JDBK-02

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 19 Juli 2011 at 06:30  Comments (30)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

30 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah nomer siji tenan opo ora to iki?

    • Wah nomer siji tenan apa ora to iki…?

      mumpung pak Satpam’e ora ana, ya wis tak
      bludhas-bludhus ungak-anguk gandhok.

      Sugeng dalu para kadhang.

      • Wah tenan nomer siji apa ora to iki…?

        mumpung pak Satpam’e ora ana, yaaa wis tak
        bludhas-bludhus ungak-anguk-inguk gandhok.

        Sugeng enjang para kadhang.

        • wah tenan iki…blaik..ndrawasi…katiwasan…..iki ora opo to ?

  2. Bukak gandok langsung comot.
    Monggo kadang sedoyo, mumpung P. Satpam nembe nganglang. he..he

  3. Matur nuwun Ki Seno,
    sampun ngundhuh.

  4. Nuwun
    Sugêng dalu

    Alhamdulillah, Jejak di Balik Kabut mulai diwedar, bahkan sudah dapat langsung dicomot (istilahnya Ki Hongopati) wedaan yang ke-01 dan yang ke-02.

    Bila diwedar setiap tiga hari sekali berarti kurang lebih empat bulan atawa 40 X 3 = 120 hari wedaran. Mengikuti ‘pengumuman’ Ki Panji: “….. meskipun dengan terpaksa sebagaimana dalam NSSI kami mengatur wedaran tiga hari sekali ……”.

    Insya Allah dongeng arkeologi & antropologi pun berlanjut akan tilik sanak sêdulur, sanak kadang, pårå kåncå, dan menyambangi siapa saja yang berkenan dan masih sudi membaca dongeng sejarah untuk ikut serta nguri-nguri sejarah Trah Tanah Nusantara.

    Alhamdulillah pula, beberapa hari lagi kita akan berjumpa bulan suci, bulan mulia Ramadhan 1432H. Kepada Saudara-saudaraku sanak kadang dan pårå sêdulur seiman, kita sambut kedatangan bulan mulia, bulan kemenangan Ramadhan 1432H dengan hati yang tulus.

    Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, berkah kesehatan, kesejahteraan kepada sanak kadang beserta keluarga

    Marhaban ya Ramadhan
    Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1432H
    Mohon Maaf Lahir & Batin

    Ya Allah, berkahi kami di bulan Sya’ban ini, dan sampaikan umur kami ke bulan Ramadhan.
    Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan shalat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan.
    Jangan jadikan puasa kami hanya lapar dan dahaga saja.
    Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka. Aamin.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-15: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-11) Kêris Kyai Någåsåsrå; Kyai Sabuk Intên dan Kyai Condong Campur; Kêris Kajêng Kyai Sêngkêlat. On 25 Juni 2011 at 05:37 NSSI 24

    Wêdaran kaping-16:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-12)

    KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Parwa ke-1]

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Kêris Kyai Någåsåsrå
    • Kêris Kyai Sabuk Intên
    • Kêris Kyai Sêngkêlat
    • Kêris Kyai Condong Campur
    • Kêris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    Ki Dhalang SH Mintardja sudah mentancêp-kayonkan NSSI kaping-29 dengan menyisakan berbagai persoalan yang belum selesai, seperti dikutip pada kalimat-kalimat akhir pada NSSI ke-29 berikut ini:

    Namun ketika Penangsang kembali, Prabasemi tidak turut serta, Tumenggung itu tiba-tiba menghilang. Disadarinya bahwa Karebet telah merebut kemenangannya, dan ia akan mendapat kesusahan karena itu.

    Tetapi persoalan itu tidak akan segera memerlukan tangan Baginda untuk menyelesaikan. Persoalan itu masih akan dapat dirampungkan pada saat-saat mendatang.

    Ya persoalan itu masih ada dan akan dapat dirampungkan pada saat-saat mendatang. Persoalan apa yang dimaksud? Ternyata banyak, sulit dan pelik.

    Sejenak kita kembali ke masa awal perebutan takhta Dêmak Bintårå antara Radén Trenggånå dan Radén Kikin.

    Pati Unus atau Adipati Unus atau dalam kronik Cina disebut Yat Sun, dikenal juga dengan julukan Pangéran Sabrang Lor (? -1521) adalah Sultan ke-2 Kesultanan Dêmak Bintårå, yang memerintah dari tahun 1518 hingga 1521.

    Ia adalah anak sulung Radén Patah, pendiri Kesultanan Dêmak Bintårå, di kota Glagah Wangi.

    Pada tahun 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Pati Unus gugur dalam pertempuran ini.

    Pangéran Sabrang Lor meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan. Kedua adiknya, yaitu Radén Trenggånå dan Radén Kikin, bersaing memperebutkan takhta.

    Radén Trenggånå adalah adik kandung Pangéran Sabrang Lor, sama-sama lahir dari permaisuri Radén Patah; sedangkan Radén Kikin yang lebih tua usianya lahir dari selir, yaitu putri bupati Jipang.

    ***

    [“Legenda Pangéran Sabrang Lor”]

    1. Menurut sebuah riwayat, Ia adalah menantu Radén Patah. Nama asli beliau Radén Abdul Qadir putra Radén Muhammad Yunus dari Jepara. Radén Muhammad Yunus adalah putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus. Mubaligh dan musafir Syekh Khaliqul Idrus. Syekh Khaliqul Idrus. Muballigh dan Musafir besar ini datang dari Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara di awal 1400an masehi.

    2. Menurut naskah Babad Tanah Jawi:
    Pati Unus ugå kasêbut Pangéran Sabrang Lor. Iku putrané Radén Patah utåwå Panêmbahan Jimbun?

    Radén Patah memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah Dewi Murtasih putri Sunan Ampel, menjadi permaisuri utama, melahirkan Radén Surya dan Radén Trenggånå, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangéran Sabrang Lor dan Sultan Trenggånå.

    Istri yang kedua seorang putri dari Randu Sångå, melahirkan Radén Kanduruwan. Radén Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan Trenggånå berjasa menaklukkan Sumenep. Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, melahirkan Radén Kikin dan Ratu Mas Nyåwå.

    3. Kronik Cina hanya menyebutkan dua orang putra kandung Jin Bun (Radén Patah), yaitu Yat Sun dan Tung-ka-lo, yang masing-masing identik dengan Pangéran Sabrang Lor dan Sultan Trenggånå.

    4. Suma Oriental menyebut Pate Rodin memiliki putra yang juga bernama Pate Rodin, dan menantu bernama Pate Unus. Berita versi Portugis ini menyebut Pate Rodin Yunior lebih tua usianya dari pada Pate Unus. Dengan kata lain Sultan Trenggånå disebut sebagai kakak ipar Pangéran Sabrang Lor.

    Mana yang benar: Pangéran Sabrang Lor, anak kadung atau anak menantu Radén Patah? Beberapa penulis sejarah dan penulis kisah fiksi mencoba “meluruskan” sejarah ini, tapi yang terjadi justru “membengkokkan” sejarah. Sumånggå dikaji.

    ***

    Pembunuhan Sunan Prawåtå

    Ketika Pangéran Sabrang Lor meninggal tahun 1521, Radén Kikin dan Radén Trenggånå bersaing memperebutkan takhta. Dalam perasingan ini Radén Mukmin, memihak sang ayah. Ia mengirim pembantunya untuk membunuh Radén Kikin.

    Sejarah kembali berulang. Tidak berbeda dengan ontran-ontran takhta Tumapel Singasari di abad ke-XII. Darah kali ini tumpah di takhta Kesultanan Dêmak Bintårå. Radén Kikin akhirnya mati dibunuh di tepi sungai.

    Sejak saat itu Radén Kikin terkenal dengan sebutan Pangéran Sêkar Séda Lèpèn, dan meninggalkan dua orang putra dari dua orang istri, yang bernama Aryå Pênangsang dan Aryå Mataram.

    Kesultanan Dêmak Bintårå semenjak Sultan Trênggånå mulai pada tahun 1521 M, terus menerus harus melakukan aksi militer demi untuk mempertahankan eksistensi Kesultanan Islam Jawa sekaligus untuk kembali memasukkan wilayah-wilayah bekas Kerajaan Majapahit diseluruh Jawa.

    Terpicu melihat keberhasilan Kesultanan Cirebon mampu menghancurkan Pajajaran dengan bantuan militer Dêmak Bintårå, pandangan politik Sultan Trênggånå berubah haluan.

    Kemenangan Cirebon atas sokongan militer Dêmak membuat Sultan Trênggånå menjadi yakin akan kekuatan angkatan bersenjatanya. Maka berturut-turut, Dêmak mengadakan agresi militer ke Jawa bagian timur dimana sisa-sisa bangsawan Majapahit masih punya daerah kekuasan dan mendominasi disana.

    Satu demi satu, daerah-daerah di wilayah Jawa bagian timur, ditundukkan dengan kekuatan bersenjata. Kekuasaan Dêmak Bintårå semakin melebar dan meluas kearah timur pulau Jawa.

    Semenjak tahun 1527, peperangan demi peperangan terus terjadi. Hingga pada tahun 1546, ketika Sultan Trênggånå memimpin sendiri peperangan di wilayah Panarukan Situbondo Jawa Timur, Sultan Trênggånå tewas.

    Kabar kematian Sultan Trênggånå mengguncangkan ibu kota Dêmak. Agresi militer yang bertujuan untuk menguasai wilayah Panarukan dan selanjutnya Banyuwangi, gagal.

    Konon menurut cerita tutur, kematian Sultan Trênggånå tidak terjadi di medan laga. Namun terjadi dikala Sultan Trênggånå tengah menerima delegasi para bangsawan dari daerah taklukan baru.

    Konon ketika pertemuan terjadi, Sultan Trênggånå menyuruh salah seorang bangsawan mengambilkan bahan-bahan untuk mengunyah sirih yang terletak tak jauh dimeja perjamuan.

    Bangsawan Jawa Timur yang disuruh merasa tersinggung. Walaupun daerah kekuasaannya telah mengakui kalah dan tunduk kepada Dêmak, namun tidak seharusnya Sultan memerintah dia mengambilkan bahan-bahan untuk mengunyah sirih.

    Bagaimanapun juga, dia tetap seorang bangsawan. Masih banyak abdi dalem atau pelayan Sultan yang patut disuruh untuk itu.

    Tapi dengan berpura-pura memenuhi permintaan Sultan, bangsawan ini mendekati tempat duduk Sultan. Begitu sudah dekat, dihunusnya keris dan ditusukkannya ke tubuh Sultan Trênggånå.

    Sultan Trênggånå tewas seketika ditempat perjamuan. Dan bangsawan yang nekad membunuh Sultan Trênggånå berikut pengikutnya, dijatuhi hukuman mati.

    Kabar tewasnya Sultan Trênggånå di Panarukan mengguncangkan Dêmak Bintårå. Jenazah Sultan Trênggånå setelah diberi rempah-rempah agar tidak cepat membusuk, dibawa pulang ke ibu kota Dêmak melalui jalur laut.

    Dêmak Bintårå berkabung. Tak kurang, seluruh putra laki-laki Radén Patah, mulai yang sulung Adipati Yunus atau Pangéran Sabrang Lor, Pangéran Suryåwiyåtå atau Pangéran Sêkar Séda Lèpèn, dan kini Pangéran Trênggånå atau Sultan Trênggånå, semua meninggal karena terbunuh.

    Kasak-kusuk beredar di tengah masyarakat Jawa, bahwa trah Dêmak memang tengah mendapat kutukan dari para leluhur tanah Jawa.

    Dengan wafatnya Sultan Trênggånå, maka secepatnya diangkatlah penggantinya. Dan putra sulung Sultan Trênggånå, yaitu Radén Mukmin, yang memiliki cacat mata, buta.

    Konon hal ini karena kutukan Pangéran Suryåwiyåtå, pamannya sendiri. Pangéran Prawåtå disaat mudanya membunuh pamannya itu terkait pemberontakan yang dia lakukan. Radén Mukmin terpilih, dan dikukuhkan sebagai Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen Ningrat IV.

    Selain Sunan Prawåtå terdapat dua orang lagi tokoh kuat, yaitu Aryå Pênangsang bupati Jipang dan Mas Karèbét Djåkå Tingkir Hadiwidjåjå bupati Pajang. Masing-masing adalah keponakan dan menantu Sultan Trênggånå

    Sunan Prawåtå berambisi untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan Pulau Jawa. Namun, keterampilan berpolitiknya tidak begitu baik, dan ia lebih suka hidup sebagai seorang agamawan daripada sebagai raja.

    Radén Mukmin memindahkan pusat pemerintahan dari kota Glagah Wangi yang sudah berganti nama Dêmak Bintårå menuju bukit Prawåtå. Lokasinya saat ini kira-kira adalah desa Prawåtå, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

    Oleh karena itu, Radén Mukmin pun terkenal dengan nama Pangéran Prawåtå disebut juga Sunan Prawåtå.

    Sunan Prawåtå berencana untuk mengislamkan seluruh Pulau Jawa, serta ingin berkuasa seperti sultan Turki. Sunan Prawåtå juga berniat menutup jalur beras ke Malaka dan menaklukkan Makasar. Akan tetapi, rencana itu batal.

    Cita-cita Sunan Prawåtå pada kenyataannya tidak pernah terlaksana. Ia lebih sibuk sebagai ahli agama dari pada mempertahankan kekuasaannya.

    Satu per satu daerah bawahan, seperti Banten, Cerbon (Cirebon), Surabaya dan Gresik, berkembang bebas; sedangkan Kesultanan Dêmak Bintårå tidak mampu menghalanginya.

    Sosok Pangéran Prawåtå atau Sunan Prawåtå, juga tidaklah begitu popular dimata para bangsawan Dêmak Bintårå. Diam-diam, di dalam tubuh pemerintahan dan jajaran ketentaraan Dêmak, sudah terpecah dalam dua kubu.

    Kubu pertama mendukung Aryå Pênangsang dengan Jipang Panolannya, dibalik itu ikut berperan Sunan Kudus. Sedangkan kubu kedua mendukung Djåkå Tingkir atau Adipati Hadiwijåyå dengan Pajangnya.

    Aryå Pênangsang adalah putra Pangéran Sêkar Séda ing Lèpèn yang mendapat dukungan dari gurunya, yaitu Sunan Kudus untuk merebut takhta Dêmak Bintårå. Pada tahun 1549 ia membalas kematian ayahnya.

    Menurut Babad Tanah Jawi:

    putrané Pangéran Sêkar Séda Lèpèn kang asmå Aryå Pênangsang arêp malêsaké sédané kêng råmå. Sakawit Aryå Pênangsang nyédani Pangéran Mukmin sagarwané

    Pendukung Sunan Kudus adalah mereka-mereka yang berhaluan keras. Sedangkan pendukung Djåkå Tingkir adalah mereka-mereka yang dulu memberikan dukungan kepada Sultan Trênggånå ditambah sisa-sisa lasykar Majapahit yang berkedudukan di Jawa bagian tengah. Para lasykar ini merapatkan barisan dibelakang Djåkå Tingkir, putra Ki Agêng Pêngging.

    Dipihak Sunan Kudus, Aryå Pênangsang, putra Pangéran Suryåwiyåtå, telah ditampilkan sebagai pemimpin kubu lawan. Aryå Pênangsang yang masih berusia 26 tahun saat itu, tumbuh menjadi sosok pemuda, yang terkenal keras perangainya.

    Begitu Sunan Prawåtå dikukuhkan sebagai Sultan Dêmak IV, tampuk pemerintahan Jipang Panolan yang telah kosong untuk beberapa tahun semenjak pemberontakan Pangéran Suryåwiyåtå yang menemui kegagalan, tanpa persetujuan Sultan Dêmak, Aryå Pênangsang langsung dikukuhkan sebagai Adipati Jipang Panolan.

    Peristiwa penobatan ini mengejutkan pihak yang berseberangan dengan Jipang Panolan dan sekutu-sekutunya. Tak urung, Djåkå Tingkir atau Adipati Hadiwijåyå didukung beberapa Adipati yang sehaluan dengannya, menyarankan kepada Sultan Dêmak IV untuk segera mengambil tindakan tegas.

    Jipang Panolan adalah wilayah Dêmak Bintårå, tidak sepatutnya terjadi pengangkatan seorang Adipati tanpa persetujuan Sultan Dêmak sendiri.

    Situasi tata-kenegaraan Dêmak Bintårå mulai memanas. Manakala Sultan Dêmak IV sudah berencana melepas jabatan Aryå Pênangsang sebagai Adipati dan hendak menggantikannya dengan seorang pejabat lain, terdengar kabar yang sangat mengejutkan,

    Pada suatu malam utusan Aryå Pênangsang berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan Prawåtå. Sunan yang mengakui kesalahannya telah membunuh Pangéran Seda Lepen.

    Ia rela dihukum mati asalkan keluarganya diampuni. Utusan itu lalu menikam dada Sunan Prawåtå yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus. Ternyata istri Sunan yang sedang berlindung di balik punggungnya ikut tewas pula. Melihat istrinya meninggal,

    Sunan Prawåtå marah dan sempat membunuh utuisan itu dengan sisa-sisa tenaganya. Sultan Dêmak IV atau Sunan Prawåtå, tewas terbunuh berikut sang permaisuri.

    Dêmak Bintårå terguncang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, selain jenazah Sultan dan permaisuri, ditempat kejadian juga terdapat jenazah seorang laki-laki misterius dengan sebilah keris menancap didadanya dan keris tersebut tak lain adalah Kêris Kyai Brongot Sétan Kobér, pusaka milik Sunan Kudus.

    Tidak ada saksi mata lain saat peristiwa berdarah itu terjadi kecuali sosok Aryå Pangiri, putra Sultan yang masih kecil. Aryå Pangiri selamat karena dia bersembunyi dilongan sewaktu peristiwa itu terjadi.

    Sultan Dêmak, sang permaisuri berikut putranya Aryå Pangiri sebenarnya adalah sasaran pembunuhan. Tapi, Aryå Pangiri berhasil lolos dari maut.

    Ratu Kalinyamat, bibi Aryå Pangiri, adik Sultan Dêmak IV segera membawa Aryå Pangiri secepatnya ke Jepara. Keselamatan Aryå Pangiri tengah terancam dan Ratu Kalinyamat tahu betul siapa dalang dibalik pembunuhan keluarga Sultan Dêmak, kakaknya itu.

    Ratu Kalinyamat diam-diam juga membawa Kêris Kyai Brongot Sétan Kobér yang menancap ditubuh jenazah misterius yang dapat dipastikan adalah salah seorang pembunuh Sultan Dêmak berikut permaisuri.

    Ratu Kalinyamat bertindak cepat. Dia tahu, di istana Dêmak dan di tubuh jajaran ketentaraan Dêmak, sudah berkeliaran kaki-tangan Jipang Panolan. Sebelum bukti pembunuhan tersebut dihilangkan oleh mereka-mereka yang sehaluan Jipang Panolan, Ratu Kalinyamat mengamankannya terlebih dahulu.

    Tidak ada orang lain lagi yang memiliki Kêris Kyai Brongot Sétan Kobér kecuali Sunan Kudus. Dan konon kabarnya, keris ini telah diwariskan kepada Aryå Pênangsang begitu dia dikukuhkan secara sepihak sebagai Adipati Jipang Panolan.

    Menurut kesaksian Aryå Pangiri, pada malam itu dia tengah tidur bersama ayah dan ibunya. Tapi mendadak, dia dibangunkan oleh ibunya ditengah-tengah tidur pulasnya.

    Dia disuruh masuk longan dan diperintahkan tidak boleh keluar dan tidak boleh bersuara sedikitpun.

    Aryå Pangiri yang masih kecil dan penasaran di tengah ketercekamannya mencoba mengintip apa yang tengah terjadi. Dia melihat dua orang masuk ke kamar ayahnya melalui pintu kamar setelah mendobraknya.

    Aryå Pangiri tahu, ada beberapa orang lagi yang tengah berada di luar kamar dan tidak ikut masuk.

    Terjadi percakapan antara ayahnya dan salah seorang penyusup. Percakapan yang sempat didengar oleh Aryå Pangiri adalah jawaban dari ayahnya: “Bunuhlah aku. Akulah yang bertanggung jawab atas kematian paman Suryåwiyåtå. Tapi jangan kalian ikut sertakan istriku.

    Setelah itu Aryå Pangiri mendengar suara gaduh dan jeritan dari ayah dan ibunya hamper bersamaan. Kemudian terdengar suara ayahnya berteriak: “Mengapa kamu ikut sertakan istriku.
    Suara gaduh terdengar kembali, diiringi erangan kesakitan. Kemudian lengang.

    Aryå Pangiri yang ketakutan baru berani keluar setelah prajurit Dêmak mengeluarkanya dari bawah kolong ranjang. Dan begitu melihat apa yang sebenarnya terjadi, maka Aryå Pangiri menangis sejadi-jadinya.

    Di atas ranjang, ayahnya tengah rebah kebelakang dalam posisi bersila, dan tepat di belakang ayahnya, ibunya tengah rebah. Keduanya bermandikan darah.

    Dari posisi kematian Sultan dan permaisuri, jelas terlihat, Sultan ditusuk keris hingga tembus punggung. Dan keris itu menghunjam pula ke tubuh permaisuri yang tengah merapatkan tubuhnya ke punggung Sultan.

    Jelas, sang permaisuri menyengaja untuk ikut mati bersama-sama dengan suaminya.

    Sedangkan jenazah laki-laki misterius yang terkapar tak jauh dari pintu kamar, diduga tewas akibat lemparan keris yang dilakukan oleh Sultan sebelum menghembuskan nafas yang terakhir.

    Betapa kuatnya Sultan, dia menarik keris yang menancap di dadanya lalu melemparkannya tepat kepada salah seorang penyusup. Ditambah lagi dengan kondisi cacat mata, jelas Sultan Dêmak IV, bukan orang sembarangan.

    Mendengar penuturan Aryå Pangiri dan melihat bukti-bukti yang ada, Ratu Kalinyamat menyimpulkan, Sunan Kudus dan Aryå Pênangsang adalah sosok yang harus bertanggung jawab atas peristiwa pembunuhan itu.

    Para penyusup yang telah berhasil membunuh Sultan beserta permaisuri, adalah salah seorang pasukan khusus Jipang Panolan yang dikenal dengan nama Pasukan Surèng. Pasukan yang dilatih khusus untuk menyusup dan melakukan operasi pembunuhan.

    Pasukan ini memang sudah didengar oleh beberapa kalangan pejabat di Dêmak Bintårå. Dan kini, kehebatan pasukan ini telah terbukti.

    Ratu Kalinyamat segera mengambil tindakan tegas. Dia langsung mengukuhkan suaminya, Pangéran Hadiri atau Sunan Kalinyamat sebagai Sultan Dêmak V.

    Tindakan ini diambil karena dalam hukum yang dipakai pemerintahan Dêmak Bintårå, seorang wanita diharamkan memimpin suatu pemerintahan.

    Situasi negara Dêmak semakin memanas. Di pihak Pajang, persiapanpun dilakukan. Karena sudah jelas, pihak Jipang Panolan sudah berani memulai aksinya.

    Bahkan terdengar kabar, beberapa daerah telah diserang oleh Jipang Panolan. Dan daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan, dimasukkan ke wilayah Jipang Panolan.

    Jipang Panolan rupanya sudah siap untuk mendirikan sebuah Kesultanan baru yang lepas dari Kesultanan Dêmak Bintårå.

    Pembunuhan Sunan Kalinyamat

    Setelah mengadakan musyawarah dengan para pembesar Kesultanan, Ratu Kalinyamat beserta suaminya, Sunan Kalinyamat memutuskan untuk datang bertandang ke Pesantren Kudus.

    Sunan Kudus memang masih menjabat sebagai salah seorang Penasehat Agung Kesultanan Dêmak. Jabatan ini bermakna politis.

    Namun disamping itu, sudah diketahui umum bahwa Sunan Kuduspun adalah seorang pemimpin Pesantren yang memiliki banyak santri. Dia dianggap sebagai seorang sesepuh dan dituakan.

    Sebagai seorang penasehat, kedudukan Sunan Kudus memang masih dibawah kedudukan Sultan Dêmak, tapi kedudukannya sebagai seorang pemimpin Pesantren yang berbasiskan moral, maka dia dianggap sebagai seorang Guru. Seseorang yang patut dipatuhi dan patut dijadikan suri tauladan.

    Oleh karena itulah, sengaja Sultan Dêmak V atau Sunan Kalinyamat beserta Ratu Kalinyamat, menyengaja datang sendiri ke Pesantren Kudus. Ini dimaksudkan, kedatangan mereka berdua lepas dari tata-aturan sebuah pemerintahan.

    Sultan Dêmak V beserta istri datang ke Pesantren Kudus sebagai seorang santri yang tengah menghadap Gurunya, walaupun mereka bukan santri langsung Pesantren Kudus.

    Kedatangan rombongan Sultan Dêmak V mengejutkan seisi Pesantren Kudus. Mau tidak mau, walaupun kedatangan Sultan Dêmak V dan Ratu Kalinyamat bukanlah atas nama Kesultanan namun atas nama pribadi, tetap saja, kedatangan mereka disambut dengan upacara yang selayaknya diterima oleh seorang Sultan.

    Tepat pada waktu itu, banyak terlihat pasukan Jipang Panolan tengah berada disana. Baik Sultan Dêmak V maupun Ratu Kalinyamat, melihat itu.

    Para pasukan Jipang tidak satupun yang ikut melakukan penyambutan. Di sudut halaman Pesantren, terlihat sebuah kuda berbulu hitam yang berhiaskan perhiasan-perhiasan indah.

    Ratu Kalinyamat tahu, itu adalah kuda kesayangan Aryå Pênangsang yang dikenal dengan nama Kyai Gagak Rimang.
    Berarti, saat ini, Aryå Pênangsang juga tengah bertandang ke Pesantren Kudus.

    Situasi yang agak tidak menyenangkan terjadi antara pasukan Dêmak dan pasukan Jipang. Ratu Kalinyamat segera memerintahkan pemimpin pasukan agar memastikan, mengambil tempat terpisah dengan pasukan Jipang dan jangan mengambil tindakan apapun jika tidak ada perintah darinya.

    Sunan Kudus beserta istri dan keluarga, menyambut kedatangan Sultan Dêmak V atau Sunan Kalinyamat beserta istri, Ratu Kalinyamat. Mereka berdua diterima di pendopo.

    Namun, tak tampak Aryå Pênangsang ikut menyambut kedatangan Sultan. Menyadari akan hal itu, Ratu Kalinyamat benar-benar merasa diremehkan dan ditantang.

    Sultan Dêmak V beserta Ratu Kalinyamat memohon kepada Sunan Kudus agar bisa berbicara bertiga. Sunan Kudus mengabulkan.

    Dan mereka akhirnya menuju ruang dalam bertiga.
    Setelah berbasa-basi berbagi keselamatan, maka Ratu Kalinyamatpun segera menyampaikan maksud kedatangan mereka:

    Bapa Sunan, kedatangan kami kemari sesungguhnya ibarat kedatangan seorang santri kepada Gurunya. Walaupun kami bukan murid resmi Pesantren Kudus, namun secara tidak langsung, kami menghargai Bapa Sunan sebagai Guru kami pula.

    Sejenak Ratu Kalinyamat diam, kemudian: “Dan, kami memandang Bapa Sunan adalah panutan kami, sosok yang memberikan suri tauladan bagi kami. Jadi, sekiranya kami meminta keadilan kepada Bapa Sunan, bukankah itu juga sudah sewajarnya?

    Sunan Kudus tersenyum, dan menjawab: “Memberikan keadilan adalah kewajiban seorang Sultan. Aku bukan seorang Sultan, anakmas Sunan Kalinyamatlah seorang Sultan. Dia yang seharusnya berhak memberikan keadilan.

    Ratu Kalinyamat tersenyum, dan berkata: “Bukan keadilan dari seorang Sultan yang tengah kami harapkan, tapi keadilan dari seorang Guru kepada muridnya yang telah berbuat dosa.
    Sunan Kudus terdiam.

    Ratu Kalinyamat mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus kain putih dari dalam peti kayu berukir yang dia bawa. Benda terbungkus kain putih tersebut dipegangnya dengan tangan kanan, lalu dibuka penutup kainnya. Sunan Kudus memincingkan mata melihat isi di dalam bungkusan kain putih tersebut.

    Dan Ratu Kalinyamat kembali berkata: “Kami tahu pemilik benda ini kini tengah bersembunyi bagai seorang pengecut diruang belakang Pesantren. Kami meminta keadilan Bapa Sunan kepada pemilik benda ini. Pastinya, Bapa Sunan mengerti apa maksud kami.” Tegas suara Ratu Kalinyamat.

    Sunan Kudus menarik nafas. Dilihatnya benda yang ditunjukkan oleh Ratu Kalinyamat tak lain adalah Kêris Kyai Brongot Sétan Kobér. Keris pusaka miliknya yang kini telah diwariskan kepada Aryå Pênangsang.

    Saya bukan seorang Sultan….” Sunan Kudus tiba-tiba berkata.
    Keadilan dari seorang Guru. Bukan dari seorang Sultan”, potong Ratu Kalinyamat berani. Kembali Sunan Kudus terdiam.

    Dan pada akhirnya, Sunan Kudus menyanggupi untuk memberikan keadilan kepada Aryå Pênangsang. Namun memberikan sebuah keadilan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

    Sunan Kudus menjanjikan, tujuh hari lagi, Sunan Kudus akan menyerahkan Aryå Pênangsang ke Dêmak untuk menerima hukuman qisas atau hukum mati pancung kepala jika memang terbukti Aryå Pênangsang adalah dalang pembunuhan Sultan Dêmak IV atau Sunan Prawåtå.

    Ratu Kalinyamat maupun Sunan Kalinyamat, walaupun meragukan kesungguhan Sunan Kudus, terpaksa menerima janji tersebut. Dan keduanya akhirnya mohon diri.

    Begitu Ratu Kalinyamat dan Sunan Kalinyamat telah meninggalkan Pesantren Kudus, Aryå Pênangsang menghadap Sunan Kudus. Dia menanyakan kebenaran janji yang telah diucapkan Sunan Kudus.

    Dan Sunan Kudus berkata: “Menurut hukum syariat, jika terjadi pembunuhan, dan keluarga korban menuntut, maka tidak ada alasan untuk menolak pelaksanaan hukum qisas atau pancung kepala. Kecuali keluarga korban mau menerima diyat atau harta pengganti dari sang pembunuh sebagai wujud perdamaian antara kedua belah pihak.

    Aryå Pênangsang menukas: “Dan tidak mungkin Nimas Kalinyamat mau menerima diyat dari saya. Maka sekalian, untuk menyingkirkan lawan-lawan saya sekaligus menghindari jatuhnya hukuman mati kepada saya, maka akan saya bungkam mulut Nimas Kalinyamat untuk selamanya agar tidak bisa menuntut saya lagi.

    Sunan Kudus terdiam. Lalu berkata: “Terserah kamu. Tapi harus dilakukan di luar wilayah Kudus.

    Aryå Pênangsang menyembah kemudian bergegas keluar menemui Patih Matahun, Patih sepuh Jipang Panolan. Aryå Pênangsang memerintahkan, melakukan penghadangan rombongan Sultan Dêmak V. Dan perintah utamanya adalah membunuh Sunan Kalinyamat dan istrinya.

    Setelah menerima perintah, Patih Matahun segera menyiapkan seluruh pasukan Jipang Panolan. Tidak memakan waktu lama, pasukan Jipang Panolan segera berangkat.

    Kuda-kuda digebrak nyalang menimbulkan bunyi ringkikan riuh rendah bercampur teriakan-teriakan perintah. Pasukan Jipang, bergerak menyusul rombongan Sultan Dêmak V. Tujuannya jelas menyingkirkan Sunan Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat saat itu juga.

    Kembali, darah akan tertumpah di bumi Jawa.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Walah….,ada bold lagi.
      Lagi-lagi bold.

      Nyuwun pangapuntên Ki Arema.
      Sugêng “mewakili” Ki Panji Satria Pamedar

      • hikss….
        mboten menapa-menapa Ki Bayu
        lha nggih lumrah kemawon menawi kadang-kadang kesupen.
        sekedap…, menuju TKP (kata P. Satpam)

        • sampun mboten mblobor malih Ki

          • Matur sangêt ing panuwun

          • ngapunten ki SENO,

            cantrik ndherek mbLOBORi gandok mriki

  5. selamat PAGI ki SENO, ki Bayuaji, ki Gembleh
    ki Honggo…..kisanak-nisanak sedaya.

    selamat berLIBUR,

    • matur nuwun rontal mpun cantrik inGUK,

      • SFBDBS-03,

        “komentar ditutup”…..mohon pencerahan ki…!!??

  6. Disini, dua rontal langsung di kempittt
    Ciatttt……..mo naik panggung SFBDBS03 pintu gerbangnya ditutup…….

    • betol pak DALANGe…..malah arep koment
      ning SFBDBS-03 ora iso,

      kenapa eeh kenapa (pake gaya bang haji)

      • apa ni SINDEN nesu….trus puRIK,

        lawange dikunci…!!??

  7. Matur nuwun Ki Bayuaji, dongeng selinganipun.
    Sugeng dalu

  8. ingak inguk gandhok,
    thingak thinguk
    plirak plirik
    tolah toleh
    wah…mumpung gak enek pak Satpam’e
    mak brebet…..nyaut dongeng arkeologi Ki Bayu.

    Matur nuwun Ki Bayu,
    matur nuwun Ki Seno,
    sugeng dalu.

  9. sugeng enjang kadang padepokan SENGKALING

    • selamat berTUGAS pak Satpem-E

      • selamat berTUGAS kembali (pjs) ki SENO-ne

  10. selamat sore semuanya, matur nuwun paklik satpam, dan ki Bayu

  11. nunut ngaso …… maturnuwun

  12. kunci lawang ngarep SFBDBS-03 kesenggOL
    ki SENOPATI

    cantrik hora iso komen meneh…..hikss-hikss

  13. eh iya , komena dah dibuka …… nuwun njih dik satpam🙂

  14. eh paksi, kopimiksna dah diminum blum?🙂

    waaah paksi dah mulai nyium jejak cincin yg ilang yah🙂 …. semangat ya paksi, smg cpt ketemu🙂

    eh muncul tokoh misterius yg suka nolongin paksi, ……….. nitip paksi ya ki sanak🙂

  15. waduuuh gandok 3 jg dah ditutup😦


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: