HLHLP k-02

Pura-puranya ini Padepokan Bajra Seta di waktu malam hari. Hikss…, pada jaman dului belum ada listrik ya.  Cari gambar yang mirip dengan padepokan jaman dulu kok susah.

lha kalau yang ini dibayangkan saja barak penampungan budak belian Datuk Malakar.

ada yang minta blumbang, he he he niki blumbang ikan gurame, monggo kalau mau mancing Ki Gundul.

Laman: 1 2

Telah Terbit on 29 April 2011 at 00:01  Comments (148)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/hlhlp-k-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

148 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun
    Sugêng énjang ndungkap siyang

    EKSPEDISI PAMALAYU [PERANG MELAWAN MELAYU]

    Ekspedisi Pamalayu adalah sebuah diplomasi melalui operasi kewibawaan militer yang dilakukan Kerajaan Singasari di bawah perintah Raja Kertanagara antara tahun 1275 dan 1293 terhadap Bhumi Malayu atau Kerajaan Melayu Dharmasraya di Pulau Sumatera.
    Istilah Pamalayu bermakna “perang melawan Malayu.”

    Adalah Kertanegara, raja agung Singasari yang berjasa besar menghalau kekuatan asing untuk bercokol di bumi nusantara. Adalah sebuah nasionalisme yang tinggi.

    Berbeda dengan raja-raja Singasari sebelumnya, Prabu Kertanegara berniat memperluas daerah kekuasaan sampai ke luar Pulau Jawa.

    Gagasan pengiriman tentara ke Suwarnabhumi dapat dukungan penuh dari Mahisa Anengah, pengganti Raganata.

    Demikianlah diputuskan untuk mengirimkan tentara ke Melayu. Keputusan itu dilaksanakan pada tahun 1275 M, dengan pengiriman pasukan di bawah pimpinan Kebo Arema untuk menaklukan bhumi malayu.

    Siapa Kebo Arema?

    Arema atau Kebo Arema adalah legenda Kota Malang. Adalah Kidung Harsawijaya (diduga ditulis pada awal abad ke-17) yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara.

    Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur.

    Dalam prasasti Sarwadharma yang dikeluarkan pada bulan Kartika tahun 1191Ç (Oktober-November 1269), tercatat nama Patih Kebo Arema dan Sang Ramapati, yang sangat dipuja sebagai penasehat politik sang prabu dalam mengadakan hubungan dengan pembesar-pembesar di Madura dan Nusantara.

    Sang Ramapati mengepalai kabinet menteri yang terdiri dari patih, demung, tumenggung, rangga, dan kanuruhan. Melihat fungsinya dalam pemerintahan, kiranya Sang Ramapati dalam prasasti Sarwadharma itu sama dengan Mpu Raganata dalam Pararaton dan Kidung Harsawijaya ataupun Panji Wijayakrama.

    Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Nagarakretagama. Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka.

    Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

    Kidung Panji Wijayakrama menyebutkan nama utusan Ekspedisi Pamalayu tersebut, yaitu Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang atau Lembu Anabrang (lahir: ? – wafat: 1295), yang artinya ialah “kerbau yang menyeberang”.

    Terdapat kemungkinan bahwa ini bukan nama asli, nama itu adalah nama “julukan” atau “paraban/panggilan”.

    Sêrat Kêkancingan atau Piagam Gunung Wilis (1269); menyebutkan bahwa perintah Raja Kertanegara ditampung oleh tiga mahamenteri yaitu: rakryan i hino, rakryan i sirikan dan rakryan i halu.

    Ketiga jabatan ini merupakan jabatan yang dipegang oleh keturunan langsung Sang Maharaja. Jabatan ini telah ada sebelumnya, yakni sejak zaman Mataram Kuno, pada masa Rakai Kayuwangi, dan tetap ada hingga masa Majapahit.

    Di antara ketiga penjabat itu, rakryan mahamantri i hino-lah yang terpenting dan tertinggi. Ia mempunyai hubungan yang paling dekat dengan raja, sehingga berhak mengeluarkan piagam (prasasti).
    Oleh sebab itu, banyak para ahli yang menduga jabatan ini dipegang oleh Putra Mahkota.

    Perintah Sang Maharaja tadi selanjutnya diteruskan kepada para “tanda rakryan”, yakni para pejabat pemerintahan, sesuai dengan bidang tugasnya.

    Mereka dalah Rakryan Mantri ri Pakirakiran. Jabatan ini berfungsi semacam Dewan Menteri atau Badan Pelaksana Pemerintah.

    Biasanya terdiri dari lima orang rakryan (para tanda rakryan), yakni:
    1. Rakryan Mahapatih atau Patih Amangkubhumi;
    2. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan);
    3. Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan);
    4. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima);
    5. Rakryan Kanuruhan (penghubung tugas-tugas upacara kerajaan)

    Pada masa pemerintahan Kertanegara anggota dewan menteri atau anggota kabinetnya adalah:

    1. Rakryan Mahapatih: Rakryan Patih Kebo Arema
    2. Rakryan Tumenggung (Panglima Kerajaan); —
    3. Rakryan Demung (Kepala Rumah Tangga Kerajaan): Demung Mapanji Wipaksa.
    4. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima): —
    5. Rakryan Kanuruhan (penghubung dan tugas-tugas upacara kerajaan). Kanuruhan Ramapati

    Piagam Kampilan (bulan Kartika 1191Ç atau Oktober-November 1269M), tercatat nama Patih Kebo Arema. Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa Kebo Anabrang identik dengan Kebo Arema.

    Dalam Record, tulisan pendeta Buddha I-tsing dari Kanton, yakni tulisan yang menerangkan lokasi-lokasi persinggahan I-tsing dari Cina – Asia Tenggara – India.

    I Ching Yì Jìng (635-713) adalah seorang bhiksu Buddha Cina yang berkelana lewat laut ke India melalui Jalur Sutra untuk mendapatkan teks agama Buddha dalam Bahasa Sansekerta.
    Penerjemahan ke dalam bahasa Cina dibantu seorang pakar Jawa yang bernama Jñânabhadra.

    Tertulis bahwa pelabuhan Melayu alias Jambi dalam abad ke-7 adalah pelabuhan penting untuk lalu lintas kapa-kapal yang berlayar dari dan ke Tiongkok.

    Boleh dipastikan bahwa pelabuhan itu dalam abad ke-13 masih mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk lalu lintas kapal yang berlayar dari dan ke Tiongkok.

    Demikianlah pelabuhan Melayu itu banyak dikunjungi oleh perahu-perahu Tiongkok, perahu-perahu kaisar Kubilai Khan.

    Pelabuhan Melayu menguasai pelayaran di Selat Malaka dan merupakan pangkalan untuk perluasan pengaruh Tiongkok di negeri selatan.

    Hal itu diketahui benar oleh raja Kertanagara. Maka, raja Kertanagara mengerahkan segala kekuatan tentara Singasari untuk merebut kekuaasaan di negeri Melayu pada tahun 1275, ketika kaisar Kubilai Khan masih sibuk dengan usahanya menguasai Tiongkok.

    Diuraikan dalam Kidung Panji Wijayakrama, bahwa ada pengerahan tentara ke negeri Melayu, melalui pelabuhan Tuban. mereka diantar oleh patih Mahisa Anengah dan Panji Angragani, dan tidaklah benar uraian Kidung Harsa Wijaya, bahwa Ekspedisi Pamalayu itu digerakkan oleh keinginan merebut putri Melayu yang akan dikawinkan dengan Raden Wijaya.

    Nagarakretagama mengisahkan bahwa tujuan Ekspedisi Pamalayu sebenarnya untuk menundukkan Swarnnabhumi secara baik-baik. Namun, tujuan tersebut mengalami perubahan karena raja Swarnnabhumi ternyata melakukan perlawanan.
    Meskipun demikian, pasukan Singasari tetap berhasil memperoleh kemenangan.

    Negarakretagama pupuh 41 (5) menyebut pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197Ç atau tahun 1275M.

    …nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu…

    [… Tahun Saka nagasyabhawa (1197Ç/1275M) Baginda menyuruh tundukkan tanah Melayu,…]

    Menurut analisis para sejarawan, latar belakang pengiriman Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menghadang serbuan bangsa Mongol, yang pengaruh kekuasaannya telah meliputi hampir seluruh daratan Asia, termasuk kekaisaran Turki di Timur Tengah.

    Saat itu wilayah jajahan bangsa Mongol di bawah Kubilai Khan (atau Dinasti Yuan) sedang mengancam wilayah Asia Tenggara.

    Untuk itu, Kertanagara mencoba mendahuluinya dengan menguasai Sumatera sebelum datang serbuan dari pihak asing tersebut, sekaligus menggalang kekuatan di Nusantara di bawah satu kekuasaan di bawah Singasari.

    Sudah pasti bahwa raja Kertanagara mendengar berita-berita tentang serbuan tentara Mongolia di negeri Annam dan Campa antara tahun 1280 dan 1287.

    Serbuan tentara Mongolia itu menyebabkan usaha raja Kertanagara memperkuat pembinaan persahabatan dengan negeri Melayu yang telah dikuasainya.

    Pada suatu saat, negeri Melayu pun akan menjadi sasaran serangan tentara Kubilai Khan.

    Demikianlah pada tahun 1286, berdasarkan prasasti Amoghapasa, raja Kertanagara mengirim arca Amoghapasa sebagai hadiah kepada raja Melayu Warrmadewa.
    Kedatangan arca itu diantar oleh pelbagai pembesar pemerintahan dari kerajaan Singasari.

    Pemberian arca itu dapat ditafsirkan sebagai pemberian çakti kepada raja Melayu. Pemberian çakti itu mengandung arti memperkokoh persahabatan untuk mengahadapi kemungkinan serangan tentara Kubilai Khan dari Tiongkok tersebut.

    Ekspedisi Pamalayu merupakan manifestasi gagasan cakrawalamandala raja Kertanagara sebagai ‘bumper’ atas hegeomoni Kubilai Khan di Asia Tenggara.

    Dengan demikian raja Kertanagara telah berupaya untuk membendung pengaruh Kubilai Khan, agar jangan sampai menjalar ke wilayah Nusantara. Untuk tujuan yang sama, raja Kertanagara mengirimkan putrinya, Dewi Tapasi, untuk dikawinkan dengan raja Campa.

    Campa dengan ibukotanya Panduranga merupakan benteng terdepan dan pertama untuk membendung pengaruh kekuasaan Kubilai Khan.

    Agar jangan timbul kekeruhan dalam negeri selama tentara Singasari bertugas di negeri Melayu, Ardaraja pangeran dari Kediri, diambil menantu oleh Kertanagara, serta raden Wijaya (Calon Raja Majapahit), panglima perang Singasari, dipasangkan dengan dua orang putrinya.

    Bila dilihat lebih dalam gagasan cakrawala mandala Kertanagara sebagai usaha membendung hegemoni Kubilai Khan atas Asia umumnya dan Asia Tenggara khususnya akan lebih berdasar dan bersumber pada watak ahangkara, watak sang ahngkaraneng bhumi raja Kertanagara.

    Beliau sadar akan keagungan dan kekuasaannya. Sang Prabu Kertanegara Bhatara Siwa Buddha, terlalu percaya diri dan Beliau mengagungkan kekuatannya sendiri.

    Ia sadar dan percaya bahwa ia menguasai kekuatan gaib. Beliau tidak mau menyerah terhadap kaisar Kubilai Khan.

    Kesadaran akan keagungan itu menimbulkan keberanian untuk menanggulangi kekuasaan dan nafsu menjajah kaisar Kubilai Khan di wilayah Nusantara.

    Dalam Negarakretagama pupuh 42 (2), disebutkan bahwa Pahang, segenap Melayu, Gurun, Bakulapura, termasuk Sunda dan Madura tunduk di bawah kekuasaan Singasari, sehingga Tanah Jawa menjadi semakin cemerlang.

    samangkana tikang digantara padangabhaya marek i jong nareswara
    ikang sakahawat pahang sakahawat malayu pada manungkul adara
    muwah sakahawat gurun sakahawat bakulapura mangasrayomarek
    ndatan lingen i sunda len madhura pan satanah i yawa bhakti tansalah

    [Begitulah dari empat jurusan orang lari berlindung di bawah Baginda, Seluruh Pahang, segenap Melayu tunduk menekur di hadapan beliau, Seluruh Gurun, segenap Bakulapura lari mencari perlindungan, Sunda Madura tak perlu dikatakan, sebab sudah terang setanah Jawa].

    Dalam Negarakretagama pupuh 44 (3), dinyatakan bahwa semua raja-raja sampai Nusantra tunduk kepada cicit batara Girinata, yakni Sri Kertanagara.

    sakweh ning natha bhakti weka ni weka bhataragirindratanaya
    astam ri sri-narendra krtanagara tekeng nusantara manut……

    [Semua raja berbakti kepada cucu putera Girinata, Hingga seluruh Nusantara tunduk kepada kuasa raja Kertanagara,….].

    Dalam Panji Wijayakrama, tidak disebutkan kekuasaan raja Kertanagara di daerah seberang. Yang tersebut dalam pupuh VII/153 ialah kekuasaan raja Kertarajasa Jayawardana setelah pengusiran tentara Tartar dan sekembalinya tentara Singasari dari Melayu di bawah pimpinan Kebo Anabrang.

    Sedangkan politik perkawinan Kertanagara, baik kedalam mandala Singasari dan keluar, bukanlah usaha membendung hegemoni Kubilai Khan melainkan sebagai upaya peredam kemungkinan pemberontakan.

    Demikianlah landasan politik perkawinan didalam negeri merupakan persiapan keamanan kerajaan, pengelakan pemberontakan.

    Beberapa literatur menyebut sasaran Ekspedisi Pamalayu adalah untuk menguasai negeri Melayu sebagai batu loncatan untuk menaklukkan Sriwijaya. Dengan demikian, posisi Sriwijaya sebagai penguasa Asia Tenggara dapat diperlemah.

    Namun pendapat ini kurang tepat karena pada saat itu kerajaan Sriwijaya sudah tiada. Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 juga tidak pernah menyebutkan adanya negeri bernama Sriwijaya lagi, tetapi melainkan bernama Palembang.
    Itu artinya pada zaman tersebut, nama Sriwijaya sudah tidak dikenal lagi.

    Catatan dari Dinasti Ming memang menyebutkan bahwa pada tahun 1377 tentara Jawa menghancurkan pemberontakan San-fo-tsi. Meskipun demikian, istilah San-fo-tsi tidak harus bermakna Sriwijaya.

    Dalam catatan Dinasti Song istilah San-fo-tsi memang identik dengan Sriwijaya, namun dalam naskah Chu-fan-chi yang ditulis tahun 1225, istilah San-fo-tsi identik dengan Dharmasraya. Dengan kata lain, San-fo-tsi adalah sebutan bangsa Cina untuk pulau Sumatera, sebagaimana mereka menyebut Jawa dengan istilah Cho-po.

    Nagarakretagama menyebut Melayu merupakan daerah bawahan di antara sekian banyak daerah jajahan Majapahit, dimana penyebutan Malayu tersebut dirujuk kepada beberapa negeri yang ada di pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya.

    Babad Tanah Jawi menerangkan:

    Barêng Tanah Jåwå gêdhé panguwåsané, Prabu Kârtånagårå (1268 – 1292) kâlakon biså ngrusak kuthå Paséi, lan ngâjâgi Jambi, Palémbang, Riouw sartå kuthå kutha akèh ing Bornéo åpådéné pulo-pulo ing Moloko. Ing saantaraning taun 1275 lan 1293 wong Jåwå nglurugi tanah pagunungan Jambi mau yåiku tanah kang bésuké aran Mênangkabau. Lurugan iku diarani Pamalayu.

    Kawasan Melayu yang sebelumnya di bawah kekuasaan Sriwijaya sebagaimana tersebut pada Prasasti Kedukan Bukit yang beraksara tahun 682, dan kemudian munculnya Dharmasraya mengantikan peran Sriwijaya sebagai penguasa pulau Sumatera dan Semenanjung Malaya, seiring dengan melemahnya pengaruh Sriwijaya setelah serangan pasukan Rajendra Chola dari Koromandel, India sekitar tahun 1025, di mana dari Prasasti Tanyore menyebutkan bahwa serangan tersebut berhasil menaklukan dan menawan raja dari Sriwijaya.

    Kebangkitan kembali Kerajaan Melayu di bawah pimpinan Kamraten An Maharadja Srimat Trailokya raja Maulibhusanawarmadewa sebagaimana yang tertulis dalam Prasasti Grahi tahun 1183. Setelah kerajaan Melayu di Dharmasraya takluk dan menjadi daerah bawahan.

    Pada tahun 1286M Kertanagara mengirim utusan yang dipimpin Adwayabrahma membawa arca Amoghapasa sebagai tanda persahabatan dan hubungan diplomatik dengan Sri Baginda Raja Dharmasraya.

    Prasasti Padangroco, tempat dipahatkannya Arca Amoghapasa menyebutkan bahwa arca tersebut adalah hadiah persahabatan dari Maharajadhiraja Kertanagara untuk Maharaja Maharājādhirāja Śrīmat Śrī-Udayādityavarmma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Varrmmadeva.

    Sehingga jika ditinjau dari gelar yang dipakai, terlihat adanya pengaruh kekuasaan Singasari, sehingga dapat dikatakan bahwa Singasari telah menjadi atasan Dharmasraya.

    Babad Tanah Jawi mengabarkan pengiriman Arca Amoghapasa ini:

    Ing taun 1268 Prabu Kârtånagårå angganjar rêcå marang ratu ing Dharmmåçråyå (Darmåsråyå) ugå dumunung ing tanah Jambi, ing saikiné ora adoh karo Sungai Lansat. Karajan iku ing bésuké kâlêbu jajahan Majapait, rajané darah Warman jêjuluk Tribuwånå (Mauliwarman) kagungan garwå bångså Mêlayu, kang putriné (putrané putri) ayaké dadi garwané Radén Wijåyå biyèn.

    Prasasti Padangroco juga menyebutkan bahwa arca Amoghapasa diberangkatkan dari Jawa menuju Sumatera dengan diiringgi beberapa pejabat penting Singasari di antaranya ialah Rakryān Mahā-mantri Dyah Adwayabrahma, Rakryān Śirīkan Dyah Sugatabrahma, Samagat Payānan Hyańg Dīpankaradāsa, Rakryān Demung Mpu Wīra.

    Pada Prasasti Padangroco Amoghapasa, tahun 1208Ç atau 1286M, tertulis dengan terjemahan sebagai berikut:

    • Bahagia ! Pada tahun Çaka 1208, bulan Bādrawāda, hari pertama bulan naik, hari Māwulu Wāge, hari Kamis, Wuku Madaṇkungan, letak raja bintang di baratdaya …

    • …. tatkala itulah arca paduka Amoghapāśa Lokeśwara dengan empat belas pengikut serta saptaratana – tujuh ratna permata – dibawa dari bhūmi Jāwa ke Swarnnabhūmi, supaya ditegakkan di Dharmmāśraya,

    • sebagai hadiah Śrī Wiśwarūpa Kumāra. Untuk tujuan tersebut pāduka Śrī Mahārājādhirāja Kṛtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa memerintahkan Rakryān Mahā-mantri Dyah Adwayabrahma, Rakryān Śirīkan Dyah Sugatabrahma dan

    • Samagat Payānan Hyańg Dīpankaradāsa, Rakryān Demung Mpu Wīra untuk menghantarkan pāduka Amoghapāśa. Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di Bhūmi Mālayu, termasuk brāhmaṇa, ksatrya, waiśa, sūdra dan terutama pusat segenap para āryya, Śrī Mahārāja Śrīmat Tribhuwanarāja Mauliwarmmadewa.

    Saptaratna-tujuh ratna permata merupakan lambang seorang cakravartin. Semuanya dilukiskan pada alas arca Amoghapasa tersebut berupa kuda, cakra, permaisuri, ratna, menteri, hulubalang, dan gajah.

    Mungkin juga raja Kertanagara benar-benar mengirimkan seorang putri, dua orang pejabat, seeokor gajah, seekor kuda, senjata cakra, dan permata kepada raja Mauliwarmadewa.

    Setelah penyerahkan arca tersebut, Raja Melayu kemudian menghadiahkan dua putrinya, Dara Jingga dan Dara Petak, untuk dinikahkan dengan Kertanagara di Singasari.

    Chakravartin, Sansekerta bahuvrīhi, secara harfiah “roda yang bergerak“, dalam arti “kereta yang diluncurkan di mana-mana tanpa halangan” bisa juga dianalisis sebagai instrumental bahuvrīhi “melalui siapa roda bergerak”, dalam arti “melalui siapa Dharmachakra (wheel of dharma) sudah berubah” (paling umum digunakan dalam agama Buddha dan Hindu).

    Cakkavatti (bahasa Pali), juga ditafsirkan sebagai “untuk siapa roda-dharma berubah” adalah istilah yang digunakan dalam agama-agama Hindu-Budha untuk penguasa universal yang ideal, yang beretika etis dan rama di seluruh dunia. Disebut sarvabhauma.

    Pada Jainisme, chakravartin yang ditandai dengan memiliki saptaratna, yaitu tujuh permata, yang terdiri dari, kuda, cakra, permaisuri, ratna, menteri, hulubalang, dan gajah.

    Selain itu, termasuk juga perdana menteri dan seorang putra (navaratna). Chakravartin adalah dianggap sebagai manusia yang ideal yang diberkahi dengan tiga puluh dua tanda utama dari keunggulan dan tanda-tanda kecil serta banyak keunggulan.

    Jainisme atau Jain Dharma adalah sebuah agama dharma. Agama ini termasuk salah satu yang tertua di dunia. Jainisme berasal dari India. Seorang Jain adalah pengikut para Jina, atau para penakluk spiritual.
    Mereka mengikuti ajaran 24 penakluk Jina yang dikenal sebagai Tirthankar (pembangun benteng).

    Seperti agama Hindu dan Buddha seorang Jain tujuannya ialah mencapai mokşa. Namun agak berbeda dengan Jainisme dari India ini.

    Pada Jainisme yang dianut oleh Prabu Kertanegara adalah sinkretisme Hindu dan Budha. Yogin sejati pengikut Tantrisme Subhuti.

    Dengan demikian karena beliau adalah penganut Jainisme, maka tepat sekali gelar abhiseka Prabu Kertanegara, yakni Shri Jnyanabadreshwara , sebagai gelar raja setelah ditahbiskan sebagai Jina (dhyani Buddha), dan beliau disebut juga Bhatara Siwabuda.

    Menurut sumber dari Batak, pasukan Pamalayu dipimpin oleh Indrawarman, bukan Kebo Anabrang. Tokoh Indrawarman ini tidak pernah kembali ke Jawa, melainkan menetap di Sumatra dan menolak kekuasaan Majapahit sebagai kelanjutan dari Singasari.

    Mungkin, Indrawarman bukan pemimpin tertinggi ekspedisi Pamalayu, melainkan wakilnya. Jadi, ketika Kebo Anabrang kembali ke Jawa, ia tidak membawa semua pasukan, tetapi meninggalkan sebagian di bawah pimpinan Indrawarman untuk menjaga keamanan Sumatra.
    Nama Indrawarman inilah yang tercatat dalam ingatan masyarakat Batak.

    Dikisahkan bahwa Indrawarman bermarkas di tepi Sungai Asahan. Ia menolak mengakui kedaulatan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya sebagai ahli waris Kertanagara.

    Namun, ia juga tidak mampu mempertahankan daerah Kuntu-Kampar yang direbut oleh Kesultanan Aru-Barumun pada tahun 1299.

    Indrawarman takut apabila kerajaan Majapahit datang untuk meminta pertanggungjawabannya. Ia pun meninggalkan daerah Asahan untuk membangun kerajaan bernama Silo di daerah Simalungun.

    Pada tahun 1339 datang pasukan Majapahit di bawah pimpinan Adityawarman menghancurkan kerajaan ini.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Siip……
      bahan semakin lengkap
      Putra Mahkota segera diwedar.

      @Ki Bayu,
      Mahesa = Kebo
      kenapa ya, ada yang menggunakan nama Mahesa …., ada juga yang menggunakan Kebo ….
      apakah ada aturannya, siapa yang bisa menggunakan Mahesa atau Kebo?

      Mahesa vs Mahisa
      manakah penulisannya yang benar?

      • sip….
        enggak perlu mundar-mandir gandok Ki Bayu, pun dianterin

        • lha kalo ki DALANG keseringen
          mondar-mandir…bisa makCEeeT
          pagelaran,

          siip, cantrik tinggal meNUNGGU
          (tetep pake gayanE bang HAJI)

  2. Berarti kitab Ki Kompor sudah mendekati diwedar.
    Monggo Ki kulo namung saget nderek memuji kemawon.
    Tetap semangat.
    Sugeng dalu.

  3. ditunggu tutuge

  4. LAYAR TERUS BERKEMBANG……..(Cuma usulan sebuah judul dari beberapa judul petualangan para putra Mahendra PENJAGA BUMI SINGASARI dalam MENCARI PUTRA MAHKOTA YANG HILANG agar SANG FAJAR DI LANGIT SINGASARI terus bersinar.
    SEMONGGO, pilih judulnya sing paling APIK

    Sambil menggoreng……nyi sinden yang masih nganggur bersenandung merdu :
    Kemesrahan ini….janganlah cepat berlalu…….

    • keliling Indonesia naik moge
      wong sak Indonesia nunggu tutuge.

      Ki Pandanalas pancen juragan jagung
      harak inggih mekaten to Ki Menggung..??

      • haha-setuJU kemawon,

        SFdLS….terus bersinar, sinDEN-pun
        menganggUK tanda sePITU.

  5. LANGIT begitu cerah, awan putih bergantungan di bumi Kotaraja Singasari yang besar dan ramai. Sepanjang jalan Kotaraja di hiasi rumah-rumah besar bertiang tinggi kayu jati berukir indah. Kuda-kuda pengangkut barang milik saudagar tidak pernah sepi berlalu-lalang. Kadang satu dua kereta kencana milik para bangsawan terlihat menyusuri jalan. Terlihat seorang putri dari jendela kereta kencana begitu elok rupawan. Orang yang berjalan kakipun begitu penuh kegembiraan, datang dan berlalu dari arah pasar Kotaraja yang ramai.

    Ada berita penting yang menjadi pembicaraan hangat pada saat itu, bahwa besok di Istana Singasari akan ada pelantikan dan pengukuhan dari beberapa Pangeran Istana, para rakyan dan beberapa orang biasa yang dianggap telah banyak berjasa bagi kelangsungan dan kejayaan kerajaan Singasari.

    Pada hari itu, Mahesa Murti dan Mahesa Pukat ada dirumah Mahendra. Sebagai seorang ayah, bukan main bangganya memandang kedua anaknya. Tidak ada kebanggaan dari seorang ayah melihat seorang anak yang tumbuh dewasa, berpijak dan mengenal paugeran hidup dari yang Maha Pemberi Sumber Kehidupan. Sementara pangkat dan jabatan hanya sebuah amanat yang harus dijaga dan disyukuri.

    Besok, Mahesa Pukat akan dikukuhkan dirinya sebagai Rakyan Rangga berkedudukan di benteng Cangu, sebuah daerah sebelah utara Kotaraja. Sementara itu, Mahesa Murti mendapat anugerah mendapatkan Tanah Sima untuk seluruh tanah Padepokan Bajra Seta dan sekitarnya.

    “Kekayaan, kehormatan dan kedudukan, adalah amanat dari yang Maha Pemberi Anugerah, Sumber dari segala sumber kehidupan ini”, berkata Mahendra memandang kedua putranya yang besok akan dilantik dan dikukuhkan di Paseban Raya.

    “Nasehat Ayah akan kami pusakai”, berkata Mahesa Murti mewakili.

    Mahendra tua nampak termenung, matanya memandang jauh kedepan, jauh melampau pucuk-pucuk kembang soka yang tumbuh disudut halaman. Jauh mengenang masa mudanya dalam petualangan panjang, dari beberapa generasi kegenerasi kepemimpinan Singasari.

    Dan haripun sudah menjadi senja ketika Mahesa Pukat pamit mohon diri kembali ke rumahnya.


    Iki Judule apa Pak Dalang?

    • cihuii……..judulnya belakangan (enak gak sih ??)

      • cihuii……..nyiCIpi bagian dePAN,
        (enak bener….)

    • LakonÉ åpÅ kI dHalaNG…??????

      Bagaimana kalau:

      Kembang-kembang Cakrawala Mandala Nusantara

  6. bla-bla-blaaaa….keber-pun terbUKA,

    mohon perhaTIAN, pagelaran ki DALANG
    akan segera diLANJUTkan…!!!

  7. ciuuuui asyyiiiik, monggo ki dipun lajengaken

  8. Bagaina kalau judulnya: “Matahari masih bersinar”.
    atau “Matahari Tetap Bersinar”

  9. SUGENG ENJANG KADAN SEDOYO

  10. Perhatian-perhatian !!!

    diusulkan… diusulkan… diusulkan… lalu
    dipilih… dipilih… dipilih…

    judul rontal yang akan/sedang disusun oleh Ki Kompor “bara membara”
    supaya segera dibuatkan pendapa sendiri untuk menampung karya beliau.

    Judul yang sudah terdaftar:
    1. Layar Terus Berkembang (Ki Kompor)
    2. Penjaga Bumi Singasari (Ki Kompor)
    3. Mencari Putra Mahkota Yang Hilang (Ki Kompor)
    4. Sang Fajar Di Langit Singasari (Ki Kompor)
    5. Kembang-kembang Cakrawala Mandala Nusantara (Ki Punakawan)
    6. Matahari masih bersinar (Ki Honggopati)
    7. Matahari Tetap Bersinar (Ki Honggopati)

    he he he …, saya kok gak punya ide ya.

    • waduh belom dapat IDE….!!??

      • Lha usul kula judule :
        KOMPOR ADU JAGO
        kok mBoten dilebetke to Ki Ajar…???

    • Saya pilih judul yang paling singkat tapi mantab :
      Penjaga Bumi Singasari (Nomor 2).

    • gmn klo judulna CCMM aja, kayanya banyak peminatna ntar coz situs ini pengunjungna banyak cowo na ….

      ….Cewe Cewena Mahesa Murti🙂 …. MM disuruh mengembara lagi aja trus ketemu buanyaaak kembang desa🙂 … apa trus ngimpi ketemu kembang kampus🙂 ….. pasti seruuu deh🙂 wikikiki ….

      klo perlu mengembarana pek swarnadwipa trus berguru pada panembahan cinta ki pandanalas🙂🙂🙂

  11. sugeng enjing

  12. selamat siang sedulur….enyong absen hadir ki

  13. Nuwun
    Sugêng dalu

    Nyuwun pangapuntên Ki Panji, nêmbé sagêd nyimak: Mahésa = Kêbo; Mahésa vs Mahisa [On 4 Mei 2011 at 10:30 P. Satpam said:]

    Kanthi izin Ki Bayuaji:

    a. Mahésa = Kêbo
    Tidak ada pembakuan penulisan antara Mahésa dan Kêbo, makna keduanya adalah sama, tergantung penulis/pengarang dari kitab babad/rontal/prasasti yang ada/ditemukan. Pada umumnya kata Kêbo lebih sering dipakai daripada kata Mahésa.

    b. Mahésa vs Mahisa.
    Lazim ditulis Mahésa. Jarang, tapi ada juga yang menulisnya dengan kata Mahisa. Makna keduanya sama.

    Demikian Ki, mudah-mudahan bermanfaat.

    Nuwun

    punåkawan

  14. monggo mawon judule, sing penting enggal diwedar

  15. hup, baru nyampe ……
    TOL JAKARTA – TANGERANG LANCAR
    KAYAKNYA UDEH MULAI KELIATAN TUCH JUDULNYE…..
    Jadi inget mata kuliah METODELOGI….masalah dulu baru judul.Tapi buat gue….dibalik enggap jadi soal, judul dulu….baru ngedalang….atau ngedalang dulu setengah…..baru ketemu judulnye

    Apapun judul dan ceritanya, maju terus pantang mundurrrrrr

    lha kalau gak ada judulnye
    trus buat gandoknya gimane, hayoooo

    masa EMBUH-01, EMBUH-02dst.
    he he he …

    mangga dibantu Ki Kompor, biar Ki Kompor segera dapat memberi judul ceritanya.
    Nuwun
    SP

    • dik satpam kok rada nganeh-nganehi ta ya ?🙂

    • metodologi kalee🙂

  16. Tancap terus Ki..
    Apa sih artinya sebuah nama.
    Lha kalau nggak ada namanya gimana memanggilnya.
    Atau memberi namanya nanti kalau sudah akekah aja Ki.
    Jadi kapan peresmiannya di situ Cipondoh?

  17. E nganti lali ngisi absen.
    Sugeng enjang sedoyo kadang.

  18. Nuwun
    Sugêng sontên

    Hari ini saya “pecahkan rekor” jalanan macet dari Masjid Istiqlal ke Kemanggisan, normal hanya dibutuhkan waktu ± 45 menit saja (kalau ditambah dengan waktu makan siang, hanya 65 menit).

    Jadwal Sholat Jum’at hari ini di nJakarta pukul 11.46 wib. Ba’da Sholat Jum’at ± pukul 13.00. Trus pulang, rencana makan siang di padepokan.

    Rute: (13.10) Masjid Istiqlal — Jl. Veteran — Jl. Veteran III (Samping Kiri Istana Negara) — Jl Medan Merdeka Utara (depan Istana Negara)– Jl Abdul Muis — Jl H. Fachruddin — Jembatan Layang Jati Baru — Jl Tali Raya — Jl Kemanggisan Utama — (15.31) atau 2 jam 20 menit. — Masuk padepokan, orang-orang selesai melaksanakan Sholat Asar (Jadwal Sholat Asar di mBetawi pukul 15.08 wib).

    Kemacetan mulai dari keluar Masjid Istiqlal hingga samping istana Negara, berlanjut hingga Jl H Fachruddin ke Jl Tali Raya. Waktu tempuh menjadi 2 jam 20 menit. Ruaar biasa…………………….Macet lagi….macet lagi …………………………….hehehehee.

    Nuwun

    punåkawan

    • eling ki puna, ngibadah mboten pareng sambat🙂🙂

      • Gendhuk Mita,
        Kalau anda membaca dengan seksama, TIDAK ADA SOAL SAMBAT DI SANA. Punakawan hanya menceritakan, bahwa kondisi lalu-lintas di Jakarta semakin hari semakin buruk, dan ini bikan soal sambat-sambatan OK.

        • injih nyuwun sewu ki, … mugi2 ngibadahipun mendapat ridloNya … aamiin

  19. Senengnya ada “nyi Mahesa Murti” sambat di Padepokan pantang mundur

    mELIHAT, MENDENGAR DAN MEMBACA koment yang masuk,
    Akhirnya ditetepken,
    Akhirnya diputusken,
    Petualangan para penjaga bumi Singasari ini dengan judul :
    SANG FAJAR BERSINAR DI BUMI SINGASARI

    Bintang tamu :
    1. Raden Kertanegara
    2. Raden Wijaya

    MASIH di awang-awang kapan bisa nyelipin JOB peran buat MAHESA AREMA (honor peran masih nego, siap teken kontrak kalo beliau setuju)

    nyilem dulu ach………….

  20. monggo ki ndang diwedar

  21. Dear: Bp. Cantrik Banyuaji.
    Tulisan Bapak luar biasa bagus dan lengkap sekali. Memberikan banyak inspirasi bagi saya yang sedang belajar menulis. Bersama ini saya mohon ijin ada beberapa bagian yang akan saya kutip untuk memperkaya Novel Fiksi Sejarah yang sedang saya tulis. Tentu saja dengan menyebutkan sumber-nya di daftar rujukan. Terima kasih sebelumnya.

    Monggo, Ki Bayuaji mempersilahkan copas semua yang telah beliau tuliskan di sini, tentu saja kalau untuk rujukan artikel atau tulisan yang lain perlu disebutkan sumbernya.
    Sayangnya, nama itu adalah nama beliau di dunia maya ini (khususnya di blog Pelangisingosari ini), hanya beliau sendiri yang tahu nama asli beliau.
    Tulisan beliau lebih lengkap bisa dibaca di https://pelangisingosari.wordpress.com/dongeng-arkeologi-antropologi/

    • Hiks…..
      Nuwun inggih, dengan segala kerendahan hati. Sumånggå

      Sual nama, Aseli… cak….. thak iye…
      Ditanggung tidak palsu. Sesuai dengan Akte Kelahiran, KTP, Surat Nikah, Paspor. Kartu NPWP Hiks

      Hiks…..
      Nyuwun pangapuntên Ki, gojèg. Tapi sungguh Aseli kok

      Sugêng sontên.

      Nuwun

      Cantrik Bayuaji
      (dengan catatan tambahan: ASELI TIDAK PALSU cuman pake “cantrik”)

      • O ……
        ternyata asli to….
        nggih ngapunten menawi mekaten
        matur suwun….

        • sama Ki…..cantrik njih aSELI tanpa pake cantrik,

          • O….
            kalau Ki Gundul gak pakai apa?

          • yang pasti ndak pakai rambut lah….

  22. Maaf, salah tulis. Seharusnya: cantrik bayuaji bukan cantrik banyuaji.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: