JAGAD BALI

WAOSAN KA-5

On 20 Januari 2012 at 00:58 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Swasti Astu
||Rahajêng wêngi||

Malêm Jêmuwah Pôn Sukrå Jênêan Sêngårå, Kulawu; 24 Sapar 1945 – Wawu 04; 25 Safar 1433 (H) 06.

Awignam astu namas sidam [Mugi linupútnå ing rêridhu]

indriyanam jaye yogam
samatistheddivanisam.
jitendriyo hi saknoti.
vagesthapayitumprajah

(Manawa Dharmasastra, VII.44).

Atur Pambukå:
DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

Pårå sanak kadang sutrêsnå padépokanpelangisingosariingkang dahat kinurmatan.

Pårå murid kang nêmbé ngangsu kawruh kautaman gêsang dumateng pårå mursyid.

Katur Ki Arema
Katur Ki Arief ‘Sandikala’

Dalam kesempatan ini. Saya Cantrik Bayuaji, ingin membagi kawruh sejarah Jagad Bali kepada sanak kadang sutrêsnå padépokan “pelangisingosari”.

Wedaran Dongeng Arkeologi & Antropologi Jagad Bali di gandhok SFBdBS ini, semata-mata hanya hendak “mengikuti” Mahisa Amping di dalam melakukan “operasi sandhi-yudha” Kerajaan Singasari untuk menaklukkan Tanah Bali, sehubungan dengan muhibah perjalanan Mahesa Amping from Singasari telah sampai di Pulau Para Dewa itu.

Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana, meramu pakem sang fajar di bumi singasarinya besama para pahlawan-pahlawannya mengajak sanak kadang ikut berdarmawisata ke banjar-banjar, melihat upacara-upacara adat, dan hamparan pemandangan alam yang eksotik di Balidwipa.

Dalam pada itu Mahesa Amping telah menjelajah hampir ke seluruh sudut-sudut Nusantara tercinta ini, dari Singasari Jawadwipa, ke Daratan Swarnadwipa, kemudian ke Tanah Maluku Tanah Seribu Pulau, dan kini sampai ke Pulau Seribu Pura.

Tentunya membaca karya Ki Arief dengan Mahesa Ampingnya, dalam lakon sang fajar di bumi singasarinya sungguh-sungguh kita sampaikan salam hormat: “kamsiaaaaaaaaa……” (kedua telapak tangan dikepalkan dalam sikap menjura sambil badan dibungkukkan dalam-dalam).

Sembari menanti kelanjutan diwedarnya pakem SFBdBS anggitan Ki Arief ‘Sandikala’ Sudjana, maka saya mengajak sanak kadang menelisik latar belakang sejarah keterkaitan raja-raja Bali masa lalu dengan raja-raja Jawa, terutama era Kalingga, Mataram Lama Medhang Kamulan, Kadhiri, Singasari hingga Majapahit.

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya siapkan, yakni ketika menulis Dongeng Arkeologi & Antropologi Surya Majapahit, dan baru kali ini sempat diwedar.

Mahesa Amping, tokoh unhistory, adalah salah satu têlik-sandhi dari pasukan khusus sandhiyudha dalam jajaran ketentaraan Kerajaan Singasari, “mendapat perintah” Sinuwun Sri Maharaja Sri Lokawijaya Purusottama Wira Asta Basudewadhipa Aniwariwiryanindita Parakrama Murddhaja Namottunggadewa, yang selanjutnya sebagai raja Singasari yang berkedudukan di Kotaraja, Jawadwipa bergelar Śrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa Shri Jnyanabadreshwara, untuk mencari sisik-mêlik di Pulau Para Dewa itu.

Singasari menyerang Bali?.
Jawabnya: ya

Kerajaan Singasari pada jaman pemerintahan Prabu Kertanegara mencapai masa keemasannya. Diantara Raja-raja Singasari, Prabu Kertanagaralah yang pertama-tama melepaskan pandangan ke luar Jawa.

Prabu Kertanagara ingin mendobrak politik tradisional yang hanya berkisar pada Janggala-Panjalu-Kadhiri dan ingin mempunyai kerajaan yang lebih luas dan lebih besar daripada wilayah tersebut yang merupakan warisan dari Sri Prabu Airlangga.

Maha Prabu Kertanegara, raja Singasari di Nusantara pada abad ke-13 itu, yang dikenal sebagai pencetus ide cakrawala mandala nusantara, sebagai upaya untuk membendung kekuatan asing yang hendak menguasai Nusantara, dan bermaksud mempersatukan Nusantara di bawah duli Kemaharajaan Singasari, yang menjadi inspirasi bagi Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Gajah Mada dari Imperium Majapahit, dan menjadi latar belakang wilayah teritorial Negara Kesatuan Republik Indonesia sekarang ini.

Adalah Ekspedisi Pamalayu yang pertama, yang merupakan manifestasi gagasan cakrawala mandala raja Kertanagara, sebagai bumper atas hegemoni Kubilai Khan di Asia Tenggara.

Empu Prapanca dalam Rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama Pupuh XLI : 5 mengabarkan pengiriman tentara oleh Kertanagara untuk menaklukkan Melayu pada tahun 1197 Çaka atau tahun 1275 Masehi.

kathakena muwah narendra krtanagaranghilangaken katungka kujana
manama cayaraja sirnna rikana sakabda bhujagosasiksaya pejah
nagasyabhawa saka sang prabhu kumon dunoma rikanang tanah ri malayu
lewes mara bhayanya sangka rika dewamurti nira nguni kalaha nika

[Tersebut Sri Baginda Kertanagara membinasakan perusuh, penjahat,
Bernama Cayaraja, musnah pada tahun Çaka Bhujagosasiksaya (1192Ç),
Tahun Çaka Nagasyabhawa (1197Ç) Baginda menyuruh tundukkan Melayu,
Berharap Melayu takut kedewaan beliau, tunduk begitu saja]

Kemudian yang kedua adalah Ekspedisi Bali, wilayah timur Pulau Jawa yang berdekatan dengan kerajaan Singasari menjadi salah satu wilayah yang harus dikuasai untuk mewujudkan cita-cita mempersatukan Nusantara.

Oleh karena itu setelah Ekspedisi Pamalayu berhasil dengan gemilang maka ekspedisi ke Pulau Bali menjadi target berikutnya. Maka pada tahun 1206 Çaka dikirimlah sejumlah pasukan Singasari.

Pada pupuh XLII : 1 Nāgarakṛtāgama menyebutkan pengiriman tentara Singasari atas perintah Kertanagara untuk menaklukkan Bali. Ekspedisi kedua ini berhasil dan raja Bali ditahan sebagai tawanan perang.

sakabda yamasunyasuryya diwasa nrpati muwah amati durjjana
ikang mahisa rangkah atyaya katungka nika pinaleh ing sanagara
ring anggawiyatarkka saka sira motusan kana ri bali curnnitan
ndatandwa kawenang ratunya kahanang teka marek i narendra sakrama.

[Tahun Çaka yamasunyasuryya (1202Ç) Baginda raja memberantas penjahat,
Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara,
Tahun Çaka anggawiyatarkka (1206Ç) mengirim utusan menghancurkan Bali,
Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.]

Dalam kropak Jagad Bali disebutkan pendaratan pasukan Singasari terjadi pada tahun 1206 Çaka / 1284 Masehi di Pantai Timur Buleleng. Tepatnya di desa Kubutambahan, Ini ditandai dengan didirikan pura bernama Purâ Pule Kŗtanagara. dan satu pura lagi, yaitu Pura Kebo Edan.

Dinamai “kebo edan” karena diambil dari dua arca kerbau yang terdapat di sebelah kanan-kiri Arca Bhairawa yang berfungsi sebagai penjaga arca tersebut.

Arca ini melukiskan ajaran Bhairawa Bima Sakti, yakni pertemuan antara ajaran Bhairawa dan ajaran Siwa. Bhairawa Siva, Bhairawa yang tergolong aliran Tantrayana Prawrtti, karena cenderung mengikuti indria dalam usaha mencapai kebebasan atau kepuasan duniawi tanpa pengakuan indria, suatu keyakinan yang dianut oleh Sri Baginda Prabu Kertanegara, yang menyebar sampai ke Bali.

indriyanam jaye yogam
samatistheddivanisam.
jitendriyo hi saknoti.
vagesthapayitumprajah

(Manawa Dharmasastra, VII.44).

[Siang dan malam seorang pemimpin atau penguasa harus terus berusaha mengendalikan indrianya dengan sekuat tenaga. Kalau pemimpin berhasil menundukkan nafsu indrianya sendiri maka pemimpin itu akan dapat menjadikan rakyatnya taat pada kepemimpinannya.]

Setiap orang hendaknya mengamalkan ajaran agamanya ke dalam dirinya sendiri dan untuk bekal mengabdi pada sesama. Yang tertinggi ajaran dalam agama itu untuk dijadikan pegangan berbakti kepada Yang Maha Agung. Apalagi bagi seorang yang berkedudukan sebagai penguasa atau pemimpin.

Sebelum bertugas mengendalikan pemerintahannya seorang penguasa harus berusaha siang malam mengendalikan indrianya agar patuh pada arahan pikiran dan kesadaran budinya. Suatu ajaran yang patut menjadi pegangan hidup setiap pemimpin.

***

Dalam pada itu, siapa pemimpin pasukan pendaratan di Bali? Mahisa Amping?
Tentu bukan. Apa Prabu Kertanegara sendiri?

Lalu, siapa penguasa Bali pada waktu itu yang dibawa ke Singasari menghadap Sri Baginda Kertanegara sebagai tawanan.

Bagaimana sejarah membaca peristiwa ini?

Insya Allah. Cantrik Bayuaji akan memulai mendongeng:
Dongeng Arkeologi & Antropologi Jagad Bali
“mendampingi” Mahisa Amping dkk, menjelajah Pulau Bali.

Swasti Astu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: