HLHLP-032

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 12 Oktober 2010 at 01:01  Comments (118)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-032/trackback/

RSS feed for comments on this post.

118 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kulanuwun para sederek. Kula badhe ndaftar dadi cantrik.

    Monggo Ki

  2. Sampurasun,wilujêng énjing

    • Sugeng Enjang Ki,
      Mboten saged sare, tho ….
      Putune menopo nembe rewel?
      Tangise kok buuaanter …. seperti tangis si TATAG?

      • Sugeng enjing eyang Bayuaji, Pak De RW.
        Habis solat subuh, mampir nengok gandhok, sapa tahu ada bonus

  3. Adate padepokan iki, angger ono sing nemnbe bebungah, mesthi ono kado istimewa..
    Monggo sami2 kagem kasarasanipun Nyi Padmi engkang nembe milad kaping-21..

    cantrik liyane opo setuju Pak Lik?…

    • halah…
      ana wae akale …..
      sugeng enjing Pak Lik

    • Leres Ki Pandan ….
      Ki Ismoyo sampun nyiapaken sepuluh rontal kanggo sing nembe bebungah …..
      Kemarin Ki Is tengok padepokan karo mesam-mesem … nggowo kantongan guuueeedddeeee.

    • Selamat Ulang Tahun Ni Ken Padmi…!

      12.10.2010….

      • he..he…

        sing ulang tahun ora wani sowan …
        kawatir “dikerjain” cantrik2….

        • Ni Ken Padmi sudah umur berapa ya?
          Dulu wektu isih neng padepokan, isik kethok kinyis-kinyis …
          Emboh … saiki …

          • Sweet Twenty One

          • Kumus kumus !..hiks mboten dink…ngendhikane Ki Pls Ni Ken Padmi merak ati koq…

          • Sekarang ya masih sama kok Ki Widura. Kalau dulu pas ketemu di mal panjenengan sempat motret saya, ya secantik di foto itulah saya sekarang…

    • Matur nuwun buat para kadang semua. Betul, kemarin, 12 oktober adalah tanggal lahir saya. Tapi 21 tahun itu cuma pengangen-angene Ki Pandan… saya sudah tidak semuda itu.
      Nyuwun ngapunten pak satpam, kemarin si gagak rimang ngambek, jadi saya tidak sowan padepokan. Saya lihat dari kejauhan panjenengan tingak-tinguk, ternyata nggoleki saya ya? Sekali lagi ma’af..dan terima kasih buat semuanya.

  4. Sampurasun.

    Alhamdulillah, dapat bangun lebih awal, suatu hal yang biasa, begitulah kami beruntung bertempat tinggal dekat masjid, menjelang shubuh, waktu telah menunjukkan pukul 02:22 wib; sudah ada yang membukakan pintu Rumah Allah. Konon berderitnya pintu masjid yang sedang dibuka, membuat para setan,iblis dan mahluk-mahluk jahat lainnya lari terbirit-birit ketakutan.
    Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menikmati ‘perjumpaan’ dengan Tuhan di akhir sepertiga malam, dan tak terputus hingga shubuh mendatang. Alhamdulillah.

    Wilujêng énjing, hampura simkuring mawa:

    “AJARAN BUDHI” PADA MASYARAKAT PASUNDAN

    Berturut-turut telah diwedar “Ajaran Budhi” pada masyarakat Jawa, pada gandhok-gandhok:

    1. HLHLP-022 [On 25 September 2010 at 06:16 bayuaji said:] “Pemahaman Tuhan”.

    2.HLHLP-024 [On 29 September 2010 at 00:26 bayuaji said:] “Gusti Ora Saré”.

    3. HLHLP-026 [On 2 Oktober 2010 at 02:05 bayuaji said:] “Laku Utåmå”.

    4.HLHLP-028 [On 5 Oktober 2010 at 06:26 bayuaji said:] “nDonyå lan Kadonyan, Kulåwargå, Bêbrayan lan Nagårå”.

    5. HLHLP-029 [On 7 Oktober 2010 at 05:14 cantrik bayuaji said:] “Laku Budi lan Kautaman Batin”.

    6. HLHLP-030 [On 9 Oktober 2010 at 07:32 cantrik bayuaji said: ] “Éling lan Waspådå”.

    7.HLHLP-031 [On 11 Oktober 2010 at 01:54 cantrik bayuaji said:] “nJumênêngi ratri amrih cakêt mring Gusti

    Masih banyak pitutur berupa pituduh dan wêwaler, yang belum sempat diwedar dan dikaji. Mudah-mudahan pada kesempatan lain, jika sanak kadang tidak bosan “mendengar” (yang bener membaca) “ocehan”nya cantrik Bayuaji, dan masih diijinken oleh Ki Panji (P) Satpam yang Bahurekso Padepokan Pelangisingosari, juga oleh Ki Senopati Mahesa Arema, dan yang lebih penting lagi, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Cantrik Bayuaji untuk membagi kawruh yang tidak seberapa ini, dan masih belum banyak memberikan arti bagi sesama.

    Pengembaraan cantrik Bayuaji telah sampai di Tatar Sunda, Bumi Parahyangan dan sebagaimana kelaziman (dahulu) bagi Urang Sunda bila berjumpa dengan sesamanya selalu didahului dengan salam “Sampurasun”, yang tentunya salam tadi dibarengi dengan senyuman dan balasan “Sampèr”.

    Namun sayang, banyak yang memandang bahwa bila seseorang berucap sampurasun, menganggap sangatlah tidak modern, kolot, atau yang lebih parah lagi adalah menuduh bahwa ucapan sampurasun sama saja dengan menghidupkan kembali adat nenek moyang yang animis, golongan para penganut penyembah berhala. Padahal sampurasun merupakan akronim dari sampurna rasané ingsun (sempurna batinku), sebuah pengungkapan jujur bahwa dirinya menerima orang yang diajak berbicara dengan tulus dan dada lapang. Rampes, sebagai jawaban, secara sederhana diartikan kembali atau aku pun demikian.

    Di Tatar Sunda ini, sebagaimana daerah Nusantara lainnya, Bumi Parahyangan memiliki alam yang indah dan elok. Dengan suaranya yang merdu, Bimbo pun berdendang: “waktu Tuhan tersenyum lahirlah Pasundan”. Suatu ungkapan indah yang keluar dari kelompok pemusik yang agamis dan terpelajar tentu bukanlah hanya sekedar cuap-cuap tanpa makna. Proses kontemplasi, rasa kagum dan sekaligus rasa syukur terhadap “keindahan” dan “kesubur-makmuran” Bumi Parahyangan bisa jadi merupakan pendorong bagi Bimbo untuk mengungkapkannya dalam syair lagu tersebut.

    Tanah Sunda memang mempunyai hampir seluruh prasyarat untuk dikagumi.
    Dari bahasa Sansekerta, kata Sunda berasal dari bahasa Sansakerta yang akar katanya adalah ’sund’ berarti ‘bercahaya terang benderang; dalam bahasa Kawi (di antaranya) berarti air — alias tanah yang subur; dari bahasa Jawa ‘Sunda’ berarti ’tersusun, merangkap, menyatu; dan dari bahasa Sunda, berarti indah, molek, bagus menyenangkan’; Ada pula yang mengatakan bahwa Sunda itu berasal dari kata sundara yang berarti kasep, geulis, tegep, alus, punjul, atau indah. Untuk arti indah ini, salah seorang istri Prabu Siliwangi menggunakannya menjadi nama diri, yaitu Nyai Mantri Manik Mayang Sunda (nyai mantri permata ciptaan nan indah).

    Gunung dan pegunungan membiru nampak dari kejauhan, udara yang sejuk, di tengah pesawahan, dengan kolam air yang aliran airnya gemericik, dan ikan-ikan berenang di dalamnya, atau di tengah perkebunan teh yang hijau, ditingkah petikan dawai kecapi dan suara seruling yang mendayu-dayu, dan sebagaimana pesan para karuhun, bahwa alam lingkungan haruslah dijaga:

    Gunung kayuan, lamping awian, lebak sawahan, legok balongan, jeung datar imahan. Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak, ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak, sing runtut sauyunan, sabobot sapihanean, mipit kudu amit, ngala kudu menta. Sing kacukcruk walunganana sing kapapay wahanganana. Nete taraje nincak hambalan.

    Terjemahan bebasnya:

    [Gunung harus ditanami pepohonan kayu, tebing harus ditanami bambu, dataran rendah harus dijadikan sawah pertanian, legok atau cekungan di daerah rendah harus dijadikan kolam untuk perikanan, tanah yang datar harus jadi tempat perumahan. Gunung tidak boleh dihancurkan, pengairan sungai tidak boleh dirusak, semuanya harus serasi selaras dan menyatu dengan alam, hidup rukun bersma, saling ayom-mengayomi, gotong royong, segala sesuatunya harus meminta izin, mengambil segala sesuatu harus dengan memberitahukan atau meminta kepada yang punya, tidak boleh dengan sewenang-wenang, mencuri atau mengambil hak orang lain. Segala sesuatunya harus jelas kegunaannya, tumbuh berkembang serasi dan selaras.]

    Berjenis-jenis makanan penganan banyak dan mudah diperoleh di Tatar Sunda ini, penduduknya yang murah senyum, someah hade ka semah (bersikap ramah kepada tamu); runtut raut sauyunan (hidup rukun bersama). Kebersamaan hidup satata sariksa (dalam satu aturan bersama-sama memelihara). dan……….. mojang-mojangna nu gareulis.

    Tetapi dari semua itu, yang menarik perhatian saya adalah ajaran Sunda mah teu benten wae sareng ajaran ti rerehan Timur umumna (Ajaran Sunda tidak berbeda dengan ajaran dari belahan dunia Timur lain umumnya).

    Ajaran itu sendiri secara garis besar menggambarkan seseorang yang bertanya, berjalan mengenali dirinya dalam kehidupan ini. Oleh karena itu, ajarannya berkembang dan tumbuh sejalan dan sesuai dengan lingkup kebudayaan dan lingkungan di mana orang itu berada. Dalam pengertian seluas-luasnya, karena sifatnya menyelami sampai ke dalam-dalamnya, sehingga kerap diterapkan menjadi ajaran yang erat pertaliannya kepada kepercayaan, keyakinan — yang oleh penganutnya kemudian disebut ageman atau agama –, merupakan kepercayaan yang dianut sejak lama oleh Urang Sunda sebelum datangnya agama-agama “modern”.

    Amat disayangkan sebagaimana ajaran “Agama Budhi” atau “Agami Budhi” Wong Jåwå, maka Ajaran Sunda ini oleh beberapa pihak termasuk sebagian dari para peneliti ajaran-ajaran agama “modern”, digolongkan sebagai suatu kepercayaan animisme/dinamisme, dan dipaksakan sebagai suatu bentuk ajaran filsafat atau aliran kepercayaan atau kebatinan saja.

    Tentunya pernyataan mereka dan kawan-kawan para sejarahwan ini membuat rancu, dan sangat membingungkan. Bagi saya, Cantrik Bayuaji sulit menerima pernyataan mereka. Ada perasaan berdosa bagi saya, bahwa ajaran kepercayaan leluhur bangsa yang agung hanya disebut sebagai faham animisme dan faham dinamisme, suatu faham penyembahan terhadap ruh atau makhluk halus dan meyakini bahwa tiap-tiap benda yang berada di sekelilingnya bisa mempunyai kekuatan batin yang misterius.

    Dalam hal ini, kita harus arif dan berpandangan luas, kenapa timbul kedua istilah yang dapat dikatakan merendahkan derajat dan kepercayaan leluhur kita, yang pengertiannya secara harfiah adalah penyembah berhala, sehingga dianggap masih primitif.

    Kiranya patut direnungkan sedangkal itukah penghayatan leluhur kita terhadap arti dan hakikat ketuhanan, kemanusiaan, dan alam. Padahal, leluhur kita tinggal di bumi Nusantara yang subur makmur loh jinawi. Alam yang ramah, dengan sumber pangan dan sandang yang disediakan alam lebih dari cukup dan tinggal ambil, penduduknya yang ramah pula, cukup banyak waktu untuk merenung, berpikir, berdialog, dan mengkaji tentang alam dan Penciptanya serta berkreasi untuk mengembangkan budayanya.

    Dalam hal ini hendaknya diingat, sejarah nasional banga kita dibuat oleh sebagian besar sejarawan Belanda pada masa penjajahan, yang tentunya akan terkait dengan kepentingan si penjajah Belanda sehingga adalah suatu keniscayaan untuk merendahkan bangsa yang dijajahnya dengan berbagai cara, termasuk penulisan sejarahnya.

    Dengan demikian, fakta dapat diputarbalikkan dan opini dunia dapat dibangun bahwa mereka tidak menjajah, melainkan berjasa dalam membudayakan bangsa yang masih primitif dan biadab. Kenyataannya, banyak bukti-bukti sejarah yang sejak masa penjajahan dibawa dan disimpan di museum-museum bekas penjajah di negerinya sana Belanda. Bukan hal yang tidak mungkin bukti-bukti sejarah yang menguatkan kebesaran dan keagungan bangsa kita pada masa lalu hilang atau sengaja dihilangkan.

    Dalam hal ini berbagai pengaruh yang datang dari luar Nusantara begitu besar sehingga kebudayaan yang sebelumnya berkembang tergeser kedudukannya dari wacana dominan menjadi wacana limbahan. Apalagi Belanda menjajah Nusantara ratusan tahun dan sebelumnya budaya-budaya dari luar lainnya pernah mendominasi Nusantara sehingga kita mengalami kegamangan akan jati diri bangsa yang hakiki karena memang banyak kehilangan akar sejarahnya.

    Hal lain yang mungkin perlu dijadikan pertimbangan adalah perbedaan budaya barat yang lebih mengandalkan rasional dan simbol-simbol nyata yang nampak di permukaan dibandingkan dengan budaya timur khususnya Nusantara, lebih khusus lagi Jawa dan Sunda yang religius dan banyak mengandung falsafah yang tidak tampak ke permukaan (tersirat, penuh dengan pasêmon, dan ngandung siloka), kemungkinan tidak mampu ditangkap para peneliti itu. Akibatnya, kepercayaan leluhur kita yang sebetulnya cukup arif — kita lahir dan hidup karena jasa ibu-bapak, ibu-bapak ada karena nenek-kakek dan seterusnya. Dalam budaya Sunda-Jawa dikenal penamaan sampai tujuh turunan, bahkan ada yang menyebutkan sampai sepuluh turunan, yang disebut susur-galur yaitu: (1). anak, (2). putu, (3). buyut, (4).canggah, (5). warèng, (6). uthêk-uthêk, (7). gantung-siwur; kemudian (8). kurungan bubrah, (9). gêdêbog bosok, dan (10). galih asêm, yang pada akhirnya bermuara ke Tuhan Yang Maha Esa. Jadi wajar apabila kita menghormati leluhur yang diwujudkan dalam bentuk tata-cara adat budaya sebagai bentuk penghormatan.

    Demikian pula halnya dengan kearifan leluhur kita atas kedekatannya terhadap alam dan lingkungannya. Kesadaran bahwa mereka hidup dan bermukim ditopang oleh alam lingkungannya, baik berupa batu, kayu, tanah, air, gunung, hutan, dan bermacam bahan pangan khususnya padi sebagai bahan pokok menimbulkan kesadaran akan perlunya berterima kasih dan penghormatan terhadap alam dan lingkungannya. Hal itu diwujudkan dalam bentuk tata cara adat budaya sehingga untuk memanfaatkan apa pun yang dari alam, terlebih dahulu harus dilakukan upacara adat (kaki among, nini among, dulur papat lima pancer atau mipit kudu amit, ngala kudu menta). Misalnya pada waktu panen, menebang pohon, bongkar batu, bangun rumah dan sebagainya, serta untuk menjaga daerah yang sensitif dikenal daerah terlarang (ora ilok/pamali), begitu pula pepatah-pepatah yang sarat dengan pesan bagaimana memperlakukan alam.

    Perilaku adat budaya tersebut di ataslah yang barangkali melahirkan vonis atau sengaja didiskreditkan sebagai animisme dan dinamisme. Padahal, ini jusrtu sesungguhnya merupakan bentuk perwujudan keluhuran budi pekerti leluhur kita, yang seharusnya dilestarikan. Kalau demikian, apakah mungkin leluhur kita tidak mengenal Tuhannya?

    Berdasarkan “Ajaran Budhi” dan “Ajaran Sunda” yang ada dan berkembang di Tanah Jawa, yang merupakan ajaran murni leluhur bangsa ini, maka tidak ada satu bukti sejarah pun yang menyebutkan bahwa leluhur kita adalah penyembah berhala. Berdasarkan penelitian dan kajian antropologi pun, dapatlah dibuktikan bahwa ajaran para leluhur bukanlah ajaran penyembahan berhala dan yang serba benda.

    Di Tatar Sunda, salah satu ajaran tersebut diwujudkan secara nyata pada sejumlah artefak kontekstual (tidak bertulisan) dan artefak tekstual (bertulisan) yaitu di Situs Astanagede di Kawali (Ciamis). Isinya berupa pengalaman rohani Rahiyang Wastu Kancana, bertapa Bhaga, hingga mencapai kesempurnaan bersatu dengan Sang Cipta (Hiyang).

    Situs Kawali memang situs pusat upacara kerohanian yang disebut Kabuyutan dengan penghormatan pokok kepada leluhur (buyut) yang diagungkan dengan istilah Hiyang.

    Inti pemikiran ajaran tersebut digoreskan pada enam batu berbentuk alami dan secara garis besar tercermin dalam kalimat: “… Pakena keureuta bener, pakna gawe rahhayu, pakeun heubeul jaya dina buana, pakeun nanjeur na juritan ….

    Inti dari menjalankan benar tersebut diungkapkan dalam kalimat “bati peureu tinggal nu atis tina rasa” tergores nyata dalam prasasti Prasasti Kawali I, II, dan III.

    Betapa singkat memang kalimat tersebut tetapi mengandung makna teramat dalam: sebagai himbauan seorang raja agung yang paling santun di antara raja-raja lain pada masanya untuk berperilaku benar yang diwjudkan dengan bhaga neker bhaga angger bhaga nincak bhaga rempag (menjaga lingkungan, agar tidak dirusak/dieksploitasi secara serampangan), juga haywa dicawuh-cawuh (tidak berkata sembarangan), dan haywa diponah-ponah (tidak memusnahkan warisan leluhur), sebab perilaku tersebut bukan hanya malindes ka diri sorangan – cilaka ku polah sorangan; ulah botoh bisi kakereh (merugikan sesama dan lingkungan tetapi juga diri sendiri). Karena manusia pada dasarnya berada dalam harmoni dengan alam dan seluruh tata buana (dunia) ini yang ada, yang berarti di sana terkandung tata juga.

    Ajaran Rahiyang Wastu sangat bertumpu pada keseraian dan kesatuan keseraian, yaitu masuk ke dalam realitas itu sendiri, menjadi satu dengan realitas dan secara mendalam atau dari dalam seseorang menerima realitas itu apa adanya. Ini tercermin dalam karakter artefak-artefak Kawali dengan segenap aspek yang begitu mengimposisi kepada alam, sangat natural, dengan tanpa mengeksploitasi apa pun yang diciptakan di dalam lingkungan alam dan tempat di mana seseorang berkebudayaan.

    Situs Kawali menyiratkan ajaran tetapi dalam bentuk penawaran pasif — diam dan seakan tidak nampak — begitu pun cara menghayatinya, karena inti persoalan seseorang manusia di dalam upaya merealisasikan harmoni tersebut bertakhta di dalam hati masing-masing.

    Pakena keureuta bener pakena gawe rahhayu pakeun heubeul jaya dina buana pakeun nanjeur na juritan” menyiratkan ajaran untuk mengawasi diri bahwa setiap tindakan di dalam hidup manusia selalu mengandug atau tidak terlepas dari akibat, dan akibat inilah yang menentukan lingkaran berputar menuju kebahagiaan. Sebaliknya, ulah botoh bisi kakereh, duka dan sengsara adalah sumber ketidakbahagiaan manusia, maka seseorag harus memperhitungkan langkah-langkahnya sebaik-baiknya.

    Semakin seseorang mampu menguasai sumber kesengsaraan berupa keinginan dan nafsu yang bertumpun pada pancaindriya dan sembilan lubang pelepasannya, maka realisasinya adalah wanoh ka diri, wanoh kanu ngajadikeun tur ngalahirkeun diri, yakni indung/bhaga (kesadaran tinggi dengan masuk ke dalam diri kita sendiri).

    Kesadaran dan pengawasan diri inilah pakena gawe rahhayu (sumber keselamatan) yang harus dilakukan selama hidup, sebab seorang manusia di dunia selalu bergerak maju dan tidak ditentukan oleh patokan-patokan tertentu, melainkan terus maju dan bergerak hingga mengenal pengalaman-pengalaman yang sejati pada dirinya.

    Mengenal jati diri melalui akal budi dan intuisi yang lahir dan berkembang dalam nanjeur na juritan (proses berjuang), hadir berhadapan dengan berbagai benda materi, lingkungan masyarakat, alam dan diri (Sanghiyang Lingga Bingba= yang mewujud). Dengan demikian, akal budi dan intuisi merupakan kunci yang mampu menguak semua ruang-ruang tertutup. Artinya, akal budi harus seimbang dengan ketajaman intuisi dan dipersatukan dalam takhta hati. Karena itu, proses belajar dalam ajaran Sunda ini adalah menjadi bijaksana, menghayati kehidupan dengan lebih baik karena hidup di dunia adalah seni yang sulit serta membutuhkan refleksi sepanjang hidup.

    Manusia dalam keberadaannya adalah bagian dari alam semesta (pancaindriya) yang secara bersama-sama membentuk kesemestaan sebab manusia dan semesta berasal dari Dzat yang sama (pancabudhi indriya dan panca karma indriya), Yang Satu, di samping menyadari keunikan keberadaanya di tengah-tengah alam semesta ini, juga memahami dirinya sebagai perwujudan di alam semesta (Sang Hiyang Lingga Hiyang), yakni swayambhuwa – sambhawa, ambu – Ibu.

    Proses perilaku rasa cinta dan harmoni yang berakar kepada alam tempatnya berpijak (ambu rarang) , alam tempatnya berperilaku (ambu tengah), alam tempatnya berpulang (ambu ruhur) disebut mayang sagara pamulangan..

    Harmoni – kesadaran – pengawasan diri yang menjadi patokan ajarannya adalah sederhana, tenang, lembut, sebab kekuatan sejati bagi Rahiyang Wastu adalah kelembutan di tengah kesemestaan dengan penekanan sikap tidak memaksa melainkan menghimbau, berangkat dari kesadaran. Hidup ini maya dan kesementaraan layaknya buih dan gelembung air yang segera akan lenyap bersama kotoran lalu terendapkan ke dasar (layaknya lanau/peureu di dasar danau) sehingga menampilkan kebeningan yang hening di permukaan “bati peureu tinggal nu atis tina rasa”.

    Bahan penulisan:
    1.Ajaran Sunda Rahiyang Wastu Kencana.
    2.Situs / Prassati Kawali I, II, dan III

    aja kéné têrusanana

    Sampurasun,.

    cantrik Bayuaji.
    Anggårå Pon, 12 Oktober 2010M / 04 Dhul Qodah 1431H

    • Matur nuwun Ki Bayuaji, ……. ilmu yang diwedar untuk hari ini. Cantrik Truno yang fakir ini mohon pencerahan. Jadi Tuhan masyarakat Jawa dan Sunda Kuno itu siapa Ki? Apa sama dengan Tuhan Allah kita yang Maha Tunggal? Ataukah disamping Tuhan YME masih menyembah roh2 nenek moyang, atau benda2 seperti keris dsb?.

  5. Assalamu’alaikum, sugeng enjing poro kadang, cuaca cerah hari ini.
    Mari kita mulai rutinitas dengan…Bismillahirrohmanirrohim..

    • semalem MELEKan ni, kenapa dengan IBUNDA
      ni NoNa….??

      Hikss, ojo2 karena SAWERan ki PLS Ni NoNa
      susah TIDUR.

      • Mami aku kena stroke Ki YuPram, karena dah sepuh jadi dirawat dirumah saja…Alhamdulillah aku yg ketempatan, makanya kalau malam hampir 2 minggu ini aku melekan….
        untung ada ki Satpam and padepokan ini jadi bisa ikutan ronda aja, lumayan dapet tambahan hehehehehe

        • ..O..mesakake Ni Miss Nona..nderek prihatin buat Maminya ya….Semoga Lekas Sembuh !

        • ndherek dedonga kagem kasarasanipun keng Ibu njih Mrs. Nona …

        • Ikut berDOA dan berDOA semoga
          ibunda ni NoNa cepet sembuh,

          biasanya pada tahap peMULIHan
          dibutuhkan keSABARan dan…..
          keTELATENan dalam merawat Ni.

          selain TERAPI rutin, semangaat
          sembuh (salah satu OBAT manjur)

          Hayooo Bu,….tetep semangaaat
          dan semangaaat.

          • Makasih banyak atas do’anya yach
            Hikss, jadi terharu….

          • aku ora ngundang MISS NONA lho…tapi MRS. NONA ….

            mundhak ono sing duko…ihikss

          • Wes..ono sing ra wani
            xixixi

          • ono sing ra wani ngangkat…

          • opo ra kuat ngangkat..hikss

          • Ikutan hikss,
            tenanan ono sing ra wani lho…

          • nunut hikss,

            sapa sing ra WANI ni,
            ki Juragan KAH…ha3x

            mblayuu,

          • Sing ra wani …yo jelas sing mblayu thoo…xixixi

          • Ssst, pelan2 ki…sing
            dhuwe NESU.

            hiiikss,

  6. Waalaikumsallam miss nona.
    Mudah-mudahan cerah sampai sore.
    Dan mudan-mudahan dengan membaca “basmallah”, apa yang kita lakukan hari ini memiliki nilai ibadah.

  7. Sugeng enjing poro kadang sedoyo.
    Nyuwun pangapunten kolo wingi mboten saget sowan, nembe kenging diare lan muntah-muntah.
    Alhamdulillah sampun mantun.

  8. Selamat pagi,
    Antri p Satpam.

    • pagi ki Wiek,

      NuNut sampe gerbang DEPAN ki, mau ngopi
      susu ning padukuhan sebelah….hiksssss

      • Mbok kulo dibetakke ning mboten ngangge kopi.

        • mangke “GUMOH” lho ki….hiiiks

          • ayo sing iso nyowanke Nimas Padmi neng Pendopo kene, mengko dak suwunke bonus maring Pak Lik Satpam….

          • Lho..kan wedi Ki…mengko nek nangis piye jal ?…

          • ning Padepokan Pdls cuma
            ono 1 cantrik sing wani
            iTHik-iTHik ni KP….he3

            monggo2, ki Pandanalas

          • sopo kuwi ki Menggung koq kumowantun ngithik2 Nimas Padmi…(nopo dereng nate ketaman aji Gelap Ngamparipun Ken Padmi ?)

          • hikss, priyayine saka ST
            ki Pandan…elmu-ne heeem

            NgeGirISI tenan,

          • Iki ajian gelap ngampar opo ngompor2i

  9. Sugeng enjing….

    Lho… jebul wes buka gandok 32 tho??? lha wong rontal 31 kemawon dereng sempet disruput. Wes pirang ndino ora sowan padepokan tho yaaaa??? hmmmm

  10. nunut nusul antri

  11. Pak Lik Satpam….

    ki Ajar Sengkaling nopo taksih sibuk njih…meniko lho murid kinasih Panembahan Ismoyo nembe nanggap warso….

    *sak retiku, Panembahan Ismoyo mbabar serial Pelangi Singosari niki amargi pamundhute Nyimas Padmi lho….nek mboten percanten..monggo dipun tangkledake dumatheng Panembahan…..hikss

  12. Nggih Pak Lik
    Panjenenganipun taksih sibuk
    Biasanipun menawi enjing sambang padepokan, menawi wonten inkang penting langsung ngirim panah sendaren.
    Mulai kalau wau mboten wonten suanten panah sendaren.
    Dados nggih mangke dalu, tit…
    he he he ….

    • miturut panggraita kulo, ki Ajar mboten pirso nek salah satunggaling mentrik padepokan nembe ulang tahun…mbok di”bisiki” mawi aji pameling tho Pak Lik

      • pak SATPAM wedi-an,

        pake elmu-ne ki SENO ki…AsPiratif,
        AkoModaTif,….,….!!!

        teruske ki PLS, ben TiTs cepet metu

  13. sugeng dalu poro kadang,

    nenggo 4 jam wekdal tit kok kraos danguu
    mbok nyuwun banyu gege, Ki Satpam

  14. Postingan terhangat :

    On 12 Oktober 2010 at 15:59 yudha pramana said:

    Ssst, pelan2 ki…sing dhuwe NESU. hiiikss,#

    On 12 Oktober 2010 at 15:55 yudha pramana said:

    pak SATPAM wedi-an,
    pake elmu-ne ki SENO ki…AsPiratif,
    AkoModaTif,….,….!!!
    teruske ki PLS, ben TiTs cepet metu

    Pade kemane ye?

    • Lha ternyata ada yang lebih hangat ketimbang Tumenggung YP, yaitu Ki Truno Emprith.

      On 12 Oktober 2010 at 20:11 Truno Emprith said:

      sugeng dalu poro kadang,

      nenggo 4 jam wekdal tit kok kraos danguu
      mbok nyuwun banyu gege, Ki Satpam

      • lho..lho
        kok dijejer2ke
        asmane sesepuh kok ditempeli bolodhupak koyo kulo niki pripun ki,
        nek aku kesiku lak kudu diruwat rontal 7 babagan

  15. Inalillahi wainailillahi raji’un,
    Perampokan terjadi lagi di Bekasi. Satu di rumah warga biasa dengan menggondol 2,5 juta dan laptop. Satu lagi di warnet, …… dengan mencuri 2 motor dan sempat menembakkan senjata yang memecahkan jendela.
    Lha kok yang jadi sasaran masyarakat kecil ya?

  16. Nuwun, Sampurasun

    @ Ki Truno Podang, dalah pårå sanak kadang padepokan pelangisingosari ingkang dahat kinurmatan.

    Matur nuwun, atas pertanyaan Ki Truno Podang [On 12 Oktober 2010 at 10:40 Truno Podang said:]:

    Ki Truno menyatakan diri beliau sendiri sebagai seorang “yang fakir”.
    Saya fikir pernyataan Ki Truno tentang “kefakirannya”, sangatlah berlebihan, karena saya yakin Ki Truno bukanlah seorang yang fakir, dan setiap orang pasti memiliki kelebihan-kelebihan tertentu yang tidak dipunyai oleh orang lain. Ki Truno pasti lebih mumpuni dibanding cantrik Bayuaji. Setuju ? Ya.

    Inti pertanyaan Ki Truno adalah: Jadi Tuhan masyarakat Jawa dan Sunda Kuno itu siapa Ki? Apa sama dengan Tuhan Allah kita yang Maha Tunggal? Ataukah disamping Tuhan YME masih menyembah roh2 nenek moyang, atau benda2 seperti keris dsb?.

    Sebenarnya jawaban pertanyaan Ki Truno sudah ada pada “rontal” yang telah saya wedar, khususnya tentang pemahaman Wong Jåwå terhadap Tuhan. (Sekedar mengingatkan kembali, pada HLHLP-022 [On 25 September 2010 at 06:16 bayuaji said:] “Pemahaman Tuhan”). Sedangkan hubungan Urang Sunda dengan Tuhannya, rencananya Insya Allah akan dwedarkan kemudian, tetapi sehubungan dengan adanya pertanyaan Ki Truno, maka saya beri bocorannya sedikit saja.

    Tanah Jawa dengan demikian Tatar Sunda termasuk di dalamnya, sudah sejak lama berkembang suatu ajaran yang murni berasal dari Tanah Jawa sendiri, ajaran yang mengajarkan arti kehidupan, hakekat hidup, dan keselarasan dan kesimbangan alam, disebut “ajaran budi”. Ajaran budi ini menjunjung tinggi tata-krama, kesusilaan, jujur, sabar, rendah-hati, lan budi pekerti luhur, Isi pokok Filosoafi Jawa “ajaran budi” mencakup pokok-pokok bahasan: ketuhanan, keutamaan batin, laku budi, kekerabatan, dan keduniawian.

    Tuhan menurut pemahaman Wong Jåwå adalah “Sangkan Paraning Dumadi”, maka Tuhan adalah Sang Sangkan Dumadi sekaligus Sang Paran Dumadi, karena itu juga disebut “Sang Hyang Sangkan Paran”. Ia hanya satu, tanpa kembaran, dalam bahasa Jawa dikatakan “Pângéran iku mung sajugå, tan kinêmbari” (Tuhan itu Esa, tidak ada satupun yang menyamaiNya). Wong Jåwå biasa menyebut “Pângèran” yang berarti raja. Masyarakat tradisional Jawa sering mengartikan “Pângèran” dengan kiråtå båså. Pângèran berasal dari kata “pangèngèran”, mempunyai makna “tempat bernaung atau berlindung”.

    Sedang wujudNya tak tergambarkan, karena akal pikiran manusia tak mampu mencapaiNya dan kata-kata tak dapat menerangkanNya. Mendefinisikan pun tidak mungkin, sebab kata-kata hanyalah produk akal pikiran manusia sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kebenaranNya. Karena itu Wong Jåwå menyebutnya “tan kênå kinåyå ngåpå” (tak dapat disepertikan).

    Terhadap Tuhan, manusia (Jawa) hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranNya. Karena itu kepadaNya diberikan banyak sebutan misalnya: Gusti Kang Akaryå Jagad (Tuhan Sang Maha Pencipta Alam Semesta), Gusti Kang Agawé Urip (Tuhan Sang Maha Pembuat Kehidupan), Gusti Kang Murbèng Dumadi (Tuhan Yang Maha Penentu Kejadian), Gusti Kang Måhå Wikan (Tuhan Yang Maha Mengetahui); Gusti Kang Måhå Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain.

    Pângéran iku siji, anglimputi ing ngêndi papan, Pângéran kang akaryå jagad, langit, bumi lan saisiné, sêsêmbahané pårå manungså.

    [Tuhan itu tunggal, meliputi seluruhnya, yang menciptakan alam semesta, langit, bumi seisinya, yang disembah seluruh manusia].

    Pângéran iku adoh tanpå wangênan, cêdhak tanpå sénggolan.

    [Tuhan itu berada jauh namun tiada jarak, dekat tetapi tidak bersentuhan].

    Pângéran iku langgêng, tan kênå kinåyå ngåpå, sangkan paraning dumadi.

    [Tuhan itu kekal abadi, tidak dapat diperumpamakan, asal dan tujuan kehidupan].

    Pângéran iku mawujud, nanging wêwujudan iku dudu Pângéran.

    [Tuhan itu Wujud namun “perwujudannya” bukan Tuhan].

    Sirå åjå pådhå manêmbah marang kang dudu mêsthine sinêmbah, åjå pådhå mangéran marang kang dudu mêsthine pinangéran. Sing såpå manêmbah marang kang dudu mêsthine sinêmbah, iku klèru, jalaran kang sinêmbah iku ugå titah kåyå manungså, kang ora kêduga pawèh kanugrahan lan paukuman. kåyå déné Pângéranirå.

    [Janganlah menyembah kepada yang tidak semestinya disembah, janganlah bertuhan kepada siapapun yang bukan Tuhan. Siapa yang menyembah kepada yang seharusnya tidak patut disembah, itu tindakan keliru, sebab yang disembah itu, adalah makhluk juga seperti manusia, yang tidak dapat memberikan anugrah dan hukuman, seperti halnya Tuhan].

    Sejak pra-agama-agama “modern”, Urang Sunda pun telah percaya akan adanya Tuhan dan percaya bahwa Tuhan itu Esa. Tuhan itu Tunggal. Urang Sunda menemukan Hiyang (atau Hyang) sebagai Tuhan mereka. Hyang itu adalah Dzat Yang Gaib yang menciptakan, menguasai, dan menentukan kehidupan manusia dan kehidupan alam pada umumnya. Dia berada di luar alam kehidupan manusia. Tuhan Maha Mengetahui, mengetahui apa yang diperbuat mahlukNya, karena itu manusia wajib berbakti dan mengabdi kepada Tuhan

    Sebagaimana pada ajaran Budhi. Sifat-sifat Tuhan atau Hiyang tercermin dalam julukanNya, antara lain Hiyang Batara Seda Niskala (Yang Maha Gaib), Hiyang Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Sanghiyang Keresa (Yang Maha Kuasa), Sang Hiyang Batara Jagat (Yang Menguasai Alam Semesta).
    Sang Hyang Tunggal, Sang Guriang Tunggal, disebut juga Nu Murbéng Alam (Yang Menguasai Alam), Nu Mahawisésa (Yang Mahakuasa), Nu Mahaasih (Maha Pengasih), Gusti Yang Widi (Yang Maha Menentukan), Nu Mahasuci (Yang Maha Suci), Tuhan menghidupi mahlukNya. Hyang Batara Upati (Yang Mencipta, Yang Menguasai Kehidupan), dan mematikannya pada waktunya. Hyang Batara Utpati (Yang Menguasai Kematian).

    Tuhan adalah asal muasal kehidupan, dan tujuan kehidupan. Mulih kajati mulang kaasal (semuanya berasal dari Nu Mahawisesa, Nu Maha Murbeng Alam, semua makhluk akan kembali keasalnya). Samakan dengan ajaran Budhi: Sang Sangkan Paraning Dumadi.

    Urang Sunda meyakini bahwa dihin pinasti anyar pinanggih (semua kejadian ada yang menentukan. Gusti Hyang Widi yang selalu menjaga hukum-hukumNya).

    Menurut kepercayaan purba masyarakat Jawa dan Sunda, alam adikodrati atau alam roh dihuni arwah lêluhur, sing mbau rêkså, danyang lan lêlêmbut. Penghuni alam roh ini masih bisa berinteraksi dengan manusia. Hubungan bisa berakibat gangguan, tetapi juga bisa berupa pertolongan. Karena itu manusia melakukan upacara selamatan, upacara penghormatan terhadap arwah (ritual magis) demi keselamatan dan terkabulnya keinginan.
    Penghormatan (bukan menyembah) terhadap arwah para leluhur, nenek moyang, yang telah meninggal biasanya dilakukan di punden berundak, candi, menhir, dan lainnya. Tradisi ini, kalau sekarang dapat diperrsamakan sebagai tradisi ziarah kubur.

    Kesadaran bahwa mereka hidup dan bermukim ditopang oleh alam lingkungannya, baik berupa batu, kayu, tanah, air, gunung, hutan, dan bermacam bahan pangan khususnya padi sebagai bahan pokok menimbulkan kesadaran akan perlunya berterima kasih dan penghormatan terhadap alam dan lingkungannya. Hal itu diwujudkan dalam bentuk tata cara adat budaya sehingga untuk memanfaatkan apa pun yang dari alam, terlebih dahulu harus dilakukan upacara adat. Misalnya pada waktu panen, menebang pohon, bongkar batu, bangun rumah dan sebagainya, serta untuk menjaga daerah yang sensitif dikenal daerah terlarang (ora ilok/pamali), begitu pula pepatah-pepatah yang sarat dengan pesan bagaimana memperlakukan alam. Di ranah upacara adat inilah sering yang nampak ke permukaan digunakan beraneka macam simbol, seperti keris, dan sebagainya.

    Perilaku adat budaya tersebut di ataslah yang barangkali melahirkan vonis atau sengaja didiskreditkan sebagai animisme dan dinamisme. Padahal, ini jusrtu sesungguhnya merupakan bentuk perwujudan keluhuran budi pekerti leluhur kita, yang seharusnya dilestarikan. Kalau demikian, apakah mungkin leluhur kita tidak mengenal Tuhannya? Tuhan Yang Maha Tunggal.

    Kesimpulan:

    1. Tuhannya Wong Jåwå dan Urang Sunda adalah Tuhan Yang Maha Tunggal, yang memiliki banyak sebutan atau julukan, sesuai dengan PeranNya, dan Sifat-sifatNya.

    2. Upacara adat yang berkenaan dengan arwah leluhur, menunjukkan adanya kesadaran akan perlunya berterima kasih dan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan lingkungannya, dan bukan penyembahan.

    Demikian Ki, mudah-mudahan jawaban ini dapat memberikan kejelasan, Lebih kurangnya mohon maaf.

    Nuwun, Sampurasun

    cantrik Bayuaji

    • Alhamdulillaah maturnuwun atas pencerahannya Ki Bayu. Walaupun saya harus memahaminya melalui pemahaman spiritual ya Ki!

  17. Assalamu’alaikum, selamat malam..
    Lho kog sepi neh..
    Pada kemana ya
    Jadi ndak enak nich lek2an dewekan..
    Mulih ach…

    • Wa’alaikumsalam wr wb, Ni Nona.
      Iya neh gak tau pada ndungslep ke mana. Yang ada cuma Ki Truno Emprith sama Ki Arkeolog Bayuaji.
      Yang biasa nemenin begadang selain Bang Oma Irama biasanya Ki Bayu dan Ki Widura. Kalo ki Truno mah jangankan di rumah, …… sedang mengendali kuda di jalan aja bisa tertidur kalo sudah lewat jam 11 malam. Pernah tuh di jalan tol tertidur, untung lagi macet. Begitu melek, ……… mobil di depan udah jauuuuh.

  18. Eh ternyata ada Ki Trupod n Ki Bayuaji, selamat malam Ki, apa khabar?

  19. Haduh mripatu wis sepet iki tp sing ditubggoni ra gelum turu..

    • disambi ngaji miss, ati tentrem biasane njur ngliyep.

  20. nderek nampi wulangwurukipun Ki Bayuaji, maturnuwun ki.

    Sekedhik ndongeng pengalaman kulo piyambak naliko jaman alit – smp, naliko bapak dereng ngagemi agami Islam, ananging taksih islam kejawen, ateges islam namung nempel ktp lan surah2 Alqur’an namung dados sesebutan naliko gendurenan.
    Ing wekdal niku, ingkang tansah dados paweling lan nasehat bapak dateng anak2ipun : “le, dadi wong urip kuwi kudu jujur ojo duwe sifat iri lan srei”

  21. Kok Durung wedar tha?
    Moga-moga nGGer Satpam NGLILIR
    dan langsung ngunggah rontal-032

    • yang gue liat bukan ngelilir, tapi ngilerrrr
      (langsung cau, takut dipentung)

  22. Sampurna rasane ingsun,
    Sugeng enjang saudara saderek sadayana,
    Puji syukur tu panjatken Gusti Pangeran, lewat eyang Bayuaji,mata hati kita terasa dibukakan,mata gue yang udeh 5 wat seger lagi, nyaris lupa sama rontal 32 (nyaris lupa, tapi belon lupa sama janji bonus dari Paklek Satpam).

    Ternyata kehidupan jawen/tauhid sudah subur jauh sebelum kedatangan agama-agama yang datang kemudian di nusa jawa ini.
    Alangkah indahnya, seandainya akar budaya yang berlandaskan keserasian, keselarasan serta kebahagiaan yang bersumber dari ketentraman bathin ini dimiliki dan menjadi kekayaan jiwani dari manusia-manusia purba nusa jawa ini.
    Kenyataan pahit, bahwa pohon tauhid yang pernah subur itu telah berganti dengan pohon cangkokan mac donald, masyarakat kita umumnya akan bahagia bila punya rumah gedong, mobil mewah, anak lulus jadi tukang insinyur, atau anaknya bisa jadi Mantri, ditambah dengan segala atribut kehidupan yang super konsumtip.Sementara tuhan ada bagi mereka cuma disaat hari raya, disaat hari jumaat.
    Sampurasun, maaf kebanyakan komentar, mugi-mugi kita menjadi dan termasuk insan yang sedikit. AMIN.
    KAMSIA EYANG BAYUAJI,

    Cantrik Kompor (ehem)

  23. Assalamualaikum Cantrik djojosm mencoba menyapa para sederek lewat aji netnetan. Selamat pagi para bebahu, ki Arema kados pundi putra njenengan sampun dangan saking DBDnipun? pak Satpam kados pundi kondisi padepokan aman sentosa kerta raharja?Wilayah Tambun taksih sepi saking kegiatan, paling jam 6-an lare sekolah rame tindak teng sekolahan.

    Waalaikumsalam wr.wb.
    Alhamdulillah Ki Djojos.
    Anak saya sudah pulang ke rumah, kondisinya sudah semakin baik tinggal menunggu pemulihan kesehatan.
    Terimakasih atas perhatian dan do’anya.
    Pak Satpam kelihatan di monitor sedang wedar rontal 32, monggo ki bisa dipakai teman di net-netan.

  24. sugeng enjang poro sesepuh lan poro kadang

    monggo kito kawitani dinten niki kanti renaning penggalih.
    (rung sempet ngubek2 papane rontal, wis nyanthol rung ya)

    • Wheladalah, ……. jebulnya dikempit Ni Nona sejak pkl 22.50 semalam.
      Sugeng Enjang poro kadang, …… mugi rahayu ingkang tansah pinanggih!

  25. “….awalnya sih menunggu yang katanya ulang tahun hadir di padepokan, mau dititipi rontal. …”

    amargi mboten maringi bonus, mangkane engkang ulang tahun mboten kerso pinarak Pak Lik…lah wong sowan mboten sowan wedare nunggu TITS….

    hikss…nyuwun sewu, koq dadi kelawik ngresponi udorosone Pak Lik Satpam….

    • walah….
      sing enom ngalah wae wis, kalah enom kalah ngelmu kalah pengalaman.
      he he …
      sungeng enjing pak lik

    • Tapi jaman sekarang jamannya kebo nusu gudel. Saya ingat dulu waktu pertama beli komputer untuk di rumah. Anak2ku yang 2 orang kala itu masih SD. Mereka langsung gemar berkutak-katik dengan komputer, setelah saya ajarin program exel dan word. Akibatnya, …… bolak-balik manggil nanya ini dan itu, ……….. capeee deh!. Lha kok sekarang mereka lebih pande dari Bapaknya, …….. jauuuuuh. Sekarang gantian Bapaknya yang tanya ini dan itu, ……….. he he he.

      • Ki Truno Sugeng siang..kalo kebo nyusu gudel nanti gudel nyusu siapa….apa blantiknya ?..xixixi

  26. Aduuh, pak satpam.. saya kok dicekal to? ID-cardku wis bureng apa ya? Apa dataku wis dicoret dari daftar cantrik-mentrik? Apa Pak Satpam nesu, sedina ngenteni aku nganti ditonton tivi?

    • Ha ha ha …
      Pak Satpam pura-pura tidak tahu, padahal tahu.
      Tahu kalau Ni/Nyi Ken Padmi yang hadir, tetapi “lha wong” nulisnya Ken Pami ya pura-pura saja tidak kenal.
      he he he ..
      monggo…

      • Waduh, ngapunten P Satpam…tiwas wis protes keras. Nganti meh lapor komnas ham. Untung durung sida..

      • iki sing nggarahi aku seneng Padmi…

        Pede abis…agak narsis..kinyis2…

    • Lagi nyamar apa Bu Guru Pami?

      • Nyamar Nyai Truni.

      • Bu….ada KADO buat IBU, 4 buntelan
        titipan konco2 Cantrik.
        cilik BUNTELane…isine GEDhe kok Bu

        selamat Ultah,

      • Selamat ULTAH juga Bu Guru, …… semog panjang umur dan banyak rezekinya! Ambal warso ingkang kaping pinten Bu Guru?

        • 21

        • Lho ternyata masih remaja yah?

          • tapi ngendikane mpun mboten semuda dulu….

          • SULIT arep nyeDhAki…hiks

  27. Sampun ngunduh nGGer Satpam ….
    Matur nuwun Miss Nona,
    begitu dapat gembolan dari nGGer Satpam langsung bilang: Mulih ach…

    • Kok digembol nang sarung. Kuwe gole cincing aja duwur2, mengko manuk podange mabur!

      • sing kagungan Podang khan Panjenengan ki…

        • KEMBARane ki….duwek-e ki TP
          luwih GEDE,

          hiksss, ra pareng lho duko ki

          • ssttt….sing kembar dudu podange…tapi prototype-nya

            ihiksss

          • Sing kagungan Cucakrowo sinten nggih?

          • sing kagungan cucakrowo : ki Menggung Cucak Yudha

          • CuCak-e wes tak tukar tonggo dukuhan sebelah ki,

            cuma NyImpeN,.. “BEluT”

        • Untung gak ada Ki Kartoyudo. Komentare mesti lewih heboh ketimbang Ki Pandan lan Ki Menggung.

          • Alhamdulillah…berarti kulo luwih alim

          • Alim yang ketahuan, yang ndak ketahuan ?…
            Xixixi

          • sing ga ketahuan kuwi tregandeng respondene…

          • apaan tuch artinya….?

          • adanya tregandeng…khan ga ada tregantung

          • Yak opo rek …. esuk-esuk wis podo Nuk Manuk-an

            Opo goro rebutan rontal dari kempitan miss-nona ..

          • tregmundur,

            sing dhuwe treg ra WANI
            munggah meneh….xixixi

  28. Assalamu’alaikum, selamat siang..
    wah baru kali ini aku dititipin rontal…
    Makasih P.Satpam, wah ndak sia2 lek2an jadi beneran dapet tambahan neh…

    • lek-lekane mulai saiki wae…ben ndang dititipi…

      • xixixi, jurus mbelinge keluar

      • arep NguNduh….sing diGandholi
        rontal isih “lek2-an”

        sungKAn,

        • Lek2-an bukannya kalau malam aja Ki YuPram?
          Kalau siang apa dong…?

          • dur-duran yake.
            tidur mulai pagi sampai sore

          • Ich, P.Satpam ngasih komen…
            kayaknya sekarang kalau malam P.Satpam dur duran yake yo

          • he he …
            balas dendam, kalau malem lek-lekan, kalau siang dur-duran

          • Ngapunten Ki Arema
            Pak Satpam kumowantun ngagem asma pelangisingosari.
            (ben gak di jewer)

  29. nginguk gandhok langsung ngundhuh.
    matur nuwun ki.

  30. kawit esuk gak nginguk gandhok babar blas
    jebul rame men

    sugeng siang poro dulur

  31. ki SENO mampir Padepokan….HoRe3x

    monggo ki,…diKOMANDO, gandok-e mpun
    KEbaK komen Cantrik.
    wektuNE pak SATPAM mbuKA gendhaK ANyaR

    cantrik PAGI-siang-SORE… meMOHON restu

  32. Kakang Gembleh suwe ora katon…

    • Weh sing ulang tahun muncul…Ki Gembleh taksih dolanan lendut Jeng…jajannya mana ?….

    • hikss…ditakokno koq yo sing ora ono tho nduk…

  33. Matur nuwun P. Satpam,
    sampun ngunduh senadyan telat.
    Sugeng sonten.

  34. Sugeng sonten.

    Matur nuwun sanget, katur dumateng jeng NN ingkang sampun kersa nggembol rontal 32

  35. TIT


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: