JDBK-10

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 12 Agustus 2011 at 03:26  Comments (25)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-10/trackback/

RSS feed for comments on this post.

25 KomentarTinggalkan komentar

  1. 1

    • Lansung ngundhu…….. Suwun Ki

      • 2

        • Antri ngundhu…….. Suwun Ki

          • Ki Menggung iki pancen oye, wong tuwo salah kok diterokne….

          • matur nuwun

  2. Matur nuwun P. Satpam kanggo tandon disik.

  3. sugeng dalu…..hadu kalah sitik sama ki Honggo,

    cantrik HADIR pak SATPAMe…..sugeng tadarus

  4. 9

  5. Nuwun
    Sugêng dalu
    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-41. Gajah Mada. (Parwa ka-6) . Gajah Mada Mukti Palapa, Gajah Mada Mokta. On 12 Agustus 2011 at 02:22 JdBK 09

    Waosan kaping-42:
    GAJAH MADA [Parwa ka-7]

    SIAPA GAJAH MADA? [Bagian ke-1]

    Mpu Mada. Dia adalah seorang prajurit berpangkat rendah, seorang bêkêl dari Kesatuan Bhayangkâri, Pasukan Khusus Pengawal Pribadi Raja, Keluarga Raja dan Istana Majapahit, yang menggapai jabatan puncak setelah raja di Keraton Majapahit. Dia adalah Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Mpu Mada yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Dia lebih dikenal dengan sebutan Gajah Mada.

    Sangat disayangkan sejarah awal kehidupan Gajah Mada tidak jelas, tempat kelahiran, saat kelahiran dan masa kecilnya tidak diketahui dengan pasti, beberapa sejarahwan menulis Gajah Mada diperkirakan lahir pada tahun 1300 di lereng pegunungan Kawi – Arjuna, daerah yang kini dikenal sebagai kota Malang. Mungkin di Sengkaling? Dau? Siapa tahu?. Sejak kecil, Gajah Mada sudah menunjukkan kepribadian yang baik, kuat dan tangkas.

    Encarta Encylopedia, sebuah ensiklopedia digital multimedia, di bawah entri Biografi Gajah Mada, berani memperkirakan Gajah Mada lahir pada tahun 1290 M. Jadi, dia lahir lahir dan besar tatkala terjadi transisi antara kekuasaan Raden Wijaya kepada Jayanagara.

    Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal kariernya menjadi seorang bêkêl di masa raja Jayanegara (1309-1328). Terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.

    Gajah Mada muncul dalam sejarah saat menjadi Bêkêl Bhayangkâri. Gajah Mada mendapat kepercayaan penuh dari Sang Prabu Jayanegara, Gajah Mada mampu menyelamatkan raja ke Bedander karena ada pemberontakan yang dipimpin Ra Kuti. Bahkan, dengan segala daya upaya dan kepiawaiannya, Gajah Mada mampu mengatasi pemberontakan dan mengembalikan Prabu Jayanegara ke dampar kencana tahta Majapahit.

    Menariknya, tidak mungkin bila Sang Prabu Jayanegara mempercayakan keselamatannya kepada seorang Gajah Mada yang tidak diketahui asal usulnya. Ibaratnya, tidak mudah dan tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi bagian apalagi kesatuan Pasukan Khusus Pengamanan Raja (Paspam raja, kalau sekarang seprti Paspampres) bila tidak memiliki track record yang luar biasa dan istimewa.

    Sayang sekali asal-usul Mahapatih Gajah Mada yang sangat masyhur ini belum jelas diketahui orang, baik menyangkut nama orang tuanya maupun tempat serta tahun kelahirannya. Demikian juga moktanya. Tidak diketahui dengan pasti tempat dan waktu meninggalnya.

    Pararaton hanya menyebut tahun meninggalnya Gajah Mada yang ditandai dengan candra sengkala Langit Muka Mata Bulan yang dibaca sebagai tahun 1290Ç atau 1368M, sedangkan Pujasastra Nāgarakṛtāgama menyebutkan tahun kematian Sang Maha Patih Gajah Mada pada tahun çaka rasa turu ina (1286Ç) atau 1364M. Dalam hal ini, berita dari Nāgarakṛtāgama lebih bisa dipercaya karena ditulis oleh Prapanca yang hidup sezaman dengan Gajah Mada.

    Nāgarakṛtāgama Pupuh LXXI (71) : 1

    …… pejah irikang sakabdha rasa tunu ina…..

    tahun çaka rasa turu ina (1286Ç) beliau mangkat ….

    Banyak cerita tentang hal asal-usul dan akhir kehidupan Sang Mahapatih Gajah Mada ini, namun antara fakta sejarah dan dongeng legenda rakyat (folklore) telah bercampur-aduk, sehingga harus dipilah antara dongeng dan fakta sejarah.

    Dalam hal ini tidaklah berarti bahwa dongeng rakyat itu harus kita abaikan begitu saja. Dalam dongeng rakyat, sekecil apapun pasti mengandung kebenaran fakta sejarah. Paling tidak dongeng rakyat yang lazim dibuat dalam bentuk tembang atau kidung, telah memperkaya khasanah budaya kesusasteraan bangsa.

    Selain tembang atau kidung yang cenderung mengkedepankan dongeng khayal, maka pembacaan atas tokoh Gajah Mada kerap dihubungkan dengan dimensi supranatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut.

    Upaya penyingkapan jatidiri Gajah Mada hendaklah menghindari pencampur-adukan tersebut. Namun, pencampuran dengan dimensi religius tersebut paling tidak tetap dihargai sebagai upaya sebagian bangsa Indonesia untuk membanggakan tokohnya, terlebih Indonesia yang terus mencari figur untuk diteladani di masa “bellum omnium contra omnes” (Latin: perang semua melawan semua) seperti sekarang ini.

    Muhammad Yamin didalam bukunya yang berjudul Gadjah Mada, Balai Pustaka, cetakan ke-6, tahun 1960, hal 13. Mengungkapkan tokoh ini sebagai berikut:

    Di antara sungai Brantas jang mengalir dengan derasnja menudju ke arah selatan dataran Malang dan di kaki pegunungan Kawi-Ardjuna jang indah permai, maka di sanalah nampaknja seorang-orang Indonesia berdarah rakjat dilahirkan pada permulaan abad ke-14.

    Ahli sedjarah tidak dapat menjusur hari lahirnja dengan pasti: ibu bapak dan keluarganja tidak dapat perhatian kenang-kenangan riwajat: Begitu djuga nama desa tempat dia dilahirkan dilupakan sadja oleh penulis keropak djaman dahulu asal usul Gadjah Mada semua dilupakan dengan lalim oleh sedjarah

    Jadi jelaslah, asal-usul Gajah Mada masih sangat gelap, walaupun ada dugaan bahwa Gajah Mada dilahirkan di aliran sungai Brantas yang mengalir ke selatan di antara kaki gunung Kawi-Arjuna, diperkirakan sekitar tahun 1300M. Muhammad Yamin mengatakan Gajah Mada lahir di sebuah lembah di dekat sumber mata air Brantas. Di kaki Gunung Kawi dan Gunung Arjuno.

    Naskah Usana Jawa yang digubah di Bali menyebut bahwa tokoh sejarah kuno ini lahir di Bali. Menurut naskah ini Gajah Mada lahir dengan cara “memancar” dari buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana. Jadi lahir tanpa ayah dan ibu. Lahir karena kehendak dewa-dewa.

    Sebagai protagonis, ketokohan Gajah Mada menimbulkan banyak spekulasi dan pembahasan, sementara catatan mengenai dirinya sangat minim sekali. Kalaupun ada, perlu pembahasan yang sangat serius dan mendalam. Dari semua catatan, disamping petulisan (batu/lempengan), yang sejauh ini masih dapat dipercaya dan mendekati sejarah sebenarnya adalah Rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama.

    Rontal Pujasastra Nāgarakṛtāgama ditulis oleh mPu Prapanca, seorang dharmadhyaksa kasogatan yang hidup sezaman dengan Gajah Mada, sehingga dapat melihat secara langsung seluruh ‘wajah’ Majapahit dan tentunya ‘wajah’ Gajah Mada, dari tahun 1293-1365 saat naskah Nāgarakṛtāgama selesai ditulis.

    Namun bagaimanapun, beberapa karya sastra telah memberikan banyak sumbangan yang sangat berharga bagi sejarah Majapahit untuk dijadikan referensi bagi penelaahan dan bahan diskusi sejarah Majapahit yang besar di bawah kendali Sang Mahapatih Amangkubumi Gajah Mada. Keinginan untuk mengetahui asal-usul Patih Gajah Mada sebagai Negarawan besar pada Zaman Kerajaan Majapahit, telah lama menarik perhatian ahli sejarah.

    ***

    Sejarah Indonesia, seperti halnya sejarah bangsa-bangsa lain, memiliki bab-bab yang ‘samar’ dan multi interpretasi. Dimulai dari kerajaan nusantara, zaman pergerakan, masa kemerdakaan, orde lama, orde baru hingga dekade sekarang ini, sebagian besar mempunyai babakan yang memunculkan heterogenitas opini dan bahkan kontroversi. Termasuk tokoh Gajah Mada.

    Dari kenyataan bahwa asal-usul Gajah Mada sampai detik ini masih simpang-siur. Sebagian besar penelusuran asal-asul Gajah Mada bersumber pada cerita rakyat (folklore) dan pengkaitan nama dengan sejarah lokalitas/etinisitas daerah tertentu. Belum ada bukti otentik yang bisa menjelaskan dengan sebenarnya asal-usul Gajah Mada. Dan karena masih sebatas dongeng tutur-tinular, maka subyektifitas pun tak terhindarkan dalam setiap upaya menyingkap sejarah Gajah Mada.

    Tapi, demikianlah sejarah. Akan selalu ada bagian yang dipenuhi ambiguitas dan selalu terkait dengan sudut kepentingan kekuasaan pada masa tersebut. Ada faktor-faktor yang membutuhkan legitimasi dan justifikasi pada keberlangsungan kekuasaan. Dan, itu bisa diraih dengan pengkultusan dan senses of curiosity yang ujungnya adalah untuk mendapatkan keabsahan kekuasaan (power legitimacy) serta kebanggaan identitas sosial (the pride of social identity) pada tokoh bersangkutan.

    Demikianlah sejarah. Pada dimensi tertentu, pasti melahirkan bermacam analisa dan perdebatan. Apalagi, dengan rentang waktu yang jauh ke belakang, berjarak sekian generasi. Sementara yang ‘baru-baru’ saja sering tidak bisa diungkap dengan gamblang. Sekedar contoh: beberapa pemberontakan pasca kemerdekaan, Serangan Oemoem 1 Maret 1949 di Yogyakarta, Pemberontakan Tahun 1965, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), kasus-kasus masa reformasi, penculikan, dan serentetan peristiwa konflik horizontal, adalah contoh betapa kompleksnya menyusun sebuah catatan sejarah.

    Penulisan sejarah adalah suatu “never ending process“, suatu proses yang tidak akan berakhir, karena sering dapat ditemukan bukti baru, sehingga dengan demikian penulisan sebelumnya perlu direvisi atau mendapat penilaian baru.

    Meski demikian, satu hal yang pasti: sejarah adalah catatan berdasar fakta dan keobyektifan. Kalaupun dari keobyektifan tersebut kemudian melahirkan multi interpretasi dan kontroversi, sah-sah saja. Adalah wajar muncul perdebatan. Yang tak wajar ialah, jika dalam proses pengambilan kesimpulan, ada upaya rekayasa, pembelokan, bahkan penghilangan fakta sejarah. Sejarah dicatat, demi pembentukan bangsa yang cerdas dan dan bermartabat bukan sebaliknya bangsa yang lemah.

    Ringkasan beberapa artikel Karya Sastra atau Legenda Gajah Mada

    Tulisan ini, ialah legenda. Kalaupun kemudian ada langkah penelitian berkenaan legenda Gajah Mada ini, tentu sudah lain soal. Yang jelas, legenda ini hidup di masyarakat tertentu, titur-tinular dari generasi ke generasi.

    Dalam perspektif keindonesiaan, Gajah Mada juga tidak bisa dipandang sebagai milik wilayah, etnis, atau apalagi orang tertentu. Sosoknya yang memang pernah eksis di percaturan politik global abad ke-13, sudah terintegral dengan sejarah Nusantara, sehingga tentu saja sudah menjadi milik Indonesia. Sejarah tersebut bisa juga menjadi inspirasi di era kekinian dalam memajukan bangsa ini, semacam discovering in the old; revitalizing in the future.

    1. Gajah Mada lahir di desa Maddha di kaki Gunung Semeru

    Klasifikasi Dokumen Lama yang berbentuk Rontal-rontal pada “Perpustakaan Rontal Fakultas Sastra, Universitas Udayana” (didapat salah satu rontal yang menarik perhatian di antaranya adalah rontal yang berjudul “Babad Gajah Maddha”).

    Rontal tersebut memakai kode: Krop.7, Nomer 156, Terdiri dari 17 Lembar rontal berukuran 50×3,5 cm, ditulisi timbal balik, setiap halaman terdiri atas 4 baris, memakai huruf dan bahasa Bali-Tengahan. Rontal tersebut adalah merupakan salinan sedangkan yang asli belum dapat ditemukan.

    Secara garis besar Rontal Babad Gajah Maddha tersebut berisikan:
    1. Asal usul Gajah Mada;
    2. Gri Kresna Kapakisan dalam hubungannya dengan raja-raja Majapahit;
    3. Emphu keturunan pada waktu memerintah di Bali.

    Yang menjadi perhatian dari sekian Rontal tersebut dan dapat dijadikan penelitian lebih lanjut adalah bagian yang menjelaskan tentang Asal-Usul/Kelahiran sang Maha Patih Gajah Mada.

    Ringkasan isi teks Rontal Babad Gajah Maddha

    Tersebutlah Brahmana Suami-Istri di Wilatikta, yang bernama Curadharmawysa dan Nariratih, keduanya disucikan (diabhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat atau Lemah Tulis. Setelah disucikan lalu kedua suami istri tersebut diberi nama Mpu Curadharmayogi dan istrinya bernama Patni Nuriratih. Kedua pendeta tersebut melakukan Bharata (disiplin) Kependetaan yaitu: “sewala-brahmacari” artinya setelah menjadi pendeta suami istri tersebut tidak boleh berhubungan seks layaknya suami istri lagi.

    Selanjutnya Mpu Curadharmayogi mengambil tempat tinggal (asrama) di Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat, Sedangkan Patni Nariratih bertempat tinggal di rumah asalnya di Wilatikta, tetapi senantiasa pulang ke asrama suaminya di Gili Madri untuk membawa santapan, dan makanan berhubungan jarak kedua tempat tinggal mereka tidak begitu jauh.

    Pada suatu hari Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya ke asrama di Gili Madri, tetapi sayang pada saat hendak menyantap makanan tersebut air minum yang disediakan tersenggol dan tumpah (semua air yang telah dibawa tumpah), sehingga Mpu Curadharmayogi mencari air minum lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat itu arah ke barat. Dalam keadaan Patni Nariratih seorang diri diceritakan timbulah keinginan dari Sang Hyang Brahma untuk bersenggama dengan Patni Nariratih. Sebagai tipu muslihat segerah Sang Hyang Brahma masiluman (berganti rupa berubah wujud) seperti Mpu Curadharmayogi sehingga Patni Nariratih mengira itu adalah suaminya.

    Segera Mpu Curadharmayogi mayarupa (palsu) merayu Patni Nariratih untuk melakukan senggama, Tetapi keinginan tersebut ditolak oleh Patni Nariratih, oleh karena sebagai pendeta sewala-brahmacari sudah jelas tidak boleh lagi mengadakan hubungan seks, oleh karena itu Mpu Curadharmayogi palsu tersebut memperkosa Patni Nariratih.

    Setelah kejadian tersebut maka hilanglah Mpu Curadharmayogi palsu, dan datanglah Mpu Curadharmayogi yang jati (asli). Patni Nariratih menceritakan peristiwa yang baru saja menimpa dirinya kepada suaminya dan akhirnya mereka berdua menyadari, bahwa akan terdjadi suatu peristiwa yang akan menimpa meraka kelak, kemudian ternyata dari kejadian yang menimpa Patni Nariratih akhirnya mengandung.

    Menyadari hal yang demikian tersebut mereka berdua lalu mengambil keputusan untuk meninggalkan asrama mengembara ke hutan-hutan, jauh dari asramanya tidak menentu tujuannya, hingga kandungan Patni Nariratih bertambah besar. Pada waktu akan melahirkan mereka sudah berada didekat gunung Semeru dan dari sana mereka menuju kearah Barat Daya, lalu sampailah disebuah desa yang bernama desa Maddha.

    Pada waktu itu hari sudah menjelang malam dan Patni Nariratih sudah hendak melahirkan, lalu suaminya mengajak ke sebuah “Balai Agung” yang terletak pada kahyangan didesa Maddha tersebut.

    Bayi yang telah dilahirkan di bale agung itu, segera ditinggalkan oleh mereka berdua menuju ke Gunung Plambang. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa di desa Maddha, lalu oleh seorang patih terkemuka di Wilatikta di bawalah bayi itu dan diberi nama “Maddha”.

    Telaah isi:

    1. Pada halaman 2a Rontal Babad Gajah Maddha (Babad) dikatakan bahwa orang tua Gajah Mada berasal dari Wilatikta yang disebut juga Majalangu (Babad hal. 1b).
    Disebelah selatan “Lemah Surat” terletak “Giri Madri” yang dikatakan berada dekat dengan Wilatikta (Babad hal. 6a), dikatakan hampir setiap hari Patni Nariratih pulang pergi dari Wilatikta, mengantar makanan suaminya di asramanya di Gili Madri yang terletak disebelah selatan Wilatikta. Hal ini berarti Gili Madri terletak di sebelah selatan Lemah Surat dan juga di sebelah selatan Wilatikta. Jarak antara Gili Madri dengan Wilatikta dikatakan dekat.Tetapi jarak antara Lemah Surat dengan Wilatikta begitu pula arah dimana letak Lemah Surat dari Wilatikta tidak disebutkan dalam Babad.

    2. Pada Babad hal. 12a yang menyebutkan tentang kelahiran Gajah Mada, ada kalimat yang berbunyi “On Cri Caka warsa jiwa mrtta yogi swaha” kalimat ini adalah Candrasangkala yang artinya Selamat Tahun 1221Ç atau tahun 1299 M. Seandainya itu benar maka Gajah Mada dilahirkan pada tahun 1299 M.

    3. Mengenai nama Maddha, Babad hal. 10b – 11a disebutkan sebagai berikut:
    Karena malu terhadap gurunya yakni: Mpu Ragarunting, begitu juga terhadap orang banyak, maka setelah kandungan Patni Nariratih membesar, lalu diajak ia oleh suaminya meninggalkan asrama pergi mengembara ke dalam hutan dan gunung yang sunyi. Akhirnya pada malam hari, waktu bayi hendak lahir, mereka berdua menuju kesebuah desa yang bernama Maddha terletak di dekat kaki gunung Semeru. di desa itulah sang bayi dilahirkan disebuah “Bale-Agung” yang ada di Kahyangan (Tempat pemujaan) desa tersebut. Bayi tersebut dipungut oleh seorang penguasa desa Maddha, kemudian dibawa ke Wilatikta oleh seorang patih dan kemudian diberi nama Maddha, jadi jika demikian halnya nama Maddha berasal dari nama desa.

    Nama Gajah oleh Babad sama sekali tidak disebutkan, kemungkinan besar nama gajah adalah nama tambahan atau nama julukan atau bisa juga nama jabatan (abhiseka) bagi sebutan orang kuat (?) Dengan demikian Gajah Mada berarti orang kuat yang berasal dari Maddha.

    4. Mengenai nama orang tua Gajah Mada, ayahnya bernama Curadharmawyasa dan ibunya bernama Nariratih (Babad hal 2a). Setelah mereka disucikan (abhiseka menjadi pendeta) oleh Mpu Ragarunting di Lemah Surat, nama mereka berubah menjadi Curadharmayogi dan Patni Nariratih (Babad hal 3b) meraka berdua adalah brahmana (Babad hal. 2a).

    Adapun didalam Babad hal. 9b, yang menyebutkan bahwa Patni Nariratih bersenggama dengan Dewa Brahma yang berganti rupa seperti suaminya sehingga Gajah Mada seolah-olah dilahirkan atas hasil senggama antara Patni Nariratih dengan Dewa Brahma, dapat kita tafsirkan sebagai berikut: Pengungkapan mitos demikian itu sudah tentu sukar diterima oleh akal mengingat motif yang demikian itu sudah banyak terdapat pada penulisan-penulisan Babad, maka perlulah dicari latar belakang dari hal-hal yang dimitoskan itu.

    Dugaan yang dapat ditangkap adalah:

    a. Mpu Curadharmayogi dan istrinya Patni Nariratih adalah melakukan brata “Sewala Brahmacari” yang berarti sejak mereka menjadi pendeta mereka tidak diperbolehkan untuk berhubungan seks atau senggama oleh karena itu mereka berpisah tempat. Sang suami berasrama di Gili Madri sedangkan Sabng istri bertempat tinggal di Wilatikta tetapi kedua suami istri ini masih saling bertemu karena sang istri acapkali membawakan makanan untuk sang suami.

    b. Pada suatu ketika yaitu pada hari Soma, Umanis, Tolu, Cacil ka Daca (Senin, Legi, Tolu, diperkirakan bulan April) Patni Nariratih membawakan suaminya makanan. Pada waktu hendak makan, air minum tiba-tiba tumpah. Dengan tidak sadar keluarlah kata-kata dari Patni Nariratih: “ih ah palit dewane plet”, yang maksudnya kemaluan suaminya kelihatan (Babad hal. 7a).

    Dalam Babad dikatakan bahwa kata-kata tersebut didengar oleh Dewa Brahma. disinilah menurut interpretasi bahwa yang mendengar hal tersebut tidak lain adalah suaminya sendiri, sehingga timbuh hasrat birahi ingin bersenggama dengan suaminya. Akhirnya senggama tersebut terjadi antara Patni Nariratih dengan suaminya sendiri. Mengapa demikian, karena Brahma adalah sebagai dewa pencipta/penumbuh (konsep trimurti) dan ini sering digunakan sebagai mitologi sebagai sumber kelahiran seseorang yang kenamaan atau termasyhur.

    Jadi logislah disini untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi maka dipakailah Dewa Brahma sebagai gantinya. Mengapa dikatakan senggama itu terjadi dengan Dewa Brahma, Kiranya ini untuk menyembunyikan perbuatan Mpu Curadharmayogi sebagai seorang ”Sewala-brahmacari”, itulah sebabnya setelah Patni Nariratih hamil mereka segera pergi dari asrama untuk menyembunyikan diri.

    c. Mengenai lahirnya sang bayi pada Balai Agung di sebuah kahyangan di desa Maddha. Ini kira-kiranya memang diusahakan oleh Mpu Curadharmayogi dan Patni Nariratih menurut penafsiran kami.

    d. Balai Agung adalah merupakan sebuah balai yang patut ada di dalam sebuah “Kahyangan Desa”(Pura Desa) yang berfungsi sebagai tempat membersihkan diri dari noda-noda spritual.

    Hal yang demikian ini dapat dibandingkan dengan keadaan di Bali sampai sekarang, Bahwa Bale-Agung terletak didalam Pura Desa yaitu salah satu Kahyangan Tiga yang ada pada tiap-tiap desa. Pura Desa ini adalah Sthana Dewa Brahma dalam fungsi sebagai pencipta. Jadi logislah orang tua Gajah Mada mengusahakan Balai Agung sebagai tempat untuk melahirkan bayi dengan maksud:
    i. proses kelahiran berjalan lancar bayi terhindar dari noda-noda spritual;
    ii. supaya bayi tersebut dianggap dilahirkan dari sumber pencipta;
    iii. supaya ada orang yang memungut dan memeliharanya.

    ånå tutugé
    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • hadu….
      keteteran aku….
      untung bangsal pusaka isih lodang
      he he he ,,,,, suwun Ki Bayu

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, dongengipun sampun kulo simpen. Kulo tenggo lajengipun.

  6. Jan siip tenan wis ngundhuh rontal moco dongeng sisan matur nuwun mugi Pangeran sing Males kabecikan

    Matur nuwun .

  7. Sugeng Enjang.
    Matur nuwun tambahan dongengipun Ki Bayu.

  8. Sampurasun
    Wilujêng siyang

    Wilujêng ngalaksanakêun ibadah shaum dintên ka-13.
    Abdi nyuhunkêun dihapuntên lahir tumêkaning batin. Mugi-mugi amal ibadah urang dina sasih Ramadhan iêu, sing ditampi ku Gusti Nu Maha Suci. Aamin

    Rampès

    punåkawan bayuaji

  9. sugeng siang, matur nuwun

  10. 17

  11. Nuwun
    Sugêng énjang

    ….dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,….. [Al Baqarah (2): 187]

    Selamat berpuasa pada hari ke-14.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  12. Sugeng Enjang,
    Insya Allah kantun 15 dinten malih hari kemenangan.

  13. Sugeng enjing.

  14. sugeng siang

  15. Nuwun
    Sugêng siyang ndungkap sontên

    Ya Allah. Sucikanlah diri kami dari kekotoran dan kejelekan. Berilah kesabaran kepada kami untuk menerima segala ketentuan. Berilah kemampuan kepada kami untuk bertaqwa, Berilah kemampuan kepada kami untuk dapat bergaul dengan orang-orang yang baik menurut pilihanMu dengan bantuanMu.

    Ajarilah kami untuk mencintai orang-orang miskin. Wahai Dzat Yang Maha Suci. Wahai Dzat Yang Maha Penyabar. Wahai Dzat Yang Maha Penentu Segala Kejadian. Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Petunjuk. Wahai Dzat Yang Maha Kaya. Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Kekayaan, Wahai Dzat Yang Maha Dermawan dambaan orang-orang papa.

    Aamin.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Aaamiin………

    • Amiiiiin.

      • amiiiiin


Tinggalkan Balasan ke cantrik bayuaji Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: