HLHLP-008

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 26 Agustus 2010 at 00:01  Comments (32)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-008/trackback/

RSS feed for comments on this post.

32 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ya Allah! Berilah kami kemampuan untuk hidup selayaknya kehidupan orang-orang yang baik. Jauhkanlah kami dari kehidupan bersama-sama orang-orang yang jahat. Naungilah kami dengan rahmatMu hingga sampai kepada alam akhirat. Demi Engkau Wahai Dzat Maha Pemilik Segala Kebesaran, Wahai Dzat Maha Pemilik Segala Kemuliaan. Wahai Tuhan semesta alam.

    SUGÊNG SAHUR, SUGÊNG NINDAKAKÊN IBADAH SIYAM DINTÊN KAPING-16 RAMADHAN 1431H

    • Amin
      Amin
      Amin
      Salam u/ sedoyono

      • Salam u/ Ki Widura (Kisanak disalip terus selama puasa ini)

    • Amin……..

  2. selamat pagi, selamat menjalankan ibadah puasa hari ke-16.

  3. Alhamdulillah, no 6 lagi, sama dengan kemarin.

  4. Marap sek ben dikiro mbegegeg neng pendopo

  5. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:

    DONGENG KETUPAT UNUTAN © 2010.

    On 25 Agustus 2010 at 08:42 honggopati said:
    ……sami qunutan, slametan wonten mesjid kanti menu pokok ketupat……

    Ketupat merupakan makanan khas saat peringatan di hari lebaran Idul Fitri. Namun pada saat mengikuti shalat Tarawih di hari ke-15, tanpa dinyana mendapatkan kejutan pembagian ketupat. Ada apa sebenarnya?

    Ternyata hari itu adalah Hari Ke-15 Puasa Ramadhan. Pada hari itu atau tepatnya malam itu Malam ke-16 Puasa Ramadhan, berlangsung suatu tradisi yang diselenggarakan di paruh Ramadhan yang sudah berlangsung sejak dulu yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan qunutan atau ketupat unutan.

    Tradisi ketupat unutan diduga telah berlangsung sejak zaman Kesultanan Demak ketika memperluas pengaruhnya ke daerah barat pada tahun 1524/1525, Kanjeng Sunan Gunung Jati dari Cirebon dibantu pasukan Demak menduduki pelabuhan Banten, salah satu dari pelabuhan Kerajaan Sunda, dan mendirikan Kesultanan Banten yang berafiliasi ke Cirebon dan Demak.

    Kenapa diistilahkan qunutan? Rupanya tradisi masyarakat setempat pada saat melaksanakan shalat Tarawih, khusus untuk malam keenam belas, pada saat pelaksanaan shalat Witir di rakaat terakhir sehabis ruku’ dan setelah i’tidal dibacakanlah doa qunut oleh sang imam.

    Berlainan dengan peringatan pertengahan bulan Sya’ban atau malam Nifsu Sya’ban yang diperingati dengan pelaksanaan shalat Tasbih, maka untuk Nifsu Ramadhan dilakukanlah doa qunut.

    (Cantrik Bayuaji tak hendak berdiskusi tentang masalah peribadatan shalat Tasbih pada bulan Sya’ban, Nifsu Sya’ban, Nifsu Ramadhan, Doa Qunut Witir sejak paruh hingga akhir Ramadhan, yang oleh Saudara-saudaraku Muslim ada yang mengerjakan, tetapi ada yang tidak, bahkan ada yang menempatkan sebagai bid’ah.

    Tidak ada kewenangan cantrik Bayuaji untuk mengulasnya, karena hal itu bukan ranah keahlian cantrik Bayuaji, dan juga bukan pada tempatnya untuk dibahas di gandhok ini).

    Akan halnya pembuatan ketupat untuk acara qunutan bagi masyarakat Banten merupakan sarana untuk berderma kepada sesama. sebagai ungkapan rasa syukur mereka karena diberikan kesempatan menjalankan ibadah puasa hingga pertengahan bulan.

    Dengan bersedekah berupa makanan tersebut, diharapkan puasa yang tinggal setengah jalan dapat dilaksanakan dengan lancar dan tiada hambatan. Dan yang lebih penting lagi, harapan mereka untuk dapat meraih malam lailatul qadar, sehingga mampu keluar dari Ramadhan menjadi manusia bertaqwa dan kembali kepada kesucian Idul Fitri .

    Tradisi Malam Qunut Hari ke-15 pada Malam ke-16 Ramadhan dirayakan juga di beberapa daerah, misalnya di Kabupaten Gorontalo, masyarakat di sana menggelar pasar tradisional sejak Malam ke-16 Ramadhan hingga Akhir Ramadhan dengan maksud untuk mempermudah warganya memenuhi kebutuhan menjelang hari raya,
    Banyak penganan yang ditawarkan dan yang paling populer adalah obral kacang dan pisang, bukan ketupat.

    Memeriahkan pertengahan Ramadhan dengan malam ketupat qunutan ataupun dengan penganan lain merupakan acara rutinitas setiap paruh Ramadhan, merupakan potensi budaya daerah yang terus mewarnai aktifitas masyarakat nampaknya menambah peluang bagi sektor pariwisata daerah, karena tradisi ini Qunut dapat menjadi salah satu obyek wisata religi. Seperti sedang dirintis di daerah Gorontalo tersebut.

    Namun sangat disayangkan maksud baik beraktivitas memeriahkan bulan suci Ramadhan, apapun bentuknya, cenderung mengarah ke pola hidup konsumtif dan berpestapora.

    Sekedar contoh. Kalau di awal-awal Ramadhan ruangan masjid dan mushola-mushola penuh dan nampak kurang besar, tapi di pertengahan menjelang akhir, mesjidnya justru menjadi lapang dan “bertambah luas”. Apalagi dengan diselenggarakannya pasar tradisional maka “tadarus” telah berpindah dari mushola ke pasar. Semangat Ramadhan mulai menipis.

    Fakta yang terlihat selama ini dalam bulan suci Ramadhan, justru banyak orang menunjukkan perilaku hidup dalam kemewahan, konsumtif, seolah bermanuver menunjukkan status sosial yang tinggi. Sejak memasuki bulan Ramadhan sudah nampak tanda-tanda seolah-olah memasuki bulan penuh suka cita pesta pora yang harus disambut dengan gegap gempita gembira ria.

    Memasuki minggu kedua atau pertengahan bulan Ramadhan suasana pesta semakin terasa, dengan semakin dekatnya hari raya Idul Fitri yang sering disebut sebagai hari kemenangan. Hari Idul Fitri mengalahkan berbagai hawa nafsu di bulan puasa Ramadhan sebulan penuh, agaknya juga terdapat tradisi budaya yang harus disambut dengan kemeriahan tak ubahnya acara pesta kemenangan pada umumnya.
    Berbagai makanan kecil, kue-kue kering telah dipesan dipersiapkan sejak minggu kedua atau pertengahan bulan Ramadhan.

    Semakin mendekati hari lebaran Idul Fitri suasana pesta semakin semarak dengan menu makanan utama di hari H yang nampaknya harus lebih dari super istimewa, Lebih daripada itu tradisi merayakan Idul Fitri yang seolah harus berpakaian serba baru dan dilengkapi dengan berbagai asesoris, parfum, kosmetik, dsb. Belum lagi terhitung tradisi untuk mudik ke kampung halaman yang jelas membutuhkan perencanaan keuangan yang memadai, menguras tenaga dan fikiran sebulan penuh.

    Rasanya tidak mudah serta merta membedakan antara ritual agama dan tradisi budaya sejak memasuki bulan Ramadhan sampai hari raya lebaran Idul Fitri. Tidak mudah pula mencegahnya atau mengubah tradisi budaya itu meskipun sebenarnya agama tidak mengajarkan seperti itu yang selama ini dikerjakan oleh umat muslim.

    Agama justru mengajarkan berhemat melalui kegiatan puasa untuk menyantuni warga lain yang kurang beruntung kehidupannya secara sosial ekonomi. Ditambah lagi dengan kewajiban membayar zakat fitrah yang hukumnya wajib bagi setiap umat muslim. Hal ini semata-mata untuk menghimpun dana sebanyak mungkin yang akan disumbangkan kepada yang berhak menerima.

    Selain kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan dan membayar zakat fitrah yang waktunya sejak mulai memasuki bulan Ramadhan sampai sebelum menunaikan shalat Idul Fitri, agama juga mengajarkan untuk hidup cermat berhemat yang dikontrol dengan anjuran atau sunah melaksanakan puasa selama tujuh hari dalam bulan Syawal yang waktunya paling utama mulai tanggal 2 Syawal atau sehari setelah merayakan Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal tahun hijrah. Sehingga terdapat kelompok tertentu yang merayakan lebaran tersebut tujuh hari setelah lebaran 1 Syawal atau dalam tradisi budaya disebut lebaran ketupat.

    Tersirat bahwa telah banyak keluarga muslim yang mampu secara sosial ekonomi, tanpa harus berhemat mampu menyantuni fakir miskin secara perorangan atau terorganisir dalam suatu yayasan. Tetapi hendaknya dalam bulan puasa Ramadhan tidak berlebihan terlalu mencolok mata, menggunakan atau membelanjakan harta uangnya.

    Ramadhan tidak hanya menawarkan transformasi spiritual bagi hamba-hamba yang menjalaninya, tetapi juga transisi sosial. Ibadah-ibadah yang pada umumnya bersifat individual beralih-fungsi menjadi pemrakarsa perubahan kolektif, jika dimaknai secara meluas. Yang perlu dilakukan hanyalah pembubuhan makna dalam nilai-nilai lokal yang tersirat dalam tradisi ritual masyarakat.

    Lalu apakah tradisi ketupat unutan, pasar tradisional dan lain-lain itu salah?

    Kalau kita menvonis bahwa penyebab pola hidup konsumstif karena ketupat unutan, pasar tradisional, tidak berbeda atau sama saja kita mengatakan bahwa banjir disebabkan oleh hujan.
    Kita tahu hujan adalah rahmat Allah, kita yakin itu. Sedangkan banjir yang terjadi adalah akibat ulah manusia yang tidak dapat memanfaatkan dengan semestinya nikmat Allah tadi sesuai dengan sunahNya.

    Marilah mengambil hikmah bulan suci Ramadhan untuk mengevaluasi kehidupan, bukan hanya dalam hal kehidupan spiritual beragama saja. Tetapi dalam tata kehidupan keseluruhan yang nyata dalam bernegara dan bermasyarakat.

    ….

    Lho koq jadi “khutbah”. Ya cantrik Bayuaji sedang memberikan khutbah untuk cantrik Bayuaji sendiri. Pårå kadang yang lain tidak dilarang untuk “mendengarkan”.

    Jadi….. kembali ke ketupat unutan.

    Darimana sebenarnya asal-usul ketupat? Siapa pertama kali yang menemukan dan mempopulerkan ketupat? Siapa yang memulai tradisi ketupat Banten (eh maksudnya ketupat unutan?)

    Seperti tradisi-tradisi lain di indonesia pasti memiliki sejarah latar belakang, tidak jarang ada makna filosofi dari tradisi-tradisi tersebut. Bagaimana dengan ketupat?

    Tunggu dongeng selanjutnya pada Dongeng Arkeologi & Antropologi Penyebaran Agama Islam di Nusantara [Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa]

    Nuwun

    Cantrik Bayuaji

  6. nunggu HLHLP-11…kok lama ya rasanya ?..😀

  7. paraf hadir…..sret-sret-cieeet,
    cieeettt !!

    ehm-ehm, untung REM depan-belakang

    • PAkem….”wuah-wuah” sampe mlorot ning
      ngarep.

      • Assalamu’alaikum, ikutan dong mbonceng…
        Haduh jangan sampe gabrusan yo….
        Wih, Ki YuPram ngebut……

        • lha..ini dia yang dicari2 Ki Emprith kemaren….

          • DIA siapa ki,…yang lagi
            duduk diATAS niku ni NoNa

            bukan DIA,

          • Si jali2….

      • parap hadir..plok..plok..plok..preett !

        numpak jaran pake rem angin…ra wani mlorot ning mburi..

        • bau sempritan….he3

      • Wa’alaikum salam….,

        pake celana ya ni, jarik-e
        diLEPAS dulu….he3

        eiit,…ki Karto inget poso
        ra pareng ngintip.

        • Lho ?…mosyok gak pake !
          Ki Menggung..inget poso ra pareng…..

          • mangga, ki Karto tenggok
            keATAS pake apa,….lupa
            pake !!

  8. Aku ndak ikutan mbonceng ki YuPram lagi ach…
    mau numpak sepur ae sing ono gerbong khusus perempuan…
    Xixixixiixi

    • he3x….kan bener ni, pake celana lebih AMAN,
      gak ribet wektu mau jalan, lincah.

      pake jarik gampang kesrimpet lho ni, dilepas
      ganti celana njih….mangga-monggo😀

      yo wes sesuk aku NUNUT ni NONA ae….

      • xixixixixixixi….

    • Betul !..beteul !..betul !

      sama gue aja yah….nanti gue yang bawain kopernya…xixixi

  9. nderek hadir kemawon ki seno..
    selamat menanti 1 jam lagi..😀

    • he-he-he…..tinggal 45 menit lagi ni,

      • left 20 minutes

  10. Ngundhuh sekalian ngisi daftar hadir,
    sugeng dalu sedoyo….

  11. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    Dari Syekh Maulana Malik Ibrahim sampai Syarif Hidayatullah
    On 24 Agustus 2010 at 04:42 bayuaji said:[HLHLP 006] dan dongeng selingan Dongeng Ketupat Unutan On 26 Agustus 2010 at 08:36 bayuaji said:[HLHLP 008]

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Kêmis (Wrahaspati) Umanis dalu Jêmuah (Sukrå) Paing; 17 Påså 1943-Dal. 17 Ramadhan 1431H; 26 Agustus 2010M. Wuku Ugu, Ingkêl Sato. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    PARA WALI PENYEBAR AGAMA ISLAM DI TANAH JAWA

    Di sela-sela bertadarus pada malam ke-17 Ramadhan 1431H ini, cantrik Bayuaji menyempatkan untuk mendongeng, dalam dongeng:

    SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA

    Agama dan kebudayaan Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat di wilayah Indonesia. Perkembangan ini berawal dari masyarakat indonesia yang berada di daerah pesisir pantai dari daerah pesisir pantai inilah, agama dan kebudayaan Islam dikembangkan ke daerah pedalaman oleh para ulama. Perkembangan di daerah pedalaman ini ditujukan kepada kelangan istana yaitu raja, keluarga raja dan kaum bangsawan.
    Apabila raja dan kaum bangsawan telah masuk islam, maka rakyat sangat patuh dan taat terhadap perintah-perintah rajanya.

    Berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan di Indonesia, para ahli menafsirkan bahwa agama dan kebudayaan islam diperkirakan masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke 7 M, yaitu pada masa kekuasaan kerajaan Sriwijaya. Penafsiran para ahli ini diperkuat dengan berita-berita pada masa itu telah terdapat pedagang-pedagang Arab yang melakukan aktifitas perdagangan di Kerajaan Sriwjaya, bahkan mereka telah memiliki perkampungan tempat tinggal sementara dipusat Kerajaan Sriwijaya.

    Pendapat lain membuktikan bahwa agama dan kebudayaan Islam masuk ke wilayah Indonesia dibawa oleh para pedagang Islam dari Gujarat (India). Hal ini dilihat dari penemuan unsur-unsur Islam di Indonesia yang memiliki persamaan dengan India seperti batu nisan yang dibuat oleh orang-orang Kambay, Gujarat.

    Berdasarkan bukti-bukti ini para ahli membuat sebuah kesimpulan bahwa agama dan kebudayaan Islam telah masuk ke Indonesia pada abad ke 7 M dibawa para pedagang dari Arab. Persia dan India (Gujarat) dan berkembang secara nyata sekitar abad ke 13 M.

    Masuk dan berkembangnya pengaruh agama dan kebudayaan Islam ke Indonesia diperkuat oleh beberapa sumber berita sejarah, baik yang berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri sumber-sumber berita itu diantaranya sebagai berikut :

    Berita Arab. Berita ini diketahui melalui para padagang Arab yang telah melakukan aktifitas dalam bidang perdagangan dengan bangsa Indonesia pada masa perkembangan Kerajaan Sriwijaya (abad ke 7 M) sebagai kerajaan maritim yang menguasai jalur pelayanan perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Selat Malaka. Kegiatan para pedagang Arab di kerajaan Sriwijaya dibuktikan dengan adanya sebutan para pedagang Arab untuk Kerajaan Sriwijaya, yaitu Zabag, Zabay atau Sribusa.

    Berita Eropa. Berita ini datangnya dari Marcopolo, ia adalah orang eropa yang pertama kali menginjakkan kakinya di wilayah Indonesia, ketika ia kembali dari Cina menuju Eropa melalui jalan laut. Ia mendapat tugas dari kaisar cina untuk mengantarkan putrinya yang dipersembahkan kepada kaisar Romawi. Dalam perjalanannya itu ia singgah di Sumatra bagian Utara. Di daerah ini ia telah menemukan adanya Kerajaan Islam, yaitu Kerajaan samudera dengan ibu kotanya Pasai.

    Berita India. Dalam berita ini disebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai peranan yang sangat penting didalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia, terutama kepada masyarakat yang terletak di daerah pesisir pantai.

    Berita Cina. Berita ini berhasil diketahui melalui catatan dari Ma Huan seorang penulis yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng Ho ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal dipantai utara Pulau Jawa.

    Sumber-sumber dari dalam negeri, Sumber-sumber ini diperkuat dengan penemuan-penemuan antara lain:

    1. Penemuan sebuah batu di Leran (dekat Gresik). Batu bersirat itu menggunakan huruf dan bahasa Arab. Batu itu memuat keterangan tentang meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah binti Maimun (1028).

    2. Makam Sultan Malikul Saleh di Sumatera Utara yang meninggal pada bulan Ramadhan tahun 676 M atau tahun 1297 M.

    3. Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat tahun 1419. Jerat makam didatangkan dari Gujarat dan berisi tulisan Arab.

    4. Makam-makam petilasan para wali penyebar agama Islam di Nusantara lainnya.

    Saluran Penyebaran Islam:

    Penyebaran Islam di Nusantara silakukan melalui perdagangan, perkawinan, pengusa, pendidikan, dan tasawuf

    1. Perdagangan;
    Sejak abad ke 7 M para pedagang Islam dari Arab, Persia dan India telah ikut ambil bagian dalam kegiatan perdagangan di Indonesia. Di samping berdagangan, para pedagang Islam dapat menyampaikan dan mengajarkan agama dan budaya Islam kepada orang lain termasuk masyarakat Indonesia.

    2. Perkawinan;
    Para pedagang Islam yang melakukan kegiatan perdagangan dalam waktu yang cukup lama. Keadaan ini dapat mempererat hubungan mereka dengan penduduk pribumi atau dengan kaum bangsawan pribumi. Jalinan hubungan yang baik ini terkadang diteruskan dengan adanya perkawinan antara putri kaum pribumi dengan para pedagang islam.

    3. Politik;
    Pengaruh kekuasaan seorang raja sangat besar peranannya dalam proses Islamisasi. Ketika seorang raja memeluk agama Islam maka rakyat juga akan mengikuti jejak rajanya. Setelah tersosialisasinya agama islam, maka kepentingan politik dilakukan melalui perluasan wilayah kerajaan, yang diikuti pula dengan penyebaran agama Islam. Contohnya, Sultan Demak mengirimkan pasukannya untuk menduduki wilayah Jawa Barat dan memerintahkanuntuk menyebarkan agama Islam. Pasukan itu dipimpin oleh Fatahillah.

    4. Pendidikan;
    Para ulama, guru-guru, ataupun para Kyai juga memiliki peranan yang cukup penting dalam penyebarkan agama dan budaya Islam. Meraka menyebarkan agama Islam melalui bidang pendidikan, yaitu dengan mendirikan pondok-pondok pesantren.

    5. Kesenian;
    Saluran kesenian dapat dilakukan dengan mengadakan pertunjukkan seni gamelan seperti yang terjadi di Yogyakarta, Solo, Cirebon, dan lain-lain. Seni gamelan ini dapat mengundang masyarakat untuk berkumpul dan selanjutnya dilaksankan dakwah-dakwah keagamaan. Disamping seni gamelan juga terdapat seni wayang. Melalui cerita-cerita wayang itu para ulama menyisipkan ajaran agama Islam .Contohnya:Sunan Kalijaga memanfatkan seni wayang untuk proses Islamisasi.

    6. Tasawuf;
    Para ahli tasawwuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha untuk menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama ditengah-tengah masyarakatnya. Para ahli tasawwuf ini biasanya memiliki keahlian yang dapat membantu kehidupan masyarakat, diantaranya ahli dalam menyembuhkan penyakit. Penyebaran agama-agama islam yang mereka lakukan disesuaikan dengan kondisi, dalam pikiran, dan budaya masyarakat pada masa itu, sehingga ajaran-ajaran Islam dapat mudah diterima oleh masyarakat. Contoh ahli tasawwuf antara lain Hamzah Fansuri di Aceh dan Sunan Panggung di Jawa.

    Melalui berbagai saluran diatas, Islam dapat diterima dan berkembang pesat sejak sekitar abad ke 13 M. Alasanya adalah sebagai berikut.

    Islam bersifat terbuka. Penyebaran islam dilakukan secara damai.

    1. Islam tidak membedakan kedudukan seseorang dalam masyarakat.
    2.Acara ritual dalam agama Islam dilakukan dengan sangat sederhana.
    3.Ajaran Islam berupaya untuk menciptakan kesejahteraan kehidupan masyarakat dengan adanya kewajiban zakat bagi yang memiliki harta.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayu, kulo tenggo tutugipun.

  12. Sugeng enjang kisanak …
    Nenggo HLHLP (HuLaHulaPo) …

  13. Alhamdulillah, dapat pencerahan demikian banyak dari Saudaraku Ki Bayuaji.
    Ya Allah bimbinglah Saudaraku tersebut dengan tambahan ilmu yang bermanfaat. Dan berikanlah kemudahan kepadanya untuk bisa syiar lebih luas. Amin.
    Sugeng enjang Saudaraku, seharian kemarin aku absen.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: