JDBK-05

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 28 Juli 2011 at 06:30  Comments (45)  

45 KomentarTinggalkan komentar

  1. waduh…
    ngapunten, gandok sudah tersedia sejak tadi pagi, tetapi pintunya masih belum dibuka.
    hikss…
    maklum…, sudah lama tidak buat gandok

    • waduh…nomer SIDJI,

      ngapunten, gandok kulo sundul2 sejak tadi pagi,
      tetapi pintunya masih belum dibuka.
      hikss…
      maklum…, cantrik mpun kepincUT gandok anyar

      • selamat sore ki SENO,

        selamat sore kadang padepokan SENGKALING

        • selamat sore ki SENO, Ki Gundul, koq nyundul2 pintu..?!

          • GEMBLELENGAN lagi ……

  2. ndherek nGOjeg teng mriki ki…..hikss,

    loepa, matur nuwun rontal DJvU-ne

    • Nderek….ndherek nGOjeg teng mriki ki…..hikss,

      loepa, matur nuwun rontal DJvU-ne

  3. Wilujêng sontên

    mBetawi macet lagi dan macet lagi.

    Bogor — Jagorawi hingga Gerbang Tol Cimanggis Utama lancar — selepas itu pamer (padat merayap) hingga TMII —- terus ke Cawang lancar — Cawang Semanggi macet cet cet, persis seperti mobil sedang parkir —-

    He he he…. mau nonton bal-balan di Senayan, kena macet…..ya sudah………..

    • sekitaran TMII pamer susu ….(padat merayap suk sukan)

      • mBok kula tak nempil; suk-sukan’e sak dulit mawon Ki.

  4. Matur nuwun Ki Arema,
    bubar nonton bal-balan langsung nyruput ronde.

  5. Wah Ki PDLS wis mbeling maneh.
    Sugeng dalu Ki

  6. Matur nuwun Ki, bibar nonton bal-balan langsung srobot lan nyimpen.

  7. Matur nuwun Ki Seno,

    Hadir…………….!!!!!!!!!!

    Sugeng dalu.

  8. Woro-woro

    Sesuai dengan pengumuman pak satpam, wedaran rontal jdbk adalah tiga hari sekali, gandok 05 dibuka tanggal 28 Juli 2011, sehingga sesuai jadwal gandok 06 direncanakan dibuka tanggal 31 Juli 2011.

    Sudah lama tidak buat gandok sehingga sering keliru dalam pencet memencet papan ketik. Maksud hati menyiapkan dulu gandok 06, siapa tahu nanti pada saatnya kelupaan. Tetapi saya tidak tahu mengapa, terbuat gandok rusak yang tidak bisa diperbaiki dan ditutup.

    Bagi sanak kadang yang ingin memberi komen di gandok 06, mohon bersabar sampai tanggal 31 Juli 2011, karena jadwal buka gandok 06 yang resmi adalah tanggal tersebut. Komen yang masuk ke gandok rusak akan kami hapus

    mohon maaf atas ketidak-nyamanan ini

    • hadu….tadi pagi. esuk2-uthuk2 wes terlanjur kirim komen
      eeh, tiba’e ki SENO kleru mbuka….gandok-06 kesenggol
      siTIK,

      mbuKA tanpa disengaja….mak krieeet-krieeet-krieeeettttt

      • ngestoaken ki,

        komen cantrik yang terkirim tadi….mohon ijin cantrik
        tarik lagi, untuk selanjutnya akan cantrik gunakan
        dan tempelkan diSINI.

        srut-sruuut-sruuuutttt…..blep=bleep-bleeeeppppppp

  9. genkJANG…..genkYANG kadang padepokan SENGKALING

    • tilik padepokan…..SELAMAT SORE

      • SELAMAT SORE…….tilik padepokan

        • padepokan ditiliki,….. selamat sore

          • sore tilik padepokan SELAMAT.

  10. Sugêng dalu

  11. Sugêng dalu ki.

  12. sugeng dalu sedoyo kemawon

  13. Sugeng dalu,
    hadir ngisi buku absensi,
    sret…..sret…..sret……..

  14. Bismillahirrohmanirrohim

    Dua hari lagi, NAFAS ini menjadi TASBIH
    Dua hari lagi, TIDUR ini menjadi IBADAH
    Dua hari lagi DO’A-DO’A ini DIIJABAH
    Dua hari lagi, PAHALA ini DILIPAT-GANDAKAN
    Tetapi, itu semua tak akan terjadi sebelum kita saling memaafkan.

    Marhaban Ya Marhaban.

    Kami, bebahu “Padepokan” Pelangisingosari, menyampaikan permohonan maaf lahir dan bathin atas segala salah dan kekhilafan.

    Marhaban Ya Marhaban.

  15. Marhaban Ya Marhaban

    Nuwun

    Katur Ki Arema, Ki Ismoyo, Ki Panji, såhå sanak kadang padepokan pelangisingosari, gs, dalah AdBM:

    Nyuwun agunging pangaksami, ngaturakên wilujêng saum ing wulan suci Ramadhan 1432H, mugi katampiå déning Gusti Ingkang Måhå Wêlas lan Asih sâdåyå amal ibadah Panjênêngan. Insya Allah dêrajad taqwa ingkang katuju sagêd kasembadan. Aamin.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Aamiin

      • Amin…..Amin

        • Amin…….Amin……..Amin.

  16. Dawah sami-sami Ki Arema, Ki Bayuaji, kawulo ugi ngaturaken sedoyo kalepatan dumateng sedoyo kadang/sutresno padepokan PDLS, Gagakseta, mugi kersoa maringi “agunging pangaksomo sedoyo kalepatan, mugi-mugi kito sedoyo saget nindakaken ibadah ing wulan ramadhan tahun meniko kanti sucining manah lan penggalih. Amin

  17. marhaban ya ramadhan
    mewakili bunda2 & ayah & tim website Tiraikasih at http://kangzusi.com/ dan http://dewi-kz.info/
    mohon maaf, untuk om ismoyo, om arema, om2 lain dan tante2 semua, mudah-mudahan kita dapat menjalankan puasa ramadhan dengan sempurna dan ikhlas karena allah

    ani

  18. Nuwun
    Sugêng siyang andungkap sontên

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-19: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-15) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober (Parwa-4). On 26 Juli 2011 at 07:02 JdBK 04

    Wêdaran kaping-20:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-16)
    KERIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR [Parwa-5]

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Kêris Kyai Någåsåsrå
    • Kêris Kyai Sabuk Intên
    • Kêris Kyai Sêngkêlat
    • Kêris Kyai Condong Campur
    • Kêris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    Permintaan Ratu Kalinyamat.

    Rombongan Pajang yang pulang lebih awal dari jadwal semula nampak keluar dari kota Kudus. Di sepanjang jalan, seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan, senantiasa mempertajam kewaspadaan mereka. Kejadian yang pernah menimpa rombongan Ratu Kalinyamat dulu, membuat mereka lebih siaga dan waspada.

    Di sepanjang perjalanan, banyak mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh tanda tanya. Acara peringatan Tahun Baru Islam di Kudus belum juga dilaksanakan, namun rombongan dari Pajang nampak malah pulang lebih awal. Ada apa gerangan?

    Ketika belum terlampau jauh dari kota Kudus, mendadak Adipati Hadiwijåyå memerintahkan rombongan berhenti. Perintah yang mendadak ini sedikit mengejutkan seluruh prajurit yang ikut dalam rombongan, tak terkecuali Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Namun, setelah menyadari jika Sang Adipati hanya sekedar ingin beristirahat, keteganganpun mencair.

    Nampak, Adipati Hadiwijåyå turun dari atas punggung gajah tunggangannya. Beberapa prajurit yang bertugas mengiringi disamping binatang tunggangan bertubuh besar tersebut tanggap dan segera membantu. Melihat Sang Adipati turun, serentak seluruh rombongan-pun ikut turun dari punggung kuda masing-masing.

    Daerah tempat mereka berhenti memang sangat memungkinkan untuk dijadikan tempat istirahat sejenak. Di samping tempatnya yang landai, rimbunnya pepohonan raksasa yang tumbuh di sepanjang jalan, membuat tempat tersebut terasa sejuk menyegarkan.

    Bergegas Ki Agêng Pêmanahan memerintahkan beberapa prajurit mendirikan tenda darurat sebagai tempat berteduh dan beristirahat bagi Sang Adipati. Enam orang prajurit bekerja cekatan, sebentar saja telah berdiri tenda sederhana namun megah. Permadanipun segera dihamparkan di dalam tenda.

    Adipati Hadiwijåyå berkenan duduk diatas permadani tersebut. Suasana yang segar. Para prajurit memanfaatkan kesempatan tersebut untuk beristirahat sejanak. Masing-masing memilih tempat yang rindang. Berpencar walau tetap tidak jauh dari tenda Sang Adipati.

    Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani menghadap. Keduanya duduk bersila di depan Adipati Hadiwijåyå. Nampak dari kejauhan, ketiga priyayi Pajang ini tengah berbincang-bincang serius.

    Sejurus kemudian, terlihat Ki Agêng Pêmanahan memanggil seorang prajurit. Ki Agêng Pêmanahan memerintahkan sesuatu. Prajurit yang dipanggil bergegas menghampiri beberapa temannya yang lain, dia nampak memilih-milih, ada sekitar sepuluh orang yang dia pilih.

    Kemudian mereka menghilang sejenak dibalik gerombol pepohonan dan kembali lagi dengan pakaian yang sudah berganti. Mereka semua melepas pakaian keprajuritan, dan kini telah berganti dengan pakaian rakyat biasa.

    Di tempat lain, Adipati Hadiwijåyå diam-diam juga telah berganti pakaian. Begitu juga dengan Ki Agêng Pêmanahan. Namun anehnya, pakaian kebesaran Sang Adipati, kini malah dikenakan oleh Ki Juru Martani.

    Banyak prajurit yang bertanya-tanya. Namun dari bisik-bisik satu teman ke teman yang lain, mereka jadi tahu jika Adipati Hadiwijåyå diikuti oleh Ki Agêng Pêmanahan dan sepuluh prajurit yang terpilih, hendak menuju ke Gunung Dånåråjå untuk menemui Ratu Kalinyamat yang tengah bertapa telanjang.

    Mereka semua sengaja menyamar sebagai rakyat biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan dari mata-mata Jipang Panolan yang mungkin tengah memperhatikan rombongan mereka.

    Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan dan kesepuluh prajurit yang kini telah berganti busana, terlihat berangkat meninggalkan rombongan. Kedua belas orang yang telah menyamar ini memacu kuda memisahkan diri dari dari rombongan dan memilih jalan yang menuju ke Jepara.

    Agak lama berselang, Ki Juru Martani segera memerintahkan seluruh rombongan siap-siap berangkat. Ki Juru Martani dibantu dua orang prajurit, segera menaiki punggung gajah milik Sang Adipati.
    Rombongan Pajang yang kini dipimpin oleh Ki Juru Martani, berangkat kembali ke arah Pajang.

    Adipati Hadiwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan berikut sepuluh orang prajurit yang kini telah menyamar sebagai rakyat biasa terlihat memacu kuda dengan kecepatan sedang. Mereka tengah menyamar sebagai para pedagang keliling.

    Akhirnya, sampailah juga kedua belas orang ini ke kota Jepara. Adipati Hadiwijåyå segera mencari letak Gunung Dånåråjå. Sesuai petunjuk yang diberikan oleh prajurit Pajang yang sempat pulang ke Pajang untuk mengambil perbekalan makanan dan berbagai keperluan bagi Ratu Kalinyamat beserta seluruh yang mengawal dan melayaninya, Adipati Hadiwijåyå-pun akhirnya berhasil menemukan lokasi goa tempat dimana Ratu Kalinyamat tengah menjalani tapa telanjangnya.

    Kedatangan kedua belas orang berkuda ini menimbulkan kecurigaan dari beberapa prajurit Pajang yang bertugas menjaga mulut goa. Mereka yang tengah bersembunyi di tempat-tempat tertentu dibeberapa sudut tersembunyi mulut goa, segera mempersiapkan diri.

    Sang pemimpin pasukan memberikan isyarat agar memasang anak panah pada busurnya. Anak panah telah terpasang, busur telah diangkat dan direntangkan, siap menunggu isyarat untuk dibidikkan.

    Namun sang pemimpin prajurit memekik tertahan manakala tanpa sengaja mengenali dua orang penunggang kuda yang tengah memacu kuda dibarisan depan. Seketika itu juga, dia memberikan isyarat agar menurunkan busur panah. Dia segera keluar dari tempat persembunyian diiringi empat prajurit yang lain.

    Menyadari kedatangannya telah disambut sedemikian rupa, Adipati Hadiwijåyå beserta rombongan terus memacu kuda lebih kencang kearah atas. Ketika jarak antara prajurit berkuda dan kelima orang yang telah menyambut sedemikian dekat, Adipati Hadiwijåyå segera menghentikan laju kudanya.

    Kelima orang prajurit Pajang yang menyambut rombongan menghaturkan sembah hormat. Adipati Hadiwijåyå segera memerintahkan agar secepatnya seluruh prajurit mencari tempat yang tersembunyi untuk menaruh kuda masing-masing.

    Diiringi Ki Agêng Pêmanahan dan dihantar pemimpin prajurit penjaga, Adipati Hadiwijåyå segera memasuki goa. Sang pemimpin prajurit memanggil seorang pelayan wanita. Sang pelayan memekik gembira melihat kehadiran Adipati Hadiwijåyå dan Ki Agêng Pêmanahan. Beberapa pelayan yang lain segera menyadari akan hal itu, mereka semua segera mendekat dan menghaturkan sembah.

    Adipati Hadiwijåyå memerintahkan seorang pelayan wanita untuk menghadap Ratu Kalinyamat, mengabarkan kedatangannya. Seorang pelayan wanita tergopoh-gopoh memasuki salah satu relung goa.

    Sejenak kemudian keluar dan menghadap kembali kepada Adipati Hadiwijåyå. Sembari menyembah dia berkata: “Kasinggihan dhawuh, Kanjêng. Kanjêng Ratu Ayu Kalinyamat meminta Kanjêng Adipati masuk ke dalam. Hanya Kanjêng Adipati seorang, tidak boleh ditemani oleh siapapun.

    Adipati Hadiwijåyå mengangguk. Kemudian berjalan kearah relung goa seorang diri. Di dalam, beberapa pelita terpasang didinding-dinding goa. Ruang itu cukup luas juga. Di sana, merapat ke dinding goa, terlihat agak samar, sesosok wanita cantik dengan tubuh sempurna dan rambut panjang terurai, tengah duduk bersila. Dan yang membuat Adipati Hadiwijåyå segera menundukkan muka, karena menyadari, sosok wanita cantik itu benar-benar telanjang bulat tanpa busana.

    Untung, ruangan dalam goa cukup gelap dan hanya diterangi beberapa pelita, sedikit menyamarkan perwujudan telanjang tersebut. Namun walau bagaimanapun juga, jika mau melihat secara seksama, Adipati Hadiwijåyå sebetulnya bisa melihat tubuh itu secara utuh.

    Dengan menundukkan wajah, Adipati Hadiwijåyå memberikan sembah. Dan sosok wanita cantik yang tengah bersila itu-pun membalas sembah Adipati Hadiwijåyå. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar keselamatan masing-masing.

    Adipati Hadiwijåyå, sembari tetap menundukkan wajah-pun berkata: “Kakangmbok Ratu Ayu, seyogyanya kakangmbok Ratu berkenan mengenakai kemben. Sangat segan hati saya jikalau harus berbincang-bincang dengan kakangmbok sedangkan kakangmbok dalam keadaan telanjang bulat sedemikian rupa.

    Dari balik geiaian rambut panjangnya, Ratu Kalinyamat tersenyum manis, “Maafkan aku dimas, aku terpaksa tidak dapat memenuhi permintaanmu. Biarlah, selain almarhum kangmas Sunan Kalinyamat, cukup kamu saja laki-laki yang melihat aku dalam keadaan tanpa busana seperti ini. Sudah menjadi sumpahku, tidak sudi aku mengenakan busana lagi, jikalau Hyang Måhå Agung, belum memberikan keadilan kepada si Pênangsang, pembunuh kakangmas Prawåtå dan kangmas Sunan Kalinyamat.

    Adipati Hadiwijåyå menghela nafas berat. “Kakangmbok Ratu Ayu, Sangat prihatin saya melihat keadaan kakangmbok. Sampai kapan terus telanjang tanpa busana. Selain tabu didengar orang banyak, sekali lagi, saya juga sangat merasa segan dan rikuh jika harus kemari dan tetap melihat kakangmbok seperti ini.

    Ratu Kalinyamat diam sejenak, mendesis lirih dan berkata: “Dimas, seharusnya aku yang mempertanyakan hal ini kepadamu. Tidakkah kamu kasihan, tidakkah kamu iba melihatku? Melihat penderitaanku? Melihat ketidak adilan yang menimpaku?

    Adipati Hadiwijåyå terdiam. kemudian katanya: “Jangan salah sangka kakangmbok. Saya dan Nimas Sêkaring Kêdhaton senantiasa memikirkan keadaan kakangmbok Ratu Ayu disini. Saya juga terus menimbang-nimbang bagaimana cara terbaik untuk menyingkirkan Aryå Pênangsang.

    Namun, keadaan di luar tidaklah memungkinkan bagi saya berhadapan langsung dengan Aryå Pênangsang secara terbuka. Båpå Sunan Kudus berada dibelakang Aryå Pênangsang. Båpå Sunan Kudus sangat berpengaruh dalam Dewan Wali Sångå. Kakangmbok tahu sendiri itu.

    Sangat mudah bagi Båpå Sunan Kudus mempengaruhi keputusan Dewan Wali Sångå. Jika sampai Pajang berhadapan langsung dengan Jipang, bukan tidak mungkin, Båpå Sunan Kudus, melalui Dewan Wali Sångå akan memerintahkan Cirebon dan Banten bergabung dengan Jipang menghadapi Pajang.

    Adipati Hadiwijåyå diam sejenak, kemudian melanjutkan kata-katanya: “Sungguh, secara pribadi, saya sendiri juga sudah tidak tahan melihat kelakuan Aryå Pênangsang. Hampir saja saya berkelahi dengan dia. Saya tidak bisa menahan diri.

    Dan Adipati Hadiwijåyå menceritakan pertemuannya dengan Aryå Pênangsang di pesantren Kudus. “Hyang Widdhi Wåså masih berkenan mencegah saya berhadapan langsung dengan Aryå Pênangsang.

    Terdengar helaan nafas lembut dari bibir Ratu Kalinyamat, lalu dia berkata: “Dengar dimas. Jika kamu benar-benar dapat menyingkirkan Aryå Pênangsang, aku bersumpah, disaksikan Hyang Måhå Agung, oleh langit dan bumi, semoga aku akan menuai kutuk jika aku mengingkari sumpah ini. Dengarkan. Jika kamu sanggup menyingkirkan si Pênangsang maka tahta Demak Bintara aku limpahkan kepadamu.”

    Adipati Hadiwijåyå mengangkat wajahnya. Dilihatnya, dari balik geraian rambut panjangnya, sorot mata Ratu Kalinyamat berkilat-kilat, tengah menatap wajah Adipati Hadiwijåyå.

    Bahkan, jikalau peraturan hukum sebelum jaman ini masih berlaku luas di masyarakat Jawa, dimana seorang laki-laki boleh memadu dua orang wanita kakak beradik sekaligus, maka sungguh akupun rela lahir batin kamu nikahi sebagai madu dari adikku Nimas Sêkaring Kêdhaton.

    Namun, hal itu tidak mungkin bisa diterima kebanyakan masyarakat Jawa sekarang. Oleh karena itu, kamu boleh memilih selir-selir milik almarhum kangmas Sunan Kalinyamat dan almarhum kangmas Prawåtå yang engkau sukai untuk kamu nikahi.

    Adipati Hadiwijåyå terdiam. Kesungguhan kata-kata Ratu Kalinyamat terpancar dari wajah ayunya. Sengaja, rambut panjangnya yang tergerai, disibak kesamping sedikit, sehingga payudara Sang Ratupun terlihat. Payudara yang padat berisi. Dada Adipati Hadiwijåyå berdesir melihatnya, cepat-cepat dia menundukkan wajah kembali.

    Tapi ingat, dimas. Satu permintaanku, jika kamu berhasil mengalahkan Aryå Pênangsang, dan tahta Demak Bintara telah kamu pegang, aku minta, janganlah kamu mendirikan Kerajaan Buda. Biarlah kamu tetap meneruskan sebuah pemerintahan berbentuk Kesultanan Islam. Biarlah gelarmu dikenal orang sebagai seorang Sultan, bukan seorang Prabu.

    Keheningan menyergap seketika. Dan Adipati Hadiwijåyå semakin terperangah manakala melihat Ratu Kalinyamat menyibak seluruhnya geraian rambut panjang yang menutupi tubuh bagian depannya. Kini, tampak jelas didepan mata Adipati Hadiwijåyå, tubuh polos Sang Ratu tanpa ditutupi oleh sehelai benangpun.

    Mendadak dada Adipati Hadiwijåyå terasa sesak.
    Inilah tanda kesungguhanku,” bisik Ratu Kalinyamat sembari tersenyum.
    Dengan menarik nafas berat, Adipati Hadiwijåyå menyembah hormat dan berkata: “Baiklah kakangmbok Ratu Ayu. Saya berjanji akan mencari jalan yang terbaik untuk menyingkirkan Aryå Pênangsang. Dan jika hal itu berhasil atas wårånugråhå Hyang Widdhi, saya berjanji, akan memakai gelar Sultan, bukan Prabu.
    Dan Adipati Hadiwijåyåpun memohon diri untuk keluar ruangan. Dan Ratu Kalinyamat pun menghaturkan terima kasihnya.

    Malam itu, Sang Adipati bermalam di Gunung Dånåråjå. Dengan didampingi Ki Agêng Pêmanahan, Adipati Hadiwijåyå membahas rencana yang tepat untuk memenuhi permintaan Ratu Kalinyamat. Ki Agêng Pêmanahan mengusulkan, agar Sang Adipati mempercayakan hal ini kepada Ki Juru Martani.

    Ki Juru Martani adalah sosok yang cerdik dan bisa diandalkan dalam memberikan pemecahan dan cara yang terbaik disaat semua jalan dirasa buntu.

    Keesokan harinya, setelah berpamitan kepada Ratu Kalinyamat, Adipati Hadiwijåyå beserta Ki Agêng Pêmanahan dan sepuluh prajurit yang mengiringinya, meninggalkan Gunung Dånåråjå bertolak ke Pajang.

    Setibanya di Pajang, Adipati Hadiwijåyå beserta rombongan disambut para pejabat dengan suka cita. Tak ada yang kurang dari jumlah rombongan, Semua dalam keadaan baik dan selamat.

    Adipati Hadiwijåyå berkenan untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Pada sore harinya, Adipati Hadiwijåyå memanggil Ki Mas Måncå, Ki Mas Wilå, Ki Mas Wuragil, Ki Agêng Pêmanahan berikut Ki Juru Martani.

    Di ruang khusus, dan tidak ada orang lain yang hadir selain keenam orang tersebut, Adipati Hadiwijåyå menyampaikan maksudnya. Sang Adipati berkenan meminta pemecahan mengenai masalah Aryå Pênangsang.

    Aryå Pênangsang tidak bisa terus menerus didiamkan saja. Harus ada pihak yang berani bertindak. Dan tampaknya, hanya Pajang yang mampu menghadapi kekuatan Jipang. Yang menjadi masalah, posisi Pajang Sangatlah terjepit.

    Pajang yang dipimpin oleh seorang Adipati, dalam garis keturunan adalah menantu Sultan Trenggånå, sedangkan Jipang dipimpin oleh Aryå Pênangsang, kemenakan langsung Sultan Trenggånå.

    Disadari atau tidak di antara anggota Dewan Wali Sångå memihak kepada salah satu di antara keduanya. Kanjêng Sunan Kudus berada di belakang Aryå Pênangsang, dan Kanjêng Sunan Kalijågå meskipun tidak secara terbuka, hampir setiap orang tahu, beliau adalah guru Djåkå Tingkir yang kini begelar Adipati Hadiwijåyå.

    Oleh karenanya, Adipati Hadiwijåyå meminta pertimbangan dan jalan keluar yang tepat, yang tidak merugikan Pajang, namun bisa menghancurkan kekuatan Jipang.

    Ki Mas Måncå mengusulkan agar Sang Adipati tidak gegabah berhadapan secara langsung dengan Aryå Pênangsang. Ki Mas Måncå telah mendengar kabar bahwa di pesantren Kudus, Sang Adipati hampir saja kehilangan pengamatan diri. Jika memang hendak berhadapan dengan Aryå Pênangsang, lebih baik menggunakan kekuatan pihak lain.

    Ki Mas Wilå dan Ki Mas Wuragil membenarkan pendapat Ki Mas Måncå. Begitu juga dengan Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani. Yang menjadi masalah sekarang, siapakah kekuatan ketiga yang bisa dijadikan alat untuk memukul Jipang?

    Seluruh yang hadir terdiam. Masing-masing tengah memeras otak. Dalam kediaman tiba-tiba Ki Agêng Pêmanahan angkat bicara sembari menyembah: “Mohon beribu ampun, Kanjêng Adipati. Jika diperbolehkan hamba akan memberikan masukan.
    Adipati Hadiwijåyå mengangguk.

    Menurut saya,” lanjut Ki Agêng Pêmanahan, ”Tidak ada lagi kekuatan dahsyat yang mampu menghadapi Jipang kecuali kekuatan Pajang. Tak ada jalan lain, tak ada kekuatan lain yang akan sanggup melakukannya. Oleh karenanya, kita tidak bisa mengharapkan daerah lain tampil secara mandiri berhadapan dengan Jipang.

    Semua yang hadir mengerutkan dahi mendengarnya. “Mau tidak mau, pasukan Pajang sendiri harus bergerak. Namun.
    Semua yang hadir menunggu.

    Sebaiknya, pasukan Pajang harus melepas busana keprajuritan Pajang. Pasukan Pajang harus melepas ciri-ciri sebagai pasukan Pajang. Harus ada daerah lain yang berani tampil kedepan untuk mengakui bahwa, pasukan Pajang yang tengah bergerak menggempur Jipang, berasal dari daerahnya. Jika kelak terjadi perang terbuka, menang atau kalah, maka Pajang tidak akan terbawa-bawa.

    Tertegunlah seluruh yang hadir. Ki Mas Måncå angkat bicara: “Pêmanahan, daerah manakah yang dimungkinkan untuk berani tampil mengakui seperti itu?

    Ki Agêng Pêmanahan menyembah: “Kalau memang diijinkan, biarlah hamba dan paman saya, Ki Juru Martani yang akan tampil kedepan. Biarlah kami atas nama daerah Sêlå, memimpin pasukan Pajang melakukan perang terbuka dengan Jipang Panolan. Biarlah terdengar kabar, Jipang Panolan tengah berperang dengan Sélå.

    Seluruh yang hadir menghela nafas berat. Suasana hening untuk beberapa saat.
    Ki Mas Måncå kemudian angkat bicara: “Daerah Sêlå selalu didekat-dekatan dengan Kanjêng Sunan Kalijågå.

    Adipati Hadiwijåyå memincingkan mata mendengarnya.
    Dan jika menyebut Jipang Panolan, orang-orang selalu mengkait-kaitkan dengan Kanjêng Sunan Kudus,” lanjut Ki Mas Måncå.

    Dan akan menjadi sebuah berita yang besar manakala Dewan Wali Sångå mendengarnya, bukankah begitu kang Mas Måncå?” Sela Adipati Adiwijawa datar.

    Ki Mas Måncå menyembah sesaat: “Benar dimas Adipati. Dan jika itu terjadi, tidak menutup kemungkinan, Dewan Wali Sångå akan campur tangan untuk memaksa kedua belah pihak agar melakukan genjatan senjata.

    Adipati Hadiwijåyå menghela nafas sekali lagi.
    Nampak kini, Ki Juru Martani menghaturkan sembah. “Mohon beribu ampun, Kanjêng Adipati. Jika boleh saya hendak menghaturkan pendapat.
    Adipati Hadiwijåyå mengangguk mempersilakan.

    Sebaiknya Kanjêng Adipati mengeluarkan sayembara khusus secara terselubung kepada para pakuwon yang berada dibawah kekuasan Pajang. Mohon sayembara ditawarkan kepada para akuwu yang jelas-jelas telah nyata kesetiaannya kepada Pajang.

    Hindari pakuwon yang masih diragukan kesetiaannya. Dari sekian banyak akuwu yang ditawari sayembara, pastilah ada yang akan berani tampil untuk memimpin pasukan Pajang dengan menggunakan ciri-ciri pakuwonnya. Jikalau memang tidak ada yang berani, maka terpaksa, saya beserta keponakan saya, Pêmanahan, akan tampil kedepan dengan mempertaruhkan nama Séla.

    Saya berjanji, saya akan memotong kepala harimau terlebih dahulu agar peperangan tidak berjalan berlarut-larut. Aryå Pênangsang. Saya pastikan dia harus tewas terbunuh terlebih dahulu. Sehingga jika kemudian Dewan Wali Sångå ikut campur memaksakan agar terjadi gencatan senjata, maka disaat gencatan senjata terjadi, Aryå Pênangsang harus telah mati.

    Ki Mas Måncå meragukan kata-kata Ki Juru Martani. “Juru Martani, yakinkah kamu dengan ucapanmu?
    Ki Juru Martani menyembah: “Dengan rencana yang bakal hamba buat, untuk memperdaya Aryå Pênangsang, agar keluar dari sarangnya sendirian, saya yakin, saya pasti bisa memenuhi ucapan saya, Kanjêng Patih.

    Ki Mas Måncå mengangguk-angguk, dia menoleh ke arah Adipati Hadiwijåyå: “Bagaimana, dimas Adipati?
    Adipati Hadiwijåyå tercenung sesaat, kemudian katanya:
    Baiklah, tapi hal tersebut dilakukan jika memang nanti tidak ada satupun pakuwon yang berani mengikuti sayembara. Oleh karenanya, aku akan memberikan imbalan besar. Yaitu, siapa saja yang berani memimpim pasukan yang bakal menggempur Jipang berasal dari pakuwonnya dan berhasil mematahkan kekuatan Jipang, maka aku akan memberikan Alas Mentaok dan daerah Pati sebagai imbalannya.”

    Keputusan telah diambil. Tidak menunggu waktu lama, atas perintah Adipati Hadiwijåyå, Ki Mas Måncå segera memerintahkan Juru Tulis Kadipaten untuk membuat surat-surat undangan resmi. Surat-surat undangan yang bakal dikirim kepada para akuwu yang berada di wilayah kekuasaan Kadipaten Pajang.

    Pada hari yang telah ditentukan, mereka harus datang ke Kadipaten Pajang atas perintah Adipati Hadiwijåyå.

    Sayembara Adipati Pajang.

    Tiga bulan kemudian, beberapa hari sebelum hari yang telah ditetapkan dalam surat undangan resmi, berdatanganlah para akuwu yang ada diseluruh wilayah Kadipaten Pajang. Mereka datang berkelompok, tidak bersamaan, gelombang pergelombang. Tidak ada yang mencolok. Karena memang begitulah pesan yang dituliskan dalam surat undangan dari Sang Adipati.

    Dan pada hari yang ditetapkan, seluruh akuwu telah berkumpul di Siti Hinggil Kadipaten. Lama waktu berselang, mereka semua menunggu kehadiran Sang Adipati di tempat itu. Beberapa saat kemudian, muncullah Adipati Hadiwijåyå diiringi Ki Mas Måncå dan kepala pengawal pasukan khusus Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, berikut beberapa prajurit khusus yang mengawal.

    Didepan para akuwu, Adipati Hadiwijåyå meminta Ki Mas Måncå membacakan sayembara. Seusai sayembara dibaca, suasana mendadak hening. Tak ada yang berani bersuara. Melihat keadaan menjadi sepi dan tegang, Adipati Hadiwijåyå angkat bicara, dia mempertegas isi sayembara dengan menantang, siapa yang berani tampil ke depan, yang akan memimpin pasukan Pajang, dengan menggunakan ciri-ciri dari pakuwonnya?

    Suasana sepi tidak juga mencair. Hingga kemudian, seorang akuwu, maju ke depan dan menyembah seraya berkata: “Kasinggihan dhawuh, Kanjêng Adipati. Ijinkan saya mengutarakan kebimbangan saya, yang mungkin juga mewakili kebimbangan hati dari para akuwu yang hadir disini. Kanjêng, jika kami semua diperintahkan angkat senjata menggempur Jipang atas nama pasukan Pajang, sudah barang tentu, kami tidak akan banyak berfikir panjang, jiwa raga kami akan kami pasrahkan untuk itu. Namun, manakala kami harus menggempur Jipang atas nama pakuwon kami, mohon maaf, Kanjêng. Jika nanti benar-benar terjadi hal tersebut, kami tidak berani menanggung akibatnya dengan mengorbankan rakyat dan sanka kadang kerabat kami yang ada di pakuwon kami. Mohon Kanjêng memaklumi.

    Adipati Hadiwijåyå menghela nafas. Kata-kata yang terucap dari seseorang itu memang ada benarnya. Karena tidak ada juga yang berani memasuki sayembara, maka Adipati Hadiwijåyåpun menutup pertemuan tersebut. Sebelum menutup pertemuan, Sang Adipati meminta pengiriman pasukan dari semua pakuwon untuk memperkuat barisan pasukan Pajang. Perintah yang terakhir ini, disambut dengan suka cita tanpa keraguan sedikitpun oleh semua akuwu yang hadir.

    Mendapati sayembara yang dipermaklumatkan tidak ada yang menanggapinya, maka hari itu juga, Adipati Hadiwijåyå mengutus Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani untuk menjalankan siasat lain yang pernah mereka tawarkan. Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani, segera menjalankan perintah.

    Jajaran tentara Kadipaten Pajang segera mempersiapkan diri untuk menghadapi sebuah perang besar. Mereka ditempatkan langsung di bawah pimpinan penuh Ki Agêng Pêmanahan. Sembari menunggu bantuan pasukan dari daerah-daerah, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani mematangkan rencana yang telah mereka buat sebelumnya.

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  19. Nuwun
    Sugêng siyang andungkap sontên

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-20: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-16) Kêris Kyai Carubuk dan Keris Kyai Brongot Setan Kober (Parwa-5). On 30 Juli 2011 at 14:22 JdBK 05

    Wêdaran kaping-21:
    KERIS, DHUWUNG atau TOSAN AJI] (Bagian ke-17)

    KÊRIS KYAI CARUBUK dan KÊRIS KYAI BRONGOT SÉTAN KOBÈR; dan TOMBAK KYAI PLÈRÈD. [Parwa-6]

    Keris legendaris:
    • Keris Mpu Gandring
    • Kêris Kyai Någåsåsrå
    • Kêris Kyai Sabuk Intên
    • Kêris Kyai Sêngkêlat
    • Kêris Kyai Condong Campur
    • Kêris Kyai Carubuk
    • Keris “Pusaka” Sétan Kobêr

    Atas saran Ki Juru Martani, Ki Agêng Pêmanahan diminta untuk mengusahakan agar Tombak Pusaka Kyai Plèrèd, bisa mereka pinjam. Karena hanya dengan tombak pusaka peninggalan Majapahit tersebut, kulit Aryå Pênangsang bisa dilukai.

    Hanya saja, tombak tersebut sedemikian berharga bagi Adipati Hadiwijåyå dan tidak akan mungkin dipinjamkan begitu saja kecuali kepada orang yang benar-benar dipercayai oleh Sang Adipati.

    Maka terpaksa, Ki Agêng Pêmanahan, atas saran Ki Juru Martani, meminta agar Danang Sutåwijåyå, putranya yang kini telah diambil anak angkat oleh Adipati Hadiwijåyå, diminta untuk ikut memperkuat barisan.

    ………. Hingga di sini dongeng saya sigêg. Ganti kacarita ing lakon puniki:, saya akan dongengkan Tombak Pusaka Kyai Plèrèd

    TOMBAK PUSAKA KANJÊNG KYAI PLÈRÈD

    Konon Tombak Kyai Plèrèd tercipta karena birahi yang tak tertahankan Syekh Maulana Mahgribi terhadap Råså Wulan, adik Radén Sahid (kelak Kanjêng Sunan Kalijågå).

    Di dalam pengembaraannya mencari Radén Sahid, setelah bertahun-tahun tidak berhasil menemukan kakaknya itu, akhirnya Råså Wulan bertapa di tengah hutan Glagahwangi. Di hutan itu Råså Wulan bertapa ngidang.

    Di dalam hutan itu ada sebuah danau bernama Sêndhang Bèji. Tepat di tepi danau itu tumbuhlah sebatang pohon yang besar dan rindang. Batang pohon itu condong dan menaungi permukaan danau.

    Pada salah satu cabang yang menjorok ke atas permukaan air danau Sêndhang Bèji itu, ada orang yang sedang bertapa. Orang itu bernama Syekh Maulana Mahgribi. Pada cabang pohon besar itu, Syekh Maulana Mahgribi bertapa ngalong.

    Pada suatu siang menjelang senja yang cerah, datanglah Råså Wulan ke Sêndhang Bèji itu untuk mandi, karena matahari memancarkan sinarnya yang sangat terik. Perlahan-lahan Råså Wulan menghampiri Sêndhang Bèji yang airnya jernih dan segar.

    Sama sekali ia tidak tahu bahwa di atas permukaan air sendhang itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa. Karena mengira tak ada orang lain kecuali dia sendiri di tempat itu, maka dengan tenang dan tanpa malu-malu Råså Wulan membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya.

    Dalam keadaan telanjang bulat, dengan perlahan-lahan Råså Wulan berjalan menghampiri danau. Dengan tenangnya dia mandi di Sêndhang Bèji itu. Kesejukan air danau itu membuat kesegaran yang terasa sangat nyaman pada tubuhnya.

    Sementara itu, Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas air danau tempat Råså Wulan mandi, memandang kemolekan tubuh Råså Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan wajah dan kemontokan tubuh Råså Wulan yang sedang mandi tepat di bawahnya, bangkitlah birahi Syekh Maulana Mahgribi.

    Mirip dengan kisah Batårå Guru dan Déwi Uma, yang akhirnya melahirkan Batårå Kålå, maka karena peristiwa itu, hamillah Råså Wulan. Råså Wulan tahu, bahwa orang laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itulah yang menyebabkan kehamilannya. Tuduhan pun dilontarkan kepada Syekh Maulana Mahgribi.

    Mengapa kau berbuat demikian?” Råså Wulan menghardik, dengan menunjuk-nunjuk ke arah Syekh Maulana Mahgribi. “Mengapa engkau menghamiliku?

    Menerima makian demikian itu, Syekh Maulana Mahgribi diam saja, seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa-apa.
    Kamulah yang menghamiliki”, kata Råså Wulan. “Kamu harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu.
    Mengapa kau menuduhku”, tanya Syekh Maulana Mahgribi.
    Lihat! Aku hamil”, kata Råså Wulan. “Dan kamulah yang menghamiliku.
    Kamu yakin bahwa aku yang menyebabkan kamu hamil?” tanya Syekh Maulana Mahgribi.
    Ya. Aku yakin”, kata Råså Wulan. “Aku yakin bahwa kamulah yang menyebabkan aku hamil.
    Mengapa?” tanya Syekh Maulana Mahgribi. “Mengapa aku yang kau tuduh menghamilimu?
    Di tempat ini tidak ada orang laki-laki lain kecuali kamu,” kata Råså Wulan. “Maka pasti kamu yang menghamiliku.

    Singkat dongeng. Syekh Maulana Mahgribi tidak lagi dapat mengelak. Setelah anak yang dikandung oleh Råså Wulan itu lahir, lalu diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi, diberi nama Kidangtelangkas [Djåkå Tarub (?)]. Keturunan Kidangtelangkas itu kelak secara turun-temurun menjadi raja di Tanah Jawa.

    Catatan:
    Legenda Råså Wulan, saling berbenturan:

    1. Legenda Råså Wulan (adik Radén Sahid — Sunan Kalijågå –) sebagai istri Êmpu Supå Madrangki dan

    2. Legenda Råså Wulan (adik Radén Sahid — Sunan Kalijågå–) sebagai istri Syekh Maulana Mahgribi.

    Legenda inipun masih menyimpan pertanyaan lain, apakah Syekh Maulana Mahgribi ini identik dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim. Kalau ya, maka semakin mengaburkan nilai sejarahnya, sebab akan mengundang pertanyaan lain. Legenda-legenda di atas tidak memiliki referensi sejarah yang dapat dipertangungjawabkan.

    Adalah menurut yang empunya lakon, konon tombak itu tercipta dari bagian tubuh Syekh Maulana Mahgribi, karena kekesalan beliau akibat dituduh menghamili Råså Wulan, tombak ciptaan itu akhirnya menjadi sipat kandêl raja-raja Jawa. Tombak itu dinamakan Kanjêng Kyai Plèrèd.

    Secara turun-temurun tombak Kanjêng Kyai Plèrèd itu diwariskan kepada raja-raja yang bertahta. Pada waktu Danang Sutåwijåyå berperang tanding melawan Aryå Pênangsang, Danang Sutåwijåyå dipersenjatai tombak Kyai Plèrèd, dan dengan senjata andalan itu pula Sutåwijåyå berhasil membunuh Aryå Pênangsang. Selanjutnya Danang Sutåwijåyå menjadi Raja Mataram, dan Kanjêng Kyai Plèrèd merupakan senjata pusaka kerajaan Mataram. Saat ini tombak Kanjêng Kyai Plèrèd itu menjadi senjata pusaka di Keraton Yogyakarta.

    Gantos cinarita, ujaring kåndå wontên ing kêlir pêdalangan Kembali ke dongeng siasat Adipati Hadiwijåyå untuk mengalahkan Aryå Pênangsang.

    Adipati Hadiwijåyå tidak mengerti atas permintaan ini, selain Danang Sutåwijåyå masih kecil, tidak ada kelebihan Danang Sutåwijåyå yang bisa dimanfaatkan untuk memperkuat barisan Pajang.

    Namun, dengan cerdiknya, Ki Agêng Pêmanahan meyakinkan Adipati Hadiwijåyå, bahwa mengajak Danang Sutåwijåyå untuk memperkuat barisan Pajang adalah salah satu dari rencana yang hendak dijalankan.

    Pada akhirnya, Adipati Hadiwijåyå menyetujui. Bahkan manakala Ki Agêng Pêmanahan memohon agar Danang Sutåwijåyå diperkenankan membawa tombak pusaka Kyai Plèrèd, Sang Adipatipun tidak bisa menolaknya.

    Setelah bantuan pasukan dari daerah telah sepenuhnya datang, maka pasukan segera berangkat. Tujuan awal adalah daerah Sélå. Daerah asal Ki Agêng Pêmanahan. Di sana, seluruh pasukan akan diatur sedemikian rupa.

    Sélå menjadi daerah pemusatan pasukan Pajang, tetapi seluruh ciri-ciri pasukan Pajang akan berganti menjadi pasukan Sélå. Akan dikabarkan, bahwa pengikut Islam Abangan, bergabung di Sélå untuk memerangi Jipang Panolan dibawah pimpinan Ki Agêng Pêmanahan, keturunan Ki Agêng Sélå. Nama Pajang, tidak sedikitpun dibawa-bawa.

    Pasukan segera berangkat berkelompok menuju Sélå. Dengan berpakaian rakyat biasa serta menyembunyikan seluruh persenjataan didalam bilah bambu, maka kelompok demi kelompok, secara terpisah-pisah waktu, agar supaya tidak mencolok dan menimbulkan kecurigaan, berangkatlah seluruh pasukan Pajang.
    Pergerakan pasukan ini benar-benar tersamarkan. Susul menyusul rapih dan teratur. Dan pada akhirnya, beribu-ribu pasukan pun kini telah berkumpul di Sélå.

    Rencana segera dimatangkan di Sélå. Seluruh pasukan mengenakan tanda khusus yang disematkan dibaju mereka. Dengan pakaian rakyat biasa, layaknya para pasukan têlik sandhi, pasukan Pajang yang kini mengaku diri mereka sebagai pasukan Sélå, telah siap untuk bertempur.

    Pada hari yang telah ditentukan, menjelang malam hari, pasukanpun bergerak. Pasukan dipecah dalam empat kelompok besar. Sengaja pasukan dipecah demi untuk kembali menyamarkan diri. Disuatu titik, yaitu diperbatasan wilayah Jipang yang berwujud sungai, disanalah, kelompok-kelompok pasukan harus kembali bertemu.

    Setiap kelompok pasukan menempuh jalur khusus. Jaklur-jalur ini sengaja dilakukan menghindari daerah-daerah padat penduduk. Beberapa hari kemudian, seluruh kelompok telah bersatu kembali ditempat yang telah disepakati bersama.

    Seluruh pasukan segera mempersiapkan diri, senjata-senjata dikeluarkan dari bilah bambu, anak panah dibagi-bagikan, Titik-titik penempatan prajurit ditetapkan dan segera ditempati oleh mereka-mereka yang ditunjuk untuk itu. Gerakan rahasia ini begitu rapi, sebentar saja, persiapan untuk sebuah perang besar, telah tertata. Pasukan Pajang siap melumat Jipang Panolan hari itu juga. Seluruh prajurit kini menunggu perintah selanjutnya.

    Di titik yang lebih tersembunyi, terlindung dibalik pepohonan lebat, Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani tengah menunggu saat yang tepat. Nampak Danang Sutåwijåyå, putra Ki Agêng Pêmanahan, putra angkat Adipati Pajang Hadiwijåyå telah mempersiapkan diri menjalankan tugas. Dia berdiri disamping kuda putih yang nanti harus ditungganginya. Sebatang tombak panjang, dengan ujung tertutup kain putih dan rangkaian bunga melati tergantung di sana, tergenggam erat ditangan kecil Danang Sutåwijåyå. Itulah tombak pusaka Kyai Plèrèd yang terkenal ampuh.

    Ada yang tampak aneh dari kuda putih yang tali kekangnya tengah dipegang oleh Danang Sutåwijåyå. Kuda tersebut jelas bukanlah kuda jantan yang biasa dipakai untuk bertempur. Kuda ini jelas kuda betina. Dan tampak semakin aneh lagi, manakala diperhatikan lebih seksama, ekor kuda terlihat diikat keatas pelana sedemikian rupa, sehingga kemaluan kuda betina itu nampak terbuka jelas. Ki Juru Martanilah yang mempunyai rencana itu.

    Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan tengah bersiap-siap mengirimkan seorang utusan yang hendak diutus ke Jipang. Utusan yang membawa surat tantangan perang. Namun, belum juga sang utusan berangkat, nampak dari kejauhan, di seberang sungai, tujuh orang tukang rumput berpakaian bagus terlihat tengah berjalan di tepian sungai sembari membawa keranjang rumput.

    Ki Juru Martani tertegun, pucuk dicinta ulam tiba, dia tahu pasti, ketujuh orang yang tengah terlihat itu tak lain adalah perumput, pêkatik istana Jipang Panolan. Mereka pastilah tukang rumput yang tengah bertugas mencarikan rumput untuk makanan kuda kesayangan Aryå Pênangsang, Kyai Gagak Rimang. Cepat Ki Juru Martani memerintahkan agar Ki Agêng Pêmanahan mempersiapkan diri. Ki Juru Martani memberikan petunjuk singkat.

    Ki Agêng Pêmanahan mengangguk tanda mengerti dan langsung menaiki punggung kudanya. Sejenak Ki Juru Martani memberikan petunjuk kepada Kepala Pasukan agar tidak melakukan gerakan apapun tanpa ada perintah darinya. Lalu, dia menaiki punggung seekor kuda.

    Tak berapa lama, nampak Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan terlihat memacu kuda menyeberangi sungai yang dangkal di bawah. Melihat kedatangan dua orang yang tidak dikenal, tujuh orang tukang rumput terkejut. Apalagi, terdengar kemudian dua orang itu berteriak memanggil-manggil mereka. Seketika ketujuh perumput ini menghentikan langkah kakinya.

    Ki Juru Martani dan Ki Agêng Pêmanahan menghampiri mereka. Begitu jarak sudah sedemikian dekat, keduanya segera turun dari atas pelana kuda masing-masing.
    Kisanak, buat siapakah rumput-rumput ini?” , tanya Ki Juru Martani.

    Salah seorang perumput menjawab: “Rumput-rumput ini untuk makanan kuda Kangjêng Aryå Jipang.

    Ki Juru Martani tersenyum. Dia keluarkan sebuah gulungan rontal dari balik bajunya. “Kisanak, kami memiliki pesan buat junjungan kalian. Maukah kalian menyampaikannya?

    Ketujuh orang saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka bertanya: “Kalian orang mana?
    Ki Agêng Pêmanahan menjawab: “Katakan kepada junjungan kalian, kami berasal dari Sélå.
    Ragu ketujuh orang tersebut. “Siapakah yang mau aku titipi?,” sergah Ki Juru Martani.

    Agak ragu, salah seorang perumput mendekat.“Baiklah, mana?

    Orang yang baru berkata segera mendekat dengan keranjang rumput yang tetap berada dipundaknya.
    Ki Juru Martani menyerahkan gulungan rontal itu kepada sang perumput. Namun diam-diam, Ki Agêng Pêmanahan bergerak kearah belakang sang tukang rumput dengan gerakan pelan.

    Begitu gulungan rontal telah diterima dan telah diselipkan di pinggang sang perumput, cepat Ki Agêng Pêmanahan mencabut keris dari pinggangnya dan meraih daun telinga sang perumput tersebut.

    Tak menunggu waktu, disayatnya daun telinga sang penerima rontal hingga putus seketika itu juga. Jerit kesakitan terdengar diiringi darah yang mengucur. Melihat kejadian itu, keenam perumput yang lain ketakutan dan langsung melarikan diri.

    Perumput yang kehilangan daun telinganya terlihat mengerang-ngerang kesakitan sembari mendekap telinganya yang telah kehilangan cuping. Darah merembes disela-sela jari jemarinya.
    Sembari memegang keris, Ki Agêng Pêmanahan berkata: “Katakan kepada Aryå Pênangsang. Aku, orang Sélå menunggu dia disini. Jika dia lelaki sejati, pasti akan datang.

    Sang perumput ketakutan setengah mati melihat Ki Agêng Pêmanahan. Cepat dia membalikkan badan dan langsung lari terbirit-birit dengan meninggalkan keranjang rumputnya yang tumpah ditanah.

    Ki Agêng Pêmanahan dan Ki Juru Martani mengawasi sang perumput yang tengah berlari. Begitu sudah tidak terlihat mata, keduanya segera menaiki punggung kuda masing-masing dan kembali menuju barisan semula.
    Perang besar akan terjadi sebentar lagi. Bagaimana dengan Aryå Pênangsang?

    ånå toétoégé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur nuwun Ki Bayu,

      wah sebentar lagi bakal muncul Semangkin dan Prihatin.

      Tetap menunggu TOETOEGE dengan sabar.

      Sugeng dalu.

  20. Nuwun
    Sugêng siyang andungkap sontên

    Untuk menenami sanak kadang bermalam Minggon:

    Sampun kawêdar bertutur-turut dua Dongeng Arkeologi & Antropologi Keris Legendaris Kanjêng Kyai Carubuk, Kanjêng Kyai Brongot Sètan Kober dan Tombak Kanjeng Kyai Plèrèd, dan dongeng ini masih ånå toétoégé..

    Sugêng nyadran, bagi sanak kadang yang melakukannya.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    Matur suwun Ki Bayu
    langsung masuk bangsal pusaka

    • matur nuwun ki BAYU, ki SENO

      • “MARHABAN YA RAMADHAN”

  21. sugeng “MEGENGAN” kadang padepokan SENGKALING

  22. Matur nuwun Ki Bayu,
    soyo tambah wawasan meneh

  23. Test alias uji coba ….

  24. Nuwun

    Sugêng énjang

    Kulonuwun… ……………………………….
    gandhok JdBK 07……thok..thok..thok..
    kori agêng isih tutupan……………………………

    Hadu (tiru-tiru Ki Panji)……..
    mesakaké Ki Mahesa Arema, yang pontang-panting jadi “penjaga pintu gerbang” ……….
    Lha Ki Panji, lungå kok yå suwi bangêt.

    nJur kelingan pagelaran wayang kulit lakon Hyang Cingkåråbålå dan Hyang Bålåupåtå.

    Dua dewa raksasa bersaudara kembar. putra Begawan Bremani, yang bertabiat jujur,dan baik hati. Oleh Hyang Bathara Guru mereka berdua ditugasi untuk menjaga pintu gerbang Kadewatan Suralaya.

    Sahur…..Sahur…..Sahur….
    nJakarta mBetawi Jum’at, 5 Ramadhan 1432H

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  25. iiih paksi, klo mo nolongin bibi itu ya beli aja kain luriknya, klo perlu dilebihin ……. tp ga usah mencoba nolongin ponakannya bibi itu …..😦 bahu nganglang sakti loh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: