HLHLP-097

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 31 Januari 2011 at 21:37  Comments (98)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-097/trackback/

RSS feed for comments on this post.

98 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugeng dalu,
    Ki GunduL kula langkahi.

    • Ngintil dibelakang Kangmas Gembleh

      • selamat PAGI,

        nomer SIJI ndhisiki ki Gembleh, ki mahesa
        KOMPOR

  2. Ikut berduka cita atas meninggalnya orang tua Pembantu di rumah Ki Arema.
    Semoga Allah memberi tempat yang layak di alam sana, amin.

    • amin

      • Ikut berduka cita atas meninggalnya orang tua Pembantu di rumah Ki Arema.
        Semoga Allah memberi tempat yang layak di alam sana, Aamin.

        punåkawan

        • ikut berduka cita, semoga diterima disisiNya, amin

          • turut berDUKA,

            atas meninggalnya orang tua Pembantu di rumah
            Ki SENOPATI.

  3. Met malem Adhimas Kompor,
    Sugeng dalu Ki Puna,

    Saya kagum dengan kalimat yang ditulis Ki Ajar pak Satpam, cukup puitis dan benar.
    Orang tua Pembantu di rumah Ki Arema.
    untung tidak ditulis :
    Orang tua “dari” Pembantu di rumah Ki Arema, atau
    Orang tua”nya” Pembantu di rumah Ki Arema.

    Ki Ajar pak Satpam hebat……!!!!!

    • Ki Ajar Pak Satpam “memang” hebat…..!!!!!!

  4. selamat malam.
    turut berduka cita.
    semoga almarhum mendapat tempat yang layak di sisi tuhannya
    semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi kenyataan.
    amin.

    • Innalilahi wainailillahi raji’uuun, amien, ……….

  5. turut berduka cita ki…
    sekalian absen.
    ndak didukani… bolak balik ngrogoh sak tapi ra tau njedhul…

  6. Nuwun,

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA BERTAHTA DI TUMAPEL
    [Waosan kaping-3]

    Sri Maharaja Kertanagara (1268M – 1292M), adalah raja terakhir yang memerintah kerajaan Singasari menggantikan ayahnya, Wisnuwardhana. Menurut Pararaton ia adalah satu-satunya raja Singasari yang naik takhta secara damai.

    Dari Negarakretagama kita ketahui bahwa perubahan nama Kutaraja menjadi Singasari terjadi dalam pemerintahan raja Wisnuwardhana di sekitar tahun 1176Ç atau 1254M. Sumber sejarah lainnya tidak menyebut nama dusun Kutaraja yang kemudian berganti nama Singasari yang awalnya adalah Tunapel. Namun disebutkan bahwa nama Tumapel itu masih dipakai ketika Kertanegara naik tahta.

    Semasa pemerintahan Kertanagara merupakan masa keemasan bagi kerajaan Singasari dan Kertanegara dipandang sebagai penguasa Jawa pertama yang bertekad ingin menyatukan wilayah Nusantara, salah satunya diwujudkan dalam ekspedisi Pamalayu.

    Prabu Kertanagaralah sang pencetus ide Cakrawala Mandala Nusantara, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Ingsun Tan Amukti Palapa, Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada yang kelak menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945.

    Namun ironis bagi Sri Prabu Kertanegara, kemajuan yang dicapai di satu pihak beriringan dengan kemunduran di pihak lain yaitu pemberontakan dalam negeri oleh Jayakatwang sebagai titik didih perlawanan Kadiri atas sikap ahangkara Sri Baginda Kertanagara. Pergantian para wreddha-patih dan pengangkatan para yuwa-patih, serta kejatuhan Kertanagara sebagai akhir dari kekuasaan Singasari atau dinasti Rajasa.

    Kertanagara adalah putera Wisnuwardhana raja Singasari tahun 1248-1268. Ibunya bernama Waning Hyun yang bergelar Jayawardhani. Waning Hyun adalah putri Mahisa Wonga Teleng (putra Ken Arok).

    Pararaton mengabarkan:

    Sri Ranggawuni atinggal putra lanang, haran Sri Krettanagara. Sira Mahisa Campaka, atinggal putra lanang haran Raden Wijaya.

    [Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki laki, bernama Sri Kertanegara, Mahisa Campaka meninggalkan seorang anak laki laki juga, bernama Raden Wijaya].

    Istri Kertanagara bernama Sri Bajradewi. Dari perkawinan mereka lahir beberapa orang putri, yang dinikahkan antara lain dengan Raden Wijaya putra Lembu Tal, dan Ardharaja putra Jayakatwang. Nama empat orang putri Kertanagara yang dinikahi Raden Wijaya menurut Nagarakretagama adalah Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri.

    Pararaton mengabarkan pengangkatan Kertanegara sebagai raja Singosari:

    Siraji Krettanagara, sira anjeneng Prabhu, abhiseka Bhatara Siva Buddha

    [Kertanegara menjadi Raja, bernama nobatan Batara Siwabuda.]

    Negarakretagama pupuh 41 (3) menguraikan bahwa pada tahun 1176Ç (1254M) Raja Wisnuwardhana menobatkan putranya. Segenap raja Janggala dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara penobatan itu. Setelah dinobatkan, putra mahkota mengambil nama abhiseka Sri Kertanagara.

    i saka rasaparwwatenduma bhatara wisnu ngabhiseka sang suta siwin
    Samasta parasamya ring kadiri janggalomarek amuspa ring purasabha
    Narendra krtanagarekang abhisekanama ri siran huwus prakasita
    Pradesa kutaraja mangkin atisobhitangaran i Singasarinagara
    .

    [Tahun Çaka rasaparwwatenduma (1176Ç/1254M) Batara Wisnu menobatkan puteranya, Segenap rakyat Kediri Janggala berduyun-duyun ke pura tempat upacara penobatan, Raja baru itu bergelar Kertanagara, tetap demikianlah seterusnya, Daerah Kutaraja bertambah makmur, berganti nama menjadi praja Singasari.]

    Uraian di atas seolah-oleh memberi kesan pada tahun 1254 itu, Wisnuwardhana menyerahkan kekuasaannya kepada putranya Kertanagara. Hal itu tidak benar karena dalam prasasti Mula-Malurung dinyatakan dengan jelas bahwa pada tahun 1255 Wisnuwardhana masih memerintah di Tumapel, sebagai raja agung yang menguasai Janggala dan Panjalu.

    Prasasti Mula Malurung mengabarkan bahwa sebelum menjadi raja Singasari, Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau muda-yuwaraja pada tahun (1254M – 1268M). Berkat kelahirannya dari perkawinan Wisnuwardhana dengan Permaisuri Waning Hyun, Kertanagara mempunyai kedudukan sebagai raja mahkota, mengepalai raja-raja bawahan lainnya. Nama gelar abhiseka yang ia pakai ialah Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa.

    Sebagai raja bawahan yang memerintah Daha makamañgalya, ia mempunyai hak untuk mengeluarkan prasasti di wilayahnya. Hal itu memang terjadi. Prasasti Pakis Wetan, bertarikh 8 Februari 1267, dikeluarkan oleh raja Kertanagara pada waktu raja Wisnuwardhana masih hidup.

    Di dalam Prasasti Pakis Wetan terdapat kata makamañgalya. Istilah makamañgalya biasa diterjemahkan sebagai ‘di bawah pengawasan’. Istilah itu dipakai juga oleh Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani dalam prasasti Brumbung yang berangka tahun 1329 dan di dalam prasasti Prapancasarapura.

    Di dalam prasasti itu disebutkan bahwa Tribhuwanatunggadewi ‘di bawah pengawasan’ perintah Bhattara Kertarajasapatni (istri Kertarajasa). Didalam contoh ini, ratu Tribhuwanatunggadewi mengeluarkan perintahnya pada waktu orang tuanya, yang menjadi raja sebelumnya masih hidup.

    Dengan kata lain bila dianalogikakan Kertanagara memerintah Daha dengan makamañgalya dari raja Wisnuwardhana atau dapat dikatakan ia menjadi muda-yuwaraja. Baru sepeninggal raja Wisnuwardhana pada tahun 1270M, Kertanagara bertindak sebagai raja agung menguasai Singasari dan Kediri seperti mendiang Wisnuwardhana.

    Berdasarkan Prasasti Padang Roco yang bertarikh 1286, setelah menjadi raja Singosari Kertanagara bergelar Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa.

    Babad Tanah Jawi Perangan Kang Kapisan Bab 5 menyebutkan bahwa Kertangera adalah raja terakhir Singasari, Sang Prabu sangat peduli terhadap pengetahuan umum dan kesusastraan, demikian juga pemikirannya tentang perluasan wilayah kekuasaan, tetapi selain kekuatan, dikabarkan beliau mempunyai kelemahan-kelemahan yaitu sifatnya yang kurang berhati-hati, dan suka minum-minuman keras.

    Ratu Singåsari kang Kaping Gangsal, jumênêng mêkasi. Sasédané Syri Wisynuwardhånå pangéran pati jumênêng Nåtå, ajêjuluk Prabu Kârtånagårå. Sang Prabu manggalih marang kawruh kagunan, lan kasusastran, lan iyå manggalih marang undhaking jajahan, nanging kurang ngatos atos, lan kêrså ngunjuk nganti dadi wuru.

    Kidung Panji Wijayakrama pupuh 1 menguraikan watak Sri Kertanagara, seperi berikut:

    Raja Kertanagara mempunyai mahamantri, bernama Mpu Raganata. Mpu Raganata adalah orang baik, jujur dan pemberani. Tanpa tedeng aling-aling, ia berani mengemukakan keberatan-keberatannya terhadap sikap dan pimpinan sang Prabu. Hubungannya dengan Prabu Kertanagara disamakan dengan hubungan Patih Sri Laksmikirana dengan Prabu Sri Cayapurusa dalam cerita Singhalanggala. Juga patih Sri Laksmikirana bersikap jujur, berani membantah dan mencela sikap sang Prabu Cayapurusa. Prabu Kertanagara yang berwatak angkuh dan sadar akan kekuatan dan kekuasaannya (ahangkara), menolak mentah-mentah pendapat dan keberatan Mpu Raganata bahkan beliau menjadi muram lagi murka, seolah-olah disiram dengan kejahatan, mendengar ujaran Mpu Raganata. Dengan serta merta Mpu Raganata dipecat dari jabatannya, digantikan oleh Mahisa Anengah Panji Angragani.

    Prasasti Wurare, angka tahun 1289, menyebutkan bahwa pada tanggal 21 September 1289M, Sri Kertanagara yang juga bergelar Sri Jnamasiwabajra, raja yang berhasil mempersatukan Janggala dan Panjalu, menahbiskan arca Mahaksobhya di Wurane.
    Gelar raja itu ialah Kertanagara setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha).

    Dalam Kidung Harasawijaya pupuh 1/28b sampai 30a, disebut dengan jelas bahwa Prabu Kertanagara melorot Mpu Raganata dari kedudukannya sebagai patih hamangkubhumi (mahamenteri) menjadi ramadhyaksa di Tumapel. Mpu Raganata kecewa, tidak senang dengan pemerintahan Sang Prabu Kertanegara. Dikatakan dalam kidung: asmu ewa sang mantri wrédha rirehira sang ahulun.

    Mpu Raganata Sang Ramapati Mapanji Singharsa yang sangat setia pada Sang Prabu, maha-patih yang sangat peduli dan menjaga kewibawaan Sang Prabu Sri Jnamasiwabajra itu diangapnya terlalu sering menentang kebijaksanaan Sri Baginda Prabu Kertanegara, dan sebagai gantinya Sang Prabu memilih orang-orang yang dianggap dapat mengikuti semua kemauannya.

    Babad Tanah Jawi memberitakan tentang pencopotan ini:

    Pêpatihé Sang Nåtå aran Rågånåthå rumêkså bangêt marang ratuné, nganti sok wani ngaturi pèngêt marang Sang Prabu ing bab kang ora bênêr, nanging Sang Prabu ora rênå ing galih, ora nimbangi rumêksaning patih sêtyå iku, malah banjur milih patih liyå kang biså ngladèni karsané. Patih wrêdhå diundur, winisudå dadi: nayåkå pradåtå, dadi wis ora campur karo prakårå pangrèh pråjå.

    Pararaton mengabarkan:

    Hana ta patih ira duk mahwa anjeneng ratu, apuspathaa sira Mpu Raganatha. Nityasa angaturi rahayuan ing tuwan, tan kadhep den ira Sri Krettanagara. Sangkan ira Mpu Raganata asalah linggih. Ginanten den ira Kebo Nengah Sang Apanji Araghani. Sira Mpu Raghanata gumanti dadi adhyaksa ring Tumapel.

    [Ada Patihnya, pada waktu ia baru saja naik keatas tahta kerajaan, bernama Mpu Raganata, ini selalu memberi nasehat untuk keselamatan raja, ia tidak dihiraukan oleh Sri Kertanegara, karenanya itu Mpu Raganata lalu meletakkan jabatan tak lagi menjadi Patih, diganti oleh Kebo Tengah Sang Apanji Aragani].

    Demikianlah dalam Kidung Panji Wijayakrama dan Pararaton kita dapati peristiwa sejarah tentang pemecatan mahamantri patih Raganata, seorang yang bijak lagi cakap dalam melaksanakan tugasnya. Namun umurnya sudah lanjut. Oleh Wiraraja, bupati Sumenep, patih dongkol Raganata disamakan dengan harimau tua. wonten macan ipun, anghing guguh, [ada harimaunya, tetapi tak bergigi].

    Mahamantri Empu Raganata selalu memberikan nasihat-nasihatnya kepada sang prabu. Segala kesulitan dalam menjalankan pemerintahan secara jujur dikemukan. Tindakan-tindakan yang demikian itu tidak disukai oleh Sang Prabu Kertanegara Bhatara Siwa Buddha, kahngkaraneng bhumi.

    Epiteton itu mengandung pengertian bahwa raja Kertanagara mengagungkan kekuatannya sendiri. Ia sadar bahwa ia menguasai kekuatan gaib.

    Arya Wiraraja yang bergelar Sang Apanji Adhimurti Nararyya Wiraraja, yang dicintai seluruh rakyat tlatah Madura, dicopot juga dari jabatannya oleh Kertanegara, dan dijadikan adipati di Madura Timur. Ia tidak senang terhadap pemerintahan Raja Kertanagara. Dikatakan dalam kidung: tan trepti rehing nagari arawat-rawat kewuh.

    Tetapi berbeda dengan Babad Tanah Jawi yang mengabarkan, bahwa telah diingatkan jika Banyak Wide akan mbalélå kepada Sang Prabu:

    Ånå nayakaning pråjå aran Banyak Widhé utåwå Aryå Wiråråjå, têpung bêcik lan Jåyåkatwang, adipati ing Dåhå. Satriyå iku ora sungkêm marang ratuné, malah wis sêkuthon karo Jåyåkatwang, arêp mbalélå. Dumadakan ånå punggåwå kang matur prakårå iku, nanging Sang Prabu ora mênggalih, Wiråråjå malah diangkat dadi adipati ånå ing Mâdurå.

    Ada kesan bahwa Arya Wiraraja masih disayang oleh Sang Prabu, meskipun dia “arêp mbalélå

    Siapa Arya Wiraraja?

    Pararaton mengabarkan:

    Hana ta wong ira, babatangan ira bhuyut ing nagka, haran Banyakwide. Sinungan pasengahan Aryya Wiraraja.

    [Adalah seorang hambanya, babatangan keturunan orang tertua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja].

    Selain itu, untuk melengkapi informasi selanjutnya ketika terjadi ontran-ontran “pemberontakan” Ranggalawe, sumber ini menerangkan bahwa Nambi adalah putera Arya Wiraraja sedangkan Ranggalawe disebutkan sebagai keturunan bangsawan Singasari yang terkenal (?).

    Kidung Panji Wijayakarma/Kidung Ranggalawe memberikan kesaksian pada Pupuh I nomor 1220:

    Woten Wongira babatang buyut nangka, Banyak Wide anami, sinung Abiseka, Arya Wiraraja………..

    [Ada seorang hambanya, babatang keturunan orang tertua di Nangka, Banyak Wide namanya, dia diberi gelar Arya Wiraraja].

    Dalam kidung ini dikatakan juga bahwa Ranggalawe adalah anak dari Arya Wiraraja yang berasal dari desa tanjung Madura Barat. Dalam pada itu Kidung Sorandaka menyanyikan bahwa bahwa Nambi adalah anak dari Pranaraja.

    Menarik sekali untuk diketengahkan sebagai suatu hipotesa, kita ingin meneliti siapa sebenarnya yang dimaksud dengan Pranaraja dan Mahapati yang disebut dalam Kidung Sorandaka dan Pararaton. Pranaraja telah disebut pada piagam Kudadu (1294), namun tanpa nama.

    Pada piagam Penanggungan (1296) namanya dijelaskan pada lempengan IV a baris 1 yakni Sang Pranaraja:
    Mapasanggahan Sang Pranaraja Rakryanmantri Empu Sina. Sang Pranaraja di sini bernama Mpu Sina.

    Jelaslah sekarang bahwa Ranggalawe alias Arya Adikara adalah putera Wiraraja, sedangkan Mpu Nambi (Tami) adalah putera Mpu Sina, dan bahwa Arya Wiraraja berasal dari Madura. Atas dasar keterangan-keterangan yang didapat dari sumber diatas makin kuatlah dugaan Arya Wiraraja, berasal dari Madura.

    Adapun desa Nangka yang disebutkan beberapa sumber, diperkirakan nama desa Nangka yang berada di Kabupaten Bangkalan atau desa Karangnangka yang berada di Kecamatan Rubaru Kabupaten Sumenep.

    Disebutkan bahwa Arya Wiraraja adalah seorang babatangan atau di beberapa naskah disebut sebagai demung. Babatangan adalah gelar jabatan Arya Wiraraja yang menunjukkan bahwa Banyak Wide (Wiraraja) adalah pejabat tinggi kraton atau orang penting di kerajaan Singasari.

    Babatangan (Jawa; mbatang = menebak, menerka), sering diterjemahkan sebagai juru ramal atau semacam penasehat spiritual yang sebenarnya adalah seorang penasehat ahli strategi (militer dan politik ketatanegaran) yang bisa membaca situasi. Kecemerlangan analisa-analisanya menyebabkan orang mengira dia punya suatu kelebihan sebagai orang yang bisa meramal kejadian-kejadian yang akan datang.

    Kedudukan jabatan dalam pemerintah Singasari menyebabkan dia dekat sekali hubungannya dengan penguasa Singasari (sebelum Raja Kertanegara). Kemungkinan lain yang mendekati kebenaran, ialah sebagai Demung Kerajaan Bawahan Singasari (Hring) yang menurut prasasti Mula Malurung diperintah oleh Narasinghamurti.

    Dicopotnya Wiraraja kemungkinan besar karena pengetahuannya tentang strategi militer dan politik ketatanegaraan kerajaan kerap-kali dianggap bertentangan dengan kebijaksanaan politik Sang Raja Kertanegara.

    Tumenggung Wirekreti dilorot kedudukannya sebagai tumenggung menjadi mantri angabhaya (menteri pembantu), dan Pujangga Santasemereti meninggalkan Pura untuk bertapa di hutan.

    Pupuh 1 (82a) menguraikan bahwa penurunan Wiraraja dari jabatan demung manjadi adipati sangat melukai hati dan menimbulkan kemarahan. Dari percakapan antara Wirondaya dan Raja Jayakatwang, dalam pupuh 2 (16a)- (16b) dengan jelas diceritakan, bahwa sejak pemecatan para wreddha-mantri (mentrri sepuh) dan pengangkatan yuwa-mantri (menteri muda) rakyat tidak senang terhadap sikap Sang Prabu Kertanagara.

    Adapun pengangkatan pejabat baru yang masih muda (yuwa mantri), sangatlah disukai oleh Sang Prabu. Babad Tanah Jawi melukiskan bahwa pejabat-pejabat baru itu kegemarannya hanya pintar memuji-muji sang Prabu, dan menyukai pesta pora sambil minum-minuman keras.

    Babad Tanah Jawi memberitakan:

    Patih wrêdhå diundur, winisudå dadi: nayåkå pradåtå, dadi wis ora campur karo prakårå pangrèh pråjå. Patih anyar sênêngé mung ngalêm marang ratuné lan ngladosi unjuk unjukan.

    Pararaton menulis:

    Teka ring Tumapel Sang Apanjiya Raghani angatur i tadahan prati dina. Akasukan Siraji Krettanagara
    [sedatangnya di Tumapel Sang Apanji Aragani mempersembahkan makanan tiap tiap hari, raja Kertanegara bersenang senang].

    Perbuatan itu menimbulkan kegelisahan dan kesenjangan antara generasi tua zaman Wisnuwardhana yang masih hidup dengan generasi muda zaman Kertanagara yang mendukung gagasan perluasan cakrawala mandala. Perubahan itu menimbulkan kegelisahan pula di antara para prajurit, punggawa dan rakyat.

    Demikianlah sepeninggal Wisnuwardhana dan Bhatara Narasinghamurti, Prabu Kertanagara segera mengadakan perubahan besar-besaran dalam bidang pemerintahan untuk disesuaikan dengan pelaksanaan politik ekspansinya. Para pejabat kerajaan yang telah lama mengabdi semasa pemerintahan Prabu Wisnuwardhana dan tidak dapat menyesuaikan diri dengan politik baru yang akan dijalankan oleh Prabu Kertanagara, disingkirkan dan diganti oleh tenaga-tenaga muda yang baru, yang menyetujui gagasan politik Sang Prabu Kertanagara.

    Nama Mpu Raganata tidak tercatat dalam prasasti Sarwadharma yang dikeluarkan pada bulan Kartika tahun 1191Ç (Oktober-November 1269). Pada prasasti tersebut, yang tercatat ialah Patih Kebo Arema dan Sang Ramapati, yang sangat dipuja sebagai penasehat politik sang prabu dalam mengadakan hubungan dengan pembesar-pembesar di Madura dan Nusantara.

    Sang Ramapati mengepalai kabinet menteri yang terdiri dari patih, demung, tumenggung, rangga, dan kanuruhan. Melihat fungsinya dalam pemerintahan, kiranya Sang Ramapati dalam prasasti Sarwadharma itu sama dengan Mpu Raganata dalam Pararaton dan Kidung Harsawijaya ataupun Panji Wijayakrama.

    Siapa Kebo Arema ?

    Jika Sang Ramapati dengan jelas disebutkan, lalu siapa Kebo Arema? Nama ini jarang disebut oleh para sejarahwan, nyaris tenggelam di bawah bayang-bayang kebesaran Prabu Kertanegara.

    Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema dikala Singasari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis juga dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur.

    Kitab Kidung Pararaton yang terkenal pun tidak mengabarkan dengan jelas peranan Kebo Arema ini. Pada Bagian V (31b) Pararaton hanya menyebut Kebo Arema sebagai kawulan ira (hamba sahayanya):

    Sapanjeneng Sri Krettanagara, anghilangaken kalana, haran kalana, haran bhaya. Huwus ing kalana mati, angutus ing kawulan ira, angadona maring Malayu, sumangka akdhik kari wong Tumapel, akeh kang katuduh maring Malayu.

    [Sri Kertanegara pada waktu memerintah, melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah kelana itu mati, ia memberi perintah kepada hamba sahayanya, untuk pergi menyerang Melayu].

    Demikian juga Kitab Pujasastra Nagarakretagama, nama Kebo Arema tidak disebut. Pada pujasaatra tersebut hanya disebutkan bahwa setelah Baginda Kertangera memusnahkan perusuh yang bernama Cayaraja, Baginda “menyuruh” (Siapa yang disuruh. Tidak disebutkan nama dan jabatannya) untuk menundukkan tanah Melayu.

    Pujasastra Negarakertagama Pupuh 41 (5) mengabarkan:

    Kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana
    Manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah
    Nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu
    Lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika
    .

    [Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat,
    Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Saka bhujagosasiksaya (1192),
    Tahun Saka nagasyabhawa (1197) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,
    Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu sahaja].

    Kebo Aremalah yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari.

    Pemberontakan-pemberontakan itu, meskipun akhirnya dapat ditumpas, tetapi menghambat pelaksanaan gagasan politik perluasan wilayah. Untuk dapat mengirim tentara ke seberang lautan, kekeruhan didalam negeri harus diatasi dulu.

    Pararaton, Kidung Panji Wijayakrama, Kidung Harsawijaya, dan Negarakretagama pupuh 41, semuanya menyebutkan pengiriman tentara Singasari ke negeri Melayu (Suwarbabhumi) pada tahun 1187Ç (1275M), lima tahun setelah pecahnya pemberontakan Kelana Bhayangkara atau Cayaraja.

    Dalam Kidung Harsawijaya, dinyatakan bahwa nasehat Raganata tentang pengiriman tentara ke Suwarnabhumi ditolak oleh Prabu Kertanagara.
    Raganata mengingatkan sang prabu tentang kemungkinan balas dendam Raja Jayakatwang dari Kediri terhadap Singasari, sebab Singasari dalam keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Suwarnabhumi.

    Prabu Kertanagara berpendapat, raja bawahan Jayakatwang tidak akan memberontak karena beliau berutang budi kepada sang prabu. Salah satunya putra raja Jayakatwang yang bernama Ardaraja diambil sebagai menantu Kertanagara. Perkawinan ini merupakan pendekatan politik Kertanagara demi reda dan terhapusnya dendam lama Kediri atas Singasari.

    Jayakatwang adalah bekas pengalasan (pegawai) keraton Singasari, yang diangkat sebagai raja bawahan di Kediri oleh Sri Kertanagara. Dia menggantikan pendahulunya Sastrajaya (1258-1271 M) pengganti dari Jayasaba (1222-1258 M) yang diangkat oleh raja Rajasa (Ken Arok?).

    Dengan demikian kemungkinan bukan Kertanagara yang mengangkat Jayakatwang melainkan pendahulu Jayakatwang atas restu pendahulu dinasti Rajasa, yang juga berarti berlawanan dengan berita Kidung Harsawijaya tentang pengangkatan Jayakatwang oleh Kertanagara.

    Lagi pula berdasarkan prasasti Mula-Malurung Nararya Seminingrat mengangkat Jayakatwang sebagai raja bawahan di Gelang-Gelang bukan Kediri sebagaimana teruraikan dalam prasasti Kudadu tahun 1292, akibat perkawinannya dengan anak dari raja Seminingrat.

    Sampun lingsir wêngi andungkap énjing, pramilå dongèng kapunggêl sêmantên rumiyin, dongèng candhakipun: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara.

    Nuwun

    cantrik bayuaji.

    • Alhamdulillah, ….. matur nuwun Ki Bayuaji.
      Kulo nembe rampung maos Novel ajejudul PRABARINI Karya Putu Praba Darana. Nyedot saking bangsal pustakanipun Dewi KZ. Wah mutu sastranipun sae sanget, lan latar belakang sejarahipun nggih kenthel.
      Buku meniko nyriosaken kawontenan Negari Panjalu ing mangsa pamrentahan Jayabaya, ingkang tembe kemawon ngasoraken Daha. Kulo remen sanget amargi dipun gambaraken kawontenan masyarakat kolo meniko, kados pundi gambaranipun Rojo Gung Binathoro, …… lah kok sa’leresipun namung saking amargi gadah kekuasaan lan bondo dunyo saenggo saged memutar balikkan fakta sejarah.
      Mudah2an beruta tebtabg Prabu Siliwangi yang pernah ditampilkan Ki Bayu tempo hari, bukan merupakan rekayasa berita oleh para Empu di jaman itu.
      Jadi kesimpulannya, kenapa negara barat bisa semakin menjajah dunia karena mereka menguasai media informasi. Ternyata bangsa kitapun telah menggunakan media informasi sebagai pendukung politiknya semenjak jaman dahulu kala.
      Haduuuu, …..

    • Hangaturaken gunging panuwun dumateng Ki Bayu,
      kula sampun mboten sranta ngrantos tutuge.

  7. Sampun maos tuntas Kisah raja jawa ingkang atos githoke! Kantun nenggo hlhlp-097

    • mbêguguk mutå-waton. Lha kuwåså kok, inggih sak karêpe dhéwé.
      Sinten Ki, sing mbêguguk mutå-waton?

      • mbêguguk napa sami kalian mbêgogok?

        • Mboten sami Ki Ajar pS.

          Mbeguguk menika sinambi ngadeg,
          Mbegogok menika sinambi ndhodhok,

          he…he…he….
          mBlayu ngundhuh uncalan rontal.

      • Ingkang medar Rontal dijamin mboten mbêguguk
        Saestu …. leres ….
        Lho ingkang ngogrog … -2 benten malih …
        Hiks. ….

  8. Ngapunten…, ngapunten….

    rencana buka gandok bakda Isya”, tetapi ada sedikit halangan.

    Mboten menopo-2 nGGer sing penting ndang gogrog .. rontal-e

  9. Lali durung absent ….

    • nek suwe gak ngisi buku absen, mengko gak ulih melu UAS lho ki.

      • Hadir Pak Lik….

  10. melu absen…

  11. cantrik turut berduka, atas meninggalnya orang
    tua Pembantu di rumah Ki AREMA.

    • dherek ki GundUL,

      cantrik turut berduka, atas meninggalnya orang
      tua Pembantu di rumah Ki AREMA.

      • dherek ki YP,

        cantrik turut berduka, atas meninggalnya orang
        tua Pembantu di rumah Ki AREMA.

        hadir….. p. Satpam.

        • segung rawuh ki Wiek,

          pripun khabare pakDE-buDHE teng
          griyo…??

          • Sami podho sae lan kuwarasan ki.
            Taseh teng west prog nopo pun kagungan sawah enggal ki?

          • njih ki, taksih krasan
            ning sawah west prog.

  12. O ternyata P. Satpam ikut melayat to, itu mah hukumnya wajib Ki kita menyelenggarakan jenazah saudara kita yang meninggal. Syukur bisa mengantar ke makam,semoga arwahnya diampuni dosa-dosanya, disucikan ruhnya dan dilapangkan kuburnya. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan dan kesabaran. Tidak lupa bagi Ki Seno dalah ajudannya diberikan imbalan yang setimpal atas segala bantuan moril dan material yang sudah dikeluarkan dengan ridha. Amin.

  13. C00mot dari bangsal pusaka gojegan gandok sebelah, untuk menghilangkan kesan SEREM dan HOROR sebagian kata ada yang perlu di SENSOR.

    “BALASan si BLUMBANG”
    suatu sore sang suami baru pulang dari kantor2an,
    dari mulut-nya tercium bau durian pertanda
    si suami baru habis melahap durian.
    Sang istri yg kebetulan hobby banget durian tahu akan hal itu manjadi cemberut besar.

    Istri :
    “Pa…, kok malah Papa sih yang makan durian, kan Mama yang kepingin..?? Sampai sekarang Papa belum membelikan durian buat Mama…!!” kata sang istri
    sewot.
    Suami :
    “Ya udah Ma…sekarang BAU-nya aja dulu,besok2 deh Papa beliin durian buat Mama…” jawab sang suami
    sambil menCIUMkan tangannya yg bau durian tersebut
    ke-hidung istrinya.

    Malam harinya sang suami kepingin banget berSumbu dengan sang istri….,didekatinya sang istri yang tidur disebelahnya.

    Suami :
    “Ma….Papa pingin nih..!!” katanya sambil mencium lembut belakang telinga sang istri.

    Tiba-tiba sang istrinya ber-balik sehingga mereka berhadap-hadapan, lalu sebelah tangan sang istri
    di-MASUK-kan baju tidur yang dipake dan digosok2
    kan ke bla-bla-bla…nya (sensor) kemudian…!!??

    Istri :
    “Nih Pa…BAU-nya aja dulu..nikmati-nya besok aja
    setelah Mama dapat durian dari Papa” kata si istri
    sambil me-NEMPEL-kan tangan yang habis di gosokan di bla-bla-bla-bla…nya.

    diTUTUG-ke nanti SORE…..selamat PAGI

    • hi.. hi …. rupanya bau durian juga ….

      • Durian apa? Wong bau ketiak …..
        Besuk baru dapet puyengnya …

    • Sing “bla bla bla” niku nopo durian juga ?

      • kalo ragu-ragu bisa nunut diCElup-ke
        di….bla-bla-bla

    • Sing bener bla..bla..bla.. rasa durian nopo durian rasa bla..bla..bla..

      • bla-bla-bla….rasa melon ADA
        gak ya ki,

    • Bla-bla-bla yang ada baunya ?

      • Kalau cuma dikasih Bla dan bau yaaaaaa pamit deh..

        Pamitan

        Lilanono pamit mulih
        Pesti kulo yen dudu jodone
        Mugo enggal antuk sulih
        Wong kang biso ngladeni slirane
        Pancen abot njeruning ati
        Ninggal ndiko wong kang ndak trisnani
        Nanging bade kados pundi
        Yen kawulo sak dermo nglampahi
        Mung semene
        Atur puji karyo raharjo
        Sakpungkure ojo lali asring kirim warto
        Eman-eman mbenjang ndiko
        Yento nganti digawe kuciwo
        Batin kulo mboten lilo
        Yento nganti mung disio-sio.
        Lilanono pamit mulih
        Pesti kulo yen dudu jodone
        Mugo enggal antuk sulih
        Wongkang biso ngladeni slirane
        Pancen abot njeruning ati
        Ninggal ndiko wongkang ndak trisnani
        Nanging bade kados pundi
        Yen kawulo sak dermo nglampahi
        Mung semene
        Atur puji karyo raharjo
        Sakpungkure ojo lali asring kirim warto
        Eman-eman mbenjang ndiko
        Yento nganti digawe kuciwo
        Batin kulo mboten lilo
        Yento nganti mung disio-sio.

  14. absent

  15. hiks, kadingaren ki Pandan kok
    mudeng bab…bla-bla-bla njih.

    kulo taksih binggung…??

    • Soale hobby balah duren

  16. Ikut bela sungkawa………….

    BENGAWAN SORE

    Ning pinggiring bengawan
    Tansah setyo ngenteni sliramu
    Eling eling jamane semono
    Wis ndungkap petung ketigo
    Ning pinggiring bengawan
    Saben saben mung tansah kelingan
    Wus prasetyo ing janji kang suci
    Ing lahir terusing ati
    Sanadyan koyo ngopo manungso
    Mung biso ngreko lan njongko
    Gusti kang paring idi lan pesti
    Kito sak dermo nglampahi
    Ning pinggiring bengawan
    Wayah sore tan soyo kelingan..
    Gawang gawang esemu cah ayu..
    Gawe sedihing atiku..

    • Kulo request langgame kang rhoma : menjaring matahari

      • Maaf Ki….. rhoma sedang teler kebanyakan begadang….campursarian aja …nyamleng… .

        KETAMAN ASMORO

        Saben wayah lingsir wengi
        Mripat iki ora biso turu
        Tansah kelingan sliramu
        Wong ayu kang dadi pepujanku

        Bingung rasane atiku
        Arep sambat nanging karo sopo
        Nyatane ora kuwowo
        Nyesake atiku sansoyo nelongso

        Wis tak lali-lali
        Malah sansoyo kelingan
        Nganti tekan mbesok kapan nggonku
        Mendem ora biso turu

        Opo iki sing jenenge
        Wong kang lagi ke taman asmoro
        Prasasat ra biso lali
        Esuk awan bengi tansah mbedo ati

  17. Matur Suwun nGGer ….
    Sudah mencium bau hlhlp-097
    Kulo tenggo nikmat-e …..
    Ki TruPod …. sampun kebelet lho ….

    • Sumonggo Ki… kulo dereaken kalih. bengok…!

      NYIDAMSARI
      Umpomo sliramu sekar melati
      Aku kumbang nyidam sari
      Umpomo sliramu mergi wong ayu
      Aku bakal kang ngeliwati

      Sineksen lintange luku semono
      Janji prasetyoning ati
      Tansah kumantil ing netro rinoso
      Karoso rasaning driyo

      Midoro sak jagat royo
      Kelingono wukir lan samodro
      Nora ilang memanise
      Aduh…dadi ati selawase

      Naliko niro ing dalu atiku
      Lam-lamen siro wong ayu
      nganti mati ora bakal lali
      Lha kae lintange mlaku

      • “Sineksen lintange luku semono
        Janji prasetyoning ati
        Tansah kumantil ing netro rinoso
        Karoso rasaning driyo”

        arti nya apa?

        hayoo…
        oara sesepuh, siapa yang bisa menjawab pertanyaan ini

  18. Katur Ki Truno Podang,

    Nuwun,

    Berita tentang Prabu Siliwangi seperti yang pernah diwedar (HLHLP 072 sd HLHLP 092), bisa saja merupakan rekayasa ‘seorang jurnalis’, sang wartawan kerajaan Kawali Pajajaran pada waktu itu (mirip Departemen Propagandanya Hitler, atau suatu Departemen Penerangan Milik Pemerintah, “juru-bicara” pemerintah).

    Dengan tidak mengkesampingkan dugaan-dugaan di atas, yang mungkin benar, mungkin juga salah seperti harapan Ki Truno, mudah-mudahan bukan merupakan rekayasa berita oleh para Empu di jaman itu, bahwa ternyata berita ‘kesalehan’ Prabu Siliwangi tidak hanya diperoleh dari rontal-rontal dan prasasti dari Tatar Sunda dan dari Urang Sunda saja.

    Banyak kronika sejarah yang dibawa oleh pihak lain yang menceritakan bagaimana Sang Prabu Siliwangi begitu peduli terhadap negaranya dan rakyatnya, antara lain berikut ini:

    Tome Pires (1468 – 1540) seorang penulis berkebangsaan Portugis, yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa antara tahun 1512 dan 1515, menggambarkan dalam bukunya Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (“Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina”) atau disingkat Suma Oriental, adalah kompendium (summa) yang ditulis oleh Tome Pires pada tahun 1512-1515, berisi informasi tentang kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara pada abad ke-16.

    Naskah ini sebenarnya merupakan laporan resmi yang ditulis Tomé Pires kepada Raja Emanuel tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Portugis saat itu sehingga tidak pernah diterbitkan.

    Buku ini ini terdiri dari enam jilid, dua jilid pertama berisi informasi tentang wilayah antara Mesir dan Malabar, dan sisanya berisi informasi tentang wilayah Bengali, Indocina, Malaysia, Indonesia, Cina, dan Jepang. Tentang Indonesia, Suma Oriental memuat informasi terutama tentang Pula Jawa dan Pulau Sumatera.

    Tentang Jawa, khususnya Tanah Pasundan, ditulis dalam bukunya itu bahwa pelabuhan Sunda Kalapa ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatra, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura.

    Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Pajajaran selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tanara dan Cimanuk. Menurut laporannya, di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan.

    Ketika Malaka direbut Portugis pada tahun 1511, maka pada tahun 1522 Gubernur d’Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan Pajajaran, dan sudah barang tentu memberikan gambaran tentang Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

    Terlepas siapa Sang Prabu Siliwangi ini, tetapi ketika kita membaca peninggalan beliau berupa petuah, sebuah pitutur yang terangkum dalam Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji, berupa Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kanda (Ng) Karesyan, yakni Kitab Perundang-undangan untuk menjadi seorang bijak dan suci. Patutlah kita teladani, dan lebih baik lagi jika dapat diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Nasehat sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra. kwa:

    Jangan engkau melihat siapa yang mengatakan tapi dengarlah apa yang dikatakan

    Adalah nasehat yang tepat untuk kita.

    Nuwun, sugêng siyang Ki,

    cantrik bayuaji

  19. Katur Ki Truno Podang,

    Nuwun,

    Berita tentang Prabu Siliwangi seperti yang pernah diwedar (HLHLP 072 sd HLHLP 092), bisa saja merupakan rekayasa ‘seorang jurnalis’, sang wartawan kerajaan Kawali Pajajaran pada waktu itu (mirip Departemen Propagandanya Hitler, atau suatu Departemen Penerangan Milik Pemerintah, “juru-bicara” pemerintah).

    Dengan tidak mengkesampingkan dugaan-dugaan di atas, yang mungkin benar, mungkin juga tidak seperti harapan Ki Truno, mudah-mudahan bukan merupakan rekayasa berita oleh para Empu di jaman itu, bahwa berita ‘kesalehan’ Prabu Siliwangi ternyata tidak hanya diperoleh dari rontal-rontal dan prasasti dari Tatar Sunda dan dari Urang Sunda saja.

    Banyak kronika sejarah yang dibawa oleh pihak lain yang menceritakan bagaimana Sang Prabu Siliwangi begitu peduli terhadap negaranya dan rakyatnya, antara lain berikut ini:

    Tome Pires (1468 – 1540) seorang penulis berkebangsaan Portugis, yang mengunjungi pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Pulau Jawa antara tahun 1512 dan 1515, menggambarkan dalam bukunya Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (“Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina”) atau disingkat Suma Oriental, adalah kompendium (summa) yang ditulis oleh Tome Pires pada tahun 1512-1515, berisi informasi tentang kehidupan di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara pada abad ke-16.

    Naskah ini sebenarnya merupakan laporan resmi yang ditulis Tomé Pires kepada Raja Emanuel tentang potensi peluang ekonomi di wilayah yang baru dikenal oleh Portugis saat itu sehingga tidak pernah diterbitkan.

    Buku ini ini terdiri dari enam jilid, dua jilid pertama berisi informasi tentang wilayah antara Mesir dan Malabar, dan sisanya berisi informasi tentang wilayah Bengali, Indocina, Malaysia, Indonesia, Cina, dan Jepang. Tentang Indonesia, Suma Oriental memuat informasi terutama tentang Pula Jawa dan Pulau Sumatera.

    Berita tentang Tanah Pasundan seprti ditulis dalam bukunya itu bahwa pelabuhan Sunda Kalapa ramai disinggahi pedagang-pedagang dan pelaut dari luar seperti dari Sumatra, Malaka, Sulawesi Selatan, Jawa dan Madura.

    Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan yang dimiliki Kerajaan Pajajaran selain pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tanara dan Cimanuk. Menurut laporannya, di Sunda Kelapa banyak diperdagangkan lada, beras, asam, hewan potong, emas, sayuran serta buah-buahan.

    Ketika Malaka direbut Portugis pada tahun 1511, maka pada tahun 1522 Gubernur d’Albuquerque yang berkedudukan di Malaka mengutus Henrique Leme untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan Pajajaran, dan sudah barang tentu memberikan gambaran tentang Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi.

    Terlepas siapa Sang Prabu Siliwangi ini, tetapi ketika kita membaca peninggalan beliau berupa petuah, sebuah pitutur yang terangkum dalam Wangsit Niskala Wastu Kancana Sang Maha Prabu Siliwangi Ratu Pakuan Guru Dewata Prana Sri Baduga Maha Raja Ratu Haji, berupa Naskah Sunda Kuno Sanghyang Siksa Kanda (Ng) Karesyan, yakni Kitab Perundang-undangan untuk menjadi seorang bijak dan suci. Patutlah kita teladani, dan lebih baik lagi jika dapat diwujudkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

    Nasehat sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra. kwa:

    Jangan engkau melihat siapa yang mengatakan tapi dengarlah apa yang dikatakan

    Adalah nasehat yang tepat untuk kita.

    Nuwun, sugêng siyang Ki,

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayuaji, pikantuk tanggapan ingkang gamblang.

      Inggih saking buku Novel Prabarini meniko dipun criosaken kados pundi anggenipun Empu Sedah ingkang yuswo 23 tahun nerjemahaken Kakawin Barathayuda dateng boso Jawi, saking boso India. Mpu Sedah meniko Brahmana lepas, dene Mpu Panuluh meniko Brahmana Istana Panjalu. Namung saperangan alit (3 pupuh) saking 19 pupuh Barathayuda ingkang dipun terjemah dening Mpu Panuluh demi ngejar tenggat waktu.

      Wonten crios meniko dipun lampahaken, kados pundi Mpu Panuluh ingkang kerso nyenyembah dateng Kasta Ksatria ip Prabu Jayabaya. Saenggo seratan2ipun boten independen. Dene Mpu Sedah mboten purun, amargi ajaran agami sa’leresipun mboten marengaken Brahmana nyenyembah dateng Menungso (Ksatria). Milo meniko seratan2ipun langkung obyektif.

      Nuwun.
      Cantrik Truno Podang

  20. Bleb…bleb…bleb…

    Mencungul dari kedalaman Ranu Sengkaling.
    tingak-tinguk…..
    isih sepi….

    Nyilem lagi ah……
    Mencungul lagi nanti bakda Isya, syukur bisa bakda Maghrib, kalau sanak-kadang sudah hadir lengkap.

    bleb…bleb…bleb…

    • Bleb…bleb…bleb…

      syukur P. Satpam bisa mencungul bakda ashar….
      akan lebih bersyukur lagi bila sambil nyantolin….

      Nyilem dulu ah……
      takut dilempar penthungan.

      bleb…bleb…bleb…

      • Bleb…bleb…bleb…bleeeeeeb

        nguber pakDhe satpam nyilem dikedalaman
        Ranu Sengkaling.
        hup…nyaut gembolan rontal di punggung
        pakDhe satpam…tingak-tinguk…isih sepi

        hlhlp-97 tak taruh diSINI…Nyilem lagi ah……sapa tau ada ceceran rontal lagi.

        bleb…bleb…bleb….selamat menikmati !!!
        wedaran RONTAL sore INI.

  21. sret….sret ttd hadir

  22. Menjelang ashar… isi daftar hadir dulu.

  23. selamat sore, ki arema, ki ismoyo, ki pak satpam, ki tumenggung kartojudo, ki tumenggung yudha pramana, ki tumenggung anatram, ki rangga widura, ki raden gembleh, ki raden kompor, ki lurah pandanalas, ki donoloyo, ki sas, ki bayuaji, ki lare dusun, ki gundul, ki honggopati, ki jogotirto, ki djojosm, ki truno prenjak, ki truno podang, ki bancak, ki sI_TolE, ki wiek, ni nunik, ni ken padmi, nyi cika, nyi dewi, ki suro bengok, ki mukidi, ki jabriik, ki mahisa peteng, dan sanak kadang cantrik serta mentrik sekalian…

    padepokan sekarang terasa lengkap, ada yang senang nembang, ada yang senang masak, ada yang senang mendongeng, ada yang senang parikan, ada yang senang nembung (ini khusus ki pandan)🙂 , dan ada yang senang berbagi pengalaman, ceritera, maupun ilmu.

    sayangnya yang senang berbagi kitab hanya sedikit, dan sebagai bentuk ejawantah rasa bersyukur saya, maka saya doakan agar ki ismoyo, ki arema, ki pak satpam dan para bebahu selalu sehat wal’afiat, selalu mendapatkan yang terbaik dari Yang Maha Pengasih, serta mendapatkan bimbingan untuk selalu membagi bonus…:mrgreen:

    suwun…

    • selamat SORE ki Banuaji,

      kulo njih ndherek berDOA semoga ki ismoyo,
      ki arema, ki pak satpam dan para bebahu
      selalu sehat wal’afiat, selalu mendapatkan
      yang terbaik dari Yang Maha Pengasih, serta mendapatkan bimbingan untuk selalu membagi
      bonus…bonus dan bonus.

      • Sugeng sonten kyaine..Alhamdulillah diparingi kanugrahan sehat ..bagas waras…..kulo suwun makaten ugi kyaine Banuaji lan sederek-sederek sedanten..tansah angsal kanugrahan.. Gusti Allah kang Maha Agung….Amin..

      • saya juga doakan agar ki ismoyo, ki arema, ki pak satpam dan para bebahu selalu sehat wal’afiat, selalu mendapatkan yang terbaik dari Yang Maha Agung, serta mendapatkan bimbingan untuk selalu membagi bonus bonues bonues bonus…

  24. matur nuwun …..

    • matur nuwun ki satpan… matur nuwun ki banuaji…. bade magrim rumiyin bibar meniko mempelajari kitab HLHLP-97…. nuwun.

      • matur nuwun …..

  25. Amin, amin ya Rabulalamin. Semoga doa Ki Banuaji diijabah oleh Allah SWT.
    Sugeng dalu poro kadang.

  26. Sugêng dalu

  27. Sugêng dalu, semua
    matur nuwun Ki Satpam

  28. Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,

    Theklek kecemplung kalen,
    tiwas golek2 jebul kudu balen
    neng lawang gandhok Sanganem.

    • jebul neng kono ta tibake.
      matur nuwun.

  29. maturnuwun

  30. Menyusuri lorong waktu, dari masa kini HLHLP 097 menembus ke masa lalu ke HLHLP 096, woooo tibaké gmandhul nèng kono….…..,…
    Matur nuwun Ki Panji Satriå Pamêdar, sakalangkong, kamsia……..

    Sugêng dalu, ndungkap madyaning ratri

  31. Tengah wengi iki adem banget
    Sayange ora ono sing bakul dawet

    • he…he…he… adem-adem koq ngenteni bakul dawet… lha kuwi ana bakul wedang jahe…

      selamat pagi, ki arema, ki ismoyo, ki pak satpam, para bebahu padepokan dan cantrik serta mentrik sekalian…

      pagi yang indah, semoga Yang Maha Kasih membimbing kita semua dalam menjalani hari yang baru ini…

  32. Wilujêng énjing

  33. Suwun Ki

  34. Selamat pagi……..
    Ngindik-indik gandok anyar.

    • Indhak-indhik tonggo anyar

      • Indhak-indhik manten anyar

  35. Geng enjang Ki, Nyai lan kadang sedoyo.
    Imlek kari kurang sedino kok ora ono sing kirim kue keranjang yo?, he.. he kelingan 3 tahun kepungkur naliko tanda tangan isih payu. Saiki tanda tangan mung payu ono gandok PDLS he.. he. “Mimpi opo”

    • Paringi tanda mata ki….dijamin semrinthil

    • Dulu sewaktu istriku masih kerja jadi kasir BDN, tiap imlek dapat roti keranjang dari nasabahnya yang merayakan imlek. Eee, ….. sekarang digantiin anakku yang ngebawaain roti kranjang juga dari client-nya. Kemarin digoreng pake telor, ….. haduuu enaknyeee!!
      Matur nuwun Pak Lik cantolane 97 teng gapuro gandok 96 sampun kulo tampi.

  36. selamat PAGI,

    gandok sini BAU durian….gandok BAU melon
    kapan di buka dHE.

    • Enaknya dikasih bau bla bla bla aja Pak Lek. Bla bla blanya minta aja ama Ki YP yang suka dolanan neng pinggir blumbang.

      • selamat PAGI ki Truno,

        hadu…ngapunten ki, bla-bla-bla yang
        kemaren BAU-nya hilang diguyur hujan semalem.

        Bla-Bla… yang INI, masih rapet arep
        nduLIT belom berani ki,

        • Ikut antri “ndulit” di belakang ki YP, ….. hiiks.

          • Melok Dusel.neng buri….antri..antri…ayo antri….

  37. hhmmm………

    • Aididididididiiiiih……….ranu sengkaling …kebak awu bromo……

    • Dereng kepanggih Gendruwo Bla-bla-bla-nipun nopo Pak Lek?
      Haduuu, ……

  38. hhmmm………Aididididididiiiiih……
    hhmmm………Aididididididiiiiih……
    hhmmm………Aididididididiiiiih……
    hhmmm………Aididididididiiiiih……
    hhmmm………Aididididididiiiiih……
    hhmmm………Aididididididiiiiih……
    hhmmm………Aididididididiiiiih……

    SELAMAT SOREeeeeeeeeeeeeeeeee

    • Iki jan2ne lagi nembang..opo kepidhak teklek njihh….

  39. Penyemangat buat Pak Lek Satpam, yang sedang bikin gandok.
    Sugeng sonten Pak Lek, …… mugi rahayu ingkang tansah pinanggih sa’garwo putro-nipun!

    DOKTER CANGGIH
    Yuk Jah lungo perikso nang dokter.
    “Opoko sampeyan ning ?” Jare doktere.
    Yuk Jah terus cerito, “Iki lho dok, wis sak wulan iki aku malih ngentutan. Sak jam isok ping sepuluh aku ngentut. Cumak untunge, entutku iku gak mambu ambek gak onok suorone, dhadhi gak onok sing ngerti. Lha iki pas aku longgo ndhik ngarepe sampeyan ae wis ping telu aku ngentut. Tapi sampeyan gak ngerti tho, mergo iku mau, entutku gak muni ambek gak mambu. Cumak aku malih gak enak dhewe, mosok arek wedhok ngentutan “.
    “Oh, ngono tah.. Lek ngono tebusen resep iki. Seminggu maneh mbaliko ene maneh” jare doktere.
    Pas wis seminggu yuk Jah mbalik maneh nang doktere.
    “Wis enakan tah ?” takok doktere.
    “Aku gak ngerti obat opo sing dokter kekno wingi, cumak entutku saiki kok ambune malih bosok gak karuan. Sampek kudhu nggeblak aku. Tapi untunge entutku sik tetep gak muni”, jare yuk Jah.
    “Berarti saiki irung sampeyan wis gak buntu maneh. Saiki tebusen resep iki yo” jare doktere. “Obat opo maneh iku pak dokter ?” takok yuk Jah.
    “Obat kopok..”

    • Ha..ha..ha..haaaa..!

      • Ha ha ha….. Lutu tenan

  40. ngoyak-oyak ki pak satpam nang padepokan induk, entuk pengumuman…

    2010 in review

    The stats helper monkeys at WordPress.com mulled over how this blog did in 2010, and here’s a high level summary of its overall blog health:

    Healthy blog!

    The Blog-Health-o-Meter™ reads Wow.
    Crunchy numbers

    Featured image

    A helper monkey made this abstract painting, inspired by your stats.

    The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 1,300,000 times in 2010. If it were an exhibit at The Louvre Museum, it would take 56 days for that many people to see it.

    In 2010, there were 4 new posts, growing the total archive of this blog to 39 posts.

    The busiest day of the year was August 19th with 5,845 views. The most popular post that day was Bundel.
    Where did they come from?

    The top referring sites in 2010 were pelangisingosari.wordpress.com, kangzusi.com, facebook.com, search.conduit.com, and cersilindonesia.wordpress.com.

    Some visitors came searching, mostly for api di bukit menoreh, adbm, adbmcadangan, api dibukit menoreh, and adbmcadangan.wordpress.com.
    Attractions in 2010

    These are the posts and pages that got the most views in 2010.
    1

    Bundel January 2009
    1 comment
    2

    Bundel ADBM jilid 321 sd 340 August 2009
    17 comments
    3

    Bukan ADBM January 2010
    459 comments
    4

    Bundel ADBM jilid 1 sd 15 November 2008
    41 comments
    5

    Bundel ADBM jilid 341 sd 360 August 2009
    13 comments

    Matur nuwun sanget Kisanak semua..

    Senopati

    he…he…he… lagi ngerti…

    • kulo malah mboten dong niku


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: