HLHLP-119

HHLP 119 TAMAT

Karya Ki Kompor “Bara Membara”

———————————–

Bagian 1

Sinar matahari telah muncul bersemburat menerangi persawahan Kabuyutan Talang Alun, suasana Banjar desa menjadi gempar memandang dua orang dengan wajah kusut masam digiring oleh Mahisa Murti dan Kiai Wijang.

“Siapakah mereka?”, bertanya Ki Buyut

“Orang-orang dari Padepokan Renapati”, berkata Mahisa Murti

“Apakah mereka berbahaya?”, bertanya Ki Buyut kepada Mahisa Murti.

“Untuk sementara mereka sudah tidak berbahaya lagi”, berkata Mahisa Murti.

Ki Buyut merasa tanggap apa yang dikatakan Mahisa Murti tentang dua orang tawanan itu. Diperintahkan beberapa pemuda untuk membawanya ke bilik Banjar serta berpesan untuk berhati-hati menjaganya. Sementara itu Ki Buyut mengajak Mahisa Murti dan Kiai Wijang ke pendapa rumahnya.

Singkat cerita, enggak perlu diceritain bagaimana Mahisa Murti dan Kiai Wijang bersih-bersih dipringgitan serta makanan apa yang disuguhkan kepadanya, yang jelas enggak jauh dari wedang jahe plus gula batu aren plus sarapan nasi srondeng kesukaan Glagah Putih.

Singkat cerita, Ki Buyut sedang mendengarkan cerita Mahisa Murti dan Kiai Wijang tentang beberapa hal yang mereka dapatkan langsung apa yang terjadi di Kabuyutan seberang hutan, yang jelas bukan masalah Tsunami atau kekwatiran tentang bocornya PLTN di Jepang……………

“Kita harus membantu menghentikan kekacauan di sana”, berkata Kiai Wijang.

“Kiai sudah punya gambaran?”, bertanya Ki Buyut mahfum bahwa pasti dua orang sakti dihadapannya ini telah mempunya rencana yang gemilang.

“Kekacauan disana harus secepatnya diredam, tanpa membawa banyak korban”, berkata Kiai Wijang.

“Menjaring lele di dalam kubang, tanpa mengusik anak ikan gabus”, berkata kembali Kiai Wijang sambil menguraikan beberapa rencananya. Ki Buyut dan Mahisa Murti duarius menyimak, dan diam-diam mengakui kecemerlangan Kiai Wijang menyiasati strategi perangnya.

Langit gelap malam mengisi cakrawala di atas Padepokan Renapati. Angin dingin bertiup dari arah Setu Kerautan Cipondoh yang merupakan sisi samping Bangunan Padepokan Renapati. Beberapa penjaga di panggungan bersandar tiang-tiang sepertinya menahan rasa kantuk yang kuat. Sementara itu di dalam bangunan utama, seorang gadis di dalam biliknya tidak juga dapat memejamkan matanya. Nampak dari cahaya lampu teplok di sudut kamar, raut wajahnya begitu suram seperti tengah menanggung sebuah derita kesedihan

Padmita nama gadis itu. Adalah seorang gadis periang, ia adalah bunga di Padepokan Renapati, banyak pemuda yang diam-diam menaruh hati dan bermimpi untuk menyuntingnya. Wajahnya yang cantik serta lesung pipit dipipinya yang selalu menghiasi wajahnya bersama senyumnya, hari ini sepertinya tersamar dalam keburaman hatinya setelah Empu Renapati mengabarkan tentang perjodohannya dengan anak Buyut Pudklamatan, seorang pemuda yang selama ini selalu mendekatinya, namun tidak sedikitpun cinta tumbuh di hatinya. Bila selama ini ia berbaik hati, itu karena penghormatannya dan kepatutan sikap seorang gadis dalam bergaul. Namun sikap itu dimaknai berbeda, baik pemuda itu, Ayahnya Mpu Renapati dan juga pamannya Kolor Ijo. Dadanya sepertinya begitu sesak, hati dan pikirannya tidak juga memberanikan diri untuk berkata “tidak”. Semakin dipikirkan, semakin sesak dan pening kepalanya.

Disaat Padmita masih gelisah dipembaringannya, sebuah rakit kecil meluncur merapat di pinggir dinding Padepokan Renapati. Dua sosok bayangan mengendap, melesat dengan kecepatan kasat mata melompati dinding yang tidak terjaga, dan menghilang di antara gerumbulan alang-alang dan rumpun batang-batang pohon pisang.

“Itulah gadis yang kita cari”, berbisik Kiai Wijang sambil menunjuk gadis yang tengah berbaring ditempat tidurnya.

“Lekas turun dan bawa gadis itu, aku mengawasi keadaan”  kembali Kiai Wijang berbisik kepada Mahisa Murti.

Maka tanpa alat bantu apapun, Mahisa Murti meluncur kebawah seperti daun terjatuh, begitu ringan melayang.

“Siapa kau?”, berkata Padmita sambil melompat dari pembaringannya. Bukan main kagetnya, ada seorang pemuda turun dari atap rumahnya.

“Jangan takut, aku tidak bermaksud jahat”, berkata setengan berbisik Mahisa Murti kepada gadis didepannya. Hatinya sedikit tergetar melihat kecantikan Padmita di keremangan cahaya lampu bilik yang sengaja dikecilkan.

“Apa yang ingin kamu lakukan disini?” berkata Padmita sepertinya tidak berprasangka apapun kepada pemuda di depannya, meski ia sama sekali belum mengenalnya, tapi paras wajah Mahisa Murti sepertinya meyakinkan bahwa pemuda asing ini memang tidak akan berbuat jahat.

Dua mata saling menatap, sepertinya saling memperhatikan getaran yang ada di dalam jiwa mereka masing-masing. Sebuah getaran yang aneh, seperti besi sembrani meletup menarik-narik rasa dan perasaan.

“Apa yang akan kamu lakukan di sini?”, kembali Padmita berkata memecahkan keheningan.

“Maaf, aku akan membawamu pergi”, berkata Mahisa Murti setelah menguasasi goncangan kecil didalam hatinya.

“Untuk apa dan kenapa?” berkata Padmita.

“Ditempat yang aman akan kuceriatakan semuanya, sekarang kuharap kesediaanmu”

“Aku tidak bersedia”, berkata Padmita tenang. Sementara itu Mahisa Murti menangkap ketenangan itu sebagai tanda bahwa gadis dihadapannya bukan gadis biasa, sedikitnya menguasai kanuragan, namun sebatas mana tingkat ilmunya menjadikan Mahisa Murti harus berhati-hati.

Dengan kecepatan tinggi tangan Mahisa Murti langsung menyentuh beberapa daerah yang tidak berbahaya. “aneh”, bekata Mahisa Murti dalam hati ketika Padmita tidak berusaha melawan. Usapan tangan Mahisa Murti dengan cepat merobohkan Padmita. Sebelum tubuh itu jatuh di lantai, dengan cepat Mahisa Murti merangkulnya dan langsung sambil memapah gadis itu, Mahisa Murti melesat ke atas atap.

“Bawa gadis ini ke rakit, aku berjaga di belakangmu”, berkata Kiai Wijang setelah Mahisa Murti memapah Padmita di atas atap rumah.

Suara kentongan dara muluk terdengar sayup dari Padukuhan terdekat, wajah malam begitu kelam mengiringi sebuah rakit kecil meluncur menjauhi Padepokan Renapati. Tidak lama kemudian merapat di tepian seberang hutan kecil. Hutan yang tidak begitu lebat, tapi jarang sekali disinggahi oleh penduduk sekitar, bahkan para pemburu konon katanya tidak berani memasuki daerah ini.

“Biarkan gadis itu tertidur, sementara kita dapat beristirahat sejenak, meski sebentar lagi pagi menjelang”, berkata Kiai Wijang ketika mereka sampai di gubuk darurat yang telah mereka persiapkan sebelumnya.

“Silahkan Kiai beristirahat, aku yang berjaga”, berkata Mahisa Murti

“Terima kasih ngger, semoga waktu yang sedikit ini akan menyegarkan tulang-tulangku yang sudah tua”, berkata Kiai Wijang sambil meluruskan kakinya bersandar pada sebuah pohon besar. Sementara Mahisa Murti juga bersandar pada pohon yang sama, sambil juga beristirahat tapi tetap bersiaga dan berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan. Dipandanginya Padmita, gadis yang berbaring di dalam gubuk nampak begitu nyenyak terlelap. Beberapa simpul saraf yang telah melumpuhkan gadis ini sudah dikembalikan oleh Mahisa Murti ketika mereka sampai di gubuk darurat malam tadi. “Gadis yang cantik”, berkata Mahisa Murti sambil menarik napas panjang melempar pandangannya kearah lain dalam keremangan pohon dan kerimbunan hutan.

“Nyenyak sekali tidurku”, berkata Kiai Wijang ketika terbangun dari tidurnya. Dan matahari di hutan pinggir setu itu memang sudah mulai mengintip dalam kebeningan warna pagi. “Aku akan mencari ikan untuk sarapan, biasanya banyak ikan mujaer di Situ seperti ini.

“Aku akan menyiapkan perapian”, berkata Mahisa Murti ketika Kiai Wijang sudah beringsut berjalan menuju tepian Situ yang tidak begitu jauh dari gubuk darurat yang mereka dirikan.

Semilir angin pagi begitu sejuk, cahaya embun diujung rumput bagai mutiara yang tersebar disinari matahari pagi. Tanpa terasa Mahisa Murti kembali memandang wajah Padmita yang masih tertidur. “Gadis yang cantik”, kembali Mahisa Murti berkata dalam hatinya sambil terus memandang wajah Padmita yang masih terpejam. Dan jantung Mahisa murti seperti berhenti berdetak ketika mata dibawah alis yang terukir seperti bulan sabit itu terbuka lebar.

“Kau”, berkat Padmita bangkit memandang Mahisa Murti. Langsung ia teringat kepada pemuda ini yang semalam hadir didalam biliknya.

Mahisa Murti ikut bangkit dan berusaha menentramkan getar perasaan aneh yang ada didalam hatinya.

“Aku tidak bermaksud jahat, setelah urusan ini selesai, aku akan mengembalikan dirimu”

“Apa sebenarnya yang ingin kamu lakukan?” berkata Padmita

“Aku akan menjelaskan semuanya”, berkata Mahisa Murti.

“Tenang dulu nduk, semua akan kami jelaskan, tentunya setelah perut kita terisi dengan mujaer bakar ini”, berkata Kiai Wijang yang muncul entah sejak kapan tersenyum ramah memandang Padmita. Entah kenapa, dihadapan orang tua ini Padmita merasakan ketentraman sebagaimana di hadapan Mahisa Murti yang baru dikenalnya.

Dengan sareh, Kiai Wijang memperkenalkan diri mereka berdua, sekaligus menceritakan semua permasalahan yang terjadi, mulai dari suasana kegelisan dan keresahan dari Kabuyutan Sendang Apit yang berdampak kepada aliran pengungsian ke seberang hutan, sikap buyut Pudaklamatan terutama anak laki-lakinya, juga siapa dibalik kejadian semua ini yang tidak lain ayah Padmita sendiri yaitu Empu Renapati.

“Sejak Paman Kolor ijo datang ke Padepokan, sikap Ayah sudah banyak berubah”, berkata Padmita setelah mencerna penjelasan dari Kiai Wijang. Sebagai gadis yang pintar, dengan cepat dapat mengurai apa sebenarnya yang terjadi, termasuk soal perjodohannya dengan anak Ki Buyut Pudaklamatan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan.

“Aku akan memancing ayahmu datang kesini, biarlah semua kita selesaikan disini, tanpa melibatkan siapapun. Mudah-mudahan dengan cara ini, tidak ada korban yang tidak kita inginkan”, berkata kembali Kiai Wijang setelah menjelaskan semuanya kepada Padmita.

Matahari merayap di ujung timur cakrawala, cahayanya begitu hangat diiringi kicau burung ayam-ayaman dalam nyanyian asmara saling berkejaran diatas air.

“Mereka pasti datang ke sini”, berkata Kiai Wijang memecahkan kesunyian. “Sengaja semalam aku telah meninggalkan jejak”.

Apa yang diinginkan Kiai Wijang ternyata tidak jauh meleset. Di seberang situ, Empu Renapati memang telah menemukan jejak-jejak itu.

“Mereka sengaja meninggalkan jejak-jejak ini”, berkata Mpu Renapati.

“Apakah ini sebuah pancingan?”, bertanya adiknya Kolor Ijo.

“Pancingan atau apapun, kita harus mendapatkan Padmita kembali”, berkata Anuraga Podang anak Ki Buyut Pudaklamatan sepertinya tidak sabaran.

“Siapkan rakit”, berkata Mpu Renapati. Maka dengan sigap salah seorang cantrik berlari menyiapkan sebuah rakit.

“Empu berangkat sendiri?” bertanya Anuraga ketika Empu Renapati naik ke atas rakit.

“Jangan mengecilkan arti diriku”, berkata Empu Renapati datar. “Kalau ini sebuah pancingan, setidaknya Padepokan kita tidak menjadi lemah dibantai sepasukan musuh”.

Anuraga dan Kolor Ijo mengungguk pelan, mengerti kewaspadaan Empu Renapati. Disamping itu, mereka percaya penuh dengan kesaktian guru mereka. Meskipun di seberang situ ada sepasukan musuh, pasti dapat dilumatkan dengan seorang diri.

Perhitungan Kiai Wijang ternyata tidak meleset, dia sepertinya sudah mengenal watak Empu Renapati yang angkuh. Maka ketika sebuah rakit merapat, dia sudah dapat menduga siapa yang datang.

“Ternyata dia tidak banyak berubah”, berkata Kiai Wijang sepertinya kepada dirinya sendiri.

“Kiai sudah mengenalnya?”, bertanya Mahisa Murti. Tapi Kiai Wijang tidak sempat menjawab, dia cuma mengangguk perlahan sambil melangkah menyongsong kedatangan Empu Renapati. Mahisa Murti dan Padmita mengiringi dari belakang.

“Selamat berjumpa kembali Manuk Ngablang”, berkata Kiai Wijang menyapa Empu Renapati.

“Sudah kuduga, mataku yang sudah lamur ini masih ingat kepadamu Manuk Ireng”, Empu Renapati membalas salam Kiai Wijang.” jejak yang kau tinggalkan, janur muda somplak tujuh helai di tengah, membuat aku tidak sabaran untuk menemuimu”.

“Ternyata kamu masih mengingatnya”, berkata Kiai Wijang datar.

“Ayah…”, tiba-tiba Padmita berlari menghampiri Empu Renapati. “Dapatkah Ayah melepaskan semuanya?. Tidakkah Ayah melihat begitu banyak korban berjatuhan untuk sebuah cita-cita yang tidak jelas?, berkata Padmita mencoba menyadarkan Empu Renapati yang dianggapnya telah jauh keluar dari tuntunan kehidupan yang wajar.

“Menjauhlah Padmita, ada urusan atau tidak, ada hutang pribadi yang harus kami tuntaskan hari ini”, berkata Empu Renapati memberi tanda agar Padmita tidak mendekat sekaligus membuat ancang-ancang siap menyerang Kiai Wijang yang ternyata sudah bersiap dan waspada sejak tadi.

“Terima seranganku”, berteriak Empu Renapati sambil meluncur terbang dengan sepuluh jari menyambar tubuh Kiai Wijang.

“Garuda mencari tujuh nadi”, berkata Kiai Wijang sambil menghindar dari setiap serangan Mpu Renapati yang datang bertubi-tubi dan begitu cepat. Sepertinya Kiai Wijang dapat membaca gerakan Empu Renapati kemanapun serangan itu ditujukan.Sebenarnya jurus garuda mencari tujuh nadi sebagai serangan yang dilancarkan oleh Empu Renapati adalah jurus andalannya dan sudah dalam tingkat kesempurnaan, tapi Kiai Wijang masih saja dapat menghindar.

“Kemampuanmu sudah jauh meningkat”, kembali Kiai Wijang berkata sambil terus menghindar. Merasa gerakannya selalu dapat dibaca, maka Empu Renapati merubah gerakannya, tidak lagi cepat, tapi semakin lama semakin melambat.

“Sayap garuda mendulang angin prahara”, berkata Kiai Wijang sambil melenting jauh dan berdiri diatas air. Sebuah atraksi ilmu meringankan tubuh yang begitu sempurna “Kita perlu tempat yang lebih luas”, kembali Kiai Wijang berkata sambil tersenyum. “Mudah-mudahan, tulangku yang tua ini masih dapat bermain dengan angin prahara”, kembali Kiai Wijang berkata sambil tersenyum membuat Empu Renapati menggeram bersiap dengan jurus andalan lainnya yaitu sayap garuda mendulang angin prahara seperti yang dikatakan oleh Kiai Wijang.

Wusss..!!, sebuah sambaran angin menerpa tubuh Kiai Wijang. Terlihat Kiai Wijang seperti terpental. Tapi betul-betul tidak dapat dipercaya oleh mata, tubuh Kiai Wijang seperti daun terbang, begitu ringan bersalto diudara beberapa kali dan kembali hinggap diatas air.

Bukan main geramnya Empu Renapati, serangannya dapat dilumpuhkan dengan begitu mudah. Akhirnya, dengan segenap kemampuan yang ada, ditingkatkannya ilmunya pada tataran yang lebih tinggi. Dari tubuh Empu Renapati melesap angin puyuh puting beliung berputar-putar begitu cepat menerpa memburu tubuh Kiai Wijang.

Kiai Wijang sudah tidak dapat bermain-main lagi, dengan cepat menyesuaikan diri meningkatkan ilmunya ketataran puncaknya. Sambil menghindar dari serangan Empu Renapati, kali ini ia mencoba membuat balasan serangan, dari tangannya meluncur sinar biru.

Bukan main kagetnya Empu Renapati mendapatkan balasan serangan. Dengan lentingan yang cepat ia melompat menghindar.

Blesssss…!!, cahaya sinar biru menghantam air tempat Empu Renapati berpijak. Luar biasa…tiba-tiba saja air yang menjadi sasaran itu berubah menjadi beku seperti batu es yang mengambang. Berdesir jantung Empu Renapati melihat apa yang terjadi.

Pertempuran menjadi begitu sengit. Dua raksasa kanuragan bertempur saling menyerang dengan ilmu andalannya masing-masing dan pada tataran tingkat puncaknya. Mahisa Murti dan Padmita yang menyaksikan pertempuran itu seperti patung yang terkesima, jantung mereka seperti terhenti seketika setiap kali melihat sebuah serangan, dan bersamaan dengan itu, napas mereka seperti berhembus lega manakala serangan itu dapat dielakkan. Ternyata Mahisa Murti dan Padmita mempunyai perasaan yang sama. Mereka sama-sama menginginkan tidak ada korban dari keduanya, sementara mereka tidak dapat berbuat apapun.

Pertempuran antara Kiai Wijan dan Empu Renapati menjadi semakin sengit, semakin cepat. Pandangan mata wadak sudah tidak mampu lagi mengikuti. Melihat pertempuran mereka, seperti melihat dua buah sosok bayangan yang saling berlari dan beterbangan diatas air.

Setelah lama bertempur, tiba-tiba saja seperti bersamaan, dua sosok bayangan hitam yang melesat kesana-kemari tidak lagi menjadi kabur dalam pandangan Mahisa Murti dan Padmita. Yang terlihat adalah dua sosok tubuh dalam gerakan yang sama, bersila diatas air dengan tangan yang sama terbuka diatas kedua paha menghadap keatas.

“Sang Budha berfatwa”, berkata Mahisa Murti dalam hati dengan jantung yang berdetak keras, dari Ayahnya Mahendra pernah bercerita tentang sebuah ilmu yang dahsyat dimasa lalu, sedikit sekali Mahendra memperkenalkan mengenai ilmu itu, dan dengan mata kepalanya, hari ini ia dapat melihat langsung ilmu itu.

“Semoga tidak terjadi apapun bagi keduanya”, berkata Mahisa Murti sambil tatapan matanya tidak terlepas sedetikpun dari apa yang dilihatnya.

Dengan mata terbelalak, Mahisa Murti dan Padmita melihat asap tipis keluar dari tubuh Kiai Wijang maupun Empu Renapati. Dua kumpulan asap tipis saling beradu, saling menekan. Dan ternyata tataran elmu Kiai Wjang selapis tipis dari Empu Renapati. Perlahan tapi pasti kumpulan asap itu bergerak kearah tubuh Empu Renapati. Seketika asap putih menyelimuti Empu Renapati, seketika itu juga asap putih itu menghilang.

Yang terjadi, dengan nafas yang hampir tertahan, Mahisa Murti dan Padmita melihat tubuh Empu Renapati tenggelam perlahan hampir menutupi leher. Dan tiba-tiba saja Kiai Wijang meluncur menyambar tubuh Empu Renapati yang hampir tenggelam.

Sambil memapah tubuh Empu Renapati, Kiai Wijang meluncur di atas air menuju ke tepian situ. Kiai Wijang membaringkan tubuh Empu Renapati, dan dengan sigap memijat beberapa simpul syaraf di tubuh Empu Renapati. Sedikit darah hitam keluar dari bibir Empu Renapati.

“Ayah..!, memeluk rapat dan berteriak Padmita gusar dengan keadaan ayahnya.

“Ayahmu akan siuman, biarkan ia berbaring”, berkata Kiai Wijang sambil duduk bersila mengatur nafas mencoba memusatkan segala nalar budinya bersatu dalam kefanaanNYA.

Ternyata, apa yang dikatakan Kiai Wijang menjadi kenyataan. Kedua mata Empu Renapati nampak terbuka dan berusaha untuk bangkit. Kiai Wijang menghampirinya, memberikan sebutir obat dari balik sabuknya. “jangan kau tolak, telanlah obat ini”, berkata Kiai Wijang sambil memasukkan obat kemulut Empu Renapati yang berbaring lemah.

“Kenapa kau menolongku?”, berkata Empu Renapati halus merasakan nafasnya tidak lagi menjadi sesak, bahkan semakin lama dirasakan semakin teratur.

“Kamu adalah sahabatku”, berkata Kiai Wijang

“Setelah apa yang aku lakukan terhadap keluargamu?”

“Itu sudah lewat, dan aku menyadari bahwa apapun yang kau lakukan adalah tugas dari guru kita yang merasa dikhiatati olehku”, berkata Kiai Wijang.

“Kita sama-sama telah berkhianat”, berkata Empu Renapati.

“Maksud loh??” berkata Kiai Wijang tidak mengerti.

“Aku memang ditugaskan oleh Guru untuk membantai keluargamu bersama beberapa saudara seperguruan kita, tapi ketika sampai dirumahmu, aku berbalik arah, aku berusaha menyelamatkan keluargamu”, berhenti sebentar Empu Renapati ingin melihat tanggapan dari Kiai Wijang.

“Aku mendapatkan istriku telah terbunuh”, berkata Kiai Wijang.

“Maafkan aku, aku tidak berhasil menyelamatkan istrimu, tapi aku berhasil menyelamatkan anakmu”.

“Maksud loh”, berkata Kiai Wijang tidak sabar.

“Padmita ini anakmu”, berkata Empu Renapati sambil memegang tangan Padmita yang ikut menyimak apa yang dikatakan Empu Renapati.

“Dari satu tempat ketempat lain aku terus menjauhi perguruan kita, berganti nama dalam setiap tempat untuk menyelamatkan anak sahabatku dan tentunya diriku sendiri dari kejaran guru”, kembali Empu Renapati melanjutkan ucapannya.

“Selama ini aku berpandangan lain terhadapmu, aku menyangka bahwa kamu termasuk diantara saudara perguruan kita yang membantai keluargaku”

“Aku masih tetap sahabatmu, saudaramu”, berkata Empu Renapati tersenyum sambil bergerak duduk.

“Aku bukan ayahmu Padmita, tapi orang tua inilah ayahmu sebenarnya”, berkata Empu Renapati kepada Padmita yang masih buram dengan apa yang dikatakan Empu Renapati.

SINGKAT CERITA. Empu Renapati telah sembuh total. Dengan panjang lebar ia bercerita apa sebenarnya yang terjadi dengan kasus pembantaian keluarga Kiai Wijang yang bernama asli Manuk Ireng. Akhirnya Padmita juga dapat ikut mengerti riwayat dirinya yang sebenarnya.

Mahisa murti yang ikut mendengar cerita itupun menjadi terkagum-kagum. “ternyata menjaga sebuah persahabatan dan persaudaraan itu penuh dengan pengorbanan”, berkata Mahisa Murti dalam hatinya, dan kagum memandang dua sahabat yang sama-sama berilmu tinggi dihadapannya ternyata menjunjung tinggi arti sebuah persahabatan.

“Ternyata ilmuku jauh ketinggalan”, berkata Empu Renapati.

“Meski ilmu yang mengalir dalam diri kita sama, tapi sandaran kita berbeda”, berkata Kiai Wijang

“Aku tidak mengerti”, Empu Renapati bertanya tidak mengerti

“Aku bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan kepadaku bagaimana bersandar kepada sandaran yang sebenarnya”

“Aku masih belum memahami”, Empu Renapati semakin tidak mengerti.

“Guruku yang baru itu mengajarkan, bahwa ketika kita bersandar pada kekuatan diri sendiri, maka ilmu kita tidak akan berkembang”

“Kepada siapa kita bersandar?”, Empu Renapati menjadi semakin tertarik.

“Bersandar kepada yang mempunyai kekuatan itu sendiri”, berkata Kiai Wijan

“Siapa?”, bertanya Empu Renapati

“Sang Hyang asih, Sang Hyang urip, maka apabila kita bersandar kepadaNYA, maka kekuatan dan ilmu kita sepertinya terus terbuka menuju kesempurnaan yang tidak pernah sempurna”, berkata Kiai Wijang berharap sahabatnya dapat mengerti apa yang telah disampaikannya.

“Terima kasih, selama ini aku merasa sudah cukup melakukan nalar dan budi pada kekuatan pada kekuatan akal dan pikiran, saat ini ketika aku merasakan ada kekuatan dan kekuasaan sebagaimana yang engkau katakan, aku merasakan ketenteraman yang tidak pernah aku rasakan selama ini. Selama ini kukira kekuasaan dan harta dapat membawa kebahagiaan, ternyata semakin kukejar semakin lari dari genggaman”, bukan main gembiranya Empu Renapati sudah dapat memahami apa yang dikatakan sahabatnya. Seperti seorang bocah baru diberikan mainan baru, betul-betul menyenangkan.

Dua buah rakit meluncur membelah air rawa yang tenang.Suara kayuh dayung seperti tak terdengar, tapi laju dua buah rakit itu seperti didorong oleh puluhan kati bergerak melesat begitu cepat.

“Matahari masih malas bersembunyi”, berkata Kiai Wijang sambil terus mendayung mengimbangi rakit Empu Renapati yang melaju semakin cepat.

Disindir dengan perkataan seperti itu, Empu Renapati hanya melirik sebentar kepada sahabat lamanya itu. Diam-diam dia mengagumi pengerahan tenaga dari sahabatnya itu yang ternyata mampu mengimbangi laju rakitnya.

Bukan main kaget dan herannya, Anuraga dan Kolor Ijo melihat Mahisa Murti dan Kiai Wijang datang bersama Empu Renapati. Banyak yang ingin mereka pertanyakan, tapi tidak satupun yang terucap.

“Mereka sahabatku”, berkata Empu Renapati seperti mengetahui apa yang ada di dalam kepala beberapa cantrik yang menunggunya di pinggir rawa, termasuk keheranan Anuraga dan Kolor Ijo adiknya.

Empu Renapati menyeruak kerumunan cantriknya tanpa kata-kata, diiringi Padmita, Mahisa Murti dan Kiai Wijang, mereka melangkah menuju pendapa utama.

“Selamat datang di gubukku”, berkata Empu Renapati ramah kepada Kiai Wijang dan Mahisa Murti ketika mereka sampai di tangga pendapa.

“Gubuk yang besar dan elok”, berkata Kiai Wijang sambil duduk melepaskan kelelahannya.

“Setelah keringat kalian turun, silahkan bersih-bersih, Padmita akan menyiapkan jamuan untuk kalian”, berkata Empu Renapati.

“Semoga kami tidak merepotkan”, berkata Kiai Wijang.

“Kalian adalah tamuku di sini”, berkata Empu Renapati.

Dan sang waktu sepertinya bergulir begitu cepat. Dua sahabat lama saling bercerita sepertinya tidak pernah berujung. Mahisa Murti sekali-kali ikut bertanya, dalam hatinya merasa kagum akan petualangan dua sahabat, dua saudara seperguruan dengan kisah mereka yang begitu penuh dengan kekerasan, sekaligus sebuah perjuangan panjang atas kejaran Guru mereka sendiri.

“Dalam sebuah pertempuran, seseorang berhasil  mengalahkannya, guru tewas. Dan sejak saat itu aku tidak pernah bersembunyi, menetap dan membangun Padepokan ini”, berkata Empu Renapati bercerita tentang akhir hidup dari gurunya.

“Orang yang mengalahkan guru kita itu bernama Empu Kendali, seorang brahmana, penguasa para Rsigana Domas yang bermukim di puncak gunung Pulasari. Dari beliau pula aku diberikan pencerahan bathin segaligus mengetahui kekeliruan laku dan ajaran dari guru kita selama ini”, berkata Kiai Wijang tentang orang yang telah memberikan tuntunan kepadanya.

“Perbedaannya terletak pada saat laku nalar budi, disinilah aku menemukan rahasia segala kesempurnaan hidup, ketenangan bathin, sumber kekuatan yang begitu gaib, namun dapat disingkap dengan penuh keyakinan sebagaimana melihat diri seutuhnya”, kembali Kiai Wijang menjelaskan rahasia laku yang bertolak belakang antara perguruan mereka dan yang terakhir didapat dari seorang Brahmana yang bernama Empu Kendali. Sementara itu Empu Renapati menyimak dengan seksama seluruh apa yang disampaikan sahabat lamanya ini.

“Sang Hyang Tunggal, kepadanyalah muara akal pikiran kita tertuju, bukan kepada mimpi-mimpi kemegahan duniawi”, kembali Kiai Wijang berkata kepada sahabatnya. Sementara itu Mahisa Murti ikut mendengarkan dan sekaligus ikut membenarkan apa yang disampaikan oleh Kiai Wijang yang juga telah membuka tirai jiwanya dimana akhirnya ia dapat mengungkapkan rahasia kesempurnaan ilmunya meloncat jauh melampaui dari apa yang telah dimilikinya selama ini.

Hari ke hari berlalu, tidak terasa sudah sepekan Mahisa Murti dan Kiai Wijang di Padepokan Renapati. Selama itu pula Empu Renapati melebur laku yang selama ini dijalankan dengan tuntunan laku yang dibimbing langsung Kiai Wijang. Dan sedikit demi sedikit, Empu Renapati berhasil mengungkat rahasia dirinya, kelemahan dan kekuatannya. Meski tidak seperti Mahisa Murti karena ditopang usia yang masih muda, Empu Renapati juga berhasil meningkatkan kesempurnaan ilmunya selapis diatas ilmunya sebelumnya.

“Terima kasih Kangmas, diusiaku yang ujur ini, aku masih bisa meningkatkan ilmuku, tapi bukan hanya itu, ketenangan bathin inilah yang tidak pernah kutemui selama ini”, berkata Empu Renapati dalam sebuah perbincangan mereka dipendapa diujung malam, disaat beberapa cantrik beristirahat tertidur lelap.

“Aku perlu bantuan kalian, ikut merubah warna padepokan ini”, berkata Empu Renapati.

Kiai Wijang tidak keberatan tinggal lebih lama di Padepokan Renapati, apalagi disitu ada putrinya Padmita yang dari hari kehari semangkin dekat sebagaimana seorang ayah dan anak.

Sementara itu, Mahisa Murti merasa sudah lama meninggalkan Padepokan Braja Seta. Pada suatu pagi, Mahisa Murti menyampaikan keinginannya itu. Dengan berat hati, Empu Renapati dan terutama Padmita merasa berat ditinggalkan pemuda ini, seorang pemuda yang tidak tinggi hati, begitu ramah kepada siapapun, terutama sinar matanya yang begitu sejuk, ada sesuatu yang aneh begitu matanya tertangkap dan berpandangan dengan pemuda ini. Suatu getar yang baru pertama kali dirasakan sebagai seorang gadis seumurnya.

“Secepatnya, aku akan kembali”, berkata Mahisa Murti kepada Kiai Wijang, Empu Renapati dan Padmita yang mengantarnya sampai diregol pintu Padepokan.

“Kami tidak sabar menunggu”, berkata Empu Renapati mengantar langkah Mahisa Murti bersama tatapan Padmita yang sepertinya tidak ingin melepasnya.

Cahaya matahari pagi yang hangat mengiringi langkah Mahisa Murti, angin genit melambungkan daun dan bunga-bunga pohon kapuk yang tinggi dan tumbuh banyak di antara bulak-bulak panjang. Mahisa Murti sepertinya menikmati perjalanannya, terlintas dalam benaknya wajah Padmita, “gadis yang cantik”, berkata Mahisa Murti dalam hati sambil terus berjalan. Terbayang kembali bulat telur wajah Padmita dan senyumnya ketika menyajikan hidangan di pendapa. Atau pertemuan yang tidak sengaja ketika mengambil air di pringgitan. Sebagai seorang pemuda dewasa dan matang seperti Mahisa Murti tentunya dapat membaca sinar mata dan senyum Padmita sebagai suara cinta. Dan iapun dapat membaca degup perasaannya sendiri juga sebagai ungkapan suara cinta, rasa dan getaran yang dulu pernah dirasakannya manakala berdekatan dengan Sasi, seorang gadis yang juga dicintai oleh adiknya sendiri.

“Cinta adalah rasa, kita tidak akan mampu menikamnya agar mati, pasrahkan dirimu kedalam kekuasaan SangHyang tunggal, Karena Dialah pemberi datang dan perginya rasa, dan kodratmu adalah sebagai penerima” nasehat Kiai Wijang kembali terngiang di telinga Mahisa Murti sebagai salah satu laku untuk mengendalikan gejolak perasaan yang ada didalam dirinya. Lambat tapi pasti, Mahisa Murti mulai dapat mengendalikan perasaan hatinya. Dipandanginya awan putih, seokor elang tengah melayang dalam ketenangannya, mencari kodrat siapa akan menjadi mangsanya.

“Padmita adalah kodrat cintaku”, berkata Mahisa Murti dalam hati mencoba memahami gejolak perasaan hati dengan kesadaran dan kewajaran yang terkendali. Dengan pengendalian diri itulah panggraitanya yang sudah begitu peka dapat menangkap bahwa ada beberapa pasang mata mengendap-endap memperhatikannya, jauh dipinggir hutan dalam gerumbul semak dan alang-alang panjang.

Dan ternyata panggraitanya terbukti, ada enam orang muncul seperti sengaja menunggu kedatangannya ketika langkahnya sudah hampir mendekati hutan yang membatasi kabuyutan Talang Alun.

Ketika jarak mereka semakin dekat, dua dari enam orang yang sengaja menunggunya, Mahisa Murti mengenalnya sebagai Anuraga dan Kolor Ijo. Sementara empat orang lagi dapat juga dikenali sebagai para cantrik Padepokan Renapati. “Apa yang mereka inginkan?”, bertanya Mahisa Murti dalam hati.

“Maaf, tadi pagi kami tidak sempat mengantar kepergianmu”, berkata Kolor ijo tersenyum memandang

Mahisa Murti yang dapat membaca sebagai ucapapan dan sambutan yang tidak bersahabat.

“Terima kasih, kalian telah berbaik hati mengantarku sampai di hutan ini”, berkata Mahisa Murti dengan ramah.

“Benar, kami memang bermaksud mengantarmu”, berkata Kolor Ijo

“Mengantarmu ke liang kubur”, berkata Anuraga melanjutkan perkataan Kolor Ijo yang disambut gelak tawa dari empat orang cantrik yang mengiringinya.

“Apa kesalahanku?”, berkata Mahisa Murti dengan tenang dan tidak sedikitpun menampakkan rasa takutnya. Sikap inilah yang membuat Kolor Ijo seperti tersiram air panas, memandang Mahisa Murti seperti ingin langsung menelannya, memandang Mahisa Murti sebagai pemuda yang deksura.

“Kesalahanmu dan juga kawanmu terlalu besar, merusak rencana kami”, berkata Kolor Ijo seperti tidak sabaran. “bersiaplah untuk mati”, berkata Kolor Ijo sambil melebarkan dua tangannya seperti ingin langsung menjepit batok kepala Mahisa Murti.

Sementara itu Anuraga dan empat orang kawannya langsung bergeser menjauh, mereka percaya akan kesaktian ilmu Kolor Ijo yang jauh berada diatas kemampuan mereka, itulah sebabnya mereka mempercayai urusan ini akan diselesaikan sendiri oleh Kolor Ijo dengan begitu mudah, mereka masih menganggap Mahisa Murti sebagai pemuda yang belum memahami banyak ilmu kanuragan.

Serangan Kolor Ijo bukan main-main, dua tangan yang melebar begitu cepat mengapit kiri kanan kepala Mahisa Murti. Mungki bila bukan pemuda ini, pemilik kepala itu sudah remuk luluh lantak berkeping. Karena sambaran dua tangan itu disamping begitu cepat datangnya, juga dilambari tenaga yang begitu kuat.

Tetapi Mahisa Murti begitu mudah menghindar dari serangan yang begitu tiba-tiba itu. Kecepatannya menghindar membuat Kolor Ijo semangkin menjadi penasaran. Dengan merendahkan sedikit tubuhnya, tentunya dengan kecepatan melampaui kecepatan bergerak Kolor Ijo, Mahisa Murti berhasil keluar dari sambaran dua tangan Kolor Ijo. Sebenarnya, bila ia mau, Mahisa Murti dapat langsung membalas serangan itu, dengan ilmunya yang tinggi Mahisa Murti melihat kelemahan serangan itu, yaitu celah pada dua paha yang terbuka, tapi Mahisa Murti tidak menyerang balik, dengan gerak cepat melenting kesamping, sepertinya tidak ingin cepat-cepat menyudahi perkelahian ini.

“Serangan yang dahsyat”, berkata Mahisa Murti sambil tersenyum.

Bukan main marahnya Kolor Ijo, dengan begitu mudah serangannya dapat dielakkan.Maka dengan wajah yang merah penuh amarah, menerjang seperti harimau menerkam mangsanya. Namun kembali dengan mudah Mahisa Murti mernghindar dengan sedikit bergeser kesamping, tentunya dengan kecepatan selapis tipis dari kecepatan Kolor Ijo. Dan melihat lawan menghindar, kaki kolor ijo menyapu melingkar menerjang pinggang. Namun dengan ringannya tubuh Mahisa Murti melompat. Dan Kolor Ijopun terus mengejarnya, menyerang seperti badai, namun Mahisa Murti selalu dapat meloloskan diri tanpa menyerang balik. Dan perkelahianpun terus berlangsung begitu sengit, Kolor Ijo dengan penuh nafsu menyerang membabi buta, sementara Mahisa Murti terus menghindar mematahkan setiap serangan.

Perkelahian masih terus berlangsung, disaksikan Anuraga dan empat orang kawannya yang merasa heran kenapa Kolor Ijo tidak dengan cepat menyelesaikannya. Mereka tidak pernah menyangka Mahisa Murti dapat mengimbangi kemampuan Kolor Ijo yang selama ini mereka banggakan.

Perkelahian masih terus berlangsung, bahkan semakin sengit, puluhan jurus telah mereka lalui, Mahisa Murti masih tidak pernah menyerang lawannya, yang dilakukannya hanya terus menghindar. Ternyata Mahisa Murti punya rencana tersendiri. Dengan kemampuan dan kesaktiannya yang telah semangkin sempurna lewat tuntunan dari Kiai Wijang, Mahisa Murti mengembangkan dan mempertajam segala kekuatan yang ada didalam dirinya. Secara tidak sadar, muncul pengertian-pengertian baru tentang kanuragan. Dengan kekuatan indera mata dan pikirannya, Mahisa Murti mampu merekam dan mengurai setiap jurus lawan, melihat kelemahan dan menyempurnakannya dalam waktu yang begitu singkat.

Dalam sebuah serangan, Mahisa Murti mencoba menghindar dan melenting menjauh sehingga lawannya tidak dapat langsung menyerangnya.

“Sekarang, tiba giliranku yang akan menyerang”, berkata Mahisa Murti sambil bertolak pinggang. “aku akan merobohkanmu dengan jurus-jurusmu sendiri”, kembali Mahisa Murti sambil menyunggingkan senyumnya.

Bukan main geramnya Kolor Ijo melihat polah Mahisa Murti yang dianggapnya tengah bergurau. Tetapi Muhesa Murti ternyata bukan bergurau. Kolor Ijo seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mahisa Murti ternyata mampu melakukan gerakan jurus-jurusnya. “Anak setan”, geramnya.

Dengan jurus yang sama sebagaimana dilakukan oleh lawannya, Mahisa Murti melebarkan kedua tangannya dan dengan kecepatan yang luar biasa menerjang Kolor Ijo dengan kedua tangannya itu persis kearah batok kepala.

Kolor Ijo kaget melihat lawannya menyerang dirinya dengan jurusnya sendiri bahkan lebih dahsyat. Maka dengan gerakan reflek paham sekali bagaimana menghindar dari jurusnya sendiri karena telah terlatih bertahun-tahun. Dengan merendahkan tubuhnya, menghindar serangan Mahisa Murti.

Ternyata, Mahisa Murti sudah membaca, bagaimana lawannya akan menghindar. Begitu Kolor Ijo merendahkan tubuhnya, maka dengan gerakan begitu cepat kaki Mahisa Murti menerjang kearah iga lawan.

“Blesss…!!

Tulang iga Kolor Ijo terasa dibentur oleh batu karang yang besar, langsung terjungkal terbanting di tanah tidak mampu bangkit bergerak karena merasakan beberapa tulang iganya seperti patah. Seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi, begitu mudahnya dikalahkan oleh anak muda ini. Dan yang tidak habis pikir bahwa ia dijatuhkan dengan jurusnya sendiri. “Benar-benar gila!!”, Geram Kolor Ijo dalam hati sambil menahan sakit di seluruh tubuhnya.

Sementara itu, Anuraga dan empat kawannya seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kolor Ijo yang selama ini dibanggakan telah dikalahkan dengan begitu mudah oleh pemuda yang semula mereka rencanakan untuk membunuhnya dengan mudah. Tapi kenyataan menjadi terbalik, bahkan ada rasa gentar didalam hati mereka menghadapi Mahisa Murti.

“Aku tidak akan memperpanjang urusan ini”, berkata Mahisa Murti memandang Anuraga dan empat orang kawannya. “Urus kawanmu yang terluka ini, atau aku akan membuat kalian terluka seperti kawanmu ini”, berkata Mahisa Murti memandang tajam Anuraga dan empat orang kawannya yang seperti kaku tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

“Aku tidak akan bercerita kepada Empu Renapati apa yang terjadi hari ini, kembalilah ke padepokan dan jadilah orang yang berguna”, berkata Mahisa Murti datar.

“Terima kasih”, berkata salah seorang kawan Anuraga yang merasa lega bahwa Mahisa Murti tidak berbuat apapun kepada mereka, bahkan memberi jalan untuk kembali ke Padepokan. Terpikir dalam hatinya seandainya Mahisa Murti bercerita apa yang terjadi hari ini kepada Empu Renapati yang mereka ketahui sangat keras menghukum cantriknya yang bersalah. Maka tanpa perintah apapun, dua orang membantu Kolor Ijo berdiri, memapahnya berjalan, sementara itu Anuraga dan dua orang kawannya dibelakang mengiringi.

Mahisa Murti mengikuti dengan pandangan matanya kepergian mereka sampai jauh terhalang semak dan alang-alang liar yang banyak tumbuh di pinggir hutan. Awan putih seperti gerumbulan kapas besar mengisi dan menghiasi cakrawala langit biru. Perlahan Mahisa Murti melangkahkan kakinya menuju hutan perbatasan.

Sang Surya masih menggelantung diujung cakrawala ketika Mahisa Murti keluar dari hutan perbatasan.Hamparan petak-petak sawah yang luas menyambut kedatangannya. Mahisa Murti sepertinya baru menyadari bahwa sudah begitu lama meninggalkan Padepokan Braja Seta.

“Gusti Agung telah berkenan melempengkan urusan kita”, berkata Mahisa Murti kepada Ki Buyut Talang Alun setelah menceritakan keadaan terakhir kabuyutan seberang hutan yang bersengketa.

“Semoga keadaan menjadi pulih seperti sedia kala”, berkata Ki Buyut Talang Alun melepas Mahisa Murti yang berkeras untuk meneruskan perjalanannya kembali ke Padepokannya. Dan Ki Buyut dapat memaklumi bahwa memang sudah cukup lama Mahisa Murti meninggalkan Padepokannya.

“Kabarkan secara beranting kepada seluruh cantrik yang bertugas di beberapa padukuhan bahwa keadaan sudah membaik, aku menunggu kalian di Padepokan”, berkata Mahisa Murti kepada dua orang cantriknya di Banjar Desa yang selama ini berjaga-jaga di Kabuyutan Talang Alun. Untuk mempercepat perjalanan kali ini Mahisa Murti membawa seekor kuda yang kebetulan dibawa cantriknya.

Tidak terasa, sang malam sudah turun menebarkan kegelapannya diatas rumput-rumput liar diatas tegalan sawah. Sementara rembulan bergelantung genit diatas pucuk ranting pohon randhu memberi dan mewarnai cahaya malam. Dan tidak terasa, kaki kuda Mahisa Murti telah sampai di depan pintu gerbang padepokan Braja Seta.

“Ketua datang!!”, berteriak seorang cantrik dari atas panggungan ketika melihat Mahisa Murti yang terlihat jelas karena tepat berdiri dibawah lampu minyak buah jarak yang bergantung di samping pintu gerbang.

“Ketua datang!!”, beberapa cantrik yang tidak jauh dari panggungan ikut berteriak. Dalam sekejap, seluruh warga padepokan sudah berkumpul menyambut kedatangan ketua mereka.

“Beri kesempatan ketua beristirahat”, berkata Wantilan memberi jalan Mahisa Murti.

Setelah bersih-bersih. Mahisa Murti menuju pendapa utama. Beberapa cantrik sudah berkumpul di sana tidak sabar lagi ingin mendengar cerita dan kabar dari sang ketua.

Dengan rinci, Mahisa Murti bercerita tentang perjalanannya menyelesaikan sengketa yang terjadi di kabuyutan seberang hutan.

“Puji syukur, Gusti Agung telah melindungi kami”, berkata Mahisa Murti mengakhiri ceritanya.

“Cantik mana, Mbokyu Sasi dengan Padmita?”, bertanya Mahisa Amping yang dijawab dengan sebuah senyum oleh Mahisa Murti.

“Jangan ganggu Kakangmu, biarkan ia beristirahat dulu”, berkata Wantilan meski sekilas dapat membaca isi hati Mahisa Murti terutama yang menyangkut dengan nama seorang gadis yang bernama Padmita.

“Terima kasih, aku ingin beristirahat dulu”, berkata Mahisa Murti tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Wantilan.

Titir suara dara muluk dipukul tiga kali mengisi kesunyian malam. Dan Mahisa Murti masih juga belum mampu memejamkan matanya. Wajah Sasi dan Padmita datang silih berganti. “Mana yang lebih cantik?, mbokyu Sasi atau Padmita?”, pertanyaan Mahisa Amping yang spontan kembali mengisi telinganya. Mahisa Murti terlihat menarik napas panjang. Ada senyum diwajahnya. Dan suara denging malam akhirnya mengantar angan Mahisa Murti kedalam tidurnya, membawanya dalam mimpi.

Setelah beberapa hari Di Padepokan Braja Seta, Mahisa Murti menyampaikan keinginannya, bahwa ia telah berjanji akan kembali Ke Padepokan Renapati membantu bersama Kiai Wijang memperbaiki warna aliran yang selama ini menjadi laku di Padepokan Renapati.

“Aku mempercayakan Padepokan ini kepada Paman”, berkata Mahisa Murti kepada Wantilan yang diam–diam membaca sebuah semangat hidup kembali di diri anak muda yang luar biasa ini.

“Aku akan berusaha sebaik-baiknya”, berkata Wantilan.

“Aku akan mengajak Mahisa Amping”, berkata Mahisa Murti.

Pagi itu, udara masih begitu dingin, dua ekor kuda terlihat menjauhi Padepokan Braja Seta. Mahisa Murti dan Mahisa Amping memacu kudanya, meski tidak begitu cepat, angin pagi yang dingin menyelusup di sekujur tubuh mereka. Mahisa Amping terlihat begitu gembira. Sudah lama dirinya tidak keluar dari Padepokan, terbayang didepan mata sebuah perjalanan dan petualangan.

“Jarak perjalanan kita Cuma setengah hari penuh”, berkata Mahisa Murti sambil terus memacu kudanya membuyarkan angan-angan Mahisa Amping.

Kuda Mahisa Murti dan Mahisa Amping melewati bulak-bulak panjang, hamparan sawah dan pasar. Gejolak kehidupan sudah kembali, tidak ditemui kecemasan dalam wajah-wajah petani yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Beberapa pedati milik para saudagar dengan muatan penuh tengah diturunkan disebuah pasar, para buruh pengangkut barang begitu ceria dalam kerjanya. Kehidupan di kabuyutan sebrang hutan memang sepertinya telah pulih seperti sedia kala.

Hari sudah sampai di ujung senja manakala kaki-kaki kuda Mahisa Murti dan Mahisa Amping sampai di Padepokan Renapati. Bukan Main gembiranya Kiai Wijang, Empu Renapati dan terutama Padmita melihat kedatangan mereka.

“Ini adikku, Mahisa Amping”, berkata Mahisa Murti memperkenalkan Mahisa Amping ketika mereka telah duduk di pendapa.

Padmita muncul dari balik pintu membawa minuman hangat, ada senyum sekilas yang ditangkap oleh Mahisa Murti. Dan ternyata drama sekilas ini tidak terlepas dari arah pandang Mahisa Amping. Ada rasa ingin menggoda kakangnya, tapi kehadiran Empu Renapati dan Kiai Wijang menjadi penghalang. Untung ada hidangan gethuk kesukaannya. Sambil menghirup wedang sare dan gula batu, Mahisa Amping menikmati gethuk manis gula aren yang ditaburi parutan kelapa muda. Dan Mahisa Amping menjadi lupa niatnya untuk menggoda Mahisa Murti.

Seperti biasa, pembicaraan diawali dengan cerita keselamatan masing-masing. Waktu pun terus berlalu mengantar malam. Mahisa Amping dipersilahkan beristirahat lebih dulu. Empu Renapati juga ikut pamit beristirahat mendahului tamunya.

“Badan tua ini gampang mengantuk, ada wakil tuan rumah yang akan menemani angger”, berkata Empu Renapati pamit untuk beristirahat sambil melirik Kiai Wijang yang membalasnya dengan sebuah senyuman.

“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan”, berkata Kiai Wijang ketika di pendapa mereka Cuma berdua.

“Dua hari yang lalu, ada utusan seorang bangsawan dari Kediri datang melamar Padmita”, berkata Kiai Wijang. Sepertinya ingin menangkap tanggapan Mahisa Murti, meski lewat warna raut wajah. Untunglah, sekilas perubahan wajah Mahisa Murti terhalang cahaya pudar lampu minyak jarak pendapa yang sudah semakin pudar. Sekilas Mahisa Murti seperti tersengat binatang kala.

“Apa tanggapan Padmita”, berkata Mahisa Murti berusaha mengendalikan dirinya

“Inilah yang ingin aku katakan kepadamu”, berkata Kiai Wijang. Wajahnya menampakkan keseriusannya. Sejenak suasana begitu sepi. Kiai Wijang mengangkat minumannya yang masih tersisa, menegugnya sedikit sekedar membasahi bibirnya.

“Hubungan aku dan Padmita sebagai seorang Ayah dan anaknya sudah semakin dekat. Dalam pembicaraan, banyak hal yang dapat kami utarakan bersama, antara lain bagaimana perasaannya sebagai seorang gadis yang menjelang dewasa. Ketika kutanyakan perasaannya, dengan jujur dan tanpa canggung lagi, Padmita mengatakan jatuh cinta kepadamu”. Sejenak Kiai Wijang berhenti bicara, kembali ia ingin menangkap warna wajah Mahisa Murti yang sekilas seperti tersiram air dingin begitu menyejukkan.

“Aku ingin mendengar sendiri, bagaimana perasaanmu terhadap Padmita”, berkata Kiai Wijang.

Dengan menarik nafas panjang, Mahisa Murti berkata, “Diam-diam ternyata aku juga mencintainya”

Kiai Wijang menatap wajah Mahisa Murti, ternyata dugaannya selama ini tidak begeser jauh. Dalam hati ia merasa iba dengan pemuda dihadapannya ini. Dalam segi kanuragan, pemuda ini begitu luar biasa, namun dalam mengungkapkan perasaan cintanya kepada seorang wanita, pemuda ini memang harus banyak mendapat bantuan.

“Sebagaimana yang pernah aku katakan, kita tidak mampu menikam perasaan cinta yang datang. Seperti halnya makan dan minum, wadag ini juga memerlukan kehadiran cinta sebagai naluri kemanusiaanya.”

“Apa yang harus aku lakukan Kiai?” bertanya Mahisa Murti

“sebagai seorang ayah, aku sudah mendengan sendiri perasaan anakku, sementara sebagai sahabat, malam ini anggerpun dengan jujur mengatakan dan merasakan hal yang sama. Perjuangkan cinta kalian”.

“Apa yang harus aku lakukan”, berkata Mahisa Murti

“Lamar Padmita secepatnya”, berkata Kiai Wijang

“Bagaimana dengan Bangsawan yang akan datang pekan depan melamar Padmita?, bekata Mahisa Murti.

“Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama”, berkata Kiai Wijang. Kapan angger menemui ayahmu datang melamar Padmita.

“Selekasnya”, berkata Mahisa Murti seperti siap menghadapi apapun yang terjadi.

Rembulan sudah lelah terkantuk redup menerangi bumi sepanjang malam. Bintang fajar berdiri diufuk timur menandai pagi akan datang. Di pagi yang masih begitu gelap itu, Mahisa Murti sudah bersih-bersih diri.

Sementara itu Mahisa Amping juga ikut terbangun.

“Lekas bersih-bersih diri, aku akan ke pendapa”, berkata Mahisa Murti.

Pagi itu, Mahisa Murti menyampaikan rencananya bahwa hari ini juga akan berangkat ke Singosari, menjemput ayahnya Mahendra untuk secara resmi melamar Padmita.

“Jenang dodol ini untuk menemani diperjalanan”, berkata Padmita sambil memberikan sebuah bungkusan kepada Mahisa Amping ketika mereka tengah perpamitan.

“Terima kasih”, berkata Mahisa Murti sambil memandang Padmita penuh arti. Dan Padmita membalasnya dengan sebuah senyuman.

Di bulak-bulak panjang dan sepi, kuda Mahisa Murti dan Mahisa Amping melaju begitu pesat. Yang biasanya Mahisa Amping dalam perjalanan selalu didepan, kali ini dengan terpaksa mengimbangi kecepatan kuda Mahisa Murti. Sebagai seorang anak yang mulai dewasa, Mahisa Amping memaklumi kenapa kakangnya seperti mengejar waktu, meski dengan terbatas pemikiran seorang “bocah”.

Tanpa banyak hambatan diujung senja mereka sudah sampai kembali dipadepokan Braja Seta. Beberapa cantrik yang sudah berumur dan mengerti adat istiadat setempat dimintakan pertimbangannya. Akhirnya disepakati, setelah Mahisa Murti kembali dari Singasari bersama ayahnya, di padepokan Braja Seta telah mempersiapkan segala sesuatunya.

“Kali ini aku berharap Paman Wantilan dapat menemani perjalananku”, berkata Mahisa Murti yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Wantilan.

Pagi-pagi sekali, matahari masih enggan beringsut dari peraduannya, Mahisa Murti dan Wantilan pun telah melompat di punggung kudanya, berpacu keluar dari pintu gerbang Padepokan Bajra Seta dengan lambaian tangan dari beberapa warga Padepokan Bajra Seta.

Sementara itu, di hari yang sama di Istana Singasari, Arya Kuda Cemani tengah menghadap Sri Maharaja.

“Ternyata, masih ada beberapa bangsawan Kediri yang masih belum sepenuhnya menerima Singasari”, berkata Sri Maharaja setelah mendengar laporan tugas sandinya.

“Ampun tuanku, beberapa usaha kita tidak pernah mampu menjangkau mereka, begitu lihainya mereka memutuskan rantai dan terus bersembunyi di balik tirai istana”, berkata Arya Kuda Cemani.

“Harus ada suatu cara”, berkata Sri Maharaja.

“Ampun tuanku, perkenankan hamba menyampaikan beberapa rencana”, berkata Arya Kuda Cemani.

“Jangan sungkan, silahkan sampaikan rencanamu”, berkata Sri Maharaja.

Arya Kuda Cemani pun menyampaikan beberapa rencananya. Antara lain dengan cara membuat umpan agar musuh keluar dengan sendirinya dari sarangnya.

“Kita harus mencari orang yang mampu melakoni diri sebagai pengkhianat”, berkata Arya Kuda Cemani menunggu tanggapan Sri Maharaja setelah dengan rinci menyampaikan rencananya.

“Orang itu harus sudah teruji kesetiaannya,” berkata Sri Maharaja ikut memberikan beberapa petunjuk.

“Paman Mehendra mungkin dapat memberimu beberapa pertimbangan”, berkata Sri Maharaja yang teringat kepada Mahendra yang selamat ini banyak dimintai nasehatnya dalam berbagai hal.

“Ampun tuanku, hamba akan menemuinya”, berkata Arya Kuda Cemani.

“Besok atau kapan pun, aku menanti perkembangannya”, berkata Sri Maharaja melepas Arya Kuda Cemani meninggalkan paseban istana.

Arya Kuda Cemani pun tidak langsung keluar Istana. Sesuai petunjuk Sri Maharaja, ia mendatangi rumah Mahendra yang berada di belakang istana.

“Mendengar ceritamu, aku jadi teringat masa muda dulu”, berkata Mahendra setelah mendengar beberapa rencana dari Arya Kuda Cemani.

“Di jaman Pangeran Anusapati belum bertahta, kami pernah bermain-main melakoni diri sebagai Pendekar budiman berkuda putih”, berkata Mahendra bercerita tentang petualangan mereka bersama Witantra dan Mahisa Agni berperan sebagai Pendekar Budiman berkuda putih.

“Sebuah petualangan yang luar biasa”, berkata Arya Cemani menanggapi cerita Mahendra. Selanjutnya mereka pun kembali membahas beberapa hal yang menyangkut tugas dari Sri Maharaja membersihkan beberapa Bangsawan Kediri yang masih belum mengakui keberadaan Singasari.

“Lain waktu, mungkin kita dapat pemikiran lebih baik lagi”, berkata Mahendra ketika melepas Arya Kuda Cemani meninggalkan rumahnya.

Sementara itu dua ekor kuda nampak berpacu di bulak panjang yang sepi, debu-debu beterbangan mengepul di belakang kaki kuda yang berlari kencang.

“Sebentar lagi kita akan menjumpai sebuah padukuhan”, berkata Mahisa Murti kepada Wantilan.

Sebagai seorang yang sudah sering melakukan pengembaraan, mereka hafal betul perjalanan antara Padepokan Bajra Seta ke Singasari. Mereka dapat menentukan kapan kuda-kuda mereka harus diistirahatkan, sekedar merumput atau meminum air.

Sementara mereka sudah terbiasa tidur di sembarang tempat, ditengah hutan, di padang lembah hijau atau di gubuk sawah milik petani. Malam ini mereka bermalam di banjar desa. Penunggu Banjar menyediakan mereka minuman hangat berupa wedang sare dan gula kelapa.

Sementara itu beberapa pumuda yang bertugas ronda mendatangi mereka membawa sepokok singkong bakar.

“Penduduk di sini begitu ramah”, berkata Wantilan kepada Mahisa Murti.

“Pada dasarnya, penduduk pedesaan memang sangat lugu dan ramah, mereka selalu melihat diri sendiri, membayangkan sanak kandang sendiri yang mengembara seperti kita. Itulah sebabnya mereka begitu ramah kepada setiap tamu, baik yang sekedar lewat atau bermalam seperti kita”, berkata Mahisa Murti.

“Semoga tanah Singosari selalu diliputi kedamaian”, berkata Wantilan sambil berbaring. Rasa lelah akibat perjalan jauh sepertinya terlupakan. Diatas tikar pandan Wantilan langsung tertidur pulas.

Sementara itu, Mahisa Murti masih belum dapat memejamkan matanya. Itulah sebabnya ia meminta Wantilan tidur lebih dulu, dan Mahisa Murti mendapat giliran berjaga yang pertama.

Sebagai pengembara, kewaspadaan memang selalu menjadi sebuah keutamaan. Karena apapun dapat saja terjadi dimanapun mereka berada.

Syukurlah, malam itu berlalu tanpa ada sesuatu hal yang dapat menunda waktu perjalanan mereka. Pagi-pagi sekali mereka sudah meninggalkan banjar desa.

“Semoga keselamatan menyertai kalian”, berkata penjaga Banjar ketika Mahisa Murti dan Wantilan sudah berada diatas punggung kudanya.

“Terima kasih untuk wedang hangatnya Ki”, berkata Mahisa Murti melambaikan tangannya sambil menghentak perut kudanya dengan kakinya. Dan rancak kaki kuda perlahan meninggalkan banjar desa, melewati gardu ronda dan keluar melewati gerbang regol Padukuhan.

Debu tipis mengepul di belakang kaki-kaki kuda mereka. Tampak di depan mata hijaunya lembah pegunungan.

Membelah padang ilalang, merayap dataran terjal atau masuk dalam kegelapan hutan adalah pengalaman yang indah bagi jiwa pengembara. Matahari adalah teman setia mereka sebagai penentu arah perjalanan. Setelah melewati bebrapa padukuhan, mereka akan sampai di Kota Raja.

Matahari mulai condong ke barat, manakala mereka memasuki gerbang Kota raja yang masih ramai oleh hiruk pikuk beberapa pedati saudagar atau kereta kuda milik para bangsawan. Banyak bangunan megah berpilar kayu jati berukir indah disepanjang jalan.

Dengan sigap, Mahisa Murti dan Wantilan turun dari kudanya, menuntunnya menuju gardu penjaga. Seorang pengawal istana menghampirinya. Dengan ramah, Mahisa Kurti menyampaikan maksudnya untuk menemui ayahnya Mahendra. Pengawal istana berbicara kepada pimpinanya bahwa ada tamu yang ingin menemui Mahendra.

“Aku mengenalnya sebagai kakak Mahisa Pukat”, berkata seorang Abdi Dalem istana yang pada saat itu ikut mendengar pembicaraan dua orang prajurit pengawal istana. Maka Abdi dalem yang mengaku mengenal Mahisa Murti itu pun datang menyongsong Mahisa Murti dan Wantilan.

“Kau pasti Mahisa Murti”, berkata Abdi dalem itu yang bertubuh tegap dan tegar dengan brewok lebat di seluruh wajahnya. Mahisa Murti memang mengenal pemuda itu salah seorang teman Mahisa Pukat, tapi ia lupa namanya.

“Benar aku Mahisa Murti”, berkata Mahisa Murti memberi hormat.

“Mari kuantar kalian ke kediaman Ki Mahendra”, berkata abdi dalem itu sambil memberi tanda agar Mahisa Murti dan Wantilan mengikutinya.

“Terima kasih Rangga Paksi”, berkata Mahendra kepada abdi dalem itu ketika mereka sampai di kediaman Ki Mahendra.

“Silahkan”, berkata Abdi dalem itu menyilahkan Mahisa Murti dan Wantilan naik ke Pendapa rumah Mahendra. Dan Abdi dalem itu pun meninggalkan mereka.

Ternyata di rumah Mahendra sudah berkumpul Mahisa Pukat dan Arya Kuda Cemani. Bukan main gembiranya suasana pertemuan itu.

Setetah bersih-bersih dan beristirahat menikmati minuman hangat serta hidangan yang disediakan. Mereka pun saling bercerita tentang beberapa hal.

Mulailah Mahisa Murti menjelaskan kepada Ayahnya tentang rencananya melamar seorang gadis pilihannya.

“Aku gembira dan bahagia sekali, akhirnya kamu mendapatkan gadis pilihanmu”, berkata Mahendra setelah mendengar penjelasan Mahisa Murti.

“Waktu kita pendek sekali”, berkata Mahisa Murti sambil menjelaskan bahwa pada waktu yang sama akan datang juga seorang Bangsawan Kediri yang akan melamar Padmita.

“Besok, aku ikut bersamamu”, berkata Mahendra yang dapat menangkap kekhawatiran Mahisa Murti dari raut wajahnya.

“Kalau bukan besok, mungkin aku bisa ikut”, berkata Mahisa Pukat sambil menjelaskan tugasnya saat ini yang benar-benar menyita waktunya.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 15 April 2011 at 19:30  Comments (306)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/trackback/

RSS feed for comments on this post.

306 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ceritanya semakin membuat penasaran. Ayo Ki kompor….. segera wedar tutuge!!

  2. Tutug-e…………belon kemalaman

    Sang fajar telah datang memenuhi janjinya. Kesibukan pagi sebagaimana hari-hari kemarin di Padepokan terpencil itu mulai terlihat. Beberapa budak yang bekerja di dapur sibuk didepan perapiannya. Sementara di sungai belakang Padepokan masih dipenuhi mereka yang bersih-bersih diri.

    “Hari ini adalah hari yang istimewa untuk para budak belian”, berkata Gedemantra kepada Mahesa Pukat .

    “Hari istimewa ?”, bertanya Mahesa Pukat belum mengerti.

    ……………………..
    telah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Kamsiaaaaaaa……

    • matur nuwun ki kompor

    • matur nuwun ki Kompor…

    • Alhamdulillah, ………. tenyata pengembaraan imajinasi Ki Mahesa Kompor hampir nggak ada bedanya dengan Ki SHM. Kita serasa masih dalam lingkup karya Ki SHM, …….
      Nuwun

  3. Wah esuk-esuk sarapan nasi goreng .
    Matur nuwun Ki Kompor.
    Matur nuwun P. Satpam.
    Sugeng enjang

  4. cantrik TELAT mampir….selamat SIANG
    kadang padepokan ki MAHESA,

    • akhirnya cantrik mengambil suatu keputusan :

      “tetep HADIR, biarpun HUJAN deras sepanjang
      perjalanan”

  5. selamat sore, tetap hadir apapun cuacanya

  6. Akhirnya akupun memutuskan sebelum berangkat ke mesjid mampir dulu di padepokan.
    Sugeng dalu.

  7. Asyiikkkkkkk, diluar perkiraan.

    ayo tutug’e ndang diwedhar.

    sugeng dalu.

  8. Tutug-e………………belon kemalaman.

    Sementara itu, pada hari yang sama, empat ekor kuda bergerak menuju hutan somplak. Mereka adalah Mahesa Murti, Mahendra, Pangeran GacoBahari dan seorang kepercayaannya.

    Dalam perjalanan menuju hutan Somplak, Mahendra mengagumi Pangerang Gacobahari yang sepertinya tidak merasa asing dan menguasai setiap jengkal daerah yang dilaluinya.

    “Ternyata Pangeran Gacobahari sering bertualang disekitar daerah ini”, berkata Mahendra dalam hati sambil mencoba mengaitkan antara Pangeran Gacobahari dan suara jalak kebo yang didengarnya pada malam kemarin. “Pangeran Gacobahari begitu yakin dengan kemampuannya sendiri”, berkata lagi Mahendra dalam hati. Karena yang ia ketahui, seorang Pangeran selalu tidak melepaskan pengawalan pribadinya, minimal sepasukan prajurit yang kuat.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • padepokan “GEMPAR”….Eeh-Eeh, tiba’e ki Gembleh
      beserta rombongan ibu2 PKK, lagi ngapain ki…!!

      lha yang di dalam padepokan lagi pada TEGANG-an
      kok ya dateng2 bawa pasukan seGITU banyak-E…..

      • lanJUT pak DALANG….jangan terGANGGu ama GODA-an,

        cuma kok giMANA gituuu, masak konco dewe yg datang
        gak dipersilaHkan masuk,

    • Telah terjadi kegemparan yang luar biasa yang mengagetkan Datuk Malakar dan Pangeran Gacobahari, juga ratusan pengikutnya.

      Mahisa Pukat berdiri dengan santainya setelah ikatannya dilepaskan. Sambil meliuk-liukkan pinggangnya (apa itu bahasa Indonesia-nya molet, he he he …, tiba-tiba kok lupa). Katanya kepada Mahisa Murti, “hadu….., cuapeek sekali tidak bisa bergerak setengah hari. Kenapa kalian lama sekali baru sampai”

      Wantilan pun ikut-ikutan berdiri sambil mengangkat Mahisa Semu yang masih pura-pura tidak berkutik. Katanya, “ayolah, sudah tiba waktunya untuk melemaskan badan yang sempat kaku sejenak tadi”

      Mahisa Semu dengan malasnya ikut berdiri, katanya, “he he he …, mereka kena tipu ya”

      Sementara itu, Ki Arga yang sudah dipesan oleh Mahisa Murti untuk mengawasi dari jauh, telah mendapatkan pesan melalui aji pameling agar menyiapkan sekelompok cantrik senior untuk segera menuju padepokan tersebut.

      Pangeran Gaco Bahari terhenyak sesaat, kemudian katanya, “Ternyata kalian memang licin sekali, kalian berhasil mengelabui kami ……>

      he he he …, embuhlah lha kok ngrusihi Ki Kompor.
      monggo Ki dilanjut.

  9. Luar biasa, benar-benar menegangkan. Monggo dilanjutkan Ki Kompor.

  10. Ruaar biasa, Matur nuwun ki Mompor,
    Ki Satpam.
    Sugeng enjang.

    • Matur nuwun ki Mompor,
      Ki Sampam.
      Sugeng sinjang.

  11. Ternyata Ki Kompor masih bisa mengikat para cantrik melalui cerita komtemporer ini, terbukti kunjungan ke padepokan tetap ramai, walaupun mnetriknya tidak ada.
    Monggo Ki lanjut.

  12. sret-sreeet….paraf sik, nanti malam
    sambang lagi

    • sret-sreeet….paraf sik, nanti SORE
      nginguk lagi

    • melu ki…..gantung nih lagi seru…..monggo ki Kompor di lanjut

  13. Ki dalang bersama para sinden sing demplon masih dalam perjalanan dari tlatah bulungan, buju buneng….jalan merayap menuju semanggi, para sinden pupurnye pade luntur……………..

  14. wah jan pinter tenen, mandek pas tanjakan, unjal napas sik

    • Jangan lupa pasang rem tangan, …… posisi gigi ompong, …… lepas pelan2 pedal rem kaki.

      • badan dibongkokan, tangan lurus kebawah, ambil napas, pelan pelan berdiri, tangan direntang, mata menatap monitor, sudah wedar belum, wuuuuuaaaaaaah belum

  15. Tutug-e……………………………masih belon kemaleman

    Tiba-tiba saja terdengar suara lantang berasal dari kelompok para budak belian.

    “Wahai para buda belian, inilah hari yang pernah aku janjikan, tekadkan diri kita, mati atau hidup dalam kemerdekaan”, ternyata suara itu berasal dari kepala suku mereka Putumantra.

    “Merdeka !!!”, gemuruh suara para budak belian menyambutnya.

    Maka seperti banjir bandang, ribuan budak belian menyerbu para pengikut Datuk Malakar.Rasa gentar menghentak para pengikut Datuk Malakar melihat wajah merah penuh kebuasan berlari menghampiri mereka.

    Dan semua berlangsung begitu cepat, gemuruh suara para budak belian benar-benar membuat para pengikut Datuk Malakar tercengang, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Seperti OVJ, sang sinden menembang mengiringi gending…………..tarik Kangmaseeeeeee……

      • Lanjuuuttttt mang……………..
        mumpung belon terlalu malem,
        Ki Arga nungguin,
        Ki Bancak nungguin,
        Ki Mukidi nungguin,
        Ki Honggopati nungguin,
        Ki TruPod nungguin,
        Ki Menggung Yp & GdL nngguin,
        Ki Ajar pk Satpam juga nungguin,

        nungguin tutug’e maneh…..!!!!!
        para kadhang lainnya juga nungguin,

        • setujuuu….

        • Setuju juga, mumpung belum tengah malam, masih banyak yang nungguin. Monggo wedar lagi Ki Kompor.

  16. sset….,masih banyak bahan mentah dipenggorengan,
    tapi….,
    “sunah nabi bang !!!”, teriak sang permaisuri dari dalam kamar.
    Bukannye sunah nabi malem jumaat”, teriak gue keras
    “itu khan kate Pak erte”, berkata sang permaisuri dari dalam kamar
    “yang bilang malem kamis siapa ??”, teriak gue lagi
    “GUEEEEEEEEE !!!!” teriak sang permaisuri masih didalam kamar.
    Buju buneng, kalo ude kate “GUE”, jangankan Pak Erte, SBY sekalipun pasti enggak bakal “menang”

    bleb bleb bleb……..ZZZzzzzZZZZzzzz

    • masih ada bahan mentah dipenggorengan……..

      Mahesa murti melirik gambar kecil dilengan orang bercambuk itu.Sebuah lukisan “cakra”.Sebuah lambang perguruan besar diujung delta Brantas, perguruan “SINDU SEJATI”.
      (jangan-jangan buyutnye Kiai Grinsing ????)

      • yang gue inget…..waktu itu Ki Pamanahan sedang sakit parah…terus enggak sengaja liat tatto nya Kiai Grinsing.
        Ade yang inget, siapa nama Kiai Grinsing sebenarnya ????

        • Pamungkas nama sebenarny. Karena ia adalah anak ragil. Itu yang saya ingat. Mohon pencerahan sesepuh padhepokan kalau salah

  17. Sugeng enjang.
    Ki Kompor
    P. Satpam.
    Kadang sedoyo.

    Alhamdulillah gandok makin ramai.
    Matur nuwun Ki Kompor.
    Punopo sampun sunahipun?

  18. antri nunggu ransum…..biasanya setelah sunah nabi ki Kompor semangatnya tambah….

  19. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang

    DONGENG GELAR PERANG

    Waktu terus berjalan, Sembari menunggu wedaran Ki Dhalang Mahesa Kompor van Situ Cipondoh yang pada episode terakhirnya bercerita tentang perang dengan gelarnya, disebutkan ada: gelar perang cakra birawa dan gelar perang capit urang.

    Berikut cantrik Bayuaji ikut meramaikan dengan medar Dongeng Gelar Perang.

    Siasat dan gelar pasukan perang telah dikenal di kerajaan kerajaan kuno ditanah Nusantara, mulai dari jaman Mataram kuno sampai dengan jaman Mataram baru.

    Khusus ditanah Jawa, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya sejumlah relief yang tergambar di sejumlah candi,

    Gelar-gelar perang ini pernah dipakai ketika terjadi pertempuran-pertempuran semasa kerajaan-kerajaan Nusantara, misalnya: Perang antara Ken Agrok dan Prabu Dandang Gendhis dalam Perang Ganter, ekspedisi Pamalayu semasa Prabu Kertanegara; perang mempersatukan Nusantara dalam episode “Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa”.

    Bahkan di jaman Perang Kemerdekaan pun, beberapa gelar perang pernah dipakai, salah satu contohnya adalah perang pasukan Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI) yang dipimpin Jenderal Soedirman melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945 di Ambarawa Jawa Tengah.

    Gêlar Pêrang Garudå Nglayang beliau gunakan untuk mengusir tentara Inggris dan NICA dari Ambarawa.

    Dan pada tanggal 12 Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak dengan Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå atau Siasat Pêrang Gilingan Råtå terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa.

    Pertempuran yang kemudian dikenal dengan Palagan Ambarawa itu berlangsung selama lima hari, diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945.

    Gêlar Pêrang:

    1. Gêlar Pêrang Wulan Tumanggal:

    Siasat perang ini diibaratkan seperti bentuk bulan sabit, dimana seolah-olah wujudnya tidak membahayakan. Tetapi sesungguhnya siasat ini membahayakan karena di ujung sudut dan di tengah barisan selalu siap sedia dengan gerakan yang mudah dilakukan.

    Lihatlah malam di kala bulan muncul di awal. Awal bulan, atau bulan sabit menyinarkan keteduhan dan ketenangan. Namun dalam perang, siasat “wulan tumanggal” menyimpan kejutan-kejutan. Di ujung sudut dan di tengah, tanpa diduga kadang muncul mengejutkan lawan.

    2. Gêlar Pêrang Supit Urang:

    Bayangkan bila seekor udang tengah mempertahankan diri atau menyerang dengan merentangkan sapitnya untuk mematikan lawan. Sang udang akan menggunakan sapitnya untuk menyerang musuh yang mendekatinya.

    3. Gêlar Pêrang Dirådåmétå:

    Dirådåmétå artinya gajah yang sedang marah. Siasat ini menggambarkan kemarahan seekor gajah. Kemarahan yang mengagumkan (sekaligus mengerikan), belalai dan gading gajah itu sangat membahayakan.

    Dan kekuatannya pun maha dahsyat. Imajinasikan bagaimana seekor gajah dengan tenaga yang luar biasa besarnya, sedang marah memainkan belalainya dan menyerundukan gadingnya yang keras dan tajam. Gajah menyeruduk maju terus tanpa kenal rasa takut dan sakit.

    4. Gêlar Pêrang Gilingan Råtå:

    Siasat perang ini sangat hebat, menyerupai roda kereta (råtå = kereta) yang menggelinding dengan dahsyat sehingga apapun apapun yang tergiling akan hancur lebur.

    Perang dengan siasat ini harus mengerahkan tentara dengan jumlah besar dan harus mampu bergerak cepat, sebab tujuan siasat ini adalah menggempur kekuatan lawan dengan segera dan habis pada seketika itu juga.

    Siasat ini memerlukan panglima perang yang ulung, hingga musuh tak dapat melawan. Pemimpin gerakan ini sebagian berada di garis depan dan sebagian lagi berada di garis belakang untuk mengelabuhi musuh.

    Siasat perang “Roda Kereta” bisa dibayangkan sebagai pasukan yang maju untuk bertempur laksana roda yang menggelinding musuh di depannya. Musuh akan tergilas, tergiling dan hancur lebur menyisakan debu.
    Pemimpin pasukan ditempatkan di depan dan dibelakang agar mengetahui gerak-gerik musuh.

    Adapun gelar-gelar perang lainnya yang dikenal adalah:

    1. Gêlar Pêrang Garudå Nglayang:

    Gêlar Pêrang Garudå Nglayang ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung garuda melayang dan meniru gerakan burung garuda, dimana panglima dan pemimpin pasukan berada di paruh, kepala, sayap, dan ekor memberikan perintah kepada anak buahnya dengan siasat seperti tingkah burung garuda yang menyambar atau mematuk.

    Pada intinya serangan ini mengandalkan satu senapati utama pada posisi paruh, kemudian sayap kiri kanan bergerak bebas dengan posisi pengatur posisi yang sedikit heroik, sebab perlindungan posisi pengatur pasukan berada di depan, pasukan inti menempati posisi cakar kaki, kemudian pemimpin utama berada di ekor sebagai posisi pasukan penyapu terakhir.

    Gelar ini menempatkan Senopati di depan sendiri sebagai paruhnya, kemudian dua orang berjajar, seorang Senopati di belakang paruh sebagai kepala burung, kemudian Senopati Agung di belakang kepala burung. Dua orang Senopai berada di ujung sayap kanan dan kiri yang cukup jauh.

    Para Prajurit mengisi sayap dan menyambung dengan tubuh burung, kepala dan ekor, di mana di ekor burung terdapat seorang Senopati lagi. Dua sayap pada Gelar ini dimaksudkan agar dapat mengepung prajurit musuh untuk dikalahkan/ditumpas.

    2. Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå:

    Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå adalah formasi perang dengan pengepungan/countainment. (Cåkrå = cakram, senjata berbentuk bulat pipih bergerigi; Byuhå = gelar barisan).

    Formasi ini dapat juga digunakan untuk masuk ke tengah-tengah medan pertempuran yang sudah terlebih dahulu terjadi. Lingkaran gelar Cåkrå Byuhå akan langsung masuk ke tengah-tengah peperangan, kemudian mengembang sebagai gelar lingkaran yang semakin besar.

    Gelar yang berbentuk lingkaran bergerigi, yang menempatkan para senapatinya di sepanjang ujung geriginya. Gelar itu akan dapat menghadap ke segala arah sesuai dengan keadaan yang berkembang di medan yang sengit, yang mengarah kepada perang brubuh.

    Namun berbeda dengan gelar Gêdong Minêp, yang juga merupakan lingkaran yang rapat, maka gelar Cåkrå Byuhå menempatkan senapati utamanya di depan, di luar lingkaran. Senapati Utamanya dapat bergeser menurut keadaan. gelar cakra byuha biasanya digunakan untuk melindungi raja, orang penting, tawanan atau pusaka,yang akan dibawa kesuatu tempat.

    Orang/ barang yang dilindungi tsb diletakkan ditengah gelar, sementara pasukan melindungi berlapis lapis berbentuk bulat/melingkar. dengan ujung-ujung geriginya pasukan bergerak menghancurkan penghalang yang merintangi.

    3. Gêlar Pêrang Gêdong Minêp:

    Gêlar Pêrang Gêdong Minêp adalah sebuah formasi yang digunakan untuk menjebak musuh yang jumlahnya lebih sedikit dengan cara memancing pasukan lawan untuk masuk kedalam gelar, kemudian pasukan lawan kalau sudah masuk ditengah, akan mereka kurung (gêdong=gedung, minêp=menutup) kemudian lawan akan dihancurkan.

    Gelar ini tidak efektif manakala jumlah pasukan seimbang atau lebih banyak, karena kepungan lambat laun akan jebol. Panglima dari gelar Gêdong Minêp berada di dalam lingkaran yang tertutup rapat.

    Senopati berada di tengah, dikelilingi bawahan dan prajuritnya. Sehingga bila mendapat serangan musuh maka para prajuritnya yang terkena lebih dulu.

    Apabila Gêlar Pêrang Gêdong Minêp ini bukan suatu siasat untuk menjebak musuh, maka gelar ini memberi gambaran bahwa Senopati atau Senopati Agung tersebut sebenarnya kurang memiliki keberanian.

    4. Gêlar Pêrang Jurang Grawah:

    Gêlar Pêrang Jurang Grawah mirip dengan Gêlar Pêrang Gêdong Minêp, namun biasanya digunakan untuk melawan pasukan yang lebih banyak jumlahnya dengan cara memancing mereka kedalam pasukan, tetapi tidak dikurung (jurang=jurang, grawah= menganga), lawan dibiarkan masuk sebanyak banyaknya, namun begitu sampai ke tengah pasukan langsung dibinasakan.

    Formasi ini hanya bisa dilaksanakan jika pasukan memiliki kelebihan kemampuan, baik perseorangan maupun dalam kelompok dibanding dengan pasukan lawan, atau dapat dikatakan ini adalah gelar yang sering digunakan oleh pasukan khusus, walaupun kecil jumlahnya tapi berkemampuan tinggi.

    5. Gêlar Pêrang Wukir Jaladri:

    Gêlar Pêrang Wukir Jaladri adalah formasi pasukan yang bentuknya seperti gunung di tengah lautan (wukir = gunung, jaladri = lautan). Gelar ini biasanya digunakan untuk bertahan dari gempuran musuh. Bermakna Gunung di tengah laut.

    Kendaraan besar dan gajah akan ditempatkan di tengah sebagai gunung atau batu karang, dengan Panglima berkedudukan di tengah-tengahnya sebagai pusat komando, sedangkan para Senopati dan prajurit melingkarinya sebagai gelombang dan airnya.

    6. Gêlar Pêrang Gêlatik/Êmprit Nêbå:

    Gêlar Pêrang Gêlatik atau Êmprit Nêbå ini mrip Gelar Pêrang Jaladri Pasang, yaitu samudera yang sedang pasang airnya, dimana gerak-gerik pasukan diibaratkan air laut pasang yang mematikan.

    Adalah strategi perang dengan bentuk formasi seperti burung gelatik dalam jumlah banyak yang bersama sama turun dari udara (nêba= turun dari udara dalam keadaan terbang), atau burung gelatik yang secara bersama-sama datang ke sawah untuk mencari makan padi, pada umumnya melayang turun bersama-sama.

    Tentu saja burung gelatik tersebut mamakan padi semaunya sendiri tanpa aturan maka rusaklah tanaman padi yang diibaratkan sebagai musuh.

    Gelar ini biasanya dilakukan oleh Senopati Agung dan sepasukan prajurit yang sudah putus asa, mungkin karena sudah terjepit tapi pantang menyerah.
    (Ada peribahasa Jawa yang berbunyi: Kinêpung wakul binåyå mangap, yang artinja dikelilingi seperti pertemuan bingkai bakul dan seperti bertemu dengan buaya ternganga mulutnya. Berarti bahaya yang tak dapat dihindari.)

    7. Mowor Sambu dan Dom Sumuruping Banyu:

    Mowor Sambu dan Dom Sumuruping Banyu oleh sebagian orang tidak digolongkan dalam gelar perang tetapi hanya bagian dari strategi perang.

    Dalam Gelar Wowor Sambu, sepasukan prajurit, sebagian atau bahkan seorang prajurit bertugas menyerang musuh dari belakang atau dari dalam dengan cara menyamar sebagai prajurit musuh atau dalam bentuk lain.

    Hal ini pernah dilakukan prajurit Mataram pada masa Sultan Agung menyerang Kompeni Belanda/VOC di Batavia tahun 1629, dengan memasukkan prajuritnya ke dalam benteng VOC sebagai pedagang sayur-mayur sejumlah 40 prajurit, yang kemudian bertugas menyerang musuh dari belakang, sementara prajurit Mataram yang besar jumlahnya menyerang dari depan atau luar benteng.

    Sedangkan pengertian Dom Sumuruping Banyu adalah memasukkan sedikit orang ke daerah musuh untuk memata-matai kekuatan musuh, hal ini sama dengan Wowor Sambu apabila dengan prajurit yang relatif sedikit yang ditugaskan khusus hanya untuk memata-matai musuh.

    ånå candhaké

    Kêparêng rumiyin. Kalau pake gayanye Ki Kompor…
    kamsiaaaaaa………………….
    nyilem lagi ach……..

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nuwun sewu Ki Bayu, …… Cantrik Truno gak putus2nya nyrandu. Nopo tentara kompeni ugi ngangge gelar2 perang kangge nglawan prajurit Mataram?
      Lajeng nopo tentara Modern taksih ngangge gelar2 perang meniko, mengingat mobilitas tentara jaman seniki sangat tinggi, ip. ngangge kendaraan perang.
      Nuwun.

      • Nuwun

        On 28 April 2011 at 10:58 Truno Podang said:
        tentara kompeni ugi ngangge gelar2 perang kangge nglawan prajurit Mataram?
        Lajeng nopo tentara Modern taksih ngangge gelar2 perang meniko, mengingat mobilitas tentara jaman seniki sangat tinggi

        Katur ingkang kinurmatan kadang kulå Ki Truno Podang,

        1. Delar Perang VOC/Kumpeni Belanda

        Dalam sejarah perang antara kerajaan Jawa Mataram melawan kumpeni Belanda, tidak banyak informasi tentang gelar perang yang dipakai oleh tentara VOC/kompeni Belanda.

        Yang banyak diberitakan justru kegiatan intelijen (intelligence) sebelum terjadinya perang, artinya pihak kumpeni terlebih dahulu menyebarkan isue-isue yang bersifat mengadu-domba kepada petinggi-petinggi kerajaan, menciptakan kerusuhan-kerusuhan yang mengundang pihak kumpeni untuk menumpas kerusuhan-kerusuhan itu, yang pada akhirnya timbul “utang budi” sang pangeran/raja kepada VOC/kumpeni Belanda.

        Sebagaimana kita baca dalam sejarah raja-raja Jawa, sering terjadi saling jatuh-menjatuhkan antara pangeran yang satu dan pangeran yang lain, sehingga negara menjadi terpecah belah (Palihan Nagari Mataram: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, kemudian terpecah lagi menjadi empat, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman). Naiknya seseorang menjadi raja karena “jasa baik” kumpeni.

        Bahkan seperti diberitakan dalam Babad Nitik Mangkunêgårå I (Catatan Harian Prajurit Èstri Mangkunêgaran). Diceritakan bagaimana muaknya RM Said melihat Pangéran Mangkubumi setelah Perjanjian Giyanti, Mangkubumi menghadiahkan istrinya sendiri, Raden Rêtnåsari, kepada Deller, Penguasa Belanda di Semarang, sebagai tanda keseriusan dan tanda keteguhan dari janji persahabatannya, dan merupakan balas karena “jasa baik” Belanda menobatkan Mangkubumi sebagai raja Keraton Yogyakarta.

        Demikian juga halnya Kesultanan Cirebon yang akhirnya menjadi dua Kasepuhan dan Kanoman (sekitar tahun 1677). Pembagian dua kekuasaan tersebut sekaligus menandai awal keruntuhan Kesultanan Cirebon.
        Perselisihan antara kedua kesultanan itu, ditambah dengan ketidakpuasan Pangeran Wangsakerta, memudahkan campur tangan politik VOC Belanda. Sejak perjanjian 7 Januari 1681, Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia, mengakui keberadaan ketiga raja di Cirebon. Masing-masing berdiri sendiri. Dan pada tahun 1700, kesultanan menjadi empat kekuasaan. Selain Kasepuhan dan Kanoman, terdapat juga Kesultanan Kacirebonan di bawah Pangeran Arya Cirebon, dan Kaprabonan (Panembahan) di bawah Pangeran Wangsakerta. Sejak itu, perdagangan internasional melalui Pelabuhan Cirebon sudah berada di tangan VOC.

        2. Gelar perang pada Perang Modern

        Belum banyak yang saya ketahui juga Ki. Pernah beberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Museum Perjuangan TNI Satria Mandala yang terletak di Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan, terdapat beberapa diorama perang (tentunya ini merupakan imajinasi sang artis pemahat, meskipun didasarkan pada kisah nyata pelaku perang yang masih hidup), yang membentuk beberapa gelar perang mirip gelar-gelar perang yang ada, tetapi tidak ada cacatan tentang gelar perang jenis apa. Pada papan penerangan yang ada hanya disebutkan, misalnya Diorama perang penumpasan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, dstnya.

        Demikian Ki. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat.

        Nuwun
        Sugêng siyang

        cantrik bayuaji

        • nuwun sewu Ki, sumela atur, rikala Kol.Sudirman mimpin perang wonten “Palagan Ambarawa” , saged mimpang perangipun ngangge gelar supit urang,saksampunipun menang Pak Dirman dipun angkat dados Panglima Besar, sak enggo sepriki dipun peringati dados Hari Juang Kartika tgl 15- Des- 1945, nyuwun ngapunten bilih lepat

          • Nuwun

            Katur Ki Truno,

            Keberhasilan Jendral (waktu itu Kolonel)Soedirman memimpin pertempuran yang selanjutnya dikenal dengan Palagan Ambarawa, selama lima hari yang berakhir pada tangal 15 Desember 1945, dan karena peristiwa itulah, maka tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infantri AD, kemudian dengan Surat Keputusan KSAD Nomor Skep/662/XII/1999 tanggal 14 Desember 1999, peristiwa Palagan Ambarawa dijadikan Hari Juang Kartika.

            Sepanjang data dari Pusat Penerangan AD (Puspenad), gelar perang yang dipakai beliau ada dua yaitu: Gêlar Pêrang Garudå Nglayang dan Siasat Pêrang Gilingan Råtå.

            Sumber: Puast Sejarah TNI AD, Museum Perjuangan TNI AD Satria Mandala Jakarta.

            Kêparêng
            Sugêng sontên

            cantrik bayuaji

        • Nggih Cantrik Truno ngaturaken gunging panuwun pikantuk panglejaran Ki Bayu dalah Ki Bancak.
          Mugi karahayon ingkang tansah pinanggih.

  20. Mas Kompor pantas menjadi anaknya SH Mintardja
    sudah mirip buangetttt
    matur suwun ki kompor

  21. Mosok sunah rasul terus sampe siang? Awas lho kebanyakan SR nanti gak bisa nutul key board.

    Ono Tutuge, …

    • wakakakak……..ki Truno, ki Kompor lagi dalam pemulihan tenaga.

  22. ki Kompor sawek ndudul tik

  23. sugeng ndalu ki……

  24. siapa yang setuju tutug’e diunggah sekarang…????

    saya………………!!!!!!!!
    nomer satu.

    • kulo njenengan wakili sekalian ki Gembleh,

  25. ki DALANG MAHESA isih lemes ki, kemaren malam
    sampe pagi diPEres nyi DALANG.

    malem ini isih semrepet, belom bisa ndudul tIK
    he5x, ojo2 nyi DALANG malem ini minta “tambah”

    • tenang mawon Ki Menggung,
      kala wau sampun kula kintuni mantra
      ajian Thi Ki I Beng untuk memulihkan
      tenaga, dijamin kecepatan ndudul tik’e
      bakal tambah banter.
      Duka menawi dipun penggak Nyai’ne malih,
      nggih mesti bakal diperes ngantos tuntas.

      He…..he…..he…..
      sugeng dalu Ki.

  26. tas, tas tuntas

  27. Sugeng ndalu…..

    Lama tidak mampir padepokan. Ternyata banyak yang mesti dipelajari.

    Pamit badhe sinau rumiyin….

  28. Hup…., maaf,…baru nyampe …..

    keren…kursi undangan udeh banyak terisi,
    bahan mentah udeh lumayan banyak, metik diperjalanan.

    kamsia, ilmu perang Ki BY langsung ane sedot, ternyata ane saleh inget….tentang jenis-jenis perang…jadi dipersoriiiiiiii asal nyebut…gap pape khan……
    sip….siap-siap “copas” istilah anak sekarang

  29. Tutug-e………kemaleman.

    Sementara itu., Mahesa Semu dan Wantilan telah bergabung bersama pasukan para budak yang dipimpin oleh Kepala sukunya sendiri. Dan Nampak pula Gedemantra adikya yang tidak kalah gagahnya bertepur dengan begitu garang, sebagai panglima pengapit sisi kiri gelar capit urang.

    “Ternyata kau punya keberanian Dadulengit”, berkata Mahesa Semu yang baru bergabung disisi kanan gelar pasukan kepada Dadulengit yang tengah memutar-mutarkan golok panjangnya.

    “Kukira kau sudah mati”, berkata Dadulengit berpaling kepada Mahesa Semu setelah goloknya berhasil melukai seorang pengikut Datuk Malakar.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Tutug-e……………nambah lagiiiiiiiiiiiiii

      Para pengikut Datuk Malakar sudah bercerai berai. Satu persatu terbunuh, satu persatu jatuh terluka dibantai para budak yang semakin garang, dan satu persatu melemparkan golok besarnya, menyerah !!!.

      Pasukan para budak yang dipimpin Putumantra telah menguasai peperangan. Pasukan para budak akhirnya telah benar-benar memenangkan pertempuran. Nampak beberapa orang pengikut Datuk Malakar yang menyerah tengah diikat diamankan.

      Datuk Malakar yang melihat peperangan telah dikuasai para budak, menjadi begitu gusar, geram dan marah sampai keubun ubunnya. Golok besarnya diputar begitu kencangnya seperti baling-baling menerjang Mahesa Pukat.

      ……
      sudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

      • Seperti Operara Van Java, sang sinden melagamkan lagu “begadang” koborasi dangdut dan gending gamelan.

        …..begadang jangan begadang……..

        (Sori Ki YP, sindennya udeh ade yang antar jemput. He3x)

        • protes ki DALANG :

          sesuk2 biaya akomodasi sinDEN
          di-anggarkan 0 rupiah ki….!!!

          jempuT-antar sinden biar cantrik
          yg lakukan,…se-kalian cantrik
          pengen belajar ngiDUNG diperjala-
          nan.

  30. Nuwun
    Sugêng énjang

    Alhamdulillah, terima kasih Tuhan segala kenikmatan yang Engkau limpahkan pada kami.
    Hari ini aku sehat kembali. Matur nuwun semua doa dari sanak kadang.

    Nuwun

    punåkawan

  31. Nuwun
    Sugêng énjang

    Alhamdulillah, terima kasih Tuhan segala kenikmatan yang Engkau limpahkan pada kami.
    Hari ini aku sehat kembali.Matur nuwun semua doa dari sanak kadang.

    Nuwun

    punåkawan

    • semoga kita termasuk orang yang bersyukur

  32. Wadaoow Mahesa Pukat terluka.
    Terusannya mana Ki?
    Matur nuwun Ki Kompor.

  33. Ngebayangin Ki Kompor jam 2 dini hari sudah depan lap top terus sekarang lagi ngapain ya.

    • keramas ki, buat ngiLANGi rasa kantuk…!!

  34. matur nuwun ki….

  35. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang</b

    candhaké DONGENG GELAR PERANG

    “… ternyata ane saleh inget….tentang jenis-jenis perang…jadi dipersoriiiiiiii asal nyebut…gap pape khan…….” Tulis Bang Kompor [On 29 April 2011 at 00:25 kompor said:]

    Kagak apé-apé bang Kompor. Nih toêtoêgé……………nambah lagiiiiiiiiiiiiii

    BENDA-BENDA “KERAMAT” DI MEDAN PERANG

    Dalam pada itu kita juga kenal dengan benda-benda “keramat” atau yang dikeramatkan, tetapi bukan senjata perang seperti pedang, tombak, panah, dan sejenisnya.

    Benda-benda ini dihadirkan di medan pertempuran digunakan untuk pembangkit semangat para tentara di medan peperangan, dan dimaksud untuk memberi rasa takut pada lawan, di antaranya adalah bende; panah sendaren; umbul-umbul dan cermin.

    Bêndé

    Bêndé atau canang adalah sejenis gong dengan ukuran yang lebih kecil yang dapat dijumpai di hampir seluruh kepulauan Nusantara.

    Pada masa lalu, bende biasanya digunakan untuk memberikan penanda kepada masyarakat untuk berkumpul di alun-alun terkait informasi dari penguasa, untuk menyertai kedatangan raja atau penguasa ke daerah tersebut, atau untuk menandai diadakannya pesta rakyat.

    Bende lazim juga digunakan dalam peperangan. alat musik ini memang khusus dipergunakan untuk komunikasi dalam peperangan.

    Tidak sembarang orang boleh memainkan dan tidak sembarang waktu boleh ditabuh.
    Bende tersebut sangat disakralkan, ingat judul sustu novel Bende Mataram.

    Bende ini biasanya diberi nama atau gelar yang berbau mistis dan seram berbau maut, misalnya: Kyai Amuk, Kyai Guntur, Kyai Pegatsih, nama-nama yang menyeramkan ini dimaksudkan agar dalam peperangan, bunyi bende ini bisa menggugah semangat tempur para prajurit dan menggetarkan nyali pasukan musuh.

    Panjang pendek nada yang diperdengarkan dan berapa kali dipukul adalah merupakan sandi sandi yang hanya dimengerti oleh beberapa orang pucuk pemimpin pasukan.

    Bunyi bende ini merupakan sebuah aba aba untuk membentuk formasi pasukan dan perubahan siasat dan gelar pasukan serta aba aba untuk memulai pergerakan pasukan.

    Dalam gelar pasukan perang biasanya dipimpin oleh satu Senopati Agung [jendral besar] dibatu oleh dua atau lebih Senopati Penjawat [senopati pendamping].

    Para senopati pendamping ini berfungsi memimpin unit unit pasukan yang ada di kiri dan kanan atau dibelakang pasukan induk.

    Begitu mendengar bunyi bende diperdengarkan, senopati pendamping akan menyuruh perwira penghubung untuk memberikan sandi balasan bahwa perintah telah sampai dan dimengerti oleh para senopati tersebut.

    Sebagai contoh bende yang merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Majapahit yang masih tersisa dan dikeramatkan adalah Gong Kyai Pradah yang sekarang disimpan dipendopo Kawedanan Lodoyo.

    Benda ini sampai sekarang masih dikeramatkan dengan melakukan upacara Siraman yang dilakukan tiap tahun dibulan Maulud dalam penanggalan jawa.

    Upacara ini sampai sekarang masih menjadi tradisi yang menarik yang dihadiri oleh para pejabat Kabupaten Blitar dan dibanjiri oleh penonton yang datang dari daerah Blitar,Kediri,Tulung Agung dan sekitarnya.

    Dalam Babad Pengging. Diberitakan ketika Sunan Kudus diperintahkan untuk ke Pengging menemui Syekh Siti Jenar:

    Perjalanan Sunan Kudus dan murid-muridnya, sampai di utara Kali Cemara, karena kemalaman mereka menginap di dalam hutan dengan membuat kemah.

    Pada malamnya harinya Sunan Kudus memerintahkan muridnya untuk membunyikan Bende Kyai Sima yang dibawa dari Demak.

    Bende itu adalah barang pusaka peninggalan mertua Sunan Kudus. Ketika Bende dipukul bunyinya mengaum seperti singa. Suara auman itu sampai terdengar ke desa-desa sekitarnya sehingga para penduduk desa merasa ketakutan.

    Esok harinya para penduduk desa masuk ke dalam hutan untuk membunuh harimau atau singa yang semalam mengganggu tidur mereka. Tapi mereka tidak menemukan singa yang dicarinya. Hanya bertemu dengan Sunan Kudus beserta muridnya.

    “Apakah Tuan tidak mendengar suara harimau mengaum semalam ?” tanya tetua desa.
    “Tidak !” jawab Sunan Kudus. “Andai kata kami melihat harimau tentu kami tidak berani bermalam di sini dan segera lari ke desa.”
    “Sungguh mengherankan, kami tidak tidur semalaman karena kuatir harimau itu datang ke desa kami,” kata tetua desa.
    “Kalau begitu namakan saja desamu ini Desa Sima (harimau) karena kau mendengar suara harimau padahal tidak ada harimau sama sekali,” kata Sunan Kudus.

    Penduduk desa menurut dan Sunan Kudus pun meneruskan perjalanannya ke Pengging.

    Panah sêndarèn

    Sebagai sandi balasan dari bende yang ditabuh biasanya mempergunakan panah api atau panah bersuara [panah yang ujungnya diberi sêndarèn, alat yang dapat mengeluarkan suara bila bergesekan dengan udara].

    Dalam kisah pertempuran antara Pajang dan Mataram dikisahkan:

    “Namun demikian, para prajurit Mataram telah menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit-prajurit pilihan. Dalam jumlah yang jauh lebih kecil, mereka mampu bergeser surut dalam kesatuan yang utuh.

    Demikian pasukan Mataram surut dan turun menyeberangi Kali Opak, maka isyaratpun telah diterbangkan. Panah sêndarèn telah meluncur di langit, mengirimkan perintah kepada mereka yang siap untuk memecahkan bendungan……..”

    Umbul-umbul

    Sebagaimana benda-benda “keramat” lainnya, maka umbul-umbul pun berfungsi sama.

    Di tengah perkebunan Gunung Cikurai, sekitar 15 kilometer sebelah selatan Kota Garut, Mang Iding Solihin, ± 80 tahun, sang kuncen, yang saya kenal, beberapa tahun yang lalu pernah menunjukkan kepada saya beberapa benda yang dikeramatkan seperti keris, bedil, umbul-umbul dan peta kuno, sebuah peta Kerajaan Pajajaran berkain “Boeh Rarang”.
    Benda-benda tersebut disimpan oleh penduduk desa di daerah Gunung Cikurai.

    Dua lipatan kain lusuh seperti kain blacu berupa umbul-umbul yang sudah sangat rapuh, Di masa silam, dia berkisah umbul-umbul itu digunakan saat perang Pajajaran melawan Mataram.

    Salah satu bagian dari umbul itu menampilkan gambar prajurit bertanduk dengan kain jumputan merah menyala, gambar “Ciung Wanara”.

    Dan isyarat yang Mang Iding sampaikan adalah siapa pun yang ingin menyaksikan umbul-umbul kuno ini, maka pantang memakai baju merah. “Pamali,

    Sangat disayangkan benda-benda tersebut tidak boleh dipinjam (tentunya dengan maksud untuk diteliti sejarahnya, dan bila mempunyai nilai sejarah, maka diupayakan penyelamatannya dari kerapuhan.)

    Cermin

    Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan cermin digunakan sebagai ”senjata perang”. Dalam kronika Cina, dicatat bahwa Temuchin si Jegnghis Khan (kakek Kubilai Khan) di tahun 1167 telah mempergunakan cermin sebagai alat komunikasi dalam beberapa pertempurannya.

    Dalam episode kepulangan Jengghis Khan, setelah memenangkan pertempuran, dia berpesan kepada salah satu panglima perangnya dan petugas sandinya tentang cermin: “Alat perangku yang paling aku handalkan bukanlah pedang, tombak atau panah, tetapi cermin. Tetapi jangan sekali-kali engkau berikan benda ini pada seorang wanita.”

    Nah…..
    Hiks…. hiks….hiks.
    dan….

    Dongeng masih akan berlanjut. Tapi cantrik bayuaji cukupkan dulu dan…..

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nyuwun pangapuntên, kebanyakan bold

      sampun mboten Ki

    • Wedaran kangmas Bayuaji selalu menarik hati. Dados tambah khasanah kulo. Suwun lho kangmas.

  36. Waduh kok nggantung malih to Ki . Menopo sampun wayahe nglokoni kewajiban nggih.

  37. Sudah cukup satu jilid
    monggo pindah ke gandok HLHLP K-02 yang sudah dibuat Ki Arema semalam.

  38. boyongan

  39. golek gandok anyar rung ketemu

  40. ndherek copas hlhlp-119,
    matur nuwun.

  41. Kesasar,alamate palsu po yo? Kang Mbleh, tulong. menopo njenengan pirso,alamatipun hlhlp -118-119…judeg ki.kadung mbekok j.

  42. Nwn Kang Putut Risang infonipun.hananging kulo tesih penasaran… h,,,, sak lajengipun? dos pundi? nunal nunul nganti keju drijine,ora… ketemu2.cen wis tuoki yo griyak2.ning semangat.ngaaattt…

  43. Waduhh… tesmakku ning ndi yo ? mripatki wis kriyap kriyep j.tonjo nnannn…tp namung ngaturaken….Agunging panuwun kagen Kang P R utawi Kang P Satpam.

  44. Ini terusannya mana ya ki..?

    • silahkan baca di petunjuk yang pernah dituliskan di atas: On 12 Mei 2015 at 10:12 P. Satpam said:

      • Maturnuwun ki.satpam , salam sehat slalu buat ki.satpam

        • Baru sekali ini baca HLHLP 119…

          Memang luar biasa Ki Kompor yang kemudian diberi gelar sendiri abiseka Ki Sandikala..

          Saya baca ulang 2x karya Ki Dalang bener2 merupakan “Masterpiece”..👍👍👍

          Beberapa penggemar karya maestro Ki SHM mencoba teruskan ADBM, tapi tak beranjak jauh dari seputar Menoreh. Bahkan hidupkan tokoh2 yang udah mati…😜

          Ada lagi yang bikin tokoh2 bisa terbang ..💤 Tapi Ki Sandikala bener2 sang Maestro malah melebihi Ki SHM, dengan pengembaraan tokoh2nya ke Sumatra, Pasundan, Bali dll👍👍👍

  45. Apa mungkin ada lanjutan keperguruan
    Windu jati pak dalang saya jadi penasaran ingin tau kisah hlhlp dgn putra mahkotanya cantrik ngnteni obahe
    pak dalang…. nuwun…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: