JAGAD BALI

WAOSAN KA-6

On 21 Januari 2012 at 20:15 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Swasti Astu
||Rahajêng wêngi||

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

Waosan kaping I.Wedaran kaping-01
PARA PENGUASA BALI

– dari Wangsa Sanjaya (sekitar tahun 804Ç/882M) ke Wangsa Warmadewa (835Ç / 913M sd 1041Ç / 1119M), hingga Penyerbuan Kerajaan Singasari (1206 Ç / 1284M) –

I. Wangsa Sanjaya

1. Bali, sekitar tahun 804 Ç / 882 M.

Menelisik sejarah Kerajaan Bali Kuno, berdasarkan temuan bukti-bukti sejarah, bahwa kerajaan tertua di Bali yang tercatat dalam sejarah adalah Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang yang didirikan sekitar tahun 804 Ç / 882 M.

Kerajaan ini terletak di sekitar Batur. Keberadaannya dikukuhkan melalui 15 prasasti yang berangka tahun 804 M. Dalam prasasti itu disebutkan raja Singamandawa adalah Ugrasena dari Wangsa Sanjaya.

Sanjaya adalah raja dari sebuah kerajaan tua di Jawa Bagian Tengah yaitu Kerajaan Mataram Lama. Dalam Purana, Usana, Babad sering disebut dengan nama Kerajaan Keling. Raja Sanjaya adalah pendiri dinasti Sanjaya dengan gelar Sanjayawamsa.

II. Wangsa Warmadewa

2. Bali 835 Ç / 913 M sd 846 Ç / 924 M. Kerajaan Singadwala Kahuripan. Sri Kesariwarmadewa. Wangsa Warmadewa.

Setelah jatuhnya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang dari wangsa Sanjaya akibat peperangan dengan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan maka mulailah kekuasaan Wangsa Warmadewa di Pulau Bali.

Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa yang mendirikan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan lokasi Kerajaan di sekitar Besakih. Beliau merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai. yaitu sekitar 914 Masehi.

Ini diketahui dari sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Blanjong Sanur. Prasasti itu berangka tahun 836 Çaka yang menyebutkan nama rajanya “Khesari Warmadewa” memiliki istana yang ada di Singhadwala.

3. Bali 837 Ç sd 964 Ç / 915M sd 942M. Kerajaan Singadwala Kahuripan. Sri Ugrasena Warmadewa. Wangsa Warmadewa.

Setelah Raja Kesari Warmadewa wafat pada tahun Çaka 837 / 915 M, maka putra beliau Sri Ugrasena Warmadewa menggantikan kedudukan sebagai Raja di Bali.

Beliau terkenal akan kebijaksanaannya dan kewibawaanya sehingga menjadikan Pulau Bali aman dan sentosa.

Para pendeta Siwa Budha dan Rsi, Empu, para agamawan datang dari pulau Jawa dan Hindu (India) semuanya bersama memuja kebesaran Ida Sanghyang Widhi dengan para dewa, tapi pemujaan disesuaikan dengan desa kala patra.

Itu yang menyebabkan tepat disebut Bhinneka Tunggal Ika. Kerajaan berpusat di Singhamandawa didaerah sekitar Batur. Setelah meninggal, Abu dari jenasah dari raja Ugrasena dicandikan di Air Madatu.

4. Bali 864 Ç / 942 M sd 877 Ç / 955M

Kekosogan raja, atau tidak ditemukan data sejarah yang lengkap (?)

5. Bali 877 Ç / 955M sd 889 Ç / 967M

Pada periode ini diketahui sejumlah raja yang pernah memerintah Bali, tetapi belum ditemukan nama ibu kota yang menjadi pusat pemerintahannya.

Raja pertama pada periode ini adalah Sang Ratu Sri Aji Tabanendra Warmadewa yang memerintah bersama-sama dengan permaisurinya, yaitu Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877sd 889 Çaka (955 M sd 967 M)

6. Bali 882 Ç / 960M sd 897 Ç / 975M

Pengganti Tabanendra Warmadewa adalah raja Jayasingha Warmadewa. Raja ini dapat diketahui dari sebuah prasasti, yaitu prasasti Manukaya (882 Çaka).

Dalam prasasti itu dimuat perintah raja untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring) yang setiap tahun mengalami kerusakan akibat derasnya aliran air.

7. Bali 897 Ç / 975M sd 905 Ç / 983M

Pada tahun 897 Çaka muncul raja yang bergelar Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa. Gelar ini terbaca dalam prasasti Sembiran A II (897 Çaka). Itulah satu-satunya prasasti atas nama baginda.

Prasasti tersebut kembali mengenai desa Julah kuno. Menurut prasasti itu, penduduk Julah yang kembali dari pengungsiannya diizinkan memperbaharui isi prasastinya.

8. Bali 905 Ç / 983M sd 911 Ç / 989M

Pemerintahan kerajaan Bali selanjutnya dipimpin oleh seorang ratu. Ratu ini bergelar Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi dengan sistem pemerintahan sesuai dengan sistem pemerintahan di Jawa.

Susunan dan nama-nama jabatan pemerintah yang biasa berlaku di Jawa di pergunakan di Bali. Beliau memerintah pada tahun 905 Çaka atau 983 Masehi. Beberapa ahli memperkirakan ratu ini adalah putri dari Mpu Sindok dari kerajaan Mataram Kuno.

9. Bali 911 Ç sd 933 Ç (989 M sd 1011 M)

Kerajaan Bali diperintah oleh Sri Dharma Udayana Warmadewa. Beliau termasyur akan kewibawaan dan kebesarannya sebagai penguasa tunggal, dipuji dan dihormati oleh para pendeta dan para raja, sampai ke Pulau Jawa.

Baginda mempersunting putri raja dari Medang Kemulan, yang sangat utama, putri Sri Makuta Wangsa Wardhani raja wanita yang bersuamikan Sri Makuta Wangsa Wardhana, bernama Gunapriayadharmapatni Mahendradatta.

Dalam Sejarah Jawa, Gunapriayadharmapatni Mahendradatta ini adalah adik dari Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa

Dari perkawinannya ini, Prabu Udayana beliau mempunyai tiga orang anak yaitu: Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Kemudian Airlangga menikah dengan putri Raja Dharmawangsa.

Baginda Prabu Udayana menjadi jungjungan rakyat Bali. Belaia wafat dan abu jenazahnya dicandikan di Banu Wka.

10. Bali 938 Ç / 1016 M

Berdasarkan prassati Sembiran A-III, pada tahun 1016M, disebutkan ada seorang ratu yang memerintah Bali, yaitu Ratu Sri Ajnadewi, namun sampai kini belum terdapat petunjuk jelas mengenai hubungan ratu ini dengan pendahulunya, begitu pula hubungannya dengan tokoh lain.

11. Bali 944 Ç sd 971 Ç (1022 M sd 1049 M)

Setelah Udayana wafat, putranya yang bernama Marakatapangkaja naik tahta sebagai raja. Marakata bergelar Paduka Aji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.

Putra kedua Udayana ini menjadi raja Bali berikutnya karena putra mahkota Airlangga menjadi raja Medang Kemulan.

Marakatapangkaja sangat menaruh perhatian pada kesejahteraan rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang luas termasuk Gianjar, Buleleng. Tampaksiring dan Bwahan (Danau Batur).

Beliau disegani rakyatnya, ia membangun bangunan suci di Gunung Kawi, Tampak Siring Bali.

12. Bali 971 Ç sd 999 Ç (1049M sd 1077 M)

Pengganti raja Marakatapangkaja adalah adiknya sendiri yang bernama Anak Wungsu. Ia mengeluarkan 28 buah prasasti yang menunjukkan kegiatan pemerintahannya.

Anak Wungsu, mengaku penjelmaan Wisnu yang masa pemerintahannya dibantu 10 senopati. Rakyat hidup dari bertani, binatang yang berharga adalah kuda. Untuk golongan pedagang laki-laki disebut Wanigrama dan untuk perempuan disebut Wanigrami.

Anak Wungsu memerintah selama 28 tahun. Selama pemerintahannya, keadaan negara aman tenteram. Anak Wungsu tidak memiliki keturunan dan meninggal tahun 1077 dan didharmakan di Gunung Kawi dekat Tampak Siring Gianyar Bali.

13. Bali 1000 Ç sd 1010 Ç / 1078M sd 1088M

Raja Anak Wungsu diganti oleh Sri Walaprabhu yang memerintah tahun 1001-1010 Çaka ( 1078-1088) dengan Gelar Sri Maharaja Sri Walaprabhu, terbaca dalam prasasti Babahan II. Prasasti Ababi A dan Klandis, adalah juga dikeluarkan oleh raja Walaprabhu.

Perlu diperhatikan bahwa raja-raja Bali Kuno, raja inilah yang pertama menggunakan gelar maharaja setelah ratu Sri Wijaya Mahadewi.

Setelah Anak Wungsu meninggal, Kerajaan di Bali tetap mengadakan hubungan dengan raja-raja di Jawa.

14. Bali 1010 Ç sd 1037 Ç / 1088 M sd 1115 M

Disebutkan ada seorang raja pengganti raja Anak Wungsu benama Sakalendu Kirana.

Sangat disayangkan belum ditemukan satu bukti sejarah berupa prasasti, yang secara pasti yang menyebutkan keberadaan raja Bali yang satu ini.

15. Bali 1037 sd 1041 Ç / 1115M sd 1119M

Baginda Sri Suradhipa berkuasa tahun 1037 sd 1041 Çaka (1115 M sd 1119 M) dengan mengeluarkan prasasti-prasasti Gobleg, Pura Desa III (1037 Çaka), Angsari B (1041 Çaka), Ababi, Tengkulak D dan Prasasti Tamblingan, Pura Endek III.24 Sebagian di antara prasasti-prasasti itu sudah aus dan tidak terbaca lagi.

Berdasarkan permohonan wakil-wakil pamong dharma (sejenis bangunan suci) di Air Tabar dapat diketahui bahwa raja memberikan izin kepada mereka memperbaharui (umanari) prasastinya.

Izin itu diberikan karena prasasti semula yang tertulis pada daun rontal (ripta) telah rusak dan tidak terbaca lagi (awuk munggwing ripta tan wnang winaca).

Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun raja-raja yang memerintah Bali menggunakan unsur jaya dalam gelarnya.

III. Wangsa Jaya

16. Bali 1055 Ç sd 1126 Ç / 1133 M sd 1204 M

Setelah berakhir masa pemerintahan raja Suradhipa, secara beruntun beberapa raja yang memerintah di Bali, menggunakan unsur jaya dalam gelarnya.

1. Paduka Sri Maharaja Sri Jayasakti tahun 1055-1072 Çaka (1133M sd 1150M)

2. Paduka Sri Maharaja Sri Ragajaya tahun 1077 Çaka (1155M)

3. Paduka Sri Maharaja Aji Jayapangus tahun 1099-1103 Çaka (1178M sd 1181M).

Selama masa pemerintahan Aji Jayapangus, disebutkan bahwa keamanan terjamin dan ajaran agama berkembang dengan pesat. Masa pemerintahan beliau hanya empat tahun dan beliau wafat pada tahun 1181M. Jenasahnya dimakamkan di Dharma Anyar.
Putra Baginda dua orang: Sri Hikajaya dan Sri Danadiraja.

4. Paduka Sri Maharaja Sri Hikajaya hingga tahun Çaka 1122 (tahun 1200 Masehi).
Pura dan agama tidak mendapat perhatian.

5. Sri Danadiraja hingga tahun Çaka 1126 (1204 Masehi).
Agama juga tidak mendapat perhatian.

6. Sri Danaraja digantikan oleh putranya yang bergelar Sri Jaya Kasunu, baginda melakukan samadi untuk memperoleh restu dewata agar mengadakan perbaikan pada Pura dengan aci-acinya terutama di Besakih: Juga agar melaksanakan kembali tata upacara Hari Galungan. Baginda bergelar Bhatara Sri Parameswara.

Pulau Bali kembali aman dan tentram. Baginda berputra (buncing) yang laki bernama Sri Masula dan adiknya bernama Sri Masuli.

7. Paduka Sri Maharaja Aji Ekajayalancana beserta ibunya yaitu Paduka Sri Maharaja Sri Arjaryya Dengjayaketana yang mengeluarkan prasastinya pada tahun 1122 Çaka (1200M sd 1204M).

IV. Bali 1206 Ç / 1284M – Penyerbuan Singasari ke Bali, Bali di bawah kekuasan Kerajaan Singasari.

Antara Raja Sri Wirama (1126 Çaka) dan raja berikutnya, yaitu Bhatara Parameswara Hyang ning Hyang Adidewalancana (1182 Çaka) terdapat masa kosong selama tidak kurang dari 56 tahun. Belum terdapat petunjuk yang jelas mengapa hal itu terjadi.

Tidak banyak dapat dikemukakan mengenai raja Adidewalancana. Baginda mengeluarkan sebuah prasasti, yaitu prasasti Bulihan B (1182 Çaka), yang dianugrahkan kepada wakil-wakil desa Bulihan (karaman i bulihan). Selain itu beliau juga mengeluarkan prasasti Pangsan yang dianugrahkan kepada pariman i nungnung.

Setelah masa pemerintahan raja Adidewalancana, terdapat lagi masa tanpa raja selama lebih kurang 64 tahun, yakni tahun 1182-1246 Çaka (1260-1324).

Pada periode itu terbit hanya dua buah prasasti, yaitu prasasti Pengotan E (1218 Çaka) dan Sukawana D (1222 Çaka), atas nama Kbo Parud (putra Ken Demung Sasabungalan). Tokoh itu berkedudukan sebagai rajapatih, bukan sebagai raja.

Keadaan ini kemungkinan besar ada kaitannya dengan keterangan yang dapat disimak isi pupuh XLII : 1 Nāgarakṛtāgama. Di sana dikatakan bahwa pada tahun 1206 Çaka (1284) Raja Krtanagara dari Singasari berhasil menaklukkan Bali serta menawan raja Bali dan ditahan sebagai tawanan perang.

sakabda yamasunyasuryya diwasa nrpati muwah amati durjjana
ikang mahisa rangkah atyaya katungka nika pinaleh ing sanagara
ring anggawiyatarkka saka sira motusan kana ri bali curnnitan
ndatandwa kawenang ratunya kahanang teka marek i narendra sakrama.

[Tahun Çaka yamasunyasuryya (1202Ç) Baginda raja memberantas penjahat,
Mahisa Rangga, karena jahat tingkahnya dibenci seluruh negara,
Tahun Çaka anggawiyatarkka (1206Ç) mengirim utusan menghancurkan Bali,
Setelah kalah rajanya menghadap Baginda sebagai orang tawanan.]

Dalam sumber itu tidak disebutkan nama atau gelar raja Bali yang ditawan. Dengan alasan yang kurang jelas, namun dapat diduga bahwa raja itu adalah Adidewalancana.

Swasti Astu
matur suksma,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: