JDBK-03

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 22 Juli 2011 at 06:30  Comments (31)  

31 Komentar

  1. Lho dingaren kok ora ono sing sowan ngabiantoro iki … ?, Matur nuwun Mas Satpam, rontal sampun dipun sruput !

    • Lho dingaren kok ora ono sing sowan ngabiantoro iki … ?, Matur nuwun Mas Satpam, rontal sampun dipun sruput …crut!

  2. Nuwun
    Sugêng siyang andungkap sontên

    Katur pårå sanak kadang ingkang dahat sinu darsono ing budi, såhå ingkang tansah marsudi ing rèh kautaman,

    Insya Allah mengiringi wedaran JdBK, akan berlanjut dongeng Seri ‘NSSI — Keris Legendaris — hingga berdirinya Kerajaan Mataram Islam masa Panembahan Senopati. Bersama dengan itu didongengkan pula Dongeng Arkeologi & Antropologi Seri Surya Majapahit yang laku-lampahnya masih cukup panjang.

    Semoga sanak kadang tidak bosen mendengarkan (yang tepat membaca) dongeng saya si cantrik ini.

    Ada perbedaan yang mencolok dari kedua dongeng tersebut. Jika pada dongeng Surya Majapahit, kita masih bisa memperoleh rujukan lebih dari satu sumber sejarah.

    Misalnya serat dan kitab babad atau kitab kidung, yang disandingkan dengan prasasti sebagai pembanding sekaligus penguat yang merupakan sumber sejarah utama yang tidak diragukan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, meskipun di dalamnya ada terselip juga legenda cerita rakyat yang kandungan isinya sering diperdebatkan oleh para ahli.

    Sedangkan pada zaman Kesultanan Dêmak hingga berdirinya Mataram Islam, sebagai “babon” Dongeng “NSSI” ini, hampir tidak ditemukan sumber sejarah berupa prasasti, bahkan dapat dikatakan miskin bukti arkeologis.

    Temuan-temuan yang ada hanyalah petilasan-petilasan berupa makam, batu nisan, kompleks pekuburan kuno, yang sedikit sekali meninggalkan informasi tertulis pada batu nisan atau makam tersebut, yang dapat dijadikan sumber sejarah yang dapat dipertanggung-jawabkan keabsahannya.

    Sebab peristiwa sejarah akan lebih dipercaya jika mempunyai bukti-bukti arkeologi. Apalagi kalau dapat ditemukannya prasasti sezaman yang menerangkannya, yang tidak akan bisa dibantah.

    Pada zaman Dêmak hingga Mataram Islam, justru lebih banyak bersumber pada serat, kitab babad, legenda, tutur lisan, cerita tutur rakyat (folklore) yang mengisahkan tentang sang tokoh, dan sebagaimana lazimnya kitab babad, dongeng rakyat, legenda lebih banyak muatan yang bersifat mitos daripada kebenaran faktual sejarahnya.

    Sekedar contoh:

    a. Legenda Ki Agêng Sélå yang disebut-sebut punya kesaktian dapat menangkap petir.

    b. Legenda Buah Kolang-Kaling yang berubah menjadi Emas, dalam dongeng rakyat Sunan Bonang dan Brandal Lokåjåyå (kelak adalah Kanjêng Sunan Kalijågå);

    c. Legenda Sjèkh Siti Djênar jelmaan dari seekor cacing;

    d. Dongeng rakyat pertemuan Panêmbahan Sénopati dengan Kanjêng Ratu Kidul, di Pantai Parangkusumo, tepian Sêgårå Kidul, di atas gugusan batu karang, yang oleh masyarakat sering disebut Batu Cinta Puri Cepuri.

    e. Legenda Djåkå Tingkir yang bersigrå milir, sang gètèk sinånggå bajul;

    f. Legenda Syekh Maulana Mahgribi, yang dituduh menghamili Dèwi Råså Wulan adik kandung Raden Said (kelak Kanjêng Sunan Kalijågå); yang oleh karenanya Syekh Maulana Mahgribi kemudian menciptakan Kanjêng Kyai Plèrèd dari salah satu bagian tubuhnya;

    g. Cerita rakyat Bêndé Kyai Simå milik Kanjêng Sunan Kudus yang dipercaya bila dipukul mengeluarkan suara auman singa;

    h. Tokoh imajinatif bukan faktual-historis dianggap benar-benar ada dan memiliki batu nisan. “Makam” Darmakusuma (Yudhistira, putra tertua keluarga Pandawa Lima) yang berada di kompleks makam Masjid Agung Dêmak.

    Demikian juga halnya di daerah Pengging, yang diyakini terdapat makam Ki Kêbo Kênångå (ayah Mas Karèbèt — sebagai tokoh historis, tetapi makam yang disebut sebagai makam Ki Kêbo Kênångå masih diragukan kebenarannya –); makam tersebut dikelilingi benteng.

    Di luar benteng terdapat satu makam tanpa nama. Penduduk setempat bahkan sang juru kunci percaya bahwa makam itu adalah makam Endang Widuri pendekar gadis remaja dalam NSSI.

    Tapi kita tahu hal itu pasti tidak benar, karena tokoh Endang Widuri adalah tokoh khayalan, asli ciptaan Ki Dhalang SH Mintardja.

    i. Legenda Aryå Pênangsang yang tercantum dalam beberapa serat dan babad yang ditulis ulang pada periode bahasa Jawa Baru (abad ke-19), seperti Sêrat Babad Tanah Jawi dan Sêrat Kåndå; yang sarat muatan mitosnya daripada fakta sejarahnya.

    j. dan masih banyak lainnya.

    Legenda-legenda tersebut (namanya saja legenda); tidak seluruhnya didukung oleh bukti fakta sejarah lain seperti prasasati, sehingga tidak dapat sepenuhnya dijadikan sumber sejarah primer.

    Untuk itu cantrik Bayuaji, pertama-tama mengajak sanak kadang padepokan pelangisingosari jika memiliki atau setidak-tidaknya pernah mendengar tentang dongeng legenda, mitos atau apapun namaya tentang tokoh-tokoh era Dêmak, Jipang, Pajang hinga Mataram Islam, sumånggå ikut sharing di sini.

    Kedua, dongeng arkeologi & antropologi Seri ‘NSSI’ Keris Legendaris, yang hendak saya wedar nantinya, tidak ada cara lain kecuali bersumber dari serat dan babad berupa legenda, yang boleh jadi akan menimbulkan perbedaan pemahaman.

    Atas timbulnya perbedaan itu, dapat saja memicu perdebatan, apalagi bila menyangkut pada suatu keyakinan atau kepercayaan.

    Untuk kesemuanya itu, di gandhok ini saya tidak akan mencari-cari riwayat mana yang benar dan yang salah. Bagaimanapun juga dongeng yang saya sajikan semata-mata untuk menambah wacana dan referensi untuk memperkaya pemahaman, selain bisa juga untuk tujuan menambah perbendaharaan pengetahuan ajaran-ajaran para leluhur yang telah mengukir sejarah bagi Nusantara khususnya Tanah Jawa.

    Soal benar dan salah, sanak kadang dapat menyikapinya dengan arif dan bijaksana.

    Demikianlah sanak kadang.

    ***

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-16: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-12) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober (Parwa-1). On 19 Juli 2011 at 22:26 JdBK-02

    Wêdaran kaping-17:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-13)

    KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Bagian ke-2]

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Kêris Kyai Någåsåsrå
    • Kêris Kyai Sabuk Intên
    • Kêris Kyai Sêngkêlat
    • Kêris Kyai Condong Campur
    • Kêris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    Rombongan Sultan Dêmak V atau Sunan Kalinyamat telah jauh meninggalkan wilayah Kudus. Tak terbersit sedikitpun dibenak Sunan Kalinyamat kalau di belakang mereka kini tengah mengejar sepasukan tempur Jipang Panolan.

    Hanya Ratu Kalinyamat yang mendapatkan firasat yang tidak mengenakkan. Dan firasat itu terbukti ketika dari arah belakang, seorang penunggang kuda tengah memacu kudanya dengan kencang, menyusul kereta yang dinaiki Sunan Kalinyamat beserta Ratu Kalinyamat.

    Sang penunggang kuda itu berpakaian layaknya rakyat biasa, kini nampak tengah berusaha mendekati Lurah Prajurit Pengawal Sultan.

    Ratu Kalinyamat tanggap, sang penunggang kuda itu tak lain adalah anggota Pasukan Têlik Sandhibåyå Pasukan Mata-Mata Dêmak Bintårå.

    Nampak, Lurah Prajurit Pengawal Sultan, setelah melihat tanda-tanda sandi yang ditunjukkan oleh sang penunggang kuda, seketika memerintahkan seluruh rombongan berhenti.

    Sang penunggang kuda yang baru datang nampak turun dari punggung kuda, menghaturkan sembah sembari mendekati Lurah Prajurit Pengawal.

    Terjadi percakapan sebentar. Disusul, Lurah Prajurit Pengawalpun kemudian turun dari pungung kuda, dan berdua mereka berjalan menuju kereta yang dinaiki Sunan Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat.

    Keduanya menghaturkan sembah dan melaporkan bahwa, di belakang rombongan, kini tengah mengejar sepasukan tempur Jipang Panolan dengan bersenjata lengkap.

    Sunan Kalinyamat terkejut, namun tidak demikian dengan Ratu Kalinyamat. Dia diam sejenak, kemudian segera memerintahkan seluruh pasukan tentara Dêmak untuk mempersiapkan diri.

    Perintah Ratu Kalinyamat jelas, yakni bersiap untuk menghadapi pasukan Jipang Panolan apapun yang dikehendaki. Jikalau pihak Jipang Panolan menginginkan perang, maka hari ini juga, Ratu Kalinyamat akan memenuhi keinginan pasukan Jipang.

    Dua orang prajurit ditugaskan menuju ibu kota Dêmak untuk menyampaikan perintah tertinggi Sultan Dêmak V yang diwakili Ratu Kalinyamat kepada seluruh jajaran ketentaraan Dêmak agar mempersiapkan diri untuk memulai perang terbuka dengan pihak Jipang Panolan.

    Ratu Kalinyamat sendiri yang memimpin rombongan Pasukan Pengawal. Dia kini keluar dari kereta dan menaiki seekor kuda. Ratu Kalinyamat terlihat gagah dan anggun ketika duduk di atas pungung kuda.

    Sorot matanya garang, bertolak belakang dengan kecantikan wajahnya. Namun, walaupun begitu, malahan nampak terlihat semakin anggun.

    Seluruh pasukan telah bersiap di tempat masing-masing menunggu perintah. Medan perbukitan yang kini tengah mereka jajaki, telah siap mereka jadikan ajang pertempuran.

    Dan benar. Dari arah berlawanan, sepasukan prajurit berkuda nampak datang. Jelas, perlengkapan tempur yang mereka kenakan memang berasal dari pasukan Jipang Panolan.

    Dari kejauhan, melihat pasukan Dêmak telah siap tempur, pasukan Jipang yang baru datang tersebut langsung menghunus senjata masing-masing dan langsung menyerbu pasukan Dêmak.

    Ratu Kalinyamat dengan tenang menghunus kerisnya. Diangkatnya tinggi-tinggi keris tersebut dengan tangan kanannya. Setelah dirasa sudah saatnya, Ratu Kalinyamat lantang berteriak memberikan perintah. “Serbuuuuuu !!!

    Gemuruh dan hiruk pikut suara pasukan Jipang Panolan yang tengah maju kini berbaur dengan gemuruh pekikan pasukan Dêmak yang juga maju menyambut kedatangan mereka.

    Pertempuran tak terelakkan lagi. Ratu Kalinyamat dan Sunan Kalinyamat yang kini juga ikut turun dari kereta berganti menaiki seekor kuda, mengamuk di medan laga. Satu dua prajurit Jipang dibabat keris Ratu Kalinyamat tepat di leher, mereka menjerit kesakitan dan sekarat dengan leher menganga mengucurkan darah segar.

    Sungguh luar biasa sosok Ratu Kalinyamat. Di balik kecantikan dan keanggunannya, kini dia berubah menjadi harimau betina yang pilih tanding. Kerisnya menyambar ke sana kemari, sangat cepat.

    Dipihak Jipang, pasukan dipimpin oleh Patih Matahun. Patih sepuh yang semenjak dulu setia mengabdi kepada Pangeran Suryåwiyåtå dan sempat menghilang beberapa tahun semenjak pemberontakan Pangeran Suryåwiyåtå dapat dipatahkan, kini, setelah Aryå Pênangsang tampil kedepan, patih sepuh ini ikut tampil kembali.

    Banyak prajurit Dêmak yang meregang nyawa terkena amukan Patih Matahun. Kelincahannya sangat mengagumkan. Kerisnya telah beberapa kali merubuhkan prajurit-prajurit dari pasukan Dêmak.

    Tingkah Patih Matahun menyita perhatian Ratu Kalinyamat. Harimau betina ini menggeram. Digebraknya kuda dan dengan sangat berani menyibak pertempuran dan melaju ke garis depan. Tujuan Ratu Kalinyamat tak lain adalah Patih Matahun.

    Keris Ratu Kalinyamat tak terduga menelusup daerah kedudukan penting lawan. Banyak prajurit Jipang yang kecil nyalinya melihat kegarangan Ratu Kalinyamat dalam bermain keris.

    Satu dua prajurit Jipang meregang nyawa sia-sia manakala hendak mencoba menghadang laju kuda harimau betina ini.
    Dan Patih Matahun baru menyadari jika kini Ratu Kalinyamat tengah menuju ke arahnya.

    Patih sepuh ini segera bersiap diri. Ratu Kalinyamat terkenal mahir bermain keris dan Patih Matahun tidak berani sembarangan menghadapi perempuan cantik ini.

    Begitu jarak mereka sudah sedemikian dekat, sembari terus memacu kudanya dengan kencang, Ratu Kalinyamat mengarahkan kerisnya ke Patih Matahun.

    Serangan itu mengincar leher. Patih Matahun mencoba menghindar dengan cara memutar kudanya. Tapi ternyata, begitu jarak keris sudah sedemikian dekat, mendadak Ratu Kalinyamat mengubah serangan mengarah perut.

    Begitu cepat dan tak terduga. Patih Matahun kaget setengah mati. Tak urung, perutnya terkena goresan keris Ratu Kalinyamat. Untung cuma tergores. Namun bagaimanapun juga, lukanya cukup lumayan.

    Patih Matahun menggeram marah. Putri Sultan Trênggånå ini ternyata memang mahir bermain keris. Jarang bisa ditemukan sosok seperti ini, walaupun seorang laki-laki sekalipun. Patih Matahun kini tidak berani bermain-main lagi.

    Pertempuran semakin sengit. Denting senjata diiringi teriakan-teriakan nyalang terdengar di sana-sini. Diselingi pekik kesakitan dari mereka-mereka yang terbabat senjata lawan atau yang meregang nyawa.

    Mayat telah banyak bergelimpangan dengan darah menggenang. Namun, jumlah pasukan Dêmak kalah banyak dengan jumlah pasukan Jipang. Pelahan dan pasti, pasukan Dêmak terpukul mundur.

    Dan yang mengejutkan, terdengar teriakan-teriakan pasukan Jipang Panolan ditengah-tengah pertempuran. Teriakan-teriakan itu mbåtå rubuh:

    Sultan Dêmak wis matii. Sultan Dêmak wis mati.

    Sultan Kalinyamat tewas dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Konon, ia sempat merambat di tanah dengan sisa-sisa tenaganya, sehingga oleh penduduk sekitar, daerah tempat meninggalnya Sultan Kalinyamat disebut desa Prambatan.

    Ratu Kalinyamat terkejut mendengar bunyi teriakan-teriakan itu. Perhatiannya seketika terpecah. Patih Matahun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ditubruknya tubuh Ratu Kalinyamat.

    Patih Matahun melompat dari punggung kuda menabrakkan tubuhnya ke tubuh Ratu Kalinyamat.

    Ratu Kalinyamat yang tak menduga akan hal itu tak sempat menghindar. Tubuhnya tertimpa tubuh Patih Matahun. Keduanya jatuh terguling-guling diatas tanah. Dan celakanya, keris ditangan Ratu Kalinyamat terlepas dari genggaman.

    Sigap Ratu Kalinyamat bangkit dari tanah. Namun Patih Matahun lebih sigap lagi. Patih sepuh itu nampak kesetanan. Keris ditangannya mengarah ke dada Ratu Kalinyamat.

    Ratu Kalinyamat bagai harimau kehilangan taring. Dia mencoba menghindar dan terus menghindar tanpa bisa membalas serangan.

    Di tempat lain, pasukan Dêmak mulai kocar-kacir. Gelar pertempuran telah berubah. Pasukan Dêmak terdesak hebat. Sebentar lagi, pasukan Dêmak pasti akan menemui kekalahan.

    Ratu Kalinyamat panik. Patih Matahun terus memburu. Hingga Ratu Kalinyamat tersudut, ke bibir tebing. Mata Ratu Kalinyamat memerah. Nafasnya turun naik. Dia memperhatikan Patih Matahun yang kini sudah dibantu oleh beberapa pasukan Jipang.

    Ratu Kalinyamat sadar, pasukan Dêmak sudah hampir kalah. Dan kedudukannya kini tengah berada diujung tanduk.
    Dan, entah keberanian dari mana yang hinggap di benak Ratu Kalinyamat.

    Begitu mendapati dirinya terdesak, seketika dia berbalik arah dan nekad terjun ke tebing di belakangnya. Patih Matahun yang hendak menabraknya terlambat.

    Tubuh Ratu Kalinyamat telah meluncur ke bawah dengan meninggalkan jeritan yang menggema.

    Patih Matahun bingung mengamati ke bawah tebing tempat Ratu Kalinyamat melompat. Namun tidak lama, segera setelah itu dia memerintahkan beberapa prajurit untuk menuruni tebing dari sisi lain.
    Beberapa prajurit Jipang segera bergerak mencari jalan ke bawah.

    Di medan laga, prajurit Dêmak banyak yang tewas. Sisanya melarikan diri. Dan mayat Sunan Kalinyamat terlihat dibawa menepi oleh beberapa prajurit Jipang.

    Hampir seharian, pencarian keberadaan Ratu Kalinyamat tidak mendapatkan hasil sama sekali. Patih Matahun menyimpulkan, putri Sultan Trenggånå itu telah tewas di dasar tebing.

    Dan berarti tugas mereka untuk membunuh Sunan Kalinyamat dan Ratu Kalinyamat telah berhasil dengan gemilang.

    Selanjutnya pasukan yang masih setia kepada Sultan Kalinyamat yang sudah tewas itu membawa jenazah Pangeran Kalinyamat, meneruskan perjalanan sampai pada sebuah sungai dan darah yang berasal dari jenazah Pangeran Kalinyamat menjadikan air sungai berwarna ungu, dan kemudian dikenal daerah tersebut dengan nama Kaliwungu.

    Semakin ke barat, dan dalam kondisi lelah, kemudia melewati Pringtulis. Dan karena lelahnya dengan berjalan moyang-moyong sempoyongan di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Mayong.

    Sampailah mereka di sebuah dusun yang kelak diberi nama Purwagondo, disebut demikian karena di tempat inilah awal keluarnya bau dari jenazah Sultan Kalinyamat, dan kemudian melewati Pecangaan hingga ke Mantingan.

    Adapun Patih Matahun dengan pasukan Jipang yang tersisa, tinggal kembali ke Jipang Panolan untuk menggabungkan diri dengan pasukan Jipang yang lebih besar, yang dipimpin oleh Aryå Pênangsang.

    Pasukan Jipang Panolan tengah mempersiapkan diri untuk bergerak ke ibu kota Dêmak Bintårå.

    Keesokan harinya, pasukan Jipang Panolan benar-benar bergerak ke ibu kota Dêmak Bintårå. Para senopati dan para prajurit Dêmak yang memang telah mempersiapkan diri pula, menyambut pasukan Jipang Panolan walaupun mereka telah kehilangan sosok Sultan.

    Dan tentu saja, sosok panutan tertinggi memang sangat berpengaruh bagi kejiwaan para prajurit. Pasukan Dêmak telah kehilangan semangatnya. Bahkan banyak kesatuan-kesatuan yang menyeberang ke pihak Jipang Panolan.

    Peperangan antara Jipang dan Dêmak Bintårå tidak memakan waktu lama. Dêmak Bintårå berhasil ditaklukkan dengan sangat mudah.

    Para tentara Dêmak pengikut Sultan Kalinyamat yang setia, banyak yang melarikan diri ke Kadipaten Pajang. Mereka mengabarkan kejatuhan Dêmak Bintårå di tangan Aryå Pênangsang.

    Mengabarkan juga wafatnya Sultan Dêmak V beserta Ratu Kalinyamat, dan kini mereka hendak bergabung kedalam jajaran keprajuritan Pajang.

    Pajang gempar. Adipati Hadiwijåyå atau Djåkå Tingkir yang memang sudah lama mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan seperti ini, segera memerintahkan prajurit-prajurit Pajang untuk semakin mempersiapkan diri berperang dengan Jipang Panolan.

    Keadaan benar-benar memanas. Peperangan antara Jipang Panolan yang diperkuat barisan Islam Putihan dan Pajang yang diperkuat barisan Islam Abangan dan sisa-sisa pasukan Majapahit yang menyingkir dari pusat kerajaan dulunya, sudah tampak didepan mata.
    Bahkan terdengar kabar sekali lagi, Jepara kini telah diserang oleh Jipang Panolan.

    [Dongeng Arkeologi & Antropologi Islam Putihan & Islam Abangan akan diwedar kemudian]

    Para Senopati Pajang telah meminta kepada Adipati Hadiwijåyå untuk mengeluarkan maklumat perang dengan Jipang Panolan.

    Namun atas saran Ki Mas Måncå, Ki Wilå, Ki Wuragil, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, seyogyanya Adipati Hadiwijåyå untuk sementara waktu melihat sikap Dewan Wali Sångå atas peristiwa tersebut.

    Jika Dewan Wali Sångå nampak tidak menyetujui tindakan Aryå Pênangsang, maka tidak ada salahnya jika Pajang mengangkat senjata secara terbuka.

    Namun manakala pihak Dewan Wali Sångå malah merestui tindakan Aryå Pênangsang, maka harus dicari jalan lain demi menghadapi Jipang.

    Tidak boleh terlihat dipermukaan bahwa Pajang melawan Jipang jika Dewan Wali Sångå berpihak kepada Jipang.

    Namun harus ada tangan ketiga yang seolah-olah lepas dari Pajang yang harus menghadapi Jipang Panolan.

    Sikap Dewan Wali Sångå belum jelas. Namun sikap Sunan Kudus sudah terbaca. Sunan Kudus menyetujui tindakan Aryå Pênangsang.

    Adipati Hadiwijåyå harus sabar menunggu sikap Dewan Wali Sångå. Sebab jika gegabah menyerang Jipang, dan ternyata Dewan Wali Sångå merestui Jipang, boleh jadi, Cirebon dan Banten akan diperintahkan Dewan Wali Sångå membantu Jipang. Itu berarti, Pajang harus menghadapi tiga kekuatan sekaligus.

    Adipati Hadiwijåyå sebenarnya sudah tidak sabar ingin berhadapan dengan Aryå Pênangsang yang katanya tak terkalahkan tersebut. Adipati Hadiwijåyå alias Djåkå Tingkir, tidak gentar sedikitpun.

    Apalagi Nimas Sêkaring Kêdhaton memohon kepada Adipati Hadiwijåyå agar berjanji membalaskan dendamnya kepada Aryå Pênangsang. Adipati Hadiwijåyå, tidak bisa menolak permintaan istri kesayangannya tersebut.

    Namun saran dari pembantu-pembantu terdekatnya, memang patut dijadikan bahan pertimbangan. Dan bagaimanapun juga, sikap dari Dewan Wali Sångå memang patut ditunggu.
    Setelah sikap dari Dewan Wali Sångå keluar, maka saat itulah Pajang akan bergerak.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun dongengipun, dipun tenggo tutuge

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kulo dereng nate maos dongeng ingkang kados makaten. Kala taksih alit rumiyin nate ningali kethoprak ingkang dipun siaraken televisi kanthi lampahan Aryo Penangsang nanging mboten komplit kados dongeng panjenengan. Kulo tenggo dongeng lajengipun, sugeng dalu.

    • sugeng enjang ki BAYU…..matur nuwun

      • sugeng siang ki BAYU…..matur nuwun

  3. selamat siang, matur nuwun, wah lawang gandok sebelah jeglek malih

  4. lapor ki AREMA,

    lawange SFBDBS-03 njeglek meneh….cantrik
    ra iso komen-kimen,

    • lapor ki AREMA,

      lawange SFBDBS-03 njeglek meneh….cantrik
      ra iso komen-kimen,

      • lapor ki AREMA,

        lawange SFBDBS-03 njeglek meneh….cantrik
        ra iso komen-kimen,

  5. Nuwun
    Wilujêng énjing ndungkap siyang

    “Ratu Kalinyamat sendiri yang memimpin rombongan Pasukan Pengawal. Dia kini keluar dari kereta dan menaiki seekor kuda. Ratu Kalinyamat terlihat gagah dan anggun ketika duduk di atas pungung kuda.

    Sorot matanya garang, bertolak belakang dengan kecantikan wajahnya. Namun, walaupun begitu, malahan nampak terlihat semakin anggun.”

    Demikian dongeng di atas.

    Siapa Ratu Kalinyamat ?

    Seorang Ratu yang disebut-sebut oleh penulis pengembara berkebangsaan Portugis Abad Diego de Couto (1778-1788), sebagai
    De Kranige Dame (Perempuan Pemberani) dan Rainha de Japara, senhora paderosa e rica (Ratu Jepara, wanita kaya dan sangat berkuasa).

    Apa perannya dalam sejarah Nusantara, terutama sejarah perempuan Nusantara.

    Dongengnya akan segera diwedar.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • sabar menunggu,

    • Ratu Kalinyamat ingkang kawentar topo wudo sinjang rambut ?
      Kulo tenggo dongengipun.

    • sabar menunggu tutuge

    • Wah asyik banget, sebentar lagi bakal nyampai
      di gunung Danaraja.

      Matur nuwun Ki Bayu.

  6. sabtu pagi merambat siang titik…..cantrik HADIR

    • Sabtu malam ku sendiri….

      • sabtu siang kusendiri

        • Kulo kancani Ki Bancak.

          • matur nuwun Ki, dikancani sampai malam sambil nunggu pagelaran wayang kulit

  7. Sugeng enjing Ki Arema
    Sugeng enjing Pak Satpam
    Sugeng enjing sanak kadang sedoyo.

  8. sugeng enjang….ABSEN,

    • ngGO ki Gembleh, tak parafkE…srut-sruuut

      • Sugeng n’dalu,
        paraf dewe mak sreeetttttt………..

        marafke Ki Mengungg,
        mak preseset…

        • marakke nganyelke….srererereeeeeeeeetttt

          • marakke ADIne nganyelke….srererereeeeettt crieeeet

  9. sugeng enjang,

    wes jan cantrikE dho mbelink kuabeh….gandokE kebak
    sret-esreeet-sret-sreeeetttt,

    • sugeng sonten,

      wes jan cantrikE dho ning endi kuabeh….gandokE Gosong
      sreng-esreeeng-sreng-sreeeenggg,

      • sugeng ndalu,

        wes jan cantrikE ndho dhok kuabeh….gandokE Godong
        sreg-usreeeg-sreg-usreeeeggg,

  10. Sugeng siang,
    Matur nuwun P. Satpam, sampun ngunduh jilid 3
    Ugi kagem Ki Bayuaji, matur nuwun dongengipun.


Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: