HLHLP-050

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 17 November 2010 at 00:01  Comments (44)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-050/trackback/

RSS feed for comments on this post.

44 KomentarTinggalkan komentar

  1. Teng …..
    Wedar ……

    • Sugeng Riyadi yang Kedua nGGer …
      Sugeng Riyadi Ki Ismoyo dan Ki Ajar Sangkling
      eehhh lali MATUR SUWUN

    • Ki Selalu On Time

  2. Bar ngunduh, saiki moco sik

  3. Sugeng enjing…

    Ngaturaken sugeng riyadi malih…..
    Matur nuwun rontalipun.

  4. ***

  5. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…..La ilaha illallahu Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahilhamd…

    Nuwun

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Hadits yang diriwayatkan Abu Daud, dari Abdullah bin Qurth, Nabi Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya semulia-mulianya hari di sisi Allah SWT adalah yaumun nahr (idul adha) dan yaumul qarr (hari tasyriq)”

    Hari-hari Tasyriq adalah tiga hari sesudah Iedul Qurban, yakni hari untuk berdzikir dan hari bergembira karena rahmat Allah di hari-hari itu.

    Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut yang diriwayatkan oleh Ath Thahawiy dan Ahmad, Nabi Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Janganlah kalian berpuasa pada hari-hari tasyriq ini. Ini adalah hari untuk makan dan minum.”

    Jadi pada hari tasyriq dilarang untuk berpuasa. Begitu pula hari tasyriq adalah hari untuk berdzikir, mengingat kebesaran Allah.

    Dalam hadits yang lain Nabi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari tasyriq adalah hari dilarang kalian berpuasa, juga berdzikir pada Allah.”

    Katur dumatêng pårå kadang Muslim padépokan pêlangisingosari:

    Sugêng Riyadi Iedul Qurban 1431 H

    Sugêng Ngriyayakakên Pahargyan Dintên Tasyriq

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Nuwun

    punåkawan

  6. Matur nuwun P. Satpam sampun ngunduh.
    Kagem pengasuh padepokan lan poro kadang sedoyo:

    SELAMAT IDHUL ADHA 1431 H.

  7. Buat pemahaman kita bersama tentang perbedaan penghitungan hari Raya Idhul Adha, berikut cantrik petikkan dari artikel KOMPAS hari kemarin, semoga bermanfaat, SUMONGGO:

    Memahami Perbedaan Idul Adha 1431 H
    (KOMPAS)Selasa, 16 November 2010 | 04:57 WIB

    M ZAID WAHYUDI
    Potensi adanya perbedaan Idul Adha 1431 Hijriah sudah diprediksi para ahli hisab rukyat dan astronom sejak beberapa tahun lalu. Perbedaan itu terwujud saat ini dengan adanya sebagian umat Islam Indonesia yang memperingati Idul Adha pada Selasa ini, sama seperti di Arab Saudi, dan sebagian lagi Rabu esok.
    Melalui sidang isbat atau penetapan yang dilakukan Kementerian Agama dan dihadiri wakil berbagai organisasi massa Islam, pemerintah menetapkan Idul Adha 10 Zulhijah 1431 H jatuh pada 17 November 2010.
    Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama yang juga Profesor Riset Astronomi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Thomas Djamaluddin di Jakarta, Senin (15/11), mengatakan, secara teoretis atau hisab, bulan sabit tipis atau hilal tidak mungkin diamati pada 6 November karena ketinggiannya di atas ufuk masih di bawah dua derajat. Hal itu juga didukung dengan data pengamatan yang menunjukkan hilal belum bisa dilihat atau dirukyat di seluruh Indonesia.
    Dengan demikian, bulan Dzulqa’dah atau bulan ke-11 dalam kalender Islam dibulatkan menjadi 30 hari sehingga 1 Zulhijah bertepatan dengan 8 November.
    Di Indonesia, lanjut Djamaluddin, jika ada yang menetapkan Idul Adha pada 16 November, hal itu karena menggunakan kriteria wujudul hilal atau terbentuknya hilal (tanpa perlu diamati) sehingga bulan Dzulqa’dah hanya 29 hari.
    Perbedaan lain muncul dengan ketetapan Pemerintah Arab Saudi yang menetapkan Idul Adha juga pada 16 November sehingga puncak ibadah haji berupa wukuf di Arafah dilakukan pada 15 November kemarin.
    Menurut Djamaluddin, keputusan Pemerintah Arab Saudi menentukan Idul Adha tahun ini tergolong kontroversial. Secara teoretis, hilal tidak bisa dirukyat pada 6 November di Mekah. Namun, ternyata otoritas setempat menentukan berbeda.
    Sebagai catatan, dalam keputusan penentuan hari raya, Pemerintah Arab Saudi sering kali digugat oleh para astronom di Timur Tengah dan kawasan lain. Meskipun Arab Saudi menggunakan metode melihat hilal untuk menentukan awal bulan, tapi sering kali hilal yang diklaim bisa dilihat itu secara teoretis astronomi tidak mungkin bisa dilihat.
    Garis penanggalan bulan
    Anggota Badan Hisab Rukyat Kementerian Agama lainnya yang juga ahli kalender di Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, mengatakan, garis penanggalan pada kalender Hijriah berbeda dengan garis penanggalan kalender Masehi.
    Garis penanggalan Masehi didasarkan pada patokan garis bujur timur atau garis bujur barat 180 derajat. Dalam penanggalan ini, daerah yang memiliki garis bujur sama atau berdekatan mulai dari kutub utara hingga kutub selatan akan selalu memiliki hari yang sama. Perubahan hari dimulai pada pukul 00.00.
    Daerah yang lebih timur juga dipastikan akan lebih dahulu waktunya dibandingkan daerah di baratnya. Karena itu, dalam sistem penanggalan Masehi, waktu di Jakarta atau waktu Indonesia barat (WIB) selalu empat jam lebih dulu dibandingkan waktu Mekkah.
    Namun, garis penanggalan bulan berbeda. Garis penanggalan bulan memiliki 235 variasi. Setiap bulannya, garis penanggalan bulan berbeda-beda. Garis penanggalan bulan akan kembali di dekat tempat yang sama sekitar 19 tahun kemudian.
    Banyaknya variasi garis penanggalan bulan ini ditentukan oleh posisi Bulan terhadap Bumi, dan posisi sistem Bumi-Bulan terhadap Matahari.
    Daerah yang pertama kali melihat hilal akan mengawali hari lebih dulu. Hal ini berarti, daerah yang terletak pada garis bujur yang sama atau berdekatan, hari atau awal bulan Hijriahnya bisa berbeda. Hari dimulai setelah Matahari terbenam atau magrib, bukan pukul 00.00.
    Kondisi ini, lanjut Moedji, yang membuat waktu di Jakarta tidak selalu lebih dahulu dibanding Mekkah. Jika diasumsikan, hilal pada Zulhijah kali ini pertama kali dilihat di Mekkah, maka sesudah magrib atau sekitar pukul 18.00 di Mekkah sudah masuk bulan baru.
    Saat itu, di Jakarta sudah pukul 22.00 WIB. Baru pada magrib keesokan harinya, Jakarta memasuki Zulhijah. Artinya, pada bulan Zulhijah kali ini waktu di Jakarta tertinggal 20 jam dibandingkan waktu Mekkah.
    ”Dalam penanggalan Hijriah, waktu di Indonesia bisa jadi lebih dulu dibandingkan waktu di Arab Saudi. Namun, bisa jadi pula Arab Saudi lebih dulu dibanding Indonesia,” tambahnya.
    Menurut Moedji, perbedaan awal hari dalam kalender Hijriah inilah yang sering dipahami secara salah. Mereka beranggapan, karena waktu di Indonesia lebih cepat dibanding Mekkah, maka saat di Mekkah berhari raya, di Indonesia juga harus berhari raya. Padahal, konsep ini didasarkan atas pencampuradukkan konsepsi kalender Hijriah dan Masehi sehingga menimbulkan kerancuan.
    ”Umat Islam Indonesia harus memahami bahwa mereka menggunakan dua sistem kalender. Kalender Masehi untuk keperluan sehari-hari dan kalender Hijriah untuk keperluan ibadah. Setiap kalender memiliki konsep dan konsekuensi masing-masing yang berbeda,” ungkapnya.
    Meskipun berbeda, baik Moedji maupun Djamaluddin mengajak umat Islam menghormati perbedaan yang ada. Meskipun demikian, kejadian ini harus kembali memacu umat Islam Indonesia untuk segera membuat kriteria penentuan awal bulan Hijriah secara bersama yang berlaku nasional.
    Jika sudah ada, maka konsepsi ini bisa disosialisasikan secara regional dan internasional sehingga diperoleh sistem penanggalan Hijriah yang bisa berlaku secara global.
    ”Sistem penanggalan Hijriah memang lebih kompleks dibandingkan penanggalan Masehi, tapi itu bukan berarti tidak bisa distandardisasi,” ujar Moedji.

    • Assalamu’alaikum wr wb.
      Tapi yang jelas kita sungguh prihatin jika tidak ada keputusan yang tuntas tentang perbedaan2 ini untuk masa yang akan datang. Walopun utk saat ini kita mungkin tetap berusaha untuk menjaga ukhuwah, tetapi sifat dan watak seseorang dengan yang lainnya tentu berbeda-beda. Ada yang mau mengerti perihal demi menjaga ukhuwah, tapi kalo yang bersangkutan berkacamata kuda, maka akan sulitlah untuk menerima perbedaan. Contoh kongkrit di masjid tempatku telah terjadi ketegangan ketika hendak mengambil keputusan shalat ied. Sang imam masjid beserta beberapa jama’ah menganggap bahwa yang syah adalah yang mengikuti ketetapan pemerintah Arab Saudi yaitu Wukuf tgl.15 Nop dan Shalat Ied tgl.16 Nop. Tetapi Bendahara DKM dan beberapa jama’ah tetap berpegang kepada keputusan Ulil Amri, ….. yi untuk Shalat Ied tgl.17 Nop. Walopun akhirnya diputuskan shalat Ied tgl.17 Nop., tapi Bendahara DKM telah terlanjur walk out dan memutuskan untuk berhenti dari kepengurusan. Sementara rapat memutuskan spt tersebut di atas, dengan catatan Imam Masjid berharap untuk tahun depan harus diputuskan mengikuti keputusan Arab Saudi.
      Nah lho, …… disini terlihat ada sesuatu yang retak di dalam. Di dalam jiwa ini, walaupun di luar terlihat dapat menerima.
      Mungkin untuk sementara berikut ini saya sampaikan juga catatan Bapak T.Djamaluddin (Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN Bandung, Anggota Badan Hisab Rukyat Jabar dan Depag )mengenai kejadian yang sama di tahun 2005, melengkapi artikel M Zaid Wahyudi di atas, dapat dijadikan landasan keputusan masing2 individu. Hal yang penting dari artikel berikut adalah, “Shalat Idul Adha hukumnya sunnah, namun menjaga persaudaraan wajib hukumnya”. Sehingga jangan hendaknya mempertahankan yang sunnah, mengorbankan yang wajib.
      Nuwun
      Truno Podang

      MENYIKAPI PERBEDAAN IDUL ADHA 1425
      Posted on 22 Juni 2010 by T. Djamaluddin, Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN Bandung, Anggota Badan Hisab Rukyat Jabar dan Depag
      (Dimuat di Pikiran Rakyat, 19 januari 2005)

      Semula keputusan Majelis Tinggi Arab Saudi, Majlis Al-Qadla’ Al-’Ala, yang menetapkan 1 Dzulhijjah 1425 pada 12 Januari 2005, hari wukuf 9 Dzulhijjah 1425 pada 20 Januari, dan Idul Adha 21 Januari disambut gembira oleh banyak pihak. Kekhawatiran terjadinya kontroversi, seperti sering terjadi lenyaplah sudah. Majelis mengumumkan tidak ada kesaksian hilal pada akhir Dzulqaidah.

      Di Indonesia, keputusan itu pun disambut dengan lega. Rapat Badan Hisab Rukyat Departeman Agama pada 22 Desember 2004 lalu sempat mengkhawatirkan terjadinya kontroversi keputusan Arab Saudi yang menyebabkan perbedaan dengan keputusan pemerintah RI.

      Ternyata kelegaan tidak lama, Sabtu 15 Januari tersiar kabar melalui mailing list pengamat hilal (bulan sabit pertama) dan media massa bahwa Arab Saudi mengubah keputusannya. Berdasarkan laporan terlihatnya hilal pada 10 Januari 2005, maka diputuskan awal Dzulhijjah jatuh pada 11 Januari 2005. Akibatnya hari wukuf berubah menjadi 19 Januari dan Idul Adha di Arab Saudi pada 20 Januari 2005.

      Tentu saja perubahan ini menyebabkan perbedaan dengan Idul Adha di Indonesia dan menimbulkan kebingungan bagi orang awam.

      Kalangan astronomi jelas menolak kesaksian tersebut karena pada saat maghrib 10 Januari 2005 di wilayah Arab bulan telah berada di bawah ufuk. Di Mekkah bulan terbenam pukul 18.53 kemudian disusul matahari pukul 18:56. Bagaimana mungkin terlihat hilal padahal bulan telah terbenam. Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) mengeluarkan pernyataan bahwa kesaksian tersebut keliru.

      Garis Tanggal

      Untuk melihat kemungkinan rukyatul hilal di seluruh dunia, biasa digunakan hisab (perhitungan) secara global dan digambarkan sebagai garis tanggal. Pada peta garis tanggal diketahui di daerah mana bulan dan matahari terbenam bersamaan. Inilah garis tanggal wujudul hilal (wujudnya hilal di kaki langit).

      Dengan garis tersebut diketahui bahwa di wilayah sebelah timur garis tanggal pada saat maghrib hilal berada di bawah ufuk, sedangkan di wilayah baratnya hilal telag di atas ufuk.

      Garis tanggal wujudul hilal untuk awal Dzulhijjah melintasi Amerika Utara, Afrika, Yaman, dan lautan Hindia sebelah selatan Indonesia. Terlihat bahwa Arab Saudi dan Indonesia berada pada satu wilayah garis tanggal. Pada tanggal 10 Januari 2005, baik di Arab Saudi maupun Indonesia bulan telah berada di bawah ufuk saat maghrib.

      Jadi tidak mungkin ada kesaksian melihat hilal pada hari itu. Dengan demikian tidak mungkin juga 1 Dzulhijjah 1425 jatuh pada 11 Januari 2005 dan tidak mungkin Idul Adha 20 Januari 2005. Dari gambar garis tanggal beserta beberapa kriteria selain wujudul hilal, dapat disimpulkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada 12 Januari 2005 dan Idul Adha 21 Januari.

      Kriteria kemungkinan teramatinya hilal di Indonesia yang disepakati MABIMS (menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) adalah tinggi minimal 2 derajat dan umur hilal minimal 8 jam. Garis tanggal ketinggian bulan 2 derajat juga digambarkan pada peta garis tanggal yang melintasi Amerika Utara, Afrika, dan Australia. Karena bulan baru atau ijtimak terjadi pada pukul 19:04 WIB 10 Januari, maka saat maghrib 11 Januari umur hilal telah lebih dari 8 jam. Karenanya baru pada 11 Januari hilal kemungkinan dapat terlihat. Maka 1 Dzuhijjah 1425 dapat disimpulkan jatuh pada 12 Januari 2005.

      Demikian juga dengan kriteria-kriteria lainnya.
      Kesaksian hilal pada 10 Januari 2005 secara astronomi harus ditolak, karena tidak mungkin terjadi bulan yang telah terbenam dapat dilihat berada di atas ufuk. Dapat dipastikan ada kekeliruan pengamatan.

      Dari kalangan pengamat hilal seluruh dunia yang bergabung dalam ICOP (International Crescent Observation Project), tidak ada laporan terlihatnya hilal di seluruh dunia pada hari itu. Baru pada 11 Januari dilaporkan pengamatan hilal dari berbagai tempat di dunia. Seperti ditunjukkan pada peta garis tanggal, pada 11 Januari hampir seluruh dunia berkesempatan melihat hilal yang cukup tinggi. Salah satu pengamat di Iran berhasil memotretnya dalam kondisi kaki langit yang berawan.

      Dari analisis garis tanggal dan laporan rukyatul hilal seluruh dunia, semestinya 1 Dzulhijjah jatuh pada 12 Januari 2005, hari wukuf 9 Dzulhijjah pada 20 Januari, dan Idul Adha pada 21 Januari 2005. Pemerintah Indonesia telah memutuskan dalam ketetapan Menteri Agama RI bahwa Idul Adha jatuh pada 21 Januari.

      Menyikapi Perbedaan

      Dalam masalah ibadah, pertimbangan syariat lebih diutamakan daripada pertimbangan lainnya. Walaupun secara astronomi keputusan Arab Saudi dinilai kontroversial dan keliru, namun secara syariat tetap dianggap sah. Laporan saksi yang dianggap adil telah cukup dijadikan dasar tanpa perlu konfirmasi apa pun. Itulah keyakinan Majelis Tinggi Arab Saudi. Karenanya di Arab Saudi dan negara-negara sekitarnya yang mengikutinya sah bagi mereka untuk beridul adha 20 Januari 2005.

      Masalahnya kemudian timbul kebingungan pada sebagian masyarakat di Indonesia yang akan beridul adha 21 Januari 2004. Sahkah shaum Arafah pada 20 Januari 2005 saat saudara-saudara kita di Arab Saudi beridul adha? Kita ketahui, shaum pada hari raya haram hukumnya. Masalah ini sederhana saja. Dalam ibadah kita tidak boleh ada keraguan, pilih mana yang kita yakini.

      Bila kita yakin mengikuti Arab Saudi, shaum pada 20 Januari jelas haramnya karena kita yakin hari itu Idul Adha. Tetapi lain masalahnya kalau kita mengikuti ketetapan pemerintah Indonesia yang menganggap 20 Januari masih 9 Dzuhijjah, maka sunnah untuk shaum Arafah pada hari itu. Tidak haram shaum karena yakin hari itu bukan Idul Adha.

      Tidak boleh ada keraguan dengan mengikuti Idul Adha seperti ketetapan di Indonesia, tetapi juga meyakini Idul Adha seperti di Arab Saudi. Tidak ada dua kali Idul Adha yang diyakini, salah satunya harus ditinggalkan.

      Keyakinan untuk merayakan Idul Adha berdasarkan penetapan 1 Dzulhijjah di masing-masing tempat telah dilaksanakan di banyak negara. Dewan Fiqih Islamic Society of North America (ISNA) akhirnya juga beralih mengikuti rukyatul hilal setempat, walau sebelumnya selalu mengikuti Arab Saudi dalam penetapan Idul Adha.

      Keputusan itu diambilnya, antara lain setelah berkonsultasi dengan ulama Arab Saudi yang menyatakan tidak ada beda penetapan Idul Fitri dan Idul Adha. Kita harus konsisten, bila Idul Fitri ditetapkan berdasarkan rukyat setempat, demikian pula dengan Idul Adha.

      Sebagian kalangan masih banyak yang berpendapat bahwa Idul Adha semestinya mengacu pada hari wuquf di Arafah. Namun tidak ada dalil yang kuat yang menyatakan Idul Adha mesti sehari sesudah wukuf., semuanya bersifat ijtihadiyah yang bisa diperdebatkan. Tidak salah juga Idul Adha dilaksanakan 10 Dzulhijjah, karena wukuf 9 Dzulhijjah. Dan 10 Dzulhijjah dapat berbeda di setiap tempat tergantung saat terlihatnya hilal.

      Ada juga yang berpendapat Idul Adha (hari raya qurban), bukanlah Idul Hajj (hari raya haji) yang terikat dengan ritual di tanah suci dan hanya ada di tanah suci. Sehingga tidak semestinya Idul Adha selalu mengacu pada hari wukuf. Bagaimana pun juga tidak mungkin disamakan waktunya dengan waktu di tanah suci.

      Itulah perbedaan pendapat yang ada di masyarakat. Silakan ikuti mana yang dianggap paling meyakinkan dan menentramkan dalam beribadah. Kita tidak bisa memaksakan pendapat dalam hal ini. Persaudaraan tetap harus dijaga. Shalat Idul Adha hukumnya sunnah, namun menjaga persaudaraan wajib hukumnya.

      Untuk menentramkan ummat ketika terjadi perbedaan dalam penentuan hari raya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa nomor 2/2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

      Fatwa MUI menyatakan bahwa penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyat (pengamatan hilal, bulan sabit pertama) dan hisab (perhitungan astronomi) oleh pemerintah cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional.

      Ini menegaskan bahwa kedua metode yang selama ini dipakai di Indonesia berkedudukan sejajar. Keduanya merupakan komplemen yang tidak terpisahkan. Masing-masing punya keunggulan, namun juga punya kelemahan kalau berdiri sendiri.

      Otoritas diberikan kepada pemerintah sebagai “Ulil Amri” yang wajib ditaati secara syariat. Fatwa MUI juga menegaskan bahwa seluruh umat Islam Indonesia wajib menaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

      Otoritas syar’iyah pemerintah RI (dalam hal ini dilaksanakan oleh Menteri Agama) tentu tidak boleh dilaksanakan secara sembarang. Karenanya fatwa itu menyatakan wajib bagi menteri Agama berkonsultasi dengan Majelis Ulama Indonesia, ormas-ormas Islam, dan instansi terkait.

      Hasil rukyat dari daerah yang memungkinkan hilal dirukyat walau pun di luar wilayah Indonesia yang mathla’-nya sama dengan Indonesia dapat dijadikan pedoman oleh Menteri Agama RI. Ini menyatakan bahwa di mana pun ada kesaksian hilal yang mungkin dirukyat dalam wilayah hukum Indonesia (wilayatul hukmi) maka kesaksian tersebut dapat diterima.

      Juga kesaksian lain di wilayah sekitar Indonesia yang telah disepakati sebagai satu mathla’, yaitu negara-negara MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

      Terkait masih banyaknya kalangan yang mengikuti Arab Saudi dalam penetapan Idul Adha sehingga berbeda dengan penetapan di Indonesia, ada yang menarik dari penuturan seorang wakil di Badan Hisab Rukyat dari ormas Islam yang biasa mengikut Arab Saudi. Seorang mufti Arab Saudi pernah memberikan tausiyah (nasihat) bahwa menjaga ukhuwah lebih diutamakan daripada memisahkan diri dalam pelaksanaan Idul Adha demi mengikuti Arab Saudi. Karenanya ormas Islam tersebut kemudian mengikuti penetapan Idul Adha di Indonesia, walau belakangan kembali lagi pada sikap semula.

      Upaya penyatuan Idul Adha memerlukan pendekatan ukhuwah, bukan dengan memperdebatkan dalil dan logika ilmiah yang mungkin tidak berujung. Shaum arafah dapat dilaksanakan berdasarkan pendapat masing-masing, mengikuti hari wukuf di Arafah atau tanggal 9 Dzuhijjah di Indonesia. Shaum bersifat pribadi, sehingga tidak tampak perbedaannya di masyarakat.

      Namun untuk pelaksanaan Idul Adha mestinya dapat diseragamkan. Sebagian besar ulama membolehkan melaksanakan shalat Idul Adha selama hari tasyrik, sehingga ada toleransi bagi yang mengikuti Arab Saudi untuk menunda shalat Idul Adha untuk bersama dengan saudara-saudara lainnya di Indonesia.

      Pelaksanaan qurban juga bisa dilaksanakan selama hari tasyrik, sehingga tidak bermasalah dalam hal ini. Alangkah indahnya bila ukhuwah diutamakan dalam menghadapi perbedaan pendapat.

      • Matur nuwun sanget tambahan informasinya Ki TruPod. Semoga dua penjelasan di atas menambah kedewasaan kita semua dalam menyikapi perbedaan yang mungkin akan muncul di kemudian hari

  8. matur nuwun pencerahanipun Ki Honggo

  9. sampun ngundhuh hlhlp-050. matur nuwun.

  10. siancaiiii………..
    rontal 49 ame 50 langsung di jurnal,
    tapi……masih ada piutang rontal 47 ame 48 (secara akuntansi emang udah nol, tapi nol enggak selalu normal)tolongggggggggggggg…………

    • wadhuh, dereng kagungan rontal 47 lan 48 ta ki ???
      lha rak gemandhul teng riki , kaling teng riku ta, ….

      mangga, ….

    • Sampurasun Ki kompor

      Sekarang gentian ane mau tanye ame Bang Kompor. Sering bang Kompor nulis “siancaii”,
      Ertinye apaan entu Bang??. Sama kagak ame “kamsia”

      Hatur nuhun pisan, hampura simkuring

      punåkawan

      • Siancaiii niku sami BOJLENG

        • Di Padepokan tercinta ini, ketika rontal nyantol dan berhasil di unduh, langsung teriak “matur-nuwun”.
          Sementara itu, para biksu dengan tongkat ditangan, berhasil ngeles dari samberan pedang, dengan terkagum-kagum akan teriak “SIANCAII”.

          • OH……..kirain SIANCAII itu derivatnya CINCAU,
            ya udah deh CINCAIlah….!!!

  11. Pada sibuk mboleng sapi/kambing rupanya. Atau mabuk kebanyakan sate? jam segini kok baru terisi 16 paraf tanda hadir.

    Siancaii….., eh.. kliru ya

    • Sate torpedo …. Cocok kagem Pak Lik Satpam..’Ersane josss gandoss..jreng

  12. @KOMENTAR untuk aji pangrungu Ki Bayuaji dari Tanah Suci.

    Berbahagialah mereka yang melihat dunia ini sebagai alam besar dan alam kecil.
    Bangunan persegi empat yang terbungkus kain hitam di Tanah suci adalah Qur’an besar, sementara hati yang suci adalah ka’bah sesungguhnya didalam diri.
    KETIKA kita menghadap rumah ALLAH, yang terjadi adalah rasa hina, bodoh, papa, buta,tuli. KARENA kemuliaan, ilmu, kekayaan, penglihatan dan pendengaran hanya kepunyaanNYA.
    BERBAHAGIALAH, mereka yang merasa buta, tuli, hina, papa dan bodoh ketika menghadap RUMAHNYA.
    SELAMAT BERJIARAH, LAHIR DAN BATHIN kepada temanku Ki Bayuaji.

    Dengan ilmu aji pangrungu, komentar ini gue kirim kembali kepada Ki Bayuaji………..
    AMITABAAAAAAAAAAAAAAAA

    • @ Ki Pandanalas, lho…??

      @ Ki Kompor:
      1. Hatur nuhun Ki.

      2. Amitābha. “Cahaya yang tak terbatas”
      maka “namaste suvatthi hotu” Semoga hidup berbahagia dan penuh berkah”

      [Amitabaha,adalah seorang Buddha surgawi yang dijelaskan dalam kitab suci Tripitaka aliran Buddha Mahayana. Amitabaha adalah Buddha Utama di sekte Tanah Murni yang berkembang terutama di Asia Timur.]

      3. via e mail, insya Allah punåkawan teruskan pesannya Ki.

      Sekali lagi hatur nuwun ki

      punåkawan

  13. sugeng riyadi Idul Adha kagem para kadang
    matur nuwun rontalipun Ki Satpam..

  14. Konjuk ki Lare nDusun engkang madeg padepokan teng tanah mBatam ..
    Punopo panjenengan mandegani padepokan engkang kawentar ilmu sapto pangrungu ?

    • sapto pangrungu ? telkom mbokmenawi nggih ki ??

      • loh…., rak sami kalian pak lik?

  15. Matur nuwun Ki Ismoyo, Ki Arema, Ki Satpam atas lontar HLHLP50-nya.

  16. Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam.

    • Ki Gembleh kados pundi kabaripun?

      • pangestunipun Panjenengan Ki Djojo,
        mugi2 Panjenengan inggih tansah keparingan karahayon dening Allah SWT.

  17. Sampurasun Ki Kompor

    Ada pertanyaan yang mengusik kami Ki:

    Di satu sisi ada pernyataan dan harapan (Dari komen Ki Kompor [On 17 Oktober 2010 at 18:15 kompor said: HLHLP 035]); bahwa ke Mekkah (berhaji) berharap dapat “melihat” Ka’bah, “Mudah-mudahan Ki Bayuaji dapat melihat ka’bah karena banyak orang yang tidak mampu melihat Ka’bah, meski sudah ada di depan MATA.

    Bersambung dengan surel Ki Cantrik Bayuaji [On 15 November 2010 at 13:37 punakawan bayuaji said: HLHLP 049], sesaat sebelum beliau berangkat dari Mekkah menuju ke Arafah, untuk melaksanakan wukuf: “Dia tiada berpeluang melihat RumahNya

    Dalam komen Ki kompor berikutnya [On 17 November 2010 at 14:55 kompor said: HLHLP 050]: BERBAHAGIALAH, mereka yang merasa buta, tuli, hina, papa dan bodoh ketika menghadap RUMAHNYA.

    Punåkawan berupaya mencari tahu arti dari dua pernyataan itu. Pengertian punåkawan atas kalimat di atas adalah, bahwa di satu sisi kita berdoa mudah-mudahan ketika berhaji dapat “melihat” Ka’bah tetapi di sisi yang lain, dikatakan bahwa orang yang merasa buta ketika menghadap rumahNya, adalah orang yang berbahagia.

    Terus terang punåkawan menjadi tidak mudêng .

    Mohon dengan segala hormat, Ki kompor dapat memberikan pemahaman kepada punåkawan, agar punåkawan dapat menjadi lebih mudêng dan tidak salah dalam membaca suatu pernyataan.

    Hatur nuhun

    Punten

    punåkawan

  18. tilik padepokan, paseban anyar isih tutup korine

  19. Suwun Ki, nembe ngundhuh.

  20. dear
    Ki Punakawan
    di – Tempat
    (jadi ingat masa remaja bikin surat cinta)

    Memahami bahasa tauhid memang bikin mudeng/enggak mudeng.Karena bahasa dalam tauhid dapat bersayap, tidak dapat langsung diterjenahkan sebagaimana bahasa komonikasi.

    Mengenal agama/tauhid adalah mengenal rasa. JADI kita harus sama-sama pernah makan gula, barulah satu bahasa bahwa gula itu MANIS.JADI, mengenal tauhid adalah keyakinan dan bukan lagi “katanya”.JADI untuk meyakinkan bahwa gula itu manis harus benar-benar merasakan/makan gula, barulah timbul suatu keyakinan bahwa gula itu MANIS.BARULAH mereka yang pernah sama-sama pernah makan gula punya bahasa YANG SAMA.

    PENGETAHUAN AGAMA dengan ILMU AGAMA memang sangat berbeda.Seorang yang mempelajari pengetahuan agama 4 sampai 5 tahun saja akan menjadi seorang yang AHLI dibidangnya. Sementara mereka yang mendalami ILMU agama, semakin lama menjadi semakin BODOH.

    Berbahagialah mereka yang dapat melihat ka’bah, karena banyak yang tidak mampu melihatnya.PENGERTIAN MELIHAT disini adalah penglihatan bathin, bahwa Ka’bah ada didalam diri sebagai sebuah hati yang suci yang dapat dilihatnya dimanapun mereka berada.

    BERBAHAGIALAH mereka yang merasakan buta,tuli,papa, hina,bodoh ketika menghadap RUMAHNYA, adalah “rasa”yang tidak dapat melihat apapun selain melalui penglihatanNYA.

    maaf….bersambung….mo gawe dulu….sori berat

    • Syukron. Jazaakallahu khairan.
      Semoga Allah membalas kebaikan Ki Kompor, Dan pada Allahlah terdapat kemenangan. Alhamdulillah.

      Bujubbuneng….

      punåkawan

      • wah ……
        istilah apa lagi ini bujubbuneng

        • kira-kira sejenis “biyuh-biyuh, ….”

  21. Assalamu’alaikum, selamat hari kamis…..

  22. kulonuwun,
    absen sik njur nggeblas .. ndandani galengan sik

  23. Weh, kog dho sepi yo…, pada kemana yach..?

    • Di gandok sebelah Ni, …… pada makan asinan Bogor tuh!

  24. Assalamu’alaikum, Ki TruPod, kog tumben podo bakaran sate di gandok sebelah, jgn2 gandok anyar wis dibuka yo, wah aku ketinggalan kereta yo…,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: