HLHLP-119

Bagian ke tiga

Malam sudah memasuki wayah sepi wong, titir nada dara muluk terdengar sayup dari gardu jaga padukuhan terdekat. Suara burung jalak kebo terdengar mengusik daun telinga Mahendra tua.

“Aneh, ada suara burung Jalak kebo di tengah malam seperti ini”, berkata Mahendra dalam hati masih berbaring.

“Ada tamu yang akan datang berkunjung esok hari”, Berkata Mahendra dalam hati tersenyum melanjutkan tidurnya, mengikuti perasaan batinnya bahwa tidak akan terjadi sesuatu di malam itu.

Fajar pun akhirnya datang juga mengusir malam dari peraduannya, mengusir mimpi, membangunkan semangat harapan yang sempat terkubur kemarin hari.

Ketika suara ayam jago saling bersahutan mengiringi datangnya pagi, Mahendra sudah terbangun dari tidurnya. Mengingat kembali bahwa semalam ada suara Jalak Kebo yang mencurigakan. Dan Mahendra pun segera ke pringgitan untuk bersih-bersih diri.

Pagi itu cuaca begitu cerah. Mahendra ditemani Mahisa Murti tengah menikmati minuman hangat wedang sare dan gula batu. Seorang cantrik melaporkan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengan Mahendra.

“Apakah tamu itu menyebut sebuah nama?”, bertanya Mahisa Murti kepada cantrik yang datang melapor.

“Cuma mengatakan dari Kediri, tidak menyebut nama”, berkata cantrik itu. Dan Mahisa Murti menoleh kepada Mahendra minta pertimbanganya, karena tamu itu berkepentingan dengan Mahendra.

“Kita terima bersama di Pendapa ini”, berkata Mahendra datar.

“Kami terima tamu itu di pendapa”, berkata Mahisa Murti kepada cantriknya yang langsung berjalan ke arah pintu gerbang.

Dari pendapa, Mahendra dan Mahisa Murti melihat dua orang berjalan melewati halaman Padepokan Bajra Seta. Melihat pakaiannya menandakan mereka kaum bangsawan. Yang ternyata adalah Pangeran Gaco Bahari bersama orang kepercayaannya.

Mahendra dan Mahisa Murti mempersilahkan mereka naik di pendapa.

Setelah memperkenalkan diri masing masing, dengan ramah merekapun saling bertanya tentang keselamatan masing-masing.

“Kami semua telah mengetahui apa yang tejadi di Istana Singasari, terutama yang menyangkut diri Ki Mahendra”, berkata Pangeran Gaco Bahari.

“Ternyata nama hamba sudah begitu terkenal”, berkata Mahendra. “Dan tentunya kedatangan Pangeran kemari bukan sekedar menanyakan keselamatan kami sekeluarga”.

“Aku senang dengan sikap Ki Mahendra yang serba langsung”, berkata Pangeran Gaco Bahari sambil tertawa. “ternyata kita mempunyai watak yang sama, aku pun tidak suka bertele-tele”, lanjutnya.

“Maaf, itu memang sudah menjadi pembawaan hamba”, berkata Mahendra.

“Aku ingin menjalin kerja sama dengan Ki Mahendra”, berkata Pangeran Gaco Bahari.

“Hamba Cuma seorang pencuri”, berkata Mahendra

“Untuk inilah kami datang kemari”, berkata Pangeran Gaco Bahari

“Hamba masih belum menangkap maksud Pangeran”, berkata Mahendra memancing Pangeran Gaco Bahari berbicara lebih lanjut.

“Sri Maharaja telah melupakan jasa-jasa Ki Mahendra”, berkata Pangeran Gaco Bahari sambil menyelidiki tanggapan dan sikap Mahendra.

“Pada dasarnya, aku juga pernah berpikir seperti itu”, berkata Mahendra berusaha menutupi perasaannya sendiri. “Bermula pada penempatan rumah hamba di belakang istana, itu sudah menjadi ukuran, bagaimana Sri Maharaja menghargai perjuangan hamba mendirikan dan menjaga Singasari. Kekecewaan itu secara tidak hamba sadari sepertinya terus memberontak. Itulah sebabnya hamba membawa lari keris Empu Gandring, yang hamba yakinkan sebagai wahyu keraton”, berkata Mahendra dengan wajah penuh keyakinan.

“Berjuanglah bersama kami”, berkata Pangeran Gaco Bahari

“Berjuang untuk apa?”, bertanya Mahendra

“Membangun kembali Kerajaan Kediri, tidak menjadi jajahan Singasari”, berkata Pangeran Gaco Bahari.

“Aku meminta pertimbangan Mahisa Murti”, berkata Mahendra sambil menoleh ke Mahisa Murti yang sedari awal hanya sebagai pendengar dan menebak-nebak akan dibawa kemana arah pembicaraan.

“Aku mengikuti dimana Ayah berdiri, di belakang Singasari atau di belakang kediri. Aku berdiri dimana Ayah berdiri”, berkata Mahisa Murti

“Pangeran mendengar sendiri ucapan anak hamba, sementara itu hamba ingin bertanya, seberapa besar keyakinan Pangeran dapat menghancurkan Singasari, itulah dasar hamba menerima tawaran Pangeran.

“Aku mengerti kemana arah pertanyaan Ki Mahendra”, berkata Pangeran Gaco Bahari. “Tentunya Ki Mahendra ingin bertanya, apakah kami sudah mempunyai persiapan menggalang kekuatan guna mendukung cita-cita dan keinginan kami”

“Pangeran ahli menebak”, berkata Mahendra.

“Aku dapat membawa Ki Mahendra, setiap saat”, berkata Pangeran Gaco Bahari.

“Sampai hari ini, hamba sudah terbuang dari Singasari, jadi tidak ada yang mengikat hamba hari ini”, berkata Mahendra bersahaja yang disambut tawa oleh Pangeran Gaco Bahari.

“Aku yang akan mengikat Ki Mahendra hari ini, karena hari ini juga kita berangkat”, berkata Pangeran Gaco Bahari yang disambut tawa oleh Mahendra. Sementara Mahisa Murti hanya tersenyum melihat laku Mahendra yang begitu menjiwai dalam berlakon. Hari ini berlakon orang terbuang dari Singasari.

Kita kembali ke Padepokan terpencil yang ditemui Arga dimana Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan sudah ada di dalamnya.

Sebagaimana yang dilaporkan Arga kepada Mahisa Murti dan Mahendra, Padepokan itu memang sangat besar, tiga kali lipat luasnya dibandingkan dengan Padepokan Bajra Seta. Di tengah Padepokan itu berdiri bangunan utama. Berjejer di kiri-kanannya barak-barak yang panjang. Sementara di belakang Padepokan mengalir sebuah sungai yang sepertinya disengaja untuk kebutuhan penghuni Padepokan itu. Ada empat panggungan berdiri di setiap pojok Padepokan.

Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan bersama beberapa budak yang datang bersamanya langsung ditempatkan di sebuah barak besar. Tidak ada bale-bale di dalam barak, yang ada hanya alang-alang kering terhampar begitu saja. Beberapa budak belian Nampak tidur malang melintang. Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan ikut berbaring di tempat yang tersisa.

Mereka masih tetap berjaga bergantian, siap dan terus waspada menghadapi setiap kemungkinan. Semalaman mereka terkurung di dalamnya. Sementara, semalaman itu pula beberapa penjaga bersenjata golok besar berkeliling melintasi barak-barak yang berjejer di kiri kanan bangunan utama.

Ketika pagi menjelang, Mahisa Pukat, Mahisa Semu, Wantilan dan beberapa budak yang datang bersamanya digiring dibawa ke bangunan utama. Mereka pun dihadapkan seseorang yang sepertinya orang yang paling berkuasa di Padepokan itu. Sebenarnya, orang yang paling berkuasa di padepokan ini bernama Datuk Malakar. Seorang Datuk besar yang berilmu tinggi dan sangat disegani ditempat asalnya yaitu Malaka. Seorang bajak laut yang kejam dan ditakuti oleh para Saudagar yang berlayar membawa dagangannya. Untuk keamanan barang dagangannya, dengan terpaksa para saudagar membayar upeti setiap tahunnya kepada Datuk Malakar.

Untuk diketahui, ketika Kediri masih Berjaya, banyak keluarga istana yang menjalin kerjasama perdagangan dengan para saudagar dari Malaka. Namun ketika Singasari berkuasa, kerjasama perdagangan banyak berkiblat kepada para saudagar dari Cina. Inilah yang melatar belakangi persekongkolan antara saudagar dari Malaka dengan para keluarga Bangsawan Kediri berupaya menggulingkan Singasari.

Salah satu bentuk persekutuan itu adalah mengutus Datuk Malakar menyiapkan pasukannya menyerbu Singasari dari dua arah, perairan dan daratan sebagaimana yang dilakukan Ken Arok menyerang Kediri. Kemenangan Ken Arok terletak pada posisi Tumapel yang lebih mendekati muara perairan tempat jalur perdagangan melintas.

“Dua orang masuk barak petani, lainnya kembalikan ke barak prajurit”, berkata Datuk Malakar dengan lantang setelah dengan seksama memeriksa satu persatu budak belian. Dan Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan terpilih masuk dalam kelompok barak prajurit.

Demikianlah para budak belian dipisahkan yang berarti pemisahan tugas mereka sehari-hari. Disamping budak belian lelaki, di Padepokan ini juga ada beberapa budak wanita yang bertugas selain bekerja di dapur umum juga bertugas “melayani” para lelaki.

Tugas para budak prajurit paling berat, tiada hari tanpa latihan bertempur, baik secara perorangan maupun secara berkelompok di samping juga olah ketahanan tubuh yang sangat melelahkan. Tapi tidak untuk Mahisa Pukat, Mahisa Semu maupun Wantilan. Tidak ada keberatan sedikit pun, karena mereka sudah terbiasa berlatih jauh lebih berat dari yang harus dilakukan di Padepokan ini. Tapi mereka begitu rapi menyembunyikan kecakapannya.

Malam itu, hari pertama Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan bergabung sebagai budak prajurit. Setelah seharian berlatih, menjelang senja mereka diberi kesempatan untuk beristirahat. Sementara untuk makanan, mereka mendapat jatah makan dua kali, pagi dan menjelang malam.

“Terimakasih Ki sanak, kalian telah memperpanjang hidup kami”, berkata seseorang yang datang menghampiri Mahisa Pukat yang tidak lain seorang budak yang terpeleset ketika menuruni jurang bersamanya.

“Kami tidak memperpanjang hidupmu, yang kami lakukan terdorong oleh keinginan kami sendiri, untuk tetap hidup sampai hari ini”, berkata Mahisa Pukat tersenyum memandang pemuda itu yang memperkenalkan diri nya bernama Dadulengit.

“Dulu aku ini penjudi” berkata Dadulengit bercerita masa lalunya hingga sampai terlantar sebagai budak belian.

“Malam itu aku begitu sial, tidak ada yang dapat kupertaruhkan lagi selain diriku sendiri”, berkata Dadulengit sepertinya menyesali hidupnya.

“Seandainya, ada sebuah keberuntungan kita keluar bebas dari tempat ini, apakah kamu kembali berjudi lagi?”, berkata Mahisa Pukat ikut prihatin mendengar kisah Dadulengit.

“Tentu”, berkata Dadulengit membuat kaget Mahisa Pukat mendengarnya.

“Artinya kamu belum menyesal”, berkata Mahisa Pukat

“Yang kusesalkan di tempat ini adalah tidak ada kesempatan dan teman untuk berjudi”, berkata Dadulengit datar yang disambut dengan gelak tawa dari Mahisa Semu dan Wantilan menanggapi kepolosan Dadulengit.

“Kenapa kamu diberi nama Dadulengit?”, bertanya Mahisa Semu yang menjadi tertarik dengan kepolosan sikap Dadulengit.

“Ketika aku dilahirkan, ayahku kehilangan dadu andalannya”, berkata Dadulengit yang kembali disambut dengan tawa oleh Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan. Mereka tertawa setelah mengetahui Dadulengit juga mempunyai ayah seorang penjudi.

Sementara itu tanpa merasa menjadi bahan tertawaan, Dadulengit pun terus berujar, “Ayahku sendiri bernama Dadubager”.

Maka tawa pun menjadi begitu ta terkendali, beberapa mata memandangi mereka termasuk seorang yang dekat dari Mahisa Pukat.

“Maaf, tawa kami mengganggu Kisanak”, berkata Mahisa Pukat kepada orang yang didekatnya.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan”, berkata orang itu. “Sebab tertawa di sini sebagai barang langka. Dan baru hari ini aku mendengar ada tawa di Barak ini”, berkata orang itu melanjutkan.

Mahisa Pukat memperkenalkan dirinya, juga memperkenalkan Mahisa Semu, Wantilan dan teman barunya Dadulangit. Orang itu pun memperkenalkan dirinya dengan nama Gedemantra. Ketika Mahisa Pukat bertanya dari mana asalnya, Gedemantra pun bercerita tentang asal usulnya yang dikatakan berasal dari tanah sebrang. Gedemantra tinggal dalam sebuah keluarga pemburu, mereka hidup berkelompok dan berpindah-pindah, tapi dalam hutan yang sama, hutan yang selalu terjaga. Pada suatu hari, datang gerombolan orang-orang kasar, kami kalah banyak, kami menjadi tawanan perang mereka.

“Sejak itulah aku diperjual belikan sebagai Budak belian, dari satu tempat ke tempat lain hingga sampailah aku di barak ini”, Gedemantra mengakhiri ceritanya.

Sementara itu malam pun terus melarut dalam kegelapan yang pekat, sebuah lampu minyak di sudut barak menerangi tubuh-tubuh yang berbaring malang melintang di atas alas alang-alang kering.

Seperti biasa, Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan bergiliran tidur mewaspadai segala kemungkinan.

Sang fajar telah datang memenuhi janjinya. Kesibukan pagi sebagaimana hari-hari kemarin di Padepokan terpencil itu mulai terlihat. Beberapa budak yang bekerja di dapur sibuk di depan perapiannya. Sementara di sungai belakang Padepokan masih dipenuhi mereka yang bersih-bersih diri.

“Hari ini adalah hari yang istimewa untuk para budak belian”, berkata Gedemantra kepada Mahisa Pukat.

“Hari istimewa?”, bertanya Mahisa Pukat belum mengerti.

Gedemantra pun akhirnya menjelaskan, bahwa setiap enam bulan sekali di Padepokan ini selalu diadakan pemilihan pemimpin para budak dengan cara pertarungan di arena. Siapa yang menang langsung ditunjuk sebagai pemimpin.

“Kepala suku, begitulah kami menyebutnya”, berkata Gedemantra menjelaskan. Selanjutnya Gedemantra masih menjelaskan beberapa hal antara lain bahwa para budak di Padepokan ini di bagi dalam beberapa kelompok, satu barak merupakan satu kelompok, setiap kelompok mempunyai seorang ketua, dialah yang bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi dalam kelompoknya. Termasuk apabila ada budak belian yang melarikan diri, maka ketua kelompok ikut bertanggung jawab.

“Siapa ketua di barak kita?”, bertanya Mahisa Pukat

“Aku”, berkata Gedemantra.

“Apakah ketua kelompok, seperti juga ketua suku selalu diperebutkan?, bertanya Mahisa Pukat.

“Ya, setiap budak punya hak untuk menantang, baik ketua kelompoknya maupun ketua suku”, menjelaskan Gedemantra. “Apakah kamu ingin menantangku?”, bertanya Gedemantra memandang Mahisa Pukat.

“Tidak”, berkata Mahisa Pukat sambil menggelengkan kepalanya.

Sementara itu, di halaman Padepokan telah berkumpul beberapa orang tengah sibuk membuat beberapa ajir dari kayu yang dipatok di beberapa tempat membentuk jarak persegi empat. Seutas tali ditarik dari setiap patok kayu yang sudah terpancang.

Akhirnya sebuah arena pertempuran pun telah siap untuk dipergunakan.

Para budak sudah berkumpul rapat mengelilingi arena pertempuran. Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan sudah berbaur di dalamnya. Terlihat Datuk Malakar duduk di pendapa bersama beberapa pengikutnya.

Memasuki arena dari arah Selatan, seorang yang bertubuh sedang dan tegap. Rambutnya tidak diikat dan dibiarkan terurai. Sorot matanya begitu tajam, menandai bahwa ia bukan orang sembarangan.

“Orang itu Saudara tuaku, namanya Putumantra”, berkata Gedemantra kepada Mahisa Pukat yang berdiri disampingnya.

“Kakakmu kepala suku?”, bertanya Mahisa Pukat sambil membandingkan wajah Gedemantra dan orang yang ada di tengah arena, ternyata memang punya banyak kesamaan.

“Ya”, berkata Gedemantra menganggukkan kepalanya.
Sementara itu, dari sisi utara arena muncul seorang bertubuh raksasa, beberapa otot yang menonjol menandakan tenaga yang luar biasa. Dan wajahnya begitu bringas menakutkan. Nampak perlahan menuju ke tengah arena.

Seorang pengikut Datuk Malakar masuk ke arena.
“hari ini Cuma ada satu pertempuran, pemilihan kepala suku. Tidak ada juri disini. Yang menentukan menang dan kalah adalah kalian semua yang hadir disini”, berkata orang itu dari tengah arena yang langsung berjalan kembali keluar arena.

Putumantra yang dikatakan oleh Gedemantra sebagai kakaknya, memandang tajam orang bertubuh raksasa yang berdiri dihadapannya. Dan ternyata orang yang bertubuh raksasa ini membalas tatapan mata Putumantra tidak kalah garangnya.

“Bersiaplah”, berkata Putumantra sambil membuat ancang ancang penyerangan.

Sementara itu orang bertubuh raksasa ini dengan senyum menyeringai berdiri tegak mengencangkan ototnya sepertinya siap menanti serangan. Sebuah tendangan Putumantra meluncur dengan dahsyatnya. Orang bertubuh raksasa sepertinya tidak berusaha menghindar.

Buk!!, tendangan Putumantra menghantam lawannya. Luar biasa ketahanan orang bertubuh raksasa ini, hanya dua langkah mundur ke belakang dibentur tendangan Putumantra. Dan tubuhnya masih tegak tersenyum seperti meremehkan lawannya.

Dan Putumantra pun tengah mempersiapkan serangannya lagi dengan kekuatan yang berlipat ganda. Kali ini kembali Putumantra menerjang dengan tendangannya yang dilambari tenaga berlipat ganda.

Ternyata orang bertubuh raksasa itu tidak diam saja menerima tendangan Putumantra sebagaimana pertama, kali ini dengan memiring tubuhnya bergeser sedikit sekaligus dua tangannya mendorong tubuh Putumantra.

Tenaga dorongan itu luar biasa, tubuh Putumantra berguling di tanah dan dengan sigap telah tegak berdiri mulai memperhitungkan bahwa orang bertubuh raksasa yang dihadapi bukan cuma mempunyai ketahanan tubuh, tapi dapat bergerak dengan cepat.

”inilah yang harus kuperhitungkan”, berkata Putumantra di dalam hatinya.

Maka Putramantra telah mempersiapkan dirinya, meningkatkan tataran ilmunya. Dan sebuah tendangan kembali meluncur dengan dahsyatnya meluncur ke tubuh orang bertubuh raksasa. Seperti yang diperhitungkan Putramantra, orang bertubuh raksasa ini pasti bergeser miring sambil mendorongkan kedua tangannya, dan Putramantra tidak ingin dirinya terlempar kembali didorong oleh kedua tangan lawannya yang bertenaga luar biasa.

Ternyata tendangannya itu cuma pancingan, segera Putramantra menjatuhkan dirinya, sebuah tendangan melingkar mengarah pada dua kaki lawannya, akibatnya memang cukup fatal, orang bertubuh raksasa itu jatuh terjengkal tidak kuat menahan tendangan yang langsung telak menghantam dua siku kakinya.

Sementara lawannya masih terbaring, Putumantra tidak segera memburunya. Putumantra sepertinya memberi kesempatan lawannya bangkit dan bersiap diri.

“Kakakmu cerdik”, berkata Mahisa Murti kepada Gedemantra yang menyaksikan pertempuran di arena tanpa sedikitpun berkedip.

Orang bertubuh raksasa itu telah bangkit kembali. Kali ini tidak menunggu serangan, sebaliknya menyerang Putumantra dengan mengayunkan tangannya menghantam kepala Putumantra.

Para budak belian yang menyaksikan pertempuran itu sepertinya menahan napas apa jadinya bila tangan berotot itu benar-benar menghantam kepala Putumantra.

Dengan sigap Putumantra merendahkan tubuhnya, tangan lawannya mengenai tempat kosong. Putumantra balas menyerang menghantam dada lawannya yang terbuka.

Orang bertubuh raksasa itu pun bergeser ke samping langsung melayangkan kakinya mengarah kepinggang Putumantra. Dengan sigap Putumantra mundur selangkah menanti ayunan kaki lawannya berlalu. Dan sebuah serangan mendadak menghantam samping dada orang bertubuh raksasa itu.

Buk!!, sebuah pukulan keras dari Putumantra tepat bersarang ke lawannya.

Ketahanan orang bertubuh raksasa itu memang luar biasa, hanya bergeser tiga langkah !!!.

Semua orang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi tegang. Masih belum dapat menebak siapa yang akan keluar memenangkan pertempuran itu.

Dan pertempuran pun kembali berlanjut, dengan gesit putramantra selalu berhasil menghindari setiap serangan lawannya dan langsung membalas serangan.

Sementara itu orang yang bertubuh raksasa itu pun mampu bergerak cepat menghindari setiap serangan dari Putumantra. Pertempuran pun menjadi semakin seru.

Mahisa Pukat yang menyaksikan pertempuran itu ikut menjadi tegang. Mungkin karena ia telah mengenal Gedemantra, sepertinya Mahisa Pukat berharap Putumantra dapat keluar sebagai pemenang. Sementara sebagai orang berilmu, Mahisa Pukat dapat menilai bahwa dua orang yang bertempur di arena mempunyai tataran ilmu yang hampir seimbang. “Semoga Putumantra dapat lebih cerdik dari lawannya”, berkata Mahisa Pukat tanpa sedikitpun pandangannya selain memperhatikan pertempuran di arena yang nampaknya semakin seru.

Keringat nampak mengucur deras membasahi keduanya. Kekuatan tubuh mereka terlihat sedikit demi sedikit nampak semakin menyusut, namun pertempuran masih terus berlangsung, semangat untuk mengalahkan lawan tidak pernah surut dari dada mereka. Dan pertempuran pun menjadi semakin sengit.

Putumantra, sambil bertempur pikirannya terus berjalan mencari kelemahan lawan. “Pasti ada bagian tubuh yang tidak terlatih”, bepikir Putumantra sambil terus menghindar dan menyerang lawannya. Akhirnya Putumantra mengambil suatu keputusan menyerang bagian tubuh yang dianggapnya lemah. Dengan memusatkan serangan dan kekuatannya, Putramantra mencari kesempatan dan kesempatan itu akhirnya datang juga.

Ketika dua tangan lawannya dengan tenaga penuh menghentak lehernya dari dua sisi, Putumantra segera merendahkan tubuhnya. Dan dengan kecepatan penuh sebuah tangannya berayun memukul sebuah titik yang dianggapnya lemah yaitu bagian diantara dua sisi paha lawannya.

Prak!!, orang bertubuh raksasa itu menahan sakit yang luar biasa, seketika dadanya seperti sesak dan ia jatuh berdiri di atas lututnya. Putumantra tidak melepasnya, kedua tangannya menghantam dua ketiak lawannya sesaat selagi kedua tangan lawannya terbuka.

Prok!!, dua telapak tangan Putumantra berhasil menghantam dua sisi ketiak lawannya.

Buk!!, tangan Putumantra menghantam tengkuk kepala lawannya.

Orang bertubuh raksasa itu jatuh menelungkup mencium bumi. Tiga serangan yang menghantam daerah terlemah dari Putumantra dengan tenaga yang penuh benar-benar membuat orang bertubuh raksasa itu tidak mampu bangkit berdiri lagi. Pingsan dengan hidung berdarah mencium tanah !!!.

Gemuruh suara para budak belian yang menyaksikan pertempuran itu. Sebuah pertunjukan yang menegangkan. Suara gemuruh para budak belian sepertinya suara kemenangan. Kemenangan sorang kepala suku yang sangat dibanggakannya. Yang tidak terkalahkan.

Diantara suara gemuruh itu, Dadulengit berkali-kali memukul telapak tangannya dengan tangannya sendiri.

“Apakah kamu tidak menyukai kemenangan ini?”, bertanya Mahisa Semu bingung melihat sikap Dadulangit.

“Aku cuma kecewa, seandainya ada sesuatu yang bisa kujadikan barang untuk berjudi”, berkata Dadulengit masih memukul mukul telapak tangannya sendiri.

Dan Mahisa Semu hanya tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya kasihan memandang Dadulengit yang tidak bisa keluar dari pikirannya sendiri melepas candu berjudinya.”Dasar penjudi”, berkata Mahisa Semu dalam hati.

Suara gemuruh para budak belian masih mengelu-elukan Putumantra. Seorang pengikut Datuk Malakar masuk ke arena memberi pengumuman bahwa Putumantra tetap sebagai kepala suku sampai enam bulan kedepan.

Sementara itu, pada hari yang sama, empat ekor kuda bergerak menuju hutan somplak. Mereka adalah Mahisa Murti, Mahendra, Pangeran Gaco Bahari dan seorang kepercayaannya.

Dalam perjalanan menuju hutan Somplak, Mahendra mengagumi Pangerang Gacobahari yang sepertinya tidak merasa asing dan menguasai setiap jengkal daerah yang dilaluinya.

“Ternyata Pangeran Gacobahari sering bertualang di sekitar daerah ini”, berkata Mahendra dalam hati sambil mencoba mengaitkan antara Pangeran Gacobahari dan suara jalak kebo yang didengarnya pada malam kemarin. “Pangeran Gacobahari begitu yakin dengan kemampuannya sendiri”, berkata lagi Mahendra dalam hati. Karena yang ia ketahui, seorang Pangeran selalu tidak melepaskan pengawalan pribadinya, minimal sepasukan prajurit yang kuat.

Setelah sampai dimuka hutan Somplak, mereka mengarah ke selatan sama seperti yang pernah dikatakan Arga.

Setelah beberapa saat meninggalkan hutan Somplak, tiba-tiba Pangeran Gaco Bahari memberi aba-aba agar mereka berbelok ke kanan. Dan tidak jauh dari tempat itu ada sebuah gubuk, ternyata sebuah pos pengintaian.

Berdebar hati Mahisa Murti, darahnya seperti berhenti sejenak.

“Mungkinkah kehadiran Arga lepas dari pengintaian mereka”, berpikir dalam hati Mahisa Murti.

“Kita titipkan kuda-kuda kita di sini”, berkata Pangeran Gacobahari.

Dua orang yang sudah melihat kedatangan mereka, salah seorangnya menjemput menghampiri. Tanpa diperintah mengambil tali-tali kuda, menarik kuda satu persatu ke sebuah pohon suren yang rindang di pinggir gubuk.

Pangeran Gacobahari menghampiri seorang yang masih berdiri di depan gubuk. Tidak terlalu jelas apa yang diucapkannya.

“Maaf Ki Mahendra, kita harus berjalan kaki”, berkata Pangeran Gacobahari kepada Mahendra.

“Bukankah hari ini Pangeran telah mengikat hamba?,” berkata Mahendra yang dibalas senyum oleh Pangeran Gacobahari.

Merekapun bergerak berjalan kaki kembali ke arah dimana mereka bergeser arah dari hutan Somplak, masuk ke sebuah semak belukar seperti terowongan panjang. Setelah lama berjalan di dalam terowongan panjang semak belukar, akhirnya mereka sampai juga keluar dari kesesakan napas setelah berpikir apakah semak belukar ini tidak berujung. Sejenak mereka menarik napas panjang menikmati udara terbuka.

Mahendra dan Mahisa Murti terus mengikuti Pangeran Gacobahari dan orang kepercayaannya yang berjalan di muka. Di dalam perjalanan tidak ada yang dibicarakan, sepertinya mereka asyik bersama pikiran masing-masing, keringat nampak membasahi wajah dan tubuh mereka.

Akhirnya, mereka berhadapan dengan sebuah hutan yang lebat sebagaimana pernah diceritakan oleh Arga. Tanpa bertanya apapun, Mahendra dan Mahisa Murti mengikuti Pangeran Gacobahari dan orang kepercayaannya masuk kedalam hutan itu. Pohon-pohonnya yang tua tinggi menjulang dan menutupi langit seperti raksasa hitam.Hutan basah yang tidak pernah terjamah sinar matahari sepertinya semakin menelan mereka. Air mengalir membasahi akar-akar yang bersembul diatas tanah membasahi kaki kaki mereka sebagai tanda bahwa jalan di depan mereka semakin menanjak.

Akhirnya mereka pun telah keluar dari mulut hutan basah setelah berjalan cukup lama. Di depan mereka menghadang sebuah jurang terjal.

Begitu ringan Pangeran Gacobahari dan orang kepercayaannya menuruni liku-liku jalan setapak batu tebing yang keras sebagai tanda bahwa mereka adalah orang yang berilmu tinggi. Berdesir darah Mahisa Murti membayangkan perjalanan Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan yang terikat dalam satu bambu panjang bersama para budak belian menuruni dan menyusuri liku tebing yang begiru terjal. Salah kaki menginjak nyawa menjadi taruhannya, Batu cadas siap menanti dibawahnya !!!.

Dan akhirnya sampai juga mereka di bawah jurang. Ada sebuah sungai kecil berbatu. Setelah menyusuri beberapa langkah, merekapun terus menyeberangi sungai, menapaki bulak panjang. Mahendra dan Mahisa Murti terpana melihat di depan mereka, sebuah padepokan yang besar, sebuah padepokan yang tersembunyi, sebuah padepokan yang sengaja dipersiapkan untuk sebuah tujuan yang besar.

Datuk Malakar dan beberapa pengikutnya berdiri di pendapa menyambut kedatangan mereka.

“Selamat datang Ki Mahendra”, berkata Pangeran Gacobahari ketika lebih dulu naik ke atas pendapa.

“Inikah orangnya yang Pangeran maksudkan sebagai tumbal perjuangan kita?”, berkata Datuk Malakar diiringi suara tawanya yang mirip suara ringkik kuda. Sebuah tawa yang menakutkan yang dilambari tenaga langsung menghentak dada yang mendengarkan.

“Aji gelap ngampar”, berkata Mahendra dalam hati sambil menyalurkan tenaganya menutupi pendengarannya.
Dalam sekejap, ratusan pengikut Datuk Malakar menutup jalan keluar Mahendra dan Mahisa Murti. Bersamaan dengan itu mengalir dari kiri kanan bangunan utama, ribuan budak belian ikut mengepung mereka berdua.

“Mereka menjebak kita”, berbisik Mahisa Murti di samping Mahendra. Terjawablah apa yang dipikirkan selama ini, terutama ketika menemui gubuk yang berfungsi sebagai pos pengintai yang tidak diketahui oleh Arga.

“Maaf Ki Mahendra, sandiwara ini memang harus diakhiri. Kami bukan orang bodoh yang mudah termakan oleh sebuah umpan tua”, berkata Pangeran Gacobahari sambil tertawa panjang.

Dan seperti tersiram air panas, tubuh Mahendra dan Mahisa bergetar menahan kemarahannya, ketika di atas pendapa muncul tiga orang yang terikat kedua tangannya dan setengah tubuhnya. Mereka adalah Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan.

Dengan kasar, seorang pengikut Datuk Malakar mendorong Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan jatuh ke bawah pendapa berguling di dekat kaki Mahendra dan Mahisa Murti.

Dengan sigap, Mahisa Murti melepas pedangnya, memutuskan tali pengikat Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan.

“Sengaja kami belum membunuh tiga tikus ini, karena kami ingin membantai lima tikus sekaligus”, berkata Datuk Malakar dengan begitu deksuranya.

Ada yang terpenggal dalam cerita ini. Kenapa tiba-tiba saja Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan sudah tidak berdaya terikat setengah badannya. Inilah cuplikan cerita singkatnya :

Gemuruh suara para budak belian mengelu-elukan kepala sukunya Putumantra yang dapat mempertahankan kedudukannya. Pada hari itu, semua budak belian berpesta pora, tidak ada kerja, tidak ada latihan perang bagi para budak prajurit. Hari itu adalah hari yang ditunggu oleh para budak belian di Padepokan itu, mereka diistimewakan, diberikan kesempatan seharian menikmati hidangan dan minuman sepuasnya. Mahisa pukat, Mahisa Semu dan Wantilan berbaur dalam kegembiraan para budak belian.

Hingga datang sesuatu yang tidak pernah diduga, sekelompok pengikut Datuk Malakar mengepung mereka dengan golok besarnya mengancam tubuh mereka.

Sebenarnya mereka dapat melawan. Namun atas isyarat Mahisa Pukat, mereka sepertinya menyerah, dan membiarkan diri mereka terikat setengah badan. Mereka dibawa ke bangunan utama, disembunyikan dan dijaga ketat, hingga datangnya Mahendra dan Mahisa Murti.

“Pangeran”, berkata Mahendra lantang. “Haruskah kami membunuh begitu banyak manusia yang tidak berdosa ?”, lanjut Mahendra sambil menyapu ribuan orang yang mengepungnya. Berdesir darahnya membayangkan mayat-mayat tak berdosa bergelimpangan menghadapi dirinya dan juga kelompoknya yang tidak mungkin begitu saja dibantai.

“Jangan banyak bicara, bersiaplah untuk dibantai”, berkata Datuk Malakar yang belum mengenal siapa Mahendra sebenarnya.

Mahisa Murti meraba gagang helai pedangnya, menyesali diri, dengan sangat terpaksa ia akan mempergunakan pedangnya untuk mempertahankan diri. Sementara,

Mahisa Pukat, Mahisa Semu dan Wantilan dengan tegang siap menghadapi apapun yang terjadi. Dan mereka bukan sebangsa tikus-tikus yang gampang menyerah. Mereka sudah ditempa dalam kekerasan hidup, telah banyak menghadapi peperangan yang keras dan dahsyat. Tidak sedikitpun ada rasa gentar.

Mereka nampaknya telah siap menghadapi apapun yang terjadi.

Tidak ada jalan keluar untuk melarikan diri menghindari pertumpahan darah. Lautan manusia telah mengepungnya.

Sebelum Datuk Malakar memberi perintah kepada para pengikutnya serta kepada ribuan budak belian untuk segera bergerak membantai lima orang yang sudah terkepung. Matanya seperti terbelalak tidak percaya sama sekali dengan apa yang didengar dan dilihatnya.

Sesuatu yang tidak pernah diduga, juga tidak pernah terpikirkan oleh Pangeran Gacobahari yang begitu licik sekalipun.

Telah terjadi kegemparan yang luar biasa yang mengagetkan Datuk Malakar dan Pangeran Gacobahari, juga ratusan pengikutnya.

Tiba-tiba saja terdengar suara lantang berasal dari kelompok para budak belian.

“Wahai para budak belian, inilah hari yang pernah aku janjikan, tekadkan diri kita, mati atau hidup dalam kemerdekaan”, ternyata suara itu berasal dari kepala suku mereka Putumantra.

“Merdeka!!!”, gemuruh suara para budak belian menyambutnya.

Maka seperti banjir bandang, ribuan budak belian menyerbu para pengikut Datuk Malakar. Rasa gentar menghentak para pengikut Datuk Malakar melihat wajah merah penuh kebuasan berlari menghampiri mereka.

Dan semua berlangsung begitu cepat, gemuruh suara para budak belian benar-benar membuat para pengikut Datuk Malakar tercengang, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Jangan terpecar, bersatulah dalam gelar cakra birawa!!”, terdengar suara perintah dari salah seorang pengikut Datuk Malakar yang dengan cepat dapat menguasai dirinya, menyadarkan sebagian pengikut Datuk Malakar yang langsung bergabung dalam satu ikatan kelompok besar bertahan menanti serangan para budak belian yang berduyun menyerbu seperti banjir bandang. Terjadilah pertempuran yang seru antara para budak dan pengikut Datuk Malakar.

Semua berlangsung dengan begitu cepat. Pangeran Gacobahari seketika sempat terhenyak dalam kekagetannya, badannya bergetar menahan kegusaran yang sangat. Ketika melihat Mahendra, kebencian dan kemarahannya seperti mendapat wadah.

“Aku harus membunuh dengan tanganku sendiri”, berkata Pangeran Gacobahari dalam hati sambil melompat menerjang Mahendra yang masih tercengang menyaksikan sesuatu yang tidak pernah terpikir dalam khayalnya sekalipun, ribuan budak belian berbalik menyerang tuannya.

Tetapi, kesiagaan Mahendra tidak pernah lepas, dengan sigap dan kecepatan yang luar biasa mengelak cengkeraman Pangeran Gacobahari seperti seekor elang yang menyambar tempurung kepalanya.

“Bukankah hamba masih sebagai tamu ?”, berkata Mahendra sambil tersenyum kepada Pangeran Gacobahari setelah terbebas dari serangannya.

“Mahendra tua, umurmu sudah dekat”, berkata Pangerang Gacobahari kembali menyerang.

Mahendra sudah tidak bisa bermain-main lagi. Serangan Pangeran Gacobahari begitu dahsyat dan cepat menggulung dirinya. Dan Mahendra pun tidak lagi sekedar mengelak, dengan cepat dan tidak kalah dahsyatnya balik menyerang. Terjadilah pertempuran yang seru antara Mahendra dan Pangeran Gacobahari.

Sementara itu, orang kepercayaan Pangeran Gacobahari menghampiri Mahisa Murti.

“Anakmas, setiap kali mendengar namamu yang melambung di Kediri, semakin aku ingin menjajal, sejauh mana kebesaranmu”, berkata orang kepercayaan Pangeran Gacobahari ketika berhadapan dengan Mahisa Murti .

“Paman ingin ikut bermain?”, berkata Mahisa Murti.

“Aku katakan sekali lagi, aku akan mencoba sejauh mana nama kebesaranmu”, berkata orang kepercayaan Pangeran Gacobahari mengurai cambuknya yang tersembunyi mengikat pinggangnya. Wajahnya begitu dingin, begitu tenang, begitu percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Mahisa Murti mempersiapkan dirinya, ketenangan orang dihadapannya sebagai tanda kemampuan yang tinggi. Dan Mahisa Murti ikut mengurai senjatanya pula. Sebuah senjata keris yang lebih menyerupai sebuah pedang. Karena bentuknya yang lebih besar dan panjang, tidak layak sebagaimana sebuah keris pada umumnya.

“Keris yang bagus”, berkata orang kepercayaan Gacobahari memuji ketika melihat Mahisa Murti telah mengurai senjatanya.

“Dua kali paman memuji, ketiga kalinya akan membuat kepalaku membesar”, berkata Mahisa Murti dengan sikap penuh hormat.

“Bersiaplah anakmas”, berkata orang kepercayaan Pangeran Gacobahari sambil menghentakkan cambuknya keudara dengan hentakan sendal pancing.

Luar biasa!!, tidak ada suara apapun ketika orang itu menghentakkan cambuknya. Hanya yang Mahisa Murti merasakan udara di sekitarnya seperti pecah. Dadanya seperti diguncang oleh kekuatan yang kasat mata, tidak diketahui dari mana datangnya. Adalah sebuah isyarat, Mahisa Murti telah memusatkan segala nalar budinya, memusatkan akal dan pikirannya, menyatukan kekuatan lahir dan bathinnya.

Sebuah ayunan cambuk melingkar tiba-tba saja menyerangnya. Dengan cepat Mahisa Murti mundur menghindar. Tapi cambuk itu seperti bermata, tiba-tiba saja berhenti dan melecut dengan gerakan sendal pancing mengejar dirinya. Kembali Mahisa Murti mundur menghindar. Cambuk itu pun seperti tidak pernah berhenti berubah gerak melingkar menyambarnya. Mahisa Murti rupanya tanggap, semakin ia menghindar menjauh, ia akan menjadi incaran dan mainan orang bercambuk itu. Akhirnya, Mahisa Murti menghindar dengan meloncat mendekat sambil mengayunkan keris panjangnya menyerang pinggang orang kepercayaan Pangeran Gacobahari yang langsung meloncat ke samping.

Demikianlah, Mahisa Murti dan orang bercambuk itu saling menyerang. Masing-masing masih terus meningkatkan tataran ilmunya. Saling menyerang dan menghindar. Pertempuran begitu seru dan Nampak menjadi semakin sengit.

Sementara itu, pertempuran antara para budak dan pengikut Datuk Malakar masih berlangsung. Para pengikut Datuk Malakar adalah orang-orang keras, mereka adalah para bajak laut yang tidak pernah takut. Ciri keutamaan para bajak laut adalah dalam kesetia kawanan. Meski perbandingan antara para budak dan pengikut Datuk Malakar satu banding sepuluh, kekompakan pengikut Datuk Malakar begitu terpuji. Dengan patuh tidak keluar dalam lingkaran perang gelar cakra birawa. Putaran itu seperti memecahkan serbuan para budak yang datang bagai air bah. Siapapun yang mendekat, terpental !!.

Rupanya, Putumantra begitu tanggap apa yang terjadi pada para budak, sebelum korban banyak jatuh dari pihaknya, maka Putumantra memberi isyarat kepada penghubungnya.

“Satukan pasukan dengan gelar capit urang, kita pecahkan gelar mereka”, berkata Putumantra kepada penghubungnya. Dengan sigap penghubungnya menyampaikan pesan Putumantra dengan cara berantai.

Luar biasa!!!, dengan cepat para budak prajurit mundur secara teratur, pendadaran yang berat yang selama ini mereka terima, telah menjadi senjata makan tuan, dengan cepat para budak terlatih ini membentuk gelar capit udang.

“Pecahkan mereka”, berkata Putumantra memberi semangat dan perintah.

Luar biasa !!!, pasukan para budak dalam gelar capit udang bergerak maju memecahkan pasukan para pengikut Datuk Malakar yang jumlahnya jauh lebih sedikit namun mempunyai ketangkasan diatas para budak.

Gelar cakra birawa seperti macet, tidak bergerak karena diserang dari tiga posisi secara berbareng, dan Putumantra sebagai kepala capit udang telah berhasil menerobos memecahkan gelar cakra birawa dibagian tengah. Pasukan para pengikut Datuk Malakar terpecah dan semakin terpecah.

Semua itu berlangsung begitu cepat. Tidak lepas dari perhatian Datuk Malakar yang masih berdiri di pendapa. Melihat suasana yang dapat merugikan dan melumatkan para pengikutnya, Datuk Malakar segera melompat melebur masuk dalam pasukannya. Dua orang budak langsung terjengkang diterjang Datuk Malakar.

“Aku tandinganmu!!”, tiba-tiba Mahisa Pukat telah berdiri dihadapan Datuk Malakar berkata dengan lantang. Ditangannya menggenggam sebuah golok besar yang diambilnya dari seorang budak yang terbaring luka.

“Huh”, Datuk Malakar menjawab tantangan Mahisa dengan mendengus dbarengi dengan ayunan golok besarnya mengancam leher Mahisa Pukat.

Dengan cepat Mahisa mengelak dari sambaran Datuk Malakar, dan langsung memberi serangan baliknya.

Sejenak Datuk Malakar terkesima, bahwa ada orang yang dapat keluar dari serangannya, bahkan dengan begitu cepat balik menyerangnya. Terjadilah saling serang antara Mahisa Pukat dan Datuk Malakar. Mereka terus menjajaki ilmu lawan dengan meningkatkan setingkat demi setingkat tataran ilmu masing-masing. Maka pertempuran antara Mahisa Pukat dan Datuk Malakar menjadi semakin cepat dan menjadi semakin seru. Betul-betul sebagai tontonan yang mendebarkan siapapun yang menyaksikannya !!!.

Sementara itu., Mahisa Semu dan Wantilan telah bergabung bersama pasukan para budak yang dipimpin oleh Kepala sukunya sendiri. Dan Nampak pula Gedemantra adiknya yang tidak kalah gagahnya bertepur dengan begitu garang, sebagai panglima pengapit sisi kiri gelar capit urang.

“Ternyata kau punya keberanian Dadulengit”, berkata Mahisa Semu yang baru bergabung disisi kanan gelar pasukan kepada Dadulengit yang tengah memutar-mutarkan golok panjangnya.

“Kukira kau sudah mati”, berkata Dadulengit berpaling kepada Mahisa Semu setelah goloknya berhasil melukai seorang pengikut Datuk Malakar.

“Aku ingin berjudi denganmu”, berkata Dadulengit kepada Mahisa Semu yang tersenyum mendengar penyakit Dadulengit sudah mulai kumat kembali.

“Apa yang dapat kita judikan”, berkata Mahisa Semu pura-pura gila seperti Dadulengit.

“Membunuh sebanyak-banyaknya pengikut Datuk Malakar”, berkata Dadulengit.

“Kita berhitung dari sekarang”, berkata Mahisa Semu sambil menyerang dan merusak barisan lawan. Seorang pengikut Datuk Malakar tersungkur merasai tendangannya yang telak tepat di dadanya.

“Satu!!”, berkata Mahisa Semu

“Setengah”, berkata Dadulengit

“Kenapa setengah?”, bertanya Mahisa Semu

“Orang itu belum mati”, berkata Dadulengit sambil menunjuk seorang pengikut Datuk Malakar yang berbaring merintih kesakitan kena tendangan Mahisa Semu.

Sebenarnya, setelah Mahisa Pukat mengikat Datuk Malakar dalam sebuah pertempuran. Pasukan pengikut Datuk Malakar, lambat tetapi pasti semakin terpukul mundur. Dan akhirnya terpecah belah menjadi beberapa kelompok.

Pasukan para budak pun tidak berhenti, terus mengepung kelompok yang terpecah itu. Meski para pengikut Datuk Malakar mempunyai ketangkasan melebihi para budak secara perorangan, namun menghadapi pengeroyokan satu berbanding sepuluh, ketangkasan mereka seperti tidak berarti lagi. Satu persatu jatuh terluka. Yang mempunyai darah keberanian terus bertempur, sementara yang telah hilang keberaniannya melihat beberapa temannya terbantai, melempar golok besarnya, menyerah !!!.

Dan pertempuran masih terus berlangsung bersama gemerincing senjata yang beradu sebagai nada irama peperangan, suara sorak kemenangan beradu dengan suara rintih tertahan. Itulah suara peperangan yang begitu memilukan, tentunya bagi mereka yang masih punya “hati.

Tanah Padepokan terpencil itu telah basah dengan darah. Sudah banyak yang terbunuh dari kedua belah pihak. Darah mengalir dari tubuh yang terbunuh, dan tercecer dari tubuh yang rebah terbaring merintih terluka. Sebuah pemandangan yang memilukan, tentunya bagi mereka yang masih punya “hati”.

Para pengikut Datuk Malakar sudah bercerai berai. Satu persatu terbunuh, satu persatu jatuh terluka dibantai para budak yang semakin garang, dan satu persatu melemparkan golok besarnya, menyerah !!!.

Pasukan para budak yang dipimpin Putumantra telah menguasai peperangan. Pasukan para budak akhirnya telah benar-benar memenangkan pertempuran. Nampak beberapa orang pengikut Datuk Malakar yang menyerah tengah diikat diamankan.

Datuk Malakar yang melihat peperangan telah dikuasai para budak, menjadi begitu gusar, geram dan marah sampai ke ubun-ubunnya. Golok besarnya diputar begitu kencangnya seperti baling-baling menerjang Mahisa Pukat.

Luar biasa!!, Mahisa Pukat terperanjat melihat serangan yang datang menerjangnya dengan begitu cepat dan nampaknya dengan kekuatan penuh.

Akhirnya Mahisa Pukat pun telah meningkatkan tataran ilmunya, dengan cepat melompat ke samping dan dengan kecepatan penuh pula membalas serangan itu.

Dan pertempuran pun menjadi begitu cepat, begitu sengit dan begitu seru. Datuk Malakar menjadi kian gusar, geram dan marah. Tidak menyangka, anak muda lawannya mampu manandinginya dan masih juga bertahan meski ia sudah berusaha meningkatkan tataran ilmunya pada tingkat terpuncak kemampuannya.

“Anak setan”, geramnya sambil terus menyerang.

Keringat nampak membasahi sekujur tubuh mereka.
Mahisa Pukat terus berpikir keras agar dapat menyelesaikan pertempuran ini. Akhirnya diputuskan untuk menggunakan ilmu andalannya. Ilmu penghisap tenaga lawan.

Bless!!, sebuah tendangan Datuk Malakar menghantam perut Mahisa Pukat yang langsung terguling di tanah nampak menyeringai rasa sakit yang sangat.

“Ternyata kemampuanmu Cuma sampai di situ”, berkata Datuk Malakar gembira tendangannya dapat mengenai lawannya.

“Bersiaplah untuk mati!!”, berkata Datuk Malakar memutar golok besarnya menerjang Mahisa Pukat yang sudah bersiap berdiri menanti serangang.

Kali ini Datuk Malakar terlewat bernapsu, menyangka tenaga lawan sudah mulai mengendur.

Tidak pernah terpikirkan, Mahisa pukat tidak menyingkir mengelak serangannya, dengan kecepatan tinggi dan tidak terduga, Mahisa Pukat menghadang maju selangkah mendekat, dan langsung menjatuhkan dirinya sambil menyapu kakinya.

Akibatnya benar-benar hebat, Datuk Malakar terpelanting kedepan terayun oleh kekuatannya sendiri, berguling di tanah keras.

“Anak setan!!!!”, kembali Datuk Malakar mengumpat.

Demikianlah, pertempuran antara Mahisa Pukat dan Datuk Malakar kembali berlangsung. Saling menyerang slih berganti, kadang dua senjata mereka saling beradu, kadang dua tangan mereka saling menghantam, berkali-kali dan bahkan beberapa tebasan senjata telah menggores beberapa bagian tubuh mereka.

“Anak setan, ilmu iblis”, kembali Datuk Malakar mengumpat ketika menyadari tenaganya seperti terkuras. Sebagai Kepala Bajak Laut, Datuk Malakar pernah bertempur dua hari dua malam, kekuatan tubuhnya sudah terlatih seperti tenaga banteng. Sementara bertempur dengan Mahisa Pukat tenaganya seperti menyusut begitu cepat.

“Ilmuku bukan ilmu iblis”, berkata Mahisa Pukat yang merasa gembira bahwa tenaga musuh sudah menjadi menyusut.

Ternyata Datuk Malakar bukan orang yang gampang menyerah. Tiba-tiba saja tubuhnya menghilang dari pandangan Mahisa Pukat.

“Ilmu panglimunan”, berkata Mahisa Pukat dalam hati berdebar keras.

Sebuah angin berdesir deras dari samping pinggang Mahisan Pukat, dengan sigap dan kesadaran panggraitanya yang kuat, Mahisa Pukat melompat kesamping. Dan…………..

Srettt !!!, sebuah tebasan senjata telah menggores tipis tubuhnya. Darah menetes merembes sepanjang lukanya.

Mahisa Pukat berusaha menahan perih dari lukanya. Meningkatkan ketahanan tubuhnya ketataran puncak ilmunya hingga rasa perih lukanya tidak dirasakannya lagi. Mahisa Pukat sadar, Datuk Malakar dapat menyerangnya seketika dari arah manapun yang ia tidak diketahui. Tergetar diri Mahisa Pukat membayangkan, pada saat bertarung dalam wujud yang nyata, Mahisa Pukat harus mencurahkan segala kemampuan tenaga dan pikirannya.

Mahisa Pukat memang sedang terkurung bahaya, setiap saat setiap detik serangan itu pasti akan datang.

Tapi bukan Mahisa Pukat bila harus menyerah menerima pasrah tekanan apapun. Dengan memohon kepada yang maha Agung, memusatkan segala akal budinya, menyalurkan sebagian kekuatannya kepada indra penciumannya. Seperti raja ular naga yang tidak bermata, Mahisa Pukat dapat melihat wujud Datuk Malakar dua depa disebelah kanannya. Begitu kuat indera penciuman Mahisa Pukat dan begitu tajam sampai dapat merasakan gerak langkah Datuk Malakar yang mendekatinya dengan menggenggam golok besar ditangannya.

Tumbuh kecerdikan Mahisa Pukat, dengan membelakangi diri seolah-olah orang yang tengah mencari-cari belum mengetahui kehadiran Datuk Malakar.

Datuk Malakar menjadi begitu jumawa melihat gerak-gerik Mahisa Pukat yang seperti linglung tidak dapat melihatnya. Sebuah golok besar dari sebuah tangan yang kokoh siap menebas leher Mahisa Pukat.

Tetapi, sayangnya gerakan itu terlambat. Mahisa Pukat telah mendahului dengan menusuk senjatanya dari sisi ketiaknya tanpa harus membalikkan badannya. Dan……..

Bless !!!, sebuah tusukan yang kuat langsung menghujam jantung Datuk Malakar. Sebuah serangan yang cerdik, serangan yang tidak pernah diduga sebelumnya. Dan Datuk Malakar terkapar dengan golok besar masih tergenggam. Mati seketika. Mati dalam keadaan penuh penasaran !!!.

Sorak sorai dari para budak yang melihat hasil akhir dari pertempuran Mahisa Pukat dan Datuk Malakar. Setelah dalam beberapa waktu mereka seperti ikut tegang membayangkan nasib Mahisa Pukat menghadapi Ilmu Halimunan milik Datuk Malakar. Sebuah ilmu yang langka. Hanya dapat dihitung jari pada jaman itu yang dapat menguasainya. Dan salah satunya adalah Datuk Malakar yang telah terkapar mati tidak berdaya.

Mahisa Pukat menarik napas dalam memandang tubuh Datuk Malakar yang diam membeku.

“Tuhan yang Maha Agung masih melindungiku”, berkata Mahisa Pukat dalam hati mensyukuri hidupnya masih terlindungi.

“Hampir saja Sasi jadi janda”, berkata Mahisa Pukat dalam hati teringat pada istrinya jauh di Singasari yang pasti selalu resah mencemaskan dirinya.

Sementara iu di tempat yang sama, Mahisa Murti tengah bertarung dengan orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari. Hentakan cambuk yang sering dilakukan oleh orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari benar-benar nggegirisi. Dada Mahisa Murti seperti ikut terhentak manakala cambuk itu dihentakkan oleh pemiliknya.

Sementara itu, tidak jauh dari pertempuran Mahisa Murti dan orang bercambuk. Mahendra dan Pangeran Gaco Bahari tengah bertarung begitu serunya. Masing-masing telah ada di tataran puncak ilmunya.

Mahisa Semu, Wantilan dan Dadulengit yang menyaksikan dua pertempuran itu menjadi begitu tegang. Mereka menjadi bingung pertempuran mana yang harus diikuti, karena kedua pertempuran sama-sama menegangkan.

Sementara itu langit di atas Padepokan itu sudah jauh sepertiga malam. Beberapa orang budak telah menyalakan obor. Gerak empat orang yang sedang bertempur seperti bayang-bayang yang melayang, bergerak berkelebat dengan cepat saling menyerang.

Mahisa Pukat melepas napas panjang ketika menyaksikan pertempuran ayahnya Mahendra dan Pangeran Gaco Bahari. Mahendra dilihatnya masih dapat mengimbangi tataran ilmu Pangeran Gaco Bahari.

Sementara itu ketika menoleh kepada Mahisa Murti, dadanya berdebar-debar. Mahisa Murti sepertinya harus bekerja keras menghadapi lawannya. Sebagai seorang ahli, Mahisa Pukat dapat menilai bahwa tataran ilmu Mahisa Murti selapis lebih rendah dibandingkan lawannya yang sepertinya masih bermain-main.

Apa yang disaksikan dan dirasakan Mahisa Pukat ternyata tidak jauh meleset. Mahisa Murti memang harus bekerja keras menghindari kejaran cambuk yang seperti punya mata. Terus mengejarnya kemanapun ia menghindar. Bahkan kadang cambuk itu mengeras menusuk seperti pedang. Dan yang membuat Mahisa Murti seperti tidak berdaya adalah ketika cambuk itu dihentakan oleh pemiliknya, dadanya terasa ikut terhentak. Namun ketika Mahisa Murti meningkatkan tataran ilmunya mencoba meredam setiap hentakan. Orang bercambuk, kepercayaan Pangeran Gaco Bahari sepertinya mengetahui, dan hentakan cambuk sepertinya semakin menghentak karena dihentakkan oleh kekuatan yang terus meningkat sejalan dengan tataran kekuatan Mahisa Murti.

Suara hentakan itu juga dapat dirasakan oleh mereka yang terlalu dekat dengan pertempuran. Beberapa orang langsung menghindar menjauh, hentakan cambuk itu ikut menghentak dada-dada mereka.

Deg !!, suara hentakan cambuk yang dihentak dengan lecutan sendal pancing kembali menghentak dada Mahisa Murti.

Mahisa Murti yang telah melambari kekebalan tubuhnya pada tataran ilmu puncaknya. Namun hentakan itu masih juga dirasakan, berbareng desir angin ujung cambuk terus mengejarnya. Mahisa Murti seperti kehabisan tenaga, lebih banyak diserang bertahan menghindar. Mahisa Murti menyadari ilmu lawannya berada diatas tataran ilmunya.

Mahisa Pukat yang menyaksikan pertempuran Mahisa Murti seperti tidak ingin berkedip sedikit pun. Kekhawatiran menyelimuti dadanya.

Sementara itu, apa yang disaksikan Mahisa Pukat tentang pertempuran Mahendra dan Pangeran Gaco Bahari memang sesuai kenyataan. Kenyataannya, Mahendra ada diatas tataran Pangeran Gaco bahari. Dengan gagah seperti garuda mempermainkan ular sawah, tidak segera membinasakannya. Pangeran Gaco Bahari seperti putus asa. Segala kekuatan sudah dilontarkan, tapi Mahendra selalu keluar dari semua kepungan dan siasat tipu daya, sepertinya Mahendra selalu mengetahui kemana arah serangannya.

Di sisi lain, apa yang dialami Pangeran Gaco Bahari, dialami oleh Mahisa Murti. Mahisa Murti seperti banteng bertempur. Segala kuatan yang ada pada dirinya telah dikeluarkan. Namun hentakan-hentakan cambuk dari orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari selalu datang menghentak dadanya sekaligus merusak gerakan dan pemusatan pikirannya.

Dalam keputus asaannya, Mahisa Murti mencoba menerapkan sebagian ilmu andalannya, ilmu penghisap tenaga. Pada satu serangan sebuah cambuk yang tiba-tiba saja menegang menusuk bagian dadanya, Mahisa Mengelak dan balik menyerang dengan sambaran kerisnya menyapu ke pinggang orang bercambuk itu. Ilmu penghisap tenaga dari Mahisa Murti sudah melampau tataran sebelumnya, sudah jauh berkembang sesuai arahan dari Kiai Wijang. Meski tidak menyentuh bagian tubuh lawan, sambaran anginnya sudah dapat menyerap kekuatan lawan.

Tapi menghadapi orang bercambuk ini, ilmu penghisap tenaga Mahisa Murrti seperti besi jatuh di atas kapas, hilang tanpa arti.

“Ilmu yang luar biasa, anakmas”, berkata orang bercambuk itu kepada Mahisa Murti sambil melompat kebelakang.

“Apakah sudah menjadi kebiasaan, Paman bertempur sambil memuji?”, berkata Mahisa Murti yang menyerang dengan sabetan kerisnya.

“Aku pernah bertempur dengan orang yang memiliki ilmu yang sama dari anakmas, tapi orang itu harus menyentuh tubuh lawan, sementara anakmas tidak perlu lagi sentuhan tubuh”, berkata orang bercambuk itu sambil mengelak serangan Mahisa Murti.

Mahisa Murti berdiri terpaku, tidak jadi melanjutkan serangannya.

“Ternyata orang ini telah mengetahui dan dapat menangkal ilmuku”, berkata Mahisa Murti dalam hati memandang orang bercambuk dihadapannya yang juga berdiri memegang ujung cambuknya tersenyum memandangnya.

“Ilmuku tidak berati di hadapan Paman”, berkata Mahisa Murti.

“Beruntung, aku sudah dapat mengungkap rahasia ilmu penghisap tenaga seperti yang dimiliki anakmas”, berkata orang bercambuk itu masih dengan senyum memandang Mahisa Murti.

Namun senyuman orang bercambuk itu berubah menjadi gelap penuh rasa khawatir dan ketakutan yang luar biasa manakala melihat pertempuran antara Pangeran Gaco Bahari dan Mahendra.

Kejadiannya memang begitu cepat. Manakala semua serangan dengan begitu mudah dielakkan oleh Mahendra. Maka Pangeran Gaco Bahari seperti kehabisan akal. Tiba-tiba saja ia melenting keluar arena. Dengan berdiri diatas kakinya yang agak terbuka, menghentak dengan cepat keluar dari sebuah tangannya yang menjulur ke depan sebuah kilatan.

Beruntung Mahendra telah mengetahui bahwa Pangeran Gaco Bahari akan melontarkan ilmu simpanannya. Maka tanpa berpikir panjang Mahendra pun mencoba membenturnya dengan ilmu Braja Geni yang sudah berada di puncak kesempurnaannya.

Maka sebuah benturan keras telah terjadi, sebuah ledakan seperti Guntur memecah udara. Nampak Mahendra seperti terhuyung dua langkah mundur terhempas pantulan dua tenaga yang saling membentur. Mahendra jatuh terbaring.

Sementara Pangeran Gaco Bahari terlihat terguling di tanah sampai sepuluh depa, kemudian terbaring telentang diam tak bergerak.

Kejadiannya memang begitu singkat, orang kepercayaan Pangeran Gaco Bahari terlihat berlari mendekati Pangeran Gaco Bahari.

Sementara itu Mahisa Murti melakukan hal yang sama, berlari menghampiri Mahendra yang tergeletak di tanah. Dirabanya bagian tubuh Mahendra, ternyata masih ada denyut nadi yang bergerak.

“Air”, teriak Mahisa Murti kepada Mahisa Pukat yang juga telah datang mendekat.

Maka Mahisa Pukat berlari mencari air.

Tidak lama kemudian Mahisa Pukat telah kembali dengan membawa air di tempurung kelapa.

Mahisa Murti perlahan membasahi bibir Mahendra dengan beberapa tetes air.

“Syukurlah”, berkata Mahisa Murti ketika melihat perlahan Mahendra bergerak membuka kelopak matanya.

“Bantu aku duduk”, berkata Mahendra perlahan setelah beberapa kali menarik napas panjang mengatur pernapasannya. Kesadaran Mahendra nampak sudah pulih. Mahisa Murti membantu Mahendra duduk. Nampak Mahendra menyempurnakan duduknya. Memusatkan segala nalar budinya, memusatkan akal dan pikirannya kepada yang Maha Tunggal. Sedikit demi seikit wajah pucat Mahendra telah kembali normal. Tarikan napasnya sudah tidak terdengar lagi. Perlahan tapi pasti, kekuatan tubuh Mahendra nampak pulih kembali bersama tarikan napas yang telah teratur masuk dan keluarnya, seperti bumi yang berputar, seperti teraturnya matahari terbit dan tenggelam.

Sementara itu, di tempat yang sama, orang bercambuk itu masih diam duduk mematung. Matanya memandang jauh ke ujung cakrawala langit yang telah berwarna merah fajar. Di depannya terbaring tubuh Pangeran Gaco Bahari yang tidak bergerak. Nampak warna hitang terbakar di Dada Pangerang Gaco Bahari. Nyawanya sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Mati tewas seketika.

“Pertempuran kita belum selesai”, berkata Mahisa Murti mendekati orang bercambuk itu.

“Permainan kita sudah berakhir anakmas”, berkata Orang bercambuk itu sambil berdiri.

“Paman belum mengalahkan aku”, berkata Mahisa Murti kepada orang bercambuk itu.

“Kita bermain dan bukan bertempur”, berkata Orang bercambuk itu tersenyum memandang Mahisa Murti.

“Apa bedanya?”, berkata Mahisa Murti.

“Pertempuran berakhir dengan kalah dan menang, sementara permainan tidak selalu berakhir dengan kemenangan atau kekalahan. Kadang permainan tidak pernah berakhir”, orang bercambuk itu berkata masih dengan senyumnya. Tidak ada wajah dendam dalam sinar wajahnya. Meski baru saja ditinggalkan orang yang paling dekat dengannya, Pangeran Gaco Bahari.

“Pangeran Gaco Bahari sudah tiada, tidak ada lagi ikatan di antara kami”, berkata Orang bercambuk itu sambil memandang tubuh Pangeran Gaco Bahari yang terbujur kaku.

“Apa hubungan Paman dengan perguruan Sejati?”, berkata Mahisa Murti ketika dengan tidak sengaja melihat sebuah lukisan kecil bergambar cakra bersudut sembilan diujung lengan tangan orang bercambuk itu. Mahendra pernah bercerita kepada Mahisa Murti, bahwa ada sebuah perguruan besar diujung kali mas bernama Perguruan Sejati. Anehnya, pengikut perguruan ini beragama khusus, bukan hindu juga bukan budha sebagaimana agama yang ada di Jawadwipa pada saat itu. Anehnya lagi, pengikutnya diperbolehkan melakukan Ma Lima, sebuah perbuatan yang menurut para Bhirawa dan juga keluarga Istana sebagai perbuatan tercela. Ketua dan juga guru dari perguruan sejati bernama Empu Brantas, seorang yang sakti yang juga berjuluk manusia setengah dewa. Perguruan itu menghilang bersama sebuah bencana banjir besar datangnya arus air yang terbalik, air laut mengalir ke hulu dengan gelombang setinggi pohon kelapa. Ciri khas dari perguruan itu adalah sebuah lukisan bergambar cakra bersudut persegi Sembilan seperti pertanda yang ada di lengan orang bercambuk itu.

“Pengetahuan anakmas begitu luas”, berkata orang bercambuk itu sambil melirik lukisan kecil dilengannya.

“Aku hanya menebak-nebak”, berkata Mahisa Murti melihat ada perubahan warna di wajah orang bercambuk itu, sepertinya wajah orang itu sekilas berubah menjadi suram, seperti mengenang sesuatu peristiwa yang sudah lama berlalu. Nampak orang itu menarik napas panjang, seketika wajah suram itu telah berubah sendiri bersama sebuah senyum di bibirnya memandang Mahisa Murti.

“Aku titip jenasah Pangeran, selamat tinggal”, berkata orang bercambuk itu kepada Mahisa Murti.

“Paman hendak kemana?”, berkata Mahisa Murti ketika melihat orang bercambuk itu berbalik badan kearah gerbang Padepokan.

“Apakah anakmas akan menahanku?”, bertanya Orang bercambuk itu sambil menoleh kepada Mahisa Murti masih dengan senyumnya.

Mahisa Murti tidak menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya.

“Carilah aku dimana tidak ada aku”, berkata Orang bercambuk itu melanjutkan arah kakinya.

Dan Mahisa Murti seperti terpaku, memandang orang bercambuk itu sampai jauh, menghilang keluar dari regol pintu gerbang Padepokan, ditelan padang ilalang yang luas menghadang di depan gerbang padepokan.

“Carilah aku dimana tidak ada aku”, Mahisa Murti mengulang-ulang kata-kata terakhir orang bercambuk itu yang sudah tidak terlihat lagi dalam pandangannya.

Fajar telah menggantung di layar cakrawala Padepokan terpencil itu. Beberapa orang tengah sibuk mengumpulkan beberapa mayat. Sementara ada pula yang tengah merawat mereka yang terluka.

Dalam kesibukan itu, nilai-nilai akar kemanusiaan sepertinya telah kembali hidup, tidak ada lagi permusuhan, tidak ada lagi kebencian. Yang tertinggal adalah sebuah kengerian bahwa peperangan, pembunuhan manusia atas manusia akan masih terus terjadi.

Semua mayat telah dikuburkan, upacara pemakaman dilaksanakan tanpa perbedaan antara para budak dan pengikut Datuk Malakar. Juga pemakaman Pangeran Gaco Bahari.

Matahari sudah merayap ke puncaknya, beberapa orang budak nampak beristirahat menikmati hari tanpa perintah apapun. Di wajah mereka terlukis harapan. Jauh menerawang di kampung asal mereka, berkumpul kembali bersama sanak kandang yang sudah lama ditinggalkan, berkumpul kembali bersama anak istri tercinta. Namun di antara wajah penuh keceriaan memburu hari dalam kebebasan setelah tercekam lama dalam perangkap nasib sebagai budak belian, ada juga yang seperti tidak acuh terhadap kebebasan mereka. Di antaranya adalah mereka yang tidak punya sanak kadang untuk kembali.

“Bolehkah aku mengetahui apa yang ada dalam pikiranmu?”, berkata Mahisa Pukat kepada Gedemantra di pendapa bersama Mahendra, Mahisa Murti dan Putumantra.

Gedemantra tersenyum memandang Mahisa Pukat.

”Biarlah Kangmas Putumantra yang akan menjelaskan semuanya”, berkata Gedemantra sambil memandang Putumantra berharap menjelaskan sesuatu.

“Baiklah”, berkata Putumantra sambil menarik nafas panjang memandang Mahendra, Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang seperti tidak sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Putumantra.

“Kami sebenarnya petugas sandi Singasari”, berkata Putumantra.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat tersenyum memandang Putumantra dan Gedemantra, teringat bahwa mereka pun pernah juga berpetualang sebagai petugas sandi.

“Mereka orang-orang terlatih, aku khawatir bila ketrampilan mereka disalahgunakan”, berkata Mahisa Murti ketika mereka berbicara mengenai para budak yang sudah terlanjur terlatih sebagai prajurit.

“Tenaga mereka bisa dimanfaatkan sebagai prajurit sungguhan”, berkata Mahendra.

“Dengan pengarahan yang baik, mereka dapat menjadi pasukan yang kuat”, berkata Mahisa Pukat menangkap apa yang dipikirkan Mahendra.

“Semua tergantung kepada mereka, hari ini mereka sudah menjadi manusia bebas, mereka bebas menentukan nasib mereka sendiri “, berkata Putumantra.

“Baik ketua suku”, berkata Mahisa Pukat manggut-manggut bercanda, yang juga mengagumi Putumantra dalam hatinya, memang mempunyai perbawa seorang pemimpin sungguhan.

“Untungnya, kamu tidak ikut menantang ketua suku”, berkata Putumantra yang telah menyaksikan ketangguhan Mahisa Pukat ketika bertempur mengalahkan Datuk Malakar.

“Jangankan jadi ketua suku, mimpi jadi budak belian pun aku tidak berminat”, berkata Mahisa Pukat yang disambut tawa oleh mereka yang ada di pendapa.

Dan haripun terus berjalan merayap, matahari bergeser turun dari panggung cakrawala memberi warna keteduhan bersama angin semilir menggoyang alang-alang panjang yang terhampar luas didepan gerbang Padepokan terpencil.

“Hari ini kalian bukan lagi budak belian, hari ini kalian adalah manusia bebas merdeka”, berkata Putumantra setelah mengumpulkan semua orang di halaman Padepokan.

“Tidak ada yang menahan kalian keluar dari gerbang Padepokan ini”, berkata Putumantra yang disambut sorak sorai menyambut kebebasan mereka.

“Tidak ada juga yang menahan kalian, yang ingin bertahan di tempat ini, kami memanggil kalian sebagai prajurit Singasari, sebagai prajurit sungguhan yang mendapat titah langsung dari Sri Maharaja di Singasari”, berkata Putumantra yang disambut gemuruh. Semua orang sepertinya berbicara. Semua orang terdengar berkata-kata kepada orang didekatnya, berbicara apa yang mereka inginkan.

“Tidak ada yang menahan pilihan kalian, aku hanya menahan kalian malam ini, merayakan kebebasan kita”, berkata Putumantra yang disambut sorak sorai gemuruh yang melebihi dari gemuruh sebelumnya. Sepertinya mereka telah melupakan apa yang akan mereka pilih. Yang mereka pikirkan cuma satu, pesta pora semalaman setelah sekian lama terikat sebagai manusia rendah, manusia budak belian.

Malam pun tiba, datang membawa hamparan kain hitam menutup langit diatas Padepokan terpencil. Puluhan obor terpasang disegenab sudut berjejer menerangi pendapa, halaman dan pagar Padepokan.

Seperti hajatan besar, seluruh penghuni padepokan itu sepertinya menikmati kegembiraan itu, sepertinya suara binatang malam telah mengungsi, tertelan gelak tawa yang riuh menikmati hidangan makanan dan minuman yang dihampar dikeluarkan penuh untuk malam itu.

“Dengarkan semua”, tiba-tiba saja terdengar suara lantang, semua mata menoleh kepada sumber suara itu, yang ternyata siapa lagi kalau bukan sang Dewa Judi Dadulengit telah berdiri di atas sebuah batu besar yang ada di depan halaman.

“Atas nama sahabatku Mahisa Pukat, aku mengundang kalian hadir dalam perayaan pernikahan Mahisa Murti, menjelang bulan purnama di Padepokan Renapati” berteriak Dadulengit yang disambut teriakan gembira semua orang yang mendengarnya.

“Aku akan hadir”, terdengar suara bersaut-saut sepertinya tidak pernah putus.

“Aku berani bertaruh, calon besan Mahisa Murti tidak akan jatuh miskin dengan kedatangan kita”, kembali Dadulengit berteriak yang disambut gelak tawa semua orang yang mendengarnya.

Dan malam pun masih menghiasi panggung singgasananya dengan kain hitam panjang menutupi hamparan cakrawala langit bertabur sejuta bintang kecil berkelip terpaku sepanjang malam.

Dan Sang Purnama pun akhirnya datang juga mencumbu malam penuh kerinduan.

Panasnya singgasana Singasari sepertinya terlupakan,

Seperti sepasang ular disatu sarang berpeluh desah tak pernah terpuaskan,

Dan hijaunya lembah, hijaunya lembah pegunungan sudah lama lelap tertidur.

TAMAT.

@@@@@@@@@@@@@@@@****@@@@@@@@@@@@@@@@

Akhirnya cerita ini telah selesai,

Siapakah orang bercambuk bertanda lingkaran cakra di lengannya ??

Permainan bisa menang bisa kalah, bahkan kadang tidak pernah berakhir…………….

Dan Panggung Singasari sebagai singgasana yang tidak pernah sepi dari pegelaran sandiwara panjang.

Nantikan kisah selanjutnya, petualangan para putra Mahendra sebagai penjaga

PUTRA MAHKOTA.

Laman: 1 2 3 4 5

Telah Terbit on 15 April 2011 at 19:30  Comments (306)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/trackback/

RSS feed for comments on this post.

306 KomentarTinggalkan komentar

  1. Ceritanya semakin membuat penasaran. Ayo Ki kompor….. segera wedar tutuge!!

  2. Tutug-e…………belon kemalaman

    Sang fajar telah datang memenuhi janjinya. Kesibukan pagi sebagaimana hari-hari kemarin di Padepokan terpencil itu mulai terlihat. Beberapa budak yang bekerja di dapur sibuk didepan perapiannya. Sementara di sungai belakang Padepokan masih dipenuhi mereka yang bersih-bersih diri.

    “Hari ini adalah hari yang istimewa untuk para budak belian”, berkata Gedemantra kepada Mahesa Pukat .

    “Hari istimewa ?”, bertanya Mahesa Pukat belum mengerti.

    ……………………..
    telah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Kamsiaaaaaaa……

    • matur nuwun ki kompor

    • matur nuwun ki Kompor…

    • Alhamdulillah, ………. tenyata pengembaraan imajinasi Ki Mahesa Kompor hampir nggak ada bedanya dengan Ki SHM. Kita serasa masih dalam lingkup karya Ki SHM, …….
      Nuwun

  3. Wah esuk-esuk sarapan nasi goreng .
    Matur nuwun Ki Kompor.
    Matur nuwun P. Satpam.
    Sugeng enjang

  4. cantrik TELAT mampir….selamat SIANG
    kadang padepokan ki MAHESA,

    • akhirnya cantrik mengambil suatu keputusan :

      “tetep HADIR, biarpun HUJAN deras sepanjang
      perjalanan”

  5. selamat sore, tetap hadir apapun cuacanya

  6. Akhirnya akupun memutuskan sebelum berangkat ke mesjid mampir dulu di padepokan.
    Sugeng dalu.

  7. Asyiikkkkkkk, diluar perkiraan.

    ayo tutug’e ndang diwedhar.

    sugeng dalu.

  8. Tutug-e………………belon kemalaman.

    Sementara itu, pada hari yang sama, empat ekor kuda bergerak menuju hutan somplak. Mereka adalah Mahesa Murti, Mahendra, Pangeran GacoBahari dan seorang kepercayaannya.

    Dalam perjalanan menuju hutan Somplak, Mahendra mengagumi Pangerang Gacobahari yang sepertinya tidak merasa asing dan menguasai setiap jengkal daerah yang dilaluinya.

    “Ternyata Pangeran Gacobahari sering bertualang disekitar daerah ini”, berkata Mahendra dalam hati sambil mencoba mengaitkan antara Pangeran Gacobahari dan suara jalak kebo yang didengarnya pada malam kemarin. “Pangeran Gacobahari begitu yakin dengan kemampuannya sendiri”, berkata lagi Mahendra dalam hati. Karena yang ia ketahui, seorang Pangeran selalu tidak melepaskan pengawalan pribadinya, minimal sepasukan prajurit yang kuat.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • padepokan “GEMPAR”….Eeh-Eeh, tiba’e ki Gembleh
      beserta rombongan ibu2 PKK, lagi ngapain ki…!!

      lha yang di dalam padepokan lagi pada TEGANG-an
      kok ya dateng2 bawa pasukan seGITU banyak-E…..

      • lanJUT pak DALANG….jangan terGANGGu ama GODA-an,

        cuma kok giMANA gituuu, masak konco dewe yg datang
        gak dipersilaHkan masuk,

    • Telah terjadi kegemparan yang luar biasa yang mengagetkan Datuk Malakar dan Pangeran Gacobahari, juga ratusan pengikutnya.

      Mahisa Pukat berdiri dengan santainya setelah ikatannya dilepaskan. Sambil meliuk-liukkan pinggangnya (apa itu bahasa Indonesia-nya molet, he he he …, tiba-tiba kok lupa). Katanya kepada Mahisa Murti, “hadu….., cuapeek sekali tidak bisa bergerak setengah hari. Kenapa kalian lama sekali baru sampai”

      Wantilan pun ikut-ikutan berdiri sambil mengangkat Mahisa Semu yang masih pura-pura tidak berkutik. Katanya, “ayolah, sudah tiba waktunya untuk melemaskan badan yang sempat kaku sejenak tadi”

      Mahisa Semu dengan malasnya ikut berdiri, katanya, “he he he …, mereka kena tipu ya”

      Sementara itu, Ki Arga yang sudah dipesan oleh Mahisa Murti untuk mengawasi dari jauh, telah mendapatkan pesan melalui aji pameling agar menyiapkan sekelompok cantrik senior untuk segera menuju padepokan tersebut.

      Pangeran Gaco Bahari terhenyak sesaat, kemudian katanya, “Ternyata kalian memang licin sekali, kalian berhasil mengelabui kami ……>

      he he he …, embuhlah lha kok ngrusihi Ki Kompor.
      monggo Ki dilanjut.

  9. Luar biasa, benar-benar menegangkan. Monggo dilanjutkan Ki Kompor.

  10. Ruaar biasa, Matur nuwun ki Mompor,
    Ki Satpam.
    Sugeng enjang.

    • Matur nuwun ki Mompor,
      Ki Sampam.
      Sugeng sinjang.

  11. Ternyata Ki Kompor masih bisa mengikat para cantrik melalui cerita komtemporer ini, terbukti kunjungan ke padepokan tetap ramai, walaupun mnetriknya tidak ada.
    Monggo Ki lanjut.

  12. sret-sreeet….paraf sik, nanti malam
    sambang lagi

    • sret-sreeet….paraf sik, nanti SORE
      nginguk lagi

    • melu ki…..gantung nih lagi seru…..monggo ki Kompor di lanjut

  13. Ki dalang bersama para sinden sing demplon masih dalam perjalanan dari tlatah bulungan, buju buneng….jalan merayap menuju semanggi, para sinden pupurnye pade luntur……………..

  14. wah jan pinter tenen, mandek pas tanjakan, unjal napas sik

    • Jangan lupa pasang rem tangan, …… posisi gigi ompong, …… lepas pelan2 pedal rem kaki.

      • badan dibongkokan, tangan lurus kebawah, ambil napas, pelan pelan berdiri, tangan direntang, mata menatap monitor, sudah wedar belum, wuuuuuaaaaaaah belum

  15. Tutug-e……………………………masih belon kemaleman

    Tiba-tiba saja terdengar suara lantang berasal dari kelompok para budak belian.

    “Wahai para buda belian, inilah hari yang pernah aku janjikan, tekadkan diri kita, mati atau hidup dalam kemerdekaan”, ternyata suara itu berasal dari kepala suku mereka Putumantra.

    “Merdeka !!!”, gemuruh suara para budak belian menyambutnya.

    Maka seperti banjir bandang, ribuan budak belian menyerbu para pengikut Datuk Malakar.Rasa gentar menghentak para pengikut Datuk Malakar melihat wajah merah penuh kebuasan berlari menghampiri mereka.

    Dan semua berlangsung begitu cepat, gemuruh suara para budak belian benar-benar membuat para pengikut Datuk Malakar tercengang, tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Seperti OVJ, sang sinden menembang mengiringi gending…………..tarik Kangmaseeeeeee……

      • Lanjuuuttttt mang……………..
        mumpung belon terlalu malem,
        Ki Arga nungguin,
        Ki Bancak nungguin,
        Ki Mukidi nungguin,
        Ki Honggopati nungguin,
        Ki TruPod nungguin,
        Ki Menggung Yp & GdL nngguin,
        Ki Ajar pk Satpam juga nungguin,

        nungguin tutug’e maneh…..!!!!!
        para kadhang lainnya juga nungguin,

        • setujuuu….

        • Setuju juga, mumpung belum tengah malam, masih banyak yang nungguin. Monggo wedar lagi Ki Kompor.

  16. sset….,masih banyak bahan mentah dipenggorengan,
    tapi….,
    “sunah nabi bang !!!”, teriak sang permaisuri dari dalam kamar.
    Bukannye sunah nabi malem jumaat”, teriak gue keras
    “itu khan kate Pak erte”, berkata sang permaisuri dari dalam kamar
    “yang bilang malem kamis siapa ??”, teriak gue lagi
    “GUEEEEEEEEE !!!!” teriak sang permaisuri masih didalam kamar.
    Buju buneng, kalo ude kate “GUE”, jangankan Pak Erte, SBY sekalipun pasti enggak bakal “menang”

    bleb bleb bleb……..ZZZzzzzZZZZzzzz

    • masih ada bahan mentah dipenggorengan……..

      Mahesa murti melirik gambar kecil dilengan orang bercambuk itu.Sebuah lukisan “cakra”.Sebuah lambang perguruan besar diujung delta Brantas, perguruan “SINDU SEJATI”.
      (jangan-jangan buyutnye Kiai Grinsing ????)

      • yang gue inget…..waktu itu Ki Pamanahan sedang sakit parah…terus enggak sengaja liat tatto nya Kiai Grinsing.
        Ade yang inget, siapa nama Kiai Grinsing sebenarnya ????

        • Pamungkas nama sebenarny. Karena ia adalah anak ragil. Itu yang saya ingat. Mohon pencerahan sesepuh padhepokan kalau salah

  17. Sugeng enjang.
    Ki Kompor
    P. Satpam.
    Kadang sedoyo.

    Alhamdulillah gandok makin ramai.
    Matur nuwun Ki Kompor.
    Punopo sampun sunahipun?

  18. antri nunggu ransum…..biasanya setelah sunah nabi ki Kompor semangatnya tambah….

  19. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang

    DONGENG GELAR PERANG

    Waktu terus berjalan, Sembari menunggu wedaran Ki Dhalang Mahesa Kompor van Situ Cipondoh yang pada episode terakhirnya bercerita tentang perang dengan gelarnya, disebutkan ada: gelar perang cakra birawa dan gelar perang capit urang.

    Berikut cantrik Bayuaji ikut meramaikan dengan medar Dongeng Gelar Perang.

    Siasat dan gelar pasukan perang telah dikenal di kerajaan kerajaan kuno ditanah Nusantara, mulai dari jaman Mataram kuno sampai dengan jaman Mataram baru.

    Khusus ditanah Jawa, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya sejumlah relief yang tergambar di sejumlah candi,

    Gelar-gelar perang ini pernah dipakai ketika terjadi pertempuran-pertempuran semasa kerajaan-kerajaan Nusantara, misalnya: Perang antara Ken Agrok dan Prabu Dandang Gendhis dalam Perang Ganter, ekspedisi Pamalayu semasa Prabu Kertanegara; perang mempersatukan Nusantara dalam episode “Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa”.

    Bahkan di jaman Perang Kemerdekaan pun, beberapa gelar perang pernah dipakai, salah satu contohnya adalah perang pasukan Tentara Keamanan Rakyat (cikal bakal TNI) yang dipimpin Jenderal Soedirman melawan pasukan Inggris dan NICA Belanda yang berlangsung dari bulan November sampai Desember 1945 di Ambarawa Jawa Tengah.

    Gêlar Pêrang Garudå Nglayang beliau gunakan untuk mengusir tentara Inggris dan NICA dari Ambarawa.

    Dan pada tanggal 12 Desember 1945, Soedirman melancarkan serangan serentak dengan Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå atau Siasat Pêrang Gilingan Råtå terhadap semua kedudukan Inggris di Ambarawa.

    Pertempuran yang kemudian dikenal dengan Palagan Ambarawa itu berlangsung selama lima hari, diakhiri dengan mundurnya pasukan Inggris ke Semarang. Perang tersebut berakhir tanggal 16 Desember 1945.

    Gêlar Pêrang:

    1. Gêlar Pêrang Wulan Tumanggal:

    Siasat perang ini diibaratkan seperti bentuk bulan sabit, dimana seolah-olah wujudnya tidak membahayakan. Tetapi sesungguhnya siasat ini membahayakan karena di ujung sudut dan di tengah barisan selalu siap sedia dengan gerakan yang mudah dilakukan.

    Lihatlah malam di kala bulan muncul di awal. Awal bulan, atau bulan sabit menyinarkan keteduhan dan ketenangan. Namun dalam perang, siasat “wulan tumanggal” menyimpan kejutan-kejutan. Di ujung sudut dan di tengah, tanpa diduga kadang muncul mengejutkan lawan.

    2. Gêlar Pêrang Supit Urang:

    Bayangkan bila seekor udang tengah mempertahankan diri atau menyerang dengan merentangkan sapitnya untuk mematikan lawan. Sang udang akan menggunakan sapitnya untuk menyerang musuh yang mendekatinya.

    3. Gêlar Pêrang Dirådåmétå:

    Dirådåmétå artinya gajah yang sedang marah. Siasat ini menggambarkan kemarahan seekor gajah. Kemarahan yang mengagumkan (sekaligus mengerikan), belalai dan gading gajah itu sangat membahayakan.

    Dan kekuatannya pun maha dahsyat. Imajinasikan bagaimana seekor gajah dengan tenaga yang luar biasa besarnya, sedang marah memainkan belalainya dan menyerundukan gadingnya yang keras dan tajam. Gajah menyeruduk maju terus tanpa kenal rasa takut dan sakit.

    4. Gêlar Pêrang Gilingan Råtå:

    Siasat perang ini sangat hebat, menyerupai roda kereta (råtå = kereta) yang menggelinding dengan dahsyat sehingga apapun apapun yang tergiling akan hancur lebur.

    Perang dengan siasat ini harus mengerahkan tentara dengan jumlah besar dan harus mampu bergerak cepat, sebab tujuan siasat ini adalah menggempur kekuatan lawan dengan segera dan habis pada seketika itu juga.

    Siasat ini memerlukan panglima perang yang ulung, hingga musuh tak dapat melawan. Pemimpin gerakan ini sebagian berada di garis depan dan sebagian lagi berada di garis belakang untuk mengelabuhi musuh.

    Siasat perang “Roda Kereta” bisa dibayangkan sebagai pasukan yang maju untuk bertempur laksana roda yang menggelinding musuh di depannya. Musuh akan tergilas, tergiling dan hancur lebur menyisakan debu.
    Pemimpin pasukan ditempatkan di depan dan dibelakang agar mengetahui gerak-gerik musuh.

    Adapun gelar-gelar perang lainnya yang dikenal adalah:

    1. Gêlar Pêrang Garudå Nglayang:

    Gêlar Pêrang Garudå Nglayang ini mengandalkan kekuatan pasukan yang besar seperti burung garuda melayang dan meniru gerakan burung garuda, dimana panglima dan pemimpin pasukan berada di paruh, kepala, sayap, dan ekor memberikan perintah kepada anak buahnya dengan siasat seperti tingkah burung garuda yang menyambar atau mematuk.

    Pada intinya serangan ini mengandalkan satu senapati utama pada posisi paruh, kemudian sayap kiri kanan bergerak bebas dengan posisi pengatur posisi yang sedikit heroik, sebab perlindungan posisi pengatur pasukan berada di depan, pasukan inti menempati posisi cakar kaki, kemudian pemimpin utama berada di ekor sebagai posisi pasukan penyapu terakhir.

    Gelar ini menempatkan Senopati di depan sendiri sebagai paruhnya, kemudian dua orang berjajar, seorang Senopati di belakang paruh sebagai kepala burung, kemudian Senopati Agung di belakang kepala burung. Dua orang Senopai berada di ujung sayap kanan dan kiri yang cukup jauh.

    Para Prajurit mengisi sayap dan menyambung dengan tubuh burung, kepala dan ekor, di mana di ekor burung terdapat seorang Senopati lagi. Dua sayap pada Gelar ini dimaksudkan agar dapat mengepung prajurit musuh untuk dikalahkan/ditumpas.

    2. Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå:

    Gêlar Pêrang Cåkrå Byuhå adalah formasi perang dengan pengepungan/countainment. (Cåkrå = cakram, senjata berbentuk bulat pipih bergerigi; Byuhå = gelar barisan).

    Formasi ini dapat juga digunakan untuk masuk ke tengah-tengah medan pertempuran yang sudah terlebih dahulu terjadi. Lingkaran gelar Cåkrå Byuhå akan langsung masuk ke tengah-tengah peperangan, kemudian mengembang sebagai gelar lingkaran yang semakin besar.

    Gelar yang berbentuk lingkaran bergerigi, yang menempatkan para senapatinya di sepanjang ujung geriginya. Gelar itu akan dapat menghadap ke segala arah sesuai dengan keadaan yang berkembang di medan yang sengit, yang mengarah kepada perang brubuh.

    Namun berbeda dengan gelar Gêdong Minêp, yang juga merupakan lingkaran yang rapat, maka gelar Cåkrå Byuhå menempatkan senapati utamanya di depan, di luar lingkaran. Senapati Utamanya dapat bergeser menurut keadaan. gelar cakra byuha biasanya digunakan untuk melindungi raja, orang penting, tawanan atau pusaka,yang akan dibawa kesuatu tempat.

    Orang/ barang yang dilindungi tsb diletakkan ditengah gelar, sementara pasukan melindungi berlapis lapis berbentuk bulat/melingkar. dengan ujung-ujung geriginya pasukan bergerak menghancurkan penghalang yang merintangi.

    3. Gêlar Pêrang Gêdong Minêp:

    Gêlar Pêrang Gêdong Minêp adalah sebuah formasi yang digunakan untuk menjebak musuh yang jumlahnya lebih sedikit dengan cara memancing pasukan lawan untuk masuk kedalam gelar, kemudian pasukan lawan kalau sudah masuk ditengah, akan mereka kurung (gêdong=gedung, minêp=menutup) kemudian lawan akan dihancurkan.

    Gelar ini tidak efektif manakala jumlah pasukan seimbang atau lebih banyak, karena kepungan lambat laun akan jebol. Panglima dari gelar Gêdong Minêp berada di dalam lingkaran yang tertutup rapat.

    Senopati berada di tengah, dikelilingi bawahan dan prajuritnya. Sehingga bila mendapat serangan musuh maka para prajuritnya yang terkena lebih dulu.

    Apabila Gêlar Pêrang Gêdong Minêp ini bukan suatu siasat untuk menjebak musuh, maka gelar ini memberi gambaran bahwa Senopati atau Senopati Agung tersebut sebenarnya kurang memiliki keberanian.

    4. Gêlar Pêrang Jurang Grawah:

    Gêlar Pêrang Jurang Grawah mirip dengan Gêlar Pêrang Gêdong Minêp, namun biasanya digunakan untuk melawan pasukan yang lebih banyak jumlahnya dengan cara memancing mereka kedalam pasukan, tetapi tidak dikurung (jurang=jurang, grawah= menganga), lawan dibiarkan masuk sebanyak banyaknya, namun begitu sampai ke tengah pasukan langsung dibinasakan.

    Formasi ini hanya bisa dilaksanakan jika pasukan memiliki kelebihan kemampuan, baik perseorangan maupun dalam kelompok dibanding dengan pasukan lawan, atau dapat dikatakan ini adalah gelar yang sering digunakan oleh pasukan khusus, walaupun kecil jumlahnya tapi berkemampuan tinggi.

    5. Gêlar Pêrang Wukir Jaladri:

    Gêlar Pêrang Wukir Jaladri adalah formasi pasukan yang bentuknya seperti gunung di tengah lautan (wukir = gunung, jaladri = lautan). Gelar ini biasanya digunakan untuk bertahan dari gempuran musuh. Bermakna Gunung di tengah laut.

    Kendaraan besar dan gajah akan ditempatkan di tengah sebagai gunung atau batu karang, dengan Panglima berkedudukan di tengah-tengahnya sebagai pusat komando, sedangkan para Senopati dan prajurit melingkarinya sebagai gelombang dan airnya.

    6. Gêlar Pêrang Gêlatik/Êmprit Nêbå:

    Gêlar Pêrang Gêlatik atau Êmprit Nêbå ini mrip Gelar Pêrang Jaladri Pasang, yaitu samudera yang sedang pasang airnya, dimana gerak-gerik pasukan diibaratkan air laut pasang yang mematikan.

    Adalah strategi perang dengan bentuk formasi seperti burung gelatik dalam jumlah banyak yang bersama sama turun dari udara (nêba= turun dari udara dalam keadaan terbang), atau burung gelatik yang secara bersama-sama datang ke sawah untuk mencari makan padi, pada umumnya melayang turun bersama-sama.

    Tentu saja burung gelatik tersebut mamakan padi semaunya sendiri tanpa aturan maka rusaklah tanaman padi yang diibaratkan sebagai musuh.

    Gelar ini biasanya dilakukan oleh Senopati Agung dan sepasukan prajurit yang sudah putus asa, mungkin karena sudah terjepit tapi pantang menyerah.
    (Ada peribahasa Jawa yang berbunyi: Kinêpung wakul binåyå mangap, yang artinja dikelilingi seperti pertemuan bingkai bakul dan seperti bertemu dengan buaya ternganga mulutnya. Berarti bahaya yang tak dapat dihindari.)

    7. Mowor Sambu dan Dom Sumuruping Banyu:

    Mowor Sambu dan Dom Sumuruping Banyu oleh sebagian orang tidak digolongkan dalam gelar perang tetapi hanya bagian dari strategi perang.

    Dalam Gelar Wowor Sambu, sepasukan prajurit, sebagian atau bahkan seorang prajurit bertugas menyerang musuh dari belakang atau dari dalam dengan cara menyamar sebagai prajurit musuh atau dalam bentuk lain.

    Hal ini pernah dilakukan prajurit Mataram pada masa Sultan Agung menyerang Kompeni Belanda/VOC di Batavia tahun 1629, dengan memasukkan prajuritnya ke dalam benteng VOC sebagai pedagang sayur-mayur sejumlah 40 prajurit, yang kemudian bertugas menyerang musuh dari belakang, sementara prajurit Mataram yang besar jumlahnya menyerang dari depan atau luar benteng.

    Sedangkan pengertian Dom Sumuruping Banyu adalah memasukkan sedikit orang ke daerah musuh untuk memata-matai kekuatan musuh, hal ini sama dengan Wowor Sambu apabila dengan prajurit yang relatif sedikit yang ditugaskan khusus hanya untuk memata-matai musuh.

    ånå candhaké

    Kêparêng rumiyin. Kalau pake gayanye Ki Kompor…
    kamsiaaaaaa………………….
    nyilem lagi ach……..

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nuwun sewu Ki Bayu, …… Cantrik Truno gak putus2nya nyrandu. Nopo tentara kompeni ugi ngangge gelar2 perang kangge nglawan prajurit Mataram?
      Lajeng nopo tentara Modern taksih ngangge gelar2 perang meniko, mengingat mobilitas tentara jaman seniki sangat tinggi, ip. ngangge kendaraan perang.
      Nuwun.

      • Nuwun

        On 28 April 2011 at 10:58 Truno Podang said:
        tentara kompeni ugi ngangge gelar2 perang kangge nglawan prajurit Mataram?
        Lajeng nopo tentara Modern taksih ngangge gelar2 perang meniko, mengingat mobilitas tentara jaman seniki sangat tinggi

        Katur ingkang kinurmatan kadang kulå Ki Truno Podang,

        1. Delar Perang VOC/Kumpeni Belanda

        Dalam sejarah perang antara kerajaan Jawa Mataram melawan kumpeni Belanda, tidak banyak informasi tentang gelar perang yang dipakai oleh tentara VOC/kompeni Belanda.

        Yang banyak diberitakan justru kegiatan intelijen (intelligence) sebelum terjadinya perang, artinya pihak kumpeni terlebih dahulu menyebarkan isue-isue yang bersifat mengadu-domba kepada petinggi-petinggi kerajaan, menciptakan kerusuhan-kerusuhan yang mengundang pihak kumpeni untuk menumpas kerusuhan-kerusuhan itu, yang pada akhirnya timbul “utang budi” sang pangeran/raja kepada VOC/kumpeni Belanda.

        Sebagaimana kita baca dalam sejarah raja-raja Jawa, sering terjadi saling jatuh-menjatuhkan antara pangeran yang satu dan pangeran yang lain, sehingga negara menjadi terpecah belah (Palihan Nagari Mataram: Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, kemudian terpecah lagi menjadi empat, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman). Naiknya seseorang menjadi raja karena “jasa baik” kumpeni.

        Bahkan seperti diberitakan dalam Babad Nitik Mangkunêgårå I (Catatan Harian Prajurit Èstri Mangkunêgaran). Diceritakan bagaimana muaknya RM Said melihat Pangéran Mangkubumi setelah Perjanjian Giyanti, Mangkubumi menghadiahkan istrinya sendiri, Raden Rêtnåsari, kepada Deller, Penguasa Belanda di Semarang, sebagai tanda keseriusan dan tanda keteguhan dari janji persahabatannya, dan merupakan balas karena “jasa baik” Belanda menobatkan Mangkubumi sebagai raja Keraton Yogyakarta.

        Demikian juga halnya Kesultanan Cirebon yang akhirnya menjadi dua Kasepuhan dan Kanoman (sekitar tahun 1677). Pembagian dua kekuasaan tersebut sekaligus menandai awal keruntuhan Kesultanan Cirebon.
        Perselisihan antara kedua kesultanan itu, ditambah dengan ketidakpuasan Pangeran Wangsakerta, memudahkan campur tangan politik VOC Belanda. Sejak perjanjian 7 Januari 1681, Gubernur Jenderal dan Dewan Hindia, mengakui keberadaan ketiga raja di Cirebon. Masing-masing berdiri sendiri. Dan pada tahun 1700, kesultanan menjadi empat kekuasaan. Selain Kasepuhan dan Kanoman, terdapat juga Kesultanan Kacirebonan di bawah Pangeran Arya Cirebon, dan Kaprabonan (Panembahan) di bawah Pangeran Wangsakerta. Sejak itu, perdagangan internasional melalui Pelabuhan Cirebon sudah berada di tangan VOC.

        2. Gelar perang pada Perang Modern

        Belum banyak yang saya ketahui juga Ki. Pernah beberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Museum Perjuangan TNI Satria Mandala yang terletak di Jalan Gatot Subroto Jakarta Selatan, terdapat beberapa diorama perang (tentunya ini merupakan imajinasi sang artis pemahat, meskipun didasarkan pada kisah nyata pelaku perang yang masih hidup), yang membentuk beberapa gelar perang mirip gelar-gelar perang yang ada, tetapi tidak ada cacatan tentang gelar perang jenis apa. Pada papan penerangan yang ada hanya disebutkan, misalnya Diorama perang penumpasan separatis DI/TII di Jawa Barat, Jawa Tengah, dstnya.

        Demikian Ki. Mudah-mudahan informasi ini bermanfaat.

        Nuwun
        Sugêng siyang

        cantrik bayuaji

        • nuwun sewu Ki, sumela atur, rikala Kol.Sudirman mimpin perang wonten “Palagan Ambarawa” , saged mimpang perangipun ngangge gelar supit urang,saksampunipun menang Pak Dirman dipun angkat dados Panglima Besar, sak enggo sepriki dipun peringati dados Hari Juang Kartika tgl 15- Des- 1945, nyuwun ngapunten bilih lepat

          • Nuwun

            Katur Ki Truno,

            Keberhasilan Jendral (waktu itu Kolonel)Soedirman memimpin pertempuran yang selanjutnya dikenal dengan Palagan Ambarawa, selama lima hari yang berakhir pada tangal 15 Desember 1945, dan karena peristiwa itulah, maka tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infantri AD, kemudian dengan Surat Keputusan KSAD Nomor Skep/662/XII/1999 tanggal 14 Desember 1999, peristiwa Palagan Ambarawa dijadikan Hari Juang Kartika.

            Sepanjang data dari Pusat Penerangan AD (Puspenad), gelar perang yang dipakai beliau ada dua yaitu: Gêlar Pêrang Garudå Nglayang dan Siasat Pêrang Gilingan Råtå.

            Sumber: Puast Sejarah TNI AD, Museum Perjuangan TNI AD Satria Mandala Jakarta.

            Kêparêng
            Sugêng sontên

            cantrik bayuaji

        • Nggih Cantrik Truno ngaturaken gunging panuwun pikantuk panglejaran Ki Bayu dalah Ki Bancak.
          Mugi karahayon ingkang tansah pinanggih.

  20. Mas Kompor pantas menjadi anaknya SH Mintardja
    sudah mirip buangetttt
    matur suwun ki kompor

  21. Mosok sunah rasul terus sampe siang? Awas lho kebanyakan SR nanti gak bisa nutul key board.

    Ono Tutuge, …

    • wakakakak……..ki Truno, ki Kompor lagi dalam pemulihan tenaga.

  22. ki Kompor sawek ndudul tik

  23. sugeng ndalu ki……

  24. siapa yang setuju tutug’e diunggah sekarang…????

    saya………………!!!!!!!!
    nomer satu.

    • kulo njenengan wakili sekalian ki Gembleh,

  25. ki DALANG MAHESA isih lemes ki, kemaren malam
    sampe pagi diPEres nyi DALANG.

    malem ini isih semrepet, belom bisa ndudul tIK
    he5x, ojo2 nyi DALANG malem ini minta “tambah”

    • tenang mawon Ki Menggung,
      kala wau sampun kula kintuni mantra
      ajian Thi Ki I Beng untuk memulihkan
      tenaga, dijamin kecepatan ndudul tik’e
      bakal tambah banter.
      Duka menawi dipun penggak Nyai’ne malih,
      nggih mesti bakal diperes ngantos tuntas.

      He…..he…..he…..
      sugeng dalu Ki.

  26. tas, tas tuntas

  27. Sugeng ndalu…..

    Lama tidak mampir padepokan. Ternyata banyak yang mesti dipelajari.

    Pamit badhe sinau rumiyin….

  28. Hup…., maaf,…baru nyampe …..

    keren…kursi undangan udeh banyak terisi,
    bahan mentah udeh lumayan banyak, metik diperjalanan.

    kamsia, ilmu perang Ki BY langsung ane sedot, ternyata ane saleh inget….tentang jenis-jenis perang…jadi dipersoriiiiiiii asal nyebut…gap pape khan……
    sip….siap-siap “copas” istilah anak sekarang

  29. Tutug-e………kemaleman.

    Sementara itu., Mahesa Semu dan Wantilan telah bergabung bersama pasukan para budak yang dipimpin oleh Kepala sukunya sendiri. Dan Nampak pula Gedemantra adikya yang tidak kalah gagahnya bertepur dengan begitu garang, sebagai panglima pengapit sisi kiri gelar capit urang.

    “Ternyata kau punya keberanian Dadulengit”, berkata Mahesa Semu yang baru bergabung disisi kanan gelar pasukan kepada Dadulengit yang tengah memutar-mutarkan golok panjangnya.

    “Kukira kau sudah mati”, berkata Dadulengit berpaling kepada Mahesa Semu setelah goloknya berhasil melukai seorang pengikut Datuk Malakar.

    ……
    sdudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

    • Tutug-e……………nambah lagiiiiiiiiiiiiii

      Para pengikut Datuk Malakar sudah bercerai berai. Satu persatu terbunuh, satu persatu jatuh terluka dibantai para budak yang semakin garang, dan satu persatu melemparkan golok besarnya, menyerah !!!.

      Pasukan para budak yang dipimpin Putumantra telah menguasai peperangan. Pasukan para budak akhirnya telah benar-benar memenangkan pertempuran. Nampak beberapa orang pengikut Datuk Malakar yang menyerah tengah diikat diamankan.

      Datuk Malakar yang melihat peperangan telah dikuasai para budak, menjadi begitu gusar, geram dan marah sampai keubun ubunnya. Golok besarnya diputar begitu kencangnya seperti baling-baling menerjang Mahesa Pukat.

      ……
      sudah dipindah ke https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-119/5/

      • Seperti Operara Van Java, sang sinden melagamkan lagu “begadang” koborasi dangdut dan gending gamelan.

        …..begadang jangan begadang……..

        (Sori Ki YP, sindennya udeh ade yang antar jemput. He3x)

        • protes ki DALANG :

          sesuk2 biaya akomodasi sinDEN
          di-anggarkan 0 rupiah ki….!!!

          jempuT-antar sinden biar cantrik
          yg lakukan,…se-kalian cantrik
          pengen belajar ngiDUNG diperjala-
          nan.

  30. Nuwun
    Sugêng énjang

    Alhamdulillah, terima kasih Tuhan segala kenikmatan yang Engkau limpahkan pada kami.
    Hari ini aku sehat kembali. Matur nuwun semua doa dari sanak kadang.

    Nuwun

    punåkawan

  31. Nuwun
    Sugêng énjang

    Alhamdulillah, terima kasih Tuhan segala kenikmatan yang Engkau limpahkan pada kami.
    Hari ini aku sehat kembali.Matur nuwun semua doa dari sanak kadang.

    Nuwun

    punåkawan

    • semoga kita termasuk orang yang bersyukur

  32. Wadaoow Mahesa Pukat terluka.
    Terusannya mana Ki?
    Matur nuwun Ki Kompor.

  33. Ngebayangin Ki Kompor jam 2 dini hari sudah depan lap top terus sekarang lagi ngapain ya.

    • keramas ki, buat ngiLANGi rasa kantuk…!!

  34. matur nuwun ki….

  35. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang</b

    candhaké DONGENG GELAR PERANG

    “… ternyata ane saleh inget….tentang jenis-jenis perang…jadi dipersoriiiiiiii asal nyebut…gap pape khan…….” Tulis Bang Kompor [On 29 April 2011 at 00:25 kompor said:]

    Kagak apé-apé bang Kompor. Nih toêtoêgé……………nambah lagiiiiiiiiiiiiii

    BENDA-BENDA “KERAMAT” DI MEDAN PERANG

    Dalam pada itu kita juga kenal dengan benda-benda “keramat” atau yang dikeramatkan, tetapi bukan senjata perang seperti pedang, tombak, panah, dan sejenisnya.

    Benda-benda ini dihadirkan di medan pertempuran digunakan untuk pembangkit semangat para tentara di medan peperangan, dan dimaksud untuk memberi rasa takut pada lawan, di antaranya adalah bende; panah sendaren; umbul-umbul dan cermin.

    Bêndé

    Bêndé atau canang adalah sejenis gong dengan ukuran yang lebih kecil yang dapat dijumpai di hampir seluruh kepulauan Nusantara.

    Pada masa lalu, bende biasanya digunakan untuk memberikan penanda kepada masyarakat untuk berkumpul di alun-alun terkait informasi dari penguasa, untuk menyertai kedatangan raja atau penguasa ke daerah tersebut, atau untuk menandai diadakannya pesta rakyat.

    Bende lazim juga digunakan dalam peperangan. alat musik ini memang khusus dipergunakan untuk komunikasi dalam peperangan.

    Tidak sembarang orang boleh memainkan dan tidak sembarang waktu boleh ditabuh.
    Bende tersebut sangat disakralkan, ingat judul sustu novel Bende Mataram.

    Bende ini biasanya diberi nama atau gelar yang berbau mistis dan seram berbau maut, misalnya: Kyai Amuk, Kyai Guntur, Kyai Pegatsih, nama-nama yang menyeramkan ini dimaksudkan agar dalam peperangan, bunyi bende ini bisa menggugah semangat tempur para prajurit dan menggetarkan nyali pasukan musuh.

    Panjang pendek nada yang diperdengarkan dan berapa kali dipukul adalah merupakan sandi sandi yang hanya dimengerti oleh beberapa orang pucuk pemimpin pasukan.

    Bunyi bende ini merupakan sebuah aba aba untuk membentuk formasi pasukan dan perubahan siasat dan gelar pasukan serta aba aba untuk memulai pergerakan pasukan.

    Dalam gelar pasukan perang biasanya dipimpin oleh satu Senopati Agung [jendral besar] dibatu oleh dua atau lebih Senopati Penjawat [senopati pendamping].

    Para senopati pendamping ini berfungsi memimpin unit unit pasukan yang ada di kiri dan kanan atau dibelakang pasukan induk.

    Begitu mendengar bunyi bende diperdengarkan, senopati pendamping akan menyuruh perwira penghubung untuk memberikan sandi balasan bahwa perintah telah sampai dan dimengerti oleh para senopati tersebut.

    Sebagai contoh bende yang merupakan salah satu peninggalan dari kerajaan Majapahit yang masih tersisa dan dikeramatkan adalah Gong Kyai Pradah yang sekarang disimpan dipendopo Kawedanan Lodoyo.

    Benda ini sampai sekarang masih dikeramatkan dengan melakukan upacara Siraman yang dilakukan tiap tahun dibulan Maulud dalam penanggalan jawa.

    Upacara ini sampai sekarang masih menjadi tradisi yang menarik yang dihadiri oleh para pejabat Kabupaten Blitar dan dibanjiri oleh penonton yang datang dari daerah Blitar,Kediri,Tulung Agung dan sekitarnya.

    Dalam Babad Pengging. Diberitakan ketika Sunan Kudus diperintahkan untuk ke Pengging menemui Syekh Siti Jenar:

    Perjalanan Sunan Kudus dan murid-muridnya, sampai di utara Kali Cemara, karena kemalaman mereka menginap di dalam hutan dengan membuat kemah.

    Pada malamnya harinya Sunan Kudus memerintahkan muridnya untuk membunyikan Bende Kyai Sima yang dibawa dari Demak.

    Bende itu adalah barang pusaka peninggalan mertua Sunan Kudus. Ketika Bende dipukul bunyinya mengaum seperti singa. Suara auman itu sampai terdengar ke desa-desa sekitarnya sehingga para penduduk desa merasa ketakutan.

    Esok harinya para penduduk desa masuk ke dalam hutan untuk membunuh harimau atau singa yang semalam mengganggu tidur mereka. Tapi mereka tidak menemukan singa yang dicarinya. Hanya bertemu dengan Sunan Kudus beserta muridnya.

    “Apakah Tuan tidak mendengar suara harimau mengaum semalam ?” tanya tetua desa.
    “Tidak !” jawab Sunan Kudus. “Andai kata kami melihat harimau tentu kami tidak berani bermalam di sini dan segera lari ke desa.”
    “Sungguh mengherankan, kami tidak tidur semalaman karena kuatir harimau itu datang ke desa kami,” kata tetua desa.
    “Kalau begitu namakan saja desamu ini Desa Sima (harimau) karena kau mendengar suara harimau padahal tidak ada harimau sama sekali,” kata Sunan Kudus.

    Penduduk desa menurut dan Sunan Kudus pun meneruskan perjalanannya ke Pengging.

    Panah sêndarèn

    Sebagai sandi balasan dari bende yang ditabuh biasanya mempergunakan panah api atau panah bersuara [panah yang ujungnya diberi sêndarèn, alat yang dapat mengeluarkan suara bila bergesekan dengan udara].

    Dalam kisah pertempuran antara Pajang dan Mataram dikisahkan:

    “Namun demikian, para prajurit Mataram telah menunjukkan bahwa mereka adalah prajurit-prajurit pilihan. Dalam jumlah yang jauh lebih kecil, mereka mampu bergeser surut dalam kesatuan yang utuh.

    Demikian pasukan Mataram surut dan turun menyeberangi Kali Opak, maka isyaratpun telah diterbangkan. Panah sêndarèn telah meluncur di langit, mengirimkan perintah kepada mereka yang siap untuk memecahkan bendungan……..”

    Umbul-umbul

    Sebagaimana benda-benda “keramat” lainnya, maka umbul-umbul pun berfungsi sama.

    Di tengah perkebunan Gunung Cikurai, sekitar 15 kilometer sebelah selatan Kota Garut, Mang Iding Solihin, ± 80 tahun, sang kuncen, yang saya kenal, beberapa tahun yang lalu pernah menunjukkan kepada saya beberapa benda yang dikeramatkan seperti keris, bedil, umbul-umbul dan peta kuno, sebuah peta Kerajaan Pajajaran berkain “Boeh Rarang”.
    Benda-benda tersebut disimpan oleh penduduk desa di daerah Gunung Cikurai.

    Dua lipatan kain lusuh seperti kain blacu berupa umbul-umbul yang sudah sangat rapuh, Di masa silam, dia berkisah umbul-umbul itu digunakan saat perang Pajajaran melawan Mataram.

    Salah satu bagian dari umbul itu menampilkan gambar prajurit bertanduk dengan kain jumputan merah menyala, gambar “Ciung Wanara”.

    Dan isyarat yang Mang Iding sampaikan adalah siapa pun yang ingin menyaksikan umbul-umbul kuno ini, maka pantang memakai baju merah. “Pamali,

    Sangat disayangkan benda-benda tersebut tidak boleh dipinjam (tentunya dengan maksud untuk diteliti sejarahnya, dan bila mempunyai nilai sejarah, maka diupayakan penyelamatannya dari kerapuhan.)

    Cermin

    Tidak diketahui dengan pasti sejak kapan cermin digunakan sebagai ”senjata perang”. Dalam kronika Cina, dicatat bahwa Temuchin si Jegnghis Khan (kakek Kubilai Khan) di tahun 1167 telah mempergunakan cermin sebagai alat komunikasi dalam beberapa pertempurannya.

    Dalam episode kepulangan Jengghis Khan, setelah memenangkan pertempuran, dia berpesan kepada salah satu panglima perangnya dan petugas sandinya tentang cermin: “Alat perangku yang paling aku handalkan bukanlah pedang, tombak atau panah, tetapi cermin. Tetapi jangan sekali-kali engkau berikan benda ini pada seorang wanita.”

    Nah…..
    Hiks…. hiks….hiks.
    dan….

    Dongeng masih akan berlanjut. Tapi cantrik bayuaji cukupkan dulu dan…..

    ånå toêtoêgé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Nyuwun pangapuntên, kebanyakan bold

      sampun mboten Ki

    • Wedaran kangmas Bayuaji selalu menarik hati. Dados tambah khasanah kulo. Suwun lho kangmas.

  36. Waduh kok nggantung malih to Ki . Menopo sampun wayahe nglokoni kewajiban nggih.

  37. Sudah cukup satu jilid
    monggo pindah ke gandok HLHLP K-02 yang sudah dibuat Ki Arema semalam.

  38. boyongan

  39. golek gandok anyar rung ketemu

  40. ndherek copas hlhlp-119,
    matur nuwun.

  41. Kesasar,alamate palsu po yo? Kang Mbleh, tulong. menopo njenengan pirso,alamatipun hlhlp -118-119…judeg ki.kadung mbekok j.

  42. Nwn Kang Putut Risang infonipun.hananging kulo tesih penasaran… h,,,, sak lajengipun? dos pundi? nunal nunul nganti keju drijine,ora… ketemu2.cen wis tuoki yo griyak2.ning semangat.ngaaattt…

  43. Waduhh… tesmakku ning ndi yo ? mripatki wis kriyap kriyep j.tonjo nnannn…tp namung ngaturaken….Agunging panuwun kagen Kang P R utawi Kang P Satpam.

  44. Ini terusannya mana ya ki..?

    • silahkan baca di petunjuk yang pernah dituliskan di atas: On 12 Mei 2015 at 10:12 P. Satpam said:

      • Maturnuwun ki.satpam , salam sehat slalu buat ki.satpam

        • Baru sekali ini baca HLHLP 119…

          Memang luar biasa Ki Kompor yang kemudian diberi gelar sendiri abiseka Ki Sandikala..

          Saya baca ulang 2x karya Ki Dalang bener2 merupakan “Masterpiece”..👍👍👍

          Beberapa penggemar karya maestro Ki SHM mencoba teruskan ADBM, tapi tak beranjak jauh dari seputar Menoreh. Bahkan hidupkan tokoh2 yang udah mati…😜

          Ada lagi yang bikin tokoh2 bisa terbang ..💤 Tapi Ki Sandikala bener2 sang Maestro malah melebihi Ki SHM, dengan pengembaraan tokoh2nya ke Sumatra, Pasundan, Bali dll👍👍👍

  45. Apa mungkin ada lanjutan keperguruan
    Windu jati pak dalang saya jadi penasaran ingin tau kisah hlhlp dgn putra mahkotanya cantrik ngnteni obahe
    pak dalang…. nuwun…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: