JAGAD BALI

WAOSAN KA-9

TAJEN

On 25 Februari 2012 at 05:23 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Swasti Astu
||Rahajêng sêmêngan||

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

yo’himsakaani bhuutaani hinas.
tyaatmasukheaschayaa.
sa jiwamsca mritascaiva na.
kvacitsukhamedhate.

(Manawa Dharmasastra V.45)

TAJEN ANTARA TRADISI DAN JUDI
TAJEN dan TABUH RAH

Sejak Jaman dulu sampai sekarang, Tajen di Bali sering digelar, demikian juga halnya dengan Tabuh Rah .

Tajen, yang berasal dari kata taji yang artinya benda tajam dan telah berkembang cukup mengakar di dalam kehidupan masyarakat Bali, dalam bentuk seni pertarungan ayam.
Acara tajen di Bali sudah ada sejak lama.

Tajen, dalam masyarakat Hindu Bali, pada awalnya merupakan bagian dari acara ritual keagamaan Tabuh Rah atau prang satha.

Menurut sejarah, tajen dianggap sebagai sebuah proyeksi profan dari salah satu upacara yadnya di Bali yang bernama Tabuh Rah. Dalam Rontal Siwa Tattwa Purana maupun dalam Rontal Yadnya Prakerti dinyatakan upacara Tabuh Rah merupakan sebuah upacara suci yang dilangsungkan sebagai kelengkapan saat upacara Macaru atau Bhuta Yadnya yang dilakukan pada saat tilem.

Tradisi Tabuh Rah sebagai taburan darah binatang korban yang diselenggarakan dalam rangkaian upacara Butha Yadnya, yaitu upacara suci yang ditujukan untuk menyelaraskan unsur-unsur alam dengan kehidupan manusia.

Tabuh Rah tak ubahnya sebuah upacara mengorbankan ternak seperti ayam, kerbau, atau hewan peliharaan lain. Syarat mutlak harus ada darah yang menetes, yang bermaksud menyucikan umat manusia dari ketamakan dan keserakahan sifat-sifat kebinatangan, keserakahan terhadap nilai-nilai materialistis dan duniawi.

Darah yang menetes ke tanah dianggap sebagai yadnya yang dipersembahkan kepada bhuta, lalu pada akhirnya binatang yang dijadikan yadnya tersebut dipercaya akan naik tingkat pada reinkarnasi selanjutnya untuk menjadi binatang lain dengan derajat lebih tinggi atau manusia.

Upacara yang bisa dilaksanakan Tabuh Rah juga tidak semua upacara. Hanya upacara-upacara pecaruan yang layak dan pantas dibarengi dengan Tabuh Rah. Upacara yang boleh disertai Tabuh Rah adalah Caru Panca Kelud, Caru Rsi Gana, Caru Balik Sumpah, Tawur Agung, Tawur Labuh Gentuh, Tawur Panca Wali Krama dan Tawur Eka Dasa Rudra.

Mengenai tempat dilakukannya Tabuh Rah adalah di tempat upacara. Yang melakukannya sang yajamana atau mereka yang menggelar upacara bersangkutan. Pakaian yang melakukan Tabuh Rah diwajibkan menggunakan pakaian adat. Demikian juga dengan jenis-jenis binatang yang digunakan untuk Tabuh Rah, yang berarti Tabuh Rah tidak mesti menggunakan ayam.

Jenis-jenis binatang yang dijadikan korban adalah ayam, itik, kerbau, dan lain-lainnya. Tabuh Rah tidak bisa diidentikkan dengan adu ayam jago. Pasalnya, pelaksanaan Tabuh Rah bisa dilakukan dengan penyamblehan atau bisa juga dengan menggelar prang satha.

Jadi ketika bicara Tabuh Rah tidak harus diwujudkan dengan mengadu ayam sampai salah satu mengeluarkan darah atau mati. Parisada menegaskan bahwa jalan penyamblehan bisa dilakukan sebagai bentuk Tabuh Rah.

Penyamblehan adalah cara mengeluarkan darah binatang yang kemudian ditaburkan (Tabuh Rah ) dengan jalan memotong leher binatang itu atau menikamnya dengan keris. Di zaman Majapahit cara ini diistilahkan dengan menetak gulu ayam.

Kalaupun ada sebuah desa pakraman yang mengharuskan Tabuh Rah dalam bentuk prang satha yang berarti ada ayam yang harus diadu, Parisada Pusat sebenarnya telah menyarankan diganti dengan penyamblehan. Jadi, tidak harus mengadu ayam jago.

Persembahan ini dilakukan dengan cara menyembelih bagian leher hewan tersebut. Sebelum upacara persembahan, dilakukan serangkaian upacara, antara lain prang satha yaitu pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, dan pemusnahan dunia. Masyarakat Bali percaya bahwa prang sata merupakan simbol perjuangan hidup.

Dalam Rontal Siwa Tattwa Purana maupun dalam Rontal Yadnya Prakerti dinyatakan upacara Tabuh Rah boleh dilangsungkan sebagai kelengkapan saat upacara Mecaru atau Bhuta Yadnya pada hari Tilem.

Dalam kehidupan upacara yadnya dalam agama Hindu memang ada proses menaburkan lima warna zat cair yang disebut matatabuhan atau matabuh.

Ada berwarna putih dengan tuak, berwarna kuning dengan arak, berwarna hitam dengan brem, berwarna merah dengan taburan darah binatang dan ada dengan warna brumbun dengan mencampur empat warna tersebut.

Matabuh darah binatang dengan warna merah inilah yang akhirnya melahirkan ‘budaya’ judi menyabung ayam yang bernama tajen. Namun yang membedakan Tabuh Rah dengan tajen adalah, dimana dalam tajen dua ayam jantan diadu oleh para bebotoh sampai mati, jarang sekali terjadi sapih.

Matabuh dengan lima zat cair adalah simbol untuk mengingatkan agar umat manusia menjaga keseimbangan lima zat cair yang berada dalam Bhuwana Alit. Kalau lima zat cair itu berfungsi dengan baik maka orang pun akan hidup sehat dan bertenaga untuk modal mengabdi dalam hidupnya ini.

Lima zat cair yang disimbolkan adalah darah merah, darah putih, kelenjar perut yang berwarna kuning, kelenjar empedu warnanya hitam dan air itu sendiri simbol semua warna atau brumbun. Air itu bening berwarna netral. Perpaduan fungsi lima zat cair dalam tubuh inilah yang akan membuat hidup sehat.

Dalam perkembangannya upacara ritual suci Tabuh Rah yang bersifat sakral mengalami pergeseran makna. Seni pertarungan ayam yang seru dan mengasyikkan kemudian sering dijadikan ajang perjudian.

Tajen pada akhirnya diidentikan sebagai judi yang mengadu nasib, untung-untungan, dan di mana-mana tetap akan digelar oleh pihak-pihak teterntu dengan mengatasnamakan upacara keagamaan.

Tidak kurang pihak yang berwenang, tokoh-tokoh agama dan adat berjuang berusaha meyakinan masyarakat, agar tajen ditiadakan. Namun usaha ini nampaknya belum memberikan hasil yang maksimal, bahkan akhir-akhir ini sring dijadikan sebagai alasan untuk menarik wisatawan.

Sabung ayam dalam rangka upacara Tabuh Rah diperbolehkan, namun bukan untuk berjudi. Jumlah ayam yang boleh disabung pun dibatasi tiga pasang ayam, demikian kutipan Prasasti Batur Abang A 933 Ç, dan Prasasti Batuan 944 Ç atau 1022 M

Berikut kutipan lengkapnya:

a. Prasasti Batur Abang A 933 Ç atau 1011 M:

Mwang yan pakarya, masanga kunang wgila ya manawunga makantang tlung parahatan ithaninya tan pamwita, tan pawwta ring nayaka saksi.

Lagi pula mengadakan upacara-upacara misalnya tawur kesange, patutlah mengadakan sabungan ayam, tiga parahatan (‘angkatan’) di desanya, tidaklah minta ijin, tidaklah memberitahukan kepada Pemerintah.

b. Prasasti Batuan 944 Ç atau 1022 M:

Kunang yang manawung ing pangudwan makatang tlung marahatan tan pamwinta mayaka sanksi mwang sawung tangur, tan knana minta pamli.

Adapun bila mengadu ayam ditempat suci dilakukan tiga parahatan tidak minta ijin kepada Pemerintah dan juga kepada Pengawas sabungan, tidak dikenakan pajak.

c. Dalam rontal Ciwa Tatwa Purana:

Mwah ri tileming kesanga, hulun magawe yoga, teka wenang wang ing madhya magawe tawur kasowang an den hana pranging sata wenang nyepi sadina ika labian sang kala daca bumi, yanora samangkana rug ikang ing madya.

Lagi pada tilem kesange aku (Çiwa) mengadakan yoga, berkewajibanlah manusia di bumi ini membuat persembahan masing-masing, lalu adakan pranging sata dan nyepi sehari, ketika itu berhidangan sang kala daca bumi, jika tidak (dilakukan) maka rusaklah manusia di bumi.

Jika ditinjau dari rontal tersebut di atas, jelas adanya korban darah yang dipergunakan dalam upacara agama, mengapa mempergunakan darah sebagai korban kepada bhuta (Bhuta Yadnya), darah dianggap suatu zat yang mengadung kekuatan magis, memberikan kekuatan secara spiritual.

Hal ini dapat kita tinjau dari pemelaspas bangunan, pada waktu melaspas diberikan pengurip urip yang dipoles tiang-tiang, tembok-tembok dengan darah yang mempunyai makna agar bangunan tersebut mempunyai kekuatan spiritual, sehingga rumah tersebut memberikan suasana yang baik, darah berfungsi penting dalam melaksanakan kurban kepada bhuta kala, dan setiap bentuk bhuta yadnya mempergunakan darah.

Pada hakekatnya Tabuh Rah diperuntukan kepada bhuta bhucari, kala bhcari dan Durga bhucari, dan tidak dipergunakan kepada pitra dan dewa.

Tabuh Rah dan tajen jelas jauh berbeda, sudah dengan jelas dan tegas disebutkan apa yang disebutkan dengan Tabuh Rah. Jadi, tidak ada tajen yang bisa dikatakan Tabuh Rah dan tidak ada Tabuh Rah yang bisa dikatakan tajen.

Ini berarti bahwa sesungguhnya tajen sama sekali tidak bisa berlindung di balik Tabuh Rah. Antara keduanya sangat mudah dibedakan. Apa sesungguhnya Tabuh Rah itu? Bagaimana kemudian bisa berkembang menjadi tajen?

Kalaupun memang harus menggelar prang sata, ketentuan sebagai sebuah Tabuh Rah harus tetap diikuti. Sudah ada uger-uger yang sekaligus menjadikannya mudah dibedakan dengan aktivitas lainnya.

Uger-uger tersebut, pertama, jumlah ayam yang diadu tidak boleh lebih dari tiga parahatan (telung saet). Bilangan tiga ini mengandung makna arti magis yakni sebagai lambang dari permulaan tengah dan akhir. Hakikatnya sebagai simbol daripada perjuangan (Galungan) antara dharma dengan adharma.

Kedua, pada waktu prang sata disertakan toh dedamping berupa uang kepeng yang maknanya sebagai pernyataan atau perwujudan dari keikhlasan sang yajamana beryadnya, dan bukan bermotif judi.

Ketiga, pelaksanaan dilakukan di tempat upacara pada saat mengakhiri upacara itu dan diiringi dengan adu tingkih, adu pangi, adu taluh, adu kelapa, andel-andel serta upakaranya. Kalau kemudian ada aduan ayam yang tidak memenuhi ketentuan tersebut di atas, tidak bisa disebut prang sata dan bukan pula runtutan upacara yadnya.

Dalam perkembangannya, Tabuh Rah dalam bentuk prang sata ternyata mengalami pembiasaan. Pembiasaan tersebut berkembang menjadi tajen. Ketertarikan akan pertarungan ayam, membuat orang-orang Bali berkreativitas dengan menambahkan ngaad (sembilu) — benda tajam dari bambu — pada kaki kiri ayam yang diadu.

Berikutnya ketertarikan melahirkan keinginan untuk mempertaruhkan keberuntungan karena di antara dua ayam yang diadu menyimpan misteri mana yang menang dan mana yang kalah.

Di sinilah kemudian masuk unsur judinya karena mulai menggunakan uang sebagai taruhan. Seiring dengan berubahnya ngad menjadi taji, akhirnya Tabuh Rah pun berubah menjadi aktivitas baru yang lebih dikenal dengan nama tajen.

Perbedaan antara Judi Tajen dan Tabuh Rah

Judi Tajen yang digelar kelompok masyarakat tertentu yang ada di Bali secara hukum telah melanggar Undang-undang, baik Undang-undang keagamaan, maupun Undang-undang kenegaraan, walaupun pihak berwajibi telah berupaya semaksimal untuk membubarkan baik secara persuasif maupun represif, nyatanya tajen masih tetap masih digelar, kalau tajen dihentikan harus tumbuh dari seluruh lapisan masyarakat itu sendiri.

Negara/Pemerintah saja tentu tidak akan mampu untuk menghentikannya, karena tajen itu sudah kebiasaan mereka dan kebiasaan menurut hukum sulit diubah, atau membutuhkan waktu yang sangat lama dan harus tetap berkesinambungan dilakukan oleh semua tokoh tokoh masyarakat maupun masyarakat itu sendiri dan instansi pemerintah yang terkait.

Pertarungan ayam dengan maksud mendapatkan kesenangan (judi tajen), adalah penyiksaan dan atau pembunuhan, dan ini adalah dosa. Jelas dilarang oleh agama, maka dari itu setiap umat harus sadar larangan agama tersebut dan punya kewajiban untuk melaksanakannya.

Kitab Manawa Dharmasastra pupuh V.45 menyatakan hal itu, sebagaimana saya kutip di awal tulisan ini.

Ia yang menyiksa makhluk hidup yang tidak berbahaya dengan maksud untuk mendapatkan kepuasan nafsu untuk diri sendiri, orang itu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Ia selalu berada dalam keadaan tidak hidup dan tidak pula mati.
Penyiksaan dan pembunuhan yang dilakukan hanya untuk kesenangan adalah dosa. Orang yang melakukan hal itu tidak akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia ini maupun di masa kelahiran berikutnya.

Swasti Astu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: