HLHLP-112

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 2 Maret 2011 at 12:33  Comments (179)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-112/trackback/

RSS feed for comments on this post.

179 KomentarTinggalkan komentar

  1. Matur nuwun, nembe kemawon rampung ngundhuh.

    • Sugeng dalu Ki Arga,

      Lumpia ingkang echo menika ingkang wonten jalan Mataram, kathah bakul lumpia wonten ing pinggir margi, menawi panjenengan ndangu pundi ingkang echo, rumaos kula sedayanipun kraos echo.

      Ngayogyakarta panci dados jujugan tetirah kula menawi wonten preinan. Nalika Idhul Fitri ingkang kepengker kawula wolung dinten dolan wonten Yogja.
      Bakda shalat Ied, mawi taksi ngglinding dateng Kaliurang, mandapipun kaliyan pak Sopir dipun puter dateng Cangkringan teras minggah wonten dalemipun swargi Mbah Marijan, ananging mboten pinanggih, minggah malih dateng Watu Gajah. Kahananipun jawah deres sanget.
      Dinten kaping gangsal, dalu2 dipun horeg lindu, sedaya penghuni hotel mlajar medal saking kamar, tujunipun sami mboten kesupen ngangge rasukan.

      Brongkos koyor Jogja memang joss.

      • Matur nuwun Ki Gembleh paring infonipun. Mbokmenawi mbenjing sanes wekdal wonten acara malih dateng Semarang badhe kulo padosi papan ingkang panjenengan ngendikaaken. Sugeng dalu.

      • Waaah….. sampun dumugi Watu Gajah tuwin ngraosaen lindhu Jogja njih? Menawi kemutan lindhu ageng tahun 2006 pramilo damel trauma saestu. Kulo malah dereng nate dumugi Watu Gajah menopo malih kawontenan ing mriko pasca Merapi meletus jaaaan ngeres-eresi ing manah. Sarujuk Ki, brongkos koyor Jogja memang joss.

  2. maaf, baru nangkring lagi.Selamat malam sedoyo
    meski keluar dari sepuluh besar, enggak patah hati seperti Andre Van Java di TANGSEL.
    Matur nuwun, wis ngunduh rontal
    kamsia
    kamsia
    kamsia
    Salam rindu buat Ni KenPadmi(sesama cantrik dilarang memperebutkan seorang wanita, harus legowo kayak mahesa murti, jadi rela dan ikhlas untuk bang Kompor seorang)

  3. Nuwun,

    Berkenaan dengan pertanyaan Ki Aryå Arga [HLHLP 112]:

    On 3 Maret 2011 at 02:51 arga said:

    1. Menopo Arya Damar (Raja Palembang) meniko Arya Damar ingkang kaleres romo kuwalonipun Raden Patah? Menawi leres kok wekdalipun benten kirang langkung setunggal abad?

    2. Menopo leres menawi Arya Cakradara meniko putranipun Dara Jingga? Menawi leres ateges Hayam Wuruk ugi kados Jayanagara mboten 100 % Jawi.

    Saya mencoba mencari jawabannya dari beberapa sumber sejarah yang ada, dengan berlandaskan pada pemikiran bahwa:
    Sejarah adalah sejarah, dia tidak lebih adalah sebuah cermin yang memantulkan peristiwa-peristiwa yang telah lalu bagi orang-orang sekarang, dan kebenaran sejarah selalu bersifat hipotetik.

    Sejarah (terutama bila kejadiannya yang sudah sangat lama berlalu, bahkan sudah berbilang abad), masih dapat diperbarui atau direvisi, jika ada temuan-temuan arkelogis dan atau data-data sejarah yang akurat seperti rontal babad, kidung, atau prasasti yang mendukung kebenarannya, meskipun hal itu masih harus memerlukan telaah lebih lanjut.

    Dalam menelisik untuk mencari kebenaran sejarah, haruslah berbasis keilmuan semata dan tanpa beban, selalu dengan pikiran yang jernih, bersih, netral, dan sudah barang tentu tanpa adanya rekayasa dan pemalsuan, apalagi ditunggangi kepentingan-kepentingan politik tertentu dengan cara-cara bujukan atau pemaksaan.

    Maka terhadap pertanyaan di atas, dengan memanfaatkan sumber sejarah yang ada, antara lain:

    1. Rontal Pararaton

    2. Babad Arya Tabanan;

    3. Kidung Pamacangah Bali;

    4. Usana Bali;

    5. Berita Cina:
    a. Ling-wai-tai-ta, penulis: Chou Ku-fei;
    b. Chu-fan-chi, penulis: Chau Ju-kua;
    c. Catatan Sejarah Dinasti Yuan;
    d. Ying-yai-seng-lan, penulis: Ma Huan, sekretaris Laksamana Cheng Ho;

    6. Kronika Kuil Sam Po Kong Semarang;

    7. Babad Tanah Jawi;

    8. Hikayat Hasanuddin atau Sejarah Banten;

    9. Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins (Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina), penulis: Tomé Pires.

    maka berikut uraiannya:

    ARYA DAMAR

    Arya Damar adalah nama seorang pemimpin legendaris yang berkuasa di Palembang pada pertengahan abad ke-14 sebagai bawahan Kerajaan Majapahit. Ia disebut juga dengan nama Ario Damar atau Ario Abdilah.

    Nama Arya Damar ditemukan dalam Kidung Pamacangah dan Usana Bali sebagai penguasa bawahan di Palembang yang membantu Majapahit menaklukkan Bali pada tahun 1343
    Identifikasi dengan Adityawarman.

    Sejarahwan Prof. Berg menganggap Arya Damar identik dengan Adityawarman, yaitu penguasa Pulau Sumatra bawahan Majapahit. Nama Adityawarman ditemukan dalam beberapa prasasti yang berangka tahun 1343 dan 1347 sehingga jelas kalau ia hidup sezaman dengan Arya Damar.

    Menurut Berg, Arya Damar adalah penguasa Sumatra, Adityawarman juga penguasa Sumatra. Karena keduanya hidup pada zaman yang sama, maka cukup masuk akal apabila kedua tokoh ini dianggap identik. Di samping itu, karena Adityawarman adalah putra Dara Jingga, maka Arya Damar dan adik-adiknya juga ‘dianggap’ sebagai anak-anak putri Melayu tersebut.

    Namun demikian, daerah yang dipimpin Adityawarman bukan Palembang, melainkan Pagaruyung, sedangkan kedua negeri tersebut terletak berjauhan. Palembang sekarang masuk wilayah Sumatra Selatan, sedangkan Pagaruyung berada di Sumatra Barat.

    Sementara itu, Berita Cina dari Dinasti Ming (1368 sd 1644) menyebutkan bahwa di Pulau Sumatra terdapat tiga kerajaan dan semuanya adalah bawahan Pulau Jawa (Majapahit). Tiga kerajaan tersebut adalah Palembang, Dharmasraya, dan Pagaruyung.

    Dengan demikian, Arya Damar bukan satu-satunya raja di Pulau Sumatra, begitu pula dengan Adityawarman. Oleh karena itu, Arya Damar tidak harus identik dengan Adityawarman.

    Jadi, meskipun Arya Damar dan Adityawarman hidup pada zaman yang sama, serta memiliki jabatan yang sama pula, namun keduanya belum tentu identik. Arya Damar adalah raja Palembang sedangkan Adityawarman adalah raja Pagaruyung. Keduanya merupakan wakil Kerajaan Majapahit di Pulau Sumatra.

    Ayah Tiri Raden Patah?

    Arya Damar adalah pahlawan legendaris sehingga nama besarnya selalu diingat oleh masyarakat Jawa. Dalam naskah-naskah babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi, tokoh Arya Damar disebut sebagai ayah tiri Rade Patah, raja pertama Kesultanan Demak.

    Dikisahkan ada seorang raksasa wanita ingin menjadi istri Brawijaya raja terakhir Majapahit (versi babad). Ia pun mengubah wujud menjadi gadis cantik bernama Endang Sasmintapura, dan segera ditemukan oleh patih Majapahit yang juga bernama Gajah Mada (?) di dalam pasar kota.
    Sasmintapura pun dipersembahkan kepada Brawijaya untuk dijadikan istri.

    Namun, ketika sedang mengandung, Sasmintapura kembali ke wujud raksasa karena makan daging mentah. Ia pun diusir oleh Brawijaya sehingga melahirkan bayinya di tengah hutan. Putra sulung Brawijaya itu diberi nama Jaka Dilah.

    Setelah dewasa Jaka Dilah mengabdi ke Majapahit. Ketika Brawijaya ingin berburu, Jaka Dilah pun mendatangkan semua binatang hutan di halaman istana. Brawijaya sangat gembira melihatnya dan akhirnya sudi mengakui Jaka Dilah sebagai putranya.

    Jaka Dilah kemudian diangkat sebagai bupati Palembang bergelar Arya Damar. Sementara itu Brawijaya telah menceraikan seorang selirnya yang berdarah Cina karena permaisurinya yang bernama Ratu Dwarawati (putri Campa) merasa cemburu. Putri Cina itu diserahkan kepada Arya Damar untuk dijadikan istri.

    Arya Damar membawa putri Cina ke Palembang. Wanita itu melahirkan putra Brawijaya yang diberi nama Raden Patah. Kemudian dari pernikahan dengan Arya Damar, lahir Raden Kusen. Dengan demikian terciptalah suatu silsilah yang rumit antara Arya Damar, Raden Patah, dan Raden Kusen.

    Setelah dewasa, Raden Patah dan Raden Kusen meninggalkan Palembang menuju Pulau Jawa. Raden Patah akhirnya menjadi raja pertama Kesultanan Demak, dengan bergelar Panembahan Jimbun.

    Arya Dilah dari Palembang

    Lain lagi dengan naskah dari Jawa Barat, misalnya Hikayat Hasanuddin atau Sejarah Banten. Naskah-naskah tersebut menggabungkan nama Arya Damar dengan Jaka Dilah menjadi Arya Dilah, yang juga menjabat sebagai bupati Palembang.
    Selain itu, nama Arya Dilah juga diduga berasal dari nama Arya Abdilah.

    Dikisahkan ada seorang perdana menteri dari Munggul bernama Cek Ko Po yang mengabdi ke Majapahit. Putranya yang bernama Cu Cu berhasil memadamkan pemberontakan Arya Dilah bupati Palembang. Raja Majapahit sangat gembira dan mengangkat Cu Cu sebagai bupati Demak, bergelar Molana Arya Sumangsang.

    Dengan demikian, Arya Sumangsang berhasil menjadi pemimpin Demak setelah mengalahkan Arya Dilah. Kisah dari Jawa Barat ini cukup unik karena pada umumnya, raja Demak disebut sebagai anak tiri bupati Palembang.

    Sementara itu, berita tentang pemberontakan Palembang ternyata benar-benar terjadi. Kronik Cina dari Dinasti Ming mencatat bahwa pada tahun 1377 tentara Majapahit berhasil menumpas pemberontakan Palembang.

    Rupanya pengarang naskah di atas pernah mendengar berita pemberontakan Palembang terhadap Majapahit. Namun ia tidak mengetahui secara pasti bagaimana peristiwa itu terjadi. Pemberontakan Palembang dan berdirinya Demak dikisahkannya sebagai satu rangkaian, padahal sesungguhnya, kedua peristiwa tersebut berselang lebih dari 100 tahun.

    Swan Liong

    Kisah hidup Raden Patah juga tercatat dalam kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong Semarang. Dalam naskah itu, Raden Patah disebut dengan nama Jin Bun, sedangkan ayah tirinya bukan bernama Arya Damar, melainkan bernama Swan Liong.

    Swan Liong adalah putra raja Majapahit bernama Yang-wi-si-sa yang lahir dari seorang selir Cina. Mungkin Yang-wi-si-sa sama dengan Hyang Wisesa atau mungkin Hyang Purwawisesa. Kedua nama ini ditemukan dalam naskah Pararaton.

    Swan Liong bekerja sebagai kepala pabrik bahan peledak di Smarang. Pada tahun 1443 ia diangkat menjadi kapten Cina di Palembang oleh Gan Eng Cu, kapten Cina di Jawa.

    Swan Liong di Palembang memiliki asisten bernama Bong Swi Hoo. Pada tahun 1445 Bong Swi Hoo pindah ke Jawa dan menjadi menantu Gan Eng Cu. Pada tahun 1451 Bong Swi Hoo mendirikan pusat perguruan agama Islam di Ampel Denta, dan ia pun terkenal dengan sebutan Sunan Ampel.

    Swan Liong di Palembang memiliki istri seorang bekas selir Kung-ta-bu-mi raja Majapahit. Mungkin Kung-ta-bu-mi adalah ejaan Cina untuk Bhre Kerthabhumi. Dari wanita itu lahir dua orang putra bernama Jin Bun dan Kin San.

    Pada tahun 1474 Jin Bun dan Kin San pindah ke Jawa untuk berguru kepada Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel. Tahun berikutnya, Jin Bun mendirikan kota Demak sedangkan Kin San mengabdi kepada Kung-ta-bu-mi di Majapahit.

    Tidak diketahui dengan pasti sumber mana yang digunakan oleh pengarang kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong di atas. Kemungkinan besar si pengarang pernah membaca Pararaton sehingga nama-nama raja Majapahit yang ia sebutkan mirip dengan nama-nama raja dalam naskah dari Bali tersebut.

    Misalnya, si pengarang kronik tidak menggunakan nama Brawijaya yang lazim digunakan dalam naskah-naskah babad.

    Jika dibandingkan dengan Babad Tanah Jawi, isi naskah kronik Cina Sam Po Kong terkesan lebih masuk akal. Misalnya, ibu Arya Damar adalah seorang raksasa, sedangkan ibu Swan Liong adalah manusia biasa. Ayah Arya Damar sama dengan ayah Raden Patah, sedangkan ibu Swan Liong dan Jin Bun berbeda.

    Hubungan dengan Raja Demak

    Naskah-naskah di atas menunjukkan adanya hubungan antara pendiri Kesultanan Demak dengan penguasa Palembang. Teori yang paling populer adalah yang bersumber dari Babad Tanah Jawi, yaitu Raden Patah disebut sebagai anak tiri Arya Damar.

    Sementara itu catatan Portugis berjudul Suma Oriental que trata do Mar Roxo até aos Chins ( Ikhtisar Wilayah Timur, dari Laut Merah hingga Negeri Cina), penulis: Tomé Pires menyebut raja Demak sebagai keturunan masyarakat kelas rendah dari Gresik.

    Naskah ini ditulis sekitar tahun 1513 sehingga kebenarannya relatif lebih meyakinkan dari pada Babad Tanah Jawi.

    Babad Tanah Jawi sendiri disusun pada abad ke-18, yaitu berselang ratusan tahun sejak kematian Raden Patah. Melalui naskah itu, si penulis berusaha menunjukkan kalau Demak adalah pewaris sah dari Majapahit. Raden Patah pun disebutnya sebagai putra kandung Brawijaya.

    Mungkin penyusun Babad Tanah Jawi juga pernah mendengar adanya hubungan antara Demak dengan Palembang. Maka, Raden Patah pun dikisahkan sebagai anak tiri bupati Palembang. Karena nama bupati Palembang yang paling legendaris adalah Arya Damar, maka tokoh ini pun “dipaksa menjadi” ayah tiri sekaligus kakak Raden Patah.

    Babad Tanah Jawi tidak menyadari kalau Arya Damar dan Raden Patah hidup pada zaman yang berbeda. Arya Damar merupakan pahlawan penakluk Bali pada tahun 1343, sedangkan Raden Patah menjadi raja Demak sekitar tahun 1500an.

    Babad Arya Tabanan

    Babad Arya Tabanan adalah babad yang dapat diketemukan di tulisan-tulisan rontal kuno yang dimiliki beberapa Puri di Tabanan Bali.

    Babad ini menceritakan awal ekspedisi Majapahit ke Bali yang dipimpin oleh Mahapatih Gajah Mada dan Arya Damar (Adityawarman). Dalam babad ini disebutkan bahwa di sekitar tahun 1250-1256Ç ada keturunan raja yang tinggal di Kerajaan Kahuripan menurunkan enam anak laki-laki.

    Putra sulung bernama Rahaden Cakradara (suami Raja Putri Majapahit III yang bergelar Jaya Wisnu Wardani atau Ratu Bra Kahuripan), adik-adiknya secara berturutan bernama Sirarya Dhamar, Sirarya Kenceng, Sirarya Kuta Wandira (Kuta Waringin), Sirarya Sentong dan yang bungsu Sirarya Belog (Tan Wikan).

    Pada tahun 1342, pasukan perang Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada selaku Panglima Perang Tertinggi, dibantu oleh Wakil Panglima Perang yang bernama Arya Damar, serta beberapa Perwira dan Ksatria menyerang Kerajaan Bedulu di Bali.
    Masing-masing ksatria ini memimpin pasukannya menyerang.

    Dikisahkan, Gajah Mada menyerang dari arah Timur, diiringi oleh patih keturunan Mpu Witadarma mendarat di Toya Anyar (Tianyar), Arya Damar memimpin 15.000 prajurit bersama Arya Sentong dan Arya Kuta Waringin mendarat di Ularan menyerang Bali dari arah Utara, Arya Kenceng bersama Arya Belog, Arya Pengalasan dan Arya Kanuruhan menyerang dari arah Selatan, mendarat di Bangsul menuju Kuta.

    Pasukan Arya Damar berhasil menaklukkan Ularan yang terletak di pantai utara Bali.
    Pemimpin Ularan yang bernama Pasung Giri akhirnya menyerah setelah bertempur selama dua hari. Arya Damar yang kehilangan banyak prajurit melampiaskan kemarahannya dengan cara membunuh Pasung Giri.

    Arya Damar kembali ke Majapahit untuk melaporkan kemenangan di Ularan. Raja yang memerintah di tahta Majapahit saat itu adalah Tribhuwana Tunggadewi marah atas kelancangannya, yaitu membunuh musuh yang sudah menyerah.

    Arya Damar pun dikirim kembali ke medan perang untuk menebus kesalahannya. Arya Damar tiba di Bali bergabung dengan Gajah Mada yang bersiap menyerang Tawing. Sempat terjadi kesalahpahaman di mana Arya Damar menyerbu lebih dulu sebelum datangnya perintah.

    Namun keduanya akhirnya berdamai sehingga pertahanan terakhir Bali pun dapat dihancurkan. Seluruh Pulau Bali akhirnya jatuh ke dalam kekuasaan Majapahit setelah pertempuran panjang selama tujuh bulan.

    Pemerintahan Bali kemudian dipegang oleh adik-adik Arya Damar, yaitu Arya Kenceng, Arya Kutawandira, Arya Sentong, dan Arya Belog. Sementara itu, Arya Damar sendiri kembali ke daerah kekuasaannya di Palembang.

    Arya Kenceng memimpin saudara-saudaranya sebagai penguasa Bali bawahan Majapahit. Ia dianggap sebagai leluhur raja-raja Tabanan dan Badung.

    Arya

    [Uraian selengkapnya tentang jabatan, tata pemerintahan dan kewenangan para pejabat-pejabat negara Majapahit akan diwedar kemudian pada waosan tentang Tata Pemerintahan Kerajaan Majapahit.]

    Pemerintahan Selama masa kerajaan Majapahit para pejabat negara disebut tanda, masing-masing diberi sebutan atau gelar sesuai dengan jabatan yang dipangkunya.

    Para tanda adalah:
    1.Rakryan
    2. Arya
    3. Dang Akarya

    Para tanda arya mempunyai kedudukan lebih rendah dari rakryan, dan disebut pada piagam-piagam sesudah Sang Panca Wilwatikta. Ada berbagai jabatan yang disertai gelar arya.

    Piagam Sidakerta memberikan gambaran yang agak lengkap, para tanda arya ini antara lain:
    1. Sang Arya Patipati: Pu Kapat;
    2. Sang Arya Wangsaprana: Pu Menur;
    3. Sang Arya Jayapati: Pu Pamor;
    4. Sang Arya Rajaparakrama: Mapanji Elam;
    5. Sang Arya Suradhiraja: Pu Kapasa;
    6. Sang Arya Rajadhikara: Pu Tanga;
    7. Sang Arya Dewaraja: Pu Aditya;
    8. Sang Arya Dhiraraja: Pu Narayana.

    Karena jasa-jasanya, seorang arya dapat dinaikkan menjadi wreddhamantri atau mantri sepuh. Baik Sang Arya Dewaraja Pu Aditya maupun Sang Arya Dhiraraja Pu Narayana mempunyai kedudukan wreddhamantri dalam Piagam Surabaya.

    Ada dugaan, sebagaimana “Pranaraja” dan “Mahapati”, yang ternyata bukan nama diri orang melainkan sebutan gelar suatu jabatan, maka sebutan Arya Damar mungkin adalah gelar jabatan, yang nama orang yang menjabat jabatan tersebut tidak diketahui oleh para penulis sejarah.

    Dengan demikian Arya Damar yang Wakil Panglima Perang di bawah pimpinan Panglima Perang Gajah Mada yang menyerang Bedulu Bali (mengacu pada Babad Arya Tabanan), tidak identik dengan Arya Damar, yang “dipaksa menjadi” ayah tiri sekaligus kakak Raden Patah menurut Babad Tanah Jawi.

    2. CAKRADARA

    Cakradara anak Dara Jingga?

    Informasi atau data yang menyebutkan bahwa Cakradara adalah putri dari Dara Jingga, masih sangat diragukan. Belum ada referensi (atau saya belum pernah membacanya?), yang menyatakan hal ini, ataupun sedikit menyinggung pernikahan Tribuana dengan “sepupu” Jayanegara (seandainya teori Cakradara adalah anak Dara Jingga).

    Juga yang menyatakan bahwa Dara Jingga memiliki putra Arya Damar, karena alur waktu (timeline) antara masa hidup Dara Jingga dengan Arya Damar berselisih hampir 100 tahun, demikian juga antara Cakradara dengan Arya Damar.

    Data yang sedikit lebih valid adalah Dara Jingga menikah dengan seorang bangsawan Singasari bernama Adwaya Brahmana, yang juga menjadi pemimpin utusan dalam ekspedisi Pamalayu, berputra satu orang yaitu Adityawarman.

    Dalam Pararaton, Cakradara bergelar Kertawardhana adalah ayah Hayam Wuruk, yang disebutkan pada prasasti Trowulan 1358, Kertawardhana sebagai putra Cakraiswara keturunan Wisnuwardhana (Ranggawuni, Raja Singasari).
    Jadi, Cakradara bukan anak Adwayabhrahma dan Dara Jingga.

    Demikian, semoga berkenan adanya.

    Nuwun

    Cantrik Bayuaji

    • Katur Ki Panji Satrio Pamedar,
      Nyuwun pangapunten Ki, keblabasab pakai cetak tebal, yang harusnya tidak.

      Nuwun,
      cantrik bayuaji

      sampun beres Ki

      • Matur nuwun Ki

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji atas jawaban dari pertanyaan saya, atas dongeng Jaka Dilah nya dan juga atas tambahan nama saya jadi Ki Arya Arga (hehe… kedah damel jenang baro-baro lho meniko). Wah…. penjlentrehan Ki Bayu benar-benar luar biasa, sangat lengkap dan jelas, tidak bosan-bosannya membaca dongeng beliau sampai berulang-ulang. Saya hanya bisa berharap mudah-mudahan dongeng Ki Bayu bisa berlanjut terus, tidak berhenti di HLHLP Jilid 118 saja. Sepindhah malih kulo ngaturaken agenging panuwun lan sugeng enjing.

      • Nuwun,

        Sawangsulipun, matur nuwun Ki, semoga tali silaturahmi dengan pårå kadang padépokan pêlangisingosari tetap terjaga dengan baik, guyub-rukun, tinêbihnå målå, rubédå lan sambékålå. Mugi tansah manggihi karahayon dalah karaharjan. Aamin.

        Sugêng énjang

        cantrik bayuaji

  4. NAWAKSARA :

    Dengen ini sahaja menjataken bahawa sahaja soedah kena tipoe oleh bajang-bajang semoe Ki Rangga Widoera sebanjak lima kali.
    Walakinpun sahaja soedah merasaken dan mendoega bahawa bajangan itoe tjoema apoes-apoesan Ki Rangga, akan tetapi tetep sadja sahaja oendoeh sampai sebanjak lima kali.
    Namoen akhirnja tjantholan jang asli bisa sahaja ketemoeken setelah berpoesing-poesing menjambangi semoewa gandhok jang diseboetken.

    Matoer noewoen lan soegeng daloe.

    • Soegeng Enjank Kisanak ….
      Monggo sarene disekecaaken ….

  5. Mbalik teng hal 3, suwun Ki

  6. Selamat pagi,
    Antri nyambangi gendak anyar.

    • Selamat pagi,
      Antri nyambangi gendakan anyar.

      • ndherek ki Wiek, ki KartojUDO,

        Selamat pagi,
        Antri nyambangi gendakan anyar.

        • Gendakan anyar-re sih dikekepi P. Satpam he..he…
          mbayu ……… Jum’atan disik.

  7. Nuwun sewu Mas Satpam dan para sesepuh, ternyata aku termasuk orang yang jarang komentar ya ? Jangan-jangan malah belum pernah ! Kalau gitu, sekali-kali absen, hadir !

    • he he …
      monggo
      lha wong komen mboten mbayar kemawon kok.

      • Test … test …. test …
        eng ing eng …. blukuthuk …

        bleb… bleb… bleb…

    • Alhamdulillah, …… ki Jokowono kerso say hello maring poro sanak kadang Padhepokan AREMA senajan wis sering ketemu ning ibarate durung wawuhan. Nggih monggo sugeng rawuh enten mriki berlaku semboyan 3 S = Salam, Senyum, dan Sapa. Biarpun kalo kita tersenyum tiada nampak tersurat, tapi akan nampak tersirat.

      • kulo S3 ki ….

      • Kok cuma tiga seh?

        • nembe S3

  8. hhmmmm…….
    pada kemana ya? kok sepi
    jam gini kok baru 500 (biasanya sudah > 1000)yang sambang padepokan.
    Itupun, yang ngisi presensi cuma 15.

    hadu…..
    mau diwedar awal gak jadi deh.
    Nanti saja bakda Maghrib.
    nyilem lagi ah….

    • gandhok anyare bukak sek pak lik….
      gandhok kene wes mambu kringete cantrik2

      • Test … test ….
        eng ing eng …. 123

    • Kalo keringete P.Satpam nggak bau, tapi …..!
      Cup endul-endul ya P.Satpam, hari ini ada wedaran awal.
      Hayuuu, nanti sehabis shalat jum’at do rame2 ngumpuuuulllll!
      HULUBIS KUNTUL BARIS HULUBIS KUNTUL BARIS HULUBIS KUNTUL BARIS

  9. P.Satpam, dari analisa statistik yang terakhir nanti coba dihitung siapa yang paling banyak POSTING OGROKANNYA! Kemudian siapa juara ogrokan yang paling kreatif, dan siapa yang juara ogrokan paling maksa.

    • Test … test ….
      eng ing eng ….

  10. Wah goro-goro speedy ngadat ketinggalan kreto.
    Alhamdulillah bali soko mesjid biso ngunduh.
    Matur nuwun Ki.
    Sedelo maneh udan, mesakake poro cantrik kleleran neng tritisan enggal dibuka gemboke.

  11. Test……….

  12. tok….tok….tok tasih digembok

  13. huahhh……..ngantub

    • huahhhem……..ngentub

      • ngent**

        • ngenteni ……

          • ngetengi ……

          • Ki Pls..Jeng ngatemi..eh..Kenpadmi koq mboten mecungul malih njihh….

          • wedi dientub

          • Terus sinten niku..Rayine…mbak Ken sawertri…njih mboten kerso menchungul….

          • wonten sing ANYAR
            teng Padepokan GS
            ki…mangga pada
            diINCENG,

  14. Pun, uyel-uyelan miki p’de

    • Sumuk ………….

      • ora kringetan….

        • gembrobyos…….

          • napa-NE ki,…ihiiiks

  15. HADUuuuuu…..kok dereng di BUKA njih ??

    • Obrolan di ruang praktek dokter KELAMIN :

      Dokter : “selamat sore, ada yang bisa saya
      bantu…??”
      Pasien : “Iya, dok. tapi sebelumnaya boleh
      saya buka celana saya sekarang, saya sudah
      tidak tahan sama sakitnya…!!”

      Dokter : “Oh, silahkan….”
      Pasien : “Baik, tapi dokter janji gak bakal
      ketawa ya,…??” heran juga si dokter.

      Dokter : “Baik…baik saya janji tidak akan
      tertawa….!!”

      Lalu Pasien tersebut membuka celananya…dan ternyata “BEO” pasien tersebut sangat kuecil hanya sebesar jempol…jempol tangan.
      Si dokter yang melihatnya kontan tertawa terpingkal-pingkal karena geli.

      Pasien : “Dokter tadi kan sudah janji tidak
      akan tertawa…” sambel merengut.
      Dokter : “Oh maaf…baiklah,jadi apa keluhan Saudara…??”
      Pasien : “BEO saya, Dok…BEO milik saya ini sudah tiga hari ini bengkak…!!”

      selamat SORE,

      • dokter : Ha..ha..ha..haaaa !!

        • Gembleh yang kebetulan lewat di depan ruang periksa terpaksa ikut mendengar kalimat terakhi juga terpingkal-pingkal.

          Terdengar teriakan dari dalam :
          ” Ki Gembleh jangan ikut2an ngguyu…!!!!”

          “Lho kok seperti suara ki Gundul..?”
          batin Gembleh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: