JAGAD BALI

WAOSAN KA-7

LEAK RANGDA DAN BARONG

Bagian ke-2

Swasti Astu
||Rahajêng wêngi. Sugêng dalu||

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

LEAK RANGDA DAN BARONG Bagian ke-2

CALONARANG RANGDA NATENG GIRAH
Calonarang Janda dari Girah

Sepeninggalan rombongan Desa Girah, maka Sang Prabu Airlangga duduk termenung sendirian di bale penangkilan. Pandangannya menerawang jauh kemana-mana, tangannya dikepalkan, dan tampak gelisah.

Duduk dfan bangun, demikianlah Sang Prabu sendirian di Istana. Tampaknya Sang Prabu tak kuasa menahan amarah dan panas hati beliau akibat ulah Calonarang.

Sangat menakutkan sekali perangai beliau ketika itu. Tak seorang pun parekan atau punakawan di puri atau istana yang berani menyapa beliau.

Istri dan parekan atau punakawan di puri atau istana semuanya terdiam takut melihat gelagat Sang Prabu yang sedang murka.

Tidak ada yang berani menghampiri dan menemani beliau ketika itu. Pikiran beliau hanya tertuju kepada upaya bagaimana mengalahkan Calonarang yang sakti tersebut.

Ketika hari menjelang siang, Sang Prabu belum juga beranjak dari tempat beliau duduk sejak pagi. Kemudian secara tak disangka-sangka datang Ki Patih Madri menghadap Sang Prabu ke Istana.

Ia adalah seorang tabeng dada atau pengawal Istana. Ki Patih Madri berperawakan tinggi besar, pintar ilmu silat atau bela diri, dan menguasai beberapa ilmu kanuragan.

Ia sangat berpengaruh di kalangan orang-orang di Kerajaan Kadiri, namun ia sendiri berpenampilan sangat sederhana, polos, dan sangat setia kepada Istana terutama kehadapan junjungannya yakni Prabu Airlangga.

Sangat gembira sekali perasaan Sang Prabu ketika Ki Patih Madri muncul di Istana, dan segera Sang Prabu menyuruhnya mendekat untuk diajak bertukar pikiran.

Bagaikan diperciki embun pagi yang sejuk perasaan Raja Airlangga ketika Ki Patih Madri datang pada saat yang diperlukan sekali.

Sambil menikmati hidangan kopi yang telah disuguhkan, Sang Prabu berkata kepada Ki Patih Madri:

Aku hari ini sangat kesal, marah dan bercampur sedih dalam hatiku. Yang menyebabkan adalah ulah onar Calonarang yang telah menebar penyakit gerubug di desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kadiri.

Banyak rakyatku yang sakit dan meninggal di sana. Ia ingin menghancurkan Kerajaan Kadiri, serta menghancurkan kekuasaanku.

Sekarang karena kebetulan sekali Patih Madri datang ke Istana, maka aku ingin mendapatkan masukan dari Ki Patih mengenai masalah yang menimpa desa tersebut.

Bagaimana caranya menumpas dan melenyapkan Calonarang beserta sisya-sisyanya atau murid-muridnya yang telah berbuat onar tersebut. Sebab kalau tidak ditangani segera, maka rakyat desa Kerajaan Kadiri akan habis, bahkan ia akan merencanakan untuk menghancurkan Kerajaan Kadiri secara keseluruhan”. Demikian sabda Sang Prabu kepada Ki Patih Madri.

Mendengar semua itu, merasa kaget Ki Patih Madri, sebab sebelumnya ia sama sekali tidak mendengar adanya masalah ini. Ki Patih Madri berpikir sejenak, kemudian menjawab apa yang dikatakan Sang Prabu.

Mohon ampun Paduka, tidak patut rasanya hamba sebagai patih yang jugul punggung atau sangat bodoh memberikan masukan kehadapan Paduka. Namun atas titah Paduka, maka hamba akan mencoba untuk ikut urun pendapat mengenai masalah ini. Namun hamba bagaikan membuang garam ke laut begitulah ibaratnya”.

Lebih lanjut Ki Patih Madri menyampaikan haturnya kehadapan Sang Prabu “Kalau mendengar tingkah laku Calonarang tersebut, maka inilah yang disebut dalam sastra agama sebagai Atharwa terhadap orang lain yang tidak berdosa dengan menggunakan Ilmu Hitam.

Mereka telah menebar cetik atau racun niskala di wilayah desa. Ini pula digolongkan sebagai Himsa Karma. Para pelaku dari semua ini harus dihukum berat dan setimpal”.

Demikian hatur Ki Patih Madri kehadapan Sang Prabu. Kemudian Ki Patih Madri menambahkan haturnya:

Sekarang Paduka jangan terlalu bersedih dan khawatir.

Hamba akan menjalankan swadharmaning kawula bersama dengan rakyat Kadiri yang lainnya. Hamba akan mengabdikan jiwa dan raga hamba untuk Kadiri.

Kita akan gempur Calonarang si Janda dari Girah itu, kita hancurkan seluruh pengikutnya, dan kita musnahkan seluruh ajaran-ajarannya”.

Demikian Ki Patih Madri. Sungguh lega hati Sang Prabu mendengar apa yang diucapkan oleh Ki Patih Madri.

Sri Prabu Airlangga kemudian membuat keputusan untuk menggempur Calonarang Sang Janda dari Girah itu, dan mempercayakan kepada Ki Patih Madri sebagai pimpinan penyerangan.

***

Diceritakan Ki Patih Madri telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kawisesan.

Mereka semua dikumpulkan di Istana dan diberikan pengarahan mengenai rencana penyerangan ke tempat Ratu Leak di Desa Girah menggempur Calonarang di malam hari.

Waktu yang ditetapkan untuk penyerangan telah tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama dilengkapi pula dengan senjata tajam, sesikepan, gegemet-gegemet, dan juga sesabukan atau sarana magis pelindung diri.

Karena kesaktian Calonarang, maka serangan dari pihak Kadiri yang dipimpin Ki Patih Madri telah diketahui sebelumnya. Sehingga Calonarang memerintahkan kepada seluruh sisya-sisyanya untuk bersiaga di perbatasan Desa Girah. Calonarang beserta sisyanya telah bersiaga menyambut kedatangan para prajurit Kadiri yang akan menggempurnya.

Mereka telah menggelar semua ilmu yang dimiliki dan telah menyengker atau memagari Desa Girah dengan penyengker gaib, sehingga kekuatan musuh tidak dapat menembus pertahanan tersebut.

Pada tengah malam, sampailah Ki Patih Madri dan para prajurit Kadiri di perbatasan Desa Girah. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh yang telah menghadang.

Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid Calonarang yang dipimpin oleh Nyi Larung sehingga terjadilah pertempuran ilmu kanuragan dimalam hari yang sangat dasyat.

Bola-bola api beterbangan di antara kedua belah pihak. Taburan cahaya gemerlapan aneka warna di angkasa yang saling berkelebat, berkejar-kejaran, dan saling berbenturan. Langit di Desa Girah pada malam itu bagaikan kejatuhan bintang dari langit yang jumlahnya ribuan.

Memang sungguh-sungguh digjaya mereka semua. Tidak beberapa lama pertempuran di malam hari berlangsung, serangan dari para prajuri Kadiri dapat dipatahkan oleh ketangguhan dari ilmu yang dimiliki oleh murid-murid Calonarang, sedangkan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para prajuri Kadiri banyak yang tewas.

Para prajuri Kadiri yang masih hidup berhamburan berlari meninggalkan arena pertempuran karena terdesak. Mereka berusaha untuk menyelamatkan diri.

Setelah mengalami desakan dari pasukan leak murid-murid Calonarang, maka para prajuri Kadiri memutuskan untuk berbalik dan kembali ke Istana Kadiri, serta melaporkan semuanya kehadapan Prabu Airlangga.

Kekalahan pasukan Kadiri menyebabkan pasukan leak Calonarang bergembira. Mereka semua tertawa terbahak-bahak yang suaranya nyaring dan keras membelah angkasa.

Suaranya mengalun, melengking memenuhi angkasa dan berpantulan di antara bukit-bukit. Sehingga terasa mengerikan sekali suasananya pada malam hari tersebut. Mereka semua menari-nari di angkasa, berwujud bola-bola api saling berkejar-kejaran merayakan kemenangannya.

Diceritakan mengenai perjalanan sisa-sisa pasukan Kadiri yang kalah perang. Pada pagi hari mereka telah sampai di Istana Kadiri. Segera mereka menghadap Sang Prabu dan melaporkan segala sesuatunya. Demikian pula dengan Sang Prabu yang telah menunggu semalaman dengan harap-harap cemas.

Salah seorang dari pasukan Kadiri menghaturkan sembah kehadapan Sang Prabu:

Mohon ampun Paduka, hamba permaklumkan bahwa murid-murid Calonarang benar-benar teguh atau kuat. Pasukan Kadiri tidak mampu mengalahkannya dan Ki Patih Madri gugur dalam peperangan dan banyak pasukan yang tewas.

Hamba gagal dalam mengemban tugas yang Paduka titahkan. Atas kegagalan tersebut, hamba mohon ampun, dan siap menjalankan hukuman”. Demikian permakluman prajurit Kadiri kehadapan Sang Prabu.

Raja Airlangga yang bijaksana kemudian bersabda:

Wahai prajurit Kadiri yang gagah berani beserta semua pasukan, kalah menang dalam peperangan sudah menjadi hukumnya.

Yang penting sekarang adalah aku minta engkau agar tidak surut kesetiaanmu terhadap Kadiri. Teruskanlah kesetiaanmu terhadap Istana, terhadap Kerajaan Kadiri.

Janganlah berputus asa, karena masih ada waktu dan masih ada cara lain untuk menumpas Calonarang beserta seluruh pengikutnya.

Sang Prabu melanjutkan wejangannya:

Harus kalian ingat mengenai Swadharmaning ring payudhan atau kewajiban dalam pertempuran. Dalam Shanti Parwa disebutkan bahwa apabila mati dalam peperangan, maka darah yang mengalir dari tubuhmu akan menghapus segala dosamu.

Dan Sang Jiwa atau Sang Atma akan menuju Indraloka. Itulah yang hendaknya diingat dan dijadikan pedoman. Semuanya itu adalah merupakan sebuah pengorbanan yang suci atau yadnya yang digolongkan yadnya utama”. Demikian Sang Prabu memberikan wejangan kepada Prajurit Kadiri yang hampir putus asa karena kalah perang.

Mendengar wejangan tersebut, para pasukan Kadiri merasakan hidup kembali dan bersemangat. Bagaikan diberikan kekuatan bebayon atau kekuatan tenanga dalam, sehingga semangat pasukan tumbuh kembali.

Prajurit kemudian berkata, “baiklah tuanku, sangat senang hamba mendegar wejangan tersebut. Sekarang hamba sadar dan yakin akan diri. Hamba akan membela mati-matian dan menyabung nyawa menghadapi Calonarang beserta dengan murid-muridnya”.

Pernyataan Prajurit tersebut dibarengi oleh seluruh pasukan, dan disambut hangat oleh Raja Airlangga. “Baiklah kalau begitu, Aku sebagai Raja Kadiri sangat menghargai kesetiaamu.

***

Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang, maka Sri Baginda Prabu Airlangga sangat panik sehingga beliau memanggil seorang Bagawanta Rohaniwan Kerajaan yaitu Pendeta Istana Kerajaan Kadiri yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug akibat ulah si Ratu Leak Janda Calonarang.

Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadah di tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu.

Empu Bahula berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik-teknik pengeleakan.

Setelah Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memanfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura-pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang.

Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang arealnya sangat luas yang ada di Kerajaan Kadiri.

***

Dalam perang besar ini Prabu Airlangga mengikutkan Pasukan Khusus Balayuda Kadiri dalam menghadapi Calonarang dan pasukan leaknya.

Para Pasukan Balayuda Kadiri yang terpilih sebanyak dua ratus orang yang dipimpin oleh Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal. Semua pasukan ini akan mengawal dan membantu Empu Bharadah dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh Calonarang dan seluruh pengikutnya.

Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain. Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia.

Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istrirahat agar tenaga cukup kuat untuk penyerangan besok.

Keesokan harinya perjalanan penyerangan dilakukan, pasukan khusus atau pasukan pilihan dari Kadiri yang disebut dengan Pasukan Balayuda dalam penyerangan tersebut mengawal Empu Bharadah. Sedangkan di depan sebagai pemimpin pasukan dipercayakan kepada Ki Kebo Wirang didampingi Ki Lembu Tal.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, akhirnya rombongan Empu Bharadah dan pasukan Kadiri sampai di pesisir selatan Desa Lembah Wilis.

Di sana rombongan tersebut berhenti sejenak untuk beristirahat dalam persiapan untuk menuju ke Desa Girah. Semua pasukan kemudian menuju Setra Ganda Mayu yang berada di Wilayah Desa Girah.

Diceritakan kemudian Calonarang dirumahnya diiringi oleh para sisyanya semua melakukan penyucian diri dan mengayat atau memuja kehadapan Ida Betari mohon anugrah kesaktian.

Mereka memusatkan pikiran dan memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara, dan idep atau pikiran, memuja Ida Betari bersarana sekar manca warna atau bunga warna-warni, dengan disertai kemelun wangi-wangian kemenyan majegau, dan dupa, seolah-olah menyampaikan niat Calonarang kehadapan Ida Betari.

Semua pekakas dan sarana pengleakan diturunkan dari tempatnya yang pingit atau tempat rahasia, dan masing-masing menggunakannya. Di hadapan mereka juga digelar tetandingan jangkep atau sarana sesajen lengkap sesuai dengan keperluan. Calonarang kemudian mulai memejamkan mata dan memusatkan pikiran.

Ia tampak berkomat-kamit mengucapkan mantra sakti memohon anugrah kesaktian dan kesidian kehadapan Hyang Maha Wisesa, dengan harapan Empu Bharadah dan Balayuda Kadiri dapat dikalahkan.

Setelah beberapa saat melakukan meditasii, maka sampailah pada puncaknya. Raja Pengiwa pun telah dibangkitkan dan merasuk ke dalam sukma. Kedigjayaan atau kewisesan telah turun dan masuk ke dalam jiwa raga.

Calonarang kemudian bangkit dan berkata kepada semua sisyanya:

Para sisyaku semuanya, permohonan kita kehadapan Hyang Betari telah terkabulkan dan telah mencapai puncaknya. Kesaktian telah kita bangkitkan semuanya, dan telah merasuk ke dalam jiwa dan raga.

Kini saatnya kita bertarung menghadapi Empu Bharadah dan Balayuda Kadiri. Kita akan pertahankan harga diri kita. Mampuskan semua orang-orang Kadiri yang datang ke sini menyerang.

Demikian perintah Calonarang kepada seluruh sisyanya. Suaranya ketika itu telah berubah menjadi besar dan menggema, dan bukan merupakan suaranya yang biasa. Kemudian Calonarangpun tertawa menggelegar, sangat menakutkan.

Semua sisya Calonarang telah nyuti rupa dan siap menyerang. Ada wujud bojog atau monyet yang siap menggigit, ada yang berubah menjadi seekor kambing, sapi dan kuda, ada kain kasa atau kain putih panjang yang siap menggulung dan membakar, ada bade, ada babi bertaring panjang, dan sebaginya.

Ada pula api bergulung-gulung yang siap membakar siapa saja yang menghadang. Semua pasukan leak kemudian keluar dari rumah Calonarang dalam rupa bola api beterbangan, kemudian menuju ke Setra Ganda Mayu tempat perjanjian pertempuran dengan Empu Bharadah dan pasukan Balayuda Kadiri.

Melihat pasukan leak dengan beraneka rupa datang, pasukan Kadiri menjadi kaget dan was-was dan ada yang ketakutan. Semuanya bersiap-siap dan merapatkan diri.

Demikian pula dengan Ki Kebo Wirang dan Ki Lembu Tal, mereka berdua sangat waspada serta selalu berada di dekat Empu Bharadah untuk mengawalnya.

Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut, bahkan semangat untuk bertempur semakin membara, sembari mengucap mantra sakti Pasupati. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan, sesabukan, rerajahan kain, dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga.

Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.

***

Pertarunganpun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kadiri, di Setra Ganda Mayu.

Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi, dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja, maka setelah siang hari Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah.

Calonarang terdesak dan sisyanya banyak yang tewas dalam pertempuran melawan Empu Bharadah dan Pasukan Balayuda Kadiri.

Mengetahui dirinya terdesak, Calonarang seperti biasa segera menggelar kesaktian pengiwanya. Ia segera berubah wujud menjadi seekor burung garuda berbulu emas, melesat ke udara, dan bersembunyi di balik awan. Ketika itu, Empu Bharadah segera masuk ke dalam rumah Calonarang.

Didapatinya rumah Calonarang telah kosong, tak ada siapa-siapa. Pasukan Balayuda Kadiri mengurung rumah Calonarang.

Empu Bharadah kemudian berteriak: “Hai kau Calonarang pengecut, di mana gerangan engkau bersembunyi. Sudah berwujud apa engkau sekarang, aku akan hadapi. Aku menantangmu, ayolah segera tunjukkan batang hidungmu”.

Setelah berkata demikian, tiba-tiba ada jawaban dari angkasa. Rupanya Calonarang sudah bersembunyi dari tadi, tanpa sepengetahuan pasukan Kadiri. Calonarang berkata: “Hai kau Empu Bharadah, dimana bersembunyi rajamu”.

Mendengar ejekan si garuda tersebut dari udara membuat Empu Bharadah menjadi naik darah. Segera Empu Bharadah memerintahkan kepada Ki Kebo Wirang untuk membidikan senjata tersebut ke arah si Garuda Calonarang.

Namun ketika itu, Ki Kebo Wirang menjadi kebingungan karena musuh yang akan dibidik tidak kelihatan. Hanya suaranya saja yang terdengar. Ditambah lagi dengan adanya kilat dan guntur yang menggelegar di angkasa. Semakin menyulitkan untuk membidik si Garuda Calonarang.

Menghadapi keadaan demikian, Empu Bharadah mencoba untuk memikirkan sebuah daya upaya. Empu Bharadah kemudian memerintahkan kepada Ki Lembu Tal sebagai umpan, agar si garuda mau keluar dari persembunyiannya.

Ki Lembu Tal mencoba untuk mencari tempat yang agak terbuka. Mereka menari-nari sambil mengibas-ngibaskan senjatanya ke udara sebagai pertanda menantang.

Ki Lembu Tal mengejek si garuda: “Hai engkau Calonarang, kenapa engkau bersembunyi. Ayo turun. Hai kau Calonarang, kalau memang engkau sakti mengapa engkau bersembunyi di tempat yang tinggi begitu.” Demikian ejekan Ki Lembu Tal.

Mendengar dan melihat ejekan Ki Lembu Tal, menyebabkan Calonarang menjadi naik darah, dan segera keluar dari persembunyiannya.

Si garuda Calonarang dengan secepat kilat terbang dan menyambar Ki Lembu Tal. Pada saat si garuda terbang menyambar Ki Lembu Tal, ketika itu pula Empu Bharadah membidikkan senjata pusaka Kris Jaga Satru dan menembakkannya ke arah sang garuda.

Si garuda jelmaan Calonarang tersebut terkena bidikan senjata Kris Jaga Satru dan jatuh tersungkur ke tanah. Segera si garuda mengambil wujud kembali menjadi manusia sosok Calonarang.

Ratu Leak Calonarang yang sakti mandraguna tidak berdaya dengan kesaktian senjata pusaka Kris Jaga Satru Empu Bharadah. Semua pasukan Balayuda Kadiri segera mendekati Calonarang yang tidak berdaya dan kemudian Calonarang menghembuskan nafas terakhir di Setra Ganda Mayu.

Dengan meninggalnya Calonarang maka bencana gerubug yang melanda Kerajaan Kadiri bisa teratasi.

Ditengarai Ilmu Pengeleakan Aji Wegig warisan Sang Rangda dari Girah, sampai sekarang masih berkembang di Bali, karena masih ada generasi penerusnya sebagai pewaris pelestariannya di Bali.

***

ANALISIS SEJARAH

Suatu penggambaran citra buruk Calonarang di tengah keadaan masyarakat Kadiri yang hidup makmur dan sejahtera. Benarkah demikian?

Seringkali di dalam dunia legenda, yang disoroti hanya tentang kekejaman dan kejahatan Sang Janda Calonarang. Dia digambarkan sebagai nenek sihir yang mempunyai wajah yang seram. Namun analisis-analisis yang lebih faktual, yang lebih berpihak kepada Calonarang.

Dia adalah korban masyarakat patriarkal pada zamannya. Cerita Calonarang merupakan sebuah gambaran sekaligus kritik terhadap diskriminasi kaum wanita.

Calonarang sebagai seorang wanita kaya dan terhormat, yang keberadaannya tidak disukai oleh kerabat kraton Kadiri, dengan demikian masyarakatpun berpihak pada kalangan istana Kerajaan Kadiri, karena sepak terjangnya dianggap terlalu maju bagi seorang wanita pada zamannya.

Kisah legendanya dibuatlah sedemikian rupa, bahwa Calonarang adalah penganut ilmu hitam, sehingga seluruh masyarakat dan kerabat kraton Kadiri membencinya.

Empu Baradah, Sang Guru Spiritual Raja dan Keluarga Istana Kadiri, seorang tokoh agama dan “imam” negara, dengan alasan demi menjaga stabilitas politik kerajaan, maka Calonarang pun disingkirkan.

***

Beberapa istilah dalam Bahasa Bali.

(Maaf, mengingat keterbatasan pengetahuan tentang peristilahan berikut di bawah ini, maka kepada yang lebih tahu arti istilah-istilah tersebut secara tepat, dimohon dapat membetulkannya. matur suksma).

  1. Angid = bau tanah kering yang habis tersiram hujan.
  2. Angkul-angkul = gapura masuk utama ke pekarangan rumah adat Bali di bagian depan rumah menghadap ke arah rurung gede (jalan raya).
  3. Atharwa = melakukan pembunuhan yang sangat kejam
  4. Bade = menara pengusungan jenasah.
  5. Balian = dukun.
  6. Banas Pati Rajah = ruh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya. Banas Pati Rajah dipercayai sebagai ruhh yang menggerakkan Barong. Sebagai roh pelindung.
  7. Bangkal mecalin rengggah = babi bertaring panjang.
  8. Bangkung = babi betina.
  9. Barong = karakter dalam mitologi Bali. Ia adalah raja dari ruh-ruh serta melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda.
  10. Becingah = Alun-alun kota, ruang terbuka yang luas.
  11. Djaka Tungul = sebatang pohon enau tanpa daun yang batangnya bisa mengeluarkan api dan berbau busuk dan beracun.
  12. Endih = api jadi-jadian.
  13. Gegendu = makhluk (pada umumnya binatang) jadi-jadian.
  14. Gerubug, grubug = wabah penyakit.
  15. Himsa Karma = perbuatan membunuh makhluk lain secara sewenang-wenang.
  16. Jugul punggung = bodoh.
  17. Kajeng Kliwon = Siklus Triwara dan Pancawara, akan selalu datang setiap 15 hari sekali. Penamaan satuan waktu menurut kalender Bali (Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Astawara, Sangawara, Dasawara,Wuku).
  18. Kreb kasa = kain putih panjang bergulung-gulungan.
  19. Leak = penyihir jahat.
    Le artinya penyihir dan ak artinya jahat.
  20. Ngaben = Palebon. upacara pembakaran jenazah atau kremasi umat Hindu Bali. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang.
  21. Ngeeb = ketakutan yang berlebihan.
  22. Nyuti rupa = berubah wujud.
  23. Pasraman = tempat olah tapa, olah brata. Arti sekarang adalah tempat pendidikan.
  24. Rangda = Etimologi berarti Janda. Adalah ratu dari para leak dalam mitologio Bali. Makhluk yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan nenek sihir jahat melawan barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.
  25. Sanggah = tempat pemujaan.
  26. Sekehe gong = kumpulan para pemain alat musik tradisional Bali.
  27. Setra = istilah yang digunakan umat Hindu untuk menyebutmakam atau kuburan. Setra adalah tempat pemakaman sementara bagi masyarakat Hindu untuk menunggu waktu yang tepat dalam melaksanakan upacara pembakaran mayat yang disebut dengan upacara Ngaben. Setra juga merupakan tempat dilaksanakannya seluruh rangkaian kegiatan upacara pembakaran mayat yang lainnya.
  28. Sisya = murid.
  29. Swadharmaning kawula = kewajiban sebagai rakyat terhadap negara.
  30. Tabeng dada = pasukan khusus pengawal istana/raja dan keluarga istana.
  31. Yadnya = adalah suatu karya suci yang dilaksanakan dengan ikhlas karena getaran jiwa / rohani dalam kehidupan ini berdasarkan dharma yang merupakan satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari.

Swasti Astu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: