JDBK-14

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 24 Agustus 2011 at 03:12  Comments (20)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-14/trackback/

RSS feed for comments on this post.

20 KomentarTinggalkan komentar

  1. Sugêng énjang

    • weh…. Ki Bayu yang hadir pertama kali

      Sugêng énjing Ki

      • weh-weh…. pak Satpam yang hadir kali kedua

        Sugêng énjing pak

        • sugeng siang

        • sugeng siang sanak kadang sedoyo

        • Weh weh weh….Ki Gunawan yang hadir kali ketiga…
          (Kali opo yo?)
          Sugeng enjing mas..

          • kali-urang jenk,

            selamat SORE….antri nomer 7

  2. 8…..nomer genap

  3. O iya….
    saya lupa
    meskipun telat sedikit, kami bebahu Padepokan Pelangi Singosari mengucapkan

    SELAMAT ULANG TAHUN

    24 Agustus 2011

    kepada Ki Truno Prenjak

    semoga umur yang yang telah diberikan oleh Allah SWT ini barokah
    setahun kedepan, semoga tetap sehat, murah rejeki dan semakin sukses.
    terima kasih atas sumbangannya kepada blog ini.

    pak satpam

    • cantrik dherek mengucapkan :

      SELAMAT ULANG TAHUN Ki Truno Prenjak
      24 Agustus 2011

      semoga tetap sehat, murah rejeki dan semakin sukses.
      terima kasih atas sumbangan rontal2 ki TP

      cantrik

  4. Nuwun
    Sugêng énjang

    DONGENG ARKEOLOGI & ANTROPOLOGI SERI ‘NSSI’ KERIS LEGENDARIS

    Wedaran sebelumnya, adalah wedaran kaping-24: Keris, Dhuwung atau Tosan Aji (Bagian ke-19) Ratu Kalinyamat (Parwa-2). On 6 Agustus 2011 at 04:40 JdBK 08.

    Wêdaran kaping-26:
    RÅRÅ AYU MAS SÊMANGKIN dan RÅRÅ AYU MAS PRIHATIN
    [Lanjutan dongeng
    NYI RATU KALINYAMAT

    Dongeng Rårå Ayu Mas Sêmangkin dan Mas Prihatin berikut ini didasarkan pada dongeng rakyat dari Mayong Jepara.

    Berikut dongengnya. Sumånggå:

    Rårå Ayu Mas Sêmangkin adalah puteri dari Sultan Prawåtå yang ke-4. Sewaktu kecil di asuh oleh bibinya Ratu Kalinyamat. Setelah dewasa dijadikan sebagai garwå sêlir Panêmbahan Sénopati Sutåwijåyå dari Kesultanan Mataram.

    Rårå Ayu Mas Sêmangkin kembali ke Jepara untuk menumpas pagêbluk yang disebabkan oleh kerusuhan dan banyaknya perampokan di wilayah desa Mayong. Beliau menjadi panglima perang mendampingi Lurah Tamtåmå Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanujayan.

    Atas keahlian dan ketangkasan dari Rårå Ayu Mas Sêmangkin kerusuhan tersebut dapat dipadamkan. Setelah itu Rårå Ayu Sêmangkin tidak mau kembali ke Mataram dan mendirikan pesanggrahan. Bersama Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanujayan dan Ki Datuk Singåråjå.

    Kanjeng Ibu Mas Sêmangkin adalah sosok seorang tokoh yang sangat berjasa, khususnya bagi warga masyarakat Desa Mayong Lor mengingat beliau adalah cikal bakal, dan pahlawan putri. Perilaku Ibu Mas Sêmangkin patut disuri tauladani bagi seluruh pemimpin pada seluruh lapisan yang ada diwilayah Kabupaten Jepara.

    Ketauladanan yang dapat dipetik adalah sifat kesederhanaan, kesehajaan, dan kedekatannya kepada kawulå alit. Hal ini ditunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari walaupun seorang isteri raja Mataram namun beliau rela mati untuk meninggalkan kemewahan duniawi menuju pengabdian kepada masyarakat kecil.

    Dengan mengungkap dan menyajikan cerita dan atau sejarah singkat seorang tokoh teladan, kiranya akan dapat menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi pada diri warga masyarakat untuk dapat memahami dan menyadari arti suatu perjuangan hidup demi kemaslahatan orang banyak.

    Sehingga keberadaan tokoh ini akan tetap dikenang oleh masyarakat dan muncul sikap untuk turut serta hanguri-uri berbagai peninggalan dan makamnya sebagai salah satu bentuk perwujutan dalam upaya melestarikan adat dan tradisi masyarakat melalui perlindungan, pemeliharaan dan restorasi termasuk di dalamnya acara “buka luwur” yang diadakan disetiap tanggal 10 Muharram.

    Kelahiran Rårå Ayu Mas Sêmangkin

    Rårå Ayu Mas Sêmangkin, yang kemudian lebih dikenal Ibu Mas atau bergelar Ratu Mas Kagaluhan adalah puteri kedua Pangeran Haryå Bagus Mukmin (Sunan Prawåtå) cucu Sunan Trênggånå. Sunan Prawåtå adalah cucu Raden Patah putra Sultan Trênggånå (Sultan ketiga Dêmak Bintårå) dengan Rr. Ayu Pembayun putri Sunan Kalijågå yang dikaruniai sepuluh anak.

    Sedangkan Pangéran Haryå Bagus Mukmin memiliki keturunan tiga orang anak yakni Pangéran Haryå Panggiri (Pangéran Madépandan) yang bergelar Sultan Ngawantipurå, Rr. Ayu Mas Sêmangkin dan Rr. Ayu Mas Prihatin.

    Pada saat kelahiran Rr. Ayu Mas Sêmangkin di Kesultanan Dêmak Bintårå sedang terjadi kemelut politik disebabkan wafatnya Sultan Trênggånå (1546 M). Suksesi pergantian kepemimpinan pasca wafatnya Sultan Trênggånå tidak dapat berjalan mulus dikarenakan terjadi konflik di Kesultanan Dêmak Bintårå. Faktor penyebab konflik dari dalam negara sendiri dan perbedaan pandangan dari para wali sembilan tentang calon pengganti Sultan Trênggånå.

    Konflik intern Kesultanan Dêmak terjadi karena adanya rasa dendam berebut kekuasaan dari keturunan Pangéran Sêkar Sédå Ing Lèpèn yang dibunuh oleh Sunan Prawåtå (Putera Sulung Sultan Trênggånå) ternyata meninggalkan duri dalam hati keturunan Pangéran Sêkar Sédå Ing Lèpèn, puteranya yang bernama Aryå Pênangsang merasa lebih berhak menduduki tahta kesultanan, sebab dia beranggapan bahwa yang menduduki takhta Kesultanan Dêmak Bintårå tersebut adalah ayahnya, bukan Sultan Trênggånå karena Pangêran Sêkar Sédå Ing Lèpèn adalah kakak dari Sultan Trênggånå dan adik dari Patih Unus atau Pangêran Sabrang Lor (Sultan Syah Alam Akbar II) yang memerintah tahun 1518-1521 M. Atas dasar inilah Aryå Pênangsang berusaha untuk merebut dan menduduki tahta Kesultanan Dêmak Bintårå. Sedangkan faktor ekstern yaitu munculnya aksi dan ambisi saling dukung-mendukung dari para wali yang memiliki calon-calon pengganti dari Sultan Trênggånå turut mewarnai situasi politik di dalam Kesultanan.

    Dalam Babad Dêmak disebutkan bahwa Sunan Giri tetap mencalonkan Sunan Prawåtå untuk menjadi Sultan Dêmak tetapi Sunan Prawåtå sendri telah tercemar pribadinya karena sebagai tertuduh yang membunuh Pangéran Sêkar Sédå Ing Lèpèn. Sedangkan suara Sunan Kudus lain lagi, beliau mencalonkan Aryå Pênangsang (Adipati Jipang), karena Aryå Pênangsang adalah pewaris dan keturunan langsung Sultan Dêmak dari garis laki-laki yang tertua, kecuali itu Aryå Pênangsang adalah orang yang mempunyai sikap kepribadian yang teguh dan pemberani.

    Adapun Sunan Kalijågå, beliau mencalonkan Hadiwijåyå (Adipati Pajang) atau sering disebut juga dengan nama Djåkå Tingkir atau Mas Karèbèt. Djåkå Tingkir adalah menantu Sultan Trênggånå. Sikap pencalonan Sunan Kalijågå terhadap Pangeran Hadiwijåyå disertai dengan alasan bahwa jika yang tampil Pangeran Hadiwijåyå, maka pusat kesultanan Dêmak Bintårå akan dapat dipindahkan ke Pajang, sebab apabila masih di Dêmak, agama Islam kurang berkembang, sebaliknya akan lebih berkembang pesat apabila pusat kesultanan itu berada di Pedalaman (di Pajang).

    Sikap dan pendapat dari Sunan Kalijågå ini tampaknya kurang disetujui oleh Sunan Kudus, karena apabila pusat Kesultanan dipindahkan di pedalaman (Pajang) maka sangat dikhawatirkan ajaran Islam, terutama menyangkut bidang Tasawuf, besar kemungkinannya bercampur dengan ajaran “mistik” atau klenik sedangkan Sunan Kudus tengah mengajarkan ajarannya “Wulang Reh” / penyerahan. Dari pendapat ini menunjukkan bahwa Sunan Kudus tidak setuju dengan sikap dan pendapat Sunan Kalijågå yang mencalonkan Hadiwijåyå sebagai pengganti dari Sultan Trênggånå, menunjukkan pula bahwa para wali masih memiliki ambisi keduniawian, yaitu kekuasaan, alasan apapun itu.

    Situasi politik semakin meruncing dan tambah memanas, sehingga Aryå Pênangsang mengambil sikap, karena merasa dialah yang lebih berhak menduduki tahta Kesultanan Dêmak Bintårå, maka dengan gerak cepat terlebih dahulu menyingkirkan Sunan Prawåtå dengan pertimbangan, Sunan Prawåtå lah yang membunuh ayahnya, kedua dialah yang menjadi saingan berat dalam perebutan kekuasaan itu, akhirnya Sunan Prawåtå mati terbunuh beserta isterinya oleh seorang prajurit khusus Kadipaten Jipang Surèng Pati yang bernama Rungkut, pada tahun 1546. Setelah Sunan Prawåtå wafat sasaran berikutnya Djåkå Tingkir menantu Sulltan Trênggånå, karena dianggap berambisi untuk menduduki tahta dari Kesultanan Dêmak.

    Situasi politikyang kian meruncing dan memanas menjadi suasana semakin tidak menentu. Prahara perang saudara ini disebabkan oleh api dendam Aryå Pênangsang yang berhasrat untuk membalas dendam atas kematian ayahandanya dan ambisi menduduki tahta Kesultanan Dêmak Bintårå yang membuat keselamatan jiwa dari keturunan Sunan Prawåtå termasuk jiwa Rr. Ayu Sêmangkin.

    Pada waktu Rr. Ayu Sêmangkin dilahirkan negara dalam suasana penuh ketegangan sehingga ia diberi gelar ‘Ratu Mas Kagaluhan’, yang artinya “galau” atau “was-was”. Sunan Prawåtå beserta isterinya merasa galau dan cemas karena jiwanya diancam oleh Aryå Pênangsang.

    Sejak dilahirkan Rr. Ayu Sêmangkin telah menjadi anak yatim piatu sehingga hidupnya penuh penderitaan. Selain itu jiwa keluarganya terancam oleh para Surèngpati, yaitu para pembunuh bayaran dari Aryå Pênangsang (Aryå Jipang). Keadaan inilah yang menghantui ketentraman keluarga mendiang Sunan Prawåtå.

    Rr. Ayu Mas Sêmangkin putri angkat Nyi Ratu Kalinyamat

    Setelah Sunan Prawåtå dan isterinya wafat dibunuh, kehidupan keluarganya tidak tenteram karena selalu mendapatkan ancamandari para pengikut Aryå Pênangsang sehingga akan mengganggu keselamatan jiwanya. Selain itu suasana politik yang memanas menyebabkan Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadiri berusaha untuk menyelamatkan keluarga Sunan Prawåtå yang tidak lain kakak kandungnya.

    Maka Pangeran Aryå Panggiri, Ratu Prihatin dan Rr. Ayu Mas Sêmangkin berusaha dilindungi dan diasuh agar jiwanya selamat. Sedangkan Rr. Ayu Mas Sêmangkin dijadikan sebagai anak angkat Ratu Kalinyamat dan dipindahkan dari Prawåtå ke Jepara yaitu Keraton Kalinyamatan — kini diduga lokasinya berjarak kurang lebih satu kilometer sebelah utara dari jalan pertigaan masjid Purwogondo yang sekarang termasuk wilayah Kecamatan Kalinyamatan –.

    Salah satu prajurit yang turut digladi perang adalah putri angkatnya sendiri yaitu Rr. Ayu Sêmangkin dan Rr. Ayu Prihatin. Rr. Ayu Sêmangkin selalu digladi oleh para tamtama negara sehingga memiliki olah kanuragan cukup tinggi.
    Rr. Ayu Sêmangkin yang telah tumbuh menjadi seorang dewasa sangat giat berlatih dan tekun belajar dibawah bimbingan bibinya Ratu Kalinyamat. Selain belajar ilmu kanuragan dia juga mempelajari ilmu-ilmu agama Islam serta ilmu-ilmu batin untuk menempa dirinya. Ilmu kanuragan digunakan untuk melindungi diri dari musuh terutama dari para pengikut Aryå Pênangsang.

    Motivasi dan semangat yang mambara di hati Rr. Ayu Sêmangkin karena adanya bara api dendam kepada para pengikut Aryå Pênangsang yagn telah membunuh ayahnya. Ketekunan dan keprigelan Rr. Ayu Sêmangkin kemudian dijadikan Sénopati Putri dari Negeri Jepara. Keadaan ini menyebabkan Negeri Jepara memperoleh kebesaran dan mencapai puncak kejayaannya.

    Rr. Ayu Mas Sêmangkin dan Rr. Ayu Prihatin garwå sêlir Sutåwijåyå

    Setelah Sutåwijåyå berhasil mengalahkan Aryå Pênangsang sesuai janjinya Ratu Kalinyamat menghadiahkan kedua putri angkatnya Rr. Ayu Mas Sêmangkin dan Rr. Ayu Prihatin diperistri oleh Raden Sutåwijåyå dan selanjutnya diboyong dari Jepara ke Pajang. Waktu itu Sutåwijåyå menjadi Sénopati perang di Negeri Pajang.

    Pada saat inilah Rr. Ayu Sêmangkin dan Rr Ayu Prihatin mendalami olah kanuragan dan mulai tertarik untuk mulai berlatih perang bersama-sama prajurit Pajang Rr. Mas Sêmangkin sejak di kraton Kalinyamat dulu, sering berlatih olah kanuragan dan turut mendampigi Ratu Kalinyamat dalam melatih para prajuritnya. Kebiasaan itu juga dilakukannya saat mendampingi suaminya Sutåwijåyå di arena latihan maupun di palagan. Rr Ayu Sêmangkin dan Sutåwijåyå dikenal sebagai Sénopati pilih tanding yang sangatditakuti oleh para musuh-musuhnya.

    Setelah sekian lama mengabdi kepada Sultan Hadiwijåyå (ayah angkatnya) bersama Rr. Ayu Sêmangkin di Pajang kemudian terbetik niat untuk menagih janji hadiah yang pernah dijanjikan oleh Sultan Hadiwijåyå ketika sayembara barang siapa yang dapat mengalahkan Aryå Pênangsang maka akan dihadiahi bumi Pati dan hutan Mentaok. Sultan Hadiwijåyå baru menepati satu janjinya yakni memberikan hadiah bumi Pati yang kemudian diserahkan kepada Ki Penjawi sedangkan hutan Mentaok tak kunjung diberikan sehingga Ki Juru Mêrtani dan Sutåwijåyå diam-diam meninggalkan istana Pajang untuk membabat hutan Mentaok yang kelak menjadi Kesultanan Mataram.

    Setelah meninggalkan Pajang Ki Juru Mêrtani dan Sutåwijåyå kemudian membabat hutan Mentaok dan mendirikan Pesanggrahan di Kota Gédé dekat Yogyakarta. Sutåwijåyå, Ki Agêng Pêmanahan dan Rr. Ayu Sêmangkin dan Rr Ayu Prihatin beserta para pengikutnya turut mêsanggrah di Kota Gédé tersebut. Selain itu Sénopati perang Negeri Pajang ini juga ahli spiritual mengadakan interaksi dengan alam gaib ‘penguasa laut selatan’ yang bernama “Nyai Rårå Kidul”. Beliau bersemedi ditemani Ki Juru Mêrtani duduk disebuah batu hitam yang kini dikenal dengan nama batu gilang. Batu gilang tersebut sebagai tanda bukti bekas telapak kaki dan tempat duduk yang membekas hingga sekarang. Di atas batu gilang itulah Sénopati Sutåwijåyå memperoleh pulung kraton seingga kelak menjadi raja di tanah Jawa.

    Pada saat inilah kelak menjadi embrio kesalah pahaman antara Pajang dan Mataram. Kesalahpaaman ini muncul ketika perilaku pembangkangan oleh Sénopati Mataram (Radèn Ngabéhi Loring Pasar) putra dari Ki Agêng Pêmanahan (Kyai Gédé Mataram), Ia menjadi Sénopati Mataram menggantikan ayahnya atas perhatian raja Pajang dengan berbagai persyaratan, antara lain berkewajiban menghadap raja Pajang setiap tahun sebagai ukuran kesetiaannya. Namun apa yang terjadi, Sénopati si Radèn Ngabéhi Loring Pasar pada tahun pertama diberi kelonggaran tidak diwajibkan menghadap ke Pajang. Tetapi kelonggaran itu justru disalahgunakan kesempatan. Ia menyuruh rakyat Mataram membuat batu bata guna mendirikan tembok benteng, dan pada tahun berikutnya ia pun tetap tidak menghadap ke Pajang.

    Kyai Gédé Mataram dalam waktu singkat dapat menjadikan daerahnya sangat maju. Beliau sendiri tidak mengecap hasil usahanya karena meninggal pada tahun 1575 tetapi puteranya yang bernama Sutåwijåyå, melanjutkan usaha itu dengan giat. Sutåwijåyå dikenal sebagai orang yang gagah berani. Mahir dalam perang dan karena itu nantinya lebih terkenal sebagai Sénopati ing Alågå (Panglima perang). Sementara itu di Pajang terjadi perubahan yang sangat besar. Djåkå Tingkir meninggal pada tahun 1582. Anaknya pangeran Bênåwå disingkirkan oleh pangeran Pangiri (dari Dêmak) dan dijadikan Adipati di Jipang. Maka sebagai sultan Pajang kini bertahtalah Arya Pangiri yang melanjutkan daerah Dêmak.

    Sultan baru ini dengan tindakan-tindakannya yang merugikan rakyat segera menimbulkan rasa tidak senang di mana-mana. Kenyataan ini merupakan kesempatan yang baik bagi Pangeran Bênåwå untuk merebut kembali kekuasaannya. Ia meminta bantuan kepada Sénopati dari Mataram, yang juga menginginkan robohnya Negeri Pajang dan sudah terlebih dahulu mengambil langkah-langkah untuk melepaskan daerahnya dari Pajang itu. Pajang diserang dari dua jurusan, dan Aryå Pangiri menyerah pada Sénopati. Pangeran sendiri tidak sanggup kalau harus menghadapi saudara angkatnya itu, maka bersedia mengakui kekuasaan Sénopati. Keraton Pajang dipindah ke Mataram, dan berdirilah Kesultanan Mataram (1586).

    Pengangkatan Sénopati oleh dirinya sendiri menjadi raja Mataram dengan gelar “Panêmbahan Sénåpati Ing Alågå Sayidin Panåtågåmå Kalifatullah”.

    Setelah pengangkatan dirinya menjadi raja Mataram mendapat banyak tantangan, lebih-lebih oleh karena segera menunjukkan politik ekspansinya. Bentrokan pertama terjadi dalam tahun 1586, yaitu dengan Surabaya. Dengan perantaraan Sunan Giri pertumpahan darah yang lebih hebat dapat dicegah. Surabaya tidak ditundukkan, tetapi bersedia mengakui kekuasaan Sénopati. Dalam tahun itu juga Sénopati menghadapi perlawanan kuat dari Madiun Ponorogo namun dapat segera dipatahkan.

    Pada tahun 1587 Sénopati mampu menggempur Pasuruhan bersama Panarukan dan pada tahun 1595 menaklukkan Cirebon dan Galuh. Pati dan Dêmak juga membrontak bahkan tentara mereka dapat mendekati ibukota Mataram. Tetapi pasukan Sénopati yang dipimpin oleh Rr. Ayu Sêmangkin, Ki Tanujayan, Ki Bråjå Pênggingtaan dan keempat perwira yang dipimpin oleh Tumenggung Sukolilo yang bernama Suråkertå dapat meredam pemberontakan.

    Setelah perluasan ke Jawa Tengah bagian pesisir utara, Jawa Timur dan Jawa Barat (Cirebon dan Panarukkan) Sénopati wafat tahun 1601 dan kemudian dimakamkan di Kota Gédé Yogyakarta bersanding dengan Rr. Ayu Prihatin Garwå Sêlir Sutåwijåyå yang dipersembahkan oleh Ratu Kalinyamat ketika dapat mengalahkan Aryå Pênangsang. Sedangkan Rr. Ayu Sêmangkin mendirikan Padepokan di Mayong dan mendirikan rumahnya di Mayonglor hingga wafat.

    Rr. Ayu Mas Semangkin Sénopati Ing Ngalågå Kesultanan Mataram

    Pada awal masa pemerintahan Mataram, sisa-sisa prajurit Jipang yang masih setia kepada Aryå Pênangsang, senantiasa mencptakan berbagai bentuk kerusuhan seperti pencurian, perampokan, pemerkosaan, pembunuhan, serta bentuk-bentuk tindak kejahatan lainnya. Hal ini mereka lakukan demi menciptakan ketidaktenteraman dan keresahan bagi masyarakat di Kasultanan Mataram. Daerah kekuasaan Kesultanan Mataram yang seringkali terjadi huru hara yaitu di wilayah Pati, Jepara (lereng Muria), karena wilayahnya terlalu jauh dari pusat pemerintahan Kesultanan Mataram.

    Selain berbagai kerusuhan dan huru-hara juga terjadi di sekitar Mayong, Jepara. Pada permulaan abad 17, Pati Pesantenan yang dipimpin oleh Bupati Wasis Jåyå Kusumå (Bupati Pragola Pati II) bermaksud membangkang mengadakan kraman dari kekuasaan Sultan di Mataram. Pembangkangan yang dilakukan oleh Bupati Pati terhadap Kasultanan Mataram ditunjukkan dengan sikapnya yang tidak mau membayar upeti dan tidak mau tunduk kepada perintah Sultan Mataram. Sikap tersebut ditandai dengan berkali-kali tidak hadir pada saat pisowanan agung yang digelar oleh Sultan. Untuk mengetahui kebenaran itu maka dikirimlah têlik sandi ke Pati, Jepara dan daerah-daerah lain yang dianggap rawan tersebut. Setelah têlik sandi dikirim ke tempat kerusuhan tersebut kemudian melaporkan kebenaran informasi kepada Sultan Mataram.

    Atas kebenaran laporan tersebut Sultan Mataram kemudian memerintahkan para perwiranya untuk menumpas huru hara dan kraman di sekitar lerang pegunungan Muria.
    Mendengar berita tentang keadaan yang sangat merisaukan dan membahayakan Kasultanan Mataram ini, maka Rr. Ayu Sêmangkin sebagai salah satu dari Sénopati Putri pada waktu Ratu Kalinyamat terketuk dan terpanggil hatinya turut menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang menyangkut keamanan di wilayah lereng pegunungan Muria.

    Rr. Ayu Sêmangkin merasa berutang budi dengan masyarakat di wilayah Jepara karena bertahun-tahun beliau hidup dan dibesarkan di istana Kalinyamatan serta telah digembleng berbagai ilmu kanuragan, ilmu keprajuritan dan ilmu spriritual.

    Rr. Ayu Sêmangkin dengan keteguhan hatinya untuk turut serta menumpas huru-hara dan kraman yang dilakukan oleh Bupati Pati Wasis Jåyå Kusumå beserta para sorèngpati-sorèngpati pengikut Aryå Pênangsang. Darah keprajuritan dan keperwiraan yang mengalir dalam jiwanya hal ini menyebabkan beliau berkeinginan untuk turun di tengah-tengah palagan dan memimpin sendiri penumpasan tersebut. Keteguhan hatinya untuk menjadi Sénopati perang melawan Bupati Pati dan para sorèngpati pengikut Aryå Pênangsang ini disampaikannya sewaktu ada pisowanan agung yang membahas tentang permasalahan gangguan keamanan di lereng pegunungan Muria.

    Pada pertemuan ini Rr. Ayu Sêmangkin memohon ijin untuk menumpas kraman tersebut tetapi Sultan Mataram tidak memperkenankan turut dalam penumpasan tersebut karena mengkhawatirkan keselamatannya. Namun Rr. Ayu Sêmangkin mendesak dan meyakinkan kepada sultan hingga akhirnya merestui dan mengijinkan untuk turut menumpas huru hara dan kraman tersebut. Setelah mendapatkan ijin dan restu dari Sultan Mataram maka Rr. Ayu Mas Sêmangkin pergi ke tengah-tengah palagan dengan didampingi oleh dua orang tamtama perangnya yakni Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanujayan.

    Selain rombongan prajurit dari Rr. Ayu Sêmangkin, Panembahan Sénopati juga mengirimkan empat perwira terbaiknya guna membantu Rr. Ayu Sêmangkin yang dikhususkan untuk menumpas kraman yang dilakukan oleh Bupati Pati Wasis Jåyå Kusumå. Bupati Pati dikenal sebagai salah satu seorang yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi dan daya kesaktian yang menakjubkan serta memiliki pusaka “Kêré Wåjå” rampasan dari “Baron Sâkèbêr” yang dapat menambah kesaktiannya dalam pepatah Jawa “ora têdhas tapak paluné pandhé sisaning gurèndå”.

    Keempat perwira masing-masing Kanjêng Radèn Tumênggung Cindé Amoh, Kanjêng Tumênggung Rårå Mêladi, orang menyebut Rårå Målå, Kanjêng Radèn Tumênggung Candang Lawé orang menyebut Radèn Slèndar, Kanjêng Radèn Tumênggung Samirånå, orang menyebut Radèn Sêmbrånå. Keempat perwira beserta para prajurit dan pasukannya setelah mendapatkan tugas dan restu dari Kanjêng Sultan kemudian segera berangkat ke medan perang.

    Keempat perwira tersebut mendapatkan tugas masing-masing sesuai dengan strategi yang digunakan dalam berperang. Satu orang mendapat tugas sebagai penunjuk jalan dan sekaligus sebagai prajurit têlik sandi. Agar berhasil dalam menjalankan tugas maka dia mengadakan penyamaran dan bergabung dengan masyarakat. Atas keberanian dan kehati-hatian prajurit têlik sandi tersebut dapat memberikan informasi yang tepat tentang keberadaan Bupati Wasis Jåyå Kusumå beserta pasukannya.

    Dengan informasi yang tepat inilah keempat perwira dari Kasultanan Mataram kemudian mengadakan koordinasi, bermusyawarah untuk mengatur strategi perangnya agar dapat mengalahkan pasukan Bupati Pati Wasis Jåyå Kusumå. Berkat kejituan strategi perang yang digunakan dan semangat dari para prajurit Mataram untuk memenangkan peperangan maka dalam waktu yang cukup singkat Bupati Wasis Jåyå Kusumå dan pasukannya dapat ditakukkan.

    Sepulang dari peperangan, para prajurit masanggrah di Kademangan Sukålilå. Saat-saat itu bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, tanggal 12 Maulud. Para prajurit terbiasa memperingati di setiap tanggal 12 Maulud di Keraton Mataram diadakan upacara Sêkatèn untuk itu mereka mengadakan upacara Sêkatèn di Sukålilå, sebagaimana adat kasultanan setiap tahunnya. Keempat perwira tersebut kemudian mohon ijin untuk tinggal di Sukålilå guna mengawasi para pengikut Bupati Pati Wasis Jåyå Kusumå. Panêmbahan Sénopati mengijinkan membangun tenpat tinggal disana serta memberikan palilah, di Kademangan Sukålilå untuk melestarikan Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan yang mirip Sêkatèn yang disebutnya Mêron, yang dalam bahasa Jawa dimaksudkan raméné tiron-tiron.

    Sedangkan tempat berkumpulnya para Tumenggung untuk bertirakat sekarang dikeramatkan dengan nama Talang Tumênggung, sedang daerah tempat masanggrah, sekarang menjadi Dukuh Pesanggrahan. Di antara keempat Tumenggung tersebut ada yang meninggal di Kademangan Sukålilå, yaitu Kanjêng Radèn Tumênggung Cindé Amoh dan dimakamkan di makam Sêntånå Pêsanggrahan (300 meter arah Timur Laut Talang Tumênggung)

    Berkat kerjasama Pasukan Rr. Ayu Sêmangkin dan Tumenggung Sukålilå beserta para prajurit dan pengikut-pengikutnya maka Bupati Pati Wasis Jåyå Kusumå dapat ditumpas. Kemudian keempat perwira tersebut memutuskan untuk menetap dan membangun Desa Sukålilå dan sekitarnya. Sedangkan Rr. Ayu Sêmangkin melanjutkan perjuangan di Mayong untuk menumpas para perusuh dan pengikut setia Aryå Pênangsang yang senantiasa membuat huru hara dan kerusuhan seperti perampokan, pemerkosaan, dan pembunuhan sehingga membuat keresahan dan ketidaktentraman masyarakat di Mayong dan sekitarnya.

    Berkat semangat dan kegigihan serta kemahiran dari para prajurit Mataram lebih-lebih Lurah Tamtono Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanujayan. Maka pasukan Rr. Ayu Sêmangkin dalam waktu yang cukup singkat dapat menumpas para perusuh sehingga keadaan menjadi tenang dan pulih kembali seperti sedia kala. Namun Rr. Ayu Mas Sêmangkin masih khawatir terjadi kerusuhan lagi sehingga beliau beserta para pengikutnya untuk mendirikan pesanggrahan dan sekaligus membabat hutan di Mayong Lor sebagai tempat tinggalnya.

    Padepokan Mayong

    Berkat kegigihan, kedigjayaan, keperwiraan dan ketangkasan dalam olah kanuragan Rr. Ayu Mas Sêmangkin dalam memimpin pasukannya sehingga para perusuh perlawanan dalam waktu singkat dapat dipatahkan bahkan menyerah dan bertekuklutut dihadapan para prajurit mataram. Suasana masyarakat diwilayah lereng pegunungan Muria khususnya di daerah Mayong dan sekitarnya mulai kembali aman, dan tentram. Kehidupan masyarakat kembali seperti semula karena masyarakat telah dapat bekerja dengan tentram.

    Tugas suci Rr. Ayu Mas Sêmangkin beserta pasukannya telah dilaksanakan dengan cepat dan sukses, namun beliau dan pasukannya tidak segera pulang ke Mataram, mengingat serangan musuh mungkin bisa terulang lagi maka Kanjeng Ibu Mas Sêmangkin mengerahkan kepada kedua tamtama dan para prajuritnya untuk sementara waktu menumpang di sebuah di padepokan yaitu di sebuah tempat yang dihuni oleh kakek tua. Penghuni padepokan ini adalah seorang pengembara dari pulau Dewata (Bali) dari Singaraja maka tempat tersebut sampai saat sekarang disebut desa Singåråjå. Letak desa tersebut berjarak kurang lebih dua kilometer arah utara dari desa Pêlêmkêrêp Mayong.

    Kakek tua penghuni padepokan tersebut bernama “Idha Gurnandhi” yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Ki Datuk Singåråjå. Selama rombongan prajurit Mataram berada di tempat Ki Datuk Singåråjå, perusuh-perusuh tidak dapat berani datang lagi. Kemudian Kanjeng Ibu Mas yang didampngi oleh kedua tamtama dan dikawal oleh beberapa prajurit Mataram memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram. Kanjeng Ibu Mas bersama kedua tamtama (Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanujaya) yang dikawal oleh prajurit Mataram ingin menetap di daerah baru. Dari tempat Ki Datuk Singåråjå, rombongan prajurit Mataram bersama Kanjeng Ibu Mas Sêmangkin dan kedua Lurah Tamtåmå menuju kearah selatan kurang lebih 2 kilometer dari Desa Singåråjå dan sampailah rombongan tersebut di daerah yang agak landai dan masih ditumbuhi oleh pohon semak-semak belukar.

    Kanjeng Ibu Mas Sêmangkin bersama rombongan memutuskan untuk membabat hutan tersebut dan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri dari Rr. Ayu Sêmangkin dan Ki Bråjå Pênggingtaan membabat hutan diwilayah utara. Sedankan dibagian selatan dipimpin oleh Ki Tanujayan bersama sebagian prajuritnya.

    Pohon-pohon mulai ditebang semak belukar dibakar dan puing-puing disingkirkan. Tanpa terasa pekerjaan tersebut telah memakan waktu berbulan-bulan lamanya. Setelah semua itu dikerjakan maka kedua kelompok rombongan prajurit Mataram tersebut memutuskan untuk tetap tinggal di daerah baru tersebut. Daerah baru tersebut kemudian diberi nama desa Mayong.

    Daerah baru bagian utara Kanjeng Ibu Mas yang didampingi ki Bråjå Pênggingtaan bersama prajurit Mataram mendirikan sebuah padepokan sebagai tempat tinggal sedangkan di daerah baru bagian selatan Ki Tanujayan bersama prajurit Mataram atas perintah Kanjeng Ibu Mas juga mendirikan padepokan sebagai tempat tinggal.

    Di daerah baru tersebut kedua Lurah Tamtåmå mengajarkan ilmu-ilmunya baik ilmu kanuragan maupun ilmu kerohanian, budi luhur, kesucian batin terhadap sesama dan suka menolong, penyabar serta rendah hati dan masih banyak lagi mengenai hal-hal menuju kebaikan. Lambat laun berita tersebut tersiar sampai kedaerah-daerah lainnya. Akhirnya banyak orang yang berdatangan untuk meminta pertolongan atau datang untuk menimba ilmu serta banyak pula yang dating berguru bahkan adapula yang datang untuk menetap menjadi murid dan penghuni baru ditempat itu.

    Oleh karena kearifan dan kebijaksanaan Kanjeng Mas juga Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanunjayan bersama prajurit-prajurit ditempat baru masing-masing, yang pada masa sebelumnya sering terjadi keganasan perampok maka sejak dihuninya daerah tersebut oleh penghuni baru kerusuhan-kerusuhan tidak terjadi lagi. Berkat kebesaran ketinggian budi serta kearifan Kanjeng Ibu Mas bersama kedua Tamtama Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanunjayan maka mereka diangkat menjadi sesepuh dan cikal bakal dari masyarakat Mayong Lor dan Mayong Kidul.

    Setelah beberapa lama singgah di padepokan Datuk Singåråjå, Rårå Ayu Sêmangkin bersama dengan Ki Lurah Tamtama, Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanujayan memutuskan untuk tidak kembali ke Mataram dan mendirikan Padepokan di Mayong Lor dan Mayong Kidul. Setelah padepokan berdiri banyak murid-murid yang datang dari wilayah Jepara, Kudus, Dêmak, dan Pati untuk berguru kanuragan dan ilmuilmu kejawen serta ilmu-ilmu agama kepada tokoh-tokoh tersebut.

    Para murid padepokan dari Rårå Ayu Sêmangkin, Ki Bråjå Pengingtaan dan Ki Tanujayan selain berguru kepadanya juga banyak berguru di pdepokan Datuk Singåråjå yang kebetulan ahli dalam pembuatan ukit-ukiran dan keramik. Keahlian Datuk Singåråjåini kemudian ditularkan kepada murid-murid di padepokan tersebut. Dalam waktu singkat padepokan tersebut banyak kedatangan murid untuk berguru ilmu kanuragan, kejawen, keagamaan dan yang terpenting yaitu belajar untuk membuat gerabah.

    Sejalan dengan perjalanan waktu muncul perkampungan Undagen di desa Mayong Lor yang mengembangkan gerabah, genteng, keramik dan seni ukir. Dalam perkembangannya maka pada tahun 1937 Belanda mendirikan pasar Mayong yang kini telah terbakar untuk menampung berbagai macam barang-barang kerajinan gerabah yang digunakan untuk kepentingan rumah tangga dan berbagai macam mainan seperti manuk-manukan, gajah-gajahan, sapi-sapian, terbang-terbangan dan sebagainya.

    Keahlian masyarakat Mayong Lor dalam membuat gerabah dan teknik pembuatan keramik maka di Mayong Lor didirikan pabrik keramik. Selain itu Mayong Lor juga dijadikan pusat kawedanan, kecamatan dan di Kecamatan Mayong inipun telah lahir seorang pahlawanan wanita yang bernama RA. Kartini yang kini tempat ari-arinya telah dibangun di dekat pendopo kecamatan Mayong.

    Rara Ayu Mas Semangkin wafat

    Berdasarkan riwayat tentang Kanjeng Ibu Mas yang dikisahkan oleh para pinisepuh bahwa sejak kecil Rr. Ayu Mas Sêmangkin telah terbiasa dengan pola hidup yang bersahaja dan bahkan cenderung dengan tata kehidupan rakyat kecil serta kehidupan yang dilandaskan atas ketentuan kepercayaan yang beliau anut. Bentuk kepasrahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa secara tulus menjadi suatu nafas kehidupan yang senantiasa beliau pelihara hingga akhit hayatnya.

    Dengan ketulusan, kejujuran dan kesucian batin yang senantiasa beliau pelihara dalam kehidupannya telah menempa dan membentuk jiwa beliau yang benar-benar rendah hati jujur berjiwa tulus penyabar dan pengayom bagi masyarakat khususnya masyarakat bawah. Rasa rendah hati ini dibuktikan dengan kerelaan beliau yang jasadnya hanya dikebumikan disuatu makam di desa kecil desa Mayong Lor yang letaknya sangat jauh dari kemegahan dari makam kerbat keraton. Dengan demikian bukanlah suatu hal yang mustahil apabila beliau termasuk salah satu hamba yang dekat dan dikasihi Allah Yang Maha Kuasa.

    Setelah mendirikan Padepokan Agung di Mayong bersama Ki Bråjå Pênggingtaan dan Ki Tanujayan. Rr. Ayu Sêmangkin kemudian memutuskan untuk menetap di desa Mayonglor dan mendirikan pesanggrahan serta rumah persinggahan di Mayonglor yang kini bekasnya masih ada tetapi hanya tinggal puing-puingnya.

    Beliau mengabdikan dirinya untuk bersama-sama masyarakat membangun desa Mayong Lor maupun Mayong Kidul. Selain beliau bertempat tinggal di Mayong Lor sesekali juga sowan di Kasultanan Mataram. Dan setelah beliau mengenalkan putranya bernama Danang Syarif dan Danang Sirokol kepada ayahhandanya Panembahan Sénopati dan akhirnya kedua putranya ini diangkat menjadi Sénopati perang. Tak lama kemudian beliau wafat dan dimakamkan di Desa Mayong Lor.

    dongeng selanjutnya ?

    Nuwun

    cantrik bayuaji

    • matur suwun

    • matur sembah nuwun Ki Bayu

    • kulo suwun ki BAYU matur…..hikss,

      • Sampun matur Ki Gundul hiks

        Sugêng énjang

  5. sugeng siang, menjelang jumatan

  6. sugeng dalu kadang padepokan SENGKALING,

    selamat MOdik para kadang yang MOdik, semoga
    lancar di perjalanan.

    • ABSEN pak SATPAM…..!!??

      • monggo…
        badhé tindak pundi tä kok absèn?
        sampun mulai mudik tä?
        sugêng tindak Ki

  7. Sugeng Ndalu,.para kadang sedaya… Nderek slonjor…ngentosi Kemuning saking sabin…


Tinggalkan Balasan ke Ki Singatama Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: