Terima kasih atas kebersamaannya selama ini. satu babad telah kita jalani bersama.
saatnya menanti gandhok anyer babad baru singasari, Ki Arema enggak perlu takut kontrak perannya selama ini, masih sebagai orang pertikelir yang dipekerjakan oleh kerajaan membantu Raden Wijaya dan Ranggalawe menjalankan bisnisnya antar pulau di nusantar.
ciaatttttttt !!! (bersalto tiga kali dan turun dengan ringannya seperti bulu ayam melayang jatuh ke bumi)
ciaatttttttt !!! ciaaaaattttt…..????
(bersalto tiga kali mengikuti kemana langkah membawa pak Dalang malem ini, bersalto tiga kali kembali dan turun dengan RIANG-nya seperti anak burung digendong INDUKnya)
Satu babak cerita telah selesai. Babak baru siap dimulai, semoga kebaikan tidak hanya dalam cerita, namun menjelma dalam kehidupan Ki Dalang khususnya dan sanak kadang padhepokan pada umumnya. Amiin…….tidak lupa Matur suwuuuuuuuuuun
rontal kedua “Kabut diatas Singasari” sudah siap, hehehe (langsung terbang melesat menghilang)
Ki Gundul pasti tidak mampu membayangi Mahesa Kompor yang telah menerapkan ilmu meringankan tubuhnya nyaris diatas kesempurnaan, hehehe…………wingggggg !!!! saking cepatnya sampe terdengar seperti sukhoi terbang melintas langit pelabuhan ratu, hehehe
“Utusan Kaisar sama derajatnya menghadap kaisar itu sendiri, maafkan bila kami tidak berlaku hormat kepada utusan Kaisar Kubilai Khan”, berkata Raden Wijaya sambil menjura penuh hormat kepada Mengki yang ternyata adalah seorang utusan Kaisar Kubilai Khan, sebuah nama yang saat itu sangat menggetarkan hati para raja-raja didunia. Hampir separuh dunia telah ditaklukkan oleh pasukannya yang terkenal kuat dan sangat berani di segala medan pertempuran. Pasukan Burma dengan pasukan gajahnya pernah hancur lebur luluh lantak dihancurkan oleh pasukan Kubilai Khan.
dalam hitungan DETIK cantrikpun melesat terbang, menghampiri
pak Dalang KOMPOR…..miniti jejak jalur evakuasi para personil “baret merah” yang tergabung dalam tim SAR.
2 bayangan saling kejar mengejar, melesat ringan diantara pohon2
di atas bukit kecil :
pak Satpam hanya bisa geleng2 menyaksikan kemapanan elmu
cantrik GunduL dan pak Dalang.
Mohon maaf…..
satpam seharian kesana-kemari sehingga tidak sempat sambang padepokan.
datang sudah malam, langsung sim salabim, padepokan Kabut di Bumi Singosari dan gandok pertama KDBS-01 langsung jadi dan bisa digunakan untuk membaca rontal-rontal yang jatuh dari Situ Cipondoh.
monggo….
Terima kasih atas kebersamaannya selama ini. satu babad telah kita jalani bersama.
saatnya menanti gandhok anyer babad baru singasari, Ki Arema enggak perlu takut kontrak perannya selama ini, masih sebagai orang pertikelir yang dipekerjakan oleh kerajaan membantu Raden Wijaya dan Ranggalawe menjalankan bisnisnya antar pulau di nusantar.
ciaatttttttt !!! (bersalto tiga kali dan turun dengan ringannya seperti bulu ayam melayang jatuh ke bumi)
ciaatttttttt !!! ciaaaaattttt…..????
(bersalto tiga kali mengikuti kemana langkah membawa pak Dalang malem ini, bersalto tiga kali kembali dan turun dengan RIANG-nya seperti anak burung digendong INDUKnya)
Alhamdulillah
telah selesai satu judul cerita dari Pak Dhalang “Kompor” Sandikala.
dan sedang menanti babak selanjutnya dengan cerita baru.
satpam yakin pasti lebih seru
sedang dipikirkan, covernya seperti apa
ada usul………
Satu babak cerita telah selesai. Babak baru siap dimulai, semoga kebaikan tidak hanya dalam cerita, namun menjelma dalam kehidupan Ki Dalang khususnya dan sanak kadang padhepokan pada umumnya. Amiin…….tidak lupa Matur suwuuuuuuuuuun
SFBDBS-13 sudah dibundel dan ditata di tempatnya.
Sedang mengumpulkan “Uba-rampe” pembuatan anak padepokan baru : “KABUT DI BUMI SINGASARI”
Dog…… !!!, SFBDBS ditutup
namun, sanak-kadang yang masih ingin bergojeg masih diperkenankan, sambil menunggu siapnya anak padepokan baru.
satpam
Satpam coba buat cover Kabut di Bumi Singosari kok huelek….., adakah yang bisa bantu?
terima kasih ki dhalang, …
terima kasih ki satpam, …
terima kasih para bebahu, …
siap menunggu dibukanya gandhok baru “kdbs”, …
matur nuwun
tetap semangat menanti
tutuge
rontal pertama “kabut di bumi Singasari” sudah siap menggelinding menunggu poster besar yang lagi dibuat oleh Pak Satpam.
tok-tok-tok….tok-tok-tok
terdengar Pak satpam tengah memukul palu hehehe
Hikksss,
pak Satpam kalah TRENGGInas….(hayoOO pak Satpam)
rontal perdana pak Dalang KOMPOR, kemrinGET pengen
cepet2 “methungUL”
rontal kedua “Kabut diatas Singasari” sudah siap, hehehe (langsung terbang melesat menghilang)
Ki Gundul pasti tidak mampu membayangi Mahesa Kompor yang telah menerapkan ilmu meringankan tubuhnya nyaris diatas kesempurnaan, hehehe…………wingggggg !!!! saking cepatnya sampe terdengar seperti sukhoi terbang melintas langit pelabuhan ratu, hehehe
Hup,…..baru nyampe !!??
cantrik belom siap ngucap mantra elmu sepi angin…..bayangan
pak Dalang hilang dari pandangan, hehee5x
rontal ketiga “KABUT DI BUMI SINGASARI”sudah siap
sekelumit penggalannya :
“Utusan Kaisar sama derajatnya menghadap kaisar itu sendiri, maafkan bila kami tidak berlaku hormat kepada utusan Kaisar Kubilai Khan”, berkata Raden Wijaya sambil menjura penuh hormat kepada Mengki yang ternyata adalah seorang utusan Kaisar Kubilai Khan, sebuah nama yang saat itu sangat menggetarkan hati para raja-raja didunia. Hampir separuh dunia telah ditaklukkan oleh pasukannya yang terkenal kuat dan sangat berani di segala medan pertempuran. Pasukan Burma dengan pasukan gajahnya pernah hancur lebur luluh lantak dihancurkan oleh pasukan Kubilai Khan.
SiiiiPPPP,
sPOIler rontal KdBM “terasa mendeBARkan”…..Asikk, Asiiikkk
Wuuusssh,
dalam hitungan DETIK cantrikpun melesat terbang, menghampiri
pak Dalang KOMPOR…..miniti jejak jalur evakuasi para personil “baret merah” yang tergabung dalam tim SAR.
2 bayangan saling kejar mengejar, melesat ringan diantara pohon2
di atas bukit kecil :
pak Satpam hanya bisa geleng2 menyaksikan kemapanan elmu
cantrik GunduL dan pak Dalang.
Mohon maaf…..
satpam seharian kesana-kemari sehingga tidak sempat sambang padepokan.
datang sudah malam, langsung sim salabim, padepokan Kabut di Bumi Singosari dan gandok pertama KDBS-01 langsung jadi dan bisa digunakan untuk membaca rontal-rontal yang jatuh dari Situ Cipondoh.
monggo….
waduh pak Dalang, ini pak Satpam sudah siap, kami juga sudah siap, monggo