JAGAD BALI

WAOSAN KA-6

(Wedaran ka-2)

On 25 Januari 2012 at 09:01 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Swasti Astu
||Rahajêng sêmêngan, Sugêng énjang||

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

Waosan kaping I.Wedaran kaping-02
PARA PENGUASA BALI

Pada wedaran kali ini, kita baca satu demi satu peran raja-raja para penguasa Bali sejak berdirinya Kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang, semasa wangsa Sanjaya, hingga masuknya imperium Majapahit ke Balidwipa.

Telisik satu persatu ini tentunya berdasarkan data bukti sejarah yang sempat ditemukan dan dicatat, serta diuji validitas datanya.

I. Wangsa Sanjaya

Bali, sekitar tahun 804 Ç / 882 M.

Menelisik sejarah Kerajaan Bali Kuno, berdasarkan temuan bukti-bukti sejarah, bahwa kerajaan tertua di Bali yang tercatat dalam sejarah adalah Kerajaan Singamandawa (yang didirikan sekitar tahun 804 Ç / 882 M), dan berlanjut Kerajaan Balingkang (mulai tahun 1103 Ç atau 1181 M).

Kerajaan Singamandawa ini terletak di sekitar Batur, di tanah Bangli, yakni sekitar Kintamani. Keberadaannya dikukuhkan melalui 15 prasasti yang berangka tahun 804 M.

Dalam prasasti itu disebutkan raja Singamandawa adalah Ugrasena dari Wangsa Sanjaya.

Sanjaya adalah raja dari sebuah kerajaan tua di Jawa Tengah yaitu Kerajaan Mataram Kuno. Dalam Purana, Usana, Babad sering disebut dengan nama Kerajaan Keling.

Raja Sanjaya adalah pendiri dinasti Sanjaya dengan gelar Sanjayawamsa. Kerajaan Mataram Kuno adalah merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kalingga di Jawa Barat yang telah ada tahun 414 M, yang menurut penuturan seoarang peziarah China yang bernama Fa Hian menyebut nama Kalingga dengan nama Holing.

Asal usul Kerajaan Kalingga ini adalah dari India Selatan yang karena terdesak di wilayah India maka Raja Kalinga beserta keluarganya hijrah ke Indonesia dan terdampar di Jawa Barat.

Di Jawa Barat Raja Kalingga dan para pengikutnya kemudian mendirikan Kerajaan Kalingga. Sebagai Raja di Kerajaan Kalingga dikenal 2 orang yaitu Raja Sannaha dan Ratu Simmo (Ratu Sima).

Setelah pemerintahan Ratu Sima tidak terdengar lagi raja penggantinya sampai tahun 732 M muncul kerajaan baru di Jawa Tengah dengan nama Kerajaan Mataram Kuno atau Kerajaan Medang.

Para ahli sejarah menduga Kerajaan Mataram Kuno ini adalah kelanjutan dari kerajaan Kalingga.

Adapun kepindahannya dari Jawa Barat ke Jawa tengah diperkirakan karena terdesak oleh munculnya Kerajaan Tarumanegara pada abad ke 6 dengan Rajanya Purnawarman dari wangsa Warma.

Kerajaan Mataram Kuno ini melebarkan kekuasaanya sampai ke Jawa Timur dan Bali. Di Jawa Timur dikenal adanya kerajaan Kanjuruhan (Kerajaan yang berada di daerah Malang, sebelum berdirinya Kerajaan Singasari), berdasarkan prasasti Dinoyo tahun 760 M dan di Bali terdapat kerajaan Singamandawa berdasarkan prasasti Sikawana A tahun 882 M.

Catatan:

Kanjuruhan adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Timur, yang pusatnya berada di dekat kota Malang sekarang. Kanjuruhan diduga telah berdiri pada abad ke-6 M, sezaman dengan Kerajaan Tarumanegara, Bekasi – Bogor sekarang. Bukti tertulis mengenai kerajaan Kanjuruha ini adalah Prasasti Dinoyo. Rajanya yang terkenal adalah Gajayana. Peninggalan lainnya adalah Candi Badut dan Candi Wurung.

Besar kemungkinan raja dari kerajaan tersebut adalah dari keluarga Sanjaya atau Sanjayawamsa karena kesamaan prasasti-prasasti Canggal 732 M dan Prasasti Dinoyo 760 M dan Prasasti Sukawana 882 M dalam bidang keagamaan yang dianut.

Adapun nama balingkang berasal dari kata “bali + ing + kang“. Secara tuturan dan bukti tertulis, ini dikaitkan dengan pernikahan Raja Jaya Pangus Harkajalancana yang memerintah pada tahun 1103 Ç sd 1191 Ç atau 1181 M sd 1269 M.

Raja Jaya Pangus punya dua permaisuri, Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna — (Cihna, merujuk pada kata Cina).

Dalam cerita rakyat yang berkembang disebut, istri Cinanya bernama Kang Ci Wi, putri Tuan Subandar (mungkin yang dimaksud adalah Syahbandar atau Saudagar) pedagang dari Cina. Maka digabunglah Bali-Ing-Kang menjadi Balingkang.

Kelak ketika terjadi penyerbuan Bali oleh pasukan tentara Majapahit dalam rangka mewujudkan Sumpah Maha Patih Gajah Mada, yang dikenal dengan Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa, Masyarakat Bali Kuno di sekitar Danau dan Gunung Batur tercatat amat sulit ditundukkan oleh Raja Sri Kresna Kepakisan sebagai wakil mahkota Majapahit di Bali yang ditempatkan oleh Maha Patih Gajah Mada.

Dalam upacara-upacara keagamaan, bahkan hingga kini, Masyarakat Bali di sekitar Danau dan Gunung Batur belum mau menggunakan Ida Pedanda sebagai Sang Trininya, mereka tetap menggunakan Jro Mangku dan Jro Kebayan dengan upacara podgala atau mewinten pang solas.

Masyarakat Bali Mula di sekitar Danau Batur menyebut dirinya dengan Gebog Domas (Kelompok Delapan Ratus). Kelompok ini dibagi jadi empat bagian Gebog Satak (Dua Ratus) Sukawana, Kintamani, Selulung dan Bantang. Kelompok ini memiliki Tri Kahyangan yakni:

(1) Pura Pucak Panarajon sebagai pusatnya terletak di Sukawana, Kintamani, dengan tiga tingkatan pura yang disebut Gunung Kahuripan. Tingkatannya, Pura Panarajon (Ida Bhatara Siwa Sakti), Pucak Panulisan (sejajar dengan pusat pemerintahan — dulu sebagai keraton Raja Jaya Pangus), dan Pucak Wangun Hurip (simbol membangun kehidupan).

(2) Pura Bale Agung di Sukawana dengan Ida Bhatara Ratu Sakti Kentel Gumi, setara dengan Bhatara Brahma,

(3) Pura Pusering Jagat — Pura Puseh Panjingan di Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng, berstana Ida Ratu Sakti Pusering Jagat setara dengan Bhatara Wisnu, dan

(4) Pura Dalem Balingkang berstana Ida Dalem Kepogan (Dalem Balingkang) setara dengan Dewa Siwa.

***

Kerajaan Singamandawa, seperti telah disebutkan di atas sebagai kerajaan Hindu tertua di Bali yang diperkirakan berada di tanah Bangli, yakni sekitar Kintamani.

Demikian pula Dinasti Warmadewa dan Dinasti Kediri yang kemudian menurunkan raja-raja besar di tanah Jawa. Jika dirunut asal usulnya, mereka berasal dari Tanah Bangli.

Sesungguhnya Bangli tidak hanya menjadi kelahiran peradaban Bali tetapi juga kelahiran Peradaban Nusantara.

Dikisahkan, bahwa di tahun 1284 M, Kebo Parud yang telah menaklukan Bali membawa Putri Bangli bernama Parameswara Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana ke Jawa sebagai persembahan kepada Prabu Kertanegara. Ratu Parameswara Hyang Ning Hyang Adi Dewa Lencana ke Jawa bersama dengan putrinya yang masih kecil bernama Tri Bhuana. Putri ini kemudian diangkat anak oleh Sri Baginda Kertanegara.

Siapa Kebo Parud?. Nanti akan didongengkan tersendiri.

Setelah Singasari runtuh, akibat serbuan Jayakatwang, Tri Bhuana menikah dengan Raden Wijaya, pendiri Majapahit.

Menurut Prasasti Balawi dan Prasasti Sukamerta (angka tahun 1296 M) dan Pujasastra Nāgarakṛtāgama, Raden Wijaya menikah dengan empat orang putri Kertanegara, salah satunya adalah Dyah Sri Tribhūwaneśwari, yang dijadikan permaisuri dengan gelar Śri Parameśwari Dyah Dewi Tribhūwaneśwari..

Dalam Nāgarakṛtāgama nama Tribhuwaneswari sering disingkat Tribhuwana atau Tri Bhuana. Nāgarakṛtāgama menyebutkan sebagai putri sulung Kertanegara.

Tri Bhuana kemudian menurunkan seorang putri bernama Dyah Gitarja, kelak setelah Raja Jayanegara tewas, Dyah Gitarja menduduki tahta Majapahit, dan sebagai Maharani Majapahit memiliki nama abhiseka Çri Tribhuwanotunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani.

Putri inilah yang menikah dengan Bhre Tumapel Kertawardhana, dan melahirkan Hayam Wuruk, kelak adalah raja besar di Majapahit.

***

Bangli juga mencatat sejarah sebagai basis pertahanan atas penjajahan peradaban luar Bali yang pernah dengan massif melakukan penaklukan. Songan, Abang, Trunyan dan banyak lagi desa-desa kuno di tanah Bangli adalah pusat-pusat perlawanan manusia Bali Aga atas ekspansi imperium Majapahit.

Kekuatan bertahan atas serbuan peradaban Majapahit pernah membuat pusat kekuasaan di tanah Jawa tersebut harus menerapkan strategi-strategi yang tidak cukup hanya dengan kekuatan angkatan perang.

Pemberontakan fisik mungkin bisa diredam, namun demikian perlawanan terhadap penjajahan peradaban tanah Jawa hingga kini masih bisa dilihat misalnya dengan sistem ritual perlakuan terhadap jenazah di Desa Trunyan.

***

Dalam struktur kerajaan lama, Raja-raja Bali dibantu oleh badan penasehat yang disebut “Pakirakiran I Jro Makabehan” yang terdiri dari beberapa Senapati dan Pendeta Syiwa yang bergelar “Dang Acaryya” dan Pendeta Buddha yang bergelar “Dhang Upadhyaya”.

Raja didampingi oleh badan kerajaan yang disebut “Pasamuan Agung” yang tugasnya memberikan nasihat dan pertimbangan kepada raja mengenai jalannya pemerintahan. Raja juga dibantu oleh Patih, Prebekel, dan Punggawa-punggawa.

Ratu Ugrasena merupakan keturunan Wangsa Keling atau Kalingga atau dikenal dengan nama Wangsa Sanjaya yang berasal dari India Selatan. Pada jaman ini agama Budha mulai masuk ke Bali setelah terlebih dahulu berkembang di Jawa.

Pada tahun 913 M muncul Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan rajanya Kesari Warmadewa yang merupakan keturunan wangsa Warmadewa yang berasal dari Kerajaan Kutai (Kalimantan Timur) dan Sriwijaya (Sumatera Selatan).

Munculnya kerajaan ini tidak terlepas dari persaingan antara wangsa Sanjaya dengan wangsa Warma di Jawa Barat pada abad ke-6.

Kedua Kerajaan bersaing untuk menguasai daerah yang lebih luas sehingga kedua kerajaan akhirnya terlibat dalam peperangan secara terus menerus.

Di Bali Kerajaan Singamandawa terdesak sehingga hanya bertahan di pegunungan Kintamani dan Buleleng sedangkan Wangsa Warma telah menguasai wilayah yang lebih luas yang dibuktikan dengan prasasti berupa pahatan batu di Penataran Gede Malet dan Pura Panempaan Manukaya.

Setelah tahun 888 Ç tidak terdengar lagi raja raja Singamandawa karena prasasti prasasti yang dikeluarkan semuanya dari raja raja Warmadewa sehingga diperkirakan Kerajaan-kerajaan Singamandawa atau Kerajaan Balingkang jatuh ketangan Kerajaan Singhadwala atau Kahuripan dengan jalan damai karena salah satu Raja keturunan wangsa Warmadewa yaitu Raja Tabanendra Warmadewa sangat menghormati Sang Ratu Ugrasena yang diuraikan dalam prasati Kintamani A yang menyebutkan “Sang Ratu Sang Sinddha Dewata Sang Lumah di Air Madatu.

Dengan ini maka berakhir pula masa kedinastian Wangsa Sanjaya di Bali dan digantikan oleh Wangsa Warmadewa. Lalu kemanakah keturunan keluarga Ugrasena tersebut?

Menurut tradisi dari kerajaan kerajaan kuno bilamana ada kerajaan yang dikalahkan maka keluarga raja yang ditaklukkan tersebut diserahi tugas dalam pemerintahan oleh Raja yang berkuasa sebagai patih atau pejabat kerajaan lainnya, apa lagi penaklukannya dilakukan dengan cara damai.

Kalau pendapat ini benar maka keturunan Ratu Ugrasena pada jaman pemerintahan wangsa Warmadewa yaitu Sri Astasura Ratna Bumi Banten menduduki jabatan menteri menteri kerajaan diantaranya:
1. Pangeran Tambyak
2. Ki Kalung Singkal dari Taro
3. Ki Tunjung Tutur dari Desa Tenganan
4. Ki Tunjung Biru dari Tianyar
5. Pangeran Kopang dari Seraya
6. Ki Buahan di Batur
7. Rakriyan Girimana di Ularan
8. Pangeran Tangkas Pangeran Mas
9. Perdana Menteri Ki Pasung Grigis di Tengkulak
10. Ki Kebo Iwa di Blahbatuh.

Demikianlah keturunan Wangsa Sanjaya yang menduduki jabatan pemerintahan pada jaman Raja Sri Ratna Bumi Banten pada saat ekspedisi Majapahit ke Bali untuk menaklukan kerajaan Bedulu.

Di antara mereka yang dapat dicari keturunannya sampai sekarang hanyalah Rakriyan Girikmana dari Ularan Singaraja yang menjabat sebagai panglima perang pasukan Dulang Mangap Kerajaan Gelgel yang bergelar Jelantik. Beliau berhasil menaklukan Kerajaan Blambangan.

Kryan Ularan panglima Dulang Mangap mempunyai anak yang bernama Jelantik Bongol yang dijuluki demikian karena beliau mengamuk di medan perang Bali-Pasuruan tanpa memakai senjata sebagai penebusan terhadap dosa ayahnya yang ingkar atas perintah Dalem.

Swasti Astu
matur suksma,

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: