JAGAD BALI

WAOSAN KA-7

PURA INDRAKILA – TEMPAT PERTAPAAN PEMIMPIN

On 2 Februari 2012 at 21:02 cantrik bayuaji said:

Swasti Astu
||Rahajêng wêngi, Sugêng dalu||

Sisipan:
DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

PURA INDRAKILA – TEMPAT PERTAPAAN PEMIMPIN</b

Iyam te rad yantasi yamano
dhruvo-asi dharunah
kryai tva ksemaya tva
rayyai tva posaya tva.

(Yajurveda IX.22).

Terjemahan bebas:

Hai para pemimpin,
engkau adalah penanggung-jawab kehidupan di negaramu,
Bercerminlah engkau pada dirimu sendiri
Bekerjalah dengan kesungguhan dan keteguhan hatimu,
Bekerjalah demi kehidupan warga negaramu.
Kami bersedia mendukungmu
jika engkau mau mensejahterakan kehidupan lahir-batin masyarakatmu
dengan kemakmuran yang melimpah.

***

Pura Indrakila berada di Desa Dausa Kecamatan Kintamani kira-kira 40 km utara kota Bangli. Pura ini terletak di sebuah bukit kecil. Untuk mengungkap keberadaan sejarah pura ini memang belum ditemukan sumber-sumber tertulis yang cukup jelas. Dari suatu turunan prasasti ada yang sedikit menyinggung keberadaan Pura Indrakila ini.

Dalam buku Sejarah Bali Kuno menyimpulkan prasasti tersebut dikeluarkan pada zaman pemerintahan Raja Jayasakti di Bali dari tahun 1133-1150 Masehi. Pada zaman ituah diperkirakan Pura Indrakila tersebut dibangun.

Dari cerita rakyat secara turun-temurun didapatkan penjelasan bahwa Pura Indrakila tersebut ada hubungannya dengan salah satu episode ceritera Mahabharata yang menyangkut pertapaan Arjuna — penengah Pandawa — di Gunung Indrakila.

Pura Indrakila ini dibuat atas kehendak raja sebagai tempat untuk bermeditasi atau bertapa. Karena kedudukan seorang raja, sebagai pemimpin bangsa amat strategis dengan tanggung jawab yang amat berat memimpin negara, terutama menciptakan iklim hidup yang dapat memajukan kesuburan alam dan kemakmuran rakyatnya.

Seorang pemimpin tidak mungkin bisa berbuat banyak pada rakyatnya apabila dirinya sendiri tidak cukup kuat mengemban tugas dan tanggung jawab yang cukup berat.

Tuhan mensabdakan agar seorang pemimpin harus bercermin diri atau mawas diri dan meneguhkan hatinya siap untuk mengemban tugas berat terlebih dahulu. Pemimpin yang mawas diri dan memiliki hati yang teguhlah akan mendapatkan wara nugraha dari Tuhan untuk memajukan kehidupan rakyatnya lahir batin, seperti Arjuna melakukan tapa sebelum menghadapi Bratayudha.

Nampaknya hal inilah yang menjadi latar belakang pendirian Pura Indrakila di Desa Dausa, Kintamani tersebut. Raja ingin dalam menyelenggarakan pemerintahannya melakukan olah tapa agar memiliki kemampuan mawas diri dan ketetapan hati dalam menghadapi berbagai tugas dan tanggung jawab yang berat sebagai seorang pemimpin.

Karena pemimpin akan berhadapan dengan berbagai ancaman, gangguan, tantangan, godaan dan hambatan dalam tugas-tugasnya sehari-hari sebagai pemimpin, apa lagi sebagai raja yang memiliki kekuasaan yang besar dan luas.

Tanpa mawas diri dan punya keteguhan hati, bisa mudah tergoyahkan oleh berbagai ancaman, godaan, hambatan dan tantangan dalam melakukan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin.

Dengan melakukan olah tapa untuk meraih karunia Tuhan sebagai yang Mahasuci dan Mahakuasa, seorang pemimpin akan memiliki kekuatan untuk lebih mawas diri dan tidak mudah tergoda oleh berbagai ilusi dunia maya ini.

Nampaknya cerita Arjuna Tapa di Gunung Indrakila inilah yang memberikan inspirasi untuk mendirikan Pura Indrakila sebagai tempat sang raja bertapa. Pura Indrakila ini didirikan di atas sebuah bukit sebagai bentuk replika Gunung Indrakila tempat Arjuna di India.

Pelinggih utama di Pura Indrakila itu adalah Padmasana dengan tiga ruang sebagai simbol pemujaan Sang Hyang Tiga Wisesa atau Sang Hyang Tri Purusa sebagai jiwa agung Tri Loka.

Pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tiga Wisesa bertujuan untuk membangun kekuatan spiritual agar umat manusia yang hidup di Bhur Loka ini tidak melakukan hal-hal yang dapat merusak keadaan di Bhuwah dan Swah Loka.

Karena sudah saat itu ada wawasan bahwa kesalahan dalam menata hidup di Bhur Loka dapat merusak keadaan di Bhuwah dan Swah Loka.

Di samping itu pemujaan Tuhan sebagai Sang Hyang Tri Purusa itu sebagai wujud bahwa Tuhan itu ada di mana-mana sebagai jiwa agung dari Bhur Loka, Bhuwah Loka dan juga Swah Loka. Sebagai jiwa agung Bhur Loka disebut Batara Siwa, di Bhuwah Loka sebagai Batara Sada Siwa dan di Swah Loka sebagai Paramasiwa.

Pura ini pada mulanya sudah sangat rusak secara fisik dan sudah beberapa kali perbaikan dan perluasan serta mendapatkan penambahan beberapa pelinggih.

Pertama-tama perbaikan itu dilakukan tahun 1961-1963 dengan dilanjutkan dengan kelengkapan upacara sebagaimana umumnya berlaku bagi pura yang mendapatkan perbaikan dan perluasan.

Pura Indrakila adalah Pura Dang Kahyangan yang tergolong Kahyangan Jagat. Fungsi Pura Dang Kahyangan adalah sebagai pura tempat berguru yaitu belajar dan berlatih kerohanian pada guru spiritual untuk memperkuat jati diri dalam mengamalkan swadharma sesuai dengan Asrama dan Varna masing-masing. Upacara piodalan di Pura Indrakila ini setiap Purnama Sasih Kapat.

Pula Indrakila ini sudah beberapa kali mendapatkan perbaikan sehingga di pura ini terdapat banyak pelinggih pesimpangan dari berbagai Pura Kahyangan Jagat di Bali. Seperti ada Gedong Limas Catu dan Limas Mujung sebagai Pesimpangan Batara di Besakih dan Batur. Ada juga beberapa Meru Tumpang Tiga dan Pelinggih Gedong yang masih perlu diteliti fungsinya.

Meski demikian, pura ini tetap fungsinya sebagai Pura Dang Kahyangan sebagai pasraman raja dan para pemimpin untuk mengingatkan agar para pemimpin senantiasa melakukan olah tapa menguatkan jati dirinya agar dapat berfungsi dengan baik sebagai pemimpin memajukan kehidupan yang sejahtera lahir batin bagi rakyat yang dipimpin.

Nampaknya kutipan mantra Yajurveda di atas, sangat cocok dan tepat bagi pemimpin (siapapun pemimpin itu), agar selalu ingat bahwa kepemimpinanya itu semata-mata demi untuk mensejahterakan masyarakatnya.

Swasti astu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: