HLHLP-064

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 11 Desember 2010 at 18:30  Comments (128)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-064/trackback/

RSS feed for comments on this post.

128 KomentarTinggalkan komentar

  1. sambil menunggu, berikut peta kediaman ki goenas di jogjakarta, mangga dipelajari…

    http://www.4shared.com/photo/yEDjsRdU/petakigoenas.html

  2. Nuwun

    @ Ki Samy [On 13 Desember 2010 at 12:07 Samy said:]
    ……. sing bener RONTAL apa LONTAR hayo….?

    RONTAL atau LONTAR

    Semula adalah rontal. Rontal, terdiri dari dua suku kata, ron (dari bahasa Jåwå Kunå, yang kemudian menjadi Båså Jåwå Kråmå Madyå dan Båså Jåwå Kråmå Inggil, yang dalam Båså Jåwå Ngoko adalah godong, yang dalam bahasa Indonesianya berarti daun, sedangkan suku kata kedua yaitu tal.

    Tal adalah nama lain dari siwalan (Borassus flabellifer) adalah satu rumpun atau keluarga palma atau palem.

    Pohon ini juga dikenal dengan nama-nama lonta (Minangkabau), ental (Sunda, Jawa dan Bali), taal (Madura), dun tal (Sasak), jun tal (Sumbawa), tala (Sulawesi, Bugis, Makasar), lontara (Toraja), lontoir (Ambon). Juga manggita, manggitu (Sumba) dan tua (Timor).

    Banyak hasil karya manusia yang bahan bakunya adalah rontal, para pujangga penulis naskah-naskah kuno, serat, kidung, mantra dsbnya menggunakan rontal sebagai alat tulisnya, dan ingat alat musik sasando berbahan baku daun ini juga. Kata lontar adalah bentuk metafisis dari kata rontal.

    Pada masa dahulu, media yang dipakai untuk kegiatan tulis-menulis di Jawa adalah daun tal (rontal) (Borasus flabellifer) atau daun nipah (Nipa fruticans WURMB).

    Setelah muncul Kertas Jawa atau Kertas Daluwang serta kertas impor, penggunaan rontal ini ternyata tidak serta merta punah dan masih dijumpai di beberapa tempat hingga Abad ke-20 di Jawa, Madura dan Bali, dan dikawasan ini banyak dijumpai naskah-naskah kuno yang menggunakan rontal sebagai alat tulis.

    Kualitas naskah yang dihasilkan berbeda-beda tergantung pada mutu bahan, cara pengerjaan dan perawatannya.

    Mengenai jenis rontal atau daun lontar yang digunakan sebagai bahan tulis, bahwa ada tiga jenis rontal yakni Lontarus domestica, Lontarus silvestris dan Lontarus silvestris altera. Lontarus domestica lebih banyak dipergunakan karena daunnya lebih lunak.

    Dengan begitu sebutan rontal akhirnya digunakan hanya untuk menyebut daun (ron) dari pohon tal, sebelum digunakan sebagai alat tulis, sedangkan ketika sudah dimanfaatkan sebagai alat tulis dengan menghasilkan tulisan naskah seperti serat, kisung, kakawin, dan gegambaran, maka berangsur-ansgur berubah menjadi lontar. Maka muncul pula istilah yang memakai kata “Pustaka Lontar” atau “Budaya Lontar”

    Alat yang digunakan adalah sejenis pisau yang ditorehkan (pisau pangot dalam bahasa Sunda) atau kalam (pena) yang dicelupkan dengan tinta yang hitam pekat serta warnanya tidak luntur.

    Sementara huruf yang digunakan adalah huruf Kawi dengan jenis Kawi-Kwadraat (aksara Kawi tegak) dan Kawi curcief (aksara Kawi yang condong) seperti naskah yang ditemukan di lereng Gunung Merbabu di Kedu, Jawa Tengah.

    Sebagai catatan, bahwa huruf Bali merupakan varian dari huruf Kawi seperti, huruf Sunda Kuno dan beberapa variannya.

    Cukup banyak naskah Nusantara kuno yang menggunakan daun lontar, di antaranya: Kidung Arjunawiwaha yang merupakan naskah tertua yang ditemukan di daerah Jawa Barat, Naskah Kunjarakarna, Serat Baratayudha, Serat Kidung Bujangga Manik, Kakawin Nagarakretagama. Carita Parahyangan, dan Siksakanda (ng) Karesian.

    Serat Kidung Pararaton terbuat juga dari rontal, Serat Kidung Pararaton ini merupakan “Babon” atau “Kitab Induk” yang digunakan oleh Ki Dalang mendiang SH Mintardja menulis karya dongeng Pelangi di Langit Singosari, hingga naiknya Sepasang Ular Naga di Satu Sarang (Ranggawuni dan Mahisa Campaka) ke tahta Kerajaan Singopsari.

    Suatu kisah nyata yang diberi bumbu kisah fiktif; yang sedang selalu kita tunggu wedarannya, meskipun pake diogrok-ogrok (terutama jago ngogrok adalah Ki Pandanalas, Ki Truno Podang, dan banyak lainnya).

    Catatan: Sejak PBM hingga HLHLP, murni kisah fiktif, sudah barang tentu tidak ditemui kisahnya di Serat Pararaton, meskipun disebutkan kisah itu “terjadi” semasa pemerintahan Ranggawuni Mahisa Campaka si Sepasang Ular Naga di Satu Sarang.

    Dalam puisi, kata-kata seperti siwala, sawala, suwala, suwalapattra, sewalapattra, siwalan, semuanya dipakai dalam arti surat, tetapi juga menunjuk pada daun pohon tal ini (rontal).

    Demikian Ki Samy, mudah-mudahan bermanfaat.

    Nuwun

    punåkawan

  3. Pak Like ge duko nopo yo…
    koq cantrike dijarke wae podho klekaran neng pendopo nunggu bukaan gandok anyar…malah wis podho ote2 mergo kepanasen….

  4. Nderek Absen sonten…
    Nderek nyanggong Ki Pandan Alas …
    Mugi-mugi ndang cepet gandhok dibuka..
    Pingin ndang mantuk saking sabin Laa….
    Malah Jawah deress buanget….

    • lah tambah penak tho ki …
      neng tengah sawah..udan deres…wis gari narik sarunge

      • neng tengah sawah..udan deres…ga penak waktu panas tho ki?🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: