JDBK-02

🙂

Sugeng enjing Ki/Nyi/Ni sanak

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 19 Juli 2011 at 06:30  Comments (30)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-02/trackback/

RSS feed for comments on this post.

30 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wah nomer siji tenan opo ora to iki?

    • Wah nomer siji tenan apa ora to iki…?

      mumpung pak Satpam’e ora ana, ya wis tak
      bludhas-bludhus ungak-anguk gandhok.

      Sugeng dalu para kadhang.

      • Wah tenan nomer siji apa ora to iki
?

        mumpung pak Satpam’e ora ana, yaaa wis tak
        bludhas-bludhus ungak-anguk-inguk gandhok.

        Sugeng enjang para kadhang.

        • wah tenan iki…blaik..ndrawasi…katiwasan…..iki ora opo to ?

  2. Bukak gandok langsung comot.
    Monggo kadang sedoyo, mumpung P. Satpam nembe nganglang. he..he

  3. Matur nuwun Ki Seno,
    sampun ngundhuh.

  4. Nuwun
    SugĂȘng dalu

    Alhamdulillah, Jejak di Balik Kabut mulai diwedar, bahkan sudah dapat langsung dicomot (istilahnya Ki Hongopati) wedaan yang ke-01 dan yang ke-02.

    Bila diwedar setiap tiga hari sekali berarti kurang lebih empat bulan atawa 40 X 3 = 120 hari wedaran. Mengikuti ‘pengumuman’ Ki Panji: “
.. meskipun dengan terpaksa sebagaimana dalam NSSI kami mengatur wedaran tiga hari sekali 

”.

    Insya Allah dongeng arkeologi & antropologi pun berlanjut akan tilik sanak sĂȘdulur, sanak kadang, pĂ„rĂ„ kĂ„ncĂ„, dan menyambangi siapa saja yang berkenan dan masih sudi membaca dongeng sejarah untuk ikut serta nguri-nguri sejarah Trah Tanah Nusantara.

    Alhamdulillah pula, beberapa hari lagi kita akan berjumpa bulan suci, bulan mulia Ramadhan 1432H. Kepada Saudara-saudaraku sanak kadang dan pĂ„rĂ„ sĂȘdulur seiman, kita sambut kedatangan bulan mulia, bulan kemenangan Ramadhan 1432H dengan hati yang tulus.

    Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat, berkah kesehatan, kesejahteraan kepada sanak kadang beserta keluarga

    Marhaban ya Ramadhan
    Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1432H
    Mohon Maaf Lahir & Batin

    Ya Allah, berkahi kami di bulan Sya’ban ini, dan sampaikan umur kami ke bulan Ramadhan.
    Bantulah kami untuk melaksanakan puasa, melakukan shalat malam, menjaga lisan dan memelihara pandangan.
    Jangan jadikan puasa kami hanya lapar dan dahaga saja.
    Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka. Aamin.

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-15: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-11) KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„; Kyai Sabuk IntĂȘn dan Kyai Condong Campur; KĂȘris KajĂȘng Kyai SĂȘngkĂȘlat. On 25 Juni 2011 at 05:37 NSSI 24

    WĂȘdaran kaping-16:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-12)

    KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Parwa ke-1]

    Keris legendaris:
    ‱ Keris Mpu Gandring
    ‱ KĂȘris Kyai NĂ„gĂ„sĂ„srĂ„
    ‱ KĂȘris Kyai Sabuk IntĂȘn
    ‱ KĂȘris Kyai SĂȘngkĂȘlat
    ‱ KĂȘris Kyai Condong Campur
    ‱ KĂȘris Kyai Carubuk
    ‱ Keris “Pusaka” SĂ©tan KobĂȘr

    Ki Dhalang SH Mintardja sudah mentancĂȘp-kayonkan NSSI kaping-29 dengan menyisakan berbagai persoalan yang belum selesai, seperti dikutip pada kalimat-kalimat akhir pada NSSI ke-29 berikut ini:

    “Namun ketika Penangsang kembali, Prabasemi tidak turut serta, Tumenggung itu tiba-tiba menghilang. Disadarinya bahwa Karebet telah merebut kemenangannya, dan ia akan mendapat kesusahan karena itu.

    Tetapi persoalan itu tidak akan segera memerlukan tangan Baginda untuk menyelesaikan. Persoalan itu masih akan dapat dirampungkan pada saat-saat mendatang.

    Ya persoalan itu masih ada dan akan dapat dirampungkan pada saat-saat mendatang. Persoalan apa yang dimaksud? Ternyata banyak, sulit dan pelik.

    Sejenak kita kembali ke masa awal perebutan takhta DĂȘmak BintĂ„rĂ„ antara RadĂ©n TrenggĂ„nĂ„ dan RadĂ©n Kikin.

    Pati Unus atau Adipati Unus atau dalam kronik Cina disebut Yat Sun, dikenal juga dengan julukan PangĂ©ran Sabrang Lor (? -1521) adalah Sultan ke-2 Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„, yang memerintah dari tahun 1518 hingga 1521.

    Ia adalah anak sulung RadĂ©n Patah, pendiri Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„, di kota Glagah Wangi.

    Pada tahun 1521, Pati Unus memimpin penyerbuan ke Malaka melawan pendudukan Portugis. Pati Unus gugur dalam pertempuran ini.

    Pangéran Sabrang Lor meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan. Kedua adiknya, yaitu Radén TrenggÄnÄ dan Radén Kikin, bersaing memperebutkan takhta.

    Radén TrenggÄnÄ adalah adik kandung Pangéran Sabrang Lor, sama-sama lahir dari permaisuri Radén Patah; sedangkan Radén Kikin yang lebih tua usianya lahir dari selir, yaitu putri bupati Jipang.

    ***

    [“Legenda PangĂ©ran Sabrang Lor”]

    1. Menurut sebuah riwayat, Ia adalah menantu Radén Patah. Nama asli beliau Radén Abdul Qadir putra Radén Muhammad Yunus dari Jepara. Radén Muhammad Yunus adalah putra seorang Muballigh pendatang dari Parsi yang dikenal dengan sebutan Syekh Khaliqul Idrus. Mubaligh dan musafir Syekh Khaliqul Idrus. Syekh Khaliqul Idrus. Muballigh dan Musafir besar ini datang dari Parsi ke tanah Jawa mendarat dan menetap di Jepara di awal 1400an masehi.

    2. Menurut naskah Babad Tanah Jawi:
    Pati Unus ugĂ„ kasĂȘbut PangĂ©ran Sabrang Lor. Iku putranĂ© RadĂ©n Patah utĂ„wĂ„ PanĂȘmbahan Jimbun?

    Radén Patah memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah Dewi Murtasih putri Sunan Ampel, menjadi permaisuri utama, melahirkan Radén Surya dan Radén TrenggÄnÄ, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangéran Sabrang Lor dan Sultan TrenggÄnÄ.

    Istri yang kedua seorang putri dari Randu SÄngÄ, melahirkan Radén Kanduruwan. Radén Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan TrenggÄnÄ berjasa menaklukkan Sumenep. Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, melahirkan Radén Kikin dan Ratu Mas NyÄwÄ.

    3. Kronik Cina hanya menyebutkan dua orang putra kandung Jin Bun (Radén Patah), yaitu Yat Sun dan Tung-ka-lo, yang masing-masing identik dengan Pangéran Sabrang Lor dan Sultan TrenggÄnÄ.

    4. Suma Oriental menyebut Pate Rodin memiliki putra yang juga bernama Pate Rodin, dan menantu bernama Pate Unus. Berita versi Portugis ini menyebut Pate Rodin Yunior lebih tua usianya dari pada Pate Unus. Dengan kata lain Sultan TrenggÄnÄ disebut sebagai kakak ipar Pangéran Sabrang Lor.

    Mana yang benar: PangĂ©ran Sabrang Lor, anak kadung atau anak menantu RadĂ©n Patah? Beberapa penulis sejarah dan penulis kisah fiksi mencoba “meluruskan” sejarah ini, tapi yang terjadi justru “membengkokkan” sejarah. SumĂ„nggĂ„ dikaji.

    ***

    Pembunuhan Sunan PrawÄtÄ

    Ketika Pangéran Sabrang Lor meninggal tahun 1521, Radén Kikin dan Radén TrenggÄnÄ bersaing memperebutkan takhta. Dalam perasingan ini Radén Mukmin, memihak sang ayah. Ia mengirim pembantunya untuk membunuh Radén Kikin.

    Sejarah kembali berulang. Tidak berbeda dengan ontran-ontran takhta Tumapel Singasari di abad ke-XII. Darah kali ini tumpah di takhta Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„. RadĂ©n Kikin akhirnya mati dibunuh di tepi sungai.

    Sejak saat itu RadĂ©n Kikin terkenal dengan sebutan PangĂ©ran SĂȘkar SĂ©da LĂšpĂšn, dan meninggalkan dua orang putra dari dua orang istri, yang bernama AryĂ„ PĂȘnangsang dan AryĂ„ Mataram.

    Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„ semenjak Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ mulai pada tahun 1521 M, terus menerus harus melakukan aksi militer demi untuk mempertahankan eksistensi Kesultanan Islam Jawa sekaligus untuk kembali memasukkan wilayah-wilayah bekas Kerajaan Majapahit diseluruh Jawa.

    Terpicu melihat keberhasilan Kesultanan Cirebon mampu menghancurkan Pajajaran dengan bantuan militer DĂȘmak BintĂ„rĂ„, pandangan politik Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ berubah haluan.

    Kemenangan Cirebon atas sokongan militer DĂȘmak membuat Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ menjadi yakin akan kekuatan angkatan bersenjatanya. Maka berturut-turut, DĂȘmak mengadakan agresi militer ke Jawa bagian timur dimana sisa-sisa bangsawan Majapahit masih punya daerah kekuasan dan mendominasi disana.

    Satu demi satu, daerah-daerah di wilayah Jawa bagian timur, ditundukkan dengan kekuatan bersenjata. Kekuasaan DĂȘmak BintĂ„rĂ„ semakin melebar dan meluas kearah timur pulau Jawa.

    Semenjak tahun 1527, peperangan demi peperangan terus terjadi. Hingga pada tahun 1546, ketika Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ memimpin sendiri peperangan di wilayah Panarukan Situbondo Jawa Timur, Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ tewas.

    Kabar kematian Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ mengguncangkan ibu kota DĂȘmak. Agresi militer yang bertujuan untuk menguasai wilayah Panarukan dan selanjutnya Banyuwangi, gagal.

    Konon menurut cerita tutur, kematian Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ tidak terjadi di medan laga. Namun terjadi dikala Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ tengah menerima delegasi para bangsawan dari daerah taklukan baru.

    Konon ketika pertemuan terjadi, Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ menyuruh salah seorang bangsawan mengambilkan bahan-bahan untuk mengunyah sirih yang terletak tak jauh dimeja perjamuan.

    Bangsawan Jawa Timur yang disuruh merasa tersinggung. Walaupun daerah kekuasaannya telah mengakui kalah dan tunduk kepada DĂȘmak, namun tidak seharusnya Sultan memerintah dia mengambilkan bahan-bahan untuk mengunyah sirih.

    Bagaimanapun juga, dia tetap seorang bangsawan. Masih banyak abdi dalem atau pelayan Sultan yang patut disuruh untuk itu.

    Tapi dengan berpura-pura memenuhi permintaan Sultan, bangsawan ini mendekati tempat duduk Sultan. Begitu sudah dekat, dihunusnya keris dan ditusukkannya ke tubuh Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„.

    Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ tewas seketika ditempat perjamuan. Dan bangsawan yang nekad membunuh Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ berikut pengikutnya, dijatuhi hukuman mati.

    Kabar tewasnya Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ di Panarukan mengguncangkan DĂȘmak BintĂ„rĂ„. Jenazah Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ setelah diberi rempah-rempah agar tidak cepat membusuk, dibawa pulang ke ibu kota DĂȘmak melalui jalur laut.

    DĂȘmak BintĂ„rĂ„ berkabung. Tak kurang, seluruh putra laki-laki RadĂ©n Patah, mulai yang sulung Adipati Yunus atau PangĂ©ran Sabrang Lor, PangĂ©ran SuryĂ„wiyĂ„tĂ„ atau PangĂ©ran SĂȘkar SĂ©da LĂšpĂšn, dan kini PangĂ©ran TrĂȘnggĂ„nĂ„ atau Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„, semua meninggal karena terbunuh.

    Kasak-kusuk beredar di tengah masyarakat Jawa, bahwa trah DĂȘmak memang tengah mendapat kutukan dari para leluhur tanah Jawa.

    Dengan wafatnya Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„, maka secepatnya diangkatlah penggantinya. Dan putra sulung Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„, yaitu RadĂ©n Mukmin, yang memiliki cacat mata, buta.

    Konon hal ini karena kutukan Pangéran SuryÄwiyÄtÄ, pamannya sendiri. Pangéran PrawÄtÄ disaat mudanya membunuh pamannya itu terkait pemberontakan yang dia lakukan. Radén Mukmin terpilih, dan dikukuhkan sebagai Sultan Syah Alam Akbar Jiem Boen Ningrat IV.

    Selain Sunan PrawĂ„tĂ„ terdapat dua orang lagi tokoh kuat, yaitu AryĂ„ PĂȘnangsang bupati Jipang dan Mas KarĂšbĂ©t DjĂ„kĂ„ Tingkir HadiwidjĂ„jĂ„ bupati Pajang. Masing-masing adalah keponakan dan menantu Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„

    Sunan PrawÄtÄ berambisi untuk melanjutkan usaha ayahnya menaklukkan Pulau Jawa. Namun, keterampilan berpolitiknya tidak begitu baik, dan ia lebih suka hidup sebagai seorang agamawan daripada sebagai raja.

    RadĂ©n Mukmin memindahkan pusat pemerintahan dari kota Glagah Wangi yang sudah berganti nama DĂȘmak BintĂ„rĂ„ menuju bukit PrawĂ„tĂ„. Lokasinya saat ini kira-kira adalah desa PrawĂ„tĂ„, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

    Oleh karena itu, Radén Mukmin pun terkenal dengan nama Pangéran PrawÄtÄ disebut juga Sunan PrawÄtÄ.

    Sunan PrawÄtÄ berencana untuk mengislamkan seluruh Pulau Jawa, serta ingin berkuasa seperti sultan Turki. Sunan PrawÄtÄ juga berniat menutup jalur beras ke Malaka dan menaklukkan Makasar. Akan tetapi, rencana itu batal.

    Cita-cita Sunan PrawÄtÄ pada kenyataannya tidak pernah terlaksana. Ia lebih sibuk sebagai ahli agama dari pada mempertahankan kekuasaannya.

    Satu per satu daerah bawahan, seperti Banten, Cerbon (Cirebon), Surabaya dan Gresik, berkembang bebas; sedangkan Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„ tidak mampu menghalanginya.

    Sosok PangĂ©ran PrawĂ„tĂ„ atau Sunan PrawĂ„tĂ„, juga tidaklah begitu popular dimata para bangsawan DĂȘmak BintĂ„rĂ„. Diam-diam, di dalam tubuh pemerintahan dan jajaran ketentaraan DĂȘmak, sudah terpecah dalam dua kubu.

    Kubu pertama mendukung AryĂ„ PĂȘnangsang dengan Jipang Panolannya, dibalik itu ikut berperan Sunan Kudus. Sedangkan kubu kedua mendukung DjĂ„kĂ„ Tingkir atau Adipati HadiwijĂ„yĂ„ dengan Pajangnya.

    AryĂ„ PĂȘnangsang adalah putra PangĂ©ran SĂȘkar SĂ©da ing LĂšpĂšn yang mendapat dukungan dari gurunya, yaitu Sunan Kudus untuk merebut takhta DĂȘmak BintĂ„rĂ„. Pada tahun 1549 ia membalas kematian ayahnya.

    Menurut Babad Tanah Jawi:

    putranĂ© PangĂ©ran SĂȘkar SĂ©da LĂšpĂšn kang asmĂ„ AryĂ„ PĂȘnangsang arĂȘp malĂȘsakĂ© sĂ©danĂ© kĂȘng rĂ„mĂ„. Sakawit AryĂ„ PĂȘnangsang nyĂ©dani PangĂ©ran Mukmin sagarwanĂ©

    Pendukung Sunan Kudus adalah mereka-mereka yang berhaluan keras. Sedangkan pendukung DjĂ„kĂ„ Tingkir adalah mereka-mereka yang dulu memberikan dukungan kepada Sultan TrĂȘnggĂ„nĂ„ ditambah sisa-sisa lasykar Majapahit yang berkedudukan di Jawa bagian tengah. Para lasykar ini merapatkan barisan dibelakang DjĂ„kĂ„ Tingkir, putra Ki AgĂȘng PĂȘngging.

    Dipihak Sunan Kudus, AryĂ„ PĂȘnangsang, putra PangĂ©ran SuryĂ„wiyĂ„tĂ„, telah ditampilkan sebagai pemimpin kubu lawan. AryĂ„ PĂȘnangsang yang masih berusia 26 tahun saat itu, tumbuh menjadi sosok pemuda, yang terkenal keras perangainya.

    Begitu Sunan PrawĂ„tĂ„ dikukuhkan sebagai Sultan DĂȘmak IV, tampuk pemerintahan Jipang Panolan yang telah kosong untuk beberapa tahun semenjak pemberontakan PangĂ©ran SuryĂ„wiyĂ„tĂ„ yang menemui kegagalan, tanpa persetujuan Sultan DĂȘmak, AryĂ„ PĂȘnangsang langsung dikukuhkan sebagai Adipati Jipang Panolan.

    Peristiwa penobatan ini mengejutkan pihak yang berseberangan dengan Jipang Panolan dan sekutu-sekutunya. Tak urung, DjĂ„kĂ„ Tingkir atau Adipati HadiwijĂ„yĂ„ didukung beberapa Adipati yang sehaluan dengannya, menyarankan kepada Sultan DĂȘmak IV untuk segera mengambil tindakan tegas.

    Jipang Panolan adalah wilayah DĂȘmak BintĂ„rĂ„, tidak sepatutnya terjadi pengangkatan seorang Adipati tanpa persetujuan Sultan DĂȘmak sendiri.

    Situasi tata-kenegaraan DĂȘmak BintĂ„rĂ„ mulai memanas. Manakala Sultan DĂȘmak IV sudah berencana melepas jabatan AryĂ„ PĂȘnangsang sebagai Adipati dan hendak menggantikannya dengan seorang pejabat lain, terdengar kabar yang sangat mengejutkan,

    Pada suatu malam utusan AryĂ„ PĂȘnangsang berhasil menyusup ke dalam kamar tidur Sunan PrawĂ„tĂ„. Sunan yang mengakui kesalahannya telah membunuh PangĂ©ran Seda Lepen.

    Ia rela dihukum mati asalkan keluarganya diampuni. Utusan itu lalu menikam dada Sunan PrawÄtÄ yang pasrah tanpa perlawanan sampai tembus. Ternyata istri Sunan yang sedang berlindung di balik punggungnya ikut tewas pula. Melihat istrinya meninggal,

    Sunan PrawĂ„tĂ„ marah dan sempat membunuh utuisan itu dengan sisa-sisa tenaganya. Sultan DĂȘmak IV atau Sunan PrawĂ„tĂ„, tewas terbunuh berikut sang permaisuri.

    DĂȘmak BintĂ„rĂ„ terguncang. Dan yang lebih mengejutkan lagi, selain jenazah Sultan dan permaisuri, ditempat kejadian juga terdapat jenazah seorang laki-laki misterius dengan sebilah keris menancap didadanya dan keris tersebut tak lain adalah KĂȘris Kyai Brongot SĂ©tan KobĂ©r, pusaka milik Sunan Kudus.

    Tidak ada saksi mata lain saat peristiwa berdarah itu terjadi kecuali sosok AryÄ Pangiri, putra Sultan yang masih kecil. AryÄ Pangiri selamat karena dia bersembunyi dilongan sewaktu peristiwa itu terjadi.

    Sultan DĂȘmak, sang permaisuri berikut putranya AryĂ„ Pangiri sebenarnya adalah sasaran pembunuhan. Tapi, AryĂ„ Pangiri berhasil lolos dari maut.

    Ratu Kalinyamat, bibi AryĂ„ Pangiri, adik Sultan DĂȘmak IV segera membawa AryĂ„ Pangiri secepatnya ke Jepara. Keselamatan AryĂ„ Pangiri tengah terancam dan Ratu Kalinyamat tahu betul siapa dalang dibalik pembunuhan keluarga Sultan DĂȘmak, kakaknya itu.

    Ratu Kalinyamat diam-diam juga membawa KĂȘris Kyai Brongot SĂ©tan KobĂ©r yang menancap ditubuh jenazah misterius yang dapat dipastikan adalah salah seorang pembunuh Sultan DĂȘmak berikut permaisuri.

    Ratu Kalinyamat bertindak cepat. Dia tahu, di istana DĂȘmak dan di tubuh jajaran ketentaraan DĂȘmak, sudah berkeliaran kaki-tangan Jipang Panolan. Sebelum bukti pembunuhan tersebut dihilangkan oleh mereka-mereka yang sehaluan Jipang Panolan, Ratu Kalinyamat mengamankannya terlebih dahulu.

    Tidak ada orang lain lagi yang memiliki KĂȘris Kyai Brongot SĂ©tan KobĂ©r kecuali Sunan Kudus. Dan konon kabarnya, keris ini telah diwariskan kepada AryĂ„ PĂȘnangsang begitu dia dikukuhkan secara sepihak sebagai Adipati Jipang Panolan.

    Menurut kesaksian AryÄ Pangiri, pada malam itu dia tengah tidur bersama ayah dan ibunya. Tapi mendadak, dia dibangunkan oleh ibunya ditengah-tengah tidur pulasnya.

    Dia disuruh masuk longan dan diperintahkan tidak boleh keluar dan tidak boleh bersuara sedikitpun.

    AryÄ Pangiri yang masih kecil dan penasaran di tengah ketercekamannya mencoba mengintip apa yang tengah terjadi. Dia melihat dua orang masuk ke kamar ayahnya melalui pintu kamar setelah mendobraknya.

    AryÄ Pangiri tahu, ada beberapa orang lagi yang tengah berada di luar kamar dan tidak ikut masuk.

    Terjadi percakapan antara ayahnya dan salah seorang penyusup. Percakapan yang sempat didengar oleh AryĂ„ Pangiri adalah jawaban dari ayahnya: “Bunuhlah aku. Akulah yang bertanggung jawab atas kematian paman SuryĂ„wiyĂ„tĂ„. Tapi jangan kalian ikut sertakan istriku.”

    Setelah itu AryĂ„ Pangiri mendengar suara gaduh dan jeritan dari ayah dan ibunya hamper bersamaan. Kemudian terdengar suara ayahnya berteriak: “Mengapa kamu ikut sertakan istriku.”
    Suara gaduh terdengar kembali, diiringi erangan kesakitan. Kemudian lengang.

    AryĂ„ Pangiri yang ketakutan baru berani keluar setelah prajurit DĂȘmak mengeluarkanya dari bawah kolong ranjang. Dan begitu melihat apa yang sebenarnya terjadi, maka AryĂ„ Pangiri menangis sejadi-jadinya.

    Di atas ranjang, ayahnya tengah rebah kebelakang dalam posisi bersila, dan tepat di belakang ayahnya, ibunya tengah rebah. Keduanya bermandikan darah.

    Dari posisi kematian Sultan dan permaisuri, jelas terlihat, Sultan ditusuk keris hingga tembus punggung. Dan keris itu menghunjam pula ke tubuh permaisuri yang tengah merapatkan tubuhnya ke punggung Sultan.

    Jelas, sang permaisuri menyengaja untuk ikut mati bersama-sama dengan suaminya.

    Sedangkan jenazah laki-laki misterius yang terkapar tak jauh dari pintu kamar, diduga tewas akibat lemparan keris yang dilakukan oleh Sultan sebelum menghembuskan nafas yang terakhir.

    Betapa kuatnya Sultan, dia menarik keris yang menancap di dadanya lalu melemparkannya tepat kepada salah seorang penyusup. Ditambah lagi dengan kondisi cacat mata, jelas Sultan DĂȘmak IV, bukan orang sembarangan.

    Mendengar penuturan AryĂ„ Pangiri dan melihat bukti-bukti yang ada, Ratu Kalinyamat menyimpulkan, Sunan Kudus dan AryĂ„ PĂȘnangsang adalah sosok yang harus bertanggung jawab atas peristiwa pembunuhan itu.

    Para penyusup yang telah berhasil membunuh Sultan beserta permaisuri, adalah salah seorang pasukan khusus Jipang Panolan yang dikenal dengan nama Pasukan SurĂšng. Pasukan yang dilatih khusus untuk menyusup dan melakukan operasi pembunuhan.

    Pasukan ini memang sudah didengar oleh beberapa kalangan pejabat di DĂȘmak BintĂ„rĂ„. Dan kini, kehebatan pasukan ini telah terbukti.

    Ratu Kalinyamat segera mengambil tindakan tegas. Dia langsung mengukuhkan suaminya, PangĂ©ran Hadiri atau Sunan Kalinyamat sebagai Sultan DĂȘmak V.

    Tindakan ini diambil karena dalam hukum yang dipakai pemerintahan DĂȘmak BintĂ„rĂ„, seorang wanita diharamkan memimpin suatu pemerintahan.

    Situasi negara DĂȘmak semakin memanas. Di pihak Pajang, persiapanpun dilakukan. Karena sudah jelas, pihak Jipang Panolan sudah berani memulai aksinya.

    Bahkan terdengar kabar, beberapa daerah telah diserang oleh Jipang Panolan. Dan daerah-daerah yang berhasil ditaklukkan, dimasukkan ke wilayah Jipang Panolan.

    Jipang Panolan rupanya sudah siap untuk mendirikan sebuah Kesultanan baru yang lepas dari Kesultanan DĂȘmak BintĂ„rĂ„.

    Pembunuhan Sunan Kalinyamat

    Setelah mengadakan musyawarah dengan para pembesar Kesultanan, Ratu Kalinyamat beserta suaminya, Sunan Kalinyamat memutuskan untuk datang bertandang ke Pesantren Kudus.

    Sunan Kudus memang masih menjabat sebagai salah seorang Penasehat Agung Kesultanan DĂȘmak. Jabatan ini bermakna politis.

    Namun disamping itu, sudah diketahui umum bahwa Sunan Kuduspun adalah seorang pemimpin Pesantren yang memiliki banyak santri. Dia dianggap sebagai seorang sesepuh dan dituakan.

    Sebagai seorang penasehat, kedudukan Sunan Kudus memang masih dibawah kedudukan Sultan DĂȘmak, tapi kedudukannya sebagai seorang pemimpin Pesantren yang berbasiskan moral, maka dia dianggap sebagai seorang Guru. Seseorang yang patut dipatuhi dan patut dijadikan suri tauladan.

    Oleh karena itulah, sengaja Sultan DĂȘmak V atau Sunan Kalinyamat beserta Ratu Kalinyamat, menyengaja datang sendiri ke Pesantren Kudus. Ini dimaksudkan, kedatangan mereka berdua lepas dari tata-aturan sebuah pemerintahan.

    Sultan DĂȘmak V beserta istri datang ke Pesantren Kudus sebagai seorang santri yang tengah menghadap Gurunya, walaupun mereka bukan santri langsung Pesantren Kudus.

    Kedatangan rombongan Sultan DĂȘmak V mengejutkan seisi Pesantren Kudus. Mau tidak mau, walaupun kedatangan Sultan DĂȘmak V dan Ratu Kalinyamat bukanlah atas nama Kesultanan namun atas nama pribadi, tetap saja, kedatangan mereka disambut dengan upacara yang selayaknya diterima oleh seorang Sultan.

    Tepat pada waktu itu, banyak terlihat pasukan Jipang Panolan tengah berada disana. Baik Sultan DĂȘmak V maupun Ratu Kalinyamat, melihat itu.

    Para pasukan Jipang tidak satupun yang ikut melakukan penyambutan. Di sudut halaman Pesantren, terlihat sebuah kuda berbulu hitam yang berhiaskan perhiasan-perhiasan indah.

    Ratu Kalinyamat tahu, itu adalah kuda kesayangan AryĂ„ PĂȘnangsang yang dikenal dengan nama Kyai Gagak Rimang.
    Berarti, saat ini, AryĂ„ PĂȘnangsang juga tengah bertandang ke Pesantren Kudus.

    Situasi yang agak tidak menyenangkan terjadi antara pasukan DĂȘmak dan pasukan Jipang. Ratu Kalinyamat segera memerintahkan pemimpin pasukan agar memastikan, mengambil tempat terpisah dengan pasukan Jipang dan jangan mengambil tindakan apapun jika tidak ada perintah darinya.

    Sunan Kudus beserta istri dan keluarga, menyambut kedatangan Sultan DĂȘmak V atau Sunan Kalinyamat beserta istri, Ratu Kalinyamat. Mereka berdua diterima di pendopo.

    Namun, tak tampak AryĂ„ PĂȘnangsang ikut menyambut kedatangan Sultan. Menyadari akan hal itu, Ratu Kalinyamat benar-benar merasa diremehkan dan ditantang.

    Sultan DĂȘmak V beserta Ratu Kalinyamat memohon kepada Sunan Kudus agar bisa berbicara bertiga. Sunan Kudus mengabulkan.

    Dan mereka akhirnya menuju ruang dalam bertiga.
    Setelah berbasa-basi berbagi keselamatan, maka Ratu Kalinyamatpun segera menyampaikan maksud kedatangan mereka:

    “Bapa Sunan, kedatangan kami kemari sesungguhnya ibarat kedatangan seorang santri kepada Gurunya. Walaupun kami bukan murid resmi Pesantren Kudus, namun secara tidak langsung, kami menghargai Bapa Sunan sebagai Guru kami pula.”

    Sejenak Ratu Kalinyamat diam, kemudian: “Dan, kami memandang Bapa Sunan adalah panutan kami, sosok yang memberikan suri tauladan bagi kami. Jadi, sekiranya kami meminta keadilan kepada Bapa Sunan, bukankah itu juga sudah sewajarnya?”

    Sunan Kudus tersenyum, dan menjawab: “Memberikan keadilan adalah kewajiban seorang Sultan. Aku bukan seorang Sultan, anakmas Sunan Kalinyamatlah seorang Sultan. Dia yang seharusnya berhak memberikan keadilan.”

    Ratu Kalinyamat tersenyum, dan berkata: “Bukan keadilan dari seorang Sultan yang tengah kami harapkan, tapi keadilan dari seorang Guru kepada muridnya yang telah berbuat dosa.”
    Sunan Kudus terdiam.

    Ratu Kalinyamat mengeluarkan sebuah benda yang terbungkus kain putih dari dalam peti kayu berukir yang dia bawa. Benda terbungkus kain putih tersebut dipegangnya dengan tangan kanan, lalu dibuka penutup kainnya. Sunan Kudus memincingkan mata melihat isi di dalam bungkusan kain putih tersebut.

    Dan Ratu Kalinyamat kembali berkata: “Kami tahu pemilik benda ini kini tengah bersembunyi bagai seorang pengecut diruang belakang Pesantren. Kami meminta keadilan Bapa Sunan kepada pemilik benda ini. Pastinya, Bapa Sunan mengerti apa maksud kami.” Tegas suara Ratu Kalinyamat.

    Sunan Kudus menarik nafas. Dilihatnya benda yang ditunjukkan oleh Ratu Kalinyamat tak lain adalah KĂȘris Kyai Brongot SĂ©tan KobĂ©r. Keris pusaka miliknya yang kini telah diwariskan kepada AryĂ„ PĂȘnangsang.

    “Saya bukan seorang Sultan
.” Sunan Kudus tiba-tiba berkata.
    “Keadilan dari seorang Guru. Bukan dari seorang Sultan”, potong Ratu Kalinyamat berani. Kembali Sunan Kudus terdiam.

    Dan pada akhirnya, Sunan Kudus menyanggupi untuk memberikan keadilan kepada AryĂ„ PĂȘnangsang. Namun memberikan sebuah keadilan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

    Sunan Kudus menjanjikan, tujuh hari lagi, Sunan Kudus akan menyerahkan AryĂ„ PĂȘnangsang ke DĂȘmak untuk menerima hukuman qisas atau hukum mati pancung kepala jika memang terbukti AryĂ„ PĂȘnangsang adalah dalang pembunuhan Sultan DĂȘmak IV atau Sunan PrawĂ„tĂ„.

    Ratu Kalinyamat maupun Sunan Kalinyamat, walaupun meragukan kesungguhan Sunan Kudus, terpaksa menerima janji tersebut. Dan keduanya akhirnya mohon diri.

    Begitu Ratu Kalinyamat dan Sunan Kalinyamat telah meninggalkan Pesantren Kudus, AryĂ„ PĂȘnangsang menghadap Sunan Kudus. Dia menanyakan kebenaran janji yang telah diucapkan Sunan Kudus.

    Dan Sunan Kudus berkata: “Menurut hukum syariat, jika terjadi pembunuhan, dan keluarga korban menuntut, maka tidak ada alasan untuk menolak pelaksanaan hukum qisas atau pancung kepala. Kecuali keluarga korban mau menerima diyat atau harta pengganti dari sang pembunuh sebagai wujud perdamaian antara kedua belah pihak.”

    AryĂ„ PĂȘnangsang menukas: “Dan tidak mungkin Nimas Kalinyamat mau menerima diyat dari saya. Maka sekalian, untuk menyingkirkan lawan-lawan saya sekaligus menghindari jatuhnya hukuman mati kepada saya, maka akan saya bungkam mulut Nimas Kalinyamat untuk selamanya agar tidak bisa menuntut saya lagi.”

    Sunan Kudus terdiam. Lalu berkata: “Terserah kamu. Tapi harus dilakukan di luar wilayah Kudus.”

    AryĂ„ PĂȘnangsang menyembah kemudian bergegas keluar menemui Patih Matahun, Patih sepuh Jipang Panolan. AryĂ„ PĂȘnangsang memerintahkan, melakukan penghadangan rombongan Sultan DĂȘmak V. Dan perintah utamanya adalah membunuh Sunan Kalinyamat dan istrinya.

    Setelah menerima perintah, Patih Matahun segera menyiapkan seluruh pasukan Jipang Panolan. Tidak memakan waktu lama, pasukan Jipang Panolan segera berangkat.

    Kuda-kuda digebrak nyalang menimbulkan bunyi ringkikan riuh rendah bercampur teriakan-teriakan perintah. Pasukan Jipang, bergerak menyusul rombongan Sultan DĂȘmak V. Tujuannya jelas menyingkirkan Sunan Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat saat itu juga.

    Kembali, darah akan tertumpah di bumi Jawa.

    ÄnÄ toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Walah….,ada bold lagi.
      Lagi-lagi bold.

      Nyuwun pangapuntĂȘn Ki Arema.
      SugĂȘng “mewakili” Ki Panji Satria Pamedar

      • hikss….
        mboten menapa-menapa Ki Bayu
        lha nggih lumrah kemawon menawi kadang-kadang kesupen.
        sekedap…, menuju TKP (kata P. Satpam)

        • sampun mboten mblobor malih Ki

          • Matur sangĂȘt ing panuwun

          • ngapunten ki SENO,

            cantrik ndherek mbLOBORi gandok mriki

  5. selamat PAGI ki SENO, ki Bayuaji, ki Gembleh
    ki Honggo…..kisanak-nisanak sedaya.

    selamat berLIBUR,

    • matur nuwun rontal mpun cantrik inGUK,

      • SFBDBS-03,

        “komentar ditutup”…..mohon pencerahan ki…!!??

  6. Disini, dua rontal langsung di kempittt
    Ciatttt……..mo naik panggung SFBDBS03 pintu gerbangnya ditutup…….

    • betol pak DALANGe…..malah arep koment
      ning SFBDBS-03 ora iso,

      kenapa eeh kenapa (pake gaya bang haji)

      • apa ni SINDEN nesu….trus puRIK,

        lawange dikunci…!!??

  7. Matur nuwun Ki Bayuaji, dongeng selinganipun.
    Sugeng dalu

  8. ingak inguk gandhok,
    thingak thinguk
    plirak plirik
    tolah toleh
    wah…mumpung gak enek pak Satpam’e
    mak brebet…..nyaut dongeng arkeologi Ki Bayu.

    Matur nuwun Ki Bayu,
    matur nuwun Ki Seno,
    sugeng dalu.

  9. sugeng enjang kadang padepokan SENGKALING

    • selamat berTUGAS pak Satpem-E

      • selamat berTUGAS kembali (pjs) ki SENO-ne

  10. selamat sore semuanya, matur nuwun paklik satpam, dan ki Bayu

  11. nunut ngaso …… maturnuwun

  12. kunci lawang ngarep SFBDBS-03 kesenggOL
    ki SENOPATI

    cantrik hora iso komen meneh…..hikss-hikss

  13. eh iya , komena dah dibuka …… nuwun njih dik satpam 🙂

  14. eh paksi, kopimiksna dah diminum blum? 🙂

    waaah paksi dah mulai nyium jejak cincin yg ilang yah 🙂 …. semangat ya paksi, smg cpt ketemu 🙂

    eh muncul tokoh misterius yg suka nolongin paksi, ……….. nitip paksi ya ki sanak 🙂

  15. waduuuh gandok 3 jg dah ditutup 😩


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: