HLHLP-014

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 10 September 2010 at 04:36  Comments (11)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-014/trackback/

RSS feed for comments on this post.

11 KomentarTinggalkan komentar

  1. SELAMAT IDUL FITRI 1431-H
    MOHON KEIKHLASAN SANAK KADANG UNTUK MEMAAFKAN KESALAHAN KAMIS SELAMA INI.

    • Selamat Pagi ….
      Selamat Hari Raya …

  2. matur nuwun. sampun ngundhuh rontal-014.

  3. Taqobbalallohu minna waminkum siyaamana wasiyamikum taqabbal yaa kariim

  4. Nuwun

    Untuk “bekal” mudik, dan hidangan bagi sanak kadang padepokan pelangisingosari, di hari raya Idul Fitri ini cantrik Bayuaji menyajikan hidangan:

    KETUPAT” atau “KUPAT

    Lebaran selalu identik dengan ketupat. Seolah-olah kalau Lebaran tanpa makan ketupat belum Lebaran rasanya, walau tidak ada aturan soal hidangan Lebaran harus ketupat. Tidak banyak yang tahu kenapa ketupat identik dengan Lebaran. Padahal bisa saja ketupat diganti lontong, nasi, sagu, singkong, roti, atau apa pun. Ternyata memang ada makna filosofis tersendiri di balik ketupat.

    Biasanya ketika Lebaran, hidangan utamanya adalah ketupat. Tetapi pada masyarakat tertentu di Indonesia (Jawa umumnya), ketupat biasanya dinikmati seminggu setelah hari raya Idul Fitri. Inilah yang namanya tradisi Bakdå Kupat (Lebaran Ketupat) yang sering juga disebut Bakdå Cilik (Lebaran Kecil). Kata bakdå berasal dari bahasa Arab ba’da yang artinya “setelah”. Kalimat “ba’da Ashar” berarti sesudah Ashar.

    Kata “bakdå” atau di kampungnya cantrik Bayuaji disebut “bakdan” merujuk pada hari raya Idul Fitri, yang maksudnya berhari raya setelah sebulan penuh berpuasa. Kemudian kata “bakdå” ini menjadi luas maknanya yang berarti “hari raya”. Ada juga yang menyebut “riyåyå” yang berasal dari kata “hari” dan “raya”, yang kemudian digabung jadi kata “riyåyå”.

    Tradisi Bakdå Kupat tentu ada asal usulnya. Dalam Islam hanya mengenal dua hari raya yaitu “Riyåyå Syawal” (Hari Raya Idul Fitri) dan “Riyåyå Bêsar” (Hari Raya Idul Adha). Jadi, Bakdå Kupat jelas merupakan tradisi Jawa saja. Yang namanya Islam di Jawa, tidak lepas dari peran Wali Sångå yang mengasimilasi kebudayaan Hindu/Syiwa Budha dan keyakinan animisme, yang diberi warna Islam.

    Dahulu, Bakdå Kupat merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa sebagai sarana berkirim doa kepada arwah anak kecil yang sudah meninggal. Anak kecil dalam bahasa Jawa adalah “bocah cilik”, sehingga tradisi ini disebut dengan Bakdå Cilik. Setelah ajaran Islam masuk, tradisi ini tidak dihilangkan, tetapi dijadikan sarana da’wah oleh para wali dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam. Bakdå Cilik pun berubah fungsi menjadi “hari raya kecil” setelah melakukan puasa Syawal selama enam hari. Setelah merayakan Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal, masyarakat Jawa kemudian dibiasakan dengan berpuasa sunnah Syawal selama 6 hari. (Ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW).

    Kemudian setelah rangkaian puasa Syawal usai, diakhiri dengan “lebaran kedua” yang disebut dengan Bakdå Cilik atau Bakdå Kupat itu tadi. Ini pula kenapa Bakdå Kupat disebut juga dengan Bakda Cilik atau “hari raya kecil” karena hari raya ini diadakan setelah “berpuasa kecil” selama seminggu bila dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri yang dilakukan setelah puasa selama sebulan.

    Sangat disayangkan, tradisi Bakdå Kupat ini sendiri semakin lama makin ditinggalkan. Mudah-mudahan kebiasaan berpuasa enam hari Syawal sebagai pelengkap puasa Ramadhan tidak ikut lenyap.

    Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat. Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut Samir yang merupakan aksesoris wajib yang harus dikenakan.
    Samir kuning tersebut dipercaya sebagai penolak bala. Janur kuning inilah kemudian yang dianggap sebagai samir penolak bala.

    Dulu, selongsong ketupat itu dibuat sendiri. Tangan-tangan terampil wanita bekerja dengan cekatan merangkai helai-helai janur. Di kala pembuatan selongsong ini biasanya suasana begitu ramai. Inilah yang membuat suasana menjelang Lebaran begitu meriah. Kalau sekarang cukup membeli saja di pasar yang biasanya dijual per ikat berisi 10 selongsong atau selusin.

    Ketupat mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

    Filosofi lain dari ketupat, bahwa bentuk segi empat merupakan wujud dari prinsip “kiblat papat limå pancêr”, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan. Secara harfiah, “kiblat papat limå pancêr” bermakna “empat arah mata angin dan satu pusat”. Kalau dijléntrèhkan bisa bermakna macam-macam. Salah satu maknanya adalah makna filosofi keseimbangan alam. Kita tahu ada 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang.
    Begitu juga dengan manusia. Ke mana pun manusia ini pergi (ke penjuru mata angin) tentu dia tak lepas dari yang namanya pusat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, supaya manusia tetap “seimbang” hendaklah selalu ingat kepada Tuhan, pusat dari segalanya. Itulah kira-kira hasil ngèlmu otak-atik gathuk yang saya tangkap dari filosofi “kiblat papat limå pancêr” ini. Kemudian beras yang menjadi isi dari ketupat menjadi lambang dari kemakmuran. Diharapkan setelah hari raya, kita akan selalu dilimpahi dengan kemakmuran.

    Kata “kêtupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lêpat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat kita diharapkan mengakui kesalahan kita dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut.

    Ada lagi tradisi unik yang kini sudah sangat jarang ditemukan. Selain simbol maaf, ada yang percaya kalau ketupat dapat menolak bala. Caranya dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya ketupat digantung bersamaan dengan pisang. Ketupat ini digantungkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering hingga Lebaran tahun berikutnya. Tapi tradisi menggantungkan ketupat yang kental nuansa mistisnya ini kini sudah sangat jarang ditemukan.

    Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya juga. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan santên yang mempunya makna “pangapuntên” alias memohon maaf.

    Menjadi tradisi pula hidangan ketupat dan opor ini tidak hanya dinikmati bersama keluarga. Hidangan ketupat ini juga dijadikan hantaran kepada tetangga-tetangga sebagai simbol permohonan maaf dan silaturahmi. Tapi sekali lagi, tradisi saling menghantarkan hidangan ketupat ini kini juga sudah pudar. Mungkin di ndusun, ndesa-ndesa, kampung semoga tradisi-tradisi baik tadi tetap ada dan lestari.

    Saking dekatnya kupat dengan santen ini, maka cantrik Bayuaji pada kesempatan sebelum mudik ini mengucapkên:

    Mangan kupat nganggo santên.
    Menawi lêpat, nyuwun pangapuntên

    Nuwun

    cantrik Bayuaji
    01 Syawal 1431H / 10 September 2010M

  5. Taqobbalalloh minna wa minkum, ja’alanalloh wa iyyakum minal ‘aidin wal faizin.

    Ngaturaken sugeng riyadi, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan lan kekhilafan.

  6. selamat hari raya idhul fitri, mohon maaf lahir batin

  7. Mangan kupat, lawuh mendoan.
    Enak juga lhoo!!!
    TAQOBALLAHU MINNA WA MINKUM TAQOBAL YAA KARIIM, Selamat ‘Idul Fitri 1 Syawal 1431 H. Mohon dimaafkan semua kesalahan, baik disengaja maupun tidak sengaja.

    BERHARAP SETUMPUK PADI DALAM LESUNG,
    TERNYATA HANYA JERAMI,
    HARAPANKU BERTEMU LANGSUNG,
    YANG DATANG HANYA SURATKU INI.

    Ceg ceg ceg ndi tangane, ……. semag semog pipi kiwe pipi tengen, …….. pok pok pok nggebugi geger.

  8. SELAMAT IDUL FITRI 1431-H
    MOHON KEIKHLASAN SANAK KADANG UNTUK MEMAAFKAN KESALAHAN KAMIS SELAMA INI.
    TERIRING DO’A TAQOBALLAHU MINNA WA MINKUM (SEMOGA ALLAH MENERIMA IBADAH KULA LAN IBADAH PANJENENGAN SEDAYA) AMIEN

  9. selamat hari raya idhul fitri, mohon maaf lahir batin

  10. libur Cangkulan hari ke-DUA….!!
    saya cantrik yudha mengucapkan :

    “SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1431-H”
    Minal Aidin Wal Faidzin……Mohon MAAF
    Lahir dan Bathin buat ki SENO sklga,
    pak SATPAM sklga,para BEBAHU padepokan
    kadang cantrik dan mentrik PDLS sedoyo

    ning wilayah kaDEMANGan SI apaADA acara
    KETUPATan yha….??

    sabtu, 11 september 2010
    cantrik wilayah bang WETAN


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: