JAGAD BALI

WAOSAN KA-1

On 25 Desember 2011 at 09:57 cantrik bayuaji said: |

Nuwun
||Sugeng énjang andungkap siyang||

Katur: Ki Arief “Kompor” Sudjana al Sandikala, såhå sanak kadang

PURA BESAKIH

Nampaknya “perjalanan” Mahisa Amping sampai juga di Balidwipa (SFBDBS-08). Pas dan cocok sebagai seorang penjelajah Nusantara, setelah melanglang Bumi Swarnadwipa, ketemu trah Hang di Tanah Melayu, kemudian menyusur ke arah Timur. Brantas, Bandar Cangu, Churabaya, lewat Hujung Galuh?, Pelabuhan Yau Toung? atau Pelabuhan Jedung?.

Juga lewat Selat Madurakah ?? Ada dongeng yang berkaitan yang sezaman di akhir Singasari dan awal Majapahit tentang Madura ini. Madu Årå — pojok di ara-ara — artinya pojok menuju ke arah yang luas. Diceritakan bahwa sebab inilah Pulau ini bernama Madura.

Ada juga yang mengatakan bahwa nama Madura itu dari perkataan Lêmah Dhurå artinya tanah yang tidak sesungguhnya yaitu apabila air laut pasang tanahnya tidak kelihatan, apabila air laut surut maka tanah akan kelihatan.

Adapun Pura Besakih terletak di Barat Daya Gunung Agung, desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Kira-kira 90 km arah Timur Laut kota Denpasar.

Di ketinggian 1000 m dari permukaan air laut, dengan 298 buah bangunan dalam 18 buah komplek pura, merupakan pura terbesar di Bali, bahkan di Indonesia. Terhampar di kaki Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali yang tingginya mencapai 3142 m.

Kata “Besakih” berasal dari kata “Basuki” yang berarti ‘selamat’ berkembang menjadi Basukir dan Basukih, kemudian menjadi Besakih, hingga kini.

Nama tersebut terdapat dalam dua prasasti yang disimpan di Gedong Penyimpenan di Natar Agung, sebuah prasasti di Merajan Selonding dan sebuah lagi di Pura Gaduh Sakti di desa Selat.

Sejarah Pura Besakih berhubungan dengan perjalanan Sri Markandeya (seorang Brahmana Siwa) dari Gunung Raung, daerah Basuki (Besuki sekarang, Jawa Timur).

Rombongan beliau terpaksa kembali ke Jawa karena banyak yang meninggal terserang penyakit. Setelah mendapat petunjuk di Gunung Raung, beliau kembali ke Bali dan mengadakan penanaman Panca Datu (lima jenis logam yaitu emas, perak, besi, tembaga dan permata) di lereng Gunung Agung yang kemudian dikenal dengan Pura Basukian.

Pada zaman dahulu, Pura Besakih langsung ditangani oleh penguasa daerah Bali. Disebutkan Sri Wira Dalem Kesari yang membuat Merajan Selonding (sekitar tahun 250 M), kemungkinan beliau adalah Raja Kesari Warmadewa yang memerintah sekitar tahun 917. Prasastinya terdapat di Malet Gede, di Pura Puseh Panempahan dan di Belanjong.

Pada zaman pemerintahan Sri Udayana Warmadewa, pura ini mendapat perhatian besar, seperti terdapat dalam prasasti Bradah, dan prasasti Gaduh Sakti. Dalam lontar Jaya Kesunu disebutkan Raja Sri Jayakesunu memerintahkan memasang penjor pada Hari Raya Galungan sebagai lambang Gunung Agung.

Pada zaman Sri Aji Kresna Kepakisan, seperti terdapat dalam lontar raja Purana Besakih tentang upacara, nama pelinggih, tanah pelaba (wakaf), susunan pengurus, tingkatan upacara diatur dengan baik.

Sri Aji Kresna Kepakisan adalah raja Bali yang memerintah pulau itu di bawah kedaulatan Imperium Majapahit (1293-c. 1527). Dia telah memerintah pada pertengahan abad ke-14, dan menjadi nenek moyang raja-raja Bali selanjutnya.

Menurut sumber dekat-kontemporer, pujasastra Nagarakretagama, Bali ditundukkan oleh pasukan Majapahit pada tahun 1343.

“Pakis” berarti Paku. Gelar Kepakisan diberikan kepada Brahmana yang ditugasi sebagai Raja (Dalem) atau Kesatria. Gelar Kepakisan yang diberikan kepada Kesatria adalah: Sira-Arya Kepakisan. Beliau adalah keturunan Sri Jayasabha, berasal dari keturunan Maha Raja Airlangga, Raja Kahuripan (Jawa).

Gelar “Pakis” dipakai oleh raja-raja Jawa dan dijawakan menjadi “Paku”. Pertama kali digunakan oleh Susuhunan Kartasura: Paku Buwono I pada tahun 1706 M.

Fungsi umum Pura Besakih adalah sebagai tempat bagi umat Hindu untuk memohon keselamatan (sesuai dengan nama pura). Pada waktu Bhatara Turun Kabeh yang jatuh pada setiap Bulan Purnama sasih kedasa (bulan Oktober) setiap tahunnya, seluruh umat Hindu datang berduyun-duyun untuk menyampaikan sujud baktinya pada Tuhan.

Di pura ini juga diadakan upacara Panca Wali Krama setiap 10 tahun sekali, dan yang terbesar adalah upacara Eka Dasa Ludra setiap 100 tahun sekali. Upacara Eka Dasa Ludra terakhir dilaksanakan tahun 1973.

Banyak Dongeng Arkeologi & Antropologi tentang Bali yang belum sempat didongengkan. Ini juga merupakan tantangan bagi saya untuk memulai menulis tentang Balidwipa.

Mungkin setelah Dongeng Arkeologi & Antropologi Mataram Danang Sutawijaya, de Regering van Panêmbahan Sénåpati Ingalågå.

Terus dilanjut tulisannya Ki.

Boleh juga “jalan-jalan” ke Bhumi Para Karaeng, yang disebut oleh Empu Prapanca pada Abad ke-14 dalam Negarakretagama:

Ikang sakasanusanusa makasar butun banggawi, kunir ggaliyao mwang i salaya sumba solot muar (Tersebut pula pulau-pulau Makasar, Buton, Banggawi, Kunir, Galian serta Salayar, Sumba, Solot, Muar).

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: