PBM-13

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 16 Juli 2010 at 12:04  Comments (90)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/pbm-13/trackback/

RSS feed for comments on this post.

90 KomentarTinggalkan komentar

  1. 🙂

    • haa…baru kali ini aku bs hadir pertama, 😀

      • Hiks ….
        Nama pertama yang muncul ,,,,,,,,,,,,,,

        • he he …
          Pak De Ki Widura
          Selamat malam

          • Sugeng siang Ki ., ki Wid, Ki Satpam , sedaya cantrik dan mentrik.
            Tumut antri teng mriki injih……

          • Selamat malam Pangeran Satpam (P. Satpam) ….
            Selamat tidur semua Kisanak

          • Eh… Selamat siang Pak De Ki Widura

            Belom bisa bobo, banyak tugas nih.

      • wah iki mesti Ni/Nyi Titik..
        nggih ta?

        • bukan ki samy..
          ini cantrik baru tanpa nama,hiks.. 🙂

  2. Selamat pagi…

  3. Hmmm….

  4. selamat siang.
    netepi wajib, … antri, …
    akhir-akhir ini bukaan gandhoknya tengah hari.
    apakah sudah berganti jadual ki ???

  5. S.U.A.P. ????

    Khotbah di Masjid tempat saya sholat Jum’at tadi, sang Khotib membahas masalah suap. Di sini lelonojagad nggak akan mengulas isi khotbah. Tapi saya punya ‘dagelan’ tentang suap. Nah mari kita mendagel.

    Setelah proyek beranggaran multitrilyun selesai, Bapak Direktur Pejabat Tinggi Berselon Negeri (disingkat: Bapak Dipateni) dari suatu departemen yang menangani proyek multitrilyun itu kedatangan seorang tamu wakil dari kantor pusat perusahaan pemenang tender.

    Tamu (T): “Yang terhormat Bapak Dipateni, perusahan kami telah menyiapkan cendera mata buat Bapak. Mobil Mercedes S 320 saya parkir di lantai basement.”

    “Anda mau menyuap saya ya? Ini apa-apaan? Proyek sudah selesai, sudah jangan macam-macam. Ini suap. Dilarang. Hari gini masih mau ngasih-ngasih hadiah. Apa kata dunia.” Demikian dengan suara cukup keras, supaya di dengar oleh orang-orang yang berada di ruangan itu, Sang Direktur Pejabat Tinggi Bereselon Negeri berteriak menirukan slogan dari sebuah instansi.

    (T): “Tolonglah Bapak, diterima saja ya, karena kalau tidak, saya dianggap telah gagal membina relasi oleh kantor pusat.”
    “Ah, jangan gitu dong. saya nggak sudi!!. Ini adalah suap. D.I.L.A.R.A.N.G.“, kata Sang Dipateni tegas sambil meradang.

    Sang Tamu sambil berfikir: “Gini aja, pak. bagaimana kalau bapak beli saja mobilnya……..”
    (D): “Gila kau….. Mana mungkin, mana saya ada uang untuk membeli mobil yang mahal itu!!”

    Sang tamu dengan hpnya segera menelpon kantor pusatnya.
    (T): “Saya ada solusi. Bapak beli mobilnya dengan harga sepuluhribu saja.”
    (D): “Gila lagi kau, nggak mungkin itu, mana ada mobil mewah seharga sepuluhribu”

    (T): Ah gampang Pak, itu bisa diatur”
    (D): Bener ya? OK, saya mau. jadi ini bukan suap. pake kwitansi ya……Harus pake kwitansi”
    (T): “Tentu, Pak..”

    Kemudian sang tamu menyiapkan dan menyerahkan kwitansi. Bapak Dipateni membayar dengan uang limapuluh ribuan. mereka pun bersalaman.

    Sang Tamu sambil membuka dompetnya, berkata: “Oh, maaf Pak. ini kembaliannya empatpuluhribu.”
    (D): “Gak usah pakai kembalian segala. Tolong kirim saja empat mobil lagi yang serupa ke rumah saya ya…… Dan ini alamatnya”

    (T): “… ???@??#$??%??^-^??&*??”

    Pertanyaan:
    Dapatkah Sang Direktur Pejabat Tinggi Bereselon Negeri alias Bapak Dipateni disalahkan, karena “menerima suap” ??? Sebagai tindakan melawan hukum ?????

    Ayo siapa yang bisa menjawab ???

    • bukan menerima suap Ki tapi membeli “suap” demi “sesuap” mobil dan “sesuap” kenikmatan

      ah embuhlah..saya sedang “menyuap-i” anak saya yang kecil, dari tadi sudah rewel terus..

      selamat siang..

      • Ya jelas nggak bisan Ki, wong sudah dipateni, bisanya ya dikubur,… masak orang mati masih mau disuapi.,,,,, apa kata dunia ?

    • =====
      Pertanyaan:
      Dapatkah Sang Direktur Pejabat Tinggi Bereselon Negeri alias Bapak Dipateni , karena “menerima suap” ??? Sebagai tindakan melawan hukum ?????

      Ayo siapa yang bisa menjawab ???
      =====

      bisa ki, di negeri ini apapun bisa terjadi. tidak peduli salah apa benar, keduanya bisa disalahkan.

      • Yuuuup, ini baru jwaban yang WASKITA tenan.

  6. kulo mboten jawab, jer mboten saget, duit sak moten nek didukokno pbm entuk pirang buku?

    • mung entuk siji Ki, genah neng jero PBM wonten Mercy-ne…

      ngapunten

  7. Wah gayeng tenan masalah suap-menyuap yang kebangeten ya bangsa kita lha wong sudah merdeka lebih dari 60 tahun kok ya masih mau disuapin. Ntar terakhirnya minta nenen lagi.
    Selamat sore Saudaraku.

  8. Bukan main !!!
    Masalah s.u.a.p. menjadi topik hari ini.

    Pertanyaan:

    Dapatkah Sang Direktur Pejabat Tinggi Bereselon Negeri alias Bapak Dipateni disalahkan, karena “menerima suap” ??? Sebagai tindakan melawan hukum ?????
    Ayo siapa yang bisa menjawab ???

    Nah berikut Analisis Kang Gendeng Pungkasan

    Beliau Kang Gendeng Pungkasan (bukan ki giendeng lho) adalah seorang “ahli dan pakar hukum” yang berprofesi sebagai pengacara (istilah Bahasa Inggris Kunonya lawyer. Pengacara, karena Kang Gendeng Pungkasan adalah seorang Pengangguran yang sok banyak acara), dan berhubung kuliahnya bukan di fakultas hukum, maka dia bukan dan tidak menggunakan gelar SH apalagi LLM, Wong hanya lulusan fakultas yang kuliahnya di bawah rumpun bambu, jadi dia ya pokrol bambu. Hebatnya, kalau dia lagi jadi pengacara kasus korupsi yang melibatkan banyak pihak, selalu menang, apalagi jika gendeng-gendengnya pas lagi kumat.

    Nah berikut pendapatnya:

    Bapak Dipateni “membeli” mobil mewah itu dengan harga sepuluhribu.
    Harga itu telah disepakati antara penjual (perusahaan pemenang tender) dan pembeli (Bapak Dipateni), dengan demikian akad jual beli adalah sah.

    Karena akad jual beli sudah sah, maka “transaksi” itu tidak dapat dikatakan “tindakan melawan hukum ‘menerima suap’”.

    Nah, bagaimana mungkin dapat disebut suap????

    Mendengar komentar begitu, ya lelonojagad cuman membatin: “Lha ya wis, kepriben maning, namanya juga pengacara Kang Gendeng Pungkasan yang “pokrol bambu” lagi ndagel; dan lagi gendengnya pas lagi kumat, ya wis kang gendeng biar gendeng terus. Kita-kita ini masih waras. Jadi sing waras ngalah.

    He he he he Apa kata dunia

    Selamet sore, sebentar lagi matahari terbenam, segera kita mensucikan diri. Sudah terdengar dari masjid sebelah rumahku, orang (yang bukan kaset) sedang mengaji.

    Yang terjemahannya :

    Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. [Al Baqarah (2):188].

    Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata: “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikanNya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. [An Naml (27):36].

    Maha Benar Allah dengan segala FirmanNya.

    Sajadah pun telah digelar kembali. Sholat Maghrib sesaat lagi.

    • Ha..ha..haaa..!

      • ..O..Maaf Ki..salah kamar !!

        • He he he he he he

          Ki Kartojudo nih pancen senengnya blusukan, lha kamarnya siapa kok ya dimasukkin….

          He he he he maning. Selamat pagi menjelang siang Ki.
          Sedang sibuk Ki ?

          • Hiks…Sugeng enjing ugi Ki Lelono….
            kulo nembe ndangir niki…

    • Ki Lelono, …….. terima kasih dengan lelucon2 yang berwawasan, semoga banyak bermanfaat bagi Jagad Padhopokan ini.
      Ki Karto apa khabar? Kapan ke Bekasi lagi, di Bekasi sekarang ada Nasi Gandul lho!
      Ki Ismoyo, ……… sugeng rawuh, mugi karahayon ingkang tansah pinanggih.
      Ki Arema, ………. gimana setelah mantu, kapan punya cucunya?

      • Ngapunten Ki, Ki Arema hari ini katanya tidak mau diganggu.

        Tetapi, Ki Arema sering grenengan: “bagaimana mau segera punya cucu, lha wong yang satu ada di Cirebon yang satunya ada di Pati”

        he he …

  9. Masalah daur ulang

    Suatu hari ada seorang PR dari Indonesia suatu perusahaan mengajak makan seorang relasi perusahaannya dari Jepang.
    Di perjalanan pulang keduanya saling ngobrol.
    Jepang : “Kalo di Indonesia sisa makanan seafood tadi diapain ?”
    Indonesia : “yaaaa, dibuang.”
    Jepang : “Oh, Kalau di Jepang itu diolah lagi menjadi makanan
    ringan, kemudian dijual di Indonesia.”
    Indonesia : “Oh, begitu”
    Si Jepang melihat ke arah minuman kaleng yg di minum si Indonesia
    Jepang : “Minuman kaleng itu habis kamu minum kamu apakan?”
    Indonesia : “Ya, dibuang”
    Jepang : “Oh, kalo di Jepang kaleng itu di daur ulang, untuk dijadikan mobil kemudian dijual ke Indonesia.”
    Indonesia : “Oh, gitu.” (dengan sedikit kesal)
    kemudian mereka melewati tempat pembuangan ban bekas
    Jepang : “Buat apaan ban-ban bekas itu?”
    Indonesia : “yaaa, buat dibakar.”
    Jepang : “Oh, kalau di Jepang ban-ban itu diolah untuk dijadikan kondom, kemudian dijual ke Indonesia”
    Indonesia : “Oh, Begitu!” (dgn nada kesal, kemudian balik bertanya)
    Indonesia : “kamu tahu ngak diapakan kondom yang habis dipakai?”
    Jepang : “Tidak” (dengan perasaan heran)
    Indonesia : “Kondom-kondom itu diolah kemudian dijadikan permen
    karet lalu di jual ke Jepang!”

    • Ha..ha..haaa…!

  10. Kamu mengaku saja

    Seorang guru Sejarah memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya,
    “Anak-anak, siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945?”
    Murid-murid semua diam seribu bahasa. Karena hingga menjelang usai jam pelajaran belum satu murid pun menjawab, sang guru marah dan akhirnya menghukum seluruh muridnya berjemur di lapangan upacara hingga sore hari. Salah seorang murid tersebut, sebut saja Anto, tiba di rumah dengan menangis tersedu-sedu. Ayahnya yang keheranan bertanya,
    “To, kenapa kamu? Berkelahi?”
    Anto menjawab, “Bukan Pak, tapi kami dihukum jemur oleh pak Guru.” Ayahnya bertanya lagi, “Kenapa sampai dihukum?”
    Anto menjawab, “Kami tidak menjawab siapa yang menulis Pancasila dan UUD 1945, pak” Tiba-tiba muka sang Ayah merah padam dan menampar anaknya itu sembari menghardik,
    “Kenapa tidak mengaku saja kamu yang menulisnya!!!”

    • Ha..ha..haaa…!!

  11. Ceritanya, Saddam pengen nakut-nakutin seluruh dunia.
    Caranya? Dia manggil panglimanya, dan memerintahkan supaya seluruh pesawat yang ada di lapangan terbang Bagdad dipasangin bom waktu.
    Panglima : “Seluruhnya pak Saddam?”
    Saddam : “Eh, jangan. Ente ngga boleh masang bom waktu di pesawat Irak sendiri, dan juga jangan pasang di Garuda. Yang rugi kita juga.”
    Panglima : “Lah, kalau yang pertama Ok dah, tapi apa ruginya masang di Garuda? apa kita takut sama mereka?”
    Saddam : “Bukan, soalnya Garuda biasanya telat. Entar meledaknya di sini juga …”

    • Ha..ha..haaaaa..!!!

  12. Try Sutrisno ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih
    menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam.
    Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang,
    jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya.” Dan tokoh Singapura itu pun
    memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu
    pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat:
    “Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah
    gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?” Goh
    menjawab tangkas, “Ya itu saya sendiri.”
    Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”.
    Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini.
    Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.
    “Pak Harmoko,” kata Try, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu
    pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan
    punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak
    sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?”
    Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan
    minta permisi sebentar ke luar ruangan, dimana menunggu Subrata.
    “Coba, Mas Brata,” katanya kepada bawahannya ini. “Misalkan orang tua
    situ punya anak tiga. Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan
    bukan pula adiknya situ?”
    Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: “Itu saya, Pak.”
    Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung
    maju. “Jadi tadi petunjuknya …eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?”.
    Try dengan sabar mengulangi, “Orang tua sampeyan punya anak tiga orang.
    Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?”
    Harmoko kali ini menjawab tangkas: “Ya, Subrata, Pak!”.
    Try ketawa geli. “Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya,
    Goh Chok Tong, dong!”

    • Ha..ha..haaaaa…!!!

  13. Sugeng dalu poro kadang

    • sugeng dalu Ki Honggo, sami wiliujeng Ki ?

  14. Gandhok dadi regeng, akeh dongeng sing marak’ake ngguyu nganti kemekelen.
    Sedela maneh mesti Ki Menggung YP rawuh ngasta bledehan.

    Sugeng dalu para kadhang.
    (Ki Ajar pak Satpam, cicilane pundi…?napa ana tutuge..? )

    • Waktunya belajar puasa Ki

  15. “Tetapi Rajawali itu nampaknya sama sekali tidak menghiraukannya” berkata yang pertama.
    “Ia mimpi tentang kedudukan tertinggi. Bukan tentang harta benda” desis yang lain pula.
    Tetapi kawannya mencibirkan bibirnya sambil menjawab “Itu tidak mungkin. Mimpi itu justru mimpi buruk yang dapat menyeretnya ke dalam dekapan maut”
    “Dan kita bersama-sama akan diseretnya pula” Tetapi mereka tidak berani menentang kehendak Ki Dukut. Mereka sudah mengetahui betapa tinggi tingkat kemampuan orang itu. Tidak seorangpun yang akan dapat mengimbanginya. Bahkan semua orang yang ada diantara mereka, tidak akan dapat mengalahkannya.
    Ternyata ketika mereka sampai ke dalam sarang mereka sendiri, hampir setiap orang diantara mereka berpendapat serupa. Alangkah bodohnya Ki Dukut yang menyebut dirinya Rajawali Penakluk itu. Mereka sebenarnya dengan leluasa dapat mengambil apa saja yang mereka kehendaki dengan kemenangan mutlak yang mereka dapatkan. Tanpa membunuh, mereka sudah menunjukkan kelebihan dari gerombolan-gerombolan lain yang sejalan dengan mereka. Apalagi ternyata mereka tidak mengambil sekeping uangpun dari simpanan Macan Wulung itu.
    Namun dalam pada itu, ternyata bahwa Ki Dukut sama sekali tidak pernah menyebut tentang harta benda itu. Yang setiap kali dikatakan, bagaimana ia dapat memperluaskan pengaruhnya dan memilih orang-orang terbaik untuk membantunya.
    Ternyata bahwa Ki Dukut tidak hanya sekedar berbicara tentang pengaruh dan kekuasaan. Tetapi ia benar-benar melakukannya. Kecuali Macan Wulung, maka Ki Dukut telah menaklukkan beberapa gerombolan yang lain pula.

  16. Jilid 13
    DILUAR sadarnya ia mulai membayangkan gadis padepakan itu. Seorang gadis yang cantik, keras hati, namun dapat bersikap lembut.
    Mahisa Bungalan seolah-olah telah terbangun dari mimpinya ketika Ki Selabajra berkata “Sekali-kali dalam masa perburuan itu, datanglah ke padepokan kami. Tentu kau masih ingat, jalan manakah yang sebaiknya kau tempuh. Jalan ke padepokanku, atau ke padepokan Ki Watu Kendeng”
    Mahisa Bungai an mengangguk kecil. Suaranya tiba-tiba saja menjadi bergetar “baik, baik Ki Selabajra. Aku akan datang ke padepokan yang sudah lama tidak aku lihat. Padepokan yang tenang dan damai, namun yang kini agaknya telah menyimpan bara yang panas dan membakar”
    Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya bagi Mahisa Bungalan, orang bertubuh tinggi itu tidak perlu terlalu banyak dirisaukan. Mahisa Bungalan memiliki tataran ilmu yang jauh lebih tinggi dari orang bertubuh tinggi itu. Tetapi agaknya Mahisa Bungalan mempertimbangkan kehadiran orang itu jauh mendalam.
    Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan kemudian bertanya “Siapakah nama orang itu?“
    Orang tua itu termangu-mangu sejenak. Kemudian jawabnya “Namanya Marwantaka”
    Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Katanya “Nama yang bagus, seperti juga orangnya yang tampan”
    “Ah. Angger terlalu merendahkan dir “ desah Ki Selabajra.
    kemudian iapun melemparkan tatapan matanya ke kejauhan.
    Beberapa saat mereka saling berdiam diri. Baru kemudian Mahisa Bungalan berkata “Aku akan segera kembali ke Kediri. Aku akan segera mulai dengan perburuan yang dahsyat ini. Mungkin aku akan singgah di padepokan Ki Selabajra, mungkin di Watu Kendeng. Tetapi aku tidak dapat mengatakan, kapan aku akan sampai ke tempat itu”
    Ki Selabajra menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ia menjawab “Baiklah ngger. Kami akan selalu menunggu kehadiran angger di padepokan kami”
    Mahisa Bungalan tidak menjawab lagi. Tetapi iapun kemudian berkata “Aku akan mempersiapkan diri. Aku akan segera berangkat ke Kediri bersama Ki Wastu”
    Seperti yang dikatakan, maka Mahisa Bungalanpun segera berkemas. Namun ternyala atas permintaan Ki Kasang Jati mereka masih diminta tinggal sampai matahari terbit di keesokan harinya bersama orang-orang yang berada di padepokan itu.
    Demikianlah, maka dihari berikutnya, Mahisa Bungalan telah menempuh perjalanan kembali ke Kediri bersama Ki Wastu. Mereka harus segera mulai berpencar mencari seseorang yang bernama Ki Dukut Pakering. Mahisa Bungalan sendiri masih belum jelas benar ujud dari orang yang bernama Ki Dukut itu meskipun ia pernah melihatnya di padepokan Ki Kasang Jati. Tetapi ia sudah mendapat gambaran dari orang yang bakal diburunya itu.
    “Tetapi Ki Dukut bukan seorang yang dungu” berkata Ki Wastu kepada Mahisa Bungalan di perjalanan.
    “Kita menyadari” jawab Mahisa Bungalan “mungkin justru kita yang akan dijebaknya. Tetapi kita harus menemukannya di manapun juga, karena ia adalah orang yang sangat berbahaya. Berbahaya bagi banyak orang dan berbahaya bagi Kediri”
    Ki Wastu mengangguk-angguk. Tetapi terasa kata-kata Mahisa Bungalan agak terlalu karas dan pasti. Bahkan terasa, bahwa sesuatu agaknya telah mengguncang perasaannya.
    Karena itu, maka sebagai seorang yang telah menyimpan banyak pengalaman di dalam hidupnya, terasa bahwa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh anak muda itu.
    Tetapi Ki Wastu tidak ingin menyinggung perasaan Mahisa Bungalan. Karena itu, ia tidak dengan serta merta bertanya. Dengan hati-hati ia berbicara tentang berbagai hal yang dapat memancing hati anak muda itu.
    Mahisa Bungalan yang memang sedang digelut oleh ingatannya tentang pedepokan kecil yang tenang dan tentang seorang gadis cantik yang Keras hati. telah tersentuh karenanya.
    Akhirnya, Mahisa Bungalan tidak lagi menahan hatinya Seperti sebuah pintu yang terketuk, maka akhirnya pintu itupun terbuka.
    ”Ki Wastu” berkata Mahisa Bungalan di perjalanan “aku sudah lama berada dalam keluarga Ki Wastu. Karena itu, maka aku kira, aku tidak perlu lagi menyembunyikan perasaanku. Agaknya masih sulit bagiku untuk mengatakannya dengan terus terang kepada ayah”
    Ki Wastu mengangguk-angguk.
    Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalanpun telah mengatakan serba sedikit tentang anak muda bertubuh

  17. tinggi yang bernama Marwantaka itu. Hubungan orang itu dengan Ki Selabajra dan dengan anak gadisnya yang bernama Ken Padmi.
    Ki Wastu mengangguk-angguk. Katanya “Itukah sebabnya maka orang bertubuh tinggi itu tiba-tiba saja telah mendendammu? Aku kira ia adalah orang yang sudah terlampau dalam diracuni oleh ceritera Ki Dukut Pakering. Namun agaknya masih ada persoalan lain yang tersangkut pada sikapnya itu”
    “Agaknya memang demikian Ki Wastu. Mungkin juga orang itu lebih percaya kepada Ki Dukut daripada kepada kita pada mulanya. Terlebih-lebih lagi karena sikap yang khusus kepadaku dalam hubungannya dengan seorang gadis bernama Ken Padmi itu”
    Ki Wastu mengangguk-angguk. Terbayang betapa rumitnya persoalan antara Ken Padmi dengan Mahisa Bungalan itu. Apalagi setelah diantara mereka berdin beberapa nama yang telah menyangkutkan diri.
    Diluar sadarnya Ki Wastu membayangkan, apa yang pernah terjadi dengan anak gadisnya. Persoalan anak gadisnya pada mulanya tidak serumit persoalan Mahisa Bungalan. Seorang anak muda dalang kepadanya dan minla anak gadisnya untuk menjadi isterinya. Dan ternyata anak muda itu adalah Pangeran Kuda Padmadata. Baru kemudian, persoalan yang sangat rumit itu menyusul, justru setelah anak perempuannya itu mempunyai seorang anak laki-laki.
    Sambil menarik nafas dalam-dalam ia berkata “Angger Mahisa Bungalan. Agaknya persoalan itu lebih baik timbul dahulu daripada kemudian”
    Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya. Kemudian ia bertanya “Apakah lebih baik demikian? Dan apakah setiap hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tentu akan timbul persoalan yang rumit seperti itu?“
    “Tidak selalu ngger” jawab Ki Wastu “tetapi jika persoalan itu dapat kau pecahkan, maka keadaanmu akan jauh lebih baik dari keadaan anak perempuanku dengan suaminya, Pangeran Kuda Padmadata yang hampir saja menjadi korban”
    Mahisa Bungalan menarik nafas dalam-dalam. Untuk sejenak ia tidak menjawab.
    Keduanyapun kemudian saling berdiam diri. Perjalanan mereka menyusup bulak-bulak panjang yang hijau oleh tanaman padi dan jagung. Namun di kejauhan mereka masih melihat padang perdu yang menyekat daerah persawahan dengan hutan yang membujur panjang. Semakin dalam hutan itu menjadi semakin lebat.
    Ki Wastu dan Mahisa Bungalan berpacu muskipun tidak dalam kecepatan puncak. Derap kaki kuda mereka telah melontarkan debu yang keputih-putihan. Tetapi mereka sama sekali tidak menyadari, bahwa ketika mereka melintas diujung padang perdu, dua pasang mata memandang mereka dengan penuh perhatian.
    “He, apakah keduanya berada di padepokan Kasang Jati?“ bertanya seorang tua yang duduk dibayangan dedaunan.
    “Aku tidak tahu pasti Ki Dukut” jawab yang lain “tetapi mungkin pula keduanya cantrik atau Putut dari Padepokan itu”
    Ki Dukut mengerutkan keningnya. Kedua penunggang kuda itu berpacu terlalu jauh, sehingga keduanya tidak melihat dengan jelas, siapakah orang-orang yang duduk atas punggung kuda itu. Apalagi merekapun tidak begitu mengenal orang-orang yang berada di padepokan Ki Kasang Jati, karena ketika mereka memasuki padepokan itu, malam telah menjadi sangat kelam.
    “Sebenarnya kita akan dapat membunuh mereka” berkata Ki Dukut Pakering.
    “Tetapi kita tidak akan dapat mengejar mereka” desis yang lain.
    Ki Dukut menggeretakkan giginya. Namun kemudian katanya kepada pengikutnya “Aku masih mempunyai banyak kesempatan. Ternyata orang-orang yang ikut bersama kita datang ke padepokan Kasang Jati telah berkhianat”
    “Ya. Mereka telah berkhianat” sahut pengikutnya.
    “Mereka agaknya mengerti, bahwa aku telah menipu mereka” desis Ki Dukut pula.
    Pengikutnya yang seorang itu mengangguk-angguk. Katanya kemudian “Mereka harus mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahan mereka”
    “Tentu. Tetapi untuk waktu yang dekat, aku tidak dapat melakukannya. Mereka tentu menyadari akan hal itu, sehingga merekapun akan bersiap akan menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, aku akan mengambil waktu yang paling baik sesudah aku mengamati keadaan” berkata Ki Dukut Pakering. Namun kemudian sambil menggeram ia berkata “Tetapi yang lebih dahulu harus dimusnahkan adalah Pamdadata, Wastu dan Kasang Jati. Jika aku dapat menangkap perempuan dan anaknya itu, maka segalanya akan dapat aku lakukan. Kuda Padmadata tidak akan dapat melawan kehendakku apapun yang perintahkan”

  18. kirim ke adminnya ajja glagah hihi

    • ajar ngrubah pakai omnipage downloadtan yang baru tapi susah sekali merubah file jiew ke teks, rencananya kalau sudah bisa mau daftar jadi relawan tapi kok ya susah sekali ya. dasar sudah kakek-kakek belajar komputer susahnya minta ampun.

      • okelah kalau begitu ……

        wah…., jadi kangen sama Ki Kompor
        Nganglang kemana ya beliau.

    • Setuju dengan komen Nyi Dewi

      • S.e.t.u.j.u d.e.n.g.a.n k.o.m.e.n N.y.i D.e.w.i

  19. Teng .. 12 x
    tik… (karena sudah lebih 8 menit)

  20. Blom ada yang bangun rupanya

    eh…, sudah ada dua yang hadir, satu orang masih di regol depan, satu orang sudah masuk di gandok 13 ambil nomer kartu anti untuk dapat bagian rontal PBM-13.

    dari monitor radar terlihat yang aktif di Indonesia.
    sepertinya sih di wilayah Sulawesi, tetapi kok tertulis Indonesia?
    he he …., bingung aku

    dari tlatah Jakarta, Tangerang, Bekasi, Pekanbau, dll belum ada yang hadir?

    eh…, sepertinya Ki Wie sudah lama tidak hadir di Padepokan, semoga beliau sehat-sehat saja. Demikian juga Ki Giendeng, Ki Wiek dari Bandung.
    Ki Sunda sedang asik dengan pekerjaan barunya sudah jarang sambang padepokan.
    siapa lagi ya…
    monggo ditambahi
    Nah tuh…, dari bandung sudah bangun
    tapi yang dua sudah hilang lagi, tidak sabar menunggu rontal 13.
    hore…, sudah ada lima yang datang, dari LA sudah bangun
    hayo-hayo ….
    tapi kok masih ada yang ke gandok 12 ya, apa kemarin belum ambil jatah ya
    ada satu yang anteng di regol depan, rupanya masih ragu-ragu, masuk masuk gandok mana ya?

    he he …
    sekian laporan pandangan mata dari pos P. Satpam

    • Hikss..Sugeng Enjing Ki Pak Satpam…….menarik juga ya Ki Kalo yang hadir bisa ditampilkan…

      • He he …
        ada lima yang hadir, dua orang diteras depan gandok 13, 2 orang sedang membaca pengumuman di halaman 2, dan eh…, satu orang sedang membaca sundss-31.

        Tapi yang ngisi daftar hadir kok Ki Kartoyudo saja ya.
        Yang lain, bludas-bludus gak ngisi presensi.
        he he …

        • ..mmmmmmm…aku juga pengin tau Ki…..

          • ..bisa tau yang lagi ke pakiwan gak ?….hiksss

          • hmmm….
            apa perlu ya dibuatkan gandok pakiwan
            nggak ah…, nanti malah pada berkelahi rebutan *ginti*.

  21. Wah puasa dong jadinya.

  22. Sugeng enjing Pak Satpam
    Sugeng enjing sedoyo kemawon
    Kulo ndherek antri.

  23. ngisi daftar hadir Ki P Satpam…
    ben ora blunas-blunus he..he..

    wis tak ndodok disik neng pojokan gandhok..
    ngenteni wedaran sinambi ngekeri cantrik kang pada teka…

  24. Marinir…

    seorang marinir yang sedang dalam latihan, tengah malam dibangunkan oleh komandannya dan disuruh berlari ke laut yang jaraknya 10 km dan mengisi botol kecil yang diberikan dengan air laut..

    si marinir cepat2 berlari keluar, sembunyi dan mengisi botol dengan air kencing lalu kembali ke tenda dan kembali tidur..

    pagi-pagi sekali ia bangun dan menyerahkan botol tersebut kepada komandannya

    sang komandang dengan sigap menuang air dalam botol dan mencicipinya

    “Asin…bagus prajurit kembali ke tenda kamu mendapat istirahat satu hari,” teriak si komandan

    “Siap….”

    • Hikss…untung gak disuruh nyoba “telor”nya….bisa asin gak…

  25. Sugeng siang…

    isi daftar hadir dulu ah… sinambi nyinau dagelan para cantrik

  26. wah gayeng tenan saiki, guyonane manteb, rodo telat wedarane g opo opo, jer ono jamune

  27. Babo.. babo eh kok koyo wong nesu.
    Sugeng siang Ki Satpam, matur nuwun.

  28. Sugeng sonten Ki Arema
    Sugeng sonten Ki Ajar Satpam
    Selamat sore menjelang malam Ki/Nyi/Ni Sanak semuanya,

    Ki Ajar Satpam,
    Jika PBM_13 belum diwedar dan Ki Arema masih mengedit PBM dari Nyi Dewi KZ, sementara PBM-13 sudah saya kirim ke bangsal Pustaka Pelangisingosari dan kiranya sudah bisa diwedar pada sore atau malam ini.

    Mohon ma’af baru bisa scane rontal dan juga untuk serial Arya Manggada insya Allah mulai besok sudah bisa hadir kembali. Sekali lagi kepada para sanak kadang adbm, pelangisingosari, gagakseta saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya.

    nuwun
    ismoyo

    • Untuk rontal-rontal PBM selanjutnya insya Allah segera saya kirim ke bangsal pustaka pelangisingosari.

      nuwun.

      • Sugeng dalu Ki Panembahan,
        wah, kula rumaos bingah sanget dene panjenengan sampun saget rawuh wonten ing padhepokan.
        Mugi2 Ki Panembahan sampun dangan saestu,
        dan semoga Ki Ismoyo selalu dalam lindungan ALLAH SWT.

        • Amiin…..antuk pando’a panjenengan saha sanak kadang sedoyo….matur nuwun.

      • sugeng rawuh ki, sampun kathah ingkang sami ngantu-antu. ugi ing gandhok sisih.

        mangga ki, …

        • Monggo Ki,
          ammc-5 & 6 ugi sampun wedar…..malem mingguan…..he he he.

          • Sugeng rawuh Panembahan, mongkok batos kulo Panjenenganipun sampun amrantasi gegedug engkang awujud molo niku

    • Sugeng rawuh Panembahan

      Waduh…., mak nyess…nyess…..nyess….
      hilang sudah semua kegalauan

      suwun ……

      • He he he, Ki Pandan
        aya-aya wae.

    • pak ismoyo, menjenguk cakrawala tu lanjutannya adalah mas rara yeee betul gak ni ?

  29. Ki Wie nembe nganglang teng maninjau…ajar nglangen….

  30. Sugeng ndalu…

    Ngaturaken sugeng rawuh kagem bapa panembahan Ismoyo. Nderek bingah amargi panjenengan sampun saget rawuh. Sampun kangen piwulangipun Ki Is…

  31. Ki Ajar pak Satpam soedah memoelai menjebar itoe ranjaoe jang mendjadiken para tjantrik sakaw dengan oekara “ana-toetoege”

    (wah, jan mbencekno tenan je….!nanging marai kangen !)

    • Ha ha ha ….

  32. WARA-WARA

    Ki Agus Sedayu sudah medar ADBM 402 di gandok Bukan ADBM Padepokan adbmcadangan.

    Monggo

    • Atau bisa juga dibaca di padepokan adbmlanjutan[dot]wp[dot]com. Sumonggo

      Nambah info kemawon P. Satpam.

  33. Jang amat berhormat Bapak Satpam:

    Dikarnaken ada ismoyo (dh ismojo) palsoe; Djadi sahaja bingoeng tidak mangetahoei jang dititipi rontal PBM-13 itoe ismoyo (dh ismojo) jang mana ?
    Moehoen dengen hoermat dapet diberitahoeken, bahawa ismoyo (ditoelisnja ismojo) jang aseli.
    Terima kasih dan salam tabik dan hormat dari sahaja.

    • halah….

  34. Alahamdulillah Saudaraku sudah bisa hadir lagi di unia maya.
    Sugeng enjang Ki Ismoyo,
    Matur nuwun ingkang tanpo upami oleh-olehipun

  35. Sugeng enjang Ki Arema,
    Sugeng enjang Ki Ajar Satpam.
    Matur nuwun sampun ngunduh.

  36. nDagel

    Isuk-isuk uthuk-uthuk ndagel disit:

    Semenjak reformasi dengan ditandai berakhirnya era orde baru di negara tercinta Indonesia yang selalu dipuja-puja sepanjang masa ini, hampir di setiap waktu kita disibukkan dengan pemilihan-pemilihan umum, dari pemilihan wakil rakyat, lalu pemimpin negera, pemimpin wilayah, pemimpin daerah, yang lazim disebut pemilihan kepala daerah atau pilkada. Ada pilgub (pemilihan gubernur) ada pilbup (pemilihan bupati), pilkot (pemilihan walikota).

    Nah lelonojagad mau ndagel soal pemilihan di suatu daerah yang kalau dicari di peta berskala 1: 1.000.000, tidak akan kelihatan. Searching pake google earth pun percuma, sebab sulit diketahui letak lokasinya dengan pas.

    Tapi biarlah kita nggak pelu risau tentang posisi daerah itu, berapa derajad lintang utara kah, lintang selatan kah, bujur barat kah atau bujur timurnya daerah itu. Boleh jadi daerah itu memang nggak ada. Tapi dagelan berikut ini memang ada.

    Begini ndagelnya

    Suatu hari seorang calon “pemimpin” yang lebih senang dipanggil dengan sebutan “bapak PENjabat CAlon TUnggal uTama” yang kalau disingkat menjadi bapak PENCATUT , meskipun beliau belum jadi pejabat. Beliau ini adalah salah satu calon pemimpin willayah (kira-kira setingkat gubernur).

    Pada suatu saat sang calon pemimpin ini melakukan penggalangan masa dengan bersafari dari satu daerah ke daerah di calon wilayah yang nanti dipimpinnya.
    Ketika dalam perjalanan menuju tempat kampanye di suatu tempat beliau beserta tim suksesnya mengalami kecelakaan mobil. Mobilnya slip dijalan. Ketika itu pula Bapak Pencatut dibawa ke sebuah rumah sakit.

    Setelah tiga hari dirawat, si calon belum juga sadar dari pingsannya. Sedangkan si sopir sudah siuman, padahal ia mengalami luka yang cukup parah.

    Seminggu sudah terlewati, namun si calon belum juga sadar. Padahal luka yang dialami tidak terlalu parah, hanya ada luka kecil di bagian lutut. Para dokter pun dibuat bingung. Akhirnya di tengah-tengah kebingungan mereka, para dokter memutuskan bahwa sang calon menderita gegar otak.

    Mendengar hal ini para kerabat dan teman-temannya termasuk tim suksesnya, juga para wartawan yang meliput “press release” merasa heran. Bagaimana mungkin, dengkul yang terluka tapi kok para dokter menyimpulkan gegar otak.

    Namun kebingungan yang terjadi tidak terlalu lama, salah seorang teman Bapak Pencatut di masa sekolah dasar dulu ingat bahwa guru-gurunya waktu itu pernah memarahinya seraya berkata, “Dasar, otak ditaruh di dengkul.”

    Nah, ………Tapi ternyata setelah beliau sembuh, sang calon Bapak Pencatut benar-benar memenangkan pemilihan itu dan berhak menjadi kepala wilayah di daerah itu.

    Aneh ya, orang seperti itu kok bisa memenangkan pemilihan kepala wilayah. Tapi untungnya wilayah itu nggak ada di peta. Lha namanya juga ndagel.

    Tapi, kira-kira di tempat para cantriks and mentriks lainnya ada nggak pemimpin yang seperti itu? Sungguh memprihatinkan, kalau benar-benar ada.

    Nah ndagelnya brenti dulu, ikut-ikutan Bapak Satpam jadi ya ana toetoege.

    • lha nggih niku Ki LJ, saya suwe di negeri yang selalu dipuja sepanjang masa niki kok pemimpine pada ketok nDagel tanpa berusaha untuk menDagel.
      pripun niki Jal………?

  37. ana candake

  38. Sugeng siang para kadhang…………..
    Minggon……?
    mulane kawit esuk mau mung piyantun 3 thok sing rawuh.

    ana tutuge menapa mBoten Ki Ajar pak Satpam…..?
    (nyang dimaksudken tutuge gandhok 14 lho….)

  39. ana tutuge

    tu aapa sih artinya ?

    • ada lanjutannya….

      kira-kira begitu Nyi Dewi KZ….he he he.

      • ku pikir tutuge = buntutnya hihi

  40. terima kasih, ki arema, ki ismoyo, ki pak satpam, dan para bebahu padepokan sekalian…

    salam, sanak kadang cantrik dan mentrik semua…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: