HLHLP-060

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 6 Desember 2010 at 00:01  Comments (60)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-060/trackback/

RSS feed for comments on this post.

60 KomentarTinggalkan komentar

  1. Kriki….tttt
    Gandhok dibuka dulu dan silakan leyeh-leyeh … dan ngleker maneh😉

  2. Tumben lama nggak ke Padepokan, bisa dapat No 2.
    Bagaimana kabarnya KI Arema?

    Alhamdulillah, baik-baik saja Ki.
    Semoga demikian juga halnya dengan Ki Sabalintang.

  3. selamat malam bbwi, sanak kadang sekalian…

    siap-siap nyuci pusaka…

    • memangnya kalau mau 1 muharam harus nyuci pusaka? kenapa?

      • terutama pusaka warisan nenek moyang….
        kudu jangkep ubo rampene…

        • he…he…he… pusaka yang ini tidak hanya setiap mau 1 sura saja, tapi tiap ada kesempatan…

          “Mandeg greg kadyo tugu sinungkarta Raden Wibisana oneng jroning penggalih, jagad mendung pada sanalika, manuk-manuk kang pada mabur pada nyalorot ing lemah pating ketotor wulune, mino-mino kang ana jroning telaga pada ngambang minggir ing gisiking telaga bebasan godongan tan ora obah, labet samirana datan lumampah.”

  4. Esuk2…uthuk2…nunak nunuk…Pak Like sajak duko…ono sing membo2 neng gandhok seket songo..nggondhok dech

  5. Alahamdulillah speedy sudah bisa aktif lagi. Bisa nyambangi konco-konco.
    Selamat pagi Saudaraku semua.
    Semoga sehat selalu.

  6. Senin yang cerah untuk Long..long week end.

    Selamat tahun baru 1 Muharam 1432 H.
    Marilah kita berhijrah menuju kebaikan dan keridhaan.

  7. sugeng enjing

  8. sugeng enjing poro kadang sedoyo, soho sugeng warso enggal 1 Muharam 1432 H

  9. Sugeng enjing para sanak kadang Padepokan…
    Sugeng warso enggal 1432 H..
    Kemutan jaman taksih wonten jogja saben malem tanggal 1 Muharam ngawontenaken Lelaku….
    Sakniki taksih mboten ggih….sampun sawetara wekdal dereng tuwe kampung…

    • Kulo njih nembe padhos kembang 7 taman, banyu 7 sumur, lemah 7 gunung, ayam 7 ras

      • Wah laku ki Pandan Radi Ribet..
        Yen kulo namung pados tempuran lepen mawon …
        Emanipun Batam mboten wonten lepen,namung kedung kaliyan kisiking samudra mawon…

  10. genk enjang….
    mari ndeleng Pak Satpam njoget neng gandok mburi…
    asik juga….

  11. Assalamu’alaikum,selamat pagi menjelang siang….

  12. Sugeng siang poro kadang sedoyo, soho sugeng warso enggal 1 Muharam 1432 H

  13. sugenG enjanG kisanaK …..
    kI pandanalaS bilanG nggeR satpaM lagI dukO … (mangkeL), tapI kI samI bilanG nggeR lagI jogeT nenG mburI….

    sinG lereS sinteN njiH? menawI keduanyA lereS …
    berartI, kalaU nggeR satpaM nggondoK …. lanngsunG mblayu nenG tegalaN lalU berjogeT ……
    hikS ….

    taK mbayU disiT saK durungE disawaT hlhlp-60 …

    • Sugeng sare…..

      • nembE ngileR ……
        eehhh nembE ngliliR ……

        • Hikss….yah mene wis ngiler….

      • Lha mbok nyawate dimajukan aja, …… udah pasang badan kok nggak nyawat2. Opo nunggu wejangan Ki Punakawan dulu ya?

        • Nunggu Ki Wid…kramas..

        • Lho sememangnya habis bobo2 siang?

        • SakdurungE disawat-nE, rontalE ditalenI disiT …..
          dadI begitU disawatnE daN kenA kanG kartO … rontal-E tibO …. njuR ditariK mainG ….

          ketokE, nggeR satpaM lagI latihaN juruS sendaL pancinG. ….

        • Apa secara historis tau kelakon nyawat rontal awan2? Atau berhubung ini malam tahun baru jadi dilaksanakan siang2 sekalian 2 pesawat.

          • maen awan….mesthi sensasine bedho lho ki (jarene lho)

          • areP onO rapelaN ,,,,

          • Awan awan matuni suket cedak blumbang padang tenan.
            Ketingal sedaya njih Ki PA?

          • mmm…nganu ki Djojosm…
            kulo ajrih didangu ki Truno dalah ki Honggo…
            mboten badhe ngudoroso bab sawah-galengan-blumbang-suket…ihikss

  14. Ada berapa pemain Malang di kesebelasan Nasional yang menang 6 – 0 ?? Kalau bisa jawab bonus 60 (6-0)bisa dikeluarkan ……..

    He… he….. he……

  15. Poro Sanak Kadang Pdls-ers,
    Menjelang Tahun Baru, ada baiknya kita merenung dan bertafakur, apakah ibadah kita saat ini sudah lebih baik dari kemarin, ……. dan marilah kita merencana untuk beribadah lebih baik pada esok hari dari pada ibadah kita hari ini.
    Ada artikel menarik nih, untuk pembelajaran kita.

    Benarkah Madonna Masuk Islam?
    26 Nopember 2010
    HMINEWS- Kelahiran dan kematian putrinya menjadi titik perubahan dalam hidupnya. Ketika tahu dirinya hamil, Madonna Johnson tahu bahwa ia akan menjadi orang tua tunggal. Jika karena bukan rasa cinta, pengabdian dan dukungan dari ibunya, Madonna mungkin tidak akan pernah bisa melewati semua persoalan hidupnya.
    Namun Madonna harus kehilangan putri yang baru dilahirkannya. Pada usia 5 bulan, bayinya meninggal akibat “Sudden Infant Death Syndrome” (SIDS) yang dalam dunia kedokteran dikenal sebagai kematian tiba-tiba pada balita yang tidak diketahui penyebabnya. Kematian putrinya yang mendadak, membuat Madonna sangat berduka.
    “Saya belum pernah mengalami rasa sakit seperti itu, panik dan merasa sangat hampa. Tapi saat pemakaman, saya mengatakan pada orang-orang bahwa saya percaya sepenuh hati Tuhan tidak akan memberikan rasa sakit jika Dia tidak memiliki sesuatu yang luar biasa untuk saya di masa depan, apa yang harus saya lakukan adalah tetap berada di jalan yang benar dan Tuhan akan menunjukkannya begitu saya siap,” ujar Madonna mengenang saat pemakaman bayinya.
    Ia mengungkapkan, ketika itu teman-temannya mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan putrinya lagi kelak. Madonna menanyakan bagaimana orang tahu bahwa ia akan masuk surga? Hanya karena ia seorang Kristiani, tidak ada jaminan ia masuk surga apalagi ia bukan seorang Kristiani yang taat. Begitu banyak pertanyaan Madonna yang tak terjawab. Tanpa sadar ia mulai mempertanyakan soal “satu agama yang benar” yang bisa menjaminnya masuk surga untuk bertemu lagi dengan putrinya.
    Madonna sejenak melupakan pertanyaan itu. Ia mendapat pekerjaan di sebuah bar di Indianapolis dan bertemu seorang perempuan yang kemudian menjadi sahabat baiknya. Temannya itu memiliki sejumlah bisnis, tapi bisnisnya tidak terlalu sukses. Suatu hari, temannya itu menanyakan apakah Madonna mau pergi ke Malaysia. Ia mengatakan butuh tenaga Madonna untuk membeli busana model Malaysia, membuat foto-fotonya dan mencari sesesorang yang bisa menangani ekspor impor. Tanpa pikir panjang, Madonna menerima ajaka temannya itu.
    “Saya tiba di Kuala Lumpur di pertengahan bulan Ramadan. Saya belum pernah mendengar soal agama Islam dan tidak tahu bahwa Malaysia adalah negara Muslim. Saya melihat hampir semua perempuan menutupi kepalanya dengan kerudung bahkan dalam cuaca yang sangat panas. Saya juga menyaksikan bagaimana orang-orang berusaha bersikap baik pada saya,” tutur Madonna.
    “Seorang sahabat yang sangat spesial menjelaskan pada saya bahwa Malaysia adalah negara Islam, dan Muslim meyakini jika mereka berbuat baik pada orang lain, Allah akan senang dan akan memberikan pahala bagi mereka di Hari Akhir nanti,” sambungnya menirukan penjelasan sahabat spesialnya.
    Di sisi lalin Madonna melihat sisi negatif Islam, seperti pandangan orang-orang yang sebenarnya tidak banyak tahu tentang Islam. Ia lalu membeli beberapa buku Islam, termasuk Al-Quran dan mulai mempelajari Islam. Banyak pertanyaan yang diajukannya tentang ajaran Islam, misalnya; mengapa perempuan harus menutup seluruh tubuhnya kecuali tangan dan wajah, mengapa muslim sangat bahagia dan mau berpuasa sepanjang siang hari, mengapa ada orang mau berlapar-lapar dan itu membuat mereka bahagia?
    Madonna merasa tidak ada orang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik untuk menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanya annya itu, sehingga Madonna memilih untuk mencarinya dalam Al-Quran.
    “Semakin saya mendalami agama Islam, saya makin sering bertanya-tanya apakah ini jalan untuk bertemu dengan putri saya, apakah agama ini akan membawa saya ke surga?” imbuh Madonna.
    Ganjalan terbesar bagi Madonna tentang Islam adalah perbedaan konsep Yesus (Nabi Isa) dalam Kristen dan Islam. Ia membayangkan betapa sulitnya menjelaskan pada keluarganya soal perbedaan itu. “Saya punya persoalan di sini, haruskah saya mengambil tantangan ini … menjadi seorang muslim dan berjalan menuju surga? Atau saya menolak kebenaran yang telah saya yakini dalam hati hanya karena takut akan penentangan dari keluarga dan teman-teman saya … dan hanya untuk tinggal di neraka selama-lamanya? ” hati Madonna masih risau.
    Pikiran apakah ia seharusnya segera masuk Islam atau tidak membuatnya merasa gelisah setiap hari. Bagi Madonna, keputusan itu tidak mudah. Islam bukan agama paruh waktu, seorang muslim sejati tidak mempratekkan Islam satu kali seminggu.
    Islam adalah agama yang menyeluruh dengan tantangan dan perjuangan yang berat, tapi juga memberikan banyak keindahan. “Makin banyak Anda belajar dan memahami (Islam), semakin Anda menyadari bahwa Anda hanya harus memulai sebuah langkah, yang membuat Anda harus berusaha keras dan belajar lebih banyak lagi,” ungkap Madonna.
    Dan sampailah ia pada suatu hari dimana ia dengan mantap mengatakan,” Ok, saya yakin, saya akan masuk Islam” dan sejak itu segala keresahan dan kegundahannya sirna. “Alhamdulillah. Semua rasa pedih yang saya alami di masa lalu, termasuk rasa sakit akibat kematian putri saya, semuanya sirna. Tak ada lagi mimpi buruk dan saya merasakan kedamaian yang luar biasa,” tandas Madonna.
    Madonna mengunjungi PERKIM, sebuah organisasi muslim di Malaysia dan ia di sana ia mengucapkan dua kalimat syahadat. “Hati saya diliputi kedamaian dan rasa cinta pada Allah Swt. Alhamdulillah, ” tukasnya.
    “Tentu saja tantangan masih menghadang. Menjadi seorang muslim bukan berarti saya tidak menghadapi masalah. Tapi menjadi seorang muslim, saya punya solusi atas semua persoalan yang menghampiri saya, dengan mengikuti jalan kebenaran, jalan Islam. di ujung jalan ini, terbentang surga, ada putri saya dan banyak kenikmatan lainnya.”
    “Segala puji bagi Allah Swt. yang telah membawa saya ke dalam kebenaran dan atas rahmat-Nya yang telah menjadikan saya seorang muslim,” tandas Madonna. (sumber: eramuslim)

    • @ Ki Truno Podang,
      Artikel yang menarik sekali, sebagai “kaji diri“. Matur nuwun Ki.

      punåkawan

  16. awan awan kawulo sowan

  17. Nuwun

    Beberapa saat lagi untuk wilayah Indonesia Barat, akan memasuki:

    Tahun Baru Jawa (1 Suro 1944 Be) –Tahun Baru Hijriah (01 Muharram 14342 H)

    [bertepatan dengan Tanggal Masehi: 6 malam tangal 7 Desember 2010; Dinå – Pasaran: Sêlåså Wagé; Windu-Lambang: Sengårå, Kulawu; Nama Wuku: Galungan; Mångså: Kapitu – Palgunå (22/11 s/d 02/02); Sadwårå: Tunglé; Haståwårå/Padéwan: Sri; Sångåwårå/Padangon: Dangu; Saptåwårå/Påncåsudå: Wasésa Sêgårå; Rakam: Mantri Sinarojå; Paarasan: Lakuning Bumi.]

    Berbeda dengan perhitungan kalender masehi, yang mengikuti peredaran matahari (Tahun Syamsiah — Solar System), maka setiap perubahan tanggal dimulai pada tengah malam pukul 00.00 waktu setempat, sedangkan kalender Jawa dan kalender Islam mengikuti peredaran bulan (Tahun Qomariyah — Lunar System), sehingga pergantian tanggal 1 (bulan mati) dimulai saat penampakan bulan sabit di ufuk langit barat. Teoritis dimulai pada pukul 18.00 waktu setempat.

    Dengan demikian maka mulai pukul 18.00 wib tanggal 06 Desember 2010, untuk wilayah Indonesia bagian Barat telah memasuki Tahun Baru Jawa 1 Suro 1944 Be dan 1 Muharram 1432H.

    Punåkawan ngaturakên dumatêng pårå kadang sutrésnå padépokan pêlangisingosari:

    SUGÊNG WARSÅ ÉNGGAL 1 MUHARRAM 1430 HIJRIYYAH, 1 SURO 1944 BÉ.

    Sumånggå pårå kadang, samyå nênuwun dumatêng Gusti Kang Akaryå Jagad:
    sami sêdhakêp mangékåpådå amêsu budi amrih wéwah waskithaning manah. Nggayuh kamulyan, mugi sadåyå titah pikantuk Sih Katrésnanipun Gusti Kang Hamêngku Jagad. Gusti Ingkang Sih Katresnanipun Tanpå Watês Tanpå Wilangan.

    Mugi-mugi ing warså énggal puniki sagêdå langkung saé tinimbang dintên ingkang sampun kapêngkêr, lan mugi-mugi dintên mbénjang sagêdå langkung saé tinimbang dintên sapuniki.

    Duh Gusti, Ingkang Maha Welas Asih. Padukå Ingkang Kagungan Kaagungan lan Kamulyan.
    Padukå Ingkang Måhå Nggêsangakên, Padukå Ingkang Måhå Mangsulakên Kagêsangan,
    Padukå Ingkang Måhå Sih Katresnanipun Tanpå Watês Tanpå Wilangan.
    Mugi pinêdahnå margi lêrês dhumatêng kawulå
    Inggih punikå margining têtiyang ingkang sami Padukå paringi kanikmatan sanés margining tiyang ingkang Panjênêngan paringi bêbêndu lan tiyang ingkang sami kêsasar.
    Mugi-mugi Panjênêngan nyêmbadhani panyuwun kawulå.

    ***

    Artikel berikut ini terdiri dari dua bagian:

    Bagian 1: 1 SURO

    Ada dua persoalan yang hendak dikaji dalam tulisan ini yaitu:

    1. Apa makna ritual budaya Malêm 1 Suro bagi masyarakat Jawa;.

    2.Bagaimana bentuk ruwatan Malêm 1 Suro bagi masyarakat awa.

    Untuk mengungkapkan kedua persoalan tersebut secara menyeluruh dan mendalam, dalam penelitian ini di gunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif.

    Metode ini digunakan untuk mencari data tentang Makna Ritual Budaya Malam Satu Suro Masyarakat Jawa sesuai dengan fakta yang ada.

    Dari hasil penelitian ini, ditemukan:

    (1). Makna ritual budaya bagi masyarakat Jawa adalah ritualitas yang memadukan antara ajaran-ajaran agama dan budaya setempat yang diwariskan oleh leluhur dengan tujuan meningkatkan hubungan dengan Tuhan atas karunia yang telah diberikan kepada masyarakat.

    (2). Bentuk-bentuk ruwatan Malêm 1 Suro yang diadakan oleh masyarakat Jawa telah diberi warna Islam berupa pengajian dan shalawatan yang diisi oleh tokoh-tokoh agama setempat dengan tujuan pemahaman akan makna ritual Malêm 1 Suro selama ini, adanya tumpeng yang dibuat oleh masyarakat Jawa dengan tujuan sebagai tanda rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas karunia yang selama ini diberikan, tanggapan wayang yang diisi oleh dalang setempat dengan tujuan mengingatkan warga masyarakat akan warisan tradisi sejarah leluhur mereka yang semakin terlupakan oleh kemajuan zaman.

    Malêm 1 Suro sangat berarti bagi Wong Jåwå, karena tidak saja memiliki dimensi fisik, perubahan tahun tetapi juga mempunyai dimensi spiritual. Wong Jåwå yakin bahwa perubahan tahun Jawa bertepatan dengan tahun Hijriyah, menandakan babak baru dalam tata kehidupan kosmis.

    Wong Jåwå menjalanku laku ritual Malêm 1 Suro dengan berbagai maksud, yang utama adalah perubahan hidup yang lebih baik di tahun akan datang yang akan dijalaninya.

    Lelakoning kanthi laku, yang dimaksud adalah laku spiritual. Setiap anggota masyarakat, anggota komunitas tertentu, atau institusi menjalankan tirakat dengan berbagai cara. Ada yang melakukan ritual selamatan dengan menyembelih korban binatang, beberapa orang mengumpulkan sejumlah dana untuk selamatan bersama, ada yang melakukan tapa brata, laku menyepi, iktikaf.

    Sedangkan di Kraton Suråkartå atau di Mangkunegaran melakukan kirab dan jamas pusaka. Masyarakat berjalan mengelilingi keraton dengan harapan menyempurnakan laku sebagai Wong Jåwå. Tempat-tempat sakral menjadi ramai dikunjungi, terutama Kraton Solo dan Mangkunegaran, pantai Parangtritis, Kahyangan, Gunung Lawu, dan tempat para Dahyang bertempat tinggal. Mereka ada yang dilakukan di rumah, di sanggar ada juga yang masjid dan di langgar, bahkan di jalanan.

    1 Suro adalah awal tahun baru, awal tahun Islam yang telah ditranskulturisasi dengan tradisi ritual Jawa Kuno. Kraton Mataram menerima dan mengembangkan ide transkulturasi terutama sejak Sultan Agung dari Kraton Mataram. 1 Suro menjadi bagian penting dari sebuah siklus kehidupan manusia. Ia menandai bergantinya Naga Dina dan Naga Tahun, yakni berubahnya sifat dan karakter kosmis, berserta dunia Gaib, yang secara langsung diyakini mempengaruhi kehidupan manusia dibumi.

    Wong Jåwå melengkapi ritual kehidupan itu sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Maha Tinitah, yang diyakini sebagai Dzat Suci yang memberi hidup dan menghidupi. Seluruh gerakan bersama, manusia dan alam, roh-roh dan kehidupan gaib, semuanya berasal dari kekuasaanNya.

    Oleh sebab itu, pergantian tahun adalah terjadinya pergantian kosmis, yang disebut sebagai siklus cakramanggilingan. Yaitu, kehidupan diasumsikan berputar silih berganti seperti berputarnya roda. Ada saat jaman keemasan (age d’or), ada saat jaman mengalami masa kegelapan, kalabendu (age de sombre). Di jaman yang bergulir manusia harus selalu eling dan waspådå.

    Apa wujud dari perilaku eling dan waspådå salah satunya dengan cara menjalankan ritual Malêm 1 Suro. Saat inilah datangnya malam tahun baru, orang harus melakukan mêsu diri (melakukan laku spiritual) dengan berkosentrasi pada penguasaan diri (mawas diri) selama semalam suntuk.

    Dalam situasi yang khusyuk tersebut, diri Wong Jåwå melebur ke dalam dunia yang tengah berubah. Memanjatkan kepada Yang Maha Agung doa dan permohonan serta rasa syukur terhadap berkah dan innyayah yang selama ini diterimanya.

    Dalam kesempatan ini pulalah, seseorang membaca perubahan yang akan terjadi di tahun mendatang. Petunjuk akan apa yang terjadi pada masa depan sangat penting bagi Wong Jåwå, terutama untuk menyikapi Naga Taun dan mengantisipasi Bencana dan menyiapkan Berkah yang mungkin bisa diberikan kepadanya.

    Bagi Raja sebagai rasa tanggung jawab kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya, yang telah memberikan kuasa kepadanya, maka Raja melakukan kirab menjenguk setiap sudut rumah-rumah warga, dengan harapan tuah dan berkahnya dapat memasuki setiap pintu rumah-rumah.

    Raja membagikan kesejahteraan, kemakmuran, kedamaian batin dan kekuatan hidup dengan cara gaib.
    Apabila tidak semua pintu rumah warga dapat dilalui, maka orang-orang yang jauh dari jalur kirab berdatangan di pinggir-pinggir jalan yang dilalui dengan harapan memperoleh tuah dan berkah yang sama.

    Raja beserta dengan pusaka-pusaka, yang belakangan ditambahkan dengan binatang Kebo Bule sebagai cucuk laku, adalah manifestasi yang sama untuk mempromosikan dan penjelasan secara simbolik antara Raja dan Masyarakatnya. Inilah makna sebenarnya manunggaling kawula (Rakyat) dan Gusti (Raja)

    Inti penjelasan dan promosi itu adalah upaya memperoleh dukungan dan legitimasi secara spiritual bahwa Raja adalah penguasa tunggal, sebagai wakil Tuhan di bumi. Tugas itu dijalankan agar masyarakat tetap mempercayai Kraton sebagai Pusat Dunia, yang menjamin terwujudnya masyarakat yang aman, adil, makmur, dan sejahtera (gêmah ripah lohjinawi kêrtå raharjå).

    Di Malêm 1 Suro masyarakat kraton berjalan mengelilingi raton tujuh kali. Setiap pojok Kraton mengucapkan puja dan puji syukur, disertai dengan permohonan-permohonan. Maka pada masyarakat Jawa Malêm 1 Suro adalah salah satu wujud hubungan antara Manusia dan Khaliknya, dalam upaya mencari keseimbangan dan keserasian hidup dengan penuh harap di tahun mendatang memperoleh kehidupan yang lebih baik.

    Malêm 1 Suro bagi Wong Jåwå adalah malam teropong kehidupan. Apa yang harus dilakukan sebagai Wong Jåwå menghadapi situasi yang tidak menentu dan agar supaya memperoleh pencerahan.

    Pertama, adalah penguasaan diri (mawas diri), yakni mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri apa yang sudah dilakukan dan apa saja yang ingin dilakukan.

    Kedua, membaca tanda-tanda zaman, yakni mencermati setiap perubahan yang terjadi disekitar kita sehingga secara dini mampu mengantisipasi dan memutuskan tindakan apa yang terbaik untuk selamat dari bencana.

    Ketiga, eling dan waspådå, dengan cara selalu ingat kepada Yang Maha Kuasa, dan selalu waspada terhadap tindakan manusia dan alam yang bersangkut paut dengan kehidupan kita.

    Ritual Malêm 1 Suro sebagai manifestasi dari rasa syukur Wong Jåwå dan malam penuh harapan agar kehidupan di setahun ke depan lebih baik, kirab Malêm 1 Suro adalah medan gaib yang dipercaya mampu mendatangkan berkah. Apa saja yang diperoleh dari Kraton, baik berupa percikan air dari jamasan pusaka, kotoran kerbau bule yang menjadi cucuk lampah, atau apa saja lambang-lambang yang diterima setiap orang yang datang ngalap berkah malam itu, semua pribadi memperolehnya dengan cara yang unik.

    Setiap orang menerima lambang-lambang khusus, yang memberi tanda berkah yang khusus pula bagi setiap orang. Kebo Bule adalah simbol kekuatan yang secara praktis digunakan sebagai alat pengolah pertanian, sumber mata pencaharian hidup bagi Wong Jåwå. Kerbau juga mempunyai nilai tinggi dalam sebuah ritual, tidak saja di Kraton Surakarta, tetapi juga di Sulawesi, Kalimantan, sehingga secara material ia menjadi simbol kejayaan dan kesuburan.

    Sebuah cita-cita yang ingin diwujudkan oleh Raja beserta rakyatnya. Kyai Slamet adalah sebuah visi Raja. Secara harfiah, visi Kraton Surakarta adalah ingin mewujudkan keselamatan dunia yang sempurna.

    Bagaimana Malêm 1 Suro bagi kraton Ngayogyakartå Hadiningrat dan masyarakatnya?

    Malêm 1 Suro bagi masyarakat Kraton Ngayogyakartå Hadiningrat, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan malam istimewa. Istimewa, karena malam itu diyakini saat terbaik untuk mensyukuri hidup dan mawas diri.

    Di antara kegiatan ritual yang dilakukan warga masyarakat adalah laku diam (tåpå bisu), yaitu laku dengan berdiam diri, merenung, hanya dengan berdiam manusia mampu mendengarkan batin dan suara hati nurani. Seperti, mengapa bencana terus menerpa Yogyakarta dan Indonesia.

    Dengan laku spiritual, diharapkan masyarakat Yogyakarta mampu bangkit mengatasi situasi lahir yang penuh dengan deraan derita.

    Malêm 1 Suro memang dikonstruksi sebagai awal bulan penuh misteri atau wingit, karena memiliki energi yang berbeda dibanding bulan-bulan lain. Oleh karena itu, Malêm 1 Suro selalu diperingati dengan berbagai macam laku spiritual untuk menangkal datangnya marabahaya.

    Jika orang Tionghoa memperingati Imlek dengan harapan mendapatkan rezeki melimpah, Wong Jåwå lebih mementingkan ketentraman batin dan keselamatan.

    Ketika memperingati Malêm 1 Suro, diharapkan juga mengingat kembali jasa Sultan Agung yang telah memadukan kalender Saka dari India dan kalender Hijriah dari Arab dengan menciptakan almanak Jawa.

    Sebuah laku budaya tradisi merupakan manifestasi turun-temurun yang diberikan para leluhur untuk memahami situasi, karena pola pikir sudah tidak lagi menjangkau untuk mampu memuatnya. Semua diarahkan pada sebuah upaya meminta kekuatan dari Tuhan Yang Maha Kuasa agar terbebas dari cobaan yang mendera masyarakat Yogyakarta dan Indonesia akhir-akhir ini.

    Laku pada Malêm 1 Suro bisa disebut lampah ratri ambirat wêngi, yang mengandung makna “mengatasi kegelapan mengusir kekelaman” , agar mampu menangkap hidayah Tuhan bahwa sehabis gelap akan terbitlah terang.

    *********************************************

    Bagian 2: 1 MUHARRAM

    Firman Allah SWT:

    lan nitahaké srêngéngé lan rêmbulan kanggo pêpétungan kang têtêp. Kang mangkono iku kuwasaning Pangéran Kang Kagungan sifat Måhå Mulyå tur Kang Måhå Wikan.

    dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.

    [QS. Al An’aam (6) : 96]

    Pårå manungså pådhå takon marang sirå pêrkårå ananing rêmbulan. Sirå dhawuhå: ‘iku panêngêran wêktu tumrap kapêrluaning manungså.

    Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia…

    [QS Al Baqarah (2) : 189]

    Menurut riwayat para ulama ahli tarikh yang masyhur, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab ra. ketika beliau menjadi khalifah pada tahun 17 Hijrah. Menurut kisahnya, hal ini terjadi disebabkan pada suatu hari Umar menerima sepucuk surat dari sahabatnya, Abu Musa Al-Asy’ari ra. tanpa dibubuhi tanggal dan hari pengirimannya.

    Hal itu menyulitkan bagi Umar untuk menyeleksi surat yang mana terlebih dahulu harus diurusnya, sebab ia tidak menandai antara surat yang lama dan yang baru.

    Oleh sebab itu, Umar mengadakan musyawarah dengan orang yang terpandang dikala itu untuk membicarakan serta menyusun masalah tarikh Islam.

    Dalam musyawarah tersebut ada beberapa pilihan tahun bersejarah sebagai patokan untuk memulai tarikh Islam tersebut yaitu: tahun kelahiran Nabi Muhammad, tarikh kebangkitannya menjadi Rasul, tahun wafatnya, atau ketika Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah.

    Di antara pilihan tersebut maka akhirnya ditetapkanlah bahwa dimulai dari hari berpindahnya (hijrahnya) Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah menjadi awal tarikh Islam yaitu awal tahun Hijriyah, sebagaimana dahulu telah ditetapkan bahwa, hari Nabi Isa as. dilahirkan ditetapkan sebagai awal tahun Miladiyah atau Masihiyah.

    Kemudian setelah permulaan tahun itu diputuskan, maka dimusyawarahkan pula bulan apa yang baik dipergunakan untuk tiap-tiap awal tahun tersebut.
    Akhirnya setelah dipilih maka ditetapkanlah bahwa bulan Muharramlah yang dipergunakan untuk permulaan tahun Islam.

    Kenapa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ditetapkan sebagai permulaan Tarikh Islam (Tahun Hijriah)?

    Hijrahnya Nabi sangat besar artinya dalam sejarah perkembangan da’wah Islamiyah. Karena setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, da’wah Islam mulai mencapai kejayaannya yang gemilang.

    Kalau sebelum hijrah ummat Islam adalah golongan yang ditindas dan disiksa oleh kaum Musyrikin, maka setelah Nabi hijrah kaum muslimin telah mempunyai kedudukan yang kuat dan telah terbentuk sebuah negara Islam yang memiliki peraturan, pimpinan serta undang-undang tersendiri.

    Oleh karena itu diharapkan peristiwa hijrah akan dikenang oleh umat Islam pada tiap-tiap tahun bagaimana perjuangan yang gigih dan pengorbanan tenaga dan jiwa raga Nabi serta para sahabatnya dalam meneggakkan Islam.

    Disamping itu hijrah Nabi juga menunjukkan bahwa Allah memisahkan dan membedakan antara yang haq dan yang bathil, membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

    Dalam pada itu tidak ada satu ritual yang khusus yang diajarkan oleh Rasululuah SAW untuk menyambut Tahun Baru Hijriah.

    Lalu pada bulan Muharram apa yang sebaiknya dilakukan umat Islam?

    Dalam beberapa riwayat kenabian Muhammad Rasulullah SAW, bahwa pada bulan Muharram, beliau justru memperbanyak ibadah, di antaranya puasa Hari Asyura (tanggal 10 Muharram, bukan pada tanggal 1 Muharram).

    Mengenai puasa ini ada yang menjadikannya sebagai sunnah muakkad (ditekankan) ada pula yang ghairu muakkad (tidak ditekankan). Dalam salah satu hadits Bukhari Muslim disebutkan :

    Diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa orang-orang Quraisy biasa melakukan puasa Asyura’ pada masa jahiliyah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk berpuasa hari Asyura’ sampai diwajibkannya puasa Ramadhan. Dan Rasul berkata, barang siapa ingin berpuasa Asyura’ silakan berpuasa, jika tidak juga tak apa-apa

    Hadits lain menyebutkan: “Dari Ibn Umar dan Aisyah ra.: diriwayatkan dari Ibn ‘Amr ra. bahwa Nabi saw. telah berpuasa hari Asyura’ dan memerintahkannya (kepada umatnya) untuk berpuasa pada hari itu. Dan ketika datang Ramadhan maka puasa Asyura’ beliau tinggalkan, Abdullah (Ibnu ‘Amr) juga tidak berpuasa”. (H.R. Bukhari).

    Dalil lain menyebutkan:

    Hari ini adalah hari Asyura’, dan Allah tidak mewajibkannya atas kalian. Siapa yang mau silakan berpuasa, yang tidak juga boleh meninggalkannya.

    Adapun kata muharram berasal dari kata `harrama` yang mengalami perubahan bentuk menjadi yuharrimu-tahriiman-muharraman-muharrimun`.

    Bentukan`muharraman` berarti yang diharamkan.
    Apa yang diharamkan? Perang atau pertumpahan darah! Sebagaimana disebutkan Allah dalam QS. At Taubah (9) : 36

    Satêmêné wilangané sasi mungguhing Pangéranirå ing ndalêm sêtahun iku rolas sasi, wus tinulis ånå ing kitabé Gusti Pangéran (Lauh al Mahfudz), nalikå dumadining langit lan bumi biyèn, ånå papat kang diarani sasi haram.

    Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah sebagaimana disebut di Kitabullah ada duabelas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, dan terdapat empat bulan di dalamnya merupakan bulan yang diharamkan`

    Muharram lebaran anak yatim?

    Di sebagian masyarakat kita lazim dan mengenal istilah Muharram adalah lebarannya anak yatim, yaitu menyelenggarakan sebuah acara dimana mereka memberikan santunan kepada para anak yatim di hari yang telah ditentukan dalam setiap tahun baru Muharram, yaitu antara 9 dan 10 Muharram setiap tahunnya.

    Sebagian besar masyarakat yang taqlid kepada para sesepuhnya, gurunya, kyainya, ulamanya, ustadznya, pemimpin spiritualnya berbondong-bondong mengadakan acara-acara apapun dalam menyambut tahun baru Muharram, semacam malam muhasabah, dzikir bersama, do’a tutup tahun-buka tahun, shalat tasbih dengan ditentukan waktunya, dianjurkannya puasa 10 hari dari awal bulan Muharram hingga tanggal 10 Muharram, dan lain sebagainya. Perebuatan tasyabbuh dan meniru kaum kuffar ini terus berlanjut hingga kini.

    Dan ketika akan menginjak hari ke-9 atau hari ke-10 Muharram, giliran mengadakan acara-acara di antaranya mengundang para anak yatim, membagikannya uang, sembako, pakaian, dengan diiringi suara-suara marawis/qasidahan, di suatu tempat semisal masjid/musholla/rumah, dan lain-lain.

    Ada kesan lain yang patut disoroti dari perayaan tahun baru Muharram berkenaan dengan santunan kepada anak yatim ini. Di sau sisi kita diwajibkan untuk memuliakan anak yatim, menanggung kehidupannya, menyayanginya, dan segala amal kebaikan yang menyenangi anak yatim maka ia akan mendapatkan ganjaran seperti dalam hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhari dari jalan Abu Hurairah, bahwa Nabi Yang Mulia Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

    Orang yang menanggung anak yatim baik anak yatim itu ada hubungan kekeluargaan maupun tidak, maka saya dan orang yang menanggungnya seperti dua jari ini di dalam surga.”.

    Malik bin Anas perawi hadits itu mengatakan, beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah.

    Terhadap anak yatim pula kita sebagai muslim dilarang menghardiknya (QS. Adh Dhuha (93) : 9), dan dalil-dalil lainnya yang memiliki kaitannya dengan muamalah terhadap anak yatim.

    Di sisi lain, fenomena yang terjadi saat ini adalah sangat disangsikan dan sungguh sangat jauh dari apa yang disyari’atkan dalam islam. Dimana para kaum muslimin kebanyakan mengadakan acara lebaran anak yatim dengan membedakannya terhadap lebaran kaum muslimin pada umumnya. Hal ini pada hakikatnya adalah merendahkan anak yatim dan memberikan pembedaan kepada anak yatim dan seakan anak yatim bukanlah bagian dari kaum muslimin pada umumnya sehingga mesti dibuatkan lebaran sendiri.

    Dengan demikian, jelaslah apa yang dikatakan oleh sebagian orang kaum muslimin yang belum memiliki pemahaman yang sempurna dan hanya taklid kepada para ustadzahnya, bahwa hakikatnya lebaran anak yatim adalah dilakukan untuk memuliakan anak yatim dilakukan pada tanggal yang telah ditentukan, maka pada hakikatnya hal itu adalah sebuah perendahan dan penghinaan kepada anak yatim dengan memberikan pembedaan lebaran anak yatim dengan lebaran kaum muslimin pada umumnya.

    Maka sudah selayaknyalah bagi kita bila ingin benar-benar menyantuni anak yatim hendaklah dilakukan dengan tidak ditentukan waktunya, dengan mengundang pejabat-pejabat, dibuatkan tenda layaknya sebuah bazar, dinyanyikannya shalawat-shalawat yang tak pernah diajarkan, dan sederetan acara seremonial lainnya. Melainkan santunilah dan sayangilah anak yatim pada waktu apapun disaat kita memiliki kelebihan rezeki dan berniat ikhlas karena Allah ta’ala juga sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

    Demikianlah, bulan Muharram semestinya tidak dimaknai sebagai awal tahun baru saja, juga tidak dipahami dengan cara-cara ritual yang menyimpang dari ajaran Islam, tapi perlu dipahami sebagai bulan yang penuh barokah sebagaimana bulan lainnya, bulan yang diharamkan melakukan peperangan, pertumpahan darah, bulan yang mengingatkan kita kepada perjalanan panjang hijrah Rasulullah SAW beserta 70 orang pengikutnya ke Medinah.

    Wallahu `a`lam bishshawaab.

    Nuwun

    punåkawan

    • Alhamdulillah, …… Ki Puna sudah datang, …… brarti sebentar lagi, ……. Tahun Baru Hijriyah.

      Ki Puna, …….. kalo begitu Sayidina Umar bin Khatab hanya menetapkan bahwa berawalnya Tahun Baru Hijriah adalah tanggal 1 Muharram. Sementara nama2 bulan Hijriah itu sudah ada dan sudah berlaku sebelumnya, sebagaimana di Jawa juga sudah ada penanggalan yang berlandaskan peredaran bulan, hanya penyebutan nama bulan dan harinya yang beda.
      Apakah tidak ada penyesuaian masa berlaku 1 Muharram dengan 1 Syuro pada tahun 1 H, mengingat tahun jawa sudah berlangsung sekitar 500 tahun?
      Nuwun

  18. Nyuwun pangapuntên:

    yang saya maksud:

    SUGÊNG WARSÅ ÉNGGAL 1 MUHARRAM 1432 HIJRIYYAH, 1 SURO 1944 BÉ.

  19. Malem siji Suro….
    enake njur ngopo yo…
    lah wong durung ono kenyo moro…
    opo kudu mlongo….koyo kebo….tapi ra kumpul kebo lho

    oo yao yao ya o o

    • la kenyo nipun tindak pundhi kok dereng dhateng…
      Nopo perlu bantuan kangge ngaturi piyambake dhateng griyanipun Ki Pandan..

    • Mau langsung meng-khitbah Madonna apa Kang Pandan?
      Sudah mualaf lho!
      Ora pareng duko!

    • he..he…he….

      kulo milih marylin monroe

    • Wah, ………. nganeh-anehi, …. wong MM wis sedo je!

      • Lah wau ndalu wonten seng nyamperin…ngakune Marylin Monroe

  20. HLHLP-060

    Haduuu, ………… cuapeknya puol. Timbangane keturon ndak didukani Ki Wudura, ….. yo wis ngalah
    monggo : hlhlp_60 nya!

    * Share this:
    * StumbleUpon * Digg * Reddit

    Halaman: 1 2

    • weh…mbujuki tenan kiaine niki

  21. Sugeng ndalu….

    ditengah hujan rintik2 yang mengguyur tlatah Bek Sel, alangkah nikmatnya kalo ditemani wedaran rontal 060

    • nyuwun ki Truno….lawuhe Gayus Pucung

    • Ditemanin arwahnya Marylin Monroe, ….. hiks.

    • sugeng dalu….
      malam satu suro, hujan deras mulai petang tadi di tlatah Me Teng

  22. Klo istilah di kampung jaman kecilku, Ki Truno lagi “nge-londo”… wakakakak…

  23. SUGÊNG WARSÅ ÉNGGAL 1 MUHARRAM 1432 HIJRIYYAH, semoga dengan bertambahnya umur dan berkurangnya sisa umur kita mendorong kita semakin mendekat kepada Allah SWT. jadi langkah yang paling tepat untuk menyambut tahun baru hijriyah ini dengan koreksi diri, melihat apa-apa yang sudah kita perbuat demi orang lain serta apa yang sudah kita buat untuk mendekat kepadaNya. Juga melihat seberapa bayak kesalahan dan dosa-dosa yang telah kita timbun sehingga mendorong kita untuk bertaubat serta berusaha untuk tidak mengulangnya. Kepada sanak kadang cantrik ADBM yang saya cintai mohodn do’anya agar semakin bertambah umur saya semakin bertambah ketaatan saya kepada Allah. Teriring do’a semoga para cantrik juga begitu semoga tahun baru ini lebih baik dari tahun sebelmnya sehingga kita digolongkan sebagai orang yang beruntung.

  24. Matur nuwun…

    Wah, tenanan lek-lekan malem 1 suro ki….

    Hmm…. 1 suro, jadi inget masa lalu. Masihkan ada kirab kebo bule yaaa???

    • Kebo bule ga ono
      Bule kumpul kebo okeh

  25. matur nuwun ono konco nggo tuguran

  26. ternyata rontal nyantol di monggo titik
    terima kasih untuk semua dan segalanya

  27. monggO .

    rontal untuk teman melekan Tahun Baru-an

    dan ……, barangkali ada kejutan di tahun baru

    matuR suwuN ……
    nunggU kagetaN tahuN barU

  28. Monggo, matur nuwun Ki Ajar pak Satpam.
    rontal sampun kula undhuh.
    Sugeng dalu Ki Seno.

    Sugeng warsa enggal 1 SURO 1944 BE
    mugi Gusti tabsah pinaringan karahayon tuwin karaharjan.

  29. Alhamdulillah. memasuki 1 Muharam 1432 H.
    Semoga tahun ini merupakan hijrah bagi diriku untuk menuju yang lebih baik.
    Matur nuwun P. Satpam.
    Baru pulanga dari mesjid bisa ngunduh.
    Belum tahu apa terkejut nggak nanti digandok 61

  30. Monggo , (suwun Ki)
    Selamat tahun baru 1432 H, semoga semakin mantap di jalan yang lurus dengan bekal kesabaran dan kesyukuran yang tiada terhingga dan terhindar dari pendustaan ni’mat-Nya yang senantiasa melingkupi kita.

  31. matur nuwun, semalem tidak sempat nginguk gandhok. semalam suntuk nonton wayang kulit di dhukuh sebelah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: