HLHLP-046

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 9 November 2010 at 00:01  Comments (51)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-046/trackback/

RSS feed for comments on this post.

51 KomentarTinggalkan komentar

  1. ghghghjghj

    • sori Ki Wid….hari ini gue ngetrek didepan…serrrrrrrr

      • serrrrrrrr…lajune pooowALLL tenannnnn

        • Apa artinya antri nomer satu? Kalau wedang sereh dan singkong goreng tidak ada?

          Kecuali mau bawa dewe-dewe dari rumah …

  2. Waktu tidur dengan perut NGELIH …. Tiba-tiba aku bermimpi …
    Panembahan Ismoyo yang meninggalkan Karang Tumaritis sekian lama dan kembali ke Padepokan, ternyata belum bisa menyapa, apalagi membagikan ilmu kepada mereka, cantrik, mentrik dan putut padepokan.
    Dalam mimpi itu …. Aku melihat bayang-2 entah itu semu atau beneran …. Ki Truno Prenjak, Ki Dino (Adimas Saifudin) dan Nyi Kangsuzi berunding dengan Panembahan Ismoyo.
    Rupanya sedang mendiskusikan apakah mereka boleh menyumbangkan ilmu kanuragan, HLHLP-43 sampai 045, seandainya pusaka Panembahan Ismoyo Kiai Ageng Scanner belum bisa dikeluarkan.
    Hadu …… Sebelum hasil diskusi itu ketahuan …. Eeee aku sudah bangun tidur ……
    Hadu …. Aku nyueseeeeeel puoollll.
    Berapa lama lagi Rondha tanpa Rondhe?

  3. marak seba ndek paseban nunggu babare lakon ngulandoro panjenenganipun kanjeng senopati Ki Ismoyo

    • Apa ngulandoro kuwe artine nglindur?

      • yen mboten klintu nganglang ki

  4. Apa artinya sebuah rontal dibanding 3 gandhok yg kosong, krn kosong sebenarnya isi…isi sebenqarnya kosong…setengah isi adalah kosong

  5. Alhamdulillah masih bisa sambang padepokan.
    Dan tanpa terasa sudah sampai gandok 46.
    Semoga semua lancar, dan urusan Ki Ismoyo betul-betul diberi kemudahan. Amin.
    Doa ini tulus lho bukan sekedar lamis untuk segera bisa ngunduh. He.. he.

  6. Satpam-e Padepokan ora wani metu …
    Wedi yen ditagih utang…
    Padahal semua cantrik ngerteni …
    Saben dino mung njaluk cadong …

    nGGer ora perlu isin metu ….
    Sing rajin sambang karo ngogrok-ogrok iku sak jane mung seneng guyon …
    Dadi aja dilebokne ati ….

    Sang sabar lan manteb …
    Yen ana sing diwedar …. ya diwedar …
    Yen ora ana ya … di-ana-ne ….
    Hiks ….

  7. kulonuwun

    tak plinteng jebul isih ttep gambar gunungan
    untung dudu gunung merapi

    sugeng makaryo poro kadang

  8. Menunggu wedaran dari Ki Puna aja deh!

  9. Hore…..
    Menurut info dari Ki Arema, Ki Ismoyo sudah “rawuh”…..
    Tapi…., scannernya sedang sakit sehingga harus dibawa ke poliklinik. Mudah-mudahan tidak harus rawat inap.
    Sudah ada harapan, meskipun masih harus bersabar lagi.

    • Kanjeng Kyai Scanner iku sak jane ora gampang lara ..
      Sing ringkih iku Raden Panji Microsoft …
      Ki Is …. tak mampir ke tempat nJenengan .. tak gawakno obat ….

  10. Saya jadi rindu dan kangen berat sama rekan cantrik mentrik di sini…😀

    Kok ya bacanya agak ribet … baru sampai PDLS jilid 23…rasanya lamaaaaaaaa sekali buat mengejar ke HLHLP …seandainya ada yg mau bantu bacain setiap pengen bobok… hiks..

    • Teng pundi nggih Ki Pandanalas kok dereng ketingal.

      • Halah..@irso wae klangenanku…

    • Seandainya……
      aku bisa mbantuin, hiiks.

  11. Laporan santri-santri dari Tlatah Merapi

    Pada pukul 12.20 siang hari ini punakawan menerima laporan dari para santri Puri Batutulis yang ditugaskan ke wilayah pengungsian korban Merapi.
    Semuanya berjalan sesuai dengan rencana,namun sangat disayangkan, para santri belum dapat berbuat banyak untuk menolong para korban. Dengan tekad baja dan kemauan tinggi untuk menolong sesama, ternyata belum cukup, dalam keterbatasan “amunisi”, para santri tetap berupaya. Apa saja yang dapat diperbuat untuk menolong, menolong dan menolong, di sini tidak ada sekat-sekat, yang membeda-bedakan satu dengan lainnya, semua saiyêg saêko pråyå bahu-membahu dengan para relawan lainnya. Mereka berharap apa saja yang dapat dimanfaatkan (baju, makanan, air minum, obat-obatan, selimut, dsbnya) semuanya sangat dibutuhkan.

    Alhamdulillah, hanya karena ijinMu ya Allah. Tangan-tangan hambaMu ini masih dapat berbuat kebajikan.

    • Sarujuk kaliyan Ki Punakawan,

      kolo kulo wonten camp pengungsian ugi namung udu tenogo, tumut-tumut ngoyag-hoyag tendo supados pasir + debu mboten ngebot-boti tendo, ing wekdal sanes tumut usung-usung mindah barang-barangipun poro pengungsi minggir nyumingkiri papan ngisor kajeng

  12. Sugeng siang….

    Ternyata gandok anyar bener2 dibukak pak Satpam tho….
    nderek jagongan ah..

  13. Nuwun, sugêng siyang pårå kadang sutrésnå padêpokan pêlangisingosari ingkang dahat kinurmatan ing palênggahan puniki. Suryå sampun gumléwang ing bang kilén, nuju wanci sontên

    MATAH ATI
    Radén Ayu Kusumå Matah Ati

    Bagian Kedua (Tamat) [Seri Sejarah Nusantara]

    Bagian Pertama dapat dilihat di : [On 4 November 2010 at 23:19 punakawan bayuaji said: HLHLP-044]

    ……

    Adalah juga orang Jawa yang menempatkan peran wanita dalam formulasi “3 ah”, sesuai dengan sebutan traditional gender-based ideology yakni ‘néng omah, olah-olah, mlumah ngablah-ablah’, (di rumah, memasak, {maaf} menelentang seseksi mungkin); dan “2 ak, yaitu ‘macak lan manak’, berdandan secantik mungkin dan melahirkan anak.
    Maksudnya, supaya sinuwun sang suami menjadi sangat berkenan di hati. Posisi wanita dalam persepsi Jawa cuma bergerak antara dua kutub: budak lan klangênan (barang, supaya tidak bilang hewan, piaraan).

    Di dunia wayang, tiap wanita muncul disambut dengan suluk ki dalang: Wanodyå ayu tåmå ngambar arum. Ngambar aruming kusumå, (wanita cantik memancarkan harum bunga). Bunga apa, tidak penting.

    Lalu dicåndrå oleh Ki dalang……….
    Pipiné ndurén sajuring = pipinya bak pauh dilayang.
    Jangguté nyangkal putung = dagunya bak lebah bergantung.
    Bangkèkané nawon kêmit = pinggangnya indah bak gitar gitar,
    Idêpé tumêngging tawang = alisnya bak semut beriring.
    Untuné miji timun = giginya bak biji ketimun.
    Drijiné mucuk êri = jari jemarinya lentik.
    Nétrané ndamar kanginan = matanya bersinar-sinar.
    Èsêmé pahit madu = senyumnya semanis madu.
    Rambuté ngêmbang bakung = rambutnya megar mengembang.

    Dalam peribahasa Melayu pun sering kita dengar:

    • Pipinya bak pauh [mangga] dilayang. (pauh adalah buah kuini, dilayang= dipotong memanjang dengan rapi);
    • Bibirnya bak delima merekah;
    • Dagunya bak lebah bergantung;
    • Alisnya bak semut beriring;
    • Rambutnya bak mayang [bunga kelapa] terurai;
    • Giginya bak biji mentimun;
    • Kulitnya halus bak pualam;
    • Tutur katanya semanis madu;
    • Suaranya merdu bak buluh perinduh;
    • Matanya bak bintang timur;
    • Kukunya bak kiliran taji,
    • Hidungnya bak dasun tunggal (dasun tunggal= bawang putih tunggal),

    Semua dilukiskan dari segi lahiriah semata, dan melihat seorang wanodyå (perempuan) cuma dari sudut pandang kecantikan lahiriahnya saja, sungguh bisa bikin merah muka dan bertanya-tanya, wanita hanya ditempatkan sebagai hiasan, wanita dipajang di etalase, hanya dihargai sebatas “barang dagangan”.

    Dalam ketoprak dan wayang pun, juga memberikan gambaran bahwa wanita yang mencoba mendekati pria karena jatuh cinta disebut ngunggah-unggahi atau suwitå, artinya mengabdi. Dan, kelak, bila sang pria tak lagi berkenan, wanita rela ditundhung diusir jauh-jauh.

    Gagasan wanitå atêgês wani ditåtå, dan konsep ngunggah-unggahi atau suwitå dan ejekan awan dadi théklèk, bênginé ganti dadi lémék jelas menggambarkan adanya ideologi penindasan pria atas wanita.

    Bahkan sampai saat ini anggapan tradisional tentang superioritas pria atas wanita belum tertumbangkan. Benar, wanita “dimahkotai” aneka sebutan: tiang masyarakat, surga di bawah telapak kaki ibu, atau dilambangkan sebagai bunga, dan ‘diluhurkan’ sebagai ratu. Gadis paling cantik di desa disebut kembang desa. Dan di kota-kota gadis cantik di kampus disebut kembang kampus. Media pertelevisian memberikan wadah, ada gadis cantik, gadis luwes, gadis tangkas, diberi gelar dengan sebutan aneka julukan: putri pariwisata, miss universe, ratu kecantikan sejagad, dan sebagainya.

    ………………
    Ada yang berkenan membahasnya??? —Apakah perempuan hanya sampai pada apa yang digambarkan dalam Sêrat Panitisastrå, atau yang disulukkan ki dalang, dengan sebutan-sebutan indah seperti dalam dalam peribahasa, atau cukup dengan menyandang berbagai macam gelar ratu-ratuan?—
    —Saya mengundang Ni Ken Padmi, Miss nonA, Jeng Pitaloka, Nyi Tatiek, Ni Sri Utami, pårå éndhang, pårå tapi padépokan pêlangisingosari, atau siapa saja, mungkin pårå cantrik, putut manguyu, ajar, : Ki Ismoyo, Ki Arema, Ki Widura, Ki Gembleh, Ki Pandanalas, Ki Truno Podang, Ki Sabrang Lor, Ki Kompor, Ki Panji S, Ki Honggopati, Ki Budi Prasodjo atau yang lainnya, månggå Ki/Nyi/Ni. —
    ………………

    Kalau dipikir-pikir, perlakuan istimewa bagi anak wanita dalam keluarga — misalnya anak wanita harus dijaga baik-baik — ternyata diam-diam mengandung “muatan” kepentingan seks buat laki-laki. Artinya, kalau ke mana saja anak dijaga, diharapkan tetap “murni” dan itu nantinya biar menyenangkan laki-laki (suaminya).

    Pembakuan itu cenderung ideologis karena muncul dalam konstruksi sosial yang kerap memarginalkan perempuan. Inferioritas kerap jadi momok bagi perempuan karena dioperasionalkan melalui mekanisme sosial, kultural, dan kekuasaan. Sambungan keapesan perempuan terus mendapati fragmen-fragmen tragis.

    Babad Tanah Jawi pun eksplisit melanggengkan nasib apes perempuan. Salah satu fragmen dari Babad Tanah Jawi: 08 Perangan Kang Kapisan Bab 8:

    Wong yèn mati jisimé diobong, yèn sing mati iku bångså luhur utåwå wong sugih bojo bojone (råndhå-randhané) pådhå mèlu diobong.
    Bila seorang suami meninggal dunia, maka sang istri (tepatnya jandanya) pun harus ikut pati obong.

    ###

    Babad Tutur, Babad yang ditulis akhir abad XVIII ketika masa kekuasaan Mangkunêgårå I hadir dengan wacana berbeda untuk memerkarakan perempuan, penulisnya jelas bukan Mangkunêgårå I sendiri. Hal itu bisa terlihat dari pembuka catatan sebelum masuk ke pupuh 1 dalam bentuk Mijil.

    Dalam pembuka tulisan tertera kalimat:
    Sêrat lajêng kang sêkar pamijil, papanipun séhos, nurut cêritå caritå sêhos papané, saking panjang caritå tinulis, maksih
    Carik Èstrikang nyêrat nunuruh.

    Kalimat ini menjelaskan bahwa penulis biografi itu seorang juru tulis perempuan. Syahdan, memang terdapat juru tulis perempuan yang mengikuti terus perjalanan Pangéran Sambêr Nyåwå.

    Babad Tutur adalah catatan harian, merupakan sumber untuk mengetahui riwayat Radén Mas Said, Pangéran Sambêr Nyåwå, kelak Mangkunêgårå I (yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryå Mangkunêgårå I, beliau lahir di Kratron Kartasura, 07 April 1725, wafat di Surakarta 28 Desember 1795 pada usia 70 tahun, pendiri Pråjå Mangkunêgaran, sebuah kadipaten agung di wilayah Jawa Tengah bagian timur, dan juga Pahlawan Nasional).

    Sosok Mangkunêgårå yang misterius, tidak pernah digambar sehingga tak ada lukisan yang merekam sosoknya. Bila memasuki ndalêm Mangkunêgaran, pengunjung bisa melihat foto-foto silsilah raja-raja Mangkunêgårå. Di posisi paling atas sendiri, yakni posisi Mangkunêgårå I, tidak ada gambarnya, dan digantikan dengan lambang kerajaan.

    Menurut tradisi di kalangan trah Mangkunêgaran, Mangkunêgårå I memang tidak boleh dibuatkan gambar karena pengaruh dari mertuanya, Kiai Hasan Noer Iman atau Ki Ageng Noer Iman yang mempunyai keyakinan kuat bahwa pembuatan gambar itu haram. Berdasarkan cerita lisan, sosok Mangkunêgårå I, dilukiskan. “Dia memiliki perawakan gagah, tubuhnya tidak terlalu tinggi. Wajahnya tampan tetapi pipinya agak sedikit bopeng karena bekas terkena cacar.”

    Yåsådipurå, pujangga Keraton Solo, pernah mendeskripsikan sosok Mangkunêgårå I. Menurut dia, tubuh Mangkunêgårå I kecil, tak ubahnya anak-anak, tapi sorotnya tajam memancarkan semangat menyala-menyala. Melihat potongan tubuhnya, Nicolas Hartingh, penguasa Belanda, kaget. Sebagaimana digambarkan Yåsådipurå, Nicolas menyaksikan bahwa pemberontak yang selama ini merepotkannya ternyata perawakannya kecil, pendek.

    Sangat disayangkan perpustakaan keraton Mangkunêgaran tidak memiliki naskah yang asli. Naskah asli tersimpan di perpustakaan Leiden KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde Oriental) dengan nomor penyimpanan 231, dengan judul Dagboek van KGPAA Mangkoenegoro I. Naskah asli yang berada di negeri Belanda itu diberikan sebagai hadiah kepada Belanda, di era Mangkunêgårå VII pada 1930.

    Karena jasa salah satu cucu Mangkunêgårå VII catatan harian itu bisa didatangkan kembali ke Solo. Berdasarkan keterangan dalam kotak kardus pembungkus, buku harian Mangkunêgårå I itu pulang pada Desember 1991. Bungkus berwarna cokelat itu juga menjelaskan bahwa babad tersebut ditranskrip pertama kali ke dalam huruf latin oleh ahli sastra Jawa Dr Th.G.Th. Pigeaud atas perintah Mangkunêgårå VII pada Desember 1929. Kondisi naskah mulanya tidak terjilid rapi. Pigeaud kemudian yang mengurutkan dan membuatkan halaman naskah. Judul terjemahan latin Pigeaud adalah Sêrat Babad Nitik Mangkunêgårå I.

    Kini, atas bantuan Bank Dunia, babad itu juga sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia oleh M. Ng. Supardi dan R. Ngt. Ng. Darweni. Proyek ini selesai pada Mei 1998. Dalam bahasa Indonesia berjudul Babad Nitik Mangkunêgårå I (Catatan Harian Prajurit Èstri Mangkunêgaran).

    Dalam Babad Tutur peran perempuan sangat menonjol. Peran perempuan itu membuktikan ada jalan berbeda dari tradisi kesusastraan Jawa yang didominasi lelaki. Kehadiran babad Tutur pun mengusung gugatan terhadap nasib perempuan mengacu ke masa lalu dan stereotipe perempuan Jawa.

    Babad Tutur mengisahkan peran perempuan dalam restrukturisasi kebudayaan Jawa oleh Mangkunêgårå I. Perempuan pada masa itu mengalami perubahan nasib dalam peran dan harga diri. Harkat dan martabat perempuan dalam Babad Tutur merupakan sisi terang untuk merevisi sisi gelap dalam Sêrat Panitisastrå.
    Perempuan memiliki peran dalam pertempuran.

    Digambarkan dalam Babad Tutur, bahwa selama bertahta, Mangkunêgårå I membangun kekuasaan militer terbesar di antara tiga kerajaan Jawa. Mangkunêgårå menugaskan Carik Èstri (sekretaris wanita) mencatat kejadian di peperangan. Catatan harian itulah yang kemudian dihimpun dalam buku Babad Lelampahan dan Babad Tutur. Babad Lelampahan ditulis dalam bentuk tembang, atau puisi Jawa, yang berisi catatan perjalanan perang Mangkunêgårå. Sedangkan Babad Tutur bercerita tentang kebijakan Mangkunêgårå memimpin kerajaan.

    Yang memang paling menarik adalah soal pasukan tentara perempuan itu. Selain oleh prajurit pria, RM Said juga dikawal prajurit wanodyå. Peranan prajurit perempuan yang semenjak Sultan Agung lebih merupakan hiasan, kini dirombak total. Prajurit perempuan RM Said ini dikedepankan sebagai pasukan tempur. Dari jumlah pasukannya yang mencapai 4.279 tentara reguler, sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah perempuan, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan), satu peleton bersenjata panah, dan satu peleton kavaleri (pasukan berkuda).

    Dilukiskan dalam catatan harian itu, pasukan perempuan tersebut berbusana putih, berkain corak parang rusak, dan menyandang keris seperti orang Bali.

    Prajurit perempuan ini semuanya cantik-cantik dan pandai baca-tulis. Betapapun memiliki ketangkasan sebagaimana prajurit pria, mereka tetap trampil memasak dan membuat baju. Mereka juga pintar menghibur, menyanyi sêsindhénan atau menari tlèdhékan, srimpi.

    Masyarakat dilukiskan selalu berdecak kagum melihat mereka. Sebuah tembang melukiskan saat Mangkunêgårå I naik karbin kuda, ada pasukan perempuan berkuda mengiringinya. Disertai pemukul genderang, peniup terompet, semuanya wanita. Dalam memainkan instrumen gamelan pun mereka sangat piawai.

    Tamu-tamu semuanya terheran-heran. Termangu-mangu membisu. Bagaimana wanita bertingkah bagaikan laki, seluruhnya trampil. Demikian pula penabuh-penabuh wanitanya tak ubahnya seperti penabuh lelaki saja.

    Wacana perempuan mutakhir tentu bakal menemukan seribu satu dalil untuk melontarkan kritik terhadap kepustakaan Jawa dan merumuskan dalil untuk perubahan. Jejak-jejak dalam kesusastraan Jawa modern memang menunjukkan ada tendensi untuk tidak memarginalkan perempuan. Kesadaran itu tumbuh dalam dialektika zaman yang bergerak dalam tegangan nostalgia dan utopia. Perempuan sanggup menulis dan menyatakan diri.

    Perempuan pun memiliki otoritas untuk mengonstruksi diri dengan permainan fakta dan fiksi. Serat dan babad adalah jejak masa lalu yang tak terkuburkan, tetapi mewariskan dalil-dalil untuk penentuan dekonstruksi perempuan dalam sastra. Perempuan sekarang dengan lihai hadir dalam sastra untuk memainkan lakon martabat.

    Isi catatan harian Carik Èstri ini memuat juga masalah ekonomi sampai sosial. Secara rinci, dalam catatan harian itu misalnya diketahui Mangkunêgårå I mampu menekan Belanda agar setiap tahun membayar kepadanya 400 real. Uang itu digunakan untuk memberi gaji para prajuritnya dan lain-lain.

    Dalam bagian lain, babad mendeskripsikan bagaimana muaknya RM Said melihat Pangéran Mangkubumi setelah Perjanjian Giyanti. Sebagai balas budinya kepada Belanda karena ia dinobatkan sebagai raja Keraton Yogya, Mangkubumi menghadiahkan istrinya sendiri, Raden Rêtnåsari, kepada Belanda.

    Tembang itu berbunyi demikian:

    Kang anåmå Radén Rêtnåsari, ingkang sangking Pingkol Sukåwatyå, sarêng dipun angkaté, marang délêr tinandu, Sultan datan sagêd ningali, sangêt ngungun tur mêrang lan tansah sinamur, Dèn Rêtnåsari sâmånå sarêng mangkat anangis tur nibå-tangi….

    Dia bernama Raden Retnosari berasal dari Desa Pingkol Sukawati, Deler segera memondongnya memasukkan dalam tandu. Ketika menyaksikan Sultan hanya berpaling muka saja, agaknya tak tahan untuk melihatnya, dalam hati teramat kecewa dan malu, tapi perasaan tersebut ditutup-tutupinya, ketika tandu diusung, Raden Retnowati menjerit, menangis seakan-akan berusaha melepaskan diri….

    ……………
    [Garwå (istri) sendiri digadaikan, diserahkan sebagai kepada bêndårå kumpeni walåndå, sebagai balas budi “kebaikan”nya. Ada kêråtå båså jawa, unèn-unèn kang ngêmu suråså pêpindhan, “garwå = sigaraning nyåwå” — Begitu tega seorang suami menyerahkan “nyåwå sêsigarnya” untuk dipersembahkan kepada duli yang dipertuan agung walåndå.]
    Ada yang berkenan untuk membahas sigaraning nyåwå yang dipersembahkan kepada pihak lain ini?.
    — Kembali saya mengundang Ni Ken Padmi, Miss nonA, Jeng Pitaloka, Nyi Tatiek, Ni Sri Utami, pårå éndhang, pårå tapi padépokan pêlangisingosari, atau siapa saja, mungkin pårå cantrik, pårå tåpå, putut manguyu, ajar, : Ki Ismoyo, Ki Arema, Ki Widura, Ki Gembleh, Ki Pandanalas, Ki Truno Podang, Ki Sabrang Lor, Ki Kompor, Ki Panji S, Ki Honggopati, Ki Budi Prasodjo atau yang lainnya, månggå Ki/Nyi/Ni. —

    ###

    Di Nusantara kita ini ada yang namanya ardanariswari , yakni suatu sebutan bahwa lelaki mencari perempuan yang bisa mengangkat derajat suami atau menjadi kekuatan suami. Raden Mas Said ketika melihat Rubiyah yang mengatakan pada dirinya sendiri bahwa perempuan ini akan bisa menjadi pendamping dan kekuatannya.

    Sebenarnya hal ini sudah ada pada zaman Tumapel Singosari. Sekedar mengingatkan pårå kadang, [Dapat dibaca di Seri Kerajaan Singosari PDLS — DONGENG KEN DEDES — Dongeng Arkeologi & Antropologi –]

    Pararaton menceritakan perjumpaan antara Ken Arok – Ken Dedes:

    dadi sira Tunggul Ametung akasukan acangkrama asomahan, maring taman Bhabhojji. ……….. Satekan ira ring taman, sira Ken Dedes tumurun saking padhati. Katuhon pagawen ing widhi, kengis wetis ira, kengkab tekeng rahasiyan ira. Teher katon murub den ira Ken Angrok, kawengan sira tuminghal. Pitwi den ing hayun ira andhulu, tan hana madhani kalituhayon. …………..

    […… Dia, Tunggul Ametung pergi bersenang senang, bercengkerama berserta isterinya ke taman Boboji……. Sesampainya di taman, Ken Dedes turun dari kereta kebetulan disebabkan karena nasib, tersingkap betisnya, terbuka sampai rahasianya, lalu kelihatan bernyala oleh Ken Angrok, terpesona ia melihat, tambahan pula kecantikannya memang sempurna, tak ada yang menyamai kecantikannya itu,………]

    …..; yen hana istri mangkana kaki iku stri nariswari arane …. Yadyan wong papa angalapa ring wong wadon iku dadi ratu anakrawati …..

    [Jika ada perempuan yang demikian, ngger, perempuan itu namanya nariswari. Ia adalah perempuan yang paling utama. Meskipun orang berdosa, jika memperistri perempuan itu, ia akan menjadi penguasa].

    Seakan mengulang sejarah bahwa Sang wanodyå Ken Dedes si ardanariswari, menurunkan raja-raja Singåsari dan Majapahit, maka Radèn Ayu Kusumå Patahan Rubiyah sang ardanariswari, melanjutkan dinasti Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, menurunkan trah Mangkunêgaran.

    Apa makna patah ati pada nama Raden Ayu Patah Ati? Banyak orang salah tafsir, nama Patah Ati dikaitkan dengan patah hati atau “broken heart”. Padahal perjalanan hidup Raden Ayu Patah Ati alias Radèn Ayu Kusumå Patahan tidak tragis seperti itu.
    Beliau dengan tabah mengikuti perjuangan suaminya, meski beliau hanya menjadi garwå sêlir (ampéyan), bukan garwå padmi.

    Walau demikian, Pangéran Sambêrnyåwå sangat mengasihi Raden Ayu Patah Ati. Bukan patah berarti putus (cêklèk).
    Dalam bahasa Jawa, matah atau patah artinya menunjuk, mêladèni, atau dalam makna secara keseluruhan menjadi ’melayani hati sang pangeran’ Sambêr Nyåwå.

    Ketika Raden Ayu Kusumå Patah Ati wafat, beliau minta dimakamkan di kampung halaman beliau. Awalnya rombongan kraton berencana memakamkan Radèn Ayu Kusumå Patahan di gunung Pencul. Entah kenapa, utusan yang membawa jisim/jasad Raden Ayu Kusumå Matah Ati ini bisa keliru tujuannya. Anehnya, tanah bukit itu menebarkan aroma yang mewangi. Maka atas ijin dari KGPAA Mangkunêgårå I, beliau dimakamkan di bukit itu, yang kemudian dinamakan: Astana Giri Wijil. Astana Giri Wijil terletak di Desa Gunung Wijil, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

    Adapun suaminya Mangkunêgårå I yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryå Mangkunêgårå I alias Pangéran Sambêrnyåwå alias Radén Mas Said, dimakamkan di Astana Mangadeg Matesih di kaki Gunung Lawu, berdekatan dengan kompleks pemakaman Astana Giribangun (makam keluarga Ibu Tien Soeharto).

    Demikian mudah-mudahan berkenan. Untuk lebih rinci kisah tentang Rubiyah Sang Matah Ati selanjutnya, biarlah panjênênganipun Ki Cantrik Bayuaji setelah kondur dari Tamah Suci berkenan untuk mendongeng. Punåkawan bisanya cuma ngutip bahan-bahan dari pustaka pribadi dan tulisan-tulisan beliau.

    Nuwun, keparêng

    Punåkawan

    Bahan tulisan:

    1. _____________ Babad Tanah Djawi, versi L. van Rijckevorsel & R.D.S. Hadiwidjana. 1925;

    2. _____________Babad Lêlampahan, Reksa Pustaka Mangkoenegaran no 222 MS/J. Naskah Asli tersimpan di British Library Manuscript dengan judul Babad Mangkoenegoro. No. Add. 12283.

    3._____________Babad Mêmêngsahanipun Kanjêng KGPAA Mangkoenagoro I, Kaliyan Kanjêng Sultan Ngayogya (HB I), Naskah koleksi Museum Radya Pustaka Surakarta, cat, MS/J; no. 308:237 halaman.

    4. _____________Babad Tutur, naskah transliterasi Th.G.Th. Pigeaud, tercatat dalam Perpustakaan Reksa Pustaka Mangkunagaran dengan judul Babad Nitik, no. cat.B29 MS/L x 590 halaman.

    5. Ann Kumar dan Mikael Johani Prajurit Perempuan Jawa: Kesaksian Ihwal Istana dan Politik Jawa Akhir Abad ke-18, Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta. 2008;

    6. Bandung Mawardi Telusur Babad Tanah Jawi, Suara Merdeka 17 Mei 2009;

    7. Endang Tri Winarni … [et al.] Sêrat Panitisastrå Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara Jakarta. 1990;

    8. Purwadi;Sejarah Raja-Raja Jawa. Media Ilmu Yogyakarta. 2007;

    9. Zainuddin, Fananie; kata pengantar: Suyatno Kartodirdjo. Pandangan dunia KGPAA Hamengkoenagoro I dalam Babad Tutur sebuah restrukturisasi budaya. Muhammadiyah University Press, Universitas Muhammadiyah Surakarta Surakarta. 1994.

    10. Zainuddin, Fananie; Restrukturisasi Budaya Jawa (Perspektif KGPAA Mangkoenagoro I), Muhammadiyah University Press, 1994. Catatan: Merupakan kajian ilmiah yang telah dilakukannya dan dibiayai oleh Tokyo Foundation.

    • Walaupun nanti Ki BA yang akan melanjutkan cerita diatas, Ki Puna tetap jadi cantrik di padepokan ini khan?

      • Saya hanya seorang punåkawan, kawulå cilik, yang ngèngèr (mengabdi) nunut urip Ni.

        Sugeng siyang Ni

        Aa sumber air panas di kaki Gunung Salak. di daerah Gadog Curug Luhur namanya, bila Miss Nona berkenan dapat merendamkan kakinya di sana, serasa dipijat.

        • monggo nek kerso kulo dereaken

        • Alhamdulillah, sudah pernah Ki Puna, kebetulan ndak jauh dari rumah

    • matur nuwun Ki Punakawan BA,
      wohing kluwih memper karo sukun
      sepindhah malih matur nuwun.

  14. Assalamu’alaikum, selamat siang sanak kadang
    Aku dah aktivitas lagi walaupun rodo diseret ret kalau mlaku…
    hari ini kita latihan jurus apa? kayaknya masih tetep ma jurus ogrok2 ya… hikss…

    • Wa’alaikumsalam Jeng

      pantes tak tunggu-tunggu gak nongol2 jebul durung mlebu kerjo ( halah .. le nunggu yo neng ngendi wae ra ngerti … )
      Disuwunke di dongakne ndang enggal pulih, mari waras koyo wingi uni

      • makasih do’anya Ki….

  15. Absen dan pulang, selamat sore everybody

  16. sing tuku ra teko2…
    sing teko ra tuku2…

  17. Nuwun

    Ada yang tersisa dari:
    [Matah Ati
    Radén Ayu Kusumå Matah Ati
    [On 9 November 2010 at 13:36 punakawan bayuaji said:]

    I. Apakah perempuan hanya sampai pada apa yang digambarkan dalam Sêrat Panitisastrå, atau yang disulukkan ki dalang, dengan sebutan-sebutan indah seperti dalam dalam peribahasa, atau cukup dengan menyandang berbagai macam gelar ratu-ratuan?
    Bagaimana menurut pendapat pårå kadang

    II. Bagaimana muaknya RM Said melihat garwå (istri) Pangéran Mangkubumi, Raden Rêtnåsari dihadiahkan oleh suaminya, setelah Perjanjian Giyanti, sebagai balas budi “kebaikan” si kumpeni walåndå. Benarkah?

    Ada kêråtå båså jawa, unèn-unèn kang ngêmu suråså pêpindhan, “garwå = sigaraning nyåwå” — Begitu tega seorang suami menyerahkan “nyåwå sêsigarnya” untuk dipersembahkan kepada duli yang dipertuan kumpeni walåndå.

    Ada yang berkenan untuk membahas keduanya???

    Saya mengundang Ni Ken Padmi, Miss nonA, Jeng Pitaloka, Nyi Tatiek, Ni Sri Utami, pårå éndhang, pårå tapi padépokan pêlangisingosari, atau siapa saja, juga pårå cantrik, putut manguyu, ajar, : Ki Ismoyo, Ki Arema, Ki Widura, Ki Gembleh, Ki Pandanalas, Ki Truno Podang, Ki Sabrang Lor, Ki Kompor, Ki Panji S, Ki Honggopati, Ki Budi Prasodjo atau yang lainnya.
    Månggå Ki/Nyi/Ni. —–

    Sugêng dalu

    punåkawan

    • Sugeng dalu Ki Punakawan BA,

      Bahasan yang nomer dua (II) kok nggegirisi ya Ki ?
      Apakah sumber pustakanya hanya dari satu sisi, ataukah ada rujukan lain yang memperkuat fakta adanya peristiwa tsb ?
      (semoga tidak seperti ungkapan, sejarah ditulis sesuai selera penguasa)

      Atau peristiwa tsb akan kita lihat dengan perpektif budaya “Triman” ?

      Mugia kersa paring pencerahan Ki,
      nuwun.

      • Mungkin perlu diimbangi dengan tulisan-2 tentang Perjuangan Pangeran Mangkubumi atau yang ditulis oleh orang-2 Pangeran Mangkubumi.
        Bagaimanapun, Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Sambernyawa, disamping sesama pejuang melawan Belanda, mereka juga bisa disebut “saingan.”
        Untuk berkomentar lebih panjang …. ngaku saja … tidak punya koleksi pustaka jawa,kecuali tulisan Ki Mintardja.

    • We lah ki Punka niki aya2 wae…mosok kulo dikon mbahas bab garwo
      Lah wong isih berjuang mangudi dununge smorodahono je

      • Halah…

        • Saestu Fak Lik…
          Sakniki kulo mpun mboten ndandanggulo…wis genti ngasmorondono…sanes ngrondo lho

          • Hayaa …
            Pitik alas iku biasane doyanan. Kadangkala nguber pitik kampung, pitik blesteran, lan sing kerep nguber-uber pitik padepokan …

    • Matur nuwun Ki Puna, kulo tumut didaftar supados mbahas bab garwo. Nanging lha pripun kulo niki taksih cantrik lho Ki. Saumpaminipun bayi kulo niki dereng pupak wojonipun. Mbok menawi cantrik sanesipun ingkang sampun kalebet Mahacantrik, utawi Ajar, …… monggo dipun tenggo guritanipun.

      • Nopo maleh nek pas teng warung iwak gabus…pupak sedoyo amargi wonten pawongan endahing warno

  18. Matur Suwun Ki, banyak tambahan ilmu pengetahuan yang saya dapatkan,tapi kalau disuruh komen koq rasanya ilmunya “ora nyandak”, kudu sinau maneh…maklum Ki, lha wong sinaune biyen lan nyambut gawe saben dinane ning bidang aerospace engineering, ngapunten dereng saged komen…

  19. esuk2..uthuk2..maem gethuk..manthuk2…

    • Muthuk2, ra uthuk, ya opo iki rek….
      hiks…xixixixi

  20. Nambah Komen ah

  21. 46 sampun wedar dereng nggih kisanak?

  22. 46 sampun kaundhuh. matur nuwun.

  23. Mautru Nuwun Ki Panji Satrio Pamedar, ……. garis ngandapipun sampun kawulo tampi.

  24. Matur Sudah
    Suwun Ngunduh ———–

  25. Sugeng enjing……

    Matur nuwun garis ngandapipun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: