HLHLP-004

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 22 Agustus 2010 at 00:01  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-004/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dhêmi wêkdal. Sayêktosipun manungså punikå têmên wontên ing sajroning kapitunan, kajawi ingkang sami mangêstu sartå nindhakakên panggawé ingkang saé, lan wêling-winêling ing bênêr, sartå wêling-winêling kanti sabar
    [QS. Al ´Ashr (103) :1, 2, 3]
    .

    Nuwun

    Sugêng énjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Mubalighot dari Leran
    Bagian Pertama, On 14 Agustus 2010 at 04:27 bayuaji said: [PBM-29].
    Bagian Kedua: On 18 Agustus 2010 at 04:01 bayuaji said: [PBM 31].
    Bagian Ketiga (Tamat) On 19 Agustus 2010 at 04:03 bayuaji said: [HLHLP 001].

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Ahad (Radité) Paing; 12 Påså 1943-Dal. 12 Ramadhan 1431H; 22 Agustus 2010M. Wuku Ugu, Ingkêl Sato. Bhådråwådåmåså, mångså Karo 1932Ç.

    PARA WALI PENYEBAR AGAMA ISLAM DI TANAH JAWA

    dalam dongeng:

    Kêsatriå Mégå Pêthak murid Kakèk Bantal dari Sêmbalo

    Siang yang terik. Matahari memanggang bumi yang gersang di sebuah desa. Dari ujung desa nampak serombongan orang berkuda bersorak-sorai meneriakkan kata-kata kasar dan kotor. Mereka memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.

    Penduduk desa, terutama perempuan dan anak-anak yang berada di luar rumah, berteriak ketakutan dan masuk ke dalam rumah masing-masing ketika melihat gerombolan orang berkuda itu memasuki jalanan desa.

    Gerombolan orang berkuda itu ada sekitar dua puluh orang, terus memacu kudanya hingga ketengah-tengah perkampungan penduduk. Dua orang berada di barisan terdepan mengangkat tangannya tinggi-tinggi sebagai pertanda agar mereka yang di belakangnya berhenti.

    Agaknya dua orang yang berada paling depan itu adalah pemimpinnya. Yang pertama tubuhnya tinggi besar, berewokan, di dadanya terdapat tanda yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang perwira tentara kerajaan, namun tanda itu nampaknya dikenakan seenaknya saja. Yang seorang lagi bertubuh sedang bahkan agak kurus, namun pakaiannya lebih bersih dan rapi. Hanya saja pakaian yang dikenakannya adalah pakaian biasa pakaian seperti pakaian para petani pedesaan.

    Bila melihat pakaian yang dikenakan oleh kedelapan belas orang yang mengikutinga, mereka memang seperti prajurit kerajaan, tapi sifat dan perilaku mereka sudah tidak menunjukkan sebagai prajurit keraton yang baik.

    Hai penduduk Tanggulangin,” teriak si tinggi besar dan berewokan dengan kerasnya. ”Aku Julung Pujud. Kuperintahkan kalian menyerahkan harta benda yang kalian punyai di pelataran rumah masing-masing. Jika tidak, seluruh desa ini akan kuratakan dengan tanah, kubakar habis rumah-rumah kalian.”

    Tak ada jawaban. Rumah para penghuni pedesaan itu tetap tertutup rapat. Tak seorangpun berani menampakkan diri. Wajah si penunggang kuda berpakaian petani nampak murung mendengar ucapan orang yang menyebut dirinya Julung Pujud itu. Namun dia hanya dapat menghela nafas panjang. “Sampai kapan ini akan berlangsung?” Gumannya lirih. “Sebenarnya aku sudah muak melakukannya.”
    Jangan menghalangiku Tekuk Penjalin,” tukas Julung Pujud. ”Kita harus melakukannya dan akan terus melakukannya hingga harta kita terkumpul banyak dan nantinya dapat kita gunakan untuk bersenang-senang hingga tujuh turunan.”

    Orang yang disebut Tekuk Panjalin hanya berdiam diri. Beberapa saat kemudian, karena tak ada jawaban dari penduduk setempat. Wajah Julung Pujud nampak merah padam.

    Kurang ajar.” Bentaknya marah. ”Di desa manapun orang akan membungkuk-bungkuk dan menyembah kakiku jika mendengar namaku disebut. Tapi kalian penduduk Tanggulangin tidak memandangku sebelah mata pun. Baik. Kalian memang perlu diberi pelajaran.”

    Ia menoleh kepada anak buah yang berada di belakangnya. “Nyalakan obor.” Perintahnya. “Bakar semua rumah di desa ini.”
    Beberapa orang segera turun dari kuda untuk menyalakan obor yang sudah mereka siapkan. Lalu naik lagi ke atas kuda beberapa rekannya yang lain tinggal menyulutkan api pada obor itu. Dalam tempo singkat tiga belas orang itu sudah memegang obor menyala di tangan kanan. Sementara tangan kirinya tetap memegang kendali kuda. Kini mereka mulai mendekati rumah-rumah penduduk. Siap menyulutkan api ke dinding-dinding rumah yang terbuat dari kayu atau gedeg dan beratapkan ilalang atau daun nipah.

    Sepasang mata Julung Pujud tiba-tiba menatap lurus ke arah sebuah bangunan aneh. Sebuah rumah terbuat dari dinding kayu beratapkan daun nipah. Nampaknya baru saja didirikan di sebelah barat pusat perkampungan. Sepasang matanya yang tajam.

    Julung Pujud segera mendekati bangunan baru itu. Sepertinya sebuah sanggar pamujan. Tetapi bukan. Tepat pada saat itu orang yang duduk bersila di bagian paling depan, berdiri dan mengajak orang-orang yang berada di belakangnya untuk keluar menemui Julung Pujud.

    He. Jadi kalian berkumpul dan bersembunyi di tempat ini. Apa yang kalian lakukan. Mau melawanku?” tanya Julung Pujud dengan suara keras.

    Seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun maju menghampiri Julung Pujud yang masih duduk di atas kudanya. Wajahnya bersih bercahaya. Kepalanya ditutup dengan kain putih hingga sebagian rambutnya tak kelihatan kecuali di dekat pelipis dan telinganya.
    Selamat datang Ki Julung Pujud.” tegur pemuda itu dengan suara jelas tapi sangat sopan dan ramah. “Sudah lama aku mendengar namamu. Sungguh sangat beruntung sekali, aku dapat bertemu denganmu. Memang sengaja aku menunggu kedatanganmu di sini.“

    Hampir saja sepasang mata Julung Pujud meloncat keluar saking marahnya. Baru kali ini ada orang yang berani berkata seperti itu kepada dirinya. Biasanya orang-orang pedesaan itu hanya menunduk bahkan menyembah-nyembah sambil jongkok.
    Gila, ” umpatnya keras-keras. “Lancang sekali mulutmu anak muda. Sudah bosan hidupkah rupanya. Katakan kaukah yang mengumpulkan para penduduk untuk bersembunyi di tempat ini?

    Pemuda itu menatap lekat kearah Julung Pujud. Lalu berganti ke arah lelaki di sampingnya yaitu Tekuk Penjalin yang lebih suka berdiam diri dan nampaknya lebih tenang. Tak ada rasa takut maupun gentar. Tapi bagi Julung Pujud tatapan anak muda itu dianggapnya telah menghina dirinya.

    Ki Julung Pujud. Sebagian orang memang takut kepadamu. Terutama perempuan yang lemah dan anak-anak. Kami berkumpul di pondok ini bukannya bersembunyi. Kami sedang mengerjakan shalat dhuhur.” jawab pemuda tampan itu.
    Anak muda,” hardik Julung Pujud. “Sebelum nyawamu lepas dari badan. Katakan siapa namamu supaya orang-orangku mengetahui bahwa ada seorang anak muda berani mencoba melawanku, dan akhirnya bernasib buruk.”
    Namaku Abdul Ghafur. Tetapi orang-orang pedusunan sini memanggilku Gapur. Aku murid di pondok ini. Kuperingatkan kepadamu, tinggalkan kebiasaan burukmu itu, jadilah orang baik-baik sebelum terlambat.” Jawab Abdul Ghafur datar.
    Hoo, jadi namamu Kapur?” ejek Julung Pujud. “Pantas wajah dan kulitmu putih seperti mayat. Dan memang sebentar lagi engkau akan segera menjadi mayat.”

    Lalu. Apa maumu anak muda.” Bentak Julung Pujud.
    Aku akan menghentikan perbuatan jahatmu.”
    Apa?” Tanpa basa basi lagi, Julung Pujud menerjang maju ke arah lawannya. Ia melompat dari punggung kuda tegak berdiri, Jari-jari kedua tangannya dikembangkan mengarah ke wajah Abdul Ghafur yang putih bersih. Semua orang, terutama para penduduk desa yang berdiri di belakang Abdul Ghafur berteriak kaget. Sebab si pemuda tampan itu sepertinya tidak bergerak sedikit pun, hanya diam saja, membiarkan Julung Pujud menampar dan mencakar wajahnya.

    Tangan itu sepertinya menyentuh wajah tampan si pemuda, ternyata tidak. Begitu jarak serangan tinggal beberapa jari tangan, Abdul Ghafur menangkis tangan yang hendak mencengkeram wajahnya bahkan langsung berbalik melakukan serangan dengan menendang dada Julung Pujud.
    Julung Pujud mengaduh kesakitan dengan tubuh terdorong ke belakang beberapa langkah. Dadanya terasa bagai di hantam reruntuhan bukit yang sangat berat.

    Sudah diperhitungkan, melihat keberanian si pemuda tentulah lawannya itu mempunyai kepandaian. Tapi sungguh tak disangkanya jika kepandaian si pemuda tampan itu sedemikian tingginya sehingga tubuhnya terdorong kebelakang.

    Tadinya ia berharap akan meringkus pemuda itu dengan sekali serangan saja. Itu sebabnya dia langsung mengerahkan jurus ilmu tertinggi yang dikuasainya. Dia ingin mencengkeram dan langsung memutar leher lawannya.

    Tapi siapa sangka keadaan menjadi terbalik. Justru dia yang terkena tendangan balik. Kini dengan wajah merah padam Julung Pujud langsung mencabut golok di pinggangnya. Dan dengan teriakan mengguntur dia melakukan serangan lagi ke depan. Menebaskan goloknya ke arah perut lawannya. Namun dengan mudahnya pemuda itu berkelit.

    Semua serangan Julung Pujud hanya mengenai tempat kosong. Keringat dingin segera membasahi wajahnya. Ia merasa malu dan semakin marah. Tekuk Penjalin terkejut. Dia adalah seorang pendekar kawakan. Belum pernah dia melihat kecepatan gerak lawannya yang usianya masih sangat muda itu. Ia terus memperhatikan cara-cara lawannya mengelak dan balas menyerang.

    Akhirnya dia dapat menemukan jawaban meskipun belum pasti dan menyimpulkan ciri khas dari ilmu kanuragan yang dimiliki pemuda tampan itu.
    Lembu Sekilan.” teriaknya agak ragu.

    Sementara itu pemuda tampan bernama Abdul Ghafur segera melipat lengan bajunya yang panjang. Agaknya pertarungan antara dia dan Julung Pujud tak bisa dihindarkan lagi.
    Sebenarnya aku paling benci menggunakan kekerasan. Tapi kepada kalian aku punya pertimbangan lain.” ujarnya.

    Julung Pujud yang mendengar teriakan Tekuk Penjalin terkejut sekali. Lembu Sekilan adalah ilmu tingkat tinggi. Tak sembarang orang mampu mempelajari ilmu itu. Tapi lawannya yang berusia masih sangat muda itu sudah menguasainya dengan baik. Sehingga setiap serangan yang dilancarkan tidak akan pernah menyentuhnya. Selalu berjarak kurang dari beberapa jari dari sasaran.

    Telah beberapa jurus yang dilakukan untuk merobohkan Abdul Ghafur, tapi tak satupun mengenainya. Lawan Julung Pujud lebih banyak menghindari serangan daripada membalas. Ia lebih sering mengelak atau menangkis, hanya sesekali balas menyerang dengan tenaga biasa.

    Sementara Julung Pujud sangat bernafsu merobohkan atau membunuh pemuda itu dengan seluruh kemampuan yang ia miliki. Ia merasa dihinakan. Ia telah mengerahkan semua ilmunya. Baik ilmu yang dipelajarinya dari ketika di masih di antara satuan pasukan khusus tentara kerajaan Majapahit maupun ilmu dengan jurus-jurus keji. Semua itu ternyata tak mampu dipergunakan untuk menyentuh tubuh Abdul Ghafur.

    Tekuk Penjalin pernah mengatakan kepadanya, bahwa suatu ketika penduduk Tanggulangin akan menjadi seperti macan yang sangat garang dan kuat, pada saat dia oleh Tekuk Penjalin diperingatkan agar menghentikan pekerjaan kotornya itu. Apa yang dikatakan Tekuk Penjalin bahwa mereka sedang bertemu dengan macan rupanya benar-benar menjadi kenyataan.

    Seluruh penduduk desa Tanggulangin agaknya telah berubah menjadi sekawanan harimau terluka. Siap menerkam siapa saja yang mencoba mengusik ketenangan desanya.

    Julung Pujud melangkah tertatih-tatih ketepian. Menjauhi pertempuran. Mendekati kudanya yang ditambatkan pada sebatang pohon sawo. Sementara delapan belas anak buahnya bertarung sengit dengan puluhan penduduk desa.

    Melihat saudara seperguruannya dapat dikalahkan Tekuk Penjalin langsung meloncat ke depan Abdul Ghafur. Meskipun ia tidak suka dengan kelakuan saudaranya itu, tetapi ia tidak sudi dihinakan sedemikian oleh orang lain yang kebetulan usianya masih sangat muda. Tekuk Penjalin langsung meloncat ke depan Abdul Ghafur.
    Senang sekali bertemu denganmu anak muda.” Katanya dengan wajah dibuat seramah mungkin.
    Sudah lama sekali aku tak bertemu lawan tangguh yang dapat mengimbangi ilmu perguruanku.”

    Sehabis berkata demikian dia langsung melancarkan serangan dari jarak jauh. Hawa panas meluncur ke dada Abdul Ghafur. Pemuda itu, sudah merasakan desir angin sebelum pancaran ilmu Tekuk Penjalin mengenai tubuhnya. Segera ia membemtangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk melindungi dirinya.

    Tetapi sepeti pada Julung Pujud, pertempuran Tekuk Penjalin menghadapi Abdul Ghafur tidak berlangsung lama. Keduanya nampaknya segera menyelesaikan pertempuran itu.

    Abdul Ghafur memang bermaksud segera menyudahi pertempuran itu. Ia merasa kasihan kepada penduduk desa yang terus menerus menjadi sapi perahan gerombolan perampok yang dipimpin oleh kedua saudara Julung Pujud dan Tekuk Penjalin.

    Dalam perkelahian beberapa penduduk desa berjatuhan karena kalah pengalaman dibanding kawanan perampok yang berasal dari pasukan tempur kerajaan Majapahit yang lari dari tugasnya.

    Abdul Ghafur mengerahkan ilmunya. Dan pada hitungan sepenarikan nafas, meskipun Tekuk Penjalin berada pada puncak pemusatan ilmunya, tetapi ia langsung roboh terjungkal ke tanah. Nafasnya terengah-engah.
    Mulutnya mengeluarkan darah segar. Beberapa bagian tubuhnya membiru.

    Melihat kenyataan itu. Julung Pujud yang sudah naik ke atas punggung kuda menjadi kecut hatinya. Ia menggiring kudanya secara diam-diam untuk menjauhi arena pertarungan. Rupanya Julung Pujud bersiap-siap hendak melarikan diri jika ternyata pihaknya menderita kekalahan.

    Ilmu demit.” Desis Tekuk Penjalin dengan pandangan mata yang nanar.
    Ki Sanak keliru.” sahut Abdul Ghafur sembari melangkah mendekati Tekuk Penjalin yang terkapar tanpa dapat bangun lagi.
    Kami bahkan sangat membenci ilmu semacam itu.” Kemudian berpaling dan mendekati ke arah Tekuk Penjalin.

    Apakah pertempuran ini akan kita teruskan.” Tidak ada jawaban. Tekuk Penjalin hanya berdesis.
    Cepat perintahkan anak buahmu untuk menyerah.”
    Tekuk Penjalin hanya diam saja. Abdul Ghafur melangkah makin dekat. Sepasang kakinya berdiri di sisi tubuh Tekuk Penjalin yang terkapar. “Jika kau tak mau perintahkan anak buahmu menyerah, maka kuinjakkan kakiku ke dadamu, kau pasti akan mati.” ancamnya.

    Tekuk Penjalin masih tak mau buka suara. Sepasang matanya memandang lawannya dengan penuh dendam dan pertanyaan. Rasanya dia masih belum percaya jika telah dirobohkan oleh seorang pemuda hanya dalam satu kali pukulan saja. Benar-benar mustahil. Tapi kenyataan telah membuka matanya bahwa di dunia ini masih ada orang yang lebih sakti selain dirinya.

    Cepat perintahkan anak buahmu untuk menyerah.” Kali ini Abdul Ghafur bersungguh-sungguh mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Siap dihantamkan ke dada Tekuk Penjalin.

    Tekuk Penjalin sendiri masih bungkam. Hatinya bergolak, “Bertahun-tahun aku mengembara. Ingin bertemu dengan orang dapat mengalahkanku, kini orang itu ada dan ternyata hanya seorang anak muda. Aku kecewa, daripada hidup menanggung malu, lebih baik aku mati di tangannya.”

    Tanpa diduga oleh Abdul Ghafur, tiba-tiba Tekuk Penjalin berdiri sambil menggerakkan mulutnya. Bukan untuk memberi perintah agar anak buahnya menyerah. Melainkan justru meludahi wajah lawannya itu yang hendak menginjak dadanya. Kemudian di jatuh terduduk.

    Abdul Ghafur tak sempat mengelak. Ludah itu menempel di wajahnya. Seketika wajahnya yang putih bersih berubah jadi merah padam pertanda marah. Sepasang tangannya terkepal erat. Kaki kanannya bergetar hebat menahan amarah. Sekali injak tentu rusuk-rusuk dada Tekuk Penjalin pasti patah berserakan.

    Melihat wajah Abdul Ghafur yang merah membara itu tergetarlah hati Tekuk Penjalin, bagaimanapun sebenarnya dia tidak rela mati begitu saja. Kini lenyaplah kepongahan hatinya. Berubah jadi kecil. Wajahnya seketika berubah jadi pucat pasi.

    Kali ini tamatlah riwayatku …….” Desis Tekuk Penjalin sambil menyeringai menahan sakit, melihat kaki kanan lawannya diangkat tinggi-tinggi. Siap menghantam dadanya.
    Tiba-tiba terjadilah keanehan. Lawannya seorang anak muda yang tampan itu mengurungkan niatnya menghantam dada Tekuk Penjalin dengan kakinya. Dia menarik kaki kanannya dan berdiri dengan sikap biasa. Terdengar ia bergumam, “Astaghfirullah ….”

    Wajahnya yang tadi merah pedam karena dialiri darah amarah yang menggelegak mendadak berubah lagi jadi putih bersih. Perlahan dia membersihkan ludah Tekuk Penjalin yang menempel di wajahnya.
    Mengapa? He anak muda mengapa engkau tidak segera membunuhku?” tanya Tekuk Penjalin keheranan.
    Karena kau telah membuatku marah.” jawab Abdul Ghafur datar.
    Aku tidak boleh menghukum orang dalam keadaan marah. Itu adalah dosa. ”
    Dosa? …… Apa itu dosa?” tanya Tekuk Penjalin dengan penuh keheranan. “Bukankah aku ini perampok jahat yang pantas dibunuh?
    Tadi ………,” kata Abdul Ghafur. “Sebelum engkau meludahiku dan sebelum sempat aku marah. Aku boleh membunuhmu karena niatku untuk membunuhmu adalah memerangi kejahatan semata-mata karena Allah. Tetapi setelah engkau meludahiku, maka hatiku menjadi marah. Yang marah adalah aku pribadi. Karena diri pribadiku tersinggung dengan perbuatanmu. Sedangkan aku tidak boleh mencampur adukkan antara kepentingan pribadiku dengan niat berjuang di jalan Allah.”

    Saat aku marah hatiku sudah menyeleweng dari jalan Allah, jadi aku akan menanggung dosa besar jika membunuhmu atas dasar kebencian pribadi. Bukan atas dasar berjuang di jalanNya, yang sesuai dengan ajaran agamaku. Itulah sebabnya mengapa aku tidak membunuhmu. ”
    ….. Dosa, …. berjuang.. di jalan Allah…. Allah ….. Siapa Allah? He anak muda. Jangan engkau pamer kebaikan hatimu di hadapanku.” teriak Tekuk Penjalin, tapi sejenak dia tertegun. Dalam kesombongan dirinya hati Tekuk Penjalin bergolak.

    Hatinya terasa diketuk-ketuk oleh sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Ia hanya merasa bahwa anak muda tampan yang berpenutup kepala putih itu sangat baik terhadapnya. Ia merasa yakin bahwa anak muda itu tidak berkehendak untuk menyombongkan dirinya kepadanya. Anak muda itu berkata sejujurnya.

    Tekuk Penjalin telah mendengar pula bahwa telah berkembang suatu ajaran, tuntunan kehidupan agami énggal yang telah dipeluk oleh penduduk sepanjang pantai Ujunggaluh, Sembalo, Leran, penduduk di sekitar pelabuhan di kaki Gunung Penanggungan. Agami énggal ini mengajarkan bahwa manusia dilahirkan ke dunia adalah sama dan sederajad, tidak ada perbedaan, dan diajarkan pula oleh agami énggal itu, sifat sopan santun dan kedermawanan.

    Allah adalah Dia yang menciptakan kita. Dia Maha Pengasih. Dia Maha Penyayang dan Dia Maha Pengampun.”
    Tersadar Tekuk Penjalin dari lamunannya.
    Aku adalah bekas perwira tentara kerajaan Majapahit dan kini akan adalah pemimpin perampok. Kejahatanku telah bertumpuk-tumpuk, apakah aku masih pantas untuk diampuni. Dan Allah yang kau sebut itu aku tidak tahu, Siapa Dia. Dan engkau katakan Dia dapat mengampuni siapa saja. Benarkah?. Tetapi apakah Dia akan mengampuniku?” tanya Tekuk Penjalin, seperti seorang yang kosong jiwanya.

    Kenapa tidak?” Sahut Abdul Ghafur.
    Benarkah perkataanmu itu?” bertanya Tekuk Penjalin ragu.
    Aku bicara apa adanya. Dusta adalah suatu dosa.” sahut Abdul Ghafur.

    Tiba-tiba Tekuk Penjalin berusaha bangkit untuk berdiri. Karena tubuhnya masih lemah maka ia segera roboh lagi. Abdul Ghafur cepat menyambarnya.

    Sementara itu, pertempuran antara penduduk desa dengan kawanan perampok masih berlangsung seru.
    Tiba-tiba terdengar bentakan yang lantang. “Hentikan pertempuran.”

    Semua orang terkejut dan segera menghentikan pertempuran. Ternyata bentakan itu berasal dari Tekuk Penjalin. Dia berdiri tegak di samping Abdul Ghafur. Anak muda tampan itu telah menolong Tekuk Penjalin sehingga tubuhnya kembali segar bugar seperti semula.

    Hei anak muda, aku dengar namamu adalah Ghafur. Abdul Ghafur, bukankah begitu. Tetapi adakah engkau punya nama dan sebutan lain.”
    Adakah itu perlu?” tukas Abdul Ghafur.
    Ya. Perlu sekali untukku. Paling tidak kelak aku dapat bercerita pada siapa saja, bahwa Tekuk Penjalin dikalahkan oleh orang yang sangat sakti.”

    Abdul Ghafur tersenyum “Tidak. Aku bukan orang sakti. Aku hanya seorang murid sebuah pondok. Dan di kalangan pondokku aku biasa dipanggil dengan sebutan Satriå Mégå Pêthak .”

    Engkaukah itu,” teriak Tekuk Penjalin. “Engkau Mégå Pêthak? Késatria Mégå Pêthak. Kesatria Awan Putih murid Kakek Bantal yang sakti itu?
    Oh ….., ternyata aku bertemu dengan seorang yang sangat sakti dan baik hati. Namamu telah terkenal mulai dari Wilwatikta, Ujunggaluh, Lasem, Sembalo, Leran, tlatah Tumapel dan Kadiri hingga Blambangan, sebagai kesatria penumpas kejahatan yang baik hati, bersih bagai mega putih. Pantas engkau menyandang gelar Satriå Megå Pêthak. Aku tidak malu mengakui kekalahanku, aku mengakui kesaktianmu.”

    Kalau engkau yang menjadi murid Kakek Bantal sedemikian saktinya, bagaimana kira-kira kesaktian gurumu. Kakek Bantal itu.”
    Dengarkan. Mulai sekarang kutinggalkan dunia kejahatan. Aku tak mau lagi hidup bergelimang dosa. Karena pertolonganmu anak muda. Hari ini juga aku akan suwita kepadamu. Ajarilah aku dengan tuntunan yang baru itu.”

    Semua orang terkejut mendengar perkataan itu. Baik dari kalangan penduduk desa maupun para perampok itu sendiri. Sementara bagi Pulung Pujud ucapan Tekuk Penjalin itu bagaikan petir menyambar di telinganya. Jika Tekuk Penjalin yang tadinya adalah andalan gerombolannya sudah menyeberang ke pihak lain, maka tamatlah riwayatnya. Tekuk Penjalin menatap wajah seluruh anak buahnya.

    Kalian boleh pilih, tetap menjadi gerombolan perampok, hidup sebagai manusia buruan, dicari oleh punggawa kerajaan Majapahit dan dimusuhi seluruh rakyat atau hidup baik-baik, bertobat dan membaur dengan masyarakat.”

    Delapan belas perampok itu sekarang tinggal lima belas. Tiga rekannya telah mati di tangan penduduk desa. Delapan orang langsung membuang senjatanya di tanah begitu mendengar seruan Tekuk Penjalin. Tujuh lainnya berlari ke arah kudanya masing-masing dan bergerak menuju Julung Pujud.

    Ki Tekuk Penjalin. Aku tidak sudi mengikuti jejakmu. Biarkan kami menempuh jalan kami sendiri.”
    Terserah kalian.” sahut Tekuk Penjalin. “Tapi jangan coba-coba mengganggu desa ini lagi. Bila itu kalian lakukan maka kalian akan berhadapan denganku.”

    Julung Pujud tertawa keras. “Mari anak-anak kita tinggalkan Tekuk Penjalin yang pengecut.” Julung Pujud mendahului memacu kudanya keluar desa. Diikuti tujuh orang anak buahnya yang tidak mau menerima kenyataan yang ada itu.

    Beberapa penduduk desa yang masih merasa geram dan dendam segera menendang dan memukuli delapan perampok yang telah menyerah, duduk bersimpuh di atas tanah tanpa mengadakan perlawanan sama sekali.

    Abdul Ghafur segera melarang penduduk desa, “Hentikan. Tidak pantas melakukan kekerasan kepada orang yang sudah menyerahkan diri.”
    Mereka telah berbuat kejahatan kepada kami.” Sahut beberapa orang.

    Serahkan mereka padaku. Aku akan mengurusnya.” jawab Abdul Ghafur dengan suara berwibawa.
    Kemudian ia memberi isyarat kepada seluruh penduduk untuk berkumpul. Ki Tekuk Penjalin dan anak buahnya duduk bersimpuh di belakang Abdul Ghafur, menghadap ke arah penduduk desa yang segera berkumpul di hadapan Abdul Ghafur.

    Sudah kalian saksikan sendiri,” Abdul Ghafur membuka suara. “Kita harus kuat, karena dengan adanya kekuatan kita dapat mempertahankan diri dari pemaksaan kehendak orang lain.“

    Demikianlah, secara panjang lebar Abdul Ghafur memberikan bimbingan kepada penduduk setempat seraya mengenalkan ajaran agami énggal. Bukan hanya sekedar ceramah saja. Melainkan dibuktikan dengan perbuatan nyata.

    Abdul Ghafur adalah murid Kakek Bantal yang ditugaskan membina desa-desa terpencil yang jauh dari pusat kekuasaan kerajaan, dan masyarakat yang belum mengenal Islam. Dia membantu para penduduk untuk meningkatkan taraf kehidupannya dengan cara membimbing mereka bertanam padi dengan cara yang lebih baik. Dengan ilmu pengobatan yang dipelajari dari gurunya ia juga telah banyak menolong para penduduk yang menderita sakit.

    Penduduk setempat akhirnya menaruh simpati. Di saat itulah Abdul Ghafur mengenalkan keindahan dan keluhuran tuntunan ajaran agami énggal kepada mereka. Tekuk Penjalin dan anak buahnya dibina di desa itu. Akhirnya mereka menjadi orang baik-baik dan menjadi pelindung desa dari rongrongan para perampok.

    Itulah cara da’wah yang ditempuh oleh Abdul Ghafur yang dikenal oleh Tekuk Penjalin dan penduduk desa itu sebagai Kêsatriå Megå Pêthak. Seputih hati dan sebersih jiwa pemuda yang baru berkembang seiring berkembangnya ajaran tuntunan agami énggal. Islam.

    Abdul Ghafur sangat teguh menjauhi kemungkaran dan tiada henti-hentinya menegakkan kebenaran yang dinodai sekelompok orang tak bertanggung jawab. Abdul Ghafur hanyalah salah satu di antara sekian banyak murid Kakek Bantal yang tinggal di Sembalo.

    Lalu siapakah si Kakek Bantal itu. Ya, siapakah sebenarnya Guru Abdul Ghafur yang disebut Kakek Bantal itu? Dan dimana Sembalo itu?

    Pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari,

    Dongeng di atas adalah dongeng seorang murid dari suatu pondok yang bernama Abdul Ghafur dengan sebutan Késatria Mégå Pêthak murid Kakek Bantal dari Sembalo mengalahkan tokoh perampok Tekuk Penjalin. Kisah ini disampaikan secara tutur lisan dari generasi ke generasi, hingga ke generasi sekarang.

    Boleh jadi kisah di atas tidak seluruhnya demikian adanya. Tetapi yang pasti bahwa tokoh Abdul Ghafur adalah murid Kakek Bantal dan tokoh Tekuk Penjalin adalah perampok benar adanya, bahkan dia adalah seorang penjudi.

    Dalam kisah lain disebutkan bahwa Tekuk Penjalin adalah pemimpin sebuah padepokan. Dia adalah seorang ajar atau ahli kepercayaan tertentu (tidak disebutkan kepercayaan apa), tapi disebutkan juga gemar berjudi, dan sabung ayam. Dapat dikatakan suatu hal yang bertolak belakang bahkan saling bertentangan. Di satu sisi dia adalah seorang penganut kepercayaan tertentu, tetapi di sisi lain dia adalah penjudi.

    Kehadiran Abdul Ghafur yang sebagai juru penyampai ajaran agami enggal (agama Islam), bagi Tekuk Penjalin dianggapnya sebagai sesuatu yang menggangggu keberadaannya.

    Si penutur versi lain ini nampaknya ingin lebih menekankan bahwa telah terjadi perkelahian antara pemimpin padepokan tokoh kepercayaan lain (Tekuk Penjalin) dengan penda’wah Islam (Abdul Ghafur), yang berakhir dengan tumbangnya sang tokoh itu.

    Kisah versi ini jelas ingin memberikan suatu gambaran yang salah tentang Islam. Islam digambarkan seolah-olah datang ke Tanah Jawa hendak menggusur keberadaan aliran kepercayaan lain, menentang adanya keyakinan selain Islam, dengan memaksakan kehendak agar orang lain masuk Islam. Si penutur “lupa” menyebutkan “profesi” Tekuk Penjalin, yang perampok itu.

    Perkelahian antara Tekuk Penjalin dan Abdul Ghafur bukanlah pertikaian antar keyakinan apalagi antar agama, seperti dikisahkan oleh sang penutur. Tetapi semata-mata tugas da’wah Abdul Ghafur menghentikan perbuatan mungkar (penjudi dan perampokan yang sangat meresahkan masyarakat desa Tanggulangin), yang “kebetulan” sang tokoh itu seorang “penganut kepercayaan”.

    Bahkan ini dapat dikatakan sebagai bentuk penghinaan pada keyakinan atau kepercayaan seseorang, entah dengan alasan apa sang penutur menyebutkan bahwa seorang penjudi bahkan perampok itu, juga sebagai seorang penganut kepercayaan.

    Ini hanya salah satu contoh betapa sejak lama orang-orang yang tidak menyukai Islam membuat kisah-kisah yang jauh dari kebenaran. Kaum orientalis dan mereka yang memusuhi Islam telah menuduhkan suatu kebohongan besar atas sejarah berkembangnya Islam di Nusantara.

    Salah satu contoh kebohongan lain, dapat kita lihat pada Serat Darmogandhul yang ditulis oleh Ki Kalamwadi, dengan waktu penulisan hari Sabtu Legi, 23 Ruwah 1830 Jawa atau sangkala Wuk Guneng Ngesthi Nata, sama dengan 16 Desember 1900.

    Serat Darmogandhul yang isinya antara lain memuat kisah runtuhnya kerajaan Majapahit, ternyata ditulis pada masa penjajahan Belanda bukan pada saat peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Demak Bintoro, jauh setelah masuknya Belanda dengan VOCnya pada tahun 1596. Bahkan lebih jauh setelah Majapahit runtuh di tahun 1400Ç atau 1478M.

    Kalamwadi adalah nama samaran yang nama sebenarnya tidak pernah diketahui, yang dalam bahasa Jawa berarti kabar (kalam) yang dirahasiakan (wadi). Karya ini ditulis dalam bentuk dialog yang terjadi antara Ki Kalamwadi dan muridnya Darmogandhul.

    Serat Darmogandhul berisi mengenai kapan terjadinya perubahan agama di Jawa. Disebutkan bahwa Ki Kalamwadi (penulis Serat Darmogandhul) berdasarkan penjelasan dari gurunya, yang bernama Raden Budi menguraikan cerita dan ajaran antara lain jatuhnya kerajaan Majapahit, berbagai peranan Walisongo dan tokoh-tokoh lainnya pada awal masa peralihan Majapahit-Demak, topik-topik dalam ajaran agama Islam, serta terjadinya benturan berbagai budaya baru dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa saat itu.

    Buku ini penuh berisi ejekan dan hinaan terhadap Islam, dan banyak kesalahan dalam mengungkapkan fakta sejarah. Buku di era tahun 50-an ini dibreidel. Pada tahun 80-an buku beredar lagi di masyarakat, tetapi oleh Pakem (Pengawas Aliran Kepecayaan Masyarakat) Kejaksaan Agung, dinyatakan dilarang untuk diedarkan.

    Mungkin di antara karya-karya sastra berbahasa Jawa, Serat Darmogandhul adalah salah satu sastra Jawa yang sangat kontroversial. Walaupun menggunakan latar belakang kisah runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak Bintoro, namun isi Serat Darmogandhul banyak memutarbalikkan ajaran agama tertentu, juga kitab ini sarat dengan keganjilan-keganjilan sejarah sebenarnya, dan mencuatkan hal-hal yang tidak masuk akal pada zamannya.

    Hal ini salah satu contoh, didapati pada untaian kisah berikut:

    … wadyå Måjåpahit ambêdhili, déné wadyå Giri pådå pating jêngkêlang ora kêlar nadhahi tibaning mimis,…

    “[pasukan Majapahit menembak dengan senapan, sedangkan pasukan Giri berguguran akibat tidak kuat menerima timah panas]”.

    Apakah zaman itu tentara kerajaan Majapahit (tahun 1400an) sudah menggunakan senjata api dalam berperang? Hal tersebut tidak mungkin sebab senjata api baru dikenal sejak kedatangan bangsa Eropa ke bumi Nusantara.

    Data sejarah tertua yang memperkenalkan senjata api dan mulai dipergunakan di Nusantara adalah pada tahun 1521 tatkala Pati Unus atau Adipati Unus dengan julukan Pangeran Sabrang Lor memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Disebutkan bahwa meriam-meriam kapal perang Pati Unus mengalami kekalahan melawan meriam Portugis.

    Lalu siapakah sebenarnya penulis serat ini? Sampai saat ini belum ada yang bisa menunjukkan secara pasti siapakah pengarang serat ini. Namun dari sejumlah analisis tulisan dan latar belakang sejarah dalam serat itu, penulis Darmogandul bukan orang yang tahu persis sebab-sebab keruntuhan Majapahit yakni Perang Paregreg yang menghancurkan sistem politik dan kekuasaan Majapahit.

    Dialog antara Kanjeng Sunan Kalijaga (Raden Mas Sahid) dan Prabu Brawijaya yang termuat dalam Serat Darmogandhul, menunjukkan kebohongan yang lain. Berikut kutipan dialog itu:

    Sang Prabu Bråwijåyå ngêndikå: “Sumurupå Sahid! saupåmå aku kondur marang Måjåpahit, si Patah sébå mênyang aku, gêthingé ora bisa mari, amargå duwé båpå kawak kapir kupur, liyå dinå lali, aku banjur dicêkêl dibiri, dikon tunggu lawang pungkuran, ésuk soré diprêdi sêmbahyang, yèn ora ngrêti banjur dicêmplungké ånå ing blumbang lan diguyang dikosoki alang-alang garing.”

    Mungkinkah seorang anak (Raden Patah, sang pewaris sah Kraton Majapahit dan menjadi Sultan Demak) begitu tega kepada ayahandanya (Sang Prabu Brawijaya), sampai-sampai kebenciannya kepada Sang ayahanda Prabu Majapahit tak pernah pupus, karena punya bapak yang kafir kufur, pagi sore memaksa sembahyang, dan kalau tidak mau, maka akan direndam di blumbang lalu diguyur air, dan digosok alang-alang kering???

    Si Kalamwadi mungkin mendapatkan ilham dari kisah perebutan kekuasaan yang dilakukan Prabu Dewatacengkar terhadap ayahnya, Prabu Sindhula dan peristiwa Prabu Danapati raja Lokapala melawan ayahnya, Sang resi Wisrawa, atau cerita klasik tentang Ajata, pangeran yang dihasut oleh pamannya Bhikkhu Devadatta untuk merebut tahta kekuasaan ayahnya yang bijaksana Raja Bimbisara.

    Di situ penulis Serat Darmogandhul jelas sengaja melecehkan ajaran-ajaran agama Islam dan mendiskreditkan Raden Patah selaku Sultan Demak Bintoro sebagai anak durhaka karena berani menyerang ayahandanya selaku Raja Majapahit.

    Padahal Majapahit bukannya jatuh oleh Demak, melainkan oleh seorang raja Keling atau Kediri. Baru sesudah itu pihak Demak sebagai pewaris sah Kerajaan Majapahit menyerang Raja Girindrawardhana Kadiri.

    Demikian juga cerita versi Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda yang selama ini populer di kalangan masyarakat Jawa, bahkan pernah juga diajarkan disebagian sekolah dasar dimasa lalu.

    Secara garis besar, cerita itu boleh dibilang menunjukkan kemenangan Islam. Padahal sebenarnya sebaliknya, bisa memberi kesan yang merugikan, sebab seakan-akan Islam berkembang di Jawa dengan kekerasan dan darah.

    Selain fakta lain banyak menungkap bahwa masuknya Islam dan berkembang ditanah Jawa dengan jalan damai. Juga fakta keruntuhan Majapahit juga menunjukkan bukan disebabkan serbuan tentara Islam Demak.

    Penulisan Serat Darmagandhul tak terlepas dari proyek orientalisme Belanda. produk rekayasa sastra Jawa yang dipergunakan untuk kepentingan penjajah kolonialis Belanda.

    Pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari,

    Sejarah kisah para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa yang dikenal dengan sejarah Walisongo telah begitu populer, sehingga banyak orang meyakini bahwa para wali sebagai orang-orang yang sakti mandraguna, tetapi di sisi lain tak kurang orang yang meragukannya, bahkan ada beberapa orang menempatkan kisah para wali sebagai kisah yang tidak islami.

    Walisongo diangap hanyalah kisah fiktif. Ada pula yang menyatakan Walisongo tidak layak disebut sebagai ulama karena kegagalannya dalam mengajak masyarakat mentauhidkan Allah di dalam peribadatan kepadaNya. Buktinya, meskipun masyarakat telah memeluk Islam tetapi keislaman mereka masih dipengaruhi oleh kepercayaan lamanya yaitu animisme dan dinamisme.

    Benarkah kisah Walisongo fiktif belaka? Benarkah mereka gagal dalam melaksanakan da’wah?

    Bagaimana mungkin kisah Walisongo fiktif sedangkan para tokoh ulama, tidak pernah menyinggung masalah ini. Bagaimana mungkin fiktif kalau Stamford Raffles dalam bukunya History of Java mencatat pernyataan salah seorang anggota Walisongo Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik ) tentang Allah sebagai berikut: “Allah adalah Zat yang diperlukan adaNya

    Demikian juga pendapat Dr. H.J De Graaf yang pernah menulis sejarah hidup Sunan Giri (R. Ainul Yakin/R. Paku). Bahkan karya sastra Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim), tersimpan dengan baik di perpustakaan Universitas Leiden Belanda hingga sekarang.

    Bagaimana ini semua bisa dianggap fiktif? Adakah hasil riset terbaru dari para ahli sejarah yang membutikannya?

    Banyaknya kisah yang ditulis tentang “kehebatan dan kesaktian” bahkan perilaku para wali dianggap sebagai tidak Islami, bukan berarti kisah Wali Songo itu kemudian kita campakkan begitu saja.

    Katakan jika kisah Walisongo itu benar-benar fiktif. Bukankah kisah fiksi yang bertemakan Perjuangan Walisongo itu begitu luar biasa? Sebuah kisah fiksi yang ditulis pengarangnya dengan begitu detil sehingga seolah-olah hidup dan pernah ada.

    Kisah fiksi yang telah dengan begitu indah mengajarkan nilai-nilai kehidupan, mendekripsikan dengan gamblang tentang pentingnya hidup sederhana, penegakan keadilan, distribusi kesejahteraan, menghargai keberagaman dan keharusan toleransi tanpa kehilangan jatidiri.

    Bukankah ini hal-hal utama dan relevan hingga saat ini meskipun ia hanya berasal dari kisah fiktif. Kalaupun itu kisah fiktif.

    Dengan pisau analisis historis, kita dapat membedah dan memilah-milah mana kisah fiktif dan mana yang kisah nyata dari para waliullah ini, termasuk kisah yang dianggap tidak islami.

    Demikian juga halnya jika ada yang menganggap Sang Wali tidak layak disebut sebagai ulama karena kegagalannya dalam mengajak masyarakat mentauhidkan Allah di dalam peribadatan kepadaNya. Tidak sekedar suatu alasan untuk tidak menghormati beliau-beliau, tetapi jelas suatu sikap yang sangat keliru.

    Banyak ayat-ayat Al Qur’an menerangkan bahwa Rasululllah SAW dengan demikian juga para pelanjut Risalah Rasulullah SAW, para sahabat, tabiin, tabiut tabiiin, para ulama terdahulu, para penda’wah, dan para Penyambung Lidah Nabi selanjutnya, termasuk para wali, juga juru da’wah masa kini, mempunyai tugas hanyalah menyampaikan amanat Allah dengan seterang-terangnya.

    “Aku menyampaikan amanat-amanah Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu”.[QS. Al A’raaf (7) : 68]

    “Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. [QS. Yaasin (36) : 17]

    “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat)”. [QS. As Syuura (42) : 48]

    Demikian juga beberapa ayat-ayat Al Qur’an lainnya seperti [QS. Ali Imran (3) : 20]; [QS. Al A’raaf (7) : 68]; [QS. Al A’raaf (7) : 87]; dan masih banyak lagi.

    Seorang juru da’wah yang dengan segala perjuangannya mengajak umat mentauhidkan Allah di dalam peribadatan kepadaNya, ternyata umat atau masyarakat yang bersangkutan tidak mau menerimanya. Patutkah hal ini semata-mata dianggap sebagai kegagalan Sang Penda’wah. Mungkin cara da’wahnya yang perlu disesuaikan, atau karena sebab lain.

    Tetapi hati seseorang terbuka menerima atau tertutup menolak hidayah Allah tidaklah menjadi tanggung jawab Sang Penda’wah. Semua kembali kepada diri pribadi orang-perorang.

    Pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari,

    Demikianlah, seperti yang sering cantrik Bayuaji sampaikan bahwa dalam menelisik untuk mencari kebenaran sejarah, haruslah berbasis keilmuan semata dan tanpa beban, selalu dengan pikiran yang jernih, bersih, netral apa adanya, dan sudah barang tentu tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan. Penulisan sejarah apalagi yang menyangkut suatu keyakinan, kepercayaan atau agama, haruslah dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Jangan sampai juga ditunggangi oleh kepentingan-kepentingan tertentu dengan cara-cara pemalsuan seperti menyajikan data yang tidak benar atau menyembunyikan data yang benar; dengan cara penipuan, bujukan, intimidasi dan pemaksaan.

    Sejarah adalah sejarah, dia tidak lebih adalah sebuah cermin yang memantulkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu bagi orang-orang yang sekarang, dan kebenaran sejarah bersifat hipotetik. Sejarah dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis dan data-data akurat yang menunjang masih terjadi.

    Akhirnya kembali kepada pårå kadang, sumonggo dikaji dengan lebih arif dan bijaksana.

    Tapi pertanyaan di atas belum dijawab. Siapa Kakek Bantal dari Sembalo itu?

    [Catatan: Dongeng Arkeologi & Antropologi Penyebaran Agama Islam di Nusantara, sub judul Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa, ditulis untuk menemani pårå kadang padépokan pêlangisingosari yang muslim, di antara kegiatan beribadah puasa di bulan Ramadhan. Adapun rujukan sebagai sumber penulisan akan dimuat pada akhir penulisan dongeng ini. Semoga bermanfaat.]
    ånå candhaké atawa to be continued

    Ya Allah. Hiasilah diri kami dengan penutup dan kesucian. Tutupilah diri kami dengan pakaian qana’ah dan ridha. Tempatkanlah kami di atas jalan keadilan dan sikap tulus ikhlas. Amankanlah diri kami dari setiap yang kami takuti dengan penjagaanMu, Wahai Dzat Yang Maha Penjaga orang-orang yang takut. Aamin

    SUGÊNG SAHUR, SUGÊNG NINDAKAKÊN IBADAH SIYAM DINTÊN KAPING-12 RAMADHAN 1431H

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

    • Mantep Ki, matur suwun pencerahannya. Silakan lanjut…

      • Dongengipun sae sanget Ki Bayu, kulo tenggo candakipun.

  2. Matur suwun dongengipun Ki.

  3. Matur nuwun Ki Bayuaji
    Matur nuwun Ki Satpam.
    Sugeng enjang.

  4. No 4, Matur suwun.

  5. Numero uno

  6. matur nuwun sedoyo kemawon

  7. Nunggu rapel bukaan gandok

  8. matur nuwun.
    sabar menanti rontal versi ki ismoyo.

  9. Monggo nek badhe nenggo ki Is…
    Kulo dak nenggo Miss dan Ni

  10. maturnuwun,
    baru pulang setelah menjenguk keponakan di RS,
    Kamsia, dapat rontal 04
    Kamsia, dapet dongeng Sayidina Ali versi jawa tentang “ludah”.
    KAMSIA SEDOYO, saudara dan semua sahabat………

    • seharian ABSEN baru malem ini mampir
      lagi ning Padepokan….matur nuwun ki,

      @ki Kompor,
      semoga keponakan njenengan cepet sembuh,
      bisa Lebaran dirumah.

    • sama-sama Adhimas Kompor,
      paling tidak sama-sama dapet rontal dan
      sama-sama matur nuwun.

      • hikss,
        cantrik pikir seBANTAL-seKASUR
        seGANDOK lan seSUMUR….😀

        tiba’e salah, sugeng dalu ki Gembleh

  11. sugeng dalu ki SENO
    selamat malam pak SATPAM

    biasane nek LALI ra disebut pak SATPAM
    purikan, terus komen cantrik di CEKAL,
    hikss, pak SATPAM kayak serdadu kompeni.

    eh kleru ding “company”
    (we-lah kleru meneh….)

    • LOEPA,
      wulan poso pak SATPAM ra pareng DUKO…he3

  12. terima kasih atas wedarannya

  13. Kakek Bantal adalah Syekh Maulana Malik Ibrahim Gresik

    • Nuwun

      Katur Ki Amir:

      Silakan berkunjung ke gandhok Dongeng Arkeologi & Antropologi

      ‘Klik’ saja gambar di sebelah kanan Nusantara, Sejarah Indonesia cari 4. Seri Penyebaran Islam

      Nuwun

      cantrik bayuaji


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: