JAGAD BALI

WAOSAN KE-2

On 26 Desember 2011 at 23:20 cantrik bayuaji said: |

Nuwun
||Sugêng dalu||

BANJAR = PADUKUHAN ?

Mengikuti Mahisa Amping di Balidwipa, saya teringat ketika beberapa lama bermukim di Bumi Para Dewata itu.

Ada lingkungan kelompok masyarakat pada tingkat terkecil di dalam pergaulan sosial masyarakat Bali yang sangat unik, yaitu Banjar.

Banjar merupakan organisasi kemasyarakatan masyarakat tradisional Bali. Organisasi ini seperti sistem RT/RW pada masyarakat Indonesia modern. Sudah ada sejak jaman dahulu kala dan mulanya dikenal dengan nama subak.

Awalnya subak itu merupakan organisasi yang hanya mengatur masalah-masalah di sawah, khususnya tentang tata pengairan. berhubung masyarakat Bali saat itu sebagian besar mata pencahariannya bertani.

Dalam subak ini diatur masalah pengairan, sehingga tidak ada masalah rebutan sumber air. Juga masalah lain yang berkaitan dengan pertanian seperti misalnya penanggulangan hama, pengadaan upacara di pura subak, membantu anggota yang sawahnya panen dan sebagainya.

Jenis Banjar

Banjar, dengan berkembangnya jaman juga mulai berubah, tepatnya bertambah fungsi. Kalau dahulu hanya untuk kepentingan di sawah, namun sekarang banjar juga mengurus masalah administrasi pemerintahan.

Menurut bidang geraknya banjar dapat dibagai empat bagian, namun kita akan bahas dua bagian aja, mengingat dua jenis banjar laennya agak mirip dalam fungsi:

Banjar Dinas, ketuanya disebut Kelian Dinas, fungsinya lebih ke urusan adminsistrasi pemerintahan. Kalau masa sekarang adalah urusan administrasi kependudukan seperti membuat KTP, Kartu Keluarga. Kartu Keterangan Kleahiran/Kematian.

Banjar Adat, ketuanya disebut Kelian Adat. Kegiatan yang dilakukan adalah urusan sosial seperti saat ada kematian, upacara perkawinan krama banjar serta upacara-upacara keagamaan.

Kelian adat dan kelian dinas suatu banjar tidak selalu orang yang sama. Namun, walaupun misalnya punya dua orang kelian, dalam setiap sangkep (musyawarah, pertemuan) apapun, kedua kelian ini biasanya diwajibkan hadir.

Berbeda dengan sistem RT/RW yang memakai angka (misalnya RT 001 RW 011), sistem banjar dibedakan atas namanya. contoh: Banjar Pemedilan, Banjar Kerandan dan banyak lagi. Umumnya nama banjar itu sangat khas Bali.

Jumlah banjar di tiap kelurahan juga sangat beragam. Umunya sekitar 5 sampai ratusan banjar, tergantung dari seberapa luas wilayah kelurahan tersebut.

Prinsip Banjar

Peranan banjar sangat penting. Sebab inilah organisasi dimana rasa kekeluargaannya sangat tinggi.. Prinsip utamanya adalah saling memberi dan menerima.

Bila dalam setiap kegiatan banjar seperti gotong-royong, upacara kematian, perkawinan dan sebagainya, seorang krama banjar sering tidak hadir dengan alasan yang tidak jelas (seperti sibuk kerja), maka apabila nanti orang itu mempunyai kegiatan/upacara, jangan harap ada anggota banjar yang akan hadir dirumahnya untuk membantu.

Biarpun misalnya ada seorang krama banjar tidak pernah ikut dalam kegiatan banjar itu meninggal, maka yang lain biasanya tetap datang ke rumahnya dan melakukan segala sesuatu yang diperlukan, walaupun dengan paksa rela.

Sebab dalam pandangan banjar lain adalah memalukan jika sampai saat terakhir tetap tidak memberi maaf dan berharap keluarganya yang tersisa akan kembali aktif dalam kegiatan banjar.
Satu keluarga tidak harus mengikutkan seluruh anggota
keluarganya dalam setiap kegiatan banjar.

Misalkan jika seorang bapak berhalangan hadir, dapat diwakilkan oleh istri atau anaknya. Kecuali jika kegiatan itu melibatkan kegiatan yang ditentukan oleh jenis kelamin, seperti memotong bambu buat upacara tertentu, maka harus diwakili anak lelakinya, demikian dan seterusnya.

Sebagai seorang pendatang, saya sangat senang dan menghormati tata cara adat istiadat yang diatur dan ditentukan oleh Banjar.

Dalam hal keyakinan dan agama, Saya merasa terlindung dan terjaga. Sebagai pendatang, tidak ada sesuatu hal yang perlu dikuatirkan.

Saya tidak pernah mengalami hambatan dalam ibadah harian saya. Ada masjid di tempat saya tinggal, dan semua berlangsung dengan damai, saling hormat menghormati.

Suatu perwujudan Bhinneka Tunggal Ika dalam lingkungan kecil yang nyata.

Amat disayangkan, setelah bermukim kurang lebih beberpa tahun di Bali, saya harus kembali ke Tanah Leluhur Jawadwipa. Kenangan Balidwipa yang indah dan ramah.

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: