HLHLP-009

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 27 Agustus 2010 at 00:01  Comments (29)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-009/trackback/

RSS feed for comments on this post.

29 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng dalu Pak Satpam.

    • Matur nuwun sampun ngundhuh. Saben dinten wedharan njih? Mangke cepet telas lho.
      Lha menawi rontalipun sampun telas mangke Ki Bayuaji ndongeng wonten pundi?

      • sugeng dalu Ki Arga
        sugeng dalu Pak Satpam
        sret..sret…sret (paraf hadir)

        • Rettt …orettt….
          Selesai tanda tangan ….
          bet bet bettttt …. ilang ….

  2. Nuwun

    Sugêng pêpanggihan, atur pambagyå raharjå dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari, ingkang dahat kinurmatan:

    Cantrik Bayuaji marak ing paséban, ngêndit rontal:
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI PENYEBARAN ISLAM DI NUSANTARA © 2010.

    Dongeng sebelumnya:
    SEJARAH MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA On 26 Agustus 2010 at 22:34 bayuaji said:[HLHLP 008]

    Dongèng ing samangké kasêrat ing dintên Jêmuah (Sukrå) Paing; 17 Påså 1943-Dal. 17 Ramadhan 1431H; 27 Agustus 2010M. Wuku Ugu, Ingkêl Sato. Asujimåså, mångså Katêlu 1932Ç.

    PARA WALI PENYEBAR AGAMA ISLAM DI TANAH JAWA
    dalam dongeng:
    SUNAN GRESIK

    Penyebaran agama Islam di Tanah Jawa dipercaya sejak zaman Fatimah binti Maimun bin Hibatu’llah dan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Proses peradaban Islam yang dilakukan oleh beliau-beliau tersebut adalah melalui proses dagang dengan penduduk asli Gresik ketika itu. Kedua pejuang muslimah dan muslimin tersebut datang dengan kapal-kapal dagangnya yang besar dengan membawa barang dagangannya untuk ditawarkan dengan cara-cara ajaran Islam.

    Meskipun proses Islamisasi di Gresik masih penuh tantangan perjuangan, akan tetapi semuanya itu demi terwujudnya akhlaq rahmatan lil alamin. Bagi para pemimpin (pedagang) seperti Fatimah binti Maimun maupun Syekh Maulana Malik Ibrahim, kata perjuangan untuk tegaknya agama Islam, merupakan harga mati untuk memperjuangkannya dengan diiringi prinsip-prinsip pengertian dan pemahaman terhadap akhlak masyarakat Gresik.

    Syekh Maulana Malik Ibrahim, dikenal juga dengan nama Syekh Maulana Maghribi, datang ke Pulau Jawa pada tahun 1404M, bersama Fatimah binti Maimun bin Hibatu’llah. Beliau menetap di desa Leran, Gresik.

    Mula-mula hanya para pedagang dari Gujarat yang menjadi murid-murid beliau. Tetapi makin lama makin banyak pula penduduk pribumi yang masuk Islam dan menjadi pengikut beliau, dan beliau dianggap pelopor penyebaran Islam para wali di Jawa.

    Tidak terdapat bukti sejarah yang meyakinkan mengenai asal keturunan Maulana Malik Ibrahim, meskipun pada umumnya disepakati bahwa ia bukanlah orang Jawa asli. Sebutan Syekh Maghribi yang diberikan masyarakat kepadanya, kemungkinan menisbatkan asal keturunannya dari Maghrib, atau Maroko di Afrika Utara.

    Babad Tanah Jawi versi J.J. Meinsma menyebutnya dengan nama Makhdum Ibrahim as-Samarkand, yang mengikuti pengucapan lidah Jawa menjadi Syekh Ibrahim Asmåråkandi. Ia memperkirakan bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim as Samarkand lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14.

    Dalam keterangannya pada buku The History of Java mengenai asal mula dan perkembangan kota Gresik, Raffles menyatakan bahwa menurut penuturan para penulis lokal, “Mulana Ngibrahim, Panditå såkå Arab, kêturunan Jénal Ngabidin putrané Kusén bin Ngali, [Maulana Ibrahim, seorang pendeta berasal dari Arab, keturunan Zainal Abidin anak Husain bin Ali bin Abi Thalib]. Ali bin Abi Thalib adalah suami Fatimah binti Rasulullah SAW.

    Babad Tanah Jawi gubahan L van Rijkevorsel Bagian 09 Pérangan Kang Kaping Pindho Bab 1 Karajan Dêmak lan Karajan Pajang +/- tahun 1500 – 1582 Wiwitané ing Tanah Jawa ånå agåmå Islam ing antarané taun 1400 – 1425, memberitakan bahwa …..sudagar Indhu lan Pèrsi ugå ånå sing têkå ing kono lan nuli mêncaraké agåmå Islam marang wong-wong. Sing misuwur yåiku: Maulana Malik Ibrahim (wong Pèrsi?), sédå ånå ing Grêsik ing taun 1419, nganti saiki pasaréané isih.

    Menurut riwayat yang lain, dikisahkan bahwa beliau berasal dari Persia. Bahkan dikatakan bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim beripar dengan raja di negeri Cheermen. Mengenai letak negeri Cheermen itu terletak di Hindustan, sedangkan ahli sejarah yang lain menyebutkan bahwa letaknya Cheermen adalah di Indonesia.

    Meskipun beliau bukan asli orang Jawa, namun beliau telah berjasa kepada masyarakat Jawa. Karena beliaulah yang mula pertama memasukkan Islam ke tanah Jawa. Sehingga berkat usaha dan jasanya, penduduk pulau Jawa mulai banyak ngrasuk agami énggal Islam.

    Adapun dari kalangan masyarakat pada waktu itu, hanya dari masyarakat kelas bawah, rakyat jelata yang dapat diajak memeluk agama Islam. Sedangkan kaum bangsawan dan dan masyarakat kelas atas pada umumnya enggan memeluk Islam, bahkan tidak sedikit dari kalangan mereka meninggalkan Pulau Jawa.

    Apabila di kalangan kaum bangwasan tidak suka masuk agama Islam, hal itu mudah dimengerti karena bagi mereka tentunya agak berat untuk duduk sejajar bersama-sama dengan masyarakat lapisan bawah yang selama ini berstatus sebagai “abdi”. Sudah barang tentu dengan adanya ajaran Islam yang egaliter dalam bidang sosial, sukar sekali untuk diterima dengan kedua belah tangan terbuka oleh mereka. Sebab bukankah mereka selama ini telah didewa-dewakan, tiba-tiba “turun derajad”, duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bekas hamba sahaya mereka, rakyat jelata yang selama ini telah memuja serta mendewa-dewakan mereka.

    Syekh Maulana Malik Ibrahim mulai mensyi’arkan agama Islam di Tanah Jawa di daerah Jawa Timur sekarang. Dari sanalah beliau memulai berjuang untuk mengembangkan agama Islam. Adapun caranya pertama-tama ialah dengan cara mendekati pergaulan anak negeri. Berbekal budi bahasa yang ramah-tamah serta ketinggian akhlak, sebagaimana diajarkan oleh Islam, hal itu senantiasa diperlihatkannya di dalam pergaulan sehari-hari.

    Mengenai filsafat Ketuhanannya, Seperti tersebut dalam buku History of Java karangan Sir Stamford Raffles; tatkala Syekh Maulana Malik Ibrahim ditanya: “Apakah yang dinamakan Allah itu? Beliau tidak menjawab bahwa Allah itu adalah Tuhan yang memberi pahala sorga hambaNya yang berbakti dan menyiksa sepedih-pedihnya bagi hamba yang membangkang kepadaNya.” Jawabnya cukup singkat dan jelas, Beliau berujar: “Allah adalah Dzat yang diperlukan AdaNya”.

    Syekh Maulana Malik Ibrahim dikenal sebagai sosok pribadi yang mandiri dan serba bisa, dari perdagangan, ilmu agama, politik dan ketabiban dan semua itu membuat beliau paling menonjol. Di desa Leran Syekh Maulana Malik Ibrahim pertama menyandarkan kapal dagangnya beserta kapal dagang lainnya. Lalu beliau mendirikan mesjid sebagai tempat belajar dan berkembang pesat serta memberikan pengobatan kepada penduduk apabila ada yang sakit.

    Keahlian lainnya adalah bidang strategi politik untuk misi Islamisasi elit politik kerajaan Majapahit yang dikuasai Wikrama Wardhana (1369M-1428M). Beliau melakukan misi tersebut bekerja sama dengan Sultan Mahmud Syah Alam Raja Kedah di Malaka untuk mengawinkan putri raja yang bernama Aminah binti Mahmud. Setelah sekian lama posisi Islam cukup kuat, mulailah Syekh Maulana Malik Ibrahim bergerak da’wah ke arah timur mengarah ke kota Gresik.

    Sejak Majapahit ditinggal Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk, kerajaan itu mengalami kemunduran drastis. Bertahun-tahun dilanda perang saudara yang tak ada hentinya. Akibat perang saudara itu rakyatlah yang paling menderita bahaya kelaparan dan wabah penyakit melanda di mana-mana. Pada saat demikian inilah Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Syekh Maulana Maghribi berjalan mengelilingi desa-desa yang dilanda bencana bersama murid-muridnya. Di sepanjang perjalanan yang dilaluinya Syekh Maulana Maghribi menolong dan memberikan sedekah kepada penduduk yang menderita.

    Di Gresik, Syekh Maulana Malik Ibrahim bukan hanya berhadapan dengan masyarakat yang sudah mempunyai keyakinan, melainkan juga harus bersabar terhadap mereka yang tak beragama maupun mereka yang terlanjur mengikuti aliran sesat, juga meluruskan imam dari orang-orang Islam yang bercampur dengan kegiatan musyrik.

    Beliau tidak langsung menentang kepercayaan mereka yang salah itu melainkan mendekati mereka dengan penuh hikmah, beliau tunjukkan keindahan dan ketinggian akhlak Islami sebagaimana ajaran Nabi Muhammad SAW.

    Kisah berikut di bawah ini sangat terkenal yang dituturkan dari generasi ke generasi tentang Kakek Bantal.

    Kisah itu mengambarkan suatu daerah di wilayah Gresik yang sedang dilanda kemarau panjang, Tanah ngêntak-ngêntak kering, berdebu, dan gersang. Tak nampak hijaunya daun, pohon dan ranting-ranting menjadi kering karena tak tersiram hujan.

    Dijumpai oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim bersama santri-santrinya (arti dan makna kata santri, Insya Allah akan diulas kemudian), di suatu tanah lapang sekelompok orang yang sedang mengelilingi dua orang yang sedang berlaga. Keduanya mengenakan celana sebatas lutut dan bertelanjang dada. Masing-masing memegang penjalin (rotan) sepanjang dua meter dan secara bergantian memukulkan rotan itu keras-keras ke punggung masing-masing. Punggung keduanya sudah banyak yang melepuh dan mengeluarkan darah, namun keduanya masih tampak tegar saja memukulkan rotan itu ke arah punggung lawannya berkali-kali.

    Kemenangan dalam pertarungan yang disebut ujungan atau ujungini dinilai dari banyaknya bekas luka yang terdapat pada tubuh. Semakin banyak bekas pukulan yang terdapat pada tubuh pemain itu, maka kecenderungan kalah semakin besar. Dengan semakin banyak darah yang mengucur dari para pemainnya, diyakini hujan akan cepat turun. (Sekarang “upacara” ujungan ini masih dapat kita jumpai di beberapa wilayah di Tanah Air, sebagai suatu seni pertunjukan saja.)

    Kira-kira sepenanak nasi kemudian upacara ujungan itu dihentikan. Kedua orang yang berlaga sama terkapar di atas tanah, punggungnya babak belur bersimbah darah. Sebagai upaya permohonan agar hujan segera turun.

    Dalam pada itu di antara “perang tanding” ujungan, seseorang nampaknya pemimpin orang-orang tadi hendak mengorbankan seorang gadis dengan cara akan disembelih, darahnya dikucurkan ke atas tanah, dengan harapan hujan segera turun.

    Dengan lantang sang peminpin kelompok itu berteiak, “Hujan belum turun karena pengorbanan baru dilakukan dua kali. Pengorbanan dianggap belum lengkap”. “Kita akan melakukan pengorbanan sekali lagi maka hujan akan turun dengan segera.”

    Syekh Maulana Maghribi berusaha mencegah perbuatan orang-orang tadi. “Apa yang kalian inginkan?” Syekh Maulana Maghribi balas bertanya. “Hujan…! Kami minta hujan!” jawab orang-orang yang sedang berkerumun itu.
    Cuma hujan?” tanya Syekh Maulana Maghribi. “Ya, coba turunkan hujan kalau kau bisa!” tukas pemimpin orang-orang itu. “Kalau kau tidak bisa kami semua akan membunuhmu karena kau berani mengganggu upacara kami!
    Jika Allah mengijinkan maka hujanpun akan segera turun,” kata Syekh Maulana Maghribi dengan wajah tenang. “Allah?” tanya si pemimpin. “Siapa Allah? Mengapa minta ijin segala kepada Allah?
    Allah adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dan seluruh alam jagad raya ini.” ujar Syekh Maghribi.
    Sudah, jangan banyak bicara.” kata si peminpin orang-orang itu sekali lagi. “Kalau memang bisa menurunkan hujan lekas lakukan!
    Boleh saja,” kata Syekh Maulana Maghribi. “Tapi dengan syarat. Kalau kami bisa menurunkan hujan maka kalian harus membebaskan gadis itu.”
    Untuk apa?” sahutnya “Kedua orang tua gadis itu sudah mati, dia tidak punya sanak dan kadang, sudah pantas kalau dia dikorbankan agar hujan segera turun.”
    Syekh Maulana Maghribi menghadap ke arah kerumunan orang kemudian bertanya, “Kalau kami dapat menurunkan hujan, maukah kalian membebaskan gadis itu?” “Mauuuuuu… !” jawab orang-orang itu dengan serentak.
    Terima kasih,” ujar Syekh Maulana Maghribi dengan perasaan lega. Beliau kemudian mengajak santri-santrinya melaksanakan shalat yang kita kenal sebagai shalat istisqo’ atau shalat sunnah minta hujan.

    Tidak beberapa lama setelah beliau dan santri-santrinya melakukan shalat istisqo’. Atas izin Allah tiba-tiba langit menjadi hitam oleh mendung bergerak perlahan-lahan. Sesaat kemudian hujan turun dengan derasnya. Membasahi bumi yang kering kerontang.
    Semua orang yang berkumpul di tempat itu bersorak sorai kegirangan. Hanya sekelompok orang-orang itu sajalah yang berdiam diri dalam keangkuhannya.
    Sihir! Kalian pasti menggunakan sihir!” tuduh mereka kepada Syekh Maulana Maghribi. Syekh Maulana Maghribi menghampirinya dan berkata sopan, “Ki Sanak, sihir itu terlarang bagi kami. Hujan ini bukan sihir, melainkan karunia dari Allah yang menciptakan langit dan bumi.”
    Agaknya orang-orang itu tak mau mengakui kenyataan. Dia memberi isyarat kepada dua orang pengikut setianya. Mereka bertiga kemudian meninggalkan tempat itu.

    Ketika hujan mulai reda, orang-orang yang bersorak-sorai kegirangan serentak menjatuhkan diri berlutut di hadapan Syekh Maulana Maghribi dan kelima santrinya. Termasuk si gadis cantik yang hampir saja menjadi korban upacara sesat. “Bangun semua Ki Sanak!” ujar Syekh Maulana Maghribi.
    Kita tidak boleh bersujud kepada sesama makhluk. Aku hanya manusia biasa seperti kalian juga

    Setelah mendengar ucapan Syekh Maulana Maghribi, orang-orang itu pun segera bangkit dan dengan teratur rapi mereka duduk bersila.
    Salah seorang di antara mereka yang sudah berusia lanjut berkata, “Kami menghaturkan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada Tuan, karena Tuan telah menolong kami menurunkan hujan yang telah lama kami nantikan.”
    Bolehkah kami belajar tata cara menurunkan hujan seperti yang Tuan lakukan tadi?
    Ya, ajarkan kepada kami cara minta hujan yang tanpa menjatuhkan korban manusia,” sahut orang-orang lainnya.

    Syekh Maulana Maghribi tersenyum arif. Orang-orang desa itu rupanya sudah menaruh simpati kepadanya. Rasa simpati itulah yang menjadikan modal utama untuk memperkenalkan agami énggal Islam kepada mereka.
    Kalau kalian ingin diajari cara minta hujan seperti yang telah kami lakukan,” kata Syekh Maulana Maghribi. “Kalian harus mengenal lebih dahulu agama Islam. Maukah kalian?” Mereka pun serentak menyanggupinya.

    Bila sudah demikian cukup mudah bagi Syekh Maulana Maghribi untuk mengajak mereka masuk Islam. Tinggal memberikan pengetahuan agama sesuai dengan porsi atau dosis yang harus mereka ketahui sebab mereka orang awam.
    Itulah sebabnya wali lebih banyak mengutamakan ketinggian akhlak dan budi pekerti mulia yang diajarkan dalam Al Qur’an dan Hadits Nabi. Justru karena keramahan, kedermawanan dan sifat welas asih yang diperlihatkan para wali di Tanah Jawa itulah yang jadi daya pesona sehingga berbondong-bondong orang Jawa masuk Islam.

    Demikianlah, selama beberapa hari Syekh Maulana Malik Ibrahim tinggal di desa itu. Membimbing para penduduk desa untuk mempelajari agama Islam sesuai dengan tingkat pemahaman mereka selaku orang awam.
    Selanjutnya Syekh Maulana Malik Ibrahim meneruskan perjalanan pulang ke Gresik. Ia telah menugaskan dua orang santrinya yang ahli dalam mengolah lahan pertanian dan bangunan untuk membimbing penduduk desa itu. Sehingga terbinalah imam dan taraf hidup penduduk desa itu.

    Pada setiap desa yang dilaluinya Syekh Maulana Malik Ibrahim selalu berbuat kebajikan. Jika dipandang perlu untuk menempatkan santrinya di desa yang disinggahi maka santri itupun ditugaskan untuk membimbing penduduk desa yang dilaluinya, seperti salah seorang santrinya yaitu Satriå Mégå Pêthak ” yang telah didongengkan.

    Beliau tidak menolak ajaran kepercayaan penduduk asli. Begitu pula beliau tidak menentang adat istiadat yang ada serta berlaku dalam masyarakat pada waktu itu. Berkat keramah-tamahannya serta budi bahasa dan pergaulannya yang sopan santun itulah, banyak penduduk pribumi yang tertarik masuk ke dalam agama Islam.

    Di dalam usaha yang sedemikian itu, beliau kemudian menerima tawaran dari raja negeri Cheermen. Raja Cheermen itu sangat berhajat untuk mengislamkan bangsawan Majapahit. Seperti ternyata kemudian, dari hasil didikannya akhirnya tersebar diseluruh penjuru tanah air mubaligh-mubaligh Islam yang dengan gigih mensyi’arkan ajaran-ajaran agama Islam.

    Kapan beliau wafat? Kalau ditilik dari batu nisan yang terdapat pada makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gapurå Gresik, terukir sebagai tahun meninggalnya 822 H, atau tahun 1419 M. Nama jalan yang menuju kemakam tersebut disebut jalan Malik Ibrahim.

    Dari huruf-huruf Arab yang terdapat di batu nisannya dapat diketahui bahwa Syekh Maulana Malik Ibrahim adalah si Kakek Bantal, penolong fakir miskin, yang dihormati para pangeran dan para sultan ahli tata negara yang ulung, hal itu menunjukkan betapa hebat perjuangan beliau terhadap masyarakat, bukan hanya pada kalangan atas melainkan juga pada golongan rakyat bawah yaitu kaum fakir miskin.

    Dipahat pada batu nisan beliau: Surat Al Baqarah ayat 255, Surat Ali Imran ayat 185, Surat Ar Rahman ayat 26, 27, dan Surat At Taubah ayat 21, 22, yang terjemahannya :

    Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia Yang Hidup Kekal Abadi lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Ilmu dan kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak berat memelihara keduanya. Dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar. [QS Al Baqarah (2) ayat 255].

    Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu, barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sesungguhnya ia beruntung. Kehidupan di dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. [QS Ali Imran (3) ayat 185]

    Semua yang di bumi itu akan binasa. Dan yang tetap kekal abadi hanya Wajah Rabbmu Sang Maha Pemilik Segala Kebesaran dan Sang Maha Pemilik Segala Kemuliaan [QS Ar Rahman (55) ayat 26, 27]

    Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmatNya, ridha dan surga. Mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar. [QS At Taubah (9) ayat 21, 22]

    Selanjutnya dipahat:

    Inillah makam almarhum almaghfur yang berharap rahmat Allah kebanggaan para Pangeran, sendi para Sultan dan Menteri, penolong para fakir miskin yang berbahagia lagi syahid, cemerlangnya simbol negara dan agama. Malik Ibrahim yang terkenal dengan Kakek Bantal. Allah meliputinya dengan rahmatNya dan keridhaanNya dan dimasukkanNya ke dalam surga. Telah wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822H.”

    Bertepatan tanggal 8 April 1419 M, mungkin yang dimaksud adalah hari Sabtu. Setelah beliau wafat, Syekh Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan sebutan Sunan Gresik.

    Memulai dari desa Leran Gresik, beliau bergaul dengan rakyat kecil sebagai petani. Keahlian bercocok tanam membuat rakyat sekitar tertarik untuk berguru tani. Ia juga dipercaya ahli tata negara yang dikagumi kalangan bangsawan. Beliau bersaudara dengan Syekh Maulana Ishaq, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishaq adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Qubro, yang menetap di Samarkand.

    Maulana Jumadil Qubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Sayidina Husein, cucu Nabi Muhammad SAW. Syekh Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Muang Thai (Jeumpa, Aceh?), selama tiga belas tahun sejak tahun 1379M.

    Beliau menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Sayyid Ahmad Ali Rahmatullah atau Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Raden Sayyid Ali Murtadho alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi da’wah di negeri itu, Pada tahun 1392M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.

    Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, sembilan kilometer utara kota Gresik.

    Menurut literatur yang ada, beliau juga ahli pertanian dan ahli pengobatan. Sejak beliau berada di Gresik hasil pertanian rakyat Gresik meningkat tajam. Dan orang-orang sakit banyak yang di sembuhkannya dengan daun-daunan tertentu. Secara khusus Syekh Maulana Malik Ibrahim menyediakan dirinya untuk mengobati masyarakat secara gratis.
    Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa (Jeumpa Aceh?). Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.

    Kegiatan pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Dalam waktu singkat warungnya ramai. Malik Ibrahim melangkah kemudian membuka praktek sebagai tabib. Beliau dikenal sebagai tabib ahli pengobatan. Malik Ibrahim pun seakan menjelma menjadi ”dewa penolong”. Apalagi ia tak pernah mau dibayar. Di tengah komunitas kepercayaan lain di kawasan itu beliau cepat dikenal karena sanggup menerobos sekat-sekat strata sosial masyarakat. Ia perlakukan semua orang sama dan sederajad.

    Berangsur jumlah pengikutnya bertambah. Setelah jumlah mereka makin banyak Syekh Maulana Malik Ibrahim mendirikan masjid. Ia juga membangun bilik tempat menimba ilmu bersama. Model belajar ini kemudian dikenal dengan nama pondok pesantren yang merupakan cikal bakal sistem perguruan Islam. Tempat mendidik dan mempersiapkan para santri untuk sebagai kader umat yang terdidik, menegakkan dan mensyi’arkan ajaran-ajaran Islam di tanah air kita. Dan pondok pesantren yang didirikan pertama kalinya adalah di Sembalo, Leran Gresik. (Pondok dalam Bahasa Arab al funduq, Bahasa Inggris chalet, inn, artinya asrama).

    Di dalam pondok-pondok itu digembleng juga para santri sebagai calon mubaligh dan pejuang-pejuang Islam masa depan. Bertambah banyak orang yang masuk Islam, bertambah berat pula tugas dan pekerjaannya. Tentu saja orang-orang itu tidak dibiarkan begitu saja. Mereka harus diberi didikan dan penerangan secukupnya sehingga keimanannya menjadi kuat dan keyakinannya menjadi kokoh.

    Inilah salah satu strategi Syekh Maulana Malik Ibrahim dan para wali lainnya yang cukup jitu. Tradisi Pondok Pesantren tersebut berlangsung hingga di jaman sekarang. Dimana para ulama menggodok calon Mubaligh di pesantren yang diasuhnya.

    Dalam mengajar ilmunya beliau mempunyai kebiasaan meletakkan Al Qur’an atau Kitab Hadits di atas bantal, maka beliau dijuluki ”Kakek Bantal dari Sembalo”.

    Syekh Maulana Malik Ibrahim juga seorang petani, yang setiap hari bergelut dengan tanah garapannya berupa bumi atau bantålå, beliau mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Karena itu pulalah rakyat petani menyebutnya Kakek Bantal.

    Sebagai seorang petani pula beliau merangkul masyarakat kelas bawah yang disisihkan dalam pergaulan, beliau mampu membaur dengan penduduk setempat sehingga dalam arti kiasan beliau dapat dikatakan sudah membumi dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. [Bantal atau lengkapnya Bantålå artinya Bumi].

    Sifatnya lemah lembut, welas asih dan ramah tamah kepada semua orang, baik sesama muslim atau dengan golongan masyarakat lain membuatnya terkenal sebagai tokoh masyarakat yang disegani dan dihormati. Kepribadiannya yang baik itulah yang menarik hati penduduk setempat sehingga mereka berbondong-bondong masuk agama Islam dengan suka rela dan menjadi pengikut beliau yang setia.

    Bila orang bertanya sesuatu masalah agama kepada beliau maka beliau tidak menjawab dengan berbelit-belit melainkan dijawabnya dengan mudah dan gamblang sesuai dengan pesan Nabi yang menganjurkan agama disiarkan dengan mudah, tidak dipersulit, umat harus dibuat gembira, tidak ditakut-takuti.
    Sebagai misal, bila beliau menghadapi rakyat jelata yang sebagian besar sebagai petani, yang pengetahuannya masih awam sekali, beliau tidak menerangkan Islam secara njelimet. Mereka dibimbing untuk bisa mengolah tanah agar sawah dan ladang mereka dapat dipanen lebih banyak lagi, sesudah itu mereka dianjurkan bersyukur kepada Yang Memberikan Rezeki, yaitu Allah SWT.

    Dua tahun sudah Syekh Maulana Malik Ibrahim berda’wah di Gresik, beliau tidak hanya membimbing umat untuk mengenal dan mendalami agama Islam, melainkan juga memberikan pengarahan agar tingkat kehidupan rakyat Gresik menjadi lebih baik. Beliau pula yang mempunyai gagasan mengalirkan air dari gunung untuk mengairi lahan pertanian penduduk. Dengan adanya sistim pengairan yang baik ini lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen bertambah banyak, para petani menjadi makmur dan mereka dapat mengerjakan ibadah dengan tenang.
    Andai kata Syekh Maulana Malik Ibrahim tidak ikut membenahi dan meningkatkan taraf hidup rakyat Gresik tentulah mereka sukar diajak beribadah dengan baik dan tenang. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa kafakiran menjurus pada kekafiran. Bagaimana mungkin bisa beribadah dengan tenang jika sehari-hari disibukkan dengan urusan sesuap nasi.
    Inilah resep yang harus ditiru.

    Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara.
    Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419M Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat. Dalam sejarah beliau dianggap sebagai pejuang seta pelopor dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa, dan besar pula jasa beliau terhadap agama dan masyarakat. Orang-orang Jawa mengenal Syekh Maulana Malik Ibrahim dan murid-muridnya sebagai orang berbudi pekerti halus dan sangat dermawan, suka menolong rakyat.

    Ringkasan:

    1. Nama:
    •SUNAN GRESIK
    •Syekh Maulana Malik Ibrahim
    •Syekh Maulana Maghribi
    •Kakek Bantal

    2. Putra dari Syekh Maulana Jumadil Qubro.

    3. Lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada Paruh Abad ke-14.

    4.Wafat di Gresik, Jawa Timur, pada tahun 822H atau 1419M. Dimakamkan di Gapurå. Gresik.

    5. Istri: Putri Raja Campa (Jeumpa, Aceh?).

    6. Putra/putri:
    •Sayid Ahmad Ali Rahmatullah (Raden Rahmat, kelak adlah Sunan Ampel).
    •Sayid Ali Murtadho (Raden Santri).

    7. Daerah Da’wah dan Tahun: Sembalo, Leran Gresik 1404M sd 1419M.

    8.Keahlian utama:
    •Pedagang;
    •Tabib, Juru Pengobatan.
    •Petani.
    •Ahli Strategi Politik Ketatanegaraan.

    9. Ajaran:
    •Filosofi Ketuhanannya: Allah adalah Dzat yang diperlukan AdaNya;
    •Egaliter;
    •Toleransi;
    •Sopan-santun;
    •Dermawan;
    •Arief.

    10. Cara berda’wah:
    •Pendiri dan perintis lembaga dan sistem pendidikan pesantren, yang kita kenal dengan sekarang dengan sebutan pondok pesantren;
    •Bergaul dengan masyarakat strata bawah;
    •Tidak menolak keberadaan agama dan kepercayaan penduduk asli;
    •Tidak menentang adat istiadat yang ada dan yang berlaku dalam masyarakat yang masih memeluk agama Budha, Hindu, dan penganut ajaran animisme.

    ånå tutugé

    SUGÊNG SAHUR, SUGÊNG NINDAKAKÊN IBADAH SIYAM DINTÊN KAPING-17 RAMADHAN 1431H

    Ya Allah! Tunjukkanlah kepada kami amal kebajikan. Ajarilah kami untuk memenuhi amal kebajikan itu. Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui segala isi hati.Wahai Dzat Yang Maha Mengetahui seluruh isi alam. Shalawat atas Muhammad dan keluarganya yang suci. Aamin.

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

  3. ret eret eret tit .
    unduh … kabur

  4. Matur nuwun P. Satpam.
    Matur nuwun Ki Bayuaji, pun tenggo tutugipun.
    Sugeng enjang.

  5. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Hanya kepadaMu ya Allah segala puja dan puji. Engkau Yang Maha Terpuji. Maha Tinggi lagi Maha Agung.

    Kepada Saudaraku Ki Honggopati.
    Matur nuwun.
    Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda kepada Ki Honggopati. Aamin.

    Kepada Saudaraku-saudaraku pårå kadang padépokan pêlangisingosari Muslim yang tengah menunaikan ibadah puasa:

    Ya Allah,
    Kuatkanlah Saudara-saudaraku itu untuk terus berjuang menunaikan ibadah RamadhanMu.
    Izinkanlah Saudara-saudaraku sepadepokan ini meraih Keagungan Malam Seribu Bulan Lailatul Qadr.
    Engkau berikan Kemenangan kepada Saudara-saudaraku semuanya. Aamin.

    Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

  6. Assalamu’alaikum….sanak sedoyo PDLS

    • Wa’alaikum salam,

      BaRenG ni…ki Juragan lagi kemana…kok
      jarang ngantar ning padepokan ??

      • Ndak tau tuch, sekarang suka kabur2an xixixi

        • Mungkin harus diiket..kale..

          • Katanya ndak mau diiket Ki Kartoj, kayak tahanan aja xixixi

          • Lho..yang diiket ya jangan tangannya….

          • sopo sing nduwe klangenan diiket….

            wuih .. pelajarane wis tingkat tinggi

  7. sugeng enjang…

  8. selamat pagi, ki arema, ki pak satpam, ki tumenggung kartojudo, ki tumenggung anatram, ki tumenggung kartojudo, ki rangga widura, ki lelono jagad, ki pandanalas, ni ken padmi, ki samy, ki djojosm, ki truno podang, ki truno prenjak, ki ismoyo, ki honggopati, ki bayuaji, ni missnona, ni nunik, ki arga, ki gembleh, ki kompor, ki sas, ki sutajia, ki al_ghors, ki panembahan donoloyo, ki lazuardi, ki zacky_74, ki sanak dan nyi sanak yang belum dapat saya sebutkan namanya karena satu dan lain hal yang menyebabkan kelupaan dan kealpaan saya untuk menyebutkan nama-nama panjenengan sedaya sehingga saya menjadi lupa untuk mengetikkan nama-nama panjenengan sedaya oleh karena kealpaan dan kelupaan saya yang membuat saya menjadi lupa untuk mengetikkan nama-nama panjenengan sedaya yang disebabkan oleh hikmat kebijaksanaan dalam…………..

    • Selamat pagi..selamat pagi..Ki Banuaji, Ki Arema, Ki P Satpam, Kisanak sedoyo….

      • Selamat pagi..selamat pagi..selamat pagi
        Ki Banuaji, Ki Arema, Ki Pak Satpam,….

        Kisanak sedoyo….
        Nisanak sedoyo….

        • sugeng enjing ki Banu, ki Arema lan poro kadang sedoyo kemawon …

          salam

          • Weh…Ki Laz suwe ora jamu…kadhos pundi kabar-ipun Ki ?…

    • s.e.l.a.m.a.t.p.a.g.i.m.e.n.j.e.l.a.n.g.s.i.a.n.g.

  9. Paraf sek….srok-srok…..srok-osrok-
    ooooosroooooook !!

    tintae sampe moncrot-moncrot…xixixi

    • tintae sampe moncrot-moncrot ?….wah !

  10. absen langsung ngunduh, matur nuwun

    • Maaf Ki Bancak,
      habis absen pulpennya jangan di bawa kabur….

      • ngapunten, ngampil sekedap kangge nulis absen

  11. sugng dalu, …
    matur nuwun, sudah ngundhuh lontar versi ki dino.
    lontar kiriman dari ki ismoyo belum dateng nggih ki ?
    namun demikian, tetap setia menanti.

    • menunggu (suara bang Rhoma)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: