HLHLP-058

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 2 Desember 2010 at 00:01  Comments (112)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-058/trackback/

RSS feed for comments on this post.

112 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hadir… !!

    • nomer kalih hik…

  2. absen dulu. setelah sekian lama ndak absen, mung ingak-inguk njuk nunut ngombe…

    • Monggo Ki

  3. Yen nDelok sampul-e ….
    Koyone Nyi Bekel Pandanwangi lagi kumat ……
    Hiks ……
    Tak jogo kene wae ………..

    • Iya dong, ………… yang tadinya gak iso opo2 ndadak sontak pinter ilmu silet.

  4. Kisah Asmara II

    Jarak kampungku dgn si dia hanya 1 kiloan, tetapi memang terpisahkan hujan jati dan hutan karet…tidak ada acara apel malem minggu, apalagi kopdaran..hampir seminggu sekali selalu ada pertunjukan layar tancep di lapangan sepakbola…sponsornya kalo ndak supermi, batterey ABC dan jamu tjap Jago….filmnya antara Rhoma Irama, Benyamin S atau Dono Kasino Indro…

    • kayaknya jaman ini belon ada AUTAN

      • Sing mbeto kloso..utowo sing manggul dingklik sinten Ki…

        • koq pirso..nek nontop layar tancep mbetho kloso…obore nggo blarak klopo…

          • Lha njihh tho Ki…wong kulo mbiyen sing sok nancepke genter nggo layar-e….kucuali nek dolanan wayang titi..punopo wayang beber…cukup jegang ndamel senthir…

    • Kayaknya Mas Pdls playboy kampung juga ya dulunya?😀 … ih sereeeem….

      • niku mbiyen koq Nyi….carito jaman semono

      • ra sadar aku diundang MAS….dadi ngroso enom maneh…koyo gek umuran 30-an

    • Halah…iki nyadur cerito dari mana lagi…hiks.

      • ngene iki nek dicritain malah keturon…

  5. Selamat pagi Nusantaraku
    Sugêng énjang pårå kadang ing Nusantårå

    • selamat pagi sahabat

  6. sugeng poro kadang

    • sugeng juga Ki Bancak

  7. Mampir Bang Satpam …
    Aku mau cari penumpang Grogol ke Pulo Gadung
    sambil baca komik …
    Dari Gadung mau langsung ke Bekasi ke tempak .. Ki Trunyo Potang

    • Aku jadi keneknya yaa…
      Garogol !..garogol !..garogol !…
      Gadungan !..gadungan !..gadungan !…

      • Aaah … kau jadi sopirnya dong … masak keneknya ….
        Entar aku majikannya …

        • Ha ha ha …
          lupa ganti baju ya Pak De

      • Wong londo siji iki pancen nJaluk dijantur .. .. kinten-2 mangertos punopo mboten nJih?

  8. Selamat pagi P. Satpam.
    Absen pagi, semoga kita sehat selalu.
    Amin

  9. Kok dongeng Ki PDLS sepotong-sepotong, jangan jangan nanti lupa nyambungnya.

    • maklum ki….hasil defrag memory isih ngacak….maklum mpun radhi mripili disc-ipun niki

  10. absent

  11. Nuwun

    AGAMA
    [Seri Pitutur: Pituduh & Wewaler]

    Memenuhi pertanyaan atau pitakonan sêdulur saya, Ki Jayaraga [On 30 November 2010 at 14:12 jayaraga said] [HLHLP 057].

    Diskusi agama, sebagai usaha untuk memahaminya secara kritis, sistematis, mendalam, rasional, dan bersifat komprehensif, namun harus dilakukan dan disikapi dengan kepala dingin, lêmbah manah, tetap mengkedepankan persaudaraan. Jauhi emosi yang berlebihan, karena masalah agama adalah masalah yang sangat sensitif, hindari emosi yang tidak perlu dalam menanggapi setiap diskusi yang cerdas; sebab sering terjadi dikarenakan ketidak mampuan menerima pendapat orang lain yang lebih intelektual, maju, cerdas dan bijak, lalu mengakibatkan tanggapan emosional, salah-salah bukan semakin eratnya silaturahmi yang dicapai, justru menimbulkan pertikaian, perpecahan, perselisihan, dan pertentangan, yang pada akhirnya permusuhan.

    Dengan kecerdasan spiritual yang tinggi, melepaskan kepentingan-kepentingan emosional penganutnya, mengedepankan kebersamaan dalam keberagaman (=kita sadar bahwa kita berbeda) dan bukan mempertajam perbedaan.

    Semasa tahun-tahun pemerintahan Presiden Soehato, kita pernah dikenalkan dengan konsep hidup beragama yang mencakup tiga kerukunan, yakni kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.

    Tapi kita pun tahu kerukunan hidup beragama itu tidak terwujud sepenuhnya, sesuai yang diharapkan, dan baru sebatas konsep belaka. Dalam kenyataan di masyarakat yang kita temui justru bukan kerukunan. Jangankan antar umat agama, antar intern umat beragama yang sama pun, masih terjadi saling bertikai.

    Kita sadar, bahwa:

    1. Setiap pemeluk agama pasti menyakini apa yang dia imani, dia juga pasti bangga dengan keimanannya karena itu adalah pilihan hati dan fikirannya.

    2. Setiap umat suatu agama tahu betul bahwa dia atau pemeluk agama itu pasti akan membela mati-matian agama dan keyakinanya jika ia diganggu.

    Tetapi kitapun harus sadar pula bahwa agama tidak boleh digunakan untuk membentuk dinding penyekat antar manusia, sebab kita yakin Tuhan tidak membeda-bedakan.

    Agama juga tidak boleh menjadi alat kekuasaan, agama bukan alat politik. agama selalu positif, yang tidak positif adalah manusia-manusia yang selalu memanipulasi agama untuk politik, kekuasaan dan kepentingan tertentu. Agama hanya dijadikan sebagai kedok untuk mencapai suatu tujuan politik tertentu.
    Padahal tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan hal-hal yang destruktif atau negatif.

    Ini merupakan kondisi sosial yang harus kita bangun, yang memungkinkan semua golongan agama bisa hidup bersama-sama tanpa mengurangi hak azasi masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya.

    Sebagai sebuah bangsa memiliki empat konsensus dasar yang mesti diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Empat konsensus dasar pertama adalah Pancasila sebagai ideologi, dasar negara, falsafah dan pandangan serta jalan hidup bangsa. Yang kedua, adalah Pembukaan UUD 1945 yang memuat cita-cita, tujuan dan dasar bernegara. Yang ketiga adalah bangun negara Indonesia yakni Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan bentuk atau bangun negara yang lain, misalnya, negara federal. Yang keempat kita harus menjunjung tinggi sesanti Bhinneka Tunggal Ika.

    Empu Prapanca penulis Kakawin Sutasoma semasa Kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14, mengajarkan dan menggambarkan toleransi antara umat Buddha dan umat Hindu pada masa itu.

    Kakawin Sutasoma pupuh 139 bait 5, secara lengkap:

    Rwâneka dhâtu winuwus Buddha Wiswa,
    Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
    Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
    Bhinnêka tunggal ika
    tan hana dharma mangrwa.

    [Konon Buddha Siwa merupakan dua zat yang berbeda,
    Mereka memang berbeda, tetapi bagaimankah bisa dikenali,
    Sebab kebenaran Jina Buddha dan Siwa adalah tunggal,
    Berbeda-beda itu, tetapi satu jualah itutiada kebenaran yang mendua.]

    Dalam kaitannya dengan faham universalisme, kalimat Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa ini berbicara pada tataran Ultimate Truth, manusia mempunyai pengertian yang sama (non dualisme) tentang Truth. Dualisme hanya akan terjadi pada tataran apparent truth atau coventional truth.

    Perbedaan yang seringkali diributkan bahkan diperselisihkan sesungguhnya disebabkan antara lain karena adanya perbedaan aspek ritual, bukan esensi ajaran agama itu sendiri. Ritual itu sesungguhnya terkait dengan masalah budaya atau tata cara dan pandangan setempat dan pada saat itu (space and time) sehingga bersifat profane atau ornamen belaka, dan bukan hakiki (sacred).

    Bangsa kita adalah bangsa yang majemuk. Kita tidak boleh membeda-bedakan identitas karena suku, agama, etnik dan daerah. Semua harus kita hormati dengan kasih sayang dan persaudaraan di antara kita semua. Itulah nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

    Bangsa Indonesia lahir, tumbuh dan berkembang hingga hari ini dengan kekhasan yang dimilikinya. Misalnya, sejarah yang mengantarkan Indonesia menjadi bangsa seperti sekarang ini, warisan, jalan hidup, sistem kepercayaan, seni budaya, realitas kemajemukan dan karakter keindonesiaan yang lain mutlak harus dipahami dan kita hormati.

    ***

    Arti agama

    [1]. [Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Desember – 2008]

    agama. aga•ma n ajaran, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kpd Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dng pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya: — Islam; Kristen; Buddha;.

    ~ samawi agama yg bersumberkan wahyu Tuhan, spt agama Islam dan Kristen;

    ber•a•ga•ma v
    1. menganut (memeluk) agama: saya ~ Islam dan dia ~ Kristen;
    2. beribadat; taat kepad agama; baik hidupnya (menurut agama): ia datang dr keluarga yg ~;
    3. cak sangat memuja-muja; gemar sekali pd; mementingkan: mereka ~ pd harta benda;

    ke•ber•a•ga•ma•an n perihal beragama;

    meng•a•ga•ma•kan v menjadikan sbg penganut atau pemeluk suatu agama;

    ke•a•ga•ma•an n yg berhubungan dng agama.

    [2]. [Ensiklopedi Indonesia, PT Ichtiar Baru van Hoeve Jakarta, Tanpa tahun].

    Agama. Dalam arti godsdienst atau religie (Belanda) atau religion (Inggris) berarti pada umumnya hubungan antar manusia dan sesuatu kekuasaan luar yang lain dan lebih daripada apa yang dialami oleh manusia. Bagian pengertian yang dianggap “suci” yang mendatangkan rasa tunduk manusia kepadaNya, dan memperlakukannya dengan penuh khidmat, yang sebaliknya menarik manusia kepadaNya, dan manusia itu mencintaiNya dan mempercayaiNya dan memohon perlindungan kepadaNya.

    Agama. Istilah untuk menyebutkan kelompok kepercayaan berdasarkan wahyu Tuhan sebagaimana tercantum di dalam kitab suciNya.

    Agama. *Ugama, *Igama (Rontal Samdarigama).

    Terdiri dari tiga suku kata a•gam•a:

    a, sebagai awalan berrati tidak atau lawan kata

    gam, sebagai kata pokok adalah akar kata kerja berarti pergi atau berjalan (Inggris: go). Dengan adanya awalan a — berarti tidak pergi atau tetap (eternal, kekal), atau tidak berubah atau datang sebagai lawan kata pergi.

    a, sebagai akhiran hanya memberi kata sifat tentang arti kata kedatangan atau kekekalan dan karena itu merupakan bentuk keadaan yang kekal.

    Dari istilah itu disebut kata agam sebagai pegangan atau pedoman hidup kekekalan, lebih umum disebut agama.

    [3]. Kamus Basa Jawi (Bausatra Jawa). Tim Penyusun Balai Bahasa Yogyakarta. Penerbit Kanisius Yogyakarta 2005.

    agamå N (Ngoko), agami K (Kråmå) kumpulané tåtå carané manêmbah, piwulang, pangandêl, lan tindak kautaman sing dadi paugêraning panêmbah (marang Sing Måhåkuwåså) — (tanda-tanda å-é-ê dari penulis)

    [4]. Kamus Jawa Kuna Indonesa. Zoetmulder PJ, Robson S.O., Penerjemah: Darusuprata, Sumarti Suprayitna. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta 1994

    agama (Skt, Sanskerta) doktin at aturan tradisional yg suci, himpunan doktrin semacam itu, karya suci.

    ***

    Rumusan agama menurut Pemerintah RI
    Agama versi pemerintah.

    Salah satu aspek hak-hak sipil (civil rights) yang harus dilindungi adalah hak untuk beragama. Jaminan konstitusional terhadap hak ini muncul antara lain dalam Pasal 28E ayat 1 dan 2 UUD 1945 hasil amandemen.

    Pasal 28E

    (1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak kembali.

    (2) Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

    Hal tersebut ditegaskan lagi dalam pasal 29 ayat 1 dan 2.

    Pasal 29

    (1) Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

    (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu

    Dalam UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia memberikan landasan normatif bahwa agama dan keyakinan merupakan hak dasar yang tidak bisa diganggu gugat.

    Dalam pasal 22 ditegaskan,

    1). Setiap orang bebas memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu;

    2). Negara menjamin kemerdekaan setiap orang memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

    Dalam pasal 8 juga ditegaskan bahwa ”Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak asasi manusia menjadi tanggung jawab negara, terutama pemerintah”.

    Selain dalam konstitusi kenegaraan kita, tuntutan untuk menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan juga menjadi bagian dari kinerja dunia international. Hal tersebut dituangkan dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICPPR). Indonesia sudah meratifikasi ICCPR melalui Undang-Undang No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak- Hak Sipil dan Politik). Dengan ratifikasi itu, maka Indonesia menjadi Negara Pihak (State Parties) yang terikat dengan isi ICCPR.

    ***

    Pokok permasalahannya dalam konteks keaneka-ragaman agama yang dianut masyarakat Indonesia, ternyata negara justru membatasi agama-agama yang diakui secara resmi oleh negara. Negara tidak mengakui secara resmi seluruh keyakinan agama yang dianut masyarakat Indonesia yang sangat banyak, atau paling tidak mengakui seluruh keyakinan agama yang berkembang di masyarakat.

    Negara justru hanya memberi batasan pada enam agama resmi yang diakui. Selain enam agama itu, dianggap tidak resmi dan tidak diakui. Hal itu dapat dilihat dari Undang-Undang No 1/PnPs/1965 Pasal 1 dan Tap MPRS No XXVII/ MPRS/1966; dalam Penjelasan Pasal 1 Undang-Undang No 1/PnPs/1965 …. Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Khong Cu (Confusius).

    Pemerintah mendefinisikan agama sebagai sistem kepercayaan yang disusun berdasarkan kitab suci, memuat ajaran yang jelas, mempunyai nabi dan kitab suci. Atau dengan kata singkat, agama yang dirumuskan pada tahun 1960-an oleh Menteri Agama saat itu, harus memuat unsur,

    (i) memiliki kitab suci,
    (ii) memiliki nabi sebagai pembawa risalahnya,
    (iii) percaya akan Tuhan Yang Maha Esa,
    (iv) memiliki tata agama dan ibadah bagi pemeluknya.

    Definisi ini telah keluar dari mainstream studi-studi agama (reigious studies) yang biasa diperkenalkan baik dari perspektif sosiologis, antropologis maupun psikologis.

    Definisi ini dapat menimbulkan diskriminasi, karena pada akhirnya banyak agama-agama asli di Indonesia yang berbeda dalam memahami unsur-unsur agama, tidak diakui sebagai ”agama resmi” alias illegal religion.

    Perlakuan diskriminatif itu muncul dan semakin dipertegas dalam Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No. 477/74054/B.A.01.2/4683/95 tanggal 18 Nopember 1978 yang substansi pokoknya antara lain menyatakan bahwa agama yang diakui oleh pemerintah adalah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Akibatnya, penganut Konghucu tidak diakui dan terpaksa (dipaksa) konversi ke agama lain. Ketika KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden, Konghucu kembali diakui sebagai agama.

    Tetapi, persoalannya tidak berhenti hingga di situ. Meski Konghucu telah diakui kembali oleh negara, tetapi nasib agama-agama asli di Indonesia masih menggantung. Mereka eksis tetapi eksistensiya tersebut tidak diakui oleh negara.

    Penganut Agama Sunda Wiwitan, Kaharingan, Parmalin, Kejawen, Sedulur Sikep, dan lain-lain masih di luar agama-agama yang diakui pemerintah. Dan efek dominonya, sekali lagi, adalah pengingkaran terhadap hak-hak sipil, semisal pencantuman dalam KTP, Akta kelahiran, surat nikah dan lain-lain.

    Kalau kita belajar ilmu-ilmu sosiologi, antropologi, atau psikologi kita mengenal sebagaimana yang dituturkan oleh Emil Durkheim dalam The Elementary Form of Religious Life, agama-agama besar yang ada di dunia adalah kelanjutan dan berakar dari agama-agama suku atau lokal. Dengan demikian, eksistensi mereka di Indonesia, tentu tidak bisa dinafikan atau bahkan dihilangkan melalui regulasi.

    Agama sebenarnya hanya terdiri dari empat unsur, kalau kita coba menjabarkan unsur-unsur yang dimiliki agama tawaran dari Leonard Swidler dan Paul Mojzes (2000) dalam The Study of Religion in an Age of Global Dialogue, yakni:

    creed ; (pengakuan terhadap kekuatan tertinggi),

    code; (kode tindakan atau moral seperti kebaikan dan keadilan),

    cult ; (upacara sebagai media untuk berkomunikasi dengan creed, code ), dan

    community; (komunitas yang bersama-sama menjalankan creed, code dan cult).

    Jika definisi ini yang dipegang, maka diskriminasi sebenarnya bisa diminimalisasi. Karena dengan demikian akan ada banyak agama atau bahkan semua agama di Indonesia sealur dengan definisi tersebut.
    Sehingga ada jaminan konstitusional terhadap warga negara.

    ***

    Penutup

    Tulisan di atas hendaknya dijadikan perenungan, dan bukan sebagai perdebatan yang mengarah kepada pertikaian apalagi sampai menimbulkan permusuhan.

    Yang menjadi pokok persoalan adalah:

    Bagaimana nasib saudara-saudara kita sebangsa yang Bhinnêka tunggal ika , mereka yang tetap kukuh kepada ajaran agama yang diyakininya (Sunda Wiwitan, Kaharingan, Parmalin, Kejawen, Sedulur Sikep, dan lain-lain yang masih di luar agama-agama yang diakui pemerintah).

    Sebagai manusia, hamba Tuhan, mereka berkeinginan juga agar dapat dengan tenang menjalankan ajaran agamanya, tanpa gangguan, demikian juga sebagai bangsa, mereka juga berhak memperoleh hak-hak sipil mereka (misalnya: pencantuman di KTP, pernikahan).

    Ada pemikiran dari pårå kadang?

    Dan pertanyaan Ki Jayaraga [On 30 November 2010 at 14:12 jayaraga said: ][HLHLP 057]:

    Apakah ajaran asli Wong Jawa itu sudah memenuhi kriteria untuk disebut sebagai agama?

    Setelah membaca artikel saya di atas. Ki Jayaraga pasti dapat menjawab sendiri pertanyaannya.

    Untuk jawaban pertanyaan kedua Insya Allah akan disusulkan kemudian setelah punåkawan kembali daringlang-nglang jagad, njajah deså milangkori.

    Semoga berkenan. Sumånggå Ki.

    Nuwun

    punåkawan

    • Wah, Luar biasa! Ki Bayuaji bukan hanya membuat saya berkenan melainkan ter-upgrade. Ingat, Ki Bayuaji.. saya benar-benar bertanya karena keingintahuan yang terpicu dari artikel nJenengan, bukan karena maksud lain.

      Muara dari pertanyaan pertama saya sebenarnya menuju pada eksistensi agama orisinal Jawa. Terkait dengan pertanyaan kedua, bidikan saya adalah KENAPA ‘agama’ tersebut gagal terformalisasi dan justru terpinggirkan?

      Penjelasan Ki Bayuaji sangat mencerahkan saya. Terima kasih. Saya jadi tidak sabar mendapatkan jawaban dari pertanyaan kedua saya. Semoga Allah subhanallahuwata’ala senantiasa merahmati nJenengan dengan kesehatan, panjkang umur, dan keluasan waktu untuk selalu ber-piwaler di sini.

      Nuwun

      Jayaraga

    • betul, ki… yang lebih menyedihkan lagi, pengenalan akan unsur adat yang hanya pada kulitnya saja, sehingga sering kali terjadi salah tafsir dan bahkan salah menilai akibat prejudice karena pengaruh asing yang tidak ingin melihat kebesaran nilai-nilai luhur bangsa ini, yang tentunya menjadi dasar kekuatan atas kesatuan nuswantara… politisasi mengakibatkan segalanya menjadi serba abu-abu… padahal jika ditelisik lebih dalam, tentunya kita dapat belajar, mengambil unsur-unsur yang baik, dari budaya yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, baik dalam hubungannya antar manusia, dengan alam maupun dengan Sang Pencipta…

      he…he…he… serius capek juga….

      selamat pagi, siang, sore, malam, waktu setempat, sanak kadang cantrik dan mentrik semuanya…

      • Matur nuwun Eyang Joyorogo lan Eyang Banuaji, cobi menawi sadoyo sadherek kados panjenengan. Ayem tentrem gesang puniko.

        • wah, jangan seperti saya, ki… kalau seperti eyang bayuaji dan eyang jayaraga apalagi seperti ki tumenggung kartojudo atau ki tumenggung yudha pramana, baru negeri ini adem ayem tentrem gemah ripah loh jinawi…

          • Ops..saleh..eh..salah Ki..bukan gue nih yee..eh..tapi Ki P Satpam yang bikin itu ayem..tentunya setelah rontal diwedar…xixixi

          • aaayyyammm…

            nak ayam..nak ayam …

          • Bubur !..bubur !
            bubur ayaamm ..!

      • Nuwun

        [On 2 Desember 2010 at 10:46 jayaraga said:] and
        [On 2 Desember 2010 at 10:50 banuaji said: ]

        Syukron. Jazaakallahu khairan.

        Aamin. Matur nuwun doanya, doa Ki Jayaraga mudah-mudahan dikabulkan Allah SWT. Semoga Dia Yang Maha Kasihnya Tak Terbatas membalas juga dengan kebaikan, keselamatan, kesehatan, rahmat dan berkah kepada Ki Jayaraga dalah sakulawargå, Dan pada Allahlah terdapat kemenangan. Alhamdulillah.

        Katur Ki Banuaji. Matur nuwun kawigatosanipun ugi. Insya Allah mbotên watos dangu énggal kababar jawaban salajêngipun. Nyuwun sèwu nêmbé nglanglang jagad, wontên ing Tlatah Sêgårå Kulon.

        Nuwun

        punåkawan

  12. Assalamu’alaikum, selamat siang..

    • waalaikum salam…

      ditunggu di tempat biasa yo Non

  13. Hadirrrrr…..haduh….it’s a hot day…

  14. Menopo bade wedar awal malih, nGGer?
    Wis tak nganggu sragam Perwira Pajang malih …
    Isi aku …

    • Wis..yah mene koq dereng sare njihh..

      • serangan tengah malam…

        • nJih … leres Ki, serangan WAJAR …

  15. Nomer telu wolu

  16. Nuwun sewu….kulo tiyang enggal ning asring slinthutan ngundhuh rontal…
    Badhe nyuwun pirso, wonten gandhok pundi to Rontal HLHP-58 meniko saged dipun undhuh?
    Matur nuwun

  17. melu sebo awan

    • melu sebo mengko sore

      • mumpung jembar segorone….
        mumpung padhangrembulane…

        • yo..surak-o suraaaak…
          horreee……!

        • mumpung bening banyu blumbange
          mumpung bersih sukete

    • Aku ra melu yo…

      • melu tho Jeng..monggo melu dolanan kalangan…panjenengan ditengah !..

        • ki kartoJ iki senengane golek sing tengah…

          • Hikss…koyone penak…

  18. aku melu jamurane, ning nang pinggiran wae

    • Lha njih tho Ki..nek dolanan jamuran priyayi kakung wonten pinggir antri..eh..ndamel kalangan mubeng2..sing jogo wonten tengah….hikss

  19. Sugeng sonten…

    Ngapunten nembe sowan.
    Kok pada ribut2 do arep Jamuran, aku kok ra di jak tho. Teganya… teganya

    • Jamuran jamuran jamure jamur teci
      Sing numpak ndoro bei sing ngiring por mentri
      Tek tek nong 2

      • Wah, lagi ngerti… Jamuran lagune kaya ngono.
        Jamuran feat Jaranan tho Ki PA?

        • Meh nulis jaranan wedi kuwalat…niki malem jaranan je

  20. absent lagi euy..

  21. beberapa kali sudah ingak-inguk.
    sekarang hadir.

    • melu baen enyong ki

    • Kaki Mukidi keprimen kabare Cilacap? Esih nang lore segara kidul ya?

      • tesih ki truno ning saniki lagi banjir, wong udan baen

  22. Sugeng dalu,
    sugeng malem Jum’atan.
    Pilih sunah opo pilih wajib, anggone arep mateni Yahudi?.

    • Bengi2 maem lepet
      Lepete soko ketan
      Bengi iki kudu ngempet
      Mergo ora ono ketan

    • Malam sabtunya, sang istri “nagih” lagi.Dengan “gaya ngeles” sang suami menjawab :”bangke Yahudi yang kemaren aje belon dikubur”

  23. Lho durung wedaran ya?
    Ya wis tirakatan maning.

    • monggo Ki TP, rontal wis di wedar
      KAMSIAAAAAAAAAAAAA

      • Kamsiaaaaaa…..
        terus njawabnya gimana?

  24. matur nuwun paringanipun cemilan, ….

  25. Monggo, rontal 058 sudah siap untuk camilan malam hari.
    Matrur nuwun Ki Panji, ……

  26. tlemak tlemek, rindak rindik, nunak nunuk arep mlebu gandhok malah kejedhos lawang gandhok, eh mak grobyak malah ketiban rontal 058…..!!!!!!
    he….he….he……
    rejeki ora bakal mBlayu……

    matur nuwun Ki Ajar pak Satpam.

  27. Lesung jumengglung sru imbal2an

  28. Nuwun
    Sugêng énjang

    Lêsung jumêngglung sru bal imbalan

    Lama sudah tidak terdengar tembang indah dari lêsung jumêngglung. Padahal dulu kurang lebih 40, 30 atau 20 tahun yang lalu setiap pagi menjelang Subuh, saput siti, ésuk umun-umun sebelum plêtheking srengéngé, pada musim panen tiba, selalu diawali dengan tembang lêsung jumêngglung.

    Kluruknya jago, ciap-ciapnya burung pipit, mbrêngêngênging tawon di kuncup-kuncup bunga, sangitnya gêni bêdiang, dan suara sénggot timba. Orang nyapu latar, yang ditingkah suara garèngpung, dan têmbang bocah angon.

    Jago kluruk,gåndå sangit pêganing gêni bêdiyang, suara sénggot timbå , mbrêngêngênging tawon, kalau musim kemarau ditingkah suara garèngpung. dan lamat-lamat suwårå têmbang bocah angon, yang dibawa hembusan bayu pagi pelahan dari lereng bukit.

    Mengalir dan gemericiknya air bening sungai tepi desa yang mengairi sawah-sawah, seakan menggambarkan rahmat Tuhan yang tiada putus-putusnya mengalir memberikan air kehidupan bagi hamba-hambaNya.

    Suatu komposisi suasana alam di pagi hari yang sangat indah. Komposisi suasana alam ndéså yang sangat indah di pagi hari nan sejuk.

    Tembang puja semesta alam mengagungkan Sang Maha Pencipta.

    Pangéran Gusti Ingkang Måhå Wêlas Asih.
    Gusti Ingkang Måhå Suci såhå Gusti Ingkang Måhå Èndah.
    Gusti Ingkang Måhå Kagungan Kaagungan lan Kamulyan.
    Gusti Ingkang Måhå Nggêsangakên,
    Gusti Ingkang Måhå Mangsulakên Kagêsangan,
    Gusti Ingkang Sih Katrésnanipun Tanpå Watês Tanpå Wilangan.

    Subhanallah .

    Tetapi masih adakah suara tembang lesung yang sru bal imbalan? Masihkah air bening mengalir membawa rahmat?

    Demi alasan pembangunan, lumbung padi depan rumah sudah lama tergusur terkena pelebaran jalan; lêsung-lêsung tak lagi jumêngglung, mungkin sudah jadi kayu bakar, atau teronggok di sudut halaman menjadi monumen bisu, lama-lama lapuk dimakan usia.

    Jago kluruk tak pernah ada lagi, karena kandang-kandangnya telah berubah menjadi rumah sepetak-sepetak kontrakan orang.

    Suara alam pagi itu tak terdengar lagi, diganti hiruk pikuk bajaj pasti berlalu yang selalu berisik, Sangitnya geni bediang berubah menjadi bau asap knalpot. Sénggot timba tergantikan suara mesin pompa air yang berisiknya minta ampun.

    Kluruk jago sudah tergantikan dengan jam weker dan alarm telpon selular yang waktunya bisa diatur sesuai keinginan pengguna.

    Suara orang nyapu latar, garèngpung, kluruk jago,têmbang bocah angon, gåndå sangit pêganing gêni bêdiyang, suara sénggot timbå , mbrêngêngênging tawon. Kini tak ada lagi.

    Air bening yang mengalir gemericik di pinggir desa itu, kini sering menunjukkan kemarahannya. Banjir bandang. ….. dan rahmat Tuhan?

    Masya Allah.

    Dhuh Gusti Ingkang Måhå Wêlas Asih.
    Ampuni dosa dan kesalahan kami yang tak tahu berterima kasih atas keindahan alam yang Engkau berikan.
    Dhuh Gusti wålå-wålå kuwåtå.

    Nuwun

    punåkawan

    • Lesung jumengglung sru imbal imbalan
      Lesung jumengglung manengker mangungkung
      Ngumandang ngebak-i sak jro ning padepokan
      Tek tek tok tek tek gung tek tek tok tek tok tek gung….

      Sugeng enjing Ki Puna, Kisanak sedoyo…

  29. Matur nuwun,…

    Sepertinya lama tidak ngisi daftar hadir
    Semoga sehat-sehat saja

    • Alhamdulillah sehat ki,
      ngapunten lagi banyak rumput yg harus dicabuti jadi agak keteter sambang gandok + maosipun.
      Beberapa hari yg lalu habis pulang dari kebon, naik pedati malam2 ya agak nyatai, tiba-tiba ada pedati lain nyruduk dari belakang ya jadi harus urusan sama para telik sandi deh…
      Tapi sekarang semua sudah beres, alhamdulillah.
      Hikmah yg bisa dipetik :
      Walaupun kita sudah berusaha hati-hati, e… ternyata orang lain belum tentu hati-hati (dari bau mulutnya sais pedatinya agak mendem).
      Tapi yg jelas apapun cobaannya, kita tetap harus bersyukur masih selamat, sehat dan bisa gojegan di sini, amiin.

    • Haloo…P Satpam !!

      • Haloo….. Haloo….. Halooo…..
        wah…, capek juga ya, harus mencungul-mendelep terus teruan

      • mlebu..tapi metu….

        opo hayoo…..????

        • senik..eh..benik…

          • liyane….

            mlebu tapi metu
            metune ra ning njobo
            metu tapi neng njero…

            ????? ora saru lho

          • Sambil menyelam(mlebu) buang air(metu)…hayooo bener po ra Ki..?

          • seratus utk ki kartoJ

            ciblon..tapi metu

        • wis jan…., pancen mbeling puol…
          lha wong ciblon kok yo karo ngompol

    • sstt… (sambil timak-timik mendelep lagi)
      mau pamer ilmu baru kok ya Kiaine (Ki Arema)pas rawuh
      he he he …., mendelep lagi ah….

      • Lha mbok diwedar kemawon ilmune

        • kuwi rapalane mung setan ora doyan, demit ora ndulit…

          sElamat malam bbwi, ki arema, ki pak satpam, ki ismoyo, ki tumenggung kartojudo, ki tumenggung yudha pramana, ki tumenggung anatram, ki pandanalas, ki bayuaji, ki jayaraga, ki jagabaya, ki wiek, ki bancak, ki honggopati, ki sas, ki donoloyo, ki truno podang, ki djojosm, ki truno prenjak, ki lazuardi, ki sukra, ki sukasarana, ki si_tole, ki rangga widura, ni nunik, ni ken padmi, ni miss nona, ki arga, ki mukidi, dan sanak kadang cantrik dan mentrik semuanya…

          terima kasih ki arema, ki ismoyo, kI pak satpam dan para bebahu padepokan…

    • Assalamu’alaikum, selamat siang…
      Oh.. ternyata, Ki P.Satpam tampangnya seperti yang diatas, apa istilahnya itu : menchungul…mendelep…hehehehe lutuna…
      Kalau yang lain seperti apa yach…?

      • mlebu..metu…hikss

      • kalau ini kaya sapa ya?

        Ki Pandan waktu kecil ayake, sing mbelinge pol.

        • huwahahahaaa…..reti wae..

  30. Matur nuwun P. Satpam.
    Senadyan mundlap-mundlup, nanging langsung saget disedot.
    Sugeng enjing, sugeng makaryo.

  31. Gandok 59 isih digembok rapet:
    Maaf, tidak ada tulisan yang memenuhi kriteria Anda.

    • Menurut PRIMBON, mestine sekarang sudah wedar0-59,
      apa nGGer Satpam lahir-e Jumat Paing?

  32. pareng masang gambar menapa ?

    • Monggo, apa saja, biar rame, asal tidak bikin ribut.

    • Kulo gadhah gambar hot-hot lho…kerso mboten ?
      Nek ki Djojosm kagungan videone…ihiksss

      • Naliko aku isih cilik … aku seneng UDO,
        isis rasane …. aku ya isih duwe photo-ne,
        Opo oleh nJih … nek tak tayangno saiki, mumpung ora ana mentrik-e …?

        • Angsal Ki…..sing penting durung metu ram**t-e….

          • @ Pak Satpam
            Kulo badhe ngintun fotonipun Ki Pandanalas semasa kecil. Alamat email padepokan napa toh? Matur nuwun

          • monggo ki
            pelangisingosari@gmail.com

        • Hadu….

          • Pak Lik, piye nek dak kirim japri….ihikssss

  33. Tembang yang lagi ngetop di tlatah Mentaram :

    Kowe bocah bodho melolo kaya KEBO
    lemu gina ginu ora kuru kaya aku
    yo ben aku kuru ora kurang sandhang pangan
    sinau pikiran kanggo njaga persatuan.

    jarene judule MEMBINGUNGKAN……..

    HE….HE….HE…..
    Sugeng dalu.

  34. Sugeng dalu Ki Gembleh.
    Lagune ngelingake dek cilik.

  35. Sugeng dalu,
    kadang sedoyo.
    Sugeng sare, jalaran ditunggu nganti wengi P. Satpam ora bakal wedar.

    Lha rak ketoro to yen mbukak gandok mung nunggu kiriman!!

    hikss…
    Pak Satpam rupanya kecapekan
    Kok bisanya tidur di depan monitor, sambil mendengkur lagi
    Tapi rupanya weker sudah disetel 12.00 untuk buka gandok.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: