HLHLP-006

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 24 Agustus 2010 at 04:02  Comments (13)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-006/trackback/

RSS feed for comments on this post.

13 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun

    Sugêng énjang. Sugêng pêpanggihan pårå kadang sâdåyå. Atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Kêsatriå Mégå Pêthak murid Kakèk Bantal dari Sêmbalo On 22 Agustus 2010 at 03:04 bayuaji said:[HLHLP 004]

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Sêlåså (Anggårå) Wagé; 14 Påså 1943-Dal. 14 Ramadhan 1431H; 24 Agustus 2010M. Wuku Ugu, Ingkêl Sato. Bhådråwådåmåså, mångså Karo 1932Ç.

    PARA WALI PENYEBAR AGAMA ISLAM DI TANAH JAWA
    dalam dongeng:
    Dari Syeh Maulana Malik Ibrahim sampai Syarif Hidayatullah
    [Dongeng tentang Kakek Bantal disimpen dulu].

    Sudah banyak kisah para waliulllah pembawa Risalah Nabi Muhammad SAW di Nusantara khususnya di Tanah Jawa yang kita kenal dengan sebutan Wali Sångå, diceritakan, baik melalui buku-buku pelajaran sejarah, buku-buku saku yang banyak dijual di sekitar kompleks makam para wali yang bersangkutan, di situs-situs internet. Bahkan buku-buku “ilmiah serius” yang ditulis para “pakar” pun ada.

    Kisah hidup para wali pun ada yang ditembang-lagukan di beberapa perkumpulan paguyuban måcåpatan, termasuk cerita “kedigdayaan dan kesaktian” para wali.

    Keberhasilan para wali dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa adalah berkat keuletan, strategi dan cara-cara berda’wah yang tepat, sesuai Firman Allah SWT dalam Al Qur’an:

    (Muhammad) Sirå ngajakå pårå manungså marang agamané Gusti Pangéranirå, klawan wicaksånå lan piwêling kang bêcik lan sirå wangsulånå wong kang ambantah ing sirå klawan luwih bêcik. [Q.S An Nahl (16) : 125]

    Sebenarnya Wali Sångå adalah nama suatu dewan mubaligh yang ada di Pulau Jawa. Apabila salah satu anggota dewan wali tersebut meninggal dunia maka akan diganti dengan wali lainnya berdasarkan musyawarah.

    Wali Sångå adalah penyebar Islam di Jawa. Para ulama itu berhasil menanamkan Islam dalam ranah tauhid, akhlak, sosial, budaya dan politik. Puncak karya gemilang mereka adalah berdirinya Kesultanan Giri, Demak, dan Cirebon, sekaligus membuktikan bahwa mereka bukanlah sufi semata yang menafikan penegakan syariat Islam.

    Kata sångå merupakan penjawaan kata tsana (Bahasa Arab, yang berarti mulia), maka Wali Tsana berarti wali-wali mulia atau terpuji.

    Pendapat lain mengatakan bahwa kata sångå berasal dari kata sånå diambil dari bahasa Jawa Kuno yang berarti tempat.

    Karenanya, Wali Sånå berarti wali atau kepala suatu tempat atau daerah. Namun kebanyakan pakar sepakat, bahwa Wali Sångå merupakan kumpulan ulama dengan da’wah yang bertujuan menegakkan agama Allah.

    Wali Sångå dalam berbagai tulisan acapkali diidentikkan sebagai para sufi pengembang ajaran tasawuf semata. Bahkan, babad-babad yang lahir di masa Mataram banyak melukiskan Wali Sångå adalah para tokoh keramat, digdåyå sêkti måndrågunå. Hingga wafat sekalipun, mereka tetap menjadi sumber berkah.

    Jika menengok karya-karya monumental, ajaran, dan kinerja da’wahnya, kumpulan wali itu menebarkan syariat Islam dalam berbagai segi kehidupan. Banyak peninggalan-peninggalan, benda-benda, hasil karya beliau-beliau itu yang manfaatnya dapat kita rasakan sekarang, dipercaya benda-benda itu ditemukan pada zaman Wali Sångå. Meskipun kebenaran sejarahnya masih harus diuji.

    Arsitektur mengalami perkembangan yang besar, antara lain:Gapuro, atap limasan, gandok , pringgitan, pendopo , dan joglo. Semua ini diciptakan pada zaman Wali Sångå.

    Begitu pula berbagai jenis makanan,krupuk, trasi dan penganan-penganan dari ketan bertambah variasinya, kolak dan apem , juga santan dan minyak goreng. Masakan pepes dan kukus pun diperkenalkan pada zaman Wali Sångå ini.

    Lalu soga untuk pewarna kain batik, genting dari tanah liat.

    Pêngagêman Jawa</i sebagai penutup aurat, terutama badan, yakni baju yang berlengan dan berkancing, yang dikenal dengan sebutan agêman takwo atau baju takwa (dimaksud agar selalu bertakwa kepada Allah SWT) diperkenalkan pertama kali oleh salah seorang Wali Sångå.

    Semua itu tentu saja merupakan pengaruh kehadiran para wali suci, dan dengan daya adaptasi dan toleransi dari masyarakat itu sendiri yang dapat menerima setiap unsur-unsur baru yang datang dari luar, untuk kemudian disesuaikan dengan kepribadian mereka.

    Perangkat gamelan berkembang karena diciptakannya gambang, terutama bonang dan pelengkap gamelan lainnya. Berjenis-jenis kendang bertambah. Lalu têmbang-têmbang suluk sebagai hal yang baru.

    Pertunjukan wayang kulit ditambah dengan kêlir dan bléncong.

    Keunikan sastra suluk di zaman itu lebih lagi membuktikan kemampuan orang-orang Jawa untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri, bahkan terasa sangat unik. Mereka penuh harga diri dan pasti diri. Ini semua karena mereka merasa punya jaminan kepastian hidup.

    Dan kepastian hidup ada karena adanya daulat hukum yang tertera dalam kitab “Salokantårå ” dan “Jughul Mudå” ialah kitab Undang-undang Hukum Dasar Kesultanan Demak yang punya landasan syari’ah agama Islam, yang mengakui bahwa semua manusia itu sama derajadnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Para sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol kekuasaannya oleh para wali.

    Kitab Undang-undang Hukum Dasar Kesultanan Demak Salokantårå dan Jughul Mudå yang disusun oleh Sayid Ja’far Shadiq atau Sunan Kudus yang dibantu oleh Sunan Ampel dan Sunan Giri. Dari referensi diketahui bahwa Kitab Undang-undang Hukum Dasar Kesultanan Demak tersebut meliputi perkara-perkara antara lain: mu’amalah, jinayat, siyasah, imamah, qisash, ta’zir, jihad, hudud, perburuhan, perbudakan, makanan, bid’ah, yang meliputi seluruh aspek kehidupan yang menjadi sistem baru di Jawa yang tidak pernah ada di kerajaan manapun sebelum masuknya Islam di Nusantara yang didirikan berdasarkan konstitusi. Ada yang menyebutkan bahwa Salokantara dibuat oleh Trenggana, anak Raden Patah. Sangat disayangkan kedua kitab ini kini sudah raib tak jelas rimbanya.

    Itu semua adalah puncak karya dan pengabdian para Wali Suci ini. Semua itu merupakan hasil perjuangan berpuluh-puluh tahun para ulama dalam menda’wahkan syariat Islam di wilayah kerajaan Majapahit yang mulai runtuh.

    Dalam Kitab Kanzul Ulum Ibnul Bathutah oleh Syeh Maulana Al Maghrobi, Wali Sångå berturut-turut sejak periode pertama hingga periode kelima sebagai berikut :

    I. Periode pertama dari tahun 1404M ada sembilan wali yaitu :

    1. Syeh Maulana Malik Ibrahim atau Syeh Maulana Maghribi (Sunan Gresik), berasal dari Samarkand. Beliau ahli mengatur negara, berda’wah di Jawa Bagian Timur. Wafat dan dimakamkan di Gapuro Gresik pada tahun 1419M.

    2. Syeh Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand Bukhara Rusia Selatan, ahli pengobatan, tidak menetap di Pulau Jawa. Beliau hijrah ke Pasai dan wafat di sana.

    3. Syeh Maulana Ahmad Jumadil Qubro, berasal dari Mesir, beliau berda’wah keliling. Wafat dan dimakamkan di Troloyo, Trowulan Mojokerto Jawa Timur.

    4.Syeh Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maghribi Marokko, berda’wah keliling. Wafat dan dimakamkan di Jatinom, Klaten Jawa Tengah.

    5. Syeh Maulana Malik Isro’il, berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat dan dimakamkan di Gunung Santri, Cilegon antara Serang dan Merak Banten.

    6. Syeh Maulana Ali Akbar, berasal dari Persia Iran, beliau ahli pengobatan. Wafat dan dimakamkan di Gunung Santri.

    7. Syeh Maulana Hasanuddin, berasal dari Palestina, berda’wah keliling. Wafat dan dimakamkan di samping masjid Banten Lama.

    8.Syeh Maulana Aliyuddin, berasal dari Palestina, berda’wah keliling. Wafat dan dimakamkan di samping masjid Banten Lama.

    9. Syeh Subakir, berasal dari Persia, Beliau kembali ke Persia dan wafat di sana. Petilasan Syeh Subakir ditengarai terdapat di dua tempat yaitu di Gunung Tidar dan disekitar Pemandian Penataran Blitar Jawa Timur berupa sajadah yang terbuat dari batu kuno.

    II.Pada periode kedua antara 1421M dan 1463M, tiga orang wali menggantikan tiga orang wali yang wafat yaitu :

    1. Raden Ahmad Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), berasal dari Cempa Muang Thai (Jeumpa, Aceh ?), datang ke Tanah Jawa pada tahun 1421M menggantikan Syeh Maulana Malik Ibrahim.

    2.Sayyid Ja’far Shodiq (Sunan Kudus), berasal dari Palestina ke Tanah Jawa pada tahun 1436M, menggantikan Syeh Maulana Malik Isro’il. Beliau menetap di Kudus.

    3. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), berasal dari Palestina. Tiba di Tanah Jawa pada tahun 1436M menggantikan Syeh Maulana Ali Akbar.

    Pada periode ini diadakan sidang Masjid Ampeldenta, Kanyuruhan atau Ujung Galuh atau Surabaya, dan para wali membagi tugas pekerjaan perwilayahan. Sunan Ampel, Syeh Maulana Ishaq dan Syeh Maulana Jumadil Qubro bertugas di Jawa Bagian Timur; Sunan Kudus, Syeh Subakir dan Syeh Maulana Al Maghrobi bertugas di Jawa Bagian Tengah; sedangkan Syarif Hidayatullah dan Syeh Maulana Aliyuddin bertugas di Jawa Bagian Barat.

    III. Pada periode ketiga antara 1463M dan 1466M, empat orang wali menggantikan yang wafat yaitu :

    1. Syeh Maulana A’inul Yakin atau Raden Paku (Sunan Giri), kelahiran Blambangan, putra Syeh Maulana Ishaq dengan putri Blambangan Dewi Sekardadu. Beliau menggantikan ayahnya Syeh Maulana Ishaq yang pindah ke Pasai.

    2.Raden Mas Said (Sunan Kalijaga), kelahiran Tuban putra dari Adipati Wilatikta di Tuban, beliau menggantikan Syeh Subakir yang kembali ke Persia.

    3. Raden Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang), lahir di Ampeldenta, putra Sunan Ampel menggantikan Syeh Maulana Hasanuddin yang wafat.

    4.Raden Qosim (Sunan Drajad), kelahiran Ampeldenta putra Sunan Ampel, menggantikan Syeh Maulana Aliyuddin yang wafat.

    IV. Pada periode keempat tahun 1466M diangkat dua orang wali menggantikan dua orang wali yang wafat yaitu :

    1. Raden Hasan atau Raden Fatah (Patah), murid Sunan Ampel, putra Raja Brawijaya Pamungkas, yang diangkat menjadi Adipati Demak Bintoro pada tahun 1462M, menggantikan Maulana Ahmad Jumadil Qubro.

    2.Fathullah Khan putra Sunan Gunung Jati. Beliau dipilih sebagai wali sanga untuk membantu ayahnya yang telah berusia lanjut.

    V. Pada periode kelima :

    1. Raden Umar Said (Sunan Muria) putra Sunan Kalijaga menggantikan wali yang wafat.

    2. Syeh Siti Jenar termasuk juga dalam jajaran wali, namun karena dianggap mensyi’arkan ajaran yang dinilai sesat, beliau dikeluarkan dari jajaran para wali.

    3. Adipati Padanarang (Sunan Bayat) termasuk juga jajaran para wali. Beliau murid Sunan Kalijaga.

    Disamping wali-wali yang sudah lazim dikenal seperti tersebut di atas, kita masih mengenal nama wali lain seperti: Sunan Geseng, dan Syeh Maja Agung.

    Meski demikian Wali Sångå yang terkenal di kalangan masyarakat luas adalah:

    1. Syeh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).
    2. Raden Rahmat (Sunan Ampel).
    3. Raden Paku (Sunan Giri).
    4. Raden Syarifuddin (Sunan Drajad).
    5. Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang).
    6. Raden Said (Sunan Kalijaga).
    7. Raden Ja’far Sodiq (Sunan Kudus).
    8. Raden Umar Said (Sunan Muria).
    9. Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati)
    .

    Secara garis besar pada wali tersebut mensyi’arkan agama Islam dengan jalan damai, karena hal-hal sebagai berikut:

    1. Para pensyi’ar agama Islam yang datang mula-mula adalah para pedagang, dan ahli sufi dan para wali;

    2.Metode da’wah yang dilakukan adalah dengan cara mengajak orang-orang dengan hikmah dan petunjuk yang ramah-tamah serta mengajak mereka bertukar-pikiran dengan cara sebaik-baiknya;

    3. Para mubaligh Islam mempelajari, menyelami dan memahami budaya, watak dan jiwa masyarakat Nusantara (khususnya Jawa); seperti melalui sarana kesenian tembang, wayang, gending-gending yang sangat akrab bagi masyarakat pada waktu itu;

    4. Sifat tolelansi dari masyarakat itu sendiri yang dapat menerima setiap yang datang dari luar, untuk kemudian disesuaikan dengan kepribadian mereka;

    5.Syi’ar agama Islam di Jawa sebagian besar melalui saluran tasawuf.

    ånå tutugé

    Ya Allah. janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ampunilah kami dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan. Janganlah Engkau jadikan diri kami sasaran bala’ dan malapetaka. Dengan kemualiaanMu, Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Kemuliaan kepada kaum Muslimin.

    SUGÊNG SAHUR, SUGÊNG NINDAKAKÊN IBADAH SIYAM DINTÊN KAPING-14 RAMADHAN 1431H

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

    • arep NUNUT kok gerbonge sepur ki Bayu
      DOWO puooolll,….!!

      nuwun sewu ki, hadir nomer SIDJI…..,

    • Lagi mbaca “Dongeng tentang Kakek Bantal” dari Ki Bayuaji neh!

  2. sugeng enjang….selamat PAGI

  3. Wah matur nuwun informasinipun Ki Bayuaji, nambah pengetahuan.
    Sugeng enjang.

  4. Sugeng enjang P. Satpam.
    Romadhan ngurangi aktivitas bukak gandok.

  5. mantaaaap

  6. Alhamdulillah nomer 7, ganjil lagi

  7. lapoooorrrr…

    daerah jayakarta diguyur hujan air…

    laporan selesai…

    • lapoooorrrr…

      bang wetan kurang 1.5 jam lagi..
      wkwkwkwkwk

      • laporrrrrrrrr
        Tangerang gerimis,
        Laporan, selesai !!!!!!

  8. Laporr
    Rontal 06 sampun dibaca,
    Siap masuk ke gandhok baru,
    Laporan selesai !!

  9. Laporrrrrrr………..
    sudah ngundhuh……
    bang wetan udan…..kala2 grimis……

    Laporrrrrrr………..
    matur nuwun Ki Ajar pak Satpam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: