HLHLP-119

bagian 2.

Banyak hal dibicarakan oleh mereka berlima, akhirnya pembicaraan menjadi begitu menegangkan manakala membahas rencana rahasia yang dibebankan Sri Maharaja kepada Arya Kuda Cemani.

“Kehadiran Mahisa Murti memberiku ilham yang lebih sempurna”, berkata Mahendra sambil menjelaskan rancangan rencananya.

“Luar biasa!!”, berkata Arya Kuda Cemani kagum dengan rancangan rencana Mahendra.

“Pada waktu kami muda dulu, Mahisa Agni seorang pemuda yang berotak encer, dialah perancang dari semua tindakan kami, sampai runtuhnya Srimaharaja Amurwabumi”, berkata Mahendra mengenang kehidupan dan petualangannya.

“Kegiatan yang akan kita lakukan ini sangat berbahaya”, berkata Arya Kuda Cemani.

“Demi kemulian dan ketentraman tanah Singasari, kami sekeluarga rela melakukan segalanya”, berkata Mahendra mewakili anak-anaknya.

“Kapan kita tetapkan dan laporkan kepada Sri Maharaja mengenai rencana ini?”, bertanya Arya Kuda Cemani.

“Setelah Mahisa Murti melamar gadis pilihannya”, berkata Mahendra sambil melirik Mahisa Murti.

Dan pembicaraan pun semakin hangat, ada saja yang dapat mereka bicarakan. Terutama beberapa hal sepanjang perpisahan mereka selama ini.

“Aku dan Mahisa Pukat mohon pamit, kasihan Sasi dan ibunya tentu bertanya-tanya”, berkata Arya Kuda Cemani.

“Salamku untuk Sasi, maaf tidak sempat berkunjung ke rumahmu, besok pagi kami harus segera berangkat”, berkata Mahisa Murti mengantar Mahisa Pukat dan ayah Mertuanya meninggalkan kediaman Mahendra.

Pagi itu tanah basah tersiram gerimis sepanjang malam. Tiga ekor kuda berpacu keluar dari gerbang Kota Raja. Mereka adalah Mahisa Murti, Wantilan dan Mahendra. Dua pasang mata mengikuti kepergian mereka sampai jauh ditelan kegelapan pagi. Mahisa Pukat dan Kuda Arya Cemani kembali ke Istana setelah mengantar mereka sampai di gerbang Kota Raja.

Mahendra memang sudah nampak tua, terlihat dari kerut wajah dan warna putih rambutnya. Tapi bila telah menjejakkan kakinya diatas kuda, membelah padang ilalang, mendaki bukit terjal, atau mencium aroma tanah basah hutan belantara, jiwanya kembali muda. Menghirup udara langsung di alam bebas di sepanjang hijaunya lembah pegunungan membuat semangatnya kembali seperti seorang pemuda. Inilah Mahendra tua, sahabat Witantra dan Mahisa Agni, para penjaga kemuliaan tanah Singasari.

Dalam perjalanan ke Pedepokan Bajra Seta, kali ini mereka tidak terhambat oleh masalah apapun sebagaimana selalu terjadi dalam petualangan dan pengembaraan mereka. Setelah menempuh beberapa hari perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di Padepokan Bajra Seta.

Seisi Padepokan Bajra Seta menyambut gembira kedatangan mereka.

Setetah bersih-bersih diri dan beristirahat, beberapa cantrik juga Mahisa Amping sibuk bertanya kepada Wantilan tentang perjalannya.

“Aku sering tertinggal dengan laju kuda Mahisa Murti”, berkata Wantilan tersenyum sambil beberapa kali bermain menyentuh ujung hidungnya dengan telunjuknya. Dan Mahisa Amping ikut tersenyum mengerti apa yang disampaikan Wantilan, karena ia pun mengalami hal yang sama dalam perjalanan pulang dari Padepokan Renapati pekan lalu.

“Bila semua sudah disiapkan, besok pagi kita berangkat ke Padepokan Renapati”, berkata Mahisa Murti ketika mereka tengah berkumpul di Pendapa.

Hari memang kadang seperti dapat berlari cepat, tapi kadang begitu lambat seperti ciput menapaki batang padi.

Mahisa Murti sepertinya ingin hari menjadi cepat pagi. Di pembaringannya, malam sepertinya menggodanya, menapaki dan menyelimuti kegelapan tanpa mau melepasnya. Denging suara binatang malam begitu panjang dalam nada irama ajeg yang menjemukan.

Tetapi, pagi akhirnya datang juga.

Pagi itu serombongan berkuda nampak meninggalkan Padepokan Bajra Seta. Mahisa Murti, Mahisa Semu, Mahisa Amping, Wantilan dan Mahendra berada di muka rombongan. Mengikuti di belakang mereka beberapa cantrik juga beberapa orang warga Pedukuhan terdekat.

Dari beberapa bingkisan yang mereka bawa menjadi pertanda bahwa rombongan ini adalah iring-iringan keluarga yang akan datang melamar seorang gadis.

Dan senja pun telah mewarnai langit dalam warna kelabu, rombongan ini telah sampai di depan gerbang Padepokan Renapati.

“Kalian datang terlambat”, berkata Kiai Wijang kepada Mahisa Murti yang menyambutnya di pintu gerbang Padepokan.

Apa yang dikatakan Kiai Wijang memang tidak dapat dipungkiri. Di pendapa, berkumpul rombongan bangsawan dari Kediri. Bangsawan itu adalah putra dari Pangeran Gaco Bahari yang bernama Raden Tohmangku, seorang keluarga bangsawan di Kediri yang sangat dihormati. Tapi mempunyai kesenangan yang aneh, mengumpulkan banyak selir dari berbagai daerah. Kebanyakan para selirnya itu tidak dibawanya ke Kediri, beberapa masih sering dikunjungi, namun beberapa lagi sepertinya telah dilupakan begitu saja.

“Bukan maksud kami menolak pinangan ini, anak gadis kami teluh mempunyai pilihannya sendiri”, berkata Empu Renapati dengan ramah dan penuh kehormatan.

Seperti wajah tersiram air panas, bukan main kaget dan kecewanya mendengar perkataan dari Empu Renapati. Tidak pernah satu pun ada orang yang berani menolak lamarannya. Tidak mengira, di Padepokan yang begitu jauh dari Kota Raja, ada orang yang tidak bergeming dengan kedudukan dan hartanya.

“Empu jangan mempermainkan kami, pekan lalu aku sudah mengutus seorang utusan, pada saat itu anak gadis empu belum punya seorang pilihan”, berkata Raden Tohmangku merasa dipermainkan.

“Aku berkata dengan sebenarnya”, kembali Empu Renapati berkata dengan masih santun.

“Aku ingin mengenal siapa lelaki yang menjadi pilihan anak gadismu”, berkata Raden Tohmangku.

“Untuk Apa Raden ingin mengenal lelaki pilihan anak gadis kami?”, berkata Empu Renapati sambil mengerutkan keningnya.

“Aku ingin mengenalnya, apakah ia benar-benar seorang laki-laki”, berkata Raden Tohmangku dengan kasar, keras dan sepertinya tidak menghargai Empu Renapati di hadapannya.

Bergejolak perasaan marah di hati Empu Renapati, tapi sebagai seorang tuan rumah, ia berusaha mengendalikan perasaannya.

“Aku lelaki yang telah menjadi pilihan anak gadis Empu Renapati”, tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata lantang dari luar pendapa setelah dengan tidak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Raden Tohmangku.

Mahendra sendiri merasa kaget, tiba-tiba saja anaknya Mahisa Murti berkata lantang seperti itu. Dan ia belum dapat memastikan apa yang akan terjadi.

Raden Tohmangku menoleh dan melihat Mahisa Murti. Segera berdiri dan turun dari pendapa mendekati Mahisa Murti.

“Ternyata engkau lelaki pilihan itu?”, berkata Raden Tohmangku memperhatikan Mahisa Murti dari bawah sampai keatas rambut.

“Apakah engkau seorang laki-laki tulen?”, berkata Raden Tohmangku sambil menatap pandangan mata Mahisa Murti. Dan ternyata Mahisa Murti membalas tatapan mata itu dengan tidak sedikitpun ada rasa gentar di dalam hatinya.

“Luar biasa!!”, berkata Raden Tohmangku.

“Ternyata lelaki pilihan ini memang seorang lelaki”, berkata Raden Tohmangku yang agak gentar melihat dan mengadu diri lewat pandangan mata Mahisa Murti yang begitu tajam, tidak mengenal takut sedikitpun.

“Aku belum yakin bahwa ki sanak benar-benar seorang lelaki sebelum mencoba sejurus dua jurus, mari kita buktikan”, berkata Raden Tohmangku mengajak Mahisa Murti mencari tempat yang lebih lapang.

“Bersiaplah”, berkata Raden Tohmangku setelah berhenti ditempat yang dianggapnya cukup luas.

Mahisa Murti tidak pernah meremehkan lawannya, dengan penuh kesiagaan ia telah mempersiapkan dirinya, terutama kepasrahan kepada Sang Hyang Tunggal, mempersatukan segala kekuatan dan nalar budinya.

“Apa benar kau seorang lelaki”, berkata Raden Tohmangku sambil menerjang dengan sebuah tendangan yang meluncur datang begitu cepat.

Dengan tenang Mahisa Murti bergeser memiringkan tubuhnya, dan tendangan itupun lolos tidak mendapatkan sasarannya. Menyadari serangan pertamanya telah dipatahkan, Raden Tohmangku kembali menyerang dengan tangan langsung menghunjam kepala Mahisa Murti, dan kembali Mahisa murti mengelak dengan sedikit menunduk. Begitu serangan keduanya gagal lagi, kembali Raden Tohmangku menyerang perut Mahisa Murti dengan siku kakinya. Dengan cepat Mahisa Murti mundur lompat ke belakang satu langkah. Geram sekali Tohmangku mendapatkan lawan yang dapat dengan mudah mematahkan serangannya yang dilakukannya dengan begitu cepat dan tenaga yang kuat.

Kembali Raden Tohmangku melakukan serangan-serangan yang semakin berbahaya, namun selalu Mahisa Murti dapat lolos keluar dari serangannya.

Perkelahian pun terus berlanjut, semakin sengit.

Mahendra yang melihat perkelahian itu menarik nafas lega. Sebagai seorang ahli kanuragan, dalam beberapa jurus saja ia dapat menilai, bahwa Mahisa Murti berada jauh di atas lawannya. Namun ia kaget dengan gerakan-gerakan yang dilakukan Mahisa Murti, meski masih ada warna dasar yang sama dari aliran perguruannya dimana ialah yang pertama kali membentuk Mahisa Murti. Tapi yang diperlihatkan oleh Mahisa Murti membuat dirinya terpesona.

“Mahisa Murti telah menyempurnakan pokok dasar ilmunya dengan begitu halus dan sempurna”, berkata Mahendra dalam hati sambil terus memperhatikan perkelahian sepertinya tanpa berkedip sedikitpun.

Perkelahian mash terus berlangsung dan semangkin seru. Raden Tohmangku menjadi semangkin penasaran bahwa serangannya selalu dapat dihindari. Setapak demi setapak ilmunya pun terus ditingkatkan, namun masih saja Mahisa Murti dapat begitu lincar keluar dari serangannya. Tidak terasa puluhan jurus pun telah berlalu.

“Lihat seranganku!!”, berkata Mahisa Murti sambil menerjang meluncur dengan sebuah kakinya.

Bukan main kagetnya Raden Tohmangku. Ia melihat Mahisa Murti menendang dengan gaya yang sama dengan jurusnya.Namun dirasakan lebih cepat dan lebih bertenaga yang dapat dirasakan lewat angin yang mendahului serangannya. Maka dengan sigap Raden Tohmangku memiringkan tubuhnya, hapal betul bagaimana seharusnya berhindar dari jurus yang memang sangat dikenalnya. Dan bukan main kagetnya, Mahisa Murti kembali menyerangnya dengan jurus yang begitu dikenalnya sebagai aliran perguruannya namun lebih sempurna.

Maka seperti tengah berlatih, Mahisa Murti dan Raden Tohmangku bertarung dengan jurus dan aliran yang sama. Dan perkelahian pun seperti menjadi begitu seru.

“Baru kali ini aku melihat kakang Mahisa Murti melakukan gerakan-gerakan itu”, berkata Mahisa Amping disamping Mahisa Semu yang juga merasa aneh dengan gerakan jurus Mahisa Murti yang bukan dari perguruannya.

“Mahisa Murti telah menemukan dasar pokok inti kanuragan, sebagaimana Mahisa Agni”, berkata Mahendra dalam hati terkagum melihat perkembangan ilmu Mahisa Murti.

“Aku tidak melihat perkembangan ilmu Mahisa Pukat seperti apa yang telah dimiliki saat ini oleh Mahisa Murti”, terlintas dalam ingatan Mahendra akan putranya yang lain yang telah menjadi abdi dalem istana.

“Mahisa Murti bahkan telah melampaui ilmu kanuragan kakaknya Mahisa Bungalan”, kembali Mahendra membandingkan ilmu putra-putranya.

Dan perkelahian pun masih terus berlangsung semangkin seru dan sengit. Dengan jurus milik Raden Tohmangku, Mahisa Murti menyerang dan bertahan hingga pada akhirnya Raden Tohmangku semakin kehabisan tenaga, sedikit kelambatan dalam mengelak sebuah tendangan yang begitu deras meluncur begitu cepat menerjang dadanya. Dengan cepat Mahisa Murti mengurangi tenaganya, namun tendangan itu tetap tidak dapat dihindari lagi oleh Raden Tohmangku.

“Bless…!! sebuah tendangan menghantam dadanya. Raden Tohmangku tersuruk mundur dan terjatuh duduk di atas tanah. Dan Mahisa Murti tidak segera mengejar dan menyerangnya.

Raden Tohmangku merasakan sesak pada dadanya, berusaha bangkit dengan bibir mengatup menahan rasa sakitnya.

“Cukup!!”, seorang tua seumur Mahendra datang menghampiri Raden Tohmangku.

“Raden tidak akan dapat mengalahkan anak muda itu”, berkata orang tua itu sambil membantu Raden Tohmangku berdiri.

“Terima kasih anak muda, Ki sanak tidak menciderai muridku ini, juga pemecahan kesempurnaan jurus-jurus perguruan kami” berkata orang tua itu memberi hormat kepada Mahisa Murti.

“Kami mohon diri” berkata orang tua yang mengaku Guru dari Raden Tohmangku yang dikuti beberapa orang yang datang bersamanya meninggalkan Padepokan Renapati.

Setelah rombongan Raden Tohmangku tidak terlihat lagi, rombongan Mahisa Murti dipersilahkan naik ke Pendapa. Sementara itu, hari sudah menjadi semangkin malam.

Mahendra mewakili putranya, menyampaikan maksud dan tujuannya datang di Padepokan Renapati, yaitu untuk melamar Padmita.

“Atas nama tuan rumah, sebelumnya kami mohon maaf atas peristiwa yang baru saja terjadi. Sementara itu, rombongan Mahisa Murti memang sudah kami nantikan, dengan tulus kami menerima lamaran ini”, berkata Empu Renapati yang disambut lega semua yang hadir pada saat itu.

Minuman hangat serta beberapa hidangan yang disediakan telah melengkapi kegembiraan mereka.

Padmita dan beberapa orang cantrik begitu sibuk menyiapkan makanan dan minuman untuk tamunya.

Dan suasana pun menjadi begitu ceria, sepertinya ketegangan yang baru saja terjadi tidak pernah ada, sepertinya sudah terlupakan.

Akhirnya disepakati, peresmian pernikahan Mahisa Murti dan Padmita akan dilangsungkan pada purnama bulan depan.

****

Pada malam itu juga, rombongan Mahisa Murti kembali ke Padepokan Bajra Seta. Di tengah perjalanan beberapa orang berbincang tentang berbagai hal, antara lain tentang jamuan dari pihak tuan rumah benar-benar sangat mengesankan terutama sajian gurame bumbu asam manisnya.

“Berani bumbu”, berkata seorang yang berperut buncit.

“Tidak denganku, gara-gara terlalu lahap, tidak terasa ada tulang menyangkut di tenggorokan ini”, berkata seorang tua yang berbadan tinggi tegap yang biasa di panggil Ki Yudha.

“Ki Yudha sudah mencoba menelan dengan sekepal nasi putih?”, berkata orang yang berperut buncit.

“Sudah kucoba, bahkan dengan dua kepal nasi putih”, berkata Ki Yudha

Mahendra yang mendengar perbincangan itu mendekati Ki Yudha. Kemudian bercerita bahwa di tanah kelahirannya di jaman kakeknya dulu ada seorang dukun sakti, beliau dapat menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk penyakit ketulangan. Untuk penyakit ketulangan, beliau berpesan tidak perlu ke rumahnya, cukup menyebut namanya, dijamin sembuh. Dan sampai hari ini, orang-orang di tanah kelahirannya, bila ketulangan cukup memanggil nama dukun sakti itu.

“Siapa nama dukun sakti itu?”, berkata penasaran Ki Yudha.

“Ki Bancak”, berkata Mahendra.

Ki Yudha begitu yakin dengan ceritera Mahendra, maka dengan lantang dia berteriak keras,

“Ki Bancakkk… !!!!”

Ajaib, tulang di tenggorokan Ki Yudha terasa hilang.

“Terima kasih Ki Mahendra”, berkata Ki Yudha

Mahendra tersenyum memandang Ki Yudha yang Nampak begitu lega dan gembira.

Ketika Mahendra beriring dengan Mahisa Amping, anak yang mulai remaja itupun berbisik kepada Mahendra.

“Cerita mengenai dukun sakti itu, apakah benar adanya?”, bertanya Mahisa Amping.

“Aku baru saja mengarangnya”, berbisik pula Mahendra yang dijawab dengan anggukan kepala dan senyum penuh arti dari Mahisa Amping.

“Oh..”, Cuma itu yang terucap dari mulut Mahisa Amping

Ketika semburat cahaya merah menebar di cakrawala,

rombongan Mahisa Murti telah sampai di Padepokan Bajra Seta.

Sementara itu, di Kediri, di dalam sebuah bangunan rumah yang megah. Pangeran Gaco Bahari telah mendengar apa yang terjadi dengan putranya Raden Tohmangku.

“Ternyata, Tohmangku sama bodohnya dengan Kolor Ijo”, berkata Pangeran Gaco Bahari penuh kemarahan.

“Ampun tuanku, Apakah kita tidak bisa menggeser daerah sasaran kita?”, bertanya orang kepercayaannya itu yang baru saja melaporkan apa yang terjadi di Padepokan Renapati.

“Tidak mungkin”, berkata Pangerang Gaco Bahari masih dalam kemarahan. “Daerah itu begitu berarti bagi awal perjuangan kita menghancurkan Singasari”.

Orang kepercayaannya Pangeran Gaco Bahari semakin menundukkan kepalanya. Sebagai orang yang dipercaya, ia paham betul betapa berartinya daerah sekitar Kabuyutan Pudaklamatan. Pertama, sebagai basis gudang pangan dan basis kekuatan pertahanan induk prajurit, karena jaraknya yang tidak begitu jauh dari Singasari. Yang kedua, rencana Pangeran Gaco Bahari yang mempunyai keahlian dalam perencanaan peperangan, bahwa kekuatannya tidak langsung memukul Singasari ke pusat kerajaannya Kota Raja, pukulan pertamanya adalah melumpuhkan urat nadi perdagangan lawan dengan menguasai Sungai Brantas sebagai urat nadi hubungan Singasari ke dunia luar. Dari daerah sekitar Pudaklamatan inilah segalanya dimulai.

Orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari masih menundukkan kepalanya, ada rasa iba dihatinya terhadap junjungannya ini, begitu banyak biaya dan usaha telah dilakukan, dan kegagalan demi kegagalan selalu datang silih berganti. Dan pangeran Gaco Bahari tidak pernah sedikit pun pantang surut untuk mundur setapak pun.

Sementara itu, di tempat yang lain, setelah sehari penuh beristirahat di Padepokan Bajra Seta, Mahendra bermaksud kembali ke Singasari.

“Permainan dimulai hari ini”, berkata Mahendra sambil memeluk erat putranya. Dan Mahisa Murti paham betul apa yang dikatakan Ayahnya, sebuah awal rencana menebarkan umpan agar musuh keluar dari sarangnya.

Mahisa Semu dan Wantilan yang akan menemani perjalanan Mahendra ke Singasari.

“Kutitipkan ayahku pada kalian”, berkata Mahisa Murti kepada Mahisa Semu dan Wantilan.

Setelah berpamitan dengan seisi Padepokan Bajra Seta, Mahendra, Mahisa Semu dan Wantilan segera meloncat ke punggung kudanya. Memacu kudanya keluar pintu gerbang Padepokan Bajra Seta.

“Hari masih begitu pagi”, berkata Mahendra kepada Mahisa Semu dan Wantilan penuh semangat ketika mereka masih tidak begitu jauh meninggalkan Padepokan Bajra Seta.

Dan mereka pun semakin jauh meninggalkan Padepokan Bajra Seta.

Sementara itu di Istana Singasari, Arya Kuda Cemani tengah menghadap Sri Maharaja, melaporkan beberapa rencananya bersama Mahendra.

“Aku menghargai dan merestui”berkata Sri Maharaja.

“Restu tuanku adalah anugerah”, berkata Arya Kuda Cemani penuh hormat yang selanjutnya mohon pamit untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan.

Dan waktu pun terus berputar menggulung hari demi hari.

Di kota Raja saat itu tengah memasuki awal musim penghujan, petani menyambutnya sebagai awal mengolah dan membajak tanahnya yang basah. Dipersawahan yang luas, nampak beberapa petani dengan semangat tengah mengayuh cangkulnya. Pemandangan inilah yang dilihat oleh Mahendra, Mahisa Semu dan Wantilan ketika mereka memasuki daerah Singasari.

Mereka tidak langsung ke Istana, melainkan singgah di suatu tempat di sebuah gubuk. Seorang petugas sandi yang sudah dikenal Mahendra menyambutnya.

“Terima kasih”, berkata Mahendra ketika Petugas sandi itu menyediakan mereka minuman hangat dan beberapa potong hidangan.

“Di belakang, kami sudah menyiapkan seekor kuda”, berkata petugas sandi itu

“Terima kasih”, berkata Mahendra kagum kepada Arya Kuda Cemani yang begitu cepat mengatur segalanya.

Sore itu, setelah beristirahat cukup, Mahendra meninggalkan Mahisa Semu dan Wantilan. Mahendra singgah di rumah Arya Kuda Cemani. Mahisa Pukat yang tinggal serumah dengan mertuanya, baru pulang dari tugasnya di Istana.

Lama mereka memperbincangkan beberapa hal penting sampai tidak ada lagi yang dibicarakan, dan tidak ada sekecil apapun yang terlupakan.

Hari masih belum begitu malam ketika Mahendra mohon diri kembali ke Istana.

“Mataku sudah menjadi begitu kantuk”, berkata Mahendra kepada seorang pembantu yang bertugas di rumahnya sambil menyerahkan tali kekang kudanya.

“Ki Mahendra tidak makan dulu?”, berkata pembantunya.

“Terima kasih, aku sudah makan di rumah seorang kerabatku”, berkata Mahendra.

Malam semangkin larut, semangkin pekat dan semangkin kelam. Titik-titik cahaya lampu oncor yang dipasang disudut taman istana lidahnya menari gemulai ditiup angin. Malam menyelimuti istana Singasari, menidurkan penghuninya bersama mimpi-mimpinya.

Bunyi suara kentongan nada dara muluk terdengar. Dan sesosok bayangan tengah mengendap-endap mendekati bangunan bangsal pusaka istana.

Sosok bayangan itu sebentar berdiri tepat di bawah wuwungan bangunan bangsal pusaka. Tanpa terlihat kapan dan bagaimana menjejakkan kakinya, sosok bayangan itu sudah melenting hinggap di atas atap bangunan bangsal pusaka. Di tempat yang terlindung, tanpa suara tangannya telah mencungkil beberapa kayu sirap. Dalam sekejab, bayangan itu pun telah menghilang meluncur ke dalam bangunan bangsal pusaka.

Suara kokok ayam jago pertama, adalah sebuah pertanda.

“Kamu sudah melihatnya masuk?”, bertanya seorang prajurit pengawal istana istana yang malam itu bertugas menjaga bangsal pusaka kepada kawannya.

“Aku tidak melihat apapun”, berkata kawannya.

“Tugas kita cuma menunggu pertanda dari dalam”, berkata kawannya yang pertama.

Dan yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Ada Suara tiga kali ketukan pintu dari dalam. Dan mereka sudah mengerti apa yang harus dilakukan.

Seorang prajurit pengawal istana berlari mendekati kentongan yang tergantung disudut bangsal pusaka.

Sementara itu kawannya membuka pintu bangsal pusaka. Ketika pintu sudah terbuka, berdiri seorang tua yang tersenyum memandangnya.

Prajurit pengawal istana ini pun tahu apa yang harus dikatakannya, dengan lantang ia berteriak,

“Maling…….!!”.

Dan pada saat yang bersamaan, kawannya telah memukul kentongan tanda bahaya. Suara tanda bahaya itu terdengar jelas oleh beberapa prajurit yang ada di gardu penjaga, maka suara kentonganpun seperti berantai, bahkan sampai jauh keluar istana.

Akhirnya dalam sekejap beberapa prajurit telah memenuhi bangsal pusaka istana tempat pertama kali pertanda itu berbunyi, menutup semua jalan keluar.

“Maaf”, berkata orang bertopeng itu melempar prajurit pengawal Istana yang pertama kali dilihatnya. Tapi gelombang prajurit datang seperti air bah, mengepungnya hingga tidak ada celah sedikit pun. Dan orang bertopeng itu memang luar biasa, seperti menyapu daun di halaman, kepungan prajurit menyeruak dan terlempar, siapa pun yang berani mendekatinya. Namun tidak ada yang terluka, cuma sekekar luka ringan.

“Berhenti!!”, ada suara penuh wibawa.

Semua prajurit bergeser membentuk lingkaran, namun tetap dalam kewaspadaan.

Dan orang bertopeng itu diam mematung memandang arah suara.

“Keris Empu Gandring!”, berkata orang yang bersuara penuh wibawa yang tidak lain adalah Sri Maharaja sendiri.

Kata-kata Sri Maharaja membuat semua mata yang ada disitu semua tertuju pada sebuah keris di tangan orang bertopeng itu. Ternyata benar bahwa keris itu adalah keris Empu Gandring yang penuh kramat dan menyimpan banyak duka. Bentuk keris itu panjangnya memang lain dari kebanyakan keris pada umumnya. Namun yang menarik perhatian adalah gagang keris itu sendiri yang terbuat dalam ukiran kayu yang kasar dan kurang mengenal daya seni pada umumnya. Namun perbawa keris telanjang itu memang luar biasa.

“Ampun tuanku, aku ingin menyelamatkan Singasari dari malapetaka. Keris ini akan kularung di lautan, agar bala tidak akan terjadi lagi”, berkata orang bertopeng itu.

“Bohong, kamu ingin memilikinya sendiri”, berkata Sri Maharaja.

“Biar aku yang memaksa melepas topengnya”, berkata Mahisa Pukat yang tiba-tiba saja sudah hadir di tempat itu.

“Kamu tidak perlu memaksaku melepas topeng ini”, berkata orang bertopeng itu sambil melepas kain penutup wajahnya

“Ki Mahendra”, beberapa prajurit yang sangat mengenalnya tidak sadar berteriak menyebut namanya.

“Ayah!!”, Mahisa Pukat ikut berteriak.

Dan suasana seketika seperti hening tidak tahu apa yang harus dilakukan.

“Serahkan keris itu, dan biarlah aku akan memohon ampunan untukmu kepada tuanku Sri Maharaja”, tiba-tiba Mahisa Pukat berkata lantang.

“Aku tidak akan menyerahkan keris ini, dan kamu tidak perlu memintakan ampun untukku”, berkata Mahendra tidak kalah lantangnya.

“Aku akan memaksa”, berkata Mahisa Pukat sambil menerjang Mahendra.

“Srett…!!, sebuah goresan menyilang bahu kiri Mahisa Pukat, bukan main kagetnya semua orang yang menyaksikan apa yang dilakukan Mahendra, begitu cepat dan tidak tahu bagaimana caranya.

“Lihatlah”, berkata Mahendra sambil mengangkat keris Empu gandring, “kekuatan racun keris ini senilai bisa ular bandotan yang paling keras”. Kembali Mahendra berkata.

Sementara itu Mahisa Pukat seperti mematung memegang lukanya, kemudian seperti limbung dan jatuh ke tanah. Arya Kuda Cemani mengangkat tubuh Mahisa Pukat membawanya menyingkir.

“Aku telah melukai putraku, siapapun yang mendekat akan terluka dengan keris ini”, berkata Mahendra masih dengan lantang sambil terus maju selangkah demi selangkah. Prajurit yang terdekat langsung menyibak memberi jalan. Rasa takut begitu besar ditambah dengan kebimbangan apa yang harus dilakukan. Mereka sepertinya menunggu perintah.

“Kepung dan jangan sampai lolos”, berkata Sri Maharaja mengerti apa yang inginkan prajuritnya.

Maka, dalam sekejap Mahendra sudah terkepung, ratusan pedang dan tombak mengancamnya. Dan kembali Mahendra memukul mundur siapa pun yang mendekatinya, seperti menyapu daun-daun kering dihalaman. Ternyata Mahendra menuju ke sebuah pagar dinding istana. Tidak tahu bagaimana dan kapan menjejakkan kakinya, Mahendra melenting ke atas dan hinggap sebentar di dinding pagar istana, setelah itu dengan sebuah ayunan meluncur menghilang terhalang pagar dinding istana.

Maka beberapa prajurit segera berlari lewat pintu gerbang istana. Mereka terlambat, karena di balik dinding istana, dua orang dengan tiga ekor kuda menanti kedatangan Mahendra.

Dan tiga ekor kuda berpacu meninggalkan Istana. Telah diatur semuanya oleh Arya kuda Cemani, setiap kali menemui perempatan jalan, tiga orang petugas sandi dengan tiga ekor kuda telah menunggunya, memacu kudanya kearah berlawanan.

Dan apa yang dilakukan orang orang berkuda yang memacu arah kudanya berlawanan arah dengan Mahendra, wantilan dan Mahisa Semu itu ternyata berbuah, beberapa prajurit yang kemudian mengejarnya, telah kehilangan jejak.

“Gila, ada dua arah yang berbeda!!”, berkata seorang prajurit yang bingung tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Tiga ekor kuda berpacu terus menjauhi kota raja, membelah padang ilalang, mengarungi hijaunya lembah dan pegunungan, mendaki bukit-bukit terjal, atau masuk ditelan kelamnya hutan.

Sementara itu, Arya Kuda Cemani membawa tubuh Mahisa Pukat yang pingsan kerumahnya. Meski telah mengetahui bahwa Mahisa Pukat kebal terhadap segala racun, masih juga Arya Kuda Cemani khawatir, “apakah Mahisa Pukat mampu terlepas dari kekuatan racun keris Empu Gandring yang terkenal begitu keras?”, bertanya Arya Kuda kepada dirinya sendiri.

Arya Kuda Cemani bernapas lega, manakala Mahisa Pukat membukakan matanya, dan tersenyum memandangnya.

“Aku kira kamu benar sekarat”, berkata Arya Kuda Cemani kepada Mahisa Pukat.

”Jangan keluar rumah dulu, aku ingin melihat beberapa kemungkinan sebagai bahan apa yang harus kita lakukan”, berkata Arya Kuda Cemani.

Dan kepada Sasi dan ibunya, yang mengetahui serba sedikit apa sebenarnya yang terjadi saat itu meminta keduanya agar tidak menjadi begitu cemas.

Arya Kuda Cemani mendapat laporan dari petugas sandinya, bahwa apa yang dilakukan Mahendra telah menjadi perbincangan yang hangat. Hampir setiap orang memperbincangkannya, di pasar, di dalam kedai-kedai dan dimanapun di seluruh pelosok nagari. Sebagian besar menyayangkan perilaku Mahendra, namun ada juga yang membelanya, bahwa tindakan Mahendra untuk menyelamatkan Nagari dari kutuk Empu Gandring.

Dan gaung cerita Mahendra membawa lari keris Empu Gandring telah tersebar ke seluruh nagari, juga tertangkap oleh beberapa petugas sandi yang dibiayai oleh beberapa bangsawan Kediri yang masih tetap tidak mengakui keberadaan Singasari.

“Kita harus memanfaatkan situasi ini”, berkata Pangeran Gaco Bahari kepada orang kepercayaannya.

“Ampun tuanku, apa yang dapat hamba lakukan”, berkata orang kepercayaannya.

“Pasang mata di semua tempat, kita harus secepatnya mengetahui dimana Mahendra berada”, berkata Pangeran Gaco Bahari penuh semangat, sepertinya siasatnya kali ini tidak akan menemui kegagalan lagi.

Sementara itu, di lingkungan istana, banyak yang bertanya kepada Arya Kuda Cemani mengenai keadaan MahisaPukat.

“Berkat lindungan Yang Maha Agung, Mahisa Pukat telah sehat kembali, seorang tabib telah mengeluarkan racun yang nyaris membunuhnya”, berkata Arya Kuda Cemani kepada Tumenggung Honggopati, seorang Tumenggung yang belum lama bertugas di Istana Singasari, namun sangat dekat dan mengenal Mahisa Pukat ketika beliau masih sebagai Senapati memberantas beberapa pemberontakan.

“Aku akan mengusulkan kepada Sri Maharaja, agar Mahisa Pukat ditugaskan mencari Mahendra”, berkata Tumenggung Honggopati.

“Sebuah usulan yang bagus, aku turut mendukung”, berkata Arya Kuda Cemani.

Di hari Paseban raya, dimana saat itu berkumpul para pembesar nagari menghadap Sri Maharaja, Tumenggung Honggopati menyampaikan usulannya agar menugaskan Mahisa Pukat mencari Mahendra.

“Hari ini juga telah kuputuskan titah kepada Mahisa Pukat, mendapatkan kembali barang pusaka kerajaan keris Empu Gandring”, bersabda Sri Maharaja memutuskan sebuah titahnya.

Pada hari itu juga, Mahisa pukat diminta menghadap Sri Maharaja secara pribadi. Banyak hal yang mereka bicarakan terutama beberapa hal dalam menghadapi perkembangan yang terus berkembang.

“Paman Mahendra adalah umpan yang berjalan, tugasmu mengamankan umpan itu”, berkata Sri Maharaja melepas Mahisa Pukat pulang kerumahnya mempersiapkan diri.

Pagi itu, seekor kuda berlari cepat keluar dari pintu gerbang kota. Penunggang kuda itu adalah Mahisa Pukat. Dengan rancak mengendarai kudanya berlari menyusuri bulak-bulak panjang, membelah kiri kakan hamparan tanah sawah yang terhampar luas di padukuhan-padukuhan sekitar kota raja. Mahisa Pukat tahu betul, kemana arah membawa kudanya berlari. Yang terlintas pertama didalam pikirannya adalah Padepokan Bajra Seta.

Ke arah itulah Mahisa Pukat membawa kudanya berlari.

Sementara itu, Mahendra, Mahisa Pukat dan Wantilan sudah tiba di Padepokan Bajra Seta. Memang agak terlambat karena mereka dengan terpaksa berusaha menghindari jalan-jalan umum. Seisi Padepokan menyambut gembira kedatangan Mahendra. Beberapa pedagang keliling telah membawa berita besar yang menggemparkan istana itu sampai ke Padepokan Bajra Seta,lebih cepat dari kedatangan Mahendra sendiri.

Setelah beristirahat sejenak, juga bersih-bersih diri di pringgitan, Mahendra naik ke pendapa. Mahisa Murti sudah menunggunya disana, layaknya sudah tidak sabar mendengar langsung dari Mahendra. Meskipun kabar burung sudah diketahui sebelumnya.

Mahendra pun akhirnya bercerita, apa yangdilakukannya di Istana Singasari, juga perjalananya sampai di Padepokan Bajra Seta.

“itulah sebabnya aku sampai di Padepokan ini sedikit terlambat”, berkata Mahendra sambil bercerita bagaimana mereka harus jalan melingkar menghindari jalan-jalan umum.

Mahendra menutup ceritanya dengan meneguk segelas wedang jahe hangat yang telah disediakan untuknya. Tatapannya jauh menebus pintu gerbang Padepokan, sejenak menarik napas panjang seperti melepas kelelahan pada dirinya setelah apa yang dilakukannya. Suasana dipendapapun seketika menjadi hening.

“Pastinya nama ayah saat ini telah menjadi pembicaraan yang hangat di se antero nagari”, berkata Mahisa Murti.

“Terkenal sebagai pencuri pusaka istana”, berkata Mahendra datar.

“Pasti banyak orang ingin mengetahui, dimana ayah sekarang”, berkata Mahisa Murti.

“Justru kita sedang mencari, siapa yang mempunyai keingin-tahuan yang paling banyak diantara mereka”, berkata Mahendra.

“Di Padepokan Renapati, ada ular kecil yang sengaja ku pelihara”, berkata Mahisa Murti menceritakan beberapa hal kejadian di Kabuyutan seberang hutan. Yang di maksud dengan ular kecil oleh Mahisa Murti tidak lain yaitu adik Empu Renapati sendiri yang bernama Kolor Ijo.

“satu dua orang cantrik akan kuperintahkan berkunjung ke Padepokan Renapati, disamping menanyakan beberapa persiapan perkawinan kami, sekaligus menyebarkan angin tentang keberadaan ayah”, berkata Mahisa Murti .

“Sebuah usaha yang bagus”, berkata Mahendra kagum kepada putranya Mahisa Murti.

Mahisa Murtipun segera memanggil dua orang cantriknya, memerintahkan untuk berangkat ke Padepokan Renapati melihat beberapa persiapan acara perkawinan.

“Kalian tidak usah terburu-buru kembali, kuizinkan kalian menginap sehari disana. Dan sampaikan salamku pada Empu Renapati, kabarkan juga bahwa ayahku saat ini ada di Padepokan Bajra Seta”, berkata Mahisa Murti kepada dua orang cantriknya yang akan berangkat ke Padepokan Renapati.

“Kami mohon diri, selekasnya kami berangkat”, berkata salah seorang cantriknya sambil pamit mohon diri.

Akhirnya, sesuai dengan perhitungan Mahisa Murti, dua orang cantriknya tiba di Padepokan Renapati di saat senja. Langit sudah berwarna kelabu gelab. Empu Renapati menerima kedatangan mereka. Setelah menceritakan keselamatan masing-masing, dua orang cantriknya pun sesuai yang diperintahkan Mahisa Murti, menyampaikan berita, bahwa Mahendra ada di Padepokan Bajra Seta.

Malam memang semangkin larut. Dua orang cantrik Padepokan Bajra Sera itupun dipersilahkan istirahat. Namun dua orang cantrik Bajra Seta itu orang-orang yang tidah mudah tidur di awal malam. Merekapun telah bergabung dipanggungan dengan beberapa cantrik Padepokan Renapati. Banyak hal dan apa saja dapat mereka bincangkan yang kadang disela dengan tawa yang panjang. Diantara perbincangan inilah berita keberadaan Mahendra diungkapkan.

Akhirnya, berita seperti angin, berhembus kesegala arah.

Akhirnya, berita tentang keberadaan Mahendra didengar oleh Kolor Ijo.

Seperti yang diperhitungkan Mahisa Murti, Kolor Ijo telah memerintahkan orang-orangnya ke Kediri, menyampaikan tentang keberadaan Mahendra.

Dan berita itu telah sampai di kediaman rumah Pangeran Gaco Bahari.

“bersiaplah, aku ingin bertemu Mahendra, langsung tanpa perantara”, berkata Pangeran Gaco Bahari kepada orang kepercayaannya.

“Biasanya, kita mencari perantara”, berkata orang kepercayaannya menjadi ragu.

“Biarlah, kali ini aku terjun langsung”, berkata Pangeran Gaco Bahari merasa yakin, tidak ada yang salah dalam keputusannya.

“Apa yang tuan harapkan dari seorang Mahendra ?”, bertanya orang kepercayaannya ingin tahu siasat apa yang akan dilakukan Pangeran Gaco Bahari.

“Kelak kamu dapat mengerti”, berkata Pangeran Gaco Bahari masih enggan membuka semua siasatnya meski kepada orang kepercayaannya sendiri.

Sementara itu, Mahisa Pukat terus memacu kudanya menuju Padepokan Bajra Seta. Sebuah Padepokan yang dulu pernah di bangun dan di bina bersama kakaknya Mahisa Pukat. Kadang ada juga perasaan bersalah, meski kadang ditutupi dengan kepasrahan diri akan kekuasaan takdir. “Tuhan telah menentukan garis hidupku”, berkata Mahisa Pukat dalam hati.

Mahisa Pukat melihat tidak ada banyak perubahan di sepanjang perjalanannya. Beberapa Padukuhan, pasar desa, sawah ladang serta hutan di sepanjang perjalanannya menuju Padepokan Bajra Seta. Kadang dalam perjalanannya berjumpa dengan beberapa iringan pedati milik para pedagang. Beraneka macam barang yang di bawa oleh para pedagang di dalam pedatinya, bukan cuma kapas, rempah-rempah atau culak badak, kadang yang begitu memilukan hatinya adalah manakala dilihatnya iring-iringan manusia yang diikat berantai, itulah para budak belian.

“Garis hidupkah yang membawa mereka?”, bertanya Mahisa Pukat kepada dirinya sendiri, membayangkan perasaan hati para budak yang berjalan beriring dalam keadaan terikat, dibawah ancaman pedang dan lembing. Mereka harus merelakan berpisah dari keluarga yang dicintai, jauh dari tanah kelahirannya, bekerja keras dan patuh apapun perintah tuannya, nanti. Bekerja di perkebunan luas para bangsawan. Atau sebagai prajurit yang dipaksa berperang.

Manusia menjual manusia, manusia membeli manusia, tuan dan budaknya, kekuasaan dan ketidak berdayaan, demikianlah pikiran Mahisa Pukat terus berputar-putar berusaha memahami mengapa masih ada manusia yang diperjual-belikan.

Mahisa pukat terus memacu kudanya, melupakan beban pikirannya, menembus padang ilalang, menyusuri hijaunya lembah dan hijaunya pegunungan.

Senja masih mewarnai cakrawala ketika kaki kuda Mahisa Pukat berdiri di depan pintu gerbang Padepokan Bajra Seta.

“Ketua!!”, berteriak seorang cantrik sambil melompat dari panggungan membuka gerbang Padepokan.

Seisi Padepokan Bajra Seta menyambut gembira kedatangan Mahisa Pukat. Kehadiran Mahisa Pukat sepertinya membangunkan kembali kenangan-kenangan masa-masa awal berdirinya Padepokan Bajra Seta.

“Selamat datang adik ketua”, berkata Mahisa Murti dengan senyumnya. Dan mereka pun berpelukan erat seperti berusaha membuang sejauh dapat terbuang masa yang memisahkan mereka.

Yang tidak merasa gembira dengan kehadiran Mahisa Pukat, mungkin adalah beberapa ayam jago yang masih bermain mengejar babon-babon muda di halaman. Beberapa cantrik berganti mengejar dan menangkapnya untuk dijadikan hidangan istimewa merayakan kehadiran Mahisa Pukat di padepokan Bajra seta.

Para cantrik ikut berkumpul di pendapa, mereka ingin mendengar cerita Mahisa Pukat. Banyak sekali yang diceritakan Mahisa Pukat, terutama beberapa tugasnya sebagai Abdi Dalem Istana juga sebagai salah satu guru keluarga Istana. Dan suasana berubah menjadi begitu sepi manakala Mahisa Pukat menyinggung tentang iring-iringan para budak belian yang ditemukan di dalam perjalananya menuju Padepokan Bajra Seta.

“Ke arah mana mereka berjalan?”, bertanya Mahendra kepada Mahisa Pukat.

“Aku melihat rombongan mereka menuju arah selatan dari hutan somplak”, berkata Mahisa Pukat berusaha mengingat kembali.

“Dalam perjalananku kemari, aku juga melihat arah yang sama dari rombongan para budak belian”, berkata Mahendra.

“Apakah ini berkaitan dengan hubungan yang menghangat antara Singasari dan Kediri?”, berkata Mahisa Murti mencoba menerka.

“Di dalam pemikiranku, juga pernah terlintas seperti itu”, berkata Mahisa Pukat.

“Aku juga punya pemikiran ke arah itu”, berkata Mahendra ikut memberikan pandangannya.

“Bagaimana bila kita mencoba mencari tahu dimana tujuan akhir mereka”, berkata Mahisa Pukat penuh semangat.

“Suatu waktu dapat kita lakukan, tentunya setelah mengetahui apa dan siapa di balik pengumpulan budak-budak belian yang besar-besaran ini”, berkata Mahendra memberi arahan dan pendapatnya.

“Kita melakukannya secara bersamaan”, kembali Mahisa Pukat berkata penuh semangat.

“Sebuah usulan yang bagus”, berkata Mahendra. “kapan kita dapat memulainya”, kembali Mahendra berkata sambil melirik arah pandangnya kepada Mahisa Murti. Mahendra ingin mendapatkan pertimbangan dari Mahisa Murti yang sebentar lagi akan melangsungkan upacara peresmian perkawinannya.

“Secepatnya”, berkata Mahisa Murti mantap.

Akhirnya, malam itu juga didapat kesepakatan. Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan serta seorang cantrik bernama Arga. Seorang cantrik yang cakap dan dinilai sudah mempunyai kemampuan di atas para cantrik lainnya. Mereka ditugaskan mengungkap dimana lokasi para budak dipusatkan.

Matahari sudah bergeser merayap naik mengintip ujung regol Padepokan Braja Seta. Mahisa Pukat, Mahisa semu, Wantilan dan Arga dengan sigap melompat kepunggung kuda. Rancak langkah kaki kuda meninggalkan gerbang regol Padepokan Bajra Seta.

Warna matahari masih senja kelabu, Mahisa Pukat dan rombongannya telah tiba di pinggir hutan Somplak.

“Kita mencari tempat tersembunyi, agar dapat melihat kedatangan mereka”, berkata Mahisa Pukat.

Akhirnya mereka mendapatkan tempat yang cocok. Mahisa Pukat langsung menjatuhkan badannya bersandar pada pohon besar yang rindang.

“Bangunkan aku”, berkata Mahisa Pukat kepada Arga yang mendapat giliran jaga pertama. Dan sebentar saja terdengar napas berirama dari Mahisa Pukat yang tertidur begitu pulas. Sementara itu Wantilan dan Mahisa Semu disebelahnya bersandar pada pokok dahan yang sama. “mungkin sudah jauh bermimpi”, berkata Arga dalam hati.

Hari sudah menjadi malam. Dan malam itu tidak terjadi apapun. Kerlip bintang-bintang menghiasi langit berwarna biru pekat memayungi hutan Somplak. Kadang ada suara Srigala terdengar jauh membelah kesunyian malam. Atau sesekali suara jerit tikus hutan tertangkap ular. Ranting dan daun dari pohon-pohon tua bergoyang menari ditiup angin dingin malam, seperti raksasa-raksasa besar menakuti anak-anak kecil yang nakal, bergoyang-goyang menyeramkan.

Dan pagipun datang menjelang. Cahaya matahari menembus lewat sela-sela daun dan dahan di hutan somplak yang lebat. Arga adalah orang terakhir yang terbangun di pagi itu.

“Ada kedung kecil di ujung sana, airnya sangat menyegarkan”, berkata Mahisa Pukat kepada Arga sambil menunjuk kearah sebuah pohon beringin besar tidak jauh dari mereka.

Merekapun mempersiapkan diri, menyembunyikan kuda-kuda mereka serta menyiapkan beberapa tali pengikat dari batang-batang rotan kecil yang banyak merayap di Hutan Somplak.

Sementara itu haripun terus bergeser, apa yang mereka tunggu belum juga ada tanda-tandanya.

“Bersiaplah “, berkata Mahisa Pukat yang mempunyai penglihatan dan pendengaran lebih tajam.

Dan benar apa yang dikatakan Mahisa Pukat, dari kejauhan mereka melihat sebuah rombongan berjalan menuju kearah mereka.

Arga dan Wantilan tahu apa yang harus segera dilakukan, dengan sigap Arga mengikat kedua tangan Mahisa Pukat, sementara itu Wantilan mengikat kedua tangan Mahisa Semu. Selanjutnya, Arga mengikat kedua tangan Wantilan.

Mirip begundal kacangan, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan di giring Arga berjalan.

“Berhenti !”, berkata seseorang dari arah rombongan yang berjalan berlawanan arah memberi perintah berhenti kepada Arga dan kawan-kawannya.

“Kenapa kami harus berhenti, bukankah ini jalan umum ?”, berkata Arga maju kemuka tanpa rasa takut sedikit pun.

“Anak muda, berikan budak-budak itu kepada kami, dan kamu aman tidak akan kami ganggu”, berkata orang brewok berbadan tinggi besar.

“Mereka bukan budak, tapi begundal kecil yang akan aku serahkan ke Kademangan di seberang hutan ini”, berkata Arga begitu lantang.

“Kami telah berbaik hati, segera tinggalkan tempat ini sebelum kami berubah pikiran”, berkata dengan keras orang brewok yang mungkin pimpinan mereka yang sepertinya sudah tidak sabaran lagi.

“Kalau aku menolak?”, berkata Arga datar sambil menyentuh gagang pedangnya.

“Kami akan menghabisimu”, berkata si Brewok tidak sabaran mengangkat golok besarnya, bersamaan dengan itu empat kawannya ikut maju mengepung Arga.

“Anak muda bodoh”, berkata si brewok sambil mengayunkan golok besarnya, tidak main-main !!, langsung mengarah kepala Arga.

Wuss….!!, angin dari golok besar menebas tempat kosong beberapa inci dari kapala Arga yang dengan sigap merendahkan kepalanya sekaligus menendang ke samping searah ayunan golok.

Buk…!!, tendangan Arga mendorong si Brewok limbung ke samping.

Empat orang teman si Brewok langsung menyerbu Arga secara bersamaan, dengan terpaksa Arga mengelak dari semua serangan sambil membalas menyerang. Dan si Brewok sudah kembali ikut mengeroyok Arga. Terlihat Arga menjadi begitu sibuk mengelak dari serangan lima orang pengeroyoknya yang tidak pernah putus berhenti.

Sebenarnya Arga merupakan cantrik yang cakap, seorang cantrik yang sudah dapat diandalkan. Penguasaannya dalam memainkan beberapa senjata, serta penguasaan mengendalikan tenaga dan pernapasannya sudah sangat dibanggakan maju pesat melampaui cantrik lain seangkatannya.

Sebenarnya, dengan ilmunya yang mapan Arga masih dapat melayani serangan kelima pengeroyoknya yang beringas dan kasar. Tapi Arga bersikap sebaliknya, dalam satu kesempatan Arga melenting menjauhi pengeroyoknya.

“Kali ini kalian kulepaskan, bawa para begundal ini, aku tidak peduli lagi”, berkata Arga.

“Harusnya sudah kamu katakan sedari tadi”, berkata si Brewok yang masih sangsi apakah dapat mengalahkan Arga meski dengan mengeroyoknya sekaligus berlima. Tapi pikirannya cukup terang mengambil kesempatan selagi Arga menyerah.

“Satukan mereka dengan yang lainnya”, berkata si Brewok memberi perintah. Dan dengan sigap empat orang kawannya membawa Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan menyatukan mereka bersama budak belian yang mereka bawa dalam satu batang bambu panjang.

“Menyingkirlah, kami masih bermurah hati kepadamu”, berkata si Brewok ketika liwat disisi Arga yang tetap berdiri melihat iring-iringan berlalu meninggalkannya.

Ketika merasa tidak ada yang memperhatikannya, rombongan itu dianggapnya sudah menjauh, Arga berlari ke tempat kuda-kuda yang mereka sembunyikan, membuka tali pengikatnya untuk jaga-jaga bila ada harimau mendekat mereka bisa menyelamatkan diri.

Dan untunglah, Arga masih bisa mengejar rombongan dari arah belakang, mengikutinya dari tempat yang jauh dengan sabar dan penuh ketabahan.

Arga terus mengikuti kemanapun iring-iringan itu berjalan, menyusuri padang ilalang panjang. Sekali-kali naik mencari bebatuan yang lebih tinggi agar dapat mencari arah kemana rombongan bergerak.

Selanjutnya, iringan menerobos belukar semak semak.

Karena Arga mengikuti dari jarak yang cukup jauh, sementara belukar dan semak begitu rapat, Arga kehilangan arah. Untunglah tanah basah meninggalkan jejek-jejak kaki mereka. Dari jejak itulah Arga mengikuti mereka.

Selanjutnya, rombongan para budak belian dimana Mahisa Pukat, Mahisa Semu an Wantilan ada didalamnya memasuki sebuah hutan lebat yang lembab karena matahari tidak pernah menembusi dan gerimis membasahinya sepanjang tahun. Air mengalir sebagai tanda bahwa jalan terus menaik.

Arga masih terus mengikuti kemanapun mereka melangkah dari jarak yang tersembunyi.

Akhirnya, rombongan keluar dari hutan lebat yang basah. Ada tanah lapang di muka hutan dan mereka berhenti sebentar karena dihadapan mereka menghadang sebuah jurang yang curam dan terjal. Dengan hati-hai mereka menurni jurang yang curam itu. Sedikit kaki salah menapak, nyawa taruhannya.

Dan Arga pun telah sampai juga di pinggir jurang yang terjal itu. Tidak bisa membayangkan, bagaimana dengan tangan terikat dalam satu rangkaian panjang banbu yang menyatukannya, menuruni jurang yang curam itu.

“Semoga Tuhan yang Maha Agung melindungii mereka”, berkata Arga dalam hati sambil dengan hati-hati menuruni jurang yang curam itu.

Sementara itu, rombongan para budak belian dibawah pengawalan senjata golok besar masih terus menuruni dan menyusuri jurang yang curam.

Seorang budak yang terikat diujung batang bambu terpeleset. Akibatnya luar biasa, para budak dibelakangnya tertarik mengikuti arah batang bambu dan jatuh terperosok menggantung. Untunglah di ujung batang bambu ada Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan. Dengan sekuat tenaga mereka berusaha menahan beban yang menarik mereka. Akhirnya dengan kekuatan yang luar biasa, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan mengerahkan tenagamya mengangkat batang bambu kearah semula. Luar biasa !!, seorang budak yang sudah hampir pingsan karena yakin akan jatuh melayang terjun kedasar jurang, tubuhnya seperti terangkat kembali dan kakinya telah menapak pada pijakan jalan setapak. Keringat dingin menetes dari keningnya.

Akhirnya sampai juga mereka di dasar jurang dengan sebuah perjuangan yang begitu melelahkan.

Arga masih dapat mengikuti jejak, namun ketika sampai di dasar jurang, dihadapannya adalah sebuah sungai kecil berbatu.

“Kemana arah mereka”, berkat Arga dalam hati.

Untunglah, ketika ia tengah mencari-cari, didapatinya sobekan kain lurik menyangkut disebuah cagak kayu mati. “lurik panjang Mahisa Pukat”, berkata Arga mengerti maksud tanda yang diberikan Mahisa Pukat. Ternyata jejak mengarah kekanan melawan arus sungai.

Dan kembali Arga mendapatkan kembali sobekan kain Mahisa Pukat diseberang sungai. Dari situlah Arga menyeberang dan mendapatkan jejak baru menyusuri bulak panjang.

Akhirnya, apa yang dicari ternyata menemui hasil. Di ujung bulak panjang didapati sebuah Padepokan besar, tiga kali lebih besar dari Padepokan Bajra Seta.

“Luar biasa, di tempat terpencil ini ada sebuah Padepokan besar”, berkata Arga dalam hati.

Arga tidak mencari penyakit, ia tidak mendekati Padepokan, tapi kembali balik arah. Menyusuri jalan yang baru saja dilalui, kembali ke Hutan Somplak untuk mengambil kuda mereka.

Malam telah menutupi senja manakala Arga dengan wajah lesu sampai di Padepokan Bajra Seta. Mahisa Murti menerima kedatangannya dengan gembira.

Arga pun langsung bercerita mengenai perjalanannya, mulai dari hutan Somplak sampai ditemukannya sebuah Padepokan besar di tempat yang terkucil

“Jadi Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Paman Wantilan ada di Padepokan itu”, berkata Mahendra yang ikut hadir mendengarkan cerita Arga.

“Benar dan begitulah adanya”, berkata Arga.

“Beristirahatlah, kamu sudah melaksanakan tugas dengan baik”, berkata Mahisa Murti melepas Arga yang pamit untuk bersih-bersih diri dan beristirahat.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 15 April 2011 at 19:30  Comments (306)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/trackback/

RSS feed for comments on this post.

306 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ceritanya semakin membuat penasaran. Ayo Ki kompor….. segera wedar tutuge!!

  2. Tutug-e…………belon kemalaman

    Sang fajar telah datang memenuhi janjinya. Kesibukan pagi sebagaimana hari-hari kemarin di Padepokan terpencil itu mulai terlihat. Beberapa budak yang bekerja di dapur sibuk didepan perapiannya. Sementara di sungai belakang Padepokan masih dipenuhi mereka yang bersih-bersih diri.

    “Hari ini adalah hari yang istimewa untuk para budak belian”, berkata Gedemantra kepada Mahesa Pukat .

    “Hari istimewa ?”, bertanya Mahesa Pukat belum mengerti.

    ……………………..
    telah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Kamsiaaaaaaa……

    • matur nuwun ki kompor

    • matur nuwun ki Kompor…

    • Alhamdulillah, ………. tenyata pengembaraan imajinasi Ki Mahesa Kompor hampir nggak ada bedanya dengan Ki SHM. Kita serasa masih dalam lingkup karya Ki SHM, …….
      Nuwun

  3. Wah esuk-esuk sarapan nasi goreng .
    Matur nuwun Ki Kompor.
    Matur nuwun P. Satpam.
    Sugeng enjang

  4. cantrik TELAT mampir….selamat SIANG
    kadang padepokan ki MAHESA,

    • akhirnya cantrik mengambil suatu keputusan :

      “tetep HADIR, biarpun HUJAN deras sepanjang
      perjalanan”

  5. selamat sore, tetap hadir apapun cuacanya

  6. Akhirnya akupun memutuskan sebelum berangkat ke mesjid mampir dulu di padepokan.
    Sugeng dalu.

  7. Asyiikkkkkkk, diluar perkiraan.

    ayo tutug’e ndang diwedhar.

    sugeng dalu.

  8. Tutug-e………………belon kemalaman.

    Sementara itu, pada hari yang sama, empat ekor kuda bergerak menuju hutan somplak. Mereka adalah Mahesa Murti, Mahendra, Pangeran GacoBahari dan seorang kepercayaannya.

    Dalam perjalanan menuju hutan Somplak, Mahendra mengagumi Pangerang Gacobahari yang sepertinya tidak merasa asing dan menguasai setiap jengkal daerah yang dilaluinya.

    “Ternyata Pangeran Gacobahari sering bertualang disekitar daerah ini”, berkata Mahendra dalam hati sambil mencoba mengaitkan antara Pangeran Gacobahari dan suara jalak kebo yang didengarnya pada malam kemarin. “Pangeran Gacobahari begitu yakin dengan kemampuannya sendiri”, berkata lagi Mahendra dalam hati. Karena yang ia ketahui, seorang Pangeran selalu tidak melepaskan pengawalan pribadinya, minimal sepasukan prajurit yang kuat.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • padepokan “GEMPAR”….Eeh-Eeh, tiba’e ki Gembleh
      beserta rombongan ibu2 PKK, lagi ngapain ki…!!

      lha yang di dalam padepokan lagi pada TEGANG-an
      kok ya dateng2 bawa pasukan seGITU banyak-E…..

      • lanJUT pak DALANG….jangan terGANGGu ama GODA-an,

        cuma kok giMANA gituuu, masak konco dewe yg datang
        gak dipersilaHkan masuk,

    • Telah terjadi kegemparan yang luar biasa yang mengagetkan Datuk Malakar dan Pangeran Gacobahari, juga ratusan pengikutnya.

      Mahisa Pukat berdiri dengan santainya setelah ikatannya dilepaskan. Sambil meliuk-liukkan pinggangnya (apa itu bahasa Indonesia-nya molet, he he he …, tiba-tiba kok lupa). Katanya kepada Mahisa Murti, “hadu….., cuapeek sekali tidak bisa bergerak setengah hari. Kenapa kalian lama sekali baru sampai”

      Wantilan pun ikut-ikutan berdiri sambil mengangkat Mahisa Semu yang masih pura-pura tidak berkutik. Katanya, “ayolah, sudah tiba waktunya untuk melemaskan badan yang sempat kaku sejenak tadi”

      Mahisa Semu dengan malasnya ikut berdiri, katanya, “he he he …, mereka kena tipu ya”

      Sementara itu, Ki Arga yang sudah dipesan oleh Mahisa Murti untuk mengawasi dari jauh, telah mendapatkan pesan melalui aji pameling agar menyiapkan sekelompok cantrik senior untuk segera menuju padepokan tersebut.

      Pangeran Gaco Bahari terhenyak sesaat, kemudian katanya, “Ternyata kalian memang licin sekali, kalian berhasil mengelabui kami ……>

      he he he …, embuhlah lha kok ngrusihi Ki Kompor.
      monggo Ki dilanjut.

  9. Luar biasa, benar-benar menegangkan. Monggo dilanjutkan Ki Kompor.

  10. Ruaar biasa, Matur nuwun ki Mompor,
    Ki Satpam.
    Sugeng enjang.

    • Matur nuwun ki Mompor,
      Ki Sampam.
      Sugeng sinjang.

  11. Ternyata Ki Kompor masih bisa mengikat para cantrik melalui cerita komtemporer ini, terbukti kunjungan ke padepokan tetap ramai, walaupun mnetriknya tidak ada.
    Monggo Ki lanjut.

  12. sret-sreeet….paraf sik, nanti malam
    sambang lagi

    • sret-sreeet….paraf sik, nanti SORE
      nginguk lagi

    • melu ki…..gantung nih lagi seru…..monggo ki Kompor di lanjut

  13. Ki dalang bersama para sinden sing demplon masih dalam perjalanan dari tlatah bulungan, buju buneng….jalan merayap menuju semanggi, para sinden pupurnye pade luntur……………..

  14. wah jan pinter tenen, mandek pas tanjakan, unjal napas sik

    • Jangan lupa pasang rem tangan, …… posisi gigi ompong, …… lepas pelan2 pedal rem kaki.

      • badan dibongkokan, tangan lurus kebawah, ambil napas, pelan pelan berdiri, tangan direntang, mata menatap monitor, sudah wedar belum, wuuuuuaaaaaaah belum

  15. Tutug-e……………………………masih belon kemaleman

    Tiba-tiba saja terdengar suara lantang berasal dari kelompok para budak belian.

    “Wahai para buda belian, inilah hari yang pernah aku janjikan, tekadkan diri kita, mati atau hidup dalam kemerdekaan”, ternyata suara itu berasal dari kepala suku mereka Putumantra.

    “Merdeka !!!”, gemuruh suara para budak belian menyambutnya.

    Maka seperti banjir bandang, ribuan budak belian menyerbu para pengikut Datuk Malakar.Rasa gentar menghentak para pengikut Datuk Malakar melihat wajah merah penuh kebuasan berlari menghampiri mereka.

    Dan semua berlangsung begitu cepat, gemuruh suara para budak belian benar-benar membuat para pengikut Datuk Malakar tercengang, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Seperti OVJ, sang sinden menembang mengiringi gending…………..tarik Kangmaseeeeeee……

      • Lanjuuuttttt mang……………..
        mumpung belon terlalu malem,
        Ki Arga nungguin,
        Ki Bancak nungguin,
        Ki Mukidi nungguin,
        Ki Honggopati nungguin,
        Ki TruPod nungguin,
        Ki Menggung Yp & GdL nngguin,
        Ki Ajar pk Satpam juga nungguin,

        nungguin tutug’e maneh…..!!!!!
        para kadhang lainnya juga nungguin,

        • setujuuu….

        • Setuju juga, mumpung belum tengah malam, masih banyak yang nungguin. Monggo wedar lagi Ki Kompor.

  16. sset….,masih banyak bahan mentah dipenggorengan,
    tapi….,
    “sunah nabi bang !!!”, teriak sang permaisuri dari dalam kamar.
    Bukannye sunah nabi malem jumaat”, teriak gue keras
    “itu khan kate Pak erte”, berkata sang permaisuri dari dalam kamar
    “yang bilang malem kamis siapa ??”, teriak gue lagi
    “GUEEEEEEEEE !!!!” teriak sang permaisuri masih didalam kamar.
    Buju buneng, kalo ude kate “GUE”, jangankan Pak Erte, SBY sekalipun pasti enggak bakal “menang”

    bleb bleb bleb……..ZZZzzzzZZZZzzzz

    • masih ada bahan mentah dipenggorengan……..

      Mahesa murti melirik gambar kecil dilengan orang bercambuk itu.Sebuah lukisan “cakra”.Sebuah lambang perguruan besar diujung delta Brantas, perguruan “SINDU SEJATI”.
      (jangan-jangan buyutnye Kiai Grinsing ????)

      • yang gue inget…..waktu itu Ki Pamanahan sedang sakit parah…terus enggak sengaja liat tatto nya Kiai Grinsing.
        Ade yang inget, siapa nama Kiai Grinsing sebenarnya ????

        • Pamungkas nama sebenarny. Karena ia adalah anak ragil. Itu yang saya ingat. Mohon pencerahan sesepuh padhepokan kalau salah

  17. Sugeng enjang.
    Ki Kompor
    P. Satpam.
    Kadang sedoyo.

    Alhamdulillah gandok makin ramai.
    Matur nuwun Ki Kompor.
    Punopo sampun sunahipun?

  18. antri nunggu ransum…..biasanya setelah sunah nabi ki Kompor semangatnya tambah….

  19. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang

    DONGENG GELAR PERANG

    Waktu terus berjalan, Sembari menunggu wedaran Ki Dhalang Mahesa Kompor van Situ Cipondoh yang pada episode terakhirnya bercerita tentang perang dengan gelarnya, disebutkan ada: gelar perang cakra birawa dan gelar perang capit urang.

    Berikut cantrik Bayuaji ikut meramaikan dengan medar Dongeng Gelar Perang.

    Siasat dan gelar pasukan perang telah dikenal di kerajaan kerajaan kuno ditanah Nusantara, mulai dari jaman Mataram kuno sampai dengan jaman Mataram baru.

    Khusus ditanah Jawa, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya sejumlah relief yang tergambar di sejumlah candi,

    Gelar-gelar perang ini pernah dipakai ketika terjadi pertempuran-pertempuran semasa kerajaan-kerajaan Nusantara, misalnya: Perang antara Ken Agrok dan Prabu Dandang Gendhis dalam Perang Ganter, ekspedisi Pamalayu semasa Prabu Kertanegara; perang mempersatukan Nusantara dalam episode “Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa”.

    Bahkan di jaman Perang Kemerdekaan pun, beberapa gelar perang pernah dipakai, salah satu contohnya adalah perang pasukan Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI) yang dipimpin Jenderal Soedirman melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945 di Ambarawa Jawa Tengah.

    Gêlar Pêrang Garudå Nglayang beliau gunakan untuk mengusir tentara Inggris dan NICA dari Ambarawa.

    Dan pada tanggal 12 Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak dengan Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå atau Siasat Pêrang Gilingan Råtå terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa.

    Pertempuran yang kemudian dikenal dengan Palagan Ambarawa itu berlangsung selama lima hari, diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945.

    Gêlar Pêrang:

    1. Gêlar Pêrang Wulan Tumanggal:

    Siasat perang ini diibaratkan seperti bentuk bulan sabit, dimana seolah-olah wujudnya tidak membahayakan. Tetapi sesungguhnya siasat ini membahayakan karena di ujung sudut dan di tengah barisan selalu siap sedia dengan gerakan yang mudah dilakukan.

    Lihatlah malam di kala bulan muncul di awal. Awal bulan, atau bulan sabit menyinarkan keteduhan dan ketenangan. Namun dalam perang, siasat “wulan tumanggal” menyimpan kejutan-kejutan. Di ujung sudut dan di tengah, tanpa diduga kadang muncul mengejutkan lawan.

    2. Gêlar Pêrang Supit Urang:

    Bayangkan bila seekor udang tengah mempertahankan diri atau menyerang dengan merentangkan sapitnya untuk mematikan lawan. Sang udang akan menggunakan sapitnya untuk menyerang musuh yang mendekatinya.

    3. Gêlar Pêrang Dirådåmétå:

    Dirådåmétå artinya gajah yang sedang marah. Siasat ini menggambarkan kemarahan seekor gajah. Kemarahan yang mengagumkan (sekaligus mengerikan), belalai dan gading gajah itu sangat membahayakan.

    Dan kekuatannya pun maha dahsyat. Imajinasikan bagaimana seekor gajah dengan tenaga yang luar biasa besarnya, sedang marah memainkan belalainya dan menyerundukan gadingnya yang keras dan tajam. Gajah menyeruduk maju terus tanpa kenal rasa takut dan sakit.

    4. Gêlar Pêrang Gilingan Råtå:

    Siasat perang ini sangat hebat, menyerupai roda kereta (råtå = kereta) yang menggelinding dengan dahsyat sehingga apapun apapun yang tergiling akan hancur lebur.

    Perang dengan siasat ini harus mengerahkan tentara dengan jumlah besar dan harus mampu bergerak cepat, sebab tujuan siasat ini adalah menggempur kekuatan lawan dengan segera dan habis pada seketika itu juga.

    Siasat ini memerlukan panglima perang yang ulung, hingga musuh tak dapat melawan. Pemimpin gerakan ini sebagian berada di garis depan dan sebagian lagi berada di garis belakang untuk mengelabuhi musuh.

    Siasat perang “Roda Kereta” bisa dibayangkan sebagai pasukan yang maju untuk bertempur laksana roda yang menggelinding musuh di depannya. Musuh akan tergilas, tergiling dan hancur lebur menyisakan debu.
    Pemimpin pasukan ditempatkan di depan dan dibelakang agar mengetahui gerak-gerik musuh.

    Adapun gelar-gelar perang lainnya yang dikenal adalah:

    1. Gêlar Pêrang Garudå Nglayang:

    Gêlar Pêrang Garudå Nglayang ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung garuda melayang dan meniru gerakan burung garuda, dimana panglima dan pemimpin pasukan berada di paruh, kepala, sayap, dan ekor memberikan perintah kepada anak buahnya dengan siasat seperti tingkah burung garuda yang menyambar atau mematuk.

    Pada intinya serangan ini mengandalkan satu senapati utama pada posisi paruh, kemudian sayap kiri kanan bergerak bebas dengan posisi pengatur posisi yang sedikit heroik, sebab perlindungan posisi pengatur pasukan berada di depan, pasukan inti menempati posisi cakar kaki, kemudian pemimpin utama berada di ekor sebagai posisi pasukan penyapu terakhir.

    Gelar ini menempatkan Senopati di depan sendiri sebagai paruhnya, kemudian dua orang berjajar, seorang Senopati di belakang paruh sebagai kepala burung, kemudian Senopati Agung di belakang kepala burung. Dua orang Senopai berada di ujung sayap kanan dan kiri yang cukup jauh.

    Para Prajurit mengisi sayap dan menyambung dengan tubuh burung, kepala dan ekor, di mana di ekor burung terdapat seorang Senopati lagi. Dua sayap pada Gelar ini dimaksudkan agar dapat mengepung prajurit musuh untuk dikalahkan/ditumpas.

    2. Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå:

    Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå adalah formasi perang dengan pengepungan/countainment. (Cåkrå = cakram, senjata berbentuk bulat pipih bergerigi; Byuhå = gelar barisan).

    Formasi ini dapat juga digunakan untuk masuk ke tengah-tengah medan pertempuran yang sudah terlebih dahulu terjadi. Lingkaran gelar Cåkrå Byuhå akan langsung masuk ke tengah-tengah peperangan, kemudian mengembang sebagai gelar lingkaran yang semakin besar.

    Gelar yang berbentuk lingkaran bergerigi, yang menempatkan para senapatinya di sepanjang ujung geriginya. Gelar itu akan dapat menghadap ke segala arah sesuai dengan keadaan yang berkembang di medan yang sengit, yang mengarah kepada perang brubuh.

    Namun berbeda dengan gelar Gêdong Minêp, yang juga merupakan lingkaran yang rapat, maka gelar Cåkrå Byuhå menempatkan senapati utamanya di depan, di luar lingkaran. Senapati Utamanya dapat bergeser menurut keadaan. gelar cakra byuha biasanya digunakan untuk melindungi raja, orang penting, tawanan atau pusaka,yang akan dibawa kesuatu tempat.

    Orang/ barang yang dilindungi tsb diletakkan ditengah gelar, sementara pasukan melindungi berlapis lapis berbentuk bulat/melingkar. dengan ujung-ujung geriginya pasukan bergerak menghancurkan penghalang yang merintangi.

    3. Gêlar Pêrang Gêdong Minêp:

    Gêlar Pêrang Gêdong Minêp adalah sebuah formasi yang digunakan untuk menjebak musuh yang jumlahnya lebih sedikit dengan cara memancing pasukan lawan untuk masuk kedalam gelar, kemudian pasukan lawan kalau sudah masuk ditengah, akan mereka kurung (gêdong=gedung, minêp=menutup) kemudian lawan akan dihancurkan.

    Gelar ini tidak efektif manakala jumlah pasukan seimbang atau lebih banyak, karena kepungan lambat laun akan jebol. Panglima dari gelar Gêdong Minêp berada di dalam lingkaran yang tertutup rapat.

    Senopati berada di tengah, dikelilingi bawahan dan prajuritnya. Sehingga bila mendapat serangan musuh maka para prajuritnya yang terkena lebih dulu.

    Apabila Gêlar Pêrang Gêdong Minêp ini bukan suatu siasat untuk menjebak musuh, maka gelar ini memberi gambaran bahwa Senopati atau Senopati Agung tersebut sebenarnya kurang memiliki keberanian.

    4. Gêlar Pêrang Jurang Grawah:

    Gêlar Pêrang Jurang Grawah mirip dengan Gêlar Pêrang Gêdong Minêp, namun biasanya digunakan untuk melawan pasukan yang lebih banyak jumlahnya dengan cara memancing mereka kedalam pasukan, tetapi tidak dikurung (jurang=jurang, grawah= menganga), lawan dibiarkan masuk sebanyak banyaknya, namun begitu sampai ke tengah pasukan langsung dibinasakan.

    Formasi ini hanya bisa dilaksanakan jika pasukan memiliki kelebihan kemampuan, baik perseorangan maupun dalam kelompok dibanding dengan pasukan lawan, atau dapat dikatakan ini adalah gelar yang sering digunakan oleh pasukan khusus, walaupun kecil jumlahnya tapi berkemampuan tinggi.

    5. Gêlar Pêrang Wukir Jaladri:

    Gêlar Pêrang Wukir Jaladri adalah formasi pasukan yang bentuknya seperti gunung di tengah lautan (wukir = gunung, jaladri = lautan). Gelar ini biasanya digunakan untuk bertahan dari gempuran musuh. Bermakna Gunung di tengah laut.

    Kendaraan besar dan gajah akan ditempatkan di tengah sebagai gunung atau batu karang, dengan Panglima berkedudukan di tengah-tengahnya sebagai pusat komando, sedangkan para Senopati dan prajurit melingkarinya sebagai gelombang dan airnya.

    6. Gêlar Pêrang Gêlatik/Êmprit Nêbå:

    Gêlar Pêrang Gêlatik atau Êmprit Nêbå ini mrip Gelar Pêrang Jaladri Pasang, yaitu samudera yang sedang pasang airnya, dimana gerak-gerik pasukan diibaratkan air laut pasang yang mematikan.

    Adalah strategi perang dengan bentuk formasi seperti burung gelatik dalam jumlah banyak yang bersama sama turun dari udara (nêba= turun dari udara dalam keadaan terbang), atau burung gelatik yang secara bersama-sama datang ke sawah untuk mencari makan padi, pada umumnya melayang turun bersama-sama.

    Tentu saja burung gelatik tersebut mamakan padi semaunya sendiri tanpa aturan maka rusaklah tanaman padi yang diibaratkan sebagai musuh.

    Gelar ini biasanya dilakukan oleh Senopati Agung dan sepasukan prajurit yang sudah putus asa, mungkin karena sudah terjepit tapi pantang menyerah.
    (Ada peribahasa Jawa yang berbunyi: Kinêpung wakul binåyå mangap, yang artinja dikelilingi seperti pertemuan bingkai bakul dan seperti bertemu dengan buaya ternganga mulutnya. Berarti bahaya yang tak dapat dihindari.)

    7. Mowor Sambu dan Dom Sumuruping Banyu:

    Mowor Sambu dan Dom Sumuruping Banyu oleh sebagian orang tidak digolongkan dalam gelar perang tetapi hanya bagian dari strategi perang.

    Dalam Gelar Wowor Sambu, sepasukan prajurit, sebagian atau bahkan seorang prajurit bertugas menyerang musuh dari belakang atau dari dalam dengan cara menyamar sebagai prajurit musuh atau dalam bentuk lain.

    Hal ini pernah dilakukan prajurit Mataram pada masa Sultan Agung menyerang Kompeni Belanda/VOC di Batavia tahun 1629, dengan memasukkan prajuritnya ke dalam benteng VOC sebagai pedagang sayur-mayur sejumlah 40 prajurit, yang kemudian bertugas menyerang musuh dari belakang, sementara prajurit Mataram yang besar jumlahnya menyerang dari depan atau luar benteng.

    Sedangkan pengertian Dom Sumuruping Banyu adalah memasukkan sedikit orang ke daerah musuh untuk memata-matai kekuatan musuh, hal ini sama dengan Wowor Sambu apabila dengan prajurit yang relatif sedikit yang ditugaskan khusus hanya untuk memata-matai musuh.

    ånå candhaké

    Kêparêng rumiyin. Kalau pake gayanye Ki Kompor…
    kamsiaaaaaa………………….
    nyilem lagi ach……..

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nuwun sewu Ki Bayu, …… Cantrik Truno gak putus2nya nyrandu. Nopo tentara kompeni ugi ngangge gelar2 perang kangge nglawan prajurit Mataram?
      Lajeng nopo tentara Modern taksih ngangge gelar2 perang meniko, mengingat mobilitas tentara jaman seniki sangat tinggi, ip. ngangge kendaraan perang.
      Nuwun.

      • Nuwun

        On 28 April 2011 at 10:58 Truno Podang said:
        tentara kompeni ugi ngangge gelar2 perang kangge nglawan prajurit Mataram?
        Lajeng nopo tentara Modern taksih ngangge gelar2 perang meniko, mengingat mobilitas tentara jaman seniki sangat tinggi

        Katur ingkang kinurmatan kadang kulå Ki Truno Podang,

        1. Delar Perang VOC/Kumpeni Belanda

        Dalam sejarah perang antara kerajaan Jawa Mataram melawan kumpeni Belanda, tidak banyak informasi tentang gelar perang yang dipakai oleh tentara VOC/kompeni Belanda.

        Yang banyak diberitakan justru kegiatan intelijen (intelligence) sebelum terjadinya perang, artinya pihak kumpeni terlebih dahulu menyebarkan isue-isue yang bersifat mengadu-domba kepada petinggi-petinggi kerajaan, menciptakan kerusuhan-kerusuhan yang mengundang pihak kumpeni untuk menumpas kerusuhan-kerusuhan itu, yang pada akhirnya timbul “utang budi” sang pangeran/raja kepada VOC/kumpeni Belanda.

        Sebagaimana kita baca dalam sejarah raja-raja Jawa, sering terjadi saling jatuh-menjatuhkan antara pangeran yang satu dan pangeran yang lain, sehingga negara menjadi terpecah belah (Palihan Nagari Mataram: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, kemudian terpecah lagi menjadi empat, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman). Naiknya seseorang menjadi raja karena “jasa baik” kumpeni.

        Bahkan seperti diberitakan dalam Babad Nitik Mangkunêgårå I (Catatan Harian Prajurit Èstri Mangkunêgaran). Diceritakan bagaimana muaknya RM Said melihat Pangéran Mangkubumi setelah Perjanjian Giyanti, Mangkubumi menghadiahkan istrinya sendiri, Raden Rêtnåsari, kepada Deller, Penguasa Belanda di Semarang, sebagai tanda keseriusan dan tanda keteguhan dari janji persahabatannya, dan merupakan balas karena “jasa baik” Belanda menobatkan Mangkubumi sebagai raja Keraton Yogyakarta.

        Demikian juga halnya Kesultanan Cirebon yang akhirnya menjadi dua Kasepuhan dan Kanoman (sekitar tahun 1677). Pembagian dua kekuasaan tersebut sekaligus menandai awal keruntuhan Kesultanan Cirebon.
        Perselisihan antara kedua kesultanan itu, ditambah dengan ketidakpuasan Pangeran Wangsakerta, memudahkan campur tangan politik VOC Belanda. Sejak perjanjian 7 Januari 1681, Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia, mengakui keberadaan ketiga raja di Cirebon. Masing-masing berdiri sendiri. Dan pada tahun 1700, kesultanan menjadi empat kekuasaan. Selain Kasepuhan dan Kanoman, terdapat juga Kesultanan Kacirebonan di bawah Pangeran Arya Cirebon, dan Kaprabonan (Panembahan) di bawah Pangeran Wangsakerta. Sejak itu, perdagangan internasional melalui Pelabuhan Cirebon sudah berada di tangan VOC.

        2. Gelar perang pada Perang Modern

        Belum banyak yang saya ketahui juga Ki. Pernah beberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Museum Perjuangan TNI Satria Mandala yang terletak di Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan, terdapat beberapa diorama perang (tentunya ini merupakan imajinasi sang artis pemahat, meskipun didasarkan pada kisah nyata pelaku perang yang masih hidup), yang membentuk beberapa gelar perang mirip gelar-gelar perang yang ada, tetapi tidak ada cacatan tentang gelar perang jenis apa. Pada papan penerangan yang ada hanya disebutkan, misalnya Diorama perang penumpasan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, dstnya.

        Demikian Ki. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat.

        Nuwun
        Sugêng siyang

        cantrik bayuaji

        • nuwun sewu Ki, sumela atur, rikala Kol.Sudirman mimpin perang wonten “Palagan Ambarawa” , saged mimpang perangipun ngangge gelar supit urang,saksampunipun menang Pak Dirman dipun angkat dados Panglima Besar, sak enggo sepriki dipun peringati dados Hari Juang Kartika tgl 15- Des- 1945, nyuwun ngapunten bilih lepat

          • Nuwun

            Katur Ki Truno,

            Keberhasilan Jendral (waktu itu Kolonel)Soedirman memimpin pertempuran yang selanjutnya dikenal dengan Palagan Ambarawa, selama lima hari yang berakhir pada tangal 15 Desember 1945, dan karena peristiwa itulah, maka tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infantri AD, kemudian dengan Surat Keputusan KSAD Nomor Skep/662/XII/1999 tanggal 14 Desember 1999, peristiwa Palagan Ambarawa dijadikan Hari Juang Kartika.

            Sepanjang data dari Pusat Penerangan AD (Puspenad), gelar perang yang dipakai beliau ada dua yaitu: Gêlar Pêrang Garudå Nglayang dan Siasat Pêrang Gilingan Råtå.

            Sumber: Puast Sejarah TNI AD, Museum Perjuangan TNI AD Satria Mandala Jakarta.

            Kêparêng
            Sugêng sontên

            cantrik bayuaji

        • Nggih Cantrik Truno ngaturaken gunging panuwun pikantuk panglejaran Ki Bayu dalah Ki Bancak.
          Mugi karahayon ingkang tansah pinanggih.

  20. Mas Kompor pantas menjadi anaknya SH Mintardja
    sudah mirip buangetttt
    matur suwun ki kompor

  21. Mosok sunah rasul terus sampe siang? Awas lho kebanyakan SR nanti gak bisa nutul key board.

    Ono Tutuge, …

    • wakakakak……..ki Truno, ki Kompor lagi dalam pemulihan tenaga.

  22. ki Kompor sawek ndudul tik

  23. sugeng ndalu ki……

  24. siapa yang setuju tutug’e diunggah sekarang…????

    saya………………!!!!!!!!
    nomer satu.

    • kulo njenengan wakili sekalian ki Gembleh,

  25. ki DALANG MAHESA isih lemes ki, kemaren malam
    sampe pagi diPEres nyi DALANG.

    malem ini isih semrepet, belom bisa ndudul tIK
    he5x, ojo2 nyi DALANG malem ini minta “tambah”

    • tenang mawon Ki Menggung,
      kala wau sampun kula kintuni mantra
      ajian Thi Ki I Beng untuk memulihkan
      tenaga, dijamin kecepatan ndudul tik’e
      bakal tambah banter.
      Duka menawi dipun penggak Nyai’ne malih,
      nggih mesti bakal diperes ngantos tuntas.

      He…..he…..he…..
      sugeng dalu Ki.

  26. tas, tas tuntas

  27. Sugeng ndalu…..

    Lama tidak mampir padepokan. Ternyata banyak yang mesti dipelajari.

    Pamit badhe sinau rumiyin….

  28. Hup…., maaf,…baru nyampe …..

    keren…kursi undangan udeh banyak terisi,
    bahan mentah udeh lumayan banyak, metik diperjalanan.

    kamsia, ilmu perang Ki BY langsung ane sedot, ternyata ane saleh inget….tentang jenis-jenis perang…jadi dipersoriiiiiiii asal nyebut…gap pape khan……
    sip….siap-siap “copas” istilah anak sekarang

  29. Tutug-e………kemaleman.

    Sementara itu., Mahesa Semu dan Wantilan telah bergabung bersama pasukan para budak yang dipimpin oleh Kepala sukunya sendiri. Dan Nampak pula Gedemantra adikya yang tidak kalah gagahnya bertepur dengan begitu garang, sebagai panglima pengapit sisi kiri gelar capit urang.

    “Ternyata kau punya keberanian Dadulengit”, berkata Mahesa Semu yang baru bergabung disisi kanan gelar pasukan kepada Dadulengit yang tengah memutar-mutarkan golok panjangnya.

    “Kukira kau sudah mati”, berkata Dadulengit berpaling kepada Mahesa Semu setelah goloknya berhasil melukai seorang pengikut Datuk Malakar.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Tutug-e……………nambah lagiiiiiiiiiiiiii

      Para pengikut Datuk Malakar sudah bercerai berai. Satu persatu terbunuh, satu persatu jatuh terluka dibantai para budak yang semakin garang, dan satu persatu melemparkan golok besarnya, menyerah !!!.

      Pasukan para budak yang dipimpin Putumantra telah menguasai peperangan. Pasukan para budak akhirnya telah benar-benar memenangkan pertempuran. Nampak beberapa orang pengikut Datuk Malakar yang menyerah tengah diikat diamankan.

      Datuk Malakar yang melihat peperangan telah dikuasai para budak, menjadi begitu gusar, geram dan marah sampai keubun ubunnya. Golok besarnya diputar begitu kencangnya seperti baling-baling menerjang Mahesa Pukat.

      ……
      sudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

      • Seperti Operara Van Java, sang sinden melagamkan lagu “begadang” koborasi dangdut dan gending gamelan.

        …..begadang jangan begadang……..

        (Sori Ki YP, sindennya udeh ade yang antar jemput. He3x)

        • protes ki DALANG :

          sesuk2 biaya akomodasi sinDEN
          di-anggarkan 0 rupiah ki….!!!

          jempuT-antar sinden biar cantrik
          yg lakukan,…se-kalian cantrik
          pengen belajar ngiDUNG diperjala-
          nan.

  30. Nuwun
    Sugêng énjang

    Alhamdulillah, terima kasih Tuhan segala kenikmatan yang Engkau limpahkan pada kami.
    Hari ini aku sehat kembali. Matur nuwun semua doa dari sanak kadang.

    Nuwun

    punåkawan

  31. Nuwun
    Sugêng énjang

    Alhamdulillah, terima kasih Tuhan segala kenikmatan yang Engkau limpahkan pada kami.
    Hari ini aku sehat kembali.Matur nuwun semua doa dari sanak kadang.

    Nuwun

    punåkawan

    • semoga kita termasuk orang yang bersyukur

  32. Wadaoow Mahesa Pukat terluka.
    Terusannya mana Ki?
    Matur nuwun Ki Kompor.

  33. Ngebayangin Ki Kompor jam 2 dini hari sudah depan lap top terus sekarang lagi ngapain ya.

    • keramas ki, buat ngiLANGi rasa kantuk…!!

  34. matur nuwun ki….

  35. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang</b

    candhaké DONGENG GELAR PERANG

    “… ternyata ane saleh inget….tentang jenis-jenis perang…jadi dipersoriiiiiiii asal nyebut…gap pape khan…….” Tulis Bang Kompor [On 29 April 2011 at 00:25 kompor said:]

    Kagak apé-apé bang Kompor. Nih toêtoêgé……………nambah lagiiiiiiiiiiiiii

    BENDA-BENDA “KERAMAT” DI MEDAN PERANG

    Dalam pada itu kita juga kenal dengan benda-benda “keramat” atau yang dikeramatkan, tetapi bukan senjata perang seperti pedang, tombak, panah, dan sejenisnya.

    Benda-benda ini dihadirkan di medan pertempuran digunakan untuk pembangkit semangat para tentara di medan peperangan, dan dimaksud untuk memberi rasa takut pada lawan, di antaranya adalah bende; panah sendaren; umbul-umbul dan cermin.

    Bêndé

    Bêndé atau canang adalah sejenis gong dengan ukuran yang lebih kecil yang dapat dijumpai di hampir seluruh kepulauan Nusantara.

    Pada masa lalu, bende biasanya digunakan untuk memberikan penanda kepada masyarakat untuk berkumpul di alun-alun terkait informasi dari penguasa, untuk menyertai kedatangan raja atau penguasa ke daerah tersebut, atau untuk menandai diadakannya pesta rakyat.

    Bende lazim juga digunakan dalam peperangan. alat musik ini memang khusus dipergunakan untuk komunikasi dalam peperangan.

    Tidak sembarang orang boleh memainkan dan tidak sembarang waktu boleh ditabuh.
    Bende tersebut sangat disakralkan, ingat judul sustu novel Bende Mataram.

    Bende ini biasanya diberi nama atau gelar yang berbau mistis dan seram berbau maut, misalnya: Kyai Amuk, Kyai Guntur, Kyai Pegatsih, nama-nama yang menyeramkan ini dimaksudkan agar dalam peperangan, bunyi bende ini bisa menggugah semangat tempur para prajurit dan menggetarkan nyali pasukan musuh.

    Panjang pendek nada yang diperdengarkan dan berapa kali dipukul adalah merupakan sandi sandi yang hanya dimengerti oleh beberapa orang pucuk pemimpin pasukan.

    Bunyi bende ini merupakan sebuah aba aba untuk membentuk formasi pasukan dan perubahan siasat dan gelar pasukan serta aba aba untuk memulai pergerakan pasukan.

    Dalam gelar pasukan perang biasanya dipimpin oleh satu Senopati Agung [jendral besar] dibatu oleh dua atau lebih Senopati Penjawat [senopati pendamping].

    Para senopati pendamping ini berfungsi memimpin unit unit pasukan yang ada di kiri dan kanan atau dibelakang pasukan induk.

    Begitu mendengar bunyi bende diperdengarkan, senopati pendamping akan menyuruh perwira penghubung untuk memberikan sandi balasan bahwa perintah telah sampai dan dimengerti oleh para senopati tersebut.

    Sebagai contoh bende yang merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Majapahit yang masih tersisa dan dikeramatkan adalah Gong Kyai Pradah yang sekarang disimpan dipendopo Kawedanan Lodoyo.

    Benda ini sampai sekarang masih dikeramatkan dengan melakukan upacara Siraman yang dilakukan tiap tahun dibulan Maulud dalam penanggalan jawa.

    Upacara ini sampai sekarang masih menjadi tradisi yang menarik yang dihadiri oleh para pejabat Kabupaten Blitar dan dibanjiri oleh penonton yang datang dari daerah Blitar,Kediri,Tulung Agung dan sekitarnya.

    Dalam Babad Pengging. Diberitakan ketika Sunan Kudus diperintahkan untuk ke Pengging menemui Syekh Siti Jenar:

    Perjalanan Sunan Kudus dan murid-muridnya, sampai di utara Kali Cemara, karena kemalaman mereka menginap di dalam hutan dengan membuat kemah.

    Pada malamnya harinya Sunan Kudus memerintahkan muridnya untuk membunyikan Bende Kyai Sima yang dibawa dari Demak.

    Bende itu adalah barang pusaka peninggalan mertua Sunan Kudus. Ketika Bende dipukul bunyinya mengaum seperti singa. Suara auman itu sampai terdengar ke desa-desa sekitarnya sehingga para penduduk desa merasa ketakutan.

    Esok harinya para penduduk desa masuk ke dalam hutan untuk membunuh harimau atau singa yang semalam mengganggu tidur mereka. Tapi mereka tidak menemukan singa yang dicarinya. Hanya bertemu dengan Sunan Kudus beserta muridnya.

    “Apakah Tuan tidak mendengar suara harimau mengaum semalam ?” tanya tetua desa.
    “Tidak !” jawab Sunan Kudus. “Andai kata kami melihat harimau tentu kami tidak berani bermalam di sini dan segera lari ke desa.”
    “Sungguh mengherankan, kami tidak tidur semalaman karena kuatir harimau itu datang ke desa kami,” kata tetua desa.
    “Kalau begitu namakan saja desamu ini Desa Sima (harimau) karena kau mendengar suara harimau padahal tidak ada harimau sama sekali,” kata Sunan Kudus.

    Penduduk desa menurut dan Sunan Kudus pun meneruskan perjalanannya ke Pengging.

    Panah sêndarèn

    Sebagai sandi balasan dari bende yang ditabuh biasanya mempergunakan panah api atau panah bersuara [panah yang ujungnya diberi sêndarèn, alat yang dapat mengeluarkan suara bila bergesekan dengan udara].

    Dalam kisah pertempuran antara Pajang dan Mataram dikisahkan:

    “Namun demikian, para prajurit Mataram telah menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit-prajurit pilihan. Dalam jumlah yang jauh lebih kecil, mereka mampu bergeser surut dalam kesatuan yang utuh.

    Demikian pasukan Mataram surut dan turun menyeberangi Kali Opak, maka isyaratpun telah diterbangkan. Panah sêndarèn telah meluncur di langit, mengirimkan perintah kepada mereka yang siap untuk memecahkan bendungan……..”

    Umbul-umbul

    Sebagaimana benda-benda “keramat” lainnya, maka umbul-umbul pun berfungsi sama.

    Di tengah perkebunan Gunung Cikurai, sekitar 15 kilometer sebelah selatan Kota Garut, Mang Iding Solihin, ± 80 tahun, sang kuncen, yang saya kenal, beberapa tahun yang lalu pernah menunjukkan kepada saya beberapa benda yang dikeramatkan seperti keris, bedil, umbul-umbul dan peta kuno, sebuah peta Kerajaan Pajajaran berkain “Boeh Rarang”.
    Benda-benda tersebut disimpan oleh penduduk desa di daerah Gunung Cikurai.

    Dua lipatan kain lusuh seperti kain blacu berupa umbul-umbul yang sudah sangat rapuh, Di masa silam, dia berkisah umbul-umbul itu digunakan saat perang Pajajaran melawan Mataram.

    Salah satu bagian dari umbul itu menampilkan gambar prajurit bertanduk dengan kain jumputan merah menyala, gambar “Ciung Wanara”.

    Dan isyarat yang Mang Iding sampaikan adalah siapa pun yang ingin menyaksikan umbul-umbul kuno ini, maka pantang memakai baju merah. “Pamali,

    Sangat disayangkan benda-benda tersebut tidak boleh dipinjam (tentunya dengan maksud untuk diteliti sejarahnya, dan bila mempunyai nilai sejarah, maka diupayakan penyelamatannya dari kerapuhan.)

    Cermin

    Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan cermin digunakan sebagai ”senjata perang”. Dalam kronika Cina, dicatat bahwa Temuchin si Jegnghis Khan (kakek Kubilai Khan) di tahun 1167 telah mempergunakan cermin sebagai alat komunikasi dalam beberapa pertempurannya.

    Dalam episode kepulangan Jengghis Khan, setelah memenangkan pertempuran, dia berpesan kepada salah satu panglima perangnya dan petugas sandinya tentang cermin: “Alat perangku yang paling aku handalkan bukanlah pedang, tombak atau panah, tetapi cermin. Tetapi jangan sekali-kali engkau berikan benda ini pada seorang wanita.”

    Nah…..
    Hiks…. hiks….hiks.
    dan….

    Dongeng masih akan berlanjut. Tapi cantrik bayuaji cukupkan dulu dan…..

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nyuwun pangapuntên, kebanyakan bold

      sampun mboten Ki

    • Wedaran kangmas Bayuaji selalu menarik hati. Dados tambah khasanah kulo. Suwun lho kangmas.

  36. Waduh kok nggantung malih to Ki . Menopo sampun wayahe nglokoni kewajiban nggih.

  37. Sudah cukup satu jilid
    monggo pindah ke gandok HLHLP K-02 yang sudah dibuat Ki Arema semalam.

  38. boyongan

  39. golek gandok anyar rung ketemu

  40. ndherek copas hlhlp-119,
    matur nuwun.

  41. Kesasar,alamate palsu po yo? Kang Mbleh, tulong. menopo njenengan pirso,alamatipun hlhlp -118-119…judeg ki.kadung mbekok j.

  42. Nwn Kang Putut Risang infonipun.hananging kulo tesih penasaran… h,,,, sak lajengipun? dos pundi? nunal nunul nganti keju drijine,ora… ketemu2.cen wis tuoki yo griyak2.ning semangat.ngaaattt…

  43. Waduhh… tesmakku ning ndi yo ? mripatki wis kriyap kriyep j.tonjo nnannn…tp namung ngaturaken….Agunging panuwun kagen Kang P R utawi Kang P Satpam.

  44. Ini terusannya mana ya ki..?

    • silahkan baca di petunjuk yang pernah dituliskan di atas: On 12 Mei 2015 at 10:12 P. Satpam said:

      • Maturnuwun ki.satpam , salam sehat slalu buat ki.satpam

        • Baru sekali ini baca HLHLP 119…

          Memang luar biasa Ki Kompor yang kemudian diberi gelar sendiri abiseka Ki Sandikala..

          Saya baca ulang 2x karya Ki Dalang bener2 merupakan “Masterpiece”..👍👍👍

          Beberapa penggemar karya maestro Ki SHM mencoba teruskan ADBM, tapi tak beranjak jauh dari seputar Menoreh. Bahkan hidupkan tokoh2 yang udah mati…😜

          Ada lagi yang bikin tokoh2 bisa terbang ..💤 Tapi Ki Sandikala bener2 sang Maestro malah melebihi Ki SHM, dengan pengembaraan tokoh2nya ke Sumatra, Pasundan, Bali dll👍👍👍

  45. Apa mungkin ada lanjutan keperguruan
    Windu jati pak dalang saya jadi penasaran ingin tau kisah hlhlp dgn putra mahkotanya cantrik ngnteni obahe
    pak dalang…. nuwun…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: