JDBK-15

<< kembali | lanjut >>

Laman: 1 2 3

Telah Terbit on 27 Agustus 2011 at 03:16  Comments (7)  

The URI to TrackBack this entry is: https://pelangisingosari.wordpress.com/jdbk-15/trackback/

RSS feed for comments on this post.

7 KomentarTinggalkan komentar

  1. 1

    • 2

      • 3

  2. Kagem Ki Truno Podang,

    Bebahu Padepokan Pelangisingosari Ngaturaken:

    SUGENG TANGGAP WARSA

    mugio tansah pikantuk nugrahaning Gusti Ingkang Akarya Jagad widodo rahayu, kalis ing sambikala

    Arema & Pak Satpam.

    ————–

    hikss…., kok ra bareng sisan karo kakangne, Ki Truno Prenjak yang ulang tahun beberapa waktu yang lalu (24 Agustus 2011).

  3. selamat ultah pak Truno kekalih

  4. Nuwun,
    Sugêng énjang

    Cantrik Bayuaji sowan:

    MUDIK. PULANG KAMPUNG PERJALANAN KEMBALI KE SANGKAN PARANING DUMADI

    Tatkala umat Islam merayakan hari kemenangan Idul Fitri, ketika itu lazim bagi masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Jawa, lebih suka menghabiskan waktu hari raya Idul Fitri dengan acara mudik. Pulang kampung bertemu, berkumpul dan bersilaturahmi dengan handai-taulan, sanak kadang, sêdulur-sêdulur, pårå pinisêpuh, menjumpai tanah lêluhur, karang padêsan, kangên-kangênan.

    Hari-hari ini ribuan warga Ibukota kembali pulang kampung, mulih. Dalam beberapa hari ini meninggalkan Jakarta, tempat mereka hidup dan mencari nafkah sehari-hari.

    Sewaktu mudik, jalanan diwarnai mobil-mobil pribadi atau sewaan yang mengangkut koper dan kardus-kardus, hingga ke atap-atapnya. Terminal-terminal bis antar kota antar provinsi sesak dipadati para penumpang, Setasiun kerat api, begitu juga pelabuhan air dan udara. Para perantau mudik. Pulang kampung.

    Sampéan apa mudik juga, Ki Sanak?

    Apa sebenarnya makna mudik itu? Sekadar pulang kampung? Atau sebuah ritual tahunan para perantau?

    Pulang mudik” mengandung dua arti. Orang itu balik ke rumah yang ia diami di Jakarta, atau ia numpak sêpur, ngêbis atau nunggang montor-mabur dan kembali ke udik, seperti yang dilakukan ratusan ribu manusia saat lebaran seperti sekarang ini. Soalnya, sebagai orang yang punya ikatan emosi begitu kuat dengan tanah leluhur di desa, Di Jakarta, kita merasa sebagai orang rantau, orang asing, tanpa induk semang.

    Jakarta dan kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan Bandung, juga “kota-kota pinggiran” seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Serpong dan Cibinong, tempat para “urbanis” menggantungkan banyak hal, target para pencari kerja dari daerah, tapi adakah sesuatu yang membuat Jakarta dan kota-kota lainnya itu unik, berharga untuk dipertahankan, diteruskan?

    Kita mungkin memang jenis orang yang menyimpan kepusingan yang gagal menambatkan hati ke tempatnya yang baru. Bagaimana mungkin kita bisa merasa sayang akan taman-taman kota, pepohonannya, kaki limanya, bangunan-bangunan, bahkan sudut-sudut jalnnya?

    Jakarta seperti kehilangan suatu simpul, juga lambang bersama yang hidup — simpul bagi orang yang di Menteng, Kebayoran Baru, Pantai Indah Kapuk, ataupun di Pondok Indah, di Tanjung Priok ataupun di Kampung Melayu. Jakarta hanya menadahi kita, tidak membentuk, kita cuma mengakomodasikan tuntutan-tuntutannya, tapi tidak mengasimilasikan diri.

    Ada seorang ahli yang mengatakan, di kota seperti ini kita tak hanya menyaksikan proses urbanisasi. Kita juga menghadapi proses “ruralisasi.” — Suatu arus manusia dan cara hidup yang masuk ke dalam kota, tapi malah membuat kota itu seperti udik — Setiap kota, juga penghuninya, selalu punya kisah masing-masing.

    Sebuah kota memang bisa bercerita banyak hal. Hasrat kita mungkin hasrat yang lain, ketakutan kita mungkin ketakutan lain, sehingga kita tak merasa ikut menjadikan Jakarta, tidak merasa ikut memiliki Jakarta. Dan, karena itu kita mudik setiap tahun.

    Mudik adalah perjalanan kembali ke Sangkan Paraning Dumadi

    Apa sebenarnya filosofi Sangkan Paraning Dumadi itu. Peristiwa mudik merupakan suatu “kebahagiaan paling pasti karena dapat berkumpul dengan keluarga.”
    Ternyata orang Jawa itu benar, mangan ora mangan (sing penting) ngumpul. Jadi filosofi mudik itu ada benarnya.

    Mudik itulah yang menjadikan pemahaman filosofi Sangkan Paraning Dumadi. Ketika mudik, kita dituntut untuk memahami dari mana dulu kita berasal, dan akan kemanakah hidup kita ini nantinya.

    Sangkan Paraning Dumadi adalah salah satu bagian dari ilmu sejati tentang asal usul dan tujuan kehidupan manusia.

    Kita simak têmbang dhandanggulå warisan para leluhur yang mungkin sudah jarang kita dengar.

    Kawruhånå sêjatining urip//
    urip ånå jroning alam donyå//
    bêbasané mampir ngombé//
    umpåmå manuk mabur//
    lungå såkå kurungan nèki//
    pundi péncokan bènjang//
    åjå kongsi klêru//
    umpåmå lungå sêsånjå//
    njan-sinanjan ora wurung bakal mulih//
    mulih mulå mulanyå.

    ketahuilah sejatinya hidup
    hidup di dalam alam dunia
    diibaratkan singgah (untuk) minum
    ibarat burung terbang
    pergi dari sangkarnya
    dimana (dia) akan hinggap kelak
    jangan sampai keliru
    bagaikan orang pergi bertandang
    saling kunjung-mengunjungi, yang pasti bakal kembali pulang
    pulang ke asal muasal mula kejadiannya

    Kemanakah kita bakal ‘mulih‘? (pulang)
    Kemanakah setelah kita ‘mampir ngombé‘ (berkelana) di dunia ini?
    Dimana tempat hinggap kita andai melesat terbang dari ‘kurungan‘ (badan wadag, badan jasmani) dunia ini?
    Kemanakah kita hendak pulang setelah kita pergi ‘sånjå’ (hidup) di dunia ini?

    Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa dunia ini bukanlah tempat yang langgêng. Hidup di dunia ini hanya sementara saja.

    Kembali kita simak tembang dari Syech Siti Jenar yang digubah oleh Radèn Panji Natårå dan digubah lagi oleh Bråtåkêsåwå yang bunyinya seperti ini:

    Pådhå kuwalik kabèh panêmumu, angirå donyå iki ngalamé wong urip,
    akérat kuwi ngalamé wong mati; mulané kowé pådhå kanthil-kumanthil marang
    kahanan ing donyå, sartå suthik aninggal donyå
    .”

    [“Pendapatmu terbalik semuanya, kau menduga dunia ini alamnya orang hidup dan akherat itu alamnya orang mati? Makanya kalian sangat lekat dengan kehidupan dunia, dan tidak mau meninggalkan alam dunia ini“]

    Selanjutnya beliau menambahkan:

    Sanyatané, donyå iku ngalamé wong mati, iyå ing donyå kéné iki anané bungah lan susah. Sawisé kowé ninggal donyå iki, kowé bakal bali urip langgêng,….”

    “[Kenyataannya, dunia ini adalah alamnya orang mati, di dunia inilah adanya senang dan susah. Setelah kalian meninggalkan alam dunia ini, kalian akan hidup langgeng]”,

    Dari tembang di atas kita mendapatkan pembelajaran, bahwa hidup di dunia ini serba berubah kadang mendapat kesenangan, kadang memperoleh kesusahan, dan itu bukanlah merupakan hidup yang sejati ataupun langgeng.

    Wejangan beberapa leluhur mengatakan:

    Urip sing sêjati yåiku urip sing tan kênå ing pati“.

    “[Hidup yang sejati itu adalah hidup yang tidak terkena kematian].

    Kita semua bakal hidup sejati. Tetapi permasalahan yang muncul adalah, siapkah kita menghadapi hidup yang sejati jika kita senantiasa berpegang teguh pada kehidupan di dunia yang serba fana ini?

    Tangèh lamun sirå biså mangêrti sampurnaning pati, yèn sirå ora mengêrti sampurnaning urip.”

    “[Mustahil engkau dapat memahami kematian yang sempurna, jika engkau tidak mengerti hidup yang sempurna]”

    Mudik, pulang kampung, dan pulang kampung tentunya tidak sekedar pulang, harus membawa bekal yang cukup, cukup untuk diri sendiri dan keluarga, cukup untuk sanak kadang, kaum kerabat, tetangga dan handai taulan di kampung.

    Tetapi adakah terpikirkan, sudahkah kita siapkan bekal yang cukup yang akan kita bawapulangkelak. Dan saat yang paling tepat “mengumpulkan bekal untuk dibawa pulang kampung” adalah di bulan Ramadhan yang beberapa saat lagi berlalu. Allah dan RasulNya menjanjikan hal itu. Dan Allah tidak pernah menyalahi janjiNya.

    Allaahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’ fu ‘annaa.

    Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka memaafkan, oleh karena itu maafkanlah kami

    Ya Allah, Jadikanlah Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan yang terbaik untuk kami.
    Ya Allah. Jika hanya Ramadhan sebagai waktu yang paling mulia untuk berdoa, maka, ijinkanlah aku, di setiap waktu kapanpun disitulah doaku Engkau kabulkan.
    Ya Allah. Izinkanhlah kami menjumpai RamadhanMu di tahun depan.
    Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

    Selamat menyongsong Hari Kemenangan Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

    Nuwun

    cantrik Bayuaji

  5. Nuwun

    Assalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

    NGATURAKÊN SUGÊNG RIYADI 1 SYAWAL 1432H

    Taqoballahu minna wa minkum, taqobbal ya kariim, wa kullu amin wa antum bil khair. Minal aidin wal faizin.

    Mugi Gusti Ingkang Måhå Pangriptå tansah paring kasugêngan, lumintu rahmat, hidayah, maghfirah såhå barokah dumatêng kitå sêdåyå.
    Rahayu ingkang tansah tinêmu, sêmbådå ingkang sinêdyå, jumbuh ingkang ginayuh.
    Wassalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh

    Nuwun

    cantrik bayuaji


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: