JAGAD BALI

WAOSAN KE-3

On 28 Desember 2011 at 17:31 cantrik bayuaji said: 

Nuwun
||Sugêng sontên andungkap surup||

BUDA CEMENG KLAWU
[Rabu Wagé Klawu]

Upacara Buda Cemeng Klawu [Rabu Wagé Klawu], oleh masyarakat Bali sering disebut “Otonan Pis“,

Apa itu Rabu Wagé Klawu?

Sumånggå Sanak Kadang.
Sejenak kita mengenal sebutan hari-hari dalam tradisi masyarakat Bali (beberapa tempat di Pulau Jawa, ada juga sebagian masyarakat Jawa yang masih menggunakan).

I. Hari, Dina

Hari-hari dalam kalender kita kenal adalah tujuh hari, sebagai berikut: Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu.
Siklus tujuh harian ini dalam kalender Bali disebut Saptawara, yaitu:

1. Redite, Radite (Minggu; Jw: Akad), raditya = matahari = Sun day.

2. Soma (Senin; Jw: Sênèn), candra = bulan = Moon day.

3. Anggara (Sêlåså), mars = planet mars = Tues day (Prancis Mar di).

4. Buda (Rabu, Jw: Rêbo), merkurius = planet merkurius = Wednes (?) day (Prancis Mercre di).

5. Wrespati, Wrahaspati, Respati (Kamis, Jw: Kêmis), yupiter = planet yupiter = Thurs day.

6. Sukra (Jumat; Jw: Jêmuwah), venus = planet venus = fri day (Prancis vendre di).

7. Saniscara (Sabtu, Jw: Tumpak, Sêtu). saturnus = planet saturnus = satur day

Konon nama dan sifat-sifatnya diambil dari nama benda-benda langit.

II. Pasaran

Hari Pasaran (Dina Pasaran atau Pancawara). Hari Pasaran adalah siklus lima harian sebagai berikut:

Lêgi = Manis = Pethak(an)
Paing = Abrit(an)
Pon = Jené(an)
Wagé = Cemeng(an),
Kliwon = Kasih.

Pancawara sangat penting baik di Bali maupun di Jawa, kedua terpenting setelah Saptawara. Berkombinasi dengan saptawara menghasilkan 35 hari weton, yaitu siklus satu bulan Bali (abulan paweton = satu bulan) atau satu bulan Jawa (sêsasi= satu sasi) yang sering dipakai untuk menandai hari kelahiran.

Di Bali dikombinasikan lagi dengan wuku menghasilkan oton, dalam siklus 210 hari.

Di Jawa, Umanis disebut Lêgi yang artinya sama (manis), sedangkan yang lain serupa. Pancawara di Jawa disebut dina pasaran, karena itu di beberapa kota di Jawa ada pasar-pasar yang diberi nama Pasar Lêgi, Pasar Kliwon, Pasar Pon dan sebagainya sesuai dengan hari pasaran yang teramai.

III. Wuku

Wuku adalah nama sebuah siklus waktu yang berlangsung selama 30 pekan. Satu pekan atau minggu terdiri dari tujuh hari sehingga satu siklus wuku terdiri dari 210 hari.

Nama-nama wuku yang tiga puluh didasarkan pada suatu kisah mengenai suatu kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Watugunung. Raja ini beristri Sinta dan memiliki 28 putra. Nama-nama semua tokoh inilah yang menjadi nama-nama setiap wuku. Setiap wuku menurut kepercayaan di Bali dan Jawa dilindungi oleh seorang pelindung.
1. Sinta – Batara Yama.
2. Landep – Batara Mahadewa.
3. Wukir, Ukir – Batara Mahayakti.
4. Kurantil, Kulantir – Batara Langsur.
5. Tolu, Tulu – Batara Bayu.
6. Gumbreg – Batara Candra.
7. Wariga alit, Wariga – Batara Asmara.
8. Wariga agung, Warigadian – Batara Maharesi.
9. Julangwangi, Julungwangi – Batara Sambu.
10. Sungsang – Batara Gana Ganesa.
11. Galungan, Dungulan – Batara Kamajaya.
12. Kuningan – Batara Indra.
13. Langkir – Batara Kala.
14. Mandasiya, Medangsia – Batara Brahma.
15. Julung pujut, Pujut – Batara Guritna.
16. Pahang – Batara Tantra.
17. Kuru welut, Krulut – Batara Wisnu.
18. Marakeh, Merakih – Batara Suranggana.
19. Tambir – Batara Siwa.
20. Medangkungan – Batara Basuki.
21. Maktal – Batara Sakri.
22. Wuye, Uye – Batara Kuwera.
23. Manahil, Menail – Batara Citragotra.
24. Prangbakat – Batara Bisma.
25. Bala – Batari Durga.
26. Wugu. Ugu – Batara Singajanma.
27. Wayang – Batari Sri.
28. Klawu, Kelawu – Batari Sadana.
29. Dukut – Batara Sakri.
30. Watu gunung – Batara Antaboga.

Upacara Buda Cemeng Klawu

Rabu Wage wuku Klawu dalam Kalender Bali, untuk tahun 2011 adalah tangal 6 April 2011 dan tanggal 2 November 2011, sedangkan untuk tahun 2012 adalah tanggal 30 Mei 2012 dan 26 Desember 2012. Siklus ini selalu berulang setiap 210 hari.

Upacara Buda Cemeng Klawu atau disebut juga Buda Wage Klawu adalah upacara pemujaan dan permohonan doa agar mendapat rezeki atau dibukakan pintu rezeki, upacara ini juga sebagai ungkapan terima kasih karena telah diberikan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada manusia dan umat Hindu khususnya.

Dewa yang disembah adalah Ida Betari Rambut Sedana atau dikenal juga sebagai Dewi Laksmi, Ida Betari Rambut Sedana dipuja sebagai “Dewi Kesejahteraan” yang menganugerahkan harta kekayaan, emas-perak (sarwa mule), permata dan uang (dana) kepada manusia, melalui manifestasinya Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).

Dalam perkembangannya, upacara Buda Cemeng Klawu ini lebih dikhususkan dalam perwujudan sebagai bentuk simbol uang. Tepatlah jika Buda Cemeng Klawu disebut juga Otonan Pis (Pis = Uang).

Menurut adat istiadat umat Hindu di Bali meyakini Ida Betari Rambut Sedana/Dewi Laksmi sedang melaksnakan yoga dan dipercaya juga pada hari ini tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar utang atau menabung, karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia.

Kegiatan peringatan “Sri Sedana” yang lazim disebut “Rambut Sedana” merupakan hari raya atau odalan bagi uang maupun nafkah yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Mahaesa kepada umat manusia.

Dilihat dari arti katanya yaitu “Sri” artinya beras, dan “Sedana” artinya uang atau dengan kata lain bagian dari nafkah, maka perayaannya dilakukan di lingkungan rumah tangga dan juga pura di lingkungan desa adat.

Bahkan di Pura Besakih yang merupakan pura terbesar di Bali, juga terdapat Pura Rambut Sedana yang merupakan hulu dari Pelinggih Rambut Sedana atau sering disebut Sri Sedana yang ada di merajan keluarga di Bali.

Setiap pasar di Bali juga mempunyai pelinggih atau pura Bhatari Melanting yang dihormati sebagai ‘Dewi Perekonomian’ dan setiap hari Buda Cemeng Klawu akan dilakukan peringatan untuk mengucapkan rasa syukur atas rejeki yang diperoleh yang ditujukan kepada Bhatara Rambut Sedana.

Dalam memperingati Buda Cemeng Klawu, umat Hindu di Bali dingingatkan kembali akan keberadaan artha yang ada dalam Catur Purusaartha, Artha, Kama, Dharma danMoksa.

Pengertian Artha disini tidak dalam sebatas kekayaan saja, namun juga mengandung arti dan tujuan dalam bentuk kemakmuran materi.

Artha juga mencakup konsep dalam arti mencapai ketenaran, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang akan berhubungan dengan proses pencapaian dari saatu tujuan yaitu kebenaran.

Dalam cara pandang yang lain, Artha ditempatkan juga sebagai salah satu kewajiban seseorang dalam kehidupan untuk mengumpulkan harta benda sebanyak mungkin, namun dengan syarat jangan menjadi serakah, dan bertujuan untuk membantu dan menolong keluarga serta orang lain yang membutuhkannya.

Upacara Buda Cemeng Klawu ini dilakukan oleh seluruh umat Hindu di Bali, terutama mereka yang membuka usaha perdagangan (di pasar, pemilik warung, jasa keuangan, bengkel, dsbnya). Lazim pada setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang, diberikan sesajen khusus untuk menghormati Ida Betari Sri Sedana atau Dewi Laksmi sebagai ujud ungkapan rasa terima kasih atas pemberianNya.

Menurut Kakawin Nitisastra IV.7 dinyatakan sebagai berikut:

Singgih yan tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara.

[Kalau zaman kali sudah datang tidak ada yang lebih bernilai daripada uang. Sudah tidak berguna lagi para ilmuwan, cerdik cendekia, pemberani, orang suci maupun orang yang kuat sekalipun, semuanya menjadi budaknya orang kaya.]

Dari sumber Susastra Hindu tersebut diatas dapat dipahami bahwa uang itu pada hakikatnya adalah sarana bukan tujuan hidup, jadi tergantung cara manusia menggunakan sarana tersebut.

Bila uang tersebut didapat dan digunakan sesuai berdasarkan konsep ketuhanan maka uang itu amat berguna mengantarkan manusia mendapatkan hidup bahagia lahir batin, namun sebaliknya jika uang tersebut dianggap sebagai tujuan yang dianggap paling bernilai, apalagi jika uang sudah dituhankan, maka uang itu akan dapat membawa kesengsaraan.

Pesan yang hendak disampaikan dalam Buda Cemeng Klawu adalah tempatkanlah uang itu sebagai alat untuk mewujudkan Dharma Kebenaran dan Kebaikan.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Babad Bali, Wisata Dewata, Yayasan Bali Galang, Yayasan Diah Tantri, Lembaga Babad Bali Agung, Bahan Perkuliahan Budaya Bangsa.

Nuwun

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: