikah. Sedangkan di halaman pertama pada mulanya terdapat dua pendopo. Pendopo Agung pagar berjeruji berpintu empat dan pendopo rantai bertiang delapan. Lainnya adalah dua pendopo Sukolimo, sumur, dan kolam berangka Arab.

    Di dalam kolam terdapat Yoni Tanjung Tirta. Di halaman ketiga terdapat masjid, pendopo Soko Kalih (tempat beduk), pendopo bertiang satu. Pada waktu pembuatan masjid baru tahun 1921, bangunan di halaman kedua dan ketiga dihancurkan.

    Makam Sunan Bonang terbujur di tengah sebuah cungkup bangunan inti seluas 11,29 x 13,35 meter persegi dengan nisan berbentuk akulade. Pada gebyok Makam Sunan Bonang sebelah kanan tangga masuk dipahat tulisan Jawa Baru yang berbunyi Janma Wyahana Kayuning Sawit Jagad. Artinya Hakikat. Kalimat tersebut merupakan candra sengkala atau angka tahun yang bernilai 1716 Ç atau 1789 M. Pendopo paseban umpak bangunan terbuat dari tulang ikan Pe dengan atap cungkup dari sirap yang berbentuk tumpang dengan padmanya. Kini, atap sirap itu diganti dengan kayu.

    “Jenazah” Sunan Bonang yang ditinggal di Pulau Bawean dimakamnkan di Tambak Kramat, tepi pantai Pulau Bawean. Di tempat ini disebut-sebut sebagai lokasi kedua makam beliau. Di sini terdapat dua makam Sunan Bonang, tetapi tidak ada cara untuk memastikan di antara keduanya yang lebih masuk akal, meski untuk sekadar “dikira” sebagai makam Sunan Bonang. Salah satu makam memang tampak lebih terurus, karena dibuatkan “rumah” dan diberi kelambu, sedang makam satunya masih harus bersaing pengakuan dengan spekulasi lain bahwa itu sebenarnya makam seorang pelaut dari Sulawesi yang kapalnya karam di sekitar Bawean.

    Lokasi ketiga adalah sebuah petilasan di bukit pantai utara Jawa, antara Rembang dan Lasem, tempat yang dikenal sebagai mBonang, dan dari sanalah memang ternisbahkan nama sang sunan. Di kaki bukit itu konon juga terdapat makam Sunan Bonang, tanpa cungkup dan tanpa nisan, hanya tertandai oleh tanaman bunga melati. Namun atraksi utama justru di atas bukit, tempat terdapatnya batu yang digunakan sebagai alas untuk shalat, di batu itu terdapat jejak kaki Sunan Bonang, konon karena kesaktian beliau menjadikan batu itu melesak.

    Situs ini berdampingan dengan makam Putri Cempo (Cempa, Campa) dan ini terjelaskan oleh cerita tutur bahwa Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel yang berasal dari Cempa. Sunan Bonang telah memindahkan makam putri Darawati atau Andarawati yang merupakan maktuanya tersebut dari makam lama di Citra Wulan (bertarikh Jawa 1370 alias 1448 M, mungkin maksudnya di wilayah ibukota Majapahit) ke Karang Kemuning, Bonang. Namun keterangan ini muncul sebagai catatan kaki atas cerita tentang perampasan barang-barang berharga Dêmak ketika direbut Mataram, dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa. Dengan begitu, sudah terdapat tiga situs yang disebut sebagai makam Sunan Bonang. Tentang makam di Bawean terdapat legenda yang bisa diikuti dari Islamisasi di Jawa.

    Lokasi keempat adalah sebuah tempat bernama Singkal di tepi Sungai Brantas di Kediri. Konon dari tempat itu, seperti dituturkan dalam Babad Kadhiri, Sunan Bonang melancarkan da’wah tetapi gagal mengislamkan Kediri. Ketika laskar Belanda-Jawa pada 1678 menyerang pasukan Trunajaya di daerah itu, mereka menemukan mesjid yang digunakan sebagai gudang mesiu. Adanya mesjid yang cukup penting di Singkal pada abad ke-17 menyebabkan legenda yang mengisahkan tempat itu sebagai pusat penyebaran agama Islam pada permulaan abad ke-16 menjadi agak lebih dapat dipercaya.

    Meskipun beberapa pihak meragukan Sunan Bonang pernah pergi ke Bawean, berdasarkan faktor usia dan kesulitan perjalanan masa itu. Menurut cerita, Wali Lanang di Malaka memberikan tugas-tugas berbeda tetapi senada kepada kedua muridnya: Santri Bonang pada umumnya harus menyebarkan dan memang, kenyataannya kelak Sunan Bonang banyak menjelajahi daerah-daerah, tetapi Raden Paku harus menetap di Giri dan tentang Sunan Giri ini tidak diberitakan perjalanan-perjalanan jauh.

    Sunan yang sangat terkenal kisahnya sebagai wali yang memberikan Raden Sahid alias Brandal Lokåjåyå suatu pencerahan, sehingga kelak menjadi penda’wah sinkretik ulung bernama Sunan Kalijågå. Namun dalam Sêrat Darmågandul (ditulis pada tahun 1879), bersikap bermusuhan terhadap para wali. Sunan Bonang “digambarkan sebagai tokoh kasar dan tidak tahu malu.” Tentu saja ini bagian dari “politik dongeng” yang sering bisa dilacak atas berbagai legenda, mengingat tokoh Sabdopalon dan Nayagenggong dalam karya itu digambarkan menolak masuk Islam.

    Sementara itu, sejauh cerita yang menyebut Sunan Bonang sebagai putra Sunan Ampel dapat dipercaya, Sunan Bonang tentu tergolong keturunan orang Cam, tepatnya keturunan orang asing yang menyebarkan Islam di Jawa.

    Kitab Bonang

    Sarjana Belanda B. Schrieke menulis tesis Het Boek van Bonang pada 1916, seperti mengandaikan bahwa manuskrip yang dibahasnya adalah karya atau ajaran Sunan Bonang. Sayang sekali bahwa penamaan “Kitab Bonang” itu tidak dianggap tepat, juga oleh Graaf dan Pigeaud, karena tidak ada bukti meyakinkan bahwa naskah itu memang ditulis oleh Sunan Bonang. Meski begitu, disetujui bahwa manuskrip tersebut memberi gambaran tentang ajaran Islam macam apa yang dominan dida’wahkan pada abad ke-16, jadi mungkin pula diajarkan seorang wali seperti Sunan Bonang, sebagai pengenalan pertama kepada orang-orang yang jika tidak memeluk agama Buddha atau Hindu, tentu memeluk kepercayaan sebelum agama besar yang mana pun tiba di Jawa.

    Tesis Schrieke itu kemudian dikoreksi oleh Drewes, dan diberi terjemahan bahasa Inggris sebagai The Admonitions of Seh Bari (1969). Manuskrip yang dimaksud, terdiri dari sejumlah suluk, suatu genre dalam kesusastraan Jawa, Sunda, dan Madura yang memang muncul pertama kali abad ke-15 bersama penyebaran Islam. Bukan kebetulan agaknya, karena suluk berarti jalan kerohanian, isinya adalah ajaran-ajaran tasawuf.

    Dalam hal manuskrip ini, khususnya yang berjudul Suluk Wujil (koreksian Purbatjaraka terhadap Schrieke yang menyebutnya Suluk Dulil), disebutkan Purbatjaraka sebagai ajaran rahasia untuk orang-orang tertentu saja. Rahasia artinya tidak begitu saja bisa dipahami, seperti dapat diperiksa dari kutipan-kutipan berikut:

    Tak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki berada, sekalipun mereka melakukan perjalanan sejak muda hingga tua renta. Mereka tak akan sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup, ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi wali”.

    Apabila seseorang sembahyang di sana, maka hanya ada ruangan untuk satu orang saja. Jika ada dua atau tiga orang yang bersembahyang, maka ruangan itu juga akan cukup untuk dua tiga orang itu saja. Namun jika terdapat 10.000 orang bersembahyang di sana, maka Ka’bah dapat menampung mereka semua. Bahkan seandainya seluruh dunia akan dimasukkan ke sana, maka seluruh dunia akan tertampung juga.”

    Teks seperti ini, “… kerap menimbulkan persoalan. Baik golongan kebatinan maupun ortodoks jarang dapat memberi tafsir yang sesuai dan bermanfaat terhadap hakikat ajaran para sufi.”

    Manuskrip ini disalah tafsirkan Schrieke sebagai karya Sunan Bonang, kemungkinan besar karena tokoh bernama Sunan Bonang muncul dalam Suluk Wujil, sebagai guru tasawuf tokoh Wujil yang berarti cebol. Purbatjaraka dalam Kepustakaan Djawa (1952) menduga karya itu ditulis oleh “sastrawan Jawa yang menjadi murid sang wali”.

    Sementara berdasarkan penelitiannya, menurut Drewes penulisnya adalah Seh Bari dari Karang, daerah Banten. Terutama dalam suluk tersebut, unsur-unsur kerohanian Jawa Klasik dan tasawuf Islam terpadukan. Kisahnya sendiri mewadahi gagasan zaman peralihan: Wujil, seorang terpelajar Majapahit yang meninggalkan aga Hindu dan beralih menjadi penganut Islam.

    Dengan demikian, meski dari sudut ilmu sejarah tidak bisa dipastikan bahwa Sunan Bonang yang menulis Suluk Wujil, dari manuskrip tersebut tergambarkan segi-segi wajd (ekstase mistis) dan kasyf (tersingkapnya mata batin) yang akan membawa seseorang kepada kesadaran supralogis, atau bisa disebut dimensi mistik, yang layak diduga sebagai daya tarik bagi orang-orang Jawa abad ke-15 dan 16 untuk menerima Islam.

    Ringkasan

    1. Nama:
    • SUNAN BONANG
    • Makdum Ibrahim
    • Raden Maulana Makdum Ibrahim
    • Sunan Wadat Anyåkråwati

    2. Putra Sunan Ampel.

    3. Lahir: Ampeldenta tahun: ?.

    4. Wafat: Bawean Tahun 1525M, dan dimakamkan di Dukuh Kauman, Kutorejo, Tuban. Dipercaya oleh masyarakat, bahwa makam beliau ada di empat tempat:
    a. Dukuh Kauman, Kutorejo Tuban,
    b. Tambak Kramat, Pulau Bawean,
    c. mBonang, antara Rembang dan Lasem,
    d. Singkal di tepi Sungai Brantas di Kediri.

    5. Istri: tidak menikah

    6. Putra & putri: tidak ada

    7. Daerah Da’wah dan Tahun: mBonang, Kadhiri, Rembang, Lasem, Pati, Bawean, Madura, dan Tuban. Antara tahun 1421 sd 1525M.

    8.Keahlian: ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Sebagai seniman beliau pencipta Gênding Dharmâ dan pencipta bonang.

    9. Karya sastra, sebagai ahli sastra, beliau:

    a. penggubah Suluk Dêwå Ruci sebuah Kakawin Mahabharata yang diberi nafas Islam;

    b. penggubah Kakawin Baratayudha yang disebutnya sebagai peperangan antara nafi dan ‘isbah.

    c. menulis Suluk Wujil dikenal dengan Suluk Sunan Bonang,

    10.Jabatan Politik: Panglima Tertinggi Tentara Kerajaan Dêmak, Salah satu wali pendiri Masjid Dêmak, selanjutnya imam besar Masjid Agung Dêmak.

    11. Ajaran: Perpaduan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf. Pemahaman dan penghayatan kesejatian dan hakikat penyembahan kepada Tuhan, Dzat Yang Maha Kuasa.

    12.Cara berda’wah: Melalui tembang, gamelan dan pergelaran wayang.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

  2. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Sunan Bonang [On 6 September 2010 at 16:03 bayuaji said][Pendopo: Penyebaran Islam].

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Sêlåså (Anggårå) Pon; 28 Påså 1943-Dal. 28 Ramadhan 1431H; 07 September 2010M. Wuku Klawu, Ingkêl Manuk. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa
    dalam dongeng:
    SUNAN KALIJÅGÅ

    Nama asli Sunan Kalijågå adalah Raden Mas Sahid atau Raden Said. Di dalam Babad Tanah Jawa ada yang menyebutnya Jåkå Sêtyå. Dia adalah putra Adipati Tuban yang bernama Raden Tumenggung Wilåtiktå. Tumenggung Wilåtiktå ini masih keturunan Adipati Tuban yang pertama yaitu Rånggålawé.

    Silsilah keturunan Raden Said ialah: Adipati Rånggålawé atau Ariå Adikårå, berputra Ariå Téjå I, berputra Ariå Téjå II, berputra Ariå Téjå III, berputra Raden Tumenggung Wilåtiktå dan akhirnya berputra Raden Mas Said.

    Menurut sebuah sumber, Ariå Téjå I dan II ini masih memeluk agama Syiwa (Hindu) se-dang Ariå Téjå III dan Radén Tumênggung Wilåtiktå sudah memeluk agama Islam.

    Di masa muda, Raden Said termasuk salah seorang anak muda yang tidak puas dengan keadaan di sekelilingnya. Pada waktu itu situasi kerajaan Majapahit sedang memburuk. Banyak wabah penyakit merajalela akibat kemarau panjang. Sedang rakyat jelata diharuskan membayar upeti yang mencekik leher.

    Raden Said keluar dari Kadipaten Tuban, mengembara ke sebuah daerah yang disebut Jatiwangi di daerah Lasem, Jawa Tengah. Raden Said merampok para bangsawan yang berjalan melintasi hutan Jatiwangi. Sebagai perampok Raden Said menamakan dirinya Brandal Lokåjåyå.

    Legenda Radén Mas Sahid si Brandal Lokåjåyå

    Pada suatu hari, Raden Mas Sahid si Brandal Lokåjåyå melihat seorang lelaki tua berjubah putih sedang berjalan di tengah hutan kekuasaannya. Lokåjåyå memperhatikan orang itu, terutama pada tongkat yang dibawa orang itu. Menurut penglihatan Lokåjåyå, tongkat yang dibawa orang asing itu gagangnya terbuat dari emas berhiaskan berlian. Lokåjåyå tergiur melihat hal itu. Dengan kepandaian ilmu silatnya, dia meloncat dan langsung menghadang orang itu.

    Serahkan tongkat itu kepadaku!” hardik Lokåjåyå. “Buat apa anak muda?” tanya orang itu dengan wajah tenang. Lokåjåyå heran, biasanya orang yang hendak dirampok pasti gemetar ketakutan. Tapi orang berpakaian serba putih itu tetap bersikap tenang.
    Tongkat berganggang emas dan berhiaskan permata,” ujar Lokåjåyå. “Tentu harganya mahal. Aku akan menjualnya“.
    Hemm, sungguh kasihan,” gumam orang itu. “Masih, begini muda sudah sesat jalan. Benarkah engkau berniat ingin menolong orang yang menderita para fakir miskin?” “Tetapi jalan yang kau tempuh keliru. Kalau kau ingin menolong orang lain, ingin bersedekah, janganlah bersedekah dari hasil merampok. Merampok atau mencuri haram hukumnya.”
    Carilah harta atau uang yang halal, dari hasil keringatmu sendiri.” “Ucapanmu juga baik sekali, orang tua,” sahut Lokåjåyå. “Tapi hari ini aku tidak butuh ucapan dan nasehat, aku butuh tongkatmu. Serahkan kepadaku atau aku akan merebutnya dengan paksa!” “Kau menginginkan harta?
    Jangan banyak bicara! Serahkan saja tongkat itu!” hardik Lokåjåyå. “Jika kau menginginkan harta. Nah! Ambillah itu! Harta itu halal. Kau boleh mengambil seberapapun kau mau!” kata orang tua itu sembari menunjukkan tongkatnya ke arah pohon siwalan. Seketika pohon siwalan berubah menjadi emas berkilauan. Batang, buah dan daun pohon itu berubah menjadi emas seluruhnya.
    Lokåjåyå tercengang melihat kejadian itu. Sadarlah Lokåjåyå, dia sedang berhadapan dengan orang berilmu tinggi. Serta merta Raden Said si Brandal Lokåjåyå berlutut minta ampun dan mohon dijadikan murid orang itu. Orang berjubah putih itu tidak lain adalah Sunan Bonang.

    Sebenarnya, sudah lama Raden Said ingin berguru kepada orang yang berilmu tinggi, dia ingin memperdalam pengetahuannya tentang agama Islam. Sunan Bonang tidak segera menjawab melainkan meneruskan perjalanannya. Ringan saja tampaknya langkah Sunan Bonang, Raden Said mengejarnya namun sungguh aneh, biarpun Raden Said mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari cepat tetap saja dia tak mampu menyusul Sunan Bonang. Sampailah Raden Said melihat Sunan Bonang berjalan di tepi sungai, Dengan susah payah Raden Said akhirnya dapat menyusul Sunan Bonang.
    Kanjêng Sunan… sudilah menerima saya sebagai murid,” pinta Raden Said. “Menjadi muridku? Mau belajar apa? Ingin belajar menciptakan emas dan permata?” tanya Sunan Bonang.
    Tidak, Kanjêng Sunan, saya ingin mempelajari ilmu apapun yang Kanjeng Sunan miliki.” Jawab Raden Said. Sunan Bonang diam beberapa saat. Sepasang matanya menatap tajam kearah wajah Raden Said, kemudian orang tua itu menancapkan tongkatnya ke tanah dan berkata kepada Raden Said, “Tunggu di tempat ini sampai aku kembali.”
    Sêndikå dawuh, Kanjêng Sunan,” jawab Raden Said dengan sangat hormat. Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya, sepasang mata Raden Said terbelalak heran, dia melihat Sunan Bonang menyeberangi sungai dengan berjalan di atas air seperti berjalan di daratan saja.
    Makin mantap tekad Raden Said untuk berguru kepada Sunan Bonang. Dia segera duduk bersila di hadapan tongkat Sunan Bonang yang ditancapkan di tepi sungai. Kemudian Sunan Bonang sudah melanjutkan perjalanannya lagi.

    Al kisah, Sunan Bonang terlupa kepada Raden Said yang disuruh menunggui tongkatnya hingga berbulan-bulan lamanya. Begitu teringat pada Raden Said, Sunan Bonang segera pergi ke sungai tempatnya dahulu beliau menancapkan tongkat. Ternyata Raden Said masih setia menunggui tongkatnya.
    Pemuda itu duduk bersila seperti bertapa. Sunan Bonang segera membangunkannya. Kemudian Raden Said dibawa ke tempat tinggal Sunan Bonang, dia dididik dengan segala macam pengetahuan tentang hidup.

    Karena kesungguhan hati dan ketekunannya, dia dapat menyerap dan mengembangkan ilmu yang diterimanya dari Sunan Bonang. Raden Said tidak hanya berguru kepada Sunan Bonang saja, atas anjuran Sunan Bonang sendiri beliau juga berguru kepada Sunan Ampel, juga kepada seorang ulama terkenal di Palembang yaitu Syeh Sutåbaris. Akhirnya Raden Said masuk menjadi anggota Wali Sångå, sebutannya adalah Sunan Kalijågå, karena beliau pernah menjaga tongkat Sunan Bonang di tepi sungai.

    Kisah atau hikayat di atas atau lebih tepat disebut legenda diceritakan secara tutur lesan dari generasi ke generasi, boleh jadi kisah di atas tidak pernah terjadi atau hanya kisah khayalan semata.
    Sebagaimana kisah-kiash para wali lainnya. Meskipun demikian di dalamnya berisi muatan moral tentang kesungguhan hati Raden Said si Brandal Lokåjåyå yang pada akhirnya menemukan hidayah Allah.

    Sunan Kalijågå adalah satu-satunya wali yang paling akrab dengan masyarakat Jawa. Beliau lebih sering mengenakan pakaian sederhana yang biasa dikenakan rakyat jelata, yaitu blangkon wulung, daripada jubah serba putih seperti orang Arab.
    Diantara para Wali Sångå, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filsuf.

    Daerah da’wahnya tidak terbatas. Beliau terhitung seorang mubaligh keliling, jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh pada kaum ningrat dan cendekiawan. Kaum bangsawan dan cendekiawan amat simpatik kepada beliau, karena caranya beliau menyiarkan agama islam yang disesuaikan dengan aliran jaman, Sunan Kalijågå adalah adalah seorang wali yang kritis, banyak toleransi dan pergaulannya dan berpandangan jauh serta berperasaan dalam.

    Dalam mengembangkan ajaran Islam Sunan Kalijågå bersikap lunak kepada masyarakat pada waktu itu. Beliau tidak tergesa-gesa mengubah adat istiadat rakyat yang sudah mendarah daging. Adat istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam secara perlahan-lahan diubah dan disesuaikan dengan cara-cara yang sangat simpatik.

    Semasa hidupnya, Sunan Kalijågå terhitung seorang wali yang ternama serta disegani beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif menciptakan bentuk ukiran wayang kulit, dari bentuk manusia menjadi bentuk kreasi baru mirip karikatur masa kini. Misalnya tokoh wayang yang digambarkan menghadap ke depan diukir dengan letak bahu di depan dan di belakang. Wujud tangan wayang kulit diukir memanjang hingga menyentuh kaki.

    Karya terbesarnya, karena dianggap dapat memadukan kedua budaya Jawa dan Islam, yang sangat berbeda bahkan bertolak belakang adalah mengarang cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam, dalam cerita-cerita wayang dimasukkan sebanyak mungkin unsur keislaman.

    Hal ini dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat di Jawa pada waktu itu masih tebal kepercayaannya terhadap Hinduisme dan Buddhisme, atau Syiwa Buddha, bahkan animisme. Masyarakat masih memegang teguh tradisi-tradisi atau adat istiadat lama. Di antaranya masih suka kepada pertunjukan wayang, gemar kepada gamelan dan beberapa cabang kesenian lainnya, sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijågå sebagai salah seorang mubaligh mengatur siasat, yaitu menempuh jalan mengkawinkan adat istiadat lama dengan ajaran-ajaran Islam dengan cara assimilasi kebudayaan, jalan dan caranya berdasarkan atas kebijaksanaan para Wali Sångå dalam mengembangkan Agama Islam di Tanah Jawa.

    Sunan Kalijågå, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa beliau itu benar-benar manusia berjiwa besar, dan besar pula jasanya. Sebagai pujangga, telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. Di samping itu pula beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.

    Sebagai seorang wali beliau juga seorang seniman dan budayawan. Sunan Kalijågå sering mendalang sambil berda’wah, bila sedang mendalang di Jawa Barat, dia menggunakan nama samaran Ki Dalang Sidå Brangti, bila mendalang di Tegal dia dikenal sebagai Ki Dalang Bêngkok dan bila mendalang di Purbalingga dia disebut Ki Dalang Kumêndung. Namanya banyak sekali, semua itu hanya untuk memudahkan penduduk sekitar agar mengenal lebih akrab, sehingga masyarakat tidak merasa asing mendengar namanya. Dalam Babad Tanah Jawi Sunan Kalijågå disebut sebagai Syèh Malayakusumå.

    Sunan Kalijågå adalah pengarang kitab-kitab cerita-cerita wayang yang dramatis serta diberi jiwa agama, cerita-cerita yang dibuatnya menggambarkan moral keIslaman, kesusilaan dalam hidup sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Sunan Kalijågå mengetahui, bahwa pada waktu itu keadaan masyarakat menghendaki tetap melestarikan budaya Jawa Syiwa Buddha yang sudah ada, maka taktik perjuangan beliaupun disesuaikannya pula dengan keadaan pada waktu itu.
    Berhubung pada waktu itu tidak sedikit para pemeluk agama Syiwa Buddha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali apabila dalam mengembangkan agama Islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana.

    Para wali termasuk di dalamnya Sunan Kalijågå mengetahui bahwa rakyat dari kerajaan Majapahit masih lekat sekali kepada kesenian dan kebudayaan mereka, di antaranya masih gemar kepada gamelan dan keramaian-keramaian dan upacara-upacara yang bersifat keagamaan Syiwa-Buddha.
    Beliau memanfaatkan kesenangan masyarakat Jawa terhadap kesenian gending atau gamelan, wayang kulit, dan tembang untuk menyebarkan agama Islam.

    Semua seni yang ada diberi nafas Islam, dijadikan alat da’wah sehingga rakyat banyak yang menyukainya, baik dari kalangan atas maupun dari kalangan bawah.
    Maka setelah diadakan permusyawaratan para wali, telah dapat diketemukan suatu cara yang lebih tepat, untuk mengislamkan orang-orang di Tanah Jawa, dengan cara yang dikemukakan oleh Sunan Kalijågå, maka dipesanlah oleh Sunan Kalijågå kepada ahli gamelan untuk membuatkan seperangkat gamelan, yang kemudian diberinya nama Kyai Sêkati (Sêkaten — Sahadatain).

    Menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudah musyawarah besar para wali, diserambi Masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan têrbangan (Bahasa Jawa yang Bahasa Arabnya rêbana) menurut irama seni Arab.
    Hal ini oleh Sunan Kalijågå disempurnakan dan disesuaikan dengan alam fikiran masyarakat Jawa, maka gamelan yang telah dipesan itupun ditempatkan di atas pagêngan yaitu sebuah tarub yang tempatnya di depan halaman Masjid Demak, yang dihiasai dengan beraneka macam bunga-bungaan yang indah.
    Gapura masjidpun dihiasinya pula dengan rangkaian bunga dan janur, sehingga rakyat yang tertarik datang berbondong-bondong menuju ke masjid Demak; gamelan pun dibunyikan terus menerus.
    Kemudian dimuka gapura masjid, tampillah ke depan podium bergantian para wali memberikan wejangan-wejangan serta nasehat-nasehat, yang disampaikan dengan gaya bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat pada waktu itu, sehingga mereka yang mendengarkan hatinya tertarik untuk masuk ke dalam masjid untuk mendekati gamelan yang sedang ditabuh.
    Oleh Sunan Kalijågå mereka diperbolehkan masuk ke dalam masjid, akan tetapi harus bersuci terlebih dahulu pada air blumbang di depan masjid melalui gapura, maka mulailah mereka diajarkan cara bersuci atau wudhu.
    Upacara yang demikian ini mengandung simbolik, yang diartikan bahwa bagi Siapa saja yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat (Gamelan Kiai Sêkati dibunyikan terus menerus) kemudian bersuci (blumbang di depan masjid), baru diijinkan masuk ke dalam masjid melalui gapurå (dari Bahasa Arab Ghafuuru, sebagai salah satu Asmaul Husna) maka berarti bahwa segala dosanya sudah diampuni oleh Allah.

    Tembang-tembang yang diciptakan oleh Sunan Kalijågå merupakan ajaran ma’rifat, ajaran mistis dalam agama Islam. Dan Sunan Kalijågå mencipta tembang-tembangnya dalam Bahasa Jawa.

    Sunan Kalijågå adalah penganut Islam. Ini sudah jelas. Islam yang berasal dari dan bernuansa Tanah Arab ini ditransformasikan oleh Sunan Kalijågå kepada orang-orang Jawa. Islam yang asing bagi orang Jawa diubah nuansanya menjadi Islam yang bisa dimengerti dan dipahami yang akhirnya diyakini dan diterima oleh orang-orang Jawa.

    Demikian halnya dengan doa-doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, yang pasti berbahasa Arab, termasuk doa-doa keselamatan. Sebab bagaimanapun juga orang hidup di dunia ini yang dicari dan diharapkan adalah keselamatan. Keselamatan merupakan bagian pokok ditrunkannya agama.

    Sebagai orang yang pragmatis, dalam arti lebih terkait pada urusan-urusan praktis kehidupan sehari-hari. Sunan Kalijågå menawarkan doa keselamatan, Banyak ditemui kalimat-kalimat doa baik dalam Kitab Suci Al Qur’an maupun Hadits Nabi. Tetapi Sunan Kalijågå tidak secara langsung mengajarkan kata demi kata, kalimat demi kalimat doa yang berbahasa Arab, yang sudah barang tentu merupakan bahasa yang sangat asing bagi masyarakat Jawa. Esensi doa yang berbahasa Arab itu beliau susun kembali dengan bahasa yang dimengerti dan dipahami oleh bangsanya.

    Beliau berkeyakinan bahwa doa akan lebih mudah dihayati dan diyakini bila bahasanya dimengerti, dan bahasa yang dimengerti adalah Bahasa Jawa, maka digalinya perbendaharan bahasa dan spiritual Jawa yang dipadukan dengan ajaran Islam, sehingga terciptalah satu doa yang dikemas dalam tembang kidung berbahasa Jawa Ånå kidung rumêkså ing wêngi .

    Ånå kidung rumêkså ing wêngi
    têguh hayu luputå ing lårå
    luputå bilahi kabéh
    jim sétan datan purun
    panêluhan tan ånå wani
    niwah panggawé ålå
    gunaning wong luput
    gêni atêmahan tirtå
    maling adoh tan ånå ngarah ing mami
    gunå duduk pan sirnå //

    Sakéhing lårå pan samyå bali
    sakéh ngåmå pan sami mirudå
    wêlas asih panduluné
    sakéhing bråjå luput
    kadi kapuk tibaning wêsi
    sakéhing wiså tåwå
    sato galak tutut
    kayu aèng lêmah sangar
    songing landhak guwaning wong lêmah miring
    myang pakiponing mêrak //

    Pagupakaning warak sakalir
    nadyan arcå myang sêgårå asat
    têmahan rahayu kabéh
    apan sarirå ayu
    ingidêran kang widådari
    rinêkså målåékat
    lan sagung prå rasul
    pinayungan ing Hyang Suksmå
    ati Adam utêkku bagindå Êsis
    pangucapku yå Muså //

    Napasku nabi Ngisa linuwih
    nabi Yakup pamiryarsaningwang
    Dawud suwaraku mangké
    nabi Brahim nyåwåku
    nabi Slèman kasêktèn mami
    nabi Yusuf rupèng wang
    Édris ing rambutku
    bagindhå Ngali kuliting wang
    Abubakar gêtih daging Ngumar singgih
    balung bagindhå Ngusman //

    Sumsum ingsun Patimah linuwih
    Siti Aminah bayuning ånggå
    Ayup ing ususku mangké
    nabi Nuh ing jêjantung
    nabi Yunus ing otot mami
    nêtraku yå Muhamad
    pamuluku Rasul
    pinayungan Adam Kåwå
    sampun pêpak sakathahé pårå nabi
    dadyå sarirå tunggal //

    Terjemahan bebas:
    Ånå kidung rumekså ing wêngi. Yang menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit. Terbebas dari segala petaka. Jin dan setanpun tidak mau.
    Segala jenis sihir tidak berani. Apalagi perbuatan jahat. Guna-guna tersingkir.
    Api menjadi air. Pencuripun menjauh dariku. Segala bahaya akan lenyap.
    Semua penyakit kembali ketempat asalnya. Semua hama menyingkir dengan pandangan kasih. Semua senjata tidak mengena. Bagaikan kapuk jatuh dibesi.
    Segenap racun menjadi tawar. Binatang buas menjadi jinak.
    Pohon ajaib, tanah angker, lubang landak, gua orang, tanah miring dan sarang merak.
    Kandangnya semua badak. Meski batu dan laut mengering.
    Pada akhirnya semua selamat. Sebab badannya selamat dikelilingi oleh bidadari, yang dijaga oleh malaikat, dan semua rasul dalam lindungan Tuhan.
    Hatiku Adam dan otakku nabi Sis.
    Ucapanku adalah nabi Musa.
    Nafasku nabi Isa yang teramat mulia.
    Nabi Yakub pendenganranku.
    Nabi Daud menjadi suaraku.
    Nabi Ibrahim sebagai nyawaku.
    Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku.
    Nabi Yusuf menjadi rupaku.
    Nabi Idris di rambutku.
    Ali sebagai kulitku.
    Abubakar darahku dan Umar dagingku.
    Sedangkan Usman sebagai tulangku.
    Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia.
    Siti Aminah sebagai kekuatan badanku.
    Nabi Ayub berada didalam ususku.
    Nabi Nuh didalam jantungku.
    Nabi Yunus didalam otakku.
    Mataku ialah Nabi Muhammad.
    Air mukaku rasul dalam lindungan Adam dan Hawa.
    Maka lengkaplah semua rasul, yang menjadi satu badan.

    Syair di atas adalah syair Jawa yang disebut måcåpat. Kategori måcåpat ini adalah Dhandhanggulå. Syair ini diciptakan oleh Sunan Kalijågå, salah satu anggota Wali Songo yang berperan besar dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Syair ini diciptakan Sunan untuk dilantunkan di malam hari dan berdo’a kepada Allah SWT.

    Ada berbagai upaya yang dilakukan oleh manusia agar selamat, diantaranya melalui doa permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Seperti mantra atau doa keselamatan yang terkandung dalam Kidung Rumeksa ing Wengi. Sunan Kalijågå, menyebarkan agama Islam di tanah Jawa melalui sisi budaya.

    Seperti diketahui banyak orang, Islam menemui banyak halangan untuk berkembang di tanah Jawa karena bertemu dengan kultur yang sudah sangat kuat, yaitu kultur Hindu/Buddha di bawah pengaruh kerajaan Majapahit. Oleh karena itu, Sunan Kalijågå melakukan transmogrifikasi — memanfaatkan budaya setempat (Hindu/Syiwa Budha atau animisme di Tanah Jawa pada waktu itu) untuk tujuan memperkenalkan ajaran keyakinan baru (Islam) dengan simbol-simbol yang sudah mapan, di tengah para penganut ajaran keyakinan yang sudah ada– dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam budaya-budaya Jawa seperti memasukkannya ke dalam syair-syair måcåpat, memodifikasi wayang kulit, menciptakan tembang-tembang. Pendekatan budaya seperti ini yang memang tidak disebutkan secara literalistik linguistik dalam Al Qur’an dan Al Hadits menyebabkan pihak yang tidak memahaminya menganggap ajaran-ajaran Sunan Kalijågå adalah bid’ah.

    Mengutip satu hal yang disampaikan oleh Sunan Kalijågå bahwa “dalam hal kepercayaan atau keyakinan memang perlu diajarkan tentang Islam dengan pengertian yang dalam, sudah barang tentu asal kelahiran Islam dari Tanah Arab. Namun sebagai Orang Jawa hendaknya tetap menjadi “wong Jåwå”, berkebudayaan Jawa, menjunjung tinggi budaya leluhur, sendi kehidupan dan jati diri sebagai “wong Jåwå”. Tidak perlu diganti dengan kebudayaan Bangsa Arab, karena Islam bukanlah Arab, dan kita bukan orang Arab“.

    Sungguh besar jasa Sunan Kalijågå terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh Sunan Kalijågå pada masa Demak diberi motif “burung” beraneka macam.

    Sebagai gambar, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi bahwa dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. Di dalam bahasa Kawi, burung itu disebut “kukilå” yang dalam bahasa Arabnya adalah rangkaian kata “quu” dan “qilla” atau “quuqiila”, yang artinya “peliharalah ucapanmu
    Hal ini dimaksudkan bahwa pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar kita selalu memelihara dan menjaga tutur kata kita.

    Baju kaum pria yang lazim digunakan sebagai baju shalat, baju yang berlengan dan berkancing, adalah ciptaan Sunan Kalijågå, diberinya nama “baju takwå”. Nama tersebut berasal dari bahasa Arab “taqwa” yang artinya ta’at serta berbakti kepada Allah SWT. Hal ini dimaksudkan untuk mendidik agar kita selalu berperi laku tunduk dan takut hanya kepada Allah SWT.

    Nama Kalijågå menurut riwayat, berasal dari rangkaian Bahasa Arab “Qadli Zaka.” Qadli artinya pelaksana, penghulu, sedangkan Zaka artinya membersihkan, sehingga Qodli Zaka atau yang kemudian menurut lidah kita berubah menjadi Kalijågå itu artinya ialah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama Islam.

    Masa hidup Sunan Kalijågå diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478M), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546M serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijågå.

    Dalam da’wah, ia punya pola yang sama dengan guru sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berda’wah.

    Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijågå berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijågå terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana da’wah. Dialah pencipta perayaan Sêkaténan, Grêbêg Maulud, Grêbêg Bêsar, dan upacara têdhak sitèn.
    Lakon wayang
    Sêrat Kalimåsådå
    , Pêtruk Dadi Ratu. Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua pohon beringin serta masjid dan Gapurå diyakini sebagai karya Sunan Kalijågå.

    Beberapa jenis penganan, jajan pasar, ketupat, ketan, kolak dan apem diberi dan dijadikan simbol-simbol yang bermuatan ajaran-ajaran Islam.

    Demikian juga tradisi padusan, mêgêngan, nyêkar, nyadran, munggahan, ruwahan, kêtupat unutan, malêm likuran, kataman, bakdå lêbaran, bakdå kupatan. Simbolisasi tradisi kematian, sejak gêblag hingga nyèwu, dipercaya muncul pada masa Sunan Kalijågå ini:

    1.Gêblag atau selamatan setelah pemakamam;
    2.Nêlung dinå atau selamatan setelah tiga hari kematian;
    3.Mitung dinå atau selamatan setelah tujuh hari kematian;
    4.Matangpuluh dinå atau selamatan setelah empatpuluh hari kematian;
    5.Nyatus dinå atau selamatan setelah seratus hari kematian;
    6.Mêndhak sêpisan atau selamatan setelah satu tahun kematian;
    7.Mêndhak pindho atau selamatan setelah dua tahun kematian;
    8.Nyèwu atau selamatan sete1ah seribu hari kematian.

    Ringkasan

    1.Nama:
    • SUNAN KALIJÅGÅ
    • Raden Mas Sahid
    • Brandal Lokåjåyå (saat masih menjadi perampok)
    • Jåkå Sêtyå
    • Ki Dalang Sidå Brangti, di Jawa Barat
    • Ki Dalang Bêngkok di Tegal
    • Ki Dalang Kumêndung di Purbalingga
    • Syèh Malayakusumå

    2. Putra Adipati Tuban Raden Tumenggung Wilåtiktå

    3. Lahir di Tuban akhir abad ke-14, dan wafat di Demak, Kadilangu paruh abad ke-15

    4. Istri: Siti Khafsha putri Sunan Ampel

    5. Putra & putri: tidak diketahui

    6. Daerah Da’wah dan Tahun: Kraton Majapahit, Gresik, Tuban, Demak, Cirebon, Banten, Pajang, Mataram Islam, paruh abad ke-15.
    [Masa hidup Sunan Kalijågå diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478M), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546M serta awal kehadiran Kerajaan Mataram Islam di bawah pimpinan Panembahan Senopati.]

    7. Keahlian: seni sastra, dalang, dan arsitektur. Sebagai seniman beliau adalah dalang wayang kulit, sebagai budayawan perancang baju takwå, sebagai arsitek beliau adalah salah satu wali pendiri Masjid Dêmak menciptakan tata ruang sebuah kota dengan lanskap pusat kota berupa kraton, dengan alun-alun dan adanyan dua pohon beringin serta masjid dan gapura.

    8.Karya seni sastra dan seni pedalangan: Serat Kalimåsådå, Pêtruk Dadi Ratu.

    9. Ajaran: sufistik berbasis salaf.

    10. Cara berda’wah: memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berda’wah melalui tembang, gamelan dan pergelaran wayang. Melakukan transmogrifikasi dengan memasukkan unsur-unsur Islam dalam budaya-budaya Jawa (Hindu/Syiw Budha, animisme) seperti memasukkannya ke dalam syair-syair måcåpat, memodifikasi wayang kulit, menciptakan tembang-tembang, menysipkan simbol-simbol Islam pada makanan. Demikian upacara-upacara lama yang hidup di masyarakat dikemas dalam semangat Islam.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

  3. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Sunan Kalijågå [On 7 September 2010 at 15:41 bayuaji said:][Pendopo: Penyebaran Islam].

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Rêbo (Budå) Wagé; 29 Påså 1943-Dal. 29 Ramadhan 1431H; 08 September 2010M. Wuku Klawu, Ingkêl Manuk. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa
    dalam dongeng:
    SUNAN KUDUS

    Lahir dengan nama Jaffar Shodiq atau Raden Ja’far Sodiq. Beliau lahir pada sekitar abad ke-15 (pertengahan abad ke-9 hijriah), putra Raden Usman Haji, yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan. Tempat itu diperkirakan terletak di sekitar Kabupaten Blora, Jawa Tengah.

    Jaffar Shodiq adalah keturunan ke-24 dari Rasulullah Muhammad SAW. Jaffar Shodiq bin Usman Haji bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Muhammad Rasulullah SAW.

    Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak Bintårå, yaitu sebagai Panglima Tentara (Senopati) Kesultanan, Penasehat Sultan, Mursyid Thariqah dan Hakim Peradilan Negara.

    Beliau banyak berda’wah di kalangan kaum penguasa dan parta priyayi bangsawan Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawåtå atau Raden Mukmin (adalah Sultan ke-1V Kesultanan Demak Bintårå, yang memerintah tahun 1546-1549), dan Aryå Penangsang adipati Jipang Panolan.

    Beliau terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta mensyi’arkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. terkenal dengan keahliannya dalam Ilmu Tauhid, Usul, Hadits, Sastra Mantiq dan lebih-lebih di dalam Ilmu Fiqih. Oleh sebab itu beliau digelari dengan sebutan sebagai Waliyyul ‘Ilmi. Menurut riwayat beliau juga termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. di antara buah ciptaannya yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil.

    Dahulu, Raden Ja’far Sodiq pergi naik haji sambil menuntut ilmu di negeri Arab. Setelah melaksanakan ibadah haji, beliau berzirah ke makam Rasulullah Muhammad SAW, selanjutnya melanjutkan perjalanan ke kota Al Quds atau Baitul Muqaddas (Yerusalem) di Palestina. Saat itu di Kota Al Quds tengah dilanda penyakit. Dan dengan ridha Allah, Raden Ja’far Sodiq berhasil membantu menyembuhkannya. Karena jasanya tersebut, Ja’far Sodiq akan diberikan hadiah, tetapi beliau hanya meminta sebuah batu dari Al Quds sebagai kenang-kenangan.

    Demikianlah, Ja’far Sodiq kemudian kembali ke Tanah Jawa dan tempatnya mengajarkan ilmu agama di kota yang kemudian diberi nama oleh beliau Al Quds, nama Al Quds berasal dari Baitul Muqaddas atau Al Quds, kota tempat batu yang beliau bawa. Karena orang Jawa tidak dapat menyebutkan dengan benar kata Al Quds, berangsur-angsur nama itu berubah menjadi Kudus, dan Raden Ja’far Sodiq kemudian lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus. “Kudus. satu-satunya kota di tanah Jawa yang namanya berasal dari bahasa Arab,” demikian Prof. Dr. R.Ng. Poerbatjaraka (1884-1964), ahli bahasa dan kebudayaan Jawa.

    Legenda yang menyertai perjalanan hidup Sunan Kudus di antaranya adalah Ki Ageng Kedu, seorang pendekar yang merasa iri atas kebesaran nama Sunan Kudus. Pendekar itu berasal dari Kedu sehingga orang menyebutnya Ki Ageng Kedu, yang menantang berkelahi dengan Sunan Kudus, dikisahkan dalam pertempuran itu, Ki Ageng Kedu kalah dan mengakui kesaktian Sunan Kudus.

    Legenda yang lain adalah pembangunan masjid yang pertama kali di Kudus. Jauh sebelum masjid kuno Kudus didirikan beliau, konon masjid yang terletak di suatu dusun yang kelak bernama desa Nganguk. Dalam hikayat diceritakan, bahwa jauh sebelum Sunan Kudus memegang tampuk pimpinan di Kudus, maka ada seorang tokoh terkemuka bernama Kyai Telingsing.

    [Cerita rakyat mengisahkan: Kyai Telingsing adalah penjawaan dari The Ling Sing, sahabat Raden Usman Haji ayah Raden Jaffar Shodiq, beliau seorang penda’wah etnis Cina perantauan, ahli seni pahat ukir, sebuah seni ukir kayu dengan gaya Sung Ging sebagai sebuah maha karya ukiran kayu yang terkenal akan kehalusan dan keindahannya. Nama The Ling Sing alias Kyai Telingsing, sampai sekarang diabadikan sebagai nama sebuah jalan di kota Kudus. Di seputar jalan tersebut juga terdapat sebuah kampung atau desa yang bernama Sunggingan yang diperkirakan berasal dari kata Sun Ging. Daerah tersebut dahulunya diperkirakan merupakan tempat tinggal para pengukir dan pemahat hasil didikan dari Kyai Telingsing.

    Kyai Telingsing selain berda’wah, juga menurunkan ilmunya kepada masyarakat Kudus dan sekitarnya hingga Jepara, sehingga melahirkan ahli-ahli ukir kayu. Keahlian tersebut telah banyak menghasilkan karya-karya ukir yang mendunia, di antaranya adalah rumah adat Kudus. Itulah hingga sekarang di wilayah Kudus, terutama di Jepara banyak dijumpai pengukir kayu, yang dikenal sebagai juru sungging.]

    Akan halnya Kyai Telingsing yang telah lama berda’wah dan telah lanjut usia dan ingin segera mencari penggantinya. Pada suatu hari Kyai Telingsing berdiri sambil menengok ke kanan dan ke kiri seperti ada yang dicarinya (Jawa : ingak-inguk), tiba-tiba Ja’far Shoddiq muncul dari arah selatan, segera masjidpun dibina di dalam waktu yang amat singkat, Legenda lain menceritakan bahwa masjid itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya (Jawa: masjid tiban). Berhubung dengan hal tersebut maka desa tempat masjid tersebut berdiri kemudian dinamakan desa Nganguk, sedangkan masjidnya dinamakan Masjid Nganguk Wali.

    Akhirnya kedua tokoh tersebut bekerja sama dalam mengembangkan da’wah di Kudus. Dan dengan taktik dan siasat dari Kyai Telingsing dan Ja’far Shodiq akhirnya berhasillah cita-cita keduanya untuk menyebarkan Islam di Kudus.

    Sebagai Senopati Kesultanan Demak Bintårå, Sunan Kudus pernah diberi tugas oleh Sultan Patah (Sultan Pertama Kesultanan Demak Bintårå untuk mengatasi seorang murid Syeh Siti Jenar yang tidak mau tunduk kepada panggilan Raden Patah. Murid Syeh Siti Jenar itu bernama Ki Agêng Pêngging, atau Ki Kêbo Kênångå. Dia adalah cucu Pangeran Handayaningrat, salah satu bangsawan Majapahit. [Dalam Rontal Någå Såsrå Sabuk Intên-nya Ki Dalang SH Mintardjå, Ki Kêbo Kênångå adalah saudara kandung Ki Kêbo Kanigårå, saudara seperguruan Mahesa Jenar.]

    Semula Patih Kesultanan Demak Wånåsalam pernah mengingatkan akan sikap Ki Agêng Pêngging yang tidak mau menghadap ke Demak. Sikap itu dapat dianggap sebagai pembangkangan atau memberontak. Namun atas saran Patih Wånåsalam Ki Agêng Pêngging masih diberi waktu tiga tahun untuk merenungkan sikapnya yang salah itu.

    Setelah waktu tiga tahun ternyata Ki Agêng Pêngging masih belum mau menghadap ke Demak juga. Maka Raden Patah kemudian mengutus Sunan Kudus untuk datang ke Pengging atau Pajang. Persoalan Ki Agêng Pêngging ini cukup rumit. Dia sehari-hari hanya dikenal sebagai seorang petani biasa, seorang petani yang juga guru penganut keyakinan berfahamkan Manunggaling Kawulå Gusti.

    Sunan Kudus berkunjung ke tempat kediaman Ki Kêbo Kênångå, menyampaikan pesan Sultan Demak. Maksud yang sebenarnya adalah Ki Agêng Pêngging diminta menyatakan ketegasan sikapnya bahwa dia berada di dalam wilayah kekuasaan Demak atau menyatakan keluar dari Demak atau lepas dari kekuasaan Demak.Terjadilah perdebatan yang sengit antara keduanya, Dalam perdebatan itu tak ada yang mau mengalah. Akhirnya Ki Agêng Pêngging harus menerima keputusan hukuman dari Sultan Demak dan juga keputusan para wali.

    Cara berda’wah Sunan Kudus sangatlah simpatik. Ketika sebagian besar masyarakat masih memeluk agama Hindu atau Buddha, Sunan Kudus pun mencoba menghormati kedua agama itu. Beliau mengetahui dengan pasti bahwa penduduk saat itu amat taat menjalankan ajaran kedua agama itu.

    Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijågå. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah Selatan, Kedu, kemudian Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berda’wahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijågå: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari penda’wah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh– menunjuknya. Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha.

    Pada waktu itu Sunan Kalijågå mengusulkan agar adat istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat Sunan Kalijågå tersebut bertanyalah Sunan Ampél: “Apakah tidak mengkuatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara yang ada sekarang ini, nantinya dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?.”

    Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampél, “Saya setuju dengan pendapat Kanjêng Sunan Kalijågå, bahwa adat istiadat yang berlaku yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid maka kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan kita tinggalkan sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran Kanjêng Sunan Ampél, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.”

    Pendapat Sunan Kalijågå dan Sunan Kudus ini mempunyai maksud agar agama Islam cepat diterima oleh orang Jawa, dan ini terbukti, dikarenakan dua Wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat diterima Islam maka penduduk Jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama Islam. Pada prinsipnya mereka mau menerima Islam lebih dahulu dan sedikit demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka. Adat istiadat yang berlaku yang masih ada diarahkan kepada agama Tauhid. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan ditinggalkan.

    Salah satu cara dalam melakukan da’wah penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi sebagai sarana penarik masyarakat untuk datang untuk mendengarkan da’wahnya. Di Kudus pada waktu penduduknya masih banyak yang beragama Hindu dan Budha. Untuk mengajak mereka masuk Islam tentu bukannya pekerjaan mudah. Juga mereka yang masih memeluk kepercayaan lama dan memegang teguh adat-istiadat lama, jumlahnya tidak sedikit. Didalam masyarakat seperti itulah Jakfar Sodiq harus berjuang menegakkan ajaran agami énggal Islam.

    Pada suatu hari Sunan Kusus membeli seekor sapi (dalam riwayat lain disebut Kebo Gumarang). Sapi tersebut berasal dari Hindia, dibawa para pedagang asing dengan kapal besar. Sapi itu ditambatkan di halaman rumah Sunan Kudus. Rakyat Kudus yang kebanyakan beragama Hindu itu tergerak hatinya, ingin tahu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus terhadap sapi itu. Sapi dalam pandangan agama Hindu adalah hewan, makhluk yang suci yang menjadi kendaraan Dewa. Menyembelih sapi adalah perbuatan dosa yang dikutuk para Dewa. Lalu apa yang akan dilakukan Sunan Kudus?

    Apakah Sunan Kudus hendak menyembelih sapi di hadapan rakyat yang kebanyakan justru memujanya dan menganggap hewan yang dihormati. Itu berarti Sunan Kudus akan melukai hati rakyatnya sendiri. Dalam tempo singkat halaman rumah Sunan Kudus dibanjiri rakyat, baik yang beragama Islam maupun Budha dan Hindu. Setelah jumlah penduduk yang datang bertambah banyak, Sunan Kudus keluar dari dalam rumahnya.
    Sêdulur-sêdulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai,” Sunan Kudus membuka suara. “Saya menyenangi bahkan menyayangi hewan lembu ini, sebab di waktu saya masih kecil dulu hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya. Untuk itu pårå kadang semua, saya melarang saudara-saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi ini.” Mendengar cerita tersebut para pemeluk agama Hindu terkagum-kagum. Mereka menyangka Raden Jakfar Sodiq itu adalah titisan Dewa Wisnu, maka mereka bersedia mendengarkan ceramahnya.

    Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah. “Ajaran agami énggal Islam ini termaktub dalam Kitab Suci yang disebut Al Qur’an, di antara sekian banyak surat dalam Kitab Suci Al Qur’an ada satu surat yang dinamakan dalam bahasa Arabnya Al Baqarah, yang artinya Sapi Betina” kata Sunan Kudus.

    Masyarakat makin tertarik. Sapi yang oleh mereka dihormati sebagai hewan yang suci, ternyata ada dan disebutkan dalam Kitab Suci agami énggal Islamyaitu Al Qur’an, mereka jadi ingin tahu lebih banyak dan untuk itulah mereka harus sering-sering datang mendengarkan da’wah Sunan Kudus. Demikianlah, sesudah simpati itu berhasil didapatkan akan lapanglah jalan untuk mengajak masyarakat berduyun-duyun masuk agama Islam.

    Sunan Kudus dalam permintaannya kepada masyarakat adalah mereka dilarang memotong hewan qurban berupa sapi ketika Idul Adha, dan mengganti hewan qurban sapi dengan hewan qurban kerbau. Pesan untuk memotong qurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus dan sampai sekarang pun, sebagian masyarakat tradisional Kudus masih menolak menyembelih dan memperdagangkan daging sapi. Menurut penduduk, larangan menyembelih dan memperdagangkan daging sapi ini merupakan wasiat Sunan Kudus, untuk menjaga hati para penganut agama Hindu, bahkan setelah mereka memeluk agama Islam. Justru dengan cara itu, Ja’far Shodiq berhasil mengislamkan Kudus.

    Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus lainnya adalah bentuk masjid yang dibangun oleh beliau tak jauh bedanya dengan candi-candi agama Hindu. Hal itu terlihat dari arsitektur bentuk menara dan gerbang masjid.

    Menara masjid yang merupakan gabungan kebudayaan Islam dan Hindu. Menara Kudus yang antik itu, yang hingga sekarang dikagumi orang di seluruh dunia karena keunikannya. Arsitektur Hindu pada Masjid Menara Kudus, yang dibangun oleh beliau merupakan bukti nyata toleransi beliau terhadap agama atau keyakinan umat agama lain.

    Sebenarnya masjid itu bernama Masjid Raya Al Manar atau Masjid Al Aqsa, kini masuk wilayah Kauman, Kecamatan Kota, sekitar 1,5 km ke arah barat pusat kota di Simpangtujuh. Karena di halaman depan masjid terdapat menara, tempat peribadatan ini lebih dikenal dengan sebutan Masjid Menara Kudus.

    Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur menara setinggi 17 meter itu mirip dengan candi-candi pada zaman Majapahit dan Singosari. Bangunan ini memiliki arti historis yang tinggi, karena menjadi simbol Islam yang toleran. Maksudnya, seperti Sunan Kalijågå, Sunan Kudus menyebarluaskan Islam di Kudus dan sekitarnya dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu yang dianut masyarakat setempat waktu itu.

    Secara fisik, menara ini merupakan bangunan tinggi dan ramping, yang terbuat dari batu bata merah, yang dipasang bertumpuk tanpa semen perekat. Bangunan ini memang tak dapat dipisahkan dari Masjid Menara Kudus maupun makam Sunan Kudus.

    Secara geografis dan fungsional, ketiganya menjadi suatu kesatuan dengan sejarah kelahiran Kota Kudus. Kapan persisnya bangunan monumental itu didirikan, sampai kini masih menjadi polemik. Namun pada tiang atap menara terdapat sebuah candrasengkala yang berbunyi: ”Gapurå rusak éwahing jagad’”. Candrasengkala ini menunjukkan tahun Jawa 1609 (gapura 9, rusak 0, ewah 6, dan jagat 1), atau tahun 1685M.

    Tapi diperkirakan bangunan itu mulai didirikan pada pertengahan abad 16. Tulisan pada tiang atap menara tadi ditengarai sekedar mengingatkan bahwa bangunan tersebut mulai rusak, sehingga perlu diperbaiki dan diperingati melalui inskripsi tersebut. Ada yang menyebut bangunan ini dibangun pada tahun 956H (1549M).

    Menara ini kembali mengalami pemugaran pada tahun 1933M, dengan memperluas serambi depan dengan kubah ragam India. Hal ini karena makin banyak orang berziarah ke sana. Ada beberapa makam di dalam kompleks itu, antara lain makam Sunan Kudus, beserta para pangeran dan pengikutnya.

    Pengamatan ilmu arekologi, Masjid Kudus paling sulit dilacak bentuk aslinya. Padahal, ia didirikan paling akhir, pada 956 Hijriah, atau 1549 Masehi. Nama asli masjid ini pun hampir tak dikenal orang, yaitu Majid Al Aqsha. Kini ia lebih populer sebagai Masjid “Menara” Kudus, merujuk pada bangunan bercorak Hindu di sisi kanan depan masjid. “Boleh jadi, menara tertua di Jawa adalah yang disebut Menara Kudus,” tulis Dr. G.F. Pijper dalam The Minaret in Java (India Antiqua, Leiden, 1947). Kalau Pijper benar, menara itu sudah berdiri sebelum Masjid Al Aqsha dibangun. Pijper cenderung sekali menyifatkan struktur Hindu Jawa pada menara ini, hal yang sudah dibicarakan J.F.G. Brumund pada 1868, dan N.J. Krom pada 1923.

    Di samping menara, bagian unik Masjid Kudus adalah sepasang gerbang purba yang justru terdapat di ruang dalam masjid. Konon, itulah sisa gerbang Masjid Kudus yang asli, disebut “Lawang Kembar”. Berbeda dengan Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijågå, yang dimakamkan jauh dari kompleks masjid, Sunan Kudus, pencipta gending Maskumambang dan Mijil itu, dimakamkan masih dalam lingkungan kompleks, dan terbuka untuk para peziarah pada hari dan jam tertentu.

    Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, Kudus Kulon, yang kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus dan masih bertahan hingga sekarang. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus.

    Sesudah berhasil menarik ummat Hindu ke dalam agama Islam hanya karena sikap toleransinya yang tinggi, yaitu menghormati sapi, binatang yang dikeramatkan umat Hindu, Bangunan menara masjid yang mirip candi Hindu. Kini Sunan Kudus bermaksud menyaring ummat Budha.

    Di sekitar masjid dibangun pancuran/padasan wudhu, sebanyak delapan pancuran dan menempatkan arca di atasnya. Delapan pancuran adalah “adaptasi” keyakinan Budha Astå sanghikå margå, atau dalam bahasa Sansekerta: Ãrya ‘ṣṭāṅga mārgaḥ yaitu “Delapan Jalan Kebenaran” merupakan ajaran utama agama Buddha yang menjelaskan “Jalan” menuju lenyapnya penderitaan atau dukkha untuk mencapai pencerahan. “Delapan Jalan Kebenaran itu adalah:

    1. Pengertian Benar (sammä-ditthi);
    2. Pikiran Benar (sammä-sankappa);
    3. Ucapan Benar (sammä-väcä);
    4. Perbuatan Benar (sammä-kammanta);
    5. Pencaharian Benar (sammä-ajiva);
    6. Daya-upaya Benar (sammä-väyäma);
    7. Perhatian Benar (sammä-sati);
    8. Konsentrasi Benar (sammä-samädhi).

    Peninggalan lain Sunan Kudus adalah suatu kebiasaan unik dalam berda’wah ketika menunggu datangnya bulan Ramadhan adalah acara dandangan,
    Tradisi ini dilakukan setiap menjelang bulan Ramadhan, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di masjid menunggu pengumuman dari Sang Sunan tentang awal mulainya puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tetapi juga dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur.

    Untuk mengundang para jamaah ke masjid, Sunan Kudus menabuh beduk bertalu-talu. Setelah jamaah berkumpul di masjid, Sunan Kudus mengumumkan awal Ramadhan. Sekarang ini, acara dandangan masih berlangsung, tapi sudah jauh dari aslinya. Menjelang Ramadhan, banyak orang datang ke areal masjid. Tetapi, mereka bukan hendak mendengarkan pengumuman awal puasa, hanya untuk membeli berbagai juadah yang dijajakan para pedagang musiman.

    Sunan Kudus diperkirakan wafat di Kudus pada tahun 1550M dan dimakamkan di kompleks Masjid Menara Kudus. Saat memasuki kompleks makam, kita seperti berada di dalam masjid. Lantunan ayat-ayat suci Al Qur’an dan tahlil selalu berkumandang dari para peziarah, terutama di sekeliling makam Sunan Kudus yang terbungkus tirai putih.

    Memasuki makam yang satu ini, peziarah akan melihat sebuah bangunan megah mirip candi yang tersusun dari bata merah. Bangunan bergaya Hindu itu bukanlah candi, melainkan masjid. Bagian atasnya seperti terpenggal lalu diberi atap bersusun dengan kubah masjid bergaya India.

    Di sekitarnya ada peninggalan lain yang merupakan ciri khas kerajaan besar di Jawa pada masa lalu, yakni dua gapura kembar. Gerbang masuk tanpa pintu ini terletak di ujung timur bagian luar kompleks masjid. Ada juga pagar tembok yang mengelilingi kompleks dan sebuah gapura lagi untuk memasuki makam.

    Sunan Kudus atau Sunan Dja’far Shodiq dimakamkan di belakang menara itu. Di pintu makam tertulis “asma ul-husna” atau 99 sebutan yang baik bagi Allah SWT. Tertulis pula tahun Jawa “1895″ atau 1878 M. Bentuk nisan Sunan serta hiasannya sama seperti bentuk pada makam para wali di Demak.
    Sekelilingnya dipagari tembok berukir, dan bagian atapnya ditutup mustaka.

    Letak kompleks makam ini sekitar 1,5 kilometer dari pusat Kota Kudus. Hingga kini warga Kudus masih menghargai nilai-nilai yang ditanamkan sang panutan. Untuk berziarah ke makam itu, orang harus dalam keadaan suci. Mereka wajib berwudu di pancuran yang telah disediakan. Wanita yang sedang menstruasi dilarang masuk ke makam. Makam seluas sekitar 1.000 meter persegi itu sekelilingnya ditutup kain putih.

    Di luar hari biasa, Makam Sunan Kudus memiliki hari khusus. Setiap 10 Muharam ada prosesi pergantian luwur (kain penutup makam). Hari baik itu tidak disia-siakan. Ribuan peziarah yang berdatangan akan disuguhi masakan kerbau dan kambing. Dapur umum mengepul dan salawat Nabi berkumandang. Tak ketinggalan, datangnya para pedagang yang mengais rezeki ikut meramaikan prosesi tersebut.

    Tanggal 10 Muharam merupakan hari terbunuhnya Husein bin Ali secara menyedihkan pada 680 (10 Muharam 61 hijriah) di Karbala. Dalam kalender Syiah, puncak ekspresi keagamaan yang bercorak kesedihan dan sekaligus janji pengorbanan itu menjadi terkenal dengan sebutan Asyura (hari kesepuluh).

    Sebagian besar ulama menyebut Sunan Kudus, juga sunan-sunan lainnya, adalah penganut Sunni. Beberapa peringatan yang dilakukan umat Islam, seperti mengganti luwur tersebut, dilakukan setiap Muharam karena merupakan bulan suci yang harus dihormati.

    Ringkasan

    1. Nama:
    • SUNAN KUDUS
    • Jaffar Shodiq;
    • Raden Ja’far Sodiq
    • Waliyyul ‘Ilmi

    2. Putra Raden Usman Haji yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ngudung.

    3. Lahir di (tidak diketahui) abad ke-15; Wafat di Kudus 1550M, dimakamkan di kompleks masjid Menara Kudus.

    4. Istri:
    a. Dewi Rukhi (putri Sunan Bonang)
    b. Putri dari Majapahit (?)

    5. Putra & putri:
    Dari Dewi Rukhi: Amir Hamzah
    Dari Putri Majapahit:
    a. Nyai Ageng Pembayun
    b. Panembahan Palembang
    c. Panembahn Makaos Honggokusumo
    d. Panembahan Kadir
    e. Panembahan karimun
    f. PanembanhanJoko
    g. Ratu Prajoko
    h. Ratu Probodinatar
    [Tentang susunan keluarga istri dan putra putri Sunan Kudus, terdapat beberapa versi, yang agak sulit dilacak kebenaran data sejarahnya]

    6. Daerah Da’wah dan Tahun: Kudus, Demak, Pati, Jepara, Rembang, Kendal, Semarang, Tuban, Jawa Tengah bagian Selatan seperti Kedu, Sragen, Simo hingga Gunung Kidul.

    7. Keahlian: Ilmu Tauhid, Usul, Hadits, Sastra Mantiq dan lebih-lebih di dalam Ilmu Fiqih. Pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. di antara buah ciptaannya yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil.

    8. Ajaran: Tauhid.

    9. Jabatan Politik: Panglima Tentara (Senopati Kesultanan, Penasehat Sultan, Mursyid Thariqah dan Hakim Peradilan Negara Kesultanan Demak Bintårå.

    10.Cara berda’wah: Mengadopsi ajaran atau keyakinan agama lain, yang diberi sentuhan Islam. Sangat toleran pada budaya setempat. Mengawinkan adat istiadat lama yang dapat diterima Islam. Adat istiadat yang berlaku yang masih ada diarahkan kepada agama Tauhid. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah kemusyrikan ditinggalkan.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

  4. Nuwun,

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Sunan Kudus [On 8 September 2010 at 12:57 bayuaji said:][Pendopo: Penyebaran Islam].

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Kêmis (Wrahaspati) Kêliwon; 30 Påså 1943-Dal. 30 Ramadhan 1431H; 09 September 2010M. Wuku Klawu, Ingkêl Manuk. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa
    dalam dongeng:

    SUNAN MURIA

    Nama aslinya adalah Raden Umar Said. Lahir di Tuban (?) abad ke-15, dan wafat di Muria tahun (?). Beliau adalah putra Sunan Kalijågå. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.

    [Penyebutan yang benar adalah Muria tetapi sering disebutkan secara salah sebagai Moria. Muria, bukan Moria, dan Muria tidak sama dengan Moria].

    Sunan Muria adalah pendukung kerajaan Demak dan ikut pula mendirikan Masjid Demak. Sunan Muria seringkali sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Beliau dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu.

    Tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam berda’wah. Gayanya ”moderat”, mengikuti Sunan Kalijågå, menyelusup lewat berbagai tradisi kebudayaan Jawa. Misalnya kegiatan upacara sêlamêtan sebagai bagian dari kehidupan dan adat-istiadat masyarakat Jawa tidak dihilangkan begitu saja dan tidak diharamkan. Seperti yang dilakukan oleh ayahnya pada tradisi sêlamêtan bagi orang yang meninggal yaitu adat kênduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, yang dimulai sejak “dinå gêblagé”, nggêsur lêmah, nêlung dinå, mitung dinå, matang puluh, nyatus dinå, mêndhak pisan, mêndhak pindo, nyèwu dinå. Kemudian oleh Sunan Muria ditambah sêlamêtan haul agêng dan seterusnya.

    Oleh Sunan Muria, hal itu tetap dipertahankan dengan sentuhan Islam yang kita kenal sekarang dengan sebutan tahlilan, sebagai niat bersedekah buat almarhum (almarhumah), dengan cara membaca kalimah toyibah, ayat-ayat suci Al Qur’an, Salawat Nabi, sebagai pengganti mantra yang biasa diucapkan oleh pemimpin adat. Demikian juga halnya upacara pengantin baru dan kelahiran. Hanya, tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau salawat.

    Sunan Muria juga berda’wah lewat berbagai kesenian Jawa, misalnya mencipta måcåpat, Tembang Sinom dan Kinanti dipercayai sebagai karya Sunan Muria, yang sampai sekarang masih lestari.

    Sebagaimana ayahandanya Sunan Kalijågå, Sunan Muria menyukai dan mempertahankan salah satu kesenian Jawa yaitu gamelan, tembang dan wayang kulit. yang dapat dipergunakan sebagai media da’wah paling ampuh pada masa itu. Beliau memanfaatkan kesenangan masyarakat Jawa terhadap kesenian gending atau gamelan, wayang kulit, dan tembang itu untuk menyebarkan agama Islam. Banyak lakon wayang kulit carangan atau karangan beliau di luar pakem wayang Mahabharata atau Ramayana, di antaranya cerita-cerita carangan yang diyakini diciptakan oleh Sunan Muria adalah Kresna Gugah.

    Gaya berda’wahnya pun banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijågå. Lewat gamelan, tembang dan wayang kulit itulah beliau mengajak umatnya mengamalkan ajaran Islam. Sunan Muria melakukan kegiatan da’wahnya dengan menggunakan cara-cara pendekatan adat-istiadat masyarakat Jawa. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih lebih suka tinggal di dusun yang sangat terpencil dan jauh dari keramaian dan pusat kota. Berda’wah dan bergaul dengan rakyat jelata lebih beliau senangi daripada dengan kaum bangsawan. Dalam kegiatan da’wahnya itu beliau mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang, dan karena suka melaut, maka daerah para nelayan di pesisir utara termasuk wilayah da’wahnya, menjadikan daerah da’wah beliau cukup luas dan tersebar. mulai dari lereng-lereng Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Jepara, Pati, Tayu, Juana, sampai pesisir utara.

    Cara da’wah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berda’wah tåpå ngèli. Yakni dengan ”menghanyutkan diri”, membaur, menyatu dan menjadi bagian dari masyarakat umum.

    Fakta sejarah atas Sunan Muria nyaris tidak ada, tetapi legenda yang terhubungkan kepadanya adalah suatu fakta pula — berupa “fiksi” yang menjadi tugas sejarawan untuk menafsirkannya. Dalam menyebarkan Islam Sunan Muria masih terhubungkan dengan nama-nama berbau Hindu seperti Wiku Lodhang Datuk atau Kebo Anabrang, dan semua itu bukan tanpa makna dalam keberlangsungan budaya.

    Salah satu legenda tentang Sunan Muria adalah Ki Ageng Ngerang, beliau ini adalah seorang ulama yang sangat dihormati. Beliau adalah salah seorang guru. Sunan Muria dan Sunan Kudus juga terhitung sebagai murid Ki Ageng Ngerang. Beliau mempunyai seorang anak perempuan, bernama Dewi Roroyono, yang kelak dipersunting Sunan Muria, setelah melalui liku-liku panjang yang melibatkan tokoh-tokoh “hitam” Adipati Pethak Warak, Kapa dan Gentiri, dan tokoh golongan “putih” Wiku Lodhang. Kisah ini seperti halnya para wali lainnya lebih banyak berfsifat mitos daripada fakta sejarah.

    Berdasarkan penelitian konstruksi makna dari sejumlah legenda pada Sunan Muria dapat disimpulkan, bahwa Sunan Muria adalah orang yang berani, sakti, berwibawa, pandai memecahkan masalah, dan banyak berjasa.

    Sejarawan De Graaf dan Pigeaud berdasarkan sumber-sumber literer menyatakan dalam Kerajaan-kerajaan Islam Pertama di Jawa (1974) bahwa semula Demak merupakan sebuah distrik yang “terletak di pantai selat yang memisahkan Pegunungan Muria dari Jawa. Sebelumnya selat itu rupanya agak lebar dan dapat dilayari dengan baik, sehingga kapal-kapal dagang dari Semarang dapat mengambil jalan pintas untuk berlayar ke Rembang. Tetapi sudah sejak abad XVII jalan pintas itu tidak lagi dapat dilayari setiap saat”.

    Hanya saja, “Selama musim hujan orang dapat berlayar dengan sampan lewat tanah yang tergenang air, mulai dari Jepara sampai Pati di tepi Sungai Juwana. Pada tahun 1657, Tumenggung Pati mengumumkan bahwa ia bermaksud menggali saluran air baru dari Demak ke Juwana, hingga dapat menjadi pusat perdagangan. Boleh jadi ia bermaksud memulihkan jalan air lama, yang satu abad lalu masih dapat dipakai”.

    Dalam bukunya yang lain, Disintegrasi Mataram di bawah Mangkurat I (1961), De Graaf masih mencatat, “… residen ini dengan sebuah kapal kecil melewati daratan yang tergenang air di sebelah selatan Muria”. Dengan begitu, jika memang Sunan Muria hidup di abad XV, berarti ia menyeberangi selat itu lebih dahulu, sebelum mendaki sampai ke puncak Colo untuk mendirikan padepokannya.

    Pada masa kini, peziarah bisa mencapai Colo dengan mobil, dan dari sana memanfaatkan jasa ojek sepeda motor karena jalan menjadi curam. Namun bisa disaksikan betapa masih banyak para peziarah ini menghayati perjalanan menuju puncak dengan jalan kaki — salah satu metode yang membuat banyak tempat suci sengaja ditempatkan di gunung, karena kelelahan pendakian serta udara tipis konon membantu kondisi mental untuk mendapatkan pengalaman spiritual.

    Ringkasan

    1. Nama:
    •SUNAN MURIA
    •Raden Umar Said
    •Raden Prawoto

    2. Putra dari Sunan Kalijågå

    3. Lahir Tuban (?) pada abad ke-15 dan wafat tahun: ?

    4.Istri: Dewi Roroyono dan Dewi Sujinah

    5. Putra & putri: Pangeran Santri kelak sebagai Sunan Ngadilangu

    [Hampir dapat dipastikan susunan keluarga beliau sulit dilacak, karena minimnya data sejarah].

    6. Daerah Da’wah dan Tahun: dari lereng-lereng Gunung Muria, pelosok Pati, Kudus, Jepara, Pati, Tayu, Juana, sampai pesisir utara. Tahun (?)

    7.Keahlian: Seniman, pencipta gending Sinom dan Kinanti.

    8. Ajaran: mengikuti ajaran ayahandanya Sunan Kalijågå, “tåpå ngèli”.

    9.Cara berda’wahnya dengan mempertahankan gamelan sebagai salah satu kesenian Jawa. Lewat tembang-tembang mengajak umatnya mengamalkan ajaran Islam. Melakuklan kegiatan da’wanya dengan menggunakan cara-cara pendekatan adat-istiadat masyarakat Jawa. Gaya berda’wahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijågå. Namun berbeda dengan sang ayah. Sunan Muria lebih lebih suka tinggal di dusun yang sangat terpencil dan jauh dari keramaian dan pusat kota. Berda’wah dan bergaul dengan rakyat jelata lebih beliau senangi daripada dengan kaum bangsawan. Dalam kegiatan da’wahnya itu beliau mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang, dan karena suka melaut, maka daerah para nelayan di pesisir utara termasuk wilayah da’wahnya.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

  5. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Sunan Muria [On 9 September 2010 at 04:16 bayuaji said::][Pendopo: Penyebaran Islam].

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Kêmis (Wrahaspati) Kêliwon; 30 Påså 1943-Dal. 30 Ramadhan 1431H; 09 September 2010M. Wuku Klawu, Ingkêl Manuk. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa [TAMAT]
    dalam dongeng:
    SUNAN GUNUNGJATI

    Nama kecil Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah, disebut juga Muhammad Nurudin, Syekh Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyah, Syekh Madzkurullah, Makdum Jati.

    Sedangkan menurut babad-babad, nama Sunan Gunung Jati adalah Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil, Syarif Hidayatullah, Said Kamil, Maulana Syekh Makdum Rahmatullah, dengan demikian maka Sunan Gunung Jati adalah cucu raja Pajajaran Prabu Siliwangi.

    Siapa Fatahillah? siapa Sunan Gunung Jati?

    Sejak zaman kolonial sampai Orde Baru para sejarahwan, juga ditulis di buku-buku sejarah Indonesia, bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang sama. Sunan Gunung Jati tidak sama dengan Fatahillah. Sunan Gunung Jati adalah seorang Ulama Besar dan Muballigh yang lahir turun-temurun dari para Ulama keturunan cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husein.

    Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Jamaluddin Akbar. Jamaluddin Akbar adalah Musafir besar dari Gujarat India yang memimpin putra-putra dan cucu-cucunya berda’wah ke Asia Tenggara, dengan Campa (diduga terletak di pinggir delta Mekong, Kampuchea sekarang) sebagai markas besar. salah satu putra Syekh Jamaluddin Akbar (lebih dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar adalah Syeh Ibrahim Akbar (ayahanda Sunan Ampel [Sunan Ampel Raden Rahmat Sayyid Ahmad Rahmatillah bin Maulana Malik Ibrahim, Ibrahim Asmoro bin Syekh Jumadil Qubro Jamaluddin Akbar Khan]).

    Bakat keruhaniyan dan kepemimpinan Syekh Maulana Akbar tampak jelas turun ke dalam diri Syarif Hidayatullah. Sehingga bagi kaum Sufi, Syarif Hidayatullah adalah pemimpin spiritual hingga kini untuk wilayah Nusantara, sedangkan bagi sejarahwan Syarif Hidayatullah adalah peletak dasar Kesultanan Cirebon dan Banten.

    Tjarita Purwakan Tjaruban Nagari, Tjaruban Kanda (1844), Babad Tjêrbon (1877), Wawatjan Sunan Gunung Djati, Sadjarah Tjirêbon, dan Babad Tanah Sunda –yang ditulis pertengahan abad ke-20. menulis tentang mitos-mitos dan kesaktian Sunan Gunung Jati, dari cincin Nabi Sulaiman sampai jubah Nabi Muhammad SAW.

    Yang menarik dari kitab-kitab itu adalah mengenai asal usul Syarif Hidayatullah, semuanya sepakat beliau berdarah biru, baik dari garis ayah maupun garis ibu. Ayahnya Sultan Mesir, Syarif Abdullah. Ibunya adalah Nyai Lara Santang.

    Setelah menikah, putri raja Siliwangi dan adik Pangeran Walangsungsang itu memakai nama Syarifah Mudaim. Lara Santang dan Walangsungsang memperdalam agama Islam di Cirebon, berguru pada Syekh Idlofi Mahdi yang asal Baghdad. Syekh Idlofi terkenal juga dengan sebutan Syekh Djatul Kahfi (Syekh Datu Kahfi) atau Syekh Nurul Jati. Setelah khatam, keduanya disuruh ke Mekkah menunaikan ibadah haji.

    Di situlah, seperti dikisahkan dalam Carita Purwakan Caruban Nagari, mereka bertemu dengan Patih Kerajaan Mesir, Jamalullail. Patih ini ditugasi Sultan Mesir, Syarif Abdullah, mencari calon istri yang wajahnya mirip dengan permaisurinya yang baru meninggal. Lara Santang kebetulan mirip, lalu diboyong ke Mesir.

    Walasungsang pulang ke Jawa, kemudian jadi penguasa Nagari Caruban Larang –cikal bakal kerajaan Cirebon. Sejak itu dia lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Cakrabuana. Dari perkawinan Syarif Abdullah-Syarifah Mudaim lahir Syarif Hidayatullah, pada 1448. Dalam usia 20 tahun, Syarif Hidayatullah pergi ke Mekah untuk memperdalam pengetahuan agama.

    Selama empat tahun ia berguru kepada Syekh Tajuddin Al-Kubri dan Syekh Ata’ullahi Sadzili. Kemudian ia ke Baghdad untuk belajar tasauf, lalu kembali ke negerinya. Di Mesir, oleh pamannya, Raja Onkah, Syarif Hidayatullah hendak diserahi kekuasaan. Namun Syarif menolak, dan menyerahkan kekuasaan itu kepada adiknya, Syarif Nurullah.

    Syarif Hidayatullah bersama ibunya pulang ke Cirebon, dan pada l475 tiba di Nagari Caruban Larang yang diperintah pamannya, Pangeran Cakrabuana. Empat tahun kemudian Pangeran Cakrabuana mengalihkan kekuasannnya kepada Syarif Hidayatullah, setelah sebelumnya menikahkan Syarif Hidayatullah dengan putrinya, Ratu Pakungwati.

    Untuk keperluan da’wah, Syarif Hidayatullah pada tahun itu juga menikahi Ratu Kawunganten. Dari pernikahan ini, dia dikarunia dua putra, Ratu Winahon dan Pangeran Sabangkingking. Pangeran Sabangkingking kemudian dikenal sebagai Sultan Hasanudin, dan diangkat jadi Sultan Banten. Ratu Winahon, yang lebih dikenal dengan sebutan Ratu Ayu, dinikahkah dengan Fachrulllah Khan, alias Faletehan.

    Sedangkan Fatahillah yang menantu Sunan Gunung Jati adalah seorang Panglima Pasai, bernama Fadhlulah Khan, orang Portugis melafalkannya sebagai Faletehan. Ketika Pasai dan Malaka direbut Portugis, beliau hijrah ke tanah Jawa untuk memperkuat armada kesultanan-kesultanan Islam di Jawa (Dêmak, Cirebon dan Banten) setelah gugurnya Raden Abdul Qadir bin Yunus (Adipati Unus, menantu Raden Patah Sultan Pertama Dêmak Bintårå).

    Perbedaan dua tokoh besar ini dapat ditunjukkan dengan bukti berupa dua makam yang berbeda. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati dimakamkan di Gunung Sembung, sementara Fatahillah dimakamkan di Gunung Jati.

    Sejarah mencatat bahwa Sunan Gunung Jati bersama Fatahillah selaku Senopati Dêmak Bintårå memerangi dan berhasil mengusir bangsa Portugis di Sunda Kelapa.

    Berita sejarah ini harus dikaji ulang dan dicari kebenarannya, dan harus dibetulkan karena hal-hal berikut ini:

    Labuhan Kalapa dikuasai Kerajaan Sunda Pajajaran dan Orang Betawi sebagai pelaksana yang ngurusin Labuhan Kalapa. Pada saat Fatahillah menyerbu Labuhan Kalapa, ada 3.000 rumah orang Betawi yang dibumi hanguskan oleh pasukan Fatahillah yang jumlahnya ratusan. Penduduk Betawi ini kemudian berlarian ke bukit-bukit.

    Wak Itêm sebagai Xabandar Labuhan Kalapa hanya punya pasukan pengikut sebanyak 20 orang. Dengan gigih melawan pasukan Fatahillah, walau akhirnya semua gugur melawan pasukan Fatahillah. Xabandar Wak Itêm tewas dan ditenggelamkan ke laut, sementara 20 orang pengikutnya semua juga tewas (Babad Tjêrbon).

    Memperhatikan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa tidak pernah ada pertempuran antara Fatahillah dan Portugis, dengan demikian tidak ada peristiwa pengusiran bangsa Portugis di Sunda Kelapa, karena armada Fransisco de Xa tenggelam diperairan Ceylon. Jadi yang menghadapi Pasukan Fatahillah adalah Xabandar Wak Itêm dengan pengawal-pengawalnya yang berjumlah 20 orang. Bahkan menurutnya Fatahillah juga dibantu tentara asal Gujarat yang merupakan anak buahnya di Pasai.

    Di dalam kompilasi sumber-sumber sejarah Jakarta abad V (yang tertua) sampai tahun 1630 yang disusun oleh A.Heuken SJ, ditunjukkan bahwa penggantian nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta yang dilakukan Fatahillah yang dijadikan oleh Soekanto untuk menetapkan ulang tahun kota Jakarta “tidak terbukti oleh data sejarah apapun”.

    Fatahillah menyerbu Wak Itêm dan para pengikutnya di Labuhan Kalapa, bukan karena alasan agama, yang mengangap Wak Itêm dan para pengikutnya adalah para penyembah berhala, tapi bermaksud menguasai pintu dan jalur perdagangan.

    Dengan demikian penetapan 22 Juni 1527 sebagai tanggal lahir Kota Jakarta adalah kekeliruan, karena tidak ada sandaran data atau fakta sejarah dari manapun. Kecuali kompromi politik yang menghasilkan keputusan politik oleh Soediro sebagai Walikota Djakarta Raja (1958-1960). Tahun 1956; Setelah kita menelisik catatan sejarah, ternyata (sebuah hipotesa) tak ada satupun fakta sejarah yang mendukung penentapan 22 Juni sebagai tanggal lahir Kota Jakarta.

    [Catatan: Penggagas penetapan hari kelahiran Jakarta adalah Sudiro, Walikota Djakarta Raja (1958-1960). Pada saat berkuasa itu, Sudiro meminta kepada Mr. M.Yamin, Sudarjo Tjokrosiswono (wartawan) dan Mr. DR. Sukanto (sejarahwan) untuk mengkaji sejarah kelahiran kota Jakarta yang akan ditetapkan sebagai HUT Jakarta dikemudian hari].

    Lihat selanjutnya Dongeng Wak Itêm atawa Tanggal 22 Juni hari ulang tahun Jakarta? di Pendopo Dongeng Arkeologi & Antropologi Seri Kerajaan Nusantara PBM.

    Di kompleks pemakaman Gunung Sembung, sering terlihat penziarah –perorangan atau rombongan– dari kalangan etnis Cina. Sama dengan para saudaranya dari kalangan Islam, umat Buddha dan Konghucu itu bertujuan nyêkar pemakaman yang terletak di Desa Astana, sekitar tiga kilometer di barat kota Cirebon, Jawa Barat.

    Untuk mereka disediakan “kavling” khusus di sisi barat serambi depan kompleks pemakaman. Tentu bukan karena diskriminasi. Penziarah muslim ataupun nonmuslim semuanya bisa berdoa di sini. Pemisahan tempat semata-mata karena ritual yang berbeda. Di sayap barat itu terdapat makam Ong Tien, salah seorang istri Syarif Hidayatullah. Dia adalah putri Kaisar Hong Gie dari Dinasti Ming.

    Banyak versi tentang perjodohan mereka. Yang paling spekatakuler tentulah versi “nujum bertuah” Sunan Gunung Jati.
    Syahdan, dalam persinggahannya di Cina, Syarif Hidayatullah menyebarkan Islam sambil berpraktek sebagai tabib. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudu dan diajak salat. Manjur, si sakit sembuh.

    Dalam waktu singkat, nama Syarif Hidayatullah semerbak di kota raja. Kaisar pun kemudian tertarik menjajal kesaktian ”sinse” dari Tanah Pasundan itu.
    Syarif Hidayatullah dipanggil ke istana. Sementara itu, Kaisar menyuruh putrinya yang masih gadis, Lie Ong Tien, mengganjal perutnya dengan bantal sehingga tampak seperti hamil, kemudian duduk berdampingan dengan saudara kandungnya yang memang sedang hamil tiga bulan. Syarif Hidayatullah disuruh menebak mana yang benar-benar hamil.

    Syarif Hidayatullah menunjuk Ong Tien. Kaisar dan para “abdi dalem” ketawa terkekeh-kekeh. Tapi, sejurus kemudian, istana geger. Ong Tien ternyata benar-benar hamil, sedangkan kandungan saudaranya justru lenyap. Kaisar meminta maaf kepada Syarif Hidayatullah, dan memohon agar Ong Tien dinikahi.

    Sejarahwan Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat menyangsikan cerita ini. Dalam disertasinya di Universitas Leiden, Belanda, 1913, yang berjudul Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten, Hoesein terang-terangan menyebutkan bahwa lawatan Syarif Hidayatullah ke negeri Cina hanya legenda.

    Tentu tak semua sepakat dengan Hoesein. Meski tak menyebut-nyebut soal “nujum” itu, dalam buku Sejarah Cirebon, 1990, Pangeran Soelaeman Sulendraningrat menyebutkan Syarif Hidayatullah memang pergi ke Cina. Ia sempat menetap di salah satu tempat di Yunan. Ia juga pernah diundang Kaisar Hong Gie.

    Sekretaris kerajaan pada masa itu, Ma Huan dan Feishin, sudah memeluk Islam. Dalam pertemuan itulah Syarif Hidayatullah dan Ong Tien saling tertarik. Kaisar tak setuju. Syarif Hidayatullah lalu dipersonanongratakan. Tapi, kecintaan Ong Tien kepada Syarif Hidayatullah sudah sangat mendalam.

    Dia mendesak terus ayahnya agar diizinkan menyusul kekasihnya ke Cirebon. Setelah mendapat izin, Ong Tien bertolak ke Cirebon dengan menggunakan kapal layar kerajaan Cina. Dia dikawal Panglima Lie Guan Cang, dengan nakhoda Lie Guan Hien. Putri membawa barang-barang berharga dari Istana Kerajaan Cina, terutama berbagai barang keramik.

    Barang-barang kuno ini kini masih terlihat di sekitar Keraton Kasepuhan atau Kanoman, bahkan di kompleks pemakaman Gunung Sembung. Dari Ong Tien, Syarif Hidayatullah tak beroleh anak. Putri Cina itu meninggal duniasetelah empat tahun berumah tangga.

    Besar kemungkinan, sumber yang dirujuk P.S. Sulendraningrat adalah Carita Purwaka Caruban Nagari.
    Naskah yang ditemukan pada l972 ini ditulis oleh Pangeran Arya Cirebon pada 1720. Banyak sejarahwan menilai, kisah Syarif Hidayatullah yang ditulis dalam kitab tersebut lebih rasional dibandingkan dengan legenda yang berkembang di masyarakat.
    Belakangan diketahui, Pangeran Arya mendasarkan penulisannya pada Pustaka Negara Kertabumi.

    Naskah yang termaktub dalam kumpulan Pustaka Wangsa Kerta itu ditulis pada 1677-1698. Naskah ini dianggap paling dekat dengan masa hidup Syarif Hidayatullah, alias Sunan Gunung Jati. [Beberapa sejarahwan meragukan keabsahan Naskah Pustaka Wangsa Kerta,].

    Meskipun Sunan Gunung Jati telah berhasil mengislamkan beberapa daerah di Jawa Barat, namun demikian, kekuasaan tertinggi masih berada di tangan Dêmak Bintårå, hanya sesudah Sultan Trenggånå wafat. Konon kabarnya yang memberikan gelar Sultan kepada Sultan Trenggånå adalah Sunan Gunung Jati. Syarif Hidayatullah menyatakan memisahkan diri dari ikatan Dêmak Bintårå, yaitu tatkala Dêmak Bintårå terjadi perselisihan antara Sultan Adiwijaya dan Arya Penangsang.

    Masa pendirian Kesultanan Dêmak Bintårå tahun 1487. Syarif Hidayatullah memberikan andil karena sebagai anggota dari Dewan Muballigh yatitu Wali Sångå. Pada masa ini beliau berusia sekitar 37 tahun kurang lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Pertama Dêmak Bintårå. Bila Syarif Hidayat keturunan Syekh Maulana Akbar Gujarat dari pihak ayah, maka Raden Patah adalah keturunan beliau juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa.

    Dengan diangkatnya Raden Patah sebagai Sultan di Pulau Jawa bukan hanya di Dêmak, maka Cirebon menjadi semacam Negara Bagian dari kesultanan Dêmak Bintårå, terbukti dengan tidak adanya riwayat tentang pelantikan Syarif Hidayatullah secara resmi sebagai Sultan Cirebon.

    Hal ini sesuai dengan strategi yang telah digariskan Sunan Ampel, Ulama yang paling dituakan di Dewan Muballigh Wali Sångå, bahwa agama Islam akan disebarkan di Tanah Jawa dengan Kesultanan Dêmak Bintårå sebagai pelopornya.

    Sunan Gunung Jati, yang lahir pada 1448, menetap di Cirebon hingga akhir hayatnya wafat pada 1568, dan dikebumikan di Pasir Jati, bagian tertinggi ”Wukir Saptarengga”, kompleks makam Gunung Sembung (Cirebon) dekat dengan kompleks pemakaman guru Sang Wali yakni Syeh Datu Kahfi. Sesudah mangkat Syarif Hidayatullah digelarkan dengan sebutan Sunan Gunung Jati.

    Beliaulah yang menyebarkan agama Islam di Jawa Barat terutama di daerah Cirebon, Pajajaran, Sunda Kelapa dan Banten.
    Bagi para sejarawan beliau adalah peletak konsep Negara Islam modern ketika itu dengan bukti berkembangnya Kesultanan Banten sebagi negara maju dan makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh hanya karena pengkhianatan seorang anggota istana yang dikenal dengan nama Sultan Haji.

    Dengan segala jasanya umat Islam di Jawa Barat memanggil beliau dengan nama lengkap Syekh Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati Rahimahullah.

    Petatah-petitih (Ajaran) Sunan Gunung Jati

    Ajaran Sunan Gunung Jati yang dijabarkan dalam bentuk petath petitih sebagai sabda Sunan Gunung Jati, dipahami juga sebagai nasihat-nasihat semacam kata mutiara, yang ditulis dengan bahasa Jawa gaya Cirebonan.

    Petatah-petitih Kanjeng Sunan Gunung Jati begitu populer di tengah masyarakat sampai sekarang, tersimpulkan pada kalimat yang sangat sederhana, tetapi mempunyai makna yang luhur adalah Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin.

    [Pengertian: Tajug -- istilah ini dikenal di wilayah Jawa bagian Barat-- selain fungsi utamanya sebagai tempat shalat berjamaah, rukun warga, juga sekaligus berfungsi lembaga pendidikan non formal keagamaan. Tajug berukuran lebih kecil daripada masjid dan bersifat terbuka yakni siapapun boleh menggunakannya sebagai tempat beribadah. Kepemilikan Tajug sering dinisbahkan pada guru, pengajar, pendidik, atau ustadz pengasuh yang biasanya menjadi pendiri tajug tersebut.
    Namun demikian, dalam perjalanan umat Islam Indonesia, bangunan semacam tajug itulah yang kemudian menjadi cikal bakal pesantren. Berawal dari tajug yang ustadznya menekuni pengajian khusus ajaran Islam yang pada perkembangan selanjutnya menjadi kerukunan pondok, masjid, madrasah dan komplek pesantren
    .]

    Mengapa petatah-petitih Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin yang paling membumi? Sabda tersebut dianggap merepresentasikan relasi antara pemikiran keagamaan dan permasalahan di ranah sosial. Teks Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin menafsirkan pula maksud pentingnya menjaga keserasian dan keselarasan kesalehan spiritual (habluminallah) dan kesalehan sosial(habluminannas).

    Petatah-petitih Kanjeng Sunan Gunung Jati memadukan unsur etik dan moralitas yang menjadi bagian penting dari sumber gagasan dalam memberi wårå-wårå atau peringatan terhadap sesuatu, dengan memberikan nasihat lewat bahasa simbolik. Khusus tentang petatah-petitih Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin, lebih dalam bermakna adalah Iman dan Amal.

    Petatah-petitih selengkapnya adalah sebagai berikut:

    1.Ketakwaan dan Keyakinan:

    Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin (Aku titip tajug dan fakir miskin),
    Yèn sêmbahyang kungsi pucuké panah (jika salat harus khusuk dan tawadhu seperti anak panah yang menancap kuat),
    Yên puasa dèn kungsi têtaling gundéwa (jika puasa harus kuat seperti tali panah),
    Ibadah kang têtêp (ibadah harus terus menerus),
    Wêdia ing Allah (takutlah kepada Allah),
    Manah dèn syukur ing Allah (hati harus bersyukur kepada Allah) dan
    Kudu ngahékakên pêrtobat (banyak-banyaklah bertobat).

    2.Kedisiplinan:

    Aja nyindra janji mubarang (jangan mengingkari jani),
    Pêmboraban kang ora patut anulungi (yang salah tidak usah ditolong) dan
    Aja ngaji kêjayaan kang ala rautah (jangan belajar untuk kepentingan yang tidak benar atau disalahgunakan).

    3. Kearifan dan Kebijaksanaan:

    Singkirna sifat kandèn wanci (Jauhi sifat yang tidak baik),
    Duwèha sifat kang wanti (milikilah sifat-sifat yang baik),
    Amapésa ing bina batan (jangan serakah atau berangasan dalam hidup),
    Angadåhna ing pêpadu (jauhilah pertengkaran),
    Aja ilok ngamad kang durung yakin (jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya),
    Aja ilok gawé bobad (jangan suka berbohong),
    Ing panêmu aja gawé tingkah (bila pandai jangan sombong),
    Kênané ing hajaté wong (kabulkan keinginan orang),
    Aja dahar yèn durung ngêli (jangan makan sebelum lapar),
    Aja nginum yèn durung ngêlak (jangan minum sebelum haus),
    Aja turu yèn durung katêkan arip (jangan tidur sebelum ngantuk),
    Yèn kaya dèn luhur (jika kaya harus dermawan),
    Aja ilok ngijêk rarohi ing wong (jangan suka menghina orang lain),
    Dèn bisa mêgêng ing nafsu (harus dapat menahan hawa nafsu),
    Angasana diri (harus bisa mawas diri),
    Têpa salira dèn adol (tampilkan perilaku yang baik),
    Ngolètana rêjêki sing halal (carilah rejeki yang halal),
    Aja akèh kang dèn pamrih (jangan banyak mengharapkan pamrih),
    Dèn suka wênan lan suka mambêrih gêlis lipur (jika bersedih jangan diperlihatkan agar cepat hilang),
    Gêgunêm sifat kang pinuji (milikilah sifat-sifat terpuji),
    Aja ilok gawé lara ati ing wong (jangan suka menyakiti hati orang),
    Aké lara ati ing wong, namun saking duriat (jika sering disakiti orang, hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya),
    Aja ilok gawé kaniaya ing mahluk (jangan membuat aniaya kepada mahluk lain),
    Aja ngagungakên ing salira (jangan mengagungkan diri sendiri),
    Aja ujub ria sukma takabur (jangan sombong dan takabur),
    Aja duwé ati ngunêk (jangan memiliki hati pendendam).

    4. Kesopanan dan Tatakrama:

    Dèn hormat ing wong tua (harus hormat kepada orang tua),
    Dèn hormat ing lêluhur (harus hormat kepada leluhur),
    Hormatên, émanên, mulyakên ing pusaka (hormat, sayangi, dan mulyakanlah pusaka),
    Dèn wêlas asih ing sasapada (hendaknya menyayangi sesama manusia) dan
    Mulyakên ing têtamu (hormatilah para tamu).

    Ringkasan

    1. Nama:
    •SUNAN GUNUNGJATI
    •Syarif Hidayatullah,
    •Muhammad Nurudin,
    •Syekh Nurullah,
    •Sayyid Kamil,
    •Bulqiyah,
    •Syekh Madzkurullah,
    •Makdum Jati,
    •Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Israil,
    •Said Kamil,
    •Maulana Syekh Makdum Rahmatullah,

    2. Putra dari Syarif Abdullah seorang Sultan dari mMesir. Ibunya adalah Nyai Lara Santang, putri Prabu Siliwangi.

    3. Lahir di Cirebon tahun 1448, wafat di Cirebon pada tahun1568, dan dikebumikan di Pasir Jati, bagian tertinggi ”Wukir Saptarengga”, kompleks makam Gunung Sembung (Cirebon)

    4.Istri:
    a. Lie Ong Tien
    b. Ratu Pakungwati
    c. Ratu Kawunganten

    5. Putra & Putri: Dari pernikahan dengan Ratu Kawunganten, dia dikarunia dua putra, Ratu Winahon dan Pangeran Sabangkingking. Pangeran Sabangkingking kemudian dikenal sebagai Sultan Hasanudin, dan diangkat jadi Sultan Banten. Ratu Winahon, yang lebih dikenal dengan sebutan Ratu Ayu, dinikahkah dengan Fachrulllah Khan, alias Faletehan.

    6. Daerah Da’wah dan Tahun: Jawa bagian Barat (Cirebon, Pajajaran, Sunda Kelapa, dan Banten)

    7.Keahlian: Ahli pengobatan, ahli ketatanegaraan.

    8. Jabatan politik:
    a.Raja vassal dari Kesultanan Dêmak Bintårå di Cirebon.
    b. Sultan Cirebon, setelah Sultan Trenggana wafat.
    c. Pendiri Kesultanan Banten

    9. Ajaran: Ketakwaan dan Keyakinan, Kedisiplinan, Kearifan dan Kebijaksanaan Kesopanan dan Tatakrama, yang disimpulkan dalam Petatah Petitih “Ingsung Titip Tajug lan Fakir Miskin”

    10. Cara berda’wah: Wårå-wårå atau peringatan terhadap sesuatu, dengan memberikan nasihat lewat bahasa simbolik yang terrangkum dalam Petatah Petitih Ingsung Titip Tajug lan Fakir Miskin

    Rujukan:

    Untuk seluruh dongeng Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa:

    1. ——————- Jejak Para Wali dan Ziarah Spiritual, Penerbit Buku Kompas, Desember 2006.

    2. Abdul Hadi WM. Sunan Bonang, Perintis dan Pendekar Sastra Suluk. Tulisan Lepas. 1993,

    3. Abdul Munir Mulkan, Syekh Siti Jenar, Pergumulan Islam-Jawa Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta November 1999.

    4. Al Murtadho, H. Sayid Husein, dan KH Abdullah Zaky Al-Kaaf, Drs. Maman Abd. Djaliel. Keteladanan Dan Perjuangan Wali Songo Dalam Menyiarkan Islam Di Tanah Jawa. CV Pustaka Setia, Bandung. 1999

    5. Dahlan, KH. Mohammad. Haul Sunan Ampel Ke-555, Penerbit Yayasan Makam Sunan Ampel, hlm 1-2, Surabaya, 1979.

    6. Drewes, G.W.J., The admonitions of Seh Bari : a 16th century Javanese Muslim text attributed to the Saint of Bonang, The Hague: Martinus Nijhoff, 1969

    7. Ekadjati. Edi S. Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta, Pustaka Jaya, Jakarta 2005

    8. Hasyim, Umar, Riwayat Maulana Malik Ibrahim. Menara Kudus. 1981.

    9. Iman Anom Suluk linglung Sunan Kalijaga (Syeh Melaya) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhammad Khafid Kasri (et al.) ; editor, Kasmiran W. SanadjiJakarta. Balai Pustaka, Jakarta 1993.

    10. Kong Yuanzhi. Prof. Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara. Penyunting: Prof. HM. Hembing Wijayakusuma. Pustaka Populer Obor, Jakarta Oktober 2000

    11. Meinsma, J.J. Serat Babad Tanah Jawi, Wiwit Saking Nabi Adam Dumugi ing Tahun 1647. S’Gravenhage. 1903 (Terjemahan)

    12. Mohamad Sobary, Sunan Drajad, Kompas 29 Desember 1996.

    13. Mohammad Adnan, Prof KH.R. , Tafsir Al Qur’an Suci (basa Jawi), Alma’arif Bandung, 1977.

    14. Munif, Drs. Moh. Hasyim. Pioner & Pendekar Syiar Islam Tanah Jawa Yayasan Abdi Putra Al-Munthasimi, Gresik. 1995.

    15. Poesponegoro Marwati Djoened, Nugroho Notosusanto Sejarah Nasional Indonesia: Jaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan Islam di Indonesia, Balai Pustaka Jakarta, 2008

    16. Purbatjaraka, R.Ng.; Suluk Wujil, ajaran rahasia Sunan Bonang alih bahasa, R. Suyadi Pratomo. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Jakarta . 1985

    17. Raffles, Sir Thomas Stamford, F.R.S. The History of Java, from the earliest Traditions till the establisment of Mahomedanism. Published by John Murray, Albemarle-Street. Vol II, 2nd Ed, 1830 (Terjemahan)

    18. Salam, Solichin, Sekitar Wali Sångå, , Penerbit “Menara Kudus”, Kudus. 1960.

    19. Slamet Muljana Prof.Dr. Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. LkiS Yogyakarta 2008

    20. Sulendraningrat, P.S.Babad Tanah Sunda Babad CirebonPenerbit:?, 1984

    21. Suwardi Endraswara, Tradisi Lisan Jawa, Warisan Abadi Budaya Luhur Harasi Yogyakarta, 2005

    22. Tandhanagara, K.R.T., Surakarta, Darmogandhul, Carita Adêge Nagara Islam Ing Dêmak Bêdhahe Nagara Majapahit. “Sadu Budi”, Sala. 1959

    23. Tjandrasasmita, Uka (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, PN Balai Pustaka, Jakarta. 1984

    24. Van Bruinessen, Martin, Najmuddin al-Kubra, Jumadil Kubra and Jamaluddin al-Akbar: Traces of Kubrawiyya influence in early Indonesian Islam, Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. 1994.

    25. Winny Gunarti Putri Ong Tien Gramedia Pustaka Utama, Jakarta September 2010.

    26. Sumber rujukan lain, makalah, cacatan-catatan ziarah, dan sebagainya

    Pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Penulisan Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa yang kita kenal dengan Wali Sångå, saya cukupkan sampai di sini. Dalam penulisannya masih banyak yang belum diungkap. Juga mungkin ditemukan kesalahan-kesalahan, mengingat ketersediaan data sejarah yang terbatas atau informasi yang sampai ke cantrik Bayuaji tidak utuh.

    Jika terdapat perbedaan penulisan dengan penulis-penulis lainnya. Hal itu bisa saja terjadi mengingat sudut pandang yang berbeda dalam menelisik keberadaan para waliullah ini.

    Sengaja dalam penulisan para pembawa ajaran Tauhid ini, cantrik Bayuaji sesedikit mungkin mendongengkan kisah “kesaktian dan kedigdayaan” beliau-beliau ini, hal ini tidaklah bermaksud mengecilkan arti keberadaan para wali suci ini, tetapi dongengnya cantrik Bayuaji adalah semata-mata fakta sejarah. Karena sulit “membuktikan” dalam bentuk referensi atau lainnya yang secara nyata bagaimana wujud “kesaktian dan kedigdayaan” beliau-beliau itu.

    Tetapi bagaimanapun keberadan para utusan penda’wah agama Tauhid ini telah memberi warna tersendiri bagi perkembangan Islam di Nusantara, khususnya Tanah Jawa.

    Banyak butiran-butiran mutiara hikmah yang ditinggalkan para wali ini. Beliau-beliau para wali menterjemahkan ayat-ayat suci Al Qur’an dan Hadits tuntunan Rasulullah Muhammad SAW, dan dengan gaya da’wahnya masing-masing, dengan bahasa yang membumi, bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami, dengan menggunakan sarana budaya yang ada, budaya bangsa yang adiluhur dan dijunjung tinggi oleh masyarakatnya pada waktu itu, para wali mengajak mereka untuk ngrasuk agami énggal Islam.

    Tidak ada pertikaian, tidak ada ketersinggungan keyakinan, tidak ada konflik. Islam merasuk ke dalam hati sanubari masyarakat Jawa khususnya, dengan santun.

    Pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Menjelang Idul Fitri yang Insya Allah esok hari Jêmuah Umanis, 01 Sawal 1943-Dal. 01 Syawal 1431H; 10 September 2010M. Wuku Klawu, Ingkêl Manuk. Windu : Kuntårå, Lambang : Langkir. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç .

    Cantrik Bayuaji sakulåwargå ngaturakên:

    Aruming pangruat jiwå, Lumantar ati ati suci. Kanugrahan jatining sêdyå. Sugêng Riyadi nyuwun agunging sih samudrå pangaksami. Taqoballahu minna wa minkum, taqobbal ya kariim, wa kullu amin wa antum bil khair. Minal aidin wal faizin. Mugi Gusti Allah tansah paring hidayah, maghfirah såhå barokah dumatêng kitå sâdåyå. Rahayu ingkang tinêmu, sêmbådå ingkang sinêdyå, jumbuh ingkang ginayuh. Kêparêng Gusti Ingkang Måhå Asih pinaggih Ramadhan warså ngajêng.

    TANCÊP KAYON

    Nuwun

    cantrik Bayuaji.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: