HLHLP-001

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 18 Agustus 2010 at 17:15  Comments (15)  

15 Komentar

  1. horeeeee nomer 1

    • nomor 1,1

      • nomer sak mBurine Ki Banu ya ora apa-apa,
        sing penting isih ana ngarepe para Menggung.

        • isih ONO kursi kosong….!!

          nomer seTUNGgal

  2. Nomer 2.

  3. nomer piro yo yen ora keno gusur

  4. Nyi Dewi KZ nomer siji,
    Ki Banuaji nomer siji punjul sithik,
    Ki Arga nomr loro,
    Ki Bancak sumelang yen digusur,
    9sing kawentar tukang gusur kuwi para Menggung lan [ara Rangga)
    Kula tak langsung ngundhuh kemawon.

    • Huwaduh nganti lali,
      matur nuwun Ki Ajar pak Satpam

      tuku apem neng cedhak pengkolan
      Ki Ajar pak Satpam pancen jempolan.

  5. antri nomer-8.
    tetap setia menunggu rontal “made in ki ismoyo”

  6. Nuwun

    Sugêng énjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Kêmis (Wrahaspati) Wagé; 09 Påså 1943 – Dal. 09 Ramadhan 1431H; 19 Agustus 2010M. Wuku Bålå, Ingkêl Wong. Bhådråwådåmåså, mångså Karo 1932Ç.

    MUBALLIGHOT DARI LERAN [Bagian Ketiga. Tamat] [HLHLP 001].

    [Fatimah binti Maimun bin Hibatu’llah, muballighot pertama di Pulau Jawa]

    Bagian Pertama, On 14 Agustus 2010 at 04:27 bayuaji said: [PBM-29]
    Bagian Kedua: On 18 Agustus 2010 at 04:01 bayuaji said: [PBM 31]
    Kali ini dongeng Bagian Ketiga. Tamat [HLHLP 001].

    Siapakah dinasti Fatimiyyah

    Dinasti Fatimiyyah adalah mereka yang sebenarnya membangun kota Kairo dan Universitas Al Azhar. Ini dapat dibaca pada buku alumni al-Azhar dan riwayatnya. Universitas al-Azhar yang sampai hari ini masih eksis dan menjadi pusat pengaruh peradaban Islam dalam seribu tahun terakhir memang hasil karya dinasti Fatimiyah yang memerintah di Mesir sekitar tahun 910 -1171 Masehi.

    Fatimiyah, atau al-Fāthimiyyūn ialah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghreb Mesir, dan Syam dari 5 Januari 910 hingga 1171. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi’ah. Pemimpinnya juga para Imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma’iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti.

    Dinasti Fatimiyyah semula bangkit di Tunisia, namun kemudian di sekitar tahun 972 M masuk ke Mesir dan beribukota Kairo. Bahkan boleh dibilang dinasti Fatimiyyahlah yang membangun Kairo sebagai suatu kota besar dengan universitas Al Azharnya yang terkenal sampai hari ini.

    Di masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz.

    Di masa Fatimiyah, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa.

    Dari pejelasan ini tentunya bisa dimaklumi kalau armada dagang dinasti Fatimiyyah telah merambah wilayah Asia Tenggara sampai ke negeri Cina.

    Berdirinya dinasti Fatimiyah dimulai tahun 909 M ketika Abdullah al-Mahdi Billa melegitimasi klaimnya melalui keturunan dari Nabi Muhammad dari jalur Fathimah az Zahra dan suaminya Ali ibn Abi Talib, Imam Syi’ah pertama. Oleh karena itu negeri ini bernama al-Fātimiyyūn. “Fatimiyah”.

    Dengan cepat kendali Abdullāh al-Mahdi meluas ke seluruh Maghreb, wilayah yang kini adalah Maroko, Aljazair, Tunisia dan Libya, yang diperintahnya dari Mahdia, ibukota yang dibangun di Tunisia.

    Fatimiyah memasuki Mesir pada 972, menaklukkan dinasti Ikhshidiyah dan mendirikan ibukota baru di al-Qāhirat “Sang Penunduk” (Kairo modern).

    Mereka terus menaklukkan wilayah sekitarnya hingga mereka berkuasa dari Tunisia ke Suriah dan malahan menyeberang ke Sisilia dan Italia selatan.

    Tak seperti pemerintahan disana, kemajuan Fatimiyah dalam administrasi negara lebih berdasarkan pada kecakapan daripada keturunan. Anggota cabang lain dalam Islam, seperti Sunni, sepertinya diangkat ke kedudukan pemerintahan sebagaimana Syi’ah.

    Toleransi dikembangkan kepada non-Muslim seperti orang-orang Kristen dan Yahudi, yang mendapatkan kedudukan tinggi dalam pemerintahan dengan berdasarkan pada kemampuan (pengecualian pada sikap umum toleransi ini termasuk “Mad Caliph” Al-Hakim bi-Amrillah).

    Dinasti Fatimiyyah terkenal dengan upayanya untuk mencapai pengetahuan tertinggi dan toleransi yang bebas. Berdirinya universitas Al Azhar merupakan salah satu mahakarya peradaban yang sampai ini masih kita lihat dengan berbagai cabangnya di berbagai negara.

    Karena upayanya ini, diansti Fatimiyyah mampu menyumbangkan karya seni dan budaya yang monumental dan berciri khas. Salah satunya adalah benda seni berbasis kristal indah dan bernilai tinggi.

    Dinasti Fatimiyyah menghasilkan berbagai kerajinan yang menarik baik dibidang tektil, keramik, benda seni dari kayu, perhiasan, benda logam, dan batu kristal. Temuan benda kuno di Indonesia menunjukkan bagaimana karya seni dan budaya dinasti ini sudah sampai di Nusantara di abad ke-10 dan ke-11.

    Dengan kata lain, konsumen benda ini pun ada di Jawa yang saat itu (periode abad 10 sampai 11) sejarahnya masih sangat buram. Yang menegaskan eksistensi Islam di Jawa saat itu adalah penanda Nisan Leran yang telah disebut diatas.

    Sampai hari ini, peninggalan benda seni dinasti Fatimiyyah sangat terbatas. Salah satu sebab kenapa benda-benda ini sangat terbatas karena mungkin sudah dilebur atau hancur sama sekali. Sebagian besar yang ditemukan di berbagai dunia umumnya berkisar antara tahun 1067 sampai 1072 Masehi.

    Benda kristal dinasti Fatimid menurut pakar sejarah seni merupakan salah satu mahakarya peradaban Islam yang paling indah. Ornamen yang diterakan di batu kristal tersebut menunjukkan karya seni dengan citarasa tinggi yang mengaitkan berbagai aspek eksoteris dan esoteris. Salah satu ciri khasnya adalah bentuk-bentuk batu kristal yang umumnya mengambil model “ikan”.

    Ikan dalam tradisi esoteris sudah dikenal sejak peradaban Indus dan Harappa Mahenjo-daro sebagai simbol kehidupan. Salah satu script tulisan dari peradaban indus adalah gambar ikan.

    Dalam tradisi sufisme, ikan adalah simbologi mengenai kehidupan yang alami, naif, bahkan terkenal suatu peribahasa sampai hari ini kalau yang menyadari eksistensi air paling akhir adalah ikan.

    Jadi, simbol ikan merupakan simbol kehidupan natural sampai akhirnya si ikan mungkin akan terpancing atau malah dimakan oleh buaya atau binatang buas lainnya sebagai simbologi nafsu manusia manakala nafsu serakah menghinggapinya.

    Dalam tradisi agama Hindu pun, ikan menjadi simbologi kisah-kisah mistik keagamaan. Ikan menjadi simbol kesadaran lurus yang bersih namun seringkali menjadi sangat naif sehingga tertipu dengan mudah atau mengajukan pertanyaan naif “Dimanakah air?”.

    Karya seni kristal dinasti fatimid tidak jarang juga berisi tulisan atau inkripsi dari Iman-iman Syiah Ismailiyah. Salah satu peninggalan yang terkenal terdapat di Basilica venesa yang berisi tulisan Imam Fatimid, Al Aziz yang hidup sekitar 975-996 Masehi.

    Batu kristal lainnya berisi tulisan Imam al-Hakim yang ada di Chatedral of Fermo, Italia. Beberapa batu kristal peninggalan dinasti Fatimid juga ditemukan telah menajdi koleksi museum-museum besar di Eropa.

    Seni kristal dinasti Fatimid tidak lepas dari penafsiran mereka mengenai ayat-ayat Al Qur’an. Makanya, selain sebagai benda seni seringkali karya batu kristal dinasti fatimid sarat akan simbol-simbol esoteris relijius agama Islam.

    Dalam Al Qur’an Surat Ash Shafaat (37) ayat 45-47.
    Abdullah Yusuf Ali Abdullah Yusuf Ali (Lahir: Bombay India 14 April 1872; Wafat: Brookwod Inggris 10 Desember 1953) seorang cendekiawan Muslim yang menerjemahkan Al Qur’an ke dalam Bahasa Ingris.

    Terjemahan Al Qur’an oleh Yusuf Ali bersama-sama dengan terjemahan oleh Marmaduke Picthall adalah terjemahan bahasa inggris yang paling luas digunakan saat ini.

    Beliau menterjemahkan Surat Ash Shafaat (37) ayat 45-4, ke dalam bahasa Inggris :

    Round will be passed to them a cup from a clear-flowing fountain,
    crystal-white, of a taste delicious to those who drink (thereof),
    free from headiness; nor will they suffer intoxication therefrom
    .”

    [Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir. (Warnanya) putih bersih, sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.]

    Rujukan dari Al Qur’an tersebut nampaknya menjadi salah satu sebab kenapa kristal dalam bentuk gelas sangat populer di dunia Islam di masa lalu, khususnya dinasti Fatimiyyah yang baru-baru ini peninggalannya ditemukan di perairan pantura Cirebon, Jawa Barat.

    Masih banyak barangkali cara untuk mengkaji lebih jauh inskripsi Leran dan yang lainnya daipada sekedar mencari tahu batu nisannya darimana.

    Salah satunya mungkin mengungkapkan makna dan arti terdalam dari apa yang tertulis di batu Nisan Leran yang terdiri atas 7 baris syair kematian si tokoh yang dimakamkan.

    Kajian demikian nampaknya masih jarang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia yang kompeten di bidang kesejarahan maupun sastra.

    Secara keseluruhan isi buku Inskripsi Islam tertua di Indonesia sangat menarik meskipun nampak berat bagi masyarakat awam karena penulisannya masih termasuk ilmiah bukan penulisan populer.

    Apa yang dituliskan di sembilan artikel di buku ini memang perlu dikaji lebih jauh oleh pemerhati maupun peneliti sejarah di Indonesia khususnya sejarah Islam dan Yudeo Kristen.

    Terutama kesimpulan-kesimpulan dalam 9 tulisan tersebut yang sebenarnya masih belum final dan banyak berkaitan dengan sejarah masuknya Islam serta bagaimana sastra dunia Islam berkembang di Indonesia.

    Selain itu, kajian yang lebih teliti mungkin akan mengungkapkan adakah hubungan atau replikasi konseptual antara “Wali Sanga” dengan “9 Ksatria Templar” serta tradisi Yudeo Kristen Pra Nabi Isa karena berbagai kisah legenda yang berkembang di Jawa maupun Tatar Sunda nampaknya banyak dipengaruhi oleh kisah-kisah Israiliyat sebelum masa nabi Isa a.s, khususnya yang menyangkut tentang Ratu Adil, Imam Mahdi, Meitreya, maupun kisah-kisah legenda lainnya yang berakar pada ide arketipal eskatologi dan mesianisme.

    Dalam hikayat yang lain, tokoh ini dikenal dengan sebutan: “Putri Retno Suwara atau Suwari” Putri Sultan Machmud Syah Alam dari Negeri Kamboja yang dengan ikhlas menyediakan dirinya sebagai seorang perempuan yang melakukan da’wah untuk mengajak petinggi-petinggi kerajaan setempat (yang pada waktu itu belum beragama Islam), tetapi ada pula yang mengatakan bahwa Sang Retno adalah puteri Sayyid Maimun Sultan Kedah Malaka (Malaysia) yang bergelar Sultan Mahmud Mahdad Alim.

    Hingga sekarang belum ada data sejarah yang akurat yang menerangkan asal-muasal Sang Retno Suwari ini.
    Kalaupun arsitektur cungkup makam sang putri mirip dengan bentuk candi, konon ceritanya cungkup tersebut memang dibangun oleh penguasa kerajaan pada waktu itu yang belum beragama Islam, untuk menebus perlakuannya yang kurang bersahabat terhadap Sang Penda’wah yang ternyata bermaksud baik.

    Nisan ini dulu sebenarnya pernah diulas oleh Muhammad Yamin sekitar tahun 50-an dan disimpulkan beliau kalau makam itu merupakan makam Islam tertua di Indonesia dan merupakan makam seorang perempuan bernama Fatimah binti Maimun.

    Kita tidak tahu kenapa disebut Fatimah, padahal di nisannya sendiri tidak tertulis nama Fatimah, hanya disebut dengan nama binti Maimun, putera Hibatu’llah saja. Disebutkan bahwa yang dimakamkan disitu adalah seorang perempuan yang tak berdosa, dan yang lurus.

    Maksudnya yang dimakamkan disitu masih menganut tradisi esoteris Islam yang murni yaitu Tauhid tanpa syirik.

    JP Moquette, arkeolog Belanda yang datang di Leran pada 1920, juga menukil legenda yang ia dapat dari Leran. “Makam itu adalah kubur seorang putri raja bernama Putri Devi Suvari; tokoh itu memainkan peranan penting di awal sejarah Islam di Pulau Jawa,” tulis Moquette yang diceritakan ulang oleh Claude Guilloot dan Ludvik Kalus di buku Inkripsi Islam Tertua di Indonesia.

    Claude Guillot dan Ludvik Kalus, dua arkeolog, yang berkesimpulan Fatimah binti Maimun adalah orang biasa. “Dia tidak memiliki gelar apa pun,” lapor Guillot dan Kalus. Maka, mereka meragukan jika nisan Fatimah berupa batu dari Nusantara, seperti yang disimpulkan arkeolog sebelum mereka. Karena, Fatimah orang biasa, maka ia meragukan jika di masa itu di Gresik ada tempat khusus yang membuat nisan untuk Fatimah.

    Tulisan Arab gaya kufi khas Iran, juga menunjukkan bahwa tulisan itu tak dibuat di Jawa, karena gaya itu belum ada di Jawa kala itu. MA Fediaevsky, geolog yang diminta Guillot meneliti batu nisan Fatimah, menjelaskan, jenis batu nisan itu tidak ada di Nusantara.

    Guillot dan Kalus menyimpulkan nisan itu dibawa oleh para pelaut, dijadikan sebagai jangkar, kemudian ditinggalkan begitu saja di Gresik, ketika kapal mereka berlabuh di Gresik.

    Di masa itu, Leran berada di dekat anak sungai di muara Bengawan Solo. Sungai itu kini sudah mati. Kesimpulan nisan itu dijadikan jangkar dibuktikan dengan adanya takik kecil di salah satu sisi batu nisan. Di masa itu, ada banyak kasus batu nisan diubah menjadi jangkar.

    Silsilah Fatimah binti Maimun:

    Fatimah binti Maimun, Sayyid Maimun, Sayyid Hibbatullah, Sayyid Muqoddam Shiddiq, Sayyid Idris Al Malik, Sayyid Ahmad Al Baruni, Sayyid Abu Yazid Al Bishri, Sayyid Sulaiman Al Bishri, Sayyid Ali Al ‘Uroidli, Sayyid Al Imam Ja’far Shodiq, Sayyid Muhammad Al Bakir, Sayyid Al Imam Zainal Abidin, Sayyid Al Imam Husain, Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. (suami: Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW).

    Jadi Fatimah binti Maimun silsilah nasabnya ke atas sampai kepada Fatimah binti Rasulullah Muhammad SAW. Fatimah binti Rasulullah SAW adalah isteri Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra.

    Karena itu Fatimah binti Maimun Dewi Ratna Swari termasuk Ahlil Bait Rasulullah SAW.

    Peninggalan yang sampai saat ini dikenal sebagai kompleks Makam Panjang terdiri dari makam-makam, bangunan, dan tembok keliling.

    Pola halaman pada kompleks makam Leran tersusun ke belakang dengan sisi belakang dianggap paling sakral. Bangunan induk berupa cungkup terbuat dari bahan batu putih merupakan makam tokoh sentral, yaitu Siti Fatimah binti Maimun, berangka tahun 475 H (495H) sebagaimana terpahat dalam batu nisannya.
    Di dalam cungkup juga terdapat makam tokoh lain yang sampai sekarang masih belum diketahui identitasnya.

    Rasulullah SAW bersabda: Ballighu ‘ anni walaw aayatan.

    “[Sampaikanlah dari ajaranku meskipun hanya satu ayat]”. HR Ahmad, Bukhori, Turmudzi.

    Berdasarkan hadits ini Muslim baik laki laki maupun perempuan berkewajiban menyampaikan (da’wah) ajaran Islam meskipun hanya satu ayat. Hadits ini perintah supaya semua umat Islam menjadi mubaligh.

    Artinya mubaligh adalah orang yang menyampaikan ajaran Rasulullah dimana saja, kapan saja, dalam keadaan bahagiamanapun wajib berda’wah.

    Makna seruan Rasulullah SAW yang terbungkus dalam lokam hikmah “Ballighu ‘anni walau aayatan” tersebut memancar bagaikan bahaya fajar shadiq yang masuk ke dalam jiwa Fathimah binti Maimun, yang mendorong rasa wajib menyampaikan ajaran Muhammad Rasulullah SAW.

    Meskipun dia seorang puteri sultan, Sayyid Maimun Sultan Kedah Malaka yang bergelar Sultan Mahmud Mahdad Alim. Meskipun dia seorang puteri yang bergelimang dalam hidup kemewahan, akan tetapi tahta kerajaan, pujian, kehormatan duniawi, harta benda emas semuanya itu tak ada yang singgah dalam hatinya.

    Bagi Fathimah, Da’watul Haq, Da’watul Islamiyah itulah bagian dari hidupnya.
    Meskipun Fathimah telah menyadari bahwa antara negara Kedah dan Pulau Jawa terbentang lautan yang luas, akan tetapi tidaklah akan dapat mengurungkan tekad yang telah membuhul dalam jiwanya yang tertancapkan oleh sabda Rasulullah: “Ballighu ‘anni walau aayatan“.

    Bagi Fathimah binti Maimun, geraknya kapal layar karena digerakkan ombak. Ombak terjadi karena angin yang digerakkan oleh reaksi sinar matahari, dan matahari digerakkan oleh Sunahtullah, sebagaimana tersebut dalam Al Qur’an:

    Wasysyamsu tajri limustaqorrillaha dzalika taqdirul ‘azizil ‘alim

    dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui“. [QS. Yaasin (36):38].

    Dengan Bismillah bertolaklah tiga kapal layar dari Kedah melalui Selat Malaka menuju Pulau Jawa. Kapal bermuatan bahan makanan, kapal bermuatan senjata senjata dan alat alat dan kapal bermuatan para muballigh dan muballighot.

    Pada buritan kapal dikisahkan dikibarkan bendera sutera hijau dengan tulisan:

    Nashrun minallahi wafathun qoriibun wabasysyiril mukminin

    “[Pertolongan dari Allah dan kemenangan dekat. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang orang yang beriman]”. [QS. Ash Shaff (61) : 13]

    Adapun jumlah para muballigh dan muballighot semuanya ada tiga belas, yang lima perempuan, yang delapan laki laki.

    Lima orang muballighot ialah:
    1. Fatimah binti Maimun,
    2. Nyai Seruni,
    3. Nyai Kaling,
    4. Nyai Kucing, dan
    5. Nyai Kamboja.

    Delapan muballigh ialah:
    1. Sayyid Abdul Karim,
    2. Sayyid Ja’far,
    3. Sayyid Syarif.
    Tiga orang muballigh ini ialah saudara Sultan Mahmud Mahdad Alim. Jadi paman dari Sayyidah Fathimah.
    4. Sayyid Abdul Jalal,
    5. Sayyid Abdul Jamal, dan
    6. Sayyid Jamaluddin
    bertugas sebagai pengawal.
    Dua orang bertindak sebagai penerima tamu atau penjaga dalam adalah
    7. Ahmad dan
    8. Sa’id.

    Setelah menempuh perjalanan yang jauh dengan susah payah, dengan keberanian yang menakjubkan, tetapi dengan harapan yang besar bergantung kepada Nashrun minallahi, akhirnya mereka sampailah ke Pelabuhan Dåhå (Gresik) dengan latar pegunungan yang berpuncak lima [Gunung Penanggungan (?)]dengan selamat.

    Dari pelabuhan Dåhå (Gresik pada masa itu termasuk wilayah kerajaan Dåhå, Kadiri dengan rajanya Airlangga) rombongan muballighin & muballighot berjalan terus ke arah barat, kemudian ke jurusan Tuban, sampailah ke suatu tempat yang sekarang dinamakan Desa Leran.

    Disitulah rombongan para Muballighin dan Muballighot tesebut menetap, dan mulai merintis perjuangan Islam di Jawa Timur.

    Pokok ajaran Islam yang akan disiarkan Fathima binti Maimun adalah: Kalimat Tauhid, Kalimat Taqwa,

    Kalimat Thoyyibah, Kalimat Ikhlas yaitu:
    LAA ILAAHA ILLALLAH MUHAMMAD RASULULLAH

    Kalimat: Laa ilaaha illallah muhammadur rasulullah tersebut di atas, dalam Al Qur an di ibaratkan sebuah pohon Thoyyibah.

    Oleh karena ajaran Islam itu di misalkan pohon yang baik maka tentulah pohon yang baik itu membutuhkan ditanam dengan baik.

    Sebelum pohon Thoyyibah itu ditanam dibumi jiwanya rakyat Nusantara ini, maka perlulah tempat yang akan ditanami itu digarap terlebih dahulu, istilah Jawa membuat leleran yaitu kegiatan mempersiapkan tanah yang akan digarap untuk menabur benih.
    Dan benih yang ditabur adalah benih Tauhid. Itulah sebanya nama desa itu dinamakan Leran.

    Sebelum Fathimah membuat leleran pada jiwa penduduk setempat maka terlebih dahulu Fathimah mengadakan pendekatan kepada rakyat setempat.

    Cara Fathimah mengadakan pendekatan kepada rakyat kemudian beliau menambah namanya ditambah dengan nama: “Dewi Retno Suwari”. Dewi adalah nama penghormatan bagi kaum perempuan. Retno artinya permata yang mulia. Suwari yaitu suara yang mengandung makna artinya perkataan.

    Fatimah binti Maimun Dewi Retno Suwari sebagai seorang Muballighot pertama di Nusantara ini mempunyai sifat sifat shufiyah yang komplit. Beliau adalah seorang perempuan yang mempunyai kemauan da’wah Islamiywah yang sangat kuat.

    Di antara sifat sifatnya yang perlu kita mengetahuinya yaitu: kuat kemauannya, keberanian yang luar biasa, cita cita luhur, cinta kepada Allah, tawadhu’, ilmu, tawakal.

    Jika kita berziarah ke makam Fathimah binti Maimun akan melalui dua pintu yaitu pintu pertama masuk ke halaman makam dan pintu ke dua masuk ke ruang makam.

    Dua pintu itu sangat rendah, jadi para peziarah yang masuk haruslah merundukkan diri, membungkuk seperti orang ruku’ di dalam shalat.

    Menundukkan diri masuk ke dalam makam Fathimah binti Maimun itu bukan dimaksudkan supaya kita itu tunduk kepada makam, akan tetapi orang orang yang berziarah itu supaya mengerti bahwa orang yang dimakamkan didalam makam itu adalah orang orang yang ahli tawadhu’ kepada Allah SWT, bukan orang orang takabur, bukan pula orang orang yang tinggi hati besar kepala.

    Masuk ke dalam makam alas kaki harus dilepas, ini pun tidak berarti bahwa komplek makam itu suci akan tetapi itu adalah isyarat bahwa manusia manusia yang dimakamkan itu adalah orang orang yang hatinya, jiwanya, betul betul bersih mengabdi kepada Allah SWT.

    Sampai sampai ikhlas meninggalkan tanah airnya, ibu bapaknya, saudara saudaranya, rumahnya, kekayaannya, demi untuk menunaikan tugas: “Ballighu ‘anni walau aayah

    Di luar makam Fathimah binti Maimun ada beberapa makam yang panjangnya sampai sembilan meter, jangan dikira bahwa orang yang dimakamkan itu panjangnya atau tingginya sembilan meter.

    Itu hanyalah perlambang bahwa perjuangan Islam yang diperjuangkan itu masih panjang, dan supaya orang orang yang berziarah itu mau menyambung perjuangan Islam yang masih panjang itu.

    Kêparêng Cantrik Bayuaji lèngsér madal pasilan
    Dongeng Mubalighot dari Leran saya cukupkan sampai di sini, untuk tutugé, cantrik Bayuaji Insya Allah akan mendongeng Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa

    SUGÊNG SAHUR, SUGÊNG NINDAKAKÊN IBADAH SIYAM DINTÊN KAPING-9 RAMADHAN 1431H

    Yaa Allah! Limpahkanlah kami dengan RahmatMu yang luas. Berilah kami CahayaMu yang terang. Bimbinglah kami menuju kepada RidhaMu yang penuh dengan Cinta dan Kasih-SayangMu. Wahai tumpuan harapan orang-orang yang rindu.

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

    Rujukan:

    1. Ludvik Kalus, Willem van der Molen, C. Guillot,Inskripsi Islam tertua di Indonesia, (terjemahan: Laddy Lesmana, dkk.) Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, Maret 2008.

    2. Marie-France Dupoizat, Untung Sunaryo, Hendy Surachmat, Daniel Perret, Pusat Penelitian Arkeologi (Indonésie) Barus 1000 Tahun Yang Lalu– Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, Maret 2007.

    3.Situs Leran, Gresik (Kunjungan akhir tahun 2008).

    4. Catatan-catatan ziarah, dan dongeng masyarakat sekitar.

  7. ADBM wae durung rampung olehe maca, kok yo tambah-tambah terus. Nganti glegeken….

  8. kulonuwun

    wonten gandok enggal, mbok tak tumut ngisi daftar hadir

  9. Nomer SATUS …

    • Nomer cepek….

  10. nomor piro wae wis..

    ki seno, itu di padepokan adbmcadangan, halaman 300 ada permintaan maaf lho ki..
    mbok ya dibantu, la wong cantrik enggal pada bingung..

    hehehhe..manusia sing care iki..hehehehe.. (pdahal cuman rajin bkunjung thok..ben iso uber2an karo ki karto…wkwkwkwkwk)


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: