JDBK-04

kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 25 Juli 2011 at 16:35  Comments (45)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-04/trackback/

RSS feed for comments on this post.

45 KomentarTinggalkan komentar

  1. Wilujêng wêngi

    • Wilujêng wêngi Ki Bayu
      monggo pinarak ingkang sekeca.

      • Sugeng dalu Ki Bayu,
        Sugeng dalu Ki Seno,

        • hooorrreee nunggu dongeng Ki Bayu

          • hooorrreee nunggu undangan ki Bancak…..AN

  2. Horeeeeeeeeeeeeeee…………………………!!!!
    nomer siji.

    sugeng dalu para kadhang sutresna.

    • Sssst, aja rame2 ki……njenengan nomer TELU,

      kalah balapan kaliyan ki BAYU, ki SENOPATI

      • absent

  3. Sugeng dalu.

  4. Nuwun
    Sugêng énjang

    Katur pårå sanak kadang ingkang dahat sinu darsono ing budi, såhå ingkang tansah marsudi ing rèh kautaman,

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-17: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-13) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr (Parwa-2). On 22 Juli 2011 at 13:53 JdBK 03

    Wêdaran kaping-18:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-14)

    KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Bagian ke-3]

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Kêris Kyai Någåsåsrå
    • Kêris Kyai Sabuk Intên
    • Kêris Kyai Sêngkêlat
    • Kêris Kyai Condong Campur
    • Kêris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    Dipihak Pajang, telah sekian lama mengabdi tiga orang Trah Sélå, tedhak turun Majapahit dari Radèn Bondhan Kêjawèn (Ki Agêng Tarub II).

    Radèn Bondhan Kêjawèn adalah putra selir Prabu Brawijaya V dengan Dèwi Wandhan Kuning atau Dèwi Bondrit Cemara, putri yang berasal dari daerah Wandhan atau Banda Niera sekarang.

    Ketiga orang Trah Sélå ini memang sengaja dititipkan oleh Sunan Kalijågå kepada Adipati Hadiwijåyå. Mereka adalah Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani.

    Putra tertua Getas Pandawa, KI Agêng Sélå — Bagus Sogom, Sagam (?) — mempunyai enam putri dan satu putra, Ki Agêng Mangenis Sélå (ragil). Ki Agêng Mangenis Sélå mempunyai seorang anak, Pêmanahan dan memungut anak angkat, Pênjawii (keponakan misan), sedangkan Juru Mertani adalah anak keponakan dan kakak menantunya. Ayah Juru Mertani, KI Agêng Saba, menikah dengan kakak Ki Agêng Enis, sedangkan adiknya menikah dengan Pêmanahan.

    Sedangkan Ki Juru Martani adalah putra dari adik Ki Agêng Sélå. Ki Agêng Sélå memiliki tujuh orang adik perempuan. Dan salah satunya menurunkan Ki Juru Martani.

    Usia Ki Juru Martani dengan Ki Agêng Pêmanahan tidaklah terpaut terlalu jauh. Walaupun begitu, Ki Agêng Pêmanahan tetap harus memanggil paman kepada Ki Juru Martani. Karena bagaimanapun juga, Ki Juru Martani adalah adik keponakan dari Ki Agêng Mangênis Sélå, ayah Ki Agêng Pêmanahan.

    Ketiga keturunan trah Radèn Bondhan Kêjawèn ini telah lama berguru kepada Sunan Kalijågå. Dan manakala Djåkå Tingkir telah berhasil menjabat sebagai Adipati Pajang dengan gelar Adipati Hadiwijåyå, maka atas permintaan Ki Agêng Sélå, Sunan Kalijågå diminta menitipkan ketiganya kepada kepada Djåkå Tingkir.

    [Dongeng Arkeologi & Antropologi Trah Sélå akan disusulkan kemudian]

    Mendapati trah Tarub dititipkan oleh Sunan Kalijågå guna mengabdi di Pajang, Djåkå Tingkirpun tak mampu menolaknya. Ketiganyapun diterima sebagai pemimpin kesatuan Prajurit Pengawal Adipati yang kedudukannya langsung berada di bawah Lurah Prajurit Pengawal Adipati.

    Kecakapan Ki Agêng Pêmanahan membuat Adipati Hadiwijåyå merasa tidak salah telah mempercayainya sebagai salah satu pemimpin Prajurit Pengawal. Ditambah kepintaran Ki Juru Martani dalam hal siasat politik maupun militer, membuat Adipati Hadiwijåyå akhirnya mengangkat Ki Agêng Pêmanahan dan Pênjawi sebagai Lurah Prajurit Pengawal Adipati. Adapun Ki Juru Martani, yang lebih tua, diangkat sebagai ‘pembimbing’ mereka

    Eratnya hubungan antara Hadiwijåyå dengan ketiga tokoh dari Sélå ini dapat dilihat dengan diangkatnya Srubut (Danang anak Pêmanahan) menjadi anak angkat Hadiwijåyå, diberi nama Danang Sutåwijåyå (Sutå = anak, Wijåyå = Hadiwijåyå), dan dijadikan teman bermain Pangéran Bênåwå, putra Sang Adipati yang usianya juga tak terpaut jauh dengan Danang Sutåwijåyå.

    Maka, jika Adipati Hadiwijåyå secara pribadi dekat dengan Ki Agêng Pêmanahan, Pangéran Bênåwåpun sangat akrab dengan Danang Sutåwijåyå. Jalinan persaudaraanpun tercipta antara keluarga Adipati dengan keluarga Ki Agêng Pêmanahan.

    Hingga suatu hari, datanglah seorang pemuda dusun yang memohon untuk menghadap kepada Adipati Hadiwijåyå. Kehadiran pemuda ini menggemparkan seisi Kadipaten karena dia mengaku telah diutus secara langsung oleh Ratu Kalinyamat.

    Tanpa menunggu waktu, Adipati Hadiwijåyå memerintahkan pemuda itu untuk segera menghadap kepadanya.

    Kedatangan pemuda dusun yang konon diutus oleh Ratu Kalinyamat tersebut benar-benar menggemparkan seisi Kadipaten Pajang. Secepatnya Adipati Hadiwijåyå menyuruh pemuda itu untuk menghadap.

    Adipati Hadiwijåyå menemui sang pemuda secara pribadi dengan hanya ditemani oleh Nimas Sêkaring Kêdhaton, Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil.

    Dari penuturan pemuda dusun tersebut, tahulah Adipati Hadiwijåyå dan seluruh yang hadir disitu bahwasanya Ratu Kalinyamat masih diberikan umur panjang.

    Menurut sang pemuda, tubuh Ratu Kalinyamat dia ketemukan tengah tersangkut disebuah batang pohon besar yang kebetulan tumbuh didasar tebing.

    Dalam keadaan yang terluka teramat parah, Ratu Kalinyamat ternyata masih hidup. Sangat beruntung sekali Ratu Kalinyamat karena saat terjatuh dari atas tebing, tubuhnya tidak sempat terbentur bebatuan cadas.

    Dan lebih beruntung lagi karena tubuhnya menimpa sebatang dahan pohon raksasa yang tumbuhnya miring. Sungguh suatu keajaiban yang tidak akan mungkin bisa terulang lagi.

    Sang pemuda yang kebetulan tengah mencari madu hutan, tanpa sengaja mendapati sosok tubuh seorang wanita yang penuh luka dan darah disana-sini tengah tersangkut di sebuah batang pohon.

    Menitik dari pakaian yang dikenakan, jelas sosok ini bukan dari kalangan rakyat biasa. Mendapati sosok itu masih hidup dan tengah sekarat, segera saja sang pemuda melupakan tujuannya semula yang hendak mencari madu ke hutan. Dia segera membopong tubuh tersebut dan membawanya pulang ke desa.

    Bêkêl atau Kepala Desa yang mendapat laporan tentang penemuan sesosok tubuh wanita dari sang pemuda, segera datang ke rumah sang pemuda untuk melihatnya sendiri.

    Sang Bêkêl kaget melihat pakaian kebesaran Demak Bintara melekat pada tubuh wanita yang terluka parah tersebut. Segera saja Sang Bêkêl memerintahkan ahli pengobatan yang tinggal di desa tersebut untuk segera memberikan pertolongan secepatnya. Beberapa tulang yang cidera, dikembalikan lagi posisinya.

    Luka-luka luar maupun luka-luka dalam, pelahan dengan pasti berangsur-angsur sembuh berkat ramuan yang diracik dari berbagai tanaman.

    Dan satu minggu kemudian, sosok wanita yang tak lain adalah Ratu Kalinyamat tersebut, baru bisa diajak bicara. Dan terkejutlah seisi penghuni desa tak terkecuali Sang Bêkêl mendapati pengakuan dari wanita tersebut bahwasanya dirinya tak lain adalah Ratu Kalinyamat, permaisuri Sultan Hadiri, Sultan Demak V, dikenal juga sebagai Sunan Kalinyamat, yang kini telah tewas akibat terbunuh oleh pasukan Jipang Panolan.

    Satu bulan kemudian, Ratu Kalinyamat telah mampu bangkit dari ranjang walau masih tertatih-tatih akibat cidera tulang yg dialaminya masih belum sembuh sempurna.

    Pada masa itu, hubungan antar penduduk satu desa dengan desa lain sangat-sangat terbatas. Disamping kebutuhan ekonomi mereka telah tercukupi dari hasil pertanian olahan sendiri, medan dan jalan-jalan penghubung antar daerah masih sulit dan terjal.

    Apalagi desa dimana Ratu Kalinyamat tertolong termasuk desa yang ada di lereng pegunungan. Maka bisa dibayangkan, betapa terasingnya letak desa tersebut.

    Bagi para penduduk desa, adalah sebuah kehormatan besar bagi mereka telah menolong seorang permaisuri Sultan Demak. Dan kepada pemuda yang dulu menemukan tubuh Ratu Kalinyamat pada mula pertama, Sang Ratu menjanjikan sebuah jabatan di pemerintahan.

    Sang pemuda itu diutus oleh Ratu Kalinyamat menyampaikan kabar keselamatannya ke Pajang. Dengan dibekali beberapa lembar rontal yang telah ditulisi pesan pribadi dari Sang Ratu, dan setelah diwanti-wanti agar berhati-hati di jalan karena ini adalah tugas yang cukup rahasia dan berbahaya jika sampai diketahui oleh mata-mata Jipang, maka berangkatlah sang pemuda ke Pajang.

    Adipati Hadiwijåyå berikut sang permaisuri, Nimas Sêkaring Kêdhaton benar-benar bersyukur kepada Yang Maha Kuasa mendengar kabar yang dibawa oleh sang pemuda yang kini tengah ada di hadapan mereka. Bahkan sedemikian gembiranya, Nimas Sêkaring Kêdhaton meneteskan air mata bahagia.

    Segera Adipati Hadiwijåyå membaca surat dari kakak iparnya yang diserahkan oleh sang pemuda. Nampak Sang Adipati mengerutkan dahi setelah membaca isi surat dari Ratu Kalinyamat.

    Di sana tertulis bahwasanya Sang Ratu meminta kepada Adipati Hadiwijåyå supaya mengirimkan beberapa prajurit pilihan untuk mengantarkannya pulang ke Jepara.

    Para prajurit harus nylamur lampah sebagai orang kebanyakan. Tidak hanya prajurit, Sang Ratu juga meminta agar dikirimkan pula beserta para prajurit, beberapa pelayan wanita.

    Ratu Kalinyamat secara khusus meminta agar Adipati Hadiwijåyå memberikan ganjaran atau anugerah berupa uang yang sepantasnya kepada para penduduk desa yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya.

    Dan khusus kepada pemuda yang telah menemukan tubuhnya ketika terluka parah, Ratu Kalinyamat memohon agar pemuda tersebut bisa diberikan kedudukan yang pantas di jajaran pemerintahan Kadipaten Pajang.

    Membaca permintaan yang kedua dan ketiga dari Ratu Kalinyamat, bagi Sang Adipati tidak menjadi masalah untuk memenuhinya, namun membaca permintaan pertama dimana Sang Ratu hendak berniat menuju Jepara, membuat Adipati Hadiwijåyå merasa berberat hati.

    Adipati Hadiwijåyå memutuskan agar sang pemuda untuk sementara mundur dahulu dari hadapan beliau. Dia diutus agar beristirahat untuk sementara waktu. Beliau sendiri hendak membahas isi surat Ratu Kalinyamat dengan Nimas Sêkaring Kêdhaton, Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil secara pribadi. Sang pemuda diantar beberapa prajurit pengawal Adipati menuju tempat peristirahatan yang telah disediakan baginya.

    Tåpå Wudå Ratu Kalinyamat.

    Jepara kini telah dikuasai oleh Jipang Panolan. Bila Ratu Kalinyamat nekad kembali ke Jepara, itu sama saja dengan ‘ulå marani gêpuk’. Begitulah Adipati Hadiwijåyå berpendapat.
    Namun, Nimas Sêkaring Kêdhaton malah berpendapat lain.

    Saat ini, malahan tempat yang dirasa paling aman bagi kakak kandungnya memang hanyalah wilayah Jepara. Karena walaupun Jepara memang telah dikuasai Jipang Panolan, namun Ratu Kalinyamat, bagaimanapun juga, telah menghayati setiap jengkal tanah Jepara.

    Bahkan, Nimas Sêkaring Kêdhaton dulu pernah mendengar bahwa kakak kandungnya memang memiliki tempat rahasia yang khusus, tempat yang sering kali dia pergunakan untuk menyepi dan bertapa.

    Hanya Ratu Kalinyamat dan almarhum suaminya, Sunan Kalinyamat saja yang tahu dimana letak tempat tersebut. Para prajurit Jeparapun, tidak seorangpun yang mengetahuinya. Konon letaknya berada di sekitar Gunung Dånåråjå.

    Mungkin, jika benar Ratu Kalinyamat berniat untuk menyembunyikan diri disana, pihak Jipang dapat dipastikan tidak akan bisa menemukannya. Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil condong menyetujui pendapat Nimas Sêkaring Kêdhaton.

    Apa yang telah diputuskan oleh Ratu Kalinyamat, tentunya memang sudah dipertimbangkan secara masak. Mungkin, selain beliau berniat untuk menyembunyikan diri ditempat yang paling aman menurut beliau, diam-diam Sang Ratu juga bisa menyusun kembali kekuatan dari para pendukungnya yang masih ada disana.

    Siapa saja mereka, tentunya hanya Ratu Kalinyamat yang tahu. Ratu Kalinyamat lebih bisa berbuat sesuatu di Jepara daripada jika Sang Ratu memilih bersembunyi ke Pajang, begitu menurut pendapat Ki Mas Måncå.

    Setelah berunding cukup lama, pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyå memutuskan memenuhi semua permintaan Ratu Kalinyamat. Dikirimkannyalah dua puluh prajurit khusus pilihan dari Pajang dengan menyamar sebagai rombongan penari keliling.

    Dengan membawa seperangkat gamelan sebagai bagian dari aksi penyamaran, ditambah lima orang pelayan wanita yang menyamar sebagai para penarinya, maka di hari yang telah ditentukan, berangkatlah mereka.

    Di setiap tempat, mereka sengaja menggelar pertunjukan. Hal ini demi untuk mengelabuhi para mata-mata Jipang sekiranya keberadaan mereka tengah menjadi perhatian mereka. Dan pada akhirnya sampai juga mereka di desa dimana Ratu Kalinyamat tengah menyembunyikan diri.

    Ratu Kalinyamat kemudian ikut rombongan Pajang tersebut dan meninggalkan desa dimana selama ini Sang Ratu telah dirawat untuk menuju ke Jepara. Dalam perjalanan ke Jepara, rombongan tersebut juga sering menggelar pertunjukan.

    Namun, Sang Ratu sengaja tidak tampil ke muka umum. Hingga pada akhirnya, rombongan ini selamat sampai ke Gunung Dånåråjå.

    Ratu Kalinyamat dan rombongan segera menuju gua rahasia yang selama ini sangat dirahasiakan oleh Sang Ratu. Dua puluh prajurit pilihan Pajang bertugas menjaga keselamatan Sang Ratu.

    Sedangkan lima orang pelayan wanita bertugas melayani kebutuhan Sang Ratu. Sedangkan Ratu Kalinyamat sendiri, segera memilih tempat yang tepat, tempat yang tersembunyi dan agak gelap.

    Dan setelah tempat tersebut dibersihkan sedemikian rupa, Sang Ratupun untuk sejenak beristirahat di sana sembari menunggu malam menjelang.

    Begitu malam telah turun, Sang Ratu dengan diantar lima pelayan wanita, keluar dari gua menuju sungai Gajahan yang terletak tak jauh dari sana. Sang Ratu membersihkan diri disungai tersebut.

    Selesai membersihkan diri, beliau kembali ke dalam gua.
    Sepeningal suaminya Sunan Kalinyamat yang dikenal juga bernama Sultan Hadiri yang terbunuh pada peperangan dengan Aryå Pênangsang pada suatu pertempuran.
    Sang Ratu telah meninggalkan tahta kerajaan untuk berkelana menuntut keadilan,

    Tujuan Sang Ratu adalah menuju sebuah gua rahasia yang tidak seorangpun mengetahui letak gua tersebut kecuali Sang Ratu sendiri dan almarhum suaminya, Sunan Kalinyamat.

    Di sana selain menyembunyikan diri, Ratu Kalinyamat juga bertekad akan melakukan tåpå wudå. yaitu menanggalkan pakaian kebesaran kerajaan sampai dendamnya kepada Aryå Pênangsang terbalaskan.

    Ratu Kalinyamat yang dilukiskan sangat cantik bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang terurai. Ia memohon pertolongan kepada Tuhan agar diberikan kekuatan sehingga bisa membalas dendam atas kematian suaminya.

    Dia bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun luwar såkå tåpå ingsun yèn durung kramas gêtihé lan kèsèt sirahé Aryå Penangsang”.

    Di tempat yang telah dipilih itu, Sang Ratu melepaskan seluruh busananya hingga telanjang bulat. Rambut panjangnya diurai sedemikian rupa hingga menutupi bagian payudaranya. Ratu Kalinyamat duduk bersila.

    Sang Ratu bertekad, dengan sumpahnya itu. Harapan terbesarnya adalah adik iparnya, yaitu Adipati Pajang Hadiwijåyå, karena hanya ia yang setara kesaktiannya dengan bupati Jipang.

    Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Dånåråjå sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya.

    Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana demi membalas dendam atas kematian suaminya. Konon Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di tempat itu.

    Tempat tapa telanjang Ratu Kalinyamat yang terletak di Desa Dånåråjå, Jepara bagian Utara itu, hingga sekarang menjadi tempat ziarah, dan Sungai Gajahan masih tetap mengalir di sana.

    Diam-diam, walaupun Ratu Kalinyamat juga tengah menjalani tåpå wudå, melalui kedua puluh prajuirit pilihan yang menjaganya, Dalam keadaan seperti itu, hanya pelayan wanita saja yang diperbolehkan mendekati beliau.

    Ratu Kalinyamat mencoba menghubungi beberapa mantan petinggi Jepara yang masih setia kepadanya. Beberapa mantan pejabat tersebut diam-diam pula bertandang menghadap ke Gunung Dånåråjå.

    Dari sini, penggalangan kekuatan mulai dibangun kembali. Ratu Kalinyamat perlahan dan pasti, mulai merapatkan barisan para pendukungnya. Kekuatan Jepara yang tercerai berai akibat gempuran Jipang Panolan, diam-diam mulai menyatu kembali.

    Usaha Pembunuhan Adipati Hadiwijåyå.

    Aryå Pênangsang sudah bersiap untuk menyerang Pajang. Namun Sunan Kudus masih menghalanginya. Pajang terlalu kuat untuk diperangi saat ini. Seluruh kekuatan Islam Abangan, bahkan sedikit banyak kekuatan sisa-sisa prajurit Majapahit, kini telah merapat dalam satu barisan dibawah panji Kadipaten Pajang.

    Jika Dewan Wali Sångå sudah jelas-jelas memberikan dukungan kepada Jipang, maka penyerangan ke Pajang tidaklah menjadi masalah. Karena sudah dapat dipastikan, Cirebon dan Banten, mau tidak mau akan ikut memperkuat barisan Jipang manakala Dewan Wali telah mengeluarkan fatwanya.

    Kekuatan Pajang sebenarnya terletak pada sosok Djåkå Tingkir sebagai pewaris tahta Majapahit. Sosok Adipati Pajang ini mampu memberikan semangat yang luar biasa akan kejayaan Majapahit.

    Sunan Kudus memberikan pendapat, bahwa jika Djåkå Tingkir berhasil dibunuh, maka dapat dipastikan, kekuatan Pajang akan terpecah-pecah, pembunuhan seperti yang pernah dilakukan kepada Sunan Prawåtå yang berhasil dengan gemilang, tidak ada salahnya dicoba untuk dilakukan sekali lagi kepada Adipati Pajang tersebut.

    Aryå Pênangsang menanggapi hal yang dianjurkan oleh Sunan Kudus. Dipilihnyalah empat orang Prajurit Surèng, prajurit khusus Jipang Panolan, untuk menjalankan tugas rahasia tersebut.

    Empat orang prajurit pilihan yang diambil dari anggota pasukan khusus segera ditugaskan menuju Pajang. Konon, Djåkå Tingkir adalah sosok manusia digdåyå.

    Maka, sekali lagi, Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr yang berhasil direbut dari dalam kereta kencana Ratu Kalinyamat dan Sunan Kalinyamat di kala penyerangan kepada kedua bangsawan tersebut waktu itu, kini dibekalkan kepada empat orang prajurit tersebut.

    Dengan menyamar sebagai pedagang keliling, empat orang prajurit khusus Jipang Panolan tersebut segera berangkat menuju Pajang. Beberapa hari mereka menempuh perjalanan dan akhirnya sampai juga di ibukota Kadipaten Pajang.

    Sembari berpura-pura menjajakan dagangan berupa pakaian-pakaian jadi, mereka mencoba mencari tahu seputar keadaan dan suasana Kadipaten. Sebagai seorang prajurit khusus yang telah terlatih, mereka dengan sangat cepat mampu menandai dimana titik-titik lemah penjagaan Kadipaten Pajang.

    Setelah yakin akan hasil penyelidikannya, maka pada hari keempat, tepat tengah malam, mereka segera memulai kegiatannya.

    Malam itu, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani belum tertidur. Keduanya masih terjaga sembari berbincang-bincang. Namun mendadak, baik Ki Agêng Pêmanahan maupun Ki Juru Martani, merasakan perubahan suasana yang aneh.

    Keadaan Kadipaten tiba-tiba terasa senyap. Bahkan suara burung malam yang sesekali terdengar, kini mendadak tak terdengar sama sekali. Seolah seluruh makhluk penghuni malam, telah hilang begitu saja, entah kemana. Bahkan, jengkerikpun tiba-tiba tidak memperdengarkan suara khasnya.

    Suasana yang terasa aneh seperti itu membuat kedua orang ini waspada. Ki Juru Martani berbisik kepada Ki Agêng Pêmanahan bahwa sepertinya ada orang yang tengah menebarkan kekuatan gaib ilmu sirêp, yaitu sejenis ilmu yang dipergunakan untuk membuat orang lain tertidur pulas bagaikan mati.

    Ki Agêng Pêmanahan segera memutuskan untuk keluar dari bilik pribadi. Dengan diikuti oleh Ki Juru Martani, keduanya segera berkeliling areal Kadipaten.

    Didalam bilik peraduan, Adipati Hadiwijåyå juga merasakan perubahan suasana yang aneh tersebut. Malam itu, Sang Adipati tidur dengan ditemani empat orang istri selir beliau.

    Keempat istri selir nampak pulas tertidur disisi kanan dan kiri Sang Adipati, mereka tertidur bagaikan mati. Hanya tinggal Adipati Hadiwijåyå saja yang terjaga dengan benak dipenuhi tanda tanya.

    Ada sesuatu yang tengah terjadi. Sang Adipati kini mulai meningkatkan kewaspadaannya. Dengan tetap berbaring telentang, Adipati Hadiwijåyå sengaja menyelimuti tubuhnya dengan selembar kain kemben. Suasana sangatlah senyap.

    Mendadak dari arah pintu kamar, lamat-lamat terdengar bunyi berisik. Mata Sang Adipati nyalang melirik ke arah pintu kamar. Jelas dari arah luar, ada orang yang sengaja berusaha masuk secara paksa kedalam.

    Sang Adipati waspada. Dengan tetap dalam posisi telentang berselimutkan kain kemben, Sang Adipati siaga sepenuhnya.

    Tidak berapa lama berselang, dua orang bercadar berhasil membuka pintu dan langsung masuk kedalam. Yang seorang segera bergerak kearah pembaringan dan yang seorang tetap menjaga pintu.

    Terlihat keris dihunus dari warangka, berkilat sesaat tertimpa cahaya pelita kamar. Dengan memegang keris terhunus dan berjalan mengendap-endap, salah seorang bercadar mendekati pembaringan Adipati Hadiwijåyå.

    Begitu jarak sudah sedemikian dekat dengan tubuh Sang Adipati, orang bercadar tersebut secepat kilat menikamkan keris kedada Sang Adipati. Keris terayun mengarah dada. Namun terjadi keanehan.

    Tusukan yang telah sedemikian tepat dan mematikan tersebut seakan-akan telah membentur selapis dinding. Dada Sang Adipati sama sekali tidak terluka sedikitpun. Hanya kain kemben yang dijadikan selimut tersingkap.

    Orang bercadar yang menusukkan keris terkejut. Sekali lagi dihunjamkannya keris kearah yang sama. Dan sekali lagi pula, bahkan orang yang menusukkan keris itu terpelanting ke belakang.

    Disaat itu, Adipati Hadiwijåyå mendadak membuka matanya. Dengan menggeram marah, Adipati Hadiwijåyå segera menjejakkan kakinya ke dada orang bercadar yang berusaha hendak menusukkan keris sekali lagi ke arah tubuhnya.

    Jejakan kaki Sang Adipati tepat mengenai dada. Tubuh orang bercadar terdorong kebelakang, dan jatuh menimpa perabotan kamar diiringi bunyi gaduh yang nyaring.

    Bunyi gaduh akibat jatuhnya tubuh orang bercadar menimpa perabotan kamar membuat keempat istri selir terbangun. Begitu menyadari ada dua orang lain yang tengah hadir didalam kamar, mereka menjerit ketakutan.

    Dengan bertelanjang dada, Adipati Hadiwijåyå bangkit dari pembaringan dan langsung menyambar sebuah keris yang menyandar disudut dinding. Adipati Hadiwijåyå menghunus keris tersebut seketika.

    Salah seorang bercadar yang sedari tadi menjaga pintu, tanpa menunggu waktu langsung menyerang Sang Adipati. Perkelahian segera terjadi. Kegaduhan pun tercipta diiringi jerit ketakutan keempat istri selir yang kini nampak berkumpul berdiri di pojok kamar.

    Tusukan keris bisa dihindari oleh Adipati Hadiwijåyå. Bahkan dengan tak terduga, keris ditangan Sang Adipati cepat menukik ke arah perut. Orang bercadar kaget. Begitu cepat serangan tersebut.

    Dia berusaha menghindar selekasnya, namun karena terlalu cepatnya serangan, kulit perutnyapun tergores juga. Dibalik cadarnya, dia meringis kesakitan.

    Salah seorang yang sedari tadi terjatuh, kini bangkit berdiri dan langsung menyerang. Kegaduhan kembali terjadi lebih dari semula. Namun, bagaimanapun juga, kedua pasukan khusus Surèng Jipang Panolan ini diam-diam harus mengakui, sosok Adipati Hadiwijåyå memang tangkas dan trengginas.

    Belum lama pertempuran terjadi, karena terpancing suara gaduh dan jeritan para selir yg berselang-seling dengan teriakan-teriakan dari mereka yang tengah berkelahi, beberapa pasukan pengawal Adipati merangsak masuk ke dalam kamar.
    Nampak Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani langsung ikut meleburkan diri dalam kegaduhan.
    Sang Adipati berteriak lantang: “Jangan bunuh. Tangkap hidup-hidup.”

    Apa daya dua orang menghadapi beberapa prajurit pengawal Adipati Pajang. Begitu tombak-tombak panjang yang runcing terarah ketubuh mereka, mau tak mau, mereka menghentikan serangannya dan langsung duduk bersimpuh.

    Kangjeng Adipati, saya juga telah membekuk dua orang lain yang berada diluar.”. Ujar Ki Agêng Pêmanahan sembari menyembah.

    Adipati Hadiwijåyå menyarungkan kerisnya. “Kurung mereka untuk sementara waktu. Obati luka-luka mereka. Besok pagi, hadapkan semuanya kepadaku.”

    Ki Agêng Pêmanahan menyembah kemudian memerintahkan dua orang prajurit pengawal untuk mengikat tangan kedua orang bercadar yang kini tengah duduk bersimpuh. Keduanya digiring keluar kamar dan dibawa ke pakunjaran.

    Malam itu, Adipati Hadiwijåyå terpaksa harus tidur dikamar permaisurinya, Nimas Sêkaring Kêdhaton yang jadi ikut terbangun akibat kejadian tersebut. Beberapa pelayan wanita terpaksa pula membereskan seluruh perabotan pecah belah yang hancur berserakan akibat perkelahian barusan. Malam itu, seisi Kadipaten Pajang geger.

    Keesokan harinya, keempat orang yang semalam tertangkap, dihadapkan secara khusus kepada Adipati Hadiwijåyå. Cadar mereka telah dibuang. Kini wajah keempat-empatnya nampak jelas sudah. Mereka menundukkan muka, menunggu jatuhnya hukuman mati yang pasti akan diberikan oleh Adipati Hadiwijåyå.

    Sang Adipati terdiam agak lama memperhatikan keempat orang yang nampak sudah sangat pasrah tersebut. Di sana, Ki Mas Måncå, Ki Wilå, Ki Wuragil, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani ikut hadir.

    Berikut beberapa prajurit pengawal. Suasana tegang, menantikan apa yang hendak dilakukan oleh Sang Adipati. Tak ada yang berani mengeluarkan suara sekecil apapun.
    Pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyåpun angkat suara. “Dimas Pêmanahan. Bagaimana hasilnya?

    Ki Agêng Pêmanahan menyembah sejenak dan menjawab: “Kasinggihan Dalem Kangjeng, keempat orang ini adalah prajurit Surèng dari Jipang Panolan.

    Seluruh yang hadir terkejut seketika mendengar jawaban Ki Agêng Pêmanahan. Adipati Hadiwijåyå lekat memperhatikan keempat orang dihadapannya sembari memincingkan mata. Yang diperhatikan semakin menundukkan kepala.

    Nampak kemudian, Ki Agêng Pêmanahan mengeluarkan benda berbuntalkan kain putih dari balik bajunya, kemudian menyembah sejenak dan berjalan duduk menghampiri tempat Adipati. “Mohon Kangjeng Adipati berkenan memeriksa benda ini.”

    Adipati Hadiwijåyå menerima benda berbungkus kain putih yang dihaturkan Ki Agêng Pêmanahan. Dengan menahan nafas, dibukanya kain putih penutup, begitu benda telah lepas dari penutupnya, memerahlah wajah Sang Adipati. Bibirnya tanpa sadar bergumam: “Kyai Brongot Setan Kober.

    Suara Sang Adipati menambah keterkejutan semua yang hadir. Ditangannya kini tergenggam sebilah keris yang tak lain adalah Kyai Brongot Setan Kober, keris pusaka milik Sunan Kudus yang telah diberikan kepada Aryå Pênangsang.

    Dada Adipati Hadiwijåyå bergemuruh. Ditunjukkannya keris ditangan kepada Ki Mas Måncå. Ki Mas Måncå memincingkan mata memperhatikan keris tersebut lekat-lekat. Sembari menarik nafas, wajah Ki Mas Måncå bersemu merah. “Bagaimana, kangmas?”, tanya Adipati Hadiwijåyå.

    Ki Mas Måncå diam sesaat. Kemudian dia menjawab: “Terserah dimas Adipati. Ini sudah keterlaluan.

    Keris lalu diserahkan kembali kepada Ki Agêng Pêmanahan. Kini kembali Adipati Hadiwijåyå memperhatikan empat orang prajurit Surèng Jipang Panolan. Sang Adipati dengan suara tertahan, menanyakan langsung kepada keempat prajurit dihadapannya, benarkah Aryå Pênangsang yang telah memerintahkan mereka.

    Salah seorang prajurit yang ditunjuk untuk menjawab, dengan terbata-bata membenarkan akan hal itu. Suasana menjadi bertambah tegang.

    Adipati Hadiwijåyå menghela nafas, kemudian berkata: “Kalian orang Jipang, terimakasih kalian mau mengunjugi Kadipaten Pajang, sungguh kedatangan kalian sangat tidak kuduga. Aku mengucapkan selamat datang

    Mendengar titah Sang Adipati, semua yang mendengar tidak menduga sama sekali. “Pulanglah kalian kembali ke Jipang Panolan. Sampaikan salamku kepada junjungan kalian Adipati Jipang, Kangmas Arya Penangsang. Katakan padanya biarlah keris Kyai Brongot Sétan Kobèr, sementara ada di Pajang, kelak akan kukembalikan.
    Kalian tidak usah takut kekurangan bekal, kalian akan aku beri segenggam intan dan emas permata, serta uang kèpèng yang banyak. Katakan juga kepada junjungan kalian, bahwa Djåkå Tingkir masih segar bugar
    ” Demikian Sang Adipati berkata.

    Keeesokan harinya, keempat prajurit Surèng dari Jipang dihantarkan oleh prajurit khusus pengawal Adipati keluar dari ibu kota Pajang untuk pulang kembali ke Jipang Panolan.

    Betapa malu keempat orang prajurit Surèng tersebut mendapat perlakuan semacam itu.

    Kepulangan empat prajurit Surèng ke Jipang Panolan, bukannya membawa kabar keberhasilan yang membuat Aryå Pênangsang senang, namun malahan membawa malu yang mencoreng muka Aryå Pênangsang.

    Tidak hanya gagal menjalankan tugas, tapi juga meninggalkan Keris Kyai Setan Kober di Pajang. Sudah bisa ditebak, diam-diam keempat orang prajurit ini dijatuhi hukuman penggal kepala oleh Aryå Pênangsang karena tidak berhasil menjalankan tugas.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • SUGENG ENJANG

      matur nuwun ki…..mangke kulo SINAU-ni,

  5. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-18: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-14) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr (Parwa-3). On 26 Juli 2011 at 06:43 JdBK 04

    Wêdaran kaping-19:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-15)

    KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Bagian ke-4]

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Kêris Kyai Någåsåsrå
    • Kêris Kyai Sabuk Intên
    • Kêris Kyai Sêngkêlat
    • Kêris Kyai Condong Campur
    • Kêris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    Kabar kegagalan itu dilaporkan oleh Aryå Pênangsang kepada Sunan Kudus. Sunan Kudus tak habis pikir, betapa tinggi ilmu kanuragan yang dimiliki Adipati Hadiwijåyå. Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr, tidak mampu melukai tubuhnya sedikitpun.

    Aryå Pênangsang mendesak Sunan Kudus agar diberi ijin untuk mengadakan penyerangan ke Kadipaten Pajang. Karena semua sudah kepalang basah.

    Namun lagi-lagi, Sunan Kudus menghalanginya. Sunan Kudus masih memiliki satu cara lagi. Satu cara untuk memancing Adipati Hadiwijåyå keluar dari sarang. Jika berhasil dipancing keluar dari sarangnya, maka untuk memusnahkan segala ilmu kanuragan yang dimilikinya dan membunuhnya akan semakin mudah dilakukan.

    Pada hari yang akan ditentukan, Sunan Kudus secara pribadi akan mengirimkan undangan khusus kepada Adipati Pajang. Sunan Kudus sengaja mengundang Sang Adipati guna untuk memperingati tahun baru Islam, satu Muharram, yang hendak dirayakan oleh Pesantren Kudus.

    Waktu itu, kalender Jawa belum lahir. Kalender yang dipakai adalah kalender Hijriyyah dan kalender Saka. Kedua kalender yang berasal dari tradisi Islam dan tradisi Hindhu ini dipakai secara bersamaan. Jadi waktu itu belum dikenal istilah Suroan.

    Kalender Jawa baru lahir kelak oleh cicit Ki Agêng Pêmanahan, cucu Panembahan Senopati, yaitu Kangjêng Sultan Agung Hanyåkråkusumå pada tahun 1555 Ç atau 1633M. Kalender Jawa adalah sistim penanggalan dimana kalender Hijriyah dari Islam dan kalender Çaka dari Hindu dilebur menjadi satu kesatuan.

    Dapat dipastikan, Adipati Hadiwijåyå sebagai seorang pemimpin yang disegani di Jawa, akan menghargai undangan tersebut. Undangan dari seorang anggota Dewan Wali Sangha yang tergolong sepuh. Yang punya pengaruh dan suaranya didengar di dalam Dewan Wali. Maka mau tak mau, Adipati Hadiwijåyå akan hadir memenuhi undangan tersebut.

    Manakala Adipati Hadiwijåyå telah datang ke Kudus, maka Aryå Pênangsang yang harus menyambut kedatangannya. Sunan Kudus telah menyediakan sebuah kursi khusus yang sengaja telah diberi mantra untuk melenyapkan segala macam ilmu kesaktian yang dimiliki siapapun yang duduk diatasnya.

    Dan adalah tugas Aryå Pênangsang untuk mengusahakan agar Adipati Hadiwijåyå bisa duduk dikursi tersebut. Disamping itu, diam-diam Aryå Pênangsang juga harus mempersiapkan seluruh angkatan bersenjata Jipang untuk bersiap-siap menyerang Pajang.

    Jika Adipati Hadiwijåyå telah menduduki kursi khusus tersebut, maka saatnya bagi Aryå Pênangsang untuk membunuh Sang Adipati saat itu juga. Dapat dipastikan, seluruh kekuatan Adipati Hadiwijåyå luruh. Begitu Sang Adipati telah tewas, maka Aryå Pênangsang harus segera memerintahkan penyerangan besar-besaran ke Pajang.

    Dengan tidak adanya Adipati Hadiwijåyå, Pajang, sekuat apapun, hanya akan menjadi harimau tak bertaring. Pajang akan kucar-kacir. Dan Jipang pasti bisa menjebol Pajang.

    Rencana yang sangat matang tersebut disetujui Aryå Pênangsang. Dan menginjak bulan ke sebelas menurut kalender Islam, yaitu bulan Dzulqo’idah, Sunan Kudus mengirimkan surat undangannya ke Pajang.

    Surat dari Sunan Kudus tersebut diterima oleh Adipati Hadiwijåyå. Isi surat segera menjadi bahasan serius Sang Adipati. Disana tertera bahwasanya Sunan Kudus mengharap dengan hormat kepada Kangjeng Adipati Pajang, Hadiwijåyå, untuk bersedia hadir di Kudus pada bulan Muharrom guna ikut memperingati perayaan tahun baru Islam.

    Seluruh orang terdekat Adipati Hadiwijåyå menyarankan agar Adipati Hadiwijåyå berhati-hati. Bisa jadi ini adalah jebakan baginya. Namun, tidaklah layak mengabaikan undangan seorang berpengaruh di Jawa seperti Sunan Kudus dimana wibawanya memiliki kekuatan dalam Dewan Wali Sångå.

    Maka diputuskan, Adipati Hadiwijåyå akan berangkat ke Kudus dengan didampingi oleh Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Sedangkan Ki Mas Måncå, Ki Wilå dan Ki Wuragil, akan tetap di Pajang. Menyiagakan seluruh kekuatan angkatan bersenjata Pajang jika nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Adipati Hadiwijåyå mempercayakan Pajang kepada Ki Mas Måncå manakala dia pergi ke Kudus.

    Dua bulan kemudian, menjelang beberapa hari sebelum hari perayaan yang tertera dalam surat undangan dari Kudus, berangkatlah rombongan Adipati Pajang ke Kudus. Segala macam kebesaran Pajang nampak dari rombongan tersebut. Disetiap jalan yang dilalui, rombongan Pajang senantiasa mendapatkan berbagai bentuk penghormatan dari rakyat.

    Bahkan, ditempat-tempat mana rombongan Pajang bermalam, rakyat sangat bersuka cita menerima kehadiran mereka. Banyak yang mempersembahkan makanan dengan suka rela walaupun sebenarnya, seluruh rombongan tidak begitu memerlukannya. Perbekalan yang dibawa dari Pajang sudah lebih dari cukup.

    Namun, Adipati Hadiwijåyå memerintahkan kepada seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan agar menerima segala persembahan dari rakyat tersebut. Walaupun nampak remeh temeh, namun itu adalah wujud kecintaan rakyat kepada mereka semua. Jangan sekali-kali mengacuhkan persembahan makanan yang diunjukkan dengan rasa penuh kecintaan tersebut.

    Beberapa hari kemudian, sampailah rombongan Adipati Pajang ke kota Kudus. Kedatangan rombongan dari Pajang ini mengagetkan masyarakat Kudus. Mereka terperangah melihat segala macam kebesaran yang terlihat. Mereka baru menyadari, bahwa Pajang ternyata sudah pantas jika menjadi sebuah Kerajaan besar.

    Panji-panji Pajang berkibar-kibar. Berkelebat dengan gagah diterpa angin. Nampak didepan, Adipati Hadiwijåyå menaiki seekor gajah diiringi beberapa prajurit berkuda diarah depan, kiri, kanan dan baru rombongan berkuda juga dibelakangnya. Seluruh orang Kudus kagum melihat kebesaran Pajang.

    Rombongan itu langsung menuju ke Pesantren Kudus. Disana, para santri menyambut kedatangan rombongan Adipati Pajang dengan menabuh rebana dan menyanyikan salawat Nabi seperti kebiasaan mereka.

    Di antara rombongan, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, tetap mempertajam kewaspadaan mereka. Nampak, selain para santri, ada terlihat beberapa pasukan Jipang yang juga telah hadir disana. Bahkan ada beberapa pasukan dari daerah lain yang nampak ikut hadir.

    Namun kedatangan rombongan dari Pajang, lebih menyita perhatian. Kebesaran Adipati Hadiwijåyå sangat memukau semua mata. Begitu Sang Adipati turun dari atas punggung gajah, nampak dipendåpå, beberapa santri langsung menyambutnya dan mempersilakan masuk ke pendåpå.

    Seluruh rombongan turun dari kuda. Masing-masing tali kekang kuda ditambatkan ditempat yang telah disediakan. Perayaan tahun baru Islam di Kudus memang terlihat meriah.

    Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani segera mengiringi Adipati Hadiwijåyå. Mereka masuk ke pendåpå diikuti para prajurit khusus Pajang yang lain.

    Begitu seorang santri kembali mempersilakan agar Adipati Hadiwijåyå masuk ke ruang dalam untuk bertemu secara khusus dengan Sunan Kudus, Ki Agêng Pêmanahan segera memilih beberapa prajurit yang terlatih untuk ikut mengiringi Sang Adipati bersamanya.

    Sedangkan Ki Juru Mêrtani, tetap bertugas diluar, menyiagakan seluruh prajurit yang tidak ikut masuk bila ada hal yang tidak dikehendaki nanti.

    Manakala Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan dan beberapa prajurit pilihan masuk keruang dalam, betapa terkejut mereka ketika disana Aryå Pênangsang dan beberapa prajurit khusus Jipang Panolan telah berdiri menyambut. Baik Adipati Hadiwijåyå maupun Ki Agêng Pêmanahan segera waspada.

    Aryå Pênangsang langsung bergerak memeluk Adipati Hadiwijåyå. Setelah itu dia berkata: “Dimas Hadiwijåyå, sangat senang hatiku melihat adimas bersedia hadir di Kudus ini. Sugêng rawuh Dimas

    Adipati Hadiwijåyå tersenyum dan menjawab: “Kasinggihan kangmas, hati sayapun gembira bisa melihat kangmas Aryå Pênangsang juga hadir di Kudus ini.

    Diam-diam, Ki Agêng Pêmanahan memberikan isyarat wspada kepada seluruh prajurit yang ikut masuk.
    Terdengar Aryå Pênangsang kembali berkata: “Mari adimas, silakan duduk disini…

    Aryå Pênangsang mempersilakan Adipati Hadiwijåyå untuk duduk disalah satu kursi yang tersedia. Namun, mendadak terbersit perasaan ganjil di hati Adipati Hadiwijåyå manakala matanya melihat keberadaan kursi yang dimaksud oleh Aryå Pênangsang.

    Tanpa sadar, Adipati Hadiwijåyå berkata: “Ah, kangmas. Bukankah itu kursi paling bagus di antara semua kursi yang ada di sini. Tak layak bagiku duduk di sana. Hanya Bapa Sunan Kudus sendiri sebagai tuan rumah yang pantas mendudukinya.
    Aryå Pênangsang tersenyum simpul. “Tidak mengapa dimas, månggå…

    Aryå Pênangsang terlihat agak memaksa. Sikap Aryå Pênangsang menambah ketidak nyamanan dihati Adipati Hadiwijåyå semakin bertambah-tambah. Terasa aneh. Adipati Hadiwijåyå, secara halus tetap menolak untuk duduk disana.

    Sudahlah, kangmas Penangsang. Saya akan duduk dikursi sebelahnya saja. Kurang patut rasanya jika saya yang duduk di kursi itu.
    Aryå Pênangsang kaget. Namun segera dia menutupi kekagetannya. “Ada apa dengan kursi itu? Apa yang dimas takutkan?

    Adipati Hadiwijåyå tersenyum dan menjawab: “Ah, mungkin hanya perasaan saya saja. Tapi jika memang tidak ada apa-apa di sana, apakah kangmas berani mendudukinya?

    Aryå Pênangsang sedikit bingung. Hal ini tak luput dari perhatian Adipati Hadiwijåyå dan Ki Agêng Pêmanahan.
    Mengapa kangmas? Kangmas takut duduk di sana?,” sindir Adipati Hadiwijåyå.

    Memerah wajah Aryå Pênangsang, dia menjawab: “Tidak ada apa-apa di sana, mengapa aku mesti takut?

    Dan dengan pongahnya Aryå Pênangsang langsung berjalan kearah kursi tersebut dan langsung duduk di atasnya. Padahal Sunan Kudus telah wanti-wanti, kursi tersebut telah diisi dengan jåpå måntrå, siapa saja yang menduduki kursi tersebut, dapat dipastikan, seluruh ilmu kanuragan yang dimiliki akan luruh seketika itu juga.

    Diam-diam, Sunan Kudus yang tengah mengintip dari dalam menggeram marah melihat kebodohan dan kesombongan Aryå Pênangsang. Namun dia belum memutuskan untuk keluar menemui Adipati Hadiwijåyå.

    Melihat kursi yang semula ditawarkan kepadanya kini telah diduduki oleh Aryå Pênangsang, Adipati Hadiwijåyå tersenyum simpul, lalu mengambil tempat duduk yang bersebelahan dengan Aryå Pênangsang. Ki Agêng Pêmanahan dan beberapa prajurit, segera duduk bersila di bawah.

    Setelah berbasa-basi sejenak, Adipati Hadiwijåyå menyengaja berkata demikian: “Oh ya kangmas, saya jadi ingat. Beberapa bulan yang lalu, Pajang kedatangan beberapa orang yang mengincar nyawa saya. Tapi syukurlah, Hyang Widdhi masih memberikan keselamatan kepada saya…,

    Sengaja Adipati Hadiwijåyå menggantung kalimatnya untuk melihat tanggapan Aryå Pênangsang. Aryå Pênangsang agak gugup, tetapi berpura-pura kaget. “Benarkah? Ah berani sekali. Syukurlah jika dimas bisa lolos dari maut dan selamat sampai hari ini.

    Adipati Hadiwijåyå tersenyum mengangguk, katanya kemudian: “Dan keris yang akan dipakai untuk membunuh saya, berhasil saya ambil…

    Adipati Hadiwijåyå memberi isyarat kepada Ki Agêng Pêmanahan. Ki Agêng Pêmanahan nampak tegang. Kemudian dia mendekat dan mengulurkan sebuah peti kayu jati ke arah Adipati Hadiwijåyå.

    Adipati Hadiwijåyå menerimanya, dan membuka peti tersebut. Dikeluarkannya sebilah keris dari sana. Dipegangnya sedemikian rupa sehingga semua mata bisa melihat keris ditanganya. “Inilah keris itu.”

    Muka Aryå Pênangsang memerah padam. Apalagi ketika mendengar ucapan Adipati Hadiwijåyå selanjutnya. “Dan kehadiran saya di sini, selain memenuhi undangan Kanjeng Sunan Kudus, saya bermaksud mengembalikan keris ini kangmas Aryå Pênangsang, sebagai pemiliknya.

    Dengan wajah tenang dan bibir tersenyum, Adipati Hadiwijåyå menyerahkan keris tersebut kepada Aryå Pênangsang. Ragu Aryå Pênangsang menerimanya. Namun akhirnya, dengan perasaan campur aduk antara malu dan marah, diterima juga keris itu.

    Terdengar kembali Adipati Hadiwijåyå berkata datar: “Konon keris tersebut sangat ampuh. Tapi bagi saya keris ini tidak lebih hanya sebilah pisau dapur yang tumpul.

    Amarah Aryå Pênangsang bangkit. Setengah menggeram dia berkata: “Jika saya yang menggunakannya, jangankan manusia, gunung jugrug sêgårå asat seketika.

    Adipati Hadiwijåyå tergelitik juga, lalu Sang Adipati mencabut keris sakti andalannya Kyai Carubuk yang sedari tadi terselip di pinggang belakangnya. Keris pemberian Kanjeng Sunan Kalijågå. seraya berkata: “Lebih ampuh mana dengan Kyai Carubuk milik saya ini.”

    Aryå Pênangsang seketika bangkit berdiri. Dengan mata merah memandang kearah Adipati Hadiwijåyå tajam. Adipati Hadiwijåyå lalu ikut bangkit pula. Suasana berubah tegang.

    Dua orang ksatria ini kini telah berdiri berhadap-hadapan dengan keris di tangan masing-masing. Aryå Pênangsang dengan Kyai Brongot Sétan Kobèr di tangannya, sedangkan Adipati Hadiwijåyå dengan Kyai Carubuk.

    Di bawah, baik prajurit Pajang maupun prajurit Jipang telah memutar keris mereka yang semula terselip dipinggang belakang, kini sudah diputar kedepan dengan gagang sudah mereka genggam. Tinggal mencabut kerisnya. Kedua pasukan khusus ini sudah siap tempur juga. Dua kekuatan tangguh, Jipang dan Pajang, kini sudah berhadap-hadapan.

    Suasana tegang. Tak ada seorang-pun yang berani mengeluarkan suara. Hanya bunyi detak jantung yang berdegub kencang saja yang terdengar. Dan hanya terdengar oleh masing-masing pemilik jantung sendiri.

    Nampak, Adipati Hadiwijåyå dan Aryå Pênangsang telah berhadapan dengan keris terhunus di tangan. Mata keduanya saling bertatapan. Kemarahan nampak di wajah mereka.

    Di bawah, kedua kelompok prajurit khusus dari Jipang dan Pajang juga tegang. Begitu junjungannya diserang atau memulai menyerang dulu, maka merekapun telah siap menyerang lawannya. Sesaat, mereka melirik kearah junjungannya yang masih berdiri berhadap-hadapan, sesaat kemudian mereka melirik lawan mereka yang bersila bersebelahan. Suasana benar-benar genting.

    Disaat kritis seperti itu, disaat keadaan yang tinggal meledak sebentar lagi, tiba-tiba terdengar suara salam yang keras. “Assalammu’alaikum.”

    Serta merta, semua mata segera melayangkan pandangannya kearah mana suara salam itu berasal. Nampak Sunan Kudus keluar dari ruang belakang diiringi beberapa santri.

    Sembari menghela nafas, seluruh prajurit Jipang maupun beberapa prajurit Pajang yang muslim menjawab salam Sunan Kudus, walau tidak serempak. Di sana, baik Adipati Hadiwijåyå maupun Aryå Pênangsang segera menghela nafas melepaskan ketegangan yang semenjak tadi menyergap seluruh persendian dan dada mereka.

    Sunan Kudus berjalan menghampiri mereka sembari berucap lantang: “Lho…lho..lho. Kalian ini priyayi apa, atau sengaja hendak pamer keris?

    Sunan Kudus bergerak ke tengah-tengah antara Aryå Pênangsang dan Adipati Hadiwijåyå. Tempati Adipati Hadiwijåyå berada disebelah kiri Sunan Kudus sedangkan Aryå Pênangsang berada di sebelah kanannya. Terlihat, Sunan Kudus sigap memegang pergelangan tangan kedua priyayi yang tengah hendak saling serang itu.

    Tangan kiri Sunan Kudus tengah memegang erat pergelangan tangan kanan Adipati Hadiwijåyå yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kanan Sunan Kudus memegang erat pergelangan tangan kiri Aryå Pênangsang yang jelas-jelas tidak menggenggam apapun. Tangan kanan Aryå Pênangsang yang menggenggam Kyai Brongot Sétan Kobèr bebas bergerak leluasa.

    Sunan Kudus menatap tajam Aryå Pênangsang, terdengar dia membentak. “Sarungkan kerismu, Penangsang.”
    Aryå Pênangsang termangu. Masih belum bergerak sedikitpun. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya: “Sarungkan, Penangsang.”

    Aryå Pênangsang ragu. Belum juga menurunkan kerisnya. Sekali lagi Sunan Kudus membentaknya lebih keras: “Sarungkan kataku!.

    Kali ini Aryå Pênangsang menurunkan Kyai Brongot Sétan Kobèr yang terangkat, kemudian menyarungkannya ke dalam warangkanya. Melihat Aryå Pênangsang menyarungkan keris, Adipati Hadiwijåyåpun ikut menyarungkan Kyai Carubuk ke dalam warangkanya.

    Hampir saja aku membuat makanan segar bagi burung bangkai,” Aryå Pênangsang bergumam setengah menggeram. Adipati Hadiwijåyå tersenyum kecil.

    Sunan Kudus menghela nafas, sembari tetap di tempatnya berdiri, Sunan Kudus berkata kepada Adipati Hadiwijåyå: “Maafkan nGger Adipati, adanya sesuatu yang tidak semestinya terjadi di sini. Anakmas Hadiwijåyå, sebagai tuan rumah, dan sesepuh pesantren saya menyesal.
    Dan untuk kebaikan kita bersama, saya menyarankan, tidak ada salahnya jika anakmas beserta rombongan segera pulang saja ke Pajang lebih awal. Disini, saya pribadi dan seluruh masyarakat Kudus, sudah merasa sangat terhormat atas kedatangan anakmas Hadiwijåyå berikut rombongan jauh-jauh dari Pajang. Skali lagi saya mohon maaf atas kejadian yang sama-sama tidak kita inginkan

    Adipati Hadiwijåyå menghaturkan sembah didepan dada sembari berkata: “Bapa Kanjêng Sunan, seharusnya saya yang meminta maaf kepada Bapa Kanjêng Sunan Kudus, karena hampir saja saya membuat seorang wanita menjadi janda baru di ruangan dalam pesantren ini..

    Mata Sunan Kudus berkilat mendengar kata-kata Adipati Hadiwijåyå. Sedangkan Aryå Pênangsang menggeram.

    Sunan Kudus segera menyela: “Sudahlah…sudahlah. Saya memaklumi kemarahan anakmas Hadiwijåyå. Daripada berlarut-larut, sebaiknya anakmas mengalah..
    Baiklah Bapa Sunan, memang lebih baik bagi saya dan rombongan untuk segera meninggalkan tempat ini
    Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan beserta beberapa prajurit khusus Pajang segera berpamitan kepada Sunan Kudus.

    Rombongan dari Pajang memutuskan pulang terlebih dahulu sebelum acara puncak peringatan Tahun Baru Islam dimulai. Iring-iringan rombongan ini tengah keluar dari pondok pesantren Kudus.

    Di ruang dalam, setelah melepas kepergian rombongan Pajang, Sunan Kudus memanggil secara pribadi Aryå Pênangsang diruangan khusus. Disana, hanya ada Sunan Kudus dan beberapa prajurit khusus yang terpercaya, termasuk Patih Matahun.

    Sunan Kudus memarahi Aryå Pênangsang atas segala tindakan bodoh yang telah dilakukannya. Aryå Pênangsang menyela, meminta penjelasan dimanakah letak kebodohannya. Bukankah malah Sunan Kudus yang melerai disaat dia sudah berhadapan dengan Adipati Hadiwijåyå?

    Dengan suara tinggi, Sunan Kudus berkata: “Siapa yang menyuruhmu duduk di kursi yang telah aku isi mantra khusus?” Seketika Aryå Pênangsang terdiam.
    Apakah kamu tidak menyadari tadi, saat aku melerai kalian, tangan kanan Hadiwijåyå aku pegang erat, sedangkan tangan kananmu aku biarkan bergerak bebas?

    Ingatlah sekali lagi. Bukankah aku memegang tangan kanan Hadiwijåyå yang tengah menggenggam Kyai Carubuk, sedangkan tangan kananmu yang tengah menggenggam Kyai Brongot aku biarkan bebas.

    Aryå Pênangsang tetap terdiam.
    Apa katamu tentang itu?” Aryå Pênangsang mengerutan dahinya, mencoba mengingat…
    Aku katakan ‘sarungkan kerismu’ sampai tiga kali. Kamu tahu maksudku yang sebenarnya?

    Aryå Pênangsang menatap Sunan Kudus, perlahan dia mengangguk-anggukkan kepalanya, sedikit demi sedikit mulai memahami maksud Sunan Kudus.
    Maksudku ‘sarungkan kerismu ke dada Djåkå Tingkir, bukan ke warangkanya’. Kamu saja yang terlampau bodoh, sehingga tidak memahami kata-kata isyarat yang aku ucapkan. Kamu telah menyia-nyiakan kesempatan kamu memusnahkan salah seorang manusia yang menentangmu.

    Aryå Pênangsang menggeram menyadari kebodohannya sendiri. Serta merta dia menyembah dan berkata: “Sebelum rombongan Hadiwijåyå jauh, tidak ada salahnya saya mengejar dan menghabisinya sekarang.

    Sunan Kudus menatap tajam Aryå Pênangsang: “Ini bukan saat yang tepat menyerang rombongan Pajang dimana banyak berkumpul para tamu undangan di Kudus. Asal kamu tahu, kecuali aku dan kamu, tidak akan ada yang mampu menghadapi kesaktian Hadiwijåyå. Dia memiliki pegangan ilmu kanuragan warisan Buda Majapahit. Sangat riskan jika aku terjun sendiri. Tidak pantas bagiku berhadapan dengan anak kemarin sore seperti dia. Sedangkan kamu, saat ini hanya akan menjadi boneka mainan jika berhadapan dengan dia, karena seluruh ilmu kanuragan yang kamu miliki telah lumpuh.

    Dada Aryå Pênangsang terasa panas dan sesak mendengar penuturan Sunan Kudus, “Lalu bagaimana Bapa Sunan?
    Selama tiga bulan berselang, mulai bulan Muharram ini, kamu harus berpuasa terus-menerus. Genap tiga bulan, seluruh hizib dan asma’ yang kamu miliki akan kembali pulih dan berfungsi. Setelah itu, aku akan mencari jalan lain untuk menghadapi Hadiwijåyå.

    Aryå Pênangsang lemas mendengarnya. Dan Sunan Kudus berlalu kedalam sembari hanya mengucapkan salam.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, kulo tenggo toétoégé.

    • Menapa leres nami jampi2 Knjeng Sunan Kudus punika
      RAJAH KALACAKRA ?

      Matur nuwun Ki Bayu,
      kula tengga tutug’ipun.

  6. Berturut-turut dua dongeng tentang Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Sétan Kobèr [Bagian 3 dan Bagian 4] diwedar. Sumångå.

    cantrik bayuaji

    • hadu…..dapat donggeng lagi (dobelan/rapelan)

      MATUR NUWUN KI BAYUAJI

  7. Matur nuwun Ki Bayuaji, wedaran cikal bakalipun Pajang lan Mataram.
    Sugeng siang.

  8. Matur nuwun Ki Arema, sampun ngunduh JDBK 04

  9. matur nuwun kagem panjenengan ingkang sampun kerso medar, JDBK kaliyan dedongengipun

  10. Hadiiiiiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrr…………….??????????????

    kok pak Satpam’e ra muncul2 yo….??????

    • isih cuti
      hikss……………

      • Lan nesu …..

        • Sugeng rawuh Ki Rangga,

          menapa badhe mengeti peristiwa JARAN BUDHEG ingkang sampun gansal welas tahun kepengker….?

          Lha sing ndisik dho numpaki apa ya isih kelingan ..?

  11. Nuwun
    Sugêng énjang

    Katur Ki Gembleh: [On 26 Juli 2011 at 21:22 gembleh said:]
    ugi Sanak Kadang ingkang dahat kinurmatan.

    Rajah Kalacakra

    Sepanjang yang saya ketahui, tidak satupun kitab babad (yang bukan dongeng lisan) tentang Kanjeng Sunan Kudus menceritakan aji-ajian, mantra atau jampi-jampi Rajah Kalacakra.

    Konon beberapa perguruan bela diri juga para pelaku atau penghayat kebatinan, mempercayainya sebagai ilmu atau aji-ajian yang ampuh penolak bala, penggugur kesaktian lawan dan macam-macam keperluan.

    (Cacatan: Mohon maaf, untuk masalah “kepercayaan terhadap ilmu aji-aji ampuh” ini cantrik bayuaji tidak memiliki referensi yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menilai kebenarannya)

    Adapun dongeng Aji-aji Rajah Kalacakra yang beredar di masyarakat berasal dari pagelaran wayang kulit lakon carangan ruwatan Murwakala, yang bukan pakem asli kisah Mahabharata, yang dongeng singkatnya sebagai berikut:

    Rajah Kala Cakra adalah tulisan yang tergores di dada Batara Kala yang kemudian dapat dibaca oleh Batara Wisnu yang menyamar sebagai dalang Kandhabuwana.

    Munculnya Rajah Kalacakra itu pada upacara ruwatan dengan cerita Murwakala. Karena hal itu, Batara Kala kemudian mengikuti dan tunduk pada kehendak Batara Wisnu.

    Demikianlah Ki, fakta sejarah telah bercampuraduk dengan folklore dan dongeng wayang, sehingga sulit untuk memisahkan antara fakta sejarah dan dongeng fiksi.

    Sumånggå.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayu,

      Nampak sekali sejarah kepemimpinan/kekuasaan bangsa kita selalu penuh dengan intrik, kekerasan, ancam mengancam juga tawar menawar, bahkan masih berlangsung terus sampai kini.

      Kira2 kapan semboyan
      suradira jayaningrat lebur dening pangastuti
      bisa diterapkan…….?????

      • mangke nek presidene Mrs. Pangastuti (Pangestu?)

  12. SUGENG ENJANG KADANG PADEPOKAN SENGKALING

    • pak SATPAM belom berTUGAS…..isih CUTI

      • CUTI seMINGGU penuh…….enak-e puoooooolllllllll,

  13. NSSI DJVU : sudah tersedia di sini, mohon maaf hasil editingnya tidak bagus (buram) karena sumbernya memang agak buram (seperti ini). Belum sempat lakukan scanning ulang karena pak satpam belum pulang dari nganglang.
    NSSI Teks : belum tersedia di sini, menunggu proses editing

    Ngapunten Ki.
    Kok masih NSSI……..bukan JDBK

    • senyum 1x…… 🙂

    • 😳
      tidak perhatian…
      rupanya kemarin P. Satpam buru-buru hanya ngopi dari NSSI,
      sedang saya juga ngopi saja dari yang dibuat oleh pak satpam.
      hikss….

      ok..ok…, nanti malam diperbaiki
      suwun….

  14. Wilujêng siyang

  15. sugeng siang ugi Ki

  16. Sugeng dalu………..

    hadir alias tidak absent.

    • Sugêng dalu Ki Gèmblèh
      kados pundi wartosipun tlatah lêndhut bêntèr?

      • Sugeng dalu ugi Ki Seno,
        pikantuk pangestu panjenengan kahanan kula sak keluargi tansah pinayungan dening Allah SWT.
        Mugi panjenengan inggih tansah pinaringan kawilujengan saha karaharjan.

        • aamiiin………..
          nggih sampun, mangga katuran pinarak.

          • monggo pinarak ki Ageng Sengkaling

          • monggo dipun arak ki Agung penganten anyar

  17. SUGENG ENJANG KADANG PADEPOKAN SENGKALING

    • monggo pinarak ANTRI…..bukaan genduk anyar,

  18. Sugeng Enjang, menjelang siang.

  19. sugeng siang , menjelang sore

  20. weeeh paksi uda sakti ….. hmmmmm 🙂


Tinggalkan Balasan ke ki GundUL Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: