SFBdBS-02

<<kembali ke SFBdBS-01 | lanjut ke SFBdBS-03 >>

—oOo—

Halaman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 4 Juni 2011 at 08:47  Komentar (379)  

379 Komentar

  1. Selamat malam semuanya,
    Kangmas Gembleh
    Ki Bancak
    Ki Sedayu605 (Taon 80-an ada bus saudaranta 605 Manggarai – Banteng)
    met berlibur untuk Ki Arga,…tenang ki…begitu pulang nasi srendengnya langsung diangetin….he3X

    • Kalau Blok M – Pulogadung, Mayasari Bhakti 507 apa ya…….???

  2. mana…., mana….
    nasi srundeng nya

    he he he …
    slamat malem Ki Dalang…

  3. waduh….
    pendopo sudah penuh, halaman depan juga sudah penuh, halaman samping kiri penuh juga, sekarang mulai meluber ke halaman kanan.
    hmmmm,
    masih agak lama ki dalang nutuo pakeliran sfbdbs-02, menunggu halaman samping kana yake…

  4. Sugêng énjang.

    • Sugêng siang.

      • hadir menjelang makan SIANG……mangga,

  5. Sakmeniko sampun siang Ki Yudha …………. hehe

    • Sakmeniko sampun sore Ki Sedayu……. hehe

      • Sakmenika sampun wayah dalu Ki Menggung, Ki Sedayu.

  6. sugeng siang semuanya

    • semuanya sugeng siang

  7. Disiang hari itu pengunjung kedai terus bertambah. Disudut kedai Nampak dua orang pedagang tengah menikmati makanannya sambil berbincang-bincang sekitar keamanan nagari Singasari yang semakin aman, perampokan sudah jarang sekali terdengar baik di darat maupun di perjalanan sungai sepanjang Brantas.

    “Sejak berdirinya benteng Cangu, perjalanan sepanjang sungai Brantas ini menjadi aman. Sudah ada gardu jaga di sepanjang sungai”, berkata seorang pedagang berwajah bulat sambil meneguk minumannya

    “Mudah-mudahan Putra Mahkota dapat melanjutkan keadaan hal ini”, berkata temannya yang berkumis tebal.
    “Itulah yang kita harapkan sebagai seorang pedagang”, berkata pedagang yang berwajah bulat.

    “Tapi aku melihat sesuatu yang lain di Gelang-gelang”, berkata Pedagang yang berkumis tebal. “Sebuah persiapan besar tengah dilakukan disana”, lanjut pedagang berkumis tebal itu lagi.

    “Persiapan dalam hal apa ?”, bertanya pedagang berwajah bulat.

    “Persiapan sebuah pasukan yang besar”, berkata pedagang berkumis tebal

    “Dari mana kamu mengetahuinya”, bertanya pedagang berwajah bulat menjadi penasaran.
    “Seorang temanku mendapat pesanan lima ribu jenis senjata. Dari temanku itulah aku kebagian rejeki mendapat seribu pesanan senjata tombak”, berkata pedagang berkumis tebal .
    “Bukankah pembelian senjata suatu yang wajar ?”, bertanya pedagang bewajah bulat.
    “Bila hanya lima ribu senjata memang dapat dimengerti, mungkin untuk mengganti senjata mereka yang sudah usang. Tapi sebulan sebelumnya mereka juga telah memesan jumlah yang sama kepada temanku itu”, berkata pedagang berkulit tebal.

    Ternyata pembicaraan mereka diam-diam didengar oleh Kertanegara yang duduk tidak begitu jauh dari kedua pedagang itu. Kertanegara sepertinya berpura-pura tidak memperhatikan mereka, sepertinya tengah asyik menikmati hidangan di depannya. Berharap ada pembicaraan lain yang berguna.

    Tapi harapan Kertanegara tinggal harapan, didepan kedai telah terjadi keributan, perhatian kedua pedagang telah beralih kedepan kedai itu.

    Mahesa Semu yang sudah menyelesaikan hidangannya berjalan mendekati pintu kedai. Ternyata diluar kedai telah terjadi keributan kecil para buruh angkut barang. Syukurlah tidak berlanjut karena entah dari mana telah datang dua orang prajurit melerai mereka.

    Ternyata Mahesa Semu mengenal salah seorang prajurit itu, yang tidak lain adalah Dadulengit.
    Mahesa Semu mengajak Dadulengit dan temannya kedalam kedai. Bukan main senangnya Dadulengit bertemu kembali dengan orang-orang dari Padepokan Bajra Seta.

  8. Siang itu juga, rombongan di antar Dadulengit singgah di Benteng Cangu.

    “Selamat datang Pangeran”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut Pangeran Kertanegara bersama rombongan kecilnya.

    “Kalian telah menunaikan tugas dengan baik”, berkata Senapati Mahesa Pukat memberi selamat kepada para cantrik utama Padepokan Bajra Seta.

    Setelah bercerita tentang keselamatan masing-masing. Senapati Mahesa Pukat ingin mendengar langsung cerita perjalanan mereka di Pulau Madhura. Wantilan mewakili kawan-kawannya bercerita sekitar perjalanan mereka di Pulau Madhura.

    Suasana di pendapa utama benteng cangu itu menjadi seperti hening manakala Senapati Mahesa Pukat menyampaikan berita duka cita, Ayahnya Mahendra telah meninggal dunia.

    “Aku mendapat kabar sehari setelah kalian meninggalkan Bandar Cangu ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan kapan ayahnya Mahendra meninggal dunia.

    Mahesa Amping yang biasanya sangat tabah, tidak mampu menutup rasa dukanya. Terlintas bayangan wajah Mahendra yang begitu penuh senyum saat memberinya dasar kanuragan. Terlihat Mahesa Amping menunduk dalam menahan agar air matanya keluar dan mencoba menguasai gelombang perasaannya dukanya.

    “Sri Maharaja telah berkenan mencandikan jasadnya di Gunung Arjuna”, berkata Senapati Mahesa Pukat menjelaskan dimana jasad Mahendra di kebumikan.

    “Seorang yang setia pada pengabdiannya”, berkata Kebo Arema ketika mengetahui siapa Mahendra lewat penjelasan Kertanegara.

    Senjapun datang meredup rasa duka yang berlarut melepas perasaan yang terhanyut, perlahan Mahesa Amping sudah dapat menguasai perasaannya, menyadari bahwa hidup dan mati adalah sebuah takdir yang sudah digariskan. Semua akan kembali kedalam keabadian Sang Hyang Maha Karsa.

    Malampun berlalu dalam sebuah perjamuan besar di Pendapa utama Benteng Cangu.
    Senapati Mahesa Pukat bersedia menyediakan prajuritnya mengawal Pangeran Kertanegara bersama calon istrinya Menik Kaswari. Akhirnya disepakati, para cantrik padepokan Bajra Seta akan langsung kembali kepadepokannya, sementara Kebo Arema dan Bhaya akan terus bersama Kertanegara tinggal di Kotaraja sesuai dengan permintaan Pangeran Kertanegara.

    “Paman Sembaga sudah lama meninggalkan Padepokan Bajra Seta, sudah rindu berat untuk segera turun kesawah”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang seperti dapat membaca hati Sembaga dan kawan-kawannya.

    Bersama datangnya pagi, bersama geliat lalu lalang di sekiatar Bandar Cangu yang ramai, sebuah rombongan telah keluar meninggalkannya. Dan di sebuah jalan yang bercabang, rombongan itu pun terpecah. Pangeran Kertanegara dan Menik Kaswari bersama Kebo Arema, Bhaya dan sekelompok prajurit mengambil arah jalan kearah Kotaraja Singasari. Sementara rombongan lainnya terlihat mengambil jalan lain, mereka adalah para cantrik utama Bajra seta bersama Lawe seorang putra tunggal Ki Gede Banyak Wedi yang telah dijinkan menuntut ilmu di Padepokan Bajra Seta.

    • Hwarakadhah…………kamsiaaaaaa deh.

  9. Warakadah….
    Ki Dalang sudah mbeber pakeliran

    kamsiaaa………………

  10. warakadah……………….
    kamsiiiiiiaaaaaa……………..

  11. Langit cerah memayungi lima ekor kuda berlari menembus hutan ilalang. Tiga ekor kuda Nampak selalu berjalan beriring dimuka, penunggangnya masih muda belia sementara itu dibelakang mereka tiga ekor kuda yang selalu mengikuti dan mengimbangi laju kuda mereka.

    Tiga orang penunggang kuda yang masih muda belia adalah Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe. Sementara dibelakang mereka yang selalu mengikuti adalah Sembaga, Wantilan dan Mahesa Semu. Hati mereka semua sudah terpaut untuk segera sampai di Padepokan Bajra Seta. Sepanjang hari mereka memacu kudanya, dibulakan panjang atau di hutan ilalang. Dimalam hari baru mereka beristirahat, kadang di Banjar desa sebuah Padukuhan atau di tanah terbuka dibawah pohon besar agar sedikit berlindung dari angin malam.

    Hari itu matahari senja sudah membayangi bumi ketika mereka keluar dari sebuah hutan. Jarak Padepokan Bajra Seta Cuma terhalang bukit kecil.

    Matahari sudah bersembunyi di ujung cakrawala ketika mereka sampai diatas puncak bukit kecil. Didepan mata mereka memandang hamparan hijau sawah dalam gugus petak bersusun bertingkat.

    “Rumput-rumput liar di sawah menanti kita”, berkata Wantilan sambil memacu kudanya menapaki bulakan panjang.
    Hari memang sudah hampir gelab manakala mereka telah sampai di muka gerbang Padepokan Bajra Seta. Segenap penghuni Padepokan menyambut suka cita kedatangan mereka.

    “Kami membawa putra Ki Gede Banyak Wedi, namanya Lawe”, berkata Wantilan ketika mereka sudah naik pendapa utama memperkenalkan Lawe kepada Mahesa Murti.

    “Aku merasa tersanjung dititipkan putra Paman Bahyak Wedi di Padepokan ini”, berkata Mahesa Murti menerima Lawe seperti keluarganya sendiri.

    Mulai hari itu Lawe telah menjadi cantrik di Padepokan Bajra Seta. Setahap-demi setahap tataran ilmu Lawe terus meningkat. Berlatih bersama Mahesa Amping dan Raden Wijaya telah membuat perkembangan ilmu Lawe semakin pesat.

    Tidak ada perbedaan di Padepokan Bajra Seta, semua bahu membahu bekerja untuk memenuhi kehidupan mereka sendiri, disamping olah kanuragan dan olah kajiwan yang dipimpin langsung oleh Mahesa Murti sebagai ketua tunggal Padepokan Bajra Seta.

    Sementara itu kedatangan Kertanegara di Kutaraja disambut dengan suka cita. Sri Maharaja menerima Menik Kaswari sebagai menantunya. Dan pada hari itu juga telah dilangsungkan upacara peresmian mereka dengan upacara kebesaran kerajaan.

    • he he he lupa belum kamsia
      kamsiaaaaa…………………..
      selamat jalan ki, semoga sukses dalam tugas telik sandinya.

  12. maaf,maaf,maaf
    mulai sesuk malem dapat perintah dari Arya Kuda Cemani jadi petugas sandi di Bali, mugi-mugi bisa lempar aji pameling dari sana,

    Sugeng dalu kadang sedoyo ()

    • selamat PAGI,

      selamat berTUGAS pak DALANGe MAHESA…..semoga tugaS dari AKC
      sukses, lancar dilakSAnakan pak DALANGe,

      • Tugas yang InI masuk kategori DARURAT ayake…..lha pak DALANGe
        siDAK luar jawa, he-hee-heeee :)

        “tetep seMANGat, tetep berKARya”

  13. Nuwun
    Sugêng siyang

    @ Ki Kompor.

    Mumpung Ki Kompor sedang di Bali, dan kalau Ki Kompor ada waktu senggang selama di Bali (tentunya sepanjang tidak mengganggu tugas utama Ki Kompor).

    Ki Kompor dapat menelusuri jejak peninggalan Arya Wiraraja (yang oleh Ki Kompor disebut Ki Gede Banyak Wedi); di daerah Buleleng.

    Orang Bali menyebut Arya Wiraraja (Banyak Wide) sebagai Ida Wang Bang Banyak Wide; ayah kandung Lawe yang bernama Bali Ida Bang Bagus Pinatih alias Ranggalawe.

    a. Arya Wiraraja yang bergelar Sang Apanji Adhimurti Nararyya Wiraraja, yang dicintai seluruh rakyat tlatah Madura, yang dicopot dari jabatannya oleh Kertanegara, karena dianggap mbalélå kepada Sang Prabu Kertanegara.

    Tidak ada niat Arya Wiraraja mbalélå, justru dia bermaksud baik, yang semata-mata untuk kepentingan rakyat dan negara Singasari, bukan untuk kepentingan pribadi Prabu Kertanegara.

    b. Peranan Arya Wiraraja membantu Raden Wijaya saat mendirikan Majapahit di dusun Trik.

    c. Ketulus-ikhlasan Sang Wiraraja menyerahkan putranya, yaitu Ida Bang Bagus Pinatih alias Ranggalawe berjuang mendampingi Raden Wijaya saat-saat memperkokoh Negara Majapahit di awal berdirinya kerajaan itu.

    d. Ranggalawelah yang menyelamatkan Raden Wijaya dalam peperangan melawan Kerajaan Kadiri (Jayakatwang), pada waktu menggempur benteng timur Kota Kadiri, dan membunuh Segara Winotan (salah satu panglima perang Jayakatwang); namun pada akhirnya Ranggalawe harus mati sebagai pengkhianat karena dianggap musuh negara. Ranggalawe mati dibunuh oleh Mahesa Arema yang diutus Raden Wijaya Prabu Kĕrtarājasā di Kali Tambak Beras.

    e. Setelah Ranggalawe gugur, Arya Wiraraja mutung (memutuskan hubungan dengan Raden Wijaya dan Majapahit), dia sakit hati dan memutuskan untuk menghadap Prabu Kĕrtarājasā untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan menagih Sang Prabu semasa perjuangan, yaitu membagi wilayah kerajaan menjadi dua.

    Janji tersebut kemudian dipenuhi oleh Prabu Kĕrtarājasā sehingga kemudian memutuskan membagi wilayah kerajaan menjadi dua: Bagian Timur terus keselatan sampai pantai diserahkan kepada Arya Wiraraja kemudian menjadi raja dengan ibukota Lumajang.

    Bagian Barat masih dikuasai oleh Raja Kĕrtarājasā dengan Ibukota Majapahit. Sejak saat itulah Daerah Majapahit timur merupakan Negara merdeka dan lepas dari kekuasaan Majapahit.

    Sumber:
    1. Babad Ida Bang Manik Angkeran – Bali;
    2. dan sumber-sumber pustaka lainnya yang lazim: Kitab Pararaton, Kidung Harsa Wijaya. Kidung Ranggalawe. Kidung Pamancangan. Kidung Panji Wijayakramah. dan Kidung Sorandaka. Pujasastra Negarakretagama;
    3. Prasasti: Mula Manurung; Prasasti Kranggan (Sengguruh); Prasasti Pakis Wetan; dan Prasasti Sarwadharma.

    Mangga Ki. Ditunggu ndalangnya.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  14. .Sugêng énjang.

  15. sueng siang menjelang jumatan, kamsiiiaaaa

  16. Sugêng dalu

  17. selamat siang

  18. selamat malam, selamat malam mingguan

  19. selamat malam,

  20. Sugêng siyang

  21. Dalam sebuah kesempatan, Kertanegara telah memperkenalkan Kebo Arema kepada Sri Maharaja. Ternyata mereka berdua merasa begitu cocok. Keduanya mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari.

    “Jadi kamu berasal dari suku air”, berkata Sri Maharaja setelah mengenal Kebo Arema lebih jauh lagi.
    “Ada yang bilang bahwa suku air punya nyawa rangkap tiga ?”
    Tersenyum Kebo Arema mendengar pertanyaan Sri Maharaja.

    “Mungkin yang dimaksud tuanku, bahwa suku air adalah orang yang tidak pernah takut menghadapi badai, topan dan ombak.Setiap orang suku air pernah mengalami terapung berhari-hari ditengah laut, terdampar di pulau kosong atau sekarat terkena racun ikan laut paling ganas sekalipun”.

    Demikianlah awal pertemuan Kebo Arema dengan Sri Maharaja. Mereka sama-sama mempunyai pandangan yang sama tentang dunia bahari yang mereka sepakati menyebutnya sebagai kerajaan air. Hari-hari selanjutnya, Kebo Arema begitu sering dipanggil ke istana di tempat pribadi Sri Maharaja. Kadang mereka berbincang sampai jauh malam.
    Hari itu kembali Kebo Arema di panggil menghadap Sri Maharaja.

    “Kebo Arema”, berkata Sri Maharaja.”Dalam sebuah perjalanan pulang dari subuah jiarah suci di Biara Beduhur, dalam tujuh malam aku bermimpi dengan mimpi yang sama”

    “Gerangan apa yang tuan mimpikan ?”, bertanya Kebo Arema menjadi sangat ingin tahu apa yang Sri Baginda mimpikan itu.

    “Dalam mimpi itu, aku masih ada di dalam biara Beduhur memandang sebuah lukisan Jung besar berlayar yang megah bagai sebuah Jung para dewa. Entah dari mana datangnya, disebelahku telah berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu memandangku dengan tersenyum begitu ramah sambil menunjuk kearah gambar di batu itu dan berkata bahwa akulah yang berjodoh dapat membawa lukisan dibatu itu keluar dari biara Beduhur. Sampai tujuh malam berturut-turut aku bermimpi yang sama”, berkata Sri Maharaja bercerita tentang mimpinya.

    “Kita bertemu dengan pemuda yang sama dalam mimpi”, berkata Kebo Arema

    “Apa yang kamu mimpikan ?”, terheran Sri Maharaja mendengar ucapan Kebo Arema.

    “Pada waktu itu aku terapung apung ditengah lautan, jukungku pecah dihantam badai gelombang. Tujuh malam di tengah lautan aku bermimpi yang sama. Dalam mimpiku aku telah ada di atas Jung besar yang tidak pernah kulihat sepanjang hidupku. Entah dari mana disampingku berdiri seorang pemuda berjubah putih, rambutnya terurai tanpa ikat kepala. Pemuda itu berkata kepadaku, bahwa aku berjodoh membawa dan memiliki Jung besar itu”, berkata Kebo Arema bercerita tentang mimpinya.

  22. “Apakah kamu pernah bercerita tentang mimpimu itu kepada orang lain ?”, bertanya Sri Maharaja.

    “Hamba Cuma bercerita kepada Kakek hamba. Setelah mendengar cerita mimpi itu, kakek hamba hanya mengatakan bahwa Gunadharma leluhur para suku air telah menyelamatkan hamba”, berkata Kebo Arema.

    “Pemuda yang kamu mimpikan bernama Gunadharma ?”, bertanya Sri Maharaja

    “Apa yang Tuanku ketahui mengenai Gunadharma leluhur kami ?”, bertanya Kebo Arema

    “Gunadharma adalah murid seorang Brahmana sakti, konon dialah yang dipercayakan Raja Samaratungga membangun biara diatas bukit Beduhur”, berkata Sri Maharaja.

    “Aku akan menatag gambar diatas kulit rontal”, berkata Kebo Arema sambil mengambil selembar kulit rontal dan menatagnya. Ternyata tatag Kebo Arema melukiskan sebuah Jung Besar.

    “Lukisan inikah yang terpahat di Biara Beduhur ?”, bertanya Kebo Arema
    “Benar, kamu dapat melukisnya begitu indah”, berkata Sri Maharaja memuji tatag Kebo Arema di atas kulit rontal

    “Hamba tidak pernah berkunjung ke biara Beduhur, lukisan ini adalah Jung besar yang ada dalam mimpi hamba”.

    “Ternyata kita telah berjodoh, sebagaimana Raja Samaratungga dan Gunadharma membangun mimpi mereka membangun biara besar diatas bukit Beduhur”.

    “Maksud tuanku, kita bersama membangun Jung para dewa itu ?”, bertanya Kebo Arema

    “Benar, kita bukan hanya membangun Jung besar itu, tapi kita akan membangun kerajaan air bersama”, berkata Sri Maharaja dengan penuh semangat, telah dapat membatang tafsir mimpinya.

    “Mulai hari ini, aku serahkan mimpiku kepadamu, membuat jung besar para dewa”, berkata Sri Maharaja.

    “Titah tuanku akan hamba junjung segenab hati”, berkata Kebo Arema dengan penuh hormat.

    “Kutitipkan juga, Putra Mahkota bersamamu”, berkata Sri Maharaja sambil tersenyum, dalam hati telah bersyukur bahwa Pangeran Kertanegara telah mendapatkan sahabat sejati seperti Kebo Arema.

  23. Keesokan harinya, Sri Maharaja telah memanggil Mahapatih untuk membuat persiapan sebuah prasasti pengukuhan sebuah usaha besar membangun kerajaan air di bumi Singasari.

    Gegap gempita suasana di seluruh penjuru bumi Singasari mendengar rencana besar itu. Ada yang gembira dan bangga. Tapi ada juga sebagian yang merasa ketakutan, menjadi semakin merasa terancam. Diam-diam menyebarkan kebencian bahwa Sri Maharaja telah menjadi pikun, telah melakukan perbuatan sia-sia.

    Pagi itu tanah Kutaraja masih basah, gerimis di malam hari menggenangi banyak tanah berlubang. Tiga ekor kuda terlihat keluar dari gerbang kota. Mereka adalah Kebo Arema, Bhaya dan Pangeran Kertanegara yang akan melakukan perjalanan menuju Bandar Cangu.

    Disanalah meraka akan membuat sebuah sejarah baru di bumi Singasari, membangun jung besar sebagaimana terpahat di dinding Biara Bukit Beduhur.
    Jalan yang mereka lewati adalah jalan lintas perdagangan. Beberapa gerobak dengan muatan penuh tampak terlihat tengah berjalan pelan menuju Kutaraja.

    “Sudah lama tidak terdengar ada perampokan di sepanjang perjalanan ini”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Kelak akan juga dirasakan keamanan perjalanan di perairan”, berkata Kebo Arema
    “Tentunya setelah berdirinya sebuah kerajaan air yang akan kita bangun”, berkata Kertanegara penuh semangat.
    “Disamping para perampok, masih ada segelintir orang yang merasa terancam berdirinya sebuah kekuatan di perairan”, berkata Kebo Arema

    “Yang pasti mereka akan melemparkan duri disepanjang perjalanan kita”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Itulah salah satu yang harus kita waspadai”, berkata Kebo Arema sambil memandang jauh keujung batas cakrawala.

    Sementara itu matahari telah jauh bergeser ke barat. Langkah kaki kuda mereka sudah hampir mendekati Bandar Cangu.

    “Selamat datang di benteng Cangu”, berkata Senapati Mahesa Pukat menyambut kedatangan mereka di pendapa utama Benteng Cangu.

    Setelah menyampaikan berita keselamatan masing-masing. Pangeran Kertanegara menyampaikan tujuan dan rencananya, yaitu membuat sebuah jung besar yang belum ada sebelummnya di jaman itu.

    “Sebuah kebanggaan yang besar bila aku terlibat dalam karya yang maha besar ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat memberikan dukungannya.

    Akhirnya pembicaraanpun semakin mendalam, semakin terinci . Mulai dari penempatan galangan, pencarian bahan kayu dan berlanjut kepada penggalangan prajurit yang akan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jung besar itu sendiri.

  24. “Prajurit air”, berkata Senapati Mahesa Pukat setelah merasa mengerti apa yang harus mereka lakukan mewujudkan impian Sri Maharaja membangun sebuah kerajaan air.

    “Sesuai petunjuk Sri Maharaja, di Benteng ini ada seorang Senapati yang tangguh, mantan seorang guru istana yang terpilih”, berkata Kebo Arema.

    “Sri maharaja terlalu memuji, mudah-mudahan sedikit ilmuku ini masih dapat berguna”, berkata Mahesa Pukat merendahkan dirinya. Diam-diam Kebo Arema menyukai Senapati muda dihadapannya yang rendah hati ini. Banyak hal keterangan yang telah diceritakan oleh Sri Maharaja tentang Mahesa Pukat kepadanya. Diantaranya kesaktian yang dimiliki oleh Senapati muda ini. Dan Kebo Arema meyakini cerita Sri
    Maharaja bukan Cuma isapan jempol belaka.

    Demikianlah, keesokan harinya Mahesa Pukat telah memerintahkan beberapa prajuritnya membangun beberapa bedeng darurat di pinggir sungai Brantas tidak jauh dari Benteng Cangu. Disitulah akan berdiri sebuah galangan tempat pembuatan sebuah jung besar, sebuah jung besar yang belum pernah tercipta di jaman itu sebelumnya.

    Pada hari itu juga, Kebo Arema telah memerintahkan Bhaya keponakannya itu untuk berangkat ke Curabhaya memanggil beberapa saudara mereka dari Suku Air. Pada jaman itu keahlian orang-orang Suku Air dalam pembuatan perahu memang tidak diragukan lagi. Mereka secara turun temurun telah mewarisi ilmu pertukangan pembuatan perahu terbaik.

    “Beberapa dari prajurit di benteng Cangu ini dapat dibentuk menjadi prajurit yang tangguh sesuai dengan medan yang akan mereka hadapi, baik di darat maupun dilautan. Merekalah yang kelak akan menjadi perwira utama yang akan menurunkan keahliannya kepada prajurit baru yang akan kita dapatkan dari beberapa daerah di Singasari ini”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Kebo Arema dan Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama di benteng Cangu.

    “Sebuah usaha yang baik. Pembentukan pasukan khusus akan menjadi lebih cepat”, berkata Kebo Arema menyetujui usulan Senapati Mahesa Pukat.

    Malam itu bulan tua bersembul di atas langit tepian sungai Brantas begitu indahnya. Langit bertaburan bintang menghiasi cakrawala raya. Empat buah obar menerangi tanah lapang ditepian sungai brantas. Kebo Arema, Kertanegara, Bhaya dan 20 orang saudaranya dari Suku Air tengah berkumpul melakukan upacara adat memohon perlindungan dan berkah dari para leluhur.

    “Pangeran”, berkata Kebo Arema. “Leluhur kami telah melarang keturunannya menurunkan ilmu pembuatan perahu kepada selain garis darah. Untuk itulah kami akan melakukan upacara penyatuan darah.Menjadikan Pangeran sebagai saudara kami”

    “Aku bersedia menjadi Saudaramu”, berkata Pangeran Kertanegara.

    Maka sebuah ritual kecilpun berlangsung khikmad. Diawali dari Kebo Arema memakan tiga helai daun cimeng yang diambilnya dari sebuah kotak kayu. Bergilir satu persatu memakan daun cimeng hingga berakhir pada Pangeran Kertanegara yang ikut mengambil tiga helai daun cimeng dan mengunyahnya.Setelah itu mereka meminum air tuak aren dari bumbung bamboo yang sama. Demikianlah mereka melakukan sebuah ritual kecil, mengikat Pangeran Kertanegara sebagai saudara sedarah.

  25. “Mulai hari ini, Pangeran adalah saudara kami. Tidak tabu lagi mengetahui rahasia pengetahuan kami”, berkata Kebo Arema Kepada Pangran Kertanegara.

    Demikianlah mereka memulai sebuah kerja, yang diawali dengan pembuatan sebuah galangan besar di tepian Sungai Brantas. Pangeran Kertanegara melihat sendiri bagaimana orang-orang suku air bekerja. Mereka benar-benar ahli dan pekerja keras. Siang malam bereka bekerja seperti tidak mengenal lelah. Memang sangat mengagumkan, hanya dalam waktu sepekan sebuah galangan besar telah berdiri dengan kokohnya di tepian sungai Brantas.

    “Aku sudah mendapatkan sepuluh prajurit pilihan, para calon perwira pasukan khusus pengawal jung besar”, berkata Senapati Mahesa Pukat kepada Pangeran Kertanegara pada suatu malam di pendapa utama Benteng Cangu. Hadir juga pada saat itu Kebo Arema. Atas penghormatan dan permintaan Mahesa Pukat, Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema tinggal bersama di Benteng Cangu.

    “Terima kasih, kami sudah membebankan paman Senapati”, berkata Pangeran Kertanegara.

    “Tugas yang tengah Pangeran pikul adalah kewajiban kami sebagai prajurit membantu sepenuh hati”, berkata Mahesa Pukat.

    Pangeran Kertanegara dan Kebo Arema mengakui dalam hati masing-masing, bahwa Senapati muda didepannya itu benar-benar mendukung sepenuh hati tugas yang tengah mereka emban. Sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Dalam setiap hal tidak ada yang tidak mereka bicarakan bersama, saling meminta pendapat dan jalan keluar bersama.

    “Galangan telah siap, pekerjaan kita selanjutnya adalah mencari bahan kayu pilihan, diantaranya adalah mendapatkan sebuah kayu jati merah sebagai pokok jung”, berkata Kebo Arema kepada Mahesa Pukat dan Pangeran Kertanegara.

    “Apakah ada syarat ketinggian tertentu dari pohon jati mereah itu ?”, bertanya Mahesa Pukat.

    “Kita harus mendapatkan kayu jati merah untuk tulang pokok”, berkata Kebo Arema.”Pohon jati merah yang kita cari harus melebihi ketinggian dua puluh meter”.

    “Sebuah Jung yang luar biasa besarnya”, berkata Mahesa Pukat membayangkan sebuah jung yang sangat besar yang belum pernah dilihatnya pada jaman itu.

    “Aku pernah menemui pohon jati merah setinggi itu di hutan Porong, besok kami akan mencarinya”berkata Kebo Arema. “Sementara untuk bahan kayu lainnya, seperti Kayu benuang dan ulin tidak begitu sulit, kita masih dapat mencarinya di hutan terdekat, tidak perlu persyaratan ketinggian tertentu sebagaimana pohon jati merah.

  26. Alhamdulillah, seminggu nggak sambang padepokan, dapat rapelan banyak.
    Matur nuwun Ki Kompor
    Matur nuwun P, Satpam.

    SUGENG ENJANG SEDOYO.

  27. Sugeng enjang sedoyo.
    Sampun dangu mboten sowan padepokan, poro pinesepuh sampun mbukak rontal kathah. Matur suwun Ki Kompor kaliyan P Satpam

  28. koyone enak nyangkruk neng kene………..

    kulo sowan ki Kompor

    • Sama…!

      koyone enak nyangkruk neng kene………..

      kulo sowan ki Kompor

      • kulo RawON ki Kompor,

  29. selamat SIANG kadang padepokan pak DALANG,

    cantrik haDIR…..(tetep pake gayaNe bang haji)

  30. cantrik hadir, matur nuwun

  31. Pagi itu dua buah jukung meluncur di atas sungai Brantas. Mereka adalah Kertanegara, Kebo Arema, Bhaya serta lima orang suku air saudara mereka.

    Ketika sampai dipertigaan sungai porong, mereka langsung berbelok arah dan tertelan jauh masuk kepedalaman sungai hutan porong.

    Mereka tidak menyadari, beberapa pasang mata tengah mengikuti perjalanan mereka.

    “berhenti !”, berkata Kebo Arema ketika mengingat sebuah tempat dimana pernah melihat banyak pohon jati merah tumbuh.

    Merekapun menepi , setelah menyembunyikan dua buah jukung jauh dari tepian sungai, mereka melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hutan porong sepertinya menelan mereka yang masuk kedalam hutan semakin kedalam, Sebuah hutan lebat yang jarang sekali didatangi orang. Disamping masih banyak binatang buas yang berkeliaran, konon hutan porong adalah hutan kerajaan para dedemit. Jarang sekali orang yang berani masuk ke hutan ini bila saja tidak ada keperluan yang mendesak.

    Akhirnya setelah lama mencari, masuk lebih dalam lagi di kelebatan hutan porong, merekapun menemukan apa yang mereka inginkan. Sebuah pohon jati merah dengan ketinggian lebih dari yang mereka duga sebelumnya. Bukan hanya tinggi dua puluh meter, bahkan lebih dari empat puluh meter dengan lebar batang dua kali pelukan orang dewasa .

    “Dengan pohon jati merah setinggi ini, tidak ada sambungan untuk tulang pokok jung kita”, berkata Kebo Arema gembira sekali menemukan sebuah pohon jati merah yang diharapkan.

    Tanpa diperintah, Bhaya langsung memanjat pohon jati merah itu. Begitu lincah Bhaya memanjat naik dari satu cabang ke cabang lainnya sampai keujung puncak cabang yang paling tinggi. Sebagaimana naiknya, Bhaya menuruni pohon Jati Merah itu juga lebih cepat lagi dibandingkan ketika memanjat.

    “Empat puluh tiga meter”, berkata Bhaya kepada Kebo Arema dengan gembiranya.

    “Kita persiapkan jalan”, berkata Kebo Arema kepada lima orang saudaranya yang langsung tahu apa yang harus mereka lakukan, yaitu membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mudah ditarik mendekati tepian sungai.

    Ketika mereka bekerja membuka jalan, penciuman Kertanegara yang tajam mencium bau aneh.

    “asap beracun!”, berkata Kertanegara mengingatkan semuanya untuk berhati-hati.

    Tapi peringatan Kertanegara telah terlambat, seorang suku air yang ada ditempat paling ujung telah menghisap asap beracun. Nafasnya seketika menjadi sesak, langsung roboh lemas ditempat. Sementara yang lain masih sempat menutup rapat penciuman mereka sambil menjauhi arah angin.

    Kertanegara langsung menerapkan ilmunya, sebuah angin deras meluncur kesegenap penjuru, membersihkan asap beracun.

  32. Dengan cepat pula mata Kebo Arema menemukan arah sumber asap, tubuh kebo arema seperti anak panah langsung meluncur kearah sumber asap beracun. Ternyata dugaan Kebo Arema tidak meleset. Ada sebuah tabunan api ditemukan masih menyala. Dengan cepat menutup tabunan api itu dengan tanah basah. Bara api itupun seketika padam. Mata kebo Aema mencoba menyusuri semak dan kepekatan hutan.

    “Mereka datang dari arah sungai”, berkata Kebo Arema kepada dirinya sendiri mencoba menerka siapa dan dari mana orang yang menyebarkan racun itu datang. Maka Kebo Arema langsung berlari kearah tepi sungai. Namun sudah terlambat, sebuah jukung sudah jauh meninggalkan tepian. Hanya punggung mereka yang masih terlihat jauh dan tidak mungkin dapat dikejar.

    Kebo Arema kembali ketengah hutan dengan hati berdebar, seorang saudaranya sudah terkena asap beracun.

    “Ia masih hidup”, berbisik Bhaya menenangkan perasaan Kebo Arema sambil menunjuk saudaranya yang tengah diberikan tetesan air rendaman kayu aji batu keling pemberian dari Empu Dangka yang selalu di bawa oleh Kertanegara.

    Ternyata kayu aji batu keeling sangat mujarab menawarkan segala jenis racun. Setelah beberapa tetes air rendaman Kayu Aji Batu Keling masuk lewat bibirnya, terlihat kulit tubuhnya yang semula putih pucat kembali memerah , napasnya kembali teratur seperti sedang tertidur nyenyak.

    Akhirnya mereka memutuskan untuk sementara menghentikan kegiatan kerja, menunggu saudara mereka sehat kembali.

    “Kita beristirahat disini, menunggu perkembangan kesehatan saudara kita”, berkata Kebo Arema meminta semuanya beristirahat.

    “Mulai sekarang kita harus selalu waspada, mereka tidak akan berhenti sampai disini”, berkata Kertanegara.

    “Dengan kejadian ini mataku sudah terbuka, ternyata ada juga orang Singasari yang tidak menginginkan kerja besar ini terwujud”, berkata Kebo Arema

    “Yang mereka inginkan adalah kegagalanku”, berkata Kertanegara

    “Apakah Pangeran sudah dapat menduga, siapa dibalik semua ini?”, bertanya Kebo Arema.

    “Sejauh ini aku sudah dapat menduga, siapa dan apa yang mereka inginkan”, berkata Kertanegara.

    Kebo Arema tidak mendesak siapa orang dibalik semua ini kepada Kertanegara. Ada sesuatu hal lain sehingga Kertanegara masih harus menyimpan rahasia siapa dibalik semua ini yang berusaha menggagalkan kerja mereka.

    Paherangi, demikian nama saudara mereka yang terkena racun terlihat bangun dan hendak bangkit berdiri.

  33. Selamat malam,
    sik asik, besok libur…………

  34. Malam Ki Kompor,
    Iya besok libur Isra Mi’raj.
    Mengenang perjalanan ritual Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
    Pada saat itu perintah Shalat turun.
    Shubanallah (Maha suci Allah).

  35. E lha kok malah lupa ngucapken terima kasih.
    Matur nuwun Ki kompor.

  36. cantrik hadir, matur nuwun, selamat Isra Mi’raj.

  37. Sugeng siang,
    selamat menikmati liburan.

  38. “beristirahatlah, jangan banyak bergerak”, berkata Kebo Arema sambil membantu Paherangi bersandar disebuah batang pohon.

    Malampun akhirnya datang berangsur menutupi hutan porong dengan kegelapan.

    “Biarlah aku dan Bhaya berganti jaga, tenaga kalian sangat diperlukan esok hari”, berkata Kertanegara meminta semuanya untuk beristirahat.

    “Bangunkan aku”, berkata Kertanegara kepada Bhaya yang mendapat tugas jaga pertama.

    Sepanjang malam tidak ada yang mengganggu mereka hingga sampainya datang pagi menjelang.

    Berdasarkan pengalaman hari pertama, maka mereka mulai mengatur siapa bekerja dan siapa yang harus berjaga.

    Sementara itu Paherangi yang terkena asap beracun sudah merasa sehat dan dapat bekerja kembali.

    “Terima kasih Pangeran”, berkata Paherangi yang sudah mengetahui siapa yang menyembuhkannya.”Tanpa Pangeran mungkin aku tidak dapat lagi memandang cahaya pagi hari ini”

    “Tidak perlu mengucapkan terima kasih, bukankah kita bersaudara ?”, berkata Kertanegara yang ikut merasa gembira melihat Paherangi sehat sebagaimana sediakala.

    Nampak terlihat mereka telah kembali bekerja, membuka hutan agar batang kayu jati merah dapat mereka keluarkan dari hutan. Sementara itu Bhaya yang mahir memanjat tengah membuang cabang pohon jati merah. Sebatang demi sebatang cabang ohon kayu jati jatuh terpangkas hingga akhirnya tinggal pokok batangnya saja yang masih berdiri menjulang tinggi.

    Setelah pembukaan jalan sudah dirasa mencukupi, merekapun secara bergantian mulai memotong pokok batang kayu jati merah. Tali tambang besarpun telah terikat di di batang pohon jati merah siap untuk ditarik. Sementara itu di sepanjang jalan telah ditebarkan balok kayu bulat yang berfungsi sebagai roda siap menggelinding manakala pokok batang kayu jati sudah rebah diatasnya.

    Kraak… bum !!!!

    Terdengar suara batang pohon jati merah jatuh kebumi dengan suara yang luar biasa kerasnya. Tanahpun terasa bergetar ketika batang pohon kayu jati merah yang besar itu rebah jatuh kebumi.

    Dan Akhirnya batang pokok kayu jati itupun sedikit demi sedikit bergeser sampai ditepian sungai.

    “Besok kita datang kembali mengambil beberapa cabang batang yang sudah terpangkas, pantang dipisahkan tulang pokok dan tulang rusuk jung harus berasal dari pohon yang sama”, berkata Kebo Arema kepada Kertanegara yang langsung menangkap dan mengerti batang pokok dan batang cabang yang akan ditatak nantinya sebagai tulang pokok dan tulang rusuk Jung.

  39. Dua buah jukung terlihat meluncur menarik batang pohon yang panjang. Arah arus sungai porong yang mengalir kearah sungai brantas sangat banyak membantu mempermudah kerja mereka. Namun ketika jukung mereka masuk kealiran sungai Brantas, mereka harus melawan arus. Tapi para suku air adalah pedayung ulung. Sepertinya mereka tidak merasakan kesukaran. Perlahan tapi pasti jukung mereka terus bergerak menuju Bandar Cangu tempat mereka telah mendirikan sebuah galangan besar ditepian sungai Brantas.

    Tapi semangat mereka seperti terbang.

    Terlihat galangan yang mereka kerjakan siang dan malam selama sepekan hari telah berubah menjadi tumpukan abu.

    “Kemarin malam ada yang membakar galangan kita”, berkata salah seorang dari suku air.”Api sudah membesar tidak mungkin lagi diselamatkan”.

    “Dimana kalian ketika kebakaran ini terjadi ?”, bertanya Kebo Arema menatap semua saudaranya dari suku air yang tidak ikut bersamanya ke hutan Porong mencari pohon Jati Merah.

    Semua saudaranya dari suku air Nampak tertunduk.

    “Sirep mereka begitu kuat, semua saudaramu tertidur. Kami sendiri datang terlambat, galangan sudah setengahnya terbakar api”, berkata Senapati Mahesa Pukat yang juga hadir di tempat itu menjelaskan dan meminta pengertian Kebo Arema untuk tidak menyalahkan sepenuhnya kepada saudaranya.

    “Siapapun mereka, tujuannya hanya satu untuk mematahkan semangat kita.Tunjukkan kepada mereka bahwa kita bukan orang yang gampang menyerah”, berkata Kertanegara memberi semangat.

    Ternyata kata-kata Kertanegara seperti siraman minyak mengobarkan api semangat di dada para suku air. Keesokan harinya mereka sudah bekerja kembali membuat galangan dengan penuh semangat, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka bukan orang yang gampang dipatahkan.

    Kejadian terbakarnya galangan di dekat Bandar Cangu itupun sebentar saja sudah menggema sampai kepelosok nagari. Semua orang membicarakannya. Beberapa orang bahkan mengaitkan kejadian itu dengan kosongnya singgasana di Kediri.

    “Ada yang ingin menjatuhkan nama Pangeran Kertanegara”, berkata seorang saudagar di sebuah kedai.

    Ternyata semua sudah diperhitungkan dengan masak oleh Pangeran Kertanegara. Jauh sebelum pembuatan galangan, Pangeran Kertanegara sudah menduga akan ada usaha yang menginginkan kegagalannya. Itulah sebabnya galangan pembuatan jung sengaja berada tidak jauh dari Bandar Cangu. Disitulah pusat berita. Dan nama Pangeran Kertanegara telah menjadi pusat berita, usaha pembakaran galangan menyuburkan rasa simpatik dari banyak orang. Siapapun yang lewat di tepian Brantas itu pasti akan melambaikan tangannya, sepertinya ingin mengatakan agar terus bekerja dan jangan mundur. Dan orang-orang suku air sepertinya ikut merasa tersanjung, merasa bangga bekerja bersama pahlawannya Sang Putra Mahkota.

  40. “Gila !!”, berkata seorang yang beralis tebal disebuah kedai di Bandar Cangu sambil menggebrak meja. Tiga orang kawannya Nampak terdiam penuh rasa gentar menghadapi seorang didepannya yang nampaknya seperti pimpinan mereka.

    Sementara dikedai itu sedang sepi pengunjung, cuma ada mereka berempat saja. Pemilik kedai saat itu tidak terlihat, mungkin sedang sibuk di dapur belakang.

    “Usaha kita berbalik arah, usaha kita bahkan telah menjual namanya melambung tinggi”, kembali orang itu berkata yang ditanggapi oleh ketiga kawannya dengan menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.

    Salah seorang dari mereka terlihat lebih berani dibandingkan kedua kawannya mengangkat kepalanya. “Harusnya kita tidak cuma membakar, tapi menghabisi mereka semua disat sirep kita bekerja”.

    “Bagus !”, berkata pemimpin mereka sepertinya mendapatkan rencana baru.

    Seekor elang terus berputar di padang perburuannya. Sekali-kali mengepakkan sayapnya yang panjang. Matanya yang tajam terus mengawasi, menanti saat yang tepat dan cepat untuk menukik menyambar mangsanya yang lengah.

    Suara pekik elang jantan kadang menggetarkan dada.

    Gema terbakarnya sebuah galangan di tepian sungai Brantas juga telah terdengar jauh sampai ke Padepokan Bajra Seta.

    “Mudah-mudahan kehadiran kalian dapat memberikan dukungan bagi Pangeran Kertanegara.Sampaikan salamku kepadanya”, berkata Mahesa Murti ketika melepas Raden Wijaya, Mahesa Amping dan Lawe yang akan berangkat ke Bandar Cangu.

    Dengan menghela napas panjang, Mahesa Murti memandang punggung tiga anak muda diatas kudanya yang menghilang berbelok terhalang dinding Padepokan. Terbayang masa mudanya bersama Mahesa Pukat melanglang dunia. Mengembara dari satu tempat ketempat lainnya, merasakan angin segar di tengah padang ilalang, mencium bau tanah merah di perbukitan hijau. “Masa muda yang indah”, berkata Mahesa Murti kepada dirinya sendiri masih memandang jauh kedepan melampaui pintu gerbang Padepokannya.

    “Sudah lama kita tidak melakukan perjalanan jauh”, berkata Raden Wijaya. Nampak wajahnya begitu ceria. “Mari kita berpacu sampai diatas puncak bukit”, berkata Raden Wijaya sambil mengepak perut kudanya agar berlari lebih cepat lagi.

    Mahesa Amping dan Lawe tidak ingin tertinggal, merekapun menghentakkan kudanya berpacu mengejar Raden Wijaya yang sudah lebih dulu memacu kudanya.

    Terlihat tiga ekor kuda berlari berpacu diatas tanah bulakang panjang, membelah padang ilalang dan terlihat semakin jauh mendekati bukit kecil.

  41. Diatas puncak bukit mereka berhenti sebentar, menengok kebelakang memandang sawah dan ladang yang terhampar. Sepertinya mereka bertiga mempunyai perasaan yang sama, suara rindu para cantrik Padepokan Bajra Seta nun jauh diujung seberang sawah dan ladang yang terhampar indah seakan memanggil mereka, mengucapkan selamat jalan.

    “Aku akan selalu merindukanmu”, berkata Lawe sambil melambaikan tangannya.

    Mahesa Amping dan Raden Wijaya hanya tersenyum melihat laku Lawe, diam-diam mereka juga mempunyai perasaan yang sama, sebuah kekosongan hati meninggalkan tempat yang menyenangkan bersama dalam persaudaraan dan kegembiraan hari-hari di Padepokan Bajra Seta yang tenang dan sejuk, sesejuk senyum cerah para warganya. Dan mereka bertiga akan pergi jauh untuk waktu yang lama.

    Ketika menuruni bukit kecil itu, mereka tidak lagi memacu kudanya. Dibiarkan kaki kuda melangkah berjalan sendiri menuruni bukit. Masing-masing terdiam hanyut dalam angan pikirannya sendiri hingga tidak terasa mereka telah ada di tepi hutan kecil.

    Itulah awal perjalanan mereka. Sebuah awal pengembaraan mereka yang panjang menapaki liku jalan kehidupan yang tidak selalu datar. Lembaran perjalanan mereka diwarnai dengan canda dan tawa, tapi terkadang sangat begitu mencekam seperti menyusuri tepian jurang panjang ditengah malam dalam kepungan puluhan senjata tajam.

    Senja itu mereka tengah menyusuri jalan disebuah Padukuhan, tengah mencari sebuah Banjar Desa untuk bermalam. Tiba-tiba saja puluhan orang datang dari depan dan belakang membewa berbagai macam senjata.

    “Berhenti !!”, berkata seorang yang bertubuh tegap berkumis tebal dengan senjata golok besar telanjang ditangannya.

    Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe segera turun dari kudanya.

    “Beginikah sikap kalian menerima setiap orang asing yang datang di kampungmu?”, berkata Lawe yang merasa tidak menyukai sikap orang-orang dusun yang mengepung dan mengancamnya.

    “Jangan banyak bicara, menyerahlah”, berkata kembali orang itu dengan suara keras.

    “Apa kesalahan kami ?”, bertanya Lawe tidak kalah keras suaranya sepertinya tidak sabaran.

    “Jangan berpura-pura, kalian pasti ingin kembali mencuri sapi kami”, berkata orang itu

    “Darba, jaga sikapmu”, tiba-tiba muncul menyeruak dari kerumunan banyak orang, seorang lelaki sudah berumur namun tubuhnya masih begitu tegap dan berotot.

    “Ki Jagabaya, mereka adalah pencuri”, berkata orang yang berkumis tebal yang dipanggil Darba oleh Ki Jagabaya yang baru saja datang menghampiri mereka.

  42. “sudah kubilang, jaga sikapmu !”berkata Ki Jagabaya kepada Darba yang sepertinya tidak menerima sikap Ki Jagabaya.

    “Maafkan kami anak muda, kemarin malam di padukuhan ini telah kecurian tiga ekor sapi. Wajarlah bila semua orang disini menjadi curiga kepada orang asing”, berkata Ki Jagabaya menjelaskan kepada Lawe, Raden Wijaya dan Mahesa Amping dengan sikap yang santun.

    “Kami hanya pengembara, rencananya kami ingin menumpang bermalam di Banjar Desa. Namun dengan kejadian ini, biarlah kami bermalam ditempat lain”, berkata Mahesa Amping.

    “Jangan biarkan mereka lepas, mereka harus dihukum”, berkata Darba sambil mengangkat golok besarnya.

    “Benar, mereka harus dihukum”, berkata dua orang yang berdekatan dengan Darba.
    Sementara beberapa orang padukuhan sepertinya meresa segan dengan Ki Jagabaya, mereka hanya berdiri menunggu dalam keraguan.

    Tiba-tiba saja muncul tiga orang pemuda mendekati Ki Jagabaya.

    “Orang asing ini bukan pencurinya, sejak kemarin kami sudah tahu siapa pencurinya”, berkata salah seorang pemuda yang mendekati Ki Jagabaya.

    “Kamu tahu siapa pencurinya ?”, bertanya Ki Jagabaya kepada pemuda itu.

    “Maafkan aku, waktu itu aku takut ayah akan berhadapan dengan orang itu”, berkata pemuda itu.

    “Apakah saat ini kamu masih takut menyebut nama pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya.

    “Rasa takutku telah hilang, melebihi rasa takut bila ayah salah menghukum orang asing ini”, berkata Pemuda itu.
    “Katakan siapa pencuri itu”, berkata Ki Jagabaya tidak sabaran.

    “Darba dan dua temannya itu”, berkata pemuda itu sambil menunjuk Darba dan dua orang yang ada didekatnya.
    Semua mata memandang Darba dan dua orang temannya.

    “Anak setan, jangan bicara sembarangan”, berkata Darba dengan marahnya. Wajahnya berubah semakin beringas.

    “Kemarin malam kami mengikutimu sampai keujung hutan, disanalah kalian menyimpan sapi-sapi itu”, berkata pemuda itu.

    “Anak setan, kurobek mulutmu”, berkata Darba sambil melangkah mengacungkan golok besarnya.

  43. “Aku yakin anakku tidak berbohong, sudah lama aku mencurigai kalian bertiga”, berkata Ki Jagabaya sambil menghadang langkah Darba.

    “Rupanya anakmu masih berotak, takut ayahnya yang sudah tua tidak akan mampu menghadapi kami bertiga”, berkata Darba langsung menyerang Ki Jagabaya.

    Ternyata Ki Jagabaya meski sudah berumur masih mampu bergerak lincah. Dengan bergeser kesamping menghindar tusukan golok besar Darba, Ki Jagabaya langsung menyerang balik dengan sebuah sabetan tombak pendek bermata dua yang merupakan senjata andalannya.

    Maka terjadilah pertempuran yang seru antara Darba dan Ki Jagabaya. Semua mata memandang penuh rasa khawatir, apakah Ki Jagabaya yang sudah tua akan dapat menandingi Darba yang bertubuh tegap yang terlihat begitu ganas dan keras melakukan serangannya.

    Mahesa Amping yang mengikuti pembicaraan pemuda yang ternyata putra Ki Jagabaya memberi tanda kepada Lawe untuk bersiap menjaga segala kemungkinan dua orang kawan Darba berbuat kecurangan. Ternyata dugaan Mahesa Amping terbukti, dua orang kawan Darba telah bersiap maju mendekati pertempuran. Mahesa Amping dan Lawe maju menghadang mereka.

    “Kurang enak dipandang, orang tua di keroyok tiga orang sekaligus”, berkata Mahesa Amping kepada salah seorang yang berkulit hitam pekat.

    “Sedari tadi aku sudah tidak sabar untuk mencincangmu”, berkata orang yang berkulit hitam pekat itu sambil mengayunkan pedang besarnya kearah kepala Mahesa Amping yang langsung mengelak dengan gerakan seenaknya. Bukan main marah dan penasarannya orang itu melihat ayunan pedangnya lolos tipis dari sasarannya. Ternyata Mahesa Amping tidak langsung menunjukkan tataran ilmunya, berpura-pura mengelak dengan gerakan seadanya. Semakin geram dan penasaran orang itu untuk menyelesaikan pertempurannya.

    Sementara itu Lawe sudah berhadapan dengan seorang lagi teman Darba yang berwajah menyeramkan, ada bekas luka codet di sepanjang garis pipinya.

    Tidak seperti Mahesa Amping, Lawe tidak sabaran menghadapi lawannya yang berwajah seram itu. Ketika sebuah bacokan mengarah dari atas kepalanya. Dengan kecepatan yang tidak dapat dipercaya oleh lawannya, Lawe bergeser memiringkan badannya. Dan senjata lawan lewat hanya beberapa inci dari tubuh Lawe.

    Orang itu seperti terbelalak tidak percaya, sebuah tamparan yang keras menghantam tangannya yang masih menggenggam pangkal pedang. Tulang tangannya seperti patah dan pedih, tidak terasa pedangnya telah terlepas. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, entah dari mana datangnya serangan, yang dirasakannya tengkorak kepalanya seperti terhantam benda berat. Seketika itu juga orang yang berwajah menyeramkan itu roboh pingsan.

    Orang-orang Padukuhan seperti tidak percaya dengan penglihatannya. Orang yang berwajah seram yang memang baru beberapa minggu ini tinggal di rumah Darba telah dapat dirobohkan dengan cepat oleh seorang pemuda asing yang sebelumnya dituduh sebagai seorang pencuri.

  44. Raden Wijaya hanya tersenyum melihat Lawe yang dengan cepat merobohkan lawannya. Pandangannya masih tetap ke pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Menjaga hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin dapat saja terjadi. Namun sekali-kali masih menengok pertempuran Mahesa Amping yang terlihat seperti orang bodoh menghindari serangan lawannya.

    Sebagaimana yang dilihat oleh Raden Wijaya, Ki Jagabaya ternyata masih mampu mengimbangi serangan Darba yang keras dan ganas. Mereka sepertinya berpacu meningkatkan tataran ilmunya. Pertempuran menjadi begitu sengit. Masing-masing ingin selekasnya menyelesaikan pertempuran.

    Akhirnya sedikit kelengahan telah menguntungkan posisi Ki Jagabaya. Darba lengah tidak menyadari bahwa tombak pendek Ki Jagabaya bermata dua. Ketika sebuah serangan dari Ki Jagabaya meluncur mengarah perutnya, dengan angkuh Darba mencoba menghantam tombak pendek itu dengan golok besarnya sekuat tenaga dengan keyakinan tombak pendek itu pasti terlempar. Ternyata tombak pendek itu berubah arah. Mata tombak yang lain berubah berputar menukik pangkal paha Darba. Darah memuncrat dari pangkal paha yang tercabik mata tombak Ki Jagabaya yang langsung mencabutnya dan melompat beberapa jarak.

    Rasa pedih dan perih dirasakan darba pada pangkal pahanya yang tertembus mata tombak Ki Jagabaya. Kaki kanannya seperti lumpuh.

    “Mata tombakku mengandung racun yang tajam, menyerahlah, aku punya penawarnya”, berkata Ki Jagabaya menawarkan Darba untuk menyerah.

    Darba yakin Ki Jagabaya tidak berbohong. Apalagi ketika dirasakan badannya ikut menggigil.

    “Aku menyerah”, berkata Darba sambil melemparkan golok besarnya.

    Sementara itu, Mahesa Amping juga melihat akhir pertempuran Ki Jagabaya dan Darba. Maka ada pikiran untuk menyelesaikan pertempurannya yang lebih tepat disebut permainan. Karena Mahesa Amping selama itu hanya melompat dan berlari menghindari setiap serangan dengan gerakan seperti orang bodoh yang membuat lawannya bertambah penasaran.

    Mahesa Amping memang sudah jemu bermain. Ketika sebuah bacokan meluncur dari arah atas kepala, Mahesa Amping tidak menghindar. Dengan memperhitungkan kekuatan dan kecepatan luncuran pedang, Mahesa Amping telah menghentikan laju pedang itu dengan menjepitnya dengan dua buah jari tangannya. Dengan tersenyum Mahesa Amping memandang lawannya yang berusaha menarik sekuat tenaga pedangnya agar terlepas dari jepitan Mahesa Amping yang begitu kuat. Bahkan tidak malu lagi menariknya dengan kedua tangannya. Akibatnya pun jadi sungguh memalukan, orang itu jatuh duduk ditanah terlempar tenaganya sendiri karena dengan cepat Mahesa Amping telah melepaskan jepitan jarinya.

    “Menyerahlah, dua orang temanmu sudah tidak berdaya”, berkata Mahesa Amping dengan sikap tidak seperti orang bodoh lagi. Wajahnya berubah seperti penuh wibawa dan angker.

  45. Ternyata orang yang berwajah hitam pekat itu telah menyadari dengan siapa ia berhadapan. Bagaimana dengan dua buah jari lawannya dapat menahan dan menjepit pedangnya. Disamping itu ia telah melihat dua orang kawannya sudah tidak berdaya.

    “Aku menyerah”, berkata orang itu sambil melempar pedangnya.

    “Bawa mereka ke rumah Ki Buyut”, berkata Ki Jagabaya kepada beberapa orang yang langsung mengikat Darba dan dua orang kawannya.

    “Terima kasih, apa jadinya diriku yang tua ini bila sampai dikeroyok tiga orang begundal itu”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Lawe dan Raden Wijaya.
    “Tanpa kehadiran Ki Jagabaya, mungkin kami sudah dicincang habis warga Padukuhan”, berkata Mahesa Amping.

    “Ternyata aku berhadapan dengan orang muda yang telah dapat menguasai diri. Sebelum dicincang kalian sudah lebih dulu membantai seluruh orang padukuhan. Terima kasih kalian tidak melakukannya”, berkata Ki Jagabaya.

    Akhirnya Ki Jagabaya mengajak mereka ikut bersama kerumah Ki Buyut untuk ikut menjadi saksi.

    Hari sudah jauh menjadi malam, manakala mereka sampai dirumah Ki Buyut. Ki Jagabaya pun menceritakan apa sebenarnya yang telah terjadi. Darba dan dua orang kawannya tidak dapat mengelak lagi, mereka mengakui semua perbuatannya.

    “Bermalamlah dirumahku, aku masih punya persediaan ketela yang baru tadi siang dicabut”, berkata Ki Jagabaya kepada Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe ketika urusan dengan Darba dan dua orang kawannya dianggap telah selesai. Masalah hukuman apa yang pantas bagi mereka telah diserahkan sepenuhnya kepada Ki Buyut.

    Akhirnya Mahesa Amping, Raden Wijaya dan Lawe tidak menolak tawaran Ki Jagabaya.

    Sebagaimana yang dijanjikan, Ki Jagabaya telah menjamu mereka dengan ketela rebus yang baru dicabut lengkap dengan kelapa parut mudanya. Apalagi yang menjadi teman minumnya segelas hangat wedang sare lengkap dengan gula batu merahnya.

    “Pwenake pwoall”, berkata Lawe sambil menyerumput wedang sare hangatnya.

    • waduh……
      banjir…..
      kamsia………
      tapi…, ini seharusnya sudah masuk ke gandok 3 ki.

      • He……….he………..he…………..
        kesel kesel kebanjiran, uenake puwooolllll.

        Kula hadir Ki Ajar pak Satpam.

  46. Gandok e full tenan

  47. Wah Ki Kompor nggak jadi liburan, malah lembur.
    Matur nuwun Ki,
    Situ Cipondoh meluap.


Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: