HLHLP-101

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 8 Februari 2011 at 18:34  Comments (86)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-101/trackback/

RSS feed for comments on this post.

86 KomentarTinggalkan komentar

  1. Hadiiiiirrrr

    OJO LAMIS
    Ojo sok gampang
    janji wong manis
    yen to amung lamis
    Becik aluwung prasojo nimas
    ora agawe cuwo
    Tansah ngugemi
    tresnamu wingi
    jebul amung lamis
    koyo ngenteni thukuling jamur
    ing mongso ketigo
    Aku iki prasasat
    loro tan antuk jampi
    mbok ojo amung lamis
    kang uwis dadine banjur didis
    Akeh tulodo kang demen cidro
    Uripe rekoso
    milih sawiji ngendi kang suci
    tanggung biso mukti

    • HALLO SEMUA CANTRIK, MONGGO SAMI ABSENT RUMIYIN

  2. Wes Buka

  3. Sugeng ndalu….
    ngisi daftar hadir dulu ahhh… matur nuwun sanget

  4. Wah kayane Mahesa Murti karo adine rebutan wanodyo ayu.

    • he he …
      aduh…., azan Isya’

    • Sudah ba’da Isya’ nih P Satpam. Ethok2nya bisa untuk pengantar tidur, …… he he he,……

      • mboten mireng…..

  5. Nuwun. Wilujêng wéngi

    Katur Nyi Dewi Kz. [On 7 Februari 2011 at 15:52 Dewi KZ said]:

    Mohon maaf baru sempat memberikan tanggapan. Matur nuwun, terima kasih atas perhatian Nyi Dewi Kz pada Dongeng Arkeologi & Antropologi dan kesediaannya untuk menjadikan wedaran dongeng tersebut dalam bentuk e book.

    Bahwa dongeng yang saya tulis, adalah sebagai “pendamping” tulisan Ki Dalang SH Mintardja dalam “rontal” serial pelangi di langit singosari yang dalam perjalanannya berkembang ke penulisan-penulisan sejarah di zaman dan tlatah lain di Nusantara ini, yang nampaknya belum akan berakhir.

    Penulisan yang saya lakukan semata-mata pendekatan dari sisi arkeologi dan antropologi, yang bersumber dari bukti-bukti peninggalan sejarah, baik berupa tulisan pada rontal, kidung, kitab-kitab sastra, tamra-prasasti, petilasan, candi, patung, cerita tutur lisan, maupun budaya yang mengiringinya, yang masih bisa dilihat dan dilacak keberadaannya hingga kini.

    Kami hanya berharap, dengan dongeng tersebut, dapat menambah wawasan bagi sanak kadang sutrésnaning padêpokan pêlangisingosari.

    Dalam pada itu untuk memudahkan sanak kadang, khususnya Nyi Dewi Kz dapat mengcopy-paste atau mendownload dongeng tersebut, tanpa harus terikat dengan adanya izin mengcopy atau hak cipta.
    Månggå dipersilakan berkunjung saja ke gandhok:

    https://pelangisingosari.wordpress.com/dongeng-arkeologi-antropologi/

    Di sana sudah disiapkan dengan rapi dan bagus oleh Rakryan Ki Mahésa Aréma, dan Ki Panji Satriå Pamêdar.
    Isi wedaran itu adalah:

    1.Seri Kerajaan Singosari-PdLS, dengan 19 wedaran (judul);

    2. Seri Kerajaan Singosari-SUNdSS, dengan 13 wedaran;

    3. Seri Kerajaan Nusantara, dengan 15 wedaran;

    4. Seri Penyebaran Islam:
    • Bagian 1: Mubalighot dari Leran, 3 wedaran;
    • Bagian 2: Para Wali Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa, 12 wedaran;

    5. Seri Pitutur – Pituduh dan Wewaler, dengan 19 wedaran;

    6. Seri Magawe Rahayu Magawe Kerta (Prabu Siliwangi), dengan 14 wedsaran;

    7. Seri Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, baru 6 wedaran, Insya Allah 8 wedaran;

    8. Seri Surya Majapahit (dalam proses penulisan).

    Tidak tertutup bagi kami, saran dan kritik yang dapat memberikan pandangan bagi kami, demi lebih baiknya Dongeng Arkeologi & Antropologi ini.

    Demikian Nyi Dewi Kz dan sanak kadang sutrésnaning padépokan pêlangisingosari.
    Semoga berkenan.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • hiks iyah dehhhh eyang ku nak cuba unduh
      trims yee moga banyak rejeki n enteng jodohhh

  6. Hadir……..

    Ki Suro Bengok ngenteni thukuling jamur,
    yen kula ngentosi candhake seratan Ki Bayu.

    he….he….he….
    sugeng dalu.

  7. Sugeng dalu Kadang sedoyo.
    Absen dalu, sekalian ngantri gogrokan rontal.

  8. laporan hadir.
    gambar glundhung pringis-nya tumben ada di samping. biasanya di tengah.

    • Lho…..
      napa saged pindah-pindah piyambak nggih…
      hi…… takut……

  9. nderek seba

  10. Gambar sampulnya seperti adegane Ki Pandanalas dan Ki Surobengok berusaha menarik perhatian-e Ni Ken Rara Nona.

    Liatin, sebentar lagi ono sing uro-2 diselingi suara bengak-bengok dari senthong pinggir …

    • Sing jelas dudu aku….

      Mas kangmas namine sinten
      Sakniki dintene sabtu…eh…sloso nding

  11. Nuwun, ndungkap hing madyaning ratri, cantrik bayuaji ngêndit rontal:

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    ŞRĪ MAHĀRĀJĀDHIRĀJA KŖTANAGARA, SANG SIVA BUDA. POLITIK DAN SINKRETEISME RELIGIUS HINDHU-BUDDHA. Parwa ka-1 [Waosan kaping-7]

    1. Waosan kaping-1: Singasari Menuju Puncak Kejayaan, Parwa ke-1. On 28 Januari 2011 at 17:33. HLHLP 095;
    2. Waosan kaping-2: Singasari Menuju Puncak Kejayaan. Parwa ke-2. On 31 Januari 2011 at 00:58, HLHLP 096;
    3. Waosan kaping-3: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara bertahta di Tumapel. On 1 Februari 2011 at 01:08, HLHLP 097;
    4. Waosan kaping-4: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Cakrawala Mandala Nusantara. On 2 Februari 2011 at 21:32. HLHLP 98;
    5. Waosan kaping-5: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Menghadapi Pemberontakan Dalam Negeri. dan Wwang Tartar. On 4 Februari 2011 at 22:42. HLHLP 099;
    6. Waosan kaping-6: Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Runtuhnya Kerajaan Singasari. On 6 Februari 2011 at 22:50. HLHLP 100.

    Pada wedaran berikut ini, dapat terjadi adanya pengulangan uraian yang telah ditulis pada waosan-waosan sebelumnya, hal ini bermaksud untuk lebih menekankan pemahaman: “Bagaimanakah masa pemerintahan Kertanagara dikaji dari sudut pandang antropologi prespektif religi antropolitik, dan sosiokultural berkaitan dengan kejatuhan Singasari?

    Masa pemerintahan raja Kertanagara mendapat tempat khusus dalam Nagarakretagama. Kitab Pujasastra yang digubah di zaman Hayam Wuruk ini menempatkannya sebagai seorang Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti. Ciri khas keagamaan Tantrisnya melahirkan konsepsi religius sinkretis Hindhu-Buddha, sebagai Tantrisme Kalacakra. Tak ayal kemudian, konsep religius ini mempengaruhi jalan kebijakan politik yang Kertanagara tempuh.

    Ekspedisi ke negeri Malayu yang berjaya gilang-gemilang, mempunyai akibat yang sangat buruk didalam negeri. Pada tahun 1280 M, timbul pemberontakan yang dipimpin oleh Mahisa Rangkah. Mahisa Rangkah menurut Prof. Berg sama dengan Mahisa Cempaka ratu angabhaya dari Wisnuwardhana, atas dasar persamaan kata rangki dan campaka.

    Tafsir ini tidak sesuai dengan Negarakretagama pupuh 41 (4) ataupun Prasasti Sarwadharma, karena Mahisa Cempaka meninggal setahun setelah Wisnuwardhana mangkat 1269. Pemberontakan Mahisa Rangkah tercatat dalam Negarakretagama pada tahun 1202 Ç atau 1280 M, sebelas tahun setelah Mahisa Cempaka meninggal.

    Kemungkinan Mahisa Rangkah adalah orang dalam Singasari yang menaruh kebencian terhadap pola pemerintahan Kertanagara yang diwujudkan dalam pemberontakan pada Kertanagara namun akhirnya dapat dipadamkan.

    Menurut pemberitaan Negarakretagama pupuh 42 (1). Pembesar-pembesar yang dipecat, terutama adipati Wiraraja di Sumenep, mendapat kesempatan baik untuk membalas dendam dan melampiaskan kemarahannya kepada Sri Kertanagara. Ia menghasut raja bawahan Jayakatwang dari Kediri yang berkuasa di Gelang-gelang untuk memberontak dengan cara mengirim surat, pada tahun 1214 Ç atau 1292 M,

    Surat ini tercatat persis dalam Kidung Harsawijaya dan Serat Pararaton bagian IV. Surat ini menjadi bukti bahwa pembalasan dendam itu semata-mata ditujukan kepada diri raja Kertanagara pribadi, bukan kepada pemerintahan Singasari. Wiraraja masih memiliki simpati besar terhadap raden Wijaya (menantu Kertanagara) sebagai keturunan Bhatara Narasinga (Mahisa Cempaka).

    Jika Jayakatwang berhasil menggulingkan raja Kertanagara, kemudian ia akan membantu raden Wijaya untuk menggulingkan Jayakatwang. Permainan Wiraraja tercium oleh utusan Wiraraja, Wirondaya, ia menasehati Jayakatwang akan permainan Wiraraja namun Jayakatwang tidak menggubris.

    Isi surat merupakan terjemahan bebas atas naskah Kidung Harsawijaya dan Serat Pararaton bagian IV. Kemiripan di antara keduanya membuat suatu kesimpulan bahwa Kidung Harsawijaya merupakan “salinan asli” dari Serat Paraton Bagian IV.

    Dari surat hasutan Wiraraja diatas, nyata bahwa Singasari dalam keadaaan kosong. Tidak ada lagi orang yang dapat dibanggakan. Raganata adalah satu-satunya pembesar, yang terpandang sebagai pahlawan, namun ia sudah tua renta, kang ingaranan macan guguh, apan sampun atuha seperti harimau kawakan, yang tidak lagi bergigi. Meskipun demikian, raja Kertanagara segan menyadari kenyataaan itu.

    Beliau berani menolak permintaan Meng Khi, utusan Kaisar Cina Kubilai Khan, untuk mengakui kekuasaan kaisar dan mengirim utusan ke Tiongkok dengan membawa upeti sebagai tanda takluk. Meng Ki pun dipahat dahinya dan disuruh pulang. Alasan penolakan ini lebih bersifat politik pribadi Kertanagara yang nampak dari sikap ahangkara¬nya atas kekuasaan Kubilai Khan. Hinaan terhadap utusan Kaisar Tiongkok itu berlangsung pada tahun 1289 M.
    Prabu Kertanagara segan tunduk kepada kemauan Kaisar Kubilai, apalagi takluk kepada kekuasaannya.

    Setelah Jayakatwang membaca surat Wiraraja, tahulah beliau akan makna ibarat yang disuarakan oleh Wiraraja dan segera bertanya kepada Wirondaya, tentang bagaimana keadaan Singasari sebenarnya. Jawabnya, semenjak Raja Kertanagara memegang tampuk pimpinan kenegaraan, segala nasihat Mpu Raganata dan para wreddha menteri diabaikan. Para wreddha menteri digeser dari kedudukan mereka dan diganti oleh menteri muda. Sang prabu cenderung untuk menerima segala nasehat para menteri baru.

    Rakyat tidak puas dengan sikap demikian. Jayakatwang lalu menyakan pendapat Patih Mahisa Mundarang. Jawabnya; “Moyang Paduka, Prabu Dandang Gendis (Kertajaya), binasa akibat pemberontakan anak petani Pangkur, Ni Ndok. Itulah raja Singasari yang pertama dan bergelar Raja Rajasa. Bala tentara Kediri sirna bagai gunung disambar halilintar. Prabu Kertajaya beserta bala tentaranya musnah karena tindakan Ken Arok. Kediri karenanya dijajah Singasari. Padukalah yang memiliki kewajiban membangun kembali kerajaan Kediri dan membalas kekalahan mendiang Prabu Kertajaya!

    Setelah mendengar nasihat adipati Wiraraja dan pendapat patih Mundarang, Raja Jayakatwang segera mengeluarkan perintah menyerbu Singasari. Jaran Guyang berangkat menyerang Singasari dari jurusan utara, Patih Mahisa Mundarang menyerang dari selatan.
    Bala tentara Daha dibawah pimpinan Jaran Guyang melintas sawah ke jurusan utara; membawa kereta, bende, gong, dan tunggul, berhenti di desa Mameling.

    Banyak orang desa yang ketakutan, lari mengungsi ke kota Singasari. Yang berani melawan, menderita luka parah. Utusan dari Mameling sudah sampai di istana melaporkan bahwa tentara Kediri telah sampai di Mameling, namun Prabu Kertanagara tidak percaya. Baru setelah menyaksikan sendiri para pengungsi mengalir ke kota, beliau percaya akan kebenaran laporan, namun telah terlambat. Nararya Sangramawijaya dengan bala tentaranya, yang tidak siap berperang, mendadak diperintahkan berangkat ke Mameling untuk menanggulangi musuh.

    Sementara itu, Prabu Kertanagara tinggal di puri keputrèn, minum-minuman keras, bermabuk-mabukan, dan berpesta pora seks, tenggelam dalam kenikmatan jasmani, seolah-olah tidak ada bahaya mengancam. Ditemui oleh Patih Angragani, beliau terperanjat mendengan sorak bala tentara Daha di Manguntur.

    Ketika terjadi penyerbuan oleh Jayakatwang, Kidung Harsawijaya menceritakan tentang pesta pora seks Kertanagara sebelum kejatuhaannya. Selanjutnya Kidung Harsawijaya menguraikan bahwa adhyaksa Raganata dan menteri angabhaya Wirakreti memberi nasehat kepada sang prabu demikian: “Adalah pantangan bagi seorang raja mati terbunuh oleh tentara musuh dalam puri keputrèn. Lawanlah musuh yang datang menyerang!

    Demikianlah raja Kertanagara kali itu mengindahkan nasehat Mpu Raganata. Raja Kertanagara, Panji Anggragani, Mpu Ragganata, dan Wikreti gugur dalam perlawanan gigih melawan musuh, yang mendadak datang menyerbu kota Singasari, mulané ora rêkåså pinurih sédané, demikian Babad Tanah jawi mewartakan, maka tidaklah terlalu sulit untuk membunuhnya.

    Sejarah Singasari berakhir dengan mangkatnya Prabu Kertanagara pada tahun 1292 M. Negarakretagama pupuh 43 (5) mencatat bahwa Sri Kertanagara pulang ke Jinalaya pada tahun 1214 Ç atau 1292 M dan diberi gelar “Yang Mulia di alam Siwa-Buddha.”

    Versi Negarakretagama dan Pararaton mengatakan bahwa Jayakatwang adalah raja Kediri perlu dibetulkan karena menurut prasasti Mula-Malurung, Jayakatwang adalah raja Gelang-Gelang berkat perkawinannya denga Nararya Turukbali, putri Sang Prabu Seminingrat atau Wisnuwardhana. Yang menjadi raja Kediri sejak tahun 1254 sampai 1292 ialah raja Kertanagara.

    Jadi, serangan Jayakatwang terhadap Singasari pada tahun 1292 dilancarkan dari Gelang-Gelang; (Prasasti Kudadu, 1296), bukan dari Kediri seperti diuraikan dalam Pararaton dan Negarakretagama serta beberapa kidung. Prasasti Mula-Malurung mengatakan dengan jelas bahwa Jayakatwang adalah kemenakan Raja Seminingrat, jadi saudara sepupu dengan Sri Kertanagara. Baru setelah berhasil memusnahkan Sri Kertanagara, menurut prasasti Pananggungan, 1296, Jayakatwang menduduki ibokota Daha dan memerintah Singasari sebagai negara bawahan.

    Kidung Harsawijaya berulang kali menyebut Jayakatwang raja Kediri, sehingga utusan Bupati Wiraraja dari Sumenep datang ke Kediri untuk memberitahu sang prabu supaya serangan terhadap Singasari segera dilancarkan, kesempatan yang baik jangan dibiarkan lewat. Mahisa Mundarang memberikan nasehat yang serupa dan menyebut Jayakatwang sebaga keturunan Raja Kertajaya.

    Berdasarkan prasasti Mula-Malurung, utusan Wiraraja itu dikirim ke Gelang-Gelang tidak ke Kediri. Kidung Harasawijaya mengatakan bahwa Sri Kertanagara tidak khawatir tentang akan adanya kemungkinan serangan dari Kediri, karena ia percaya bahwa raja Jayakatwang tidak akan menyalahgunakan kebaikan sang prabu, yang telah sudi mengangkatnya sebagai raja Kediri.

    Uraian di atas tidak tepat, karena yang mengangkat Jayakatwang sebagai raja ialah Nararya Seminingrat menurut prasasti Mula-Malurung. Lagi pula, Jayakatwang tidak diangkat sebagai raja Kediri, melainkan sebagai raja Gelang-Gelang. Seperti ditunjukkan diatas, baru pada tahun 1292, Jayakatwang menjadi raja Kediri setelah menaklukkan Kertanagara.

    Telah diutarakan bahwa penobatan Kertanagara berlangsung pada tahun 1176 Ç atau tahun Masehi 1254. Penobatan itu harus ditafsirkan bahwa Kertanagara pada waktu itu baru dinobatkan sebagai raja muda atau yuwaraja. Hal ini terbukti dari istilah makamngalnya (di bawah pengawasan) yang sering ditemukan dalam prasasti Kertanagara sebelum tahun 1929.

    Baru setelah raja Wisnuwardana wafat pada tahun 1190 Ç atau tahun 1268 M, maka Kertanagara mempunyai tanggung jawab penuh sebagai raja. Sejak pembentukan kerajaan Singasari oleh Ken Arok alias raja Rajasa, yang pada waktu itu belum bernama Singasari tetapi Kutaraja.

    Mengikuti dan memberikan tafsir baru mengenai Ken Arok, maka bila selaput kepercayaan Hindu-Jawa yang menutupi sejarah Ken Arok itu disingkirkan dahulu, yang kita dapati ialah sejarah anak petani dari dusun Pangkur yang karena keberaniannya berhasil menjadi raja yang pertama di kerajaan Singasari.

    Peristiwa itu ganjil dalam kerangka zamannya. Justru karena keganjilannya maka pengarang Pararaton ingin memberikan tafsirannya manurut konstruksi kepercayaan Hindu-Jawa yang kuat dianut kala itu.

    Demikianlah sejarah Ken Arok lalu kedengaran seperti dongengan. Ken Arok memang bukan orang sembarangan, ia merupakan manusia yang serba bisa serta berani menyabung untung dengan menggunakan segala daya yang ia miliki dan keberanian menyerempet bahaya. Oleh karenanya beberapa sejarahwan mengatakan bahwa berita tentang Ken Arok dalam Pararaton sepenuhnya ahistoris.

    Kertanagara adalah raja pertama dan terakhir, dia adalah satu-satunya raja Singasari yang penobatannya tanpa pertumpahan darah. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa terdapat kebenaran dalam pembunuhan beruntun dalam dinasti Rajasa awal menurut berita Serat Pararaton.

    Istilah saling bunuh-membunuh ini disebutkan dalam prasasti Mula-Malurung sebagai līna, kakek Nararya Seminingrat yang meninggal dibangku emas disebutkan sebagai sang lineng dampa kanaka.

    Siapa namanya waktu masih kecil tidak diketahui. Baik Pararaton maupun Negarakretagama serta Prasasti Sarwadharma dan Kidung Panji Wijayakrama tidak menyebutnya. Negarakretagama dan prasasti Sarwadharma dengan tegas menyebut bahwa nama Kertanagara adalah nama abhiseka. Dalam Kidung Panji Harsawijaya, raja Kertanagara biasa disebut Siwa-Buddha.

    Dalam bidang agama, Kertanagara memperkenalkan penyatuan agama Hindu aliran Syiwa dengan agama Buddha. Oleh karena itu dalam Pararaton. Kertanagara sering juga disebut Bhatara Siwa Buda. Ajaran Siwa-Buddha merupakan campuran (sinkretisme) agama Hindu dan agama Budha

    Sebagai penganut Ajaran Siwa Budha, disebut juga Jainisme, Sang Prabu Kertanegara adalah Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti. Sebagai raja gelar abhiseka Prabu Kertanegara, yakni Shri Jnyanabadreshwara .

    Menurut Nagarakretagama Pupuh 43 (2) sd (6):

    2. Nahan hetu narendra bhakti ri pada sri-sakyasinghastiti
    Yatnanggegwani pancasila krtasangskarabhisekakrama
    Lumra nama jinabhiseka nira sang sri-jnanabajreswara
    Tarkka-wyakaranadi sastra ng-anji srinatha wijnanulus.

    2. Itulah sebabnya, baginda (Kertanegara) sangat teguh berbakti memuja kaki padma Sakyamuni (Buddha),
    kokoh setia menjalankan pancasila (Pancasila Buddhis), samskara dan abhisekakarma.
    Gelar Jina beliau adalah Shri Jnyanabadreshwara.
    Mumpuni dalam tattwa (filsafat agama Shiwa dan agama Buddha), tata bahasa (sanskerta dan Palli) dan sutra-sutra lainnya.]

    3. Ndan ri wreddhi nireki matra rumegep sarwwakriyadhyatmika
    Mukya’ng tantra subhuti rakwa tinengot kempen rasanye hati
    Puja yoga samadhi pinrih ira’n amrih sthitya ning rat kabeh
    Astam tang ganasastra nitya madulur ddaneniwo ring praja.

    3. Sangat giat beliau mempelajari segala ilmu spiritualitas.
    Terutama Tantra Subhuti sangat diutamakannya. Ajarannya merasuk kedalam jiwa beliau.
    Beliau giat melakukan puja, yoga, samadi demi keselamatan seluruh Kerajaan.
    Agar terhindar dari tenung dan agar seluruh rakyat kecil sejahtera semua.

    4. Tan wwanten karengo kadi nrepati sakweh sangng atitaprabhu
    Purnneng sadguna sastrawit nipuna ring tatwopadesagama
    Dharmestapageh ing jinabrata mahotsaheng prayogakriya
    Nahan hetu ni tus nira padaikacchatra dwaprabhu.

    4. Di antara para leluhurnya tidak ada yang setara dengan beliau,
    paham akan sadgunna (Enam macam ilmu Politik yang diajarkan Weda), sempurna dalam ilmu ketata negaraan dan ahli dalam tattwa agama (Shiwa Buddha).
    Teguh menjalankan aturan Jina, dan senantiasa berlaku utama.
    Itulah sebabnya sampai seluruh keturunannya diberkati sebagai pemimpin utama

    5. Ring sakabdhijanaryyama nrepati mantuk ring jinendralaya
    Sangke wruh nira ring kriyantara lawan sarwwopadesadika
    Sang mokten siwabuddhaloka kalahan sri-natha ning sarat
    Ringke sthana niran dhinarmma siwabuddharcca halepnyottama

    5. ada tahun Saka abdhijanarryama (1214 Ç atau 1292 M), baginda berpulang ke Jinalaya (Alam Jina),
    disebabkan beliau telah sempurna dalam kriyantara (Upacara agama Shiwa Buddha) dan sawrwopadesyadika (ajaran agama),
    seluruh rakyat memberikan gelar kepada beliau Bathara Shiwa Buddha.
    Di Candi beliau ditegakkan arca Shiwa Buddha, sangat-sangat indah menawan.

    6. Lawan ring sagala pratista jinawimbatyanta ring sobhita
    Tekwann arddhanareswari mwang ika sang sri-bajradewwy apupul
    Sang rowang nira wrddhi ring bhuwana tunggal ring kriya mwang brata
    Hyang wairocana locana lwir iran-ekarcca prakaseng praja.

    6. Di Sagala ditegakkan pula arca Jina sangat bagus dan rupawan.
    Serta Arca Ardhanareshwari (Shiwa dan Durga menjadi satu) disatukan dalam Arca Bajradewi,
    teman hidup beliau dalam tapa demi keselamatan dan kesuburan negara (Bajradewi istri Kartanegara).
    Arca tersebut juga lambang dari Wairochana dan Lochana dalam satu kesatuan tunggal, sangat masyhur dan indah.

    Kertanagara telah menguasai semua ajaran agama Hindu dan Buddha, tidak lain karena prabu Kertanagara memang mempunyai pengetahuan yang sangat mendalam tentang ajaran agama Siwa dan Buddha dan memiliki pengetahuan tentang ajaran agama.

    Itu sebabnya Kertanagara dikisahkan pula dalam naskah-naskah kidung sebagai seorang yang bebas dari segala dosa.
    Gelar keagamaan Kertanagara dalam Nagarakretagama adalah Sri Jnanabajreswara, sedangkan dalam prasasti Tumpang ia bergelar Sri Jnaneswarabajra.

    Kertanagara diwujudkan dalam sebuah patung Jina Mahakshobhya (Buddha) yang kini terdapat di Taman Apsari, Surabaya. Patung yang merupakan simbol penyatuan Syiwa-Buddha itu sebelumnya berasal dari situs Kandang Gajak, Trowulan, yang pada tahun 1817 dipindahkan ke Surabaya oleh Residen Baron A.M. Th. de Salis. Oleh masyarakat patung tersebut dikenal dengan nama Joko Dolog.

    Dari Negarakretagama kita ketahui bahwa perubahan nama Kutaraja menjadi Singasari terjadi dalam pemerintahan raja Wisnuwardhana di sekitar tahun 1176 Ç atau tahun 1254 M. Sumber sejarah lainnya tidak menyebut nama dusun Kutaraja yang kemudian berganti nama Singasari.

    Pararaton menceritakan hal lain, yakni bahwa Wisnuwardana mendirikan perbentengan (kota?) di Canggu Lor dalam tahun 1271 M. Canggu Lor terletak ditepi Sungai Brantas, dan mungkin sekali pembuatan perbentengan di Canggu Lor itu ada hubungannya dengan penyerangan atas Mahibit oleh raja Wisnuwardana, karena dapat diperkirakan Mahibut pun terletak di tepi Sungai Brantas, dekat Terung, tidak jauh dari letak keraton Majapahit dikemudian hari.

    Negarakretagama agak panjang menguraikan pemerintahan raja Kertanagara. Sudah pasti bahwa uraian itu hanya menyinggung segi-segi yang baik saja, karena uraian itu ditulis dalam rangka pujasastra.

    Pujasastra dapat dipandang sebagai kegiatan ritual Hindu yang bertujuan untuk memuja kebaikan dan kehebatan leluhur terutama leluhur raja-raja yang memerintah. Negarakretagama dibuat oleh Prapanca dalam rangka memuja leluhur raja Hayam Wuruk.

    Demikianlah dari Negarakretagama itu saja, kita tidak akan memperoleh gambaran yang sekedar mendekati kenyataan peristiwa sejarah.

    Kecuali itu, uraiannya boleh dikatakan singkat singkat. Sumber sejarah lainnya akan sekedar menambah pengetahuan kita tentang diri dan pemerintahan raja Kertanagara. Dengan harapan, didapatkan informasi solid dan valid tentang diri dan pemerintahan raja Kertanagara.

    Dengan demikian pendekatan antropologi dapat dilakukan secara utuh tidak fragmentis sehingga didapatkan hasil kajian dari prespektif antroreligi, antropolitik, dan sosiokultural. Hal ini menjadi penting sebab kajian antropologi berusaha meneropong raja Kertanagara sebagai bagian dari profanitas dan bukan sakralitas sebagaimana banyak diatributkan dalam pemberitaan beberapa Serat, Prasasti dan beberapa Kidung.

    Penalaran akan profanitas raja Kertanagara dapat melahirkan paradigma baru bahwa Kertanagara bukanlah manusia adi-luhung sebagaimana disebutkan dalam inskripsi kuno. Melainkan ia hanyalah manusia biasa yang dapat saja tergelincir dalam subjektifitas dan egoisme atau dapat dikatakan juga memiliki kekurangan di dalam kelebihan pemerintahannya.

    Hal ini akan terlihat dalam kajian antropolitik pemerintahan raja Kertanagara yang banyak mengandung paradoks. Begitu dengan pendekatan religi dan sosiokultural pemerintahan Kertanagara.

    Ånå candhaké.
    Mêkatên, dongèng kapunggêl dumugi sêmantên rumiyin. Dongèng tutugé:Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara, Sang Siva Buda. Politik dan Sinkreteisme Religius Hindhu-Buddha. Parwa ka-2. Dongeng pungkasan

    Nuwun,

    cantrik bayuaji

    • nuwun..mantep tenan ilmune…

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, kulo tenggo dongeng candhakipun.

  12. 20

  13. kaleh doso + setunggal

  14. waduh…..BengesE rek !!

    makTEP

  15. Hadir….
    Selamat pagi.

  16. pagi

    absen thok ..

  17. Sarapan getuk …. enak tenan..

    GETUK

    Sore-sore padang bulan
    Ayo konco podo dolanan
    Rene-rene bebarengan
    Rame-rame e..do gegojegan

    Kae-kae rembulane
    Yen disawang kok ngawe-awe
    Koyo-koyo ngelingake
    Konco kabeh ojo turu sore-sore

    Gethuk, asale soko telo
    Moto ngantuk, iku tambane opo?
    Ach ach.. halah getuk asale soko telo
    Yen ra petuk atine rodo gelo

    Jo ngono mas
    ojo-ojo ngono
    kadung janji mas
    aku mengko gelo

  18. Tembang lelucon dari Ngapak dulu ……

    KETANGGOR
    Sekang mburi disawang ora mblengeri
    Kanan kiri egat egot kaya meri
    Tek tututi, tak pereki tek ledheki
    Prawan iki hemm jinak merpati

    Rambut cendhek kaos abang lan rok mini
    Selot perek kayane nyong tau ngerti
    Dhasar watek , banjur nekat tek takoni
    Ning bareng nylingak mek jegaguk uwane si sri

    Nyelebek batir lemet anget nikmat sekali
    Inyong kaget campur pucet
    ora mung nang rai
    Nyong celilian tekan ngati

    Awan awan kebal kebul mbakar betiti
    Ujar inyong prawan, jebul uwane si sri
    Nyong dadi klincutan
    Inyong kewirangan sekali

    • Sedikit ralat Ki Suro biar musiknya pas :

      KETANGGOR
      Sekang mburi disawang ora mblengeri
      (dari belakang dipandang tidak membosankan)
      Kiwe tengen egat egot kaya meri
      (kekiri kekanan bergoyang seperti anak bebek)
      Tek tututi, tek pereki tek ledheki
      (saya susul, saya dekati, saya godain)
      Prawan kiye hemm jinak merpati
      (Perawan ini hemm jinak merpati)

      Rambut cendhek kaos abang lan rok mini
      (Rambut pendek kaos merah dan rok mini)
      Selot perek kayane nyong tau wawuh
      (makin dekat kayaknya saya pernah kenal)
      Dhasar watek , banjur nekat tek takoni
      (dasar watak mbeling, lalu nekad saya tanyai)
      Ning bareng nylingak mak jegaguk uwane si sri
      (tapi setelah nengok, gedubrak, bude-nya si Sri)

      Nylebek batir lemet anget nikmat banget
      (Ngopi teman kue singkong hangat nikmat sekali)
      Inyong kaget campur pucet
      (saya terkejud campur pucat)
      ora mung nang rai
      (nggak cuma di wajah)
      Nyong celilian tekan ngati
      (saya blingsatan sampai ke hati)

      Awan awan kebal kebul mbakar betiti
      (siang siang penuh asap membakar pisang buncrit)
      Ujare inyong prawan, jebul uwane si sri
      (Kirain saya perawan, gak tahunya bude-nya Srie)
      Nyong dadi klicutan
      (saya jadi malu sekali)
      Inyong kewirangan banget
      (saya kehilangan muka sekali)

      • Ben lengkap Ki Truno, tak tambahi tembang-e si jabang bayi ….

        Bla bla bla bla bla bla bla bla
        Aku ngelak nangin ngombe wae giliran …
        Bla bla bla bla bla bla bla bla
        Ramaku wis tuwo nanging ora gelem ngalah

        Bla bla bla bla bla bla bla bla
        Yen aku oleh giliran … si mbok ngomel wae
        Bla bla bla bla bla bla bla bla
        Yen rama sing nggilir .. simbok uro-uro terus

        Bla bla bla bla bla bla bla bla
        Apa sih artine, mbok aku dikandani

      • Ini kayaknya ceritera Cucak Rowo, …. wong tuwo entuk perawan. Dadi wis kaki-kaki duwe anak bayi, …… bukan cucunya tapi anaknya.

      • Kalo ini lagunya Ki Pandanalas :

        Ono rondo manggon ngarep omahku,
        Nek ruh aku dhewe’e ngguya-ngguyu,
        Soyo nek ngerti, aku namatke,
        Carane mlaku soyo digawe-gawe.

        Kiro-kiro umure seket pitu,
        Wis meh podo karo yuswane ibu,
        Opo karepe aku ra ngerti,
        Saben ndino aku dikirimi roti.

        Suwe-suwe atiku soyo tambah bingung,
        Kudu-kudu kepengin nang omahe.

        Kok ndilalah ibu pirso kabehe,
        Saben teko rotine dibalek-ke,
        Atiku tentrem koyo adate,
        Yen tak pikir aku kudu ngguyu dewe.

        • Ki Pandan ketoke trauma……

          JANUR KUNING
          Soyo nglangut rasaning atiku
          Gawang2 gegambaran ming sliramu
          Jroning ngimpi amung tansah ngatoni
          Cecaketan, sesandingan antep janji
          Ora nyono lan ora nggrahito
          Ono warto gawe tumetesing waspo
          Sliramu bebrayan karo kenyo liyo
          Ra di nyono yen sliramu bakal cidro

          Ati kaget rikolo krungu wartamu
          Peteng ndedet yen moco nawalamu
          Koyo mengkene pacobaning uripku
          Koyo mengkene sing dadi lelakonku
          Janur Kuning gawe tangising atiku
          Yen kelingan sumedot rasaning ati
          Nanging kabeh mau kudu tak alami
          Lakonono aku pasrah tak lilani

      • Rondho ngarep omah…yen turu mesthi mlumah
        Kadang2 lakune ora nggenah…mesam mesem nek dijamah

        • Mboten telentang to Ki drawasi nek tilem…..?

  19. pada nembang kabeh….
    aku tak ngrungokke, sinambi ngenteni wedaran…

  20. sugeng sonten………..
    podho.. ngenteni wedaran uga….

    • Biasanipun menawi dipun rayu Miss Nona, ….. Ki Panji Satrio Pamedar lajeng deg2an ketrucut wedaranipun, ……

  21. SELAMAT SORE,

    ting-ting-tiiiing….juragan tahu campur leWAT
    tung-tung-tuuuung….juragan dawet datang lagi

    tong-tong-toooong….P.Satpam keliling dewe-AN
    teng-teng-teeeeng….cantrik nunggu wedaran rontAL

    tang-tang-taaaang….tkang servis cari peralatan

    • Sugeng sonten Ki GundULLLL, …..
      Kalo yang hidup di luar Bhumi Nuswantoro tentu rindu bunyi2an itu!

  22. selamat sore juga ki TRUNO,

    betul juga ya ki…hmmmm, kalo di NEGERI
    P.Satpam apa ya masih ada.

  23. Alhamdulillah, teman2 yang nungguin terbitnya bukan ADBM, ternyata sudah jadi buku judulnya Mataram Binangkit. Nah lho ini bukan iklan cuma pemberitahuan saja! Saya ketemu beliau di FB. He he he he, ……

    Segera terbit
    Mataram Binangkit Jilid 1 (MB-1), Karya Agus S. Soerono, Tebal: 100 halaman, Cover: HVS 70 gram, Isi : Kertas Buram, Harga: Rp 30.000 Belum termasuk ongkos kirim. Ongkos kirim dapat dilihat di http://www.jne.co.id/. Pengiriman …dilakukan dari Tangerang. 100 Buku pesanan pertama akan ditandatangani langsung oleh pengarang. Rencana terbit Cetakan I pada 5 Maret 2011. Pembayaran melalui transfer Bank BCA No. Rek. 288.1221.715 Atau Bank Mandiri No. Rek. 121.000.458.3138 a/n Ir. R. Agus Suprihanto.
    Setelah transfer kirim SMS ke HP: 0817.857.929 atau email ke agussoerono@yahoo.com
    Format Pemesanan
    Nama/Nama FB/E-mail/Alamat lengkap: (RT/RW/Kel./Kec)/Kota/Kode Pos/No. Tlp/HP/Tgl transfer/Pesanan: MB-1.See More
    February 5 at 3:16pm · LikeUnlike
    #

    • nuwun sewu, ki trupod…

      kalau gak salah, ki agus masih menunggu pameling dari keluarga ki shm untuk terusan adbm 397nya…

      sementara menunggu, beliau menerbitkan mb…

      mohon koreksi…

      • eh… salah…

        mohon koreksinya… (saya yang dikoreksi maksudnya…)

    • Asyik, mau dong….
      aku pesen 1 ya….

  24. Menurut Survey para cantrik disini selain menunggu wedaran rontal kesukaannya adalah membaca….. BOBO sama Gadis ?

  25. “hari ini enaknya jalan-jalan ke mana ya?
    sik … sik … , cari tempatnya dulu.
    eh….., nanti aja deh, bakda Isya’”

    enak-e uklam-uklam nang Candi Badut Sam Satpam, cidek karo tlatah Sengkaling, isih tunggal Kabuyutan Dau…

  26. lama juga menunggu bakda isya ya

  27. malam ini enaknya jalan-jalan ke mana ya…??

    1. ke mBEKASI juga boleh
    2. ke PEKANBARU boleh juga

    3. ke mBOGOR enak juga
    4. ke mBANDUNG juga enak

    5. ke YOGYA bisa juga
    6. ke SOLO juga bisa

    7. ke JAKARTA asik juga
    8. ke BANTEN juga asik

    9. ke BANYUWANGI okey juga
    10. ke SURABAYA juga okey

    ayo dibantu-ayo dibantu…bim salabim ditaruh
    mana…prok-prok-prok!!?? bantu-ya…bantu-ya
    sekali lagi,

    bim salabim ditaruh mana…prok-prok-prok!!??

    • Lho tlatah Lendhut-Benter ora melu kasebut….?
      Ki GundUL pancen senengane sentimen.

      he….he….he…..
      sugeng dalu.

      • hiiks, mangke diSEBUT pas kongres
        mpun ketok palu ki Gembleh.

        sugeng dalu,

  28. Matur nuwun, sampun ngunduh rontalipun …

  29. Selamat malam semua
    terima kasih atas rontalnya

  30. Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,

    kula sampun sowan wonten ngarsanipun Ki Bayu,
    kata pengantar sampun kula ogrok.

    Sugeng dalu.

  31. Ngantuk…

    Ono cantrik sing neng Belitung ra yo…?

    mboten ketingal kelip-kelip ki

    • Wonten Ki,
      cantrik Laskar PELANGI bukan di langit Singasari.

    • Kok nyarinya Cantrik Ki Pandan, …. nopo mpun bosen kalih Mentrix, …… hiks.
      Ora pareng dukooo!
      Matur nuwun Ki Panji Satrio….

      • Ada maksud tersirat ki….mesthi ga jauh2 dari permintaan bantuan sekitaran mentrik.
        Xixixi

    • napo cari nak cari amoy belitung tu ?

  32. terima kasih piwulangnya
    terima kasih lontarnya.
    matur nuwun.

  33. Masuk ke gandok khusus Bayuaji, menambah keyakinan, bahwa ajaran TAUHID telah tumbuh berkembang di tanah JAWA. Gue pernah baca kalo jawa/jawen itu artinya TAUHID. JADI kejawen artinya ketauhidan. JADI Pulau jawa artinya pulau tauhid. OH…senangnya lahir dan besar di Pulau Tauhid.
    Apa yang dikhawatirkan oleh Ki Bayuaji memang sesuatu yang harus dipahami dan digaris bawahi, ibarat sebuah silet tergantung siapa yang memegangnya, semoga tidak sembarangan memberinya kepada anak BALITA. Dan semoga mereka yang sudah dewasa dapat MEMANFAATKANNYA.

    Kamsia untuk semua dan segalanya.

  34. Suwun, kadit odis uklam-uklam nang Candi Badut, ngrungokno piwulange Ki Bayuaji ae, oleh sangu rontal…

    Sorry bes, padepokan belum unyap halaman Candi Badut.

  35. Matur sembah nuwun, HLHLP-101 sampun kulo undhuh.
    Sugeng dalu.

  36. matur nuwun pengantar-ipun
    sampuan nyaut rontal…
    bablassss pamit

  37. Terima kasih rontalnya…..!

  38. Genk enjink…
    Menikmati sunrise belitong….mung ora ono kadang cantrik neng kene

    • sunrise belitong….merah meRONA apa
      merah meREKAH ya ki,

      SELAMAT PAGI,

      • Ki GundUL ini, cara menulisnya kog mirip ki YuPram yo?
        apa karena skrg dah gundul jadi ganti nama?

        • selamat sore miss nona,

          sama-sama cantrik memang ya NI, nulis mirip cuma kebetulan.

    • Weh enaknya bisa jalan2 ke Belitong…

  39. Selamat pagi,….
    Hadir.

  40. Matur nuwun P. Satpam,
    nderek jalan-jalan.
    Sakpuniko bade langsung mbikak rangsum.
    Sugeng enjing.

  41. @ Ki Satpam

    Lapor. Kulo sampun ngunduh kitab 096 dumugi 101, matur nuwun ki Arema, ki Satpam.
    Laporan selesai.

    • Siap, ….. laksanakan!

      • belom siap,….tunggu sebentar !!

        • Ki Truno, Ki Gundul sugeng enjing, sami sehat ki? Tlatah Tambun cerah rur panas. Laporan selesai.

        • Aku ngebayangin Ki Dojo’s sedang lenggah sinewoko di pringgitan, ngadepi poro Cantrik dan Mentrik Padhepokan Lemah Warah.

          • Cantrik injih wonten Ki, mentrikipun taksih wonten teng padepokan PDK.

          • Enake ote-ote neng pendopo

  42. ngisi komen disik…

  43. Assalamu’alaikum, selamat siang…
    pha kabar Ki Arema dan sesepuh PDLS (dah lama nech ndak sowan)
    pha kabar cantrik dan mentrik semuanya…

  44. Wilujêng siyang

    Adoh sêka surup

    Srêngéngé isih sumunar manasi bantålå
    Isih adoh karo surup
    Laku rikating manungså kang tansah ngubêr donyå lan kamuktèn tan ånå kêndaté

    Gantung kabèh kêkarêpan
    Ing pundhak kang isih kuwåwå ngangkat
    Nadyan aboté nganti dikåyå ngåpå pisan
    nJur Gusti ‘dipêrnahké’ ånå ngêndi???

    Taman Fatahilah & Musium Wayang, Februari 2011

    © cantrik bayuaji

  45. met siang semuanya

  46. Malem jumat kliwon……..?

    Sholawat Salam
    Wafiq Azizah

    Allahuma sholli wa salim ala
    Sayidina wamaulana Muhammadin
    Sayidina wamaulana Muhammadin

    Wong urip neng donyo mung sedelo
    Sing suwe ono ing alam baqo
    Sing suwe ono ing alam baqo
    Eling ngobati bakale teko
    Yen wis teko ora keno sumoyo
    Kalang kalingan, kalang kalingan papan
    Turu dewekan sepi neng kuburan
    Ya Robbi.. Ya Robbi..
    Sholli ala Muhammad
    Ya Robbi sholli alaihi wassalim
    Sholat ibadah kawulo
    Gesang ugi pejah kulo
    lillahi Rabbil ‘alamiin
    Ya Allah lillahi Robbil ‘alamiin

  47. Menjelang magrib…..?

    RINDU ROSUL
    Bimbo

    Rindu kami padamu ya rasul
    rindu tiada terpera
    berabad jarak darimu ya rasul
    serasa dikau di sini
    Cinta ikhlasmu pada manusia
    bagai cahaya surga
    dapatkah kami membalas cintamu
    secara bersahaja
    Rindu kami padamu ya rasul
    rindu tiada terperi
    berabad jarak darimu ya rasul
    serasa dikau di sini
    Cinta ikhlasmu pada manusia
    bagai cahaya suarga
    dapatkah kami membalas cintamu
    secara bersahaja
    Rindu kami padamu ya rasul
    rindu tiada terperi
    berabad jarak darimu ya rasul
    serasa dikau di sini

  48. Malem Jum’at, apike tadarus nanging absen disik sakdurunge budal neng mesjid (Isya’).
    Sugeng dalu Ki Sanak sedoyo.

    • Malem jum’at nonggo ngarep omah
      Nonggo ngudut nonggo ngopi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: