HLHLP-105

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 16 Februari 2011 at 15:42  Comments (199)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-105/trackback/

RSS feed for comments on this post.

199 KomentarTinggalkan komentar

  1. Dari padepokan sebelah. Monggo
    OJO SUJONO

    aku wis ngaku salah
    kondho sak nyatane
    soko ati ra mung ono lambe
    geni sing neng ati
    enggal disirami
    yo ben adem koyo dek wingi

    mbok wis ojo sujono
    ojo nyiksa raga
    tresno kuwi mesti ono goda
    mowo sing nang dada
    enggal dileremno
    yo ben tentrem koyo dek semono

    ronce ronce melati benange nglawe
    pupus klopo sing ngelingke

    nganti tuwo aku isih tresno kowe
    senadyan ono goda sepiro akehe

    Ini tambahan dari cantrik pribados.
    nganti saiki aku isih ngenteni rontal- mu
    senadyan atiku deg degan
    apa iya sliramu diwedhar wengi iki.
    Yen iya ya matur nuwun, yen ora ya kebangeten

    • He….he….he……
      Ki Djojo mewakili kenakalan Ki Menggung
      kata Ki Pandanalas, ngogrok poreper.

      Sugeng dalu Ki.

      • Niru niru mawon ki, sugeng dalu

        • mangke kulo diPINJAMi bukuNE
          ki,….sugeng DALU.

  2. jurus Ki Djojosm cespleng

  3. Gue ade saran,
    Gimana setelah enggak ade rontal yang diwedar, dari pade kite bubaran, mendingan kite bikin PARPOL, bayangin, dari kurang lebih 700 ribu cantrik dikaliin keluarga plus cucunya, kite bisa punya 700ribu x 10 jadi kurang lebih 7 juta suara.
    Untuk pimpinan PARPOL, syarat2 nya harus KEREN, GANTENG, PUNYA WIBAWA, ELMUNYA SUDAH AJEG dan yang pasti cinta tanah air, bela mati untuk rakyat.
    NACH, dari kriteria diatas, gue punya calon.
    1. Ki Pandanalas, Ki Widura, Ki Djodjosm, Ki Bayuaji, Ki Ismoyo dan mereka yang seumur keliatannya enggak cocok meski dari segi pendidikan mereka sudah S4 (sudah sangat sepuh sekali)
    2. Ki Punakawan, meski wawasannya oke, cinta negerinya juga dibilang oke, tapi beliau sudah janji tidak mau jadi apapun kecuali sebagai PUNAKAWAN.
    3. Kangmas GEMBLEH, menurut gue boleh juga, tapi bodynye itu yang enggak memenuhi syarat.
    Berdasarkan diatas, maka yang paling cocok kayaknya GUE sendiri, ganteng, keren so pasti, soal wibawa jangan ditanya, soal elmu hemmm enggak ada yang nandingin…….terus sosl umur, umur gue lebih dikit dari jon ef kenedy waktu jadi presiden AMRIK, jadi jelas gue lebih mateng dikit.
    SORY, yang enggak disebut namanya, bukan berarti masuk kriteria, tapi enggak masuk cadangan acan-acan.
    GIMANA ??, SETUJU gue jadi ketua PARPOL ?

    • SETUJUUUUUUUUUUUU

      • Kalau ane sih setuju aje, nyang penting ane bakal dapet jabatan Ketua Dewan Penasihat.
        Cuman ane rada2 kawatir, ntar kalo sohib kite, Ki Menggung kage puas die bakalan mbikin tandingan,
        namenye Parpol Permblumbangan.

        • cocok betul KANGMAS Gembleh jadi Ketua Dewan Penasehat, tugasnya nasehatin Pakde Widura jangan “jail”
          Permintaan DITERIMA.i
          Gue lagi bingung, kalo ada permintaan dari kabinet untuk Mantri pendayagunaan peranan wanita, Ki Pandanalas kira-kira cocok apa enggak ya ??? mohon pertimbangan KETDEPEN

          • Mantri Memperdayai Perempuan

          • melu kabelNET taun pertama
            apa tahun berikut-E ki..?

    • Sarujuk ki dengan syarat padepokan kulo ditambih mentrik-ipun

      • Syarat dari Ki Djojosm akan dipikirkan,mudah-mudahan yang laen enggak iri kalo gue titip JUVE

        • ha-ha-haaaa…gue sangat2 setuju
          sekali,

          syaratnya cuMA 1 ki Kompor ketua
          PARPOL cuma satu TAHUN, sisa masa
          JABATAN biar gue yang ngLanJUTin.

          Ok siip,…tok-tok2 gak boleh di
          ganggu guGAT.

          • Mumpung setahun, Ki Yudha gue pecat duluan, jadi gue tetep ketua abadi
            keren khan ???

          • hiks, kagak BISA dipecat
            ki…lha gue isih diLUAR
            gelangGANG.

            baru masoek SAToe tahun
            kemudian….he3x (ngeles)

          • Iki opo sich ra jelas barblas hehehe

          • pake SENter Ni, biar
            terLIHAT jelas dikit

  4. melok absen bengi… Untuk kelanjutan cerita lain, aku pasrah bongkok’an ke pak satpam….

  5. Sampai jam ini (17.38 wib), P. Satpam masih menunggu kiriman dari Tanjung Pinang.

    Mohon bersabar, nggih…

    sudah diperbarui Pak De
    he he …

    • hiks,
      coba klik gambarnya Pakde, pasti ada yang nyantol
      Suer, ane enggak pernah boong………

    • Jam 10.32 kiriman dari Tanjung Simpang sudah tiba … sayang koneksi di Tumapel sangat lemot …
      Mau ngunggah pedhot-pedhot terus …….

      Mohon bersabar nJih …..
      Mudah-2 Pak Satpam tidak ketiduran … di tegalan …

      • Selamat bobo Paklek Satpam, mimpi indah bertemu Ketua PARPOL masa depan……

  6. Digambar kaper, yang ketancep pedang siapa ya ???
    kayaknya, “anu” nya kok juga ketancep panah, ape gue salah napsirin ????

    • Justru itu anunya anu kok Ki Plung Kompor.
      Pa’e Satpam bobo, aku tek turu, …… blep, …. ke kedalaman kedung Bagasasi.

  7. mangga cangkruk….

  8. PEMIMPIN & KEPEMIMPINAN

    Tulisan ini dibuat untuk menyambut pemilihan lurah di kampungnya Ki Bayuaji. Tulisan ini ‘dikultumkan’ oleh punåkawan pada Jum’at 18 Februari 2011 pukul 03.39 wib dini hari tadi, setelah shalat Tahajjud berjamaah di padepokan Ki Bayuaji, yang merupakan “siaran-ulang” dari kultum beberapa hari yang lalu di pondoknya Ki Bayuaji di kampungnya sana.

    Adalah tradisi di kampungnya Ki Bayuaji, bahwa lurah harus dipilih secara demokratis oleh para penduduk yang berhak memilih. Pemilihan dilakukan karena lurah yang sekarang menjabat sudah sangat sepuh, dan beliau ingin lèngsèr kêprabon, madêg panditå].

    Bayangkan beliau sudah 36 tahun menjabat Kepala Desa (dikampungnya Ki Bayuaji sebutan masyarakat terhadap lurahnya adalah “Kalebun”); dan penduduk di kampung itu merasa dihayomi, dan hidupnya aman tenteram dan hayem.

    Kyai Sepuh demikian panggilan “Pak Kalebun” yang sekarang masih menjabat, dalam memimpin dusunnya sangat hamangku artinya beliau lebih banyak memberi daripada menerima. Beliau hamêngku yang bermakna ngêmong, mengayomi, dan beliau juga hamêngkoni yang berarti memberikan keteladanan. Beliau sangat dihormati rakyatnya. Dan dari sekian banyak calon yang ada, nampaknya belum ada yang dapat memenuhi harapan penduduk seperti Kyai Sepuh tadi. Yang ada adalah hanya hingar-bingar kampanye yang tak ada makna.

    Tulisan ini sekedar ngudåråså, bagaimana seharusnya seorang pemimpin itu.

    Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

    Sesungguhnya diantara kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah:

    Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).

    Hadits ini diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahihnya no. 7146 dengan judul “Siapa yang tidak meminta jabatan, Allah akan menolongnya dalam menjalankan tugasnya” dan no. 7147 dengan judul “Siapa yang minta jabatan, akan diserahkan padanya (dengan tidak mendapat pertolongan dari Allah dalam menunaikan tugasnya)”.

    Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahihnya no. 1652 yang diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi “Bab larangan meminta jabatan dan berambisi untuk mendapatkannya”.

    Masih berkaitan dengan permasalahan di atas, juga didapatkan riwayat dari Abu Dzar Al-Ghifari. Ia berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku sebagai pemimpin?

    Mendengar permintaanku tersebut beliau menepuk pundakku seraya bersabda:

    Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Shahih, HR. Muslim no. 1825).

    Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    Wahai Abu Dzar, aku memandangmu seorang yang lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan jangan sekali-kali engkau menguasai pengurusan harta anak yatim.” (Shahih, HR. Muslim no. 1826).

    Al-Imam An-Nawawi membawakan kedua hadits Abu Dzar di atas dalam kitab beliau Riyadhush Shalihin, bab “Larangan meminta jabatan kepemimpinan dan memilih untuk meninggalkan jabatan tersebut jika ia tidak pantas untuk memegangnya atau meninggalkan ambisi terhadap jabatan”.

    Menjadi seorang pemimpin dan memiliki sebuah jabatan merupakan impian semua orang kecuali sedikit dari mereka yang dirahmati oleh Allah. Mayoritas orang justru menjadikannya sebagai ajang rebutan, khususnya jabatan yang menjanjikan keduniawian (tahta, harta dan wanita) dan kesenangan dunia lainnya.

    Sungguh benar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyampaikan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah:

    Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 7148).

    Bagaimana tidak, dengan menjadi seorang pemimpin, memudahkannya untuk memenuhi tuntutan hawa nafsunya berupa kepopuleran, penghormatan dari orang lain, kedudukan atau status sosial yang tinggi di mata manusia, menyombongkan diri di hadapan mereka, memerintah dan menguasai kekayaan, kemewahan serta kemegahan.

    Wajar bila kemudian untuk mewujudkan ambisinya ini, banyak elit politik atau ‘calon pemimpin’ dibidang lainnya, tidak segan-segan melakukan politik uang dengan membeli suara masyarakat pemilih atau mayoritas anggota dewan. Atau ‘sekedar’ uang tutup mulut untuk meminimalisir komentar miring saat berlangsungnya kampanye, dan sebagainya. Bahkan ada yang ekstrim, ia pun siap menghilangkan nyawa orang lain yang dianggap sebagai rival dalam perebutan kursi kepemimpinan tersebut. Atau seseorang yang dianggap sebagai duri dalam daging yang dapat menjegal keinginannya meraih posisi tersebut. Nas-alullah as-salamah wal ‘afiyah.

    Berkata Al-Muhallab sebagaimana dinukilkan dalam Fathul Bari (13/135): “Ambisi untuk memperoleh jabatan kepemimpinan merupakan faktor yang mendorong manusia untuk saling membunuh. Hingga tertumpahlah darah, dirampasnya harta, dihalalkannya kemaluan-kemaluan wanita (yang mana itu semuanya sebenarnya diharamkan oleh Allah) dan karenanya terjadi kerusakan yang besar di permukaan bumi.

    Seseorang yang menjadi penguasa dengan tujuan seperti di atas, tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di akhirat kecuali siksa dan adzab. Allah berfirman:

    Itulah negeri akhirat yang Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri di muka bumi dan tidak pula membuat kerusakan. Dan akhir yang baik itu hanya untuk orang-orang yang bertakwa.” [QS. Al Qashash (28) : 83].

    Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Allah mengkhabarkan bahwasanya negeri akhirat dan kenikmatannya yang kekal tidak akan pernah lenyap dan musnah, disediakanNya untuk hamba-hambaNya yang beriman, yang tawadhu’ (merendahkan diri), tidak ingin merasa tinggi di muka bumi yakni tidak menyombongkan di hadapan hamba-hamba Allah yang lain, tidak merasa besar, tidak bertindak sewenang-wenang, tidak lalim, dan tidak membuat kerusakan di tengah mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/412).

    Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin: “Seseorang yang meminta jabatan seringnya bertujuan untuk meninggikan dirinya di hadapan manusia, menguasai mereka, memerintahnya dan melarangnya. Tentunya tujuan yang demikian ini jelek adanya. Maka sebagai balasannya, ia tidak akan mendapatkan bagiannya nanti di akhirat. Oleh karena itu seseorang dilarang untuk meminta jabatan.” (Syarh Riyadhdus Shalihin, 2/469).

    Sedikit sekali orang yang berambisi menjadi pimpinan, kemudian berpikir tentang kemaslahatan umum dan bertujuan memberikan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan kepemimpinan yang kelak bisa dia raih. Kebanyakan mereka justru sebaliknya, mengejar jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

    Program perbaikan dan janji-janji muluk yang digembar-gemborkan sebelumnya, tak lain hanyalah ucapan yang manis di bibir. Hari-hari setelah mereka menjadi pemimpin yang kemudian menjadi saksi bahwa mereka hanyalah sekedar mengobral janji kosong dan ucapan dusta yang menipu.

    Bahkan yang ada, mereka berbuat zhalim dan aniaya kepada orang-orang yang dipimpinnya. Ibaratnya ketika belum mendapatkan posisi yang diincar tersebut, yang dipamerkan hanya kebaikannya. Namun ketika kekuasaan telah berada dalam genggamannya, mereka lantas mempertontonkan apa yang sebenarnya diinginkannya dari jabatan tersebut.

    Hal ini sesuai dengan pepatah ‘musang berbulu domba’. Ini sungguh merupakan perbuatan yang memudharatkan diri mereka sendiri dan nasib orang-orang yang dipimpinnya.

    Betapa rakus dan semangatnya orang-orang yang menginginkan jabatan ini, sehingga Rasulullah menggambarkan kerakusan terhadap jabatan lebih dari dua ekor serigala yang kelaparan lalu dilepas di tengah segerombolan kambing.

    Beliau bersabda:

    Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah segerombolan kambing lebih merusak dari pada merusaknya seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR. Tirmidzi no. 2482, dishahihkan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/178).

    Sifat Seorang Pemimpin

    Ditengah gencarnya para elit politik menambang suara dalam rangka memperoleh kursi ataupun jabatan, maka layak sekali apabila hadits yang diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah dan Abu Dzar di atas dihadapkan kepada mereka, khususnya lagi pada hadits Abu Dzar yang menyebutkan kriteria yang harus diperhatikan dan merupakan hal mulia jika ingin menjadi pemimpin.

    Rasulullah berkata kepada Abu Dzar:
    Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah”.

    Ucapan seperti ini bila disampaikan secara terang-terangan memang akan memberatkan bagi yang bersangkutan dan akan membekas di hatinya. Namun amanahlah yang menuntut hal tersebut. Maka hendaknya dijelaskan kepada orang tersebut mengenai sifat lemah yang melekat padanya.

    Namun jika seseorang itu kuat, maka dikatakan padanya ia seorang yang kuat. Dan sebaliknya, bila ia seorang yang lemah maka dikatakan sebagaimana adanya. Yang demikian ini merupakan suatu nasehat.

    Dan tidaklah berdosa orang yang mengucapkan seperti ini bila tujuannya untuk memberikan nasehat bukan untuk mencela atau mengungkit aib yang bersangkutan.

    Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Makna ucapan Nabi kepada Abu Dzar adalah beliau melarang Abu Dzar menjadi seorang pemimpin karena ia memiliki sifat lemah, sementara kepemimpinan membutuhkan seorang yang kuat lagi terpercaya.

    Kuat dari sisi ia punya kekuasaan dan perkataan yang didengar/ditaati, tidak lemah di hadapan manusia. Karena apabila manusia menganggap lemah seseorang, maka tidak tersisa baginya kehormatan di sisi mereka, dan akan berani kepadanya orang yang paling dungu sekalipun, sehingga jadilah ia tidak teranggap sedikitpun.

    Akan tetapi bila seseorang itu kuat, dia dapat menunaikan hak Allah, tidak melampaui batasan-batasannya, dan punya kekuasaan. Maka inilah sosok pemimpin yang hakiki.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/472).

    Rasulullah juga menyatakan kepada Abu Dzar bahwa kepemimpinan itu adalah sebuah amanah. Karena memang kepemimpinan itu memiliki dua rukun, kekuatan dan amanah, hal ini dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan dalil:

    Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” [QS. Al Qashash (28) : 26].

    Penguasa Mesir berkata kepada Yusuf ‘Alaihissalam:

    Sesungguhnya kamu mulai hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami.” [QS Yusuf (12) : 54].

    Allah menyebutkan sifat Jibril dengan menyatakan:
    Sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang memiliki ‘Arsy. Yang ditaati di kalangan malaikat lagi dipercaya.” [QS. At Takwir (81) : 19-21].

    Beliau rahimahullah berkata: “Amanah itu kembalinya kepada rasa takut pada Allah, tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, dan tidak takut kepada manusia.

    Inilah tiga perangai yang Allah tetapkan terhadap setiap orang yang memutuskan hukuman atas manusia. Allah berfirman:

    Maka janganlah kalian takut kepada manusia, tapi takutlah kepadaKu. Dan jangan pula kalian menjual ayat-ayatKu dengan harga yang sedikit. Siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” [QS. Al Maa’idah (5) : 44) (As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, hal. 12-13).

    Al-Imam Al-Qurthubi menyebutkan beberapa sifat dari seorang pemimpin ketika menafsirkan ayat:

    Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), kemudian Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam (pemimpin) bagi seluruh manusia’. Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfirman: ‘JanjiKu (ini) tidak mengenai orang-orang yang zhalim’.” [QS. Al Baqarah (2) : 124].

    Beliau berkata: “Sekelompok ulama mengambil dalil dengan ayat ini untuk menyatakan seorang imam (pemimpin) itu harus dari kalangan orang yang adil, memiliki kebaikan dan keutamaan juga dengan kekuatan yang dimilikinya untuk menunaikan tugas kepemimpinan tersebut.” (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, 2/74).

    Sebenarnya masih ada beberapa syarat pemimpin yang tidak disebutkan di sini karena ingin kami ringkas. Mudah-mudahan, pada kesempatan yang lain bisa kami paparkan.

    Nasehat bagi mereka yang sedang berlomba merebut jabatan/kepemimpinan

    Kepemimpinan adalah amanah, sehingga orang yang menjadi pemimpin berarti ia tengah memikul amanah. Dan tentunya, yang namanya amanah harus ditunaikan sebagaimana mestinya.

    Dengan demikian tugas menjadi pemimpin itu berat, sehingga sepantasnya yang mengembannya adalah orang yang cakap dalam bidangnya. Karena itulah Rasulullah melarang orang yang tidak cakap untuk memangku jabatan karena ia tidak akan mampu mengemban tugas tersebut dengan semestinya.

    Rasulullah juga bersabda:

    Apabila amanah telah disia-siakan, maka nantikanlah tibanya hari kiamat. Ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah? Beliau menjawab: ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat”” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 59).

    Selain itu, jabatan tidak boleh diberikan kepada seseorang yang memintanya dan berambisi untuk mendapatkannya. Abu Musa radhiallahu ‘anhu berkata: “Aku dan dua orang laki-laki dari kaumku pernah masuk menemui Rasulullah. Maka salah seorang dari keduanya berkata: ‘Angkatlah kami sebagai pemimpin, wahai Rasulullah’. Temannya pun meminta hal yang sama.

    Bersabdalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    Kami tidak menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya.” (HR. Al-Bukhari no. 7149 dan Muslim no. 1733).

    Hikmah dari hal ini, kata para ulama adalah orang yang memangku jabatan karena permintaannya, maka urusan orang tersebut akan diserahkan kepada dirinya sendiri dan tidak akan ditolong oleh Allah, sebagaimana sabda Rasulullah kepada Abdurrahman bin Samurah di atas:

    Bila engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun bila diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).
    Siapapun yang tidak ditolong maka ia tidak akan mampu. Dan tidak mungkin jabatan itu diserahkan kepada orang yang tidak cakap. (Syarah Shahih Muslim, 12/208, Fathul Bari, 13/133, Nailul Authar, 8/294).

    Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Sepantasnya bagi seseorang tidak meminta jabatan apapun. Namun bila ia diangkat bukan karena permintaannya, maka ia boleh menerimanya. Akan tetapi jangan ia meminta jabatan tersebut, dalam rangka wara’ dan kehati-hatiannya dikarenakan jabatan dunia itu bukanlah apa-apa.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/470).

    Al-Imam An-Nawawi berkata ketika mengomentari hadits Abu Dzar:
    Hadits ini merupakan pokok yang agung untuk menjauhi kepemimpinan terlebih lagi bagi seseorang yang lemah untuk menunaikan tugas-tugas kepemimpinan tersebut.

    Adapun kehinaan dan penyesalan akan diperoleh bagi orang yang menjadi pemimpin sementara ia tidak pantas dengan kedudukan tersebut atau ia mungkin pantas namun tidak berlaku adil dalam menjalankan tugasnya. Maka Allah menghinakannya pada hari kiamat, membuka kejelekannya, dan ia akan menyesal atas kesia-siaan yang dilakukannya.

    Adapun orang yang pantas menjadi pemimpin dan dapat berlaku adil, maka akan mendapatkan keutamaan yang besar sebagaimana ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih, seperti hadits:

    Ada tujuh golongan yang Allah lindungi mereka pada hari kiamat, di antaranya imam (pemimpin) yang adil”.

    Dan juga hadits yang disebutkan setelah ini tentang orang-orang yang berbuat adil nanti di sisi Allah (pada hari kiamat) berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Demikian pula hadits-hadist lainnya. Kaum muslimin sepakat akan keutamaan hal ini.

    Namun bersamaan dengan itu karena banyaknya bahaya dalam kepemimpinan tersebut. Rasulullah memperingatkan darinya, demikian pula ulama.
    Beberapa orang yang shalih dari kalangan pendahulu kita mereka menolak tawaran sebagai pemimpin dan mereka bersabar atas gangguan yang diterima akibat penolakan tersebut.
    ” (Syarah Shahih Muslim, 12/210-211).

    Ada sebagian orang menyatakan bolehnya meminta jabatan dengan dalil permintaan Nabi Yusuf kepada penguasa Mesir:

    Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” [QS. Yusuf (12) : 55].

    Maka dijawab, bahwa permintaan beliau ini bukan karena ambisi beliau untuk memegang jabatan kepemimpinan. Namun semata karena keinginan beliau untuk memberikan kemanfaatan kepada manusia secara umum sementara beliau melihat dirinya memiliki kemampuan, kecakapan, amanah, dan menjaga terhadap apa yang tidak mereka ketahui. (Taisir Al-Karimirrahman, hal. 401).

    Al-Imam Asy-Syaukani berkata: “Nabi Yusuf meminta demikian karena kepercayaan para Nabi terhadap diri mereka dengan sebab adanya penjagaan dari Allah terhadap dosa-dosa mereka (ma’shum).

    Sementara syariat kita yang sudah kokoh (tsabit) tidak bisa ditentang oleh syariat umat yang terdahulu sebelum kita, karena mungkin meminta jabatan dalam syariat Nabi Yusuf pada waktu itu dibolehkan.” (Nailul Authar, 8/294).

    Ketahuilah wahai mereka yang sedang memperebutkan kursi jabatan dan kepemimpinan, sementara dia bukan orang yang pantas untuk mendudukinya, kelak pada hari kiamat kedudukan itu akan menjadi penyesalan karena ketidakmampuannya dalam menunaikan amanah sebagaimana mestinya.

    Al-Qadhi Al-Baidhawi berkata: “Karena itu tidak sepantasnya orang yang berakal, bergembira dan bersenang-senang dengan kelezatan yang diakhiri dengan penyesalan dan kerugian.” (Fathul Bari, 13/134).

    Simpulan

    1. Kepemimpinan, jabatan, kekuasaan, dan kedudukan tidak boleh diberikan kepada orang yang memintanya, berambisi untuk meraihnya, dan menempuh segala cara untuk mendapatkannya.

    2. Orang yang paling berhak menjadi pemimpin, penguasa, dan memangku jabatan/kedudukan adalah orang yang menolak ketika diserahkan kepemimpinan, jabatan dan kedudukan tersebut dalam keadaan ia benci dan tidak suka dengannya.

    3. Kepemimpinan adalah amanah yang besar dan tanggung jawab yang berat. Maka wajib bagi orang yang menjadi pemimpin untuk memperhatikan hak orang-orang yang di bawah kepemimpinannya dan tidak boleh mengkhianati amanah tersebut.

    4. Keutamaan dan kemuliaan bagi seorang yang menjadi pemimpin dan penguasa apabila memang ia pantas memegang kepemimpinan dan kekuasaan tersebut, sama saja ia seorang pemimpin negara yang adil, ataukah bendahara yang terpercaya atau karyawan yang menguasai bidangnya.

    5. Ajakan kepada mereka untuk tidak berambisi meraih kedudukan tertentu, khususnya bila ia tidak pantas mendapat kedudukan tersebut.

    6. Kerasnya hukuman bagi orang yang tidak menunaikan kepemimpinan dengan semestinya., tidak memperhatikan hak orang-orang yang dipimpin dan tidak melakukan upaya optimal dalam memperbagus urusan kepemimpinannya.

    Semoga bermanfaat.

    Nuwun. Sugêng énjang. Sugêng tindak makaryå

    punåkawan

    • Yth. Ki Puno dan poro sutresno Pdls-er.
      Alhamdulillah, …….. masih ada orang yang dapat dijadikan souri tauladan bagaimana seorang pemimpin itu. Tentunya di persada Nuswantoro ini masih banyak Pak Kalebun – Pak Kalebun yang lain dengan berbagai plus-minusnya. Sayang ya kesouritauladanan itu gak bisa ditampilkan dalam bentuk reportase ataupun cerita pendek ataupun panjang, agar banyak calon2 pemimpin yang bisa membacanya. Media informasi kita lebih banyak menyorot hal-hal negatif untuk diberitakan, ketimbang hal-hal positif yang dapat lebih bermanfaat. Media informasi kita lebih suka memberitakan masyarakat yang mengalap berkah dari air cucian benda keramat, ataupun berebut telethong kerbau, dari pada menceriterakan keseharian Pak Kalebun memimpin desanya dengan cara kepemimpinan yang benar. Pada kesempatan ini saya menggugah kepada para Cantrik Pdls-er untuk beramai-ramai menjadi penulis hal-hal positif seperti ini. Jangan sampai timbul persepsi bahwa seolah-olah di negara kita ini adanya hanya pemimpin2 yang layak ditangkap KPK saja.
      Matur nuwun.

    • Ini sepertinya ditujukan untuk Ki Kompor dan Ki Gembleh………….partai belum jadi sudah rame sendiri……….afwan just kidding

  9. Dalam masa penantian …begak bengok wae ?

    JALI JALI

    Ini dia si jali jali
    Lagunya enak lagunya enak merdu sekali
    Ini dia si jali jail
    Lagunya enak lagunya enak merdu sekali
    Capek sedikit tidak peduli nona
    E…sayang sayang disayang
    Asalkan nona senang dihati
    E…Capek sedikit tidak peduli nona
    E…sayang sayang disayang
    Asalkan nona senang dihati
    Lajulah laju perahu laju
    Lajulah sampai
    lajulah sampai ke Surabaya
    Lajulah laju perahu laju
    E…sayang sayang disayang
    lajulah sampai ke Surabaya
    E… biarlah lupa kain dan baju sayang
    E… biarlah lupa kain dan baju
    Janganlah lupa kepada saya
    Biarlah lupa kain dan baju sayang
    E… biarlah lupa kain dan baju
    Janganlah lupa kepada saya
    Kalau lah ada jarum yang patah nona
    Jangan disimpan jangan disimpan diatas peti
    E…Kalau lah ada jarum yang patah
    Jangan disimpan jangan disimpan diatas peti
    Kalaulah ada kata yang salah nona
    E.. Kalaulah ada kata yang salah
    Jangan disimpan didalam hati
    Jalilah jali dari cikini nona
    E… Jalilah jail dari cikini nona
    Jalilah jali sampai disini

  10. Apel pagi,
    Hadir nunggu……..

  11. Kulo milih ingkang nomor 3 Pak Satpam.

  12. Absen enjing P. Satpam.
    Tetap sabar walaupun belum ada kiriman rontal.
    Memang para cantrik hanya bisa berdoa nggak bisa bantu apa-apa.
    Saya hanya ikut berdoa semoga Ki Ismoyo selalu sehat dan senantiasa diberi kemudahan dari Allah SWT. Amin

  13. Absen pagi masih dengan sabar menanti

    • masih sabar menanti dengan absen pagi…

  14. The lost story of Naga Sasra dan Sabuk Inten..

    Suatu pagi Mahesa Jenar membersihkan diri di sungai yang sejuk bening, sambil mencuci semua baju yang dipakainya.

    Tiba-tiba terdengar bunyi mencurigakan dari semak-semak di belakangnya..
    -Pasisingsan-desisnya. Bahaya membuatnya lupa bahwa ia belum mengenakan pakaiannya. Dengan segera Mahesa Jenar mengangkat satu kakinya ditekuk ke depan, tangan kirinya disilangkan di atas dadanya, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi. Ajian dahsyat Sasra Birawa siap dilontarkan.
    Dengan kecepatan yang sangat tinggi Mahesa jenar melompat ke arah semak-semak. Namun alangkah terkejutnya Mahesa jenar, ternyata yang muncul adalah Rara Wilis..
    Karena terkejut, tanpa sadar tangan yang telah siap menghantam lawan dengan ajian sasra birawa, berbalik arah menutup bagian tubuhnya yang terbuka…..

    Lanjutannya hilang lagi ki sanak….(wah melanggar hak cipta gak ya?)

  15. Selamat pagi ki/ni/nyi sanak

    masih harus bersabar,
    menurut informasi, ransum sudah digoreng, tinggal membungkus dan mengirim paketnya.

    selamat beraktivitas

    • sendika dhawuh Ki Satpam…ndonga mugi ransum enggal mateng nggorengipun…

    • Pak Lek Satpam ini memang halus perasaannya. Lha wong aku ngrasani jam 9.25, …… beliau berasa pada jam 9.26 disaat postingan saya sedang berjalan.
      Tetapi tetap ora pareng dukoo!

  16. Haduuu, ……. sudah jam 925 Pak Satpam belum bangun juga. Kira2 jam berapa ya beliaunya bangun, ….. soalnya kunci gandok ada dikantongnya, ……
    Nanging kantong clono sing kiwe apa sing tengen, …. kalo gak kleru, salah satu kantongnya itu bolong. Biasa biar mudah nggaruk kalo gatel. Tapi opo sing kiwo opo sing tengen. Lha nek salah ngrogoh bisa blaik tenaaan, ada yang kegaruk! Zhiiihihi, ……. mending nunggu dengan suwabar.
    Yo wis tak ndelik, …… ora pareng dukoo!

  17. Buku horror,
    bis malam penasaran

    Ruben sedang menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jakarta dengan menggunakan bis malam.

    Di tengah perjalanan, saat bis tersebut berhenti di sebuah terminal, seorang kakek tua naik dan menawarkan buku-buku bacaan pada semua penumpang.

    Sesampainya di kursi Ruben:
    “Bukunya nak? Ada macam-macam nih. Buku silat, cinta-cintaan, agama, dan lain-lain”, ujar sang kakek.

    Ruben yang kebetulan sedang tidak bisa tidur pun tertarik. “Ada buku misteri atau horor gak kek?”

    “Oh suka cerita horor yah?”, jawab si kakek. “Kebetulan sisa satu. Pas lagi ceritanya. Tentang bis yang ditinggali banyak arwah penasaran.
    Judulnya ‘Bis Malam Penasaran’.
    Serem banget pokoknya.”

    “Boleh juga tuh. Berapa harganya?”

    “Seratus lima puluh ribu, nak”

    “Walah, mahal bener harganya, kek”.

    “Ya namanya juga buku bagus.
    Best seller.
    Semua yang baca buku ini kabarnya sampe syok loh waktu baca endingnya”,
    si kakek berpromosi ala sales panci.

    Ruben pun akhirnya mengalah.
    Uang seratus lima puluh ribu berpindah tangan.

    Entah kenapa, tepat pada saat ia menyerahkan uang tersebut ke kakek tua, tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar.
    Angin pun terasa mulai bertiup kencang.

    Si kakek buru-buru melangkah turun ke bis, namun tiba-tiba berhenti dan menolehkan wajahnya pelan-pelan ke arah Ruben.

    “Nak”, ujarnya lirih,
    “apa pun yang terjadi, harap jangan buka halaman terakhir ya.
    Ingat, apapun yang terjadi.
    Kalau tidak nanti kamu akan menyesal dan saya tidak mau bertanggung jawab.”

    Jantung Ruben berdegup kencang.
    Saking takutnya, ia sampai tidak mampu menganggukkan kepala hingga akhirnya si kakek turun dari bis dan menghilang ditelan kegelapan.

    Singkat cerita, dua jam kemudian, sekitar pukul satu malam, Ruben selesai membaca seluruh buku tersebut.
    Kecuali halaman terakhir tentunya.

    Dan memang benar seperti yang dikatakan si kakek penjual, buku itu benar-benar menegangkan dan menyeramkan.

    Di luar bis yang melaju kencang, hujan turun dengan derasnya.
    Kilat menyambar bergantian dan terkadang terdengar suara guruh yang menggelegar.

    Sejenak Ruben melihat berkeliling dan ternyata semua penumpang sudah terlelap.

    Bulu kuduknya terasa merinding.

    “Baca halaman terakhirnya gak yah?”,
    pikir Ruben bimbang.
    Antara penasaran dengan rasa takut berbaur menjadi satu.

    Di luar jendela malam tampak makin gelap. “Ah sudahlah, sekalian aja. Nanggung!”

    Dengan tangan gemetar ia pun membuka halaman terakhir dari buku tersebut secara perlahan…

    Dan akhirnya tampak sebuah lembaran kosong dengan sepotong label di bagian pojok kanan atas.

    Sambil menelan ludah, Ruben membaca huruf demi huruf yang tercantum:

    Bis Malam Penasaran
    Terbitan CV. Buku Horror Garing
    Harga Pas: Rp 15.000,-

    • Kalau sama aku pasti tak tawar 15 ribu. Tapi kalo sama ki PA kayanya bakal ditawar 10 ribu.

      • malah ga saya tawar…
        tak kasih rokok klobot..terus jak ngobrol…endingnya pinjem bukunya

        • Biasane tulisane..ono tutuge !

        • Wah Kalau Ki PA, ujung2nya ra modal nech

    • WAKAKAK…… TERNYATA KETIPU DIA HARGA BUKUNYA TAMBAH 0 SATU

    • He .. he …
      yang serem halaman terakhir rupanya ….

  18. Nunggu Tutur Tinular soko padepokane Nyai Dewi Kaze

  19. Menyambut artikel Ki Bayuaji tentang Pemimpin dan Kepemimpinan, ……. saya juga punya ceritera menarik tentang desaku berikut ini :

    KEPALA DESAKU
    Dulu ia teman sepermainanku, beberapa tahun lebih muda dariku. Lama aku tidak bertemu muka dengannya, karena setamat SLTP saya harus melanjutkan ke SLTA di kota lain. Setamat SLTA aku merantau ke Ibu Kota Republik ini. Tujuanku memang mencari pekerjaan dan sesudah itu melanjutkan pendidikanku dengan biaya sendiri. Sehingga aku kehilangan kontak sama sekali dengannya. Walaupun masih ada hubungan kerabat dan sekampung, namun karena lokasi rumahnya agak jauh sehingga setiap kali aku pulang kampung tidak pernah bertemu.
    Pada kepulanganku yang ke sekian kalinya aku terkejut ketika mendengar khabar bahwa kepala desa sekarang adalah Agus Dewanto, ……….. teman sepermainanku dulu itu. Aku terkejut dan besyukur karena aku tahu persis siapa dia. Tapi karena setiap kali kepulanganku hanya sebentar, sekedar nengok orang tua sehingga tidak terpikirkan untuk menemuinya. Aku hanya dapat berdoa semoga dia tetap seperti dulu, meskipun telah menjadi orang nomor satu di desaku itu.
    Ketika aku mendapat rizqi yang lumayan besar, seperti biasa kusisihkan 2,5% untuk fakir miskin. Aku bertanya kepada adikku yang hidup dikampung, tolong carikan 20 orang fakir miskin yang ada di desa ini, karena saya ingin menyampaikan hak saya kepada mereka. Adik saya langsung telephon ke Pak Kades menyampaikan hal itu. Luar biasa, gak lama sekitar 5 menit kemudian Pak Kades datang ke rumah untuk membicarakan masalah itu, dan beliau bersedia besok pagi bersama saya dan adikku, mengantarkan ke 20 amplop tersebut kepada mereka yang berhak.
    Alhamdulillaaaah, ……………….. ternyata dari kesemua mereka yang didaftar oleh Pak Kades, memang betul- betul masyarakat yang fakir dan miskin, ………………… Ada yang rumhanya berdinding jarang-jarang, ada lagi rumah yang isinya ranting-ranting kayu bakar, ……….. ada lagi yang rumahnya sudah mendapat ‘bedah rumah’ alla desa kami, sehingga sudah agak lumayan kondisinya. Ketika kutanya Pak Kades, …………. Kok yang ini belum dibedah? Beliau bilang menunggu dananya belum ada, mudah-mudahan dalam waktu dekat. Kemudian yang luar biasa lagi, beliau mengantarkan kami dengan sepeda motornya keluar-masuk gang sempit, dan sangat hafal dengan lokasi warganya yang miskin.
    Puji syukur kupanjatkan kepada Illahi rabbi, yang ternyata telah memberikan seorang pemimpin desa yang baik bagi desaku. Sepanjang perjalanan kami, Pak Kades menyapa dengan ramah kepada seluruh warga yang dilewatinya. Seandainya saya tidak berkepentingan dengan memberikan zakat untuk fakir miskin, mungkin saya tidak dapat mengenal dengan baik Kepala Desaku ini. Maka sejak itu, setiap kali kepulanganku kusempatkan untuk berkunjung ke kelurahan. Dengan senang hati beliau menerimaku, dan memang terasa tingkah lakunya masih seperti dulu, walaupun sekarang sudah menjadi orang nomor satu di desaku.
    Setiap kedatanganku diceriterakannya berbagai hal tentang desanya, tentang anak buahnya yang korupsi dengan menjual namanya dan kemudian diberi sanksi. Terkadang kalau bertepatan dengan adanya masalah pelik yang sedang dihadapinya, maka tak segan ia minta pertimbanganku.
    Tak sengaja ketika kepulangkanku yang lain, aku mendengarkan radio RRI setempat. Saat itu bertepatan dengan acara dengar pendapat tentang pembangunan desa. Aku mencoba menghubungi dan bersambung. Maka terjadilah wawancaraku dengan RRI setempat. Kuceriterakan tentang keteladanan Kepala Desaku seperti tersebut di atas. Bukan main respons yang kuterima saat itu, ……. Banyak pendengar yang berdecak kagum memujinya. Bukan pujiannya yang kuharapkan tetapi wabah kebaikannya mudah-mudahan dapat menular ke desa-desa yang lain.
    Alhamdulillah, ……………. Mudah-mudahan dengan kepemimpinannya, desaku menjadi semakin maju, dan semakin berkurang jumlah fakir- miskinnya.
    Bekasi, 18 Februari 2011

    • Semoga Allah SWT mengabulkan do’anya ya Ki TruPod, Amin.

  20. amin ya Robalalamin

  21. jenuh..

    • jengah

    • jenuh…

  22. Berita terbaru dari Menkes terkait Susu yang dilarang..

    Karena desakan dari YLKI dan berbagai pihak, akhirnya Menkes mengumumkan Susu yg dilarang dikonsumsi di Indonesia… :

    1. Susu istri tetangga
    2. Susu pacar teman
    3. Susu Nenek2

    Bila dikonsumsi bisa mengakibatkan luka bacok, keracunan dan bahkan meninggal dunia…

    wakkkkkkaaa

    • Itu hanya untuk No. 1 & 2….kalo yang No. 3..gratis !

      • yg ke-3 menyebabkan keracunan kronis

        • Mungkin karna berubah warna..

          • Kulo mboten tumut mimi cucu ki….. Ajrih, sok mencret.

          • hadu….
            kalau per-cucu-an gini kadit itreng aku.

          • ki Djojosm….nek mimik cucu terus mencret, niku artine susune mboten cocok, kudu genti sebelahe…

  23. Sugeng sonten,
    sambang padepokan sblm brangkat, pulang kira-kira jam 22.

    Monggo Ki dilajengaken jagongannya.

  24. Sugêng sontên pårå kadang.

    • Sugeng sonten Ki

      Tentang sugeng, teringat cerita Ki Arema.

      Alkisah, pada suatu waktu Ki Arema dengan rombongan cantrik dari padepokan ditugasi survei dengan melakukan wawancara dengan petani di lereng Gunung Bromo.

      Bahasa yang dipakai di daerah survei umumnya adalah bahasa Jawa. Sebagaimana masyarakat Jawa umumnya, masyarakat petani di desa itu sangat ramah dan menerima setiap tamunya dengan gembira.

      Ada satu cantrik yang berasal dari tlatah Sumatera Utara (Batak). Sebagaimana kebiasaannya, setiap kali bertemu dengan orang baru dia mengenalkan diri dengan menyebut namanya. Demikian juga halnya pada saat dia bertemu dengan petani dan mau memulai wawancaranya, “Sunggul Sinaga,” sebutnya sambil menjabat tangan dengan erat. Hampir bersamaan, sang petani menyebut, “Sugeng..”. (Sebenarnya adat Jawa untuk menanyakan keselamatan tamunya).

      Demikian, setiap kali ketemu dengan petani dia selalu disapa dengan, “Sugeng..”. Tanpa bertanya nama lagi, dia langsung melakukan wawancara. Untungnya masyaakat di situ sebagian juga bisa berbahasa Indonesia, selain itu ada juga temannya yang bisa berbahasa Jawa.

      Pada waktu sore harinya, waktu akan tabulasi data dia baru sadar, nama petani yang dicatat semuanya diawali dengan nama Sugeng; Sugeng (saja), Sugeng rawuh, Sugeng Pinarak, dll

      “Gila, satu desa namanya bisa Sugeng semua” geremangnya pada temannya. (he he …, saya tidak bisa menuliskan dialek Batak)

      tunggu sebentar…, barusan Ki Arema dapat email dari Ki Ismoyo.
      Pak Satpam mandi dulu, rontal diwedar bakda Maghrib.

      • hiks,
        sugeng sakaw

      • Sugêng nêmbê siram Ki…..Hiks.

      • Nami kulo sanes Sugeng Sonten ki.

  25. sugeng nengga

    • sugeng sonten, sugeng rawuh rotal 105

  26. matur nuwun

  27. Alhamdulillah, maturnuwun rontal 105 sampun diunduh

  28. maturnuwun sali paket rontal 105 sampun diunduh

    • eh,
      matur nuwun satu koli paket rontal 105 sampun diunduh

      • Kulo injih sampun ngunduh satu koli rontal.
        Matur sembah nuwun Ki Is, Ki Ar, Ki Satpam.

        • Terpaksa bangun mendengar suara GEDEBUG, satu koli rontal kiriman Ki Ismoyo.

          Matur Suwun Ki Is! Rutam Nuwun Reggn Pamsat ….
          Sugeng nDalu dan Terima Kasih Ki Arema. Lama tidak tilik padepokan🙂

  29. Matur nuwun nggih PAK SAPAM….

  30. Matur nuwun.

  31. terima kasih sudah ngundhuh rontal 105 dengan mudah tanpa harus berputar-puter.

  32. Matur nuwun Ki Ajar pak Satpam,
    satu koli paket sampun kula pendhet,
    langsung wonten kantor expedisi kiriman koli.

    Sugeng dalu.

    • Lho, gandhok 106 kok plonthos nggih ?
      Lawange rapet, isine ketingal saking jendela kaca.

      • Taksih digembok! Nunggu semua cantrik ngunduh dan menikmati santap malam!

      • Untung hlhlp-106 langsung bisa disedot …. jadi tambah gayeng …………

        Matur Suwun …. lagi 🙂

      • Hiiks, diPAMER-i isine tok…lawanGE
        digembOK P.SATPAM

        • ki Buyut bilang :

          “YA padang BAI – Lembar ” tiwas
          nggiLER ra keturuTAN.

  33. Sugeng dalu Ki Arema,
    Sugeng dalu P. Satpam,
    Sugeng dalu Ki/Nyi/ni Sanak…..

    Nyuwun sih agunging pangapunten bilih wedaran rontal radi seret.

    P.Satpam,
    kagem netepi jadwal wedaran rontal…sakwetawis 2 (kalih) rontal sampun cumondok wontening bangsal pusaka….,monggo.

    nuwun

    Matur suwun Panembahan
    Rontal kalih bungkus sampun cumondok wonten bangsal pusaka, nenggo antrian wedaran.
    p. satpam

    • ga ngertiiiiiiiii hihi

      • Nyi Dewi,
        sudah kerap masuk dan ikut bersenda gurau dan bercanda ria maupun komentar-komentar yang memikat, belajar sedikit demi sedikit Nyi, kan di Plg maupun di S’pore buanyak juga orang atau priyayi jawa…he he he.

        Secara garis besar maksudnnya begini Nyi :

        Selamat malam Ki Arema,
        Selamat malam P. Satpam,
        Selamat malam Bpk/Ibu/Sdr/i

        Mohon maaf yang sebesar-besarnya dikarenakan terbit/wedarnya kitab menjadi lambat.

        P. Satpam.

        Untuk menyesuaikan jadwal terbitnya kitab….sementara 2 (dua) kitab sudah berada di balai pustaka….dipersilahkan.

        terima kasih.

    • sugeng DALU ki ISMOYO,

      taksih LANCAR2 kemawon ki Panembahan,
      kulo malah remen sing radi SERET2.

      matur nuwun,

      • He he he….punapa saestu makaten nggih ki GundUL.

        • saestU ki Panembahan,

          ngapunten ki, cantrik ijin PAMIT
          takut nganGGu wektu istirahat ki
          Panembahan.

  34. Sugeng dalu Ki Is
    Sugeng dalu Ki Ar
    Sugeng dalu Ki Sat
    Sugeng dalu semuanya
    si Sugeng sudah enggak sakaw lagi…….
    hiks,

  35. Matur nuwun P. Satpam, Akhirnya orang sabar alhamdulillah mendapat paket juga.

  36. Pagi yang cerah

    beberapa hari ini, matahari di tlatah Singosari agak malu-malu menampakkan diri.
    pagi ini sejak muncul sudah menampakkan wajah cerahnya.

    sayangnya ..
    sang angin ribut melulu sejak kemarin
    derua angin dan gemeludug atap seng rumah sebelah sangat mengganggu tidur malam tadi

    huah…..
    jam gini sudah ngantuk lagi
    he he ….
    gak pantas kale….

    hhmm……
    padepokan kok sepi ya
    pada pelesiran ayake

    ya wis lah ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: