HLHLP-118

sebelum>>| awal>>| lanjut>>

Laman: 1 2 3 4 5 6

Telah Terbit on 14 Maret 2011 at 14:30  Comments (274)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-118/trackback/

RSS feed for comments on this post.

274 KomentarTinggalkan komentar

  1. Saya usul kepada P. Satpam, agar hasil karya Ki Kompor disimpan pula dibangsal.
    Sebenarnya ceritanya cukup berkesan, hanya gaya bahasa Ki Kompor, perlu dihaluskan. Hayo siapa yang bisa menyeritakanya? Barangkali Ki Bayuaji bisa membantu.

    • Sampurasun

      Baguuuus, cergas (cerdik dan tegas), prociat buat Ki Kompor Bhre Cipondoh
      Byur…blep…blep…blep.

      Rampes

      punåkawan

  2. Mahesa Murti setelah menikah dengan Padmitanonadewi KZ tinggal di hutan kecil seberang situ kerautan cipondoh. Dan melahirkan sebelas anak laki-laki yang semuanya jago bola. Itulah sebabnya Singasari selalu jadi juara dunia untuk olah raga sepak bola. Pada suatu hari terjadi musibah besar tsunami melanda tempat tinggal mereka, untungnya mereka tetap hidup meski hanyut jauh dari tempatnya yaitu terdampar di negara Brasil, itulah sebabnya sampai saat ini banyak dibrasil orang yang “gila bola”, BEGITU KIRA-KIRA CERITANYA………..

  3. Ha…ha.. makin kelihatan aslinya itu Ki.
    Tapi saluut lah. Monggo dilajengaken

  4. nginguk padhepokan

    • Anguk2 padhepokan

      • Anguk2 pakdhe SATPAM….

        • Awas kejlungup teng ranu sengkaling….Pak Lik Satpam taksih kumkum…

          • Meng-angguk2-i
            para Menggung.

  5. singkat cerita, cuntel

    • Lha mbok jangan putus sibau begitu Ki Bancak, ….. coba cuntel bahasa Indonesianya yang tepat opo?

      • cuntel itu apa bukan kalau Ki Arya Panji Satriå Pamêdar sedang wêdar rontal Ki?
        Tapi rontalnya mana?

        Sugêng dalu

      • Padhepokan sebelah sampun wedaran Ki, …. monggo dikedhapi!

      • lha wong dek cilik riyin yen dongeng-e pun meh entek, ibu ngediko, tuku kacu diuntel untel, cuntel

  6. Wah komene wes akeh

  7. Hadir ba’da magerib,
    Rontal sudah khatam bin tamat,
    enaknya ngapain ya ben podo ragem ???

    • MANCING ki,

      mancing IDE cerita “kiGUNDUL siPETUALANG seHARI” pendekar keng wilayah puncak MAHAMERU….

  8. Enake nggawe crito anyar Ki Kompor, nanging ojo nganti kecritan.

  9. Sugeng dalu. poro kadang, sakdurunge gandok ditutup karo sing mbaurekso (Panjenenganipun Ki Haryo Pamedar)
    isih keno dienggo playon.

  10. nggih ki, playon kaliyan nenggo wedar rontal hlhlp gaya baru

  11. Hadir,
    nyegat para Menggung mBok menawa mampir.

    • dherek Eyang Gembleh nYEGET ki Menggung
      menawi mampir…

  12. hadir juga Ki

  13. SELAMAT PAGI PAK SATPAM….!!!

    KENAPA BELOM DIBUKA ITU GANDOK ANYAR…???

  14. Selamat pagi, Sugeng enjang, Good Morning

    Dan yang lebih afdol:
    “Assalamualaikum wr.wb” Saudaraku sekalian.

    P. Satpam sudah masuk belum ya dari cutinya.

  15. iseng… HLHLP_119

    Tapi yang terjadi bukanlah demikian, Kebo Wanter masih terlentang dengan kepala pening, tendangan Mahesa Murti yang mengenai kening benar-benar menghancurkan keseimbangannya, sehingga Kebo Wanter tidak sanggup segera bangkit. Dilihatnya anak muda lawananya itu berdiri dengan tenang mengawasi dirinya.

    “Anak iblis!” desisnya dengan menyeringai sakit, terburu-buru Kebo Wanter berdiri, tapi ternyata kakinya masih belum bisa menapak dengan benar, dengan terhuyung-huyung Kebo Wanter memaksakan diri menapak dengan tatag.

    “Tenangkanlah dirimu, aku tidak terburu-buru kembali ke Talang Alun.” Kata Mahesa Murti menyakitkan hati Kebo Wanter.

    “Kau benar-benar membuatku marah anak muda! Tubuhmu akan kukoyak dengan ilmuku!” geram Kebo Wanter

    Mahesa Murti mengangguk-angguk. “Ya itu mungkin sekali, tapi jika kau hanya berkata-kata seperti itu, kapan tubuhku akan terkoyak Ki sanak?”

    “Persetan dengan kesombonganmu!” kemarahan Kebo Wanter makin menjadi, dadanya seolah ingin meledak menyaksikan anak muda lawannya itu menatap dirinya dengan pandangan seperti halnya memperhatikan seorang murid berlatih.

    Dengan memusatkan nalar budi, Kebo Wanter benar-benar membebaskan sekat dalam dirinya, sedari tadi Kebo WAnter masih enggan melepaskan kemampuan terbaiknya, kiranya untuk melawan anak muda dari Talang Alun tataran pamungkas tidaklah perlu dikelurakan. Tidak disangka sekarang Kebo Wanter harus merambat dengan begitu cepat pada tataran puncak.

    Sementara Mahesa Murti memperhatikan lawannya, anak muda ini merasakan betapa disekeliling tubuh Kebo Wanter lamat-lamat mendesau angin, dari sifat ilmu yang sedang diterapkan Kebo Wanter, Mahesa Murti dapat menduga, tentu ilmunya didasari olah gerak semacam ilmu Bayu Tantra, yang menurut ayahnya, sebuah ilmu yang hampir sama dengan apa yang dikuasai oleh kakaknya Mahesa Bungalan, ilmu yang membuat kakaknya seolah memiliki tenaga yang tak pernah putus.

    Tentu saja Mahesa Murti tidak ingin lengah apalagi menganggap remeh lawannya. Sejauh ini Mahesa Murti selalu mengasah dan memperdalam ilmunya terus menerus setelah mendapat petunjuk dari Kiai Wijang. Pada saat bertemu dengan Kiai Puput, Mahesa Murti merasa bahwa pertahanan tubuhnya menguat, seolah-olah kulit menjadi liat dan makin mengeras seperti kulit badak. Saat ini Mahesa Murti merasa ilmunya kemungkinan tumbuh makin matang, perlawanan Kebo Wanter sangat baik digunakan untuk mengukur sampai dimana kemajuannya.

    “Bersiaplah menerima penderitaan paling menyakitkan, anak muda!” Kebo Wanter menerjang Mahesa Murti dengan seangan yang kecepatan berlipat-lipat dibanding serangan pertamanya.

    Sejak awal Mahesa Murti memang bermaksud untuk menerima serangan Kebo Wanter, pukulan-pukulan yang tercurah bagai hujan itu di tangkis dengan ala kadarnya, sehingga begitu banyak serangan Kebo Wanter yang menyusup ke dada, bahu dan iganya.

    Kebo Wanter sangat terkejut saat kepalan tangannya menghunjam tubuh lawannya itu, seolah-olah tubuh lawannya yang masih muda itu bagai batu karang, bahkan lamat-lamat dirasakan kepalan tangannya menjadi sakit.

    ……

    Monggo Ki
    Apapun bentuknya, saya kira sanak-kadang pelangisingosari akan sangat senang jika ada yang menyelesaikan cerita yang menggantung ini.
    Dulu, ada adbm lanjutan
    sekarang bisa menjadi hlhlp-lanjutan. he he he

    • Dikasih nama bukan-hlhlp 119

      • ato hlhlp-119 susuLAN….

        • hlhlp seselan,
          lanjut Ki Didit,
          gaya bahasanya sudah mirip.

  16. lanjuuuut KI hlhlp 119

    • ki MAHESA KOMPOR pesanan CERSIL CANTRIK
      MANAaaaaa…..!!!???

  17. Sugeng enjang.
    Saluut buat Ki Didit.
    Monggo Ki dilajengken.
    Mugi-mugi mboten kados Ki Agus Sedayu wonten Bukan ADBM.

  18. SELAMAT PAGI kadang PDLSers,

    ambil CUTI berapa hari DHe…kok suwe ??!!

  19. Bukan bermaksud menyamai tataran kewaskitaan Ki SH Mintardja dalam mengarang, tapi kecintaan saya kepada kisah yang sudah kadung saya ikuti dari awal inilah yang membuat saya ‘gatal hati’ ingin menuntaskannya, entah saya sanggup atau tidak mengikuti cara bertutur beliau, mudah-mudahan dari skala kemiripan 1 – 10, setidaknya saya dengan sekuat tenaga berusaha mendekati skala 4 dari kemiripan pola penulisan Ki SH Mintardja. Tak berani saya mengatakan ini lanjutan dari HLHLP, makanya saya beri judul: Iseng HLHLP, demikian sebagai pembuka dan penutup … loh?!😀

    note: terpaksa saya ulang lagi dan ditambahin tentunya, ternyata tokoh mas Kebo kemarin salah nama hiks..
    ——
    Iseng HLHLP-119

    Tapi yang terjadi bukanlah demikian, Kebo Wengker masih terlentang dengan kepala pening, tendangan Mahesa Murti yang mengenai kening benar-benar menghancurkan keseimbangannya, sehingga Kebo Wengker tidak sanggup segera bangkit. Dilihatnya anak muda lawananya itu berdiri dengan tenang mengawasi dirinya.

    “Anak iblis!” desisnya dengan menyeringai sakit, terburu-buru Kebo Wengker berdiri, tapi ternyata kakinya masih belum bisa menapak dengan benar, dengan terhuyung-huyung Kebo Wengker memaksakan diri menapak dengan tatag.

    “Tenangkanlah dirimu, aku tidak terburu-buru kembali ke Talang Alun.” Kata Mahesa Murti menyakitkan hati Kebo Wengker.

    “Kau benar-benar membuatku marah anak muda! Tubuhmu akan kukoyak dengan ilmuku!” geram Kebo Wengker

    Mahesa Murti mengangguk-angguk. “Ya itu mungkin sekali, tapi jika kau hanya berkata-kata seperti itu, kapan tubuhku akan terkoyak Ki sanak?”

    “Persetan dengan kesombonganmu!” kemarahan Kebo Wengker makin menjadi, dadanya seolah ingin meledak menyaksikan anak muda lawannya itu menatap dirinya dengan pandangan seperti halnya memperhatikan seorang murid berlatih.

    Dengan memusatkan nalar budi, Kebo Wengker benar-benar membebaskan sekat dalam dirinya, sedari tadi Kebo Wengker masih enggan melepaskan kemampuan terbaiknya, kiranya untuk melawan anak muda dari Talang Alun tataran pamungkas tidaklah perlu dikelurakan. Tidak disangka sekarang Kebo Wengker harus merambat dengan begitu cepat pada tataran puncak.

    Sementara Mahesa Murti memperhatikan lawannya, anak muda ini merasakan betapa disekeliling tubuh Kebo Wengker lamat-lamat mendesau angin, dari sifat ilmu yang sedang diterapkan Kebo Wengker, Mahesa Murti dapat menduga, tentu ilmunya didasari olah gerak semacam ilmu Bayu Tantra, yang menurut ayahnya, sebuah ilmu yang hampir sama dengan apa yang dikuasai oleh kakaknya Mahesa Bungalan, ilmu yang membuat kakaknya seolah memiliki tenaga yang tak pernah putus.

    Tentu saja Mahesa Murti tidak ingin lengah apalagi menganggap remeh lawannya. Sejauh ini Mahesa Murti selalu mengasah dan memperdalam ilmunya terus menerus setelah mendapat petunjuk dari Kiai Wijang. Pada saat bertemu dengan Kiai Puput, Mahesa Murti merasa bahwa pertahanan tubuhnya menguat, seolah-olah kulit menjadi liat dan makin mengeras seperti kulit badak. Saat ini Mahesa Murti merasa ilmunya kemungkinan tumbuh makin matang, perlawanan Kebo Wengker sangat baik digunakan untuk mengukur sampai dimana kemajuannya.

    “Bersiaplah menerima penderitaan paling menyakitkan, anak muda!” Kebo Wengker menerjang Mahesa Murti dengan seangan yang kecepatan berlipat-lipat dibanding serangan pertamanya.

    Sejak awal Mahesa Murti memang bermaksud untuk menerima serangan Kebo Wengker, pukulan-pukulan yang tercurah bagai hujan itu di tangkis dengan ala kadarnya, sehingga begitu banyak serangan Kebo Wengker yang menyusup ke dada, bahu dan iganya.

    Kebo Wengker sangat terkejut saat kepalan tangannya menghunjam tubuh lawannya itu, seolah-olah tubuh lawannya yang masih muda itu bagai batu karang, bahkan lamat-lamat dirasakan kepalan tangannya menjadi sakit.

    Kebo Wengker menghentikan serangannya, sambil berdiri termangu menatap anak muda yang mengaku dari Talang Alun itu. Dilihatnya bagian tubuh yang terkena pukulan tidak membekas sama sekali.

    “Kenapa kau hentikan seranganmu Kisanak, bukankah kau berjanji akan mencabik-cabik tubuhku? Apakah aku harus menunggumu lebih lama lagi?” tanya Mahesa Murti, membuat Kebo Wengker tak bisa menjawab.

    Meskipun hatinya merasa sangat panas, tapi akalnya masih bisa bisa dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Jika serangannya yang bisa menghancurkan batang pohon turi hingga tercabik-cabik itu tapi tidak berguna menghadapi lawannya, tentu anak muda yang mengaku dari Talang Alun itu bukan sekedar orang yang mengerti olah kanuragan ala kadarnya.

    “Siapa kau sebenarnya anak muda?” Tanya Kebo Wengker dengan berdebar-debar.

    “Seperti yang kukatakan dari awal, aku datang dari Talang Alun, aku datang dengan pamanku untuk menanyakan kepada Ki Buyut Pudaklamatan tentang orang-orang dari Kabuyutan Sendang Apit yang mengungsi di wilayah kami…”

    “Cukup. Cukup anak muda, aku sudah mendengar igauanmu itu di tempat Ki Buyut.” Kata Kebo Wengker dengan rasa marah menggelegak, tidak disangkanya anak muda itu masih saja mempermainkan dirinya.

    Mahesa Murti tertawa, anak muda pimpinan Padepokan Bajra Seta itu berkata, “Kalau kau sudah tahu, kenapa kau tanyakan lagi Ki Sanak? Bukankah apa yang kau lakukan ini atas restu dari gurumu mpu Renapati, jadi apapun yang kukatakan, bisa kau sampaikan dalam cara yang berbeda pada gurumu, bahwa kau dan teman-temanmu tidak berdaya menghadapi kami.”

    “Gila kau. Apa yang kau katakan seolah-olah kau sudah mengalahkan kami semua!” teriak Kebo Wengker marah, agaknya ucapan lawannya yang masih muda itu membuat Kebo Wengker beralasan untuk menyelesaikan lawannya dengan segala cara. Sambil menghunus pedangnya Kebo Wengker kembali berteriak. “Kau akan menyesal anak muda!”

    Mahesa Murti menatap Kebo Wengker dengan tegang, nampaknya pedang yang di hunus lawannya itu bukanlah sembarang pedang yang di jual oleh mpu di pasar-pasar. Besarnya keris yang berujud pedang itu hampir sama dengan senjata yang dimilikinya bersama Mahesa Pukat. Mahesa Murti menduga tentu pedang berujud seperti halnya keris itu dibuat oleh seorang mpu yang waskita.

    “Apakah kau melupakan ucapanmu tadi Ki Sanak?” Mahesa Murti menyindir lawannya yang sejak awal akan menggunakan tangan kosong untuk menghadapinya.

    Wajah Kebo Wengker memerah, harga dirinya memang sudah berkeping-keping sejak dia tidak bisa mendesak lawannya yang masih muda itu. “Persetan! Perkataanmu membuatku tersinggung, dan kau harus segera berlutut menyerahkan lehermu!”

    Mahesa Murti tertawa berkepanjangan dengan nada rendah anak muda ini berkata. “Jangan bermimpi Ki Sanak, bertangan kosong saja kau tidak mampu membuatku tersurut, apalagi kau menggunakan pedangmu. Marilah, akupun ingin merasakan ketajaman pedangmu, jika ternyata aku tidak sanggup menghadapi pedangmu yang serupa keris itu, akupun akan menggunakan pedang yang sama.”

    “Anak iblis, kau benar-benar menghina aku.” Kata Kebo Wengker dengan sorot mata membara, Kebo Wengker menyadari anak muda itu tidak membawa senjata, tapi dengan ucapan tadi, bukankah sama saja mengatakan akan merampas pedangnya?

    “Lakukan apa yang perlu kau lakukan Ki Sanak, aku sudah merasa bosan menunggu.” Kata Mahesa Murti makin membuat Kebo Wengker tidak mampu menahan amarahnya.

    Dengan kecepatan seperti badai, Kebo Wengker memburu Mahesa Murti yang berdiri tegak, kilatan pedangnya berkerjapan menebas pinggang anak muda yang mengaku dari Talang Alun itu. Mahesa Murti dengan cekatan menapak kebelakang sambil memiringkan tubuhnya, tidak disangka Kebo Wengker yang sudah menerapkan puncak ilmunya, sanggup mengikuti gerakan yang di lakukan Mahesa Murti.

    Mahesa Murti memang tidak sempat lagi mengelak, ternyata gerakan lawannya menjadi jauh lebih cepat setelah dia menggenggam pedang, dengan gerakan sangat cepat pula Mahesa Murti memukul badan pedang dengan punggung tangan.

    Kebo Wengker terkejut, serangan yang keras dan kokoh disertai kecepatan berlipat-lipat itupun masih sanggup dipatahkan anak muda itu. Pedangnya tersiak kebawah dan akhirnya membacok tanah. Kesempatan itu tidak disia-siakan Mahesa Murti, dengan menginjak senjata Kebo Wengker yang tertanam dalam tanah, anak muda ini melakukan sepakan yang keras, kembali membuat Kebo Wengker untuk kedua kalinya jatuh terlentang dengan kepala berdenyut-denyut seakan pecah. Sepakan anak muda yang mengaku dari Talang Alun itu tepat mengenai pelipisnya.

    Pandangan matanya dirasa oleh Kebo Wengker mengabur, dengan mengerjapkan mata berulang kali, Kebo Wengker melihat anak muda itu berdiri dengan tangan bersedekap. Sikap yang sangat meremehkan dirinya itu membuat kemarahan Kebo Wengker kian berlipat ganda.

    “Kalian tunggu apa lagi, hancurkan anak itu.” Perintah Kebo Wengker pada keempat orang rekannya.

    Keempat orang itu menatap Kebo Wengker dengan ragu-ragu, dari kejauhan mereka bisa melihat bahwa anak muda yang mengaku dari Talang Alun itu sama sekali belum bersungguh-sungguh, dengan majunya mereka berempat, mereka kawatir anak muda itu akan menghentakkan ilmunya ke tataran yang paling baik. Meskipun mereka meyakini anak muda itu sama sekali bukan lawan guru mereka, mpu Renapati.

    Mahesa Murti menatap waspada pada lawan-lawan barunya, agaknya Kebo Wengker adalah pimpinan dari keenam orang penghadang itu. Dengan sedirinya Mahesa Murti sudah bisa menilai tataran keempat orang lawan tambahan itu.

    “Baiklah, nampaknya kalian terlalu memandang tinggi anak dari Talang Alun, sehingga menyempatkan diri bergabung dengan Ki Sanak ini.” Desis anak muda itu bersiap-siap.

    “Lidahmu memang setajam sepakanmu anak muda. Tapi kau akan menyesal merendahkan Padepokan Renapati.” Kata Kebo Wengker

    “Bukan maksudku, tapi kenyataan mengatakan demikian. Kalian sebagai orang yang berilmu seharusnya memiliki sifat kasih dan ngemong lebih baik dari kebanyakan orang, tapi yang terjadi kalian memperturutkan hawa nafsu, mengikuti nafsu guru kalian. Apakah orang-orang semacam itu masih perlu dihargai?”

    “Setan kau..” teriak Kebo Wengker sambil memberi aba-aba, dirinya yang sudah bergabung dengan empat orang temannya bergerak mengurung Mahesa Murti. Dengan mengesampingkan rasa pusing di kepalanya, Kebo Wengker kembali memusatkan nalar budinya.

    Mahesa Murti melihat keempat orang itu pun sudah memusatkan nalar budi untuk menghentakkan kekuatan terbaiknya, tentu saja anak muda ini tidak mau hancur, meskipun dirinya sangat yakin dengan ketahanan tubuhnya yang seolah-olah sedang merangkak pada tataran ilmu kebal. Mahesa Murti masih sempat menatap pertempuran Kiai Wijang melawan Lembu Pangambah sejenak, melihat keadaannya tentu saja orang tua itu tidak perlu ia kawatirkan. Kiai Wijang dengan tangkas dan lincah berkelit kesana kemari menguras tenaga lawan.

    Dengan meningkatkan kemampuannya selapis demi selapis, Mahesa Murti mengerahkan ilmunya yang paling lunak, ilmu yang bisa menghisap tenaga lawannya tanpa mereka sadari. “Ki Sanak sebelum kalian menyerang, dapatkan kalian berpikir jernih untuk menghentikan pertempuan yang tidak berguna ini?”

    “Apakah kau terkejut dengan kemampuan kami?” Tanya Kebo Wengker mengira anak muda itu tergetar hatinya melihat perbawa mereka berlima.

    “Sama sekali tidak, aku hanya tidak ingin melakukan hal yang tidak ada gunanya. Menyepak dirimu berkali-kali tidak membawa manfaat apapun bagiku. Tapi mudah-mudahan bisa membuka mata hatimu.”

    “Setan alas.” Geram Kebo Wengker

    “Maka marilah, kita sudahi pertikaian yang kalian sediri tidak inginkan ini.” Kata Mahesa Murti.

    “Sudah cukup sesorahmu?” Tanya Kebo Wengker dengan mata menyala. “Keinginan kami adalah membunuh orang Talang Alun seperti kalian ini. Mayat kalian nantinya akan kami letakkan di Kabuyutan Sedang Apit. Supaya orang-orang Talang Alun menolak kehadiran para pengungsi dari Kabuyutan Sendang Apit.”

    “Kau sungguh keji Ki Sanak, baiklah. Nampaknya aku harus membasahi tanganku dengan darah kalian.” Kata Mahesa Murti sambil menghela nafas panjang.

    “Kau terlalu banyak mengigau anak muda, serang dia!” teriak Kebo Wengker memberi perintah.

    Kelima orang itu bergerak mengitari Mahesa Murti, dan mereka serentak menerjang anak muda pimpinan Padepokan Bajra Seta itu dengan gerakan sangat pesat, dengan kecepatan gerakan mereka yang terlihat tidak memiliki keteraturan dalam serangan bersama, Mahesa Murti mengira jika dirinya meloncat keatas, maka kelima orang itu akan saling bertumbukan.

    Tapi ternyata tidak, begitu tubuh anak muda itu melenting, kelima orang itupun datang memburu dengan kecepatan bertambah pesat. Mahesa Murti terkejut dengan cara mereka menyerang, dia belum pernah menyaksikan cara serangan seperti itu sebelumnya. Membiarkan tubuhnya terkena serangan, Mahesa Murti memanfaatkan guncangan tubuhnya yang tepental akibat serangan bertubi kelima orang itu untuk meloloskan diri dari kepungan.

    Pukulan kelima orang itu benar-benar terasa berat, tapi Mahesa Murti yang sudah menapak selapis lebih tinggi dari kemampuan sebelumnya, tidak merasakan kesakitan, hanya saja ia tidak dapat berdiri dengan sempurna akibat serangan susul menyusul itu.

    Kebo Wengker melihat kesempatan baik, dengan pukulan yang membawa deru angin membadai, kepala Mahesa Murti menjadi incaranya. Tapi anak muda ini tidak mandah menerima pukulan yang bisa saja membuat dirinya terluka, dengan tangan menyilang, Mahesa Murti menangkis Kebo Wengker. Akibat kedua tangannya digunakan untuk menangkis, bagian badan yang lain terbuka dan mudah diserang. Berturut-turut keempat orang lainnya berhasil menyarangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Mahesa Murti.

    Meskipun demikian, ternyata kelima orang itu merasa sangat sulit mengalahkan Mahesa Murti yang masih muda, bahkan lambat laun mereka merasa kecepatan gerakan dan bobot pukulan tidak lagi seperti biasa. Mereka mengira itu hanya kelelahan biasa saja, tapi ternyata semakin banyak mereka menyarangkan serangan ketubuh anak muda itu, semakin cepat mereka lelah. Lama kelamaan mereka sadar telah terjadi sesuatu yang diluar kewajaran.

    “Anak iblis! Kau gunakan cara curang, anak muda…” desis Kebo Wengker dengan keletihan yang menyergap seluruh sendinya, bahkan untuk berdiri saja rasa-rasanya Kebo Wengker sudah menghabiskan seluruh tenaganya. Tangan kanannya yang tadi ditangkis oleh anak muda itu menggantung lemah.

    “Bukan aku yang menyerang dengan jumlah banyak.” Kata Mahesa Murti menatap lawannya satu persatu.

    Tanpa mereka sadari, tatapan anak muda yang datang dari Talang Alun itu menggetarkan hati mereka. Jika semula keempat orang saudara perguruan Kebo Wengker mengira anak muda itu masih kalah jauh dengan guru mereka, maka dengan kejadian ini, perkiraan mereka mengalami perubahan. Bahkan salah seorang dari keempat orang itu mengambil kesimpulan ilmu anak muda setara dengan guru mereka, mpu Renapati.

    “Apakah kalian akan meneruskan perbuatan sia-sia ini Ki Sanak?” bertanya Mahesa Murti sambil melangkah mendekati kelima orang itu yang dengan bersusah payah masih mempertahankan tubuhnya untuk berdiri.

    “Siapa kau sebenarnya anak muda?” bertanya salah seorang dari empat orang yang tururt menyerang Mahesa Murti itu.

    Mahesa Murti termangu-mangu sesaat. “Aku adalah salah seorang putut dari sebuah perguruan, saat ini aku beserta sepuluh orang saudara seperguruanku sedang berada di Talang Alun mengunjungi pamanku, Ki Buyut Talang Alun.” Katanya tidak menyebutkan siapa ia sebenarnya.

    Keterangan itu membuat Kebo Wengker terperanjat tanpa sadar orang itu mendesis, “Pantas saja, kami tidak mendapat keterangan apapun dari anak murid yang mengunjungi Dusun Logandeng.”

    Ucapan itu cukup membuat Mahesa Murti paham jika seluruh tindakan anak murid dari mpu Renapati memang diketahui oleh tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi. “Ya, beberapa orang dari Perguruan Pura Kencana atau yang lebih di kenal dengan sebutan Padepokan Renapati ternyata sedang mencari anak dari Ki Buyut Sendang Apit. Mereka dengan semena-mena memaksa orang-orang Dusun Logandeng. Kami yang kebetulan sedang hadir saat itu, bergerak mencegah perbuatan mereka. Sejak saat itu, kami mengetahui persoalan apa yang sedang merambat di dua kabuyutan itu.”

    Kebo Wengker dan empat saudara seperguruannya itu termangu-mangu mendengar keterangan Mahesa Murti. Jika satu orang putut saja sudah sedemikian kuatnya, entah bagaimana jika seluruh saudara perguruan anak muda itu memutuskan untuk ikut campur dalam persoalan ini.

    “Aku ulangi lagi Ki Sanak, apakah tujuan kalian akan tetap dilakukan?” Tanya Mahesa Murti menyapu kelima wajah dihadapannya itu dengan sorot tajam.

    Kebo Wengker yang bersikap paling keras sekalipun menyadari kedudukannya yang saat ini tidak bisa melakukan apapun. “Kami menyerah anak muda…” katanya dengan suara lemah. “Tapi kami peringatkan padamu, kau sudah menanam benih permusuhan dengan Padepokan Renapati.” Kebo Wengker masih saja berusaha menggetarkan jantung anak muda itu dengan ancaman.

    Mahesa Murti tertawa panjang. “Aku tidak sedang mengancam kalian, tapi seandainya saja ada sepuluh orang dari kalian menyerangku, aku masih bisa mengatasi kalian. Sementara aku adalah putut termuda dari padepokan kami. Jika kau mengira dapat menghadapiku, tentunya kau harus melakukan pengamatan lebih jernih bahwa aku masih memilki sembilan saudara perguruan yang kemampuannya jauh lebih sempurna dari pada diriku. Jika kau bermaksud menyinggung harga diriku, manakala aku tersinggung, aku akan dengan sangat mudah meminta guruku untuk datang ke perguruan Renapati, kita akan melakukan apa yang akan kalian lakukan seandaianya mengalami hal serupa…” desis anak muda ini mengejutkan Kebo Wengker dan keempat saudara seperguruannya.

    Sungguh tidak disangka, sangkaan mereka justru dibenarkan oleh anak muda itu, kalau saja yang dikisahkan anak muda yang mengaku dari Talang Alun itu itu benar-benar terjadi, tidak bisa mereka bayangkan Padepokan Renapati yang dibangun dengan susah payah akan mengalami benturan paling besar dari yang pernah dialami selama ini.

    “Kuulangi lagi kepada kalian, apa kalian benar-benar menyerah?” Tanya Mahesa Murti meminta ketegasan.

    Kebo Wengker dan keempat saudara seperguruannya hanya bisa mengangguk-angguk, kelima orang itu tidak lagi sanggup berdiri, mereka terduduk dengan sendi merasa nyeri, dengan tubuh terasa lumpuh, tatapan mereka tidak lagi menyatakan kegarangan, harapan mereka pada Lembu Pangambah ibarat menanti mentari terbit dari barat. Apalagi Lembu Pangambah sampai sejauh ini belum pernah bisa menyentuh tubuh orang yang usianya dua kali lipat lebih banyak daripadanya.

    “Kau lihat, bukankah aku tidak berbohong waktu kukatakan diriku adalah juara menangkap itik? Buktinya kau tidak dapat menangkapku. Aku benar-benar juara sejati dalam perlombaan menangkap itik.” Kata Kiai Wijang di sela-sela gerakan elaknya dengan nada dibangga-banggakan, membuat Mahesa Murti tersenyum.

    Ternyata Kiai Wijang selain bijaksana, pada dasarnya suka mempermainkan lawan, batin Mahesa Murti mau tak mau terkenang dengan perjumpaan pertama kali dengan Kiai Wijang, sebuah pertempuran yang membuat dia menyadari keterbatasan dirinya.

    “Persetan dengan igauanmu!” teriak Lembu Pengambah makin marah, gerakan Lembu Pengambah kian membadai, kecepatanya bertambah, bobot seranganyapun terlihat makin mantap. Mahesa Murti bisa menilai bahwa Lembu Pengambah setingkat lebih baik dari pada Kebo Wengker. Tetapi serangan yang datang membadai itu tidak ada gunanya, karena Kiai Wijang mampu mengelakkan semua.

    “Kiai, kelihatannya lawan Kiai hanya akan menyerah jika tidak lagi bisa bergerak.” Seru Mahesa Murti mengingatkan Kiai Wijang, bahwa mereka harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

    “Baiklah ngger, akan kutidurkan dirinya.” Jawab Kiai Wijang dengan jemari terjulur menyongsong serangan tebasan Lembu Pengambah. Semua orang mengira jemari Kiai Wijang akan terpapas oleh pedang berbentuk keris sebagaimana senjata yang juga dimiliki Kebo Wengker.

    Lembu Pengambah merasa girang melihat keteledoran lawannya, tapi mendadak rasa senangnya lenyap begitu saja saat jemari Kiai Wijang menyentuh badan pedangnya, seluruh tubuhnya terasa seperti disengat panas yang amat sangat, dalam waktu yang singkat tubuh Lembu Pengambah tersungkur dengan kesadaran yang kian menipis, sampai akhirnya pada saat tubuhnya mencium tanah, kesadaran orang itu sudah lenyap sama sekali.

    Agaknya Kiai Wijang dapat menggunakan unsur ilmu puncaknya dalam beragam tataran dan bentuk serangan, sungguh mengagumkan. Pikir Mahesa Murti menyadari serangan Kiai Wijang itu masih selaras dengan ilmu puncaknya yang sanggup meluluh lantakkan sebuah pohon gayam hingga menjadi debu.

    “Nah kalian lihat, sekarang siapa yang akan menyelesaikan siapa.” Kata Kiai Wijang berdiri disebelah Mahesa Murti. “Apakah kita akan menyelesaikan mereka, ngger?” Tanya Kiai Wijang yang segera diketahui Mahesa Murti sebagai pertanyaan yang menakut-nakuti lawan mereka.

    “Tadi mereka mengatakan ingin membuang mayat kita di wilayah Kabuyutan Sendang Apit, bagaimana jika kita buang mayat mereka di Kabuyutan Pudaklamatan?” Tanya Kiai Wijang lagi kepada Mahesa Murti.

    “Apa alasan kita saat anak Ki Buyut Pudaklamatan mengetahui kematian orang-orang yang mendukungnya itu?” Tanya Mahesa Murti melayani gurauan Kiai Wijang

    • malah lebih BAGUS iseng hlhlp-119…malah
      bisa diLANJUTkan iseng2 yang laen.

      MONGGO diTERUSKE ki DIDIT,

      • Lanjuuttt..!!

        • Setuju sekali lanjut ju jut jut.

          • top markotop lanjut,

            dadi kelingan mBah Man.

    • Mantaf, …… 97 Ki!

      • Gimana kalau disemai di Gandok Baru, Gandok 119?

    • Ki Didit yang “gatal hati”; tidak perlu mengukur dengan skala kemiripan 1 – 10, jelas menarik sekali,
      ini yang namanya iseng-iseng jadi Iseng 119.
      Tapi judulnya diganti dengan “Serius 119” and so on, and so on, 120, 121, and so on…..
      Lanjutkan….. (maaf bukan kampanye partai)

      Wangsa Bayuaji mendukung.

  20. Lanjut Ki…
    Mantabbbbbbbb…

  21. lanjuuuuuut, tetap semangat

  22. lanjut terus. Luarbiasa.

    • Kunanti Lanjutannya!

  23. Mantap! tetap semnagat menunggu …semoga yg scan juga teteap semangat …

  24. mana lagi lanjutannya?

  25. bagus ki, setuju kalau dibuatkan gandhok untuk memuat lanjutan hlhlp yang dibuat oleh ki didit.
    lho…

    sudah ada tuh…. hlhlp-119

  26. haduuh .. kirain cuma Api di bukit menoreh aja yang ga tamat.. ternyata HLHLP juga ga tamat ya….

    akhirnya cuma bisa membayangkan akhir dari cerita ini…

    meskipun akal-akalan, bisa dilanjutkan oleh cerita Ki Kompor (Arief Sujana) pada HLHLP-119


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: