JAGAD BALI

WAOSAN KA-8

LEAK RANGDA DAN BARONG

Bagian ke-3

On 7 Februari 2012 at 03:11 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Swasti Astu
||Rahajêng semêngan. Sugêng énjang||

Telah lewat tengah malam. Dipercaya bahwa waktu-waktu seperti ini kemampuan Leak telah memudar..

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

LEAK RANGDA DAN BARONG Bagian ke-3

LEAK DESTI di BALI

Leak Desti di Bali dari jaman dulu kala sudah menjadi fenomena yang tak pernah sirna dimakan jaman, keberadaannya dari dulu menjadi momok yang menakutkan masyarakat.

Leak Desti adalah perwujudan ilmu leak tingkat paling bawah yang perwujudannya bisa berbentuk binatang yang namanya Lelakut yaitu sejenis kadal yang besar berbadan hitam loreng-loreng, berkepala manusia berwajah seram dan hitam, rambutnya terurai, taringnya panjang, giginya runcing, matanya lebar dan menyala mengeluarkan api berwarna hijau, mempunyai ekor panjang warnannya loreng hitam putih.

Leak Desti ada juga berbentuk binatang yang namanya Bebae yaitu sejenis binatang kambing berbulu putih mulus, mempunyai telinga panjang menjulur kebawah sampai menyentuh tanah.

Leak Desti ini sukanya menakut-nakuti orang-orang penakut sehingga kalau orang yang ketakutan melihat leak Desti maka ia akan lari terbirit-birit dan bisa terjatuh dan pada saat jatuh itulah maka Leak Desti ini akan menyerang dan akan mengisap darah orang yang terjatuh tadi.

Di samping orang yang ketakutan Leak Desti suka kepada anak-anak kecil terutama bayi-bayi sehingga bayi-bayi itu bisa menangis terus-menerus dan tidak mau menyusu pada ibunya dan lama-lama sampai anak kecil tersebut jatuh sakit.

Penangkal Leak Desti melalui orang-orang Wiku yaitu orang yang sudah menguasai ilmu pengobatan yang disebut ilmu Usada Bali.

Pada Jaman Raja Udayana yang berkuasa di Bali pada abab ke 16, ada seorang Abdi Kerajaan yang bernama I Gede Basur yang rumahnya ada di salah satu Desa di Daerah Pengunungan, yaitu di Desa Karang Pengastian.

Pada waktu I Gede Basur masih hidup pernah menulis buku rontal Pengleakan dua buah yaitu Rontal Durga Bhairawi dan Rontal Ratuning Kawisesan.

Rontal ini memuat tentang tehnik-tehnik ngereh Leak Desti. Ngereh adalah proses perubahan wujud dari manusia menjadi Leak. Leak adalah wujud siluman jahat. Desti adalah perwujudan binatang siluman manusia dalam bentuk binatang yang aneh dan seram.

Adapun tehnik ngereh Leak Desti tersebut adalah sebagai berikut:

Dalam ilmu pengleakan dikenal ajaran tiga kerangka dasar, yang walaupun pada dasarnya ketiga kerangka dasar itu bersifat netral.
Jadi walaupun menjalankan ilmu pengleakan (yang ilmu hitam), mereka tetap juga melaksanakan tiga hal yaitu:

a. bahwa orang yang menjalankan ilmu pengleakan harus menyadari tentang ajarannya.

b. bahwa orang yang menjalankan ilmu pengleakan pasti akan melaksanakan mengenai tehnik-tehnik tingkah lakunya.

c. bahwa orang yang menjalankan ilmu pengleakan sudah tentunya melaksanakan upakara-upakara seperti menghaturkan banten sebagai sarana upakara.

Sebelum ngereh menjadi Leak Desti, orang yang menjalankan pengleakan terlebih dahulu melaksanakan beberapa tahapan kegiatan dengan melakukan berbagai permohonan. Adapun tahapan-tahapan kegiatan ngereh tersebut adalah sebagai berikut :

a. Memasang pasirep yaitu mengeluarkan ilmu kesaktian agar semua makhluk hidup yang ada di sekitarnya semuannya tertidur lelap.

b. Mencari tempat ngereh yaitu mencari tempat yang paling strategis dan aman seperti misalnya di kuburan, pada perempatan jalan, atau bisa di sawah yang penting tempat tersebut sepi.

c. Mempersiapkan upakara berupa sarana banten yang berkaitan dengan ilmu pengleakan.

d. Melakukan permohonan-permohonan agar proses ngereh dapat berlangsung sesuai dengan yang diinginkan kepada Penguasa Kegelapan atau Penguasa Ilmu Pengleakan, dalam segala bentuk menifestasinya yaitu:

Pertama mohon kepada yang bernama Butha Peteng (perwujudan unsur alam gelap) untuk memagari tempatnya agar siapa yang lewat supaya tidak melihat, dilanjutkan kemudian dengan memasang ilmu pengreres (ilmu penakut) agar yang lewat menjadi ketakutan.

Kedua mohon kepada yang bernama Butha Keridan (perwujudan unsur alam terbalik) agar pengelihatan orang bisa terbalik yaitu yang di atas bisa terlihat di bawah.

Ketiga secara berturut-turut mohon kepada yang bernama Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan terakhir mohon kepada yang bernama sang Butha Kapiragan, agar segala permohonannya bisa terkabul.

Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan Butha Kapiragan adalah nama-nama Butha Kala yang menguasai Ilmu Pengleakan.

Keempat setelah proses permohonan selesai, dilanjutkan dengan kegiatan muspa dengan posisi badan terbalik yang dilanjutkan dengan nengkleng, berjalan nengkleng mengitari sanggah cucuk, sesuai dengan tingkat ilmunya dengan posisi putaran berjalan nengkleng kearah kiri.

Dengan melalui ngereh tersebut diatas maka orang yang menguasai ilmu pengleakan bisa berubah wujud sesuai tingkat ilmu pengleakan yang dikuasainya yaitu kalau tingkat Desti maka orang tersebut bisa berubah wujud menjadi binatang yang aneh-aneh dan menyeramkan.

Setelah menguasai Ilmu Pengiwa Leak Desti, penekun akan dengan mudah membuat sarana pengleakan yang biasa digunakan oleh pengikut aliran kiri ini. Sarana tersebut seperti:

1. Pengasren (semacam pelet), yakni sarana magis agar orang yang bersangkutan menjadi kelihatan selalu cantik dan tampan, awet muda dan mempunyai daya pikat yang tinggi. Dengan sarana tersebut orang akan mudah dapat memikat lawan jenis yang dikehendakinya.

2. Pengeger (semacam penglaris) yang dapat menyebabkan si pemakai menjadi laris dalam berdagang atau berusaha, dengan harapan si pemakai menjadi semakin kaya.

3. Pengasih-asih, yakni sarana yang dapat membuat orang menjadi jatuh cinta kepada orang yang menggunakan sarana tersebut. Atau dapat pula disebut dengan sarana guna-guna. Seperti misalnya: guna lilit, guna jaran guyang, guna tuntung tangis, dan lain-lain.

4. Penangkeb, yakni sarana gaib atau mistis agar orang lain atau orang banyak menjadi tunduk. Dengan demikian orang tersebut dapat mengendalikan, mengarahkan, menguasai, atau menyetir orang lain atau orang banyak sesuai dengan keinginannya.

Orang yang telah terkena ilmu penangkeb tak ubahnya seperti kerbau yang dicocok hidungnya, sehingga akan menjadi penurut sesuai perintah atau keinginan dari orang yang mengenakan ilmu penangkeb.

5. Pepasangan, yakni sarana yang ditanam pada tempat tertentu oleh orang yang bisa melakukan pengiwa. Tujuannya adalah untuk mengenai korbannya sesuai dengan yang diingini si pemasang.

Dapat berupa sarana tulang manusia yang dibungkus, atau berupa bubuk tulang yang ditaburkan pada pekarangan rumah orang yang akan dijadikan korban.

Dengan adanya pepasangan itu menjadikan situasi rumah tersebut menjadi agak lain, agak seram, penghuninya sakit-sakitan, sering cekcok, dan lain-lain.

6. Sesawangan, yakni kemampuan seseorang yang mempraktekkan ilmu pengiwa hanya dengan membayangkan wajah atau hanya nama dari calon korban. Sesawangan juga disebut dengan umik-umikan atau acep-acepan atau doa-doa.

Dengan kemampuan ini seseorang yang melaksanakannya dapat mencapai korbannya, walaupun dia bersembunyi di balik dinding beton yang tebal dan kuat.

7. Ilmu Cetik (racun) merupakan cara meracun orang atau korban. Ada cetik sekala dan ada cetik niskala. Cetik sekala diartikan bahwa meracun dengan menggunakan sarana tertentu yang tampak nyata, seperti cetik gringsing, cetik cadang galeng, cetik kerikan gangsa, dan lain-lain.

Kemudian cetik niskala adalah meracun korban atau orang dengan sarana yang tidak kelihatan. Cetik ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang memiliki ilmu Leak yang sudah tinggi.

Hanya dengan memandangi makanan atau minuman saja, maka korbannya akan menjadi sakit seperti yang dikehendaki.

Kewisesan yang diperolehnya kemudian disebarluaskan secara rahasia dengan menggunakan sarana seperti mas, mirah, tembaga, kertas merajah, dan lain-lain.

Ada pula dalam bentuk bebuntilan. Si pemakai pengiwa tersebut juga diberikan rerajahan ongkara sungsang pada lidah, gigi, kuku, atau bagian tubuh tertentu lainnya.

Atau ada pula penggunaan pengiwa dengan jalan maled. Sarana pengiwa tersebut dibakar sebelumnya, kemudian abunya dibungkus dengan buah pisang mas, dan kemudian ditelan.

Setelah itu didorong masuk ke dalam tubuh dengan menggunakan tirta.

Begitulah ilmu pengleakan yang dikuasai oleh I Gede Basur sehingga dia diantara para abdi kerajaan yang paling ditakuti dan paling diandalkan sebagai Tabeng Dada.

Tabeng Dada I Gede Basur Penguasa Ilmu Leak Desti Di Bali

I Gede Basur dalam sehari-harinya hidup sebagai Abdi Kerajaan Udayana yaitu sebagai Tabeng Dada Kerajaan, yaitu Tabeng artinya pelindung dan dada artinya dada pada tubuh manusia.

Tabeng Dada ini adalah sejenis Pasukan Khusus Kerajaan yang tugasnya melindungi Raja apabila ada marabahaya.

I Gede Basur ini punya putra satu orang yang bernama I Wayan Tigaron yaitu merupakan putra kesayangan dan putra satu-satunya.

I Wayan Tigaron jatuh cinta pada Ni Wayan Sukasti yaitu putri dari I Made Tanu, walaupun I Wayan Tigaron ini orangnya sangat kaya, anak seorang abdi kerajaan, tetapi cintanya tetap di tolak oleh Ni Wayan Sukasti karena alasannya ia sudah punya pacar yang barnama I Nyoman Tirta yaitu seorang pemuda tampan dan bijaksana.

Karena cintanya ditolak oleh Ni Wayan Sukasti, maka I Wayan Tigaron sangat marah dan hal ini disampaikan kepada orang tuanya.

I Gede Basur selaku orang tuanya sangat sayang pada anaknya dan menyarankan kepada I Wayan Tigaron agar mencari dan mencintai gadis lain karena di desanya banyak juga gadis-gadis cantik yang tidak kalah cantiknya dengan Ni Wayan Sukasti.

Dinasehati oleh orang tuanya, malah I Wayan Tigaron mengancam mau bunuh diri apabila tidak bisa kawin dengan Ni Wayan Sukasti.

Melihat anaknya nekad seperti itu, maka I Gede Basur terpaksa mengajak anaknya I Wayan Tigaron untuk langsung melamar Ni Wayan Sukasti ke rumahnya.

Setelah sampai di rumah Ni Wayan Sukasti, maka I Gede Basur langsung disapa oleh I Made Tanu yaitu orang tua Ni Wayan Sukasti dan menanyakan tentang maksud kedatangannya.

I Gede Basur menjawab bahwa kedatangannya kesini adalah tidak ada lain untuk melamar Ni Wayan Sukasti untuk dijadikan istri I Wayan Tigaron.

I Made Tanu tidak berani membuat keputusan dan soal cinta tetap menyerahkan penuh pada putrinya Ni Wayan Sukasti, sedangkan Ni Wayan Sukasti sendiri tidak keluar-keluar dari kamarnya karena ia tidak mencintai I Wayan Tigaron.

Belum selesai pembicaraan I Gede Basur dengan I Made Tanu, tiba-tiba datang dua orang laki-laki yang ternyata I Nyoman Tirta bersama ayahnya.

Baru yang dilihat I Nyoman Tirta datang kemudian Ni Wayan Sukasti dengan segera keluar dari kamarnya menemui I Nyoman Tirta dan menyapa dengan ramah, dan langsung mempersilakan kepada I Nyoman Tirta dan Ayahnya duduk.

Melihat kelakuan Ni Wayan Sukasti demikian, maka I Gede Basur merasa tersinggung dan sangat marah karena merasa dipermalukan di depan orang yang bernama I Nyoman Tirta.

I Gede Basur karena merasa dirinya sebagai Abdi Kerajaan yaitu sebagai Tabeng Dada Kerajaan, maka dia maunya memaksa I Made Tanu agar menyerahkan putrinya Ni Wayan Sukasti supaya menikah dengan I Wayan Tigaron.

I Made Tanu tidak bisa berbuat apa-apa karena soal cinta dia menyerahkan sepenuhnya kepada putrinya.

Ni Wayan Sukasti menolak mentah-mentah lamaran paksa dari I Gede Basur, sehingga hal inilah yang membuat I Gede Basur menjadi marah.

I Gede Basur mengancam Ni Wayan Sukasti dengan serangan desti yang membahayakan hidupnya dan I Gede Basur tanpa pamit kepada I Made Tanu langsung mengajak putranya I Wayan Tigaron pulang.

Ketika menjelang tengah malam tiba I Gede Basur memanggil istri dan putranya I Wayan Tigaron untuk duduk berkumpul di bale daja.

I Gede Basur kemudian memberikan wejangan kepada semuanya, “wahai istri dan anakku, karena Ni Wayan Sukasti tidak mau kawin dengan I Wayan Tigaron, maka kita semua sepatutnya waspada dan hati-hati. Karena tanpa diduga-duga musuh pasti akan menghampiri dan menyerang kita.

Untuk melindungi diri, maka aku akan menurunkan semua yang aku miliki untuk kalian semua. Ilmu pengiwa yang dulu dianugrahkan oleh Ida Betari Durga Bhairawi, akan aku turunkan kepadamu. Ilmu ini akan aku masukkan ke dalam jiwa ragamu sekalian. Ilmu ini sangatlah rahasia, dan tidak boleh dibicarakan atau digunakan sembarangan”. Demikian I Gede Basur memulai ‘laku’ tersebut.

Untuk persiapan tersebut, I Gede Basur menyuruh istri dan anaknya untuk membersihkan diri dan bersamadi. Ketika semuanya sudah bersih dan ngulengin kayun, pada saat itu I Gede Basur memulai lakunya.

Istri dan anaknya diberikan rerajahan yang berisikan aksara atau tulisan-tulisan dan gambar, sambil mengucapkan mantra sakti.

Rerajahan tersebut diberikan pada bagian buku-buku, layah, mata, gigi, gidat, dan paban. Dilengkapi pula dengan sesaji yang diperlukan.

Setelah semua dirajah, maka I Gede Basur kemudian kembali berkata: “sekarang dengarkanlah baik-baik apa yang aku katakan mengenai ilmu yang aku turunkan kepadamu sekalian.

Agar tidak salah dalam menggunakannya dikemudian hari. Kamu istriku, aku berikan ilmu yang bernama Aji Ratuning Kawisesan. Sangat sakti ilmu tersebut. I Wayan Tigaron aku turunkan ilmu yang bernama Aji Siwer Emas.

Demikianlah ilmu kewisesan pengiwa yang aku turunkan kepadamu. Ilmu ini adalah ilmu atau ajian yang sangat rahasia. Hanya kita saja yang tahu semua ini, dan aku harap tidak ada yang bercerita sembarangan mengenai ilmu yang kita miliki”.

Demikian I Gede Basur memberikan wejangan setelah menurunkan ilmu tersebut dan mulai saat itu istri dan anaknya menjadi sisya-sisyanya.

Selain istri dan anaknya, I Gede Basur juga mempunyai sisya sebanyak tiga puluh tujuh orang. Semuanya berasal dari desa lain jauh dari Desa Karang Pengastian.

Mereka diusir dari desanya masing-masing karena mempraktekkan ilmu pengleakan di desanya terdahulu, mereka kemudian bergabung dan menjadi murid I Gede Basur.

Mereka tersebut semuanya telah menguasai ilmu kewisesan pengiwa dalam berbagai tingkatan. Semua tuntunan ilmu penglekan telah mereka pelajari dan kuasai, mislany melakukan ilmu desti, teluh, dan terangjana.

Mereka telah lihai dalam membuat cetik, menebar pepasangan, bebai, dan lain-lain.

Semenjak menginjakkan kakinya di Desa Karang Pengastian I Gede Basur telah membentengi dirinya dengan berbagai gegemet pelindung.

Demikian pula dengan pekarangan rumahnya yang penuh dengan berbagai macam pelindung yang kekuatannya sangat tinggi. Berbagai jenis tumbal rerajahan dipasang di tengah pekarangan rumah, di angkul-angkul, dan lain-lain.

Dengan demikian orang yang ingin berbuat tidak baik akan melihat rumah I Gede Basur dilindungi kerangkeng besi yang kokoh dan tidak bisa ditembus.

Sehingga orang tersebut akan mengurungkan niatnya untuk mencelakai si pemilik rumah. Atau dengan tumbal rerajahan yang digelar tersebut mengakibatkan rumah tersebut kelihatan kosong atau tak berpenghuni, atau rumah I Gede Basur tampak seperti lapangan luas yang kosong.

Ada pula tumbal rerajahan yang memungkinkan orang masuk ke dalam pekarangan rumah, namun setelah sampai di dalam pekarangan mereka menjadi bingung mencari jalan keluar. Sehingga orang yang berbuat jahat tersebut menjadi terlihat, dan tampak kebingungan.

Ada pula pengaruh tumbal rerajahan yang menyebabkan orang telah masuk ke pekarangan rumah, kemudian mengalami tipuan pandangan, seolah-olah ia berada dalam air yang dalam. Sehingga orang tersebut bergelagat seperti berenang di air.

Padahal itu, hanyalah sebuah tipuan maya, akibat dari tumbal rerajahan yang digelar.

Setelah beberapa lama semenjak I Gede Basur menurunkan ilmunya kepada anggota keluarganya, kini ia akan merencanakan untuk mengadakan pembalasan sesuai dengan apa yang ia katakan di hadapan Ni Wayan Sukasti beberapa hari sebelumnya.

I Gede Basur mulai menyiapkan segala sesuatu sesuai yang diperlukan untuk tujuan tersebut. termasuk pula persiapan mental mereka yang akan diterjunkan dalam aksi balas dendam terhadap orang-orang yang ada di rumah Ni Wayan Sukasti. I Gede Basur berencana mengerahkan semua kekuatan yang dimilikinya dengan melibatkan seluruh sisyanya.

Setelah semuanya merasa siap kini I Gede Basur hanya tinggal menunggu hari yang baik untuk hal tersebut.

Setelah beberapa lama menunggu, maka hari baik yang ditunggu-tunggu telah datang. Hari tersebut adalah hari Weraspati Kajeng Kliwon nemoning tilem — hari Kemis Kliwon bertepatan dengan bulan mati –.

Pada mala hari I Gede Basur yang diiringi oleh istri, anak, dan seluruh sisyanya berangkat menuju ke setra yang letaknya jauh di pinggir Desa Karang Pengastian.

Suasananya sangat gelap, karena bertepatan dengan tilem, suasana sunyi senyap karena mereka berjalan di tengah malam. Sangat terasa keangkeran malam itu.

Ditambah pula dengan kuburan yang ditumbuhi oleh pohon-pohon besar seperti pohon beringin, kepuh, kepah, pule, dan tanaman jaka tunggul. Suasana menjadi mencekam yang terasa membuat bulu kuduk seluruh badan menjadi berdiri.

Sesampainya di setra, rombongan I Gede Basur mengambil tempat di tengah tunon atau pemuwunan. Di kegelapan malam mereka mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjalankan ilmu pengleakan tingkat tinggi dan memuja Ida Betari.

I Gede Basur duduk bersila di tengah-tengah memusatkan pikiran, menyatukan bayu, sabda, idep, mohon restu dan anugrah kehadapan Ida Betari agar pengiwa yang digelar menjadi sempurna dan sakti mandraguna.

Sambil mata terpejam, I Gede Basur mengucapkan mantra-mantra sakti dan rahasia. Demikian pula I Gede Basur didampingi oleh para sisyanya yang semua telah mengenakan kamben duur entud dengan rurub putih merajah.

Para sisya semuanya mengelilingi I Gede Basur sambil menari-nari, dangkrak-dingkrik, dangklang-dengkleng, dengan rambut megambahan.

Semuanya larut dalam konsentrasi dan juga tarian mereka masing-masing, sampai akhirnya penestian mereka semuanya tasak. Ketika semuanya telah mencapai puncaknya, maka semuanya telah nyuti rupa menjadi berbagai macam rupa leak sesuai dengan tingkat ilmu yang dikuasai oleh murid-murid I Gede Basur.

Ada yang berwujud bojok (kera), bangkal mecaling renggah (babi bertaring panjang), kambing, gegendu kebo mebatis telu (kerbau berkaki tiga), gegendu jaran mebatis tetelu (kuda berkaki tiga), cicing bengil (anjing kurus dan kotor), kreb kasa (untaian kain panjang putih), bade (usungan jenasah bertingkat), dan berbagai macam rupa yang menyeramkan.

Para leak semuanya menjadi semakin riang gembira menari-nari ketika hujan gerimis turun dan membasahi tanah yang kering. Bau angid yang muncul dari tanah kering tersiram air tersebut menambah gembiranya para leak.

Pada puncaknya, I Gede Basur kemudian terbangun dari duduknya dan berkata kepada semua leak sisyanya, “wahai engkau para sisyaku semuanya, laksanakanlah tugasmu sekarang sesuai dengan rencana kita.

Pergilah ke rumah Ni Wayan Sukasti sekarang juga. Hancurkan Sukasti dan keluarganya itu, sakiti semua yang hidup disana agar mereka semua mampus. Berbuatlah sesuka hatimu di sana. Tebarkan cetik, bebai, upas, wisya dan lain-lain yang kau miliki, sehingga mereka semuanya menjadi menderita.

Keluarkan segala ilmu leak yang telah aku ajarkan kepadamu. Aku akan mengawasi engkau semua dari sini”. Demikian perintah I Gede Basur kepada seluruh sisyanya.

Segeralah para sisya berwujud leak beranekan macam tadi berubah menjadi endih beraneka warna-warna merah membara dan merah gelap dan beterbangan ke angkasa pergi menuju Desa tempat tinggal Ni Wayan Sukasti dan keluarganya.

Apa yang menjadi ancaman I Gede Basur menjadi kenyataan yaitu pada hari ketiganya Ni Wayan Sukasti diserang desti sehingga ia jatuh sakit yaitu perutnya dirasakan sangat sakit kemudian muntah darah dan akhirnya lemas tak sadarkan diri.

I Made Tanu orang tua Ni Wayan Sukasti sangat panik dan kemudian dia minta tolong kepada seorang balian untuk mengobati penyakit Ni Wayan Sukasti.

Balian ini memang kebetulan datang ke rumah Ni Wayan Sukasti dan berlagak sombong bahwa dia adalah seorang Balian Sakti yang bisa menyembuhkan segala penyakit termasuk penyakit kena leak Desti.

Karena penyakit Ni Wayan Sukasti sangat parah, maka Balian tersebut tidak bisa menyembuhkan Ni Wayan Sukasti dan malah Balian itu sendiri diserang oleh Leak Desti, sehingga Balian tersebut sakit perut dan muntah darah tak sadarkan diri.

Melihat kenyataan itu, Ni Wayan Sukasti teringat bahw ia mempunyai seorang kakek yang sering dijuluki dengan nama Kakek Wiku yaitu seorang yang mampu dan menguasai ilmu pengobatan Usada Bali. Beliau dikenal sangat sakti.

I Made Tanu minta bantuan kepada ayahnya yaitu Kakek Wiku dan telah mengumpulkan tokoh masyarakat dan penduduk yang mempunyai ilmu kanuragan atau ilmu kewisesan.

Mereka semua dikumpulkan di rumah Kakek Wiku dan diberikan pengarahan mengenai rencana ada pertempuran dengan I Gede Basur dan sisyanya di malam hari.

Waktu yang ditetapkan untuk pertempuran telah tiba. Menjelang tengah malam mereka berangkat bersama dilengkapi pula dengan senjata tajam, sesikepan, gegemet-gegemet, dan juga sesabukan yaitu berupa jimat-jimat magis yang diyakini bisa melindungi dirinya.

Bagi mereka yang menguasai ilmu kanuragan tinggi, langsung berangkat melalui udara, terbang menuju Desa Karang Pengastian. Sedangkan yang lainnya melakukan perjalanan darat secara beramai-ramai berjalan di tengah kegelapan malam.

Kakek Wiku sendiri tidak ikut pada saat itu, karena masih melakukan tapa samadi dalam rangka ngeregepan kesaktian yaitu menunggalkan bayu, sabda, dan idep untuk membangkitkan ilmu kesaktian dalam dirinya.

Karena kesaktian I Gede Basur, maka kedatangan I Made Tanu dan teman-temannya telah diketahui sebelumnya. Sehingga I Gede Basur memerintahkan kepada seluruh sisya-sisyanya untuk bersiaga di perbatasan Desa Karang Pengastian.

I Gede Basur beserta sisyanya telah bersiaga menyambut kedatangan para rombongan I Made Tanu yang akan menggempur I Gede Basur dan sisyanya.

I Gede Basur telah menggelar semua ilmu yang dimiliki dan telah menyengker Desa Karang Pengastian dengan penyengker atau pagar gaib, sehingga kekuatan musuh tidak dapat menembus pertahanan tersebut.

Pada tengah malam, sampailah para rombongan I Made Tanu di perbatasan Desa Karang Pengastian. Mereka langsung menggelar ajian yang mereka miliki dan menyerang musuh yang telah menghadang.

Serangan tersebut kemudian dihadang oleh para murid I Gede Basur, sehingga terjadilah siat peteng –pertempuran ilmu kanuragan — yang sangat dahsyat.

Bola-bola api beterbangan di antara kedua belah pihak. Taburan cahaya gemerlap aneka warna di angkasa yang saling berkelebat, berkejar-kejaran, dan saling berbenturan. Desa Karang Pengastian pada malam itu bagaikan kejatuhan bintang dari langit yang jumlahnya ribuan.

Tidak beberapa lama siat peteng berlangsung, serangan dari I Made Tanu dan kawan-kawannya dapat dipatahkan oleh ketangguhan ilmu yang dimiliki oleh murid-murid I Gede Basur.

Para rombongan I Made Tanu berhamburan berlari meninggalkan arena pertempuran karena terdesak. Mereka berusaha untuk menyelematkan diri.

Setelah mengalami desakan dari pasukan leak Desti I Gede Basur di Karang Pengastian, maka para rombongan I Made Tanu memutuskan untuk berbalik dan kembali ke rumahnya, serta melaporkan semuanya kehadapan kakek Wiku.

Kekalahan I Made Tanu menyebabkan pasukan leak Desti bergembira. Mereka semua tertawa terbahak-bahak yang suaranya nyaring dan keras membelah angkasa.

Suaranya mengalun, melengking memenuhi angkasa dan berpantulan di antara bukit-bukit. Sehingga terasa mengerikan sekali pada malam hari tersebut, mereka semua menari-nari di angkasa, berwujud bola-bola api saling berkejar-kejaran merayakan kemenangannya.

Di rumah Ni Wayan Sukasti. Para lelaki desa yang dewasa setiap hari berjaga-jaga pada malam hari. Sedangkan yang perempuan tinggal di dalam rumah dan berkumpul dalam jumlah banyak,

Mereka tidak berani tidur atau tingal di rumah sendirian. Suasana di rumah Ni Wayan Sukasti pada saat itu sangat mencekam.

Lolongan anjing masih terus terdengar. Mereka terus berjaga-jaga dan selalu memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar segera dibebaskan dari masalah penyakit desti tersebut.

Dalam pada itu I Made Tanu beserta dengan orang-orang sedusunnya yang kalah perang. telah sampai di rumah Kakek Wiku. Segera mereka menghadap Kakek Wiku dan melaporkan segala sesuatunya.

Melihat rombongan I Made Tanu yang datang tampak utuh semuanya, Kakek Wiku tampak merasa gembira. Namun ketika mendengar semua laporan dari I Made Tanu, Kakek Wiku terkejut, beliau bersedih hati.

I Made Tanu berkata: “Mohon ampun ayah, saya dan kawan-kawan tidak mampu mengalahkan I Gede Basur dan para syisyanya.”.

Kakek Wiku yang bijaksana kemudian bersabda, “wahai Made Tanu beserta semua para kanti, kalah menang dalam peperangan sudah menjadi hukumnya. Janganlah berputus asa.

Karena masih ada waktu dan masih ada cara lain utnuk menumpas I Gede Basur beserta dengan antek-anteknya. Gempur kembali I Gede Basur.

Kalau tidak mampu di malam hari, gempurlah ia di siang hari. Kalau tidak bisa dengan seratus orang, maka gempurlah ia dengan seribu orang”.

Harus kalian ingat mengenai Swadharmaning ring payudhan. Dalam Shanti Parwa disebutkan bhawa apabila mati dalam peperangan, maka darah yang mengalir muncrat akan menghapus segala dosamu.

Dan Sang Jiwa atau Sang Atma akan menuju Indraloka. Itulah yang hendaknya diingat dan dijadikan pedoman. Semuanya itu adalah merupakan sebuah pengorbanan yang suci atau yadnya yang digolongkan yadnya utama”.

Demikian kakek Wiku memberikan wejangan kepada I Made Tanu dan para kantinya yang hampir putus asa karena kalah perang.

Mendengar wejangan tersebut, I Made Tanu beserta dengan para kanti merasakan hidup kembali dan bersemangat. Bagaikan diberikan kekuatan bebayon, sehingga semangatnya tumbuh kembali.

I Made Tanu kemudian berkata: “Baiklah ayahnda, sangat senang saya mendengar wejangan tersebut. Sekarang saya sadar dan yakin akan diri. Saya akan mebela pati dan metoh urip menghadapi I Gede Basur beserta dengan murid-muridnya”. Pernyataan I MadeTanu tersebut dibarengi oleh seluruh para kantinya.

Baiklah kalau begitu, Aku sangat menghargainya. Untuk penyerangan kali ini aku akan membantunya dengan beberapa sisya kakek yang terpilih sebanyak dua ratus orang, sedangkan aku sendiri yang akan menghadapi langsung I Gede Basur.

Semua sisya ilmu putih akan mengawal dan membantu I Made Tanu dalam menumpas kejahatan yang dilakukan oleh I Gede Basur.

Setelah semua keputusan Kakek Wiku disampaikan, para sisya ilmu putih kemudian membubarkan diri untuk melakukan persiapan penyerbuan kembali pada keesokan harinya. Segala sesuatu perlengkapan segera dipersiapkan seperti senjata tajam berupa tombak, keris, klewang, dan lain-lain.

Demikian pula dengan berbagai sarana pelindung badan yang gaib sebagai sarana penolak atau penempur leak, sarana kekebalan, semuanya diturunkan dari tempatnya yang pingit.

Yang tidak kalah pentingnya adalah persiapan mengenai perbekalan makanan dan minuman yang diperlukan selama penyerangan. Ketika semua persiapan dianggap rampung, maka mereka pun istirahat agar tenaganya cukup kuat untuk penyerangan besok.

Hari yang ditentukan untuk penyerangan telah tiba, maka pada tengah malam penyerangan segera dilakukan dan pertarunganpun terjadi pada malam hari dengan ilmu kesaktiannya masing-masing.

Ilmu Kesaktian I Gede Basur lebih rendah daripada Ilmu Kesaktian Kakek Wiku sehingga I Gede Basur pada pertarungan tersebut dapat dikalahkan.

Dalam keadaan yang tidak berdaya I Gede Basur mengucapkan kata-katanya terakhir: “Wahai Kakek Wiku dan Made Tanu, sudahi peperangan ini sampai disini, sekarang mari kita bersatu kembali semuanya karena kita adalah satu dan tunggal kawitan.

Setelah sekian lama kita bersengketa dan bermusuhan kini mari kita bersatu kembali. Wahai Made Tanu, semua yang saya lakukan ini adalah karena saya ingin agar anak saya I Wayan Tigaron bisa mendapatkan gadis idamannya Ni Wayan Sukasti untuk dijadikan istri.

Demikian juga untuk mengingatkan kepada seluruh manusia agar selalu ingat dalam persaudaraan dan tidak melupakan kawitannya”.

Pada akhir dari hidup saya di dunia ini, saya mohon ampun kehadapan Made Tanu. Karena saya telah berbuat yang menyebabkan Ni Wayan Sukasti sakit.

Saya harus menebus semua dosa-dosa yang telah saya perbuat, dan menanggung semua karmapala atas semua yang telah saya perbuat. Itulah yang dapat saya katakan, dan sekarang saya mohon pamit”.

Ketika itu pula I Gede Basur dengan tenang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Hujan gerimis mengiringi kepergian I Gede Basur ke Sunialoka. Suasana yang tadinya penuh dengan kebencian dan kemarahan, kini berubah menjadi suasana haru.

Kematian I Gede Basur, disambut dengan kegembiraan oleh penduduk, segeralah Kakek Wiku memerintahkan agar memperlakukan jasad I Gede Basur untuk dibuatkan upacara sebagaimana mestinya.

Demikian pula seluruh murid-murid I Gede Basur yang semuanya adalah rakyat Desa Karang Pengastian yang gugur semuanya segera dibuatkan upacara.

Kakek Wiku menitahkan untuk melaksanakan upacara Pitra Yadnya atau pengabenan secara ngerit.

Mengingat tugas yang dititahkan oleh Kakek Wiku telah selesai, para sisya Kakek Wiku berniat kembali pulang ke rumah masing-masing, Kakek Wikupun tidak berkeberatan. Namun sebelum bertolak,

Kakek Wiku berkata kepada para sisya: “Wahai seluruh sisya, sekarang musuh telah dapat ditumpas. Terima kasih yang tak terhingga saya ucapkan kepada para sisya. Sekarang saya akan menyelesaikan urusan upacara ini semuanya terdahulu.

Para sisya Kakek Wiku dan para murid I Gede Basur yang meninggal dalam pertempuran mendapat perlakuan upacara yang sama.

Semua jasadnya akan dibakar di setra agung untuk mempercepat pengembalian jasadnya ke alam menjadi unsur-unsur alam yang disebut dengan Panca Maha Buta yang terdiri dari bayu (angin), apah (air), teja (panas atau sinar), pertiwi (tanah), dan akasa (ruang kosong).

Demikianlah, agar jiwa mereka mendapatkan kesucian dan ketenangan, untuk menuju ke alam sunya sesuai dengan karmanya masing-masing selama hidup di mercapada, karena hanya subhakarma dan asubhakarma yang pernah dilakukan yang akan menemani manusia menuju alam berikutnya.

Sangat ramai sekali yadnya yang dibangun masyarakat Desa Karang Pengastian secara bersama-sama dan bergotong royong.

Berbagai macam petulangan dibuat, demikian pula dengan bade dibuat dengan seindah mungkin. Ada bade bertumpang pitu, tumpang sanga, ada lembu hitam, lembu putih, ada pula berbentuk singa.

Semuanya dibuat seindah mungkin yang dibuat oleh para undagi. Dengan beraneka warna kapas yang ditempatkan pada sarana bade tersebut.

Para wanita sibuk mempersiapkan tetandingan-tetandingan yang diperlukan untuk upacara ngaben tersebut. Setelah semuanya selesai dipersiapkan maka upacara pengabenan tersebut pun diselenggarakan dengan mengambil tempat di pemuwunan setra agung.

Gamelan angklung, gong saron, dan beleganjur sudah saling bersahutan dari sejak pagi. Semua wadah, lembu, di berangkatkan menuju ke tempat upacara. dipentaskan pula tari ketekok jago, sebagai tari pengantar sang jiwa menuju ke suniakola.

Ida Sang Sulinggih memuja kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan memberikan penyucian kepada semua arwah yang diaben. Dan pada akhir upacara tersebut, semua abu-abu sisa pembakaran dihanyutkan ke laut.

Berselang satu bulan tujuh hari semenjak upacara pengabenan tersebut, kemudian dilakukan upacara memukur atau atma wedana atau meligia, sampai akhirnya para pitra (atma) yang disucikan tersebut dilinggihkan (distanakan) di merajan rong tiga atau tempat suci keluarga masing-masing.

Dengan demikian, rentetan upacara Pitra Yadnya tersebut telah rampung. Dengan harapan semua yang telah meninggal mendapatkan kesucian dan ketenangan. Di samping itu pula, bagi mereka yang masih hidup agar diberkahi kesejahteraan.

Terhadap sisya yang masih hidup, namun mengalami luka-luka juga mendapatkan perawatan. Mereka semua diberikan obat, termasuk pula mereka yang terkena akibat ilmu hitam ketika siat peteng terdahulu. Semuanya mendapatkan perhatian sungguh-sungguh, atas kebijaksanaan dari Kakek Wiku.

Semua prajurit yang terluka dan kena akibat ilmu hitam mengalami kesembuhan seperti sedia kala atas asung wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa (atas kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan).

Dengan meninggalnya I Gede Basur, maka Ni Wayan Sukasti akhirnya sembuh seperti sedia kala tanpa diobati dan kemudian dilangsungkanlah pernikahan antara Ni Wayan Sukasti dan I Nyoman Tirta.

Leak Desti yang merupakan warisan dari I Gede Basur, sampai saat sekarang ilmu tersebut masih berkembang di Bali, karena ada generasi yang melanjutkannya.

Swasti Astu
matur suksma,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: