HLHLP-119 D

sebelum>> | lanjut>>

Laman: 1 2 3 4

Telah Terbit on 24 Maret 2011 at 19:58  Comments (312)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119-d/trackback/

RSS feed for comments on this post.

312 KomentarTinggalkan komentar

  1. SORE…kadang PDLS,

    satoe slOP 234….nggo nganCANi moco rontal
    ki MAHESA KOMPOR,

    terus ki, kuat mana sing MOCO opo sing cRITA
    hehehehe….tetep nduKUNG ki BARA MEMBARA.

    • TETEP SABAR MENUNGGU-MENANTI….(gaya bang OMA)

      • tetap menanti dengan sabar

        • Dengan menanti tetap sabar

  2. Lanjutannye……………….

    Rembulan sudah lelah terkantuk redup menerangi bumi sepanjang malam. Bintang fajar berdiri diufuk timur menandai pagi akan datang. Di pagi yang masih begitu gelap itu, Mahesa Murti sudah bersih-bersih diri.

    Sementara itu Mahesa Amping juga ikut terbangun.
    “Lekas bersih-bersih diri, aku akan ke pendapa”, berkata Mahesa Murti.

    Pagi itu, Mahesa Murti menyampaikan rencananya bahwa hari ini juga akan berangkat ke Singosari, menjemput ayahnya Mahendra untuk secara resmi melamar Padmita.

    “Jenang dodol ini untuk menemani diperjalanan”, berkata Padmita sambil memberikan sebuah bungkusan kepada Mahesa Amping ketika mereka tengah perpamitan.

    “Terima kasih”, berkata Mahesa Murti sambil memandang Padmita penuh arti. Dan Padmita membalasnya dengan sebuah senyuman.

    Di bulak-bulak panjang dan sepi, kuda Mahesa Murti dan Mahesa Amping melaju begitu pesat. Yang biasanya Mahesa Amping dalam perjalanan selalu didepan, kali ini dengan terpaksa mengimbangi kecepatan kuda Mahesa Murti. Sebagai seorang anak yang mulai dewasa, Mahesa Amping memaklumi kenapa kakangnya seperti mengejar waktu, meski dengan terbatas pemikiran seorang “bocah”.

    Tanpa banyak hambatan diujung senja mereka sudah sampai kembali dipadepokan Braja Seta.Beberapa cantrik yang sudah berumur dan mengerti adat istiadat setempat dimintakan pertimbangannya. Akhirnya disepakati, setelah Mahesa Murti kembali dari Singasari bersama ayahnya, di padepokan Braja Seta telah mempersiapkan segala sesuatunya.

  3. Lumayan….7 paragraf dicampur jenang alot plus kopi torabika asyikkkkk…..
    Sory coi….mau ngaji dulu, nti dilanjutin ngedalangnya, semoga “masih kuat membacanya”

    Bocoran cerita selanjutnya :
    Kuda Cemani dan Sri baginda bermaksud “membersihkan” sisa-sisa bangsawan kediri yang belum mau menerima Singasari. Diperlukan seorang “penghianat”. Dan mereka memilih MAHESA MURTI……..
    DAPATKAH MAHESA MURTI MENERIMA TUGAS BERAT INI ????
    baca terus sampe pegellllllllllll

    • Wah, Adhimas mau mengetrapkan ajian yang menurut Frederik Forsyth disebut “fals-flag”.

      Makin PENASARAN…………!!!!!!!!!!
      tapi kaga mau kalo disuruh begadang lho.
      makanye cepet2 diwedhar dong.

  4. Wah Ki Kompor pancen oye tenan.
    Matur nuwun Ki


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: