JDBK-11

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 15 Agustus 2011 at 03:21  Comments (24)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-11/trackback/

RSS feed for comments on this post.

24 KomentarTinggalkan komentar

  1. Nuwun
    Sugêng énjang

    Ya Allah. janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ampunilah kami dari kesalahan-kesalahan dan kebodohan kami. Janganlah Engkau jadikan diri kami sasaran bala dan malapetaka. Dengan kemahamuliaanMu, Wahai Dzat Yang Maha Pemberi Kemuliaan.

    Ya Allah! Berilah kami rejeki berupa ketaatan orang-orang yang khusyu’. Lapangkanlah dada kami dengan taubatnya orang-orang yang menyesal, dengan penjagaanMu, Wahai Dzat Yang Maha Penjaga, Wahai Dzat Yang Maha Pelindung orang-orang yang ingin mendekatkan diri kepadaMu.

    Sugêng saum dintên kaping-15.

    Nuwun

    cantrik bayuaji

  2. 2

  3. Sugeng Enjang,
    pertengahan ramadhan, jamaah taraweh tinggal 3 baris, subuh tinggal 2,5 baris.
    Apakah Saudara kita sudah terjebak melakukan ibadah karena riyaa ya, shalat karena melihat tetangganya shalat, bukan karena Allah.
    Semoga aku Engkau jauhkan dari sifat tadi ya Allah.

  4. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-43. Gajah Mada. (Parwa ka-7) . Siapa Gajah Mada. Bagian ke-1 On 12 Agustus 2011 at 21:50 JdBK 10

    Waosan kaping-43:
    GAJAH MADA [Parwa ka-8]

    SIAPA GAJAH MADA? [Bagian ke-2]

    2. Gajah Mada berasal dari Swarnadwipa — Kerajaan Melayu

    Mengenai asal usul Gajah Mada ada pendapat yang mengatakan bahwa Gajah Mada berasal dari Sumatera. Konon satu-satunya pulau di Indonesia yang ada gajahnya adalah Sumatra. Yang pusat koservasinya ada di Way Kambas, Jambi. Dan kalau dilihat dari catatan sejarah, ada benang merah yang dapat ditarik. Dara Pethak (Petak) berasal dari Kerajaan Dharmasraya.

    Kerajaan Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi adalah kerajaan yang terletak di Sumatra, berdiri sekitar abad ke-11 Masehi. Lokasinya terletak di selatan Sawahlunto. Sekarang adalah Kabupaten Dharmasraya, salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Barat.

    Setelah berhasil melaksanakan ekspedisi Pamalayu, Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga beserta keluarganya dan Dara Pethak kembali ke Pulau Jawa untuk menemui Kertanegara, raja yang mengutusnya. Setelah sampai di Jawa, ia mendapatkan bahwa Sang Kertanegara telah tewas dan Kerajaan Singasari telah dikuasai oleh Jayakatwang, dari Kerajaan Kadiri.

    Oleh karena itu, Dara Pethak, adik Dara Jingga kemudian dipersembahkan kepada Raden Wijaya, yang kemudian memberikan keturunan Raden Kalagemet atau Sri Jayanegara, raja Majapahit ke-2. Dengan kata lain, raja Majapahit ke-2 adalah keponakan Mahesa Anabrang dan sepupu Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung.

    Berdasarkan catatan-catatan diatas, dapat disimpulkan, saat Mahesa Anabrang membawa Dara Jingga dan Dara Pethak dari Sumatra ke Jawa, Gajah Mada termasuk dalam rombongan tersebut yang bertugas untuk mengawal keselamatan putri raja mereka sekaligus sebagai duta dari Kerajaan Darmasraya. Atau malah Gajah Mada ditugaskan secara khusus untuk menjadi pengawal pribadi Dara Pethak. Yang akhirnya tinggal dan menetap di Majapahit mengikuti tuannya yang menjadi permaisuri raja Majapahit. Dari uraian-uraian di atas, ada yang berkesimpulan bahwa asal-usul Gajah Mada bukan dari Jawa tetapi Sumatra.

    3. Gajah Mada lahir dan muksa di Buton

    Terdapat dua dongeng atau legenda Gajah Mada sebagai orang Buton, dua-duanya akan dipaparkan secara berturut-turut:

    3.1. Legenda Gajah Mada lahir dan moksa di Buton I

    Sekitar bulan Sya’ban 634 Hijriyah atau akhir tahun 1236 Masehi sebuah kapal layar Popanguna menggunakan simbol bendera Buncaha garis-garis mendatar warna Kuning Hitam merapat di Kamaru, wilayah pesisir arah utara timur laut Pulau Buton. Kapal tersebut memuat bangsawan bernama Simalaui dan Sibaana (bersaudara) dikawal seorang sakti mandraguna bernama Sijawangkati bersama puluhan pengawalnya, yang diperkirakan berasal dari Bumbu, negeri melayu Pariaman. Kedatangan mereka ke Pulau Buton diperkirakan lantaran terjadi pergolakan yang memaksa untuk meninggalkan tempat asalnya.

    Terbukti, setelah mereka membuat pemukiman di Kamaru, juga membangun sebuah perlindungan yang hingga kini dikenal dengan sebutan Benteng Wonco. Sijawangkati pun kemudian memohon diri untuk membuat pemukiman tersendiri di Wasuembu serta membuat Benteng Koncu di Wabula.

    Syahdan, beberapa waktu kemudian datang lagi dua buah kapal yang di buritannya ditandai dengan kibaran bendera Davialo berwarna Merah Putih di Teluk Kalumpa, tak jauh dari tempat pendaratan Simalaui, Sibaana, dan Sijawangkati dan rombongannya. Sijawangkati dan Sitamanajo menyambut kedatangan mereka. Ternyata, kedua kapal tersebut membawa Raden Sibahtera, Raden Jatubun dan Lailan Mangrani yang kesemuanya merupakan anak dari Raja Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya.

    Setiap kapal memuat sekitar 40 orang pengikut. Singkat cerita, kehadiran para pendatang tersebut, selain berupaya menjalin keakraban dengan warga di sekitar Pulau Buton, juga di antara pendatang saling menguatkan persahabatan. Raden Sibahtera yang diangkat menjadi Raja Buton mempermaisurikan Wa Kaa Kaa (Mussarafatul Izzati Al Fahriy). Sedangkan Sijawangkati menyunting Lailan Mangrani (Putri Raden Wijaya).

    Dari perkawinan Sijawangkati dengan Lailan Mangrani membuahkan keturunan 2 anak laki-laki dan 1 perempuan. Anak tertua lelaki itulah yang kemudian diberi nama Gajah Mada. Sejak kecil Gajah Mada telah memperlihatkan kecerdasan dan kesaktian. Ayahnya, Sijawangkati yang disebut-sebut keturunan wali di negeri Melayu terkenal memiliki ilmu-ilmu kesaktian sudah berupaya menurunkan ilmunya kepada Gajah Mada sejak berusia 7 tahun.

    Ketika berumur sekitar 15 tahun, Gajah Mada lalu dibawa oleh ibunya (Lailan Mangrani) menemui kakeknya Raden Wijaya di Pulau Jawa. Tatkala Kerajaan Majapahit dipimpin Jayanegara (1309 – 1328 M) – anak Raden Wijaya dari perkawinan dengan Dara Petak dari Jambi, Sumatera, Gajah Mada pun tampil berperan membantu melawan pemberontakan yang muncul dari lingkungan kerajaan sendiri. Dia memimpin pasukan Bhayangkara bertugas menjaga keamanan raja dan keluarganya.

    Dahsyatnya Pemberontakan Kuti (1319 M) yang dipelopori salah seorang pejabat Kerajaan Majapahit, sampai memaksa Raja Jayanagara, berikut istri Raden Wijaya dan putrinya Tribhuwanattunggadewi, Gayatri, Wiyat, dan Pradnya Paramita mengungsi ke Bedander. Akan tetapi berkat kecerdikan dan kepiawaian Gajah Mada, pemberontakan dapat diredam. Raja dan keluarganya pun aman untuk kembali bertahta ke istana. Tarian adat Liya di alun-alun masjid Keraton Liya.

    Pascaperistiwa tersebut Gajah Mada kemudian diangkat menjadi Menteri Wilayah (Patih) Majapahit, membawahi Daha dan Jenggala. Kepercayaan kepada Gajah Mada yang diberi gelar Pu Mada diperluas dengan kewenangan hingga Jenggala – Kediri yang meliputi Wurawan dan Madura. Setelah Mahapatih Kerajaan Majapahit Arya Tadah pensiun tahun 1329 M, kedudukannya digantikan oleh Gajah Mada. Ada yang menyebut Gajah Mada wafat 1364 akibat penghianatan Hayam Wuruk.

    Namun setelah Gajah Mada membaca gelagat pihak berkuasa di Kerajaan Majapahit tak lagi memberikan kepercayaan kepadanya, ia bersama sejumlah pengikut setianya melakukan pelayaran kembali ke tempat kelahirannya di wilayah kepulauan Wangiwangi, Buton. Perjalanan pulang bersama rombongannya tersebut diperkirakan terjadi sekitar abad XIV, mendarat kembali di wilayah kepulauan Wangiwangi.

    Di pesisir pantai antara pelabuhan Sempo Liya dan Pulau Simpora terdapat Batu Prasasti yang dinamakan Batu Mada. Mahapatih Gajah Mada yang terkenal sebagai manusia memiliki banyak kesaktian tersebut kemudian memilih sebuah goa di wilayah Togo Mo’ori sebagai tempat tåpå bråtå. Di dalam gowa di daratan Pulau Karang Wangiwangi yang bersambung ke laut lepas inilah diperkirakan Gajah Mada yang mengenggam cakram senjata andalannya lantas moksa dalam semedi.

    Sedangkan puluhan pengikutnya memilih sebuah gua di Batauga, Pulau Buton sebagai tempat semedi. Goa itu sampai sekarang masih dinamai sebagai Goa Mada di Kampung Mada Desa Masiri, Batauga.

    Selain mengenai perjalanan hidup Gajah Mada, legenda dan nilai-nilai tradisi, sejarah dan budaya Keraton Liya di Kabupaten Wakatobi, menerangkan bahwa Mahisa Cempaka (cucu dari pasangan Ken Arok dan Ken Dedes) merupakan Raja Liya (1259 – 1260). Gundukan batu yang ditinggikan (Ditondoi) yang ada di depan Masjid ‘Al Mubaraq’ Keraton Liya adalah makam Mahisa Cempaka yang pernah bersama Rangga Wuni memimpin pemerintahan di Kerajaan Singosari di Pulau Jawa.

    Di bawah gundukan batu Ditindoi yang di sekelilingnya ditumbuhi banyak Pohon Cempaka (Kemboja) yang telah berusia sekitar 800 tahun, diperkirakan terdapat sekitar 5 anggota dinasti Ken Arok, selain Mahisa Cempaka yang dimakamkan disitu. Model penguburan satu liang terdiri atas beberapa anggota keluarga, hingga saat ini masih terus terjadi di wilayah Liya, Wangiwangi.

    3.1. Legenda Gajah Mada lahir dan moksa di Buton II

    Beberapa referensi menyebutkan bahwa Gajah Mada wafat tahun 1364 M, akibat diasingkan dan dikhianati oleh Hayam Wuruk sebagai suatu buntut peristiwa Bubat dimana Gajah Mada di singkirkan ke wilayah Madakaripura dan hidup Gajah Mada di wilayah itu asketis.

    Terdapat sejumlah tulisan yang menyebut bahwa ia menderita sakit ataupun dibunuh oleh Raja Hayam Wuruk bernama Rajasanagara sendiri yang khawatir akan pengaruh politik Gajah Mada yang sedemikian kuat di Majapahit. Penaklukan Majapahit usai. Setelah tragedi Bubat ini.

    Hayam Wuruk mengarahkan politiknya ke arah stabilitas dalam negeri. Memang muncul beberapa pemberontakan di pulau “luar” seperti dari Palembang, yang minta bantuan Kekaisaran Cina untuk mengimbangi kuasa Majapahit. Namun, begitu pasukan Cina datang ke Palembang, wilayah itu sudah ditangani pasukan Majapahit dan ekspedisi Cina itu pun diluluhlantakkan.

    Dalam pandangan spiritual penulis Gajah Mada tidak dibunuh oleh Hayam Wuruk, namun dia begitu melihat sudah tak ada lagi kepercayaan dari sang Raja, dia menggunakan taktiknya untuk menghilangkan diri dari wilayah pengasingannya dengan diam-diam dia berangkat dengan membawa pasukan atau prajuritnya yang setia sampai mati sebanyak 40 orang berlayar menuju negeri asal kelahirannya yakni pulau Buton.
    Setelah melalui perjalanan panjang dari pulau Sumatera menuju pulau Buton Gajah Mada dan rombongan prajuritnya melewati kepulauan Tukang Besi yang sekarang dikenal dengan Wakatobi.

    Perlu diketahui bahwa Gajah Mada adalah seorang sakti mandraguna sebagaimana kesaktian yang dimiliki oleh ayahnya Si Jawangkati sehingga dalam perjalanannya ke pulau Buton dia dituntun secara gaib dan mendapatkan petunjuk-petunjuk spiritual. Oleh karena itu setelah melewati pulau Wangi-Wangi, Gajah Mada singgah dengan prajurit setianya sebentar disalah satu pulau kecil di bagian barat kepulauan Wangi-Wangi yakni pulau Oroho (dalam cerita pewayangan dikenal dengan nama pulau Kunyi) dengan memasang simbol-simbol disana.

    Pada saat rombongan Gajah Mada singgah di pulau ini dia disambut dengan baik oleh penghuni yang sudah lama mendiami pulau kecil ini diperkirakan pertengahan Abad XI yang tak lain adalah merupakan para hulubalang dan bajak laut (bajak laut Tobelo).

    Para bajak laut di pulau ini terdiri dari sebagian besar adalah para prajurit Raja Khan yang berkuasa di Kamaru -Buton pertengahan abad IX dan sebagian asal Mingindanau, Papua, Tobelo, Lanun, Balangingi. Setelah beberapa saat Gajah Mada menyinggahi pulau kecil ini dalam pelariannya ke pulau Buton, akhirnya berdasarkan petunjuk gaib, Gajah Mada memutuskan untuk moksa di pulau ini.

    Sementara ke 40 prajurit setianya diperintahkan untuk menyingkir sementara di pulau Sumanga yang letaknya tak jauh dari pulau Oroho untuk membuat pemukiman sementara dan beristirahat disana sebelum melanjutkan perjalannya menuju pulau Buton dengan maksud agar kerahasiaan Maha Patih Gajah Mada yang amat sakti ini tetap terjaga.

    Sebelum Gajah Mada moksa di pulau Oroho, dia sempat untuk beberapa saat berkunjung ke pulau Wangi-Wangi sebab disana sudah ada kerajaan kecil yang dibangun oleh Mahisa Cempaka yakni tepatnya di Liya. Gajah Mada sering berkunjung ke wilayah ini dan pada suatu hari tanpa sengaja bertemu dengan orang sakti bernama Wakunduru tepatnya di wilayah Mandati Tonga.

    Wakunduru ini adalah seorang sakti yang amat ditakuti di wilayah Wangi-wangi ketika itu, maka terjadilah pergulatan antara Gajah Mada sebagai orang pendatang dengan Wakunduru. Dalam perhelatan tersebut Wakunduru akhirnya tewas ditangan Gajah Mada.

    Setelah itu Gajah Mada mengubur Wakunduru di tempat pergulatan tersebut yang letaknya antara Mandati Tonga dengan Kapal Tosoro (Tordau) dan sebagai kenangan atas keberanian Wakunduru ini konon dikisahkan oleh masyarakat lokal bahwa Gajah Mada menanam kepala Wakunduru beserta alat-alat perang Gajah Mada sebagai penghormatan terakhirnya.

    Adapun ukuran kuburan tua Wakunduru ini adalah 3,00 m x 8,00 m pada Lintang Selatan 5° 19′ 50″ dan Bujur Timur 123° 35′ 21″ dengan ketinggian 17 meter di atas permukaan laut.

    Pada saat prajurit setianya telah meninggalkan pulau Sumanga menuju pulau Buton sebanyak 40 orang, mereka pamitan dengan Gajah Mada dan diperintahkan untuk memasuki pulau Buton di wilayah terdekat dari pulau Wangi-Wangi yakni tepatnya mereka masuk di teluk Pasar Wajo.

    Setelah rombongan 40 orang prajurit setia Gajah Mada ini masuk ke daratan langsung menuju pembukitan bernama Takimpo. Di Takimpo inilah menurut tutur rakyat setempat terdapat kuburan 40 orang prajurit Gajah Mada di desa ini termasuk kuburan Gajah Mada dengan menunjuk gundukan pemakaman di daerah tersebut.

    Namun demikian taktis prajurit setia Gajah Mada ini luar biasa dengan tujuan hanya sekedar untuk menghilangkan jejak-jejak perjalanan mereka mengingat baik Gajah Mada maupun para prajuritnya sedang di cari oleh penguasa Majapahit yakni Raja Hayam Wuruk.

    Tak lama prajurit Gajah Mada bermukim di Takimpo, lalu mereka mencari tempat lebih aman yakni dengan berjalan menelusuri pembukitan ke arah utara dan akhirnya mereka memilih desa Masiri Batauga sebagai tempat peristirahatan terakhir mereke. Selama para prajurit setia Gajah Mada bermukim di Takimpo, hubungan têliksandi antara Gajah Mada dan para prajurit setianya tetap berlansung.

    Oleh karena itu di bentuklah prajurit têliksandi bernama : La Buri, La Paleiku dan La Kangka. Setiap ada keperluan baik Gajah Mada maupun para prajuritnya diutuslah ketiga orang tersebut dan setelah tiba di pulau Wangi-Wangi mereka langsung menuju jalan rahasia bernama Oa Buea.

    Tak jauh dari jalan rahasia Oa Buea tersebut terdapat Gua Mabasa tempat Gajah Mada melakukan tåpå bråtå. Oa Buea ini terletak di tepi pulau Simpora dengan kordinat Lintang Selatan 5° 23′ 18″ dan Bujur Timur 123° 36′ 06″.

    Sebagai tanda alam tak jauh dari pintu rahasia teliksandi Gajah Mada ini terdapat Batu Mada yang kemungkinan sengaja dibuat batu ini sebagai lambang perjalanan jejak-jejak Majapahit di kepulauan Wangi-Wangi.

    Batu Mada ini sayang kondisi saat ini telah bergeser dari keadaan aslinya berdiri dengan jarak sekitar 14 meter arah laut dari keadaan saat ini. Masyarakat yang merusak situs ini mungkin tidak mengetahui betapa besarnya nilainya jejak batuan ini dan untung saja masih diketemukan dijadikan tempat pijakan naik ke permukaan kebun pulau Simpora. Batu Mada terletak pada Lintang Selatan 5° 23′ 23″ dan Bujur Timur 123° 35′ 38″ di tepi pantai pulau Simpora.

    Gajah Mada akhirnya memutuskan untuk melakukan tåpå bråtå di dalam sebuah gua di wilayah Togo Mo’ori yang mana situasi gua tersebut didalamnya datar tembus ke laut dalam dan disanalah Maha Patih Gaja Mada meninggalkan alam mayapada ini dalam keadaan duduk bersemedi dengan salah satu bagian tangannya menggenggam cakram sebagai salah satu senjata andalannya.

    Bukti-bukti ontologisme dari salah seorang tua pertapa yang pernah menemukan Gajah Mada dalam gua ini pernah menkisahkan secara terbatas dalam kalangan keluarga tertentu di pulau Wangi-Wangi, karena ada rasa ketakutan luar biasa ketika melihat sosok orang tak bergerak dalam keadaan duduk bersemedi dalam sebuah bagian gua di pulau kecil tersebut.

    Selain itu bukti-bukti secara artifak sejarah yang belum terpublikasi dan hanya dikonsumsi dari kalangan metafisis penduduk salah satu desa yang terdapat di pulau Wangi-Wangi telah diriwayatkan oleh leluhurnya secara turun temurun adanya segumpal batu muncul kepermukaan laut ketika air laut surut dan batu ini dinamai batu Mada.

    Pengamatan secara spiritual setelah melalui pemantauan khusus secara metafisis, menunjukkan bahwa keberadaan batu Mada ini merupakan simbol yang sengaja dibuat oleh Gajah Mada, dimana dibawa batu tersebut diperkirakan merupakan penyimpangan sebuah selendang warna kuning yang konon dikisahkan sebagai selendang sakti.

    Sedangkan ke 40 orang prajurit setianya berlabuh di Batauga salah satu wilayah pulau Buton terdekat dari kepulauan Wangi-Wangi, dan merekapun setelah tiba di wilayah ini tidak begitu lama berselang kemudian mencari sebuah gua terbuka yang lebar dan luas.

    Dan di dalam gua terbuka inilah ke 40 orang prajurit setia Mahapatih Gajah Mada melakukan semedi berbulan-bulan sampai mereka semua meninggal secara bersamaan dan terkubur secara alamiah di dalam gua ini. Keberadaan Gua ini di Batauga di kenal dengan nama Gua Mada tepatnya terdapat di desa Masiri, kampung Mada di Batauga pulau Buton.

    Berdasarkan kisah konseptual, spiritual dan ontologisme riwayat Maha Patih Gajah Mada, maka postulat dapat disimpulkan bahwa Gajah Mada merupakan anak pertama dari Si Jawangkati dengan ibu bernama Lailan Mangrani yang tak lain adalah anak perempuan dari Raden Wijaya sebagai Raja Majapahit. Si Jawangkati adalah salah seorang mia patamiana wolio yang pada zamannya dia memiliki kesaktian yang luar biasa dan disegani dikalangan penguasa pada saat itu.

    Mia Patamia adalah sebutan untuk empat orang pemimpin kelompok yang merintis berdirinya Kota Bau-Bau dan Kerajaan Buton. Keempat orang tersebut adalah Sipanjonga, Simalui, Sitamanajo, dan Sijawangkati.

    3. Legenda Perguruan Suling Dewata

    Ki Patih Gajah Mada, Mahapatih kerajaan Majapahit yang terkenal dan sangat dikagumi, ternyata adalah murid dari Ki Hanuraga, sesepuh Generasi Ketiga, Paiketan Paguron Suling Dewata.

    Gajahmada, lahir di desa Mada, Mada Karipura, beliau ditemukan sekarat oleh seorang Maha Yogi Ki Hanuraga, di Jawa Ki Hanuraga di kenal dengan nama Begawan Hanuraga sedangkan di Bali beliau dikenal dengan nama dengan sebutan Mahayogi Hanuraga sebagai Sesepuh Generasi III Perguruan Seruling Dewata. Beliau menguasai 72 kitab pusaka yang mempelajari 72 ilmu silat dan diwarisi oleh sesepuh-sesepuh sebelumnya seperti Ki Mudra dan Ki Madra sesepuh Generasi II, serta Ki Budhi Dharma sesepuh generasi I pada abad ke-V Çaka tahun ke 63 – bulan ke 11- hari ke 26. (Çaka warsa 463).

    Mengenai Gajahmada, diceritakan, bahwa Gajahmada kecil bernama I Dipa, dia memanggil Ki Hanuraga dengan sebutan Eyang Wungkuk, dan belajar ilmu kanuragan selama 5 tahun sambil mempelajari ilmu ketatanegaraan, I Dipa (Gajah Mada Kecil) adalah seorang yang sebatang kara, sebagai pengembala kambing.

    Perkenalan Mahayogi Hanuraga dgn I Dipa (Gajahmada), terjadi saat Ki Hanuraga melakukan pengembaraan ketiga kalinya mengelilingi Nusantara (kala itu di sebut Nusa Ning Nusa), sebelum Mahayogi sakti ini kembali ke Pertapaan Candra Parwata di Gunung Batukaru di Bali ketika usia beliau sudah tua, sesuai tradisi Perguruan sebagai seorang Mahayogi harus kembali ke pertapaan. Mahayogi Hanuraga menemukan Gajahmada, di pinggiran hutan dalam keadaan pingsan, antara hidup dan mati, karena kasihan Maha Yogi Ki Hanuraga mengobati dan menyembuhkan luka dalam Gajahmada.

    Dari Ki Hanuragalah I Gajahmada, belajar ilmu silat dan kanuragan, serta mengajari ilmu Tata Negara dan tercatat sebagai siswa Paiketan Paguron Suling Dewata di bawah bimbingan langsung sesepuh Generasi III, Ki Hanuraga. Gajahmada Kecil sering diejek oleh teman temannya, karena dia memiliki cuping yang lebih besar dari kuping orang normal, sehingga dia di panggil I Gajah dari Desa Mada. kelak semua tahu bahwa nama Gajahmada inilah yang akhirnya menjadi terkenal di seluruh Nusantara sebagai Mahapatih yang maha sakti.

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur nuwun Ki Bayu,

    • Matur sembah nuwun dongengipun Ki Bayuaji, kulo tenggo tutugipun.

  5. 6….antri,

    • Tuch kan dari tadi bareng terus ma Ki Gunawan ini…
      mang jodoh kalee ya? Hikss..

      • betul…..betul….betulllll,

        hikss,

  6. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI

    SURYA MAJAPAHIT

    Dongeng sebelumnya:
    Waosan kaping-43. Gajah Mada. (Parwa ka-8) . Siapa Gajah Mada. Bagian ke-2 On 15 Agustus 2011 at 06:33 JdBK 11

    Waosan kaping-44:
    GAJAH MADA [Parwa ka-9]

    SIAPA GAJAH MADA? [Bagian ke-3]

    4. Gajah Mada lahir di Desa Modo Kabupaten Lamongan

    Gajah Mada diduga lahir di Desa Modo yang termasuk Kabupaten Lamongan. Buktinya, di tempat itu ada petilasan yang dipercaya sebagai tempat kelahiran sang Mahapatih Amangkubumi.

    Sejumlah cerita rakyat yang umum dikisahkan di wilayah pedalaman Lamongan mengenai keberadaan patih yang terkenal dengan Sumpah Palapanya tersebut di Lamongan. Cerita rakyat itu menuturkan bahwa Gajah Mada adalah anak kelahiran Desa Mada (sekarang Kecamatan Modo/Lamongan). Di era Kerajaan Majapahit, wilayah Lamongan bernama Pamotan.

    Berbagai cerita rakyat “versi Lamongan” tentang lahirnya Gajah Mada:

    Gajah Mada adalah anak Raja Majapahit secara tidak sah (Lembu Peteng) dengan gadis cantik anak seorang Demung (Kepala Desa) Kali Lanang. Anak itu dinamai Jåkå Mådå atau jejaka dari Desa Mada. Diperkirakan kelahirannya sekitar tahun 1300.

    Selanjutnya oleh kakek Gajah Mada yang bernama Empu Mada, Jåkå Mådå dibawa pindah ke Desa Cancing/Ngimbang. Wilayah yang lebih dekat dengan Biluluk, salah satu Pakuwon di Pamotan, benteng Majapahit di wilayah utara. Sementara benteng utama berada di Pakuwon Tenggulun/Solokuro.

    Di daerah Modo dan sekitarnya, termasuk Pamotan, Ngimbang, Bluluk, Sukorame dan sekitarnya, tersebar folklore atau cerita rakyat. Dongeng tutur tinular mengisahkan bahwa Gajah Mada adalah kelahiran wilayah Modo situ.

    Daerah Modo-Ngimbang-Pamotan-Bluluk dan sekitarnya memang ibukota sejak zaman Kerajaan Kahuripan Airlangga, bahkan anak-cucunya juga mendirikan ibukota di situ, karena strategis, alamnya bergunung-gunung, bagus untuk pertahanan, dan dekat dengan Kali Lamongan yang merupakan cabang utama Sungai Brantas.

    Sudah ada jalan raya Kahuripan-Tuban yang dibatasi Sungai Bengawan Solo di pelabuhan Bubat — kini bernama kota Babat (?) –. Ibukota ini baru digeser oleh cicit Airlangga ke arah Kertosono-Nganjuk, dan baru di zaman Jayabaya digeser lagi ke Mamenang, Kediri. Selanjutnya oleh Ken Arok digeser masuk lagi ke Singosari.

    Baru oleh Raden Wijaya dikembalikan ke arah muara, yaitu ke Tarik, namun anaknya yang akan dijadikan penggantinya, yakni Tribuana Tunggadewi, diratukan di daerah Lamongan-Pamotan-Bluluk lagi, yaitu Kahuripan. Jadi Tribuana Tunggadewi sebelum jadi Ratu Majapahit adalah Bre Kahuripan alias Rani Kahuripan, Lamongan.

    Ketika Gajah Mada menyelamatkan Raja Jayanegara dari amukan pemberontak Ra Kuti, dibawanya Jayanegara ke arah Lamongan, yakni Badander / bisa Badander Bojonegoro, bisa Badander Kabuh, Jombang, dua-duanya rutenya ke arah Lamongan (dalam hal ini adalah Pamotan-Modo-Bluluk dan sekitarnya).
    Kronik sejarah lain menerangkan bahwa Bedander adalah Blitar lama.

    Itu sesuai Teori Masa Anak-anak, di mana kalau anak kecil atau remaja berkelahi di luar desanya, pasti lari menyelamatkan diri ke desanya minta dukungan, tentu karena di desanya ada banyak teman, kerabat maupun guru silatnya. Gajah Mada pasti juga menerapkan taktik itu. Di wilayah Ngimbang-Bluluk sampai sekarang ada situs kuburan Ibunda Gajah Mada, yakni Nyai Andongsari.

    Di dekat situ pula ada situs kuburan kontroversial, karena ada kuburan yang diyakini sebagai kuburan Gajah Mada namun dalam posisi “Islam”, karena kuburannya menghadap ke arah yang persis sebagaimana kuburan orang Islam. Tapi tidak ada asatupun bukti sejarah yang dapat meyakinkan bahwa kuburan tersebut adalah kuburan Gajah Mada.

    Masih legenda desa Mada Lamongan, Gajah Mada yang diduga anak desa Modo, Lamongan dengan ibu asal desa Modo, tetapi ayahnya berasal dari keturunan Timur Tengah/Arab, untuk sementara ada dugaan bahwa beliau ada silsilah keturunan dengan Syekh Subaqir, juga ada dugaan bahwa Syekh Subaqir adalah Muhammad al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abu Thalib, seorang Wali “angkatan pertama” Tanah Jawa.

    Ada bukti dari pertemuan ghoibiyah; beberapa winasis asal desa Karangpakis, Kabuh, bahwa beliau beragama Islam dan berperawakan tegap tinggi besar. Gajah Mada ditemukan oleh Ronggo Lawe, adipati Tuban. Dalam perjalanan dari Tuban ke desa Matokan, dekat Kabuh. Sewaktu itu Raden Wijaya mendirikan kerajaan Majapahit di daerah ini, yaitu dataran tinggi dengan nama dusun Njeladri, desa Karangpakis, Kabuh, Jombang.

    Di desa Modo, perbatasan Jombang Lamongan ini, Ronggo Lawe melihat seorang anak usia belasan tahun yang berperawakan tegap gagah sedang berkelahi, kemudian Ronggo Lawe mengasuh anak ini, namanya Trimo, di Tuban. Setelah usia yang cukup Trimo dimasukkan ke dalam prajurit kerajaan Majapahit oleh Ronggo Lawe dengan pangkat bêkêl.

    Sewaktu pemberontakan Ra Kuti dan Ra Tanca di era Raja Jayanegara, bêkêl. Gajah Mada dan lima belas orang bhayangkara yang menyelamatkan raja Jayanagara ke Bedander. Dari kejaran telik sandi Ra Kuti yang disebar di seluruh prajurit Majapahit dan meminta nasehat ke kakeknya yaitu Mbah Wonokerto.

    Kakek atau Buyut Gajah Mada di desa Bedander ini yaitu mbah Wonokerto pernah meramalkan bahwa kejadian ini akan membawa Trimo/Gajah Mada akan menjadi orang besar di Majapahit, waktu itu Gajah Mada menjadi pemimpin pasukan Bhayangkara.

    4. Gajah Mada anak seorang tentara Kubilai Khan

    Ada pendapat bahwa Gajah Mada adalah keturunan Mongol. Ia terlahir selaku anak dari salah satu prajurit Mongol yang diam di Jawa dan menikah dengan perempuan Jawa. Argumentasi ini diambil oleh sebab di periode kelahiran Gajah Mada, wilayah Majapahit pernah diduduki atau paling tidak diserang oleh Dinasti Yuan yang keturuan Mongol tersebut. Namun, pendapat ini seperti halnya legenda Gajah Mada lainnya tidak memiliki bukti-bukti konkrit berupa inskripsi, prasasti, epik dan sejenisnya.

    Konon Gajah Mada kecil ikut dalam pasukan tentara Mongol yang dikirim Kublai Khan menyerbu Jawa guna membalas penghinaan yang dilakukan oleh Prabu Kertanegara mencoreng-coreng wajah utusan Tiongkok yang menuntut agar Singasari tunduk di bawah kekuasaan Tiongkok. Gajah Mada diajarkan oleh ayahnya orang Mongol itu mengenai prinsip senjata api sederhana.

    5. Pandaan, Tempat Lahir Gajah Mada

    Interpretasi lain: Gajah Mada lahir di Pandaan. Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon. Cucu Macan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan. Bila benar Pandaan yang sekarang, dulu berpangkal kepada Desa Pandakan si Macan Kuping, maka Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, daerah awal mengalirnya Sungai Brantas.

    Walau secara geografis tidak secara tepat menyebut Pandaan sebagai dataran tinggi di Kabupaten Pasuruan di kaki gunung Welirang-Arjuno, pendapat tersebut sangat menarik untuk didiskusikan. Apalagi interpretasi ini sangat dekat dengan perkiraan Yamin bahwa Gajah Mada lahir di kaki gunung Kawi dan Arjuno.

    Berita Pararaton menyebutkan bahwa runtuhnya kraton Singasari adalah akibat serangan Jayakatwang dari Gelang-gelang/Kadiri. Awalnya Raden Wijaya, menantu Kertanegara disertai dengan pengawal dan teman-teman setianya seperti Lembusora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi mencoba bertahan. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengungsi ke utara. Gajah Pagon yang telah bertempur hebat melawan tentara Kadiri terkena tombak di pahanya.

    Pararaton secara lugas dan panjang lebar menulis perjalanan Raden Wijaya yang mengungsi ke arah utara akhirnya tiba di hutan kawasan Telaga Pager. Diputuskan kemudian Raden Wijaya harus menuju Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja. Akhirnya, dengan susah payah rombongan Raden Wijaya tiba di desa Pandakan dan diterima oleh kepala desa bernama Macan Kuping. Raden Wijaya disuguhi kelapa muda yang setelah dibuka ternyata isinya tak lain nasi putih.

    Lebih jauh Pararaton menyatakan:

    Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: “Penghulu Desa Pandakan saya titip seorang teman, Gajah Pagon tak dapat berjalan, agar ia tinggal disini”.
    Berkatalah orang Pandakan: “Hal itu akan membuat buruk tuanku, jika Gajah Pagon ditemukan di sini, sebaiknya jangan ada pengikut tuanku yang diam di Pandakan.

    Seyogyanya dia berdiam di tengah kebun, di tempat orang menyabit rumput ilalang, ditengah-tengahnya dibuat sebuah ruangan terbuka dan dibuatkan gubuk, sepi tak ada yang tahu, orang-orang Pandakan membawakan makanannya setiap hari

    Dari berita ini, dapat ditafsirkan keadaan berangsur-angsur aman dan Gajah Pagon sembuh dari lukanya. Sangat mungkin ia lalu menikah dengan anak perempuan Macan Kuping. Setelah penghulu Desa Pandakan itu meninggal, Gajah Pagon menggantikan kedudukannya menjadi kepala Desa Pandakan.

    Kemudian keadaan semakin membaik. Majapahit berdiri dan Raden Wijaya menjadi raja. Saat itulah teman-teman seperjuangan Wijaya mendapat kedudukan masing-masing walaupun berbagai sumber menyatakan ada yang tidak puas. Gajah Pagon tetap menjadi penguasa daerah Pandakan.

    Tokoh yang menonjol di awal Majapahit, ketika diperintah Raden Wijaya Kertarajasa Jayawardhana yang menggunakan nama “Gajah” adalah Gajah Pagon. Sedangkan tokoh selanjutnya yang bernama “Gajah“ yang juga terkenal adalah Gajah Mada, di zaman pemerintahan Jayanegara. Nama “Gajah“ sesungguhnya berarti pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan berperilaku seperti hewan gajah yang akan menghalau semua penghalang.
    Jadi dapat diduga bahwa Gajah Mada sejatinya adalah anak dari Gajah Pagon, salah seorang perwira dan pahlawan Majapahit yang terluka di Pandakan.

    Gajah Mada lahir dari hasil perkawinan Gajah Pagon dan putri Macan Kuping. Kedua “Gajah” ini punya nama dan sifat yang hampir identik. Maka, mudahlah menerima alasan bila Prabu Jayanegara memilih anak muda bernama Gajah Mada untuk menjadi Bêkêl Bhayangkâri, karena Gajah Mada memang memiliki track record yang istimewa.

    Ayah Gajah Mada adalah perwira pilih tanding, setia kepada Raden Wijaya, tidak terlibat dalam berbagai kerusuhan yang muncul saat awal Majapahit berdiri karena ketidak puasan pembagian jabatan atau daerah. Gajah Mada sendiri adalah prajurit unggul baik secara lahir maupun batin karena gemblengan yang diperolehnya dari ayah dan tokoh-tokoh lainnya kala itu.

    Bila Gajah Mada unggul dalam olah lahir dan olah batin hal tersebut dapat dengan mudah dipahami. Pandakan adalah termasuk lereng timur Gunung Penanggungan yang dulu disebut Pawitra. Gunung Penanggungan saat itu merupakan kiblat bagi masyarakat Majapahit.

    Di gunung suci inilah banyak terdapat mandala-mandala dan keresian tempat menggembleng berbagai macam ilmu. Baik ilmu ajaran keagamaan, yoga, mitologi, serta ilmu duniawi seperti ilmu pemerintahan, hukum, politik kerajaan, strategi perang dan mungkin juga dasar geografi Nusantara. Tak heran, bila akhirnya, Gajah Mada menjadi tokoh Majapahit yang mumpuni dan memiliki visi jauh ke depan.

    Masih ada pertanyaan. Dimanakah letak Telaga Pager? Benarkah Pandakan jaman dahulu sama dengan Pandaan sekarang? Hasil penelusuran terhadap berita Nāgarakṛtāgama, Pager Telaga terdiri dari dua nama, Pager dan Telaga. Desa Pager 2 km di utara Damar (termasuk Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari).

    Sedangkan Telaga merupakan nama lama dusun Kucur (Sumberejo) yang letaknya 3 Km di barat daya Pager. Ini jelas tidak bertentangan dengan berita Pararaton, yang menyatakan dari Telaga Pager, Raden Wijaya menuju Pandakan sebelum ke Rembang lalu menyeberang ke Madura. irikang dina mahawan i kuwarahari celong mwang i dada margga rantang i pager talaga pahanangan. (siangnya menuju Kuwarahan, Celong dan Dadamar, Garuntang, Pagar Telaga, Pahanjangan)

    Nama Pandakan ada dalam Pujasastra Nāgarakṛtāgama: rahina muwah ri tambak i rabut wayuha balanak linakwan alaris anuju ri pandhakan ri bhanaragi amgil…. (Pada hari berikutnya ia melalui Tambak, Rabut Wayuha dan Balanak menuju Pandhakan dan Bhanaragi…).

    Tambak adalah dusun di Desa Lemahbang, 14 km dari Purwosari, Rabut Wayuha tak lain daripada Suwayuwo, 2 km di utara Lemahbang. Balanak dan Bhanaragi tak dikenal lagi. Dari urutan nama tempat itu jelas, Pandhakan tentu saja adalah Pandaan sekarang!

    Pandhakan jaman dulu adalah identik dengan Pandaan sekarang juga didukung uraian Piagam Kudadu bertahun 1294, dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawardana berdasarkan pengalamannya saat mengungsi ke Madura. Prasasti Kudadu yang berasal dari Gunung Buthak, Trawas Mojokerto menceritakan terima kasih raja Kertarajasa kepada ketua dusun Kudadu yang pernah menerimanya dengan ramah waktu singgah dalam perjalanan ke Madura.

    Saat mengungsi Raden Wijaya dalam masalah besar. Namun ketua dusun Kudadu menerimanya dengan ramah dan memberinya makan dan minum. Kemudian mengantarnya ke Rembang untuk melanjutkan menyeberang ke Madura. Demikianlah dapat disimpulkan, nama Kudadu sebenarnya identik dengan Pandak/Pandhakan atau Pandaan sekarang.

    Gajah Mada berasal dari Bali

    Prasasti Gajah Mada, juga disebut Prasasti Aria Bebed, berupa lempengan tembaga terdapat di halaman candi Aria Bebed di Desa Bubunan, Kecamatan Sririt, Kabupaten Buleleng, Singaraja.

    Ditulis dalam bulan Jyestha tahun Çaka 1881 (= Mei-Juni 1959). Prasasti ini memuat cerita tentang Gajah Mada yang diutus oleh Ratu Tribhuana dari Majapahit. Di Bali Gajah Mada kawin dengan putri pendeta Ki Dukuh Kedangan yang bernama Ni Luh Ayu Sekarini.

    Ketika istrinya mengandung, ia kembali ke Majapahit. Setelah anak Gajah Mada itu menjadi dewasa, ia mencari ayahnya, Hasti Mada, ke Majapahit. Sesuai pesan ayahnya, anak itu mengenakan kain gringsing ringgit.

    Sesampainya di Majapahit, anak itu duduk di atas batu di depan rumah Gajah Mada. Karena disoraki oleh orang-orang Majapahit, anak itu menangis. Patih Gajah Mada keluar menemui anak itu dan menanyakan siapa dan darimana asalnya. Anak itu berkata jujur berasal dari Bali, ibunya bernama Ni Luh Ayu Sekarini dan bermaksud mencari ayahnya Gajah Mada.

    Mendengar itu Gajah Mada terharu dan mengakui anak itu sebagai puteranya. Anak itu kemudian dibawa ke dalam rumah dipertemukan dengan istrinya Ken Bebed. Setelah dijelaskan, Ken Bebed yang belum mendapatkan anak itu sangat terharu.

    Anak itu akhirnya tinggal di Majapahit. Ken Bebed sangat menyayangi anak itu layaknya anak sendiri. Anak itu kemudian diberi nama Aria Bebed. Setelah beberapa lama tinggal di Majapahit, Aria Bebed kembali ke Bali dan beranak-pinak di pulau itu.

    Prasasti ini “baru” ditulis pada abad ke-20 (1959M), dan bagaimanapun kebenaran sejarahnya masih perlu penelitian yang komprehensif.

    ***

    Ada pernyataan menyangkut hal yang supranatural pada tokoh Gajah Mada, seperti pada legenda Gajah Mada “versi Buton” dan dongeng Gajah Mada “versi Lamongan”, yang menyatakan bahwa adanya pengamatan secara spiritual setelah melalui pemantauan khusus secara metafisis, dan ditemukannya suatu bukti dari pertemuan ghoibiyah dari beberapa tokoh paranormal.

    Telah disebutkan di atas bahwa selain tembang atau kidung yang cenderung mengkedepankan dongeng khayal, maka pembacaan atas tokoh Gajah Mada kerap dihubungkan dengan dimensi supranatural. Ini sulit dihindari, oleh sebab masyarakat Indonesia, khususnya Jawa, memang menilai tinggi dimensi tersebut.

    Tetapi upaya penyingkapan jatidiri Gajah Mada hendaklah menghindari pencampur-adukan tersebut. Namun, pencampuran dengan dimensi religius tersebut paling tidak tetap dihargai sebagai upaya sebagian bangsa Indonesia untuk membanggakan tokohnya,

    ***

    Pembacaan data di atas, mengatakan bahwa:

    a. Gajah Mada lahir di Dataran Malang di gugusan pegunungan Kawi dan Arjuna;
    b. Gajah Mada lahir di Dataran tinggi sebuah desa di kaki Gunung Semeru yang bernama desa Maddha;
    c. Gajah Mada lahir di Desa Modo Kabupaten Lamongan;
    d. Gajah Mada lahir di Swarnadwioa, berasal dari Kerajaan Darmasraya.
    e. Gajah Mada lahir dan moksa di Buton;
    f. Gajah Mada adalah keturunan Mongol, anak salah seorang tentara Kubilai Khan.
    g. Gajah Mada lahir di Bali;
    h. Gajah Mada lahir di Pandaan;
    i. Gajah Mada lahir di desa Mada atau di dusun Mada Karipura (Madakaripura?)
    j. Selain itu ada beberapa teori yang menyebutkan bahwa:

    i. Gajah Mada adalah orang India, karena wajahnya bukan seperti wajah “wong Jåwå”

    ii. Teori yang lebih spekulatif dan asal-asalan malah mengatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Sumatra, tetapi alasannya karena adanya binatang Gajah dan istilah “Mada” hanya ada di Sumatra. Tentunya pendapat ini sangat menggelikan, karena meskipun Gajah asli Sumatra, tapi kan Raja-raja Jawa dapat saja mendatangkan/ membelinya, jadi Gajah bukan hal yang aneh di Jawa. Istilah “Mada” juga ada dalam kosakata Jawa.

    iii. Ada juga yang menyatakan, bahwa Gajah Mada lahir di Dompo, Sumbawa, karena di sana ada kuburan Gajah Mada. Tentunya soal kuburan bisa saja dibuat dan diperakukan. Atau mungkin juga Gajah Mada yang lain, yang bukan di zaman Majapahit, atau tokoh lokal yang kharisma kepemimpinannya mirip tindak tanduk Gajah Mada, meski ruang-lingkupnya tidak setenar Gajah Mada Majapahit.

    iv. Gajah Mada adalah orang Sunda, punggawa di Pajajaran lalu jatuh cinta dengan putri Pajajaran tetapi ditolak rajanya. Kecewa lalu ia bekerja di Majapahit.

    v. Yang agak mengherankan adalah daerah Jawa Tengah yang tidak pernah menyatakan bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah dan juga tidak pernah diceritakan dalam naskah, legenda manapun, bahwa Gajah Mada berasal dari daerah Jawa Tengah.

    vi. Gajah Mada adalah orang Banten yang pernah menjalin cinta dengan Dyah Pitaloka, dan keduanya sepakat untuk hidup bersama.

    vii. Malahan ada juga teori yang menyatakan bahwa Gajah Mada orang Dayak di Kalimantan, karena di wilayah Dayak Krio ada tokoh bernama Jaga Mada yang diutus Demung Adat Kerajaan Kutai untuk menjelajah Nusantara. Namun teori ini dari segi logika hubungan dengan Majapahit sangat lemah. Mungkin juga dia adalah tokoh lokal yang dihormati oleh masyarakatnya setara dengan penghormatan terhadap Gajah Mada Majapahit.

    viii. Dan kemudian, ada juga teori yang menyatakan, bahwa Gajah Mada itu mungkin benar lahir di wilayah Pamotan-Lamongan, namun bukan anak Raden Wijaya sebagaimana disebutkan oleh folklore di Modo, akan tetapi lahir dari ibu yang dinikahi Pasukan Mongol yang melarikan diri dari induk pasukannya.

    Teori ini agak lemah, karena Pasukan Mongol yang ternyata bukan hanya dipimpin oleh Jendral-jendral Mongol, namun juga disertai oleh Kaisar Mongol sendiri, dibantai habis oleh Pasukan Raden Wijaya dan sisanya melarikan diri ke perahu di pelabuhan Ujung Galuh dan Tuban lalu segera pergi berlayar kembali ke Cina, sudah begitu di Cina mereka dibantai lagi oleh anak petani Cina yang sudah bosan dijajah Mongol lalu memberontak atas bantuan pasukan Majapahit dan kemudian merajakan diri, memerdekakan Cina dari penjajahan Mongol ratusan tahun. Pendapat ini, sangat sesuai dengan yang dikandung dalam kitab kuno “Tembang Harsawijaya” dan Prasasti Kertarajasa.

    Jadi, kalaupun ada sepuluh – tiga puluh orang pasukan Mongol yang mampu menyelamatkan diri lalu lari ke hutan, tentu butuh waktu berpuluh-berbelas tahun baru berani menampakkan diri keluar dari hutan, lalu berani menikahi wanita lokal. Hal itu persis seperti yang dilakukan oleh pelarian pasukan Jepang di zaman perang kemerdekaan Indonesia, dan baru berani muncul dari hutan ketika Indonesia sudah lama merdeka dan melupakan suasana peperangan.

    Padahal Gajah Mada lahir hanya setahun dua tahun dari peristiwa pembantaian Pasukan Mongol oleh Pasukan Majapahit. Maka, pasti ibunya tidak dinikahi oleh pasukan Mongol, melainkan oleh pemimpin pasukan Majapahit yang merayakan kemenangan, atau kalau merujuk ke folklore Modo, dinikahi — semacam nikah siri-lah– istilahnya oleh Raden Wijaya sendiri,dalam rangka pesta perayaan kemenangan, karena pertempuran hebat menumpas Pasukan Mongol memang terjadi di wilayah Lamongan.

    Namun di atas semua teori dan tafsir sejarah, manusia hanya bisa berteori berdasar alasan-alasan dan data-data yang masuk akal, namun tak berhak mengklaim yang paling benar. Masih diperlukan penelitian secara aksiologis untuk menguak tabir kisah Maha Patih Gaja Mada yang penuh dengan misterius selama ini oleh para ahli antropolog budaya, ahli ethnologis, ahli arkeologis dan ahli sejarah guna mendapatkan suatu naskah sejarah Indonesia yang benar.

    Tetapi hal ini setidaknya menunjukkan betapa sebenarnya Gajah Mada adalah tokoh yang sangat dikenal secara luas oleh masyarakat Nusantara, diidolakan bahkan sangat dibanggakan oleh setiap daerah “tempat lahir dan atau wafatnya” Sang Mahapatih itu. Dia seorang pemimpin juga sebagai seorang abdi negara yang sangat dirindukan kehadirannya.

    Seperti telah saya paparkan di awal tulisan tentang Gajah Mada ini, bahwa daerah-daerah yang “mengaku” dan menempatkan Sang Gajah Mada sebagai putra- daerahnya, adalah merupakan upaya daerah tersebut untuk membanggakan tokoh putra-daerahnya, terlebih Indonesia yang terus mencari figur untuk diteladani di masa sekarang ini.

    Boleh jadi setiap jengkal tanah-air yang sekarang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan lebih luas lagi Nusantara Jaya akan meyatakan bahwa daerahnya adalah tempat lahir dan juga tempat pendharmaan Sang Bêkêl Bhayangkâri, Mahamantri Mukya Rakryan Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Mpu Mada — dialah Sang Gajah Mada

    Informasi mengenai asal-usul dan moktanya Sang Gajah Mada masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Sebagian sumber yang saya ambil baru sebatas pada tutur tinular, atau tembang kidung, rontal yang belum dapat dikatakan sebagai bukti sejarah yang benar, sebelum dapat ditunjukkan adanya bukti otentik bukti-bukti sejarah yang konkrit berupa tamla prasasti, epik, rontal ataupun yang sejenis, yang mendukung kebenarannya yang dapat mendukung klaim tersebut. Jadi menurut saya semua yang ada mengenai asal-usul dan moktanya Sang Gajah Mada masih merupakan analisis semata bukan data yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sehingga masih perlu dilakuan penelitian yang saksama.

    Sejarah termasuk sejarah Sang Gajah Mada ini masih dapat diperbarui atau direvisi, selama kajian terhadap penemuan-penemuan arkelogis, epik, dan sejenisnya yang menunjang masih terjadi. Sebagaimana telah berulang kali saya sampaikan bahwa kebenaran sejarah bersifat hipotetik.

    Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta

    ånå tutugé

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • Matur sembah nuwun Ki Bayuaji, dongengipun sampun kulo simpen.

  7. Assalamu’alaikum, selamat pagi..

    • Wa’alaikumsalam. Pagi juga NON….

  8. Matur nuwun Ki Bayu, tambahan informasinipun.
    Memang manusia ini selalu begitu ya, karena Gajah Mada orang terkenal, maka hampir semua pihak mengaku sebagai kerabatnya dan berusaha mengaku bahwa Gajah Mada berasal dari daerahnya.
    Mudah-mudahan bisa diketemukan buti sejarah yang lebih meyakinkan tentang asal usul Pahlawan Bangsa Gajah Mada.

  9. 15

  10. Sugeng dalu sedherek sedoyo ……….

  11. Sugeng dalu Ki Arga, nembe wangsul saking mesjid, acara tasyakuran HUT Kemerdekaan.

    • Sugeng enjing Ki Honggo. Kulo nembe badhe sahur meniko. Monggo-monggo dahar Ki.

  12. MERDEKA BUNG!!!

    “Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI, Kita Sukseskan Kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN untuk Kokohkan Solidaritas ASEAN.”

    • MERDEKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

  13. Huebat bener kalau Indomesia punya sejuta pemuda kayak P. Satpam, niscaya korupsi sudah bisa dikubur di bumi Indonesia.

    Salam Merdeka.

  14. MERDEKA!!!

    Ternyata apa yang diperjoangkan pada Abad ke-13 di Persada Nusantara ini, oleh Şrī Mahārājādhirāja Kŗtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa dari Kerajaan Singasari yang dalam ke-bhineka-an untuk mempersatukan Nusantara yang dikenal denganCakrawala Mandala Nusantara, yang kemudian dijadikan inspirasi dan diperjoangkan kembali oleh Sang Mahamantri Mukya Rakyran Mahapatih Amangkubhumi Majapahit Gajah Mada dalam Sumpah Tan Ayun Amuktia Palapa untuk memperkuat persatuan Nusantara di bawah kedaulatan Kerajaan Majapahit, masih relevan hingga kini.

    Tujuh ratus tahun kemudian. Hari ini. 17 Agustus 2011. Di usia yang ke-66 Tahun, Kemerdekaan Republik Indonesia didengungkan kembali dengan ungkapan Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI.

    Kesadaran hidup kita dalam kebhinekaan, nyaris tercerai-berai, konflik horisontal antar suku, agama, ras, etnis, golongan merebak di mana-mana.

    Rasa-rasanya terbayang bagaimana Sang Mahaprabu Kŗtanagara dengan kekuatan pasukannya membendung intervensi pasukan asing di bumi Nusantara, dan Sang Mahapatih Gajah Mada yang bersumpah ingsun tan ayun amuktia palapa, dengan armada lautnya menjelajah Nusantara.

    Dia Sang Gajah Mada demi kepentingan negaranya dalam upaya mempersatukan Nusantara di bawah naungan Negara Kesatuan Kerajaan Majapahit, rela tidak menikmati kesenangan hidup; rela tidak menikmati kenikmatan duniawi, dan lebih mengutamakan kepentingan negaranya di atas kepentingan pribadinya.

    Dengan tidak bermaksud mengkultus-individukan Sang Mahaprabu Kŗtanagara dan Sang Mahamantri Mukya Gajah Mada, siapakah pemimpin-pemimpin masa kini yang setara dengan keduanya.

    MERDEKA!!!

    cantrik bayuaji

  15. merdeka, merdeka dari prasangka buruk
    merdeka, merdeka dari pesimisme
    Merdeka Indonesia

  16. Sekali Merdeka diharapkan merdeka selamanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: