JAGAD BALI

WAOSAN KAPING-6

PARA PENGUASA BALI

(Wedaran kaping-3)

On 14 Februari 2012 at 22:20 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Swasti Astu
||Rahajêng wêngi, Sugêng dalu||

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

Waosan kaping 6.
PARA PENGUASA BALI (Wedaran kaping-3)

II. Wangsa Warmadewa

2. Bali 835 Ç / 913 M sd 846 Ç / 924 M. Kerajaan Singadwala Kahuripan. Sri Kesariwarmadewa Sri Wira Dalem Kesari. Wangsa Warmadewa.

SRI KESARIWARMADEWA

Setelah jatuhnya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dari wangsa Sanjaya akibat peperangan dengan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan maka mulailah kekuasaan Dinasti Wangsa Warmadewa di Pulau Bali.

Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa yang didirikan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan lokasi Kerajaan di sekitar Besakih. Beliau merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai.

Sri Kesari dianggap sebagai pendiri sebagai dinasti Warmadewa, yang makmur selama beberapa generasi, salah satu keturunan yang menjadi terkenal raja Udayana.

Menurut prasasti, Sri Kesari adalah seorang raja Buddha dari Dinasti Syailendra memimpin sebuah ekspedisi militer, untuk membangun Mahayana pemerintah Buddha di Bali.

Sri Kesari Warmadewa adalah raja pertama Bali untuk meninggalkan prasasti yang ditulis, yang dikenal dengan Prasasti Belanjong atau Prasasti Blanjong, bertarikh Tahun Çaka 835 atau 913 M.

Nama Blanjong berasal dari kata blahjung. Blah atau belah berarti pecah atau bocor, dan jung berarti perahu. Perahu yang bocor, kemudian terdampar dan akhirnya pecah berantakan dekat Sawang.

Kata sawang berarti palung laut yang dalam, dan sekarang menjadi Semawang. Pengertiang Blanjong adalah suatu tempat dimana perahu yang bocor kemudian pecah terdampar di dekat Semawang. Sanur.

Diduga prasasti ini memuat sejarah tertua tentang Pulau Bali. Untuk pertama kalinya kata Walidwipa disebutkan pada Prasasti Belanjong ini, yang merupakan sebutan untuk Pulau Bali.

Prasasti Blanjong ditemukan di dekat banjar Blanjong, desa Sanur Kauh, di daerah Sanur Denpasar, Bali. Bentuknya berupa pilar batu setinggi 177 cm, dan bergaris tengah 62 cm. di atasnya (bagian kepala) ada mahkota yang berwujud bunga teratai, sama dengan yang ada di Malaya serta di Sriwijaya.

Situs prasasti ini termasuk dalam lingkungan pura kecil, yang melingkupi pula tempat pemujaan dan beberapa arca kuno.

Dalam prasasti itu terdapat kata satru dan bheri, dua kata yang melukiskan keadaan perang serta berarti mengalahkan musuh.

Prasasti ini ditulis dengan dua macam huruf yaitu huruf Pranegari menggunakan bahasa Bali Kuno, sedangkan bagian yang ditulis dengan huruf Kawi menggunakan bahasa Sansekerta.

Bagian pertama terdiri dari 6 baris, tiga baris berbahasa Sansekerta. dengan tulisan Pranegari dan tiga baris kemudian berbahasa Bali kuno dengan huruf Pranegari.

Kemudian bagian kedua terdiri dari 13 baris dengan huruf Bali Kuno dan bahasa Sansekerta terletak di bawahnya. Sedangkan angka tahunya ditulis dalam bentuk candrasangkala berbunyi Khecara wahni murti, rajanya disebut Sri Kesari Warmadewa, tahun Candrasangkala itu melukiskan tahun Çaka 835 atau 913 M.

Kalau kita lihat secara seksama, prasasti tersebut sulit untuk diartikan kata demi kata karena sebagian besar tulisannya telah rusak. Walaupun demikian, kita masih dapat dilihat dengan jelas pada akhir tulisan, bahwa gelar Sri Kesari ditulis dengan lengkap yaitu …samasta samantadhipatih Cri Kesari warma…

Rusaknya tulisan prasasti membuat para ahli hanya dapat mengira-ngira terjemahannya yaitu: Pada tahun 835 Caka bulan Phalguna, seorang raja yang mempunyai kekuasaan di seluruh penjuru dunia beristana di keraton Singadwala, bernama Sri Kesari telah mengalahkan musuh-musuhnya di Gurun dan di Swal. Inilah yang harus diketahui sampai dikemudian hari.

Dua prasasti lainnya adalah prasasti Penempahan, dan prasasti Malet Gede (835 Çaka). Keadaan ketiga prasasti itu telah aus. Banyak bagiannya tidak terbaca lagi secara utuh,

Sri Kesari Warmadewa dikenal sangat tekun beribadat untuk memuja dewa dewa yang bersemayam di Gunung Agung. Tempat pemujaan beliau disebut Merajan Selonding atau Merajan Kesari Warmadewa.

Beliaulah yang mengadakan perluasan atas pura Penataran Agung Besakih yang tadinya sangat sederhana. Beliau kemudian membangun pura-pura di Besakih untuk melengkapi bangunan suci yang telah ada di antaranya:

1. Pura Gelap, dengan posisi di Timur Padma Tiga, sebagai stana Ida Bhatara Iswara.
2. Pura Kiduling Kreteg, dengan posisi di Selatan Padma Tiga, sebagai stana Bhatara Brahma.
3. Pura Ulun Kulkul, dengan posisi di Barat Padma Tiga, sebagai stana Ida Bhatara Mahadewa.
4. Pura Batumadeg, dengan posisi di Utara Padma Tiga, sebagai stana Ida Bhatara Wisnu.
5. Pura Dalem Puri untuk memuja Dewi Durga.
6. Pura Basukihan untuk memuliakan Naga Basukihan.

Beliaulah yang memerintahkan masyarakat untuk merayakan hari Nyepi pada sasih Kesanga.

Padma Tiga Pura Besakih Sumber Kesucian, Pemujaan Tri Purusa

Pura Besakih banyak mengandung filosofi. Menurut Piagam Besakih, Pura Agung Besakih adalah Sari Padma Bhuwana atau pusatnya dunia yang dilambangkan berbentuk bunga padma.

Oleh karena itu, Pura Agung Besakih adalah pusat untuk menyucikan dunia dengan segala isinya.

Pura Besakih juga pusat kegiatan upacara agama bagi umat Hindu. Di Pura ini setiap sepuluh tahun sekali dilangsungkan upacara Panca Bali Krama dan setiap seratus tahun diselenggarakan upacara Eka Dasa Rudra.

Pura Agung Besakih secara spiritual adalah sumber kesucian dan sumber kerahayuan bagi umat Hindu.

Bangunan yang paling utama di Pura Besakih adalah palinggih Padma (Padmasana) Tiga. Letaknya di Pura Penataran Agung Besakih. Palinggih tersebut terdiri atas tiga bangunan berbentuk padmasana berdiri di atas satu altar.

Bangunan suci Padma Tiga yang berada di Pura Agung Besakih adalah tempat pemujaan Tri Purusa yakni Siwa, Sada Siwa, dan Parama Siwa (Tuhan Yang Mahaesa).

Piodalan di Padmasana Tiga dilangsungkan setiap Purnama Kapat. Ini terkait dengan tradisi ngapat. Sasih Kapat atau Kartika, merupakan saat-saat bunga bermekaran. Kartika juga berarti penedengan sari. Padmasana tersebut dibangun dalam satu altar atau yoni.

Palinggih padmasana merupakan stana Tuhan Yang Mahaesa. Padmasana berasal dari kata padma dan asana. Padma berarti teratai dan asana berarti tempat duduk atau singgasana. Jadi, padmasana artinya tempat duduk atau singgasana teratai.

Tuhan Yang Mahaesa secara simbolis bertahta di atas tempat duduk atau singgasana teratai atau padmasana. Padmasana lambang kesucian dengan astadala atau delapan helai daun bunga teratai.

Bali Dwipa atau Pulau Bali dibayangkan oleh para Rsi Hindu zaman dulu sebagai padmasana, tempat duduk Tuhan Siwa, Tuhan Yang Mahaesa dengan asta saktinya (delapan kemahakuasaanNya) yang membentang ke delapan penjuru (asta dala) Pulau Bali masing-masing dengan dewa penguasanya.

• Dewa Iswara berada di arah Timur, bersemayam di Pura Lempuyang.
• Brahma di selatan bersemayam di Pura Andakasa.
• Dewa Mahadewa di barat (Pura Batukaru),
• Wisnu di utara (Pura Batur),
• Maheswara di arah tenggara (Pura Goa Lawah),
• Rudra di barat daya (Pura Uluwatu), Sangkara di barat laut (Pura Puncak Mangu),
• Sambhu di timur laut (Pura Besakih),
• Siwa bersemayam di tengah, pada altar dari Pura Besakih dengan Tri Purusanya yaitu Parama Siwa, Sada Siwa dan Siwa.

Tri Purusa tersebut dipuja di Padmasana Tiga Besakih. Palinggih Padmasana Tiga tersebut merupakan intisari dari padma bhuwana, yang memancarkan kesucian ke seluruh penjuru. Kesucian ini penting terus dijaga, sebagai sumber kehidupan.

Sementara pembangunan Pura Agung Besakih dan Pura-pura Sad Kahyangan lainnya adalah berdasarkan konsepsi Padma Mandala, bunga padma dengan helai yang berlapis-lapis (Catur Lawa dan Astadala).

Pura Besakih adalah sari padma mandala atau padma bhuwana. Pura Gelap, Pura Kiduling Kerteg, Pura Ulun Kulkul dan Pura Batumadeg adalah Catur Lawa.

Sedangkan Pura Lempuyang Luhur, Goa Lawah, Andakasa, Luhur Uluwatu, Batukaru, Puncak Mangu, dan Pura Batur adalah Astadala. Pura-pura tersebut sangat disucikan dan merupakan satu kesatuan yang utuh. Pura-pura tersebut pusat kesucian dan kerahayuan bagi umat Hindu.

Pura Besakih disebut juga sebagai huluning Bali Rajya, hulunya daerah Bali. Pura Besakih sebagai kepala atau jiwanya Pulau Bali. Hal ini sesuai dengan letak Pura Besakih di bagian timur laut Pulau Bali.

Timur laut adalah arah terbitnya matahari dengan sinarnya sebagai salah satu kekuatan alam ciptaan Tuhan yang menjadi sumber kehidupan di bumi. Pura Besakih juga hulunya berbagai pura di Bali. Kata Wiana, di Padma Tiga ini Tuhan dipuja sebagai Sang Hyang Tri Purusa, tiga manifestasi Tuhan sebagai jiwa alam semesta.

Tri artinya tiga dan purusa artinya jiwa. Tuhan sebagai Tri Purusa adalah jiwa agung tiga alam semesta yakni Bhur Loka (alam bawah), Bhuwah Loka (alam tengah) dan Swah Loka (alam atas). Tuhan sebagai penguasa alam bawah disebut Siwa atau Iswara. Sebagai jiwa alam tengah, Tuhan disebut Sadha Siwa dan sebagai jiwa agung alam atas, Tuhan disebut Parama Siwa atau Parameswara.

Palinggih padma paling kanan tempat memuja Sang Hyang Parama Siwa. Bangunan ini biasa dihiasi busana hitam. Sebab, alam yang tertinggi (Swah Loka) tak terjangkau sinar matahari sehingga berwarna hitam. Bangunan padma yang terletak di tengah adalah lambang pemujaan terhadap Sang Hyang Sadha Siwa.

Busana yang dikenakan pada padma tengah itu berwana putih. Warna putih lambang akasa. Sedangkan, bangunan padma paling kiri lambang pemujaan Sang Hyang Siwa yaitu Tuhan sebagai jiwa Bhur Loka. Busana yang dikenakan berwarna merah. Di Bhur Loka inilah Tuhan meletakkan ciptaanNya berupa stavira (tumbuh-tumbuhan), janggama (hewan) dan manusia.

Jadi, palinggih Padma Tiga merupakan sarana pemujaan Tuhan sebagai jiwa Tri Loka. Karena itu dalam konsepsi rwa-bhineda, Pura Besakih merupakan Pura Purusa, sedangkan Pura Batur sebagai Pura Predana.

Busana hitam pada palinggih Padma Tiga bukanlah simbol Dewa Wisnu, tetapi Parama Siwa. Dalam Mantra Rgveda dinyatakan bahwa keberadaan Tuhan Yang Mahaesa yang memenuhi alam semesta ini hanya seperempat bagian.

Selebihnya ada di luar alam semesta. Keberadaan di luar alam semesta ini amat gelap, karena tidak dijangkau oleh sinar matahari.

Tuhan juga Maha-Ada di luar alam semesta yang gelap itu. Tuhan sebagai Jiwa Agung yang hadir di luar alam semesta itulah yang disebut Parama Siwa. Parama Siwa adalah Tuhan dalam keadaan Nirguna Brahman.

Manusia karena keterbatasannya tidak mungkin melukiskan sifat Ke-Maha-Adaan-Yang-Tak-Terbatas dari Tuhan Yang Mahakuasa itu.

Padmasana yang berada di tengah, busananya putih-kuning sebagai simbol Tuhan dalam keadaan Saguna Brahman. Artinya Tuhan sudah menunjukkan ciri-ciri niskala untuk mencipta kehidupan yang suci dan sejahtera.

Putih lambang kesucian dan kuning lambang kesejahteraan. Sedangkan busana warna merah pada padma paling kiri bukanlah sebagai lambang Dewa Brahma. Warna merah itu sebagai simbol yang melukiskan keberadaan Tuhan sudah dalam keadaan krida untuk Utpati, Sthitti dan Pralina. Dalam hal inilah Tuhan Siwa bermanifestasi menjadi Tri Murti.

Sementara di kompleks Pura Besakih, manifestasi Tuhan sebagai Batara Brahma dipuja di Pura Kiduling Kreteg, Batara Wisnu di Pura Batu Madeg dan Batara Iswara di Pura Gelap.

Di tingkat Pura Padma Bhuwana, Batara Wisnu dipuja di Pura Batur, simbol Tuhan Mahakuasa di arah utara. Bhatara Iswara dipuja di Pura Lempuhyang Luhur, simbol Tuhan di arah timur dan Batara Brahma dipuja di Pura Andakasa, simbol Tuhan Mahakuasa di arah selatan. Sementara di tingkat desa pakraman, Batara Tri Murti itu dipuja di Pura Kahyangan Tiga.

Asal Keturunan

Pada abad ke-4 di Campa, Muangthai bertahta Raja Bhadawarman. Beliau diganti oleh anaknya bernama Manorathawarman, selanjutnya Rudrawarman. Anak Rudrawarman bernama Mulawarman merantau, mendirikan kerajaan Kutai. Mulawarman diganti Aswawarman.

Anaknya bernama Purnawarman mendirikan kerajaan Taruma Negara. Anak Purnawarman bernama Mauli Warmadewa mendirikan kerajaan Sriwijaya. Anak Mauli Warmadewa bernama Sri Kesari Warmadewa pergi ke Bali, pertama-tama mendirikan Pura Merajan Salonding dan Dalem Puri di Besakih.

Dikisahkan keadaan Pulau Bali, semua pura rusak terbakar, yang masih tertinggal hanya dasar bangunan saja. Dikisahkan para Arya Hindu memugar dan membangun kembali semua pura yang sudah rusak bersama masyarakat Bali Aga. Adapun yang diberi gelar awatara dewata ialah Baginda Sri Kesari Warmmadewa.

Sesudah selesai membangun semua pura, baginda bermaksud melaksanakan upacara, upacara itu dimulai pada hari Rabu Kliwon Sinta, yang bermakna mengupacarakan benteng pertahanan, selanjutnya mengadakan segala perlengkapan senjata perang yang jatuh pada hari Sabtu Kliwon Landep selanjutnya disebut Hari Raya Tumpek Landep.

Pada hari Sabtu Kliwon Wariga, juga melaksanakan upacara yang disebut Tumpek Uduh, Baginda juga bermaksud melaksanakan upacara Dewa Yadnya serta upacara para dewata yang gugur di medan perang, yang jatuh pada hari Rabu Kliwon Dungulan, yang disebut Hari Raya Galungan.

Pemasukan pajak hasil bumi dari luar Pulau Bali yakni, Makasar, Sumbawa, Sasak, dan Blambangan, yang dibawah kekuasaan Baginda Raja di Bali, diupacarakan pada hari Kamis Wage Sungsang yang selanjutnya disebut Hari Raya Sugian Jawa.

Khusus bagi penduduk Bali Mula upacara itu dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon Sungsang, selanjutnya bernama Hari Raya Sugian Bali. Adapun pelaksanaan Hari Raya Galungan bermula pada hari Rabu Kliwon Dungulan, sekitar bulan Oktober saat bulan purnama, pada Tahun Çaka 804/882 Masehi.

Keadaan Pulau Bali bagaikan Indraloka, menyuarakan bunyi-bunyian yang tak henti-hentinya siang malam memuja Sang Hyang Widhi dan para dewata.

Pulau Bali aman dan makmur sejak Maharaja Sri Kesari Warmmadewa sebagai penguasa tunggal yang diberi gelar awatara Dewata. ketika datangnya arya-arya Hindu yang menguasai bumi Bali juga ikut membangun dan memperbaiki kahyangan jagat seperti yang bernama Sri Wira Dalem Kesari kembali memperbaiki Pura Sad Kahyangan, antara lain:

1. Pura Penataran Besakih
2. Pura Bukit Gamongan
3. Pura Batukaru
4. Pura Uluwatu
5. Pura Erjeruk
6. Pura Penataran Pejeng.

Akhir pemerintahan

Beberapa tahun kemudian karena sudah tua mangkatlah Sri Aji Bali pada tahun Çaka 837/915 Masehi.

Putra beliau yang menggantikan tahta, tidak beda dengan beliau yang sudah menyatu dalam Sunya, selalu taat berbakti kehadapan Sanghyang Widhi dengan bersembahyang di pura-pura. Sri Ugrasena Warmmadewa nama beliau sang Prabu, bijaksana dan termasyur di dunia beliau memerintah, aman sentosa pulau Bali.

3. Bali 837 Ç sd 964 Ç / 915M sd 942M. Kerajaan Singadwala Kahuripan. Sri Ugrasena Warmadewa. Wangsa Warmadewa.

SRI UGRASENA WARMADEWA

Setelah wafatnya Raja Kesari Warmadewa pada tahun Çaka 837/915 maka Putra beliau Sri Ugrasena Warmadewa menggantikan kedudukan sebagai Raja di Bali. Beliau terkenal akan kebijaksanaannya dan kewibawaanya sehingga menjadikan Pulau Bali aman dan sentosa.

Para pendeta Siwa Budha dan Rsi, Empu, para agamawan datang dari pulau Jawa dan Hindu (India) semuanya bersama memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi dengan para dewa, tapi pemujaan disesuaikan dengan desa kala patra.

Itu yang menyebabkan tepat disebut Bhinneka Tunggal Ika. Kerajaan berpusat di Singhamandawa didaerah sekitar Batur.

Selama masa pemerintahannya, Ugrasena membuat beberapa kebijakan, yaitu pembebasan beberapa desa dari pajak sekitar tahun 837 Çaka atau 915 Masehi.

Desa-desa tersebut kemudian dijadikan sumber penghasilan kayu kerajaan di bawah pengawasan hulu kayu (kepala kehutanan). Pada sekitar tahun 855 Çaka atau 933 Masehi, dibangun juga tempat-tempat suci dan pesanggrahan bagi peziarah dan perantau yang kemalaman.

Raja Ugrasena mengeluarkan prasasti-prasastinya tahun 837-864 Çaka (915-942 Masehi). Masa pemerintahan raja ini hampir sezaman dengan masa pemerintahan Pu Sindok di Jawa Timur. Ada sebelas prasasti, semuanya berbahasa Bali Kuno, dikeluarkan oleh raja Ugrasena, yakni

1. Prasasti-prasasti Banjar Kayang (837 Çaka),
2. Prasasti Les,
3. Pura Bale Agung (837 Çaka),
4. Babahan I (839 Çaka),
5. Sembiran AI (844 Çaka),
6. Pengotan AI (846 Çaka),
7. Batunya AI (855 Çaka),
8. Dausa,
9. Pura Bukit Indrakila AI (857 Çaka),
10. Serai AI (858 Çaka), Dausa,
11. Pura Bukit Indrakila BI (864 Çaka),
12. Prasasti Tamblingan Pura Endek I (-), dan Gobleg,
13. Pura Batur A.

Berdasarkan prasasti-prasasti itu dapat diketahui sejumlah kebijakan penting dilakukan oleh raja Ugrasena. Beberapa di antaranya keringanan dalam pembayaran pajak yang diberikan kepada desa Sadungan dan Julah, karena desa itu belum pulih benar dari kerusakan akibat diserang perampok.

Dengan alasan sama, bahkan desa Kundungan dan Silihan dibebaskan dari kewajiban bergotong royong untuk raja. Selain itu, raja juga berkenan menyelesaikan perselisihan antara para wajib pajak di wilayah perburuan dengan pegawai pemungut pajak, yakni dengan menetapkan kembali secara jelas jenis dan besar pajak yang mesti dibayar oleh penduduk.

Berkaitan erat dengan aspek kehidupan beragama, Raja Ugrasena memberikan izin kepada penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api yang terletak di desanya masing-masing.

Keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa ”sekte Waisnawa”, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni, juga mendapat perhatian raja. Prasasti Gobleg, Pura Batur A yang memuat hal itu teksnya tidak lengkap sehingga rincian ketetapan mengenai sekte tersebut tidak sepenuhnya dapat diketahui.

Dapat ditambahkan bahwa pada tahun 839 Çaka (917M), sebagaimana tercatat dalam prasasti Babahan I yang tersimpan di desa Babahan (Tabanan), raja Ugrasena mengadakan perjalanan ke Buwunan (sekarang Bubunan) dan ke Songan.

Dalam kunjungan itu, raja memberikan izin kepada kakek (pitamaha), di Buwunan dan di Songan melaksanakan upacara bagi orang yang mati secara tidak wajar, jika saatnya telah tiba. Baginda juga menetapkan batas-batas wilayah pertapaan yang terletak di bagian puncak bukit Pttung.

Akhir Masa Pemerintahan

Sesudah beberapa lama Sri Aji Ugrasena bertahta di istana kerajaan akhirnya beliau wafat kembali kealam Sunya, pada tahun Çaka 864/942 Masehi beliau dicandikan di Ermadatu. Beliau dikenal dengan sebutan sang ratu siddha dewata sang lumah di air madatu. Epitet ini terbaca dalam prasasti Raja Tabanendra Warmadewa yang ditemukan di desa Kintamani.

Swasti Astu

matur suksma,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: