JAGAD BALI

WAOSAN KA-7

LEAK RANGDA DAN BARONG

Bagian ke-1

On 29 Januari 2012 at 22:49 cantrik bayuaji said: |Sunting Ini

Swasti Astu
||Rahajêng wêngi. Sugêng dalu||

DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI JAGAD BALI

LEAK RANGDA DAN BARONG Bagian ke-1

Dongeng tentang Para Penguasa Bali (gandhok https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/) sementara belum dilanjutkan, dan tertarik ketika membaca anggitan terakhir di gandok SFBdBS-09 [On 28 Januari 2012 at 15:41 sandikala said]:

…………………………
Yang tengah terjadi adalah putusnya dua tangan dan dua kaki serta kepala dari tubuh manusia Leak. Yang sangat meyeramkan adalah kelima anggota tubuh yang terlepas itu secara bersamaan menyerang Mahesa Amping.
………………

Sungguh “mengerikan” pengalaman Ki Mahesa Amping, sempat-sempatnya bertemu bahkan bertempur dengan Leak.

Apakah Leak itu?

Menurut kepercayaan orang Bali, Leak hanya ditemukan di Bali dan Leak adalah manusia biasa yang mempraktekkan sihir jahat dan membutuhkan darah embrio agar dapat hidup.

Leak hanya berupa kepala manusia yang memiliki lidah yang panjang dan gigi-gigi yang runcing dan tajam, dengan organ-organ isi tubuh masih menggantung di kepala tersebut, tanpa tangan tanpa kaki dan tanpa tubuh.

Leak dikatakan dapat terbang untuk mencari wanita hamil, untuk kemudian menghisap darah janin yang masih di kandungannya. Leak dapat mengubah diri menjadi babi atau bola api.

Apabila seseorang menusuk leher Leak dari bawah ke arah kepala pada saat kepalanya terpisah dari tubuhnya, maka leak tidak dapat bersatu kembali dengan tubuhnya. Jika kepala tersebut terpisah pada jangka waktu tertentu, maka leak akan mati.

Apakah Rangda dan Barong itu?

Menurut etimologinya, kata Rangda yang dikenal di Bali berasal dari Bahasa Jawa Kuno yaitu dari kata randa (Jawa: råndå) yang berarti Janda.

Rangda adalah sebutan janda dari golongan Tri Wangsa yaitu:
1. Waisya,
2. Ksatria,
3. Brahmana,

Sedangkan dari golongan Sudra disebut Balu dan kata Balu dalam bahasa tåtå-kråmå inggil Bali adalah Rangda.

Dalam mitologi Bali, Rangda adalah ratu dari para leak. Makhluk jadi-jadian yang menakutkan ini diceritakan sering menculik dan memakan anak kecil serta memimpin pasukan para penyihir jahat melawan Barong, yang merupakan simbol kekuatan baik.

Wujud Rangda pada umumnya sama, tetapi di antara Rangda yang dikenal oleh masyarakat ada tiga, berdasarkan bentuk muka (prerai), yaitu :

Nyinga: Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai singa dan sedikit menonjol ke depan (munju). Sifat dari Rangda ini adalah galak dan buas.

Nyeleme: Apabila bentuk muka Rangda itu menyerupai wajah manusia dan sedikit melebar (lumbeng). Bentuk Rangda seperti ini, menunjukkan sifat yang berwibawa dan angker.

Raksasa: Apabila bentuk muka Rangda ini menyerupai wujud raksasa seperti yang umum kita lihat Rangda pada umumnya. Biasanya Rangda ini menyeramkan.

***

Tingkatan ilmu perleakan:

1. Ilmu Leak Tingkat Bawah yaitu orang yang bisa mengleak tersebut bisa mengubah wujudnya menjadi binatang seperti monyet, anjing, ayam putih, kambing, bangkung dan lain-lain.

2. Ilmu Leak Tingkat Menengah yaitu orang yang bisa mengleak pada tingkat ini sudah bisa mengubah wujudnya menjadi burung garuda bisa terbang tinggi, paruh dan cakarnya berbisa, matanya bisa mengeluarkan api, juga bisa berubah wujud menjadi djaka tungul.

3. Ilmu Leak Tingkat Tinggi yaitu orang yang bisa mengleak tingkat ini sudah bisa mengubah wujudnya menjadi bade bertingkat dua puluh satu atau tumpang selikur dalam bahasa Bali dan seluruh tubuh menara tersebut berisi api yang menjalar-jalar sehingga apa saja yang kena sasarannya bisa hangus menjadi abu.

Adapun Barong, dalam mitologi Bali adalah raja dari ruh-ruh yang melambangkan kebaikan. Ia merupakan musuh Rangda. Barong digerakkan oleh Banas Pati Rajah sebagai ruh yang mendampingi seorang anak dalam hidupnya.dan sebagai ruh pelindung.

Barong singa adalah barong paling umum ditemukan di Bali. Di Bali masing-masing kawasan memiliki roh penjaga di hutan atau tanahnya. Masing-masing roh pelindung ini digambarkan dalam bentuk satwa tertentu, Yaitu:

1. Barong Ket: barong singa, barong paling umum dan melambangkan roh kebaikan.

2. Barong Landung: barong berwujud raksana, dipengaruhi budaya Tionghoa dan bentuknya mirip ondel-ondel Betawi.

3. Barong Celeng: barong berbentuk babi hutan

4. Barong Macan: barong berbentuk harimau.

5. Barong Naga: barong berbentuk naga atau ular.

***

Pada wedaran Para Penguasa Bali 1 [ On 21 Januari 2012 at 20:15 cantrik bayuaji said: SFBdBS 09], disebutkan bahwa Prabu Udayana yang memerintah Bali pada tahun 911 Ç sd 933 Ç (989 M sd 1011 M) mempunyai tiga orang anak yaitu: Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Prabu Udayana, dengan nama abhiseka Sri Dharma Udayana Warmadewa.

Prabu Udayana begitu termasyur akan kewibawaan dan kebesarannya sebagai penguasa tunggal, yang selalu berusaha untuk mensejahterakan rakyat Bali, beliau dipuji dan dihormati oleh para pendeta dan para raja, sampai ke Pulau Jawa.

Beliau wafat pada tahun 1011M dan digantikan oleh putra keduanya, yakni Marakata atau Marakatapangkaja, yang bergelar Paduka Aji Sri Dharmawangsawardhana Marakatapangkajasthanottunggadewa.

Sedangkan putra sulungnya Airlangga (lahir di: Bali, 990 – wafat di: Belahan Jawa Timur, 1049) menikah dengan putri Raja Dharmawangsa, dan menjadi raja di Kahuripan, Kadiri, Jawa Timur, sebagai kelanjutan Kerajaan Medhang Kamulan, disebut juga Kerajaan Mataram Kuno.

Dengan dibekali dengan sakit dan lapar. Lårå låpå dengan mêsu rågå di sepanjang bukit dan hutan (Dalam Kisah Narotama disebutkan “ing rimbanging wånå lan giri; yang dari kata ini, para sejarahwan menduga tempat pertapaan Sang Prabu Airlangga ada di Wånågiri sekarang ini), yang oleh Empu Kanwa, Sinuwun Airlangga dipersamakan dengan Arjuna dalam Kakawin Arjunawiwaha. Tetapi yang terjadi kemudian, kekuasaan Sang Prabu Airlangga diganggu oleh hadirnya Calonarang seorang janda penyihir.

Diceritakan bahwa Sang Penyihir adalah seorang janda penguasa ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Ia mempunyai seorang puteri bernama Rêtnå Mangali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya.

Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calonarang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah bukit untuk dijadikan tumbal dan persembahan kepada Bêtari Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.

Prabu Airkangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan guru spiritualnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah adalah seorang pemuka agama, penasehat kerohanian raja dan keluarga istana Kerajaan Kadiri, lalu mengirimkan seorang muridnya bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah dengan acara pesta besar-besaran yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.

Dongeng pertempuran antara Calonarang dan Empu Baradah dan muridnya inilah yang digambarkan sebagai pertempuran Leak Rangda melawan Barong (Sang Penyihir Si Janda Calon Arang melawan Sri Prabu Airlangga).

Dongeng tersebut dicuplik dari Sêrat Calon Arang, yang menceritakan seorang tokoh bernama Calon Arang, janda yang penyihir. Dia seorang tokoh dalam cerita rakyat Jawa dan Bali dari abad ke-12.

Sêrat Calon Arang ini tidak diketahui siapa pengarangnya. Adapun salinan teks yang bertulikan aksara Latin, kini disimpan di Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (Lembaga Kerajaan Ilmu Bahasa, Negara dan Antropologi). di Leiden Belanda.

Pertanyaannya adalah: Kapan naskah ini kembali pulang kampung??? Juga naskah-naskah lainnya

***

Bagaimana asal terjadinya adanya mitos Leak, Rangda dan Barong?

Berikut dongeng selengkapnya:

CALONARANG RANGDA NATENG GIRAH
Calonarang Janda dari Girah

Di Kerajaan Kadiri pada masa pemerintahan Sri Prabu Airlangga, di desa Girah ada satu Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Calonarang — nama julukan dari Dayu Datu, yang disebut Rangda (Janda) –.

Rangda, ratu para leak itu berasal dari ratu Mahendradatta yang hidup di pulau Jawa pada abad ke-11. Ia diasingkan oleh raja Dharmodayana karena dituduh melakukan perbuatan sihir terhadap permaisuri kedua raja tersebut. Menurut legenda ia membalas dendam dengan membunuh setengah kerajaan tersebut, yang kemudian menjadi miliknya serta milik putra Dharmodayana, Airlangga.

Murid-murid Sang Rangda semua perempuan dan di antaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat atas antara lain: Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.

Diceritakan bahwa Calonarang Sang Rangda, adalah penguasa ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Ia mempunyai seorang puteri bernama Diah Ratna Mangali, yang meskipun berparas cantik jelita, tetapi tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.

Diah Ratna Mangali diduga bisa ngeleak, dengan didasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau bunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu, begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Calonarang.

Mendengar pengaduan tersebut, tampak nafas Calonarang mulai meningkat, pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. Pengaduan tersebut telah membakar darah Calonarang dan mendidih, terasa tumpah ke otak.

Penampilannya yang tadinya tenang, dingin dan sejuk, seketika berubah menjadi panas, gelisah. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma, air berubah menjadi api. Tak kuasa Sang Janda menahan amarahnya. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kadiri.

Sang Rangda Calonarang sangat sedih bercampur berang, sedih karena khawatir putrinya bakal menjadi perawan tua, itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu, berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak.

Calonarang berkata kepada Nyi Larung: “Hai Nyi Larung, penghinaan ini bagaikan air kencing dan kotoran ke wajah dan kepalaku. Aku akan membalas semua ini, rakyat Kadiri akan hancur lebur, dan luluh lantak dalam sekejap. Semua orang-orangnya akan mati mendadak. Laki-laki, perempuan, tua muda, semuanya akan menanggung akibat dari fitnah dan penghinaan ini. Kalau tidak tercapai apa yang aku katakan ini, maka lebih baik aku mati, percuma jadi manusia. Kalau Calonarang ini tidak melakukan balas dendam maka hati ini tidak akan merasa tentram”.

Demikian kata-kata Calonarang yang sangat mengerikan kalau seandainya hal ini menjadi kenyataan. Nyi Larung kemudian menyahut dan bertanya, “Kalau demikian niat Guru, bagaimana kita bisa melakukan hal tersebut”. segera dijawab oleh Calonarang. “Kau Nyi Larung, ketahuilah, jangan terlalu khawatir akan segala kemampuanku. Aku Calonarang bukanlah orang sembarangan dan murahan. Kalau tidak yakin dengan diri, maka aku tidak akan sesumbar begitu. Biar mereka tersebut merasakan akibat dari segala perbuatan yang telah mereka lakukan terhadap anakku.

Kau Nyi Larung, Ibu minta agar kau mengumpulkan semua murid-muridku supaya segera masuk ke Pasraman Pengeleakan.

Tunggu sampai tengah malam nanti. Aku akan menurunkan segala ilmu kewisesan yang aku miliki kepada kalian semua. Karena sekarang hari masih terang dan sore, lebih baik engkau semua melakukan pekerjaan seperti biasanya. Aku akan mempersiapkan segala sesuatunya. Nanti malam kita akan berkumpul lagi membicarakan masalah tersebut, dan ingat tidak ada yang boleh tahu mengenai apa yang kita akan lakukan ini, kita akan membuat Kerajaan Kadiri gerubug yaitu berupa serangan wabah penyakit yang sulit diobati yang dapat mematikan rakyatnya dalam waktu singkat.” Demikian Calonarang menutup pembicaraannya pada sore hari tersebut, dan semua kembali melakukan kegiatan sebagaimana mestinya.

Diceritakan Rakyat Kerajaan Kadiri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija. Anak-anak muda semuanya riang gembira bermain sambil mengembalakan ternak di sawah.

Mereka riang gembira, menemani orang tuanya yang sedang membajak sawah. Ada pula masyarakat yang bekerja sebagai tukang membuat rumah, pondok, bangunan suci seperti pura dan sanggah, atau membuat angkul-angkul atau pintu gerbang, dan lain-lain.

Bagi kaum perempuan dan yang bekerja sebagai pedagang dengan menjual kue, nasi, kopi dan ada pula yang menenun kain untuk keperluan sendiri. Ada pula dari golongan pande bekerja khusus membuat perabotan pisau, sabit, parang, cangkul, keris, dan perabotan dari besi lainnya.

Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengelus-elus ayam aduan, dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut.

Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore, bahkan sampai malam hari. Pada malam hari masyarakat yang senang matembang atau bernyanyi melakukan kegiatannya sampai malam. Demikian pula dengan sekehe gong latihan sampai malam di Balai Banjar. Suasananya nyaman, tentram, dan damai sangat terasa ketika itu.

Setelah tengah malam tiba, semua masyarakat telah beristirahat tidur. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap, ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat.

Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam.

Ketika penduduk Rakyat Kadiri tertidur lelap di tengah malam, ketika itulah para sisya Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kadiri. Sinar beraneka warna bertebaran di angkasa. Desa-desa pesisir bagaikan dibakar dari angkasa. Ketika itu, penduduk desa sedang tidur lelap. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut, tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah.

Angin dingin yang tadinya mendesir sejuk, tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Para anak-anak yang gelisah, dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. Lolongan anjing saling bersahutan seketika. Demikian pula suara burung gagak terdengar di tengah malam. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil.

Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai, padahal ketika itu adalah musim kering. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut, masyarakat menjadi ketakutan, dan tidak ada yang berani keluar.

Endih yang berjumlah banyak di angkasa kemudian turun menuju jalan-jalan dan rumah-rumah penduduk desa. Api sebesar sangkar ayam mendarat di perempatan jalan desa, dan diikuti oleh api kecil-kecil warna-warni. Setelah itu para leak yang tadinya terbang berwujud endih, kemudian setelah di bawah berubah wujud menjadi leak beraneka rupa, dan berkeliaran di jalan-jalan desa.

Ketika malam itu, ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. Orang tersebut, karena saking takutnya, segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat, serta segera memohon kehadapan Sang Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak bisa berbicara.

Para sisya Calonarang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah mumpuni di dalam ilmu perleakan yaitu Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, dan Nyi Sedaksa, semua sudah berada di desa pesisir. Malam yang sangat gelap kemudian ditambah dengan hujan gerimis yang memunculkan bau tanah yang angid, mambuat para leak menjadi semakin bersuka ria. Beberapa bola api bertebaran di angkasa berkejar-kerjaran dan menari-nari.

Monyet-monyet besar, anjing bulu kotor, dan babi bertaring panjang berkeliaran di jalan-jalan sepanjang desa wilayah pesisir bercanda bersuka ria. Leak kambing, gegendu kebo mebatis telu, gegendu jaran, bangkal mecalin renggah, gegendu tampak jalan-jalan mengitari Kerajaan Kadiri.

Demikian pula dengan sosok Leak Celuluk yang berkelebat-kelebat dan bersandar di angkul-angkul rumah penduduk. Leak yang berwujud kreb kasa, tampak melintang di jalanan.

Di perempatan dan pertigaan jalan Desa, sosok Leak berwujud bade sedang menari-nari memenuhi jalanan. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Calonarang.

Sungguh sangat seram suasana pada malam itu. Penduduk desa tidak ada yang berani berkutik, apalagi keluar rumah. Para leak di malam itu telah menyebarkan gerubug di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kadiri. Setelah semalaman para leak berpesta pora, maka hari telah menjelang pagi.

Tiba saatnya para Leak untuk kembali ke wujud semula. Karena begitulah hukumnya sebagai leak. Waktu mereka adalah di malam hari. Apabila mereka melanggar hukum tersebut maka mereka akan mendapatkan bahaya. Ketika hari menjelang pagi para leak pun kembali ke tempatnya semula, dan pulang ke rumah. Demikian pula dengan Calonarang beserta Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi dan Nyi Sedaksa kembali pulang ke rumah setelah pesta pora di malam hari. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu hasil dari kerja mereka semalam.

Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Mereka ramai menceritakan keanehan-keanehan dan keganjilan-keganjilan yang terjadi pada malam harinya. Semuanya menceritakan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka sempat saksikan malam itu dirumah masing-masing.

Namun sedang asyiknya mereka bercerita, tiba-tiba saja ada seorang penduduk yang menjerit minta tolong. Orang tersebut mengatakan salah seorang keluarganya tiba-tiba saja sakit perut, muntah-muntah, dan buang-buang air.

Ketika mau memberikan pertolongan kepada penduduk di sebelah Barat tersebut, tiba-tiba saja tetangga di sebelah Timur menjerit minta tolong ada salah seorang keluarganya yang muntah dan buang air.

Pagi itu, masyarakat desa menjadi panik. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah-muntah tanpa sebab. Bahkan pagi itu, ada beberapa yang telah meninggal. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat, tiba-tiba sudah meninggal.

Demikian semakin panik masyarakat di desa. Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra, namun ketika pulang dari setra, tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Demikian seterusnya.

Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Sungguh sangat mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kadiri ketika itu.

Kerajaan Kadiri gempar, sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singat.

Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa.

Bahkan, si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami muntah-muntah dan meninggal. Setiap hari kejadian tersebut terus berlangsung. Penduduk desa menjadi bingung dan panik. Ada yang berkehendak untuk mengungsi dan menghindar dari gerubug tersebut.

Mereka berbondong-bondong meninggalkan desanya. Namun ketika sampai di batas desa, mereka itu mengalami muntah-muntah dan meninggal seketika. Melihat keadaan seperti itu penduduk yang masih hidup menjadi semakin ketakutan.

Ketika malam hari, mereka semua tidak ada yang berani tidur sendirian, dan tidak berani keluar rumah. Lolongan anjing tak henti-hentinya di malam hari. Burung gagak, katak, semuanya ribut saling bersahutan.

Adanya musibah yang menakutkan bercampur dengan sedih, para penduduk mencoba untuk berpasrah diri dan menyerahkan semuanya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Setiap saat mereka memuja dan memohon kehadapan beliau agar bencana gerubug ini segera berakhir, dan semua penduduk yang masih hidup diberkahi keselamatan dan kekuatan.

Di samping itu perlindungan-perlindungan magis dipasang di depan pintu masuk pekarangan dan pintu rumah. Sesuai dengan petunjuk orang pintar atau sesuai dengan kebiasaan para tetuanya terdahulu. Penduduk memasang sesikepan atau pelindung magis seperti daun pandan berduri yang ditulisi tapak dara atau tanda silang dari kapur sirih, berisi bawang merah, bawang putih, jangu, juga benang tri datu yaitu benang warna merah, putih, hitam, dan pipis bolong atau uang kepeng. Jadi pada dasarnya semua dilakukan untuk menolak penyakit, dan memohon perlindungan kehadapan Hyang Maha Kuasa.

Setelah berberapa hari mengalami kepanikan, kebingungan dan ketakutan, akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa, para penglingsir atau tetua, dan para pemangku, mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah.

Pada intinya mereka membicarakan mengenai masalah atau penyakit gerubug yang menyerang desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kadiri. Kalau seandainya masalah ini dibiarkan begitu saja, sudah pasti penduduk desa akan habis semuanya.

Mereka tetap berharap agar semua masyarakat meningkatkan astiti bhaktinya atau pemujaan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar diberikan keselamatan, kesehatan, perlindungan, dan umur panjang.

Disamping itu pula para prajuru desa para penglingsir atau tetua desa beserta dengan para pemangku sepakat untuk melaporkan masalah ini kehadapan Prabu Airlangga Maharaja Kadiri.

Mereka berencana memohon kehadapan Sri Prabu Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kadiri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug. Karena beliau sebagai penguasa atau sebagai Raja Kadiri berhak tahu dan wajib untuk melindungi rakyatnya dari bencana. Demikian kesepakatan mereka dan merencanakan akan berangkat ke Istana besok pagi.

Ketika para tetua desa dan prajuru disertai dengan para pemangku masih berada di Bale pertemuan, tiba-tiba saja muncul seseorang yang bertubuh tinggi, rambut gimbal, berkumis tebal dan brewok. Orang ini berjalan sempoyongan, dengan mata merah, dan bicaranya ngawur. Rupanya orang ini dalam keadaan mabuk. Orang tersebut datang di bale pertemuan dan berkata bahwa anaknya telah meninggal karena muntah berak.

Pemabuk itu kemudian berteriak: “mana Leak Calonarang yang telah memakan anakku, akan aku santap bola matanya mentah-mentah”. Demikian orang tersebut sesumbar dihadapan para sesepuh desa. Ketika setelah mengatakan sesumbar tersebut Si Brewok tiba-tiba saja muntah-muntah tak tertahankan, dan akhirnya tewas di tempat.

Setelah beberapa saat Si Brewok tergeletak, kemudian para tetua desa tersebut menjadi teringat dengan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu ketika di Desa Girah. Mereka baru ingat bahwa Si Brewok inilah yang menjadi biang keladi dari kejadian yang menimpa Diah Ratna Mangali anak si Janda Calonarang.

Bersama-sama dengan orang banyak, Si Brewok ini telah membuat fitnah, bahwa Diah Ratna Mengali bisa ngeleak karena Ibunya Calonarang adalah orang sakti dan bisa ngeleak.

Jangan-jangan hal itu yang menjadi penyebab dari penyakit gerubug yang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kadiri sekarang ini. Karena Calonarang merasa tersinggung dan terhina tidak akan tinggal diam. Mungkin saja ia akan membalas dendam sesuai dengan kemampuannya.

Apalagi Calonarang adalah seorang yang sangat sakti dan memiliki murid yang sangat banyak. Sehingga dengan ilmu yang dimiliki mereka mencoba untuk menghancurkan desa-desa di Kerajaan Kadiri dengan menebar penyakit gerubug. Rupanya mereka yang ada di sana mempunyai pikiran yang sama, dan sepakat untuk segera melaporkan hal tersebut kehadapan Prabu Airlangga.

Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kadiri. Sangat cepat perjalanan mereka, sehingga tidak diceritakan sampailah rombongan tersebut di bencingah atau alun-alun Istana Kerajaan Kadiri. Ketika di Istana rombongan tersebut menyaksikan suatu keadaan yang tenang, damai, dan biasa saja, jauh dari kesusahan, kalau dibandingkan dengan apa yang terjadi di banjar mereka.

Di bencingah puri tampak sekelompok masyarakat yang sedang duduk-duduk di bawah rimbunnya daun beringin yang sangat besar yang tumbuh di becingah, seolah-olah memayungi rakyat Kadiri dari terik sinar matahari.

Bangsingnya atau akarnya yang menjulur sampai menyentuh tanah seolah-olah menjulurkan tangannya untuk menolong rakyat Kadiri yang kesusahan. Mereka seperti biasa sehari-hari bila sedang beristirahat, mengecel atau mengelus ayam aduan.

Di sampingnya tampak berderet ayam aduan dengan beraneka warna, dan mekruyuk atau berkokok saling bersahutan. Disana, ada pula warung kopi, kue-kue, dan sejenisnya.

Rombongan tersebut disapa oleh orang-orang yang ada di bencingah. Mereka kemudian segera masuk ke dalam Istana Raja melalui pemedalan atau pintu keluar candi bentar yang megah, disandingkan dengan bale kulkul yang menjulang tinggi, dan bale bengong yang tampak mempesona, membuat mereka menjadi klangen atau kagum.

Di hulu sebelah timur laut terdapat pemerajan puri atau tempat suci keluarga Raja yang sangat disucikan, dan diluhurkan.

Mereka kemudian menghadap Sang Prabu Airlangga di Bale Penangkilan atau balai penghadapan. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu, rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya menghadap ke Istana.

Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kadiri. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa. Demikian hatur mereka semua kehadapan Sang Prabu. Kemudian Sang Prabu menjawab dengan kata-kata yang agak berat, dan dengan roma muka yang agak tegang ketika itu.

Kalau begitu keadaannya, penyebar gerubug di desa-desa wilayah pesisir tidak lain dan tidak bukan adalah Calonarang. Aku tidak akan meninjau ke desa lagi. Tetapi aku akan segara berupaya untuk menyelesaikan masalah kalian, dan menghadapi Calonarang yang sakti tersebut”.

Pengrusakan dan penyebaran penyakit di desa-desa oleh Calonarang sebenarnya adalah tantangan langsung bagiku sebagai penguasa di Kerajaan Kadiri. Aku akan menghadapi bagaimanapun ririh atau saktinya Calonarang. Calonarang sangat berani kepadaku, dan sangat besar dosanya karena telah membunuh banyak rakyatku yang tidak berdosa. Sangat besar dosanya terhadap kerajaan, sehingga orang tersebut harus mendapatkan ganjaran hukuman yang setimpal”. Demikian sabda Sang Prabu Airlanga.

Sang Prabu juga menyampaikan pesan kepada rombongan Desa Girah sesampai di rumah nanti, beritahukan kepada seluruh rakyatku semuanya. Tenanglah, bersabarlah dan selalulah memuja kebesaran Ida Betara Tri Sakti yang berstana di Pura Kayangan Tiga.

Selalulah berjaga-jaga di perbatasan desa sambil menghidupkan api obor sebagai penerangan dan sekaligus mohon perlindungan kehadapan Hyang Betara Brahma.

Sebelum itu jangan lupa menghaturkan canang atau sesajen di sanggah atau tempat suci keluarga masing-masing agar para leluhur kita juga ikut membantu melindungi dari bahaya ini.

Kemudian mohonlah sesikepan atau sarana magis yang bersarana bawang putih, jangu, benang tri datu, dan pipis bolong, sebagai sarana penolak leak.

Demikian perintah dan sekaligus pesan Raja Kadiri kepada rakyat beliau yang sedang ditimpa bencana gerubug dan salanjutnya para penghadap tersebut diijinkan untuk pamit kembali pulang.

Tidak diceritakan perjalanan mereka, maka sampailah rombongan tersebut di rumah, dan segera memberitahukan apa yang menjadi titah Sang Prabu Airlangga.

Bagaimana nasib si Janda dari Girah selanjutnya. Mohon bersabar menunggu dongeng berikutnya.

Swasti Astu

cantrik bayuaji

Laman: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Telah Terbit on 2 Januari 2012 at 01:25  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jagad-bali/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. Om Swastyastu
    Salam kenal buat Cantrik Bayuaji
    Perkenankan saya Agung Surya dari Bali sekedar ikut urun informasi
    Sepengetahuan saya tentang keberadaan banjar diBali saat ini memang seperti apa yang sudah disampaikan diatas.
    Kalau kita tarik kembali latar belakang berdirinya banjar adalah notabene untuk tempat berkumpul..Di tempat itulah seluruh warga lingkungan berbaris berkumpul yang tujuannya untuk kepentingan kerajaan yang melingkupi banjar-banjar tersebut..Apabila kita telusuri keberadaan banjar-banjar tsb, sebagian besar dekat dengan lingkungan istana, puri, jero (kediaman raja dan keluarga raja dBali).
    Banyaknya keberadaan banjar di dekat lingkungan istana tsb sebagai pembuktian banyaknya klan sebagai rakyat pendukung yang diijinkan Raja untuk membuat wadah banjar yang menampung keluarga dalam satu klan..Ataupun masih bisa bergabung atas dasar senasib sepenanggungan ada juga atas dasar bahwa klan klan dalam satu banjar masih berkaitan/dipersaudarakan..
    Kesimpulannya, keberadaan banjar-banjar tersebut mutlak untuk mendukung istana yang membawahinya..Banjar banjar ini berada dalam lingkup Desa..Desa bertanggung jawab kepada Sira Anglurah yang merupakan pemimpin kerajaan kecil sebagai cabang dr kerajaan/kadipaten.
    setelah memasuki era kemerdekaan NKRI keberadaan kerajaan2
    ini mengalami penyusutan kewibawaaan. Apalagi sedikit demi sedikit kekuasaan seorang raja diambil alih oleh negara..
    Implikasinya terhadap fungsi dan keberadaan banjar pun menjadi berubah menjadi seperti apa yang kita lihat saat ini..
    Demikian, terimakasih..

  2. Keberadaan banjar2 dBali pada masa dahulu bukan untuk urusan sawah..Untuk komunitas berusaha di Bali dari masa dahulu sudah mengenal sistem subak..Entah kapan bermulanya..Terdapat berbagai macam subak a.l: Subak Carik/sawah, Subak Abian, Subak Tegalan, dll..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: